Home Blog Page 236

Doa bagi jiwa- jiwa di Api Penyucian

15

Prayer for souls in Purgatory:

My Jesus, by the sorrows Thou didst suffer in Thine agony in the Garden, in Thy scourging and crowning with thorns, in the way to Calvary, in Thy crucifixion and death, have mercy on the souls in purgatory, and especially on those that are most forsaken; do Thou deliver them from the dire torments they endure; call them and admit them to Thy most sweet embrace in paradise….

Our Father…. Hail Mary ….

Eternal rest grant unto them, O Lord, and let perpetual light shine upon them. May the souls of the faithful departed, through the mercy of God, rest in peace.
Amen.

terjemahannya:

Tuhan Yesus,  oleh karena dukacita yang Kau-alami dalam sengsara-Mu di Taman Getsemani, di dalam penganiayaan-Mu dan pemahkotaan-Mu dengan duri, di jalan ke Kalvari, di penyaliban-Mu dan kematian-Mu, berbelaskasihanlah kepada jiwa- jiwa di Api Penyucian, dan terutama kepada mereka yang paling terabaikan; mohon bebaskanlah mereka dari penderitaan yang mereka tanggung; panggillah mereka dan terimalah mereka kepada rangkulan-Mu yang termanis di surga ….

Bapa Kami …. Salam Maria ….
Berikanlah istirahat kekal kepada mereka, O Tuhan, dan biarkanlah terang yang abadi bersinar atas mereka. Semoga jiwa- jiwa orang beriman, melalui belas kasihan Tuhan, beristirahat dalam damai.
Amin.

Perpolitikan di Vatikan?

9

Pertanyaan:

Perpolitikan di Vatikan:

Menurut informasi teman kami, dalam proses pemilihan Paus baru , faktor-faktor berikut menentukan :

1.Sejauh mana keterkaitan calon dengan mafia Roma. Kalau tidak ada, jangan harap jadi Paus
2. Tingkat dukungan para kardinal Amerika Serikat, karena merekalah yang memiliki banyak duit. Dengan kata lain , proses pemilihan Paus melibatkan juga money politics
3.Fakta sejarah money politics di Vatikan adalah sebagai berikut:
a. adanya ancaman penarikan bantuan finansial dari Kardinal Amerika ketika ada upaya menggolkan ensiklik kontrasepsi
b.beatifikasi Kardinal Henry Newman lebih berbau politis

Mohon penjelasan berdasrkan info terpercaya apakah ketiga butir di atas merupakan kejadian historis atau lebih merupakan wacana / bahan diskursus?
Herman Jay

Jawaban:

Shalom Herman Jay,

Pertama- tama, jika ada tuduhan macam ini, kita harus melihat apakah ada bukti yang kredibel yang mendukungnya. Jika tidak ada, maka pernyataan itu hanyalah sekedar tuduhan saja, dan kita tidak perlu menjadi gelisah karenanya. Saya meringkas penjelasan dari link ini, silakan klik, tentang proses pemilihan Paus, untuk menjawab pertanyaan anda pada nomor 1 dan 2:

1. Tentang apakah pemilihan Paus berkaitan dengan mafia Roma.

Silakan didefinisikan dahulu, apa yang disebut sebagai ‘mafia Roma’.

Yang jelas, dalam proses pemilihan Paus (Konklaf), para Kardinal menjunjung tinggi kerahasiaan dan mereka akan mengikuti aturan- aturan yang ada. Penalti/ hukuman bagi yang menyebarkan apapun tentang apa yang sedang berlangsung di Konklaf adalah ekskomunikasi otomatis.

Voting dilakukan dengan hening, dengan memberikan kertas ballot, yang bertuliskan: “Eligo in summum pontificem“— Saya memilih Pontif utama (Paus) …. dan kemudian kertas ini dimasukkan oleh masing- masing cardinal ke dalam cawan yang disediakan. Kertas ballot nanti akan dibuka dan dibacakan hasilnya. Jika sudah ada nama yang mencapai mayoritas (separuh + 1) maka semua kertas dibakar dengan bahan kimia (jaman dulu, jerami basah), untuk menghasilkan asap putih. Sebaliknya jika belum, dibakar biasa, dan menghasilkan asap hitam.

Para kardinal akan langsung mengadakan voting pada sore hari pertama, lalu hari- hari berikutnya, dua kali di pagi hari dan dua kali di sore hari. Jika mereka belum menemukan siapa yang terpilih pada tiga kali pengambilan suara (voting), maka mereka mengkhususkan waktu untuk berdoa, bisa sampai sehari penuh, dan sesudah itu berdiskusi. Hal ini dapat dilakukan kembali setiap tujuh kali (voting) jika belum berhasil.

Proses di atas tidak melibatkan pihak di luar kalangan para Kardinal, sehingga adalah ganjil untuk menghubungkan pemilihan Paus dengan mafia.

2. Ada money politics? Ada pengaruh Amerika yang banyak uang?

Para kardinal tidak diperbolehkan untuk berhubungan dengan siapapun di luar Konklaf: tidak boleh menggunakan telpon (termasuk telpon selular) dan SMS, tidak boleh menulis surat, ataupun memberi tanda-tanda kepada para pengamat. Para Kardinal memang dapat berjalan di sekitar Vatikan, misalnya di kebun- kebun Vatikan, atau dari Domus Sanctae Marthae ke Kapela Sistina, namun tidak dapat berbicara kepada orang- orang di luar Konklaf.

Terputusnya hubungan antara para Kardinal dengan dunia luar pada saat Konklaf tersebut memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi penuh untuk memilih Paus yang baru, tentu dengan didukung oleh doa dan pembicaraan di antara mereka, yang saya yakini berada di dalam bimbingan Roh Kudus, atas janji Kristus sendiri yang tidak akan membiarkan Iblis untuk menyesatkan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18).

Dengan demikian, tanggapan bahwa ada money politics, pengaruh Amerika atau sejenisnya, ini adalah tuduhan yang tidak berdasar. Sepanjang pengetahuan saya, malah belum pernah ada Paus dari Amerika. Dan jika sampai kelak ada sekalipun, saya percaya, itu karena ia memang layak untuk menjadi Paus, hasil dari doa dan pertimbangan atas bimbingan Roh Kudus, dan bukan karena uang. Biar bagaimanapun, Paus yang terpilih adalah seorang yang mempunyai integritas tinggi sebagai gembala umat, yang teguh mempertahankan doktrin Gereja Katolik sesuai dengan ajaran para rasul dan para pendahulunya. Siapapun orangnya, umat Katolik mempercayakannya kepada para Kardinal yang berkumpul di Vatikan. Roh Kudus sendiri pasti membimbing proses pemilihan Paus, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus, bahwa Ia tak akan membiarkan Gereja-Nya binasa karena disesatkan oleh pimpinan yang bukan berasal dari Tuhan.

3. Ancaman penarikan bantuan finansial dari Kardinal Amerika ketika ada upaya menggolkan ensiklik kontrasepsi?

Wah, ini tuduhan yang aneh dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab fakta yang terjadi itu sebaliknya. Surat Ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, yaitu Humanae Vitae, tetap melarang kontrasepsi (lihat Humanae Vitae 14). Jadi jika benar sekalipun bahwa ada ancaman, tetapi toh kenyataannya tidak berpengaruh sedikitpun terhadap doktrin yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja Katolik. Berikut ini saya sertakan kutipannya dalam bahasa Inggris, Humanae Vitae 14:

 

Unlawful Birth Control Methods

14. Therefore We base Our words on the first principles of a human and Christian doctrine of marriage when We are obliged once more to declare that the direct interruption of the generative process already begun and, above all, all direct abortion, even for therapeutic reasons, are to be absolutely excluded as lawful means of regulating the number of children. (14) Equally to be condemned, as the magisterium of the Church has affirmed on many occasions, is direct sterilization, whether of the man or of the woman, whether permanent or temporary. (15)

Similarly excluded is any action which either before, at the moment of, or after sexual intercourse, is specifically intended to prevent procreation—whether as an end or as a means. (16)

Neither is it valid to argue, as a justification for sexual intercourse which is deliberately contraceptive, that a lesser evil is to be preferred to a greater one, or that such intercourse would merge with procreative acts of past and future to form a single entity, and so be qualified by exactly the same moral goodness as these. Though it is true that sometimes it is lawful to tolerate a lesser moral evil in order to avoid a greater evil or in order to promote a greater good,” it is never lawful, even for the gravest reasons, to do evil that good may come of it (18)—in other words, to intend directly something which of its very nature contradicts the moral order, and which must therefore be judged unworthy of man, even though the intention is to protect or promote the welfare of an individual, of a family or of society in general. Consequently, it is a serious error to think that a whole married life of otherwise normal relations can justify sexual intercourse which is deliberately contraceptive and so intrinsically wrong.

Harap diketahui bahwa semua Gereja, baik Katolik maupun non- Katolik, pada awalnya menolak pemakaian kontrasepsi. Namun pada tahun 1930, gereja- gereja lainnya mulai dari Gereja Anglikan (melalui Lambeth Conference), mengubah ajaran mereka dengan memperbolehkannya. Hanya Gereja Katolik satu- satunya yang masih menolak pemakaian kontrasepsi sampai sekarang. Posisi Gereja Katolik dalam hal ini, justru membuktikan kesetiaan Gereja kepada ajaran iman yang diterima dari Kristus, para Rasul dan para Bapa Gereja. Seorang Paus tidak dapat mengubah hal ini, dan dengan demikian Paus Paulus VI, tidak mengubahnya, dan bahkan malah menegaskan larangan ini dalam surat ensikliknya, Humanae Vitae. Maka tidak benar ada faktor uang (money politics) yang dapat mengubah ajaran Gereja Katolik. Selanjutnya, jika anda tertarik untuk mengetahui tentang topik ini, silakan membaca artikel mengapa Humanae Vitae itu benar!, klik di sini.

4. Beatifikasi Kardinal Henry Newman itu berbau politis?

Ini juga tuduhan yang tidak beralasan. Gereja Katolik dapat saja memulai proses beatifikasi pada setiap orang, jika memang ada dasarnya, dan didukung oleh Gereja Katolik setempat. Nah untuk kasus Kardinal Henry Newman (1801- 1890), ini sudah bukan terbatas dari Gereja Katolik setempat saja (Gereja Inggris) yang mendukungnya. Kardinal Newman ini memang seseorang yang dapat dikatakan luar biasa. Sebelum menjadi Katolik, Kardinal Newman adalah seorang imam Anglikan yang saleh dan sangat terpelajar. Tadinya ia bermaksud untuk membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang sesat, makanya ia mempelajari sendiri sejarah Gereja awal dari jaman para rasul dan tulisan para Bapa Gereja. Namun setelah ia semakin mempelajari sejarah dan tulisan para Bapa Gereja, ia semakin menyadari bahwa Gereja Katolik-lah yang ternyata lebih setia kepada ajaran para rasul dan Bapa Gereja, daripada gereja- gereja lainnya. Inilah akhirnya yang membawanya kembali ke pangkuan Gereja Katolik (1845), dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam Katolik dan kemudian menjadi Kardinal.

Tulisannya yang terkenal, yang berjudul “An Essay on the Development of Christian Doctrine” (silakan klik) merupakan karya yang jujur dan obyektif yang menjabarkan penelitiannya tentang adanya perkembangan ajaran Kristiani. Doktrin Kristiani berkembang bagaikan perkembangan organik, yang berakar dari ajaran Kristus dan para Rasul, dan ini terlihat nyata dalam perkembangan doktrin dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan sesuatu yang tidak berakar dari iman jemaat sejak awal, dan Gereja Katolik tidak pernah juga membuang ajaran iman dan moral yang memang telah diajarkan oleh Gereja sejak awal mula. Tulisan Kardinal Newman ini sudah banyak membuka mata hati banyak orang untuk kembali ke pangkuan Gereja Katolik, termasuk di antaranya Dr. Lawrence Feingold, pembimbing teologis situs ini, yang sebelum menjadi Katolik adalah seorang Atheis. Salah satu langkah penting yang membawanya bergabung dalam Gereja Katolik adalah setelah ia membaca essay dari Kardinal Newman ini. Dr. Feingold hanya salah satu dari ribuan orang yang mengalami kasih dan terang Tuhan melalui tulisan Kardinal Newman dan teladan hidupnya. Maka beatifikasinya bukan sesuatu yang aneh, dan tidak perlu dikaitkan dengan faktor politis. Lagipula, selanjutnya, masih diperlukan mukjizat- mukjizat untuk membuktikan apakah benar Kardinal Newman ini sungguh terberkati, kudus, dan telah dibenarkan oleh Allah di surga. Jika ya, tentu Tuhan sendiri menyediakan bukti- buktinya, dan mari kita serahkan saja pada Tuhan. Selanjutnya, untuk proses beatifikasi dan kanonisasi, silakan klik di sini.

Demikian semoga tulisan ini dapat menjadi masukan buat anda. Silakan anda menyimpulkan apakah tuduhan di atas itu dapat dipercaya atau tidak, terutama jika anda melihat faktanya. The truth will speak for itself, (kebenaran akan berbicara dengan sendirinya), dan semoga kita semua dapat mengenalinya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kepemimpinan rohani di tengah dunia

2

I. Dunia membutuhkan saksi-saksi hidup

Modern man listens more willingly to witnesses than to teachers, and if he does listen to teachers, it is because they are witnesses.” atau “Manusia modern lebih mendengarkan kepada saksi-saksi secara sukarela daripada para guru, dan jika dia mendengarkan para guru, itu karena mereka [para guru] adalah saksi-saksi,” adalah apa yang dikatakan oleh Paus Paulus VI. Seruan ini terbukti benar sampai pada saat ini, karena hanya dengan menjadi saksi Kristus yang baik, maka seseorang dapat menjadi garam dunia dan menjadi terang dunia, yang artinya dapat menjadi pemimpin rohani di tengah-tengah dunia. Dan seruan ini menjadi lebih benar, karena kita berada di dunia yang didominasi oleh modernisme, relativisme dan sekularisme, yang menyingkirkan prinsip-prinsip kebenaran kristiani dari kehidupan masyarakan maupun kehidupan pribadi.

Manifestasi dari menjadi saksi Kristus adalah merupakan tugas yang kita terima pada saat kita dibaptis, yaitu menjadi imam, nabi dan raja. Hanya dengan berpartisipasi dalam tiga misi Kristus secara baik, maka seseorang dapat menjadi pemimpin rohani di tengah-tengah dunia ini, yang pada akhirnya dapat menjadi garam dan terang dunia.

II. Dunia modern dibawah pengaruh modernisme

Untuk dapat menjadi pemimpin rohani atau menjadi saksi Kristus yang baik di tengah-tengah dunia, diperlukan pengetahuan tentang dunia di mana kita tinggal. Dunia tempat kita tinggal dipenuhi dengan begitu banyak tipu daya, sehingga banyak orang yang terseret masuk ke dalamnya. Rasul Yohanes mengatakan “…manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19). Bahaya paling besar yang dihadapi oleh dunia modern adalah modernisme.

1. Modernisme

Modernisme dikatakan oleh Paus Pius X sebagai “sintesis dari semua bidaah” ((lih. Paus Pius X, Pascendi Dominici Gregis, 39)), yang kemudian ditegaskan oleh Paus Benediktus XV ((lih. Paus Benediktus XV, Ad Beatissimi Apostolorus, 25)). Dapat dikatakan bahwa modernisme menggabungkan semua ajaran bidaah karena modernisme ingin menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan Tuhan dari seluruh sendi kehidupan. Prinsip dari modernisme ini dapat disarikan sebagai: ((1909 Catholic Dictionary mendefinisikan modernisme sebagai: “Term used by those who affect a preference for what is modern, and a disregard for what is ancient and medieval, usually because they know little of the history or institutions of the past; an attempt at a radical transformation of thought in regard to God, man, the world, life here and hereafter; the assumption that everything modern is more perfect than what preceded, that opposition to every new theory or speculation is opposition to what is good in modern progress. In religion, according to Pope Pius X, it is a complexion of every heresy; according to its principal French exponent, Loisy, a setting aside of every Catholic doctrine. The movement is not new. It began with the Reformation, of which it is the logical outcome. In the middle of the 19th century, under Pope Pius IX, it asserted itself in political liberalism, the attempt to divorce society and government from religion; under Pope Leo XIII it became a social movement; under Pope Pius X it became an aggression against true religion. Its exponents never agreed. It required the genius of Pope Pius X and his collaborators to take their vague assertions and give them system. Modernists were clamoring for emancipation from ecclesiastical authority, for the emancipation of science, of the state, of conscience, without particularizing wherein authority was tyrannical, wherein science, state, or conscience were enthralled. They abhorred the thought of fixed truth, dogma in the real sense, or knowledge derived from revelation. They claimed that the soul had its yearnings for something higher than it could perceive in nature; that these yearnings consciously understood, reveal the intimate presence of God; that this presence constitutes revelation; that experience of relations with God disposes the soul to act properly with Him; that leaders arise who interpret all this and become founders of religion. Christian faith then is this sentimental yearning for God as father, man, as brother. Its formulae are good for a time but they are only of transient use and must give way to others as times change. The Christ of faith is not the Christ of history; He founded the Church and the Sacraments not personally and directly but only through the movement He started as if by a process of evolution; the Sacraments are only formulae which touch the soul and carry it away; the Scriptures are only a collection of religious experiences of great value. The movement was strong in Italy, and it affected many in Germany, France, and England. It had little influence in the United States, although its French and English promoters did all in their power to propagate it, especially among seminarians. Numerous pontifical documents were issued against it, enumerated in the Catholic Encyclopedia under Modernism. The Encyclical “Pascendi Gregis” crushed it once for all, and this Encyclical is an instance of the sovereign pontiff voicing a sentiment that was universal among bishops, clergy, and laity, the Church teaching thus expressing the views and wishes of the Church taught.“))

a. Prinsip emansipasi

Prinsip ini memegang kebebasan ilmu pengetahuan, tata negara dan hati nurani, yang terpisah dari Gereja. Dengan demikian, maka otoritas Gereja sebagai pilar kebenaran tidak mempunyai tempat, baik di dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.

Ini berarti kebebasan ilmu pengetahuan tidak mempertimbangkan nilai-nilai etika maupun moral. Hal-hal seperti embrionic stem sells research diperbolehkan, tidak memperdulikan bahwa untuk melakukan penelitian ini mereka harus membunuh embrio – yang adalah manusia. Keterpisahan tata negara dari hukum moral yang sering diserukan oleh Gereja terjadi ketika negara membuat peraturan-peraturan yang berlawanan dengan akal budi, seperti legalisasi aborsi – yang jelas-jelas merupakan pembunuhan. Dan yang paling parah, ketika setiap individu merasa dapat menggunakan kehendak bebasnya dengan sebebas-bebasnya tanpa mengindahkan kebenaran. Ketika mereka merasa bahwa mereka menjadi satu-satunya parameter dari kebenaran, yang pada akhirnya menjadi relativisme.

b. Prinsip perubahan

Prinsip bahwa satu-satunya yang statis di dunia ini adalah perubahan, menjadi satu hal yang perlu dicermati dari modernisme. Dengan prinsip ini modernisme akan senantiasa menentang sesuatu yang tetap, yang terstruktur, yang pada akhirnya akan melawan otoritas Gereja, karena dipandang sebagai organisasi yang terlalu kaku dan terstruktur. Dengan prinsip ini, sungguh sulit seseorang untuk berpegang pada kebenaran, karena kebenaran menjadi sesuatu yang relatif, yang dapat salah pada generasi sebelumnya dan dapat menjadi benar pada generasi sekarang dan mungkin saja dipandang salah di generasi mendatang. Kontrasepsi yang dipandang salah dari masa-masa awal menjadi sesuatu yang diperdebatkan secara sengit masa awal abad 20, sampai akhirnya di tahun 1930, hanya Gereja Katolik saja yang bertahan dengan kebenaran bahwa kontrasepsi melawan hukum kodrat dan hukum Allah.

c. Prinsip rekonsiliasi

Secara prinsip modernisme mencoba untuk menyatukan semua perbedaan berdasarkan perasaan hati. Dengan demikian, tidak diperlukan doktrin-doktrin dan kebenaran-kebenaran absolut, karena doktrin-doktrin hanyalah memecah belah rekonsiliasi. Dengan prinsip ini, mungkin saja dapat dicapai suatu kedamaian yang sesaat, namun ini merupakan suatu toleransi yang semu. Toleransi yang bukan berdasarkan doktrin namun berdasarkan perasaan saja. Dengan demikian, toleransi hanya dapat membicarakan sesuatu yang bersifat humanisme, yang hanya berfokus pada kegiatan sosial, peningkatan kehidupan di dunia ini.

Inilah sebabnya para Paus menyebutkan bahwa modernisme merupakan sintesis dari semua bidaah atau kesesatan, karena bukan hanya melawan salah satu pengajaran dari Gereja Katolik, namun melawan semua pengajaran Gereja Katolik sampai pada akar-akarnya. Seorang tidak dapat menjadi Katolik dan sekaligus menjadi penganut modernisme.

2. Sekularisme

Adalah suatu prinsip yang hanya menaruh perhatian pada hal-hal yang dialami di dalam dunia ini. Ini berarti, terjadi pemisahan terhadap agama, yang mengajarkan kehidupan kekal. Prinsip dari pengajaran ini adalah: (a) meningkatkan kehidupan ini dengan hal-hal material, (b) ilmu pengetahuan yang dapat menjawab segalanya, (c) adalah baik untuk melakukan kebaikan – yang berfokus pada kebaikan di dunia ini.

Prinsip di atas, pada akhirnya akan menghasilkan materialisme, karena fokus dari prinsip ini adalah meningkatkan kehidupan dengan hal-hal material dan kehidupan hanya dilihat sebagai apa yang dialami di dunia ini.

3. Pemisahan antara iman dan kehidupan sehari-hari

Keadaan di atas diperparah dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dari umat beriman, termasuk umat Gereja Katolik. Ada sebagian umat Katolik, yang mengaku diri menjadi umat Katolik namun hidupnya tidak mencerminkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mengenal Tuhan dan telah diselamatkan. Orang-orang ini, yang walaupun umat beragama, namun hidupnya seolah-olah tidak mengenal Tuhan. Paus Yohanes Paulus II menyebut kelompok ini sebagai “practical atheism“. Karena mereka hidup seolah-olah tidak mengenal Tuhan, sebagai kebenaran absolut, maka keadaan dan prinsip ini membuat seseorang menganut relativisme.

III. Bagaimana untuk menghadapi dunia yang dinominasi oleh modernisme dan sekularisme?

Untuk menghadapi situasi yang begitu sulit seperti saat ini, maka diperlukan keberanian, teguh dalam prinsip dan kebenaran yang telah dinyatakan oleh Kristus dan diwariskan secara murni oleh Gereja. Dengan menyadari kebenaran-kebenaran yang bersifat obyektif, maka seseorang dapat dengan yakin mengemban tugas untuk menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia yang dikuasai oleh modernisme. Oleh karena itu, mari kita mengingat dan berpartisipasi dalam tiga misi keselamatan Kristus, yaitu menjadi nabi, imam dan raja. Katekismus Gereja Katolik, menegaskan hal ini sebagai berikut:

KGK, 783. Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja”. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (Bdk. RH 18-21).

KGK, 871. “Orang-orang beriman kristiani ialah mereka yang dengan Pembaptisan menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, dijadikan Umat Allah dan dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja, dan oleh karena itu sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing dipanggil untuk melaksanakan perutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia” (CIC, can. 204 ?1) Bdk. LG 31.

1. Menjadi imam

Secara prinsip imam adalah orang yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. Dan sebagai awam, maka cara paling efektif dalam membawa Kristus kepada dunia dan dunia kepada Kristus adalah dengan cara hidup kudus. Kekudusan inilah yang menjadi bukti otentik bahwa seseorang benar-benar mempercayai pengajaran Kristus dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang menjalankan fungsi imam dalam kehidupannya adalah orang-orang yang tidak mempunyai pemisah antara imannya dan kehidupannya.

Ada satu perkataan dalam bahasa latin “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya”. Menyebarnya kebenaran yang diperkuat dengan perbuatan kasih akan semakin menjadi nyata dan tidak dapat dicegah. Inilah sebabnya para santa-santo menyebarkan kebenaran yang harum dan pada saat yang bersamaan menarik banyak orang untuk datang kepadanya.

Kaum awam melaksanakan tugas imam bersama secara khusus dalam setiap perayaan Ekaristi, karena di dalam perayaan Ekaristi ini, setiap umat dapat membawa orang-orang lain untuk dipersatukan dalam kurban Kristus.

2. Menjadi nabi

Secara prinsip, nabi adalah orang yang mewartakan apa yang difirmankan oleh Allah. Dengan demikian, seorang nabi senantiasa mewartakan kebenaran. Dan kebenaran ini adalah kebenaran yang absolut, bukan kebenaran relatif. Kebenaran ini bersumber pada Kristus sendiri yang diteruskan oleh Gereja Katolik. Oleh karena itu, menjadi nabi bagi umat beriman berarti berani mewartakan kebenaran prinsip-prinsip kristiani di dalam dunia ini.

Seorang nabi di tengah-tengah dunia ini adalah orang-orang yang berani hidup kudus, sehingga orang lain dapat melihat nilai-nilai kebenaran yang dia pegang. Mereka adalah orang-orang yang berani untuk hidup jujur, untuk hidup setia sesuai dengan prinsip-prinsip kristiani, serta menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Inilah sebabnya mereka adalah orang yang berani untuk mempraktekkan KBA (Keluarga Berencana Alamiah), walaupun tahu bahwa hal tersebut sulit, namun kebenaran tentang hal ini telah dinyatakan oleh Gereja-Nya. Seorang yang setia terhadap panggilan ini akan juga menerapkan kemurnian di dalam pacaran, sehingga tidak melanggar batas-batas etika dalam berpacaran. Dia juga tidak terjebak dalam pornografi, maupun dalam kehidupan seks bebas yang lain. Walaupun revolusi seks berkembang dalam masyarakat, namun tugas kenabian menyadarkan umat Allah untuk terus bertahan dalam kemurnian.

Kita melihat banyak contoh dari Perjanjian Lama, banyak nabi yang mengalami penderitaan seperti: nabi Yesaya yang terbunuh oleh raja Manasseh, nabi Elia yang dikejar-kejar oleh raja Ahab dan ratu Izebel, serta nabi-nabi yang yang mengalami penganiayaan-penganiayaan. Dan hal ini terus berlanjut ketika Yohanes Pemandi dipenjara dan dibunuh oleh raja Herodes (lih. Mk 6:17-28), karena mewartakan kebenaran, yaitu agar Herodes tidak mengambil istri saudaranya. Dan kebenaran yang diwartakan oleh Kristus, akhirya membawa Kristus pada penderitaan salib. Inilah yang menjadi panggilan kita, yaitu menjadi nabi yang mewartakan kebenaran, yang tidak memberikan kompromi terhadap kebenaran namun harus juga dibarengi kebijaksanaan dalam mengaplikasikan kebenaran yang diwartakan.

3. Menjadi raja

Secara prinsip menjadi raja dalam nilai-nilai kristiani adalah menjadi pelayan. Oleh karena itu, untuk menjadi raja, maka seseorang harus dapat memimpin dirinya terlebih dahulu dan mempunyai belas kasih kepada sesama. Orang yang dapat menjadi raja yang baik adalah orang-orang yang dapat menerapkan prinsip-prinsip kasih kepada sesama. Maka peran ‘raja’ di sini diterapkan bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani orang lain. Tugas-tugas pelayanan ini dapat dimanifestasikan dalam keluarga, komunitas Gereja maupun dalam kehidupan masyarakat.

IV. Kesimpulan

Kita menyadari bahwa kita hidup di dunia ini, tempat dan kondisi yang sulit untuk dapat hidup kudus. Dunia ini menawarkan kebohongan-kebohongan semu, yang didominasi oleh modernisme, relativisme dan sekularisme, yang menyingkirkan Tuhan dari kehidupan bermasyarakat sampai kehidupan pribadi. Oleh karena itu, untuk dapat melawan arus dunia ini, seseorang dituntut untuk setia pada kebenaran-kebenaran kristiani, yang dimanifestasikan dalam partisipasi dalam tiga misi Kristus, yaitu sebagai imam, nabi dan raja. Hanya dengan partisipasi inilah, maka seseorang dapat menjadi saksi Kristus yang baik. Jadi, mari kita menyambut seruan dari konsili Vatikan II, yaitu untuk hidup kudus, setia terhadap panggilan kita masing-masing, baik sebagai klerus maupun sebagai awam, sehingga kita dapat menjadi garam dan terang dunia.

Catatan: artikel di atas ditulis sebagai bahan retret mudika tanggal 25 – 26 September 2010 di Jakarta.

Dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja

2

I. Pendahuluan

Receive the Gospel of Christ, whose herald you have become. Believe what you read; Teach what you believe; Practice what you teach.” atau “Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya. Percayalah apa yang engkau baca; Ajarilah yang engkau percayai; Laksanakan apa yang engkau ajarkan” adalah kalimat yang diberikan pada waktu pentahbisan diakon. Walaupun tidak semua orang ditahbiskan menjadi diakon atau imam, namun kalimat indah ini dapat diterapkan pada kita semua, yang juga menerima perutusan sebagai murid Kristus pada saat kita menerima pembaptisan. Melalui Pembaptisan kita menerima mandat dari Kristus untuk menjadi imam, nabi dan raja.

Kata-kata di atas juga dapat diterapkan sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Komunitas-komunitas di dalam Gereja harus mempunyai dasar kepemimpinan yang berdasarkan Injil Kristus, karena Injil Kristus adalah sumber, pegangan, rujukan, sehingga seseorang dapat menjadi pemimpin kristiani yang baik. Dengan demikian pesan Injil Kristus yang utama – yaitu kasih – harus kita pelajari, kita percayai, kita beritakan dan terutama harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, maka seseorang harus terlebih dahulu dapat memimpin dan mengatur dirinya sendiri. Dan tidak ada cara yang lebih efektif untuk memimpin dan mengatur diri sendiri selain menyesuaikan hidup kita dengan ajaran Injil Kristus. Dalam konteks Gereja, maka setiap komunitas yang tergabung dalam Gereja Katolik haruslah menjaga persatuan dengan Gereja, sehingga masing-masing komunitas dapat membangun Gereja dari dalam.

II. Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya

Pada waktu kita mengatakan bahwa kita menerima Injil Kristus, maka kita juga harus mengerti apa yang sebenarnya kita terima. Dengan mengerti pesan dalam Injil Kristus, maka kita dapat menyadari prinsip-prinsip kepemimpinan yang diinginkan oleh Kristus. Berikut ini adalah dasar-dasar kepemimpinan Kristiani yang dapat kita refleksikan, yaitu kepemimpinan berdasarkan: kasih, kerendahan hati, ketekunan, kebijaksanaan, dan persatuan.

1. Kasih adalah dasar dari semua karya kerasulan dan kepemimpinan kristiani.

29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mk 12:29-31)

Kalau kasih kepada Tuhan dan sesama adalah perintah yang utama dan tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum tersebut, maka hal ini juga berlaku sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Bahkan kalau kita membaca semua pesan dan perintah di Alkitab, maka kita menyadari bahwa semua perintah tersebut mempunyai dasar kasih, sehingga rasul Paulus mengatakan bahwa kalau seseorang dapat berbicara dengan semua bahasa manusia dan malaikat, dapat bernubuat, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman, membagi-bagikan harta maupun menyerahkan diri untuk dibakar, namun tanpa kasih, maka semuanya menjadi tidak berguna (lih. 1 Kor 13:1-13). Jadi, kita dapat melihat supremasi kasih yang mengatasi segalanya. Demikian pentingnya posisi kasih, sehingga St. Agustinus mengatakan jika seseorang memiliki kasih, maka orang tersebut dapat berbuat apapun. Hal ini disebabkan karena kasih yang dibicarakan oleh St. Agustinus adalah kasih yang supernatural (ilahi), kasih yang menempatkan kasih kepada Tuhan lebih dari segalanya. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar spiritualitas dari setiap pemimpin Kristiani.

Orang sering salah melangkah dengan mencoba aktif dalam kegiatan-kegiatan tanpa landasan spiritualitas yang baik. Atau dengan kata lain, orang sering mencoba untuk mengasihi sesama dengan cara aktif dalam kegiatan Gereja tanpa landasan kasih kepada Allah. Tanpa berlandaskan kasih Allah, seseorang yang mencoba aktif dalam evangelisasi tidak akan bertahan lama, karena tinggal menunggu waktu, maka akan terjadi keributan, ketidakcocokan dengan teman, dan akhirnya akan tercerai berai. Hal ini sama seperti membangun rumah di atas pasir (lih.Mt 7:26), yang tidak akan bertahan pada waktu badai menerpa. Jadi, untuk dapat melakukan evangelisasi maupun kepemimpinan, maka seseorang harus mengasihi Tuhan terlebih dahulu. Dengan demikian, semua kegiatan Gereja dan kegiatan evangelisasi adalah merupakan buah dari kasih kita kepada Allah. Yang terberkati bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan:

The fruit of silence is prayer, the fruit of prayer is faith, the fruit of faith is love, the fruit of love is service, the fruit of service is peace” atau “Buah dari keheningan adalah doa, buah dari doa adalah iman, buah dari iman adalah kasih, buah dari kasih adalah pelayanan, buah dari pelayanan adalah kedamaian.

2. Kerendahan hati menjadi dasar dari kepemimpinan, sehingga dapat melakukan hal-hal besar.

“12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:12-15).

Dapat dikatakan bahwa kerendahan hati adalah merupakan pondasi dari kehidupan spiritual seseorang. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin seseorang bertumbuh secara spiritual dan tidak mungkin seseorang dapat menjadi seorang pemimpin yang sesuai dengan prinsip-prinsip kristiani. Karena tanpa kerendahan hati, seseorang tidak dapat mengasihi. Kerendahan hati yang artinya adalah memahami bahwa diri sendiri bukan apa-apa dan Tuhan adalah segalanya, membuat seorang pemimpin dapat mengerti kondisi orang yang dipimpinnya tanpa kehilangan visi dan keberanian untuk mengerjakan hal-hal besar, karena menyadari bahwa Tuhan dapat memberikan dirinya kemampuan untuk melakukan hal-hal besar.

a. Kerendahan hati ini membuat seorang pemimpin mempunyai kehormatan.

Kitab Amsal mengatakan “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” (Ams 18:12) Ada banyak pemimpin yang bersikap tinggi hati, karena ingin mendapatkan kehormatan dari bawahannya. Namun kitab Amsal justru mengatakan bahwa tinggi hati dapat membawa kehancuran. Dan kerendahan hati justru membawa kehormatan. Kita dapat belajar kerendahan hati dari Yesus, yang telah merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia dan memberikan Diri-Nya untuk mati di kayu salib (lih. Fil 2:8), sehingga mendatangkan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

b. Kerendahan hati membuat pemimpin dapat melakukan hal-hal besar.

Mungkin ada yang mempertanyakan bagaimana dengan kerendahan hati seseorang dapat melakukan hal-hal besar. Kerendahan hati yang sejati justru menyadari akan kuasa Tuhan yang begitu besar. Dengan bersandar pada kekuatan Tuhan, maka pemimpin yang baik dapat melakukan hal-hal besar. Para kudus telah membuktikan hal ini sepanjang sejarah Gereja. Bunda Teresa, seorang suster dari Albania, yang bekerja di India sebagai seorang guru, dapat menjadi pendiri ordo Cinta Kasih, karena mengikuti panggilan Allah dan senantiasa bersandar pada rencana Allah.

3. Ketekunan menjadi syarat mutlak untuk menjadi pemimpin yang baik.

4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rm 5:4-5)

Ada begitu banyak pemimpin-pemimpin yang terlihat baik dan cakap dalam komunitas-komunitas Gereja. Namun, kecakapan ini mengalami ujian dalam kondisi-kondisi yang sulit, seperti: anggota komunitas yang berkurang, perpecahan di dalam komunitas, ketidakpuasan akan kepemimpinan dan juga arah dari komunitas. Dalam kondisi seperti ini, maka diperlukan suatu ketekunan, ketekunan untuk setia terhadap panggilan. Kita dapat belajar dari rasul Paulus, yang terus setia dalam panggilannya, walaupun mengalami hukuman cambuk, dipenjara, diasingkan, beberapa kali akan terbunuh, sampai akhirnya dia dibunuh di Roma. Inilah sebabnya Rasul Paulus mengatakan “Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1Kor 9:24). Rasul Paulus menekankan bahwa kita harus bertekun, sehingga kita dapat sampai pada tempat tujuan.

4. Hati yang tulus disertai dengan kebijaksanaan menjadikan seseorang pemimpin yang efektif.

Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mt 10:16)

Kerendahan hati dan ketekunan tidaklah cukup untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan efektif. Untuk itu diperlukan kombinasi ketulusan dan kecerdikan, atau mungkin lebih tepatnya kebijaksanaan (prudence). Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebijaksanaan sebagai berikut:

KGK, 1806. “Kebijaksanaan adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. “Orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams 14:15). “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Ptr 4:7). “Kebijaksanaan ialah akal budi benar sebagai dasar untuk bertindak”, demikian santo Tomas menulis (s.th. 2-2,47,2,sc) mengikuti Aristoteles. Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. Orang menamakan dia “auriga virtutum” [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati nurani. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.

Pemimpin dapat saja mempunyai kasih, namun dia dapat salah menerapkan kasih. Dia dapat saja mempunyai kerendahan hati, ketekunan, maupun ketulusan, namun dapat saja tidak mempunyai kebijaksanaan, sehingga sulit untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kebijaksanaan membuat seseorang tahu bagaimana harus bertindak, bukan berdasarkan kepentingan diri, namun berdasarkan kebenaran; bukan berdasarkan cari muka, namun ketulusan hati; tidak bermegah dan tidak tinggi hati, namun mampu mengerjakan hal-hal besar maupun kecil dijiwai dengan kasih yang besar.

5. Menjaga persatuan dalam Gereja menjadi tanda pemimpin yang dewasa.

Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yoh 17:11).

Seorang pemimpin di dalam komunitas Gereja tidak dapat memisahkan diri dari Gereja. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang baik akan senantiasa menjaga persatuan dan senantiasa membangun Gereja dari dalam. Pemimpin yang mencoba memisahkan diri dari Gereja bertentangan dengan sikap kerendahan hati dan kasih. Memisahkan diri adalah cermin dari kesombongan, yang mengutamakan pendapat dan sentimen pribadi dengan mengorbankan kebaikan bersama (common good). Dan karena kebaikan bersama dikorbankan, maka intensi dari kasih juga dipertanyakan. Terutama, jika kita mengingat bahwa dalam perpecahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, maka ada banyak orang atau pengikutnya yang turut bergabung/ terlibat dalam perpecahan tersebut.

III. Percayalah apa yang engkau baca

Setelah kita mengenal prinsip-prinsip kepemimpinan seperti yang dituliskan di dalam Injil Kristus, maka kemudian kita harus mempercayainya, kita harus mengimaninya. Mengapa kita percaya? Kita percaya karena martabat dari yang memberi saksi, dalam hal ini adalah Kristus, Allah Putera. Kita percaya akan apa yang tertulis dalam Alkitab, karena apa yang tertulis adalah merupakan wahyu dari Allah. Dan karena Allah tidak mungkin berbohong, maka kita mempercayai apa yang dituliskan-Nya. Dan ini adalah esensi dari iman, yaitu suatu persetujuan dari akal budi yang kokoh pada suatu kebenaran, berdasarkan pemberitaan dari saksi.

Ada perbedaan prinsip antara mempercayai dengan mengetahui. Perbedaannya terletak pada “kepastian” dari akal budi kita untuk menyerahkan diri kepada kebenaran tersebut. Kepercayaan akan suatu kebenaran, membuat seseorang menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, baik pendapat sendiri maupun keberadaannya. Kepastian ini membuat seseorang mempunyai pengharapan yang kuat akan apa yang dijanjikan dalam kebenaran tersebut.

Seorang tukang akrobat berjalan dari atap rumah ke atap rumah yang lain hanya dengan menggunakan tali. Banyak orang menguatirkan keselamatan tukang akrobat ini. Namun dengan kepiawaiannya, dia dapat berjalan di atas tali dari atap rumah satu ke atap rumah lain tanpa terjatuh. Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Kemudian tukang akrobat itu bertanya kepada para penonton “Apakah anda percaya bahwa saya dapat berjalan di atas tali ke atap rumah di seberang sana?” Para penonton dengan gemuruh menyerukan bahwa mereka percaya, setelah mereka melihat bahwa tukang akrobat tersebut telah membuktikan trik tersebut berkali-kali. Dan memang benar, akhirnya tukang akrobat tersebut sampai ke atap rumah yang lain dengan selamat. Tukang akrobat tersebut bertanya kembali “Apakah anda semua percaya bahwa saya dapat berjalan di atas tali ke atap rumah di seberang sana?” Para penonton dengan gemuruh dan penuh antusiasme menyerukan bahwa mereka percaya. Kemudian tukang akrobat tersebut bertanya kembali “Kalau anda percaya, apakah ada dari antara anda yang mau saya gendong, sambil saya berjalan di atas tali ke atap rumah itu?” Tiba-tiba suasana dicekam oleh keheningan yang dalam, karena semua penonton membisu. Keheningan tersebut kemudian dipecahkan oleh suara anak kecil, yang berteriak “Saya percaya bahwa anda mampu berjalan di atas tali, dan oleh karena itu, saya mau digendong untuk sampai ke atap yang lain.” Dan dengan hati berdebar-debar semua orang menyaksikan pemandangan tersebut, sampai pada akhirnya semuanya bertepuk tangan ketika tukang akrobat dan anak tersebut sampai ke atap rumah yang lain dengan selamat. Setelah pertunjukan tersebut, ada orang yang bertanya kepada anak tersebut “Mengapa kamu percaya sekali kepada tukang akrobat tadi?” Dan dengan tersenyum anak tersebut menjawab “Karena tukang akrobat itu adalah ayahku.”

Inilah perbedaan antara tahu dan percaya. Penonton di atas tahu bahwa tukang akrobat dapat berjalan di atas tali, namun hanya anak tersebut yang benar-benar percaya bahwa tukang akrobat tersebut dapat melakukannya. Kunci dari kepercayaan ini adalah anak tersebut mempunyai hubungan yang baik dengan tukang akrobat, yang adalah ayahnya sendiri. Anak tersebut percaya bahwa ayahnya tidak mungkin berbohong dan bahwa ayahnya tidak akan mungkin mencelakannya.

Kepercayaan yang sama dituntut oleh semua umat beriman, yang telah menjadi anak-anak Allah – karena telah menerima rahmat pembaptisan – dan dapat memanggil Allah dengan sebutan Abba, Bapa (lih. Gal 4:6). Dengan demikian, kalau kita percaya akan Allah yang mengasihi kita, maka sudah seharusnya kita melaksanakan semua yang diperintahkannya (lih. 1Yoh 5:3), karena rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, sehingga rancangan-Nya adalah rancangan yang memberikan hari depan yang penuh harapan (lih. Yer 29:11).

IV. Ajarilah yang engkau percaya dan laksanakan apa yang engkau ajarkan.

1. Kita semua telah diutus

Setelah kita mengerti akan pesan Kristus dan mempercayainya, maka tugas selanjutnya adalah mengemban tugas perutusan dari Kristus. Dikatakan bahwa Kristus mengutus para murid berdua-dua, untuk menyerukan pertobatan, memberikan kesembuhan bagi orang-orang yang sakit, mengusir setan, dan memberitakan Kerajaan Allah (lih. Mk 6:7-13; Lk 10:1-11). Perutusan ini dipertegas dalam amanat agung, di mana Kristus mengatakan “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20)

Kristus mengutus kita untuk menyebarkan kabar gembira kepada semua orang dengan mengutus para murid berdua-dua. Berdua-dua, karena memang Kristus menghendaki kita untuk melayani bersama-sama dalam satu komunitas. Kalau kasih mensyaratkan memberikan diri – yang artinya harus lebih dari satu – maka berdua-dua mengindikasikan bahwa dalam pelayanan, kasih menjadi syarat yang utama. Hanya dengan pelayanan kasih inilah, maka pemimpin dapat melayani umat dengan baik.

2. Kita semua telah dilengkapi Roh Kristus untuk menjadi pewarta

Yesus tidak akan memberikan perintah yang tidak mungkin. Kalau Dia mengatakan bahwa para murid harus mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia, maka Dia juga memberikan kepada murid-murid-Nya kemampuan untuk melakukan amanat agung ini. Yesus telah memampukan kita untuk melakukan tugas pewartaan, karena Dia Sendiri telah memberikan Roh Kudus kepada para murid, sehingga para murid mampu untuk mewartakan kabar gembira dengan penuh keberanian dan sukacita, mampu untuk menghadapi penderitaan dengan tabah dan menghadapi segala yang terjadi di dalam hidupnya dengan sukacita, kedamaian, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengendalian diri, karena apapun yang dilakukannya senantiasa berdasarkan kasih. Dengan kata lain, pemimpin dalam komunitas Gereja harus menampakkan buah-buah Roh (lih. Gal 5:22-23).

V. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja adalah kepemimpinan yang menerapkan pesan-pesan Injil Kristus. Dan seseorang harus mempercayai prinsip-prinsip yang tertulis di dalam Injil, sehingga dia juga dapat mewartakannya dengan penuh keyakinan. Dan mewartakan Injil Kristus bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan, suatu perintah agung yang diberikan oleh Kristus sendiri (lih. Mt 28:19-20). Perintah ini bukanlah perintah yang mustahil, karena Kristus sendiri telah memberikan Roh-Nya, Roh Kudus, yang memampukan seluruh umat beriman untuk menjadi pewarta.

Catatan: artikel di atas ditulis sebagai bahan retret mudika tanggal 25 – 26 September 2010 di Jakarta.

Tentang pengetahuan Yesus

5

Pertanyaan:

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.”

Seorang manusia secara natural mengetahui sesuatu secara bertahap / proses belajar. Jadi ada hal yang awalnya dia tidak tahu / paham tetapi kemudian dia menjadi tahu / paham.
Apakah sebagai manusia Yesus : a) mempunyai pengetahuan yang berkembang sesuai proses belajar yang Dia alami? Ataukah b) Yesus memperoleh semua pengetahuan secara langsung & komplet (infused?)? Kalau Yesus memperoleh pengetahuan melalui b) maka kapankah pengetahuan-komplet itu diperoleh Dia, apakah setelah mencapai “age of reason” atau saat pembaptisan atau kapan?

Mohon penjelasan. Terima kasih. Semoga Tuhan memberkati Katolisitas.
Fxe

Jawaban:

Shalom Fxe,

Maksud pengetahuan Yesus di sini adalah bukan pengetahuan akan Tuhan Yesus, melainkan pengetahuan Yesus ketika Ia menjelma menjadi manusia.

1. Dua jenis pengetahuan Kristus

Pertama- tama harus diketahui bahwa Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan manusia, sehingga Ia mempunyai dua jenis pengetahuan, yaitu yang ilahi dan manusiawi. Oleh karena itu, pengetahuan Kristus dalam kodrat-Nya sebagai Tuhan adalah sama dengan pengetahuan Allah Bapa, sedangkan dalam kodrat-Nya sebagai manusia, Kristus mempunyai 3 jenis pengetahuan yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge) seperti halnya yang ada pada para malaikat, dan tentu, Kristus memilikinya dengan kesempurnaannya; dan 3) pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision) di mana Kristus selalu berada di dalam kesatuan dengan Bapa-Nya. Inilah yang menjadi kekhususan Kristus, karena pada saat Ia menjelma menjadi manusia, Ia tidak berhenti menjadi Allah Putera.

Selanjutnya, para Bapa Gereja mengajarkan bahwa kebahagiaan surgawi yang disebabkan oleh beatific vision ini tidak “menelan” kemampuan manusiawi Kristus, sehingga Kristus masih tetap dapat merasakan sakit dan penderitaan. Kemampuan-Nya sebagai manusia dapat mengalami baik suka cita maupun duka cita, sebagai hasil dari merasakan/ mempersepsikan berbagai obyek yang berbeda- beda (lih. St. Thomas Aquinas, III, q. xiii, a.5, ad.3; St. Bonaventura in III, dist. xiv, a.2, q.2).

2. Kapan Yesus menerima beatific vision dan infused knowledge?

Kristus menerima beatific vision dan infused knowledge sejak awal mula penjelmaan-Nya, yaitu pada masa konsepsi di rahim Bunda Maria.

3. Pengetahuan Yesus sebagai manusia

Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengetahuan Yesus dalam kodrat-Nya sebagai manusia diperoleh melalui tiga cara, yaitu a) pandangan langsung kepada Allah (beatific vision) 2) diberikan/ ditanamkan sekaligus yang disebut infused knowledge, maupun 3) diperoleh melalui penggunaan kemampuan-Nya sebagai manusia, melalui perasaan dan imajinasi (acquired knowledge), seperti manusia pada umumnya (lih. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 162-167).

Dari sisi beatific vision dan infused knowledge ini, pengetahuan Yesus tidak bertambah ataupun berkembang, sebab yang diterima-Nya sudah sempurna. Namun dari sisi acquired knowledge, pengetahuan Yesus bertumbuh secara wajar sejalan dengan waktu, seperti yang disebutkan dalam Luk 2:52: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” St. Thomas Aquinas mengutip St. Ambrosius (dalam De Incar. Dom vii) mengajarkan, “Ia [Kristus] bertumbuh dalam kebijaksanaan manusia.” Kebijakan manusia adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara manusia, yaitu dengan terang akal budi yang aktif. Dengan pengertian ini, Kristus bertumbuh dalam pengetahuan (lih. ST. III, q.xii, a.2)

Jadi dalam Luk 2:52, pertumbuhan yang dimaksud adalah bertambahnya manifestasi pengetahuan Kristus, baik yang ilahi maupun manusiawi (infused dan acquired knowledge). Di sini artinya, bukan obyek pengetahuan-Nya yang bertambah, tetapi bahwa Ia berangsur mengetahui dengan cara yang umum bagi manusia, hal- hal yang telah diketahui-Nya sejak awal mula dari kodrat-Nya sebagai Tuhan dan dari infused knowledge/ pengetahuan yang telah ditanamkan Allah ke dalam jiwa-Nya sebagai manusia.

4. Penjelasan St. Thomas Aquinas tentang pengetahuan Yesus

St. Thomas Aquinas dalam ST III, q.xii, a.2, menjelaskan demikian: ada dua hal pertumbuhan pengetahuan: 1) dalam hal esensinya 2) dalam hal efeknya. Pertama, dalam hal esensinya, pengetahuan Yesus tidak bertumbuh, karena sudah diterima sekaligus sempurna (infused knowledge) tentang segala hal, sejak awal mula penjelmaan-Nya. Demikian pula beatific vision/ pengetahuan surgawi-Nya tidak bertambah lagi, karena sudah sempurna. Maka yang bertambah di sini bukan esensinya tetapi pengalamannya, yaitu dengan membandingkan antara obyek yang telah diketahuinya secara infused, dengan imajinasi dan pengalaman-Nya melalui perasaan-Nya sebagai manusia.

Kedua, dalam hal efeknya, artinya: seseorang dengan esensi pengetahuan yang sama, lalu memberikan penjelasan kepada orang lain, tentang kebenaran yang diketahuinya. Dalam hal ini, pengetahuan Kristus bertambah, yaitu dalam hal pertambahan akibat/ efeknya bagi orang lain. Sebab sejalan dengan bertambahnya umur Yesus, kita ketahui Yesus semakin bertambah dalam pengetahuan/ hikmat dan rahmat, dalam perbuatan- perbuatan-Nya, yang menghasilkan efek yang bertambah kepada orang lain.

5. “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat 24:36, Mrk 13:32)

Maka pada saat Yesus mengatakan ‘tidak tahu akan hari dan saatnya’ dari akhir dunia, maksudnya adalah Ia tidak mengetahui hal itu dari kodrat-Nya sebagai manusia; tetapi dari kodrat-Nya sebagai Allah, Ia tentu mengetahuinya. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan membaca lebih lanjut di sana, mengapa demikian.

Demikian, semoga uraian di atas menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa Sebelum dan Sesudah Makan

5

1. Doa sebelum makan

Bahasa Latin:
Bénedic, Dómine, nos et haectua dona quae de tua largitate sumus sumpturi. Per Christum Dóminum nostrum. Amen.

Bahasa Inggris:
Bless us, O Lord, and these Thy gifts which we are about to receive from Thy bounty, through Christ our Lord.

Bahasa Indonesia:
Berkatilah kami, O Tuhan, dan berkat- berkat ini yang akan kami terima dari kelimpahan-Mu, melalui Kristus Tuhan kami. Amin.

2. Doa sesudah makan

Bahasa Latin:
Ágimus tibi gratias, omnípotens Deus,pro universis beneficiis tuis,qui vivis et regnas insæcula sæculórum. Amen.Deus det nobis suam pacem.Et vitam æternum. Amen.

Bahasa Inggris:
We give Thee thanks, Almighty God, for all thy benefits, Who livest and reignest, world without end. Amen. May the Lord grant us His peace. And life everlasting. Amen.

Bahasa Indonesia:
Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan yang Mahakuasa, atas semua berkat- berkat-Mu, yang hidup dan berkuasa, sekarang dan sepanjang segala abad. Amin. Semoga Tuhan mengaruniakan kepada kita damai-Nya. Dan kehidupan kekal. Amin.

Dapat ditambahkan demikian:

Bahasa Latin:
Fidelium animae, per misericordiam Dei, requiescant in pace. Amen.

Bahasa Inggris:
May the souls of the faithful departed, through the mercy of God, rest in peace. Amen.

Bahasa Indonesia:
Semoga jiwa- jiwa orang beriman yang telah wafat, melalui belas kasihan Tuhan, beristirahat dalam damai. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab