Home Blog Page 237

Tentang Obelisk dan air suci

17

Pertanyaan:

Terima kasih untuk menjadikan banyak masukan dan menambah pengetahuan saya sebagai umat Katolik. Saya ingin menanyakan beberapa hal:
1. Banyak tulisan tentang obelisk, bahwa obelisk adalah lambang penyembahan kepada dewa-dewa pada zaman Mesir kuno, tetapi kenapa obelisk itu justru terdapat di vatikan? Walaupun kita tidak menyembah kepada dewa-dewa, tetapi kenapa perlu menggunakan lambang yang sama?
2.Bagaimana usaha dari gereja Katolik sendiri atau dari kita sebagai umatnya, untuk tidak melakukan proses penyembahan yang salah. Misalnya saat meminum air dari sendangsono atau lourdes, dan sebagainya, atau ada Misa Jumat Kliwon?
Terima kasih banyak. Tuhan memberkati.

Melly

Jawaban:

Shalom Melly,

1. Mengenai mengapa ada tugu Obelisk di Vatikan.

Seorang ahli sejarah Mesir di Universitas New York, namanya Patricia Blackwell mempunyai hipotesa, bahwa obelisk yang didirikan oleh orang Mesir mengambil inspirasi dari fenomena alam yang terjadi pada waktu matahari terbit dan tenggelam, yang berupa “pilar matahari”. Mungkin oleh sebab itu, pada jaman dahulu orang Mesir mengkaitkan pilar tersebut dengan Dewa Matahari.

Selanjutnya kita ketahui secara objektif bahwa pembangunan ‘tugu’ obelisk ini bukan hanya monopoli orang Mesir, dan maksud pembangunannya-pun bukan untuk menghormati dewa matahari. Banyak sekali kota-kota di dunia yang juga mempunyai tugu semacam ini, termasuk juga di antaranya Tugu Monas di Jakarta.

Maka walaupun Roma terkenal dengan tugu-tugu -termasuk diantaranya yang di lapangan gereja St. Petrus- tentu tidak berarti bahwa Gereja Katolik menyembah dewa matahari, sama seperti juga bangsa Indonesia punya Monas, tidak berarti kita menyembah dewa matahari. Yang ingin disampaikan kemungkinan adalah prinsip bahwa tugu obelisk ini mengingatkan kita akan makna “simbol terang”, yang pada bangsa Mesir kuno dihubungkan dengan matahari. Bagi Gereja Katolik, Terang yang ingin disampaikan sudah jelas adalah Terang Kristus. Inilah yang menjadi pesan dalam kalimat pertama Lumen Gentium 1, (Konsili Vatikan ke II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja):

“TERANG PARA BANGSALAH Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15)…..”

Maka keberadaan tugu “obelisk” di Roma, tidak berkaitan dengan makna obelisk menurut kebudayaan Mesir, karena sudah diberi makna baru, yaitu untuk mengingatkan bahwa Kristus adalah Terang Dunia, dan Gereja Katolik, melanjutkan karya Kristus di dunia, untuk membawa Terang Kristus itu kepada dunia.

2. Hal penggunaan air sebagai tanda- tanda yang bersifat rohani, seperti di Lourdes dan Sendang Sono

Mengenai adanya penggunaan air sebagai tanda- tanda suci, Katekismus mengajarkan:

KGK 1667 “Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan berbagai situasi hidup disucikan” (Sacrosanctum Concillium 60). (Bdk. CIC, can. 1166; CCEO, can. 867.)”

Hal ini tidak bertentangan dengan yang diajarkan dalam Kitab Suci yang mengajarkan berbagai macam makna air, seperti untuk mencuci/ membersihkan, untuk diminum, menguduskan, menyembuhkan dst. Selanjutnya, di dalam Alkitab, kita mengetahui bahwa adakalanya Kristus menggunakan media untuk menyembuhkan orang sakit, contohnya: dengan ludah Ia menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap (lih. Mrk 7:33-34). Prinsipnya Allah kita adalah Allah yang berkuasa di atas segala ciptaan-Nya, dan Ia dapat menggunakan segala ciptaannya untuk melaksanakan karya-Nya yang ajaib. Materia/ matter tidak otomatis merupakan hal yang buruk. Allah dapat menggunakan materia untuk menguduskan dan menyembuhkan, dan ini kita lihat dalam sakramen Pembaptisan dan perminyakan orang sakit. Air yang diberkati dapat menjadi sakramentali/ tanda- tanda suci; yang jika diterima dengan disposisi hati yang baik dapat berguna bagi yang menerimanya. Maka yang terpenting bukan materia/ tanda/ air-nya, tetapi tentu Allah yang bekerja atasnya, dan disposisi hati orang yang menerimanya.

Nah, hal inilah yang terjadi di Lourdes atau tempat ziarah lainnya. Penampakan Bunda Maria di Lourdes sendiri telah diakui otentik oleh Vatikan. Digunakannya air Lourdes sebagai sarana Allah menyembuhkan banyak orang sakit sudah dibuktikan oleh banyak orang. Maka jika seseorang meminum air Lourdes atau membasuh diri dengan air Lourdes, dengan disertai dengan doa- doa, tentu bukan hal yang salah. Ini seperti halnya Naaman yang sakit kusta yang membasuh dirinya di sungai Yordan, dan kemudian disembuhkan Allah (2 Raj 5:10, 14). Maka yang terpenting bukan airnya, tetapi Allah yang dapat bekerja melalui air itu, dan tentu, iman dari pihak yang menggunakannya. Sebab jika diminum tanpa disetai dengan disposisi hati yang sungguh mengimani pertolongan Allah, maka air itu hanya sekedar air saja, tanpa ada efeknya. Namun dengan iman, maka air itu yang memang hanya air biasa, dapat dipakai oleh Allah untuk menyampaikan rahmat penyembuhan-Nya. Allah dapat bekerja melalui hal- hal biasa untuk mendatangkan sesuatu yang luar biasa. Hal yang luar biasa itu, umumnya tidak saja kesembuhan jasmani, tetapi juga kesembuhan rohani, yaitu pertobatan dan niatan yang besar untuk membalas kasih Tuhan.

3. Misa Jumat Kliwon?

Sejujurnya, saya baru pernah mendengar ada istilah Misa Jumat Kliwon. Yang saya ketahui adalah Gereja Katolik mengadakan Misa Kudus setiap hari, dan bisa saja misa ini diadakan pada pagi dan sore hari. Maka tidaklah aneh jika Misa Kudus itu bertepatan dengan hari Jumat Kliwon atau Jumat Legi, atau Jumat lainnya lagi. Ini tidak ada kaitannya dengan kepercayaan magis tertentu, karena Misa Kudus sebagai bentuk ibadah ungkapan syukur diadakan pada hari- hari lainnya juga.

Demikian tanggapan saya, atas pertanyaan anda. Jangan kuatir, Melly. Jika kita memahami iman kita dan melakukan sesuai yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, maka kita tidak akan tersesat, dan kita ada di jalan yang benar, dalam melakukan penyembahan kepada Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

The Purpose Driven Life, apakah cocok untuk orang Katolik?

14

Pertanyaan:

Saya ingin tahu pandangan katolisitas thd buku the purpose driven life karangan rick warren? Apakah cocok untuk orang katolik?
Alexander Pontoh

Jawaban:

Shalom Alexander Pontoh,

Buku The Purpose Driven Life secara umum menuliskan tentang bagaimana seseorang dapat menemukan makna dalam hidupnya. Walaupun secara umum ini memang bukan topik yang baru, tetapi secara obyektif, sayapun mengakui bahwa Rick Warren cukup baik dalam menyampaikan gagasannya, sehingga buku itu menjadi enak untuk dibaca.

Sejujurnya, menurut pendapat saya pribadi, buku itu banyak menyampaikan hal- hal yang positif, sehingga tentu ini baik. Awal pembahasannya sangat baik, yaitu, tentang bahwa kita berasal dari Allah, dan karenanya harus mencari makna hidup kita di dalam Allah. Kita diciptakan untuk kekekalan, dan karenanya tidak boleh hanya memusatkan diri pada kehidupan duniawi, tapi harus ‘membuat Allah tersenyum’ (h.75), dengan mengasihiNya dan menaaati kehendak-Nya. Bukankah ini hampir sama dengan yang diajarkan oleh Gereja Katolik, dalam seruan Konsili Vatikan ke II, Lumen Gentium Bab V tentang The Universal Call to Holiness (Seruan kepada semua orang untuk hidup kudus), karena kekudusan itu pada dasarnya adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan kekuatan kita dan mengasihi sesama demi kasih kita kepada Allah.

Namun yang menjadi ‘masalah’ di sini adalah hal- hal yang sangat penting yang tidak sempat dibahas di buku tersebut, yang pada topik- topik tertentu seharusnya dibahas, jika ingin menyampaikan kepenuhan kebenaran Kristiani. Beberapa contoh yang saya tangkap misalnya pada renungan hari ke -13, tentang Penyembahan yang menyenangkan Allah, sebagai bukti kasih kita kepada Allah. Dikatakan di sana bahwa penyembahan kepada Allah berkaitan dengan emosi dan doktrin (h. 114, ed. bahasa Indonesia), [karena] kita menggunakan hati dan kepala kita untuk menyembah Tuhan. Walaupun pernyataan ini ada benarnya, namun kurang lengkap. Sebab penyembahan yang sempurna itu harusnya berfokus kepada Allah, apakah cara yang dikehendaki Allah dan bukannya cara yang ‘pas’ bagi emosi, hati dan kepala kita sebagai penyembah. Maksudnya, kita harus mengetahui dan menaati apa yang Tuhan mau terlebih dahulu, dan baru kemudian kita berusaha memahami dan menghayatinya agar penyembahan itu bisa kita resapkan, di kepala dan di hati. Jika kita mau jujur membaca Kitab Suci, kita akan menemukan perintah Kristus, akan bagaimana seharusnya kita mengenang-Nya, yaitu dengan Perjamuan syukur Ekaristi. “Lakukanlah ini, sebagai peringatan akan Daku.” (Luk 22:19; 1 Kor 11:24-25). Perjamuan yang merayakan pengorbanan Tubuh dan Darah-Nya, itulah yang dilakukan-Nya sebelum sengsara-Nya (Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; Yoh 13:21-30), dan yang kemudian diulanginya pada saat Ia menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya di Emaus (Luk 24:13-35). Melalui persatuan kita dengan Kristus dalam Ekaristi Kudus itulah kita melaksanakan penyembahan yang paling menyenangkan hati Tuhan, sebab itulah yang menjadi kehendak-Nya bagi kita murid- murid-Nya. Maka masalahnya bukan kepada cara penyembahan yang menyenangkan kita atau yang paling bisa kena di hati kita, tetapi kepada cara penyembahan yang menyenangkan hati- Nya. Adalah bagian kita kemudian untuk berusaha memahami dan menghayati cara Tuhan ini (jika perlu sampai memohon dan mengemis pada Tuhan, agar kita dapat memahaminya!), dan alangkah besar rahmat yang kemudian dapat kita alami, baik di hati maupun di kepala, jika kita membiarkan Allah mencurahkan rahmat-Nya melalui cara penyembahan yang dikehendaki-Nya ini…

Hal selanjutnya yang tentu berbeda adalah pandangan Warren tentang Gereja, tentang Baptisan (h. 134, 147), justru karena ia tidak sampai membahas lebih mendetail tentang Gereja yang didirikan Kristus. Ia memang menyentuh Mat 16:18, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya…..” (lih. p. 147), namun tidak menyebut lebih lanjut bahwa jemaat yang didirikan oleh Yesus itu adalah jemaat-Nya di atas Rasul Petrus. Maka yang menjadi topik pembahasan Warren adalah persekutuan gereja lokal (lih. h. 186), tanpa melihat apakah gereja tersebut sepenuhnya tergabung dalam kesatuan dengan Gereja yang didirikan Kristus sendiri di atas Rasul Petrus, yang kepadanya Yesus telah berjanji akan melindungi hingga alam maut tidak akan menguasainya.

Pandangan yang kurang lengkap tentang Ekklesiologi (Gereja) mempengaruhi renungan topik berikutnya yaitu Diubahkan lewat kebenaran (hari ke 24, h. 205-). Karena di sana, penekanannya seolah kebenaran hanya diperoleh dari firman Allah dalam Kitab Suci. Kita umat Katolik mengetahui bahwa firman Allah ini tidak semuanya ditulis dalam Kitab Suci, sebab firman Allah juga ada yang disampaikan secara lisan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan dalam Tradisi Suci.

Selanjutnya melayani Tuhan dengan prinsip SHAPE (h. 253) dapat saja diterapkan, sepanjang selalu dalam kesatuan dengan Magisterium Gereja, dan dilakukan dengan semangat kerendahan hati.

Demikian yang dapat saya sampaikan sekilas tentang komentar kami terhadap buku The Purpose Driven Life– nya Rick Warren. Buku ini baik bagi pertumbuhan spiritual kita, sepanjang kita melihat bahwa buku ini belum lengkap. Apa yang ditulis di sana bukan resep segalanya untuk mengalami kehidupan yang digerakkan oleh tujuan. Mungkin ini ada kaitannya dengan pernyataan yang dikatakan oleh Rick Warren sendiri di halaman 104: “Allah tidak mengharapkan anda untuk sempurna, tetapi Dia sungguh- sungguh menekankan kejujuran sepenuhnya.” Sedangkan kenyataannya, walau Allah menghargai kejujuran sepenuhnya, namun kita ketahui dari firman Allah sendiri, bahwa Allah menghendaki kita untuk sempurna. Bahkan kesempurnaan itu adalah perintah, bukan hanya sekedar “hendaknya”:

Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)

Pencarian kita akan tujuan yang sempurna di hadapan Allah ini akan menghantar kita kepada Gereja yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus, yang masih disertai oleh-Nya sampai saat ini dengan kehadiran-Nya di dalam sakramen- sakramen-Nya, terutama Ekaristi. Bersama Gereja-Nya ini kita mengalami kepenuhan kehidupan yang digerakkan oleh tujuan yang dari Allah, karena Tuhan Yesus sendiri yang menjadi pusatnya. Bersama Gereja-Nya kita menuju kesempurnaan kehidupan kekal yang menjadi tujuan kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Kitab PL dan Kitab Kejadian

12

Pertanyaan:

Ytk, Bpk Stefanus Tays

Saya mengucapkan terima kasih atas tanggapan yang telah bapak berikan dan sangat membantu saya dalam memahami Alkitab,..

Pak Stef saya mau menanyakan tentang Kitab Perjanjian Lama,
1.Sebenarnya posisinya ada dimana apakah dibawah Injil,atau bagaimana?
2.Saya ingin menanyakan tentang Kitab Kejadian ,sebenarnya Kitab ini sumbernya darimana ?lalu kenapa dijadikan sebagai Kitab Perjanjian Lama?
3.Didalam Kitab Kejadian orang yang bercerita itu ada berapa orang artinya beliau dapat mengetahui awal dari dunia ini, lalu ada Adam dan Hawa, Adam yang dikatakan mempunyai umur 850 tahun,Set keturunan Adam 800 tahun,Enos hidup 825 tahun, lalau sampai dengan Yusuf,bagaimana penjelasannya?apa mungkin itu yang menulis cuma 1 orang yang dapat hidup lebih dari 1000 tahun?

Terima Kasih sebelumnya..
Joan Heru

Jawaban:

Shalom Joan Heru,

1. Posisi Kitab Perjanjian Lama, apakah di bawah Injil?

Jawabnya: Tidak. Gereja melihat Kitab Suci sebagai satu kesatuan antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru (termasuk di dalamnya Injil). Baik PL dan PB, keduanya diilhami oleh Roh Kudus, sehingga keduanya suci -tidak ada yang lebih tidak suci atau sebaliknya. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 105 …..”Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (Dei Verbum 11).

KGK 121 Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya Bdk. DV 14. karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

KGK 122 “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. …

KGK 123 Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

KGK 129 Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya Bdk. Mrk 12:29-31.. Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.. Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73) Bdk. DV 16.

KGK 140 Kesatuan kedua Perjanjian mengalir dari kesatuan rencana dan wahyu Allah. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru, sedangkan yang Baru menyempurnakan yang Lama. Kedua-duanya saling menjelaskan. Kedua-duanya adalah Sabda Allah yang benar.

2. Tentang Kitab Kejadian

Kitab Kejadian merupakan Kitab Perjanjian Lama, karena di sana dikisahkan riwayat kejadian sejak awal mula penciptaan dilanjutkan dengan perjanjian Allah dengan Adam Hawa, setelah mereka jatuh dalam dosa, dan kemudian kepada keturunan mereka, yaitu para patriarkh, sebagai tahapan sebelum Allah membuat perjanjian kepada seluruh bangsa Israel, yang kemudian terus menyambung sampai pada perjanjian baru yang ditandai oleh Kristus bagi Gereja yang merupakan bangsa pilihan Allah yang baru. Pada kitab Kejadian ini kita melihat rencana keselamatan Allah yang dimulai bertahap, pertama janji ini diberikan kepada sepasang manusia (Adam dan Hawa), lalu kepada keluarga (yaitu keluarga Nabi Nuh dan keturunannya, sampai Abraham yang dipilih sebagai bapa bangsa, lalu kepada keluarga Yakub (anak Ishak, yang adalah anak Abraham) dengan keduabelas anaknya yang kelak menjadi keduabelas suku Israel. Dan kisah ini kemudian dilanjutkan dengan Kitab Keluaran yang menujukkan kisah penyelamatan Allah terhadap bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Kitab Kejadian ini penting seperti halnya kitab- kitab lainnya dalam PL, karena kita ketahui bahwa pada PB, kisah- kisah PL tersebut digenapi, seperti sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Menurut tradisi yang dipegang oleh Gereja Katolik, kitab Kejadian termasuk dalam kitab- kitab yang dikumpulkan dan diedit oleh Nabi Musa. Kitab Kejadian bukan ditulis sendiri oleh Musa, namun ia mengumpulkannya dari peninggalan- peninggalan para patriarkh pendahulunya. Memang ada teori dewasa ini yang membagi kitab- kitab Musa sebagai ditulis oleh banyak sumber (JEPD: Jahwist, Elohist, Priestly dan Deuteronomist) seperti dipopulerkan oleh K.H Graf (1869) dan Julius Wellhausen (1918). Namun sesungguhnya ini masih sebatas teori yang mendasari pembagian ini atas cara penulisan teks, sehingga menghasilkan hipotesa bahwa ada kemungkinan kitab- kitab tersebut tidak dikompilasi oleh Nabi Musa, tetapi oleh banyak sumber, bahkan sesudah jaman Nabi Musa.

Sepanjang pengetahuan kami, Gereja Katolik tidak mengeluarkan pandangan resmi mengenai siapa penulis kitab- kitab Musa, termasuk kitab Kejadian ini. Namun kami di Katolisitas, lebih condong kepada tradisi yang sudah dipegang selama berabad- abad, bahwa kitab Kejadian dikompilasi oleh nabi Musa, yang diterimanya dari peninggalan para patriarkh pendahulunya, dimulai dari Nabi Nuh. Hal ini diperkuat oleh fakta- fakta dari penemuan arkeologis, yang memang baru dapat diketahui sekitar 150 tahun terakhir ini, seperti yang ditunjukkan oleh PJ. Wiseman. Dari penemuan- penemuan arkeologis tersebut, ditemukan adanya pengulangan frasa dalam penulisan kitab Kejadian, yang menjadi salah satu kunci untuk memahami terbentuknya kitab Kejadian. Frasa berulang tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu a) frasa Colophon, dan b) frasa penyambung (catch-line). Berikut ini adalah tulisan yang kami sarikan dari link ini, silakan klik.

a. Frasa Colophon

‘Kejadian’/ Genesis adalah kata Yunani dari istilah Ibrani yang berarti “daftar keturunan/ riwayat”. Salah satu frasa yang menjadi pola dalam kitab Kejadian adalah:

“Inilah riwayat/ daftar keturunan ……”

Frasa ini disebut sebanyak 11 kali dalam Kitab Kejadian (2:4; 5:1; 6:9; 10:1; 11:10; 11:27; 25:12; 25:19; 36:1; 36:9; 37:2). Jika diperhatikan, riwayat tersebut sudah disebutkan pada ayat- ayat sebelumnya, dan kalimat tersebut merupakan ayat/ kalimat penutup. Frasa Colophon tersebut merupakan frasa penutup yang menegaskan kembali apa yang sudah disampaikan, sebagai rekaman klaim yang baru saja ditulis; dan mengacu kepada sang penulis atau sang pemilik tablet yang memuat tulisan itu.

TABLET: 1
ayat: 1:1 sampai 2:4
Tentang: Riwayat langit dan bumi

TABLET: 2
ayat: 2:5 sampai 5:2
Tentang: Riwayat Adam.

TABLET: 3
ayat: 5:3 sampai 6:9a
Tentang: Riwayat Nabi Nuh

TABLET: 4
ayat: 6:9b sampai 10:1
Tentang: Riwayat anak- anak Nabi Nuh

TABLET: 5
ayat: 10:2 sampai 11:10a
Tentang: Riwayat Shem.

TABLET: 6
ayat: 11:10b sampai 11:27a
Tentang: Riwayat Terah.

TABLET: 7-8
ayat: 11:27b sampai 25:19a
Tentang: Riwayat Ismail dan Ishak

TABLET: 9-11
ayat: 25:19b sampai 37:2a
Tentang: Riwayat Esau and Yakub.

Perlu dicatat bahwa catatan sejarah yang terekam di setiap bagian berhenti sebelum orang yang dimaksud wafat, atau kebanyakan, catatan tersebut berlangsung sampai menjelang wafatnya tokoh tersebut, atau sampai pada saat tablet tersebut dituliskan. Contohnya tablet ke-4 yang dimiliki oleh anak- anak Nabi Nuh, menceritakan banjir dan kematian nabi Nuh. Kita tidak mengetahui kapankah saatnya Ham dan Yafet wafat setelah kematian Nuh, tetapi kita mengetahui bahwa Shem hidup jauh lebih lama daripada nabi Nuh. Dan bagian ini dapat dituliskan oleh anak- anak nabi Nuh.

b. Frasa penyambung (Catch- line)

Dalam Kitab Kejadian, kita melihat adanya banyak frasa yang diulang, yang jika diperhatikan merupakan frasa penyambung antara tablet yang satu dengan tablet yang lainnya. Berikut ini frasa penyambungnya:

1:1….”Allah menciptakan langit dan bumi”
2:4….”Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit”
2:4….”pada waktu diciptakan”
5:2….”pada waktu mereka diciptakan”
6:10…”Shem, Ham dan Yafet”
10:1…”Shem, Ham dan Yafet”
10:32..”setelah air bah itu”
11:10..”setelah air bah itu”
11:26..”Abram, Nahor dan Haran”
11:27..”Abram, Nahor dan Haran”
25:12..”anak Abraham”
25:19..”anak Abraham”
36:1…”yaitu Edom”
36:8…”yaitu Edom”
36:9…”bapa orang Edom”
36:43..”bapa orang Edom”

Munurut Wiseman, adanya pengulangan frasa di awal dan di akhir tablet, dapat dilihat oleh para peneliti yang memahami metoda teks Babilonia, sebab pengulangan ini berguna untuk menggabungkan tablet- tablet tersebut. Jadi pengulangan ini bukan sekedar kebetulan. Sedangkan Kej 37:2 sampai 50:36 tentang sejarah Yusuf tidak diakhiri oleh frasa Colophon, karena tradisi sastra Mesir di mana kehidupan Yusuf dicatat, tidak menggunakan frasa Colophon.

3. Penulisan Kitab Kejadian

Berdasarkan teori di atas, maka kemungkinan, Kitab Kejadian memang bersumber pada tulisan pada tablet- tablet yang dimiliki oleh generasi patriarkh yang berbeda- beda, yang menuliskan sejarah dari keluarga tersebut. Tulisan tentang Adam kemungkinan dituliskan oleh keturunannya, kemungkinan dari Nuh/ keturunan nabi Nuh. Sedangkan keturunan selanjutnya, dituliskan sesuai dengan nama yang tercantum dalam frasa Colophon tersebut. Dengan adanya semacam sumber penulisan yang estafet (menerus) dari satu generasi ke generasi, maka dimungkinkan penulisan riwayat satu orang, dari lahir sampai wafatnya, karena yang menuliskannya tidak terbatas pada satu orang tersebut, namun juga keturunan orang itu. Nabi Musa kemudian mengumpulkan tulisan- tulisan dalam tablet- tablet tersebut dan mengkompilasinya menjadi kesatuan dengan kitab- kitabnya, yang dikenal dengan kitab Pentateuch (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Perjalanan Hidup Panggilanku

80

Pengantar dari Katolisitas :

Terima kasih kepada Fr. Yudi yang telah berkenan membagikan kisah pengalaman hidupnya tentang liku- liku perjalanan imannya yang membawanya ke seminari Karmelit di Malang, Jawa Timur. Tuhan memang mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan setiap anak- anak-Nya, teristimewa dalam kehidupan Fr.Yudi yang telah berani menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup membiara untuk menjadi seorang imam. Memang ada banyak tantangan yang harus dihadapi, namun kita percaya bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya dalam kehidupan Fr. Yudi, akan juga membimbing Frater untuk selanjutnya, dan selamanya.

Mari bersama sebagai sesama anggota Tubuh Kristus, kita mendoakan Fr. Robertus Yudi Kristianto, agar niatannya untuk menjadi seorang imam dapat terpenuhi. Semoga melalui kesaksian hidupnya ini, banyak orang muda dapat terdorong untuk menanggapi panggilan Tuhan yang istimewa ini: yaitu untuk memberikan kasih yang total kepada Allah dan kepada sesama.

Kehidupan awal

Sebelum memulai cerita mengenai perjalanan hidup panggilan saya, perkenankan saya memperkenalkan diri saya terlebih dulu. Nama saya Robertus Yudi Kristianto. Saya anak pertama dari dua bersaudara, dilahirkan di Jakarta 24 tahun yang lalu. Saat ini saya berada di Malang, Jawa Timur, untuk menempuh pendidikan sebagai seorang Karmelit (frater Ordo Karmel). Cerita perjalanan hidup panggilan saya akan saya kisahkan sejak masa kecil hingga sekarang.

Saya dilahirkan di dalam sebuah keluarga yang cukup sederhana. Kedua orang tua saya adalah orang Katolik, khususnya ibu saya adalah orang yang sangat saleh dan taat beragama. Sejak kecil saya sudah dibimbingnya untuk juga taat beragama, pergi ke gereja, dan ikut kegiatan kegerejaan. Namun, sayang semua itu hanyalah harapan dari ibu saya saja. Sebagai seorang anak yang hidup di lingkungan Jakarta, tentu saja Yudi kecil juga terpengaruh oleh gaya hidup yang “semau gue”.

Awalnya karena masih kecil saya hanya ikut saja dengan kemauan orang tua, misalnya jika diminta pergi ke gereja bersama, saya mau tidak mau ikut saja dengan keinginan orang tua ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketika usia saya semakin bertambah dan saya semakin besar, saya mulai berani untuk mengambil keputusan untuk tidak ikut ke gereja bersama dengan orang tua, dengan alasan akan pergi ke gereja sendiri saja. Saya menyebut ini sebagai “masa kegelapan hidup saya”.

Saya menyebutnya sebagai “masa kegelapan” karena memang hidup saya cukup “kacau” dengan melakukan banyak kenakalan remaja. Saya dapat menceritakannya demikian, karena sebagai seorang anak kecil saya sudah berani memberontak atau melawan kehendak orang tua. Saya juga sudah berani mencuri uang orang tua hanya demi untuk bermain playstation. Saya pernah juga terlambat pulang dan tanpa izin main ke rumah teman sepulang sekolah sampai malam hari, hingga membuat ibu saya khawatir. Sudah tak terkira banyaknya air mata yang dikeluarkan ibu saya karena kenakalan-kenakalan dan keras kepala saya dengan tidak mengikuti perintahnya. Dan yang paling parah, saya tidak pernah pergi ke gereja semenjak saya mengatakan akan pergi ke gereja sendiri. Saya memang pamit pada orang tua untuk pergi ke gereja, namun kenyataanya saya bukan ke gereja tetapi main ke tempat persewaan playstation.

Selama beberapa tahun demikianlah perjalanan hidup saya, tidak ada orang lain yang tahu tentang semua ini kecuali saya sendiri dan Tuhan. Namun, saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa ada Tuhan yang memperhatikan gerak-gerik saya. Saya tumbuh menjadi anak yang tidak pernah menghayati imannya sebagai pengikut Kristus. Maka dari itu saya menyebut masa kecil saya sebagai “masa kegelapan”. Saya sering menganalogikan hidup panggilan saya sebagai suatu peristiwa “pertobatan”, yang saya identikkan dengan peristiwa pertobatan Rasul Paulus. Walaupun ini terkesan tak pantas karena menyamakan diri dengan Rasul Paulus, namun paling tidak demikianlah dapat sedikit saya gambarkan perjalanan hidup saya yang memang merupakan suatu bentuk perjalanan dari seseorang yang bertobat.

“Pertobatan”: awal perjalanan panggilan saya

Permulaan masa pertobatan ini terjadi menjelang saya lulus dari SMP. Waktu itu saya hendak menentukan untuk melanjutkan ke suatu SMA biasa. Namun tanpa saya minta, ibu saya menawarkan kepada saya untuk masuk ke sekolah seminari. Tentu saja saat itu saya tidak tahu apa itu seminari, yang nota bene merupakan sekolah untuk para calon imam. Pergi ke gereja bertemu dengan para romo atau ikut kegiatan gereja saja jarang, apa lagi mengenal yang namanya sekolah seminari. Setelah mendapat penjelasan dari ibu, saya mulai mempertimbangkan pilihan saya tersebut. Entah kapan persisnya, namun setelah saya mendapat tawaran tersebut saya mulai membawa kedua pilihan tersebut dalam doa-doa pribadi saya. Karena bagi saya apa yang akan saya pilih itulah yang akan menentukan masa depan saya selanjutnya. Menurut ibu saya, jika saya sekolah di SMA biasa, saya berpotensi untuk menjadi anak yang lebih “rusak”, namun jika masuk seminari, hidup saya akan lebih teratur dan saya akan menjadi anak yang lebih baik.

Peristiwa ini memang menjadi awal dari pertobatan saya, namun sesungguhnya ini bukanlah menjadi awal dari panggilan saya. Akhirnya, saya memang memutuskan untuk masuk ke seminari. Awalnya saya mendaftar dan ikut tes seleksi di seminari menengah “Wacana Bakti” di Jakarta, namun saya tidak lulus ujian seleksi. Menerima keputusan tersebut sebenarnya saya dan ibu merasa kecewa dan sempat putus asa, namun tanpa diminta seorang teman ibu saya datang ke rumah dan memberikan informasi bahwa di Bogor ada seminari menengah yang membuka pendaftaran. Singkat cerita, saya akhirnya mendaftar di seminari ini dan diterima. Saya pun menjalani pendidikan seminari menengah saya di seminari Stella Maris, Bogor, selama 4 tahun.

Hidup di seminari saya jalani sebagaimana layaknya anak SMA biasa. Teman-teman saya sejak kelas 1 sudah mulai menentukan akan masuk ke ordo, kongregasi, atau diosesan yang mereka minati kelak. Sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang semua istilah itu. Istilah seminari saja baru saya ketahui dari ibu saya. Selama 3 tahun kehidupan saya di seminari saya hayati sebagai layaknya anak muda biasa dengan tidak memiliki pikiran akan melanjutkan ke seminari tinggi manapun. Namun yang menarik adalah bahwa selama saya di seminari menengah ini, kehidupan rohani saya berubah sangat drastis. Saya menjadi sangat haus akan waktu doa, dan memang setiap kali ada waktu kosong atau saya sedang menghadapi suatu masalah, saya selalu membawa persoalan saya tersebut dalam doa. Dalam doa-doa saya, saya selalu memohon dukungan doa dari Bunda Maria, ibu Yesus Kristus. Karena itu pulalah saya memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Bagaimana pertama kali devosi ini muncul bagi saya saat itu rasanya tidak terlalu jelas. Ketika itu saya hanya merasakan bahwa saya ingin sekali berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Saya merasa hati saya menuntun saya untuk mohon didoakan oleh Bunda Maria, dan yang terjadi memang luar biasa bahwa saya mengalami banyak sekali kelegaan dan mendapat kekuatan setelah berdoa dengan perantaraan Bunda. Inilah yang saya rasakan waktu itu ketika di seminari menengah, saya merasakan gerakan hati untuk berdoa bersama Bunda Maria di hati saya. Namun, setelah saya menjadi lebih dewasa semua itu menjadi jelas bagi saya, mengapa saya memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Semua itu juga karena saya memiliki kedekatan yang mendalam dengan ibu saya, maka saya menjadi lebih mudah untuk dekat dengan Bunda Maria karena figur keibuannya itu. Dengan berdevosi kepada Bunda Maria, saya merasa dibawa lebih dekat kepada Yesus, Puteranya, untuk menghadapi tantangan dan kesulitan hidup ini.

Semua peristiwa ini menjadi awal dari perjalanan pertobatan saya. Sebelum masuk seminari saya merupakan anak yang sangat tidak rohani karena tidak pernah merayakan misa di gereja dan berdoa pribadi. Namun, setelah masuk seminari seolah-olah batin saya mulai memunculkan kerinduannya yang terdalam untuk dekat dengan Tuhan dan berdialog dengan-Nya. Kerinduan batin saya yang selama ini terpendam, karena saya tidak pernah mencoba untuk mendengarkan jeritan batin saya tersebut.

Ketika saya merasa sungguh terpanggil

Pengalaman saat saya mulai merasa sungguh terpanggil terjadi ketika saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara Minggu Panggilan di Paroki Herkulanus, Depok. Ketika itu kami mendapat tugas untuk koor di paroki dan membuka stan di sana. Hal ini sudah merupakan suatu “mukjizat” karena jika dipikir secara nalar, saya tidak mungkin dipilih sebagai anggota koor saat itu, karena saya tidak bisa menyanyi dan memang selama 3 tahun kehidupan saya di seminari, saya tidak pernah terpilih sebagai anggota koor. Singkat cerita saya mengikuti setiap proses persiapan koor itu dengan segala keterbatasan saya, yang sebenarnya bahkan saya nilai cenderung “merusak” koor, namun Tuhan sudah memilih saya untuk ikut dalam rombongan koor tersebut.

Saat itu saya sudah berada di kelas 3 SMA dan akan lulus. Sebenarnya dalam hati saya sudah sempat memutuskan untuk tidak akan melanjutkan ke seminari tinggi. Setelah lulus saya akan kuliah di luar saja. Namun, Tuhan berkehendak lain. Oleh karena itu saya menyebut saat itu sebagai saat awal dari “keterpanggilan” saya. Itu adalah saat ketika saya berada di Paroki Herkulanus, pada misa Sabtu sore dimana kami mengisi koor di gereja tersebut dalam rangka Minggu Panggilan. Saat itu ada seorang suster yang mensharingkan cerita panggilannya. Menyimak sharing suster tersebut, hati saya seakan tergerak. Saya merasa bahwa hidup saya tidak berarti apa pun, kok sampai dengan berani saya menolak panggilan Tuhan. Melalui peristiwa ini saya memikirkan kembali keputusan awal saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan ke seminari tinggi. Pesan Rasul Paulus kepada umat di Filipi terasa seiring dengan langkah yang saya ambil saat itu, “…. aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada yang ada di hadapanku, dan berlari- lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3: 13-14)

Dengan keputusan tersebut, maka konsekuensinya setelah saya lulus kelas 3 SMA, saya harus menjalani masa pendidikan untuk 1 tahun lagi sebagai masa persiapan sebelum masuk ke seminari tinggi. Masa ini saya sebut sebagai masa “pencarian”, yaitu pencarian akan ordo atau kongregasi yang akan saya pilih untuk bergabung. Tentu saja dengan memutuskan untuk tetap melanjutkan ke seminari tinggi tidak melepaskan saya dari satu persoalan mendasar yaitu saya tetap tidak tahu akan memilih ordo atau kongregasi yang mana. Jadi sekali lagi, saya membawa persoalan saya ini dalam doa-doa saya dengan perantaraan Bunda Maria. Waktu itu saya hanya berpegang pada satu prinsip bahwa saya ingin masuk ke ordo atau kongregasi yang bersifat pendoa dan memiliki devosi kepada Bunda Maria. Saya tidak ingin masuk ke diosesan manapun. Saya bawa ujud pribadi ini di dalam setiap doa-doa pribadi saya, dan akhirnya Tuhan menjawab kegelisahan saya tersebut.

Pada suatu hari, seorang kakak kelas saya yang sudah lulus jauh sebelum saya, bergabung ke dalam Ordo Karmel di Malang, dan ia mengirimkan sebuah brosur Karmel ke seminari kami di Bogor. Ketika saya membacanya, saya langsung merasakan adanya gerakan batin yang mengatakan bahwa inilah ordo yang dipilih Tuhan buat saya, dan Tuhan ingin saya masuk dalam ordo Karmel ini sebagai jawaban atas doa-doa saya. Hal ini juga merupakan sebuah mukjizat kecil buat saya, karena seumur hidup saya belum pernah mengenal ordo Karmel, belum pernah bertemu dengan imam Karmelit seorang pun, tetapi saya langsung tertarik hanya karena membaca brosur tersebut. Ordo Karmel adalah ordo pendoa dan memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bahkan setelah beberapa waktu kemudian baru saya ketahui bahwa Maria merupakan dasar spiritual dari ordo ini, dan Maria sungguh menganugerahi ordo ini dengan berkatnya secara khusus melalui pemberian Sekapulir Coklat / Sekapulir Karmel oleh Bunda Maria melalui suatu penampakan, kepada pemimpin Karmelit yang kudus, St. Simon Stock. Mungkin karena dasar inilah saya langsung tertarik kepada Ordo Karmel, karena sesuai dengan gerakan hati dan prinsip saya selama ini.

Awal hidup baru di Karmel

Masuk ke Karmel bagi saya sudah merupakan perjuangan tersendiri karena itu berarti saya harus pergi dari Jakarta menuju ke Malang untuk orientasi. Saat datang ke sana, saya bersama dengan teman satu seminari, sehingga pada saat diadakan orientasi dan tes, kami berdua adalah peserta yang sama-sama datang dari Seminari Menengah Stella Maris, Bogor. Namun kini teman saya itu sudah menjadi awam. Saat hendak orientasi itu, kami sempat mendapat sedikit kendala dimana kami mengalami penundaan karena satu dua hal, namun entah kenapa saya pribadi tetap merasakan semangat yang berkobar untuk paling tidak datang ke Karmel dan ikut merasakan kehidupan para Karmelit di sana. Akhirnya, kami berdua pun mendapat kesempatan untuk melakukan orientasi ke Malang, tepatnya kami menjalani masa orientasi kami di Biara Novisiat Karmel di Batu, Malang.

Setelah beberapa hari menjalani masa orientasi ini, secara pribadi saya telah mantap untuk memilih Ordo Karmel sebagai ordo yang akan saya masuki kelak. Kehidupan di seminari pun berjalan seperti biasa dan setelah saya lulus dari seminari menengah, saya langsung menjalani tes penyaringan masuk ke Ordo Karmel di novisiat Batu tadi. Semua proses seleksi saya jalani dengan sebaik-baiknya, dan memang membuahkan hasil. Saya diterima masuk dalam Ordo Karmel. Namun masa novisiat 2 tahun saya jalani dengan cukup sulit, karena saya memiliki banyak keragu-raguan dalam menanggapi panggilan ini. Saya cukup sering bertanya dalam hati apakah ini sungguh panggilan saya? Keraguan semakin menebal saat saya menghadapi kenyataan bahwa dari 13 orang yang masuk ke novisiat bersama-sama dengan saya, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan biara.

Tantangan demi tantangan

Masa novisiat 2 tahun itu ternyata masih dapat saya lalui dengan cukup baik walau harus menghadapi masa krisis doa yang cukup berat, sehingga akhirnya saya diizinkan untuk mengikrarkan kaul perdana saya. Pengikraran kaul perdana ini menjadi tanda bahwa saya telah resmi diterima sebagai anggota sementara Ordo Karmel Indonesia dan sekarang saya menyandang status sebagai frater profesi dan bukan lagi sebagai frater novis. Setelah itu kehidupan saya berganti, saya dan teman-teman yang lain harus pindah dari biara novisiat di Batu ke biara “Beato Titus Brandsma” di Malang. Di sini adalah tempat para frater menjalani masa pendidikan strata 1. Untuk itu kami harus tinggal di tempat ini selama 4 tahun untuk menyelesaikan kuliah filsafat teologi kami di STFT Widya Sasana, Malang.

Kehidupan saya di biara Titus Brandsma ini ternyata juga tidak membaik, satu persatu masalah datang silih berganti. Masalah yang satu belum selesai, yang baru sudah datang lagi. Kehidupan saya terasa semakin berat. Belum lagi saya harus menghadapi persoalan dalam bidang studi. Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah anak yang cerdas dan saya memang mengalami sedikit kesulitan dalam menempuh studi di STFT ini. Persoalan-persoalan yang saya hadapi lebih banyak berkaitan dengan kehidupan pribadi saya sendiri, seperti kekeringan dalam hidup doa yang berkepanjangan, masalah sakit yang sampai membuat setiap segi kehidupan saya menjadi kacau, dan masih banyak lagi. Sedangkan persoalan kehidupan membiara seperti berelasi dengan sesama frater, romo, dan umat sekitar saya tidak terlalu mengalami persoalan yang berat.

Persoalan-persoalan pribadi yang harus saya hadapi ini memang merupakan penghalang terbesar dalam hidup panggilan saya ini. Banyak sekali saya mengalami jatuh bangun yang hampir selalu membuat saya putus asa. Apalagi sekarang saya harus menghadapi kenyataan bahwa sakit saya sudah cukup menganggu hidup panggilan saya, dan saya diharuskan segera memperbaiki segalanya, jika tidak, maka hidup panggilan saya tidak dapat diteruskan dan saya tidak akan diizinkan untuk menjadi imam Karmelit. Mengapa ini menjadi persoalan yang amat memberatkan buat saya, karena sakit ini membuat kehidupan saya kacau. Studi saya menjadi terhambat karena saya sempat mendapat nilai “E” untuk satu mata pelajaran, dan itu berarti saya harus menunda satu tahun untuk selesai S1; juga dalam relasi dengan orang lain saya menjadi canggung dan terhambat; dan masih banyak lagi sebenarnya yang menyulitkan hidup saya di biara.

Namun saya ingin tetap bertahan, seraya memegang erat janji Tuhan yang selalu dapat saya temukan di dalam 1 Kor 10:13, “Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” Dan saya tahu bahwa dengan berpegang erat kepada Tuhan saya akan selalu mengalami pertolonganNya.

Misteri panggilan Tuhan bagi saya

Kehidupan di biara memang kelihatan “berat”, namun kita dapat bersama-sama melihat ke dalam kehidupan kita masing-masing adakah hidup kita saat ini selalu terasa enak dan tidak memberatkan? Apapun pilihan hidup kita, kita selalu mengalami konsekuensi bebasnya, konsekuensi yang muncul karena pilihan bebas kita. Setiap pilihan hidup kita akan selalu memiliki sisi menyenangkan maupun sisi yang kurang menyenangkan. Inilah yang dinamakan kehidupan.

Banyak orang berkata bahwa pilihan untuk menjalani hidup selibat itu berat dan tidak menyenangkan, apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Selama manusia hidup di dunia akan selalu mengalami dua hal, yaitu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Saya mengalami bahwa hidup panggilan sebagai seorang selibat haruslah sungguh-sungguh didasarkan pada panggilan Tuhan sendiri. Inilah prinsip utama yang menurut saya harus dipegang oleh setiap orang yang tertarik dengan panggilan hidup selibat, untuk melayani dan bekerja di kebun anggurNya.

Saya akan menggambarkan maksud dari “panggilan Tuhan” tersebut. Panggilan Tuhan ini saya sering menganalogikannya dengan suara batin atau suara hati. Panggilan hidup sebagai seorang selibat haruslah merupakan suatu gerakan hati, dan itulah sebabnya mengapa panggilan itu disebut suatu misteri karena memang “tidak jelas” bahkan bagi diri si terpanggil sekalipun. Saya mengambil contoh dari kisah hidup saya sendiri. Saya merasa terpanggil ketika saya akan lulus SMA. Pada kisah panggilan hidup saya di atas, saya merasa terpanggil setelah saya mendengarkan sharing dari seorang suster. Saya merasakan adanya suatu gerakan hati untuk terus melangkah melanjutkan panggilan saya. Saya merasa bahwa Tuhan masih menginginkan saya untuk lanjut, dan ini jugalah yang menjadi pegangan saya sampai hari ini bahwa saya “MERASA” Tuhan masih memanggil saya. Maka walaupun saya harus mengalami banyak sekali kesulitan dalam menjalani hidup panggilan saya ini, saya masih dapat bertahan sampai hari ini karena saya “merasa” Tuhan masih memanggil saya. Pengalaman merasa ini adalah sangat individu bagi setiap pribadi dan mungkin akan dialami atau dirasakan secara berbeda-beda oleh setiap orang. Sebab Tuhan sering bekerja secara sangat personal dalam kehidupan kita. Walau kadang Tuhan juga bekerja di dalam dan melalui komunitas. Hanya kita masing-masing yang mampu mengenali rasa “merasa” itu dan perasaan itu tidak selalu mudah untuk dibagikan kepada orang lain yang tidak merasakannya atau mengalaminya dalam bentuk yang berbeda.

Saya mengatakan bahwa panggilan itu misteri bahkan bagi diri si terpanggil sekalipun, maksudnya bagi diri orang-orang yang sudah menjalani hidup membiara atau sebagai rohaniwan (bukan yang baru tertarik dengan hidup selibat). Ini karena saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya pun belum sepenuhnya yakin bahwa saya sungguh-sungguh terpanggil, juga semua orang yang hidup selibat pasti akan mengalami pergulatan ini setiap hari. “Panggilan itu sekuat jawabannya”. Kalimat ini sungguh menginspirasi saya, bahwa kesungguhan panggilan Tuhan ini dipengaruhi oleh jawaban kita. Kami memang belum yakin sepenuhnya apakah Tuhan sungguh-sungguh memanggil kami, maka dari itu kami harus membarui jawaban “YA” kami setiap hari.

Lalu adakah indikasi-indikasi yang mampu membuat para kaum selibater ini masih merasa yakin bahwa Tuhan masih memanggil mereka? Jawabannya: ya ada! Kita ambil contoh kasus hidup saya sendiri saja, walaupun saya harus mengalami banyak sekali kesulitan dalam belajar, bersosialisasi, berdamai dengan diri saya sendiri, relasi dengan Tuhan, dan sebagainya. Namun, saya masih dapat bertahan hingga sekarang walaupun saya mengalami bahwa hidup sebagai seorang selibat itu berat, saya masih merasakan bahwa Tuhan sungguh memberkati hidup saya di tempat yang saat ini saya pilih. Tuhan masih memberi saya KEBAHAGIAAN dan sekian banyak RAHMAT serta ANUGERAH kehidupan. Inilah dua kunci atau indikator yang dapat dijadikan patokan bagi seseorang bahwa memang jalan hidup yang dialaminya saat ini sungguh merupakan pilihan hidup yang tepat bagi dirinya. Saya merasakan kebahagiaan karena selama ini saya mengalami banyak sekali perubahan dalam hidup saya. Saya kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri. Menjadi pribadi yang percaya diri dan berani. Semua hal ini belum tentu akan saya dapatkan jika saya tidak berada di biara. Saya juga dapat mengenal dan bertemu dengan banyak orang, mencintai banyak orang dengan tidak eksklusif. Inilah anugerah-anugerah dan kebahagiaan yang saya rasakan selama saya menjalani hidup panggilan saya di biara ini.

Jadi, apapun pilihan hidup kita saat ini, satu hal yang harus selalu kita pegang sebagai prinsip hidup kita bahwa kita harus selalu bertanya setiap hari kepada diri kita sendiri: Apakah aku bahagia dengan hidupku saat ini? Tidak ada bentuk kehidupan di dunia ini yang sepenuhnya hanya berisi hal-hal yang menyenangkan, bahwa selama manusia hidup di dunia ini haruslah berjuang dan perjuangan ini menandakan bahwa kehidupan ini memang sungguh berat! Tuhan sendiri mengundang kita untuk selalu datang kepadaNya, seperti yang Ia ungkapkan dalam Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita nanti, apa yang Tuhan rencanakan bagi hidup kita kelak. Satu hal dapat kita lakukan sebagai manusia adalah selalu ikut kehendak Tuhan, caranya dengan berpasrah. Inilah yang menjadi pegangan hidup saya saat ini, bahwa menjadi apa saya kelak semua saya serahkan kepada rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Bagaimana cara supaya kita dapat sedikit “tahu” terhadap rencana Tuhan ini dalam hidup kita? Yaitu dengan berdoa, menjalin relasi yang mendalam dengan Tuhan. Sebagaimana diteladankan oleh banyak nabi-nabi di perjanjian lama, salah satunya nabi Elia.

Terus bergantung kepada Tuhan sepanjang sisa perjalanan yang menentukan

Kini, kami satu angkatan hanya tinggal 4 orang (sebelumnya 13 orang) dan kami semua harus berjuang dengan persoalan diri kami masing-masing. Khususnya saya yang memang sudah mendapat ultimatum bahwa saya harus segera melakukan perubahan dalam waktu 1 tahun ke depan ini, jika tidak ingin dikeluarkan. Bagi saya kenyataan ini memang sangat berat, namun dalam keyakinan saya yang terdalam saya masih mau berharap pada Tuhan. Dalam suatu retret akhir tahun, saya menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbaharui niat dan motivasi saya untuk ke depan. Saya ingin kembali memperbaiki relasi doa saya dengan Tuhan yang selama ini terhambat karena krisis yang berkepanjangan. Setelah retret tersebut saya mulai mendapat semangat baru dalam hidup doa saya. Saya sadar bahwa tidak banyak yang dapat saya buat untuk sembuh dari sakit ini, maka dari itu saya hanya dapat berbuat semampu saya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan lewat doa-doa saya. Saya mau percaya bahwa jika memang Tuhan menginginkan saya untuk menjadi imam-Nya, maka IA pasti akan membantu saya untuk dapat keluar dari setiap persoalan yang harus saya hadapi saat ini dan kelak. Saya hanya dapat berpasrah dan membuka diri dan hati saya untuk menerima urapan rahmat kasih-Nya. Saya meyakini satu hal dari Tuhan yang saya ikuti ini, bahwa IA adalah Allah dan Tuhan yang bertanggung jawab. Jika IA memberikan sesuatu hal bagi manusia, maka IA akan menyelesaikannya pula. Jika Tuhan telah memulai sesuatu pekerjaan yang baik di dalam kita, Dia akan meneruskannya sampai pada kesudahannya (Filipi 1:6

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”).

Jika Tuhan memberikan saya “sedikit” cobaan ini, maka saya percaya bahwa Tuhan akan membantu saya. Saya percaya dan bahkan saat ini saya mulai merasakan bahwa Tuhan mempunyai maksud di balik semua ini, saya merasakan bahwa sepertinya Tuhan sedang menyiapkan saya untuk sesuatu yang lebih besar di depan saya nanti. Tuhan punya rencana atas hidup setiap manusia di dunia ini, dan saya (serta kita semua) hanya diminta untuk pasrah dan mengikuti saja akan apa yang diminta oleh Tuhan. Apa pun yang terjadi saat ini dalam diri saya dan masing-masing dari kita, biarlah semua itu terjadi, karena Allah peduli! Bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita merupakan HADIAH BESAR pemberian Tuhan kepada kita anak-anak-Nya yang terkasih.

Oleh Fr Robertus Yudi, O Carm

Siapakah ‘orang- orang suci’ menurut Rasul Paulus?

23

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas

Rasul Paulus sering menulis surat kepada orang-orang suci, seperti yang tertulis di :

Roma 1 : 7
1Korintus 1 : 2
Efesus 1 : 1
Pilipi 1 : 1
Kolose 1 : 2

Siapakah yang dimaksud dengan ORANG-ORANG SUCI ini? Apakah pengasuh Katolisitas juga termasuk ORANG-ORANG SUCI ?

Terima kasih

Salam
Mac : 7.September.2010

Jawaban:

Shalom Machmud,

Mari kita lihat terlebih dahulu ayat- ayat tersebut:

Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu….(Rom 1:7)

…. kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita (1 Kor 1:2).

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus (Ef 1:1).

Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken (Flp 1:1).

…. kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu (Kol 1:2).

Berikut ini adalah penjelasannya yang saya sarikan dari keterangan pada the Navarre Bible:

“Dikuduskan di dalam Kristus Yesus”, adalah suatu rahmat yang diterima oleh umat beriman pada saat menerima Pembaptisan, yang menjadikan mereka bangsa pilihan Allah yang baru, bangsa yang kudus (Kel 19:6; 1 Pet 2:9). Maka istilah “dipanggil dan dijadikan kudus” yang digunakan oleh Rasul Paulus artinya adalah menjadikan umat Kristen kudus, sebagai bangsa pilihan Allah seperti dahulu Allah memanggil bangsa Israel (Bil 10:1-4). Pengudusan di dalam Yesus ini maksudnya adalah mempersatukan setiap umat yang dibaptis dengan Kristus, seperti persatuan antara cabang dengan Sang Pokok Anggur (lih. Yoh 15). Persatuan dengan Kristus inilah yang membuat kita menjadi kudus, karena kita mengambil bagian dalam kekudusan Tuhan sendiri; dan dengan demikian kita dituntut untuk hidup sesuai dengan panggilan kita itu. Kita perlu berjuang untuk mencapai kesempurnaan moral dan tingkah laku dalam kehidupan ini.

Paus Pius V menjelaskan, “Seperti mereka yang menjadi seniman profesional, walaupun mereka sesekali tidak mengikuti aturan- aturan seni, mereka tetap dikenal sebagai seniman, demikian pulalah umat beriman. Meskipun mereka adakalanya melanggar ketentuan ataupun kesepakatan yang telah mereka setujui, mereka tetap disebut kudus, sebab mereka telah dipilih dan dijadikan Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, dan karena mereka telah dikuduskan di dalam Kristus melalui Pembaptisan, meskipun tentu saja, beberapa di antara mereka ada yang ditegur olehnya (oleh Rasul Paulus) sebagai manusia duniawi ….. ((St. Pius V Catechism, I, 10, 15)). Oleh karena itu kekudusan merupakan suatu proses, yang sudah diberikan pada waktu Pembaptisan, namun harus terus diperjuangkan sampai pada akhir hayat kita.

Konsili Vatikan II mengajarkan demikian,

“Semua orang kristiani, bagaimanapun status atau jalan hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih…. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus” ((Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium 40)).

Oleh karena itu, semua orang yang telah dibaptis, yang telah dikuduskan Allah, terus dipanggil untuk hidup kudus. Artinya, kekudusan adalah karunia Tuhan, dan sekaligus kewajiban untuk ditingkatkan lebih lanjut. Kekudusan adalah sesuatu yang sudah diberikan, namun juga sesuatu yang masih perlu diperjuangkan sampai akhir. Ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, … supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” (Ef 4:1) Kita yang sudah dipanggil untuk hidup kudus sebagai anak- anak angkat Allah di dalam Kristus, harus hidup sesuai dengan panggilan itu.

Berdasarkan pengertian di atas, saya menjawab pertanyaan anda demikian:

1. Siapakah yang dimaksud dari “orang- orang kudus” dalam surat Rasul Paulus ini?

Orang- orang kudus yang dimaksudkan di sini adalah semua orang yang telah menerima Pembaptisan yang sah, karena melalui Baptisan, mereka telah dikuduskan Allah di dalam Kristus. Namun kekudusan ini merupakan suatu proses yang harus terus diperjuangkan sampai akhir hayat.

Maka kekudusan di sini adalah karunia Allah, namun juga panggilan dari Allah yang membutuhkan kerjasama dari kita yang sudah dibaptis. Sebagai kesatuan Tubuh Kristus, kita adalah orang- orang kudus, karena Kristus Sang Kepala adalah kudus, namun sebagai pribadi kita masih harus terus berjuang untuk hidup kudus sampai akhir hayat kita.

2. Apakah pengasuh Katolisitas juga termasuk “orang- orang kudus”?

Dengan pengertian di atas, maka pengasuh Katolisitas atau siapapun juga yang sudah dibaptis dengan sah (termasuk juga anda, jika anda sudah dibaptis dengan sah), termasuk bilangan orang- orang kudus ini, namun orang- orang yang telah dikuduskan ini harus terus berjuang untuk terus hidup kudus sampai akhir hidupnya, karena kekudusan adalah suatu proses, seperti telah dijabarkan di atas. Kita harus berjuang untuk hidup kudus dan mempertahankan rahmat kekudusan yang sudah kita terima itu sampai pada akhir hidup kita, sebab tanpa kekudusan, tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr. 12:14). Sekalipun dalam kehidupan ini, bahkan setelah dibaptis, kita masih dapat jatuh dalam dosa karena kelemahan kita, namun selayaknya kita segera bangun, bertobat dan kembali kepada jalan panggilan kita yang semula, yaitu untuk hidup kudus sebagai anak- anak Allah. Marilah kita saling mendoakan agar kita dapat setia mempertahankan rahmat kekudusan yang sudah kita terima, agar kelak kita dapat bersatu dengan Tuhan di surga.

Salam dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa dengan istilah “semoga”, salahkah?

14

Pertanyaan:

terima kasih penjelasannya.
Boleh nanya lagi ya … Saya sedang mempelajari firman dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa (maksudnya dari orang awam, kalau tanya ke Pastur, ga tahu ya koq kurang sreg sebab jawabannya terasa sangat teoritis istilah kurang membumi… maaf ya Pastur.)

Pertanyaan saya adalah :
1. kata “semoga…” adalah ciri khas doa kita orang khatolik ( Pastur selalu menggunakan kata ini) apapun yang dipanjatkan selalu ada kata semoga …
Sangat kontras dengan ayat firman Luk 11:23-24 Mat 21:22
Sepertinya kita itu tidak yakin BAPA kita di Surga mengabulkan doa kita.
Seperti kata sopan santun. Padahal banyak sekali firman Tuhan yang menunjukkan BAPA selalu bersedia memberkati kita.
2. Saya paling jarang berdoa kepada Bunda Maria kecuali bulan mei dan oktober (=bulan Maria) banyak orang berdoa sangat yakin melalui perantaraan Bunda Maria mengabulkan doa mereka.
Saya coba mengamati tingkat keberhasilan doa melalui ungkapan syukur dalam perayaan ekaristi boleh dibilang cukup banyak yang terkabul doanya. Jarang sekali ada ungkapan syukur kepada BAPA atas terkabulnya doa permohonan.
Mengapa demikian ?
3. Memang tidak ada rumusan tertentu sebuah doa dikabulkan sebab itu hak privelege BAPA. Namun banyak yang mengatakan bahwa doa yang tidak berpusat kepada pemenuhan diri sendiri biasanya sering dikabulkan. Kenyataannya hidup kita ini banyak sekali kebutuhan untuk pribadi maupun untuk keluarga. Kalau demikian menurut pengalaman iman Ibu, doa yang seperti bgmn yang paling menyentuh hati BAPA segera mengabulkan permohonan doa kita.
Contoh begini : ada seseorang berdoa mohon dapat pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak karena dia seorang lulusan sarjana akuntansi. Dari beberapa pengalaman kerja sebelumnya selalu diperintahkan oleh pimpinan perusahaan untuk membuat double pembukuan yaitu untuk intern dan untuk extern (=laporan ke pajak atau buat minta kredit bank). Pembukuan extern selalu berbeda dengan intern…sering dia harus mengundurkan diri atau menolak pekerjaan seperti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk memohon melalui doa dan juga melalui surat lamaran. Sudah 2 tahun lamanya tidak ada satupun yang bersedia menerimanya kalau tidak mau mengerjakan pembukuan eksteren. Sering menangis mohon pertolongan BAPA namun seperti kenyataan
dia harus menunggu … bersabar…. dan selalu berharap ….
Suatu kali temannya dari kristen mengajarkan cara berdoa kurang lebih seperti ini :
” Dalam nama Yesus, aku perkatakan aku sudah menerima pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak. Terima kasih Yesus….amin ” selama ini cara berdoanya seperti ini :
” BAPA, Engkau tahu apa yang aku butuhkan… aku mohon ya BAPA semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonanku. Kemuliaan ….amin”
Dalam waktu kurang lebih 1 bulan dia dipanggil sebuah perusahaan dan diterima bekerja sesuai permohonannya….
Saya tidak menitik-beratkan waktu 1 bulan dibandingkan 2 tahun… tapi pada cara penghayatan doa.
Kejadian ini sering saya lihat terjadi pada teman-teman dari kristen… cara berdoa mereka sangat kontras berbeda dengan cara doa kita…. kemudian mereka sangat aktif memperkatakan ayat-ayat dirman Tuhan didalam doa mereka sedangkan cara doa kita sangat tersusun rapi dalam standard baku yang telah dicetak dalam sebuah buku panduan.

Terima kasih. Saya sangat menunggu jawaban Ibu.
Notes : Sekedar usul, jawaban atas pertanyaan dalam katolisitas … mohon diusahakan tidak lama sekitar 1 minggu sejak pertanyaan diajukan.
Buka forum chatting tanya jawab… pengasuh chatting tidak harus anda berdua suami-istri
bisa menunjukkan staff lain yang kompeten jika anda sedang sibuk dengan kegiatan rohani lainnya (ingat…Musa pernah menangani semuanya sendiri namun akhirnya tidak sanggup)

Salam Sejahtera Selalu,
Surya Darma

Jawaban:

Shalom Surya Darma,

1. Berdoa dengan kata “semoga” artinya tidak yakin?

Kata “semoga” ini hendaknya jangan disalahartikan sebagai ungkapan kurangnya iman. Sebab kata “semoga” ini mengungkapkan pengharapan kita, yang dengan kerendahan hati di hadapan Allah, dan mengakui bahwa Allah- lah yang akhirnya memutuskan, perihal pengabulan doa kita. Atau juga “semoga” ini mengungkapkan harapan akan sesuatu yang baik dapat terjadi pada orang yang kita doakan. Kitab Suci mencatat bahwa ungkapan doa semacam inilah yang diajarkan oleh para rasul, seperti Rasul Paulus dan Rasul Yohanes. Berikut ini kutipan contohnya:

“Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.” (Rom 1:10)

Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus…. Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” (Rom 15:5, 13)

Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Rom 16:20)

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian… (Flp 1:9)

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes 5:23)

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” (3 Yoh 1:2)

Memang ada banyak cara berdoa, namun yang jelas, ungkapan “semoga” ini bukan ungkapan yang keliru. Janganlah sampai kita menuduh para Rasul ini, (Paulus dan Yohanes) sebagai orang yang ‘kurang iman/ kurang yakin akan pertolongan Allah Bapa’ karena mereka berdoa dengan menggunakan kata “semoga”. Jika kita berpikir demikian, sudah saatnya memohon ampun kepada Tuhan karena kita telah menjadi sombong rohani, dengan menganggap bahwa seolah doa kita menjadi lebih baik daripada doa para Rasul, atau kita ini lebih beriman daripada para rasul. Jangan lupa, doa dengan kata “semoga” itu dicatat di dalam Kitab Suci, yang sama- sama kita yakini sebagai “Sabda Allah”, maka kita yakini juga bahwa Allah menghendaki kita untuk berdoa dengan kata “semoga”. Bukan karena kita kurang percaya, tetapi karena kita mempunyai iman bahwa Allah Bapa yang mengasihi kita adalah yang paling berkuasa untuk menentukan segala sesuatunya di dalam hidup kita; dan Ia yang paling tahu kapan saatnya yang terbaik untuk pengabulan doa kita; atau bagaimana Ia dapat memberikan hal yang lebih baik daripada yang kita mohonkan.

Lalu apakah penggunaan kata ‘semoga’ ini bertentangan dengan ayat Mrk 11:23-24 dan Mat 21:22? Tentu jawabnya: tidak. Sebab yang disebutkan dalam ayat- ayat tersebut adalah sikap batin pada saat berdoa, yang memang harus yakin akan pertolongan Tuhan, namun juga tetap rendah hati mengakui bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan.

2. Jarang ada ungkapan syukur kepada Bapa atas pengabulan doa?

Puncak ucapan syukur bagi kita umat Katolik adalah perayaan Ekaristi Kudus. Sebab kata ‘Ekaristi’ sendiri artinya adalah ucapan syukur, tentu di sini konteksnya adalah ucapan syukur kepada Tuhan. Katekismus mengajarkan:

KGK 1360 Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah untuk segala kebaikan-Nya: untuk segala sesuatu, yang Ia laksanakan dalam penciptaan, penebusan, dan pengudusan. Jadi, Ekaristi pertama-tama merupakan ucapan syukur.

KGK 1407 Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan Gereja. Lewat Ekaristi Kristus mengikutsertakan Gereja-Nya dan semua anggota-Nya di dalam kurban pujian dan syukur yang Ia persembahkan di salib kepada Bapa-Nya satu kali untuk selama-lamanya. Melalui kurban ini Ia mengalirkan rahmat keselamatan kepada tubuh-Nya yaitu Gereja.

Jadi kenyataan bahwa Gereja Katolik mengadakan perayaan Ekaristi (Misa kudus) setiap hari, dan pada hari biasapun dapat dipersembahkan Misa lebih dari sekali. Artinya ucapan syukur kepada Allah Bapa itu diwartakan setiap hari oleh Gereja Katolik di seluruh penjuru dunia. Silakan, jika anda mau bersyukur kepada Allah Bapa secara khusus, untuk menghadiri perayaan Ekaristi Kudus, dan ajukanlah ujud ucapan syukur di dalam Misa tersebut.

Devosi kepada Bunda Maria merupakan sesuatu yang baik yang dianjurkan oleh Gereja, karena jika dilakukan dengan benar, devosi ini dapat membantu seseorang untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan Yesus, [karena Bunda Maria akan membawa orang itu untuk lebih dekat kepada Puteranya Yesus]. Jika anda belum mengalaminya, tidak ada salahnya anda coba.

3. Doa seperti apa yang paling menyentuh Allah Bapa?

Anda mengajukan contoh tentang pengabulan doa. Dan dari contoh itu anda membandingkan dua cara doa antara perkataan, “Dalam nama Yesus, aku perkatakan aku sudah menerima pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak. Terima kasih Yesus….amin.” dengan, “BAPA, Engkau tahu apa yang aku butuhkan… aku mohon ya BAPA semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonanku. Kemuliaan ….amin

Memang ada banyak cara berdoa. Cara yang pertama, kemungkinan dilakukan karena mengingat ayat ini, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:24). Namun jika diperhatikan, Tuhan Yesus tidak mengajarkan untuk secara eksplisit berdoa demikian. Yang diajarkan-Nya adalah sikap batin di dalam doa, yaitu untuk menaruh kepercayaan total kepada Allah bahwa Ia sanggup mengabulkan apa yang kita doakan. Cara doa permohonan yang eksplisit diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam doa Bapa Kami (Mat 6: 9-13) adalah, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti disurga” (ay.10). Pernyataan ini tentu bukan untuk diartikan sebagai “kurang iman”, tetapi justru “penuh iman” bahwa Allah yang adalah Bapa kita yang Maha Pengasih pasti mengetahui yang terbaik dan pasti menghendaki yang terbaik terjadi di dalam kehidupan kita.

Sekarang tentang cara berdoa yang kedua. Cara ini mengungkapkan kepercayaan kepada Tuhan bahwa Ia telah mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan, ini tentu baik. Tetapi sesungguhnya, adalah baik jika di dalam doa kita menyebutkan juga secara spesifik apa yang kita mohon. Berani mengakui pergumulan/ kesulitan kita di hadapan Tuhan adalah ungkapan yang menunjukkan ‘kemiskinan rohani’ kita di hadapan Tuhan. Kita mengakui kebesaran-Nya, dan sekaligus kita mengakui ketidakberdayaan kita. Ibaratnya, kita mengangkat tangan kepada-Nya minta tolong, dan pada saat itulah Tuhan turun tangan untuk menolong kita. Maka, jika memang pergumulan orang itu adalah pekerjaaannya, ia selayaknya menyatakan kepada Tuhan permohonannya ini, dan dengan rendah hati mohon agar Tuhan campur tangan untuk membantunya menemukan pekerjaan baru yang lebih sesuai. Ingatlah bahwa Sabda Tuhan mengajarkan kita, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Flp 4:6).

Jadi fakta bahwa Tuhan mengabulkan doa orang itu setelah berdoa dengan cara doa yang pertama, sebenarnya bukan karena cara berdoanya, tetapi karena Tuhan melihat sikap batin orang itu yang sudah siap untuk menerima pengabulan doanya. Janganlah dilihat proses doa itu hanya sebulan sesudah ia mengganti cara berdoanya. Sebab Tuhan yang menilik hati orang itu, melihat sikap batinnya dalam dua tahun plus satu bulan itu (atau bahkan termasuk waktu- waktu sebelumnya). Sebab Tuhan melihat apa yang tidak nampak di mata manusia, sedangkan kita manusia cenderung melihat yang sebaliknya. Maka doa yang paling menyentuh hati Allah Bapa, adalah doa yang keluar dari hati kita, entah itu doa spontan, ataupun doa yang dibacakan. Tuhan Yesus juga telah mengajarkan kepada kita doa Bapa Kami, maka alangkah baik jika dapat menghayati doa ini dengan sungguh- sungguh, agar setiap kali kita mendoakannya, doa ini dapat keluar sebagai ungkapan hati. Jika kita melakukan hal ini, tentu kita menyenangkan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang mengajarkannya.

Silakan anda membaca lebih lanjut di artikel seri Apakah berdoa percuma? di sini, silakan klik, untuk melihat prinsip ajaran Gereja katolik tentang doa dan pengabulan doa.

Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 1)
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 2)Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 – Selesai)
Doa Bapa Kami, doa yang sempurna

4. Usul agar jawaban pertanyaan tidak lebih dari satu minggu sejak pertanyaan diajukan dan buka forum chatting, tambahkan staff lain yang kompeten.

Untuk ini saya dan Stef mohon maaf, bahwa memang kami tidak dapat berjanji untuk menjawab semua pertanyaan dengan cepat, kurang dari satu minggu. Kami akan mengusahakannya, namun jika tidak memungkinkan karena keterbatasan kami, kami mohon pengertian anda. Membuka forum chatting, belum dapat kami lakukan, karena terbatasnya tenaga/ resources kami. Selanjutnya, tidak mudah untuk merekrut staff, karena komitmen kami di Katolisitas untuk memberikan informasi pengajaran yang benar- benar sesuai dengan ajaran Gereja Katolik dan bukan atas dasar pandangan pribadi; sehingga staff yang menjawab di sini hendaknya mempunyai ‘bekal’ formasi yang baik dalam hal pemahaman akan ajaran Gereja Katolik. Hal inilah yang menjadi kendala, apalagi karya kerasulan ini sifatnya bukan komersial, sehingga kami juga tidak dapat dengan mudah merekrut karyawan seperti pada perusahaan sekular.

Karya kerasulan Katolisitas adalah hanya setitik air saja dalam ‘samudra’ Gereja Katolik. Memang masih kecil dan terbatas dalam segala hal, namun baru inilah yang dapat kami bagikan kepada para pembaca pada saat ini. Semoga anda juga dapat memahami situasi kami dan mendukung kami dalam doa. Jika anda mempunyai usulan yang lebih konkret silakan disampaikan di rubrik Berpartisipasi dalam karya kerasulan Katolisitas.org.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab