Home Blog Page 234

Sekilas ajaran Gereja tentang Bunda Maria

62

I. Menuju Yesus melalui Bunda Maria

Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria) adalah istilah yang sering kita dengar. Namun sudahkah kita menghayati pepatah ini, dan menjadikannya sebagai semboyan hidup sendiri? Barangkali proses pemahaman tentang hal ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita, dan semoga hari demi hari Tuhan menambahkan kepada kita pemahaman yang semakin mendalam.

Pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria tidak terlepas dari apa yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang juga diteruskan dalam Tradisi Suci, yang dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Peran Bunda Maria telah digambarkan secara samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama. Jadi, dengan melihat tipologi, kita dapat melihat kaitan antara penggambarannya di Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru.

2. Peran Bunda Maria disampaikan secara eksplisit dalam Kitab Suci terutama dalam Injil.

3. Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium, yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di sepanjang jaman.

Ad Jesum per Mariam“, pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria. Mengapa? Karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria. Maka, secara prinsip, dapat dikatakan demikian:

1. Seluruh gelar dan kehormatan Maria yang diberikan Allah kepadanya adalah demi kehormatan Yesus Kristus Putera-Nya, dan penghormatan ini selalu berada di bawah penghormatan kepada Kristus.

2. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah.

3. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.

a. Untuk itu Maria dipersiapkan Allah, dengan dibebaskan dari dosa asal sejak terbentuknya di dalam kandungan (Immaculate Conception). Pemahaman akan kaitan makna penggambaran Perjanjian Lama dalam penggenapannya dengan Perjanjian Baru menjelaskan kekudusan Maria ini sebagai: i) Sang Hawa Baru yang bekerjasama dengan Kristus Sang Adam yang baru; dan ii) Sang Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, yang adalah Tanda Perjanjian Baru.

b. Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah. Kerjasama Maria ini terlihat dari ketaatan-Nya dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Oleh sebab itu, kerjasama Bunda Maria ini tidak hanya terbatas oleh kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus; namun juga kesetiaannya dalam membesarkan dan mendampingi Yesus dalam menjalankan misi keselamatan Allah. Maria juga menjadi mediatrix/ pengantara yang menghantar orang- orang kepada Kristus, [dan ini dilakukannya tidak saja selama hidupnya di dunia, tetapi juga saat ia telah kembali ke surga].

c. Kerjasama Bunda Maria dengan rahmat Allah yang diterimanya, menghasilkan: i) persatuannya dengan Kristus, baik saat ia hidup di dunia ini, maupun pada saat ia beralih dari dunia ini dan sesudahnya dalam kehidupan kekal; ii) Oleh jasa pengorbanan Kristus, Bunda Maria diangkat ke surga; iii) Maria menjadi bunda semua umat beriman, karena Kristus telah memberikannya kepada kita sebagai ibu kita juga; iv) Setelah ia diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menjadi pengantara kita kepada Kristus dengan doa- doa syafaatnya; v) Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi Ratu Surga.

4. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.

a. Ketaatan dan kekudusan Bunda Maria adalah teladan bagi kita umat beriman.
b. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
c. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
d. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.

II. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.

Cardinal Newman mengatakan “the Glories of Mary are for the sake of her Son” ((Cardinal Henry Newman, Sermon, 1849)). Ini berarti bahwa apapun gelar dan penghormatan kepada Maria selalu “secondary” (berada di bawah) setelah Puteranya, Yesus Kristus. Ini juga berarti bahwa semua penghormatan dan gelar yang diberikan kepada Maria, senantiasa berakar pada hubungannya yang begitu istimewa dengan Tritunggal Maha Kudus. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus. Sebagai puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. Sebagai bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sebagai mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela.

Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:

“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium, 53)

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62)

III. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah (Theotokos)

Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh gelar tentang Maria bersumber pada kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Allah, bunda Sang Penebus. Oleh karena itu, semua gelar Maria senantiasa bersumber pada misteri Inkarnasi Kristus. Jadi, seluruh gelar Maria adalah untuk semakin memperkuat pengajaran tentang Inkarnasi Kristus.

III.1. Dasar Kitab Suci: Theotokos:

1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Janji ini tentang ‘perempuan itu (the woman) dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya.

2. Lukas 1:42-43, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” Elisabeth juga menyebutkan Maria sebagai seseorang yang terberkati di antara wanita, oleh karena ia mengandung Yesus.

3. Yesaya 7:14; Matius 1:23, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.”

4. Lukas 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.

5. Matius 2:11. “Maka masuklah mereka … dan melihat Anak itu bersama dengan ibu-Nya.

6. Galatia 4:4: “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

III.2. Dasar Tradisi Suci: Theotokos

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan bahwa Maria adalah sungguh Bunda Allah:

1. St. Irenaeus (180): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari kabar gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, 5:19:1)).

2. St. Petrus dari Alexandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah. ((St. Petrus, Letter to All Non-Egyptian Bishops 12))

3. St. Cyril dari Jerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..” ((St. Cyril dari Jerusalem, Catechetical Lectures, X:19 – c. A.D. 350))

4. St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah. ((St. Athanasius, Penjelmaan Sabda Allah 8))

5. St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui Roh Kudus.” ((St. Epiphanus, The man well-anchored, 75))

6. St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan? ((St. Ambrose, On Virginity, 2:15))

7. St. Jeromus/ Jerome (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.” ((St. Jerome, Epistle to Eustochium 22:19, 38))

8. St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga secara manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia). ((Lihat St. Gregory Nazianzus, To Cledonius, 101))

9. St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.” ((John Cassian, The Incarnation of Christ, II:2)).

10. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?” ((Lihat St. Cyril dari Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I)).

11. St. Vincent dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan. ((St. Vincent dari Lerins, The Commonitoriy for the Antiquity and Universality of the Catholic Faith, 15))

12. St. Yohanes Damaskinus (749): “Biarkanlah Nestorius menjadi malu dan menutup mulutnya. Anak ini adalah Allah. Bagaimana mungkin ia yang melahirkan-Nya bukan Bunda Allah?” ((St. Yohanes Damaskinus, seperti dikutip dalam Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-181)).

III.3. Pengajaran Magisterium Gereja: Theotokos

Gereja Katolik mengajarkan:
“Maria adalah sungguh- sungguh Bunda Allah” (De fide) ((Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 196)).

Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” ……. dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. Konsili Efesus mengajarkan:

“Jika seseorang tidak mengakui bahwa Emmanuel adalah Tuhan sendiri dan oleh karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Tuhan (Theotokos); dalam arti di dalam dagingnya ia [Maria] mengandung Sabda Allah yang menjelma menjadi daging [seperti tertulis bahwa “Sabda sudah menjadi daging”], terkutuklah ia.” (D113)

Bahwa Maria adalah Bunda Allah adalah pengajaran Gereja sepanjang sejarah dan ini ditegaskan kembali dalam Konsili Vatikan II:

“Sebab perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan [Bunda] penebus yang sesungguhnya.” (Lumen Gentium 53)

IV. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam rencana keselamatan Allah.

Karena peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah ini maka ia dipersiapkan dan dikuduskan oleh Allah. Peran sebagai Bunda Allah dalam rencana keselamatan ini menjadikan Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerja sama dengan Kristus sang Adam yang baru, untuk menyelamatkan manusia. Hal- hal yang berkaitan dengan keistimewaan Bunda Maria sebagai Bunda Allah, dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok: a) persiapan Allah untuk menjadikan Maria sebagai Bunda-Nya b) kerja sama Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah c) buah/hasil yang diterima Maria dari perannya sebagai Bunda Allah.

IV.1 Persiapan Bunda Maria sebagai Bunda Allah

Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru, dan Tabut Perjanjian Baru. Keberadaan Bunda Maria telah dinubuatkan sejak awal mula, yaitu setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Jika melalui Hawa, manusia memperoleh maut, maka melalui Maria, manusia memperoleh hidup kekal di dalam Kristus Tuhan yang dilahirkannya. Untuk misi utamanya sebagai Hawa Baru dan Ibu Tuhan, maka Maria dikuduskan Allah. Dikuduskan di sini artinya dibebaskan dari noda dosa asal, dan karenanya Maria tidak berdosa dan tetap perawan sepanjang hidupnya.

IV.1.a Dasar Kitab Suci: Maria telah dipersiapkan Allah

1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” ‘Perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (Iblis) ini adalah Bunda Maria. Karena perannya sebagai sang perempuan yang mengalahkan Iblis ini, maka Maria oleh Allah dibebaskan dari noda dosa; sebab jika ia berdosa/ tercemar oleh Iblis, bagaimana mungkin ia mengalahkan Iblis, seperti disebut dalam Kej 3:15.

Yohanes 2:4; 19:26, juga menyebutkan Maria sebagai ‘perempuan’, dan dengan demikian mengacu pada ‘perempuan’ yang dijanjikan Allah yang akan melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala Iblis, seperti disebutkan pada Kej 3:15.

2. Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

Selanjutnya, berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan perbandingan antara tabut perjanjian lama dengan Maria

2 Sam 6:7; 1 Taw 13:9-10; Tabut Allah adalah sesuatu yang kudus. Pada PL, ketika Uza karena keteledorannya menyentuh tabut itu, Allah menghukumnya dan Uza wafat seketika.

2 Sam 6:16 dengan Luk 1:41: Seperti halnya Raja Daud, Yohanes Pembaptis melompat kegirangan di hadapan Tabut Allah (Bunda Maria).

2 Sam 6:9: “Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” dengan Luk 1:43: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

2 Sam 6:11, 1 Taw 13:14 dengan Luk 1:56: Bunda Maria tetap tinggal di rumah persinggahannya selama tiga bulan.

3. Lukas 1:28: Bunda Maria dikatakan sebagai ‘full of grace/ penuh rahmat’ [kecharitomene -bahasa Yunani] pada saat menerima Kabar Gembira dari Malaikat. Kecharitomene sendiri artinya adalah diubahkan seluruhnya oleh rahmat Tuhan, jadi artinya Maria telah disucikan seluruhnya oleh Tuhan sendiri. Dengan demikian Maria dikuduskan bukan baru pada saat menerima kabar gembira (sebab jika demikian ia tidak seluruhnya diubah/ dipenuhi oleh rahmat Allah) melainkan sejak awal mula konsepsinya di dalam rahim ibunya, Allah telah menguduskan dan membebaskannya dari segala noda dosa.

Hal ini diperoleh Maria oleh karena jasa pengorbanan Kristus, hanya saja ia memperoleh lebih dahulu, sebelum orang- orang yang lain, dan bahkan sebelum korban salib Kristus terjadi. Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu berhak memberikan rahmat-Nya menurut kebijaksanaan-Nya.

4. Lukas 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami (“I know not man“)?” (Douay Rheims Bible– terjemahan Vulgate)

5. Keluaran 13:2,12; 34:19 dan Lukas 2:7: Anak sulung artinya adalah anak pertama yang lahir dari rahim ibu. Sulung tidak berarti anak pertama dari banyak anak yang lain.

6. Yehezkiel 44:2 “Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab Tuhan Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.” Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa tak seorangpun boleh melalui gerbang yang olehnya Tuhan masuk ke dunia.

7. Markus 6:3: Yesus selalu dikenal sebagai “the son of Mary”/ anak Maria satu- satunya (“the“/ ‘sang’ anak Maria) bukan sekedar “a son of Mary” (anak Maria). Sayangnya perkataan ‘the‘ ini tidak diterjemahkan dalam Kitab Suci terjemahan LAI

8. Lukas 2:41-51: Pada saat Yesus diketemukan di Bait Allah, tidak disebut adanya saudara- saudara Yesus yang lain.

9. Yohanes 19:26-27: Tidak mungkin Yesus menitipkan Ibu-Nya kepada sahabat-Nya (murid yang dikasihi-Nya) jika Ia masih mempunyai saudara kandung.
Yoh 19:25, “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria istri Klopas dan Maria Magdalena.” Ayat ini menjelaskan bahwa karena Maria istri Kleopas adalah saudara Bunda Maria, maka anak Maria istri Kleopas, yang bernama Yakobus dan Yusuf (Mat 27:56 dan Mrk 15:47) adalah saudara sepupu Yesus. Mat 27:61, 28:1 menyebutkan bahwa Maria istri Kleopas sebagai ‘Maria yang lain’/ the other Mary.

IV.1.b. Dasar Tradisi Suci: Maria telah dipersiapkan Allah – Tanpa dosa dan perawan

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai seorang yang dipenuhi rahmat Tuhan, Tabut Perjanjian Baru, dan karena itu tidak berdosa. Para Bapa Gereja mengajarkan demikian:

1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24))

2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” ((St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me))

3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya” ((Origen, Homily 1)).

4. St. Gregorius (213-270): “Mari menyanyikan melodi yang diajarkan kepada kita oleh inspirasi harpa Raja Daud dan berkata, “Bangunlah, O Tuhan, kepada peristirahatanmu; Engkau, dan tabut tempat kudus-Mu.” Sebab sesungguhnya Sang Perawan Suci adalah sebuah tabut, yang dilapisi emas dari dalam dan luar, yang telah menerima keseluruhan harta dari tempat kudus.” ((St. Gregorius the Wonder Worker, Homily on the Annunciation to the Holy Virgin Mary))

5. St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu… ((St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8)) “Biarkan para wanita memuji-Nya, Maria yang murni.” ((St. Ephraim, Hymns on the Nativity, 15:23))

6. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.” ((St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216 ))

7. St. Epifanius (376): “Barangsiapa yang menghormati Tuhan, menghormati juga bejana kudus-Nya; mereka yang tidak menghormati bejana kudus itu, juga tidak menghormati Pemiliknya. Maria itulah adalah Perawan yang kudus, yaitu sang bejana kudus itu.” ((St. Epiphanius, Panarion, 78:21))

8. St. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa ((St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599))”.

9. St. Gregorius Nazianza (390): “Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti seseorang yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar.” ((St. Gregorius, Sermon 38))

10. St. Agustinus (415): “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.” ((St. Augustine, Nature and Grace 36:42))

11. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.” ((Theodotus, Homily 6:11)).

12. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda. ((Proclus, Homily 1))

13. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.” ((St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350)).

14. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.” ((Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali ))

Para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa selain Maria tidak berdosa, ia juga tetap perawan seumur hidupnya, baik sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Kristus. Demikian tulisan mereka:

1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria. ((Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, p. 2-155))

2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.” ((Tertullian, On Monogamy, 8 ))

3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin. ((St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a))

4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” ((St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120))

5. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf. ((St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers ((Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 358))

6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya. ((Lihat St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d))

“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).” ((St. Augustine, Letters no. 137., seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers, p. 360)) Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.” ((St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005))

7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” ((St. Petrus Kristologus, Sermon 117)). Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.” ((Paus St. Leo Agung, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2)). St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” ((St. Yohanes Damaskinus, Orthodox Faith, 4:14 ))

IV.1.c Pengajaran Magisterium Gereja: Maria disucikan dan tetap perawan seumur hidupnya

Atas perannya sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru, Bunda Maria dipersiapkan Allah, sebagai berikut:

1. Maria dikandung tanpa noda, dibebaskan dari dosa asal (De fide)  ((lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, ed. James Canon Bastible, D.D, (Rockford, Illinois: TAN books and publishers, Inc. 1974) p.203)).

Pembebasan dari dosa ini adalah persyaratan yang layak bagi seorang perempuan dan keturunannya, yang akan melawan Iblis (lih. Kej 3:15). Bagaimanakah sang perempuan itu dapat melawan Iblis, jika ia sendiri telah jatuh ke dalam perangkap Iblis itu?

Maka pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX dalam Bulla, “Ineffabilis Deus” mengajarkan doktrin untuk diimani oleh semua umat beriman:

“Dengan rahmat yang unik dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh jasa Yesus Kristus Sang Penebus umat manusia, Perawan Maria yang tersuci pada saat konsepsinya, dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (D 1641)

2. Sejak di kandungan, Maria dibebaskan dari concupiscence /kecenderungan berbuat dosa (Sententia communis).

Walaupun hal ini bukan merupakan pengajaran de fide, namun para teolog secara umum mengajarkan demikian berdasarkan ajaran St. Thomas Aquinas dalam ST III q. 27, a.3.

3. Akibat dari rahmat yang istimewa dari Tuhan, Maria dibebaskan dari setiap dosa sepanjang hidupnya (Sententia fidei proxima). Konsili Trente (1545-1563) mengajarkan:

“Tidak ada orang yang benar dapat untuk sepanjang hidupnya menghindari semua dosa, bahkan dosa- dosa ringan, kecuali atas dasar hak istimewa dari Tuhan, yang diyakini Gereja diberikan kepada Perawan Maria yang terberkati.” (D 833)

Paus Pius XII dalam surat ensikliknya, Mystici Corporis, tentang Perawan dan Bunda Tuhan, bahwa: “Ia tidak berdosa, baik dosa pribadi maupun dosa asal yang diturunkan.”

4. Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).

Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”. ((Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, Mary in Scripture and the Historic of Christian Faith, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.2-155, Salah satu butir pengajaran untuk menjawab ajaran yang keliru tentang Bunda Maria di dalam Konsili Konstantinopel II, butir 6,“If anyone declares that it can be only inexactly and not truly said that the holy and glorious ever-virgin Mary is the mother of God, or says that she is so only in some relative way, considering that she bore a mere man and that God the Word was not made into human flesh in her, holding rather that the nativity of a man from her was referred, as they say, to God the Word as he was with the man who came into being; if anyone misrepresents the holy synod of Chalcedon, alleging that it claimed that the virgin was the mother of God only according to that heretical understanding which the blasphemous Theodore put forward; or if anyone says that she is the mother of a man or the Christ-bearer, that is the mother of Christ, suggesting that Christ is not God; and does not formally confess that she is properly and truly the mother of God, because he who before all ages was born of the Father, God the Word, has been made into human flesh in these latter days and has been born to her, and it was in this religious understanding that the holy synod of Chalcedon formally stated its belief that she was the mother of God: let him be anathema.”))

Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.

Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di PL. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:

“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)

Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria. ((lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Ibid., p.204))

5. Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)

Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)

6. Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)

Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.

7. Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).

Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

8. Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:

“Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas … Dalam terang itu ia [Maria] sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama [Adam dan Hawa] yang jatuh berdosa. Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23).” (Lumen Gentium 55)

Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dahulu seorang wanita mendatangkan maut, maka kini seorang wanitalah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Hidup sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah danugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka mengherankan juga, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus…” (Lumen Gentium 56)

IV.2 Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah.

Dengan menyatakan kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah, Bunda Maria bekerjasama dengan Allah dalam rencana keselamatan-Nya. Namun sebelum mengandung Kristus, sesungguhnya ia telah terlebih dahulu mengandung Dia di dalam hatinya. Selanjutnya, Bunda Maria tidak hanya mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, namun ia juga membesarkan-Nya, menghantar orang lain kepada-Nya, dan dengan setia menyertai-Nya sampai di bawah kaki salib-Nya.

IV.2.a. Dasar Kitab Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

1. Lukas 1:38: Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Ayat ini menunjukkan kesediaan Maria untuk bekerjasama dengan rencana keselamatan Allah.

2. Lukas 2:51: Lalu Ia [Yesus] pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Ayat ini menunjukkan tentang keterlibatan Maria [dan Yusuf] dalam mengasuh dan membesarkan Tuhan Yesus.

3. Yohanes 2:3,5: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”…. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Ayat ini menunjukkan kepedulian Maria akan kebutuhan sesama dan membawa kebutuhan tersebut agar menjadi perhatian Yesus. Selanjutnya Maria menunjukkan agar manusia taat kepada Kristus Puteranya.

4. Markus 3:33-35; Matius 12:46-50; Lukas 8:19-21: Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” …. “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memuji Maria, pertama- tama sebagai orang yang melakukan kehendak Allah, maka ia dipilih Allah untuk menjadi ibu-Nya.

5. Yohanes 19:25: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ayat ini menunjukkan kesetiaan Maria menyertai Yesus sampai di kaki salib-Nya.

6. Kejadian 18:22-26, membicarakan tentang perantaraan/ kerja sama Abraham Keluaran 32:30-32, membicarakan tentang perantaraan Nabi Musa yang memohon atas nama bangsa Israel. Jika para nabi ini dapat dipakai Allah untuk menjadi pengantara, maka tidak terkecuali Bunda Maria, yang adalah Ibu Tuhan Yesus sendiri.

7. 1 Korintus 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Jika para rasul adalah kawan sekerja Allah, apalagi Maria ibu Yesus sendiri.

8. 1 Timotius 2:5;Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus; Kolose 1:24: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Ayat- ayat ini menunjukkan bahwa Pengantaraan Kristus yang satu- satunya itu melibatkan juga pengantaraan anggota- anggota tubuh-Nya yang lain (secara khusus adalah ibu-Nya sendiri), demi menghantar keseluruhan tubuh kepada keselamatan kekal.

IV.2.b Dasar Tradisi Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerjasama dengan Kristus sebagai Adam yang baru, untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maria bekerjasama dengan Kristus, dan mendukung Pengantaraan Kristus dengan doa- doa syafaatnya bagi umat beriman:

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. “Sebab Hawa yang perawan tak bernoda, percaya kepada perkataan sang ular, [sehingga] membawa ketidaktaatan dan maut. Sedangkan Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita ketika malaikat Gabriel memberikan kabar gembira bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi dia, dan karena itu Putera yang dilahirkannya adalah Putera Allah… ((Lihat St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho the Jew, 155 AD, p.100))

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((lih. St. Irenaeus, Against Heresies, 3:22:24))

“Sebab seperti Hawa telah terpedaya oleh perkataan malaikat [fallen angel] untuk melarikan diri dari Tuhan, maka Maria dengan perkataan malaikat menerima kabar gembira bahwa ia akan melahirkan Tuhan dengan menaati Sabda-Nya. [Perempuan] yang pertama terpedaya untuk tidak menaati Tuhan, tetapi [perempuan] yang kemudian terdorong untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia ditundukkan kepada kematian melalui [tindakan] seorang perawan, demikianlah umat manusia diselamatkan oleh seorang perawan.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, V:19,1))

3. Tertullian (212): “Sebab ketika Hawa masih perawan, perkataan yang sesat merasuki telinganya sehingga membangun kematian. Dengan cara serupa, ke dalam jiwa seorang perawan, haruslah diperkenalkan Sabda Allah yang membangkitkan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini, dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan menuju keselamatan… ((Tertullian, Flesh of Christ, 17)).

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…” ((Lihat Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-180)).

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.” ((St. Agustinus, Sermon, dikutip dalam John Rotelle, OSA.ed. Mary’s Yes, Meditations on Mary through the ages (Ann Arbor, Michigan: Redeemer Books, Servant Publications, 1988), p. 30)).

6. St. Germanus dari Konstantinopel (733): “Tak seorangpun mencapai keselamatan tanpa melalui engkau, …O yang terkudus. Tak seorangpun menerima karunia rahmat tanpa melalui engkau …O yang termurni. ((St. Germanus, Or. 9,5, Lesson of the Office of the Feast))

“Maria, yang tetap Perawan… mediatrix/ pengantara pertama- tama melalui kelahiran yang ilahi [inkarnasi Yesus] dan kini karena doa syafaat bantuan keibuannya– dimahkotai dengan berkat yang tidak pernah berakhir …. ((St. Germanus, Homily on the Liberation of Constantinople, 23 ))

7. St. Yohanes Damaskinus (749): “Hari ini kami tetap di dekatmu, O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang paling teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu, pikiran, jiwa, tubuh dan keseluruhan diri kami dan menghormatimu, sebanyak mungkin, dengan mazmur, lagu pujian dan lagu rohani.” ((St. John of Damascene, Homily 1 on the Dormition, 14))

8. St. Ambrose Autpert (778): “Mari mempercayakan diri kita dengan segala kasih jiwa kita kepada perantaraan Bunda Maria: mari kita, dengan seluruh kekuatan kita memohon perlindungannya, agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia di surga akan berkenan mendukung kita dengan doa- doanya yang khusuk…” ((St. Ambrose Autpert, Assumption of the Virgin))

IV.2.c Pengajaran Magisterium Gereja: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

1. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan kerjasamanya di dalam Inkarnasi/ Mediatio in universali (Sententia certa).

Gelar Maria sebagai Co-redemptrix seperti yang muncul di dalam dokumen Gereja di bawah pimpinan Paus Pius X tidak untuk diartikan bahwa tindakan Maria setara dengan tindakan Kristus untuk menebus dunia, sebab hanya Kristus satu- satunya Pengantara (1 Tim 2:5). Bunda Maria sendiri membutuhkan Penebusan Kristus, sebab oleh jasa Kristuslah ia dibebaskan dari noda dosa. Kerjasamanya dalam penebusan Kristus adalah secara tidak langsung, yaitu dengan mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Sang Penebus, dan di bawah salib Kristus, Maria turut menderita, dan berkorban bersama Kristus.

Konsili Vatikan II (1965) mengajarkan:

“Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia [Maria] memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati meyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (Lumen Gentium 56).

“Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (Lumen Gentium 61).

Selain mengajarkan bahwa Maria adalah Hawa Baru, para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Maria adalah pengantara segala rahmat:

St. Bernardus seperti dikutip oleh St. Pius X (1903-1914): “Kristus adalah Sang sumber…. Namun demikian, seperti diajarkan oleh St. Bernard, Maria adalah salurannya, atau ia adalah leher yang menghubungkan Tubuh dengan Kepalanya dan yang menyalurkan kuasa dan kekuatan dari Kepala kepada Tubuh. Sebab ia [Maria] adalah leher dari Kepala kita, yang melaluinya semua karunia- karunia rohani diteruskan dari KepalaNya.” ((St. Pius X, Ad diem illum Laetissimum)).

2. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga/ Mediatio in speciali (Sententia pia et probabilis).

Walaupun belum didefinisikan secara de fide, namun Maria sebagai pengantara segala rahmat telah diajarkan oleh banyak Paus:

Paus Leo XIII (1891), “Dari semua harta rahmat yang telah diberikan Allah, tak ada yang menurut kehendak Tuhan, datang kepada kita kecuali melalui Maria…” (Octobri mense)- D 1940

Paus Pius X (1903): Maria adalah “pembagi (dispenser) semua rahmat, yang telah diperoleh dari Kristus bagi kita oleh kematian dan darah-Nya (D 1978).

Paus Benedict XV (1919), “Semua karunia … diberikan melalui tangan Bunda Maria” (AAS 9, 1917, 266), Maria adalah, “mediatrix semua rahmat.” (AAS 11, 1919, 227)

Paus Pius XI (1937), mengutip St. Bernard, “Adalah kehendak Tuhan bahwa kita menerima segala sesuatu melalui Bunda Maria.” (Ingravescentibus malis, AAS 29, 1937, 373)

3. Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Keibuan Maria dalam tatanan rahmat ini dimulai dengan persetujuannya yang ia berikan di dalam iman pada saat anunsiasi (saat menerima kabar gembira dari malaikat) dan yang dipertahankannya tanpa goyah di kaki salib-Nya, dan berakhir sampai penggenapan kekal dari semua orang terpilih. Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan dosa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air surgawi yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara.” (Lumen Gentium 62)

IV.3. Buah yang diterima Bunda Maria setelah menunaikan tugasnya sebagai Bunda Allah

Peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah memberikan buah yang membahagiakan, walaupun tak lepas juga dari penderitaan yang harus ditempuhnya demi kesatuannya dengan Kristus Putera-Nya. Persekutuan yang sempurna antara Bunda Maria dengan Kristus inilah yang membuatnya menjadi kudus, yang paling berbahagia di antara segala yang diciptakan, dan hal ini sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, dan hidup tanpa dosa, kemudian diangkat ke surga oleh Kristus di akhir hidupnya, dan kini dimuliakan di Surga bersama Kristus. Namun bagi kita umat Katolik, hal penghargaan kepada Bunda Maria ini sesungguhnya bukan semata berpusat kepada Maria. Sebab, segala yang terjadi di dalam kehidupan Maria oleh karena rahmat kasih karunia Tuhan merupakan penggenapan janji Allah, yang bukan hanya diperuntukkan bagi Bunda Maria saja, tetapi juga bagi kita semua sebagai anggota Gereja-Nya, pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Dengan demikian secara garis besar, buah yang diterima oleh Bunda Maria dari perannya sebagai Bunda Allah adalah: a) persatuannya yang sempurna dengan Kristus, yang membuahkan kemiripannya dengan Kristus; b) Maria dimuliakan oleh Kristus, diangkat ke surga dan menjadi ratu Surga; c) Maria menjadi Bunda Gereja, ibu bagi para orang percaya.

IV.3.a. Dasar dari Kitab Suci: hal- hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya

1. Mazmur 132:8: “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”. Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus akan selalu bersama-Nya. Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Kristus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya.

2. Lukas 1:48-49: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Peran Maria sebagai Bunda Allah akan menjadikannya dihormati oleh semua orang sepanjang jaman.

3. Lukas 2: 35: Lalu Simeon berkata kepada Maria….” dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Namun Sebagai Bunda Allah, suka citanya tidak terlepas juga dari persatuannya dengan Kristus dalam perderitaan-Nya.

4. Yohanes 19:25-27: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Tuhan Yesus memberikan Ibu-Nya kepada kita murid- murid yang dikasihi-Nya agar menjadi ibu mereka juga.

5. Yakobus 1:12: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Mahkota kehidupan ini juga disebutkan oleh Rasul Petrus dan Yohanes (1 Pet 5:4; Why 2:10). Mahkota kehidupan inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada umat beriman yang setia sampai mati (Why 2:10). Maria yang telah membuktikan ketaatan imannya sampai akhir, telah menerima mahkota kehidupan itu.

6. Wahyu 12:1: Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
“Perempuan” yang disebutkan di sini mengacu kepada “perempuan” yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Seperti halnya Hawa adalah ibu dari segala yang ciptaan yang lama, Maria adalah ibu dari segala mahluk ciptaan yang baru.

Wahyu 12:17: Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

7. 1 Raja-raja 2: 17-20; Mazmur 45:9, Ratu pada jaman Kerajaan Salomo (anak Daud) bukanlah istri Raja, namun ibunya, yaitu Batsyeba. Ratu Batsyeba mempunyai kedudukan yang penting dalam Kerajaan Salomo, dan ia duduk di sebelah kanan Raja. Bunda Maria adalah Ibu Yesus, Sang Raja keturunan Daud yang dijanjikan Allah. Maka Bunda Maria juga menempati kedudukan istimewa di samping Kristus sang Raja (lih. Neh 2:6).

IV.4.b Dasar Tradisi Suci: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya

1. Persatuan Maria dengan Kristus

a. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan demikian ((Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater 18)):

“Maria menjaga kesatuannya dengan Putera-Nya bahkan sampai di kayu salib-Nya dengan iman yang sama saat ia menerima kabar gembira dari malaikat. Pada saat itu ia juga mendengar perkataan: “Ia akan menjadi besar …. dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja… sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33).

Dan kini, berdiri di kaki salib itu, Maria menjadi saksi, dari sisi pandangan manusia, penyangkalan total dari perkataan ini. Betapa besar, betapa heroik, ketaatan iman yang ditunjukkan Maria dalam menghadapi kebijaksanaan Tuhan yang tak terselidiki! Betapa totalnya ia “memasrahkan dirinya kepada Tuhan” tanpa ada yang ditahan, mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya” kepada Allah yang “jalan- jalan-Nya tak terselidiki” (Rom 11:33)!…

Dengan iman ini Maria bersatu secara sempurna dengan Kristus dalam pengosongan diri-Nya. Sebab Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia,” dan tepatnya di Golgota, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (lih. Flp 2:5-8). Pada kaki salib itu, Maria mengambil bagian melalui iman, misteri pengosongan diri yang mencengangkan ini. Ini mungkin merupakan “kenosis” iman yang terdalam di dalam sejarah manusia. Melalui iman, Bunda mengambil bagian di dalam kematian Putera-nya yang menyelamatkan; tetapi berbeda dengan iman para rasul yang melarikan diri, imannya jauh lebih terang. Di Golgota, Yesus melalui Salib-Nya jelas meneguhkan bahwa ia menjadi “tanda yang menimbulkan perbantahan” seperti yang dinubuatkan oleh Simeon. Pada saat yang sama, juga di Golgota tergenapi nubuat Simeon atas Maria, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri juga”. ((Tentang partisipasi Maria dalam kematian Yesus, lihat tulisan St. Bernardus, In Dominica infra octavam Assumptionis Sermo, 14: S. Bernardi Opera, V, 1968, 273))

b. Persatuan Yesus dan Bunda Maria terjadi tidak saja pada saat mereka hidup di dunia, namun juga dalam kematiannya, dan seterusnya dalam kehidupan kekal. Origen ((Origen, In Ioan 2,12; fragm. 31)), St. Ephrem ((St. Ephrem, Hymnus 15,2)), St. Jerome ((St. Jerome, Adv. Ruf II, 5)), St. Agustinus ((St. Agustinus, In Ioan tr 8, 9)) menyebutkan tentang kenyataan tentang kematian Bunda Maria secara sekilas. Namun St. Epiphanus yang menyelidiki tentang kehidupan Bunda Maria mengatakan demikian, “Tidak ada yang tahu bagaimana ia berangkat pergi dari dunia ini.” Namun pada umumnya para Bapa Gereja dan Teolog menerima bahwa Maria, sepertihalnya Tuhan Yesus, juga mengalami kematian; dan hal ini juga ditegaskan dalam liturgi Gereja.

2. Maria diangkat ke surga

a. Pseudo- St. Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”. ((The Passing of the Virgin 16:2-17))

b. Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya. ((St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna, 400))

c. Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga ((John the Theologian, The Dormition of Mary))

d. St. Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan … ((Gregory of Tours, Eight Books of Miracles 1:4))

e. Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan. ((Theoteknos, Homily on the Assumption))

f. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya. ((Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae))

g. Uskup Theoteknos dari Livias (650)
Adalah layak …. bahwa tubuh Maria yang tersuci, tubuh yang mengandung Tuhan, tempat kediaman Tuhan, yang dijadikan ilahi, tidak rusak, [namun] diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh…. dititipkan sejenak di dunia dan kemudian diangkat ke surga dengan mulia, dengan jiwanya menyenangkan Tuhan. ((Theoteknos of Livias, Homily on the Assumption ))

h. St. Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna. ((St. Germanus, Sermon I (PG 98, 346))

i. St. Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan. ((Yohanes Damascene, Dormition of Mary, PG (96, 741) )).

j. Gregorian Sacramentary (795)
“Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.” ((Gregorian Sacramentary, Veneranda, sebelum 795))

k. Gallican Sacramentary (abad ke-8)
“Sebuah misteri yang tak terlukiskan yang paling layak untuk dipuji seperti diangkatnya Perawan Maria ke surga, adalah sesuatu yang unik di antara umat manusia.” ((Gallican Sacramentary, dari Munificentis simus Deus, abad ke-8))

l. Liturgi Byzantin (abad ke-8)
“Tuhan, Raja semesta alam, telah memberikan rahmat yang melampaui kodrat. Seperti Ia telah memelihara keperawananmu pada saat kelahiran-Nya, Ia menjaga tubuhmu agar tidak rusak di kubur dan telah memuliakannya dengan perbuatan-Nya yang ilahi dengan memindahkannya dari kubur.” ((Byzantine Liturgy, dari Munificentis simus Deus, abad ke- 8))

3. Maria menjadi ibu Gereja

a. Origen (244)
Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.” ((Origen, Commentary on John I,4, 23, PG 14, 32))

b. St. Ephrem dari Syria (306- 373)
“Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
Umat manusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…” ((St. Ephrem, Hymn 3 on the Birth of the Lord, v.5., ed. Lamy, II, pp 464 f))

c. St. Agustinus (416)
“Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu] para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.” ((St. Augustine, De sancta virginitate, 6 (PL 40, 399) ))

d. Paus Pius X (1903- 1914)
“Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkadung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua. ((Paus Pius X, Ad diem illum Laetissimum))

4. Maria menjadi Mediatrix (perantara) dengan doa syafaatnya di Surga

1. St. Irenaeus (180):
“Sebab Hawa terpedaya oleh perkataan malaikat [Iblis = fallen angel] untuk lari dari Tuhan, memberontak melawan Sabda-Nya, namun Maria menerima dengan gembira perkataan malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan, dengan menaati Sabda-Nya. Yang pertama terpedaya untuk tidak taat kepada Tuhan, sedangkan yang kedua terpengaruh untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia tunduk kepada kematian melalui tindakan seorang perawan maka ia diselamatkan oleh seorang perawan. ((St. Irenaeus, Against Heresies, V: 19,1))

2. Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, (abad ke 3):
“Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O bunda Allah. Jangan menolak permohonan kami di dalam kekurangan, tetapi bebaskan kami dari bahaya, (o engkau) satu- satunya yang murni dan terberkati.” ((Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir))

3. St. Gregory Nazianza (379)
“Ingatlah akan hal- hal ini dan kesempatan- kesempatan yang lain dan mohonlah kepada Perawan Maria untuk memberikan bantuan, sebab ia juga, adalah seorang perawan dan pernah berada di dalam bahaya ….” ((St. Gregory Nazianzen, Oration 24:11))

4. St. Cyril dari Alexandria (380)
“Salam kepadamu Maria, Bunda Allah, kepadamu dibangun gereja- gereja jemaat sejati, di desa- desa dan pulau- pulau.” ((St. Cyril dari Alexandria, Homily 11))

5. St. Basil dari Seleucia (459)
O Perawan yang kudus …. Lihatlah kepada kami dan berbaik hatilah kepada kami. Pimpinlah kami di dalam kedamaian … ke sisi kanan Putera-Mu… ((Basil of Selucia, PG 85: 452))

6. Theoteknos dari Livias (560)
“Diangkat ke surga, ia tetap menjadi tempat pertahanan yang tak tergoyahkan bagi umat manusia, [sebagai] pendoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Putera.” ((Theoteknos of Livias, Assumption 291))

7. St. Germanus dari Konstantinopel (733)
“Maria tetap Perawan — pertama- tama sebagai mediatrix (pengantara) melalui peristiwa melahirkan [Kristus] yang supernatural, dan sekarang sebagai mediatrix karena bantuan keibuannya melalui doa syafaat— ((Germanus of Konstantinopel, Homily on the Liberation of Constantinople, 23))

8. St. Yohanes Damaskinus (749)
“Kini kami tetap di dekatmu, … O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu akal budi, jiwa, tubuh dan segalanya, untuk menghormatimu… ((John Damascene, Homily 1 on the Dormition, 14)).

9. Ambrosius Autpert (778)
Marilah kita mempercayakan diri kita dengan kasih jiwa kita kepada doa syafaat Perawan yang terberkati: dengan segenap kekuatan kita, memohon perlindungannya agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia sendiri di surga dapat berkenan mendukung kita dengan doa- doanya…. ((Ambrose Autpert, Assumption of the Virgin))

IV.4.c Pengajaran Magisterium Gereja: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya ((sumber: Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 207-209, 215))

1. Maria meninggal dunia sementara/ a temporal death (Sententia. communior).

Walaupun pengajaran ini tidak bersifat de fide, namun banyak teolog memperkirakan bahwa ia wafat sementara sebelum diangkat ke surga. (St. Augustine, in Ioan tr.8, 9) Bagi Maria yang tidak berdosa, kematian yang dialaminya bukan karena akibat dosa asal ataupun dosa pribadi. Namun adalah layak bagi tubuh Maria, yang secara kodrati bersifat mortal/ tidak abadi, harus sesuai dengan yang terjadi pada tubuh Putera-Nya, yang juga tunduk kepada kematian. Dengan demikian Bunda Maria mengalami apa yang juga dialami oleh Kristus.

2. Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga (De fide)

Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostoliknya yaitu Munificentissimus Deus (dipromulgasikan 1 November 1950) mengajarkan:

“Maria, Bunda yang tak bernoda dan tetap Perawan Bunda Allah, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.”

Di sini memang tidak disebutkan apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga atau ia diangkat tanpa mengalami kematian.

3. Maria, Bunda Allah, dihormati secara khusus, dengan istilah Hyperdulia (Sententia certa).

Penghormatan kepada Maria disebabkan karena perannya sebagai Bunda Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Cyril dari Alexandria pada Konsili Efesus (431). Namun tentu saja penghormatan ini harus dibedakan dengan penyembahan. St. Epiphanus (403) mengajarkan, “Maria harus dihormati, tetapi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus harus disembah. Tak seorangpun boleh menyembah Maria.” ((St. Epiphanus, Haer 79,7)).

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah Puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan penghormatan yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam perlindungannya umat beriman memperoleh perlindungan dari bahaya serta kebutuhan mereka.” (Lumen Gentium 66)

4. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga (Mediatio in speciali). Ini diperolehnya karena persatuannya yang sempurna dengan Kristus.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan doa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal…” (Lumen Gentium 62).

“Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus.” (Lumen Gentium 63)

5. Maria dihormati di surga sebagai Ratu alam semesta

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)

6. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda umat beriman.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Ia [Maria] dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia [Maria] memang Bunda para anggota (Kristus). Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta.” (Lumen Gentium 53)

“Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia [Maria] menjadi Bunda kita.” (Lumen Gentium 61)

V. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman

V.1 Ketaatan dan kekudusan Maria: teladan kita

Ketaatan Maria menjadi contoh bagi kita, demikian juga dengan kekudusannya.

1. Ketaatan iman Maria ini bahkan dapat dibandingkan dengan ketaatan Bapa Abraham, sebagai bapa umat beriman. Ketaatan iman Abraham menandai Perjanjian Lama, sedangkan ketaatan Maria menandai Perjanjian Baru. Ketaatan iman Maria sampai di kaki salib Kristus mendorong kita juga untuk taat sampai akhirnya, bahkan ketika ‘tidak ada dasar untuk berharap’ (lih. Rom 4:18).

Ketaaatan Bunda Maria ini mencakup ketaatan dalam mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya (lih. Luk 8:21). Kita patut mencontoh Bunda Maria yang taat dan setia sepanjang hidupnya, ketaatan yang membawanya berdiri mendampingi Yesus sampai di kaki salib-Nya.

2. Kekudusan Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru juga menjadi teladan bagi kita. Sebab dengan tingkatan yang berbeda, sebenarnya kitapun menjadi tabut/ bait Allah (1 Kor 3:16; 6:19), terutama pada saat kita menyambut Kristus dalam Ekaristi kudus. Seharusnya, seperti Maria yang bergegas melayani Elizabeth, maka kita, setelah ‘mengandung’ Kristus di dalam tubuh kita, selayaknya bergegas melayani sesama yang membutuhkan.

Tentang Maria sebagai teladan ketaatan dan kekudusan bagi umat beriman, Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Namun sementara dalam diri Santa perawan Gereja telah mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (lih. Ef 5:27), kaum beriman kristiani sedang berusaha mengalahkan dosa dan mengembangkan kesuciannya. Maka mereka mengangkat pandangannya ke arah Maria, yang bercahaya sebagai pola keutamaan, menyinari segenap jemaat para terpilih.” (Lumen Gentium 65)

V.2. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman

Ajaran tentang Tubuh Mistik Kristus yang disampaikan oleh Rasul Paulus (lih. Kol 1:18, Ef 4:15) menyatakan bahwa Kristus adalah Sang Kepala dan Gereja adalah Tubuh Kristus. Oleh karena itu, Maria, dengan mengandung Kristus, juga mengandung semua umat beriman yang adalah anggota dari Tubuh yang sama. Dengan demikian, Maria disebut sebagai Bunda rohani kita.

Bunda rohani di sini tidak saja dalam arti ibu yang melahirkan kita secara rohani, tetapi juga ibu yang memelihara dan membimbing kita. Saat ini Bunda Maria masih menyertai kita dengan doa- doa syafaatnya untuk membimbing kita sampai ke surga.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Hendaklah segenap Umat kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di sorga – dalam kemuliaannya melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus – menjadi pengantara kepada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah yang ditandai dengan nama kristiani, entah yang belum mengenal Sang Penyelamat, dapat dihimpun bersama dengan kebahagiaan dalam damai dan kerukunan menjadi satu Umat Allah, demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa yang tak terbagi.” (Lumen Gentium 69).

V.3 Karena Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah Ibu dan Perawan

Roh Kudus yang menaungi Bunda Maria, juga turun pada saat Pembaptisan. Rahmat ini memberikan kekuatan kepada mereka yang dipanggil kepada hidup selibat bagi Allah. Kehidupan semacam ini merupakan gambaran utama persatuan yang murni antara kodrat ilahi dan manusia di dalam rahim Sang Perawan dan misteri Gereja yang agung. Inilah yang dimaksud oleh St. Ambrosius ketika ia mengatakan: “Tuhan menampakkan diri-Nya di dalam daging dan di dalam diri-Nya menggenapi perkawinan antara Tuhan dan kemanusiaan dan sejak itu keperawanan kekal dari kehidupan surga telah menemukan tempatnya di antara manusia. Bunda Kristus adalah seorang Perawan, dan karena itu, mempelai-Nya, yaitu Gereja, juga adalah Perawan.” ((Hugo Rahner, Our Lady and the Church, Michigan: Zaccheus Press, 2004, p. 33))

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (Lumen Gentium 63)

“Adapun Gereja sendiri – dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan, Gereja melahirkan hidup baru yang kekal-abadi bagi putera-puteri yang dilahirkannya dalam Pembaptisan, yang dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun adalah perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai [yaitu Kristus]. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.” (Lumen Gentium 64)

Keperawanan Gereja secara khusus digambarkan/ dinyatakan oleh keperawanan mereka yang memilih jalur hidup selibat untuk Kerajaan Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Gregorius Nissa,

“…bahwa kemurnian adalah indikasi yang penuh tentang kehadiran Tuhan dan kedatangan-Nya, dan tak seorangpun pada kenyataannya yang dapat menjamin hal ini, tanpa ia mengasingkan diri dari nafsu kedagingan. Apa yang terjadi pada Maria yang tidak bernoda ketika kepenuhan Allah Bapa yang ada di dalam Kristus bersinar melalui dia, hal itu terjadi pada setiap jiwa yang memilih jalan hidup selibat/ keperawanan.” ((Gregory of Nyssa, On Virginity, 2))

Dengan demikian, para religius mempunyai peran yang sangat penting untuk menjadi gambaran teladan keibuan dan keperawanan Gereja. Dengan kaul keperawanan, para religius secara khusus mengikuti teladan Bunda Maria, yang mempersembahkan seluruh hidup dan kasihnya kepada Allah; dan dengan demikian menjadi gambaran kasih ilahi itu sendiri yang melibatkan pemberian diri seutuhnya, baik kepada Allah dan sesama.

V.4. Pengangkatan Maria: gambaran akhir kita kelak

Pengangkatan Bunda Maria dan dimahkotainya di Surga, memberi gambaran akan penerapan rahmat kemenangan yang diperoleh Kristus kepada Bunda Maria, yang merupakan murid-Nya yang terbesar. Pengangkatan dan pemberian mahkota ini juga memberikan gambaran akan apa yang akan dan dapat kita peroleh (tentu dengan derajat yang lebih rendah dengan yang dicapai oleh Bunda Maria) di akhir nanti, jika kitapun setia menjadi murid Kristus. Pengangkatan Bunda Maria memberi gambaran akan kebangkitan badan di akhir jaman (lih. Yoh 6:39; lih. Munificentissimus Deus 42). Peristiwa Maria dimahkotai di surga memberikan gambaran akan pemberian mahkota surgawi/ mahkota kehidupan kepada anak- anak Allah yang berhasil memenangkan perlombaan iman, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus (lih 1 Kor 9:24-25; 2 Tim 4:8), dan oleh Rasul Yakobus (Yak 1:12) dan Rasul Yohanes (Why 2:10).

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Sementara itu, seperti halnya Bunda Yesus yang telah di muliakan di sorga dengan badan dan jiwanya, adalah gambaran dan permulaan Gereja yang harus mencapai kesempurnaannya di masa yang akan datang, begitu pula di dunia ini ia [Maria] menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan (lih. 2Ptr 3:10).” (Lumen Gentium 68)

VI. Appendix:

A. Ayat- ayat Kitab Suci yang paling sering dikutip untuk mempertanyakan kekudusan dan keperawanan Maria

1. Matius 13:55, Markus 6:3 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Di dalam Alkitab, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.

Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Alkitab menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Alkitab sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mt 27:56; Mk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mk 16:1; Lk 24:10)

Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria, istri dari Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas ((Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18) )), yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yoses. Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.

2. Matius 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …

Banyak saudara-saudari kita dari gereja lain mengartikan ayat ini bahwa Maria tidak lagi perawan setelah melahirkan Yesus. Kata kuncinya di sini adalah kata ’sampai’. Di dalam Alkitab, kata ‘sampai‘ ini tidak selalu berarti diikuti oleh perubahan kondisi setelah itu. Kata sampai (‘heos’- Yunani) hanya mau menunjukkan bahwa ada kondisi yang terjadi sampai satu titik tertentu. Contoh, pada 1 Kor 15:25, dikatakan, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Hal ini tidak bermaksud bahwa setelah Yesus mengalahkan musuh-Nya Ia tidak lagi menjadi Raja.

Lihat juga konteks serupa pada ayat 1 Tim 4:13; agar jemaat bertekun membaca Kitab Suci, dalam pengajaran sampai kedatangan Rasul Paulus. Tetapi tidak berarti bahwa setelah Rasul Paulus datang, lalu umat tidak lagi perlu tekun membaca Kitab Suci dan dalam pengajaran.  Juga pada Mat 28:19-20 dikatakan pada pesan terakhir Yesus sebelum naik ke surga kepada para rasul-Nya, “….. Ketahuilah bahwa Aku akan menyertaimu senantiasa sampai kepada akhir jaman”. Ini juga tidak untuk diartikan bahwa setelah kedatangan-Nya kembali pada akhir jaman, lalu kemudian Ia tidak akan menyertai para rasul-Nya. Ada banyak lagi ayat di Kitab Suci yang mempergunakan kata “sampai” namun tidak berarti bahwa setelah terpenuhi, lalu kondisi yang mensyaratkannya tidak lagi berlaku.

St. Yohanes Krisostomus (370) mengajarkan, “…ia [Yusuf] tidak bersetubuh dengan dia [Maria] sampai ia melahirkan seorang anak laki- laki (Mat 1:23). Kata ‘sampai’ digunakan di sini, [namun] jangan kamu kira bahwa sesudahnya Yusuf bersetubuh dengan Maria, tetapi bahwa sebelum kelahiran, sang Perawan seutuhnya tidak pernah disentuh oleh laki- laki.” ((John Chrysostom, Homily on Matthew 5:5))

3. Lukas 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin…

Kata kunci di sini adalah, ’sulung’. Sulung di sini tidak berarti bahwa Yesus kemudian mempunyai adik-adik. ‘Sulung’ di dalam Alkitab menerangkan hak istimewa dari seseorang. Contoh, pada Kitab Mazmur, Allah menyebut Daud ‘anak sulung’ (Mzm 89:28), meskipun Daud adalah anak ke-8 dari Isai (1 Sam 16).

Allah menyebut bangsa Israel disebut sebagai anak yang sulung (Kel 4:22). Kristus disebut ’sulung’ adalah untuk menunjukkan bahwa Ia adalah ‘Israel’ yang baru, yang menjadi yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29), yang sulung dari segala ciptaan (Kol 1:15).

4. Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…”

Ayat ini sering dikutip oleh umat Protestan untuk menyatakan bahwa semua orang berdosa, termasuk Bunda Maria. Namun sebenarnya kita perlu melihat konteksnya. Sebelum Rom 3:23, di ayat 9 dan 10 Rasul Paulus mengatakan, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Sebenarnya di sini Rasul Paulus mengutip Mazmur 14, khususnya ayat 3, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Mazmur 14 ini ditulis Raja Daud yang menyampaikan ratapannya tentang besarnya pemberontakan bangsa Israel. Sebab musuh Raja Daud pada saat Mazmur itu ditulis, tidak lagi hanya bangsa-bangsa non Yahudi, tetapi bangsa Yahudi itu sendiri, bahkan orang terdekat dan anggota keluarganya sendiri, Saul dan Absolom. Maka Raja Daud menggunakan kata “semua” adalah dalam konteks menyatakan semua golongan, baik Yahudi maupun non Yahudi- dan bukan bermaksud untuk menyatakan semua orang. Jadi di sini digunakan gaya bahasa hiperbolisme. Kita ketahui demikian, karena segera sesudah menyebutkan “semua orang melakukan kejahatan”, Raja Daud menyebutkan “umat-Ku” (ay. 4) dan “angkatan yang benar” (ay.5). Kalau semua orang (dalam arti setiap orang tanpa kecuali) adalah jahat seperti yang disebutkan pada ayat 3 tersebut, siapa yang disebut Raja Daud sebagai “angkatan yang benar” tersebut? Sama konteksnya dengan perkataan Raja Daud, Rasul Paulus juga mengatakan “semua” dalam ayat Rom 3:23 dalam arti semua golongan telah berdosa terhadap Tuhan, tidak hanya orang-orang non- Yahudi, namun orang Yahudi juga. Jadi yang ingin disampaikan di sini adalah, tidak adanya beda antara orang yang bersunat dan tidak bersunat, kedua kelompok itu mempunyai dosa- dosa yang dilakukan oleh pribadi- pribadi di dalamnya, dan keduanya memerlukan kasih karunia Allah untuk dibenarkan di dalam iman akan Yesus Kristus.

Jadi perikop ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” dalam arti mutlak. Sebab Yesus adalah perkecualiannya, dan anak- anak yang di bawah umur (under the age of reason) juga demikian. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria juga termasuk kekecualian dalam hal ini. Dengan demikian, gaya bahasa yang digunakan di sini adalah hiperbolisme, dengan pesan utama yang hendak disampaikan, bahwa secara umum manusia dari segala golongan, telah berbuat dosa.

5. Matius 15:1-9 dan Yohanes 19:27: Dalam Injil Matius bab 15, Yesus mengecam orang-orang Farisi yang mempersembahkan korban tetapi kemudian menelantarkan orang tua mereka. Hukum pada Perjanjian Lama seharusnya mewajibkan seorang anak untuk menanggung orang tuanya, sehingga praktek orang Farisi yang melanggar hal ini membuat Yesus menyebut mereka sebagai ‘munafik’ (Mat 15:1-7).

Dalam Yoh 19:26-27, pada saat Yesus disalibkan, Yesus memberikan Maria ibu-Nya kepada Yohanes (anak Zebedeus) rasul yang dikasihi-Nya, yang bukan saudara-Nya. Seandainya Yesus mempunyai adik-adik, seperti yang dianggap oleh gereja Protestan, perbuatan Yesus ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus yang mengecam orang Farisi yang menelantarkan orang tuanya, tidak mungkin menyebabkan saudara-Nya sendiri menelantarkan ibu-Nya. Kenyataan bahwa Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes adalah karena Ia tidak mempunyai saudara kandung, karena Bapa Yusuf-pun telah meninggal dunia, dan Yesus tidak mau meninggalkan ibu-Nya sebatang kara.

6. Lukas 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”

Ayat ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari, “How shall this be, since I have no husband” (RSV) atau, “I am a virgin” (Jerusalem Bible), atau “I know not man” (Duoay -Rheims terjemahan dari Vulgate). Sesungguhnya terjemahan yang benar adalah aku tidak bersuami (jika mengikuti RSV), atau aku seorang perawan (Jerusalem Bible) atau aku tidak mengenal/ berhubungan dengan laki-laki (D-R). Kalimat ini hanya masuk akal jika Maria telah memiliki kaul keperawanan -meskipun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf- karena, jika tidak demikian, pernyataan ini akan terdengar ‘ganjil’. Sebagai contoh, jika seseorang ditawari rokok, dan ia menjawab ’saya tidak merokok’, maka maksudnya adalah ’saya tidak pernah merokok’, dan bukan ’saya tidak sedang merokok sekarang’. ((Lihat Rene Laurentine, A Short Treatise on the Virgin Mary, (Washington, New Jersey: AMI Press, 1991),p 285))

B. Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan tentang Bunda Maria:

Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya para pendiri gereja Protestan sesungguhnya juga menghormati Bunda Maria. Berikut ini beberapa cuplikan ajaran mereka, seperti yang saya kutip dari buku karangan Robert Payesko ((Robert Payesko, The Truth about Mary, volume 1, (Santa Barbara: Queenship publication, 1996), p. I-51-58))

Martin Luther:

Maria Bunda Allah:

“Rasul Paulus (Gal 4:4) mengatakan, “Tuhan mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.” Perkataan ini yang kupegang sebagai kebenaran, sungguh- sungguh menegaskan dengan teguh bahwa Maria adalah Bunda Allah.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 50, p. 592, line 5))

“Konsili tersebut [Efesus] tidak menyampaikan sesuatu yang baru tentang iman, tetapi telah memperkuat iman lama, melawan kesombongan baru Nestorius. Artikel iman ini- bahwa Maria adalah Bunda Allah- sudah ada di dalam Gereja sejak awal dan bukan merupakan kreasi baru dari Konsili, tetapi presentasi dari Injil dan Kitab Suci.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 7, 572.))

“Ia [Maria] layak disebut tidak saja sebagai Bunda Manusia, tetapi juga Bunda Allah … Adalah pasti bahwa Maria adalah Bunda dari Allah yang nyata dan sejati.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 24, 107))

Maria Tetap Perawan:

“Adalah artikel iman bahwa Maria adalah Bunda Tuhan dan tetap Perawan.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320)).

Kepada Helvidius yang meragukan keperawanan Maria, dengan menganggap bahwa Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus, Luther menjelaskan bahwa mereka bukan saudara kandung Yesus:

Setelah Maria “mengetahui bahwa ia adalah Bunda dari Allah Putera, ia tidak ingin untuk menjadi ibu dari anak manusia, tetapi ia tetap di dalam rahmat karunia itu.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 11, p. 320))

“Tidak diragukan lagi, tidak ada seorangpun yang begitu berkuasa yang, menggantungkan pada pemikirannya sendiri, tanpa Kitab Suci, akan beranggapan bahwa ia [Maria] tidak tetap perawan.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 11, p. 320))

Maria dikandung tanpa noda:

“Tetapi konsepsi yang lain, yaitu pada saat penghembusan jiwa, adalah layak dan khidmat untuk dipercaya, ia tidak mempunyai dosa, sehingga ketika jiwanya dihembuskan, ia [Maria] pada saat yang sama dibersihkan dari dosa asal dan dikurniai karunia- karunia Tuhan untuk menerima jiwa yang dihembuskan. Oleh karena itu, pada saat ia mulai hidup, ia tidak mempunyai dosa sedikitpun….” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), Vol 4, 694))

“Tuhan telah membentuk tubuh dan jiwa Perawan Maria penuh dengan Roh Kudus, sehingga ia tanpa segala dosa, sebab ia telah mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), Vol 52, 39)).

Maria diangkat ke surga:

“Tidak dapat diragukan lagi bahwa Perawan Maria berada di surga. Bagaimana sampai terjadi demikian, kita tidak tahu.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 10, p.268))

Penghormatan kepada Maria:

“Penghormatan kepada Maria tertulis dalam kedalaman hati manusia yang terdalam.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 10, III, p.313)).

“Apakah hanya Kristus sendiri yang patut disembah? Atau apakah Bunda Tuhan yang suci tidak patut dihormati? Ini adalah sang perempuan yang menghancurkan kepala Sang Ular [Iblis]. Dengarkanlah kami. Sebab Putera-Mu tidak akan menolak apapun dari-Mu.” ((Martin Luther, ibid., vol 51, p. 128-129)).

Gambar Maria

Seseorang tidak dapat memahami hal- hal spiritual kecuali jika gambar- gambar dibuat tentang mereka.” ((Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, (translation by William J Cole) 46, p. 308))

“Tidak ada yang lain yang dapat disimpulkan dari perkataan: “Jangan kamu mempunyai allah- allah lain di hadapan-Ku”, kecuali apa yang berkaitan dengan berhala. Tetapi gambar- gambar ataupun patung-patung dibuat tanpa berhala, pembuatan benda- benda tersebut tidak dilarang.” ((Martin Luther, ibid., 18, p. 69))

“Kalau saya telah melukis gambar di dinding dan saya melihatnya tanpa berhala, maka hal itu tidak dilarang bagi saya, dan seharusnya tidak diambil dari saya.” ((Martin Luther, ibid., 28, p. 677))

Maria Bunda semua orang Kristen

“Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan bunda kita semua. Kalau Kristus adalah milik kita, kita harus berada di mana Ia berada; dan semua yang menjadi milik-Nya pasti menjadi milik kita, dan oleh karena itu ibu-Nya juga adalah ibu kita.” ((Luther Works, (Weimar), 29:655:26-656:7)).

“Kita semua adalah anak- anak Maria.” ((Luther Works, (Weimar), 11:224:8)).

John Calvin

Maria Bunda Allah

“Elisabet memanggil Maria Bunda Allah, karena kesatuan kedua kodrat dalam pribadi Kristus adalah sedemikian sehingga manusia yang mortal yang ada dalam rahim Maria adalah juga pada saat yang sama Allah yang kekal.” ((John Calvin, Calvini Opera (Braunshweig- Berlin, 1863-1900), volume 45, 35)).

Maria tetap perawan

“Helvidius telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang yang bebal, dengan mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak- anak, sebab ada disebutkan dalam beberapa perikop tentang saudara- saudara Kristus.” ((Bernard Leeming, “Protestants and Our Lady”, Marian Library Studies, January 1967, p.9))

Calvin sendiri mengartikan “saudara- saudara” ini artinya saudara sepupu atau saudara bukan saudara kandung (relatives).

Penghormatan kepada Maria

“Tidak dapat diingkari bahwa Tuhan, dengan memilih dan menentukan Maria sebagai Bunda Putera-Nya, telah mengaruniakannya penghormatan yang tertinggi.” ((John Calvin, Calvini Opera (Braunshweig- Berlin, 1863-1900), volume 45, 348)).

“Sampai pada saat ini kita tidak dapat menikmati rahmat yang diberikan kepada kita di dalam Kristus, tanpa pada saat yang sama berpikir bahwa Tuhan telah memberikan sebagai hiasan dan penghormatan kepada Maria, dengan menghendakinya sebagai ibu dari Putera-Nya yang tunggal.” ((John Calvin, A Harmony of Matthew, Mark and Luke (St. Andrew’s Press, Edinburgh, 1972),p.32))

Teladan Maria

“Mari bertindak seperti Bunda Maria dan berkata, “Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” …. Kita melihat di sini pengajaran yang diberikan kepada kita oleh Perawan Maria yang menjadi bagi kita seorang guru yang baik, asalkan kita mengambil keuntungan dari pelajaran- pelajarannya sebagai pengajaran bagi kita.” ((John Calvin, Calvini Opera, op.cit., Vol I, 320 ff))

Zwingli

Maria Bunda Allah

“Telah diberikan kepada-Nya apa yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain, bahwa di dalam dagingnya, Ia melahirkan Allah Putera.” ((Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Opera Completa (Zurich, 1828-42), Vol. 6, I, 639))

“Aku sangat yakin bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil sebagai seorang Perawan murni yang melahirkan bagi kita Putera Allah dan pada saat melahirkan dan setelah melahirkan selamanya tetap murni, tetap perawan. ((Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Corpus Reformatum, Vol. I, 424))

Maria Tetap Perawan

“Saya sangat menghargai Bunda Allah, Sang Perawan Maria yang tidak bernoda dan tetap perawan.” ((E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed. (Rome, 1962), 456)).

“Kristus… dilahirkan dari Perawan yang paling tidak bernoda.” ((Ibid.))

“Adalah layak bahwa Sang Anak yang kudus harus mempunyai seorang Bunda yang kudus.” ((Ibid.))

“Semakin banyak penghormatan dan kasih Kristus berkembang di antara manusia, makin banyak penghargaan dan penghormatan kepada Maria harus berkembang juga.” ((Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Corpus Reformatum, Vol.I, 427- 428)).

John Wesley

Maria Tetap Perawan

“Saya percaya bahwa Ia (Allah Putera) telah menjelma menjadi manusia, menggabungkan kodrat manusia dengan ke-Allahan di dalam satu pribadi, dikandung oleh perbuatan tunggal dari Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang sesudah maupun pada saat melahirkan-Nya, tetap perawan yang murni dan tidak bernoda.” ((John Wesley, Letter to a Roman Catholic))

C. Beberapa link dengan topik pembahasan tentang Bunda Maria di situs Katolisitas:

Bunda Maria, Co- Redemptrix
Maria, Bunda Allah
Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?
Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria
Luk 11:27-28, Yesus menentang Maria?
Di sisi mana Bunda Maria duduk di surga?
Bisakah Yesus tanpa saingan?
Peran Maria dalam mukjizat di Kana
Yesus dan sanak saudara-Nya Luk 8:19-21
Siapa perempuan dalam Wahyu 12?
Tanggapan terhadap tuduhan penyembahan Maria
Doa Rosario, doa yang sungguh Alkitabiah
Lourdes, Garabandal, HSDA, Kerahiman Ilahi
Maria Tabut Perjanjian Baru, dan benarkah Yesus menyangkal Maria 3 kali?
Kerjasama antara rahmat dan kehendak bebas dalam diri Bunda Maria
Tanggapan mengenai ajaran Bapa Gereja tentang Maria= Hawa baru
Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria
Apakah umat Katolik harus berdoa melalui Bunda Maria?
Tentang Novena Tiga Salam Maria
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga
Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus?
Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria
Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga?
Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab?
Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain?
Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian
Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda?
Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo

Catatan: Bahan ini adalah materi yang digunakan untuk seminar, dengan tema: Memaknai gelar-gelar Maria dalam spiritualitas pelayanan, dengan judul: Maria dalam Kitab Suci. Seminar ini adalah seminar untuk Ikatan biarawan-biarawati Keusukupan Agung Jakarta.

Doa sebelum dan sesudah Komuni

7

Doa sebelum Komuni
disusun oleh St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja (1225- 1274)

Tuhan yang Mahabesar dan kekal,
aku menghadap sakramen Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.
Aku datang sebagai orang yang sakit kepada Sang Tabib Kehidupan,
sebagai orang yang berdosa ke hadapan mata air belas kasih,
sebagai orang buta ke hadapan Terang yang kekal,
sebagai orang miskin dan papa kepada Tuhan langit dan bumi.

Karena itu, aku memohon kelimpahan rahmat-Mu yang tak terbatas
agar Engkau berkenan memulihkan penyakitku, mencuci noda dosaku, menerangi kebutaanku, memperkaya kemiskinanku,
sehingga aku dapat menerima Roti para malaikat, Raja dari segala raja,
dengan segala penghormatan dan kerendahan hati, dengan kasih yang besar,
dengan kemurnian dan iman, dengan tujuan dan maksud
yang dapat berguna bagi keselamatan jiwaku.

Berikankah kepadaku, kumohon,
rahmat untuk menerima tidak saja sakramen Tubuh dan Darah Tuhan kami,
tetapi juga rahmat dan kuasa dari sakramen ini.
O, Tuhan yang Maha Pemurah, dengan menerima Tubuh Putera-Mu yang Tunggal,
Tuhan kami Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Perawan Maria,
karuniakanlah kepadaku rahmat untuk boleh digabungkan dengan Tubuh Mistik-Nya dan terhitung sebagai anggota- anggota Tubuh-Nya.

O Tuhan yang Maha Pengasih, berikanlah kepadaku rahmat untuk memandang wajah sesungguhnya dari Putera-Mu terkasih selamanya di surga, yang kini akan kuterima dalam rupa yang terselubung.

Amin.

Doa sesudah Komuni

ANIMA CHRISTI
doa Gereja yang populer di abad 14, yang dikutip oleh St. Ignatius Loyola dalam bukunya Spiritual Exercises.

Jiwa Kristus, kuduskanlah aku
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku
Darah Kristus, sucikanlah aku
Air lambung Kristus, basuhlah aku

Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Dalam luka-luka-Mu sembunyikanlah aku.
Jangan aku dipisahkan daripada-Mu, ya Tuhan.
Terhadap seteru yang curang, lindungilah aku.
Di waktu ajalku, terimalah aku.
Supaya bersama para kudus-Mu aku memuji Engkau, selamanya.

Doa sesudah Komuni
disusun oleh St. Thomas Aquinas, Pujangga Gereja (1225-1274)

Aku berterima kasih kepada-Mu, Bapa yang kekal,
karena oleh belas kasihan-Mu yang murni
Engkau telah berkenan memberi makan jiwaku dengan Tubuh dan Darah Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.

Kumohon kepada-Mu agar Komuni kudus ini tidak menjadi kutukan bagiku,
tetapi menjadi penghapusan yang berdayaguna untuk semua dosaku.
Semoga Komuni ini menguatkan imanku, membangkitkan di dalamku semua yang baik, membebaskan aku dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecondongan terhadap dosa, menyempurnakan aku di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, baik yang kelihatan dan tak kelihatan, menjadikankanku bersahaja dalam segala hal, mempersatukanku dengan-Mu dengan erat, Sang Kebaikan sejati, dan tempatkanlah aku dalam kebahagiaan yang tak dapat berubah.

Kini aku memohon dengan sungguh agar suatu hari nanti Engkau akan menerima aku, meskipun aku orang berdosa dan tidak layak, untuk menjadi seorang tamu pada Perjamuan Ilahi di mana Engkau, dengan Putera-Mu dan Roh Kudus, adalah Terang Ilahi, kesempurnaan kekal, sukacita yang tak berkesudahan dan kebahagiaan sempurna dari semua orang Kudus, melalui Kristus Tuhan kami.

Amin.

Doa Sesudah Komuni yang terdapat dalam daftar Indulgensi

Dalam Manual of Indulgences (Buku Pedoman mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 12 Oktober 2005 menyatakan bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:

En ego, O bone et dulcissime Iesu

Lihatlah kepadaku, ya Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut,
di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan kehendak yang berkobar
aku berdoa dan memohon kepada-Mu
agar Engkau menanamkan di dalam hatiku,
semangat yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih,
pertobatan yang tulus dari dosa-dosaku,
dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya.
Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam,
aku merenungkan kelima luka-luka-Mu,
dengan menempatkan di hadapan mataku,
perkataan Raja Daud, nabi-Mu, yang telah menubuatkan
bahwa Engkau mengucapkan perkataan ini tentang diri-Mu:
“Mereka telah menusuk tangan dan kaki-Ku;
mereka telah menghitung semua tulang-Ku.” Amin.

Indulgensi Penuh dapat diperoleh dengan mengucapkan doa ini pada hari Jumat di masa Prapaska dan setiap hari di dalam dua minggu sebelum Paskah (masa Passiontide), ketika doa ini diucapkan setelah Komuni di hadapan gambar/ image Kristus yang tersalib. Pendarasan doa ini pada hari-hari lainnya, memperoleh indulgensi sebagian. Tentang persyaratan agar memperoleh indulgensi penuh adalah: 1) mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa; 2) menerima Komuni kudus; 3) berdoa bagi intensi Bapa Paus; 4) tidak ada keterikatan terhadap dosa, bahkan dosa ringan. Selanjutnya tentang Indulgensi, silakan klik di sini; dan tentang Bagaimana Agar Memperoleh Indulgensi, klik di sini.

Dengan mendoakan doa yang singkat di atas, kita diundang untuk meresapkan di dalam hati, bahwa Kristus telah memilih untuk menderita dan menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada kita. Betapa kita harus bersyukur atas pengorbanan-Nya itu, yang menyelamatkan kita. Dengan melihat teladan kasih Kristus ini, semoga kita semakin mampu menghindari dosa, dan semakin terdorong untuk lebih mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan melihat pengorbanan-Nya ini kita dikuatkan untuk juga mau berkorban dalam hidup kita sehari-hari, entah dalam lingkungan keluarga, pekerjaan maupun pergaulan kita dengan sesama.

Tentang Jansenisme, Devosi Hati Kudus Yesus

3

Pertanyaan:

Salam sejahtera bapak/ibu admin.
Apakah saya bisa minta tolong dijelaskan tentang bidah jansenisme. Berikut yang saya dapat dari wikipedia:

Hasil studi melalui tulisan-tulisan Jansen tentang Santo Agustinus banyak menyedot perhatian orang.[3] Karyanya yang berjudul Augustinus tersebut terdiri dari tiga bagian dan diterbitkan pada tahun 1640.[1][3] Dalam karyanya itu, Jansen menyajikan analisis yang seksama tentang pemikiran-pemikiran Agustinus mengenai doktrin pre-determinasi dan kedosaan manusia, dan rahmat keselamatan Allah melalui Yesus Kristus.[3] Hal inilah yang menyebabkan bukunya yang berjudul Augustinus ini dimasukkan dalam Indeks Buku-buku Terlarang oleh Paus Urbanus VIII pada tahun 1643.[1][3][5]

Selain itu, pada tahun 1653 dalam bullanya Cum Occasione, Paus Innocentius X mengutuk proposisi-proposisi yang berasal dari Jansen, khususnya yang berkaitan dengan doktrin pre-determinasi.[3][4][5] Pandangan Jansen mengenai pre-determinasi dianggap sebagai bidah, termasuk tindakan Paus Klemens XI pada 1713 yang mengutuk karya-karya Jansenis.[3][5]

Yang saya tahu dari seorang karmelit, spiritualitas jalan kecil St. Theresia Lisieux menggugurkan ajaran jansenisme, yaitu bahwa kerahiman Allah seperti seorang bapa kepada anaknya yg kecil. Sedangkan yg jansenisme terlalu mengagungkan hidup yang suci tanpa berbuat dosa. Mohon penjelasannya. Terima kasih sebelumnya.
Chianx

Jawaban:

Shalom Chianx,

1. Apakah Jansenisme?

Jansenisme adalah ajaran sesat/ bidaah di awal abad ke 17, yang diajarkan oleh seorang Uskup Ypres, Perancis, yang bernama Cornelius Jansenius. (Disebut bidaah karena kebenaran yang disampaikan tidak utuh). Bidaah Jansenism ini merupakan ajaran campuran antara paham Calvinisme, Pelagianisme, ajaran Gereja Katolik dan penerusan dari ajaran sesat yang diajarkan oleh Michael Baius, yaitu: pencampuradukkan antara kodrat dan rahmat (nature and grace), kerusakan manusia yang total sebagai akibat dosa asal, penolakan akan adanya kehendak bebas pada diri manusia, dan double predestination (paham yang mengajarkan bahwa sejak awal mula, Tuhan telah menentukan sebagian orang ke surga dan sebagian ke neraka).

Jansenius menuliskan proposisinya dalam buku yang dikarangnya yang berjudul Augustinus. Memang ia mengambil sumber idenya dari tulisan- tulisan St. Agustinus, tetapi ia keliru menginterpretasikannya. Harus diakui untuk dapat memahami makna tulisan St. Agustinus, seseorang harus membaca keseluruhan tulisannya, tanpa berfokus pada sebagian saja. Sebab pada saat St. Augustine mengecam bidaah Pelagianism yang menekankan perbuatan baik untuk mencapai keselamatan, ia melawan pandangan itu dengan menitikberatkan pada rahmat yang mengatasi segalanya (sehingga dapat disalahartikan sebagai seolah- olah mengatasi kehendak manusia/ free will). Tetapi sebaliknya, St. Agustinus juga mengajarkan tentang adanya kehendak bebas manusia (free will) yang ada pada setiap manusia, sehingga manusia dapat menjadi ‘tuan’ yang bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, baik itu perbuatan baik atau buruk.

Kesalahan Jansenisme, seperti juga Protestantisme, adalah bahwa paham mereka hanya mengutip sebagian saja dari tulisan St. Agustinus, dan mengabaikan tulisannya yang lain. Paham mereka mencampuradukkan antara kodrat dan rahmat, antara dosa dan godaan, antara rahmat yang berdaya guna/ efficacious (rahmat yang mensyaratkan tanggapan dari manusia) dan rahmat yang cukup/ sufficient (rahmat yang diberikan cukup oleh Tuhan kepada semua orang untuk menanggapi panggilan-Nya kepada keselamatan kekal). Mereka yang tidak mendefinisikan hal- hal tersebut dengan jelas, apalagi tanpa perhatian terhadap kesatuan dengan ajaran Tradisi Suci lainnya, akan mempunyai pandangan yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Menanggapi ajaran bidaah ini, Gereja Katolik melalui Konsili Trente (1545-1563) antara lain telah menegaskan peran kehendak bebas manusia dalam penerimaan dan penggunaan rahmat Tuhan. Ajaran ini dilestarikan terus oleh Gereja Katolik dalam Katekismus, “Tindakan bebas Allah menuntut jawaban bebas dari manusia….” (KGK 2002) Artinya, pemberian rahmat yang suka rela dari Allah ini menghendaki tanggapan manusia, yang keluar dari keputusan kehendak bebas manusia.

2. Buku Jansenius yang berjudul ‘Augustinus’ dinyatakan terlarang?

Ya, buku Augustinus dilarang oleh Paus Urban VIII (1641). Alasannya adalah karena buku itu diterbitkan tanpa ijin sebelumnya dari Tahta Suci, dan karena buku itu mengulangi beberapa kesalahan ajaran Baius. Maka buku itu dilarang bukan karena buku itu ‘menyajikan karya seksama tentang pemikiran Agustinus‘, tetapi karena buku itu keliru menginterpretasikan karya St. Agustinus.

Memang buku Augustinus ini ditulis dengan cukup meyakinkan, terdiri dari 3 jilid. Jilid pertama, sifatnya historis yang memaparkan ajaran Pelagianisme (ada 8 buku), dan jilid kedua setelah mengajarkan keterbatasan akal budi manusia, menjabarkan kondisi rahmat pada saat awal mula pada Adam dan para malaikat (1 buku), kondisi setelah dosa asal (4 buku), kondisi kodrat (3 buku) dan jilid ketiga tentang rahmat Kristus Penyelamat (10 buku) ditutup dengan kesimpulan tentang persamaan antara kesalahan Semipelagian dan kesalahan ajaran modern pada saat itu.

Walau konon Jansenius juga telah membaca seluruh karya St. Agustinus sebanyak 10 kali dan terutama tulisan St. Agustinus yang menentang ajaran sesat Pelagianism sampai 30 kali, namun sayangnya, kesimpulan yang dibuat Jansenius tidak sesuai dengan ajaran Magisterium perihal kerjasama antara rahmat Allah dan kehendak bebas manusia.

3. Penolakan ajaran Jansenisme oleh Paus Innocentius X dalam Cum Occasione

Prinsip Jansenisme ini ditolak oleh Paus Innocentius X dan Paus Pius VI. Paus Innocentius X dalam Cum Occasione, May 31, 1653 mengecam kelima prinsip Jansenisme (sedangkan kalimat yang ada dalam tanda kurung adalah penjelasan dari saya). Teks asli dalam bahasa Inggris, silakan klik di link ini. Kelima prinsip yang dinyatakan salah/ sesat adalah:

1. Beberapa perintah Tuhan tidak mungkin dilakukan oleh orang- orang benar, yang ingin melakukan dan berjuang dengan keras untuk melakukannya… sebab terdapat kekurangan rahmat yang membuat perintah- perintah itu dapat dilakukan.

Hal ini dinyatakan kasar, tidak benar, dan sesat.

(Pendapat ini dilatarbelakangi pandangan yang melihat hukum dan perintah Tuhan dari sisi yang negatif).

2. Dalam keadaan kejatuhan akibat dosa asal, manusia tidak dapat menahan/ menolak rahmat Allah yang bekerja dalam hatinya.

Pendapat ini dinyatakan sesat.

(Pendapat ini disebabkan karena anggapan bahwa semua rahmat pasti manjur/ efficacious. Pendapat ini sesuai dengan pandangan yang menganggap bahwa akibat dosa asal manusia menjadi seluruhnya rusak, bahkan sampai tidak punya kehendak bebas lagi untuk menolak ataupun menerima rahmat Tuhan. Ini bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik bahwa memang manusia berdosa akibat dosa asal, namun manusia masih mempunyai kehendak bebas untuk bekerjasama dengan rahmat Allah ataupun menolaknya. Oleh karena itu tidak semua rahmat Allah itu manjur/ efficacious; sebab baru dapat dikatakan manjur, jika manusia bekerjasama dengan rahmat itu).

3. Untuk dapat mencapai atau tidak mencapai [keselamatan] di dalam kondisi kejatuhan dari dosa asal, kemerdekaan dari keharusan [yang dari diri sendiri] tidak dibutuhkan manusia, tetapi kemerdekaan dari keharusan yang dari luar itu sudah cukup. [Maka adalah mungkin bagi manusia yang tidak punya kehendak bebas untuk mencapai keselamatan]

Pendapat ini dinyatakan sesat.

(Pandangan ini menganggap bahwa akibat dari keadaan kerusakan total manusia karena dosa asal, maka ia harus dibebaskan dari pembatasan- pembatasan dari luar, tetapi tidak dari kebutuhan yang datang dari dirinya sendiri. Pandangan ini sejalan dengan pandangan yang mengagungkan pemahaman pribadi (private judgment) di atas wewenang mengajar Gereja, yang dianggap sebagai pihak yang membatasi dari luar).

4. Para Semipelagianisme mengatakan bahwa diperlukan rahmat sebelumnya untuk setiap perbuatan, bahkan untuk iman di masa awal; dan karena itu mereka sesat, sebab mereka beranggapan bahwa rahmat ini diberikan sehingga kehendak bebas manusia dapat menolak ataupun menaatinya.

Pandangan ini ditolak karena salah dan sesat.

(Jansenisme menolak bahwa rahmat Tuhan yang mengangkat kodrat manusia menuju keilahian itu, sifatnya sukarela atas kemurahan hati Tuhan. Mereka menganggap bahwa partisipasi manusia di dalam keilahian Allah itu sifatnya kodrati -dapat dicapai oleh manusia dan bukan bersifat adikodrati -atas bantuan Allah).

5. Adalah Semipelagianisme jika mengatakan bahwa Kristus mati/ menumpahkan darah-Nya bagi semua manusia tanpa kecuali.

Pernyataan ini dinyatakan salah, menimbulkan skandal, -sebab jika diartikan demikian, maka Kristus mati hanya untuk keselamatan sebagian orang saja yang sudah ditakdirkan sejak awal (predestined). Pernyataan ini sesat, menghujat dan tidak menghormati kebaikan Allah.

(Jansenisme menolak pandangan bahwa Kristus wafat untuk semua orang. Dengan demikian, Jansenism sejalan dengan pandangan double- predestination, yang mengajarkan bahwa sejak awal Tuhan telah menentukan sebagian orang ke surga dan sebagian ke neraka. Gereja Katolik menolak ajaran ini. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup (sufficient grace) kepada semua manusia untuk dapat diselamatkan (lih. 1 Tim 2:4). Namun adanya sebagian orang masuk surga dan sebagian lagi ke neraka, itu berkaitan dengan fakta bahwa ada sebagian orang yang mau bekerjasama dengan rahmat itu, sehingga membuat rahmat itu menjadi berdaya guna/ efficacious, tetapi ada juga yang tidak mau bekerja sama dengan rahmat Allah itu sehingga menjadikannya tidak berdayaguna/ inefficacious. Jadi, kedua jenis rahmat ini harus dibedakan, sebab jika tidak terdapat pengertian yang keliru pada paham double-predestination itu.

Gereja Katolik tidak menentang pandangan predestination (bahwa Tuhan menentukan sejak semula agar manusia diselamatkan), namun yang ditentang adalah paham double- predestination. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik).

4. Apa yang terjadi dengan Jansenius?

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Jansenius sebelum menuliskan Augustinus pernah menulis tentang infalibilitas Bapa Paus pada tahun 1619. Jansenius berkata,(lihat selengkapnya di link ini, silakan klik:

“Paus adalah hakim yang utama bagi semua perbedaan pandangan religius, dan ketika ia mendefinisikan sesuatu dan menyatakannya kepada seluruh Gereja, dengan hukuman ‘anathema‘, maka keputusanmu adalah adil, benar dan tidak dapat salah (infallible)” Dan pada akhir karyanya (III, x, Epilogus omnium), ia mengatakan, “Apapun yang telah saya tegaskan di atas mengenai hal- hal yang berbeda- beda dan sulit ini, …, saya serahkan terhadap penilaian dan keputusan Tahta Suci para Rasul dan Gereja Roma…, untuk kemudian dipatuhi, jika ia mendekritkan bahwa tulisan saya itu harus dipegang; atau harus ditarik jika ia[Gereja] mengatakan demikian; untuk dikecam dan di-anathema-kan, jika ia mendekritkan bahwa tulisan saya itu harus dikecam dan di-anathema-kan. Sebab sejak masa kecil saya, saya dibesarkan di dalam iman akan Gereja ini;…. aku telah bertumbuh dan menjadi tua sementara saya tetap terikat padanya; tidak pernah sepengetahuan saya, saya menyimpang darinya baik sehelai rambut sekalipun dalam pikiran, perbuatan atau perkataan, dan saya masih tetap memutuskan untuk mempertahankan iman ini sampai nafas saya yang terakhir dan untuk tampil dengan iman ini di hadapan tahta pengadilan Allah….”

“Jika… Tahta Suci menginginkan perubahan, saya adalah anak yang taat dan saya tunduk kepada Gereja itu [Gereja Katolik], di mana saya hidup sampai saat ajalku. Ini adalah wasiat terakhirku.”

Maka meskipun nama Jansenius berkaitan dengan bidaah Jansenisme, namun ia sendiri bukan seorang bidat (karena bidaah Jansenius tidak merupakan formal heresy, tetapi material heresy. Untuk penjelasan perbedaan antara keduanya, klik disini, point 4a); dan ia hidup dan wafat di dalam pangkuan Gereja Katolik.

5. Apakah yang menggugurkan ajaran Jansenisme?

Jansenisme yang mengajarkan kerasnya syarat kesempurnaan rohani, tidak menganjurkan Komuni diterima dengan sering, karena mensyaratkan seseorang harus bebas dari dosa ringan sekalipun sebelum menyambut Komuni. Sedangkan para imam Jesuit mengajarkan sebaliknya, bahwa Yesus menginstitusikan sakramen ini justru untuk menguduskan umat-Nya, maka yang disyaratkan ‘hanya’ asalkan yang menerima Komuni itu bebas dari dosa berat.

Devosi yang terkenal sebagai tanggapan Jansenism adalah Devosi kepada Hati Kudus Yesus yang dinyatakan Tuhan Yesus kepada St. Margaret Mary Alacoque (1647- 1690). Kristus menyatakan kepada St. Margaret di biara Paray- le Monial, Perancis, untuk menyampaikan devosi kepada Hati-Nya yang Maha Kudus. Pada hari perayaan St. Yohanes Rasul, Tuhan Yesus memperbolehkan Margaret Mary untuk membaringkan kepalanya di Hati Kudus-Nya, dan kepadanya Yesus menghendaki agar diketahui oleh semua umat manusia keinginan-Nya untuk membagikan harta kekayaan kebaikan-Nya…. Ia telah memilih untuk dihormati dengan gambar Hati-Nya yaitu ketika Ia tampil dengan kasih yang memancar dan memohon devosi kasih sebagai silih, Komuni yang sering diterima (frequent Communion), Komuni pada setiap hari Jumat Pertama setiap bulan, dan pelaksanaan doa Jam Suci (Holy Hour, 1674). Penampakan Yesus ini terjadi selama oktaf perayaan Corpus Christi ketika Yesus berkata, “Lihatlah kepada Hati yang sangat mengasihi manusia, tetapi bukan rasa terima kasih yang Kuterima dari sebagiaan besar umat manusia, melainkan hanya rasa tidak berterima kasih….” Selanjutnya, silakan klik di link ini.

Ya, ini adalah jawaban Tuhan Yesus terhadap ajaran sesat Jansenism yang menanggap bahwa manusia dapat, dengan kekuatan kodrat manusiawinya sendiri untuk sampai kepada keselamatan. Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa Ia mengasihi manusia, dan menghendaki agar manusia menyadari bahwa Ia mengasihi manusia dengan Hati Kudus-Nya, dan karena kasih dan rahmat-Nya ini manusia dapat sampai kepada keselamatan. Namun kasih Allah juga mengharapkan tanggapan dari manusia, yaitu dengan manusia membalas kasih-Nya, melalui devosi yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya, demi mendoakan keselamatan umat manusia.

St. Theresia kanak- kanak Yesus dari Lisieux juga mengajarkan hal serupa, yaitu dengan mengajarkan Jalan Sederhana (The Little Way), yang merupakan ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus, sambil mendoakan pertobatan dunia -termasuk pertobatan kita dan orang lain, dengan mempersembahkan doa silih bagi orang lain. Doa silih yang diajarkan oleh St. Theresia adalah doa yang dibarengi dengan mati raga yang kecil dan sederhana, yang dilakukan dengan kasih yang besar. Contohnya: duduk tidak bersandar, bersikap ramah kepada orang yang tidak bersahabat, melakukan tugas yang tidak disukai dengan riang, pantang makan yang disukai, dst, demi mendoakan pertobatan semua orang. Dengan cara ini ia mendoakan banyak orang, termasuk para imam, para misionaris, dan narapidana. Mottonya sederhana: “Do little things with great love/ lakukan hal- hal yang kecil namun dengan kasih yang besar, untuk membuktikan iman dan kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian, St. Theresia mengajarkan adanya kerjasama antara rahmat Tuhan dengan kehendak bebas manusia; dan setiap manusia dapat mengambil bagian dalam karya Allah yang masih berlangsung saat ini untuk menyelamatkan dunia.

6. Penutup

Tradisi Suci para Rasul dinyatakan kembali dengan banyak cara, bahwa rahmat Allah untuk menyelamatkan manusia dinyatakan karena kemurahan hati Allah, dan bukan terjadi dengan sendirinya. Rahmat ini memerlukan kerja sama/ tanggapan dari kita. Kita dipanggil untuk menanggapi rahmat Allah ini dengan iman dan perbuatan kasih kita kepada Allah dan sesama. Ini adalah ajaran Tradisi Suci sejak Gereja awal dan tidak pernah berubah. Penekanan hanya kepada satu sisi, akan menghasilkan heresi/ bidaah (contohnya Jansenisme), bukan karena ajarannya salah total, tetapi karena kebenaran yang disampaikan tidak lengkap, ataupun ada sebagian prinsip kebenaran yang disalahartikan. Tuhan Yesus sendiri terus menyertai Gereja-Nya dengan membimbing Wewenang Mengajar Gereja, untuk menetapkan keseluruhan pengajaran-Nya. Tuhan juga membangkitkan banyak orang kudus-Nya untuk maksud yang sama. Untuk hal ini, kita pantas bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Luk 11:27-28, Yesus menentang Maria?

13

Pertanyaan:

Syalomm Bu Inggrid….

saya mau menanyakan kutiban Bacaan injil kemaren tanggal 9 Oktober
Yaitu :

Luk 11:27 Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.”

Luk 11:28 Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Nah dalam ayat 27 tesebut di atas Otomatis yang di tunjuk adalah Ibu maria.
ketika orang banyak itu mengatakan bahwa Ibu maria di sebut yang berbahagia,
lantas mengapa Yesus sendiri mengatakan tetapi ? kata2 “Tetapi” di sana seolah2
Yesus menentang bahwa maria di sebut yang berbahagia.
ini lah ayat yang di jadi kan senjata oleh umat kristen non katolik di tempat saya.

padahal dalam lukas 1:48 di katakan “mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia”,

Mohon penjelasan nya Ibu, sebelum nya saya ucapkan terima kasih, maaf kalau saya salah tempat
karena saya tidak tau untuk memulai pertanyaan dengan topik baru.

Berkah dalem

Mike

Jawaban:

Shalom Mike,

Luk 11:28-29 mengatakan:

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Berikut adalah penjelasan yang saya peroleh dari penjelasan the Navarre Bible:

“Perkataan ini merupakan pujian kepada sikap batin Bunda Maria. Konsili Vatikan II mengatakan, “Dalam pewartaan Yesus, ia [Maria] menerima sabda-Nya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan akan daging dan darah, dan Ia menyatakan bahagia mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (lih. Mrk 3:35; Luk 11:27-28), seperti yang dijalankan Maria dengan setia (lih. Luk 2:19 dan 51).” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 58). Oleh karena itu, dengan menjawab demikian Yesus tidak menolak pujian dari wanita yang berseru memuji Bunda-Nya, melainkan Ia menerima pujian itu dan bahkan menjelaskan lebih jauh bahwa yang menjadikan Maria berbahagia adalah secara khusus adalah karena ia telah mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya. Maka perkataan-Nya ini adalah pujian kepada ketaatan Maria Ibu-Nya (lih. Luk 1: 38). Ia menerapkan ketaatan itu dalam hidupnya, dengan tulus, dengan murah hati tanpa perhitungan, memenuhi setiap akibatnya, tetapi tanpa keriuhan/ digembar-gemborkan, tetapi secara tersembunyi, dan dalam keheningan pengorbanan setiap hari.”

Pujian serupa yang dikatakan Yesus kepada Maria ini juga dikatakan-Nya, ketika Bunda Maria dan para saudara Yesus mencari-Nya pada saat Ia mengajar. Yesus menjawab, “Ibu-Ku dan saudara- saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19, lih. Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35)

Di sini Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. [Perhatikan bahwa di sini Yesus menggunakan bentuk tunggal pada kata Ibu (jadi bukan ibu- ibu-Ku), sehingga dimaksudkan bahwa kata pujian ‘yang mendengarkan dan melakukan firman Allah’ pertama- tama ditujukan kepada ibu-Nya (Maria) dan saudara- saudara-Nya yang mendengarkan dan melakukan firman Tuhan]. Maka yang Yesus ajarkan di sini adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Ungkapan ini merupakan pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Maria pertama- tama telah mengandung-Nya (Sang Firman Allah) dalam hatinya sebelum ia mengandung Kristus Sang Firman di dalam tubuhnya (Yoh 1:14). Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka ayat di atas tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

Ketaatan akan kehendak Allah ini tidak terlepas dengan sifat kerendahan hati Bunda Maria ketika ia mengatakan:

“Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.” (Luk 1:48)

St. Bede mengomentari ungkapan kerendahan hati Bunda Maria ini demikian, “Adalah layak, bahwa seperti kematian masuk ke dunia melalui kesombongan Hawa, maka jalan masuk menuju Kehidupan dinyatakan melalui kerendahan hati Maria (St. Bede, In Lucae Evangelium expositio, in loc.).

Maka Tuhan menghargai kerendahan hati Maria dengan pengakuan umat manusia akan keistimewaannya. “Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia”. Nubuat ini terpenuhi setiap kali seseorang mendoakan doa Salam Maria. Ya, Bunda Maria dihormati di bumi ini sebagai Bunda Tuhan Yesus. Namun sebenarnya penghormatan ini tidak terbatas hanya karena Maria adalah seorang perempuan yang melahirkan Yesus, tetapi terutama karena Maria adalah teladan semua umat beriman untuk mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Sebab oleh ketaatannya ini, Tuhan Yesus Sang Juru Selamat dapat datang ke dunia menjadi manusia dan tinggal di tengah- tengah kita (Yoh 1:14).

Semoga kitapun dapat meniru teladan Bunda Maria, dengan ketaatan kita dalam mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya.

Kesembuhan jasmani rohani dan Why 2:22

5

Pertanyaan:

Shalom katolisitas..
Pak Stef dan bu Ingrid

Kita sering mendengar kata2 kesembuhan rohani.. kesembuhan jiwa… dlsb
Dengan mengkaitkan kata kesembuhan tentu ada sesuatu yang ‘sakit’
Berikut ini saya angkat ayat2 dibawah ini:

Yak 5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

Yak 5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

Pertanyaannya adalah: kesembuhan rohani yang selama ini kita cari… bagaimana konteknya dengan sakit tubuh itu sendiri..?
Sering membuat saya bingung, bahwasannya Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit bahkan yang mati pun dibangkitkan.. bagaimana kita yang sekarang masih hidup dalam pengembaraan menghadapi sakit yang bener2 sakit tubuh dengan mengimani Tuhan akan memberikan kesembuhan bagi kita.

Selanjutnya ttg perikop : Kepada jemaat di Tiatira
Why 2:22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.

Pertanyaannya maksud hubungan ranjang orang sakit dengan zinah serta kesukaran besar itu..
Mohon pencarahannya. (bolekah diberikan ayat2 lain yang terkait)

Terima kasih.

Salam sjahtera.
Felix Sugiharto.

Jawaban:

Shalom Felix Sugiharto,

1. Kaitan kesembuhan rohani dengan kesembuhan tubuh.

Harus diakui bahwa adakalanya memang sakit pada tubuh kita disebabkan oleh sakit rohani, walaupun tidak semua sakit pada tubuh kita disebabkan oleh sakit rohani. Misalnya sakit lecet atau pilek, umumnya tidak ada kaitannya dengan sakit rohani. Namun adakalanya sakit rohani, seperti kemarahan, dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi; dan ketegangan berlebihan dapat berhubungan dengan sakit jantung. Belum lagi sakit karena dosa seksual, ini lebih nyata lagi; karena mereka yang sering melakukan dosa seksual, dapat terkena penyakit kelamin, bahkan AIDS. Wanita yang melakukan pengguguran, mempunyai resiko lebih besar terkena kanker rahim atau payudara. Namun demikian, janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa semua sakit jasmani yang berat pasti disebabkan oleh dosa rohani. Sikap menghakimi semacam ini juga tidak benar.

Sakit penyakit memang merupakan salah satu akibat dari dosa asal manusia. Setelah kejatuhan Adam dan Hawa, maka selain manusia kehilangan rahmat pengudusan Allah, semua manusia mengalami penderitaan, sakit penyakit dan kematian. Ini adalah fakta. Saat manusia mengalami sakit penyakit dan penderitaan, umumnya manusia mempertanyakan tujuan hidupnya, dan tidak jarang baru pada saat inilah ia dapat terpanggil untuk mengenal Allah Penciptanya. Atau, jika ia sudah mengenal Allah, maka melalui penderitaannya, ia belajar semakin beriman dan berpasrah kepada Allah. Oleh karena itu, adakalanya Tuhan mengizinkan kita mengalami sakit penyakit dan penderitaan, seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik.

Oleh kuasa- Nya yang mengatasi segala sesuatu, Tuhan Yesus dapat menyembuhkan baik penyakit jasmani maupun rohani. Kesembuhan jasmani memang merupakan kesembuhan yang lebih mudah dilihat dan dirasakan, sehingga banyak orang cenderung yang mengharapkan untuk ‘melihat’ kesembuhan jasmani dan mengalaminya. Namun sebenarnya, yang lebih penting adalah kesembuhan rohani. Karena kesembuhan rohani mempunyai efek yang lebih panjang dan berpengaruh untuk keselamatan kekal, sedangkan kesembuhan jasmani itu sifatnya sementara, dan akan ada saatnya penyakit akan datang lagi, entah yang sama atau yang lain; dan akhirnya sakit penyakit itulah yang umumnya menghantar kita sampai kepada kematian.

Maka hal penyakit jasmani itu memang dapat berhubungan dengan sakit rohani, namun dapat juga karena faktor kelemahan tubuh manusia akibat dosa asal Adam dan Hawa. Kita dapat selalu memohon kesembuhan dari Tuhan, dengan keyakinan bahwa Tuhan mampu menyembuhkan kita. Namun pada saat yang sama, kita harus menghadapi sakit penyakit dengan sabar dan penuh iman. Bahwa jika Tuhan mengijinkan sakit penyakit terjadi dalam hidup kita, pasti tetap dapat mendatangkan kebaikan bagi kita, untuk membentuk kita agar semakin serupa dengan Dia, yang setia memikul salib-Nya sampai wafat. Sebab seringkali dengan sikap batin seperti ini, seseorang malah dapat menerima kesembuhan, yang tidak hanya menyangkut rohani, tetapi juga jasmani.

Bagi umat Katolik yang mengalami sakit keras, dapat memohon kepada Pastor untuk memberikan sakramen Pengurapan Orang Sakit. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sakramen ini menyampaikan rahmat Allah yang dapat menghasilkan dalam diri orang yang menerima, iman dan kepasrahan kepada Tuhan. Sehingga, dengan sikap ini, seseorang dipersiapkan untuk menghadap Allah; ataupun sebaliknya jika ia mengalami kesembuhan jasmani rohani, ia dapat memiliki penghayatan yang baru akan makna hidup, sehingga dapat menjalani kehidupan selanjutnya dengan mata hati tertuju kepada Allah.

Ayat Why 2:22 agaknya tidak berhubungan dengan hal sakit jasmani dan rohani yang anda tanyakan. Sebab konteksnya berbeda. Berikut ini adalah tanggapan saya.

2. Tentang Why 2:22

Why 2:22 mengatakan, “Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.”

Untuk memahami arti ayat ini, kita harus melihat konteksnya/ kaitannya dengan ayat- ayat sebelumnya dan sesudahnya. Ayat ini adalah bagian surat Rasul Yohanes kepada jemaat di Tiatira. Harap dimengerti, bahwa kitab Wahyu mengungkapkan maksudnya dengan menggunakan banyak simbol sehingga untuk memahaminya perlu mengetahui topik dan konteks yang sedang dibicarakan. Pada saat itu di Tiatira terdapat sekte sesat yang menolak pengajaran dari Rasul Yohanes.

Berikut ini adalah penjelasan yang saya sarikan dari Haddock Commentary on Holy Scripture:

‘Perempuan’ yang dimaksudkan di sini adalah sekte heretik tertentu, atau kemungkinan beberapa perempuan dari sekte Nicolaites yang dengan cara- cara licik membawa banyak orang untuk masuk ke dalam sekte tersebut. St. Irenaeus menyebutkan dalam bukunya Against Heresies I.26.3 dan III.11.1, bahwa mereka adalah sekte yang hidup mengikuti keinginan daging (“lives of unrestrained indulgence“). Sekte ini menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, seperti halnya sekte Gnosticism.

Ay. 21: Ayat sebelumnya (Why 2:21) mengatakan, “Aku telah memberikan waktu untuk bertobat tetapi ia tidak mau bertobat.” Maka “Aku” di sini adalah Kristus yang berbicara sebagai Tuhan, sebab hanya Tuhan-lah yang dapat mengampuni dosa manusia.

Ay. 22: “Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit…” Para ahli Kitab Suci ada yang mengartikan ini sebagai ranjang kesakitan, atau kematian, atau penyiksaan kekal di neraka, di mana perempuan itu dan mereka mengikutinya akan mengalami kesukaran besar, kecuali jika mereka bertobat.

Ay. 23: “Dan semua orang akan mengetahui bahwa Akulah yang menguji batin dan hati semua orang…”, hal ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, (lihat Mzm 7:10, Yer 17:10) Hanya Tuhan jugalah yang mampu “… membalaskan kepada semua orang menurut perbuatannya” (lih. Mzm 62:13; Ams 24:12; Rom 2:6).

Ay. 24: “… tetapi kepada kamu…yang tidak mengikuti ajaran itu…. Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu.” Mereka yang tidak mengikuti ajaran Nicolites dan Gnostics dan tidak menyetujui ajaran Iblis yang meyimpang, tidak akan dibebani oleh hukuman.

Ay. 25- 26. “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa…”
Ini menyatakan bahwa para orang kudus-Nya yang ada dengan Kristus Tuhan di surga menerima kuasa dari Dia untuk memimpin atas bangsa- bangsa, sebagai pelindung dan akan datang bersama-Nya pada akhir jaman nanti untuk menghukum mereka yang tidak menaati perintah-perintah Nya.

Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Lanjutkan…!

12

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24; 10:38).

Ketika Indonesia sedang dalam masa kampanye pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu, slogan yang hanya terdiri dari satu kata, “Lanjutkan..!” yang menjadi moto salah satu calon, menjadi populer.  Walau hanya satu kata, moto ini dengan cukup jelas mengungkapkan himbauan untuk meneruskan apa yang sudah dikerjakan oleh pencetusnya.  Meneruskan. Di dalam tikungan kehidupan, ketika hidup tidak berjalan mulus sesuai dengan harapan kita, kata itu kadang-kadang terasa begitu sulit dan berat untuk dilakukan.

Suatu hari saya sedang menatap ibu saya yang sedang bercerita tak henti kepada saya sejak hampir setengah jam yang lalu. Kisahnya seolah tak berujung. Saya tidak berani memotong cerita yang sedang ia sampaikan. Karena di telinga saya, apa yang ia sampaikan bukan hanya sekedar kisah, melainkan sebuah balada kesedihan hati seorang ibu yang terulang lagi dan lagi. Saya berusaha meredam kesedihan saya karena cinta saya kepada ibu saya, sambil merasakan ketidakberdayaan saya sendiri menyaksikan kekecewaan itu lagi di matanya, dan di hatinya.  Kisah semacam itu bukan hal yang pertama kali saya dengar, hadir dalam kerangka peristiwa yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai muatan yang sama. Kesedihan dan kekecewaan seorang ibu karena sikap tidak peduli seorang anak kepada perasaan dan kebutuhan ibu dan ayahnya. Anak itu adalah kakak kandung saya sendiri, yang juga telah cukup lama meninggalkan gereja. Sikap acuh dari kakak saya yang tinggal satu kota dengan orangtua kami, ditambah sikap yang kurang lebih sama dari istri kakak, terhadap ayah dan ibu kami, sudah menjadi kisah lama keluarga kami, yaitu ayah ibu dan kami bertiga bersaudara. Bertahun-tahun saya, seorang kakak saya yang lain serta ayah dan ibu berdoa untuk kakak saya itu, sambil tetap berusaha mencurahkan cinta yang tulus.

Ternyata semakin lama kami menyadari bahwa proses pertobatan kakak saya juga adalah proses pertobatan dan pemurnian kami semua sebagai keluarga. Dalam perjalanan doa sekeluarga bagi pertobatan kakak saya itu, kami merasakan bimbingan Tuhan di dalam doa dan permenungan kami bahwa mengampuni kakak secara terus menerus dan selalu berusaha memahami pilihan-pilihannya, akan lebih banyak memberi kemungkinan pertobatan kepada kakak dan keluarganya, dan membuahkan kedamaian di hati kami sendiri. Apalagi kami sendiri belumlah sempurna, masih harus selalu memperbaiki diri di sana sini. Harapan kami untuk kakak seyogyanya adalah untuk kebaikan dirinya dan bagi Tuhan, dan bukan untuk memenuhi ego kami dan kebutuhan kami sendiri untuk dikasihi. Bagaimanapun, berusaha selalu mengerti dan mengampuni untuk memberikan contoh keluhuran kasih Bapa, adalah perjuangan yang berat. Sebuah komitmen yang harus diperbarui lagi hari demi hari. Dan saya merasakannya ketika masih kembali harus mendengarkan ibu saya menceritakan keluhannya seputar sikap dan hati kakak yang dingin terhadap cinta Tuhan dan orangtuanya. Kisah yang seolah tak ada akhirnya. Di akhir pembicaraan ibu dan saya, kami selalu berusaha datang kepada Tuhan dan untuk kesekian kalinya memohon kekuatan untuk terus mengampuni, terus mengerti. Walaupun kami tidak tahu sampai kapan kami harus mengerti dan mengampuni kakak, setidaknya kami menyadari bahwa Yesus sudah berkata supaya kami mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, dan itu kami yakini sebagai:  tanpa batas. Di dalam Dia, kami menaruh harapan bahwa teladan kesabaran, tidak menghakimi, dan kasih sesuai teladan-Nya, kelak dapat membawa pertobatan yang sejati bagi kakak.

Meneruskan sikap hidup yang baik walaupun hidup terasa berat dan mengecewakan, bahkan kadang terasa tak terpikul, juga saya jumpai dalam kisah kehidupan lainnya. Teman saya yang selalu berusaha mengampuni suaminya yang selingkuh, teman lain yang berjuang tetap bekerja dengan baik di bawah tekanan bos yang sangat menuntut dan tidak perhatian kepada prestasi bawahan, perjuangan teman ayah saya melawan kanker tenggorokan yang telah membuatnya menderita berbulan-bulan lamanya – penderitaan yang bagi yang mendengarkan dan membayangkannya saja rasanya tak tertahankan lagi.  Atau dalam kesetiaan seorang ibu yang harus selalu bangun di pagi hari melayani suami dan anak-anaknya dalam kesederhanaan dan kekurangan selama puluhan tahun, dan seorang tukang ojek korban PHK yang harus selalu bekerja di atas motornya siang dan malam demi sesuap nasi bagi keluarganya tanpa tahu kapan bisa kembali mendapatkan pekerjaan tetap yang lebih layak. Kisah-kisah itu juga ada dalam hal-hal yang lebih sederhana, namun tetap memerlukan kesabaran dan pengorbanan, misalnya bersabar menghadapi teman sekerja yang kurang giat bekerja dan tidak sepaham dengan kita, kemauan yang harus super teguh saat harus berdiet dan berolahraga dengan kedisiplinan yang tidak bisa ditawar lagi untuk menghindari suatu serangan penyakit turunan, meminjami (atau memberi) lagi dan lagi teman atau saudara yang memerlukan bantuan keuangan, terus berbuat baik dan bersikap baik sekalipun sering tidak dihargai atau disalahartikan, atau tetap berpikir positip dan penuh harapan di saat anak-anak kita belum juga menunjukkan kemajuan berarti di suatu bidang yang harus dikuasainya, sambil memurnikan motivasi kita sendiri bahwa apa yang kita usahakan adalah sungguh bagi kepentingan si anak dan bukan demi ego kita sebagai orangtua.

Pada suatu hari saat sedang mempelajari dokumen kursus katekis yang saya jalani, saya merasa terkejut menemukan sebuah teks di hadapan saya. Dengan pandangan mata nanar, saya membaca tulisan yang tertera di sana, “Jesus was hanging on the cross for 6 hours. Six hours in indescribable agony”.  (Yesus tergantung di kayu salib selama enam jam. Enam jam dalam penderitaan yang tak tergambarkan). Hati saya tertegun. Saya panik, merasa sekian lama dalam hidup saya, saya mengira Yesus ‘hanya’ bergantung di kayu salib selama tiga jam sebelum wafat-Nya pada pukul tiga sore (Matius 27 ayat 46 dan 50). Saya segera mengecek Kitab Suci saya, saya buka di Markus 15:25, Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Memang di Injil lain misalnya di Injil Yohanes tidak dinyatakan demikian (Yohanes 19:14). Dan tentu saja itu masih belum termasuk penderitaan akibat pencambukan dan penghinaan yang berlangsung sejak dini hari. Saya menelan ludah, merasa tenggorokan saya tercekat, menahan airmata yang tiba-tiba mendesak hendak keluar.

Yesusku, aku merasa malu dan sedih karena baru sekarang aku mengetahui bahwa Engkau menderita begitu lama untukku. Dalam kesendirian yang begitu mencekam, dan rasa sakit yang begitu dahsyat di seluruh bagian tubuh-Mu, Engkau tetap bertahan. Penderitaan, kesepian, dan kesakitan, yang tak mampu kupahami dengan nalar, dan tak mampu kuungkapkan dengan kata.  Apa yang membuat-Mu begitu teguh untuk bertahan, Tuhan? Begitu berharganya kami sehingga Engkau begitu rela untuk menahan dan menjalani semua itu Tuhan.  Jam demi jam yang merambat pelan dalam kesakitan dan kepedihan yang tak berhingga. Pasti terasa berabad-abad lamanya bagi Tuhanku. Pasti terasa berabad lamanya bagi ibuku menantikan pertobatan kakakku,  bagi temanku untuk setia menantikan suaminya kembali kepadanya, bagi mereka yang sakit berat dan menantikan kesembuhan. Ya Bapa, mengapa Engkau tidak menghentikan semua penderitaan itu segera, mengapa harus enam jam Tuhan? Mengapa Engkau tidak segera memanggil Putera-Mu kembali ke Surga supaya penderitaan-Nya segera berakhir, cukuplah Ia telah setia melaksanakan amanat penderitaan itu, Bapa.

Secara manusiawi, kadang kita tidak memahami mengapa harus ada penderitaan. Kita juga kadang bertanya mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan penderitaan terjadi dalam kehidupan. Dan sebagai manusia, kita ingin semua yang menyakitkan dan menyedihkan segera diakhiri. Sampai-sampai kita lupa pada kenyataan bahwa Tuhan mencintai kita sehabis-habisnya dan akan selalu menyayangi kita dan menjaga kita.

Saya terpekur di dalam keheningan hati saya. Kertas dokumen di tangan saya itu sudah basah oleh airmata. Dalam kekaburan pandangan, saya berlutut dan memandang salib Yesus yang tergantung di dinding kamar kerja saya.  Kerendahan hati, cinta murni, dan belaskasihan-Nya kepada manusia, membuat Yesus bertahan hingga akhir. Ampuni aku Raja Semesta Alam yang kesakitan, aku begitu asyik dengan rasa sakitku sendiri sehingga aku lupa bahwa Engkau sudah selesai menjalani rasa sakit yang kekal itu dengan paripurna untukku. Kalau cinta-Mu kepadaku mampu membuat-Mu bertahan begitu gagah berani Tuhan, maka aku juga mau bertahan untuk tidak beringsut dari kaki salib-Mu.

Pada saat perhatian kita tidak terpusat kepada penderitaan, melainkan kepada cinta kasih Kristus yang selalu memikirkan kita dan memelihara kita sampai kekal, bahkan sampai melewati maut, itulah saat dimana kita menjalani penderitaan kita dalam harapan akan salib Kristus, dan hanya dengan cara menjalani penderitaan dalam harapan dan kesabaran oleh karena cinta-Nya itu, segala penderitaan dan kesukaran menemukan maknanya.  Saat itu rasanya kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada kita sebelum Ia menanggung sengsara-Nya, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun hidup.” (Yohanes 14: 18-19). Itulah juga mengapa para martir dan kudus di Surga yang terus bertahan bersama Yesus di saat hidupnya dulu, sanggup dan berani menghadapi pencobaan maut dan penderitaan yang dahsyat yang secara mata manusiawi tak terbayangkan akan mampu untuk dijalani.

Sebenarnya, jika kita menderita dengan iman dan persatuan dengan Kristus, kita mengambil bagian dalam kesengsaraan Kristus untuk menebus dunia, yang disebut oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II sebagai “redemptive suffering” (penderitaan yang membebaskan/menebus). “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:2). Penderitaan dalam dunia yang dijalani bersama Kristus yang menderita, memungkinkan kita mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya di dalam kebangkitan-Nya. Karena menderita bersama Tuhan memberi kita kesempatan untuk dikuduskan dan dimurnikan. Itulah sebabnya menderita bersama Kristus dan di dalam Kristus menjadi penuh arti, karena kesabaran dan ikhtiar kita tidak akan pernah sia-sia. Dalam cinta dan kerahiman-Nya, Dia mengijinkan penderitaan kita alami, dalam pengertian-Nya yang Maha Menyelami, bahwa penderitaan yang kita jalani dengan sabar dan penuh cinta bersama Dia, akan membawa kita kepada kekudusan dan kesempurnaan yang telah Dia rencanakan indah sejak semula bagi masing-masing kita.

Salib Kristus telah mengubah kutuk menjadi berkat, sehingga belajar selalu bergantung kepada salib-Nya menyadarkan kita bahwa penderitaan bukanlah hukuman Tuhan, melainkan justru sebuah kesempatan untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia, untuk membentuk karakter kita dalam kesabaran, kasih yang murni, keteguhan iman, serta keindahan harapan. Seperti tanah liat yang menyerahkan pembentukan dirinya dalam kerja keras pembentuknya, demikianlah kita menyatukan penderitaan kita dalam sengsara-Nya, di dalam doa, di dalam Kurban Ekaristi Kudus, di dalam cinta-Nya, sehingga kita menjelma menjadi bejana-bejana indah yang memuliakan Sang Pencipta. “..Oleh bilur-bilur-Nya, kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). Sebagai seorang Penyembuh yang Terluka (a Wounded Healer),  derita Yesus justru menjadi kekuatan kita. Luka-luka dalam enam jam penyaliban itu menunjukkan Tuhan yang luar biasa kerendahan hati-Nya, pengurbanan-Nya, dan cinta-Nya kepada kita. Maka bergantung terus kepada-Nya membuat kita bukanlah anak-anak biasa. Kita juga bisa menjadi luar biasa untuk meneruskan berjuang dalam kebaikan, dalam mengampuni, dalam memahami, dalam bekerja demi sesama dan keluarga, dalam berdisiplin diri, dalam memerangi kebiasaan buruk kita, dalam mengharapkan segala sesuatu yang baik terjadi pada waktu-Nya. Walaupun kadang perjuangan kita rasanya seperti tak berujung. Dan jawaban yang kita nantikan serasa belum pernah terlihat untuk sekedar mendekat. “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.  (Yesaya 40: 31)

Menderita bersama Kristus ibarat menyeduh daun teh, justru di dalam air panas mendidih, keharuman dan citarasa daun teh itu muncul keluar, dan bisa dinikmati. Bergantung pada Salib Kristus memunculkan keindahan sejati di dalam diri manusia. Dalam Kolose 1:24 Rasul Paulus mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Dan di dalam Roma 5: 3-5 beliau mengatakan, ”Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Ketahanan kita di dalam memaknai penderitaan kita di dalam salib Kristus, justru memampukan kita untuk berbuah. Tuhan Yesus menegaskan hal ini ketika Ia bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24). Teladan kesabaran dan cinta kita, oleh karena salib-Nya, mampu menguduskan orang lain juga dan membawa pertobatan bagi sesama dan pada gilirannya, bagi pengudusan seluruh dunia. Itulah sukacita kebangkitan, sukacita yang disediakan-Nya bagi kita yang rela ambil bagian dalam derita salib-Nya dengan setia. “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Petrus 4:13).

Raja Semesta Alam yang sedang kesakitan di atas tahta-Nya yang berbentuk palang itu, enam jam penuh sengsara yang tak tergambarkan. Meski demikian, dalam derita-Nya saya mendengar Ia menyerukan dengan penuh kasih kelembutan, dan dengan tatapan mata penuh cinta, “Lanjutkan…! Aku tetap bertahan demi engkau, anak-Ku, dan Aku akan selalu menyertai-Mu”. O Tuhan yang menderita, Tuhan yang selalu memahami penderitaan manusia, yang selalu solider dengan derita dan kepahitan kami, demi cinta-Mu padaku, Tuhanku, demi penebusan seluruh dunia, aku juga rindu untuk selalu bertahan. Itulah sukacita dan pengharapanku, yaitu boleh ikut menderita bersama-Mu, menderita dalam cinta dan pengharapan. Dan kalau pun kita masih jatuh dan gagal untuk bertahan dan setia, kita tidak perlu sampai berputus asa, bangunlah lagi dan lanjutkan, Tuhan selalu menguatkan kita. Ingatlah selalu akan hal ini, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4 : 15) dan “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2 : 18).

Sambil membereskan dokumen-dokumen kursus, lamat-lamat saya bersenandung menyanyikan lagu “Trading My Sorrow” karya Darrel Evans yang saya kenal dalam sebuah persekutuan doa. Di hatiku, kudengar selalu Tuhan membisikkan dengan penuh kasih, ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29 : 11). Hati saya membalas-Nya dalam suka, ” Jesus, I trust in You..!”

I’m trading my sorrow
I’m trading my shame
I’m laying it down for the joy of the Lord

I’m trading my sickness
I’m trading my pain
I’m laying it down for the joy of the Lord

Chorus:
And we say yes Lord, yes Lord, yes yes Lord
Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord
Yes Lord, yes Lord, yes yes Lord Amen

I’m pressed but not crushed, persecuted not abandoned
Struck down but not destroyed
I’m blessed beyond the curse, for his promise will endure
And his joy’s gonna be my strength

Though the sorrow may last for the night
His joy comes with the morning

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab