Home Blog Page 24

Sudah tahu, kini tinggal melaksanakan

0
Sumber gambar: https://www.lds.org/scriptures/nt/luke/10.25-37?lang=eng

[Hari Minggu Biasa XV: Ul 30:10-14; Mzm 69:14-37; Kol 1:15-20; Luk 10:25-37]

“Wah, sepertinya di Surga tak ada ahli hukum (lawyer)…. Sebab sudah sepanjang segala abad, batas antara Surga dan neraka tak bisa dinegosiasi…. Selain itu, kami-kami ini bawaannya memang mencari celah hukum… ” Demikian joke yang pernah dilontarkan oleh salah seorang teman yang mantan lawyer. Entah mengapa, lekat di pikiran kita, para ahli hukum umumnya pandai memaknai kata-kata dalam suatu peraturan,  demi mendukung suatu argumen, atau demi negosiasi untuk memenangkan kepentingan pihak yang sedang dibelanya. Tapi nampaknya, sikap macam ini juga terdapat dalam diri kita, walau kita bukan ahli hukum. Kita cenderung mencari pembenaran diri, terutama jika kita gagal melakukan perintah Allah dengan sepenuhnya.  Bacaan Injil hari ini menegur dan mengingatkan, agar kita waspada terhadap sikap “mau terlihat sudah benar” sendiri, padahal sesungguhnya kita masih jauh dari itu.

St. Sirilus menjelaskan, “Sebab terdapat sejumlah orang yang berkeliling ke seluruh negeri Yahudi, yang mendakwa Kristus dengan mengatakan bahwa Ia menganggap perintah-perintah nabi Musa tidak berguna dan bahwa Ia memperkenalkan ajaran-ajaran yang aneh. Seorang ahli hukum (ahli Taurat) bermaksud menjerat Kristus dengan tuduhan bahwa Ia melawan Musa. Ahli hukum itu datang dan mencobai Kristus. Ia memanggil Kristus sebagai ‘Guru’ walaupun ia bukan murid-Nya. Dan karena Tuhan kita biasa berbicara kepada mereka yang datang kepada-Nya mengenai kehidupan kekal, maka sang ahli hukum ini turut mengambil gaya bahasa tersebut. Dan karena ia mencobai Kristus dengan halus, maka ia tidak menerima jawaban yang lain daripada perintah yang telah diberikan oleh Nabi Musa. Sebab dikatakan, Yesus berkata kepadanya, Apa yang tertulis dalam hukum Taurat (hukum Musa)? Apa yang kau baca di sana? Ketika sang ahli hukum menjawab hal-hal yang terkandung dalam hukum itu, Kristus yang mengetahui segala sesuatu, memotong jaring-jaringnya yang penuh tipu daya. Sebab dikatakan, dan Yesus berkata kepadanya, Jawabmu itu benar! Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.

Sang ahli taurat, ketika dipuji oleh Penyelamat kita karena telah menjawab dengan benar, menjadi sombong, dengan berpikir bahwa ia tidak memiliki ‘sesama’, seolah tak ada seorang pun yang bisa dibandingkan dengannya dalam hal kebajikan. Maka dikatakan, tapi untuk membenarkan dirinya sendiri, ia berkata lagi kepada Yesus, ‘Dan siapakah sesamaku?’… Dari kelicikan yang dengannya ia mau mencobai Kristus, ia beralih kepada kesombongan. Tapi di sini dengan bertanya, siapa sesamaku, ia membuktikan kepada dirinya sendiri, bahwa ia tak punya kasih kepada sesamanya, sebab ia tidak menganggap seorang pun sebagai sesamanya. Demikian pula ia tak punya kasih kepada Allah, sebab ia yang tidak mengasihi sesama yang dapat dilihatnya, tak dapat mengasihi Allah yang tidak dapat dilihat-Nya.

…maka tepatlah  Tuhan kita bertanya kepada ahli hukum itu; siapakah di antara ketiga orang ini yang menjadi sesama manusia bagi orang yang telah jatuh ke tangan penyamun itu? Kata sang ahli hukum, orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Sebab bukan imam maupun suku Lewi yang menjadi sesama bagi orang yang menderita itu, tetapi hanya orang Samaria itu yang berbelas kasihan kepadanya. Sebab percumalah martabat imamat dan pengetahuan sebagai ahli hukum Taurat, jika mereka tidak meneguhkannya dengan perbuatan-perbuatan baik. Oleh karena itu, Yesus berkata kepada ahli hukum Taurat itu, Pergilah dan perbuatlah demikian!” (St. Cyril, Catena Aurea (Luk 10:25-37).

Memang tak berlebihan, jika dikatakan bahwa bacaan Sabda Tuhan hari ini sudah kita ketahui, dan bahkan sudah akrab di pendengaran kita. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, itu intinya. Bukankah perintah ini memang sudah sering diulang dalam banyak khotbah dan renungan kita? Namun seberapa jauh kita peka untuk melaksanakannya, itulah masalahnya. Sebab dorongan untuk mencintai Tuhan dan sesama, sebenarnya sudah ditanamkan Allah dalam hati setiap orang. Maka Nabi Musa pun sudah berkata, “Firman itu sangat dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu; hendaklah engkau melaksanakannya” (Ul 30:14).

Jadi bacaan hari ini mengingatkan kita untuk berbuat kasih.  Menurut St. Faustina, mengasihi sesama itu bisa diwujudkan dengan tiga cara. Pertama, dengan perbuatan kasih, kedua, dengan perkataan dan ketiga, dengan mendoakan. Tentu perbuatan kasih adalah sesuatu yang secara langsung dapat membantu sesama yang sedang kesusahan. Namun jika hal itu tidak dapat dilakukan karena sesuatu hal, kita dapat menghibur mereka dengan perkataan. Jika hal tersebut juga tidak mungkin, kita tetap dapat mendoakan orang tersebut. Semoga Tuhan  memampukan kita untuk terus mengasihi sesama—entah dengan perbuatan, perkataan maupun doa—demi kasih kita kepada-Nya.

Ya Tuhanku, aku mengasihiMu di atas segala sesuatu, dengan seluruh hati dan jiwaku, sebab Engkau sepenuhnya baik dan layak menerima segenap kasihku. Aku mengasihi sesamaku seperti mengasihi diriku sendiri, demi kasihku kepada-Mu. Aku mengampuni semua orang telah menyakiti hatiku dan aku mohon ampun atas segala dosaku yang pernah kulakukan terhadap sesamaku. Amin.”

“Lord, please give us ‘Vocation Boom’!”

0
Sumber gambar: http://hdimagelib.com/catholic+priest+praying

[Hari Minggu Biasa XIV: Yes 66:10-14; Mzm 66:1-20; Gal 6:14-18; Luk 10:1-20]

Menurut Annuarium Pontificum (Buku Tahun Kepausan) 2015 dan  Annuarium Statisticum Ecclesiae (Buku Tahunan Statistik Gereja) 2013 yang dikeluarkan di Vatikan tanggal 16 April 2015 pagi, dikatakan bahwa jumlah umat Katolik di seluruh dunia sampai bulan Februari 2015 adalah 1.254.000.000 (sekitar 1.25 milyar) meningkat 139 juta umat dari tahun 2005. Dengan jumlah imam sekitar 400 ribu-an, membuat rasio perbandingan imam dan umat adalah satu orang imam melayani sekitar 3000 umat. Suatu perbandingan yang sepertinya sangat kurang. Maka sangat relevan sepertinya, pesan dalam Injil Minggu ini, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Sebab itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu…” (Luk 10:2) Pesan Tuhan Yesus jelas, tetapi apakah kita sudah melakukannya atau mengambil bagian di dalamnya, itulah yang menjadi persoalannya. Apakah kita sudah turut mendoakan dan mendorong bertumbuhnya panggilan untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati? Bagaimana sikap kita jika Tuhan memanggil salah seorang dari anak-anak kita sendiri untuk menjadi imam atau bruder atau suster? Sebab sudah menjadi kehendak Allah bahwa panggilan religius tidak terpisahkan dari rencana Allah untuk mengalirkan rahmat keselamatan kepada umat-Nya, dan menyediakan bagi kita suatu tanda yang hidup tentang bagaimana menanggapi rahmat Allah itu dengan mengambil cara hidup yang sama dengan cara hidup Tuhan Yesus sendiri ketika Ia hidup sebagai manusia di dunia ini (lih. 1Yoh 2:6).

Bacaan Pertama hari ini mengisahkan betapa Allah akan “mengalirkan keselamatan seperti sungai” kepada umat-Nya di Yerusalem, yang menjadi gambaran akan Gereja-Nya. Tuhan sendiri akan menghibur umat-Nya; dan bagi semua orang yang menjadi milik-Nya, Tuhan akan menurunkan damai sejahtera dan rahmat (Gal 6:14-18). Bacaan Injil kemudian menjelaskan, bagaimana Yesus mengutus tujuh puluh murid-Nya secara berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota yang hendak dikunjungi-Nya, untuk pertama-tama mengalirkan “damai sejahtera” kepada rumah yang mereka kunjungi. St. Agustinus mengatakan, “… Seperti tak ada yang meragukan bahwa keduabelas rasul menggambarkan golongan para Uskup, demikianlah juga kita mesti mengetahui bahwa ketujuhpuluh murid ini melambangkan golongan penatua, yaitu golongan kedua, yang adalah para imam” (St. Augustine, Catena Aurea, Luk 10:1-2).

Menanggapi Injil hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah yang dapat kita lakukan untuk mengambil bagian dalam pewartaan karya agung keselamatan Tuhan, sebagaimana yang telah kita nyanyikan dalam Mazmur hari ini. Walaupun memang kita—dengan cara yang berbeda-beda—dipanggil untuk membawa damai kepada sesama kita, kita tak boleh mengabaikan maksud yang lebih implisit yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus dalam Injil ini. Yaitu, agar kita mengambil bagian dalam mendorong timbulnya atau bertumbuhnya panggilan imamat dalam Gereja. Kita bisa melakukannya dengan cara mendoakannya, memberikan kontribusi dana dan tenaga untuk mempromosikan panggilan dan pendidikan calon imam, atau memupuknya dalam keluarga kita sendiri, agar Tuhan berkenan memanggil dari antara anak-anak kita, untuk menjadi imam. Mungkin kita perlu belajar, misalnya dari paroki St. Agnes di St. Paul Minnesota USA, yang setiap Minggunya berdoa bersama dalam perayaan Ekaristi, agar memanggil dari antara kaum muda di parokinya untuk menjadi imam, maupun kaum religius. “…Lord, we need more priests… Give us holy priests. May You deign to call among the youth of our parish to be Your priests….,” demikian penggalan doa yang kuingat diucapkan oleh seluruh umat dalam setiap Misa hari Minggu. Tradisi paroki yang telah dimulai sejak 30 tahun silam telah membuahkan hasil. Rata-rata setiap tahunnya, dari paroki tersebut terpanggillah seorang dari kaum mudanya untuk menjadi imam, dan sejumlah lainnya menjadi bruder dan suster. Sejak tahun 2000 sampai 2007, ada 11 imam ditahbiskan dari paroki tersebut, yang merupakan ⅙ dari jumlah 61 imam yang ditahbiskan di keuskupan tersebut—yang mencakup 200 paroki. Namun memang panggilan ini, bukan hanya buah dari doa, tetapi juga dari kerja keras para imam dan biarawati yang mendidik anak-anak di sekolah Katolik yang menjadi kesatuan dengan paroki tersebut. Suatu permenungan mungkin, bagi para pemimpin Gereja Katolik di Indonesia, para pendidik dan umat Katolik sendiri, yang terpanggil untuk mengusahakan sekolah Katolik yang tidak hanya baik dari segi akademis, tetapi  juga  dalam menanamkan nilai-nilai iman Katolik yang meresap dalam keseluruhan sistem pendidikannya. Agar majunya pendidikan Katolik juga dibarengi dengan majunya panggilan imamat dan religius, sebab dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kekudusan.

Di akhir permenungan kita hari ini mari kita bersyukur kepada Tuhan atas karunia para imam bagi Gereja. “Ya, Tuhan, kami bersyukur atas karunia panggilan imamat yang Engkau berikan kepada para gembala kami. Sebab melalui mereka, kami menerima rahmat keselamatan dan dapat selalu dikuatkan dengan santapan rohani. Kami mohon, sertailah para imam dan para calon imam, agar mereka dapat hidup setia seturut panggilan-Mu, dan dapat menjadi teladan bagi kami. Tuaian memang banyak, namun pekerjanya sedikit. Ya Allah, kami mohon kirimkanlah kepada kami pekerja-pekerja kepada tuaian itu. Our heavenly Father, in Your mercy, hear our prayer, for more than ever, now we need, ‘Vocation Boom’. This we ask through Christ our Lord. Amen.”

Mengikut Yesus tanpa melihat ke belakang

0
Sumber gambar: http://frmurchadh.blogspot.co.id/2013/06/13th-sunday-of-year-c-gospel-luke-951.html

[Hari Minggu Biasa XIII: 1Raj 19:16-21; Mzm 16:1-11; Gal 5:1, 13-18; Luk 9:51-62]

Bacaan Injil hari ini mungkin membuat kita mengernyitkan kening. Sebagai seorang Yahudi, Tuhan Yesus kan sudah tahu bahwa orang-orang Samaria tidak bergaul dengan orang-orang Yahudi, lalu mengapa Ia mau mampir ke desa orang Samaria dan mengirimkan utusan ke sana untuk mendahului Dia? Mengapa sudah tahu akan ditolak, tetapi Ia malah mau sengaja ke sana? St. Sirilus menjelaskannya demikian, “Tetapi Tuhan kita, yang mengetahui segala sesuatu sebelum semuanya terjadi, telah mengetahui bahwa para utusan-Nya tidak akan diterima oleh orang-orang Samaria. Namun demikian Ia tetap memerintahkan mereka untuk mendahului-Nya, sebab adalah kebiasaan-Nya untuk membuat segalanya menghasilkan kebaikan bagi para murid-Nya. Saat itu Ia pergi ke Yerusalem sebab saat penderitaan-Nya telah mendekat. Agar mereka tidak terhina ketika melihat diri-Nya menderita, dengan membawa dalam pikiran bahwa mereka juga harus menanggung dengan sabar ketika orang-orang menganiaya mereka, maka Ia menentukan sebelumnya, sebagai negeri pembuka, penolakan ini dari orang-orang Samaria. Juga hal itu baik bagi para murid dalam hal lainnya. Sebab mereka kelak akan menjadi para pengajar di dunia, yang menjelajahi kota-kota dan desa-desa, untuk mewartakan ajaran Injil, adakalanya akan bertemu dengan orang-orang yang tidak mau menerima ajaran suci, yang tidak mau Yesus tinggal di dunia bersama mereka. Oleh karena itu, Yesus mengajar mereka, bahwa dalam mengajarkan ajaran ilahi, mereka harus dipenuhi kesabaran dan kelemahlembutan, tanpa kepahitan dan kemarahan dan tanpa permusuhan sengit melawan mereka yang telah bersalah kepada mereka. Tetapi mereka tidak demikian. Tidak, dengan dibangkitkan oleh semangat bernyala, mereka malah mau mendatangkan api dari langit atas orang-orang Samaria itu. Maka dikatakan, ‘Ketika Yakobus dan Yohanes melihat ini, mereka berkata, Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?….’ ” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 9:51-56)

Kisah Injil hari ini mengajak kita merenung. Biasanya, apa reaksi kita jika kita tahu bahwa kita akan ditolak: kita tetap mencoba, atau kita menghindar? Kecenderungan manusia adalah, menghindar saja, mundur teratur. Lebih aman, dan tidak perlu mengalami sakit hati. Tetapi kalau semua orang berpikir demikian dan memutuskan demikian, barangkali, sampai sekarang kita pun belum mengimani Yesus. Kita dapat mengenal Yesus karena pengorbanan dari sejumlah orang yang berabad lalu mau bersusah-payah mewartakan Injil ke negara kita. Mereka rela mencoba walaupun tahu bahwa mungkin pewartaannya tidak serta merta diterima dengan mudah. Maka kalau kita sekarang dipanggil untuk mewartakan Injil, sesungguhnya tantangannya tetap sama. Jika keadaannya sulit, maukah aku tetap mewartakan Injil? Maukah aku tetap mengikuti Yesus? Sebab sekalipun kita mengalami penolakan, selalu ada jalan yang dibukakan oleh Tuhan, agar kita tetap dapat melaksanakan panggilan hidup kita.

Panggilan hidup kita secara umum adalah untuk hidup kudus. Namun secara khusus, tiap-tiap orang mempunyai panggilan hidupnya sendiri-sendiri, entah berkeluarga, atau single, atau selibat untuk Kerajaan Allah. Tapi apapun panggilan hidup kita itu, kita dipanggil untuk mengikuti Yesus sepenuhnya, dan menempatkan hal-hal ilahi sebagai yang utama dalam hidup kita. St. Ambrosius mengajarkan, “Tetapi Allah memanggil orang-orang yang kepada mereka Ia berbelas kasih. Maka Yesus berkata, biarlah orang mati menguburkan orang mati. Karena kita telah menerima sebagai kewajiban keagamaan untuk menguburkan orang mati, lalu bagaimana bahkan  menguburkan ayah dilarang, kecuali kamu harus memahaminya bahwa hal-hal manusiawi harus ditangguhkan, jika dibandingkan dengan hal-hal ilahi? Sebab hal itu adalah pekerjaan baik, tetapi lebih banyak merintangi, sebab seseorang yang terbagi cita-citanya, menurunkan perhatian terhadap pengejarannya,  orang yang terbagi perhatiannya, memperlambat pencapaiannya. Pertama-tama kita harus menanggalkan hal-hal yang paling berpengaruh. Sebab para rasul juga, agar mereka tidak disibukkan oleh tugas pembagian derma, menugaskan para pelayan diakon untuk melakukan hal ini bagi kaum miskin.” (St. Ambrose, Catena Aurea, Luk 9: 57-62).

Yesus mengajak kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri: “Apakah yang paling merintangi hubungan kasihku dengan Tuhan?” Sebab dapat terjadi sesuatu perbuatan yang sepertinya netral dan bahkan baik, dapat merintangi hubungan kasih kita dengan Tuhan. Contohnya, kesukaan berlebihan terhadap hobby tertentu, kesenangan menonton film/ TV atau memburu info tentang gonjang ganjing politik negeri ini. Atau kesenangan kita main game atau selalu “online” di hp, sampai kurang mempunyai perhatian terhadap orang-orang di sekitar kita, dan bahkan terhadap Tuhan. Atau pikiran kita tersita untuk berbagai pekerjaan dan perhatian untuk hal-hal duniawi. Dalam hal yang paling sederhana—misalnya saat berdoa—pikiran kita pun rentan melayang kepada hal-hal tertentu, yang akhirnya mengganggu keeratan kita dengan Tuhan.  Atau kita begitu sibuk terlibat dalam kegiatan gerejawi, namun kurang bersungguh-sungguh menyediakan waktu untuk berdoa dan membina hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus. Semoga sabda Tuhan hari ini mendorong kita untuk menanggalkan keterikatan dengan hal-hal yang merintangi hubungan kita dengan Tuhan dan lebih mengarahkan hati kepada hal-hal ilahi. Sebab dengan demikian, kita dapat lebih penuh mengikuti Tuhan Yesus, tanpa menoleh ke belakang karena memikirkan apa-apa yang masih menjadi perhatian kita, yang membuat kita mendua hati. Sebab Tuhanlah Penolong kita, yang di dalam-Nya kita menemukan perlindungan dan ketentraman yang sejati.

Semoga kita dapat melambungkan Mazmur hari ini, dengan sepenuh hati, “Bahagia, kuterikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhanku. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung….”

Memandang Ia yang telah mereka tikam

0
Sumber gambar: http://www.backtoclassics.com/gallery/tintoretto/crucifixion-detail/

[Hari Minggu Biasa XII: Za 12: 10-11; 13:1; Mzm 63:2-9; Gal 3:26-29; Luk 9:18-24]

“Ini ada sedikit oleh-oleh dari Spanyol…,” ujar seorang teman. Aku membuka kotak kecil yang nampak dari luar seperti kotak obat pil. Begitu kubuka, kulihat selembar kertas berisi tulisan dalam bahasa Spanyol, yang seperti menuliskan indikasi dosis obat. Tetapi yang di dalam kotak itu bukan obat. Tetapi adalah sebuah Crucifix (Yesus yang tersalib) yang terbuat dari logam perak, sebesar sekitar 7 cm. Walau aku tidak paham bahasa Spanyol, tapi kupikir mungkin secarik kertas instruksi itu menuliskan semacam anjuran untuk sejenak berdoa memandang atau memegang Crucifix itu di beberapa kesempatan dalam sehari. Aku terhenyak. Berapa kali sehari aku memandang Salib Tuhan Yesus? Berapa kali sehari aku mengucapkan terima kasih kepada-Nya yang telah ditikam karena dosa-dosaku dan dosa seluruh dunia?

Kitab Nabi Zakaria yang kita baca hari ini mengingatkan kita bahwa ratusan tahun sebelum Yesus lahir, kematian-Nya ditikam demi “membasuh dosa dan kecemaran” (Za 12:10; 13:1) telah dinubuatkan. Yesus menggenapi nubuat itu, sebagai seorang dari keturunan Daud yang dibunuh di Yerusalem dengan cara disalib dan ditikam. Jika kubaca Kitab Raja-raja yang mencatat banyak nama raja keturunan Daud, tak ada satupun yang memenuhi nubuat ini. Adakah orang yang pernah meninggal secara demikian tragis seperti yang dialami Tuhan Yesus? Ditikam karena dosa-dosa orang lain? Yang karena kesuciannya dapat membasuh kecemaran? Sungguh, hanya Tuhan Yesus yang menggenapi nubuat ini. Ia adalah Sang Kurban yang tahir, yang mencurahkan darah-Nya agar kita semua yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup di dalam Dia. Demikianlah pengajaran Perjanjian Lama yang menghubungkan darah dengan nyawa/ kehidupan dan bahwa pendamaian terhadap dosa selalu dihubungkan dengan korban nyawa (lih. Im 17:11,14), mempersiapkan kita untuk semakin menghargai pengorbanan Kristus. Larangan makan darah makhluk apapun yang ditetapkan di sana, adalah untuk mempersiapkan kita agar kita menerima Darah Sang Putra Allah, yang mendamaikan kita dengan Allah dan dengan sesama kita. Ia yang adalah Sang Mesias, Putra Allah yang hidup, rela mencurahkan darah-Nya bagi kita, agar kita memperoleh “nyawa-Nya”, yaitu hidup ilahi-Nya. Oleh pengorbanan Kristus, kita yang telah dibaptis dalam kematian-Nya dapat disatukan dalam darah-Nya, dan dengan demikian, “mengenakan” Kristus (Gal 3:27). Dengan disatukan dengan Kristus, kita pun disatukan dengan semua orang yang sama-sama telah menerima darah-Nya itu. Kehidupan ilahi yang tercurah melalui darah-Nya menyatukan perbedaan suku, bangsa, status dan berbagai perbedaan lainnya. Mengapa? Karena kita menyadari bahwa Tuhan kita telah menyerahkan nyawa-Nya demi semua orang, untuk mendamaikan semua orang.

Semoga setiap kali kita memandang salib Kristus, kita dipenuhi rasa syukur kepada-Nya. Semoga kita dapat berkata seperti yang dikatakan Rasul Petrus, “Yesus, Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup” (Luk 9:20; bdk. Mat 16:16). Terima kasih tak terhingga atas pengorbanan-Mu untuk menyelamatkan aku dan seluruh dunia.” Namun ungkapan pengakuan iman itu, juga membawa konsekuensi. Sebab dengan mengakui Kristus sebagai Penyelamat kita, kita pun diajak-Nya untuk mengikuti jejak-Nya. Yaitu, tidak ragu berkorban bagi orang lain, ataupun dengan rela memikul salib yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita, supaya kita dapat memperoleh penggenapan janji keselamatan-Nya itu. Sebab Yesus Sang Mesias berkata, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk 9:23).

Kini aku semakin menyadari dan menghargai tradisi Gereja Katolik yang selalu memasang Crucifix dalam gedung-gedung gereja dan menggunakannya dalam berbagai doa dan ibadat. Sebab memang Kristus telah bangkit mulia, namun sebelum itu Ia terlebih dahulu melalui salib dan kematian-Nya. Salib dan kematian-Nya itu menjadi tanda yang paling jelas akan penggenapan nubuat para nabi, bahwa Ia adalah sungguh Sang Mesias dari Allah. Salib yang dipandang dunia sebagai penghinaan dan penghukuman, dijadikan Allah sebagai sumber kemuliaan dan rahmat.  Sebab Allah Sang pemberi hidup pernah tergantung dan ditikam di sana, serta mencurahkan darah-Nya yang maha mulia, demi kasih-Nya kepada kita. Untuk menebus dosa-dosaku dan dosa-dosamu.

Kupandang Crucifix itu, dan berdoa, “Tuhan Yesus, Engkaulah Mesias dan Penyelamatku. Betapa hatiku bersyukur untuk pengorbanan-Mu. Semoga Engkau memampukan aku untuk mengikuti jejak-Mu. Agar aku tidak cepat urung dan mengeluh dalam menjalani kehidupan yang kerap menuntut pengorbanan dan kerja keras; ataupun penderitaan yang menyertainya. Semoga kuingat pesan-Mu hari ini, bahwa jika aku setia memikul salibku setiap hari bersama Engkau, maka Engkau akan berkenan menyelamatkan aku. Mengingat besarnya kasih-Mu, bantulah aku juga untuk dapat merindukan agar semakin banyak orang juga memperoleh keselamatan yang daripada-Mu. O, Tuhan Yesus, terimalah ucapan syukur dan kasih-ku. Amin.”

Diselamatkan melalui pertobatan, iman dan kasih

0
Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Anointing_of_Jesus#/media/File:Bouts_anoiting.jpg

[Hari Minggu Biasa XI: 2Sam 12:7-10.13; Mzm 32:1-11; Gal 2:16-21; Luk 7:36-8:3]

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini jelas berbicara tentang pentingnya pertobatan, iman dan perbuatan kasih, agar kita dapat diselamatkan. Bacaan pertama, mengisahkan pertobatan Raja Daud, yang ditegur Tuhan melalui Nabi Natan, karena Daud telah mengambil Batsyeba istri Uria untuk dijadikan istrinya, setelah ia membunuh Uria melalui pedang orang Amon. Allah tidak berkenan dengan perbuatan Daud ini. Sebagai konsekuensi dari dosanya ini, anak Daud dari Batsyeba ini meninggal dunia, dan pedang tak pernah menyingkir dari keturunan Daud. Namun Daud bertobat. Allah menerima pertobatannya itu, dan tidak membinasakan dia (lih. 2Sam 12:9-13). Dari perikop ini, kita mengetahui pentingnya pertobatan. Demikian pula, Mazmur hari ini mengajak kita untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita di hadapan Tuhan, agar kita memperoleh pengampunan dari-Nya. Sedangkan di Bacaan Kedua, Rasul Paulus menekankan pentingnya iman dalam Kristus (lih. Gal 2:18).

Bacaan Injil pun menekankan pesan yang serupa, namun lebih lengkap. Injil Lukas menjabarkan pertobatan wanita yang berdosa, yang dengan perbuatannya menunjukkan kasihnya yang besar kepada Tuhan Yesus (Luk 7:36-50, 8:1-3). Tradisi Latin—mengikuti ajaran St. Gregorius Agung—mengajarkan bahwa kejadian serupa yang dicatat oleh keempat Injil mengacu kepada wanita yang sama. Tetapi tradisi Gereja Timur Yunani umumnya menganggap kejadian di Injil Lukas ini berbeda dengan yang dikisahkan di ketiga Injil lainnya, dan banyak komentator modern mengadopsi pandangan ini. Menurut tradisi Latin,  St. Lukas tidak menyebutkan nama wanita ini, karena memang sesuai dengan gaya penulisannya yang halus dan hati-hati. Namun dari begitu besarnya kasih yang dinyatakan wanita itu kepada Yesus, bahkan ia tak malu menyatakan pertobatannya di hadapan umum, itu menunjukkan betapa besar dosa yang pernah dibuatnya. Ini mengacu kepada wanita yang dikenal dengan nama Maria Magdalena.  St. Gregorius Agung menjelaskan tentang pertobatan wanita itu demikian, “Sebab matanya yang dulu mengidamkan hal-hal dunia, kini ia jadikan aus oleh tangis penyesalan. Ia yang dulu menampilkan rambutnya untuk mempercantik wajahnya, kini ia menyeka air matanya dengan rambutnya…. Ia yang dulu menyombongkan diri dengan mulutnya, kini mencium kaki Tuhan, dan menekankan bibirnya di kaki Penebusnya. Dia yang dulu menggunakan minyak urapan  untuk mengharumkan tubuhnya; apa yang tak layak digunakan untuk dirinya sendiri, kini secara terpuji dipersembahkannya kepada Tuhan… Sebagaimana banyak kenikmatan yang dulu dimilikinya untuk dirinya sendiri, demikianlah banyak persembahan yang diberikan dengan rincinya dari dirinya sendiri. Ia mengubah begitu banyak kesalahannya menjadi banyak kebajikan yang setimpal, sehingga sebanyak itu dari dirinya dapat sepenuhnya melayani Allah dengan pertobatannya, seperti dahulu ia telah menghina Allah dengan dosa-dosanya….” Dengan ungkapan pertobatannya yang sedemikian, Tuhan Yesus berkenan mengampuni wanita itu. Tuhan Yesus memandang ungkapan tobat wanita itu sebagai tanda iman dan kasihnya kepada Allah. Saudara-saudara kita yang menganut paham “hanya iman saja (sola fide)” yang menyelamatkan, sering mengutip Luk 9:50 sebagai dasarnya, yaitu perkataan Yesus, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” Namun kita tidak boleh mengabaikan perkataan Yesus juga yang dicatat di beberapa ayat sebelumnya. Yaitu, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih” (Luk 9:47). Demikianlah, nampak bahwa iman itu agar menyelamatkan harus dinyatakan dengan perbuatan kasih, dan iman tak terpisah dari perbuatan kasih. Dengan membaca Injil hari ini, mari kita sadari bersama, bahwa untuk memperoleh pemahaman yang lengkap akan kehendak Tuhan, kita tidak bisa hanya mengambil satu ayat saja, dan mengabaikan ayat-ayat yang lain.

Selanjutnya Injil hari ini juga mengingatkan kita untuk waspada, agar jangan memiliki sikap menyerupai orang Farisi, yang memandang rendah orang berdosa, dan bahkan mengkritik Tuhan yang mau mengampuni orang berdosa. Tentang orang Farisi itu, St. Gregorius berkata, “Tetapi orang Farisi itu, dengan melihat tindakan dan persembahan  wanita itu malah merendahkannya, dan mencari-cari kesalahan, tak hanya kesalahan wanita itu yang sebelumnya adalah pendosa, tapi juga Tuhan Yesus yang menerimanya. Karena dikatakan, orang Farisi yang menyambutNya itu, berbicara dalam hatinya, ‘Kalau orang ini adalah nabi, ia akan mengetahui siapa dan orang seperti apa wanita ini yang telah menyentuh dia.’ Kita melihat bahwa orang Farisi ini sungguh menyombongkan diri sendiri, dan budinya munafik, dengan ia menyalahkan wanita yang sakit ini karena penyakitnya, dan sang Tabib ini karena bantuannya….”

Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita? St. Gregorius melanjutkan, “Ketika memandang orang-orang berdosa, kita harus pertama-tama meratapi diri kita sendiri karena malapetaka yang mereka alami, sebab mungkin kita telah mengalami kejatuhan yang serupa, dan pasti cenderung pada kejatuhan yang serupa tersebut. Tapi penting bahwa kita dengan seksama membedakan, karena kita wajib untuk membuat pembedaan (menjauhkan diri) dengan sifat-sifat buruk, tetapi untuk memiliki belas kasih dalam sifat-sifat mendasar….” (St. Gregory, Catena Aurea, Luk 36:50). Demikianlah, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk waspada akan kelemahan kita sendiri, supaya kita tidak memandang rendah kepada orang lain yang melakukan kesalahan. Sebab bisa jadi, jika kita ditempatkan pada situasi yang sama dengan orang itu, kita pun dapat jatuh kepada dosa yang sama, atau bahkan dalam cara yang berbeda, kitapun pernah jatuh dalam kesalahan yang serupa. Semoga kesadaran ini membuat kita lebih bijaksana: tidak lekas menghakimi orang lain, namun juga berjuang keras menjauhkan diri dari dosa-dosa.  

Tuhan, terima kasih atas sabda-Mu hari ini. Bantulah aku agar tidak jatuh dalam dosa, dan agar sekalipun aku jatuh, aku dapat bergegas untuk bertobat. Buatlah aku sepenuhnya memahami, bahwa rahmat keselamatan yang kuterima saat Baptisan harus selalu kujaga, dengan pertobatan yang terus menerus, keteguhan iman dan perbuatan kasih kepada-Mu dan kepada sesamaku. Amin.

Iman dan Praktek Iman Gereja Mengatasi Kuasa Kegelapan

0
Sumber gambar: https://twcdaily.files.wordpress.com/2015/10/jesus-casting-out-demons.jpg?w=663&h=410

1. Kuasa Kegelapan

Setan atau Iblis sang kegelapan yang jahat, si jahat, awalnya ialah malaikat ciptaan Allah. Mereka ialah makhluk rohani yang punya kebebasan dan kemauan. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan banyak pernyataan mengenai setan dan bagaimana perlawanannya terhadap Kristus dan pemerintahan Kristus. Kitab Yesaya melukiskan kejatuhan malaikat dalam kegelapan (Yes 14:12-15). Bintang Timur, putra Fajar dalam Alkitab berbahasa Indonesia itu diterjemahkan dari bahasa latin “Lucifer”. Alasan kejatuhan itu ialah pemberontakan dan kesombongannya. Dengan itu munculah kuasa kegelapan

Iblis (eks malaikat) menjadi yang terjahat. Para setan tetap berada dalam hirarki yang sama seperti dulu yang diberikan ketika masih malaikat: Pemerintah (Principalities), Singgasana (Thrones), Kerajaan (Dominion), dan seterusnya. Ia disebut pula pangeran dunia, penguasa kegelapan, pendusta, pendengki, si jahat dan semacamnya. Karena mereka pendusta, maka bisa saja ia berdusta, berbohong mengancam, memutarbalikkan fakta dan semacamnya. Tujuannya hanya satu, ialah menghalangi atau menjauhkan manusia dari Kristus. Mereka iri mengapa Sabda Allah menjadi manusia, memberontak, dilemparkan ke bumi (Lihat kitab Wahyu 12). Dalam Perjanjian Baru, Iblis digambarkan sebagai penganggu dan penyesat manusia, batu sandungan bagi rencana Allah. Ia terang-terangan menantang Yesus (Mat 4:1-11//Mrk 1:12-13// Luk 4:1-13). Iblis menyusup masuk dalam lingkaran terdalam murid Kristus (Luk 22:3). Namun mereka dikalahkan oleh Allah.

Penginjil Yohanes mengisahkan hidup Yesus dalam konteks pertempuran antara terang dan gelap, kuasa baik dan kuasa jahat. Yesus ialah yang dari allah, Sang Terang yang mengusir kegelapan, mengusir penguasa dunia (Yoh 12:31; 14:30; 16:11). Iblis menyamar dalam diri orang yg memusuhi Yesus. Maka Yudas Iskariot disebut Iblis (Yoh 6:70-71; 13:2,27). Kaki tangan kekuasaan Yahudi bekerja sama dengan Yudas dan dianggap bekerja sama dengan iblis (Yoh 6:17). Yohanes melukiskan iblis tidak bekerja sendirian tetapi memakai manusia sebagai alatnya.  Dalam Surat-Surat Paulus, Iblis digambarkan menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:13-15), musuh yg halus, licin, berbahaya dan mematikan (2 Kor 12:7). Pinbtu masuk iblis ialah buah roh yang jahat (Gal 5: 19-21). Kesombongan menjadi batu yang menyandung orang jatuh dalam jerat iblis (1 Tim 3:6-7). Iblis menggoda utk perzinahan (1 Kor 7: 5). Senjata melawannya ialah perlengkapan senjata Allah (Ef 6:11-20).  Dalam Surat-Surat katolik,  iblis selalu menentang Allah namun selalu kalah. Yang bersama allah tak kan berhasil dijatuhkan iblis. Anak-anak iblis ialah yang membenci saudara (1 Yoh 3:10). Iblis membawa dosa masuk ke dunia (1 Yoh 3:8). Kuasa iblis itu kuat (1Yoh 5:19), ia berkuasa atas maut (Ibr 2:14). Namun yang berssama dengan Allah tak kan dikuasai iblis (1Yoh 5:18). Kita harus berjaga-jaga dan melawannya dengan iman (1 Ptr 5:8-9), melawan dengan berani dan taat pada Allah (Yak 4:7).

Setan bagaimanapun ciptaan Allah dan atas sepengetahuan/seizin Allah mereka bergerak dengan kehendak bebas. Seperti juga bahwa kejahatan meruyak di dunia oleh kehendak bebas manusia, setan pun bergerak menyebarkan kejahatan dengan kehendak bebasnya. Mengenai bagaimana lepasnya lagi Iblis dari neraka, juga merupakan misteri Ilahi. Dalam Kitab Wahyu 12, iblis dikalahkan oleh St Mikael dan dibuang ke bumi (Why 12:7). Pertempuran berlanjut di dunia. Yang jelas, Kristus memerintahkan dengan penuh cinta kasih, para malaikat dan para kudus serta Bunda Maria sendiri untuk membantu kita dengan perlindungan dan doa-doa mereka untuk melawan si jahat. Akhirnya Iblis akan dikalahkan (Why 20:10).

2. Pergulatan Gereja VS Kuasa Kegelapan

Konsili Vatikan II (1962-1965) menyebut dengan jelas perlawanan setan dan perjuangan Gereja melawannya: “Sebab seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula (Gaudium et Spes artikel 37). “Akan tetapi manusia yang diciptakan Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Manusia memberontak melawan Allah dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, namun mereka tidak mau memuliakanNya sebagai Allah melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta” (GS artikel 13). “Allah telah mengutus PutraNya dalam daging kita. Allah bermaksud merebut manusia dari kuasa kegelapan iblis (Ad Gentes artikel 3).

“Maka, mereka yang menyangkal keberadaan dan kegiatan iblis, tak mampu memahami pencapaian yang dilakukan oleh Kristus”. Orang Katolik berdasar credo (syahadat, khususnya syahadat yang panjang) percaya bahwa ada makhluk yang tidak tampak pun diciptakan oleh Allah Bapa. Iblis yang dikalahkan Kristus berperang melawan pengikut-pengikut Kristus. Pertempuran melawan roh-roh jahat “dimulai sejak awal dunia dan menurut amanat Tuhan akan tetap berlangsung hingga kiamat” (GS artikel 37). Maka tugas kita ialah berusaha agar dalam segalanya berkenan pada Tuhan (bdk. 2Kor 5:9). Kita pun harus “mengenakan perlengkapan senjata Allah supaya kita mampu bertahan menentang tipu muslihat setan serta mengadakan perlawanan pada hari yang jahat… Sebab sebelum memerintah bersama Kristus dalam kemuliaanNya, kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus supaya masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidupnya ini, entah itu baik atau jahat” (bdk. 2Kor 5:10, LG 48).

3. Bagaimana Gereja Menghadapi-nya?

Meskipun peperangan melawan iblis berlangsung dengan melibatkan semua manusia sepanjang zaman, namun kekuasaan iblis menghebat jika kedosaan dan kemerosotan moral masyarakat meningkat. Hendaknya kita mengingat perkataan Santa Theresia Avilla  yang meminta kita menghapuskan ketakutan yang tak beralasan mengenai setan ini. Santa Teresia Avilla mengatakan: “…saya tidak pernah takut pada mereka melainkan tampaknya merekalah yang takut pada saya. Saya tidak pernah memberikan perharian kepada mereka lebih dari kepada lalat-lalat. Saya rasa mereka ialah pengecut. Musuh-musuh ini tidak tahu bagaimana menyerang, kecuali menyerang mereka yang takluk kepada mereka, atau ketika Allah mengizinkan mereka melakukan itu demi kebaikan yang lebih besar bagi pelayan-pelayan-Nya… Kita memahami bahwa kerusakan yang lebih besar dapat menimpa kita akibat satu dosa ringan dibandingkan dari seluruh neraka bersatu karena hal ini demikianlah adanya. Betapa para setan ini membuat kita takut karena kita ingin dibuat takut melalui keterikatan-keterikatan lain: terhadap penghormatan, kepemilikan dan kesenangan-kesenangan! … Namun jika kita membenci itu semua untuk Allah dan kita memeluk salib serta melayani Allah, maka setan akan kabur. Setan ialah sahabat dusta dan kebohongan dan setan ialah dusta dan kebohongan itu sendiri. Setan tidak akan membuat perjanjian dengan siapapun yang berjalan dalam kebenaran”.

Setan bisa merasuki manusia. Siapa yang bisa melepaskan orang dari kerasukan setan? Siapapun pengikut Kristus dan setiap orang serta komunitas yang berseru dalam nama Yesus Kristus mampu melakukannya dengan baik dan mereka harus dalam kondisi batin yang benar (bebas pendoa, biasa puasa dan pantang, rajin menerima ekaristi dan sakramen tobat). Namun hal ini harus dalam rangka pelayanan, bukan mencari keuntungan pribadi. Dalam Gereja Katolik, walaupun tiap orang baik awam maupun imam diberi kuasa (dan untuk imam kuasanya khusus karena imamatnya), namun secara resmi, praktek  mengenai hal ini hanya diberikan oleh Uskup dan hanya untuk imam-imam tertentu saja. Maksudnya agar ketertiban dan fokus pastoral keuskupan tetap terjaga. Maka yang penting bagi umat dan imam pada umumnya ialah melakukan tugas sebaik-baiknya di bidang masing-masing dan saling berkomunikasi dengan baik. Buah-buah dari karya pelayanan ini pastilah baik jika dilakukan menurut ketaatan pada otoritas Gerejawi setempat. Kegiatan di luar itu disebut pelepasan atau pembebasan dari setan, bukan eksorsisme, karena eksorsisme sebenarnya ialah ritual atau upacara sakramentali yang ada buku pedomannya, seperti halnya tata ibadat lainnya dalam Gereja Katolik.

Menghadapi kuasa kegelapan, Katekismus Gereja Katolik (KGK) menyatakan dengan tegas melarang umat melakukan kerjasama dengan kuasa kegelapan (okultisme dll).

KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8.. Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

Itulah sebabnya, orang yang sudah dibaptis dan menerima Kristus pun bisa kerasukan karena di samping setan itu makhluk rohani yang punya kebebasan untuk menyerang ataupun pasif, manusia pun ialah makhluk yg punya kebebasan untuk melakukan apapun termasuk melakukan hal-hal yg melemahkan dirinya sendiri, seperti melakukan dosa, ataupun menyerahkan orang lain pada pihak si jahat. Yudas ialah contoh paling tepat untuk hal ini. Setelah ia menyantap roti bersama Kristus, ia malah kerasukan iblis.

KGK 2117 Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

Perlawanan Gereja terhadap kegelapan  jelas dari buku “Upacara Sakramentalia untuk Eksorsisme”,  buku resmi tahun 1985. Pada tahun 1999 telah diterbit buku yang baru. Buku-buku eksorsisme ini, baik yang lama (1985) maupun yang baru (1999)  belum diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Indonesia oleh Komisi Liturgi KWI. Dalam buku ini disebut sarana-sarana sakramentalia yaitu air suci, air suci, minyak suci, garam yang diberkati, salib, dan benda-benda kudus lain, serta stola imam. Memang, karena buku sakramentalia eksorsisme merupakan pegangan imam, seperti halnya buku “Tata Perayaan Ekaristi” dan buku-buku sakramen lainnya, maka hanya imamlah yang boleh melakukan upacara eksorsisme menurut dengan langkah-langkah dalam buku itu. Sedangkan di luar itu tidak boleh disebut sebagai eksorsisme melainkan pelepasan yang bisa dilakukan siapapun dalam nama Yesus Kristus. Ada pula buku pegangan untuk awam untuk pelepasan ini dengan persyaratan tertentu.

 

Dalam pergulatan ini, Gereja dianugerahi upacara sakramentalia eksorsisme. Upacara ini untuk kasus kerasukan setan yang berat. Untuk kasus ringan biasa, setiap orang katolik yang berdisposisi baik (penuh rahmat, tidak berdosa berat) bisa melakukannya dengan doa-doa standard (Rosario, doa kepada malaikat agung St Mikael, dengan air berkat, garam berkat). Eksorsisme berasal dari bahasa Yunani ”exousia” yang berarti ”kewenangan, kekuasaan”. Doa eksorsisme berarti melalui imam Gereja memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk menggunakan kewenangan-Nya mendesak roh jahat yang sedang melawan kehendak Allah.Jadi, eksorsisme ialah doa permohonan yang rendah hati dilambungkan bagi Allah yang Mahakuasa dan Yesus Kristus putra-Nya.

Dalam tradisi agama-agama, roh-roh jahat diusir dengan suara gaduh dengan memukul lonceng, gong dsb, atau dengan memukuli si korban dengan maksud agar roh-roh jahat itu keluar dari tubuhnya. Dalam tradisi agama Yahudi, roh-roh jahat sering diusir dengan menyuruh mereka masuk ke benda atau hewan, misalnya ke biji mata anjing atau ke babi-babi (mirip dengan yang dilakukan Yesus pada Luk 8:30). Cara Yesus mengusir setan tidak berbelit. Ia menggunakan sabda-Nya ssaja. Para murid Yesus terkadang tak sanggup mengusir roh jahat (Luk 9: 38-43). Karena itu, Yesus menekankan pentingnya doa dan puasa untuk mengusir roh jahat tertentu (Mat 7:21). Iman ialah kunci bagi keberhasilan eksorsisme (Mrk 9:18,19). Sekalipun sudah diusir, roh jahat bisa kembali dengan kekuatan lebih besar (Mat 12:43-45).

Setelah kebangkitan Kristus, para murid mempraktekkan eksorsisme atas nama-Nya. Ada eksorsis Yahudi yg gagal mengusir setan sekalipun menyebut nama Yesus dan paulus, malahan dipukuli setan, sedangkan para murid Kristus berhasil mengusirnya (Kis 19:13-16). Kain yang pernah dipakai paulus dipakai untuk mengusir roh jahat (Kis 19:11-12). Setelah generasi para rasul meninggal, generasi berikutnya melanjutkan mempraktekkan eksorsisme. Waktu itu itu tidak ada penunjukan atau kursus, langsung praktek saja asalkan bersih dari dosa berat dan beriman kuat. Sejak abad ke-3, mengingat bahaya penyalahgunaan, Gereja mulai memilih imam tertentu untuk eksorsisme dan penyembuhan. Pada abad pertengahan, upacara eksorsisme mulai dibukukan. Eksorsisme kemudian memakai buku, dengan rumusan baku yang ditentukan oleh Gereja, bukan lagi berupa doa spontan. Eksorsisme meriah menjadi upacara liturgi resmi Gereja dan hanya boleh dilakukan oleh imam yang mendapat tugas dari uskup. Akhir abad 19, Paus Leo XIII mendapat penglihatan bahwa roh-roh jahat berusaha menyerang Roma. Maka beliau kemudian merumuskan doa eksorsisme yang kemudian dimuat dalam ”Rituale Romanum”, yaitu seruan kepada malaikat agung St Mikael.

Eksorsisme hanya bisa dilakukan setelah mengetahui bahwa korban sungguh di bawah pengaruh roh jahat, bukan karena pengaruh psikologis dan medik. Karena itu imam eksorsis didampingi tim medik dan psikologis. Biasanya roh jahat menolak pergi dan melawan balik imam eksorsis. Perlawanan ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun. Maka harus dilakukan banyak sekali (berkali-kali) eksorsisme karena terkadang bukan hanya satu jenis roh jahat yang merasuki melainkan banyak jenis. Roh-roh kegelapan itu pergi sendiri ketika mereka memutuskan untuk pergi atau dengan rela, atau karena desakan kekuatan doa eksorsisme. Sekali diusir, roh jahat tak kan kembali lagi kecuali si korban mengundangnya kembali sekalipun tidak sadar bahwa mengundang kembali. Sekuat apapun roh jahat, mereka menyerah pada kekuatan Allah.

 

4. Kekuatan Surgawi Sakramen Ekaristi

Pada banyak kasus kerasukan, setan membebaskan orang itu dari cengkeramannya hanya dengan meletakkan korban di hadapan Sakramen Mahakudus. Mengapa?

Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik mewartakan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial, di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan sesuai janji-Nya mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

Karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (lih. KGK 1378).

Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti] selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup!

Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384), dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambutNya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385).

Kelebihan hosti yang dikonsakrir sebagai Tubuh Kristus, disimmpan dalam taberbakel. Pada beberapa Paroki, sudah dibangun “Kapel Adorasi Abadi 24 jam” yang di dalamnya ditahtakan Sakramen mahakudus dan dijaga bergiliran oleh umat yang berkanjang dalam doa. Devosi Adorasi Sakramen Mahakudus ini membuat Gereja makin berpendar dalam kasih ilahi.

5. Ekaristi ialah Kristus

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ‘saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ‘saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ‘saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

6. Buah-buah Ekaristi/ Komuni kudus

  • Komuni memperdalam persatuan kita dengan Yesus, hal ini berdasarkan atas perkataan Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (KGK 1391).
  • Komuni memisahkan kita dari dosa, karena dengan mempersatukan kita dengan Kristus kita sekaligus dibersihkan dari dosa yang telah kita lakukan dan melindungi kita dari dosa-dosa yang baru (KGK 1393).
  • Ekaristi membangun Gereja di dalam kesatuan. Oleh Ekaristi Kristus mempersatukan kita dengan semua umat beriman menjadi satu Tubuh, yaitu Gereja. Ekaristi memperkuat kesatuan dengan Gereja yang telah dimulai pada saat pembaptisan (KGK 1396). Kesatuan dengan Gereja ini mencakup Gereja yang masih berziarah di dunia, Gereja yang sudah jaya di Surga, dan Gereja yang masih dimurnikan di dalam Penyucian (lih. KGK 954)
  • Ekaristi mewajibkan kita menolong kaum miskin, sebab dengan bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi, kita juga mengakui Kristus yang hadir di dalam orang-orang termiskin yang juga menjadi saudara-saudara-Nya (KGK 1397), yang di dalam Dia, menjadi saudara-saudara kita
  • Ekaristi mendorong kita ke persatuan umat beriman, sebab Ekaristi, menurut perkataan Santo Agustinus adalah ‘sakramen kasih sayang, tanda kesatuan dan ikatan cinta (KGK 1398) yang seharusnya secara penuh dialami bersama oleh semua orang yang beriman di dalam Kristus.
  • Ekaristi yang disanbut dengan kerinduan yang berkobar menghalangi kejahatan merasuki dunia.

7. Sakramen-Sakramen Lain

Sakramen-sakramen lain khususnya Baptis, Krisma Tobat, Pengurapan Orang Sakit, menolong kita lebih bersatu dengan Kristus dan menjauhkan kita dari serangan setan. Hanya yang dengan rendah hati mengakui kedosaan dan diampuni dalam sakramen tobat, serta menjalankan penitensi akan menjauhkan dirinya dari kejahatan dan si jahat itu sendiri. Sakramen pengurapan orang sakit membantu si sakit berjumpa dengan Kristus dan diselamatkan dari godaan dalam penderitaan sakitnya.

8. KESIMPULAN

Kuasa kegelapan ada sejak malaikat memberontak pada Allah. Mereka memengaruhi manusia agar jauh dari Allah dan rencana penebusan-Nya. Manusia berjuang menghadapi kegelapan yang ada dari luar yang mau mempengaruhi ke dalam diri.  Selain itu, manusia pun masih harus menghadapi kebebasan dalam dirinya sendiri yang bisa disalahgunakan sehingga berdosa yang membuat dia jauh dari Allah. Allah menganugerahkan Kristus yang dijanjikan sejak Perjanjian Lama hingga dipenuhi dalam sengsara wafat dan kebangkitan Kristus, yang dengan itu menganugerahkan ekaristi sebagai kekuatan utama, dan sakramen-sakramen Gereja serta sakramentalia eksorsisme.  Manusia yang beriman pada misteri rencana Allah ini dan menerima Kristus dan Gereja-Nya, mengalami keselamatan dan perlindungan. Secara khusus, ekaristi membuat manusia hidup dalam kekuatan Ilahi di dunia untuk menguatkan hidup dan menyalurkan rahmat pada keluarga, sesama dan masyarakat, membebaskan manusia dari kegelapan oleh Sang Terang yaitu Tuhan Yesus Kristus.

 

9. Doa Melawan Iblis (Gubahan Bapa Suci Paus Leo XIII)

”Santo Mikael Malaikat agung, jagalah kami dalam pertempuran, jadilah pelindung kami melawan kejahatan dan tipu daya si jahat. Dengan rendah hati, kami memohon kepadamu, semoga Allah menghardik setan, dan engkau, Pangeran bala tentara surga, dengan kekuatan Allah, lemparkanlah ke dalam neraka, setan dan roh-roh jahat yang mengembara di dunia untuk mengancurkan jiwa-jiwa.” Amin.

 

*******

Romo Yohanes Dwi Harsanto (Romo Santo), kini Pastor Kepala Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta

*******

Sumber: www.katolisitas.org  khususnya: https://katolisitas.org/169/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi  dan https://katolisitas.org/5698/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan

Sr. Eligia CB, “Pengusiran Setan oleh Awam (Deliverence)”, seri 5 Pembaruan Karismatik Katolik, Pustaka Yogyakarta: Nusatama, 2005.

Gabriel Amorth, “Seorang Eksorsis Menceritakan Kisahnya”, Jakarta:  MCI, 2011

Fr. Jose Francisco C. Syquia, “Exorcist” volume One, Makati City: St. Pauls Phippines , 2012

Ibid, volume Two

Albertus Purnomo, OFM, ”Iblis dalam Alkitab”, Yogyakarta, Kanisius, 2012

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab