Home Blog Page 257

Korban Yesus sekali untuk selamanya

5

Pertanyaan:

hallo kak..
sya ingin tanya..
gimana pendapat Gereja Katolik tentang Ibr 7:27, 10:14, 1Pet 3:18??
trus Kis 3:21, dan Ibr 9:26-28??
orang protestan jga berkata, keabsolutan karya’Nya di tnjukan dengan pnggunaan kta “telah”..

makasih kak..

Jawaban:

Shalom Thomas,

Mari kita melihat ayat- ayat yang anda sebutkan, yang intinya menyatakan bahwa korban Yesus telah terjadi satu kali untuk selama-lamanya:

Ibr 7:27,10:14

“…..yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban….. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.”

1Pet 3:18

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.”

Kis 3:21

“Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.”

Ibr 9:26-28

“Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”

Tanggapan Gereja Katolik:

Gereja Katolik tentu meng- aminkan ayat- ayat di atas, bahwa memang Tuhan Yesus telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib, sekali untuk selama- lamanya. Tetapi, karena Kristus sebagai Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, maka Ia berkehendak untuk hadir di tengah umat-Nya melalui kurban Tubuh dan Darah-Nya agar semua manusia dari setiap generasi dapat menyambut-Nya, dan menerima buah pengorbanan-Nya. Dan keinginan-Nya untuk hadir di tengah kita yang menyambut Tubuh dan Darah-Nya juga kita ketahui dari Sabda-Nya dalam Kitab Suci.

Mari kita melihat beberapa teks berikut ini:

[Pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya], Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19, lih. Mat 26:26, Mrk 14:22, 1 Kor 11:24)

Lihatlah dalam perkataan yang diucapkan Yesus ini: “Inilah TubuhkubukanInilah lambang Tubuh-Ku“. Artinya, oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Ia sungguh ingin menjadikan roti dalam perjamuan tersebut sebagai Diri-Nya sendiri. Demikian pula dengan anggur yang ada dalam cawan itu, sebagai Darah-Nya sendiri. Kenyataan bahwa perjamuan tersebut dilakukan sebelum kejadian pengorbanan-Nya di kayu salib, juga sudah memberikan bukti bahwa Kristus yang mengatasi ruang dan waktu, menjadikan kurban Perjamuan tersebut sebagai kurban yang satu dan sama dengan kurban Tubuh dan Darah-Nya, yang baru secara nyata terjadi di bukit Kalvari keesokan hari-Nya.

Selanjutnya, perkataan selanjutnya, ialah bahwa Ia menghendaki agar kita memperingati kurban Tubuh dan Darah-Nya ini sampai Ia datang kembali di akhir jaman:

“Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang…. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” (1 Kor 11:26)

Maka pada saat kita merayakan Ekaristi, kita memberitakan kematian-Nya yang membawa kita kepada keselamatan. Kita melakukannya karena inilah yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, bahwa kita harus mengenang-Nya dengan cara demikian sampai Kristus kembali datang di akhir jaman.

Jadi kurban Kristus dalam Misa Kudus bukanlah korban yang baru, atau Kristus yang dikurbankan berulang- ulang; ataupun kurban berulang- ulang yang dilakukan oleh manusia seperti pada Perjanjian Lama. Yang dilakukan dalam Misa Kudus adalah memperingati dan menghadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus: korban Yesus yang satu dan sama itu; agar kita dapat memperoleh buah- buahnya. Sebab dengan kebangkitan-Nya dari maut, Kristus telah mengatasi maut, dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Ia mengatasi ruang dan waktu, dan dapat menghadirkan kembali peristiwa yang satu dan sama itu, dengan cara yang berbeda, yaitu tidak dengan berdarah seperti yang terjadi 2000 tahun lalu ketika Ia wafat, tetapi secara sakramental, dengan kuasa-Nya mengubah roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian, Ia tidak wafat berkali-kali, namun efek pengorbanan-Nya tetap dapat disampaikan kepada Gereja-Nya di sepanjang zaman, sebab dengan kebangkitan-Nya memang Ia telah menebus umat manusia di sepanjang zaman.

Dengan kehadiran-Nya dalam Ekaristi tidak berarti bahwa Ia tidak tinggal di sorga; Ia tetap ada di surga, namun juga hadir di dunia, Ia berada di sebelah kanan Allah Bapa namun juga ada di tengah- tengah kita umat-Nya. Dalam Ekaristi, kita dapat menerima Tubuh dan Darah-Nya, agar kita memperoleh hidup di dalam Dia. Selanjutnya tentang topik ini silakan klik di sini. Sebab Yesus berkata:

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia…..Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 51-58)

Ajaran ini memang termasuk ajaran yang sulit, sehingga bahkan dalam Kitab Suci kita melihat banyak orang meninggalkan Yesus setelah Yesus mengajarkan hal ini kepada mereka (lih. Yoh 6:60-66). Karena mereka tidak dapat memahami, bagaimana Yesus dapat memberikan Tubuh-Nya untuk dimakan dan Darah-Nya untuk diminum? Namun Yesus tidak mengubah ajaran ini meskipun banyak pengikutnya pergi meninggalkan Dia:

“Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”(Yoh 6:68-69)

Sekarang, di tengah- tengah ajaran mereka yang tidak lagi menghayati kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi, mereka yang mengatakan roti dan anggur hanyalah lambang Tubuh dan Darah Kristus, mereka yang mengatakan bahwa Ekaristi bukan korban Kristus, sesungguhnya Yesuspun bertanya yang sama kepada kita umat Katolik: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”…. Apakah kamupun mau menjadi tidak percaya akan ajaran ini?

Semoga kita dapat menjawab bersama Rasul Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal…” Semoga kita dapat melihat bahwa iman para rasul akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi ini merupakan salah satu pokok iman yang diajarkan secara tidak terputuskan sejak Gereja awal mula (lih. Kis 2:42) sampai sekarang. Gereja Katolik melestarikan ajaran ini lebih dari 2000 tahun lamanya. Pengajaran tentang Ekaristi sebagai kurban Kristus yang satu dan sama ini, merupakan suatu bukti yang nyata bagaimana kita harus membaca Kitab Suci dalam terang Tradisi Suci yaitu ajaran para rasul dan para Bapa Gereja, yang dengan setia melaksanakan ajaran Kristus. Ekaristi sebagai kurban Kristus yang satu dan sama itu adalah jawaban akan bagaimana Kristus memberikan hidup-Nya kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Ekaristi adalah cara yang dipilih Yesus untuk menggenapi firman-Nya bahwa Ia adalah Sang Roti Hidup yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33). Tiada yang dapat membatasi kuasa Tuhan untuk menghadirkan kembali Misteri Paska-Nya (yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga), di tengah kita, agar kita, memiliki kesempatan untuk mengambil bagian di dalamnya.

Marilah kita menerima cara Kristus mengasihi kita, yaitu dengan kita menerima Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan demikian kita dapat hidup oleh-Nya dan tinggal di dalam Dia. Sebab Ia berkata, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:58). Semoga dengan tinggal di dalam Dia, maka firman inipun digenapi di dalam kita, “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak…. mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:5-7)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Siapa perempuan dalam Wahyu 12?

18

[Berikut ini adalah tulisan Tristan, yang mewakili pandangan dari saudara/i kita yang Protestan tentang interpretasi ‘perempuan’ dalam Wahyu 12. Ingrid akan menanggapinya dengan menjabarkan interpretasi yang disetujui oleh Gereja Katolik tentang Wahyu 12 ini].

Pertanyaan:

Perempuan bersayap burung nasar – Wanita dalam WAHYU 12 Bukan Maria

(13) Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu. (14) Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. (15) Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. (16) Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
(17) Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian YESUS.

————————————————————

Mungkin ini suatu hal yang baru buat kita dan mungkin berbeda dengan apa yang telah kita dengar dan pahami mengenai hal ini.

Dan ini hanyalaha sebuah tafsir saya pribadi – belum tentu benar dan mohon maaf bila telah menyudutkan pihak lain –
————————————————————————————————-

Bagian ini adalah berbicara soal Gereja, dg aktor sbb :

1. ayat 13 : ular naga adalah iblis yang menyesatkan umat pilihan (yang bisa) dan yang memburu untuk dibinasakan (karena tidak bisa disesatkan)

Matt 24:24 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

2. ayat 14 : wanita adalah lambang Gereja Tuhan atau mempelai Tuhan (gereja mula-mula)

3. ayat 15 : air sebesar sungai adalah manusia yang tersesat atau disesatkan

Rev 17:15 Lalu ia berkata kepadaku: “Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.
Rev 17:16 Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.
Rev 17:17 Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi.

4. ayat 16 : bumi – kematian

6. ayat 17 : anak yang lain adalah gereja2 Tuhan hasil reformasi

Dari ‘riset’ yang saya lakukan, saya menemukan bahwa wanita yang dimaksud di dalam narasi ini adalah gereja mula-mula yang tidak tunduk atau taat dalam pelacuran dengan kata kunci :

a. sayap burung nasar
b. padang gurun

Adapun pelacuran yang dimaksud adalah doktrinal yang menempatkan Maria sebagai salah satu sentral dalam ajaran gereja, antara lain : devosi, rosario, penempatan Maria sbg Bunda Allah (Theotokos – Konsili Efesus)

Tentu saja ketika saya menyebut Maria, dalam hal ini saya tidak menempatkan Maria yang sebenarnya, namun lebih kepada ‘Maria yang lain’

Dalam berbagai korespondensi dg beberapa anggota gereja yang menjadi ‘target’ saya , saya menemukan bahwa sejak awal mula (mulai dari kisah rasul) saat ini saya hanya menemukan 2 gereja yang memenuhi kriteria ini yaitu :

1. Gereja Assyria Timur (ACOE – Assyrian Church of the East)

1Pet 5:13 Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku.

Harap dibedakan dg Chalden Church

2. Syriac Orthodox

Satu kesamaan dari kedua gereja ini adalah dilestarikannnya penggunaan bahasa Aram (dg dialeknya) serta tradisi2 semitis lainnya sampai saat ini serta menempatkan Maria sebatas Bunda Tuhan (Christokos), bukan Bunda Allah (Theotokos)

Untuk gereja yang di Alexandria (Koptik), Byzantium (Yunani) memiliki praktik yang sama dengan Roman Catholik (juga ritus timur)

Dalam sejarahnya, gereja2 (pengikut2nya — aktor no 3 atau ayat 15) dg doktrin Theotokos telah memburu dan membunuh banyak sesama karena perbedaan doktrin ini.

Bahkan diakui, pembantain ini lebih marak ketika Kekristenan dijadikan sbg agama kekaisaran Romawi.

Membunuh atas nama Tuhan

Banyak dari para penentang yang diburu ini melarikan diri ke imperium persia/assyria [musuh bebuyutan romawi]

Dan uniknya adalah :

1. Imperium ini meliputi banyak luasan padang gurun
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d7/Sassanid-empire-610CE.png

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sassanid-empire-610CE.png

2. Imperium ini memakai lambang sayap burung nasar/rajawali

——————————————————————-
Quote
Nestorius and his teachings were eventually condemned as heresy at the First Council of Ephesus in 431 and the Council of Chalcedon in 451, leading to the Nestorian Schism in which churches supporting Nestorius broke with the rest of the Christian Church. Afterward many of Nestorius’ supporters relocated to Sassanid Persia, where they affiliated with the local Christian community, known as the Church of the East. Over the next decades the Church of the East became increasingly Nestorian in doctrine, leading it to be known alternately as the Nestorian Churc
————————————————————————–

http://en.wikipedia.org/wiki/Nestorianism

Jadi wanita (gereja) ini dibawa ‘terbang’ dengan sayap burung nasar (rajawali) yaitu imperium persia/assyria/sasanid dan dipelihara di sana.

Jadi klaim Katolik yg mengatakan wanita dalam Wahyu 12 terbantahkan.

Salam, Tristan

Jawaban:

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Woman_of_the_Apocalypse
Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Woman_of_the_Apocalypse

Shalom Tristan,

Pertama- tama harus diakui bahwa Kitab Wahyu memang adalah kitab yang sarat dengan simbol- simbol, dan karenanya memang terdapat banyak interpretasi atas arti dari simbol- simbol tersebut. Namun bukan berarti bahwa semua simbol itu adalah untuk diartikan secara allegoris sehingga tidak mempunyai arti literal. Ini adalah sesuatu anggapan yang sudah didahului oleh kesimpulan tertentu, ketimbang mengartikan ayat- ayat tersebut dengan jujur memperhatikan makna literal yang ingin disampaikannya.

Kedua, kita tidak dapat mengartikan Wahyu 12, hanya dengan mengutip sebagian ayat saja (ay. 13-18), tanpa mengkaitkan dengan ayat- ayat lainnya. Perlu juga diketahui bahwa kitab Wahyu dalam bentuk aslinya tidak diberikan terbagi- bagi menjadi bab- bab dan notasi ayat- ayat, seperti yang kita ketahui sekarang; melainkan kitab itu dituliskan sebagai satu kesatuan narasi. Sehingga, ayat- ayat dalam Wahyu 12 sesungguhnya berhubungan langsung dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

1. Tabut Perjanjian dalam Wahyu 11 = ‘Perempuan’ dalam Wahyu 12

Penggambaran kisah pada Wahyu 11:5 juga mengingatkan pada ayat Yos 6:13, tentang pertempuran di Yerikho di mana ketujuh imam memimpin bangsa Israel mengelilingi kota itu dengan membawa tabut perjanjian, dan pada hari ketujuh mereka meniupkan sangkakala yang merobohkan temboknya. Demikian pula, kisah di kitab Wahyu tentang bangsa Israel yang baru juga mengalami pertempuran dengan kehadiran tabut perjanjian. Kejadian tersebut dinyatakan dalam Why 11: 19, yang menghantar kita masuk ke dalam kisah Wahyu 12:

“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, …..”

Jadi Rasul Yohanes mengkaitkan kisah ini sebagai berikut, “….Terbukalah Bait Allah di sorga, dan terlihatlah tabut perjanjian-Nya….. Tampaklah di surga seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan ia bermahkota dua belas bintang. Dengan perkataan lain, Rasul Yohanes menunjukkan bahwa tabut perjanjian itu, dan tabut itu adalah seorang wanita. Hal ini menyerupai kisah sebelumnya yang mengatakan bahwa seorang mempelai yang kelihatan sebagai sebuah kota.

2. Jadi siapakah wanita yang disebut dalam Wahyu 12?

Maka pertanyaan berikutnya, siapakah perempuan ini yang juga adalah sang tabut perjanjian? Banyak komentator mengatakan bahwa wanita ini adalah Gereja, yang melahirkan umat beriman di sepanjang masa. Gereja Katolik menerima juga interpretasi allegoris ini, namun terutama, Gereja Katolik menginterpretasikan ‘wanita’ ini secara literal, yaitu Bunda Maria. Sebab, jika kita memperhatikan konteks yang disampaikan oleh Rasul Yohanes, maka kita mengetahui bahwa tokoh- tokoh yang diceritakan yaitu wanita, Anak laki-laki, dan naga tersebut, mengacu kepada pribadi- pribadi yang nyata.

Anak yang “akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi” (Why 12:5) mengacu kepada ayat Mzm 2:9 yang menjabarkan janji Allah tentang Raja yang diurapi Tuhan, dan ini mencapai penggenapannya dalam diri Tuhan Yesus. Demikian pula, Rasul Yohanes menambahkan, “Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya”, dan ini juga sempurna digenapi oleh Kristus yang naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, seperti yang diucapkan dalam Credo Aku Percaya. Maka “Anak laki- laki” ini pertama- tama mengacu kepada Kristus sendiri.

Demikian pula tentang “naga” tersebut. Rasul Yohanes mengatakan bahwa naga itu bukanlah suatu allegori tetapi suatu pribadi tertentu, yaitu: “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia…. ” (Why 12:9). Hal yang sama yaitu ‘rekan’ sang naga itu, “… seekor binatang keluar dari dalam laut” (Why 13:1) juga mengacu kepada orang-orang yang tertentu yang nyata. Binatang tersebut dikatakan, “bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh”, dan kita ketahui dari kitab nubuat Dan 7, bahwa binatang- binatang tersebut mengacu kepada dinasti. Tanduk adalah simbol dari kekuasaan dinasti.

Ada komentator yang mengatakan demikian: Pada abad ke-1, dinasti yang paling mengancam Mesias keturunan Daud adalah dinasti Herodes, seperti kita ketahui dari Injil Matius bab 2. Raja Herodes adalah seorang non- Yahudi, yang ditunjuk oleh kaisar Romawi untuk memimpin daerah Yudea. Raja Herodes ini sungguh ditakuti oleh rakyatnya. Raja Herodes I (Herod the Great) membunuh istrinya sendiri, ketiga anaknya, ibu mertuanya, saudara iparnya, pamannya, dan seluruh bayi- bayi di Betlehem pada masa pemerintahannya. Maka dinasti Herodes ini merupakan penghalang bagi tercapainya restorasi kerajaan Daud. Diketahui bahwa ada tujuh orang raja dinasti Herodes dari keturunan Antipater; dan ada sepuluh orang Kaisar dalam kekaisaran Romawi sejak jaman Julius (pendiri dinasti Julio- Claudian) sampai dengan Vespasian, yaitu sampai kehancuran Bait Allah di Yerusalem di sekitar tahun 70. Maka binatang buas dengan sepuluh tanduk dan tujuh kepala sesuai dengan ketujuh raja dinasti Herodes yang memperoleh kekuasaan dari kesepuluh Kaisar Romawi.

Ada pula komentator lain yang mengartikan binatang buas berkepala tujuh tersebut sebagai Kerajaan Romawi secara keseluruhan, dengan tujuh rajanya. Pada saat Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu, kelima kaisar Romawi tersebut telah mati (dari Agustus -kaisar pertama -sampai kaisar Nero). Tahun- tahun berikutnya terdapat masa kekacauan antara pemerintahan Galba, Otho, Vitellius, yang ketiganya tidak nampak sebagai kaisar, sehingga kaisar ke- 6 berikutnya adalah Vespasian, yang digantikan oleh Titus puteranya, yang naik tahta hanya sebentar yaitu kurang dari satu tahun (ay. 10-11). Titus ini kemudian digantikan oleh  Domitian (kaisar ke-8, seperti disebut dalam ay. 12), yang kekejamannya mengingatkan kepada Nero, sehingga sering disebut sebagai Kaisar Nero yang hidup kembali. Pada masa pemerintahan Domitian, kehancuran Yerusalem mencapai puncaknya.

Maka lambang- lambang ini mengacu kepada orang- orang yang nyata bukan hanya simbolis. Anak laki-laki itu mengacu kepada Yesus Kristus, dan naga itu mengacu kepada Iblis, dan binatang buas itu mengacu kepada para raja dan kaisar yang menentang Yesus dan penyebaran Injil, maka sang perempuan yang melahirkan Anak laki- laki itu mengacu kepada Bunda Maria yang melahirkan Kristus.

Perempuan itu digambarkan oleh Rasul Yohanes, “diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun….” Beberapa komentator mengatakan sayap ini melambangkan perlindungan ilahi atas Bunda Maria terhadap dosa, namun ada juga yang mengartikan bahwa hal ini mengisahkan perlindungan Allah atas pengungsian Bunda Maria, Yusuf dan Yesus ke gurun di Mesir (Mat 2:13-15) menghindari pembunuhan bayi oleh raja Herodes.

Jadi untuk mengatakan bahwa Wahyu 12 hanya mengacu pada lambang untuk diartikan secara allegoris/ perumpamaan, merupakan pandangan yang terlalu menyederhanakan. Penglihatan Rasul Yohanes ini, meskipun kaya dengan lambang- lambang, sebenarnya juga mengacu kepada orang- orang yang nyata, yang dilihat melalui perspektif ilahi.

3. Interpretasi tentang “Perempuan” menurut Tradisi Suci

Menurut Tradisi Suci, “Perempuan” (‘woman‘) yang disebukan dalam Kitab Wahyu sama dengan “perempuan” (‘woman‘ yang diterjemahkan dalam KS- LAI sebagai ‘ibu’) yang diucapkan pada Injil Yohanes, yaitu pada peristiwa mukjizat di Kana (lih. Yoh 2:4) dan pada saat Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid-murid-Nya (lih. Yoh 19:26). ‘Perempuan’ ini juga mengacu kepada “perempuan” yang disebut dalam kitab Kejadian 3:15. Selanjutnya tentang topik Hawa yang baru telah dibahas di sini, silakan klik.

Kaitan inilah yang antara lain menyebabkan para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Dan sebagaimana Hawa yang artinya “ibu dari segala yang hidup”, maka dalam penglihatan Rasul Yohanes, Bunda Maria juga bukan saja sebagai Ibu dari seorang Anak laki- laki (ay.13), tetapi juga “keturunan yang lain” (ay.17). Maka keturunannya di sini adalah semua orang yang mempunyai hidup baru di dalam Kristus. Maka di sini Rasul Yohanes ingin menghubungkan “perempuan” dalam kitab Wahyu dengan “perempuan” dalam kitab Injil yang ditulisnya, yang mengacu kepada Hawa yang baru yang menjadi ibu dari segala yang hidup. Hawa yang baru ini sekaligus merupakan tabut perjanjian yang baru, yang penjabarannya dapat dibaca di sini, silakan klik.

Maka, Tradisi Suci mengajarkan bahwa perempuan ini selain diinterpretasikan sebagai Bunda Maria, dapat juga diinterpretasikan sebagai:

A. Gereja:

a. St. Ambrosius (abad ke-4) mengajarkan bahwa ‘perempuan’ tersebut adalah Bunda Maria, “sebab ia adalah bunda Gereja, karena telah melahirkan Dia yang menjadi Kepala Gereja”; namun St. Ambrosius juga mengajarkan bahwa ‘perempuan’ itu juga dapat diartikan secara allegoris sebagai Gereja itu sendiri.

b. St. Ephrem dari Siria, juga menyimpulkan hal yang sama: “Bunda Maria adalah, juga, gambaran dari Gereja …. Marilah menyebut Gereja dengan nama Maria, sebab ia layak mempunyai dua nama.” Di sini St. Ephrem melihat Bunda Maria kaitan yang dekat sekali antara Maria dan Gereja, sebab Maria adalah murid/anggota Kristus (=Gereja) yang pertama, yang juga menjadi teladan bagi semua murid/ anggota Kristus (=Gereja).

c. St. Agustinus juga mengajarkan bahwa ‘perempuan’ dalam kitab Wahyu 12 “mengacu pada Bunda Maria yang dalam keadaan tidak bernoda, melahirkan Kepala kita [Kristus] yang tidak bernoda. [Maria] menunjukkan sendiri bahwa ia adalah figur dari Gereja yang kudus, sehingga setelah melahirkan seorang Putera ia tetap perawan, sehingga Gereja harus juga melahirkan anggota- anggota Kristus di sepanjang masa, namun tanpa kehilangan keperawanannya.”

Seperti Bunda Maria melahirkan Kristus, maka Gereja melahirkan umat beriman. Seperti Gereja menjadi ibu bagi semua orang percaya melalui Pembaptisan, Bunda Maria menjadi ibu bagi semua orang percaya sebagai saudara/i Kristus.

B. Israel

Beberapa Bapa Gereja juga menginterpretasikan ‘perempuan’ itu sebagai lambang Israel, atau Putri Sion, yang melahirkan Mesias dalam artian bangsa messianis; sebagai bangsa pilihan Allah sepanjang segala abad, sebagai kerajaan Daud yang dipertentangkan dengan para raja dinasti Herodes dan para Kaisar Roma.

C. Yerusalem sorgawi

Yerusalem sorgawi yang adalah perempuan yang merdeka ini (Gal 4:26) yang menggambarkan bangsa pilihan Allah.

Apapun interpretasi di atas, tidak dapat dipertentangkan dengan makna utama dari teks, sebab ketiga arti simbolis/ allegoris ini sebenarnya juga merujuk kepada makna literal- historis; dan tidak menentangnya. Maka, Gereja Katolik menerima beberapa interpretasi tentang Kitab Wahyu ini, baik yang literal maupun allegoris, asalkan disertai dengan penjabarannya masing- masing. Maka Gereja Katolik tidak melihat kitab Wahyu sebagai suatu ‘rahasia’ yang hanya mempunyai satu arti, tetapi lebih kepada suatu kisah simbolis yang mengandung banyak makna.

Menarik di sini untuk melihat interpretasi beberapa kaum Fundamentalis yang biasanya selalu menekankan arti literal, namun pada Wahyu 12 ini menginterpretasikan secara simbolis. ‘Perempuan’ itu diartikan sebagai bangsa Israel/ Putri Sion, sedangkan ‘Anak laki-laki’nya sebagai Yesus. Hal ini merupakan sesuatu yang janggal, karena, bagaimana mungkin ibunya diinterpretasikan secara kolektif sedangkan anaknya diinterpretasikan secara individual? Padahal teks nubuatan dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan Putri Sion yang melahirkan, anaknya tidak mengacu kepada Mesias secara individual, tetapi bangsa yang mesianis.

4. Wahyu 17

Dalam Wahyu 17 disebutkan kisah penghakiman atas Babel yang disebut sebagai ‘pelacur besar’ (ay. 1). Babel/ Babilon di sini memang adalah kata kiasan dari kota Roma, yang memang pada jaman kitab Wahyu dituliskan, merupakan kota yang penuh dengan berhala, terutama juga karena kaisarnya sendiri (dimulai dari Julius tetapi resmi dikenakan oleh Kaisar Agustus) mempunyai gelar Divi Filius (son of a god).

Maka binatang yang disebutkan di sini mengacu kepada kerajaan Romawi (ay.3) Sungai yang dimaksud adalah bangsa- bangsa yang ada di bawah kekuasaannya (ay. 15). Tujuh kepala adalah tujuh bukit di Roma (ay. 9). Ketujuh kepala adalah juga ketujuh raja Roma, seperti yang disebutkan pada point 1 di atas.

Kesepuluh tanduk adalah kesepuluh raja yang ada dalam persekutuan dengan kerajaan Romawi ini. Kerajaan- kerajaan ini akan menerima kuasa dalam waktu sekejap bersama dengan kerajaan Romawi (ay.12). Kerajaan- kerajaan ini menindas Anak Domba, yaitu Gereja (ay. 14), sebab penganiayaan terhadap Gereja adalah penganiayaan terhadap Kristus sendiri (lih. Kis 9:4). Namun, walaupun dianiaya, Gereja tidak punah, dan tetap bertahan karena Kristus Sang Anak Domba menyertainya (ay. 14).

Kemudian kesepuluh raja (tanduk) ini membenci kota Roma (pelacur) karena mereka ingin memisahkan diri dari kerajaan Romawi, dan inilah yang terjadi, bahwa kota Roma akan dihancurkan, juga karena terjadi perpecahan di dalam kerajaan Romawi itu sendiri (ay. 16-17).

Perempuan yang disebutkan pada ayat 18, “Dan perempuan yang telah kaulihat itu, adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.” Di sini perempuan itu mengacu kepada Gereja yang dilindungi oleh Sang Anak Domba (Kristus). Interpretasi ini tidak bertentangan dengan interpretasi Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, dan secara allegoris sebagai Gereja. Kedua interpretasi ini tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling memperkaya; karena Maria tidak terlepas dari Gereja, melalui perannya sebagai Bunda Tuhan Yesus dan Bunda Gereja.

5. Klaim Katolik yang mengatakan perempuan dalam Wahyu 12 terbantahkan?

Anda kemudian menyebutkan dua gereja (Gereja Assyria Timur) dan Syriac Orthodox yang anda yakini sebagai gereja yang “dibawa ‘terbang’ dengan sayap burung nasar (rajawali) yaitu imperium persia/assyria/sasanid dan dipelihara di sana”.

Terus terang, menurut saya, klaim anda yang tidak memiliki dasar yang kuat, karena berdasarkan atas analisa pribadi. Berikut ini pandangan saya, berdasarkan yang saya ketahui dari tulisan para Bapa Gereja:

a. 1 Pet 5:13 dasar bagi Gereja Assyria Timur?
1 Pet 5:13, tidak ada hubungannya dengan Assyria. Kata ‘Babilon’ yang dipakai di sana mengacu kepada kota Roma, pusat dunia pada saat itu, yang menjadi target penginjilan para rasul, terutama Rasul Petrus dan Paulus. Silakan membaca artikel sehubungan dengan topik ini di sini, silakan klik.
Maka ‘Babilon’ di sini tidak mengacu kepada Assyria.

b. Syriac Orthodox benar karena menempatkan Maria sebagai Christotokos (Bunda Kristus) dan bukannya Bunda Allah (Theotokos)?

Ajaran ini berasal dari Nestorius (386-451); dan ajaran ini adalah heresi/ bidaah karena memisahkan kedua kodrat dalam pribadi Yesus. Nestorius mengajarkan bahwa tidak ada persatuan antara kodrat ke-Allahan dan kemanusiaan dalam diri Yesus. Akibatnya Nestorius mengajarkan bahwa Yesus sebagai manusia adalah “temple of the Logos” dan “Logos”-nya adalah Tuhan. Dengan pengertian ini, maka ia mengajarkan bahwa Bunda Maria hanya ibu dari Yesus manusia ini (Christotokos), tetapi bukan ibu dari Tuhan Yesus (Theotokos).

Namun dengan memisahkan kedua kodrat ini, maka ajaran Nestorius ini malah tidak sesuai dengan Kitab Suci yang jelas mengatakan bahwa “Firman/ Sabda itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:14). Jadi Yesus Kristus itu bukan hanya sekedar bait Allah/ “temple of the Logos”  tetapi Ia adalah Sang “Logos“/ Sang Firman itu sendiri yang menjelma menjadi manusia.  Mengatakan bahwa Yesus hanya ‘temple of the Logos‘ artinya mensejajarkan Yesus dengan manusia/ orang suci, tetapi bukan Allah, dan ini adalah ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci dan ajaran para rasul.

Maka sejarah mencatat bahwa ajaran Nestorius ini ditentang dengan keras oleh St. Cyril dari Alexandria (380-444), dan oleh Konsili Efesus 431. St. Cyril mengajarkan adanya kesatuan antara kodrat ke-Allahan dan kemanusiaan dalam pribadi Yesus. Oleh karena itu Maria, Bunda Yesus juga disebut Bunda Allah, karena Yesus adalah Allah. Silakan membaca penjelasan tentang ajaran ini dalam artikel Yesus sungguh Allah sungguh manusia, silakan klik. Jadi jelaslah di sini bahwa ajaran ‘Theotokos‘/ Maria Bunda Allah, diberikan untuk menjaga kemurnian ajaran tentang ke- Allahan Yesus. Bahwa karena Yesus sungguh Allah, maka ibu-Nya dapat dikatakan sebagai Bunda Allah.

Akhirnya, jika kita menginterpretasikan perempuan itu sebagai Gereja; maka kita juga perlu melihat gambaran Gereja/ kumpulan jemaat yang dimaksudkan oleh Rasul Yohanes. Dalam Kitab Wahyu yang sama yaitu bab 7, dikatakan demikian, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba…..” (Why 7:9). Maka Gereja yang dimaksud di sini adalah Gereja yang universal, yang tidak hanya terbatas pada golongan/ kelompok/ bangsa tertentu. Silakan anda memeriksa, apakah pandangan anda tentang dua gereja yang spesifik tadi cocok atau tidak dengan penjabaran Rasul Yohanes di sini.

6. Kesimpulan

Dengan melihat penjabaran di atas, interpretasi Gereja Katolik tentang  ‘perempuan’ dalam Wahyu 12 tidak terbantahkan. Dalam interpretasi Gereja Katoliki, ‘Perempuan’ tersebut diartikan secara literal adalah Bunda Maria, sedangkan secara simbolis/ allegoris adalah Gereja. ‘Perempuan’ tersebut tidak dapat dikatakan mengacu kepada hanya dua gereja yang disebutkan (Assyria dan Syria), hanya karena lokasi gereja tersebut di padang gurun ataupun logo yang dipakai adalah sayap burung nasar. Sebab interpretasi Kitab Suci harus mempunyai dasar kaitannya dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci, dan konteks yang sedang dibicarakan. Oleh sebab itu, sangat pentinglah bagi kita untuk mempelajari ajaran para Bapa Gereja yang jauh lebih memahami latar belakang penulisan Kitab Suci, konteks budaya maupun sejarah yang berkaitan dengan Kitab tersebut.

Semoga pada saat kita mempelajari teks Kitab Suci, kita juga dipenuhi oleh semangat kerendahan hati, agar tidak melulu membatasi diri pada pengertian pribadi, tanpa mau menerima pengajaran dari para Bapa Gereja.

Sumber:
1. Scott Hahn, Hail Holy Queen, (New York: Double Day, 2001), p. 53-67
2. Dom Bernard Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, (London- New York: Thomas Nelson and Sons Ltd, 1952), p. 1202- 1206
3. Robert Payesko, The Truth about Mary, Vol 2., (California: Queenship publishing company, 1996), p. 2-42, 2-61-2-74.

Arti menjadi murid Kristus

2

[Berikut ini adalah renungan yang dituliskan oleh salah seorang pembaca, Machmud, yang menyusun artikel ini untuk menjawab pertanyaan tetangganya perihal topik, “Menjadi murid Kristus”. Ingrid akan menambahkannya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik].

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Dear pengasuh Katolisitas

Setelah mempelajari dan menekuni Alkitab, maka saya dapatkan jawaban atas pertanyaan tetangga saya sbb :

MURID MENJADI SEPERTI GURUNYA

APA RENCANA PERTUMBUHAN DARI ALLAH BAGI MANUSIA ?
Semua orang percaya harus menjadi murid, ini perintah dan kehendak Tuhan

Mat 28 : 19 : sebab itu pergilah kamu, jadikanlah sekalian bangsa itu muridku, serta membaptiskan dia dengan nama Bapa, dan Anak dan Rohkudus

LALU APA ARTINYA MENJADI MURID ?
1. Ada gurunya, yaitu Kristus yang menjadi pegangan dan ukuran kita
2. Mau diajar dan dididik.
Mau belajar dan terus berubah, terus diperbaharui, terus tumbuh sampai menjadi seperti Kristus
3. Suatu proses.
Menjadi murid berarti berada dalam suatu proses yang panjang,tidak langsung selesai, tetapi diolah sampai akhirnya mencapai sasaran atau tujuannya.
Proses ini tidak mudah sebab harus dengan penyangkalan diri supaya bisa taat kepada gurunya yaitu Firman Tuhan
4. Targetnya menjadi seperti gurunya
(Luk 6 : 40 Seorang murid tiada lebih dari pada gurunya, tetapi tiap2 murid yang sudah cukup pelajaran itu akan menjadi sama seperti gurunya).
Kalau murid itu diajar dan taat , terus tumbuh, maka sesudah cukup diajar dan diolah, akhirnya akan menjadi sama dengan gurunya yaitu seperti Kristus.
5. Murid memuridkan.
Suatu hal yang unik dalam kehidupan orang2 beriman ialah murid2 ini meskipun belum mencapai target seperti Kristus, sudah wajib memuridkan orang lain dan justru dalam pemuridan ini semuanya makin tumbuh lebih cepat kepada kedewasaan iman dan kesempurnaan seperti Kristus

MENGAPA ?
Dengan perintah ini nyatalah maksud Allah yaitu untuk menumbuhkan kita sampai pada ukuran yang penuh yaitu Kristus.
Menjadi murid adalah salah satu jalur pertumbuhan rohani yang harus dijalani oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan supaya ia tumbuh dalam rencana Allah sampai akhirnya menjadi seperti Kristus..

a. Orang berdosa yang mau percaya kepada Kristus akan mengalami kelahiran baru menjadi anak2 Allah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai disini, melainkan bertumbuh terus pada fase berikutnya
b. Kita harus menjadi murid Kristus, mau dididik dan diolah sehingga terus bertumbuh menjadi dewasa rohani dan bahkan terus bertumbuh pada fase berikutnya
c. Kita terus bertumbuh dengan meniru teladan Kristus yaitu dengan memenangkan jiwa, sehingga akhirnya semuanya menjadi sama seperti Kristus yaitu sempurna.

Jadi tujuan Allah untuk menyuruh kita menjadi murid Kristus adalah supaya kita terus bertumbuh sampai menjadi seperti DIA se-penuh2nya

BAGAIMANA ?
Bagaimana caranya kita bisa menjadi murid Kristus ?

Luk 9 : 23 Maka kata-Nya kepada sekalian orang, “jikalau barang siapa hendak mengikut AKU, haruslah ia menyangkali dirinya serta menanggung salibnya tiap tiap hari, lalu mengikut AKU

Luk 14 : 17 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut AKU, ia tidak dapat menjadi murid-KU

MENYANGKAL DIRI
Mengapa harus menyangkal diri ?
Sebab daging dan roh kita itu bertentangan satu sama lain.

Galatia 5 : 17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan roh dan keinginan roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki

Daging ini selalu menolak untuk melakukan kehendak Tuhan.
Mau taat hidup seperti Kristus itu bertentangan dengan tabiat manusiawi (tabiat daging).
Sebab itu kita harus menyangkal diri, mau mematikan daging supaya bisa mentaati hidup seperti Kristus.
Ini mutlak perlu untuk menjadi murid Kristus.
Tuhan Yesus sudah mati menebus dosa kita sehingga kita dimerdekakan dari hukum dosa dan maut, bebas dari semua ikatan2 dosa.
Kalau kita mau menyangkal diri, Rohkudus akan menolong kita sehingga kita sanggup mematikan daging supaya bisa taat pada kehendak Roh yang bertentangan dengan kehendak daging.

Roma 8 : 13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan2 tubuhmu, kamu akan hidup.

Kalau kita sudah dimerdekakan dari dosa dan ikatan2nya oleh kematian dan kebangkitan Kristus, mengapa masih harus pikul salib ?

Sebab waktu kemenangan dan kuasa kebangkitan Kristus bekerja di dalam kita, daging sudah kalah dan dimatikan; tetapi proses ini sakit bagi perasaan kita.
Misalnya karena kita sudah menerima kemenangan dari Tuhan, kita bebas, kita bisa mengampuni dan mengasihi, kita sudah bisa melakukannya tapi daging selalu menolak, tidak setuju, daging ingin membalas kembali, daging ingin membenci.

Kalau kita tetap ingin hidup berkemenangan, reaksi daging ini harus disangkali.
Kita bisa melakukannya karena Kristus sudah membebaskan kita, tetapi timbul rasa sakit; mau menyangkal diri berarti kita harus juga mau menerima rasa sakit karena daging dimatikan.
Kalau mau, maka kemenangan itu terus bekerja di dalam kita dan kita bisa hidup seperti Kristus, kemenangan itu menjadi nyata di dalam hidup kita.
Jadi bagian kita harus kita tanggung, sakit karena daging dimatikan.

Jadi menyangkal diri dan menderita sengsara salib, adalah akibat kemenangan Kristus yang bekerja di dalam diri kita.
Kalau daging sudah dimatikan, kita bisa mantaati Firman Tuhan dengan lebih mudah sehingga bisa hidup seperti Kristus.
Jangan lupa menyangkal diri adalah MENU SEUMUR HIDUP dalam dunia sampai kita masuk dalam kesempurnaan atau sampai Tuhan Yesus datang atau kematian.

1Pet 2 : 11 Hai kekasihku, aku minta kepadamu seperti kepada orang musafir dan orang yang menumpang di dunia ini, hendaklah kamu menjauhkan dirimu daripada segala keinginan tabiat duniawi yang berperang dengan jiwa

Kalau daging dibiarkan bertumbuh terus, arahnya menjadi seperti iblis dan memang pada akhirnya itu yang diharapkan oleh iblis.
Kalau daging dimatikan, roh kita akan tumbuh terus kearah Kristus dan memang akhirnya menjadi seperti Kristus.

PIKUL SALIB
Mau pikul salib maka kita bisa berjalan di jalan salib dan akhirnya adalah Golgota = ujian akhir.
Orang yang bisa melewati pengalaman Golgota ini, maka ia akan menjadi sempurna seperti Kristus

Jalan salib adalah jalan pertumbuhan
Orang yang tumbuh rohaninya harus mau pikul salib untuk mentaati Firman Tuhan.
Orang yang mau pikul salib rohaninya akan tumbuh terus sampai menjadi seperti Kristus
Kalau berhenti pikul salib, ia juga akan berhenti bertumbuh dalam rohaninya dan berhenti menjadi murid Kristus

IKUT TUHAN YESUS
Itu berarti meniru Tuhan Yesus dalam setiap segi hidup.
Patokan kita adalah Tuhan Yesus.
Hidup seperti Tuhan Yesus itulah hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Seluruh hidup dicocokkan dengan Firman Tuhan dalam setiap segi.
Sebab itu kita harus tekun belajar Firman Tuhan sampai mengerti kehendak Tuhan dalam setiap segi hidup, lalu men-taatinya dan itu berarti dari kemuliaan kepada kemuliaan.
Ikut Tuhan Yesus berarti ikut melakukan kehendak Allah dan ini termasuk memuridkan orang lain menjadi murid Kristus

SETIAP HARI
Pikul salib itu dilakukan setiap hari terus menerus sampai mati.
Ini seperti carang yang tetap tinggal dalam pokok dan itu terus menerus setiap hari bahkan setiap saat.
Jangan sebentar lekat, sebentar tidak, maka orang seperti ini tidak akan tumbuh sebab kalau lekat dan lepas terus bergantian , tidak bisa tumbuh
Dengan tekun kita pikul salib setiap hari sampai ke akhir, maka kita akan terus bertumbuh seperti carang yang tetap di dalam pokok akan ber-buah2 dengan lebat.
Demikianlah kita bisa menjadi murid Kristus dan terus bertumbuh dan ber-buah2 yaitu dengan mencocokkan hidup ini dengan Firman Tuhan

Mac : 11.March.2010

Jawaban:

Shalom Machmud,

Terima kasih atas renungan yang anda tuliskan tentang ‘menjadi murid Kristus’ ini. Apa yang anda tuliskan di atas cocok dengan ajaran Gereja Katolik. Memang menjadi murid Kristus artinya, seperti yang sudah anda tuliskan di atas: kita harus mau menerima pengajaran Kristus dan melakukannya. Menerima pengajaran ini juga melibatkan perubahan cara hidup, melepaskan segala sesuatu, memikul salib kita, menyangkal diri dan mengikuti Kristus (lih. Luk 9:23; Luk 14:17; Mat 13:44-45). Bentuk penyangkalan diri dan mengikuti teladan Kristus inilah yang sering disebut sebagai “”mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:24, KGK 2475). Orang yang mengenakan manusia baru di dalam Kristus adalah orang yang mempunyai iman di dalam Kristus; dan yang imannya hidup dan membuahkan kasih (lih. Yak 2:24). Hidup di dalam iman dan kasih ini maksudnya adalah hidup menuruti segala perintah Kristus (lih 1 Yoh3: 22). Jika kita selalu hidup di dalam kasih, maka Allah tinggal di dalam kita dan kita di dalam Allah (lih. 1 Yoh 4: 16); dan inilah yang seharusnya kita alami sebagai murid-murid Kristus.

Sedikit yang dapat saya tambahkan adalah sebagai berikut:

1. Menjadi murid Kristus artinya juga adalah masuk ke dalam Kerajaan Allah:

KGK 546     Melalui perumpamaan – satu bentuk mengajar-Nya yang khas – Yesus mengajarkan supaya masuk ke dalam Kerajaan-Nya (Bdk. Mrk 4:33-34). Lewat perumpamaan Ia mengundang ke perjamuan Kerajaan-Nya (Bdk. Mat 22:1-14), tetapi menuntut juga keputusan yang radikal. Untuk memperoleh Kerajaan itu, orang harus melepaskan segala sesuatu (Bdk. Mat 13:44-45); kata-kata hampa tidak mencukupi; perbuatan sangat dibutuhkan (Bdk. Mat 21:28-32). Perumpamaan- perumpamaan itu seakan-akan menempatkan sebuah cermin di depan manusia, dalamnya ia dapat mengerti: Apakah ia menerima kata-kata itu sebagai tanah yang berbatu-batu atau sebagai tanah yang baik? (Bdk. Mat 13:3-9) Apa yang ia lakukan dengan talenta yang ia terima? (Bdk. Mat 25:14-30). Yesus dan kehadiran Kerajaan di dunia adalah inti semua perumpamaan. Orang harus masuk ke dalam Kerajaan, artinya harus menjadi murid Kristus, untuk “mengetahui rahasia Kerajaan surga” (Mat 13:11). Untuk mereka yang “ada di luar (Mrk 4:11), segala sesuatu tinggal rahasia (Bdk. Mat 13:10-15)

2. Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, kita harus dibaptis di dalam air dan Roh Kudus. Yesus berkata,

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5)

3. Allah menghendaki seluruh dunia untuk menjadi murid Kristus; dan ini kita ketahui dari pesan terakhir Yesus kepada kesebelas rasul-Nya, sebelum naik ke surga:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20)

Ayat ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa Kristus telah mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus/ Kepha, dan bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya itu sehingga alam maut tidak akan menguasainya (lih. Mat 16:18). Maka kita ketahui bahwa tugas pemuridan ini tidak terlepas dari para rasul dan para penerus mereka, yang telah diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk membaptis dan mengajar kepada semua bangsa, segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya. Jadi  jika kita menerima kebenaran ayat ini seharusnya kita jika kita sungguh- sungguh ingin menjadi murid Yesus, maka kita harus dibaptis, dan menerima semua pengajaran Kristus yang disampaikan oleh para rasul, baik lisan maupun tulisan. Dan inilah yang menyebabkan Gereja Katolik selalu melihat bahwa pemuridan itu tidak terlepas dari Gereja yang didirikan Kristus. Kita menjadi murid Kristus yang sepenuhnya, jika:

a) kita dibaptis dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, oleh Gereja-Nya dan dengan demikian kita tergabung dengan Kristus sendiri, dan menjadi anggota dalam Tubuh Mistik-Nya, yaitu Gereja Katolik.

b) selanjutnya kita melakukan segala perintah- Nya yang diajarkan Kritus melalui Gereja-Nya, yang telah diberi kuasa untuk mengajar semua bangsa segala perintah-Nya.

4. Dengan demikian Gereja mempunyai tugas misioner, artinya menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus, sehingga benarlah jika dikatakan prinsipnya “murid memuridkan”, artinya sebagai murid Kristus, kita bertugas untuk membawa orang lain untuk juga menjadi murid Kristus.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 767    “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta, agar Ia senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes 4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa, untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6).

5. Menjadi murid Yesus artinya adalah mengambil bagian dalam kehidupan Kristus sendiri, baik di dalam suka maupun duka, penderitaan maupun kesengsaraan. Cara kita mengambil bagian dalam kehidupan Yesus yang paling nyata adalah dengan menyambut Ekaristi, sebab dengan menyambut Ekaristi, maka kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Melalui Ekaristi, Kristus tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Dia.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 787    Sejak awal, Yesus membiarkan para murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya (Bdk. Mrk 1:16-20; 3:13-19). Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah (Bdk. Mat 13:10-17) dan memberikan mereka bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya (Bdk.Luk 10:17-20) dan dalam kesengsaraan-Nya (Bdk. Luk 22:28-30). Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu… Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Dan Ia menyatakan satu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

6. Menjadi murid Kristus artinya juga adalah mengambil bagian di dalam ketiga misi Kristus, yaitu sebagai imam, nabi dan raja.

KGK 783 Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja”. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (Bdk. Redemptoris Hominis 18-21).

Selanjutnya KGK 784-786 mengajarkan bahwa keterlibatan kita di dalam sakramen- sakramen adalah perwujudan nyata kita menjalankan misi imamat bersama dengan umat yang lain. Berpegang teguh pada iman, memperdalam iman dan menjadi saksi Kristus adalah perwujudan misi kita sebagai nabi. Berkarya untuk melayani sesama terutama yang miskin adalah bentuk perwujudan misi kita sebagai raja. Sebab Kristus sebagai Raja memberikan teladan kepada kita, bukan untuk dilayani tetapi melayani, dan untuk memberikan hidup-Nya kepada banyak orang. (lih. Mat 20:28).

7. Menjadi murid Kristus juga bukan hanya beriman pada Kristus dan hidup sesuai dengan iman kita, tetapi juga, berani menjadi saksi Kristus dan menyebarkan iman kita.

KGK 1816 Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus “siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja” (Lumen Gentium 42, Bdk. Dignitatis Humanae 14). Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33).

Memang menjadi murid Kristus adalah suatu perjuangan seumur hidup, bagi kita yang percaya kepada Kristus. Semoga di akhir nanti Tuhan mendapatkan kita setia sebagai murid- murid-Nya.

Demikianlah yang dapat saya tambahkan dari renungan anda tentang menjadi murid Kristus menurut ajaran Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mengapa domba dan mereka yang di sebelah kanan dimasukkan ke dalam Sorga?

6

Pertanyaan:

Pada akhir zaman akan dipisahkan “kambing ” dan “domba”, orang yang jahat dan orang yang benar. (Mat 25:31-46)
Pertanyaan: Kambing dan domba merupakan ciptaan Tuhan yang tentunya baik. Mengapa Yesus mengibaratkan kambing sebagai yang jahat? Mengapa sisi kiri diibaratkan sebagai yang jahat? Begitu pula sebaliknya, sisi kanan kanan sebagai yang baik?

Herman Jay

Jawaban:

Shalom Herman Jay,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang kambing dan domba serta kiri dan kanan di ayat Mt 25:31-46. Berikut ini adalah Mt 25:31-34:

31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Dari ayat-ayat di atas, maka kita meliihat bahwa ayat-ayat tersebut merupakan kejadian yang akan dialami oleh seluruh manusia pada saat terjadi pengadilan terakhir (lih. ay. 31). Kita tahu bahwa pada saat itu, Tuhan akan memisahkan orang yang baik dan orang yang jahat. Pertanyaannya adalah mengapa orang yang baik digambaran sebagai domba sedangkan yang jahat digambarkan sebagai kambing dan yang sebelah kanan masuk Sorga dan sebelah kiri masuk neraka?

1) Domba dan kambing digembalakan oleh gembala yang sama, makan dari rumput yang sama. Namun, pada waktu masuk kandang atau dijual di pasar, mereka akan dipisahkan. Sama seperti semua manusia digembalakan oleh Gembala yang baik – Yesus -, hanya tidak semua manusia masuk dalam kawanan domba dan hanya domba-domba yang mendengarkan Sang Gembala akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Domba adalah binatang yang cenderung untuk berkelompok dalam satu kawanan, sedangkan kambing lebih sendiri-sendiri. Oleh karena itu, domba-domba yang tetap berada dalam satu kawanan akan masuk dalam Kerajaan Sorga.

2) Domba memang banyak sekali dipakai di dalam Alkitab untuk menggambarkan sifatnya yang lemah lembut, sehingga menggambarkan Kristus yang mengatakan “Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mt 11:29). Dan domba-domba juga sering dipakai untuk korban, sehingga merupakan imitasi Kristus, yang dituntun sebagai domba ke tempat pembantaian (lih. Yes 53:7). Hal ini juga menggambarkan bagaimana domba-domba adalah yang menghasilkan buah-buah yang limpah, karena domba-domba menghasilkan susu, wol, dll. Demikian juga orang-orang yang masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah orang-orang yang menghasilkan buah-buah yang limpah (silakan melihat perumpamaan talenta) dan buah-buah yang limpah ini hanya mungkin terjadi kalau orang-orang tersebut hidup di dalam Kristus, karena di luar Kristus, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 15:5).

3) Mungkin alasan terkuat adalah karena Kristus sendiri disebut Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:36; Why 7). Dengan demikian domba-domba menggambarkan orang-orang yang mengikuti Kristus. Jadi orang yang diselamatkan adalah orang-orang yang mengikuti Kristus, bukan hanya mengetahui ajaran-Nya, namun menjadi seperti Kristus, yaitu senantiasa melakukan kehendak Bapa. (Mt 7:21).

4) Tentang kanan dan kiri, memang terkesan bahwa kanan mempunyai konotasi lebih dipercayai dan lebih berkuasa. Dituliskan bahwa Anak Manusia duduk di sebelah kanan yang Mahakuasa (lih. Mt 26:64; Mk 14:62; Mk 16:19; Lk 22:69). Dengan demikian orang-orang yang berada di sebelah kanan mengikuti Kristus, Sang Gembala Agung masuk dalam Kerajaan Allah. Bahkan menurut tradisi, pencuri yang baik – yang bernama Dimas – disalibkan di sebelah kanan Yesus.

Semoga uraian di atas dapat memberikan gambaran yang cukup jelas tentang domba dan posisi kanan. Secara prinsip, domba dan posisi kanan adalah menggambarkan apa yang dilakukan oleh Kristus. Dengan demikian yang melakukan sama seperti Kristuslah yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga. Mari kita bersama-sama tetap berada dalam satu kawanan domba yang digembalakan oleh Kristus yang telah mempercayakan tugas pengembalaan ini kepada Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

2 Sam 6: Mengapa Uza dihukum mati?

1

Pertanyaan:

Salam dlm Kristus.
Bu Inggrid saya mau tanya,

1. Dlm 2 Sam 6, uza mati padahal maksudnya baik memegang tabut Allah karena lembu-lembu tergelincir. Klo tdk dipegang bisa hancur tabut itu kalau jatuh. Tetapi mengapa ia dibunuh Tuhan?
2. Apakah boleh orang Katolik Dikremasi?
3. Apa kesalahan Musa sehingga dia tidak memasuki tanah perjanjian?

Jawaban:

Shalom Fendi,

1. Tentang 2 Sam 6:

Perikop ini mengisahkan bagaimana Raja Dud memindahkan tabut perjanjian Allah dari daerah Efraim ke Yerusalem. Pada ayat ke 7, memang kita membaca bahwa Allah murka terhadap Uza, dan menghukumnya hingga ia mati di dekat tabut Allah, karena ia memegang tabut Allah itu. Sebenarnya kejadian ini berkaitan dengan ketentuan Allah yang disampaikan dalam Bil 4:5, 15 dan 19, yang melarang seorangpun untuk menyentuh tabut perjanjian, kecuali imam- imam-Nya yaitu Harun dan keturunannya.

“Kalau perkemahan akan berangkat, haruslah Harun dan anak-anaknya masuk ke dalam untuk menurunkan tabir penudung, dan menudungkannya kepada tabut hukum…. Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk mengangkat barang-barang itu; tetapi janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati…. Inilah yang harus kamu lakukan bagi mereka, supaya mereka tinggal hidup dan jangan mati, apabila mereka mendekat ke barang-barang maha kudus: Harun dan anak-anaknya haruslah masuk ke dalam dan menempatkan mereka masing-masing di tempat tugasnya dekat barang yang harus diangkat.”

[Selanjutnya, para imam harus disucikan terlebih dahulu sebelum menjalankan tugasnya sebagai imam dalam kemah suci. Jika imam tersebut berdosa pada saat mempersembahkan korban di kemah suci di dekat tabut itu, maka ia akan meninggal seketika (lih. Im 22:9)]. Di sini Allah ingin menunjukkan perbedaan yang mencolok antara kekudusan-Nya dan kemuliaan-Nya yang tak tertandingi, sehingga Ia tidak dapat dibandingkan dengan berbagai dewa-dewi bangsa tetangga dari bangsa Israel. Bangsa Israel harus membayar mahal untuk memahami ajaran ini. Kematian Uza adalah suatu peringatan keras kepada bangsa Israel untuk tidak meremehkan ketentuan penyembahan kepada Allah, dan tentang kekudusan Allah. Pelanggaran terhadap ketentuan itu, bahkan untuk maksud yang kelihatannya baik sekalipun, yaitu menjaga agar tabut tidak jatuh, tidak diperkenankan Allah.

Hal ini membantu kita juga untuk memahami betapa Allah, yang telah sedemikian menjaga kekudusan tabut perjanjian lama akan terlebih lagi menjaga kekudusan Tabut Perjanjian Baru. Allah sangat mementingkan kekudusan tabut perjanjian lama, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

2. Apakah boleh orang Katolik Dikremasi?
Jika ada alasan yang masuk akal, maka orang Katolik dapat dikremasi. Namun demi menghormati kesakralan tubuh manusia, Gereja Katolik mengajarkan agar abu kremasi tersebut dikuburkan atau disimpan di kolumbarium, dan tidak ditaburkan di laut.

Ketentuannya disebutkan sebagai berikut:

LITURGICAL NORMS ON CREMATION
Congregation for Divine Worship

ORDER OF CHRISTIAN FUNERALS, Appendix 2, “Cremation”


417 The cremated remains of a body should be treated with the same respect given to the human body from which they come. This includes the use of a worthy vessel to contain the ashes, the manner in which they are carried, the care and attention to appropriate placement and transport, and the final disposition. The cremated remains should be buried in a grave or entombed in a mausoleum or columbarium. The practice of scattering cremated remains on the sea, from the air, or on the ground, or keeping cremated remains in the home of a relative or friend of the deceased are not the reverent disposition that the Church requires. Whenever possible, appropriate means for recording with dignity the memory of the deceased should be adopted, such as a plaque or stone which records the name of the deceased.

Selanjutnya tentang kremasi sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

3. Apa kesalahan Musa sehingga dia tidak memasuki tanah perjanjian?

Kesalahan Musa sehingga tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian adalah karena kurang percaya dan kurang taat kepada Allah. Kurang percayanya Musa nampak ketika ia mengeluh kepada Allah tentang sikap bangsa Israel terhadapnya. Mazmur 106: 32-33 mengatakan, “Mereka (orang Israel) menggusarkan Dia (Allah) dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya.” Selanjutnya, ketidaktaatan Musa nampak pada waktu ia tidak menaati persis apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk mendatangkan air dari batu di Meribah. Tuhan memerintahkan pada Musa untuk ‘menyuruh’ batu itu (dalam Bil 20:8-dst, katakanlah … kepada batu itu)  untuk mengeluarkan air di depan bangsa Israel, namun yang dilakukan oleh Musa adalah ia memukulkan tongkatnya dua kali atas batu itu (ay. 11), dan akibatnya Allah mengatakan, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku…. di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa mereka ke negeri yang Kuberikan kepada mereka.” (ay.12).

Namun demikian, jangan kita lupa bahwa Musa merupakan seorang nabi yang besar. Dikatakan dalam Kitab Suci bahwa hanya dengan Nabi Musalah Allah berhadapan muka, dan tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel yang melakukan tanda dan mukjizat dengan segala kekuatan dan kedasyatan seperti yang dilakukan oleh Musa di depan bangsa Israel (lih. Ul 34:10-12).

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan anda. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Penganiayaan terhadap murid Kristus

1

Pertanyaan:

Apakah sabda Yesus dalam Matius 10:16-25 tentang penganiayaan terhadap murid murid ditujukan untuk para murid murid Yesus pada saat itu atau kah juga relevan untuk murid murid dan pengikut Yesus pada saat ini?

Jawaban:

Shalom Cleo,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mt 10:16-23. Kita dapat mengartikan bahwa ayat-ayat tersebut memang ditujukan kepada para murid Yesus pada saat itu, yang terlihat jelas bahwa semua dari perkataan Yesus telah terpenuhi. Namun, di satu sisi, kita juga dapat menerapkannya pada semua murid Kristus. Penerapannya adalah sebagai berikut:

Mt 10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Mt 10:17 Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.
Mt 10:18 Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Mt 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Mt 10:20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.
Mt 10:21 Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
Mt 10:22 Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
Mt 10:23 Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.

1) ay. 16: Para murid di utus ke tengah-tengah umat Israel dan bangsa-bangsa lain, yang tidak percaya akan Yesus sebagai Sang Mesias.

Kita juga diutus ke tengah-tengah dunia, yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai Kristiani. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh rasul Yohanes “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2:16). Untuk itu, kita harus menyebarkan Injil dengan tulus, lemah lembut seperti burung merpati, namun juga harus dengan cara yang cerdik seperti ular, atau lebih tepatnya secara bijaksana.

2) ay. 17-19: Para murid pada akhirnya menghadapi penganiayaan dari para farisi dan juga dari para penguasa bangsa-bangsa lain. Silakan mempelajari apa yang dialami oleh para murid yang mengalami siksaan dan kematian untuk memberitakan Injil.

Kita juga harus senantiasa siap sedia untuk menerima resiko untuk memberitakan Injil. Kita mungkin tidak diadili dalam persidangan para penguasa, namun kita “seolah-olah” juga diadili oleh dunia, kalau kita mencoba untuk menerapkan prinsip-prinsip Kristiani. Sebagai contoh: kalau kita menolak korupsi di tengah-tengah situasi pekerjaan yang hampir semuanya terlibat dalam korupsi, maka kita dapat diasingkan dan dijauhi. Berapa sering kita mendengar bahwa untuk menjadi orang baik sangat susah, terutama dalam kondisi sosial yang tidak mencerminkan nilai-nilai Kristiani.

Para murid-murid telah mengalami hal ini, sehingga orang-orang lain heran mengapa ketika mereka dipenjara, mereka malah menyanyi dan memuji Tuhan, ketika dianiaya mereka tidak membalas, dll. Dan ini menjadi suatu kesaksian yang kuat bagi perkembangan Gereja. Bahkan dikatakan bahwa Gereja didirikan di atas darah para martir. Meniru jejak para rasul dan jemaat awal, kita juga dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus, sehingga kita dapat menjadi pantulan kasih Kristus.

3) ay. 20: Para murid mengalami transformasi pada saat mereka menerima Roh Kudus pada hari Pentekosta. Mereka yang ketakutan menjadi berani. Mereka yang bersembunyi kemudian dapat mewartakan Injil secara terbuka. Pada hari Pentekosta inilah, Gereja lahir dan dimanifestasikan kepada dunia secara penuh.

Kita juga harus mengalami transformasi setelah kita mengalami baptisan, karena Sakramen Baptis memberikan kita Roh Kudus, sehingga kita dikuatkan untuk menjadi saksi Kristus yang baik, sama seperti para murid Kristus dan jemaat perdana.

4) ay. 21-22: Hal ini dialami oleh jemaat perdana, karena pada awalnya mereka belum menjadi pengikut Kristus. Oleh karena itu, setelah pemberitaan para rasul, maka banyak umat yang terpecah belah. Kita mengingat bagaimana pada awalnya, jemaat terpecah belah mengenai sunat, yang akhirnya diselesaikan pada konsili Yerusalem 1.

Menjadi pengikut Kristus juga dapat menjadikan suatu “perpecahan” di dalam keluarga, di mana: pasangan tidak setuju, orang tua tidak setuju, dll. Namun, sama seperti para murid, kita juga dituntut untuk tetap setia pada iman Gereja Katolik kita yang bersumber pada Kristus. Karena semakin kita dekat kepada Kristus, maka seharusnya hubungan kita dengan sesama (keluarga, masyarakat) akan semakin baik.

5) ay. 23: Telah dipenuhi pada waktu terjadinya kehancuran Yerusalem pada tahun 70 AD.

Kalau kita mau menerapkan hal ini pada masa ini, maka kita dapat membandingkannya dengan “Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” (Lk 9:5). Adalah menjadi tugas kita semua sebagai pengikut Kristus untuk terus menyebarkan Injil. Namun, semua pada akhirnya semua orang yang menyebarkan Injil dan menerima Injil harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan Tuhan. Apakah yang mengabarkan Injil telah benar-benar melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan perintah Tuhan? Apakah yang menerima Injil telah benar-benar mencari kebenaran dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan? Orang yang menyebarkan Injil harus menerima bahwa pertobatan adalah urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan, sehingga yang menyebarkan Injil harus menjalankan bagiannya dengan sebaik-baiknya, dan yang lain – seperti pertobatan – adalah bagian dari Roh Kudus. Mungkin kita hanya dipakai sebagai penebar benih, atau yang mengelola, atau yang menyirami, namun semuanya bekerjasama demi kemuliaan Kerajaan Allah.

Demikian pemaparan tentang ay Mt 10:16-23 dalam hubungannya dengan terpenuhinya nubuat ini pada murid-murid Yesus, yang juga berlaku untuk kita semua, yang juga menjadi murid-murid Yesus. Artikel yang mungkin berhubungan dengan hal ini dapat dibaca di sini (silakan klik). Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab