Home Blog Page 223

Pendidikan iman Katolik anak sejak usia dini di dalam keluarga, paroki dan sekolah

43

Tak kenal maka tak sayang

Pada tanggal 1 April 2010, kami di Katolisitas menerima pesan yang sungguh tajam, yang diawali dengan kalimat demikian, “Salam dari Sydney, Australia. Saya adalah bekas pengikut agama Katolik yang sekarang pindah ke Kristen [Protestan]. Penyebabnya adalah dikarenakan karena pengajaran agama Katolik tidak benar-benar berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi…. hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan. Tetapi Alkitab adalah datang dari Tuhan. Mungkin hal ini berat untuk dimengerti bagi kalian di Indonesia yang tidak pernah tahu tentang sejarah agama Katolik. Semoga suatu hari mata kalian terbuka.”

Demikianlah pesan yang kami terima dari Sherly, Australia. Komentar ini merupakan awal dari dialog yang panjang antara dia dengan kami di Katolisitas. Namun semua tanggapan- tanggapannya malah menunjukkan suatu fakta bahwa sesungguhnya, Sherly-lah yang belum sempat memahami ajaran Gereja Katolik yang sebenarnya, sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan Gereja Katolik. Demikianlah, pandangan Sherly ini menjadi pandangan umum yang mungkin dimiliki oleh banyak orang yang pindah dari Gereja Katolik ke gereja- gereja non- Katolik. Sayang memang, bahwa mereka pindah sebelum sungguh-sungguh mengenal iman Katolik mereka. “Tak kenal maka tak sayang”, nampaknya inilah yang terjadi. Banyak orang Katolik tidak dengan sungguh mengenal iman Katolik, sehingga mereka dengan mudah berpindah ke gereja- gereja lain.

Alasan orang pindah Gereja

Walaupun ada banyak alasan yang dikemukakan, namun setidaknya, berikut ini adalah beberapa alasan mengapa orang Katolik berpindah ke gereja lain. Umumnya, alasannya adalah karena mereka merasa imannya tidak bertumbuh di Gereja Katolik; mereka berpikir bahwa ajaran Gereja Katolik itu salah/ tidak sesuai dengan Alkitab; mereka merasa orang- orang Katolik hidupnya tidak baik dan mereka merasa tidak diperhatikan di dalam Gereja Katolik.

Alasan- alasan semacam ini sesungguhnya menunjukkan adanya kerapuhan akar iman Katolik dalam diri orang yang bersangkutan, di samping ada hal-hal yang memang perlu diperbaiki dalam kehidupan menggereja dan proses katekese di dalam Gereja Katolik. Namun, adalah satu kenyataan, bahwa mereka tidak sungguh- sungguh mengenal dan menghayati imannya, sehingga mudah terpengaruh, gampang ragu, atau akhirnya apatis sambil mengatakan, “ah, kan semua agama sama saja”. Secara obyektif harus diterima, bahwa akar permasalahan ini sesungguhnya berawal dari kurangnya pendidikan iman Katolik pada anak- anak Katolik, sejak usia dini, baik di dalam keluarga, paroki maupun sekolah. Sebab, jika iman sudah berakar sejak usia dini, sesungguhnya seseorang tidak akan pernah meragukan imannya atau dengan mudah berpindah gereja, atau bahkan berpindah agama.

Sekarang, mari kita lihat permasalahan pendidikan iman Katolik, mulai dari menggambarkan kondisi ideal dan membandingkannya dengan kondisi yang banyak dialami oleh keluarga, paroki dan sekolah. Setelah itu, kita akan melihat secara mendalam tentang tantangan di masing-masing tingkatan serta usulan-usulan untuk memperbaikinya.

Idealisme dan kenyataan

1. Seluruh bagian dari Tubuh Mistik Kristus saling bahu membahu

Adalah suatu impian dari Gereja, bahwa semua anggota dari Tubuh Mistik Kristus saling bahu membahu menciptakan suatu iklim, di mana setiap umat Allah dapat terus berjuang dalam kekudusan, sehingga pada akhirnya seluruh umat Allah dapat sampai pada Tanah Terjanji, yaitu Surga. Sungguh menjadi suatu kondisi yang begitu ideal, jika keluarga -sebagai Gereja yang terkecil- menjadi tempat di mana anak-anak mendapatkan pondasi yang kokoh dalam iman Katolik dan anak-anak dapat belajar untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dengan kata lain, keluarga menjadi tempat di mana anak-anak dapat bertumbuh dalam kekudusan.

Situasi yang kondusif di dalam keluarga untuk bertumbuh dalam kekudusan seyogyanya berlangsung terus-menerus, juga ketika anak-anak berada di sekolah. Keluarga dan sekolah harus bersama- sama melakukan pembentukan dan pembinaan karakter anak- anak untuk menjadi seperti pribadi Kristus. Pendidikan sekolah yang baik berfokus pada pembentukan anak-anak untuk menemukan jati dirinya sebagai anak-anak Allah, dan membantu anak-anak untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan pikiran. Kasih kepada Tuhan ini juga dimanifestasikan dalam mengasihi sesama, yaitu anak-anak dilatih untuk menjadi seseorang yang tidak hanya memikirkan kepandaian/ kebaikan sendiri, namun juga mengusahakan kebaikan bagi orang lain. Sekolah menjadi suatu tempat, di mana anak-anak dapat memusatkan perhatian pada sesuatu yang benar- benar baik, benar, dan indah (the good, truth, and beautiful); dan bahwa di dalam kebersamaan, sesuatu yang baik, benar dan indah tersebut, semakin menampakkan buah- buahnya.

Selanjutnya, setelah mendapatkan pondasi iman di dalam keluarga dan sekolah, maka Gereja di tingkat paroki memberikan kesegaran kepada anak-anak dengan memperkuat pondasi iman, menyegarkan dan menguatkan anak-anak dengan sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Anak- anak yang mengikuti Bina Iman di paroki dilatih untuk mengetahui dan mengasihi Sabda Allah dan iman Katolik. Pada saat yang bersamaan, orang tua juga dapat memperdalam iman mereka dengan mengikuti berbagai kegiatan pembinaan iman di paroki, sehingga mereka dapat mengajarkan iman Katolik yang benar kepada anak-anak mereka di dalam keluarga.

Dengan kondisi yang kondusif di keluarga, sekolah dan paroki, anak-anak dapat dibentuk dan diarahkan untuk memberikan dirinya kepada Tuhan, dan masyarakat sekitarnya, sehingga pada akhirnya kekristenan dapat membentuk masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Kristiani.

2. Bagian-bagian dari Tubuh Mistik Kristus belum saling mendukung.

Namun, sayangnya kondisi yang kondusif  di keluarga, paroki maupun di sekolah, seperti yang digambarkan di atas, sering tidak kita jumpai; entah karena semua bagian kurang menjalankan fungsinya atau hanya satu atau dua bagian yang menjalankan fungsinya dengan baik. Betapa sering kita menjumpai keluarga-keluarga, di mana orang tua, yang walaupun keduanya Katolik, tidak memperhatikan pendidikan iman anak-anaknya, atau hanya seolah-olah mencukupi kebutuhan fisik anak-anak. Hal ini dipersulit dengan kondisi pekerjaan dan kemacetan di kota-kota besar, sehingga orang tua kurang mempunyai waktu yang cukup bagi anak-anaknya.

Kondisi yang kurang mendukung di dalam keluarga diperparah dengan kondisi yang cukup memprihatinkan di dalam pendidikan di sekolah. Sebagian sekolah non-Katolik tidak memberikan pendidikan Katolik dengan baik, bahkan kadang-kadang mengajarkan pokok-pokok iman yang bertentangan dengan iman Katolik. Sekolah Katolik sendiri mulai kehilangan identitasnya, di mana nama ‘Katolik’ seolah hanya diartikan sebatas memberikan pelajaran agama Katolik seminggu sekali dan Misa bersama sebulan sekali. Padahal sangatlah penting untuk melakukan pendekatan yang holistik untuk menyampaikan pendidikan iman yaitu: iman Katolik yang merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan di sekolah, di setiap mata pelajaran, dan di setiap kegiatan di sekolah untuk membentuk karakter anak dengan baik, sehingga mereka tidak hanya bertumbuh dalam hal intelektual, tetapi juga dalam hal kekudusan.

Kondisi yang kurang ideal dapat juga terjadi dalam kehidupan menggereja di tingkat paroki. Secara umum, paroki-paroki cenderung lebih menekankan akan banyaknya kegiatan tanpa memperhatikan kesinambungan pembinaan iman secara terus-menerus, dari tingkat anak-anak, remaja, dewasa.

Dikotomi dalam pendidikan iman Katolik

1. Kontinuitas vs hit and run

Kalau kita amati, ada banyak kegiatan-kegiatan di dalam gereja yang bersifat hit and run, artinya  program-program tersebut diselenggarakan sesekali dalam satu tahun dan kemudian selesai tanpa koordinasi dengan program-program yang lain, tanpa ada tindak lanjut dari program tersebut setelah acara selesai. Program-program seperti ini memang lebih mudah dilaksanakan dan dikoordinasikan, namun hanya mempunyai efek sesaat. Sedangkan, program-program yang bersifat berkesinambungan kurang mendapat perhatian yang serius. Kemungkinan sebabnya adalah karena program-program seperti ini membutuhkan komitmen yang besar, dan umumnya kurang memperlihatkan efeknya dalam waktu singkat, walaupun dapat memberikan efek jangka panjang yang lebih efektif. Sebagai contoh, program-program seminar sehari di paroki dengan topik yang bermacam-macam menjamur sepanjang tahun. Namun, program-program seperti pendampingan kehidupan perkawinan, pembinaan rohani komunitas basis, pembinaan iman OMK yang menuntut pengorbanan yang tinggi dan komitmen yang terus menerus dari para pembinanya tidak terlalu mendapatkan prioritas dalam kehidupan menggereja. Pembinaan ini sesungguhnya harus mengambil kekuatannya dari Kristus sendiri yang hadir dalam sakramen- sakramen, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat. Maka pertanyaannya menjadi semakin menjurus tajam: Sejauh mana paroki yang menginginkan pertumbuhan iman umat mengadakan Adorasi Sakramen Mahakudus? Adakah kapel adorasi di paroki? Sudahkah menggiatkan umat untuk mengikuti Misa harian di paroki maupun di Lingkungan? Sudahkah membuka kesempatan Pengakuan Dosa, sedapat mungkin setiap hari? Sudahkah menggiatkan doa rosario dan pendalaman Kitab Suci dalam keluarga? Tentunya, semua ini harus didasari oleh katekese yang baik kepada umat, sehingga umat dapat mengetahui manfaat yang luar biasa yang dapat mereka peroleh dari rahmat Tuhan yang tersedia bagi kita semua melalui doa, Sabda Tuhan, dan terutama melalui sakramen- sakramen, yang bersumber pada Misteri Paska Kristus.

Demikian juga, gejala ‘hit and run’ terjadi dalam keluarga dan sekolah. Lebih mudah bagi orang tua  untuk mengirim anak-anak mengikuti retret daripada membuat komitmen untuk setiap malam membacakan Alkitab kepada anak- anak, karena hal ini menuntut pengorbanan orang tua dalam hal waktu dan tenaga. Demikian juga kondisi di sekolah, mengirim murid- murid untuk mengikuti program live-in ke desa- desa akan terasa lebih mudah dilaksanakan, daripada mengintegrasikan iman Katolik secara konsisten dalam setiap sendi kehidupan sekolah. Padahal, bukankah penerapan iman yang baik tidak semata dicapai dengan cara “hit and run“, melainkan harus terus menerus menjadi bagian dari kehidupan seseorang, atau mungkin lebih tepat, menjadi gaya hidup umat beriman? Dan untuk menjadi gaya hidup, tidak ada cara lain, kecuali bahwa nilai- nilai iman harus diterapkan secara konsisten dari mulai hal-hal terkecil sampai ke hal-hal besar, di berbagai sendi kehidupan, dan dimulai dari anak-anak sejak usia dini.

Pernahkah kita berfikir, mengapa ada sebagian umat Katolik yang setelah mengikuti pelajaran agama selama satu tahun, namun pengetahuan Alkitabnya kurang dibandingkan dengan sebagian umat Kristen non Katolik yang tidak menjalani pelajaran agama namun langsung diterima di dalam jemaat? Melihat fakta ini, mungkin memang kualitas proses dan bahan katekese di Gereja Katolik secara umum kurang memadai. Sementara gereja Kristen non-Katolik giat melakukan proses pendidikan iman secara terus menerus dengan menerapkan komunitas basis/ cell-group, Gereja Katolik yang melakukan kegiatan katekese selama satu tahun itu kurang menindaklanjutinya dengan pembinaan iman yang bersifat terus menerus. Tentu saja, kita tidak dapat menutup mata bahwa ada paroki-paroki yang telah menjalankan pembinaan umatnya secara terus-menerus, namun adalah suatu tantangan agar semua paroki di tanah air juga dapat menerapkan hal serupa, agar semua umat Katolik dapat terus bertumbuh dalam iman dan kekudusan, sesuai dengan pesan Konsili Vatikan II, Lumen Gentium bab V: Panggilan kepada semua orang untuk hidup kudus.

2. Pembinaan spiritualitas vs aktivitas

Berapa sering kita mendengar diskusi yang seru untuk menyusun program dan aktivitas di dalam pertemuan dewan paroki harian maupun pertemuan besar dewan paroki pleno. Mereka merencanakan diadakannya seminar, pertemuan rutin, retret keluarga, dan segudang kegiatan lainnya. Program-program seperti ini adalah sesuatu yang baik. Namun, apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa pada akhirnya semua kegiatan ini harus mempunyai satu tujuan, yaitu membawa umat Allah untuk bertumbuh dalam kekudusan, yang menuntun kita masuk ke dalam Kerajaan Surga? Dengan demikian, apakah program-program berikut ini pernah dipikirkan: Bagaimana agar umat dapat terdorong untuk mengaku dosa secara teratur misalnya sebulan sekali? Bagaimana agar umat dapat sesering mungkin berpartisipasi dalam Sakramen Ekaristi? Bagaimana agar umat giat dalam menggali Sabda Allah; dan bagaimana agar umat dapat bertumbuh dalam kasih, dll?

3. Preventif vs kuratif

Ada banyak orang tua yang mengeluh, mengapa anaknya menjadi sulit diatur. Para guru di sekolah mengeluh bahwa anak jaman sekarang sungguh sulit dididik. Tidak ketinggalan romo paroki mengeluh, umat sekarang senantiasa ingin dimanja dan dituruti kemauannya. Para orang tua bertanya mengapa anaknya melakukan kenakalan di luar kewajaran. Pihak sekolah bertanya-tanya mengapa anak-anak tidak mempunyai semangat belajar dan kurang bertanggungjawab serta menganggap iman Katolik hanya sebatas slogan belaka. Dan pihak paroki mempertanyakan mengapa umat seolah-olah lesu darah, kurang mau berpartisipasi dalam kehidupan menggereja, terjadi pertentangan antara satu seksi dengan seksi yang lain. Pada saat semua ini terjadi, maka yang dilakukan adalah mulai mencari jalan bagaimana mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Dengan perkataan lain, kegiatan-kegiatan lebih bersifat kuratif dan bukan preventif. Kegiatan banyak yang bersifat jangka pendek, namun kurang memikirkan strategi jangka panjang.

4. Dibangun di atas batu vs dibangun di atas pasir

Ada banyak contoh dari umat yang berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain, karena mereka tidak benar-benar mengetahui pengajaran Gereja Katolik dengan baik, seperti yang ditunjukan oleh contoh di atas. Dalam konteks ini, maka seseorang tidak boleh hanya menghafal doktrin, namun harus mengerti alasan di balik doktrin Gereja Katolik, yang dapat dijelaskan dengan prinsip tiga pilar kebenaran, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Namun, untuk mengajarkan hal ini kepada umat diperlukan pendekatan yang benar, dengan mempertimbangkan umur dan kondisi orang yang bersangkutan. Dengan mengerti alasan yang benar di balik pengajaran iman Katolik, maka seseorang tidak mudah untuk diombang-ambingkan oleh pengajaran-pengajaran lain, yang mungkin bertentangan dengan iman Katolik. Hanya tahu dan hafal doktrin tanpa mengetahui alasannya secara mendalam adalah sama saja dengan membangun rumah di atas pasir (lih. Mt 7:26-27). Dia tidak dapat bertahan terhadap hujan dan angin pengajaran yang bertentangan dengan iman Katolik, karena tidak mempunyai pondasi yang kuat.

Sebagai contoh, dalam buku “Ikutilah Aku” dari Pankat KAS, hal 131 dituliskan alasan mengapa umat Katolik menghormati Maria, yaitu: 1) Maria Bunda Allah, 2) Maria tetap perawan, 3) Maria tanpa noda, 4) Maria diangkat ke Sorga. Penjelasan tersebut tidak salah, namun kurang lengkap, sehingga kurang membekali para calon baptis (katekumen) dengan pengertian yang baik. Empat hal di atas memang menjelaskan tentang empat dogma tentang Bunda Maria, namun kurang menjelaskan alasan mengapa umat Katolik menghormati Bunda Maria. Apakah penghormatan kita kepada Maria diukur dari apakah kita percaya bahwa Maria diangkat ke Surga? Apakah umat Kristen non-Katolik dapat menerima penjelasan umat Katolik dengan empat alasan di atas? Mengapakah kurang ditekankan, bahwa kita menghormati Maria, karena Allah telah terlebih dahulu memilih dan menghormatinya? Mengapakah kurang diberitahukan dasar- dasar Alkitabiahnya yang menyatakan hal itu, dan bahwa Gereja sejak abad- abad awal juga telah menghormati Maria?

5. Isi vs cara

Sebenarnya isi dan cara bukanlah hal yang bertentangan, namun keduanya saling mendukung. Yang penting, pada akhirnya katekumen mendapatkan pengertian yang menyeluruh akan rencana keselamatan Allah ((Paus Yohanes Paulus II, Catechesi Tradendae, 30-31)). Dalam konteks pendidikan iman Katolik kepada anak-anak di keluarga, para orang tua yang telah memikirkan tentang isi dan caranya sudah maju selangkah, karena ada sebagian orang tua Katolik yang mungkin bahkan tidak memikirkan hal tersebut. Namun, dalam konteks paroki, seharusnya isi dan cara harus dipikirkan secara lebih serius, sehingga tercapai kualitas pembinaan iman yang baik, entah di tingkat anak-anak, remaja maupun dewasa, termasuk pasangan yang akan menikah. Apakah kita pernah mendengar keluhan dari orang tua yang mengatakan bahwa di Bina Iman anak hanya banyak diajari mewarnai dan menggambar? Cara memang penting untuk mengajarkan iman Katolik, sehingga anak-anak dapat mengerti iman Katolik dengan baik. Namun, cara yang baik tanpa ditunjang isi yang berbobot tidaklah dapat dibenarkan.

Dalam konteks katekese dewasa, kita dapat melihat bahwa materi yang ada sekarang, sebenarnya kurang memadai untuk memaparkan pokok-pokok iman Katolik secara menyeluruh. Hal ini dapat terlihat bahwa setelah pembinaan satu tahun, banyak umat masih belum memahami imannya dengan baik, sehingga dengan mudahnya mereka terbawa pada pengajaran yang tidak sesuai dengan iman Katolik. Ada yang mengusulkan bahwa cara katekese harus diperbaiki, entah dengan drama, dll. Namun, dari hasil pengamatan, sebetulnya cara-cara tersebut dapat menjadi bumerang, karena dapat mengambil waktu pengajaran yang memang jelas-jelas sangat minim. Sebagai contohnya, dalam kurikulum “Ikutilah Aku”, pembahasan tentang Trinitas (bab 34, hal. 100-102) hanya dilakukan satu sesi (sekitar 1-1,5 jam). Bagaimana seseorang dapat memahami esensi Trinitas dalam satu pertemuan yang harus ditambah dengan metode-metode yang dipandang menarik. Bagaimana dengan pendidikan iman Katolik di sekolah? Memang pendidikan iman Katolik di sekolah tetap harus memperhatikan cara, namun isi pengajaran juga harus diperhatikan. Memperhatikan cara lebih utama daripada isi adalah sama dengan terlalu memperhatikan kemasan dibandingkan dengan isi yang sebenarnya. General Catechetical Directory menegaskan bahwa tidaklah cukup untuk membangkitkan pengalaman spiritual tanpa dibarengi dengan perjuangan untuk mengerti keseluruhan kebenaran akan rencana Allah ((lihat Congregation for the Clergy, Ad Normam Decreti, General Catechetical Directory, 38)) dengan cara mempersiapkan umat beriman untuk mengerti Kitab Suci dan Tradisi yang hidup dalam Gereja. ((Ibid., 24))

6. Holistik vs sporadis

Salah satu kekuatan dari Gereja Katolik adalah hirarki yang tersusun sangat rapi, baik di tingkat stasi, paroki, keuskupan, satu negara dan tingkat dunia. Menjadi suatu kekuatan yang begitu besar, kalau di banyak tingkat, terutama di tingkat keuskupan dan seluruh keuskupan di negara yang sama dapat menyediakan materi dan sumber yang benar-benar dapat membantu proses pendidikan iman Katolik sejak usia dini. Namun, sering dijumpai bahwa banyak dari antara guru bina iman, katekis merasa tidak mempunyai materi yang memadai. Perlu dipikirkan bagaimana menggali potensi yang ada di dalam Gereja Katolik, sehingga memungkinkan kita mempunyai bahan dan metode pengajaran iman Katolik yang dapat dijangkau oleh seluruh umat beriman dari berbagai tempat. Yang perlu dipikirkan adalah memberikan informasi selengkap mungkin, sehingga memungkinkan katekis untuk memilih bahan yang ada dan menerapkannya secara kreatif pada peserta yang mempunyai latar belakang, umur, budaya dan pendidikan yang berbeda.

Kurangnya pendidikan iman anak sejak usia dini

Mari, kita melihat permasalahan dan tantangan ini secara lebih mendalam. Hal kurangnya pendidikan iman anak sejak usian dini terlihat tidak saja di rumah/ di tengah keluarga, tetapi juga di sekolah, bahkan di sekolah Katolik, dan juga di paroki. Seandainya sudah ada sekalipun, patutlah kita pertanyakan, apakah sudah cukup memadai, terutama jika ada cukup banyak umat Katolik yang meninggalkan Gereja Katolik.

1. Kurangnya pendidikan iman Katolik di dalam keluarga

Dewasa ini ada banyak anak- anak yang menganggap rumah hanya sebagai tempat makan dan tidur. Kedua orang tua sibuk dengan urusan mereka masing- masing, sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan anak- anak. Jika berkomunikasi tentang hal- hal yang sehari- hari saja sudah kurang, apalagi pembicaraan tentang Tuhan dan iman Katolik. Kurangnya perhatian dari orang tua ini mengakibatkan anak- anak mencari kesenangannya sendiri, asyik dengan dunia mereka sendiri, dan mencari pemenuhan kebutuhan mereka untuk diperhatikan dan dikasihi dengan cara mereka sendiri. Sebagian mungkin mendapatkannya dari permainan game di komputer/ internet, chatting di FB (Face book), BBM (BlackBerry Messenger), nonton TV atau jalan- jalan/ shopping di Mall. Anak- anak dewasa ini berkembang menjadi pribadi yang cenderung individualistik daripada berorientasi komunal dan berinteraksi langsung dengan orang- orang di sekitar mereka. Atau, kesenangan sesaat dan kehidupan hura- hura yang serba instan menjadi pilihan banyak anak muda sekarang ini. Soal iman? Bagi mereka sepertinya hanya prioritas kedua, atau bahkan bahkan tidak menjadi prioritas sama sekali. Soal Tuhan? Mungkin kurang menarik perhatian mereka. Dalam kondisi ini, orang tua seolah tak berdaya, dan akhirnya menyerah sambil berkata, ‘Jaman sekarang memang berbeda dengan jaman dulu…. Sekarang terserah anaknya saja deh, kita orang tua hanya dapat mendoakan…. ’

Suatu ironi, sebab seharusnya tugas utama orang tua adalah mendidik anak- anak agar mereka mengenal dan mengasihi Allah, dan karena mengasihi Allah, mereka dapat mengasihi sesama; dan dengan demikian orang tua menghantar anak- anak mereka ke Surga. Jadi sesungguhnya pembentukan karakter anak sampai menjadikan mereka pribadi- pribadi yang mengutamakan Allah, merupakan tugas orang tua. Sejauh mana hal ini dilakukan oleh para orang tua, jika sehari- harinya anak- anak menghabiskan sebagian besar waktu di depan komputer/ TV atau alat- alat komunikasi lainnya, tanpa atau sedikit sekali berkomunikasi dengan orang tua? Bagaimana orang tua dapat menampakkan wajah Tuhan bagi anak- anak, jika sehari- harinya anak- anak jarang melihat wajah orang tua mereka? Atau jika orang tua ada di rumah, apakah mereka memberikan perhatian khusus kepada anak- anak, ataukah malah sibuk dengan urusan mereka sendiri? Sejauh mana orang tua mengarahkan anak- anak, sehingga di tengah kesibukan mereka, anak- anak tetap mau berdoa dan membaca Kitab Suci?

2. Kurangnya pendidikan iman Katolik di sekolah

Pendidikan iman Katolik juga tidak mudah diperoleh di sekolah- sekolah, baik di sekolah negeri maupun juga di sekolah- sekolah Katolik sendiri. Adanya kondisi pluralitas di masyarakat kita menjadikan sekolah- sekolah Katolik sepertinya kehilangan jati diri dalam menyampaikan ajaran iman Katolik. Pendidikan iman Katolik umumnya diidentikkan dengan mata pelajaran Agama sekali seminggu, dan diadakannya Misa Kudus bagi semua murid sebanyak sebulan sekali. Dari pengalaman kami pribadi, penekanan yang lebih ditekankan adalah perbuatan baik, dan hanya sedikit pembahasan tentang iman Katolik. Akibatnya anak- anak tidak sungguh- sungguh mengenal iman Katolik, atau mengenalnya hanya sebatas hafalan dalam pelajaran Agama, namun kurang menangkap esensinya sebagai yang mendasari segala perbuatan mereka. Pengenalan akan Kristus relatif minim, sehingga anak- anak tidak atau kurang mempunyai hubungan yang pribadi dengan Kristus. Pengenalan tentang arti Gereja juga kurang memadai, sehingga mereka tidak merasa sebagai bagian di dalamnya dan tidak berkeinginan untuk membaktikan diri membangun Gereja demi kasih mereka kepada Kristus. Dalam kondisi semacam ini tak mengherankan jika angka panggilan imamat atau kehidupan religius merosot.

Pendidikan iman yang komprehensif juga nampaknya masih merupakan ‘barang langka’ di tanah air. Artinya, pendidikan iman Katolik yang terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang lain, mulai dari sejarah umat manusia, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, kesenian, dst. Para guru juga mempunyai tanggung jawab untuk tidak hanya menjadi pengajar ilmu untuk mengisi otak, namun juga teladan iman untuk mengisi hati para murid mereka. Memang untuk melakukan hal- hal ini tidak mudah, dan memerlukan kerja keras dari pihak pengajar dan koordinator kurikulum di sekolah, namun jika dilakukan, sesungguhnya sangat baik.

3. Kurangnya pendidikan iman Katolik di paroki

Di paroki, pendidikan iman Katolik pada anak- anak juga mempunyai permasalahannya sendiri. Tantangan yang dihadapi oleh para orang tua dan guru di sekolah, sebenarnya juga dihadapi oleh para pengajar/ katekis di paroki. Bagaimana memperkenalkan Kristus dan misteri Paska-Nya kepada anak- anak se-efektif mungkin, menjadi PR (Pekerjaan rumah) para guru Bina Iman/ katekis dan juga para imam di paroki. Bina Iman bukan sekedar tempat berkumpulnya anak- anak untuk bermain dan mewarnai, melainkan sarana untuk menyampaikan pengajaran iman yang dapat masuk di dalam pikiran dan hati anak- anak, sehingga mereka dapat bersuka cita dan mensyukuri karunia iman yang Tuhan sudah berikan kepada mereka.

Dewasa ini tenaga pengajar Bina Iman ataupun katekisasi secara umum adalah tenaga sukarela, dan banyak di antaranya yang tidak secara khusus dibekali dengan latar belakang sebagai pengajar iman Katolik. Dengan demikian, sangatlah logis jika memang para katekis membutuhkan buku panduan yang dapat dijadikan acuan untuk mengajar. Di beberapa pertemuan guru- guru Bina Iman, evaluasi yang disampaikan antara lain menyebutkan kesulitan mereka untuk memperoleh bahan- bahan pengajaran (yang lengkap: dengan kisah, pembahasan, permainan, gambar, nyanyian, dari kisah- kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) untuk disampaikan kepada anak- anak. Umumnya mereka harus ‘meracik’ sendiri bahan pengajaran di antara tim pengajar. Dengan demikian, diperlukan waktu untuk membicarakannya dan mempersiapkannya, dan ini tidak selamanya hal ini mudah bagi para relawan pengajar, di tengah- tengah kesibukan mereka dalam pekerjaan/ keluarga.

Selain itu, jika diperhatikan, terdapat waktu jeda bagi pembinaan iman anak, yaitu periode antara waktu setelah Komuni Pertama sampai menjelang penerimaan Sakramen Penguatan/ Krisma. Ada beberapa paroki yang telah mengadakan Bina Iman Remaja, atau merekomendasikan anak- anak ini untuk bergabung dengan dalam komunitas Putera/i Altar. Namun kita mengetahui bahwa hanya sedikit prosentase jumlah anak- anak dalam paroki yang tergabung dengan kegiatan ini. Maka kelompok mayoritas anak- anak di paroki tidak ‘tertangani’ pendidikan imannya.

Dewasa ini kitapun perlu memberikan perhatian kepada anak- anak Katolik yang bersekolah di sekolah- sekolah National plus, yang juga kurang mendapat pengajaran tentang iman Katolik. Prosentase jumlah anak- anak ini nampaknya terus menanjak setiap tahunnya, dan banyak di antara mereka mempunyai kesulitan untuk bergabung dalam kegiatan Bina Iman di paroki, antara lain karena bahasa yang digunakan dalam proses katekese tersebut adalah bahasa Indonesia, sedangkan anak- anak ini lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi.

Bagaimana seharusnya?

Konsili Vatikan II dalam Deklarasi tentang Pendidikan Kristiani (Gravissimum Educationis) menyatakan tujuan pendidikan secara umum, dan pendidikan Kristiani secara khusus, demikian:

1. Secara umum

“Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembentukan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, di mana ia  sebagai manusia, adalah anggotanya, dan bila sudah dewasa ia akan mengambil bagian menunaikan tugas kewajiban di dalamnya.” ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis, 1))

Tujuan terakhir manusia yang dimaksud di sini adalah kehidupan kekal bersama Allah di Surga. Dengan demikian, pendidikan secara umum harus mengarah kepada pembentukan (formation) pribadi manusia secara utuh, baik dari segi fisik, moral, intelektual agar anak- anak dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab di dalam menghadapi kehidupan ini, agar kelak dapat masuk dalam Kerajaan Surga.

2. Secara khusus

a. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk pendalaman misteri keselamatan, iman, makna kekudusan, memberi kesaksian tentang pengharapan Kristiani.

“Pendidikan Kristiani itu tidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia seperti telah diuraikan, melainkan terutama hendak mencapai, supaya mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah semakin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar menyembah Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23), terutama dalam perayaan Liturgi; supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:22-24); supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13), dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. Kecuali itu hendaklah umat beriman menyadari panggilan mereka, dan melatih diri untuk memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam diri mereka (lih. 1Ptr 3:15) serta mendukung perubahan dunia menurut tata-nilai Kristiani …” ((Ibid))

b. Pendidikan Kristiani harus menanamkan nilai- nilai esensial di dalam hidup manusia

“Bahkan di tengah kesulitan- kesulitan karya pendidikan, kesulitan- kesulitan yang kadang lebih besar dewasa ini, para orang tua harus dengan yakin dan berani mendidik anak- anak mereka tentang nilai- nilai esensial di dalam hidup manusia. Anak- anak harus tumbuh dengan sikap yang benar tentang kemerdekaan [ketidak- terikatan] terhadap barang- barang materi, dengan menerapkan gaya hidup yang sederhana dan bersahaja, yakin bahwa “manusia itu lebih berharga karena apa adanya dia daripada karena apa yang dia miliki.” ((Paus Yohanes Paulus II, Apostolic Exhortation, Familiaris Consortio 37))

Adalah suatu permenungan, sejauh manakah hal- hal yang disebutkan di atas dilakukan di dalam keluarga, di sekolah dan di paroki?

Pendidikan iman Katolik di dalam keluarga

a. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama anak- anak

“Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, orang tua terikat kewajiban amat serius  untuk mendidik anak-anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak- anak mereka” ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3, lihat juga KGK 1653 dan Familiaris Consortio 36)). Dengan demikian, orang tua harus menyediakan waktu bagi anak- anak untuk membentuk mereka menjadi pribadi- pribadi yang mengenal dan mengasihi Allah. Kewajiban dan hak orang tua untuk mendidik anak- anak mereka tidak dapat seluruhnya digantikan ataupun dialihkan kepada orang lain. ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 36))

Orang tua sebagai pendidik utama dalam hal iman kepada anak- anak berarti orang tua harus secara aktif mendidik anak- anak dan terlibat dalam proses pendidikan anak- anaknya. Orang tua sendiri harus mempraktekkan imannya, berusaha untuk hidup kudus, dan terus menerapkan ajaran iman dalam kehidupan keluarga di rumah. Ini adalah sangat penting, agar anak melihat bahwa iman itu bukan hanya untuk diajarkan tetapi untuk dilakukan, dan diteruskan lagi kemudian, jika anak- anak sendiri membentuk keluarga di kemudian hari.

Sebagai pendidik utama, maka orang tua harus terlibat dalam proses pendidikan yang dilakukan oleh sekolah, dan orang tua bertugas membentuk  anak- anaknya. Orang tua harus mengetahui apa yang sedang dipelajari oleh anak- anaknya di sekolah, buku- buku yang mereka baca, bagaimana sikap dan tabiat anaknya di sekolah, siapakah teman- teman anak- anaknya, dan sebagainya. Tugas dan tanggungjawab ini ini tidak dapat dialihkan ataupun dipasrahkan kepada pembantu rumah tangga ataupun guru les. Orang tua tidak dapat memusatkan perhatian untuk urusan dan pekerjaan mereka sendiri, dan kurang mempedulikan atau kurang mau terlibat dalam pendidikan anak- anak. Mengirim anak- anak untuk les pelajaran, atau menyekolahkan anak di sekolah national plus, tidak menjamin pembentukan karakter anak dengan baik.

Demikian pula dalam hal iman. Banyak orang tua berpikir, asal sudah mengirimkan anak ke Bina Iman, maka tugasnya selesai. Pemikiran sedemikian sungguh keliru. Guru- guru di sekolah, guru les ataupun guru Bina Iman hanyalah membantu orang tua, namun orang tua tetaplah yang harus melakukan tugasnya sebagai pendidik utama. Mendidik anak dalam hal iman sesungguhnya tidak sulit, karena dapat dimulai dari hal- hal sederhana. Namun dibutuhkan komitmen dan pengorbanan dari pihak orang tua, misalnya: berdoa bersama anak- anak dan membacakan kisah Kitab Suci kepada mereka setiap malam, membawa anak- anak ikut Misa Kudus dan sesudahnya menjelaskan kepada anak- anak maknanya, mendorong anak- anak agar mempraktekkan suatu ajaran Sabda Tuhan, memberi koreksi jika anak berbuat salah namun setelahnya tetap merangkul dengan kasih, dst.

Orang tua juga harus mempunyai perhatian kepada pengaruh media massa ke dalam kehidupan anak- anak. Terlalu banyak menonton TV tidak memberikan efek yang baik pada anak, apalagi jika anak- anak menonton TV tanpa pendampingan dari orang tua. Demikian pula dengan terlalu banyak bermain video game, apalagi jika permainannya bersifat kekerasan yang sadis, seperti tembak- tembakan, pembunuhan, dst, yang secara tidak langsung merangsang sifat- sifat agresif pada anak- anak, seperti kemarahan, kekerasan, tidak mau mengalah, dst. Tak kalah seru, adalah kebiasaan ber FB (Face book) di kalangan anak- anak remaja. Jika memungkinkan, silakan orang tuapun ber FB, bukan untuk memata- matai anak, namun untuk mengetahui sekilas lingkungan pergaulan anak. Ada resiko yang umum terjadi, yaitu jika anak terlalu banyak ‘bermain’ sendiri dengan komputer, TV, atau sejenisnya, maka lama kelamaan ia menjadi tidak terbiasa untuk berinteraksi dengan orang lain. Ia menjadi kurang luwes di dalam pergaulan, kurang dapat membawa diri, dan terlalu berpusat kepada diri sendiri. Tidak berarti bahwa TV, game internet dan FB memberikan efek buruk semuanya. Efek negatif itu terjadi  jika yang ditonton, atau yang dimainkan tidak sesuai dengan ajaran iman dan moral; atau yang diajak berkomunikasi adalah orang- orang yang tidak membangun iman, atau malahan menjerumuskan mereka; atau jika hal menonton TV dan bermain komputer tersebut sampai menyita hampir semua waktu luang. Mengapa? Sebab jika ini yang terjadi, hati dan pikiran anak tidak lagi terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

b. Orang tua berkewajiban untuk menyampaikan pendidikan dalam hal nilai- nilai esensial dalam hidup manusia.

Dari orang tualah anak- anak belajar akan nilai- nilai yang esensial dan terpenting di dalam hidup. Nilai- nilai esensial ini menurut Paus Yohanes Paulus II dalam Pengajaran Apostoliknya, Familiaris Consortio, adalah: 1) keadilan yang menghormati martabat setiap manusia, terutama mereka yang termiskin dan yang paling membutuhkan bantuan; 2) hukum kasih: memberikan diri untuk orang lain dan memberi adalah suka cita, 3) pendidikan seksualitas yang menyangkut keseluruhan pribadi manusia, baik tubuh, emosi maupun jiwa; 4) pendidikan tentang kemurnian (chastity); 5) pendidikan moral yang menjamin anak- anak bertanggungjawab. ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 37)).

c. Orang tua harus mengusahakan suasana kasih di rumah

Maka para orang tua harus menciptakan suasana di rumah yang penuh kasih dan penghormatan kepada Tuhan dan sesama, sehingga pendidikan pribadi dan sosial yang menyeluruh bagi anak- anak dapat ditumbuhkan ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3)). Kasih orang tua adalah dasar dari pendidikan anak, sehingga kasih itu harus menjiwai semua prinsipnya, disertai juga dengan nilai- nilai kebaikan, pelayanan, tidak pilih kasih, kesetiaan dan pengorbanan ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 36)). Dalam hal ini, komunikasi antara anak dan orang tua adalah sangat penting, sebab tanpa komunikasi akan sangat sulit menciptakan suasana yang penuh kasih di dalam keluarga.

d. Keluarga harus menjadi sekolah pertama untuk menanamkan kebijakan Kristiani dan orang tualah yang memberikan teladan.

Keluarga harus menjadi sekolah yang pertama untuk menanamkan nilai- nilai dan kebajikan Kristiani, seperti: memaafkan kesalahan orang lain, belajar meminta maaf jika berbuat salah, saling menghormati, saling berbagi, saling menolong, saling menghibur jika ada yang kesusahan, saling memperhatikan terutama kepada yang lemah, sakit, dan miskin, saling mengakui kelebihan dan kekurangan tiap- tiap anggota keluarga, rela berkorban demi kebaikan orang lain, dst. Orang tua selayaknya memberikan teladan dalam nilai- nilai Kristiani tersebut, dan bukan hanya dengan perkataan, tetapi terlebih dengan perbuatan. Anak- anak akan dengan lebih cepat belajar melalui teladan perbuatan orang tua daripada dari apa yang diajarkannya melalui perkataan saja.

e. Pengajaran tentang iman dalam keluarga dapat dilakukan di setiap kesempatan dan dapat dikemas menarik

Pengajaran tentang Allah dan perintah- perintah-Nya ini tidak harus diberikan dalam bentuk ‘kuliah’ bagi anak, yang pasti membosankan, tetapi hendaknya dikemas dalam bentuk yang lebih hidup dan menarik, sesuai dengan umur anak. Quiz/ bermain tebak- tebakan, ayah atau ibu membacakan Kitab Suci bergambar, atau sama- sama menonton DVD rohani dan dilanjutkan dengan diskusi singkat dapat menjadi suatu pilihan. Di samping itu, jangan dilupakan bahwa setiap kejadian yang paling sederhana sekalipun dapat dijadikan momen untuk pengajaran tentang iman. Contohnya pada saat anak jatuh ketika belajar bersepeda, dapat dijadikan momen untuk mengajarkan betapa kita sebagai manusia dapat jatuh dalam kesalahan dan dosa, namun Tuhan dapat menolong kita sehingga kita dapat bangkit lagi, sebelum akhirnya kita berhasil. Atau contoh lain, pada saat ada tetangga/ saudara yang membutuhkan pertolongan, itulah saatnya kita sekeluarga pergi menjenguk dan menghibur mereka.

Jika anak telah bertumbuh remaja, kemungkinan pengajaran tentang iman dapat dilakukan dengan lebih mendalam, misalnya, sharing tentang pengalaman dalam hari itu, tentang latihan kebajikan tertentu yang disepakati bersama sehari sebelumnya, misalnya tentang kesabaran. Dengarkan pengalaman anak dan ceritakan juga pengalaman kita sebagai orang tua sepanjang hari itu untuk menjadi orang yang sabar. Baik jika sharing ini ditutup dengan doa.  Jika hal ini terus konsisten dilakukan, baik orang tua maupun anak sama- sama bertumbuh dalam kekudusan.

f. Doa bersama sekeluarga merupakan hal yang harus dilakukan

Orang tua harus mengusahakan agar dapat melakukan doa bersama sekeluarga setiap hari, entah pada pagi hari atau sore hari. Mother Teresa pernah mengatakan, “A family that prays together, stays together” (Keluarga yang berdoa bersama, tetap bersatu bersama). Doa bersama juga dilakukan pada saat sebelum dan sesudah makan. Doa bersama dapat berupa Ibadat Harian, doa spontan, doa rosario, atau doa kaplet Kerahiman Ilahi, dan seterusnya, dan dapat juga dinyanyikan. Doa dapat dilanjutkan dengan renungan Kitab Suci, dan anak- anak dan orang tua dapat melakukan sharing iman sesuai dengan ayat- ayat yang direnungkan.

g. Orang tua mengarahkan anak- anak untuk bergabung ke dalam Gereja

Melalui keluargalah anak- anak secara berangsur- angsur diarahkan ke dalam persekutuan dengan saudara- saudari seiman yang lain di dalam Gereja. Orang tua berkewajiban untuk membawa anak- anak untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan Gereja, baik dalam ibadah di paroki atau di lingkungan, ataupun kegiatan rohani dalam komunitas- komunitas Gereja. Persaudaraan sesama umat Katolik di dalam Kristus, harus juga diperkenalkan sejak dini kepada anak- anak. Orang tua juga harus memberikan dorongan kepada anak- anak untuk mengambil bagian dalam sakramen- sakramen Gereja, terutama Ekaristi dan Tobat.

Pendidikan iman Katolik di sekolah

Sekolah melaksanakan peran yang penting di dalam membantu para orang tua mendidik anak- anak mereka. Dalam hal ini, sekolah tidak hanya bertugas untuk membantu pertumbuhan intelektual anak, tetapi juga kemampuan untuk bertindak dengan bijak, memilah hal- hal yang baik dan yang buruk, meneruskan tradisi yang baik dari generasi sebelumnya, dan untuk mempersiapkan anak- anak untuk kehidupan sesuai dengan profesi mereka di masa datang.

Berikut ini adalah masukan tentang “Apakah yang menjadikan suatu sekolah adalah Sekolah Katolik?” yang kami peroleh dari Maria Brownell, salah seorang kontributor situs Katolisitas. Maria berdomisili di Wisconsin, Amerika Serikat, dan ia aktif terlibat dalam penyusunan kurikulum salah satu sekolah Katolik di sana:

“Apakah yang menjadikan suatu sekolah adalah Sekolah Katolik?

1. Sekolah Katolik adalah sekolah yang bertujuan untuk membentuk anak menjadi kudus

Tujuan dari sekolah tersebut adalah tidak hanya mengajar, melainkan juga membentuk anak- anak menjadi pribadi yang utuh. Sekolah tidak hanya harus mengajar mereka secara akademis, tetapi juga untuk harus bekerja keras untuk membawa mereka kepada kekudusan. Manusia terdiri atas tubuh dan jiwa, maka sekolah Katolik yang baik harus tidak hanya mengisi ‘kepala’ murid- muridnya dengan informasi, tetapi harus juga mengisi hati murid- muridnya dengan iman Katolik dan kasih. Sekolah Katolik harus menanamkan dalam hati murid- muridnya, hati yang mengasihi dan melayani: pelayanan kepada sesama, kepada negara dan kepada Tuhan.

2. Semua guru/ pendidik di sekolah harus Katolik dan bekerja sama dengan para orang tua murid untuk mendidik anak- anak, terutama dalam hal iman.

a. Semua guru di sekolah harus Katolik dan mereka harus mengenal/ mengetahui tentang iman Katolik dengan baik, dan melaksanakan ajaran iman mereka. Mereka harus percaya, setuju dan mengasihi semua ajaran Katolik. Guru- guru juga harus mengejar kekudusan dalam kehidupan mereka sehari- hari.

b. Adalah ideal jika sekolah mempunyai juga imam pembimbing rohani yang turut aktif membina sekolah tersebut. Atau suster (biarawati) yang juga dapat mengajar para murid. Imam, biarawan ataupun biarawati yang mengajar di sekolah -misalnya untuk mata pelajaran Agama atau mata pelajaran lain sesuai dengan keahlian masing- masing- dapat menjadi tokoh panutan bagi murid- murid dan membantu mereka untuk semakin meneladani Kristus.

c. Para guru juga harus menerapkan ajaran iman Katolik di dalam pengajaran mereka di dalam setiap mata pelajaran. Mereka harus mencari kesempatan- kesempatan untuk meng-integrasikan iman dalam pengajarannya kepada murid- murid.

d. Setiap murid harus dihargai martabatnya sebagai anak Allah, dan sebaliknya semua murid harus menghormati dan menaati para gurunya.

e. Sekolah harus bersama- sama dengan orang tua mendidik anak- anak dan membentuk karakter mereka, sebab pada akhirnya, orang tua-lah yang merupakan pendidik pertama dan utama dalam hal iman bagi anak- anak. Orang tua harus juga mendukung para guru, dan tidak cenderung mempunyai sikap curiga kepada guru yang memberikan koreksi ataupun teguran kepada anaknya.

3. Kurikulum sekolah harus Katolik:

a. Liturgi harus dimasukkan di dalam kurikulum sekolah, seperti perayaan Misa Kudus, adorasi Sakramen Mahakudus, dst.

b. Buku- buku yang dipergunakan harus baik secara akademis, namun juga setia terhadap ajaran Gereja. Ini tidak berarti bahwa semua buku harus merupakan buku- buku Katolik. Namun demikian, buku- buku tersebut harus tidak bertentangan dengan ajaran Gereja. Semua buku harus mengajarkan semua mata pelajaran secara akademis dengan baik.

c. Kurikulum harus mengajarkan kepada para murid, “Bagaimana untuk BELAJAR” dan “Bagaimana untuk BERPIKIR”, dan bukan hanya sekedar memberikan kepada mereka banyak informasi. Kurikulum harus mengajar anak- anak untuk berpikir kritis, analitis dan jika memungkinkan secara filosofis. Pada akhirnya, setelah luus SMA anak- anak harus dapat menjawab beberapa pertanyaan fundamental, seperti: Siapakah aku? Mengapa saya ada di dunia? Apakah tujuan hidupku? Siapakah Tuhan dan apakah rencana-Nya bagi dunia dan saya?

d. Iman harus diintegrasikan ke dalam kurikulum, di dalam semua mata pelajaran. Semua mata pelajaran berhubungan dan saling mendukung satu dengan lainnya. Sebagai contohnya, ketika mereka belajar sejarah, mereka perlu juga melihat sejarah dari sudut pandang Katolik. Kurikulum pelajaran sejarah harus juga mengajarkan tentang sejarah keselamatan dari Tuhan, peran para Santa/ Santo dalam kurun waktu/ sejarah tertentu.

e. Literatur dan buku- buku bacaan harus memasukkan buku- buku Katolik dan kisah- kisah klasik yang mengajarkan nilai- nilai kebajikan dan membedakan antara yang baik dari yang jahat, yang benar dari yang salah. Di mata Tuhan, pada akhirnya orang- orang yang baik akan menang dan mereka yang jahat selalu kalah. Contohnya, buku kisah the Chronicles of Narnia adalah lebih baik daripada Harry Potter, karena karena pada kisah Narnia, tokoh- tokoh utamanya adalah anak- anak yang baik, dan bukan penyihir. Dewasa ini banyak buku yang ingin mengacaukan konsep yang baik dan yang jahat pada anak-anak. Kejahatan dapat kelihatan bagus, menarik dan berani, namun kejahatan adalah kejahatan, dan kita tidak dapat membungkusnya dengan gula- gula seolah- olah itu baik.

f. Penekanan harus diberikan pada mata pelajaran dasar, seperti: membaca, menulis dan artimetika (matematika). Sekolah harus mengajarkan kepada anak- anak bagaimana membaca dengan baik, terutama buku- buku dengan banyak tulisan (bukan buku berupa komik yang memuat banyak gambar).

g. Contoh- contoh adalah sangat penting, terutama ketika guru mengajarkan matematika dan ilmu pengetahuan. Anak- anak dapat belajar dengan baik ketika mereka menggunakan indera mereka, tidak hanya dengan mata, telinga dan otak, tetapi juga dengan alat peraba (misalnya pengajaran penjumlahan, dipraktekkan dengan menghitung koin, dst). Kurikulum harus mengkaitkan buku- buku pelajaran dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, pengalaman praktis adalah sesuatu yang baik. Contohnya, ajarkan mereka untuk menghargai dan menyukai ilmu pengetahuan melalui pengalaman keluar melihat alam sekitar, tidak saja dari buku. Saat -saat seperti ini, adalah saatnya bagi para guru untuk mengajarkan tentang Tuhan dan keajaiban alam ciptaan-Nya.

4. Lingkungan di dalam sekolah harus Katolik:

a. Harus ditekankan dan dipelihara, suatu lingkungan sekolah yang menyatakan kasih dan saling menghormati, di antara para guru, murid dan staf di sekolah. Tidak diperkenankan saling berteriak/ marah- marah/ kasar satu sama lain (di antara guru, antara guru dan murid- murid ataupun di antara para murid). Jika seorang murid berbuat salah, jangan dipermalukan: tidak diperkenankan mengkoreksi murid di hadapan para murid yang lain.

b. Para murid harus merasa bahwa mereka dikasihi dan dihargai. Guru- guru ada di sana untuk membantu mereka untuk menjadi seseorang seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

c. Tidak perlu menghargai mereka dengan banyak kado/ bingkisan. Para murid seharusnya di harapkan untuk melakukan yang terbaik menurut kemampuan mereka, dan untuk memberikan apa yang terbaik dari diri mereka kepada Tuhan.

d. Para Santa/ Santo harus menjadi teladan mereka, dan bukan para bintang film/ selebriti. Maka adalah tugas para guru untuk memperkenalkan teladan para Santa/o kepada para muridnya.

e. Para guru harus mengajar anak- anak bagaimana untuk berpikir sendiri, dan untuk memberikan dorongan/ inspirasi agar mereka menjadi yang terbaik bagi Tuhan, mencintai Tuhan dan sesama, dan mencintai Gereja. Ketentuan disiplin harus berdasarkan kebajikan. Ketentuan tersebut harus mendorong para murid untuk menjadi semakin berbudi dan kudus.

f. Persaingan dalam sekolah harus tidak hanya di bidang akademis, olah raga dan musik, tetapi juga dalam hal pembangunan karakter. Sebagai contohnya, penghargaan juga harus diberikan terhadap murid- murid yang mempunyai hati yang melayani, pekerja keras/ rajin, dan suka menolong, dst.”

Dengan demikian, memang ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadikan sekolah benar- benar sekolah Katolik, yang sungguh- sungguh mengajarkan iman Katolik dan mengintegrasikannya di dalam seluruh kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.

Beberapa contoh konkret yang dapat dilakukan di Indonesia:

a. Doa bersama sebelum sekolah dimulai. Baik jika diterapkan doa Malaikat Tuhan (Angelus) pada jam 12 siang, dilanjutkan dengan renungan singkat Kitab Suci dan tentang kisah riwayat orang kudus (Santa/ santo) pada hari itu sesuai dengan kalender liturgi Gereja.

b. Diadakan Misa Kudus bersama minimal seminggu sekali (jika dapat diusahakan lebih sering lebih baik), dengan disediakannya kesempatan mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa sebelum Misa dimulai, dan Ibadah Tobat minimal sebulan sekali.

c. Diadakan kantin kejujuran (kantin tanpa penjaga, para pembeli harus dengan jujur membayar sesuai dengan jumlah yang dibeli). Tentu anak- anak perlu dilatih untuk dapat memahami cara kerja kantin ini.

d. Diadakan piket kebersihan digilir per kelas untuk melatih anak- anak saling melayani.

e. Pelajaran tentang iman Katolik diintegrasikan dengan seni: seni suara/ musik, seni lukis, menjahit, keramik, pidato dst.

f. Demikian juga pada pelajaran ilmu pengetahuan, hindari menggunakan buku- buku yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, seperti evolusi Darwin (makroevolusi), atau buku sejarah yang mengatakan bahwa Abad Pertengahan adalah Abad kegelapan; atau buku yang mengatakan bahwa dunia sudah terlalu penuh, sehingga orang harus membatasi jumlah anak. Jika pemakaian buku- buku tersebut tidak dapat dihindari, minimal para guru dapat memberikan penjelasan yang meluruskannya.

g. Pendidikan seksualitas pada anak- anak sesuai dengan umurnya, dengan menyampaikan nilai- nilai Kristiani sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Pendidikan iman Katolik di paroki

Mengingat fakta secara umum, bahwa dewasa ini banyak orang Katolik tidak sungguh- sungguh mengenali imannya, maka pendidikan katekese sebaiknya dilakukan di semua lini, maksudnya adalah, kepada anak- anak, kaum muda, maupun orang tua. Katekese anak dapat dilakukan melalui Bina Iman, yang dilakukan sekali seminggu, menurut kelompok usia. Namun mungkin baik dipikirkan jika terdapat buku panduan dari pihak keuskupan setempat, agar memudahkan para guru untuk mempersiapkan pengajaran.

Alangkah baiknya, jika pastor paroki menghimbau dan mendukung Bina Iman, juga dalam hal mencari para pengajar yang kompeten untuk mengajar Bina Iman. Mungkin kaum muda/ OMK dapat dilibatkan dalam hal ini, setelah mereka menjalani semacam pelatihan untuk menjadi guru- guru Bina Iman. Jika keuangan paroki memungkinkan, dapat pula diusahakan adanya staf khusus yang menangani hal katekese umat, dalam hal ini untuk menjadi koordinator guru- guru Bina Iman, yang memberikan pengarahan kepada para guru setiap minggunya (atau dua minggu sekali) sebelum mereka mengajar; ataupun juga mengkoordinasikan para katekis lainnya yang bertugas mengajar katekumen, calon Krisma ataupun calon penerima Komuni pertama. Alangkah baiknya jika dalam pendidikan iman anak- anak ini, pihak orang tua dilibatkan, misalnya dengan secara periodik mengadakan rekoleksi/ retret keluarga ataupun semacam seminar setengah hari yang melibatkan orang tua, ataupun yang disertai dengan acara rekreasi keluarga.

Di samping itu perlu diperhatikan adanya kesinambungan dalam pendidikan iman Katolik dari masa kanak- kanak sampai usia dewasa. Jika tidak ada kelompok khusus antara usia Komuni pertama sampai usia mudika maka perlu diusahakan komunitas ‘antara’ tersebut. Komunitas ini tidak selalu harus baru, tetapi bisa juga mendayagunakan komunitas yang sudah ada, seperti Putra- Putri Altar, Legio Maria Junior, Kelompok koor anak/ remaja, yang diberi pandampingan rohani.

Komunitas OMK atau pasangan muda juga dapat disemangati dengan katekese tentang pendalaman iman Katolik. Selanjutnya, kelompok ini dapat didayagunakan untuk juga menjadi para guru Bina Iman Anak dan Remaja. Jika memungkinkan, dipupuk juga pelatihan OMK untuk menjadi kelompok yang berguna bagi kegiatan membangun kehidupan menggereja, seperti menjadi relawan yang mengunjungi  dan mendoakan umat paroki yang sakit, menjadi guru Bina Iman termasuk mengajar Bina Iman dalam bahasa Inggris, menggiatkan kelompok Bible Study/ Bible Sharing untuk pendalaman iman, kelompok diskusi apologetik, kelompok musik/ orkestra rohani dan seterusnya.

Hal yang juga dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas katekisasi adalah prinsip sponsor/ pendukung dalam proses katekumenat calon baptis. Sesungguhnya prinsip ini bukan hal yang baru, melainkan sudah diterapkan oleh Gereja sejak jaman dulu, dan kini diterapkan kembali di banyak paroki di negara- negara lain. Dalam  proses ini, setiap katekumen didukung oleh seorang sponsor (dari salah seorang umat yang sudah dibaptis), yaitu pendukung yang mendampingi katekumen sepanjang proses katekumenat. Tugas seorang sponsor adalah membantu agar katekumen dapat semakin memahami iman Katolik, membantunya menemukan motivasi yang lebih murni untuk menjadi Katolik dan mendampinginya dalam pergumulan yang mungkin dihadapi dalam proses katekumenat. Maka para sponsor adalah “mereka yang telah mengetahui dan membantu calon baptis dan berdiri sebagai saksi baginya dalam hal karakter moral, iman dan intensi”. ((Rite of Christians Initiantion for Adults, 10)). Kemungkinan, para lulusan kursus evangelisasi di paroki dapat diarahkan untuk menjadi sponsor bagi para katekumen. Selain sponsor, setiap katekumen juga mempunyai wali baptis yang mendampinginya, membantu pertumbuhan imannya dan selalu mendoakannya setiap hari. “Para wali baptis adalah orang- orang yang dipilih oleh para katekumen atas dasar teladan yang baik, persahabatan …. Adalah tanggung jawab dari para orang tua baptis untuk memperlihatkan kepada para katekumen bagaimana mempraktekkan Injil di dalam kehidupan pribadi dan sosial, untuk menguatkan mereka di saat- saat mereka ragu/ enggan dan kuatir, untuk menjadi saksi dan untuk membimbing kemajuan katekumen dalam kehidupan sebelum dan sesudah baptisan.” ((Rite of Christians Initiantion for Adults, General Introduction, 11)). Karena peran sponsor dan para orang tua baptis sangatlah penting, maka pentinglah pula dipersiapkan beberapa umat di paroki agar dapat melakukan tugas ini. Diperlukan katekese umat dalam hal ini, agar mereka dapat terpanggil untuk menjadi sponsor [dan wali baptis] dan melakukan tugas mereka dengan suka cita. Sponsor dan para katekis harus bersama- sama saling bahu- membahu untuk mempersiapkan calon baptis menerima Kristus dalam sakramen- sakramen Inisiasi. Perlu dipikirkan juga bagaimana menerapkan penggabungan para katekumen ke dalam kehidupan seluruh umat beriman dalam liturgi, seperti yang ditetapkan dalam the RCIA (Rites of Christian Initiation of Adults) yang disusun berdasarkan the Order of Christian Initiation of Adults yang dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1972.  Hal ini terlihat dalam beberapa ritual dalam liturgi yang mencerminkan beberapa tahapan dalam masa katekumenat, sejak masa penerimaan sampai dibaptis, seperti: Rite of Acceptance, Rite of Welcoming, Rite of Election, Rite of the Call to Continuing Conversion, Scrutinies, Sacraments of Initiation. Dan akhirnya, perlu dipikirkan bagaimana seluruh umat di paroki menyambut mereka, sehingga mereka dapat masuk ke dalam kehidupan menggereja. Untuk membantu umat yang baru dibaptis, maka mistagogi juga harus disusun secara serius.

Para katekis awam juga perlu terus memperdalam pengetahuan dan penghayatan mereka akan iman Katolik, sehingga mereka dapat mengajar sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja; setelah menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupannya pribadinya sendiri. Alangkah baiknya jika seksi Katekese KWI secara berkala mengadakan sesi pengajaran khusus tentang beberapa topik khas Katolik secara mendalam (misalnya Maria, tentang Gereja, Sakramen, dst) yang dapat diikuti oleh semua katekis. Harapannya agar para katekis menjadi semakin memahami ajaran iman Katolik, yang selalu mengambil dasar dari Kitab Suci dan Tradisi Suci. Lebih lanjut, seksi Katekese KWI juga dapat memberikan kursus kepada para katekis, yang nantinya menjadi dasar untuk pemberian sertifikat mengajar kepada para katekis.

Selanjutnya, katekese lanjutan bagi kelompok umat yang baru dibaptis juga sangat penting. Mereka yang baru dibaptis sebenarnya adalah ‘anak- anak’ dalam hal rohani, yang memerlukan pembinaan iman lebih lanjut agar iman mereka dapat terus bertumbuh. Pembinaan lanjutan ini idealnya tidak hanya dilakukan satu atau dua kali, tetapi seterusnya, sampai mereka dapat menjadi sponsor bagi para calon baptis dalam angkatan berikutnya. Dengan demikian, harapannya proses katekese  dapat  berjalan berkesinambungan dan ada proses regenerasi dalam proses tersebut.

Kesimpulan

Bahwa ada banyak umat Katolik yang tidak sungguh- sungguh mengenali imannya, menjadi tantangan bagi kita untuk memperbaiki proses katekese di dalam Gereja Katolik. Proses katekese atau pendidikan iman ini harus dimulai sejak dini, baik di keluarga, sekolah maupun di paroki. Di dalam semua proses tersebut, harus tetap dipahami dan diterapkan bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak- anak mereka dalam hal iman dan pembentukan karakter. Dalam melakukan tugas ini, orang tua memperoleh bantuan dari sekolah dan paroki dan ketiga pihak ini harus bersama- sama berusaha untuk membentuk anak untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan menjadi pribadi yang bertanggungjawab di dalam hidup ini, agar kelak dapat masuk dalam Kerajaan Surga. Dewasa ini  ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi untuk melaksanakan pendidikan iman sejak usia dini, karena ada banyak tawaran dunia yang dapat lebih menarik perhatian anak-anak dan generasi muda. Maka orang tua, pihak sekolah dan paroki harus bersatu padu untuk bersama- sama berusaha untuk malaksanakan tugas pendidikan iman ini, dengan memperhatikan isi dan cara penyampaiannya. Jika usaha terpadu ini dapat dilakukan secara berkesinambungan,  dari usia dini sampai dewasa, maka besar harapan kita bahwa semakin banyak umat Katolik dapat mengenal dan mengasihi imannya, dan dapat pula menjadi saksi- saksi iman yang hidup untuk membangun Gereja dan masyarakat. Janganlah kita lupa akan prinsip dasar dalam hal pendidikan iman ini : “Jangan biarkan dunia ini yang mendidik dan membesarkan anak- anak kita, sebab sebagai orang tua, guru dan Gereja, kitalah yang harus mendidik anak- anak agar mereka dapat masuk surga.” Mari kita bersama sebagai anggota Tubuh Kristus secara bahu membahu bekerja bersama Kristus sang Kepala kita untuk mewujudkan kehendak-Nya yang “mengendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4). Semoga pendidikan iman dalam keluarga, sekolah dan paroki mengarah kepada pengetahuan akan kebenaran ini, yang menghantar kita sampai kepada kehidupan kekal.

Catatan:
Artikel ini dibuat untuk acara Temu Darat Katolisitas 2, dengan tema “Pendidikan anak sejak usia dini di dalam keluarga, paroki dan sekolah”, yang diselenggarakan pada tanggal 29 Januari 2011 di Paroki Hati Kudus – Kramat, Jakarta.

Lampiran:

Beberapa contoh yang diterapkan dalam Sekolah Katolik St. Adalbert, Rosholt, Wisconsin, USA:

1. Liturgi:

a. Misa Kudus, (seminggu 3x)
b. Doa Rosario bersama (seminggu 2x)
c. Benediction/ penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus (seminggu 1x)
d. Program berdasarkan kebajikan, menurut Santa/o dalam bulan itu
e. Pengakuan Dosa (sebulan sekali)

2. Program khusus:

a. Hari Para Orang Kudus 2 November (presentasi, buku laporan, dengan peragaan kostum para santa dan santo).
b. Menanam kebun sekolah (Planting garden for Mother Mary, bulan May)
c. Operation Baby Bottle, memberikan donasi bagi kegiatan pro-life sepanjang masa Prapaska (pada masa Adven).
d. Jalan salib/ Devosi Kerahiman Ilahi (Sepanjang masa Prapaska dan Paska)
e. Field trip yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan (contoh: ke Taman Kota, Kebun Binatang, dst)
f. Field trip yang berhubungan dengan iman (contoh ke tempat ziarah, gua Maria, dst)
g. Field trip yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan sosial (contoh: ke museum)
h. Minggu Kompetisi Sekolah (pameran ilmu pengetahuan, aneka perlombaan, dst)
i. Pelayanan masyarakat (contohnya menanam pohon- pohon, mengumpulkan sampah pada hari the Earth Day, mengumpulkan sembako untuk dibagikan ke warga miskin, etc)
j. Mengundang pembicara untuk memberikan pengarahan (i.e. Pastor, Polisi, pera petugas pelindung hutan, veteran/ pensiunan pegawai negeri).
k. Perlombaan olah raga
l. Membuat/ mencetak buku sekolah (anak- anak SMA)
m. Malam Dana bagi Sekolah (Harvest Dinner, Church Picnic, bake sales, dst)
n. Pertunjukan Natal
o. Pertunjukan bakat anak- anak

Vatikan memihak NAZI?

14

Pertanyaan:

Salam Damai Kristus

Ibu Inggrid dan Bapak Tay, saya ingin bertanya, sebenarnya apa yang terjadi..??, ketika Gereja Katolik begitu akrab dengan HITLER dan NAZI ???,banyak orang yang mencemooh, menghina, memojokkan Katolik dan ajarannya, dan topik diatas adalah satu bahasan favourite mereka.
Kalau saya perhatikan penghinaan-peghinaan itu kebanyakan karena politik mereka, seperti politik dagang dalam dunia usaha, dimana semua merk produk saling mengklaim barang dagangannya yang lebih bagus dari merk lain.
Tetapi jika saya lebih teliti dan saya renungkan, kasus-kasus seperti ini bisa muncul karena Gereja Katolik memang memiliki kesalahan-kesalahan dalam perjalanannya. Satu kasus besar yang sampai saat ini dijadikan sasaran untuk menjatuhkan Gereja Katolik adalah hubungan atau kedekatan Gereja Katolik dengan Hitler dan Nazi-nya, seakan-akan Paus sebagai inspirator, merestui, mendukung semua perbuatan NAZI yang kejam dan biadab tersebut.

Sebagai orang Katolik, saya prihatin dengan semua ini, saya sangat antusias mempelajari sejarah dari riwayat kehidupan Gereja Katolik dengan segala kejadian yang terjadi didalamnnya. Perjalanan Gereja Katolik ibarat perjalanan hidup manusia yang sering jatuh bangun didalam kehidupannya.
Saya ingin berbagi pengetahuan sehingga pertanyaan ini saya ajukan, tidak ada satu pun dari “serangan” seteru-seteru itu yang menggoyahkan iman saya akan Kristus di dalam Gereja Katolik.
Namun perlu menjadi bahan pemikiran bahwa tidak semua orang Katolik mampu bertahan dengan “serangan” tersebut, karena sedikit sekali orang Katolik yang mencari tahu tentang imannya dan tentang sejarah gerejanya, sehingga ketika mereka menghadapi hal-hal seperti ini, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Saya tidak suka berdebat soal iman, tetapi saya harus tahu dan yakin terhadap iman saya. Yang saya tahu bahwa Gereja Katolik mengajarkan hidup bersatu dengan Kristus di dalam doa, iman dan pengharapan, Gereja Katolik mengajarkan untuk belajar mengenal dan peka terhadap Kristus Yesus yang hadir di dalam diri kita masing-masing, belajar untuk rendah hati dihadapan ALLAH dan bergantung secara total hanya kepada Kristus Yesus.

Pak Tay dan Ibu Inggrid,
Kalau kita teliti, yang dipersoalkan oleh seteru-seteru ini adalah eksistensi Gereja Katolik dengan segala ajaran, tradisi dan struktur organisasinya, suka atau tidak sebagai orang Katolik kita harus menerima semua yang ada dalam kehidupan Gereja Katolik sebagai milik yang harus dipertahankan.
[Dari Katolisitas: link kami edit]
semoga diskusi ini juga bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang lain yang seiman, terima kasih.

Semoga Tuhan memberkati kita, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

Jawaban:

Shalom Anton,

Memang ada berita- berita beredar di internet yang menyudutkan Gereja Katolik, seperti: Vatikan mendukung NAZI ataupun Vatikan tidak mengakui holocaust. Ini adalah pernyataan- pernyataan yang keliru. Sejak terjadinya holocaust, Gereja Katolik telah mengakui bahwa hal itu benar- benar ada, sehingga pihak Vatikan turut melindungi para korban, secara khusus kaum Yahudi.

Berikut ini adalah faktanya tentang Paus Pius XII dan the Holocaust, yang saya kutip dari link berikut ini, silakan klik. Tulisan ini cukup objektif karena narasumbernya adalah orang Yahudi sendiri.

“….Konsulat Israel, Pinchas E Lapide di dalam bukunya, Three Popes and the Jews (New York: Hawthorn Books, Inc., 1967) membela Paus Pius XII. Menurut penelitiannya, Gereja Katolik di bawah pimpinan Pius XII sangat membantu dalam menyelamatkan 860,000 orang Yahudi dari kamp- kamp pembantaian Nazi (p. 214). Dapatkah Paus Pius menyelamatkan lebih banyak nyawa dengan berbicara lebih mendesak [kepada kaum Nazi]? Menurut Lapide, para narapidana di kamp konsentrasi tidak menghendaki Paus Pius untuk berbicara terang- terangan (p. 247). Seperti yang dikatakan oleh seorang juri dari pengadilan Nuremberg dalam WNBC di New York ((Feb. 28, 1964), “Any words of Pius XII, directed against a madman like Hitler, would have brought on an even worse catastrophe… [and] accelerated the massacre of Jews and priests.” (Ibid.)/ “Perkataan apapun dari Pius XII yang ditujukan kepada orang yang tidak waras seperti Hitler, akan mengakibatkan lebih banyak bencana… dan mempercepat pembantaian kaum Yahudi dan para imam.” Namun demikian Paus Pius tidak diam saja. Lapide mengutip sebuah buku karangan ahli sejarah Yahudi, “The Church Did Not Keep Silent (p. 256). Ia mengatakan bahwa setiap orang termasuk dirinya sendiri dapat berbuat lebih. Jika kita mengecam Paus Pius, maka keadilan akan menuntut semua orang lain. Ia menyimpulkan sengan mengutip Talmud bahwa “siapapun yang menyelamatkan satu nyawa, padanya akan diperhitungkan oleh Kitab Suci seolah ia telah menyelamatkan seluruh dunia. Dengan demikian, ia mengklaim bahwa Paus Pius XII layak untuk menerima penghormatan hutan yang terdiri dari 860,000 pohon di bukit- bukit Yudea (pp. 268-9). Harap diketahui bahwa enam juta orang Yahudi dan tiga juta umat Katolik mati terbunuh di dalam holocaust.

Kita harus mengingat bahwa Holocaust juga adalah anti- Kristen. Setelah Adolf Hitler menyatakan maksudnya, Gereja Katolik menentangnya. Bahkan Albert Einstein mengakui hal itu. Menurut majalah Time, edisi 23 Desember 1940, halaman 38, Einstein berkata:

“Sebagai seorang pencinta kemerdekaan, ketika revolusi terjadi di Jerman, saya mencari universitas- universitas yang mempertahankannya [kemerdekaan], saya mengetahui bahwa mereka telah membanggakan diri tentang devosi mereka kepada penyebab kebenaran; tetapi, tidak, universitas- universitas tiba- tiba bungkam. Lalu saya mencari editor- editor besar surat kabar yang sebelumnya telah berapi-api mengumumkan kecintaan mereka akan kemerdekaan; tetapi mereka, seperti universitas, bungkam dalam beberapa minggu…

Hanya Gereja yang berdiri terang- terangan melawan kampanye Hitler … Sebelum ini saya tidak pernah mempunyai ketertarikan kepada Gereja, tetapi sekarang saya merasakan ketertarikan yang besar dan kekaguman sebab hanya Gereja saja yang mempunyai keberanian dan konsistensi untuk mempertahankan kebenaran intelektual dan kemerdekaan moral. Oleh karena itu, saya terpaksa harus mengakui bahwa apa yang dulu saya benci, sekarang saya puji dengan sepenuhnya.”

Dalam pernyataan lain yang serupa, Einstein mengacu kepada secara eksplisit kepada Gereja Katolik (Lapide, p. 251). Ini adalah kesaksian yang luar biasa dari seorang Jerman yang agnostik keturunan Yahudi….

Tanggal 23 Desember 1940, majalah Time memuat artikel menarik tentang orang- orang Kristen yang hidup di Jerman, baik Katolik maupun Protestan, yang melawan dan menderita di bawah tekanan Nazi. Pada hal. 38, dikatakan bahwa pada akhir tahun 1940, 200,000 orang Kristen dipenjara di kamp konsentrasi Nazi, beberapa lainnya memperkirakan sampai 800,000 orang. Pada hal. 40, melaporkan bahwa Uskup Agung Munich, Michael Kardinal von Faulhaber- lah, yang memimpin oposisi Katolik di Jerman melawan Nazi. Di dalam khotbah Adven 1933, Kardinal mengatakan, “Janganlah kita lupa, bahwa kita diselamatkan bukan oleh darah Jerman, tetapi darah Kristus!” untuk menanggapi rasisme Nazi. Tahun 1934, Kardinal nyaris tertembak oleh peluru Nazi, sedangkan tahun 1938 serbuan Nazi merusak jendela- jendela tempat kediamannya. Meskipun beliau sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun dan dalam kesehatan yang buruk, tetapi ia masih memimpin umat Katolik Jerman melawan Hitler.

Tidak mempercayai regim yang baru, Vatikan menandatangani Konkordat dengan Reich pada tanggal 20 Juli, 1933 dalam usaha untuk melindungi hak- hak Gereja di Jerman. Tetapi pihak Nazi segera melanggarnya. Pada Masa Prapaska 1937, Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik, “Mit brennender Sorge” (Dengan duka cita yang membara), dengan bantuan para uskup Jerman dan Kardinal Pacelli (kemudian menjadi Paus Pius XII). Surat ini diselundupkan ke Jerman dan dibacakan di hadapan semua umat Katolik di Jerman pada saat yang sama pada hari Minggu Palem. Surat itu tidak secara eksplisit menyebutkan nama Hitler ataupun Nazi, tetapi secara jelas mengecam ajaran- ajaran Nazi. Pada tanggal 20 September 1938, Paus Pius XI mengatakan kepada para peziarah German, bahwa tidak ada orang Kristen yang dapat mengambil bagian dalam gerakan anti- Yahudi, sebab secara spiritual, semua orang Kristen adalah Yahudi [keturunan Abraham].

Penghinaan baru- baru ini melawan Gereja dan Paus Pius II dapat ditemukan akarnya ke tahun 1963 pada drama Rolf Hochhuth, “The Deputy.” Di drama ini Hochhuth mengkritik Pius karena bungkam dan menggambarkannya sebagai ketidakpedulian. Meskipun kritik ini merupakan fiksi, namun orang- orang menganggapnya sebagai fakta.

Paus Pius XII adalah seorang diplomat dan bukan seorang pengkhotbah yang radikal. Ia tahu bahwa pertama- tama ia harus mempertahankan kenetralan Vatikan sehingga kota Vatikan dapat menjadi kota tempat perlindungan bagi korban perang. Palang Merah Internasional juga tetap netral. Kedua, Paus mengetahui betapa ia tidak berkuasa menentang Hitler. Mussolini dapat dengan cepat memutuskan aliran listrik di Radio Vatikan pada waktu siarannya (Lapide, p. 256). Akhirnya Nazi tidak mentolerir protes apapun dan menanggapinya dengan kejam. Sebagai contohnya, Uskup Agung Utrecht di bulan Juli 1942 memprotes dengan surat pastoral melawan penganiayaan Yahudi di Belanda. Dengan segara Nazi menangkap banyak orang Yahudi dan Katolik non- Aria sebanyak mungkin dan mengirimkan mereka ke kamp- kamp pembantaian, termasuk Edith Stein yang terberkati (Lapide, p. 246). Pius mengetahui bahwa setiap kali ia berkata melawan Hitler, pihak Nazi dapat membalasnya kepada para narapidana. Maka perlawanannya yang terbaik terhadap pihak Nazi adalah melalui diplomasi yang diam- diam dan tindakan di belakang layar. Menurut The 1996 Grolier Multimedia Encyclopedia (V8.01) di bawah Paus Pius XII, “Berharap untuk mempertahankan kenetralan Vatikan, takut kepada tindakan pembalasan, dan menyadari ketidakmampuannya untuk menghentikan Holocaust, Pius tetap bertindak sedikit demi sedikit (kasus per kasus) untuk menyelamatkan banyak orang Yahudi dan orang lainnya dengan uang tebusan Gereja, dokumen dan [menyediakan] tempat perlindungan bagi pengungsi.”

Kasih dan karya Paus Pius XII pada Perang Dunia II mengesankan bagi Kepala Rabbi di Roma, Israel Zolli, sehingga pada tahun 1944, ia menjadi terbuka tepada rahmat Allah, yang memimpinnya untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Sebagai nama baptisnya, ia mengambil nama yang sama dengan nama baptis Paus Pius XII, yaitu Eugenio. Kemudian, Israel Zolli menulis buku yang berjudul, “Mengapa saya menjadi seorang Katolik.”

Tetapi Paus Pius XII tidak bungkam sama sekali, secara khusus pada pesan- pesan Natalnya. Pesan Natal pada tahun 1941 dan 1942, diterjemahkan dalam The New York Times (Dec. 25, 1941, p. 20 & Dec. 25, 1942, p. 10). Untuk menghindari serangan balasan, ia tidak menyebut nama Nazi, tetapi orang- orang pada saat itu tetap memahami [pesan]nya, termasuk kaum Nazi.

Editorial The New York Times, pada tanggal 25 Desember 1941 menuliskan: (Late Day edition, p. 24):

Suara Paus Pius XII adalah suara yang sendirian ditengah keheningan dan kegelapan yang menyelimuti Eropa pada Natal ini…. ia hampir adalah satu- satunya pemimpin di benua Eropa yang berani mengangkat suaranya …Paus menempatkan dirinya terang- terangan melawan Hitlerism …. ia tidak meninggalkan keraguan bahwa tujuan- tujuan Nazi juga tidak dapat dikompromikan dengan konsepnya tentang kedamaian Kristen.

Juga editorial The New York Times, pada tanggal 25 Desember 1942 menuliskan: (Late Day edition, p. 16):

Natal ini, lebih daripada sebelumnya, ia [Paus Pius XII] adalah suara tunggal yang berseru di luar kesunyian benua ini …. Paus Pius mengekspresikan dengan penuh perasaan sebagai pemimpin di sisi kami … perang bertujuan mencapai kemerdekaan, ketika ia mengatakan bahwa mereka yang bermaksud membangun sebuah dunia baru harus berjuang untuk pilihan yang bebas terhadap pemerintah dan order religius. Mereka harus menolak bahwa negara harus membuat para individu sebagai sebuah kawanan yang oleh negara dapat dibuang seperti seolah mereka adalah benda- benda yang tidak bernyawa.

Kedua editorial mengakui dan sangat memuji perkataan Paus Pius melawan Hitler dan totalitarianisme.

Memang ada para pengkhianat di Gereja yang menjadi anggota Nazi ataupun membantu Hitler. Mereka adalah orang- orang Katolik yang melakukan dosa bigotry/ melawan ajaran iman dengan kekerasan hati. Ada juga umat Katolik yang karena takut atau tidak peduli, berdosa dengan kebungkaman mereka. Gereja terdiri dari orang- orang berdosa yang untuk mereka Yesus telah mati…. Tetapi Paus Pius XII dan banyak umat Katolik lainnya tidak “diam/ bungkam”. Dapatkah nyawa 860,000 orang Yahudi diselamatkan oleh ketidakpedulian (silent indifference)?…”

Dari tulisan di atas, kita dapat melihat bahwa sejak terjadinya Holocaust, Gereja Katolik adalah pihak yang paling terang- terangan menentang ajaran Hitler. Kala tidak ada universitas, institusi ataupun mass media yang berani menyuarakan kebenaran malawan kebijakan Hitler di Eropa, Gereja Katolik melalui Bapa Paus Pius XII merupakan satu- satunya suara yang berani mengecam ajaran Hitler itu. Fakta ini dicatat bukan oleh Gereja Katolik sendiri tetapi dari sumber yang netral, seperti The New York Times, dan bahkan oleh tokoh Yahudi/ keturunan, seperti Pinchas Lapide dan Albert Einstein.

Maka tidak benar Gereja Katolik berpihak kepada NAZI. Sejak awalnya terjadi holocaust, Paus Pius XII terbilang sebagai seorang yang paling konsisten menentang Hitler. Orang- orang yang mengecam Paus Pius XII selayaknya melihat kepada fakta sejarah. Bahwa ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Paus XI mungkin dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi orang Yahudi/ menghentikan holokaus, itu mungkin masih dapat diperdebatkan (walau tetap tidak dapat memuaskan, karena tak seorangpun dari kita mengetahui secara persis keadaan sulit yang dihadapi Paus pada saat itu), tetapi tuduhan yang mengatakan bahwa Paus Pius XII memihak NAZI, atau tidak mengakui holocaust dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan orang Yahudi, itu adalah tuduhan- tuduhan yang sangat keliru. Bahwa konon Hitler adalah seorang Katolik dan pernah bersekolah di sekolah Katolik, tidak menjadikan Gereja Katolik mendukungnya, karena Hitler jelas melanggar ajaran iman Katolik. Gereja Katolik tidak mungkin mendukung gerakan NAZI yang membunuh jutaan umat Katolik, selain membunuh jutaan umat Yahudi.  NAZI merupakan gerakan nasionalisme Jerman yang ekstrem, dan ini tidak ada kaitannya dengan Vatikan ataupun Gereja Katolik.

Demikian tanggapan kami, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Adakah Wahyu lain setelah Kristus?

9

Pertanyaan:

Shalom Pak Stev dan Bu Inggrid
Mau minta penjelasan. Ceritanya begini ketika saya di perpustakaan buka-buka buku saya temukan satu buku judulnya Bukti Al-quran Wahyu Tuhan yang ditulis oleh DR. Rashad Khalifa. Pada Lampiran 19 ada penjelasan Tinjauan Bibel tentang Muhammad ada referensi kitab suci diantaranya Yeyasa (Yesaya) 42:1-6,11, Ulangan 18:18,19. Kemudian Injil Markus 19,24. Apakah benar secara eksplisit atau inplisit Alkitab memuat tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW yang menurut saudara kita yang muslim nabi terakhir dan penyempurna semua agama. Makasih tim katolisitas.

Jawaban:

Shalom Juang,

Pertama- tama, mati kita pahami bersama bahwa Kitab Suci adalah Sabda Tuhan yang diberikan kepada Gereja, sehingga memang Gerejalah yang dapat memberikan interpretasinya dengan benar. Rasul Petrus mengajarkan, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat- nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang- orang berbicara atas nama Allah.” (2 Pet 1:20)

Yes 42:1-6 memuat nubuat yang mengacu kepada Mesias, dan ini digenapi dalam diri Kristus. Demikian pula Ul 18:18,19. Sedangkan kutipan Injil Markus 19,24, itu silakan diperiksa kembali, sebab Injil Markus berakhir hanya sampai bab 16:20. Gereja Katolik mengajarkan bahwa penggenapan Wahyu Allah (Wahyu umum yang tercantum dalam Kitab Suci) sudah mencapai puncaknya di dalam Kristus, dan tidak ada lagi wahyu umum yang baru, sampai kedatangan Kristus yang kedua di akhir jaman nanti. Katekismus mengajarkan:

KGK 66 “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

KGK 73 “Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada Wahyu lain lagi.”

Dengan demikian, Katekismus mengajarkan bahwa tidak ada penyempurnaan wahyu umum yang baru. Oleh karena itu, tidak ada nubuat eksplisit maupun implisit dari Kitab Suci tentang kedatangan nabi yang lain setelah Kristus. Nubuat – nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama mengacu kepada puncak penggenapannya di dalam diri Kristus, seperti yang ditulis di artikel di sini, silakan klik.

Bahwa nubuat Nabi Yesaya dalam Yes 42:1-4 tergenapi di dalam Kristus dinyatakan secara eksplisit dalam Mat 12: 17-21. Berikut ini interpretasi ayat Yes 42:1-6, 11, yang saya kutip dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, p. 562-563:

“Hamba Tuhan yang diperkenalkan di sini adalah Mesias yang akan datang, yang dinyatakan tidak sebagai raja ataupun penguasa, tetapi sebagai seorang pekerja dan penderita. Tuhanlah yang mengangkatNya adalah yang memilihNya, dan melimpahiNya dengan Roh-Nya, dan menunjuk-Nya sebagai pengajar bangsa- bangsa. Misi-Nya akan dikenal dengan ciri-ciri kelemahlembutan dan simpati, kesetiaan dan konsitensi dan akan dimahkotai dengan kesuksesan.

ay.1 ‘Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.’

Ungkapan ‘Lihat‘ dapat ditujukan kepada nabi, bangsa Israel atau kepada malaikat. ‘Hamba‘ adalah semacam istilah kehormatan bagi seseorang yang terpilih. ‘Memegang‘ menunjukkan ikatan dan dukungan. ‘Menaruh Roh-Ku‘ maksudnya adalah Allah yang bekerja sebagai Sang pemberi rahmat/ karunia… Maka Roh Tuhan dan karunia-Nya itu mengacu kepada Yes 11:2. ‘Menyatakan hukum‘ adalah dalam hal moral dan discernment religius, pengetahuan akan yang benar dan salah, sifat- sifat Mesianis (lih. Yes 7:15). Suara yang terdengar pada waktu Yesus dibaptis dan Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (Mat 3:17; 17:5, dan ayat- ayat paralelnya) mengacu kepada ayat ini.

Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.’

Cara kerja dari Sang Hamba di dalam misinya ini bertentangan dengan penaklukkan militer seperti yang dilakukan oleh Raja Cyrus (Koresh). Kekuatan karakternya [Raja Cyrus] dikontraskan dengan kelemahlembutan Hamba yang dipilih dan dipegang-Nya. Kesejajaran antara penghakiman dan pengajaran menegaskan perkataan sebelumnya tentang ciri- ciri Mesianis. ‘Segala pulau’ adalah dataran di sekitar daerah Mediteranian. Mat 12:17-21 menyatakan bahwa nubuat ini terpenuhi dalam diri Kristus…

Ay5. Pujian kepada Tuhan dimaksudkan untuk menekankan keilahian dari misi Sang Hamba… Ay.6. Sebagai Terang bangsa- bangsa berarti penerang bangsa- bangsa, sehingga ‘Perjanjian bagi umat manusia’ berarti pengantara perjanjian antara Allah dan manusia (Israel).

Sedangkan Ay.11 yang ada diperikop berikutnya, mengacu kepada puji-pujian tentang penyelamatan yang dari Tuhan. Kedar, atau orang- orang Yahudi di pengasingan, di gurun Arab, (lihat Mzm 120:5), di mana mereka tinggal di tenda- tenda. Petra (Bukit Batu), adalah kota yang memberi nama Bukit Batu di Arab.

Sedangkan untuk Ul 18:18-19 memang adalah sabda Allah yang menjabarkan tentang ciri- ciri sang nabi, yaitu bukan hanya bernubuat, tetapi mengajar dan menegur umat Allah dalam nama Tuhan. Nubuat dan mukjizat- mukjizat secara umum dimaksudkan sebagai tanda- tanda yang dapat menunjukkan bukti- bukti kekuasaannya [sang nabi]. Hal ini digenapi dengan sempurna dalam diri Kristus. Dalam Yoh 14:10, Kristus mengatakan, “Tidak percayakan engkau bahwa Alu di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Oleh sebab Allah Bapa ada di dalam Kristuslah, maka Ia dapat mengajar dengan penuh kuasa, dan melakukan banyak mukjizat; dan semua ini menjadi tanda Ilahi, bahwa Ia adalah sungguh Nabi di atas segala nabi, Sang Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Kristuslah nabi yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, seperti telah tertulis dalam Luk 4:16-21, Mat 12: 17-21,13:53-58, Mrk 6:1-6. Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, sehingga seluruh kepenuhan Allah ada di dalam diri Kristus (Kol 1:19), sebab Ia adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Selanjutnya tentang topik tentang Kristus dapat dibaca di sini, silakan klik di judul berikut:

Yesus, sungguh Allah sungguh manusia
Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah
Inkarnasi adalah Immanuel, Allah beserta kita
Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi

Demikian yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang kenabian di dalam Perjanjian Lama

11

Pertanyaan:

Mat 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi. Maksudnya yang difirmankan Tuhan oleh nabi itu apa? Tuhan berbicara kepada nabi-nabi? Nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan (audible atau tidak)? Kemudian nabi-nabi mengatakan, apa yang dikatakan oleh Tuhan? Kenapa nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan? Apa yang membuat nabi-nabi bisa mendengarkan suara Tuhan? Bagaimana caranya agar bisa mendengarkan suara Tuhan?

Salam,
Alexander Pontoh

Jawaban:

Shalom Alexander Pontoh,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mt 1:22. Mari kita melihat pertanyaan anda satu persatu:

1. Tuhan berfirman dengan perantaraan para nabi.

Dikatakan dalam Mt 1:22 “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.” Yang difirmankan para nabi dalam konteks ayat di atas dijelaskan di ayat berikutnya “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mt 1:23) Dan ini merupakan pemenuhan dari nubuat nabi Yesaya (lih. Yes 7:14; Yes 8:8). Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan memang berbicara dengan perantaraan para nabi. Dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 64 dan 65):

64.    Dengan perantaraan para nabi, Allah membina bangsa-Nya dalam harapan akan keselamatan, dalam menantikan satu perjanjian yang baru dan kekal, yang diperuntukkan bagi semua orang (Bdk. Yes 2:2-4.) dan ditulis dalam hati mereka (Bdk. Yer 31:31-34; Ibr 10:16.). Para nabi mewartakan pembebasan bangsa Allah secara radikal, penyucian dari segala kejahatannya (Bdk. Yeh 36.), keselamatan yang mencakup semua bangsa (Bdk. Yes 49:5- 6; 53:11.). Terutama orang yang miskin dan rendah hati di hadapan Allah (Bdk. Zef 2:3.) menjadi pembawa harapan ini. Wanita-wanita saleh seperti Sara, Ribka, Rahel, Miriam, Debora, Hana, Yudit, dan Ester tetap menghidupkan harapan akan keselamatan Israel itu; tokoh yang termurni di antara mereka adalah Maria (Bdk. Luk 1:38.).

65.    “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari Salib dalam uraiannya mengenai (Ibrani 1:1-2):
“Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu… Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang ini masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm. 2,22).

Dari Katekismus di atas, maka kita melihat bahwa pada zaman Perjanjian Lama, maka Tuhan berbicara kepada umat Allah dengan perantaraan para nabi. Ini adalah merupakan “divine pedagogy“, pendidikan dari Tuhan kepada umat-Nya secara bertahap. Dan pendidikan ini kemudian mencapai kesempurnaannya di dalam Kristus, ketika Putera Allah sendiri berbicara langsung kepada umat-Nya. Dan tugas ini, kemudian diteruskan oleh Gereja Katolik.

2. Mengapa mereka dipilih oleh Allah?

Seperti yang dijelaskan di atas, dalam Perjanjian Lama, kita mengetahui bahwa Tuhan menyampaikan pesan, perintah, peringatan, dll. melalui perantaraan para nabi. Nabi mempunyai tugas untuk menyampaikan perkataan dari Tuhan kepada umat Allah. Dia tidak boleh menambahkan atau mengurangi pesan tersebut. Menjadi suatu pelajaran, bahwa nabi Musa, seorang nabi besar, yang diperkenankan untuk melihat Allah dan berbicara dengan Allah, pernah melakukan kesalahan dengan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah.

Bil 20:7  TUHAN berfirman kepada Musa:
Bil 20:8  “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”
Bil 20:11  Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Bil 20:12  Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.

Dari pelajaran ini, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa nabi adalah seseorang yang memang ditunjuk oleh Allah untuk mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Bagaimana seseorang dapat menjadi nabi? Di dalam kebijaksanaan-Nya, Allah sendiri yang memilih para nabi, bukan karena kecakapan dan kepandaian dari orang tersebut, namun Allah sendiri yang memilih mereka berdasarkan kerelaan hati-Nya. Bahkan Allah sering memilih mereka-mereka yang tidak cakap, seperti Musa yang tidak pandai berbicara (lih. Kel 4:10), Yeremiah yang merasa tidak pandai bicara dan merasa terlalu muda (lih. Yer 1:6), Yesaya seorang yang najis bibir (Yes 6:5), dll.

3. Bagaimana Allah berbicara dengan mereka?

Pertanyaannya, bagaimana Allah berbicara dengan para nabi? Karena Allah senantiasa menghargai manusia sebagai mahluk yang mempunyai kehendak bebas, maka dalam menyampaikan pesan, Allah tidak pernah menghilangkan dimensi kebebasan manusia. Dengan kata lain, pada waktu Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi, mereka masih mempunyai kesadaran. Dengan demikian, inspirasi Allah menyempurnakan kodrat mereka atau grace perfects nature. Di satu sisi, nabi yang ditunjuk Allah tidak boleh hanya menyampaikan apa yang mereka pikirkan tanpa adanya inspirasi Allah (divine inspiration). Bahkan dikatakan di dalam kitab ulangan “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” (Ul 18:20).

Allah dapat berbicara dengan mereka dengan cara yang begitu akrab, seperti yang ditunjukkan-Nya dengan Musa. Dikatakan “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” (lih. Ul 34:10; Kel 33:11). Tuhan berbicara dengan suara yang terdengar kepada Musa dan Daniel (lih. Bil 12:8; 1Sam 3:4-14). Dan dalam mimpi, Tuhan juga dapat menyatakan dirinya (lih. Bil 12:6; Joe 2:28). Malaikat juga dapat memberikan inspirasi kepada nabi (lih. Zak 1; Dan 8). Dengan demikian, Allah secara bebas, dengan berbagai cara memberikan inspirasi kepada para nabi, yang telah ditunjuk berdasarkan kebijaksanaan dan kerelaan hati-Nya.

4. Bagaimana para nabi dapat mendengar suara Tuhan?

Seperti yang telah dijelaskan di depan, para nabi dapat mendengarkan suara Tuhan, karena memang Tuhan telah memilih mereka menjadi perpanjangan mulut mereka. Dikatakan: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer 1:5). Setelah mereka dipilih oleh Allah, maka kita melihat bagaimana mereka menjalin hubungan yang begitu dekat dengan Allah, sehingga mereka memperoleh kekuatan untuk menjalankan misi yang diberikan oleh Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2584) mengatakan:

2584   Dalam kesendirian dengan Allah, para nabi menerima terang dan kekuatan untuk perutusan mereka. Doa mereka bukanlah suatu pelarian dari dunia yang tidak berkepercayaan, melainkan suatu usaha mendengarkan Sabda Allah. Doa ini sering kali membuka hati atau mengeluh, tetapi selalu merupakan satu doa syafaat, yang mengharapkan dan mempersiapkan (Bdk. Am 7:2.5; Yes 6:5.8.11; Yer 1:6; 15:15-18; 20:7-18.) campur tangan Allah yang membebaskan, Tuhan sejarah.

Tentang mendengarkan suara Tuhan, silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik. Semoga uraian di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Segala sesuatu sia- sia? (Pkh 1:2)

3

Pertanyaan:

Syalom katolisitas,

Saya tidak terlalu yakin bahwa saya mengajukan pertanyaan ke situs yang benar, tapi tidak apalah saya coba bertanya disini.

Mungkin hati saya belum diterangi oleh Roh Kudus dalam membaca alkitab, tapi sejujurnya semangat saya merosot kalau membaca kitab Pengkhotbah. Contohnya
Pengkhotbah 1 : 2.
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.

Keseluruhan isi kitab tersebut membuat kadar pesimis saya meningkat. Seperti apakah penafsiran positif dari ayat di atas atau keseluruhan kitab tersebut ?

Maaf kalau pertanyaan saya kurang berbobot.

Salam damai, Tuhan memberkati.

Anton

Jawaban:

Shalom Anton,

Pkh 1:2 mengatakan:

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”

Atau bahasa Inggrisnya,

Vanity of vanities, said Ecclesiastes: vanity of vanities, and all is vanity.”

Maksudnya all/ segala sesuatunya di sini adalah segala sesuatu yang bersifat duniawi di dunia ini. Sia- sia maksudnya di sini adalah bukan karena benda- benda ciptaan Tuhan tersebut tersebut buruk, namun maksudnya adalah, benda- benda itu adalah sia- sia jika dihubungkan dengan kebahagiaan manusia. Benda- benda tersebut adalah sia- sia, karena kebahagiaan manusia terletak bukan atas benda- benda ataupun jerih payah manusia yang sifatnya sementara. Sebaliknya, kebahagiaan manusia hanya dapat diperoleh di dalam Tuhan, seperti pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Perhatian yang terlalu besar akan hal- hal duniawi malah tidak akan memberikan kebahagiaan, tetapi kepusingan, kekuatiran, kesedihan dan kejahatan. Itulah sebabnya Kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa semua hal di dunia ini sia- sia. Atau seperti kata Rasul Paulus, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus… (Flp 3:7-8)

Maka ayat Pkh 1:2 ini mengecam pandangan orang- orang yang menaruh kebahagiaannya bukan atas Tuhan tapi di atas hal- hal duniawi yang sifatnya sia- sia. Sebab meskipun kelihatannya baik, hal- hal duniawi itu bukan apa- apa jika dibandingkan dengan Tuhan. Malah, jika tidak disikapi dengan baik, hal- hal itu dapat mendatangkan dosa, karena dapat mendatangkan keserakahan, ataupun kekejaman. Segala sesuatu di dunia sifatnya sementara, dan tak dapat dibandingkan dengan kekekalan dan kebahagiaan abadi di Surga. Di dunia ini segala sesuatunya ada waktunya, silakan klik, sedangkan di surga nanti kebahagiaan kita tidak lagi terbatas oleh waktu.

Jadi janganlah anda menjadi pesimis ketika membaca ayat yang sedemikian. Sebaliknya, malah ayat- ayat seperti ini dapat mendorong kita untuk menemukan kebahagiaan kita yang sejati, yaitu dengan memikirkan perkara- perkara surgawi yaitu perkara yang benar- benar penting dalam kehidupan kita, bukannya hanya ‘yang terlihat penting’. Demikian pula yang diajarkan oleh Rasul Paulus,

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” (Kol 3:1)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Masuknya Gereja Katolik di Indonesia

28

Pertanyaan:

Shalom…

Adakah referensi2 dan bukti2 sejarah yg mencatat pertama kali agama katolik masuk ke Negara Indonesia(Bumi Nusantara)?

Menurut beberapa sumber, abad 7 atau skitar thn 645 sesudah masehi di kota Barus atau dulu disebut Pancur daerah Sumatera Utara dari Tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini., juga ada yg menyebut abad ke-2 dari Rasul Thomas atau Gereja Katolik Suriah Timur. Dan Abad ke-14 di daerah Sumatera Selatan, Bersamaan juga dari Santo Fransiskus Xaverius di daerah maluku dan flores.

Terimakasih…
Victor
Tuhan Memberkati…

Jawaban:

Shalom Victor,

Nampaknya memang terdapat dua versi tentang sejarah yang mencatat pertama kali agama Katolik masuk ke Indonesia:

1. Sumber: KWI, menurut situs berikut ini, silakan klik. Gereja Katolik pertama kali masuk Indonesia di abad ke- 7:

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Barat. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku “Daftar berita- berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya”, yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.

Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Barat adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)

2. Sumber Wikipedia: Gereja Katolik masuk bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis di abad ke 15- 16.

“Sejarah Gereja Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.”

Sedangkan dari sumber New Advent Catholic encyclopedia, online, klik di sini, tidak disebutkan bahwa perjalanan Rasul Thomas di abad- abad awal sampai ke Indonesia. Yang disebutkan di sana adalah pemberitaan Rasul Thomas ke India, yang menyebabkan Raja India yang bernama Gundafor bertobat dan menjadi pengikut Kristus.

Jika mau diterima secara obyektif, kemungkinan agama Katolik memang telah masuk ke Indonesia sejak abad ke 7, namun kemudian masuk lagi dengan efek yang lebih meluas pada sekitar abad ke 15-16.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab