Home Blog Page 23

Berjuanglah melalui pintu yang sempit

0
Sumber gambar: http://markryman.com/BLOG/2013/08/19/fourteenth-sunday-after-pentecost-year-c-august-25-2013/

[Hari Minggu biasa ke XXI;  Yes 66:18-21; Mzm 117:1,2; Ibr 12:5-7,11-13; Luk 13:22-30]

“Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” demikian orang bertanya kepada Yesus. Namun Tuhan Yesus memilih untuk tidak menjawab secara langsung pertanyaan itu. Sebaliknya, Ia mengajarkan hal yang lebih penting, yaitu bagaimana agar kita dapat diselamatkan. Sebenarnya, pertanyaan serupa juga ditanyakan oleh orang di zaman ini, seperti: “Apakah Anda yakin Anda selamat?” Atau “Siapa sajakah orang-orang yang diselamatkan?” Nah, jika kita mempunyai pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa hal yang lebih penting menurut Tuhan Yesus adalah: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!” (Luk 13:24). Yaitu, berjuang agar kita dapat masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan. Daripada mempertanyakan sedikit atau banyakkah orang yang diselamatkan dan siapa-siapa sajakah mereka, lebih baik kita masing-masing berjuang agar pada akhirnya kita dapat diselamatkan. Sebab rahmat keselamatan  yang dari Tuhan mensyaratkan kerjasama dan perjuangan dari pihak kita yang menerima rahmat itu. Perkataan Tuhan Yesus dalam Injil hari ini menjadi dasarnya. Yaitu keselamatan yang kita terima oleh iman, tetap harus dibuktikan dengan perjuangan, dengan perbuatan nyata yang menunjukkan iman kita. Rahmat keselamatan itu bukanlah sesuatu yang diberikan otomatis, karena asal mengucap “aku percaya” tapi tanpa perjuangan untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

St. Sirilus mengajarkan kepada kita, “Pintu yang sempit itu menggambarkan kerja keras dan penderitaan para orang kudus. Sebab seperti sebuah kemenangan menjadi saksi bagi kekuatan para prajurit, demikian juga daya tahan penuh keberanian terhadap usaha dan terhadap cobaan, akan membuat orang menjadi kuat” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 13:22-30). Di sini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa iman harus dibarengi dengan kerja keras, yang membuat orang dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan dan godaan. Dengan kata lain, sebagai murid Kristus kita harus tahan menghadapi berbagai kesulitan hidup dan penderitaan. Pencobaan, yang diizinkan Tuhan untuk terjadi dalam kehidupan kita, mesti kita anggap sebagai “didikan Tuhan” yang tak boleh membuat kita putus asa, tetapi untuk menjadikan kita semakin kuat di dalam iman, agar “menghasilkan buah kebenaran yang memberi damai kepada mereka yang dilatih oleh-Nya.” (lih. Ibr 12:5,11) Sebab jika kita telah berhasil melalui pencobaan dengan bantuan rahmat Tuhan, maka kesaksian hidup kita dapat pula membangun iman orang-orang yang mendengarkan pemberitaan kita. Demikianlah, Tuhan menghendaki agar kita—seperti dikatakan Mazmur hari ini—“Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil. Sebab kasih setia Tuhan hebat atas kita, dan kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya!” (Mzm 117:2)

Marilah kita meresapkan sabda Tuhan hari ini, dan melihat bagaimana Tuhan telah hadir dan menopang kita sampai saat ini. Ia memberkati dan meneguhkan kita, namun kadang juga menegur kita, jika kita berbuat kesalahan. Ia membuka jalan bagi kita, walaupun sering kali, itu mensyaratkan kerja keras kita juga. Semoga  sabda Tuhan hari ini membuka mata hati kita, supaya kita dapat menjadi orang-orang yang tak pernah gagal mengenali kebaikan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya, baik di waktu senang tetapi terlebih-lebih di waktu susah. Agar kita tetap teguh beriman, walau sedang mengalami kesulitan dan penderitaan. Sebab dengan demikian, kita melakukan perintah Tuhan, yaitu berjuang untuk dapat masuk dalam “pintu yang sesak itu” yang membawa kita kepada keselamatan kekal. Dengan kesaksian dan pengharapan ini, kita semua dipanggil untuk menjalani kehidupan kita. Yaitu untuk tetap setia beriman kepada Tuhan, apapun keadaan kita, sebab kita percaya Tuhan kita adalah Allah yang terlebih dahulu setia pada kita, dan kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya (Mzm 117:2). Ia tak pernah meninggalkan kita, dan Ia akan membawa kita ke tempat di mana Ia berada (lih. Yoh 14:3). Di dunia sekarang ini, di mana nilai kesetiaan telah mulai kabur, kabar tentang kasih setia Tuhan sangatlah dibutuhkan! Kasih setia Tuhan yang menantikan tanggapan kesetiaan kita kepada-Nya, walau di tengah kesulitan dan cobaan, itulah pesan sabda Tuhan hari ini.

Paus Paulus VI berkata, “Dunia zaman sekarang lebih mau mendengarkan para saksi iman daripada pengajar, dan kalau ia mendengarkan para pengajar, itu disebabkan karena mereka adalah para saksi iman…. Adalah pertama-tama dengan perbuatannya dan hidupnya, Gereja meng-evangelisasi dunia. Dengan kata lain, dengan kesaksian yang hidup tentang kesetiaan kepada Tuhan Yesus…. kesaksian akan kekudusan.” (Pope Paul VI, Evangelii Nuntiandi, 41). Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam pewartaan Injil ini kepada dunia sekitar kita. Semoga rahmat Tuhan memampukan kita. Amin.

Pengangkatan Maria memberi pengharapan

0
Sumber gambar: http://straymonds.org/this-saturday-is-the-assumption-of-the-most-holy-blessed-virgin-mary/

[Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga;  Why 11:19-12:1-10; Mzm45:10-16; 1Kor15:20-26; Luk 1:39-56]

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu! Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin….”

Entah telah berapa kali kuucapkan doa ini sampai saat ini. Namun hari ini, sabda Tuhan kembali menyingkapkan kepadaku makna yang mendalam dari doa sederhana di atas. Hari ini kita merayakan Pengangkatan Bunda Maria, tubuh dan jiwanya, ke Surga. Walaupun baru dimaklumkan secara resmi oleh Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, melalui Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, ajaran ini bukan ajaran “baru” yang dibuat-buat oleh Gereja Katolik di tahun 1950. Sebab para Bapa Gereja  telah sejak abad-abad awal mengajarkan hal tersebut. Salah satu khotbah kuno tentangnya diajarkan oleh Uskup Teoteknos di abad ke-6 (550-650), “Sebab Kristus mengambil tubuh-Nya yang tak bernoda dari tubuh Maria yang tak bernoda; jika Henokh telah dipindahkan dan Elia telah pergi ke surga, bukankah terlebih lagi Maria, yang seperti bulan di tengah bintang-bintang, bersinar terang dan mengungguli para nabi dan Rasul? Sebab meskipun tubuhnya—yang melahirkan Tuhan—itu mengalami kematian, tubuh itu tidak mengalami kerusakan, namun dijaga tidak rusak dan tetap murni dan diangkat ke Surga dengan jiwanya yang murni dan tanpa noda”  (St. Theoteknos of Livias, Homily on the Assumption). Gereja telah merayakan pesta Pengangkatan Maria ke Surga sejak akhir abad ke-6.

Demikianlah,  para pengkhotbah mengikuti jejak para Bapa Gereja, menghubungkan ayat Mazmur ini dengan pengangkatan Bunda Maria ke Surga: “Bangkitlah Tuhan, ke tempat peristirahatan-Mu, Engkau dan tabut-Mu yang telah Engkau kuduskan” (Mzm 131:8). Bunda Maria sang tabut Perjanjian Baru, yang membawa Kristus Sang Sabda di dalam rahimnya, diangkat oleh Allah ke tempat peristirahatan-Nya di Surga. Dan di sana, tergenapilah juga Mazmur yang kita baca hari ini, bahwa dengan diangkat ke Surga, Bunda Maria menjadi “permaisuri berpakaian emas dari Ofir, yang berdiri di sebelah kanan Tuhan Sang Raja” (lih. Mzm 45:10). Dengan diangkat ke Surga, Bunda Maria menempati urutan pertama di persekutuan anggota Kristus (lih.1Kor 15:22-23), yang menerima penggenapan janji keselamatan kekal.

Sebagai orang pertama yang menerima kepenuhan janji keselamatan kekal, Bunda Maria sungguh menjadi seorang yang terberkati di antara segala keturunan (lih. Luk 1:48). Bunda Maria terberkati di antara segala wanita yang pernah hidup di dunia, sebab ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Putra-Nya, Yesus Kristus. Terpujilah engkau, ya Bunda Maria, di antara wanita! Demikianlah Allah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya (lih. Luk 1:49): dengan menguduskannya sejak dalam kandungan, menjadikannya ibu bagi Putra-Nya, dan mengangkat tubuh dan jiwanya ke Surga, setelah purna tugasnya di dunia. Di Surga, ia tetap menjadi ibu bagi kita semua yang telah diberikan Kristus menjadi anak-anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Dengan demikian, ia dapat mendoakan kita kepada Yesus, dan menjadi penolong kita di saat-saat sulit dalam kehidupan kita, terutama di saat ajal. Demikianlah kita berdoa kepadanya, “…. Santa Maria, doakanlah kami, sekarang dan waktu kami mati...”

Kita memiliki seorang ibu di Surga—yang juga adalah ibu Yesus Tuhan kita—yang selalu mendoakan kita, agar kita pun dapat sampai ke sana! Bunda Maria telah  diangkat Allah ke Surga, untuk memberi pengharapan kepada kita, bahwa jika kita setia beriman seperti dia, kelak di akhir zaman, kita pun akan diangkat dan dimuliakan di Surga. Ini memberi pengharapan kepada kita, agar kita tidak takut menghadapi kematian, dan agar kita mengikuti teladan Bunda Maria, senantiasa menghargai dan menjaga kekudusan tubuh dan jiwa kita.

Allah Bapa, menurut kebijaksanaan-Mu, Bunda Maria yang melahirkan Kristus dari rahimnya telah diangkat tubuh dan jiwanya untuk ada bersama-sama dengan Kristus di Surga. Semoga kami mengikuti teladannya dalam mencerminkan kekudusan-Mu dan kelak bergabung dengannya dalam kidung pujian dan kasih kepadaMu yang tanpa akhir. Kami mohon ini demi Kristus Tuhan kami. Amin.”

Pinggang berikat dan pelita bernyala

0
Sumber gambar: http://realrevival.blogspot.co.id/2014_11_16_archive.html

[Hari Minggu Biasa XIX: Keb 18:6-9; Mzm 33:1-22; Ibr 11:1-2, 8-12; Luk 12:32-48]

Kami pernah diundang (tepatnya dipaksa) teman untuk mengikuti sesi perkenalan dari suatu seminar kepribadian dan kepemimpinan. Ada ratusan kaum profesional muda yang memenuhi gedung itu. Salah satu acara pembuka adalah hadirin ditanya suatu pertanyaan sederhana: “Apakah yang Anda inginkan agar  bahagia?” Ada banyak jawaban yang muncul, dan sejumlah di antaranya dicatat di papan tulis. Beberapa yang kuingat adalah: ingin bisa keliling dunia, ingin punya Lamborghini, ingin dapat gaji tinggi, ingin menikah dengan pasangan yang cakep, dst. Dari sekian banyak jawaban yang ditulis di papan, tak ada satu pun yang “berbau” rohani. Sebaliknya, kalau pertanyaan yang sama ditanyakan di gereja, mungkin (atau, mudah-mudahan) umat menjawab: ingin masuk Surga. Nah, di sinilah “gap” nya. Di gereja, orang bilang mau masuk Surga, tetapi di luar gereja, jawabannya lain. Malah tidak atau kurang jelas mengarah ke sana. Karena itu, pesan Injil hari ini sangatlah relevan untuk kita renungkan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk 12:34). Semoga pernyataan Yesus ini menembus ke dalam hati kita, agar kita dapat dengan jujur melihat, apakah kita sudah menambatkan hati kepada harta surgawi? Sebab jika sepanjang hidup kita tak pernah atau jarang memikirkan Surga dan menginginkannya, bagaimana mungkin kita akan masuk ke sana? Sebab Tuhan Yesus menghendaki agar kita mulai menabung harta surgawi, yaitu “membuat pundi-pundi yang tak akan habis” (Luk 12:33) dengan isi yang tak dapat rusak, yaitu dengan iman yang hidup, yang dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memberi sedekah kepada sesama yang berkekurangan.

Karena yang dikumpulkan dalam pundi-pundi ini bukanlah kekayaan duniawi namun perbuatan ataupun kebajikan, maka hal ini berkaitan dengan perkataan Yesus selanjutnya, yaitu, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap bernyala” (Luk 12:35). Pinggang berikat, atau istilah Inggrisnya gird up your loins, adalah suatu kata kiasan, demikian juga dengan pelita bernyala. Di internet, jika kita mengetik kata kunci gird up your loins, langsung muncul ilustrasi yang menjelaskannya. Namun tanpa melihat gambar itu, para Bapa Gereja telah menjabarkan artinya. St. Teofilaktus menjelaskannya demikian, “Bersiaplah selalu untuk melakukan pekerjaan Tuhanmu, dan pelitamu bernyala, artinya, jangan hidup dalam kegelapan, tetapi milikilah terang akal budi, yang menunjukkan kepadamu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari…. Yang pertama berkaitan dengan tindakan; dan yang kedua adalah permenungan, yaitu pencerahan pikiran. Maka marilah berjuang keras untuk melakukan kebajikan- kebajikan, sehingga kita dapat memiliki pelita bernyala, yaitu pembentukan pikiran yang senantiasa bersinar dalam jiwa. Supaya kita sendiri diterangi dan dengan terus belajar, kita pun menerangi sesama kita.” Sedangkan St. Agustinus, dengan lebih ringkas menjelaskan bahwa pinggang berikat maksudnya, “menjaga agar kita tidak mencintai hal-hal duniawi dan pelita bernyala artinya adalah untuk melakukan segala sesuatu dengan memikirkan tujuan akhir yang sejati dan maksud yang benar.” (St. Theophylact, St. Augustine, Catena Aurea, Luk 12:35-40)

Pesan Injil hari ini, yang telah dijabarkan oleh para Bapa Gereja, juga ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus belum lama ini dalam perayaan World Youth Day 2016 di Krakow, Polandia. Saat meresmikan peluncuran buku DOCAT (Penjelasan praktis ajaran sosial Gereja atas dasar Kitab Suci), Paus mengatakan:

“Kaum muda yang terkasih!
Pendahuluku Paus Benediktus XVI memberikan kepadamu Katekismus untuk kaum muda, YOUCAT. Hari ini saya hendak menganjurkan kepadamu buku yang lain, DOCAT yang memuat ajaran sosial Gereja…. DOCAT menjawab pertanyaan: ‘Apakah yang harus kami lakukan?’ Ini semacam buku panduan yang membantu kita mengubah diri sendiri sesuai Injil terlebih dahulu, dan kemudian lingkungan sekitar kita yang terdekat, dan akhirnya, seluruh dunia. Sebab dengan kekuatan Injil, kita dapat sungguh mengubah dunia.

Yesus berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Karena inilah, St. Fransiskus Asisi mengubah seluruh hidupnya. Bunda Teresa berubah karena perkataan ini. St. Charles de Foucauld mengakui: ‘Di seluruh Injil, tak ada perkataan yang memiliki pengaruh yang lebih besar padaku dan mengubah hidupku lebih dalam daripada perkataan ini:  ‘Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’ Ketika kurenungkan perkataan ini keluar dari mulut Yesus, sang Sabda Allah yang kekal, dan mulut yang sama yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku…., inilah Darah-Ku…’ maka aku mengerti dan terpanggil untuk mencari dan mengasihi Yesus di atas segala sesuatu, dalam diri orang-orang yang hina ini, yang terkecil.’

Sahabat-sahabat-Ku terkasih! Hanya pertobatan hatilah yang dapat mengubah dunia, yang penuh dengan teror dan kekerasan, menjadi lebih manusiawi. Dan ini artinya: kesabaran, keadilan, kebijaksanaan, dialog, integritas, solidaritas dengan para korban, dengan yang membutuhkan dan yang miskin, dengan pengabdian yang tanpa batas, kasih yang bahkan sampai mati, demi orang lain. Ketika kalian memahami hal ini dengan mendalam, maka kalian dapat mengubah dunia sebagai umat Kristen yang bertindak….

…. Ajaran sosial ini tidak berasal dari Paus tertentu atau dari ahli tertentu. Tetapi ajaran ini muncul dari inti Injil. Ajaran ini datang dari Yesus sendiri. Yesus adalah ajaran sosial dari Allah.

…. Dewasa ini ekonomi yang mengecualikan dan yang menimbulkan jurang perbedaan pendapatan tetap eksis …. kira-kira 1% dari populasi dunia memiliki 40% kekayaan seluruh dunia dan 10 % populasi dunia memiliki 85% kekayaan dunia. Sebaliknya hanya 1% dari kekayaan dunia ini menjadi “milik” separuh dari populasi dunia. Sekitar 1.4 milyar orang hidup dengan kurang dari satu euro sehari

… Ketika saya mengundang kalian semua untuk sungguh mengenal ajaran sosial Gereja, saya tidak hanya bermimpi tentang kelompok-kelompok yang duduk di bawah pohon untuk mendiskusikannya. Itu baik! Lakukanlah itu! Tapi mimpi saya adalah tentang sesuatu yang lebih besar: Saya berharap saya memiliki sejuta kaum Kristen muda atau bahkan, seluruh generasi yang bagi angkatan sejamannya adalah ‘ajaran sosial yang sedang berjalan dan berbicara.’ Tak ada yang akan mengubah dunia melainkan orang-orang yang bersama dengan Yesus membaktikan diri mereka bagi dunia, yang bersama Yesus pergi ke pinggiran dan di tengah-tengah tempat yang kotor. Masuklah ke politik, juga, dan berjuanglah demi keadilan dan martabat manusia, terutama yang termiskin dari kaum miskin. Kalian semua adalah Gereja. Karena itu, pastikan bahwa Gereja ini berubah (‘transformed’) bahwa ia hidup, sebab ia memperbolehkan dirinya ditantang oleh jeritan kaum miskin, oleh permohonan kaum yang terbuang dan oleh mereka yang tidak diperhatikan oleh siapapun.

Kamu sendiri, jadilah aktif. Ketika banyak orang melakukan itu bersama-sama, maka akan terjadi perbaikan di dunia ini, dan orang-orang akan merasa bahwa Roh Allah bekerja melalui kalian. Dan mungkin, dengan demikian kalian menjadi seperti obor yang menerangi jalan menuju Allah, bagi orang-orang ini….” (Paus Fransiskus, Introduction to DOCAT, 2016).

Himbauan Paus Fransiskus di atas senada dengan pesan Injil hari ini. Semoga Roh Kudus menerangi hati kita dan menunjukkan kepada kita langkah-langkah apa yang bisa dilakukan secara nyata untuk mewujudnyatakan iman kita. Ada banyak sesama kita yang membutuhkan uluran tangan kita, baik yang kekurangan secara jasmani maupun rohani. Tuhan telah memberikan kepada setiap kita, talenta yang berbeda-beda, namun dengan tuntutan agar kita melakukan kehendak-Nya. Dan barangsiapa diberi banyak, kepadanya lebih banyak dituntut (lih. Luk 12:47-48). Semoga pesan Injil hari ini mengingatkan agar “pinggang kita tetap berikat”, yaitu tidak mencari kebahagiaan sendiri dengan menumpuk harta duniawi, tetapi mau bekerja keras mengusahakan kebahagiaan bagi orang lain juga. Dan juga agar “pelita kita bernyala”, yaitu agar dalam melakukan segala sesuatu kita memiliki maksud yang jernih dan benar, demi kehidupan kekal. Supaya dengan demikian, kelak bersama-sama,  kita dapat dipandang layak oleh Tuhan untuk menerima karunia keselamatan kekal di Surga.

Menabung harta surgawi

0
Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Luke_12#/media/File:Rembrandt_-_The_Parable_of_the_Rich_Fool.jpg

[Hari Minggu Biasa XVIII: Pkh 1:2; 2:21-23; Mzm 90:3-17; Kol 3:1-11; Luk 12:13-21]

Di masa kecilku dulu, pernah ada lagu ini: “Bing beng bang, yok, kita ke bank. Bang bing bung, yok, kita nabung. Tang ting tung, hei, jangan dihitung. Tiap bulan tahu-tahu dapat untung!” Sederhana syairnya, namun pesannya melekat sampai sekarang. Yaitu bahwa dalam hidup ini, kita perlu menabung untuk masa depan.  Dan seiring dengan bertambahnya umur, kusadari bahwa menabung ini, tak hanya terbatas hanya untuk hal-hal jasmani, tetapi lebih-lebih lagi, untuk hal-hal rohani.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita, bahwa harta duniawi, apapun itu, sifatnya sementara. Atau, Kitab Pengkhotbah menyebutnya, “sia-sia belaka” (Pkh 1:2). Harta duniawi tak bisa kita bawa jika kita mati. Kesehatan dan ketenaran ada masanya, kekayaan dan kepandaian ada batasnya, kecantikan dan kecakapan ada umurnya, nonton drama televisi dan cari monster Pokemon ada akhirnya. Semua tak bertahan selamanya. Namun selama kita hidup di dunia ini, nampaknya kita berlelah-lelah untuk mengusahakan hal-hal tersebut. Maka begitu pas lah sabda Tuhan Minggu ini, yang mengingatkan kita untuk melihat apa yang sesungguhnya lebih penting dan utama dalam hidup ini. Yaitu, untuk mencari dan memikirkan perkara yang di atas, di mana Kristus berada (lih. Kol 3:1-2), sebab ke sanalah tujuan akhir kita sebagai umat beriman. Sebab hanya dengan kita mempersiapkan diri sejak di dunia ini, untuk memandang Tuhan, maka hal itu akan dikaruniakan kepada kita pada saat-Nya.

Betapa pentingnya masa persiapan untuk mencapai cita-cita. Bukankah hal inipun juga berlaku di dunia ini. Ijazah kelulusan baru diberikan jika kita lulus ujian. Penghargaan diberikan kepada mereka yang memenangkan perlombaan. Namun keberhasilan ini umumnya mensyaratkan kerja keras.  Kerja keras pun diperlukan agar kita dapat bertumbuh secara rohani. Hal ini antara lain diperoleh dari menanggalkan manusia lama beserta perbuatannya, dan mengenakan manusia baru (lih. Kol 3:9-10). Dengan kata lain, bertobat dan hidup baru di dalam Kristus. Namun sepertinya, tak banyak dari umat Katolik yang mau menyatakan tobat dengan berpantang setiap hari Jumat dan dengan teratur mau mengaku dosa dalam sakramen Tobat—misalnya sebulan sekali. Kebanyakan umat hanya mengaku dosa pas sebelum Natal dan sebelum Paskah, dan menganggap “sudah oke.” Atau, alasan ogah mengaku dosa karena “malas mengakukan dosa yang itu-itu terus”. Padahal bukankah justru kita memerlukan rahmat Tuhan untuk melepaskan diri dari dosa yang sama? Selain itu, sepertinya pentingnya menerima sakramen Pengakuan dosa di luar masa menjelang Paskah dan Natal, juga jarang dikhotbahkan. Bahkan sejumlah paroki tidak mempunyai jadwal rutin bagi umat yang mau menerima sakramen Pengakuan. Akibatnya, umat jadi tambah malas mengaku dosa, karena enggan berpayah-payah mencari Romo yang dapat memberikan sakramen Pengakuan. Nampaknya sabda Tuhan hari ini menegur kita, baik para Romo maupun umat, untuk bersama-sama lebih menyediakan niat dan waktu untuk sakramen yang luar biasa ini, yang diberikan Tuhan Yesus kepada Gereja untuk menguduskan umat-Nya. Sebab sabda Tuhan hari ini mengajak kita lebih konsisten untuk hidup dalam semangat tobat dan terus memperbaiki diri, agar tidak melekatkan hati kepada hal-hal duniawi. Artinya, bagi yang berdosa agar mengaku dosa, bagi yang sudah hidup lumayan baik, agar hidup kudus, dan bagi yang sudah hidup kudus agar hidup lebih kudus.

Ajakan untuk bertobat ini begitu pas kita renungkan di Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi ini. Sebab jika tidak diresapi maknanya, maka ziarah ke 9 gereja hanya menjadi kesempatan jalan-jalan belaka, atau bahkan kuliner bersama sepulang ziarah, tetapi makna utamanya terlewatkan. Sebagai ungkapan pertobatan, ziarah seharusnya didahului oleh penerimaan sakramen Pengakuan dosa, entah di hari yang sama atau hari-hari sebelumnya.  Juga, penerimaan Komuni pada hari yang sama di hari ziarah, juga disyaratkan agar kita memperoleh indulgensi. Dengan demikian, melalui ziarah ini kita bersama seluruh anggota Gereja di dunia mengungkapkan kesediaan kita menerima belas kasih Allah dan meneruskan belas kasih Allah yang kita terima, kepada sesama yang membutuhkan. Ziarah memasuki pintu suci menjadi bermakna jika diiringi niat dan langkah nyata untuk meninggalkan kehidupan lama yang berdosa, untuk melangkah menuju kehidupan baru bersama Kristus. Dan dalam semangat pertobatan, kita meneruskan berkat kepada sesama, misalnya kepada paroki yang dikunjungi, sesama umat yang berziarah, maupun kepada sesama yang lain yang memerlukan belas kasih.

Maka, pertobatan, ziarah dan amal kasih, adalah upaya yang dapat kita lakukan untuk menabung harta rohani yang diajarkan oleh sabda Tuhan hari ini. Mari kita jangan hanya memberi perhatian kepada tabungan duniawi, tapi juga dan terutama pada tabungan rohani, yang dapat kita bawa sebagai bekal untuk kehidupan kekal kelak. Kita pun diingatkan bahwa hidup kita ada dalam tangan Tuhan, dan kita tidak tahu kapan saatnya Tuhan memanggil kita berpulang. St. Athanasius berkata, “Kalau seseorang hidup seperti akan mati setiap hari—dengan menyadari bahwa hidup sebenarnya tak dapat dipastikan—ia tidak akan berdosa, sebab ada lebih besar rasa takut yang mengalahkan kesenangan yang berlebihan. Tapi sebaliknya, orang kaya itu—dengan berjanji kepada diri sendiri akan hidup panjang—mencari kesenangan, sebab ia berkata: Beristirahatlah—artinya beristirahat dari kerja keras—makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah— artinya, dengan kemewahan….” (St. Athanasius, Catena Aurea, Luk 12:16-21).  Saudara  saudariku, mari  bertanya kepada diri kita masing-masing, jika besok Tuhan memanggil kita, apakah tabungan rohani yang kita bawa serta?

Meminta apa yang berkenan kepada Allah

0
Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Importunate_neighbour.jpg

[Hari Minggu Biasa XVII: Kej 18:20-33; Mzm 138:1-8; Kol 2:12-14; Luk 11:1-13]

Mungkin banyak orang berpikir bahwa doa yang didengarkan Tuhan adalah doa yang dikabulkan, menurut keinginan orang yang berdoa. Oleh karena itu, ketika keinginannya tidak terkabul, lalu orang menjadi malas berdoa. Padahal, sebagaimana telah diajarkan Minggu lalu,  doa sangatlah penting. Namun doa yang dimaksud bukanlah semata-mata permohonan, tetapi juga mendengarkan kehendak Tuhan. Dengan demikian, doa memang perlu dibarengi dengan usaha maupun karya, tetapi dalam doa-lah diperoleh sumber kekuatan–yang dari Tuhan–untuk melakukan semuanya itu. Setelah  mengunjungi Maria dan Martha dan menekankan pentingnya doa, Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan bagaimana Ia pun berdoa dan mengajar. Di sini kita menjadi paham, mengapa Yesus berdoa. Sebab dalam kepenuhan-Nya sebagai Allah, Yesus sesungguhnya tidak perlu berdoa. Namun dalam kemanusiaan-Nya, Yesus hendak memberikan contohnya kepada kita. Supaya kita mengetahui betapa kita sebagai manusia perlu berdoa kepada Allah yang begitu peduli akan kehidupan kita, seperti seorang bapa kepada anaknya.  

Maka ketika murid-Nya meminta-Nya untuk mengajar mereka berdoa, Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Yesus pun segera mengajarkan perumpamaan tentang seseorang yang dengan tidak malu-malu meminta bantuan kepada sahabatnya untuk meminjamkan roti untuk menjamu tamunya. Mengapa Yesus mengajarkan perumpamaan ini? St. Sirilus berkata, “Dapat terjadi, mereka yang telah menerima ajaran yang baik ini [tentang doa Bapa Kami], mencurahkan doa-doa mereka dengan rumusan seperti yang diajarkan itu, tetapi secara sembrono dan tak bersemangat, dan ketika doa pertama atau kedua kali mereka merasa  tidak didengarkan, mereka berhenti berdoa. Supaya ini tidak terjadi pada kita, Ia menunjukkan dengan perumpamaan bahwa sikap pengecut dalam doa itu merugikan diri sendiri, tetapi adalah bermanfaat, jika kita memiliki kesabaran dalam doa….” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 11:1-4). Sabar dalam doa maksudnya adalah tetap berdoa meski nampaknya permohonan belum terjawab. Maka Yesus menghendaki kita tidak menjadi suam-suam kuku dan malas berdoa, tetapi sebaliknya, tekun dan bersungguh-sungguh dalam doa-doa kita. Bahkan, tak perlu malu-malu untuk menyatakan permohonan kita kepada Tuhan, seperti juga telah dilakukan oleh Abraham di Bacaan Pertama. Tuhan Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan mendapat…”

Lalu bagaimana sebaiknya permintaan kita agar dikabulkan? Tuhan Yesus memberikan perumpamaan berikutnya, dengan perumpamaan seorang bapa yang tidak memberi batu kalau anaknya minta roti.  St. Sirilus melanjutkan, “Penyelamat kita memberi pengajaran yang penting. Sebab sering kita gegabah, karena dorongan kesenangan, menyerah kepada keinginan-keinginan yang merugikan. Ketika kita meminta hal-hal seperti ini dari Allah, kita tidak akan memperolehnya. Untuk menunjukkan ini, Yesus memberi sebuah contoh dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita, dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ketika anakmu meminta roti kepadamu, kamu akan memberikannya dengan senang hati, sebab ia meminta makanan yang berguna. Tetapi jika karena ketidaktahuan ia minta batu untuk dimakan, kamu tidak akan memberikannya, namun akan menghalanginya untuk memenuhi keinginannya yang merugikan…. Demikian juga dengan argumen ikan dan ular, telur dan kalajengking…. Dari contoh yang diberikan, Ia menyimpulkan, Jika kamu yang jahat—yaitu mempunyai pikiran yang dapat mendorong berbuat jahat—tahu bagaimana memberikan pemberian yang baik, betapa Bapamu di Surga jauh melampauimu [dalam memberi yang baik]?” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 11: 5-13). Ya, Bapa di Surga  akan memberikan yang terbaik bagi kita. “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13).

Mari dalam keheningan hati, kita memeriksa batin kita. Bagaimanakah doa-doa kita selama ini? Apakah kita berdoa dengan tekun dan bersungguh-sungguh? Sudahkah kita yakin bahwa Allah adalah Bapa yang akan memberikan apa yang terbaik bagi keselamatan kita?  Sudahkah kita meminta Roh Kudus kepada-Nya?

Allah Bapa yang kudus, aku bersyukur untuk segala berkat dan kasih-Mu. Aku mau menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu, sebab aku tidak mengetahui apa yang terbaik bagiku, namun Engkau mengetahuinya. Buatlah agar aku menghendaki apa yang Engkau kehendaki. Ajarlah aku untuk meminta apa yang baik bagi keselamatanku, untuk mencari apa yang berguna bagi kehidupan kekal dan mengetuk pintu yang membawaku kepada-Mu. Semoga dengan demikian, permohonanku berkenan kepada-Mu dan Engkau berkenan menjawab doa-doaku. Amin.”

Kasih kepada Allah, penggerak kasih kepada sesama

0
Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Johannes_%28Jan%29_Vermeer_-_Christ_in_the_House_of_Martha_and_Mary_-_Google_Art_Project.jpg

[Hari Minggu Biasa XVI: Kej 18:1-10; Mzm 15:2-5; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42]

Mengasihi keduanya—baik Allah maupun sesama—tidak selalu mudah untuk dilaksanakan. Mengasihi sesama yang lebih nyata dan mudah terlihat, lebih mudah dilakukan, namun mengasihi Allah yang tidak terlihat, sering luput dari perhatian kita. Bacaan Injil Minggu ini menunjukkan hal tersebut. Tuhan Yesus mengunjungi Martha dan Maria, dan dari sikap mereka menerima Yesus, kita mengetahui bahwa memberi pelayanan maupun perhatian adalah sesuatu yang baik, namun Tuhan Yesus menunjukkan mana yang lebih utama. Sekilas dari kisah Injil ini, sejumlah orang berpandangan, bahwa Martha telah melakukan kesalahan dengan kesibukannya melayani—mungkin termasuk menyiapkan makanan—untuk Yesus, Sang Tamu Agung. Tetapi sebenarnya, Tuhan Yesus tidak mengecam sikap Martha, atau mengatakan bahwa yang dilakukannya tidak berarti. Namun Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kesediaan untuk mendengarkan-Nya lebih baik daripada menyusahkan diri untuk melayani Dia.

Di Bacaan Pertama kita mendengar kisah Bapa Abraham, yang menerima kunjungan tiga malaikat Tuhan yang memberitahukan kepadanya bahwa  Sara  istrinya akan mempunyai seorang anak laki-laki (lih. Kej 18:10).  Betapa lebih istimewanya apa yang dialami oleh Martha dan Maria!  Sebab yang datang kepada mereka bukan malaikat, tetapi Tuhan sendiri. Maka layaklah jika sikap yang ditujukan kepada-Nya lebih istimewa. Jika pada kisah Abraham, ia menyuruh pembantunya untuk mempersiapkan makanan bagi sang tamu; pada kisah Injil, Martha sendirilah yang melayani Sang Tamu Agung. Maka sesungguhnya yang dilakukan Martha adalah sesuatu yang baik. St. Agustinus mengatakan, “Haruskah kita berpikir bahwa celaan ditujukan kepada pelayanan Martha, yang sibuk melayani Tamunya dan yang bersukacita karena kedatangan sang Tamu Agung? Jika ini benar, biarlah orang berhenti melayani orang miskin. Atau dengan kata lain, biarlah mereka bersantai, hanya mengarahkan perhatian untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat, tak usah memperhatikan jika ada orang asing yang membutuhkan makanan; biarlah karya belas kasih tidak dihiraukan, hanya pengetahuan saja yang ditumbuhkan… Tuhan kita tidak menyalahkan tindakan-tindakan [Martha] tersebut, tetapi membedakan antara tugas-tugas kewajiban itu. Sebab dikatakan, Maria telah memilih bagian yang terbaik. Tidak berarti bahwa yang dilakukan Martha adalah buruk, tetapi yang dilakukan Maria lebih baik. Mengapa lebih baik? Sebab hal itu tidak akan diambil daripadanya. Beban urusan yang penting akan suatu saat diambil daripadamu. Sebab ketika kamu datang suatu negeri, kamu tidak akan menemukan seorang pun untuk diterima dengan keramahtamahan. Namun demi kebaikanmu, hal itu akan diambil darimu, supaya apa yang lebih baik dapat diberikan kepadamu. Kesulitan akan diambil darimu, dan istirahat akan diberikan kepadamu. Kamu masih ada di lautan, tetapi ia [Maria] sudah ada di pelabuhan. Sebab rasa manis kebenaran bersifat kekal. Di hidup [di dunia] ini rasa tersebut bertambah, dan di kehidupan berikutnya, rasa manis tersebut akan menjadi sempurna, dan tak akan diambil daripadamu” (St. Augustine, in Catena Aurea, Luk 10:38-42).

Dari pengajaran St. Agustinus ini, kita mengetahui bahwa tindakan melayani sesama itu baik, melayani tugas-tugas di gereja juga baik, namun itu belum cukup, jika kita belum menyediakan waktu untuk mendengarkan Tuhan Yesus. Di mana kita mendengarkan Dia? Melalui permenungan Sabda-Nya, saat kita berdoa dan membaca Kitab Suci; namun juga secara khusus, saat menerima Dia dalam Ekaristi Kudus. Saat itulah kitapun dapat menjadi seperti Maria, yang “duduk dekat kaki Tuhan” (Luk 10:339) dan mendengarkan apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita. Dalam Ekaristi, Allah menyatakan rahasia mulia yang dinyatakanNya kepada segala bangsa, yaitu ”Kristus ada di antara kamu” (Kol 1:27), sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus. Ya, Kristus ada di tengah kita dan Ia pun ada “di dalam aku”. Jika kita menyadari hal ini, tentu kita akan lebih berusaha mendengarkan Dia, dan lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan bertindak. O, seandainya saja kesadaran ini selalu ada dalam diri kita!  Sebab dengan kesadaran akan kedekatan kita dengan Yesus, kita dapat menjadi semakin peka akan suara Tuhan dalam hati kita. Namun kepekaan ini tidak otomatis ada, jika kita tidak lebih dulu dengan setia, menyediakan waktu untuk berdoa, merenungkan Kitab Suci dan menerima-Nya dalam Komuni kudus. Kita tidak akan mungkin dapat berdoa tanpa henti, jika kita tidak memulainya dengan kesetiaan berdoa di waktu-waktu tertentu dalam setiap hari. Doa pagi dan malam, doa sebelum dan sesudah makan, doa Angelus setiap jam 6 dan 12 siang, doa syukur setiap jam 3 siang mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus….

Mungkin ada baiknya kita belajar dari St. Paus Yohanes Paulus II. Yang sangat mengagumkan darinya, bukanlah hanya doa-doa hariannya, tetapi kebiasaannya untuk berdoa terus menerus tanpa henti. Orang-orang terdekatnya kerap melihatnya begitu tenggelam dalam doa yang khusyuk bahkan di tengah aktivitas sehari-hari, seperti ketika sedang berjalan menuju acara tertentu, dan itu terjadi berkali-kali sepanjang hari. Saat-saat tersebut, nampak sekali kedekatan Paus dengan Tuhan. Kardinal Christoph Schonborn berkata demikian tentang Paus, “Bapa Suci nampak seolah-olah tak pernah berhenti berdoa. Aku tak pernah melihat seorang pun yang terus menerus diresapi dalam kesatuan dengan Kristus dan Allah Bapa seperti itu sebagai keadaan permanen yang memimpinnya untuk menyerahkan segala perbuatannya ke dalam tangan Tuhan. Perhatiannya untuk sesama, sikapnya, perkataannya… semua yang dilakukannya dimandikan dalam doa…” Ia tidak mengadakan waktu untuk masuk dalam doa. Melainkan, ia, demi orang lain, mengadakan waktu untuk keluar dari doa. Kata Paus, “Begitu saya berjumpa dengan orang, saya mendoakannya.” Mereka yang beruntung dapat bertemu dengannya, tidak akan heran dengan perkataannya ini sebab Paus memberi perhatian penuh kepada setiap orang yang dijumpainya. Salah seorang sekretarisnya berkata, “Paus berdoa bagi setiap orang yang ditemuinya, baik sebelum maupun sesudah pertemuan itu…”

Sudahkah kita bersikap demikian? Jika belum, mari kita coba untuk melaksanakannya, mulai saat ini. Dan semoga Injil hari ini, dan teladan St. Maria, St. Martha, dan St. Paus Yohanes Paulus II menuntun kita untuk hidup lebih baik daripada hari kemarin. “Tuhan Yesus, buatlah aku lebih peka mendengar suara-Mu  dalam hatiku, agar apapun yang kukatakan dan kulakukan boleh berkenan kepadaMu. Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab