Home Blog Page 213

Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh

9

Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. (1 Yoh 3 : 14)

Manusia tentu gembira dengan kesembuhannya dari suatu keluhan atau rasa sakit. Tetapi sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah merasa lebih senang kalau saya sakit. Walaupun sudah sembuh, saya berpura-pura masih sakit. Saya mengatakan kepada Ibu (dan kepada diri saya sendiri) bahwa badan saya masih terasa tidak enak, walaupun saat itu sebenarnya saya mulai pulih dan sehat. Alasannya (yang hanya saya sembunyikan dalam hati saya), saya malas kembali ke bangku sekolah. Saya menemukan betapa nikmatnya berbaring santai di tempat tidur, makan diantar, dibelikan apa saja yang saya inginkan, dan tidak perlu bangun pagi-pagi. Daripada duduk di dalam kelas yang melelahkan dan kadang membuat saya bosan, atau tegang ketika harus menjawab soal-soal yang sukar dari guru yang galak. Setelah peristiwa itu berlalu beberapa waktu dan saya sudah kembali bersekolah, tiba-tiba saya sadar betapa bodohnya saya. Jutaan anak miskin seusia saya merindukan untuk bisa mengecap bangku sekolah tetapi tidak mampu karena tidak punya uang untuk membayar biayanya. Sekolah, walaupun memang lelah, membuat saya mengerti banyak hal, dan yang lebih penting saat itu, saya bisa bertemu teman-teman sebaya dan bermain sepuas-puasnya dengan mereka. Apalagi ketika salah satu teman saya kemudian juga sakit, agak serius. Saya menyadari lagi betapa nggak enaknya sakit itu; badan lemah, nafsu makan hilang, tidak bisa bermain. Oh, betapa menggelikan dan konyol pilihan saya untuk tetap sakit ketika itu, di samping perasaan bersalah karena telah berbohong kepada Tuhan, Ibu, dan diri saya sendiri.

Sekarang saya tidak bisa segera tertawa kalau mengenang kekonyolan saya sewaktu kecil itu, karena sebagai orang beriman, ternyata dalam kehidupan ini, saya juga masih sering memilih untuk menjadi orang sakit daripada orang yang sudah disembuhkan dan dipulihkan Tuhan. Melalui derita salib-Nya yang begitu menyakitkan, Tuhan sudah membebaskan saya. Saya seperti seekor domba yang tersesat karena hanya mengikuti keinginan pribadi, namun Tuhan yang bangkit di hari Paskah yang cerah, sudah menemukan saya lagi. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu (1 Petrus 2 : 24-25). Tetapi tantangan kehidupan ini memang tak ada habisnya. Ketika kita bahkan belum selesai berperang dengan kelemahan diri sendiri, pada saat yang sama kita juga harus berhadapan dengan Si jahat yang terus menerus memanfaatkan kelemahan kita untuk menjauh dari Allah dan memusuhi sesama. Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari, sepertinya saya masih saja ‘memilih’ menjadi orang tersesat. Betapa menyedihkan pilihan itu; orang merdeka yang tidak sadar dengan kebebasannya, orang sehat yang masih saja merasa dirinya sakit, orang yang telah pulang yang menempatkan dirinya sebagai orang tersesat. Apakah memang demikian? Ya, kalau saya membiarkan kemarahan menguasai diri saya ketika seorang teman menyinggung perasaan saya. Ketika saya tidak mengendalikan iri hati melanda kala ada anggota keluarga yang mengalami berkat melimpah dari Tuhan. Ketika saya mengabaikan tetangga saya yang sedang sakit dan kesepian. Ketika saya tidak menjaga mulut saya dari kecenderungan menghakimi orang lain yang sedang jatuh ke dalam dosa, atau menilai situasi hidup yang tidak sesuai harapan dengan celaan yang berkepanjangan. Ketika saya tidak menahan diri untuk diam dan mengalah saat adu argumen dengan sesama menjadi hangat. Ketika saya menyalahkan Tuhan pada saat terjadi peristiwa musibah tak terelakkan, seolah-olah tidak ada harapan lagi sama sekali. Ketika saya malas dan tidak disiplin dengan waktu, atau ketika saya menikmati sesuatu yang bukan hak saya.

Ya, sikap-sikap saya tidak selalu mencerminkan bahwa saya orang yang merdeka, orang yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, orang yang sudah ditemukan kembali oleh Bapa untuk menikmati hadirat-Nya yang damai, yang sudah disembuhkan sepenuhnya dari belenggu dosa. Betapa ruginya saya. Padahal oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Tetapi terbelenggu dalam dosa dan kebiasaan yang buruk mungkin terasa lebih nikmat, ya dosa memang nikmat. Dan hidup benar itu memang berat. Kita perlu berjuang sekuat tenaga untuk menghayati hidup orang yang merdeka, orang yang tidak lagi mengarahkan perhatian kepada dunia tetapi berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3 : 14). Seperti saya di waktu kecil, yang merasa enak dengan keadaan sakit yang stagnan, tidak berbuat apa pun, hanya tidur, makan, mendapatkan apa yang diinginkan. Kenapa saya harus repot-repot duduk di bangku sekolah, bangun pagi, mengerjakan PR, berlatih mengerjakan soal yang sukar, dan bergaul dengan teman sebaya. Bukankah lebih enak menjadi sakit dalam dosa, daripada berlelah-lelah belajar memperoleh harta kehidupan kekal: saat saya belajar menahan diri untuk mengasihi sesama dengan lebih tulus, menghentikan kebiasaan saya yang buruk walaupun nikmat, dan melayani sesama yang menderita. Tetapi, saya dan Anda tahu pilihan yang mana yang akan membuat kita lulus ujian, yang membuat kita hidup, berkembang, dan akhirnya berbuah. Dan kemerdekaan Allah adalah kemerdekaan yang sungguh membebaskan, setiap kali kita membiarkan diri ditangkap oleh Allah, menyalibkan keinginan daging kita, mengosongkan diri, berdisiplin, dan membiarkan Allah mengisi hidup kita penuh-penuh.

Seorang teman saya pernah membaca*), konon salah satu kata-kata paling kuat di dunia ini adalah “saya juga” atau “me too”. Saat kita mendapati ada orang yang telah atau sedang mengalami suatu penderitaan atau kesukaran yang sama dengan yang kita alami, kita merasa mendapatkan kekuatan dan semangat yang luar biasa. Bila kita dihadapkan pada situasi yang sangat sukar atau tidak adil, sehingga kita ingin memilih untuk menjadi orang sakit dan sesat saja tetapi nyaman, daripada memilih untuk bertahan dalam hidup, hendaknya kita ingat bahwa Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengalaminya bagi kita. Pengalaman ditolak, diacuhkan, dibuang, ditinggalkan orang-orang terdekat, bahkan disiksa dan dianiaya sampai mati tanpa belas kasihan sama sekali. Kesakitan dan penderitaan yang luar biasa. Kalau bukan karena cinta dan kerendahan hati yang sungguh sungguh tulus, tidak ada seorang manusia pun mampu menjalani apa yang dijalani Yesus bagi kita di jalan salib-Nya itu. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilir-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53 : 4-5).

Ketika kita merasa hidup tidak berpihak pada kita, ketika semua orang terasa membelakangi kita, ketika kesedihan hidup datang tanpa diundang, ketika kita jatuh terus ke dalam kelalaian dan kedosaan, semoga kita tidak putus asa dan kehilangan harapan. Ingatlah akan Yesus, yang selalu berjalan di samping kita, dengan salib di pundak-Nya, membisikkan dalam hati kita, “Aku juga, Aku juga telah mengalaminya, dan Aku telah mengalahkannya” dan oleh karena itu Ia melanjutkan “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16 : 33b). Kala saya hitung berapa kali Tuhan Yesus mengatakan “jangan takut” kepada para murid di dalam seluruh Injil, saya menemukan Yesus mengatakannya empat belas kali dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Bila kata-kata dari Tuhan itu juga dicari di dalam Kisah Para Rasul dan Kitab Wahyu, jumlahnya delapan belas kali.

Pilihan kembali Tuhan letakkan di tangan kita. Hari raya Paskah akan selalu datang dan datang lagi, tetapi makna sejati dari peringatan Paskah yang berkemenangan itu baru terjadi saat kita memilih untuk memiliki jati diri sejati sebagai manusia yang sembuh, utuh, mulia, dan berkelimpahan di dalam Dia. Dia yang sudah menebus kita dan menemukan kita kembali lewat penderitaan dan kebangkitan-Nya dari alam maut.

Selamat Paskah, kiranya kasih Tuhan Yesus yang menyembuhkan, memulihkan kita semua. (uti)

*) Terimakasih kepada Pak Lucas Nasution yang berbagi pengetahuan itu kepada saya

The Dark Night of the Soul

15

Pertanyaan:

Ibu Ingrid ytk., apakah ibu bisa membantu saya menjelaskan sedikit mengenai malam kelabu / malam gelap / kekeringan rohani / desolasi yang dialami oleh Mother Theresa? saya membaca beberapa artikel, memang desolasi ini adalah kelanjutan dari konsolasi, kelihatannya wajar bila tiap orang mengalaminya. yang paling merasakan desolasi ini adalah Yesus di kayu salib hingga Ia berteriak dengan suara nyaring : “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” sebenarnya seperti apakah malam kelabu itu, konon orang yang mengalaminya tidak bisa merasakan Tuhan. konon hal ini adalah semacam ujian spiritualitas tingkat tinggi, bisa berakibat positif bila orang tsb bisa melaluinya (tetap taat pada Allah) dan bisa berefek negatif (meninggalkan Allah). apakah hal ini sama dengan ketidak berdayaan yang kita alami saat mengalami berbagai masalah hidup? lalu yang kedua Ibu, saya menemukan e book CS Lewis Scewtape Letters, di sana diceritakan mengenai berbagai tuntunan setan Screwtape kepada keponakannya Wormwood, untuk menggoda manusia agar meninggalkan Allah. nah ibu, apakah desolasi dan godaan2 setan ini saling terkait? terima kasih. Indriani

Jawaban:

Shalom Indriani,

Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, ijinkan saya menjabarkan terlebih dahulu apa itu the dark night of the soul (malam gelap/kelabu bagi jiwa), seperti yang diajarkan oleh St. Yohanes Salib. St. Yohanes Salib menjelaskan makna “the dark night of the soul (malam gelap/kelabu bagi jiwa)” sebagai kontemplasi yang dialirkan oleh Tuhan untuk memurnikan jiwa dari ketidakmurniannya. Kontemplasi ini dimaksudkan oleh St. Yohanes Salib sebagai “aliran yang rahasia, penuh damai dan kasih dari Tuhan, yang jika diijinkan terjadi, menyalakan jiwa dengan kasih, … dinyalakan di dalam kasih dengan kerinduan.” (St. Yohanes Salib, Dark Night of the Soul 1.8.6) Keseluruhan teks tulisan St. Yohanes Salib tentang The Darkness of the Soul dapat dibaca di link ini, silakan klik.

Pemurnian jiwa terjadi dengan dua cara: 1) secara aktif, yaitu dicapai melalui usaha manusia itu sendiri; 2) secara pasif, yaitu dilakukan oleh Tuhan secara langsung melalui karunia Roh Kudus. Nah, pemurnian jiwa dari Tuhan tidak serta merta diberikan oleh Tuhan tanpa usaha dari jiwa tersebut untuk secara aktif memurnikan dirinya sendiri, yaitu dengan pemeriksaan batin yang teratur, melaksanakan meditasi (terutama merenungkan Sabda Tuhan) secara teratur, usaha mati raga, dan usaha untuk memperoleh dan menerapkan kebajikan- kebajikan. Jadi pemurnian jiwa secara aktif merupakan prasyarat pemurnian jiwa secara pasif oleh Tuhan. Pemurnian secara pasif ini merupakan sesuatu yang penting, sebab pemurnian jiwa secara aktif oleh usaha manusia tidak akan mencukupi. Oleh karena itu ‘dark night‘/ malam kelabu bagi jiwa’ merupakan jalan yang umum dalam pengudusan jiwa, untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Selanjutnya St. Yohanes Salib membagi ‘dark night‘ ini menjadi dua jenis, yaitu 1) dark night /malam kelabu bagi perasaan; dan 2) malam kelabu bagi roh. Nah untuk mengetahui bedanya, penting bagi kita untuk mengetahui adanya tahap- tahapan spiritual seseorang. Dalam hal ini, jika kita memakai ketujuh tahapan yang diajarkan oleh St. Theresia Avila, kita dapat menempatkan masa ‘dark night‘ ini sebagai berikut:

Tiga  tahapan kehidupan rohani Tujuh bilik dalam Puri Batin(menurut St. Theresia Avila) Dark night/ malam kelabu (menurut St. Yohanes Salib)
Tahap satu: Pemurnian bagi para pemula Puri kesatu, ciri- cirinya: hidup secara umum dalam kondisi rahmat, tetapi hanya berdoa sesekali, dan hanya didominasi oleh tujuan- tujuan duniawi Puri kedua: terjadi pergumulan melawan keduniawian, mengadakan meditasi (merenungkan Sabda Tuhan) Puri ketiga: hidup teratur dengan melaksanakan kebajikan- kebajikan, secara teratur ber-meditasi dan melakukan praktek yang saleh lainnya.
Dark night of sense/ malam kelabu bagi perasaan
Tahap dua: Penerangan bagi yang telah berpengalaman (‘proficient‘) Puri ke-empat: ‘prayer of quiet’ (doa hening), yang didahului dengan rekoleksi, yang ditandai dengan kesadaran yang penuh akan kehadiran Tuhan di dalam jiwa. Doa hening ini adalah semacam penyalaan kehendak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang ditandai dengan pertumbuhan dalam semua kebajikan, takut akan Allah, kerendahan hati, percaya penuh akan kuasa Tuhan, dan kemerdekaan rohani. Dark night of sense dimulai, ditandai dengan kesulitan untuk bermeditasi (tak dapat merasakan hadirat Tuhan). Pemurnian ini akan berangsur terlewati, dan jiwa menikmati kemerdekaan di dalam hati, kepuasan dan penghiburan. Hasilnya: jiwa tidak terikat oleh tujuan- tujuan duniawi dan keinginan mengalami konsolasi yang dapat ‘dirasakan’.
Tahap tiga: Persatuan [dengan Tuhan] Puri kelima: ‘prayer of quiet’: persatuan sederhana. Cirinya: tidak ada distraksi/ pelanturan, kepastian akan persatuan yang erat dengan Tuhan, kehendak yang kuat dan kerendahan hati yang sangat mendalam. Puri ke-enam: ‘ecstatic’/ conforming union: persatuan yang menyesuaikan dengan Kristus. Cirinya: luka-luka kasih, percobaan/ ujian yang terlihat dari luar ataupun di dalam hati, kehendak yang kuat, ‘spiritual betrothal’. Puri ke-tujuh: ‘Mysical Marriage’/ Perkawinan Mistik atau transforming union: persatuan yang mengubah menjadi seperti Kristus. Cirinya: kehendak yang kuat untuk melayani Tuhan dan menderita bagi-Nya; melupakan kehendak diri sendiri, hanya memusatkan diri pada Tuhan dan segala kehendak-Nya. Dark night of the spirit/ malam kelabu bagi jiwa/ roh. Pemurnian ini menyangkut pemurnian iman, akal budi dan kehendak dari kesombongan yang tersembunyi dan cacat/ kekurangan yang berkaitan dengannya.

Terlihat di sini, bahwa dark night yang pertama dialami oleh para pemula, ketika Tuhan mulai membawa mereka masuk ke dalam kontemplasi; sedangkan dark night yang kedua, yaitu pemurnian jiwa, diberikan kepada mereka yang telah berpengalaman (dalam tahap lanjut), yaitu saat Tuhan ingin membawa mereka ke tingkatan persatuan dengan Tuhan. Jadi, dark night of the soul bukan merupakan kata sinonim dari depresi, problem emosi ataupun kekeringan rohani akibat suam- suam kuku. Dark night, menurut pengajaran St. Yohanes Salib, dialami oleh mereka yang telah mengusahakan praktek kehidupan rohani, secara khusus meditasi ataupun mental prayer (doa kontemplatif). Jadi seseorang tidak seharusnya berpikir bahwa ia mengalami ‘dark night‘ jika ia bahkan belum memulai melakukan meditasi/ merenungkan Sabda Tuhan secara teratur. Dalam dark night of sense, jiwa- jiwa ini tidak memperoleh kepuasan atau penghiburan dari hal- hal rohani [misalnya rasa ‘hangat’/ suka cita melimpah, karunia air mata, dst] dan mereka juga tidak memperoleh penghiburan dari ciptaan lainnya. Tuhan bermaksud memurnikan mereka dari keinginan perasaan semata. Tanda kedua dari permurnian ini adalah, bahwa pikiran mereka yang mengalami hal ini akan selalu terarah kepada Tuhan, walaupun dengan rasa sakit, karena berpikir bahwa ia belum/ tidak cukup melayani Tuhan. Oleh karena itu, pengalaman dark night ini sangat berbeda dengan kemalasan ataupun suam- suam kuku, yang umumnya tidak peduli akan Tuhan. Tanda ketiga dari pemurnian ini adalah ketidakberdayaan di samping segala usaha melakukan meditasi seperti yang dilakukan di saat- saat terdahulu. Saat ini Tuhan ingin menyampaikan Diri-Nya, tidak lagi melalui usaha imajinasi/ pikiran manusia, tetapi melalui kontemplasi yang sederhana.

St. Yohanes Salib mengajarkan bahwa terdapat kecenderungan pada para pemula (mereka yang berada di tahap satu sampai tiga dalam Puri Batin) untuk terikat kepada konsolasi/ penghiburan yang dapat dirasakan, dari Tuhan. Walaupun dapat menghasilkan kebaikan, namun motivasi sedemikian perlu dimurnikan dan harus dikondisikan dengan usaha untuk menerapkan kebajikan- kebajikan, sebab jika tidak, mereka akan “mempunyai banyak kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan kegiatan- kegiatan rohani.” (St. Yohanes Salib, Dark Night (DN) 1.1.3) Yang paling umum dialami oleh para pemula sebelum memasuki Dark night of sense adalah kesombongan rohani (the capital sin of pride)…. “Mereka menumbuhkan kehendak yang sia- sia- kadang sangat sia- sia- untuk membicarakan hal- hal yang rohani di hadapan orang lain, kadang ingin mengajar daripada diajar; dan di hati mereka, mereka mengecam orang- orang yang nampaknya tidak memiliki devosi yang mereka kehendaki agar dilakukan, seperti orang Farisi mengecam sang pemungut cukai (lih. Luk 18:11-12, DN 1.2.1). Hal ini dapat terjadi pada orang- orang yang berada di Puri ketiga.

Nah, pertama- tama, dark night of sense adalah cara yang digunakan Allah untuk membersihkan jiwa seseorang dan untuk menyalakan kehendak dengan kasihnya. Kedua, adalah untuk ‘memaksa’-nya untuk melaksanakan kebajikan- kebajikan yang bertentangan dengan dosa- dosa pokok (capital sins). St. Yohanes Salib membandingkannya dengan memakan makanan keras, dan bukan hanya sekedar meminum susu. Pada saat kita tidak dapat melakukan meditasi dan tidak mengalami lagi konsolasi rohani, maka jiwa kita diingatkan akan ketidakberdayaannya dalam hal mengejar kekudusan. Ini akan membantu kita untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, untuk mengakui kebesaran Allah; bahwa hal pengudusan kita adalah pertama- tama merupakan karya Allah. Demikian juga, pengalaman ini menumbuhkan kerendahan hati untuk bersikap terhadap sesama, sebab kekeringan rohani ini menyebabkan kita tidak condong untuk menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Juga, ini menyebabkan kita lebih terbuka untuk mendengarkan pembimbing rohani dan kebijaksanaan Gereja. Kedua, dark night/ malam kelabu bagi jiwa ini juga merupakan obat terhadap kerakusan/ keserakahan rohani, sebab pada saat Tuhan menarik segala konsolasi rohani yang dipegang erat- erat, jiwa yang mengalaminya akan diarahkan untuk berdoa demi Tuhan sendiri dan bukan demi ‘kesenangan’ diri menerima berbagai konsolasi rohani tersebut. Selain itu, St. Yohanes juga menyebutkan, segi positif lainnya dari pengalaman malam kelabu tersebut, yaitu rasa damai sejahtera yang menetap, ketenangan jiwa, kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan (takut akan Tuhan), meningkatnya kesabaran dan keteguhan di dalam menghadapi pencobaan, memurnikan maksud hati, meningkatnya kelemahlembutan dengan hormat kepada Tuhan, diri sendiri dan sesama, kemerdekaan jiwa, dan kerinduan yang semakin besar akan Tuhan.

Setelah seseorang mengalami pemurnian melalui dark night of sense, ia akan mengalami konsolasi yang lebih besar di jiwa, dan ini akan bertahan selama jiwa terus meningkat dalam tahap pertumbuhan rohani. Jika Tuhan berkenan membimbing jiwa ke tahap selanjutnya, umumnya Ia tidak akan memberikan dark night of the spirit langsung setelah orang itu melewati masa kekeringan dan pemurnian dari dark night/ malam kelabu yang pertama. Setelah selesai melewati dark night yang pertama, umumnya jiwa akan mengalami banyak tahun untuk melewati tahap lanjut, di mana ia tidak lagi terikat terhadap hal- hal duniawi, melainkan mengarahkan diri kepada hal- hal surgawi, dengan tingkat kemerdekaan dan suka cita yang lebih besar daripada sebelum mengalami the dark night of sense. Jiwa orang itu telah menemukan kontemplasi dan suka cita rohani, tanpa perlu bersusah payah mengusahakannya melalui meditasi. (lih. DN 2.1.1)

St. Yohanes Salib mengatakan, bahwa banyak jiwa mengalami the dark night of sense, namun sangat sedikit yang mengalami the dark night of the spirit.  Bagi mereka yang selanjutnya mengalami the dark night of the spirit, agar mencapai persatuan ilahi dengan Tuhan,  the dark night of sense yang dialami seringkali disertai pencobaan- pencobaan yang berat dan dapat berlangsung lama (lih. DN 1.14.1). St. Yohanes Salib menjabarkan tiga hal khusus di mana beberapa jiwa dapat dicobai oleh si Jahat (setan/ iblis) di masa dark night of sense ini, walaupun tidak semua orang pada tahap ini mengalaminya. Setan dapat diijinkan untuk menggoda dalam bentuk roh perzinahan/ spirit of fornication, roh penghujatan/ spirit of blashemy atau roh ketakutan/ kebingungan yang tidak perlu/ scruples and perplexities, bukan untuk membuat mereka jatuh tetapi untuk menguji/ memurnikan mereka (lih. DN 1.14.1-3). [Pengalaman rohani beberapa Santa/santo menunjukkan hal ini, seperti yang dialami oleh St. Yohanes Salib sendiri, St. Fransiskus Asisi, St. Padre Pio, St. Maria Faustina, dan Mother Teresa]. St. Yohanes Salib mengatakan bahwa mereka yang menderita karena mengalaminya tidak perlu berputus asa sebab itu merupakan tanda bahwa Tuhan dapat membawa mereka menuju the dark night of the spirit, (walaupun tak semua mengalaminya) di mana godaan- godaan semacam ini umum terjadi- dan jika berhasil dilalui akan menghantar kepada kemuliaan/ persatuan ilahi dengan Tuhan. (lih. DN 1.14.4)

Menurut St. Yohanes Salib, sifat the dark night of the spirit itu seperti balok kayu yang terbakar. Kelembaban dan ketidakmurnian yang ada pada balok itu harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum balok tersebut dapat menyala. Ini serupa dengan jiwa kita. Penyalaan jiwa kita di dalam kasih Tuhan akan menyebabkan rasa sakit di jiwa sebelum jiwa dapat benar- benar menyala, dan rasa sakit ini serupa dengan penderitaan di Api Penyucian (lih. DN 2.10.1-7). Berdasarkan uraian di atas, saya menanggapi pertanyaan anda:

1. Desolasi yang dialami Mother Teresa

The Dark night of the soul (malam kelabu) yang dialami oleh Mother Teresa nampaknya adalah the dark night of senses, namun dapat juga merupakan the dark night of the spirit, mengingat desolasi yang mengikutinya telah mencapai tingkat yang sangat mendalam, terutama menjelang akhir hidupnya di dunia. Desolasi yang  dialami oleh Mother Teresa adalah bentuk partisipasinya terhadap apa yang pernah dialami oleh Kristus sendiri sebelum wafat-Nya. Maka, anda benar, bahwa yang paling merasakan desolasi adalah Kristus sendiri di kayu salib, pada saat Ia berteriak, “Allah-Ku, ya Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34).

2. Seperti apa ‘dark night of the soul‘/ malam kelabu?

Menurut pengajaran St. Yohanes Salib seperti yang diuraikan di atas, dark night/ malam kelabu memang merupakan masa pemurnian jiwa, di mana Tuhan mengijinkan agar jiwa tidak mengalami konsolasi rohani (tidak merasakan hadirat Tuhan). Masa ini dimaksudkan agar jiwa meninggalkan keterikatannya terhadap hal- hal duniawi dan perasaan semata, dan mengarahkan hati kepada Tuhan semata dan bukan kepada segala bentuk konsolasi rohani. Dengan absen-nya konsolasi rohani, seseorang belajar beriman dengan tulus, tanpa mengharapkan “gula-gula rohani” dari Tuhan, namun hanya karena dan demi kasih mereka kepada Tuhan. Hal inilah yang memurnikan iman mereka. Jadi walau dalam masa desolasi ini seseorang nampak tidak berdaya untuk melakukan meditasi, ini tidak untuk diartikan bahwa ia tidak berdaya pada saat menghadapi masalah hidup. Sebab justru pada saat seseorang memiliki iman yang tulus kepada Tuhan (tanpa mengandalkan konsolasi rohani), maka ia semakin tegar/ teguh dalam menghadapi kehidupan dan segala tantangannya. Hal ini diajarkan oleh St. Yohanes Salib, dan kita lihat buktinya dalam kehidupan Mother Teresa. Saat Mother mengalami desolasi, justru karya kerasulannya diberkati, dan ia dimampukan untuk menyelesaikan berbagai tantangan dalam karya misinya, dan karyanya menghasilkan buah yang luar biasa, berkat kesetiaan dan ketaatan imannya kepada Tuhan.

3. Apakah desolasi berkaitan dengan godaan setan?

Memang secara umum Setan menggoda manusia agar manusia berbuat dosa dan meninggalkan Tuhan atau tidak menghiraukan Dia. Hal ini kita baca dalam buku The Screwtape Letters karangan CS Lewis, ataupun The Snakebite Letters karangan Peter Kreeft. Namun sesungguhnya terdapat perbedaan di sini, antara godaan bagi mereka yang belum memulai perjalanan rohani, dan godaan yang dialami oleh mereka yang telah memulai perjalanan rohani dan dalam tahap menuju kehidupan rohani yang lebih mendalam. Sebab bagi kasus yang pertama, yang terjadi lebih menyerupai kasus depresi yang dapat mengarah kepada ketidakpedulian terhadap hal- hal rohani; sedangkan pada kasus yang kedua, godaan- godaan tersebut tidak menjadikan orang yang mengalaminya meninggalkan Tuhan tetapi malah semakin memurnikan imannya dan membuatnya semakin peka dan menginginkan hal- hal rohani. Maka godaan yang dialami oleh para orang kudus adalah kondisi yang kedua, di mana desolasi rohani yang mereka alami, semakin memurnikan jiwa dan kasih mereka kepada Tuhan. Harap dipahami, bahwa mereka yang mengalami desolasi ini adalah mereka yang dapat dikatakan telah bertumbuh secara rohani (bukan mereka yang masih labil dan masih di tahap awal); sehingga efek godaaan ini tidak sama, antara mereka yang di tahap awal dan mereka yang sudah di tahap lanjut. Bagi orang- orang di tahap awal, memang godaaan ini dapat menjadikan mereka meninggalkan Tuhan, tetapi pada orang- orang di tahap lanjut, godaan ini semakin membuat mereka merindukan dan mengandalkan Tuhan; dan inilah yang terjadi pada orang- orang kudus, termasuk di antaranya Mother Teresa. Di buku Come be My Light, yang memuat beberapa surat Mother Teresa, kita dapat membaca perjalanan rohani yang dialaminya sejak ia mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati (1928) sampai akhir hidupnya. Mother Teresa mengakui bahwa sejak tahun 1949/1950 ia mengalami desolasi (darkness) di jiwanya: di satu sisi ia mengalami kerinduan yang tak terputus akan Tuhan, namun di sisi lain, kegelapan, seolah Tuhan tidak hadir dalam jiwanya, dan ini menimbulkan rasa sakit yang tak dapat dijelaskannya. Namun pengalaman ini justru membuatnya semakin mengasihi Tuhan, dan menyerahkan hidupnya seutuhnya demi melaksanakan kehendak Tuhan. Kepada Fr. Van Exem, salah satu pembimbing rohaninya, Mother Teresa menulis demikian,

“… Anda harus mendoakan saya- agar belajar bagaimana untuk menghilangkan keakuan dalam diri saya dan untuk hidup secara intim dengan Tuhan. Maukah anda mengajari saya untuk melakukan hal ini? Berdoalah untuk terang agar saya dapat melihat dan mempunyai keberanian untuk membuang segala ke-akuan dalam karya ini [karya- karya misi MC]. Aku harus hilang sepenuhnya- jika aku mau agar Tuhan memiliki keseluruhan karya ini.” (lih. Mother Teresa, Come be my light, ed. Brian Kolodiejchuk, MC, (New York: Double Day, 2007), p. 113).

Tentang kegelapan itu, Mother Teresa menulis demikian, “Jiwaku tetap berada di dalam gelap yang dalam dan desolasi. Tidak, aku tidak mengeluh- biarlah Ia berbuat pada saya apapun yang dikehendaki-Nya.” (Ibid., p. 154). Pengalaman ini membuatnya menjadi semakin memahami dan berbela rasa dengan sesama, sehingga ia menawarkan nasihat ini:

“Jika engkau mengalami kesulitan- sembunyikanlah dirimu di Hati Kudus-Nya, dan di sana hatiku dan hatimu akan menemukan semua kekuatan dan kasih…” (Ibid., p. 155)

Namun demikian, Tuhan tidak meninggalkan Mother Teresa. Pada tahun 1958, pada misa requiem Paus Pius XII, Mother Teresa menerima rahmat yang besar. Mother Teresa menulis demikian kepada Uskup Agung Perier:

“Engkau akan bersuka untuk mendengar bahwa pada hari engkau mempersembahkan Misa bagi jiwa Bapa Suci di katedral- saya berdoa… mohon bukti bahwa Tuhan berkenan kepada Sosietas [MC].  Di sana dan pada waktu itu, lenyaplah kegelapan yang lama [kualami], rasa sakit akan kehilangan- kesendirian- penderitaan yang aneh selama sepuluh tahun itu. Hari ini jiwaku dipenuhi kasih dan suka cita yang tak terkatakan- dengan persatuan kasih yang tak terputuskan. Mari bersyukur kepada Tuhan dengan saya dan untuk saya.” (Ibid., p. 177)

Namun, konsolasi ini tidak bertahan lama. Mother Teresa kembali berada di dalam dark night, di mana ia merasa seperti berada di dalam terowongan, sendirian. Mother Teresa tidak mempedulikan hal ini, karena baginya, yang terpenting adalah mengasihi Tuhan, tidak peduli apakah ia mengalami konsolasi ataukah desolasi. Menghadapi dark night ini, Mother Teresa berpegang kepada Bunda Maria, yang juga mengalami pengalaman yang sama, saat ia mengambil bagian di dalam kehausan Yesus akan jiwa- jiwa, saat Yesus tergantung di kayu salib. Perkataan Yesus di kayu salib, “Aku haus” yang mendorongnya untuk memulai kongregasi Missionary of Charity, terus bergema di dalam hatinya. Pada tahun 1980 pada saat komunitas MC berkembang di seluruh dunia, Mother Teresa menulis,

“Sepanjang tahun ini saya mempunyai banyak kesempatan untuk memuaskan dahaga/ kehausan Yesus akan kasih- bagi jiwa- jiwa manusia. Tahun ini menjadi sebuah tahun yang dipenuhi dengan kisah sengsara Kristus (the Passion of Christ). Saya tidak tahu, kehausan mana yang lebih besar, kehausan-Nya ataukah kehausanku akan Dia…” (lih. Ibid., p. 297).

Fr. Neuner yang menjadi pembimbing rohaninya mengkaitkan kisah sengsara Kristus ini dengan pangalaman desolasi yang dialami oleh Mother Teresa. Demikianlah, Mother Teresa mensejajarkan dirinya dengan mereka yang berada di dalam kegelapan dunia. Dengan kasih yang menyala kepada Kristus dan sesama, Mother Teresa memberikan dirinya untuk menjadi terang bagi mereka yang berada dalam kegelapan (lih. Mat 5:14-16), dengan membagikan Terang Kristus kepada mereka yang miskin dan terbuang.

If I ever become a Saint, I will surely be one of ‘darkness’. I will continually be absent from Heaven – to light the light of those in darkness on earth…” (Ibid., 1)

Inilah tanggapan dari Mother Teresa, atas undangan Tuhan Yesus, Come be My light (Mari, jadilah terang-Ku). Mother Teresa berjuang untuk menjadi terang kasih Tuhan di dalam hidup orang- orang yang berada di dalam kegelapan, di antara kaum miskin dan tersisihkan di Kalkuta, India. Dalam desolasinya hampir di sepanjang karya kerasulannya, dan terutama menjelang wafatnya, Mother Teresa mengambil bagian dalam penderitaan dan desolasi Kristus saat menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi menyelamatkan jiwa- jiwa. Maka jika dalam kehidupan rohani kita mengalami desolasi, pengalaman Mother Teresa ini dapat menguatkan kita; bahwa dalam situasi apapun, bahkan pada saat kita tidak lagi merasakan konsolasi rohani; sesungguhnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Pengalaman desolasi ini dimaksudkan Tuhan untuk memurnikan jiwa kita, agar kita turut mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus di kayu salib, agar melalui pengalaman tersebut, kita dapat mematikan keakuan dan kesombongan kita, agar kita dapat memancarkan terang Kristus sepenuhnya kepada sesama. Dalam keadaan ini, firman Tuhan digenapi di dalam diri kita, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Mother Teresa, doakanlah kami agar kami dapat mengikuti jejakmu, membawa terang Kristus kepada sesama kami.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

7 pesan terakhir Yesus di kayu salib yang mengantar manusia pada keselamatan

51

Pesan terakhir yang penuh makna

Kalau seseorang yang kita kasihi meninggal, maka kita mencoba mengingat pengalaman-pengalaman bersama dengan orang tersebut, baik pengalaman suka maupun duka. Namun, terutama kita mencoba mengingat apa yang diucapkan pada saat-saat menjelang ajalnya, karena pesan pada saat-saat terakhir adalah penting dan penuh makna.

Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat tujuh pesan Yesus yang diucapkan-Nya pada saat Dia tergantung di kayu salib, saat-saat akhir hidup-Nya. Dari pesan terakhir ini, kita akan dapat menangkap hal-hal yang terpenting yang ingin disampaikan-Nya kepada kita. Tujuh pesan Yesus terdiri dari: (a) Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.“; (b) Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (c) Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!“; (d) Mar 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“; (e) Yoh 19:28 “Aku haus!“; (f) Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.“; (g) Yoh 19:30 “Sudah selesai“.

Dari pesan ini, kita melihat bagaimana Yesus ingin membawa keselamatan bagi semua orang dengan memberikan pengampunan kepada umat manusia, sehingga manusia dapat bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, sama seperti Yesus membawa pencuri di sebelah kanan-Nya ke Firdaus. Bagaimana cara untuk mencapai Kerajaan Sorga? Yesus menunjukkan agar kita dapat menerima Maria sebagai bunda kita, senantiasa berharap pada Allah dalam kesulitan, haus akan jiwa-jiwa untuk diselamatkan, serta terus setia terhadap panggilan kita sampai akhir hayat kita, sampai tiba saatnya kita menyerahkan nyawa kita kepada Bapa dan kemudian memulai kehidupan baru di dalam Kerajaan Sorga.

1. Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Pada saat Yesus tergantung di kayu salib, di tahta-Nya yang dipandang hina oleh banyak orang, Dia melihat dengan jelas drama kehidupan kehidupan manusia, mulai dari serdadu yang kejam, murid-muridnya yang pengecut, kaum Farisi yang iri hati, orang-orang yang tidak melakukan apapun ketika mereka melihat ketidakadilan. Di kayu salib dan juga dalam permenungan-Nya di taman Getsemani, Kristus juga melihat dosa-dosa seluruh umat manusia, mulai dari Adam dan Hawa sampai manusia terakhir. Ini berarti Dia juga melihat semua dosa kita. Inilah yang menyebabkan Yesus meneteskan keringat darah.

Santo Tomas Aquinas menyatakan bahwa ada tiga pengetahuan di dalam Kristus dalam kodrat-Nya sebagai manusia, yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan 3) pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision). Acquired knowledge ini adalah sama seperti pengetahuan yang kita dapatkan dari kita belajar kehidupan sehari-hari maupun mendapatkan pengetahuan tentang pengetahuan-pengetahuan yang lain. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab ketika dituliskan “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.“(Luk 2:52). Infused knowledge adalah pengetahuan seperti yang diperoleh oleh nabi-nabi maupun para malaikat. Allah sendiri memberikan inspirasi dan dengan akal budi mereka, para nabi mengekspresikannya dengan ungkapan dan kata-kata mereka sendiri. Bagaimana dengan beatific vision? Pengetahuan inilah yang dipunyai oleh Kristus sejak Dia dikandung dan sampai selama-lamanya. Pengetahuan ini memungkinkan Kristus senantisa berada dalam persatuan dengan Allah Bapa walaupun Dia mengambil kodrat manusia. Pada saat yang bersamaan, pengetahuan ini memungkinkan Kristus dapat memilih untuk membawa seluruh umat manusia dalam doaNya di taman Getsemani.

Bayangkan ketika orang tua merenungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh anaknya. Dalam keterbatasan melihat dosa-dosa anaknya, hati mereka dapat menjerit dan merasakan kepedihan yang mendalam. Inilah yang dialami oleh Musa, ketika dia mengetahui bahwa bangsa Israel akan mengalami kehancuran karena telah menyembah berhala. Dia berkata “31 …”Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. 32  Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel 32:32)

Sekarang coba bayangkan, apa yang dialami oleh Yesus, ketika Dia melihat secara jelas seluruh dosa-dosa manusia, dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir. Dan gambaran seluruh dosa-dosa manusia lebih jelas dibandingkan dengan kejelasan Musa melihat dosa-dosa umat Israel. Dengan beatific vision-Nya, Kristus melihat kesombongan manusia, orang-orang yang meninggalkan Gereja-Nya, orang-orang yang memecahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka dan lupa akan Tuhan yang telah memberikan rejeki kepada mereka. Dia juga melihat dosa-dosa yang kita lakukan, yaitu saat kita lebih memilih kesenangan kita dibandingkan dengan mengikuti perintah Allah, atau saat kita egois, atau saat kita marah dan mengeluh ketika ada percobaan datang. Namun, pada saat yang bersamaan, selain dosa-dosa kita, Kristus juga melihat perbuatan kasih yang kita lakukan. Ini berarti pada saat kita melakukan perbuatan kasih, maka kita juga menghibur Kristus pada saat Dia berdoa di taman Getsemani. Pada waktu Kristus berdoa inilah, segala yang terjadi di masa lalu maupun masa depan, dihadirkan oleh Kristus. Dengan demikian, jika kita berdoa dan melakukan perbuatan kasih di masa kini, kita menemani dan menghibur Kristus pada saat Dia mengalami penderitaan di Taman Getsemani. Kita mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, ketika Dia mengatakan “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Jangan biarkan kita lengah sehingga Kristus menegur kita dengan mengatakan “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40).

Bagaimana dengan pengetahuan manusia seperti kita? Kita dapat mempunyai pengetahuan eksperimental atau kalau Tuhan menghendaki, seseorang juga dapat mempunyai infused knowledge. Bahkan dengan seijin Tuhan, Rasul Paulus mungkin mengalami beatific vision ketika dia mengatakan bahwa dia mengenal seseorang yang diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga (lih. 2Kor 12:2-4). Namun, menjadi kodrat dari manusia untuk belajar secara bertahap. Pengetahuan manusia akan Tuhan didapatkan secara bertahap. Hal ini berbeda dengan para malaikat yang mendapatkan pengetahuan secara lengkap secara langsung. Inilah sebabnya Tuhan dapat mengampuni dosa manusia dan memberikan kesempatan kepada manusia berulang-ulang untuk memperbaiki dosanya, namun kepada malaikat yang berdosa, Tuhan tidak dapat memberikan kesempatan kedua, mengingat kesempurnaan pengetahuan yang telah diberikan kepada mereka. Kita ketahui bahwa sebagian dari para malaikat memilih untuk menolak dan melawan Tuhan.

Dengan melihat kodrat manusia ini, Kristus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Luk 23:34). Kristus tahu bahwa manusia memang berdosa karena dipengaruhi oleh kelemahan-kelemahannya akibat dosa asal. Dengan demikian, apa yang diperbuat oleh manusia bisa saja terjadi karena ketidaktahuannya. Namun tidak semua ketidaktahuan mengakibatkan orang terbebas dari dosa. Ketidakketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) membuat orang tidak berdosa, namun ketidaktahuan yang disebabkan oleh ketidakpedulian orang itu sendiri (culpable ignorance) menyebabkan seseorang tetap bersalah. Rasul Petrus mengerti bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus bertindak karena ketidaktahuan mereka, sehingga dia mengatakan “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.” (Kis 3:17)

Bagaimana dengan kita yang telah menerima Kristus? Kita tidak mempunyai alasan lagi bahwa kita tidak tahu. Oleh karena itu, tanggung jawab kita lebih berat, karena barang siapa diberi banyak akan dituntut lebih banyak (lih. Luk 12:48). Menyadari bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat menjalankan semua perintah Allah, Kristus menyediakan Diri-Nya sendiri untuk disalibkan, sehingga rahmat yang berlimpah dapat mengalir kepada kita umat Allah. Bahkan kesalahan-kesalahan yang dibuat umat Allah dapat dihapuskan dengan melakukan pengakuan dosa. Dan kalau seseorang tidak mensyukuri dan menggunakan semua kemudahan untuk mendapatkan pengampunan dosa, maka orang tersebut tidak lagi mempunyai alasan apapun kalau sampai dia kehilangan keselamatan kekal.

2. Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Keselamatan kekal bagi manusia adalah yang menjadi alasan bagi Kristus untuk turun ke dunia, rela menanggung sengsara, menerima semua kesengsaraan dan penderitaan, serta taat kepada Bapa untuk mati di kayu salib. Seluruh kehidupan-Nya ditujukan untuk mengemban misi ini, dan Kristus telah melaksanakannya dengan sempurna. Bahkan sampai pada menjelang akhir wafat-Nya, Dia tidak membuang kesempatan sedikitpun untuk menyelamatkan pencuri yang disalibkan bersama-Nya.

Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dalam peristiwa penyaliban, terjadilah suatu drama dari keinginan (wills) dari dua pencuri yang disalibkan bersama dengan Yesus. ((Fulton J. Sheen, Seven Words of Jesus and Mary: Lessons on Cana and Calvary (Missouri: Triumph Books, 2001), p.32)) Ada begitu banyak hal yang terjadi di luar diri kita, yang sering terjadi di luar kontrol kita. Namun, satu hal yang dapat kita kendalikan adalah keinginan kita. Di luar mungkin saja terjadi sesuatu yang begitu menyesakkan, membuat marah, namun kita tetap dapat memutuskan untuk tetap tenang. Bagi umat Katolik, ketenangan ini bersumber dari Kristus yang menderita, wafat dan bangkit. Oleh sebab Kristus telah mengatasi segalanya, maka kita dapat tetap tinggal tenang, sebab tak ada sesuatupun yang dapat terjadi di luar rencana Allah.

Menjadi sesuatu yang umum, bahwa pada saat seseorang disalibkan, maka dia akan menyumpahi orang yang menyalibkannya, bahwa menyumpahi dirinya, menyumpahi Tuhan dan hari kelahirannya. Namun, dua pencuri yang disalibkan mendengarkan seseorang yang disalib di tengah-tengah mereka mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Pengampunan ini mendatangkan rahmat. Paling tidak salah satu dari pencuri ini menyambut rahmat Allah. Bahkan ketika pencuri di sebelah kiri mengatakan “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk 23:39), maka pencuri di sebelah kanan Yesus menjawab “40 Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41  Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Luk 23:40-41)

Percakapan ini mungkin terlihat sepele. Namun, kita jangan melupakan bahwa setiap kata yang keluar dari orang yang disalibkan adalah merupakan suatu penderitaan, karena setiap tarikan nafas menjadi suatu siksaan. Pencuri di sebelah kanan, yang menurut tradisi bernama Dimas, dalam keterbatasannya telah memberikan nyawanya untuk Kristus, dan dia juga menaruh pengharapan di dalam Kristus, sehingga dia memohon kepada Yesus “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42) Sungguh suatu ungkapan pengharapan dan iman yang begitu sederhana dan dalam. Terhadap ungkapan iman dan kasih ini, Yesus menjawab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)

Mari, dalam Pekan Suci ini, kita bersama-sama merenungkan, bahwa kita yang telah menerima baptisan sakramental, seharusnya mempunyai sikap seperti yang ditunjukkan oleh Dimas, bahkan dituntut lebih. Mengapa? Karena kita telah menerima rahmat Allah yang begitu istimewa dalam Sakramen Baptis, seperti: (a) rahmat pengudusan, (b) menjadi anak-anak Allah dan dipersatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, (c) menerima tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), (d) menerima tujuh karunia Roh Kudus seperti yang disebutkan di dalam Yes 11:2-3 (kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan takut kepada Allah). Dengan rahmat-rahmat ini kita dimampukan untuk mengikuti perintah Kristus, yang menuntun kita kepada keselamatan kekal.

3. Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!”

Dengan penebusan-Nya di kayu salib, Kristus telah membuka jalan keselamatan bagi semua orang. Dia telah memberikan Diri-Nya dengan sehabis-habisnya. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya di kayu salib, yang telah diantisipasi dalam Perjamuan Suci (lih. Mat 26:26-29, Mar 14:22-25, Luk 22:19-20). Namun rupanya ini tidak cukup. Memandang dari kayu salib, Kristus melihat dua orang yang dikasihi-Nya, yaitu Ibu-Nya, Bunda Maria dan murid-Nya yang terkasih, rasul Yohanes. Dengan sisa-sisa nafas-Nya, Kristus memberikan pesan yang begitu penting kepada kita, yaitu pesan ketika Kristus memandang Ibu-Nya dan murid-Nya dan berkata “Ibu (RSV = Woman), inilah, anakmu!.. dan inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Dalam bukunya, uskup agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dengan menyebut woman (perempuan) dan bukan ibu, maka Kristus menginginkan bahwa Bunda Maria bukan hanya menjadi bunda Kristus saja, namun dia menjadi bunda seluruh umat beriman. Inilah sebabnya Kristus menyerahkan ibu-Nya kepada  kepada murid yang dikasihi-Nya – tanpa nama, untuk menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua murid Kristus.

Sebaliknya Kristus juga menyerahkan murid-Nya untuk menjadi putera Bunda Maria. Satu-satunya anak Maria memang tidak tergantikan, yaitu Kristus. Namun, Kristus ingin memberikan hubungan yang baru antara Maria dengan seluruh umat beriman. Kristus menginginkan agar Maria dapat menerima seluruh umat beriman sebagai anaknya, karena Kristus sendiri hadir dan bersatu dalam diri setiap umat beriman, sama seperti Kristus sendiri mengumpamakan DiriNya sebagai pokok anggur dan seluruh ranting-ranting bersatu dengan-Nya (lih. Jn 15:5). Ini berarti, Kristus menginginkan agar Bunda Maria turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus dan memperlakukan seluruh umat beriman sebagai anaknya. Suka atau tidak suka, Kristus menginginkan hal ini dan memberikan Maria sebagai bunda bagi seluruh umat beriman. Kalau Kristus tidak berkeberatan untuk dididik oleh Maria dan Maria dipandang baik oleh Kristus sebagai Bunda Allah, maka siapakah kita yang memandang bahwa kita tidak perlu menghormati Bunda Maria, bahkan ada yang menyingkirkan Bunda Maria dari kehidupannya? Apakah ada seorang pria yang merasa bahwa pacarnya terlalu berlebihan karena dia menghormati ibunya juga?

4. Mrk 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Disaksikan oleh Bapa-Nya di Sorga dan ibu-Nya di kaki kayu salib, Yesus berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kalimat yang berkesan keputusasaan. Mungkin jeritan yang sama, sering kita teriakkan dalam kesesakan dan penderitaan kita. Kita mengetahui bahwa Kristus adalah sungguh sama seperti kita, yang telah mengecap semua yang kita alami, termasuk penderitaan. Namun, di dalam penderitaan-Nya, Dia telah menunjukkan adanya suatu kepercayaan yang kokoh akan rencana Allah. Perkataan Eli, Eli Lamasabakthani, merupakan permulaan dari Mazmur 22, yang lengkapnya adalah sebagai berikut:

1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (22-2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
3 Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
4 Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
5 Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
6 Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
7 Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
8 “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
9 Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
10 Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
11 Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
12 Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
13 mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
14 Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
15 kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
16 Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
17 Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
19 Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
20 Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.
21 Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!
22 Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:
23 kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
24 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
25 Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
26 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
27 Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
28 Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
29 Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
30 Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
31 Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.

Bagi umat Yahudi, kalau seseorang memulai kalimat pertama dari Mazmur, maka berarti orang bermaksud untuk menyelesaikannya. Dan dalam kondisi tersalib, sungguh tidak mungkin untuk menyelesaikan pengucapan keseluruhan Mazmur tersebut. Ini berarti, bahwa kalimat pertama dari Mazmur 22 harus dimengerti dalam konteks keseluruhan, yaitu untuk mempercayai dan menggantungkan segala sesuatunya ke dalam tangan Bapa, yang pada akhirnya akan membawa kemuliaan, di mana seluruh ujung bumi akan mengingat dan berbalik kepada Tuhan (lih. Mzm 22:27). Ini adalah suatu pengajaran dari Kristus yang harus diikuti oleh seluruh murid Kristus tentang bagaimana menaruh pengharapan di dalam Tuhan dalam kondisi apapun. Cara dan sikap dalam menghadapi penderitaan adalah salah satu perbedaan antara orang yang mengenal Kristus dan yang tidak mengenal Kristus. Bahkan rasul Paulus mengatakan “3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4  dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5  Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:3-5)

Kalau seseorang menjadi murid Kristus, maka dia akan mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus, termasuk adalah cara menghadapi permasalahan dan penderitaan. Karena dengan penderitaan-Nya, Kristus dapat memenangkan belenggu dosa, maka dengan menyatukan segala penderitaan kita dengan Kristus, kita akan memperoleh kemenangan, yaitu kemenangan yang menyelamatkan, yang mengantar kita pada  kehidupan kekal. Kuncinya adalah menghadapi permasalahan dengan terus bertekun dalam doa yang didasarkan iman, pengharapan dan kasih, seperti yang dilakukan oleh Kristus.

Mungkin ada yang bertanya, kalau Yesus memang Tuhan, mengapa pada saat disalib, Dia berdoa? Sebenarnya, Yesus berdoa tidak hanya terbatas pada waktu Yesus disalib, namun Yesus berdoa dalam berbagai kesempatan (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Santo Thomas Aquinas membahas tentang definisi doa, dimana dia mengatakan bahwa doa adalah membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya.” ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, q. II-II, 83, a.1-2)) Karena di dalam Kristus (satu pribadi) ada dua kehendak, yaitu kehendak manusia dan kehendak Tuhan, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa karena Dia mempunyai kodrat manusia. Sama seperti kita sebagai orang beriman, kita menyatakan keinginan/ kehendak kita di hadapan Allah.

Alasan kedua adalah Yesus berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).

Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).

Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).

Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).

Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).

Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya berdoa.

Dengan demikian, maka kita dapat melihat bahwa doa Yesus di atas kayu salib sungguh merupakan doa yang berpengharapan yang menyelamatkan dan memberikan contoh bagi seluruh umat beriman.

5. Yoh 19:28 “Aku haus!”

Contoh apalagi yang ingin diberikan oleh Kristus sebelum dia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir ketika Dia mengatakan “Aku haus!“? Dikatakan di ayat Yoh 19:28 bahwa perkataan Yesus “Aku Haus” adalah untuk memenuhi nubuat di dalam Kitab Suci. Ini adalah pemenuhan dari Mzm 69:21 yang mengatakan “… dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” Dengan demikian, pernyataan Yesus merupakan penegasan bahwa Yesus yang tersaliblah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.

Memang dalam kodrat-Nya sebagai manusia, Yesus mengalami penderitaan dan kehausan yang begitu sangat. Namun, kehausan dalam kapasitas yang lebih dalam adalah kehausan untuk meyelamatkan jiwa-jiwa. Ini adalah drama pencarian Tuhan akan manusia. Drama di mana Tuhan yang dari Sorga turun ke dunia untuk menjangkau jiwa-jiwa yang tercerai berai. Kehausan ini mengingatkan kita akan permintaan Yesus kepada wanita Samaria “Berilah Aku minum” (Yoh 4:7). Dan percakapan ini pada akhirnya membawa keselamatan kepada wanita Samaria dan juga orang-orang di kota tersebut. Keselamatan wanita Samaria dan orang-orang di kota tersebut tidaklah cukup bagi Yesus, sehingga di atas kayu salib, Dia tetap merasa kehausan, karena Dia ingin menjangkau seluruh umat manusia, ingin menemukan dan mengantar seluruh umat manusia pada keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4)

Karena Tuhan senantiasa dalam pencarian akan manusia, maka sejak dari Perjanjian Lama dikatakan “13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14  Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yer 29:13-14) Inilah sebabnya ketika seseorang menyadari bahwa dia memerlukan Tuhan, ketika seseorang melihat penderitaan dalam kacamata iman, ketika seseorang menerima penderitaan dengan tabah, ketika seseorang mau menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Kristus, maka Tuhanlah yang sebenarnya menjadi penggerak utama dari semuanya itu. Dalam drama penyaliban, terutama perkataan Yesus bahwa Dia haus, kita menyaksikan akan drama tentang Tuhan yang sungguh mencintai manusia dengan sehabis-habisnya. Bagaimana tanggapan manusia? Bagaimana tanggapan kita?

6. Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Dalam satu kalimat ini, kita dapat melihat hubungan yang sungguh dalam dan tak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Bapa begitu mencintai manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia (lih. Yoh 3:16). Kristus datang ke dunia dan senantiasa melaksanakan kehendak Bapa. Dari umur duabelas tahun, Kristus telah mengatakan bahwa Dia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (Luk 2:49). Dalam seluruh karya-Nya, Kristus senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada Bapa (lih. Yoh 8:29). Sampai pada akhirnya, Kristus menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Bapa (lih. Luk 23:46). Dengan kebebasan-Nya, Kristus melakukan kehendak Bapa.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita menggunakan kebebasan kita? Orang sering salah dalam mengartikan kebebasan. Orang sering mengartikan kebebasan sebagai “kebebasan dari / freedom from” dan bukan “kebebasan untuk / freedom for“. Kebebasan yang lebih menekankan “kebebasan dari” merupakan ekspresi akan keinginan yang terbebas dari hal-hal yang dianggap mengikatnya, termasuk tanggung jawab. Orang yang menginginkan kebebasan untuk minum minuman keras tanpa mau dibatasi jumlahnya, cepat atau lambat akan menemukan bahwa dirinya tidak lagi bebas. Dia akan terikat akan minuman keras, dan tidak lagi mempunyai kebebasan untuk mengatakan tidak terhadap minuman keras. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa mengumbar kebebasan tanpa adanya batasan yang jelas dapat membuat manusia menjadi tidak bebas lagi. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebebasan sebagai berikut:

KGK, 1731. Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

Dari definisi di atas, kita dapat melihat bahwa kebebasan seharusnya juga dibarengi dengan kebenaran (truth) dan kebaikan (good). Tanpa dibarengi dengan kebenaran dan kebaikan, maka kebenaran akan menjadi suatu tindakan yang tidak bertanggungjawab. Semakin tinggi kebenaran dan kebaikan itu, maka kebebasan itu akan semakin membebaskan. Karena tidak ada kebenaran dan kebaikan yang lebih tinggi dari Tuhan –  sebab Tuhan adalah kebaikan dan kebenaran itu sendiri – maka kebebasan sejati adalah kebebasan yang didasarkan atas ketentuan dari Tuhan. Kristus sendiri, sebagai jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) telah mengatakan bahwa kebenaran akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dengan demikian, dalam kata yang terakhir di kayu salib, Kristus telah menunjukkan bahwa Dia secara bebas menjalankan kehendak Bapa dan secara bebas memberikan nyawa-Nya untuk Bapa. Inilah kebebasan yang sejati.

Paus Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada kaum muda seluruh dunia pada tahun 1985 mengatakan “And in this sphere Christ’s words: “You will know the truth, and the truth will make you free”, become an essential programme. Young people, one might say, have an inborn “sense of truth”. And truth must be used for freedom: young people also have a spontaneous “desire for freedom”. And what does it mean to be free? It means to know how to use one’s freedom in truth-to be “truly” free. To be truly free does not at all mean doing everything that pleases me, or doing what I want to do. Freedom contains in itself the criterion of truth, the discipline of truth. To be truly free means to use one’s own freedom for what is a true good. Continuing therefore: to be truly free means to be a person of upright conscience, to be responsible, to be a person “for others”. ((Pope John Paul II, Dilecti Amici, 13))

Mari, dalam Pekan Suci ini, kita merenungkan sejauh mana kita telah menggunakan kebebasan kita. Apakah kita telah menggunakan kebebasan kita dengan bertanggungjawab berdasarkan kebenaran dan kebaikan, sehingga dapat mengarahkan kita kepada keselamatan diri kita maupun membantu keselamatan orang-orang di sekitar kita? Jika kita telah mati dari dosa kita – karena Sakramen Baptis – yang kita terima, dan membuat kita dapat bangkit bersama Kristus, maka kita juga harus mengikuti teladan Kristus. Kita dapat menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin bebas untuk melaksanakan seluruh perintah Tuhan.

7. Yoh 19:30 “Sudah selesai”

Setelah prajurit memberikan bunga karang yang telah dicelupkan pada anggur asam, lalu Yesus meminumnya dan berkata “sudah selesai” (lih. Yoh 19:30). Kita dapat melihat adanya tiga hal yang berkaitan dengan “sudah selesai”. Di dalam Kitab Kejadian, setelah Tuhan menyelesaikan penciptaan, maka pada hari ke tujuh, Dia mengatakan “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan (finished His work) yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. ” (Kej 2:2) Dan Kitab Wahyu menuliskan, “Semuanya telah terjadi (it is done). Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Ini berarti, penciptan dunia dan kemenangan di Sorga hanya dapat terjadi kalau pekerjaan yang dilakukan Yesus telah selesai. Dan dalam konteks inilah Yesus mengatakan “sudah selesai” untuk menyatakan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa dengan sempurna, bukan dengan keputusasaan dan kegetiran, namun dengan dasar kasih yang sempurna. Inilah yang membuat persembahan Kristus di kayu salib dapat menyenangkan hati Bapa – yaitu karena didasarkan kasih yang sempurna. Dengan perkataan ini, Yesus menyelesaikan seluruh pekerjaan-Nya di dunia untuk kembali kepada Bapa.

Semoga keteguhan Kristus untuk menunaikan tugas perutusan-Nya di dunia, juga mendorong kita untuk menunaikan tugas perutusan kita di dunia, sampai akhir hidup kita.

Melaksanakan tujuh pesan terakhir Yesus mengantar kita kepada keselamatan

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa tujuh pesan terakhir Yesus sungguh penuh makna yang mendalam. Kalau kita terus merenungkan pesan-pesan ini sepanjang Pekan suci ini, maka kita akan semakin menghargai pengorbanan Yesus. Apapun kondisi kita, di Pekan suci ini, Kristus menawarkan pengampunan kepada kita semua. Bagi yang berdosa berat, segeralah mengaku dosa dan bagi yang berjuang dalam kekudusan, teruslah berfokus pada tujuan akhir. Yesus menginginkan agar semua manusia dapat sampai pada tujuan akhir, yaitu Sorga. Tidak ada kata terlambat. Sejauh kita masih hidup dan bertobat, sama seperti pencuri yang disalibkan di sisi kanan Yesus, maka Kristus akan memberikan janji yang sama, yaitu keselamatan kekal.

Demikian pula, Kristus menyerahkan Bunda-Nya menjadi Bunda segenap umat beriman, agar kita dapat memohon dukungan doanya agar dapat sampai kepada keselamatan. Tujuan akhir ini juga harus dihadapi dengan pengharapan akan Allah, sehingga pencobaan dan penderitaan tidak menjadikan kita perputus asa. Dalam perjalanan kita menuju Sorga, kita juga harus mempunyai semangat untuk membawa orang-orang di sekitar kita untuk memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Dan ini harus kita lakukan sampai akhir hidup kita, sampai tugas kita selesai dan sampai kita menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan Bapa. Dengan menjalankan pesan Kristus ini, maka kita dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat.

Semoga Trihari Suci membawa kita pada permenungan yang lebih mendalam akan misteri Paskah Kristus.

Catatan: Artikel ini dipakai untuk pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk, tanggal 20 April 2011.

100% Katolik, 100% Indonesia

4

Pertanyaan:

Dear Rm/suster/Bp/Ibu,

Kita sering mendengar istilah Orang Katolik 100% dan orang indonesia 100% (alm. Mgr. Soegijopranoto); dalam penerapannya sebenarnya bagaimana ya ? Terlebih dalam mendalami hidup sejati bersama masyarakat. mohon sharing pengalaman dan pendapat. tks.

Salam, Raymond

Jawaban:

Salam Raymond.
Mgr Ignatius Suharyo menulis tema-tema sehubungan dengan kekatolikan dan keindonesiaan kita dalam buku “Catholic Way”, terbitan Kanisius, 2010. Dalam buku itu, Mgr Haryo dengan gamblang menggambarkan arti menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%. Idealnya, seorang Warga Negara Indonesia yang beragama Katolik, justru  karena imannya, bergerak melibatkan diri dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia khususnya yang kecil lemah miskin, tersingkir dan difabel.(Bdk GS 1, Mat 25: 40). Sikap yang ideal itu harus kita usahakan secara pribadi maupun bersama pada segala jenjang. Kita mesti bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat manusia yang makin bermartabat, adil dan sejahtera bersama.

Prakteknya macam-macam. Kita bisa meneladan para tokoh Katolik nasional di masa lalu seperti Mgr Soegijapranata, IJ Kasimo, Ign Slamet Rijadi, Agustinus Adisutjipto, Yosafat Soedarso, dan lain-lainnya. Kita pun bisa menimba ilham dari gerakan-gerakan yang baik dari Gereja dan masyarakat sekarang ini di berbagai bidang. Di bidang ekonomi kerakyatan ada Credit Union. Di bidang partisipasi politik dan penegakan hukum, usaha dilakukan  sekarang melalui FMKI,forum politisi Katolik, dsb. Di bidang kesenian misalnya ada forum wartawan Katolik, forum seniman-seniwati Katolik yg berusaha menampilkan karya-karya budaya yang mengangkat kembali makna Pancasila. Kebhinnekaan, NKRI, konstitusi, serta semangat cinta tanah air/nasionalisme. Di bidang karya pendidikan dan kesehatan, lembaga-lembaga Katolik  di dua bidang itu pun selalu merefleksi diri serta berusaha mengkritisi pelaksanaan UU yang kurang berpihak pada rakyat. Relasi dengan tokoh-tokoh agama lain, serta  berbagai kerjasama nyata makin marak dilakukan oleh seksi Kerawam dan seksi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Paroki, bahkan oleh Komisi Kepemudaan keuskupan-keuskupan.

Secara pribadi dan bersama di lingkup kecil misalnya di RT/RW, kita berperan dengan aktif dalam keprihatinan setempat. Kita pun bisa menulis usulan, kritik, saran yang membangun hidup bersama do media massa. Atau bisa pula mengajukan “judicial review” terhadap UU yang kita rasakan tidak adil. Pendek kata, kita melakukan kewajiban dan hak kita sebagai warga negara. Jangan lupa, sesuai sabda Tuhan, kita membayar pajak (lih. Luk 20:25).

Mengenai “gema” dan hasil dari usaha-usaha itu jangan ditanyakan dahulu sekarang, karena yang paling penting ialah bertindak nyata.
Kita mengasihi Kristus dalam kancah nyata, yaitu masyarakat, di mana kita merupakan bagian yang tak terpisahkan darinya. Instruksi untuk terlibat bisa dibaca antara lain dalam dokumen dekrit Konsili Vatikan II yang berjudul “Apostolicam Actuositatem” atau “Kegiatan Merasul”.

Salam
Y. Dwi Harsanto Pr

Tentang Kaul dan Nazar

8

Pertanyaan:

Yth tim Katolisitas, saya ada sedikit pertanyaan tentang bernazar atau membuat perjanjian dengan Tuhan ataupun dengan para kudus jika permohonan saya dikabulkan saya akan melakukan sesuatu, apakah hal ini diperbolehkan? Karena terus terang banyak orang mengingatkan saya untuk berhati2 dalam hal ini.

Terima kasih

Jawaban:

Shalom Stephanus Roy,

Berikut ini adalah ajaran Katekismus Gereja Katolik tentang Kaul dan nazar/ perjanjian dengan Tuhan:

KGK 2101    Dalam berbagai kesempatan, seorang Kristen diminta untuk mengucapkan janji kepada Allah. Pembaptisan dan Penguatan, Perkawinan dan Tahbisan selalu berhubungan dengan janji semacam itu. Karena kesalehan pribadi, warga Kristen juga dapat menjanjikan satu perbuatan, satu doa, satu sedekah, satu ziarah, atau yang semacam itu, kepada Allah. Dengan memenuhi janji yang telah dibuat kepada Allah terbuktilah penghormatan yang harus diberikan kepada keagungan Allah dan kasih kepada Allah yang setia.

KGK 2102    “Kaul, yakni janji kepada Allah yang dibuat dengan tekad bulat dan bebas mengenai sesuatu yang mungkin dan lebih baik, harus dipenuhi demi keutamaan agama” (CIC, can. 1191 ? 1). Kaul adalah satu tindakan penyerahan diri, yang dengannya warga, Kristen menyerahkan diri kepada Allah atau menjanjikan satu perbuatan baik kepada-Nya. Dengan memenuhi kaulnya, ia mempersembahkan kepada Allah, apa yang telah ia janjikan atau ikrarkan. Santo Paulus misalnya, sebagaimana disampaikan Kisah para Rasul, sangat memperhatikan supaya memenuhi kaulnya (Bdk. Kis 18:18; 21:23-24).

KGK 2103    Kaul-kaul untuk hidup seturut nasihat-nasihat Injil, dijunjung tinggi Gereja (Bdk. CIC, can. 654):
“Maka Bunda Gereja bergembira, bahwa dalam pangkuannya terdapat banyak pria dan wanita, yang mengikuti dari dekat dan memperlihatkan lebih jelas pengosongan diri Sang Penyelamat, dengan menerima kemiskinan dalam kebebasan anak-anak Allah Serta mengingkari keinginaan keinginan mereka sendiri. Mereka itulah, yang demi Allah tunduk kepada seorang manusia dalam mengejar kesempurnaan melampaui apa yang diwajibkan, untuk lebih menyerupai Kristus yang taat” (LG 42).
Dalam situasi tertentu Gereja dapat memberikan dispensasi dari kaul & janji karena alasan-alasan” yang wajar (Bdk. CIC, cann. 692; 1196-1197).

Selanjutnya, jika seseorang membuat janji/ nazar/ kaul pribadi namun kemudian bermaksud untuk membatalkannya, maka hal ini dimungkinkan, mengingat dapat saja seseorang membuat janji kepada Tuhan tanpa berkonsultasi dengan seorang pembimbing rohani (spiritual director). Nazar/ kaul pribadi ini dapat berupa janji untuk hidup selibat sepanjang hidup, janji untuk menjadi misionaris, ataupun berdoa rosario setiap hari seumur hidup, dst.

Mengingat bahwa ada kalanya seseorang yang telah membuat kaul/ nazar, namun kemudian ingin dilepaskan dari nazar tersebut, maka hal ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK/ CIC 1983):

KHK 1196    Selain Paus, yang dapat memberikan dispensasi atas kaul privat karena alasan yang wajar, asalkan tidak melanggar hak yang telah diperoleh orang lain, ialah

  • Ordinaris wilayah dan pastor paroki sejauh menyangkut semua bawahan mereka sendiri dan juga para pendatang;
  • Pemimpin tarekat religius atau serikat hidup kerasulan, jika mereka itu bersifat klerikal bertingkat kepausan, sejauh menyangkut anggota-anggota, para novis serta orang-orang yang siang-malam tinggal dalam rumah tarekat atau serikat itu;
  • mereka yang diberi delegasi kuasa memberikan dispensasi oleh Takhta Apostolik atau oleh Ordinaris wilayah.

 

KHK 1197    Karya yang dijanjikan dalam kaul privat dapat diganti oleh orangnya sendiri dengan sesuatu yang baik yang lebih besar atau yang sama; tetapi hanya dapat diganti dengan sesuatu yang baik yang lebih kecil oleh orang yang berkuasa untuk memberi dispensasi, menurut norma  Kanon 1196.

Dengan demikian, anda boleh saja membuat janji/ nazar dengan Tuhan, namun sebaiknya jika anda sudah mengkonsultasikannya terlebih dahulu dengan pembimbing rohani anda. Jika anda tidak mempunyai pembimbing rohani (umumnya imam yang kepadanya anda mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa), lebih baik memang tidak membuat janji/ nazar tertentu yang belum tentu realistis bagi anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Perkawinan Katolik vs perkawinan dunia

53

I. Manusia diciptakan dalam kasih dan untuk kasih

Pasangan suami istri, entah yang baru saja menikah atau yang sudah lama menikah mungkin pernah bertanya demikian di dalam hati, “Sebenarnya tujuan perkawinan itu apa, ya?” atau, “Kehidupan perkawinan seperti inikah yang Tuhan kehendaki?” Atau banyak pertanyaan- pertanyaan lainnya, yang intinya mempertanyakan makna kehidupan perkawinan. Tentu boleh saja kita bertanya demikian, sebab memang sudah menjadi kodrat manusia untuk mempertanyakan tujuan atau arti hidupnya, dan kita dapat saja berusaha menjawabnya sendiri. Namun, bagaimanapun juga, jawaban yang yang paling sempurna kita dapatkan dari Allah, sebab Ia-lah yang menciptakan kita. Sebagaimana layaknya perancang selalu merencanakan yang terbaik bagi hasil karyanya, demikian pula Allah. Ia merencanakan yang terbaik bagi kita masing- masing yang diciptakan-Nya di dalam kasih dan oleh karena kasih-Nya. Tujuannya hanya satu dan sederhana saja, yaitu: Allah ingin agar kita semua bahagia! ((lih. Baltimore Catechism, Lesson 1. on the Purpose of Man’s Existence: 3. Why did God make us? God made us to show forth His goodness and to share with us His everlasting happiness in heaven. Terjemahannya: Mengapa Tuhan menciptakan kita? Tuhan menciptakan kita untuk menunjukkan kebaikan-Nya dan untuk membagikan kepada kita kebahagiaan kekal di surga.))  Dan bahagianya manusia itu dicapai dengan satu cara yang utama yaitu: mengasihi. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan demikian dalam surat ensikliknya yang pertama:

“Manusia tak dapat hidup tanpa kasih. Ia tetap menjadi sosok yang tidak dapat dipahami oleh dirinya sendiri, dan hidupnya tidak berarti, jika kasih tidak dinyatakan kepadanya, jika ia tidak mengenal cinta kasih, jika ia tidak mengalaminya dan menjadikannya sebagai miliknya, jika ia tidak mengambil bagian di dalamnya.” ((Paus Yohanes Paulus II, surat ensiklik Redemptor Hominis, 10))

Jadi entah kita menikah atau kita tidak menikah, Tuhan ingin agar kita bahagia; Tuhan ingin kita mengasihi satu sama lain. Namun pengertian ‘kebahagiaan’ dan ‘cinta kasih’ menurut Tuhan tidak sama dengan pengertian menurut dunia. Tuhan menginginkan kebahagiaan kekal, sedangkan dunia, kebahagiaan sesaat. Tuhan menghendaki kita mengasihi secara total, sedangkan kita umumnya cukup berpuas diri dengan cinta ‘sebagian’ saja. Mungkin Tuhan tahu bahwa tanpa contoh, kita tidak akan dapat mengasihi seturut kehendak-Nya, sehingga Ia mengutus Putera-Nya, Tuhan Yesus, untuk memberitahukan kepada kita bagaimana caranya mengasihi, supaya kita benar- benar dapat sampai kepada kebahagiaan yang Tuhan rencanakan bagi kita.

Melalui teladan Yesus, kita mengetahui seperti apakah cinta yang sejati; yaitu cinta yang memberikan diri sehabis- habisnya kepada orang yang dikasihi, seperti apa yang telah dilakukan Yesus kepada setiap kita. Yesus ingin agar kitapun dapat mengasihi seperti ini. Allah Bapa memanggil kita untuk hidup di dalam persekutuan dengan Kristus (lih. 1 Kor 1:9). Oleh karena itu, melalui Baptisan, Tuhan menggabungkan kita dengan kehidupan ilahi-Nya sendiri ((lihat Katekismus Gereja Katolik 1265: Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah Bdk. Gal 4:5-7.; ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19) )), sehingga kita dapat memiliki kasih seperti kasih-Nya. Rahmat Baptisan ini ditambahkan pada sakramen- sakramen selanjutnya, termasuk di dalamnya sakramen Perkawinan, saat Kristus menguduskan hubungan suami istri agar menjadi gambaran kasih Kristus yang total kepada Gereja-Nya, dan demikian juga sebaliknya, kasih Gereja kepada Kristus. ((lih. Katekismus Gereja Katolik 1617)) Gambaran kasih yang total ini juga diperlihatkan dengan lebih jelas oleh mereka yang hidup selibat bagi Kerajaan Allah. Mereka ini bahkan lebih nyata lagi menggambarkan kasih yang total kepada Allah: suatu gambaran yang mengarahkan pandangan kepada kesempurnaan kasih di kehidupan yang kekal. ((lih. Katekismus Gereja Katolik 916, 1619, dan Paus Yohanes Paulus II, Ekshortasi Apostolik Familiaris Consortio, 16))

Oleh karena itu, baik kehidupan berkeluarga ataupun selibat untuk Kerajaan Allah mengarahkan kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Jadi kebahagiaan sejati di dalam Kristus juga adalah milik kita yang hidup berkeluarga, bukan hanya milik mereka para imam, biarawan, biarawati. Hubungan suami istri dalam kehidupan berkeluarga malah mempunyai kekhususan yang lain, karena melibatkan juga pengudusan segala hal yang sifatnya sementara di dunia, termasuk hubungan seksual, karena dalam terang Allah, hubungan suami istri adalah kudus, karena tidak saja menyangkut tubuh, tetapi juga emosi, dan jiwa. ((lih. Familiaris Consortio 11)) Sebab jika keseluruhan hidup kita menjadi kudus, maka kita akan memperoleh kebahagiaan sejati seperti yang dikehendaki Tuhan. Sekarang, bagaimana langkah- langkahnya, agar kebahagiaan semacam ini dapat dialami suami istri? Agar suami tidak lekas ‘bosan’ dengan istri, dan demikian pula sebaliknya? Dan agar keluarga selalu diikat erat oleh cinta mesra yang semakin teguh?

II. Delapan perbedaan antara perkawinan Katolik vs perkawinan dunia

Berikut ini ada beberapa delapan butir permenungan yang mungkin dapat kita renungkan bersama, yaitu membandingkan antara Perkawinan Katolik vs Perkawinan Dunia. Dengan membandingkan perkawinan Katolik dan perkawinan dunia diharapkan kita dapat lebih mengerti esensi dari perkawinan Katolik, yang sungguh berbeda dengan perkawinan dunia. Perkawinan Katolik adalah perkawinan yang hidup dalam Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (lih. Gal 5:22-23) Delapan butir perbandingan antara perkawinan Katolik vs perkawinan dunia adalah sebagai berikut:

  1. Berpusat kepada Kristus vs berpusat kepada diri sendiri.
  2. Fokus perhatiannya doa, firman dan sakramen vs fokus perhatiannya ‘entertainment’
  3. Kasih yang memberi vs kasih yang menuntut.
  4. Setia sampai akhir: masalah dihadapi bersama- sama vs ada masalah: jadi alasan untuk tidak setia.
  5. Hubungan seksual yang total, seindah maksud aslinya vs hubungan seksual yang pura-pura, tak seindah maksud aslinya.
  6. Anak adalah berkat vs anak adalah beban.
  7. Anak menjadi anak orang tua vs anak menjadi anak pembantu.
  8. Tujuan utama keluarga: Surga vs tujuan utama keluarga: kegembiraan di dunia saat ini.

1. Berpusat kepada Kristus vs berpusat kepada diri sendiri.

Kita tak mungkin lupa, bahwa mujizat pertama yang dilakukan oleh Kristus adalah mujizat yang dilakukan-Nya di perjamuan perkawinan di Kana (lih. Yoh 2:1-11). Artinya, Tuhan Yesus menaruh perhatian istimewa pada perkawinan, pada kesatuan antara suami dengan istri. Ia hadir secara istimewa di dalam setiap rumah tangga untuk menambahkan cinta kasih, jika hubungan suami istri sudah mulai tawar. Nah, masalahnya, sudahkah kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai pusat dalam kehidupan perkawinan kita? Sudahkah kita saling mengingatkan di dalam keluarga, akan besarnya kasih Tuhan kepada kita masing- masing?

Jika Tuhan Yesus menjadi pusat dalam hubungan suami dan istri, maka pasangan suami istri akan menempatkan kehendak-Nya di atas kehendak mereka sendiri. Mereka akan saling menghargai, menganggap bahwa pasangannya adalah ‘kado’ istimewa dari Tuhan untuk mendampinginya sepanjang hidup. Maka suami akan memandang istrinya sebagai “penolong yang sepadan” dengan dia (Kej 2:18,20). Ia akan menghormati istrinya, menganggapnya sebagai teman yang sederajat dengannya ((lih. Familiaris Consortio, 22)) dan bukannya sebagai pelayan untuk disuruh-suruh, atau boneka pajangan untuk diperlakukan sekehendak hati. Atau sebaliknya, bagaikan tuan putri yang harus diikuti segala kemauannya. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, dan karena itu keduanya diciptakan setara di mata Tuhan. Dengan istrinya, suami harus membentuk persahabatan yang erat dan istimewa. Sedangkan “sebagai seorang Kristiani, suami dipanggil untuk mengembangkan sikap yang baru dalam mengasihi, yang menyatakan kepada istrinya kasih yang lemah lembut dan kokoh seperti kasih yang dimiliki Kristus terhadap Gereja-Nya.” ((Familiaris Consortio, 25)) Demikian juga, dengan mata hari terarah kepada Kristus, istri dipanggil untuk tunduk kepada suaminya, seperti halnya Gereja tunduk kepada Kristus (lih. Ef 5:22).

Karena Kristus yang mempersatukan suami istri, maka perkawinan Kristiani bukan hanya melibatkan dua pihak -yaitu suami dan istri- tetapi juga Kristus. Kristuslah yang mengikat suami istri dalam Perjanjian (covenant) yang sifatnya tetap, seperti perjanjian antara Kristus dengan Gereja. ((lih. Katekismus Gereja Katolik 1602, 1617, Familiaris Consortio 13)) Perjanjian antara Kristus dan Gereja-Nya ini setiap kali dinyatakan kembali di dalam Perayaan Ekaristi, sehingga selayaknya suami dan istri menjadikan Ekaristi sebagai sumber kasih dan kekuatan untuk memenuhi janji perkawinan mereka, untuk tetap setia, tak terceraikan sampai akhir.

Pasangan suami istri yang menjadi gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja, tidak saja dimaksudkan sebagai gambaran yang dilihat dari luar keluarga, tetapi juga dari dalam. Artinya, sebagai pasangan, suami istri dipanggil untuk menghadirkan Kristus dan menyalurkan kasih-Nya kepada pasangannya setiap hari ((lih. Katekismus Gereja Katolik 1617)). Inilah arti perkawinan sebagai sakramen: tanda kehadiran Tuhan. Mari kita renungkan sejenak, tentang apakah kita sudah melakukan hal ini. Apakah pasangan kita dan anak- anak kita dapat melihat Kristus di dalam diri kita? Dalam keseharian di rumah: Apakah kita sudah menjadi berkat bagi pasangan kita? Apakah wajah kita lebih banyak memancarkan suka cita dan kelemahlembutan, atau duka cita dan kemarahan? Jika kita menghadapi masalah atau kesulitan, apakah kita mencari kehendak Tuhan untuk menyelesaikannya, atau cenderung mengikuti apa saja yang nampaknya enak menurut kehendak sendiri?

Sebab jika kita mengikuti kehendak Tuhan, maka kita akan memancarkan iman yang hidup dalam perbuatan kasih, baik kepada pasangan, anak- anak kita, maupun orang- orang lain di sekitar kita. Dengan demikian, rumah tangga kita menjadi persekutuan kasih antara setiap anggotanya dengan Kristus dan persekutuan kasih antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain.  Dengan menyatakan persekutuan kasih yang seperti ini,  keluarga menjadi Gereja kecil, atau yang sering dikenal dengan istilah ecclesia domestica. ((lih. Katekismus Gereja Katolik 1656, Familiaris Consortio 21)).  Sebaliknya, jika setiap anggota keluarga memusatkan perhatian kepada diri sendiri, maka keluarga cenderung menjadi pelit, sebab prinsip yang dipegang adalah “pokoknya saya duluan, orang lain belakangan”, atau “saya harus lebih enak, orang lain bukan urusan saya.”  Dan jika “saya” yang menjadi pusat, maka anggota keluarga cenderung menjadi egois, kurang peduli dengan kebutuhan pasangan dan anak-anak, apalagi orang- orang lain di sekitarnya. Sudah saatnya kita sebagai suami istri dan orang tua memeriksa, sejauh mana kita sudah memancarkan kasih Allah di dalam keluarga kita, sebab itu adalah bukti sejauh mana kita sudah menempatkan Kristus sebagai pusat dalam kehidupan kita. Sejauh mana keluarga kita mencerminkan makna ecclesia domestica?

Menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, akan nampak juga dalam topik pembicaraan dan sikap kita sehari- hari dengan pasangan ataupun anak- anak. Juga kita akan berusaha untuk memandang pasangan kita dengan cara pandang Kristus, yaitu dengan kasih. Namun kasih ini bukanlah cinta roman menurut dunia, namun seperti tertulis dalam Kitab Suci, “Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Kor 13: 4-7). Dengan kasih inilah, kita dapat selalu menemukan kebaikan di dalam diri pasangan kita, dan membangun rasa saling pengertian dengannya, sehingga kita tidak lekas ‘bosan’. Kita menyadari bahwa pasangan kita adalah ‘kado’ istimewa dari Tuhan untuk kita. Kristuslah yang mempersatukan kita untuk saling menutupi kekurangan kita dan juga untuk saling membangun satu sama lain dengan hal- hal positif yang ada pada diri kita masing- masing.

Selanjutnya, mari kita teliti juga pembicaraan ataupun perbuatan kita terhadap anak- anak: Sudahkah kita memperkenalkan adanya Allah dalam hidup kita, melalui alam ciptaan-Nya? Sudahkah kita memperkenalkan Kristus dan kasih-Nya yang begitu besar kepada kita manusia yang tercurah di kayu salib? Bukan hanya memperkenalkan Kristus, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan agar kita para orang tua mengambil bagian dalam otoritas kebapaan Allah, dan kasih keibuan Gereja, bagi anak- anak yang Tuhan percayakan kepada kita. ((lih.  Familiaris Consortio, 38)) Jadi maksudnya, para bapa menjalankan peran seolah- olah menjadi ‘perpanjangan tangan’ Allah Bapa dalam mengatur rumah tangga keluarganya. Dengan demikian, sikap para bapa di rumah selayaknya memantulkan tidak saja sifat keadilan Allah, namun juga sifat kerahiman-Nya. Di samping ketegasan para bapa dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah, diperlukan juga hati yang penuh kasih, sabar dan pengampun. Para ibupun harus mempunyai sifat demikian. Mari kita periksa sekarang apa yang terjadi di dalam keluarga kita: Jika anak- anak berbuat kesalahan, apa tanggapan kita? Umumnya ada dua tanggapan ekstrim di sini: anak- anak dididik terlalu keras oleh orang tua, dan ini jelas keliru; tetapi juga adakalanya orang tua malah takut mendidik anak- anak, sehingga sepertinya anak diperbolehkan melakukan apa saja. Ini juga adalah sikap yang sama kelirunya.

Dewasa ini, orang tua sering cenderung terlalu ingin menuruti keinginan anak- anak mereka. Akibatnya, sering bukan orang tua yang ‘mengatur’ anak-anak tetapi sebaliknya anak- anak yang ‘mengatur’ orang tua. Atau, orang tua enggan mengkoreksi anaknya yang berbuat salah, karena takut anak marah. Hal ini tidak sesuai dengan rencana Allah, sebab sesungguhnya orang tua menjadi wakil Allah, yang bertugas untuk turut membentuk karakter anak ke arah kebaikan (lih. Ibr 12:6). Dari keluargalah anak- anak pertama- tama harus belajar tentang otoritas Allah yang memimpin mereka dengan kasih. Artinya, orang tua memberi koreksi jika anak berbuat salah, namun tidak dengan cara naik pitam, tetapi dengan kelemahlembutan. Setelah mengkoreksi anak, orang tua perlu merangkul anak kembali, dan anak perlu diberitahu bahwa koreksi tersebut diberikan demi kebaikan anak itu sendiri. Dengan demikian anak belajar tentang nilai- nilai kehidupan yang mendasar, yaitu tentang keadilan dan kasih yang tidak dapat dipisahkan. ((lih. Familiaris Consortio 37))

Akhirnya, jika Kristus yang menjadi pusat keluarga, harusnya itu nampak secara lahiriah di dalam penataan rumah kita dan keterlibatan kita dalam lingkungan sekitar kita. Apakah kita mempunyai ruang/ tempat khusus untuk berdoa di rumah kita? Apakah kita memasang gambar Tuhan Yesus dan Salib crucifix di rumah kita, bahkan di setiap ruangan? Jika sudah ada ruang doa, apakah kita mempergunakannya bersama secara rutin sebagai satu keluarga? Maukah kita membuka rumah kita untuk kegiatan- kegiatan lingkungan? Sudahkah kita ikutsertakan anak- anak ke dalam komunitas gerejawi? Terlibatkah kita dalam pertemuan- pertemuan lingkungan, dan saling mendukung dalam persahabatan dengan orang- orang di sekitar kita? Sebab dalam persekutuan kasih dengan sesama umat beriman, kita sebenarnya melaksanakan kehendak Kristus, yang menginginkan kita agar saling menanggung beban dan berbuat baik kepada semua orang, terutama saudara/i seiman (lih. Gal 6:2,10), dan mereka yang miskin dan menderita. ((lih. Mat 25:40, Familiaris Consortio 37)) Dengan demikian terang Kristus yang menjadi pusat keluarga kita dapat terpancar kepada orang- orang di sekeliling kita.

2. Fokus perhatiannya doa, firman dan sakramen vs fokus perhatiannya ‘entertainment

Maka, jika pusat keluarga adalah Kristus, sepantasnyalah hal ini terlihat dalam kehidupan keluarga. Bukti yang paling nyata adalah jika kita sebagai keluarga berdoa bersama. Setiap hari.  Mengapa? Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa  doa merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan khususnya kita sebagai murid- murid Kristus. ((lih. Familiaris Consortio 62)) Maka doa itu bukan ‘buang- buang waktu’, tetapi justru merupakan kekuatan bagi keluarga Kristiani untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Karena itu, salah satu bukti bahwa kita menempatkan Kristus di pusat keluarga, dan kita mengambil bagian dalam kehidupan Gereja, adalah jika kita sekeluarga setia dan dengan sungguh- sungguh berdoa, karena pada saat itulah kita sebagai ranting- ranting bersatu dengan Tuhan Yesus Kristus, Sang pokok anggur yang benar itu (lih. Yoh 15:5).

Dalam kehidupan keluarga, kita akan mengalami berbagai keadaan, baik susah maupun senang; dan dalam setiap keadaan itulah kita perlu berdoa. Dalam keadaan bersuka cita kita mengucap syukur kepada Tuhan; dan dalam keadaan berduka, kesulitan, sakit, kita memohon pertolongan-Nya. Firman Tuhan mengajarkan, “… nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Flp 4:6) Namun hal ini tidak akan menjadi kebiasaan dalam keluarga, jika tidak pernah dilakukan atau diajarkan oleh orang tua. Maka orang tua mempunyai peran yang sangat penting untuk mengajarkan anak- anak berdoa. Sudahkah ini dilakukan oleh para ibu dan bapak? Paus Paulus VI mengajarkan:

“Para ibu, apakah engkau mengajarkan anak- anak doa- doa Kristiani? Apakah engkau bersama dengan para imam, mempersiapkan anak- anak untuk … sakramen- sakramen Pengakuan dosa, Komuni, dan Penguatan? Apakah ketika mereka sakit engkau mendorong mereka untuk merenungkan penderitaan Kristus, untuk memohon pertolongan dari Bunda Maria dan para orang kudus? Apakah keluarga berdoa rosario bersama? Dan engkau, para bapa, apakah engkau berdoa bersama dengan anak- anakmu…? Teladan kejujuranmu dalam pikiran dan perbuatan, yang disertai dengan doa bersama, adalah pelajaran kehidupan, dan sebuah tindakan penyembahan yang bernilai tunggal. Dengan cara ini engkau membawa damai ke rumahmu… Ingatlah bahwa dengan cara ini kamu membangun Gereja.” ((Paus Paulus VI, Audiensi Umum, 11 Agustus 1976, Familiaris Consortio,  60))

Doa memang memegang peran yang penting untuk mempersatukan keluarga. Paus Yohanes Paulus II juga menyerukan hal yang serupa, dengan mendorong keluarga- keluarga untuk bersama- sama membaca dan merenungkan Kitab suci, mempersiapkan diri sebelum menerima sakramen- sakramen, melakukan doa pernyerahan keluarga kepada Hati Kudus Yesus, doa penghormatan kepada Bunda Maria, doa sebelum dan sesudah makan dan doa devosi lainnya. ((lih. Familiaris Consortio 61)). Mengulangi ajaran Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus II juga menyerukan pentingnya doa rosario bersama keluarga untuk memupuk kerukunan dan menumbuhkan kehidupan rohani dalam keluarga. Doa keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting, sebab dengan melaksakan hal ini, firman Allah dalam Mat 18:19-20 tergenapi atas keluarga itu, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tak heran, Bunda Teresa mengajarkan, “Keluarga yang berdoa bersama akan tetap bersama.” ((Mother Teresa’s Address to the United Nations, October 26, 1985)).

Sayangnya, kecenderungan yang terjadi sekarang adalah keluarga tidak menyediakan waktu yang khusus untuk berdoa apalagi merenungkan firman Tuhan bersama- sama. Padahal sejak usia dini, anak- anak umumnya mempunyai kehausan untuk mengenal firman Tuhan. Ada banyak keingintahuan anak- anak tentang banyak hal, terutama juga tentang Tuhan dan kisah- kisah di dalam Kitab Suci. Sebagai orang tua, kita harus menanggapi kerinduan jiwa mereka untuk mengenal Tuhan. Orang tua adalah pewarta Injil yang pertama bagi anak- anak mereka. ((lih. Familiaris Consortio 39)) Sekolah ataupun Bina Iman dapat membantu, namun tidak dapat menggantikan peran orang tua dalam hal ini. Sebab “orang tua adalah pendidik yang pertama dan terpenting bagi anak- anak mereka.” ((KGK 1653, lih. Gravissimum Educationis, 3, Familiaris Consortio 40))

Juga umumnya orang tua terlalu sibuk, atau jika ada waktu luang, waktu itu dipergunakan untuk rekreasi atau jalan- jalan di mall. Rekreasi dan jalan- jalan di mall bukannya tidak boleh dilakukan, tetapi biar bagaimanapun, jangan sampai menyita semua waktu kebersamaan dalam keluarga. Mungkin ada baiknya diperhatikan agar selain berekreasi bersama, keluarga perlu menyempatkan diri mengikuti retret, rekoleksi keluarga, ataupun ziarah bersama. Namun demikian, retret setahun sekali juga tidak akan berguna, jika kebiasaan hidup doa dan merenungkan firman Tuhan tidak dijadikan kebiasaan sehari- hari.

Demikian pula, perhatian terhadap sakramen juga perlu ditingkatkan di dalam kehidupan keluarga. Sebab nampaknya ada kecenderungan dewasa ini orang tua tidak memberi perhatian khusus untuk mempersiapkan batin anak- anak sebelum mereka menerima sakramen- sakramen. Seberapa banyak orang tua yang membimbing anak- anaknya memeriksa batin sebelum menerima sakramen Pengakuan Dosa? Banyak orang tua merayakan ulang tahun anak- anaknya, bahkan di hotel berbintang sekalipun, namun berapa banyak orang tua yang merayakan Baptisan anak-anaknya, Komuni Pertama ataupun sakramen Penguatan, walaupun hanya dengan doa sederhana di rumah, atau dengan mengajukan ujud ucapan syukur dalam Misa kudus? Padahal makna Baptisan jauh lebih berharga dan bahkan tak bisa dibandingkan dengan makna perayaan ulang tahun. Karena Baptisan menghantarkan ke kehidupan surgawi yang kekal, bukan hanya merayakan pertambahan tahun kita hidup di dunia ini. Lalu, ada banyak orang tua mementingkan acara ‘berkeliling makan’ setiap minggunya, di satu restoran ke restoran yang lain, namun apakah orang tua rajin mempersiapkan batin anak- anaknya, dan diri mereka sendiri, untuk mengikuti perayaan Ekaristi? Misalnya dengan merenungkan bacaan Injil hari Minggu pada hari Sabtu malam ataupun Minggu pagi sebelum ke gereja?

Sedangkan bagi suami istri, perayaan Ekaristi juga mengambil peranan yang sangat penting  bukan hanya pada saat pemberkatan perkawinan, tetapi juga seterusnya. Karena sakramen Ekaristi merupakan karunia pemberian diri Kristus yang seutuhnya kepada Gereja-Nya yang menjadi gambaran pemberian diri suami yang seutuhnya kepada istrinya dan demikian pula sebaliknya. Dengan menerima sakramen Ekaristi yaitu Kristus sendiri, maka suami istri membentuk satu tubuh di dalam Kristus. ((lih. KGK 1621)). Di dalam Kristuslah, “pasangan suami istri dikuatkan untuk memikul salib dan mengikuti Dia, untuk kembali bangun jika mereka jatuh, untuk saling mengampuni, untuk saling menanggung beban (lih. Gal 6:2), dan untuk saling merendahkan diri seorang kepada yang lain demi penghormatan mereka kepada Kristus  (lih. Ef 5:21) dan saling mengasihi dalam cinta yang mesra, subur dan adikodrati. ((lih. KGK 1642))

Jika doa, firman Tuhan dan sakramen- sakramen tidak menjadi prioritas dalam kehidupan perkawinan dan keluarga kita, maka hubungan kasih dalam keluarga dapat menjadi seperti kompor kehilangan api, lama kelamaan menjadi dingin. Sebab saat berdoa dan merenungkan firman Tuhan bersama, itu adalah kesempatan emas bagi keluarga, yaitu suami istri sebagai orang tua, dan anak- anak untuk saling curhat, saling memahami beban yang sedang dihadapi oleh setiap anggota keluarga, dan bersama- sama sekeluarga mendoakannya. Doa bersama juga melatih setiap anggota keluarga untuk peduli dengan keadaan orang lain, terutama jika kita sekeluarga mendoakan Bapa Paus, kerabat yang sakit, atau mereka yang sedang kesusahan. Demikian juga, jika salah satu anggota sedang bersuka cita, semua bersuka cita dan bersyukur, sedang jika salah satu sedang berbeban berat, semua turut mendoakan dan menghibur. Jika hal ini tidak dilakukan, mungkin sekilas tidak terasa akibatnya, tetapi dengan seiringnya waktu, keluarga akan menuai akibatnya. Sebagai contoh, jika keluarga lebih mementingkan entertainment daripada hal- hal rohani, akibatnya ikatan kasih antara sesama anggota keluarga akan merenggang dan memudahkan terjadinya pertengkaran. Suami tidak mengetahui pergumulan istri,demikian pula sebaliknya. Keadaan ini rentan terhadap kehadiran PIL atau WIL, karena tanpa komunikasi yang cukup dan berkualitas, suami dan istri menjadi ‘asing’ satu sama lain, dan mudah berpaling kepada orang ketiga. Demikian juga, tanpa hubungan yang akrab dengan orang tua, anak akan lebih senang curhat kepada teman- temannya daripada kepada orang tua. Keluarga dapat saja pergi bersama- sama ke mall, ataupun sama- sama duduk nonton TV di rumah, tetapi tidak ada komunikasi antara satu dengan yang lain, karena masing- masing asyik bermain BBM sendiri. Ini adalah kesenangan yang semu, dan sesungguhnya memprihatinkan. Sebab seharusnya setiap anggota keluarga menggunakan waktu keluarga untuk saling bertukar cerita, mendukung, menghibur, dan saling menguatkan di dalam kasih.

Hal yang perlu diperhatikan juga oleh orang tua adalah pengaruh mass media. Betapa banyak anak- anak menjadi tercemar oleh iklan, film, kisah sinetron, musik, atau gaya hidup para selebriti yang diekspos oleh media. Begitu hebatnya pengaruh gemerlapnya dunia, sehingga anak- anak lebih tertarik untuk meniru tingkah laku bintang- bintang film daripada teladan hidup para Santa dan Santo. Pesta Halloween menjadi lebih populer daripada perayaan All Saints Day. Kisah Harry Potter dan aneka komik Jepang menjadi lebih digemari anak-anak daripada kisah-kisah Kitab Suci. Apa daya orang tua untuk mengubah realitas ini? Sebelum terlambat, rajinlah membaca dan merenungkan Kitab Suci bersama anak-anak, dan tanamkanlah sedini mungkin nilai keindahan di dalam kesederhanaan. Tanamkanlah kepada anak- anak bahwa hal- hal inilah yang sebenarnya dapat membuat mereka sungguh berbahagia, karena semua itu membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan yang menciptakan mereka. Janganlah ragu untuk ikut peduli dan menyeleksi buku- buku yang mereka baca, dan memeriksa film- film yang mereka tonton; sebab tak jarang pengaruh si jahat masuk melalui hal- hal seperti itu.

3. Kasih yang memberi vs kasih yang menuntut

Pandangan umum dunia sekitar kita adalah: kita bahagia jika kita “menerima” dan bukan karena kita “memberi”. Namun bukan ini yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Yesus mengajarkan kepada kita sebaliknya, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis 20:35). Maka nampaknya kita harus lebih banyak belajar “memberi”, dan nampaknya inilah yang Tuhan ingin kita pelajari di dalam hidup berkeluarga. Coba tanyakan hal ini kepada pasangan yang baru saja memperoleh karunia seorang anak, yang kelahirannya sudah mereka nanti- nantikan. Mereka sepertinya rela memberi apa saja kepada sang buah hati, dan semakin memberi, hati mereka semakin bersuka cita. Tanpa disadari sesungguh-Nya Tuhan memberi kesempatan kepada pasangan ini untuk turut merasakan sukacita Tuhan, pada saat Ia memberikan kasih karunia kepada kita semua anak- anak-Nya. Kasih itu sifatnya memancar keluar, kasih itu memberi, dan menginginkan yang terbaik bagi orang yang dikasihi. Inilah prinsip kasih yang diajarkan oleh Tuhan.  Dengan kasih semacam inilah kita seharusnya mengasihi Tuhan dan sesama kita,  terutama anggota keluarga kita yang paling kecil dan lemah. ((lih. Mat 25:40; Familiaris Consortio, 26)) Kenyataannya, yang terkecil dan lemah ini adalah anggota keluarga yang sakit atau cacat, dan juga janin yang ada di dalam kandungan ibu.

Maka, jika kita sungguh mengasihi Tuhan, kita akan berusaha menyenangkan hati-Nya, dan menjadikan kehendak Tuhan sebagai kehendak kita sendiri. Keinginan untuk menyenangkan Tuhan inilah yang dapat mendorong kita untuk berbagi, mendahulukan kebutuhan orang lain, dan menyenangkan hati pasangan dan anak- anak. Rasul Paulus mengajarkan, “….hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp 2:3-4). Berbagi untuk menyenangkan hati sesama anggota keluarga tidak saja terbatas pada rejeki, tetapi juga, suka cita, perhatian, pertolongan, penghiburan, pujian, pemahaman iman dan terutama, pengampunan. Karena itu, sejak kecil, anak- anakpun perlu diajarkan agar murah hati, senang memberi, tak lupa berterima kasih dan memperhatikan kebutuhan orang lain. Karena ternyata, hal memberi-pun perlu dibiasakan sejak kecil, entah membagi makanan kesukaan kepada sesama adik dan kakak, turut memberikan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ataupun cepat memberi maaf jika ada anggota keluarga yang berbuat salah. ‘Memberi’ di sini juga berarti ‘memberi telinga’ terlebih dahulu jika terjadi perselisihan di antara anggota keluarga. Maksudnya, di sini adalah, mendengarkan terlebih dahulu, sebelum menanggapi, atau, janganlah langsung membantah jika pasangan sedang emosi, namun tunggulah sampai saat yang tepat untuk membicarakan permasalahan tersebut. Jika suami dan istri menerapkan hal ini, maka besar kemungkinan pertengkaran dapat dihindari. Dalam hal apapun yang dilakukan, perlu diingat dan diingat lagi bahwa keluarga adalah kehidupan persekutuan yang saling berbagi atas dasar kasih ((lih. Familiaris Consortio 43)) supaya kita lebih giat memberi dan menikmati eratnya persekutuan kasih di dalam Tuhan.

Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kita akan terdorong untuk membawa setiap anggota keluarga kita untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya. Sebab kita tahu bahwa hal inilah yang dikehendaki Tuhan. Maka tantangan yang cukup besar akan dialami, jika pasangan kita tidak seiman. Dalam hal ini pasangan yang Katolik harus berdoa mohon pimpinan Tuhan untuk dapat dengan tekun dan setia menerapkan ajaran imannya dalam kehidupan keluarga, terutama dalam menampakkan kasih. Supaya dengan kasih itulah ia menghantar pasangannya untuk mengenal Kristus. Pengajaran Rasul Paulus sungguh menghibur dan memberi kekuatan kepada pihak yang beriman, “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.” (1 Kor 7:14)

Prinsip kasih yang ‘memberi’ ini memang berbeda dengan prinsip kasih menurut dunia, yang umumnya ‘menuntut untuk diberi’. Dewasa ini kita sering mendengar pasangan yang belum lama menikah namun sudah ingin bercerai. Memang kemungkinan ada banyak penyebabnya, tetapi seringkali salah satu alasannya adalah karena salah satu pihak tidak terbiasa ‘memberi’ dan lebih suka ‘menuntut’. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk ‘memberi’ bahkan di dalam kekurangan kita, dan ini membutuhkan pengorbanan. Namun jalan ‘pengorbanan’ inilah yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus, sebab memang lewat Saliblah Tuhan Yesus mencapai kebangkitan-Nya. Dengan digabungkannya pasangan suami istri dengan Kristus, maka mereka menjadi tanda peringatan bagi Gereja, akan pengorbanan yang terjadi di kayu salib: sebab sebagai pasangan dan sebagai orang tua, mereka menjadi saksi yang hidup akan kasih yang memberikan diri secara total, tak terceraikan, setia dan terbuka terhadap kehidupan. ((lih. Humanae Vitae 9, Familiaris Consortio 13)) Maka, kita tidak boleh takut untuk berkorban di dalam kehidupan keluarga, sebab pasti Tuhan akan menyediakan buah- buah kesempurnaan kasih dan kebahagiaan sebagai gantinya ((lihat Familiaris Consortio 86)). Mengapa demikian? Sebab itulah rumusan kebahagiaan yang Tuhan tunjukkan kepada kita, yaitu kalau kita rela berkorban untuk menerapkan ajaran kasih Tuhan, maka pada saatnya Tuhan akan memberikan buah- buahnya yang mendatangkan kebahagiaan sejati. Kitab Mazmur mengajarkan, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” (Mzm 126:5).

Nah, sekarang, pengorbanan apakah yang dapat kita berikan kepada anggota keluarga kita? Mungkin pertama- tama adalah pengorbanan waktu. Suami dan istri selalu harus mengusahakan waktu untuk berkomunikasi entah antara mereka berdua, maupun berkomunikasi dengan anak- anak. Komunikasi sebaiknya diadakan secara berkualitas, di mana kedua belah pihak dapat saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Makan malam bersama sekeluarga dapat diusahakan setiap hari, atau jika tidak memungkinkan setiap hari, dapat diusahakan pada hari- hari tertentu di dalam setiap minggu. Di samping itu, suami dan istri harus mempunyai juga waktu untuk saling ngobrol dari hati ke hati berdua saja, jika memungkinkan sedikitnya seminggu sekali. Saat- saat seperti ini menjadi kesempatan bagi suami dan istri untuk saling curhat dan terbuka satu sama lain, menceritakan pergumulannya, harapannya atau hanya mensyukuri kebersamaan mereka dan menikmatinya. Pembicaraan dari hati ke hati ini sangatlah penting, agar suami istri selalu bersatu dan tidak mudah ‘pindah ke lain hati’.

Kedua, adalah pengorbanan ke-aku-an. Maksudnya, suami istri selayaknya tidak mendahulukan kehendak sendiri, tapi mendahulukan kehendak Kristus dengan lebih memperhatikan pasangan dan anak- anak. Walaupun nampaknya sulit pada awalnya, namun jika terus diusahakan ini dapat lebih mudah dilakukan, dan dapat menjadi sarana bagi pasangan untuk menguduskan dirinya dan pasangannya, menghindari pertengkaran dan mendatangkan suka cita bersama. Contohnya adalah seorang ibu yang walaupun mampu berkarier, memilih untuk tidak bekerja di luar rumah terutama saat anak- anak masih kecil, demi memberikan perhatian yang lebih khusus kepada pendidikan anak- anaknya. Atau contoh suami yang tidak lagi sering ngerumpi dan makan- makan dengan teman- teman di kantor, demi menyediakan waktu dan perhatian kepada istri dan anak- anak di rumah.

Ketiga, pengorbanan untuk terlihat sempurna di mata dunia. Terus terang, pola pikir kita banyak dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat di sekeliling kita. Karenanya, kita memacu diri agar terlihat sukses dan sempurna sebagai manusia: berhasil dalam pekerjaan, ideal dalam penampilan, sukses dalam mengembangkan hobby, terampil mengurus rumah yang senantiasa rapi dan apik, dst. Namun, nampaknya kita harus mempunyai skala prioritas untuk menentukan apakah sebenarnya yang terpenting. Sebab jangan sampai kita mengorbankan kebahagiaan keluarga demi mencapai hal- hal seperti ini. Kita harus mohon karunia Tuhan untuk dapat menghargai pengorbanan, dan menemukan keindahan di dalamnya. Jika sikap ini dimiliki, suami akan semakin mengasihi istrinya jika melihat bekas lipatan di kulit istrinya akibat mengandung dan melahirkan, atau bekas jahitan akibat istri melahirkan dengan operasi caesar. Sebab di situ terlihat keindahan makna pengorbanan istri yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan sang buah hati, salah satu bukti kasih yang total sang istri kepada suaminya. Sebaliknya, istri juga sepantasnya tetap mengusahakan penampilan yang layak dan rapi, agar menyenangkan hati suaminya.

4. Setia sampai akhir: masalah dihadapi bersama- sama vs ada masalah: jadi alasan untuk tidak setia

Perkawinan Katolik mempunyai ciri khasnya, yang bukan hanya monogami, maksudnya satu suami, satu istri, tetapi juga kesetiaan yang tak terceraikan. Mengapa? Karena kesetiaan total dan kesatuan yang tak terceraikan menjadi syarat mutlak agar suami dan istri dapat saling memberikan diri sepenuhnya dan agar anak- anak dapat bertumbuh dengan baik. ((lih. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 48 seperti dikutip oleh Familiaris Consortio, 20)) Sedangkan dasar utamanya adalah gambaran perkawinan Kristiani di mana suami dan istri sungguh- sungguh menjadi saksi hidup bagi dunia, akan kasih setia Allah kepada umat-Nya dan kasih setia Kristus kepada Gereja-Nya. ((lih. Familiaris Consortio 12, 13)) Dengan demikian, ikatan perkawinan Katolik tidak bersifat seperti kontrak, yang jika sudah bosan boleh diputuskan begitu saja, tetapi bersifat seperti Perjanjian (covenant) yang sifatnya tetap, seperti perjanjian antara Allah dengan umat pilihan-Nya, seperti perjanjian antara Kristus dengan Gereja-Nya. ((lih. Katekismus Gereja Katolik 1602, 1617)) Sebab hanya dengan kesetiaan itulah kita dapat belajar mengasihi dengan tulus seperti Kristus.

Akal sehat kita saja sudah cukup untuk menyatakan bahwa kesetiaan sangat diperlukan dalam hidup perkawinan. Tidak ada istri atau suami yang senang ‘diduakan’. Jika salah satu pihak saja sudah tidak setia,- misalnya ada PIL atau WIL, itu akan berakibat buruk pada hubungan suami istri. Meskipun sudah ada rekonsiliasi/ pengampunan sekalipun, umumnya tetap dibutuhkan waktu untuk memulihkan hubungan yang sudah terluka. Demikian juga, kesetiaan suami istri dibutuhkan demi kebaikan perkembangan anak- anak. Kita tak memerlukan studi yang rumit untuk melihat kenyataan bahwa anak- anak yang orang tuanya bercerai/ berpisah, akan mengalami luka batin yang mendalam, dan ini sering memberikan dampak negatif bagi kepribadian mereka. Ada yang menjadi pribadi yang membenci lawan jenis, mudah menjadi pemurung dan tidak percaya diri, atau menjadi pemarah, agresif dan penuh curiga, atau aneka sifat negatif lainnya. Rahmat Tuhan sungguh diperlukan untuk menolong anak- anak ini mengatasi pengaruh luka batin yang terjadi akibat perpisahan orang tuanya.

Maka, memang diperlukan pengorbanan orang tua untuk selalu memperjuangkan kesatuan dan kesetiaan di dalam hubungan mereka sebagai suami istri. Masalah memang mungkin akan datang silih berganti dalam kehidupan perkawinan, tetapi jika dihadapi bersama Kristus, maka semua kesulitan itu dapat diubah menjadi berkat yang semakin mempererat ikatan kasih suami istri. Berapa banyak suami istri yang menjadi semakin mengasihi, setelah melalui kesulitan bersama- sama dan bahu membahu menghadapinya? Kesulitan keuangan, penyakit, masalah pekerjaan, problema anak, dan bahkan perselingkuhan sekalipun, tidaklah menjadi alasan untuk berpisah. Masalah- masalah itu justru harus dihadapi bersama, dijadikan titik tolak untuk mengadakan introspeksi, agar dapat dicapai pemulihan hubungan kasih suami istri. Dalam hal ini janganlah dilupakan peran sakramen Pengakuan Dosa dan Ekaristi, yang memang menjadi sumber kekuatan bagi suami dan istri untuk bertumbuh menjadi pasangan yang lebih mengasihi dan setia satu sama lain. ((lih. Familiaris Consortio 57,58)). Rahmat Tuhan yang diterima melalui sakramen sekaligus menjadi panggilan dan perintah kepada suami istri untuk tetap setia satu sama lain selamanya, dan inilah yang menjadi tugas yang paling berharga dan paling mendesak bagi pasangan suami istri Katolik di masa sekarang. (lih. Familiaris Consortio, 20)

5. Hubungan seksual yang total, seindah maksud aslinya vs hubungan seksual yang pura-pura, tak seindah maksud aslinya

Sudah disebutkan di atas bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya (Kej 1:26) dan dengan demikian Tuhan merencanakan manusia untuk menjadi mirip dengan-Nya. Mirip dalam hal apa? Dalam segala hal, namun terutama dalam hal kasih, karena Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8). Nah, kasih Allah ini mempunyai dua ciri khas, yaitu kasih yang melibatkan pemberian diri yang total, dan kasih yang berbuah ((lih. Familiaris Consortio 11)). Karena demikianlah yang terjadi dalam kehidupan ilahi Allah Trinitas. Sejak awal mula, ada ikatan kasih yang saling memberikan diri antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ikatan kasih ini begitu total dan sempurna, sehingga tidak saja merupakan perasaan tetapi merupakan Pribadi, yaitu Roh Kudus. Maka Roh Kudus merupakan pernyataan yang tak terlukiskan tentang pemberian diri antara Allah Bapa dan Allah Putera. Dalam kehidupan ilahi-Nya, Allah tidak hanya mengasihi, tetapi Pribadi Allah sendiri itulah Sang Kasih ((lih. Yohanes Paulus II, Dominum et Vivificantem 10)), yang memberikan kehidupan kepada dunia. Di sini kita memperoleh sekilas gambaran tentang misteri Allah Trinitas yang tak terukur oleh pemikiran manusia. Sebab pemberian diri di dalam kehidupan ilahi Allah memang bukan perkawinan -sebab Allah tidak kawin maupun dikawinkan- namun di dalam Trinitas terjadi misteri yang terdalam tentang kasih, yaitu kasih yang total, saling memberi, dan memancarkan kehidupan.

Maka pada saat Tuhan menciptakan manusia seturut gambaran-Nya dan memberkati mereka agar menjadi ‘berbuah’/ beranak cucu (lih. Kej 1:26-28), Tuhan menginginkan agar manusia mengambil bagian di dalam kasih ilahi ini, yaitu dengan menjadi pasangan kekasih yang saling memberikan diri secara sepenuhnya dan menyalurkan kehidupan. Hubungan kasih yang semacam ini secara jelas dinyatakan di dalam perkawinan, yaitu, secara khusus di dalam hubungan seksual antara suami dan istri. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Mat 19:5) Kesatuan di dalam daging ini sangatlah kuat, sehingga dapat membuahkan kehidupan pribadi yang baru, yang sembilan bulan kemudian diberi nama. Maka kesatuan yang membuahkan pribadi yang ketiga ini mencerminkan kesatuan Tiga Pribadi dalam kehidupan Allah Trinitas itu sendiri. Melalui hubungan kasih suami istri ini, manusia mengambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan.

Itulah sebabnya, mengapa Allah sangat menguduskan kehidupan perkawinan. Bahkan Allah menggambarkannya sebagai hubungan kasih antara diri-Nya dan Israel, “….seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.” (Yes 62:5). Sejak awal mula penciptaan dunia, Allah telah “menciptakan” perkawinan antara laki- laki dan perempuan agar manusia mengambil bagian dalam kasih dan kehidupan-Nya. Di akhir dunia nanti, hubungan kasih antara Allah dan manusia juga digambarkan sebagai perkawinan Anak Domba (Why 19:7-9). Ibaratnya, sebagai Sang Arsitek yang agung, Allah telah mengetahui  hasil akhir desain-Nya, sejak awal mula. Demikian juga, di awal kisah pelayanan-Nya, Tuhan Yesus memulai mukjizat pertama-Nya di perjamuan kawin di Kana (Yoh 2:1-11). Di akhir dan puncak karya keselamatanNya, Kristus memberikan Diri-Nya di kayu salib, kepada Mempelai-Nya yaitu, Gereja-Nya, dan inilah yang menjadi gambaran bagi persatuan suami istri, seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus (lih. Ef 5:22:33). Seperti Hawa yang dibentuk dari tulang rusuk Adam saat Adam sedang tidur, demikianlah Gereja mulai terbentuk dari darah dan air yang keluar dari lambung Kristus yang ditikam saat Ia wafat. Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Gereja-Nya ini membuahkan juga anggota- anggota Tubuh-Nya yang baru, yaitu kita semua, lewat Baptisan. Demikianlah, para suami dipanggil oleh Allah untuk mengikuti teladan Kristus, demikianlah istri untuk taat kepada suami seperti Gereja terhadap Kristus:

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” (Ef 5:25-30)

Maka, mengacu kepada apa yang diajarkan oleh Sabda Tuhan, Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2363       Melalui persatuan suami isteri terlaksanalah tujuan ganda perkawinan: kesejahteraan suami isteri dan penyaluran kehidupan. Orang tidak dapat memisahkan kedua arti dan nilai perkawinan ini satu dari yang lain, tanpa merugikan kehidupan rohani pasangan suami isteri dan membahayakan kepentingan perkawinan dan masa depan keluarga. Dengan demikian cinta suami isteri antara pria dan wanita berada di bawah tuntutan ganda yakni kesetiaan dan kesuburan.

Kasih suami istri yang menuntut kesetiaan dan kesuburan ini adalah kasih yang total, yang tidak menahan sebagian, dan tidak melibatkan perhitungan untung rugi. Kasih ini tidak berdasarkan apa yang dapat ia terima dari pasangan, tetapi atas kebahagiaan untuk memperkaya pasangan dengan memberikan diri seutuhnya. Pengalaman pemberian diri yang total, ekslusif, tanpa syarat dan terbuka kepada kelahiran itu secara sakramental terjadi di dalam hubungan seksual suami istri, sehingga maknanya telah diangkat, menjadi serupa dengan penyerahan diri kepada Kristus, dan di dalam Kristus. ((lih. Henry V. Sattler, “Sacramental Sexuality I”, Communio (Winter, 1981) 340-357)). Dengan demikian, hubungan seksual suami istri mempunyai dimensi ilahi, dan bukan sekedar hubungan jasmani tetapi juga rohani. Sebab hubungan suami istri dalam perkawinan Kristiani merupakan penyerahan diri suami kepada istri dan demikian sebaliknya, dan penyerahan diri keduanya kepada Kristus ((lih. Kimberly Hahn, Life-giving Love, (Michigan: Servant Publication, 2001); p. 37)) dan kepada segala rencana-Nya. Maka jika dihayati maknanya, hubungan suami istri merupakan tindakan yang mempersatukan pasangan (baik tubuh, jiwa, perasaan) dan dengan melakukannya suami istri sesungguhnya memperbaharui janji perkawinan: “Aku menerima engkau …. seluruhnya sebagai suamiku/ istriku. Aku mau mencintaimu, memberikan diriku seutuhnya, [termasuk kesuburanku…] dan aku mau setia kepadamu dalam untung dan malang, sehat dan sakit, sampai sepanjang hidup.”

Makna persatuan suami dan istri di dalam Kristus inilah yang tidak dinyatakan jika pasangan menggunakan alat kontrasepsi. Yesus bersabda, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6)”. Namun kenyataannya, persatuan ini ‘diceraikan’ oleh alat kontrasepsi, jika pasangan memakainya. Karena dengan kontrasepsi, persatuan antara suami istri menjadi tidak menyeluruh, tidak tanpa syarat, dan tidak mengacu pada komitmen ‘for better for worse’. Kata ‘kontrasepsi‘ sendiri artinya ‘melawan permulaan’, dalam hal ini permulaan kehidupan. Di sini terjadi pertentangan, karena pasangan yang berbuat tidak mau menanggung akibatnya. Mereka yang katanya saling mencintai malah memakai alat kontrasepsi sebagai ‘proteksi’, atau mengenakan alat ‘pembunuh’ sperma, seolah-olah menghadapi ‘perang’. Atau, bagian tubuh diikat/ dipotong, agar tidak lagi dapat menyalurkan bakal kehidupan. Bukankah jika kita renungkan, ini bertentangan dengan hakekat kasih yang saling memberi dan menerima seutuhnya?  Pendek kata, kasih suami istri yang total dan tak bersyarat diwujudkan dengan tindakan yang tidak mencerminkan hal itu. Secara objektif hal yang seperti ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai ‘ketidakjujuran’, karena apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Pasangan suami istri yang menggunakan alat kontrasepsi sebenarnya berusaha untuk memisahkan kedua tujuan perkawinan yang sudah ditentukan Tuhan. Mereka ingin menerima tujuan kesejahteraan suami istri, namun menolak tujuan penyaluran kehidupan. Dengan demikian, mereka menyalahi kehendak Tuhan yang pada dasarnya  berkehendak agar suami istri dapat saling membantu untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan, dan dapat bekerjasama dengan-Nya dalam mendatangkan kehidupan baru. Inilah yang terjadi dalam pemakaian alat kontrasepsi dan sterilisasi, dan karena itu Gereja Katolik melarangnya. ((lih. Humanae Vitae 14, “Oleh karena itu, Kami mendasarkan perkataan Kami atas prinsip- prinsip pertama dari kemanusiaan dan ajaran Kristiani tentang perkawinan ketika Kami diharuskan sekali lagi untuk menyatakan bahwa pemutusan secara langsung dari proses pembuahan/ generatif yang sudah dimulai, dan di atas semua itu semua tindakan aborsi, bahkan untuk alasan- alasan terapi, sama sekali tidak termasuk sebagai cara- cara yang dapat dibenarkan untuk pengaturan jumlah anak- anak. Demikian juga untuk ditolak, seperti telah ditegaskan berkali- kali oleh Magisterium Gereja, adalah sterilisasi langsung, baik di pihak laki- laki maupun perempuan, baik bersifat permanen/ tetap selamanya atau sementara.
Juga tidak termasuk adalah segala perbuatan, baik sebelum, pada saat, ataupun sesudah hubungan seksual, yang secara khusus dimaksudkan untuk mencegah kelahiran/prokreasi, apakah sebagai tujuan ataukah sebagai cara.
Juga tidak perlu dipertanyakan, sebagai pembenaran bagi hubungan seksual yang secara sengaja bersifat kontraseptif, bahwa kejahatan yang lebih kecil adalah untuk dipilih jika dibandingkan dengan kejahatan yang lebih besar, atau bahwa suatu hubungan seksual adalah untuk digabungkan dengan tindakan prokreasi dari kejadian lampau ataupun yang akan datang sebagai satu kesatuan, dan untuk dinilai memenuhi syarat dengan kebaikan moral seperti ini. Walaupun benar, bahwa seringkali dibenarkan untuk mentolerir kejahatan moral yang lebih kecil untuk menghindari kejahatan yang lebih besar ataupun untuk mendorong kebaikan yang lebih besar, adalah tidak pernah dibenarkan, bahkan untuk alasan- alasan yang besar, untuk melakukan kejahatan agar kebaikan dapat dihasilkan darinya- dengan perkataan lain, untuk melakukan sesuatu secara langsung dengan sengaja, yang dengan sendirinya secara kodrati bertentangan dengan hukum moral, dan karena itu harus dinilai sebagai sesuatu yang tidak layak bagi manusia, meskipun maksudnya adalah untuk melindungi ataupun memajukan kesejahteraan individu, keluarga ataupun masyarakat secara umum. Akibatnya, adalah sebuah kesalahan serius untuk menganggap bahwa sebuah kehidupan berkeluarga yang tidak menjalani hubungan- hubungan normal dapat membenarkan hubungan seksual yang secara sengaja bersifat kontraseptif dan karena itu salah secara mendasar, lihat juga Familiaris Consortio 30. ))

Paus Yohanes Paulus II menulis demikian:

“Ketika para pasangan suami istri, dengan menggunakan alat kontrasepsi, memisahkan kedua arti ini yang Tuhan Pencipta sudah tanamkan di dalam diri laki- laki dan perempuan dan di dalam dinamika persatuan seksual mereka, mereka bertindak sebagai “hakim”dari rencana ilahi dan mereka “memanipulasi” dan merendahkan seksualitas manusia- dan dengan itu merendahkan diri mereka sendiri dan pasangan mereka- dengan mengganti makna “pemberian diri yang total”. Oleh karena itu, bahasa yang melekat yang menyatakan saling pemberian diri yang total antara suami dan istri ditutupi melalui kontrasepsi, dengan bahasa yang bertentangan secara obyektif, yaitu, dengan cara yang berarti tidak memberikan diri secara total kepada yang lain. Ini mengarah tidak saja kepada penolakan terhadap kemungkinan kehidupan, tetapi juga kepada pengingkaran akan kebenaran inti dari kasih suami istri, yang dipanggil untuk memberikan diri secara menyeluruh sebagai manusia.” ((Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 32, lihat juga Casti Connubii 56: “Tindakan apapun dari perkawinan, yang dilakukan sebagai suatu tindakan yang disengaja menelantarkan kodrat dari kekuatan untuk memberikan kehidupan, adalah bertentangan dengan hukum Tuhan dan hukum kodrat, dan kepada yang melakukan perbuatan tersebut dicap dengan kesalahan dosa berat.”))

Ajaran Gereja tentang larangan penggunaan kontrasepsi dan sterilisasi- yang merupakan tindakan yang disengaja untuk menolak penyaluran kehidupan- inipun harus diajarkan oleh para imam, maupun kepada para pengajar iman Katolik. Paus Pius XI dalam Casti Connubii dengan jelas mengatakan:

“Oleh karena itu Kami mengingatkan, kepada para imam yang menerima pengakuan dosa dan mereka yang bertugas untuk membimbing jiwa- jiwa, melalui kuasa otoritas Kami yang tertinggi dan di dalam perhatian Kami untuk keselamatan jiwa- jiwa, agar jangan membiarkan umat beriman yang dipercayakan kepada mereka untuk menjadi keliru dalam hal hukum Tuhan yang sangat besar ini; terlebih lagi menganggap diri mereka kebal [tidak tersangkut paut] dari pandangan yang salah ini, apalagi bekerja sama untuk memperbolehkannya. Jika ada imam atau gembala jiwa- jiwa – yang semoga tidak ada sebab tidak diijinkan Tuhan- yang memimpin umat beriman yang dipercayakan kepada mereka ke dalam kesalahan- kesalahan ini, atau sedikitnya meneguhkan mereka dengan persetujuan atau dengan sikap diam yang patut dipersalahkan, biarlah ia mengingat kenyataan bahwa ia harus mempertanggungjawabkan tentang hal ini di hadapan Tuhan, Hakim yang Tertinggi, karena pengkhianatan atas kepercayaan yang kudus yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.” ((Casti Connubii 57, ditegaskan kembali dalam Humanae Vitae 28-30))

Selanjutnya, Gereja telah meneguhkan ajaran yang menentang kontrasepsi sebagai ajaran yang infallible (tidak dapat sesat) dan tidak akan diubah, “Gereja telah selalu mengajarkan kejahatan yang mendasar tentang kontrasepsi, yaitu, dari setiap tindakan hubungan suami istri yang dimaksudkan agar tidak berbuah. Ajaran ini harus dianggap sebagai definitif dan tidak dapat diubah. Kontrasepsi merupakan kesalahan besar yang menentang kemurnian perkawinan, bertentangan dengan kebaikan penyaluran kehidupan (procreative) dan saling memberikan diri dari pasangan (unitive); kontrasepsi membahayakan cinta sejati dan mengingkari peran Tuhan yang agung dalam penyaluran kehidupan manusia.” ((Vademecum for Confessors 2:4, Feb. 12, 1997)).

Maka, jelaslah bahwa penggunaan alat kontrasepsi menentang kehendak Allah. Karena itu, tak mengherankan jika pasangan suami istri yang melakukannya menuai akibatnya. Setelah satu generasi berlalu dari tahun ensiklik Humanae Vitae itu dikeluarkan, kita melihat bukannya buah yang baik dari kontrasepsi, namun sebaliknya, buah yang memprihatinkan. Atau tepatnya, untuk jangka pendek mungkin tidak kelihatan jelas akibatnya, tetapi dengan berjalannya waktu, kita melihat jelas efek negatifnya. Paus Paulus VI telah menubuatkan efek- efek negatif yang akan terjadi tersebut, jika manusia berkeras menolak ajaran Humanae Vitae ini, yaitu “naiknya angka perceraian dan ketidaksetiaan dalam perkawinan, serta pemerosotan moral, karena pasangan tidak terlatih untuk mengendalikan diri. Sebab dengan mental kontraseptif, pada akhirnya suami akan kehilangan respek terhadap istrinya, dan tidak lagi peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri. Suami dapat cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih ((lih. Humanae Vitae 17)). “Nubuat” Paus Paulus VI ini nampaknya terpenuhi sekarang, setelah lewat satu generasi sejak ensiklik tersebut dituliskan. Michael Mc Manus dalam artikelnya: “Pope Paul VI: Right on Contraception” melaporkan, “Sejak Pil KB mulai dijual di tahun 1960, tingkat perceraian naik tiga kali lipat, kelahiran anak diluar nikah naik dari 224,000 menjadi 1.2 juta, kasus- kasus aborsi meningkat, dan hidup bersama tanpa ikatan nikah naik sepuluh kali lipat dari 430,000 menjadi 4.2 juta.” ((“Pope Paul VI: Right on Contraception“, Scranton [Pennsylvania] Times, 24 October 1999.)). Menurut data statistik http://www.divorcerate.org/ angka perceraian di Amerika adalah 50 %. Menurut kompilasi Robert Johnston (klik di link ini http://www.johnstonsarchive.net/policy/abortion/graphusabrate.html) jumlah aborsi di Amerika tahun 1960 adalah sekitar 292 kasus, namun kemudian terus meningkat sampai mencapai sekitar 1,6 juta di tahun 1990, dan sedikit menurun menjadi 1,2 juta di tahun 2008. Jadi di sini terlihat bahwa diperbolehkannya kontrasepsi bukannya menurunkan angka aborsi tetapi malah melipatgandakannya. Lagipula, penggunaan alat kontrasepsi juga mengakibatkan pemerosotan moral generasi muda, sehingga lama kelamaan mereka tidak lagi menjunjung tinggi makna Perkawinan.

Selain akibat negatif yang berkaitan dengan iman dan moral, alat kontrasepsi juga membawa dampak buruk dalam hal kesehatan para pemakainya. Dr. Chris Kahlenborn dalam bukunya, Breast Cancer: Its Link to Abortion and the Birth Control Pill (Kanker Payudara: Kaitannya dengan Aborsi dan Pil KB), menampilkan referensi yang menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara beberapa jenis kanker dengan aborsi dan penggunaan pil KB. ((Lih. Chris Kahlenborn, MD, Breast Cancer: Its Link to Abortion and the Birth Control Pill (Dayton, Ohio: One more Soul, 2000)). Studi menunjukkan bahwa aborsi dan pil KB meningkatkan resiko kanker payudara, kanker rahim, tumor hati/ lever, dan kanker kulit. Hasil ini akan menjadi lebih parah, jika perempuan itu di usia mudanya sudah mulai mengkonsumsi pil KB atau mengkonsumsinya dalam jangka waktu yang lama. Maka, walaupun ini tidak berarti bahwa semua wanita yang terkena kanker payudara atau kanker rahim pasti pernah melakukan aborsi atau minum pil KB, tetapi studi menyatakan bahwa mereka yang melakukannya, mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker tersebut. Pemasangan IUD (spiral) juga mempunyai resiko yang tak kalah besar. Pelvic inflammatory disease (PID) adalah efek samping yang umum terjadi, di samping resiko tertanamnya spiral di dinding rahim, atau membuatnya sedikit berlubang, resiko hamil yang tak normal pada kehamilan berikutnya, resiko cacat tubuh pada anak yang dikandung berikutnya, atau bahkan resiko tidak dapat hamil lagi. Demikian pula, efek samping sterilisasi yang dapat dibaca di link ini http://www.tubal.org/ovarian_isolation.htm. Sesungguhnya kita harus menyadari bahwa tubuh kita adalah bait Allah (lih 1 Kor 3:16; 6:19) yang bukan milik kita sendiri, tetapi milik Allah, maka kita tidak boleh memperlakukannya sekehendak hati kita, namun sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakannya.

Kimberly Hahn dalam bukunya Life- giving Love mengatakan bahwa kontrasepsi adalah kontra (menentang)-kehidupan, kontra-perempuan dan kontra-cinta kasih. ((Kimberly Hahn, Life- giving Love, ibid., p. 82-86)). Bahwa kontrasepsi menentang kehidupan itu sudah jelas, namun bahwa ia menentang perempuan, itu banyak yang tidak menyadarinya. Padahal jika pasangan mengetahui resiko penggunaan alat kontrasepsi pada tubuh wanita, maka tak mungkin mereka, jika punya hati nurani yang jernih, mau mengatakannya sebagai ekspresi cinta. Demikian pula akibat psikis yang ditimbulkannya, sebab pemakaian kontrasepsi dapat mengakibatkan istri merasa diperlakukan sebagai obyek daripada sebagai pribadi. Padahal cinta yang murni tidak mungkin menginginkan yang buruk terjadi pada orang yang kita cintai, ataupun merendahkannya hingga ia kurang ataupun tidak lagi merasa dihargai. Kimberly menyimpulkan bahwa penggunaan kontrasepsi menentang cinta kasih karena pertama- tama lebih berfokus kepada “apa yang kuterima” daripada “apa yang kuberi”. Kedua, menentang karunia Tuhan untuk penyaluran kehidupan yang diberikan melalui hubungan suami dan istri; ketiga, menjadikan perkataan, “aku seutuhnya milikmu” menjadi kebohongan; dan ke-empat, menolak untuk berkorban demi pasangan. Ini menyerupai perbuatan Adam dan Hawa, yang mau menentukan sendiri hal yang baik dan buruk tanpa mengindahkan kehendak Tuhan. ((lih. Ibid., p. 106))

Sesungguhnya, untuk melihat dampak negatif penggunaan kontrasepsi ini, kita tidak perlu melihat kepada data statistik, karena telah begitu jelas terlihat di dalam masyarakat kita, dan mungkin saja di dalam lingkaran kerabat kita sendiri. Jika kita dengan rendah hati mau menerima perkataan Yesus, bahwa untuk mengetahui baik atau tidaknya pohon, kita melihat dari buahnya (lih. Mat 12:33), maka kita dapat menerima bahwa penerapan kontrasepsi bukanlah sesuatu yang baik. Jadi larangan kontrasepsi yang diajarkan oleh Gereja adalah pertama-tama demi menciptakan kebahagiaan suami istri dan melindungi Perkawinan itu sendiri.

Maka cara menentukan kelahiran yang diijinkan adalah perencanaan secara alamiah (KBA) “yang melibatkan penguasaan diri dan pantang berkala dengan maksud mewujudkan kasih, perhatian dan kesetiaan timbal balik, sebagai bukti kasih sejati” (Paus Paulus VI, Humanae Vitae 16). Pengaturan KB secara alamiah ini dilakukan antara lain dengan cara pantang berkala, yaitu tidak melakukan hubungan suami istri pada masa subur istri. Hal ini sesuai dengan pengajaran Alkitab, yaitu “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa” (1Kor 7:5). Dengan demikian suami istri dapat hidup di dalam kekudusan dan menjaga kehormatan perkawinan dan tidak mencemarkan tempat tidur (lih. Ibr 13:4). Cara KB alamiah ini bukanlah kontrasepsi, karena melalui cara ini suami dan istri mempergunakan kondisi alamiah dengan berpantang pada saat subur untuk menghindari kelahiran, dan bukannya merintangi kesuburan tubuh ((Humanae Vitae 16)) Walaupun ajaran ini sulit diterapkan, namun bukannya tidak mungkin; dan jika diterapkan, akan mendatangkan buah yang baik terutama bagi suami istri itu sendiri.

Dewasa ini pengaturan KB alamiah sudah semakin akurat, karena tidak hanya berdasarkan penghitungan kalender, tetapi berdasarkan tanda-tanda fisik wanita yang menyertai kesuburannya/ ketidaksuburannya, yang dikenal dengan Metoda Billings atau pengembangannya, yaitu Metoda Creighton. Data statistik menunjukkan metode KB alamiah Creighton memiliki tingkat kesuksesan 99%, bahkan penelitian di Jerman tahun 2007 yang lalu mencapai 99.6%. (( Lebih lanjut mengenai KB Alamiah (Natural Family Planning) menurut Metoda Creighton dapat diperoleh di link ini:https://katolisitas.org/2009/12/31/metoda-creighton-kb-alamiah-yang-cukup-akurat/ )) Dengan menerapkan KB Alamiah, pasangan diharapkan untuk dapat lebih saling mengasihi dan memperhatikan. Pantang berkala pada masa subur istri dapat diisi dengan mewujudkan kasih dengan cara yang lebih sederhana dan bervariasi. Akibatnya, suami menjadi lebih mengenal istri dan peduli akan kesehatan istri. Latihan penguasaan diri ini dapat pula menghasilkan kebajikan lain seperti kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan, kebijaksanaan, dan lain lain, yang semuanya baik untuk kekudusan suami istri. Istripun dapat merasa ia dikasihi dengan tulus, dan bukannya hanya dikasihi untuk maksud tertentu. Pasangan suami istri menjadi lebih harmonis, semakin kreatif dalam menyatakan kasih satu sama lain, sehingga tidak lekas bosan. Teladan kebajikan suami istri ini nantinya akan terpatri di dalam diri anak-anak, sehingga merekapun bertumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berkembang dalam berbagai kebajikan. Dan umumnya, “bonus” yang terjadi adalah, hubungan kasih dalam keluarga semakin harmonis, dan suami dan istri tambah mesra satu sama lain.

Untuk maksud inilah, Gereja mengajarkan pengaturan kelahiran secara alamiah (KBA). Memang ajaran ini bertentangan dengan pendapat media dan dunia, namun Paus tetap mengajarkannya; dengan kesadaran akan konsekuensi bahwa Gereja, seperti Kristus, dapat dianggap sebagai ‘tanda pertentangan/ ’sign of contradiction’ (Humanae Vitae 18). Hal ini bahkan menunjukkan ‘keaslian’ ajaran ini, ((Sebenarnya sejak jaman abad awal sampai tahun 1930, semua Gereja baik Protestan maupun Katolik selalu bersepakat bahwa kontrasepsi adalah perbuatan dosa. Namun pada tahun 1930, melalui Konferensi Lambeth, gereja Anglikan pertama kali menyetujui kontrasepsi untuk kasus- kasus tertentu. Dan gereja-gereja lain mulai mengubah posisi mereka, kecuali Gereja Katolik. Pada tahun yang sama Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Casti Connubii (=Tentang Perkawinan) yang pada prinsipnya menegaskan kembali pengajaran Gereja sejak awal, bahwa kontrasepsi adalah perbuatan yang salah )) yang mengakibatkan Gereja menjadi semakin serupa dengan Kristus yang mendirikannya. Pendapat dunia menghalalkan segala bentuk kenikmatan daging, sedangkan Tuhan mengajarkan kita untuk mengatasinya, dengan penguasaan diri. Dalam Perkawinan penguasaan diri dinyatakan oleh suami dan istri dengan menghilangkan rasa saling mementingkan diri sendiri -’musuh’ dari cinta sejati- dan memperdalam rasa tanggung jawab (Humanae Vitae 21).

Dengan menjunjung tinggi kebenaran mengenai seksualitas, Gereja Katolik mengajak kita semua umat Katolik untuk menerapkannya, walaupun mungkin tidak mudah. Rasul Paulus mengingatkan kita, demikian:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rom 12:1-2)

6. Anak adalah berkat vs anak adalah beban.

Kitab Suci dan Gereja Katolik mengajarkan bahwa anak- anak adalah berkat. Tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang mengajarkan bahwa anak- anak adalah beban bagi orang tua. Mereka adalah pemberian Tuhan, yang sepertinya dititipkan oleh Tuhan kepada orang tua, agar dapat dibimbing jiwanya dan pikirannya agar dapat mengenal dan mengasihi Allah. Maka, anak- anak itu pada dasarnya adalah milik Tuhan, bukan milik orang tua. Di mata Tuhan, anak- anak adalah kurnia/ berkat yang harus disyukuri:

“Sesungguhnya, anak- anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak- anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak- anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu…. Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu, anak- anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! …demikianlah akan diberkati orang laki- laki yang takut akan Tuhan.” (lih. Mzm 127:3-5; Mzm 128:3-4)

Oleh karena itu, Gereja Katolik mengajarkan, “Anak-anak merupakan kurnia perkawinan yang paling luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri…” ((Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 50)). Jadi anak- anak dilahirkan untuk kebaikan orang tua-nya, karena mereka menjadi berkat untuk menguduskan ayah dan ibunya. Berapa banyak dari kita yang bertumbuh menjadi orang yang lebih baik, lebih dewasa baik dari pikiran maupun iman, setelah menjadi ayah dan ibu; setelah mempunyai anak- anak yang memanggil “papa” dan “mama”? Berapa banyak dari kita yang sungguh- sungguh menemukan panggilan hidup dan merasakan hidup ini menjadi lebih berarti setelah kita mempunyai anak- anak?

Ya, sudah saatnya kita yang memilih kehidupan berkeluarga untuk mempunyai sudut pandang yang benar tentang kehadiran anak- anak di dalam keluarga. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2366       Kesuburan adalah satu anugerah, satu tujuan perkawinan, karena cinta suami isteri dari kodratnya bertujuan supaya subur. Anak tidak ditambahkan dari luar pada cinta suami isteri yang timbal balik ini, ia lahir dalam inti dari saling menyerahkan diri itu, ia merupakan buah dan pemenuhannya. Karena itu Gereja yang “membela kehidupan”, mengajar “bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran kehidupan manusia” (Humanae Vitae 11).

Dengan kesadaran bahwa kesuburan dan anak adalah berkat dari Tuhan, maka sudah selayaknya kita menghargainya. Yang harus diobati adalah jika pasangan tidak subur, agar menjadi subur- yaitu dapat melahirkan anak, tentu dengan cara- cara yang dibenarkan oleh iman Katolik. Namun pasangan yang sudah subur, artinya itu sudah baik, maka tidak perlu diobati atau malah dijadikan tidak subur, misalnya dengan menggunakan bermacam alat kontrasepsi seperti pil, spiral, sterilisasi, atau bahkan aborsi. Semua ini ditentang oleh Gereja Katolik ((lih. Humanae Vitae, 14, Familiaris Consortio, 30)), justru karena pada prinsipnya, semua hal itu seolah mengatakan bahwa kehadiran anak adalah beban sehingga layak ditolak.

Kimberly Hahn, dalam bukunya Life- giving Love, menjabarkan sedikitnya ada tiga hal, yang menunjukkan bahwa anak adalah berkat. Yang pertama, kelahiran anak mengakibatkan bertambahnya rasa cinta kasih dan penghargaan di antara suami dan istri. Sebab suami akan melihat bagaimana istrinya mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak itu, yang adalah anaknya juga. Dengan kelahiran anak, sang suami menjadikan istrinya seorang ibu, dan sang istri, menjadikannya seorang ayah. Yang kedua, pasangan itu mengalami suatu pengalaman baru yang dapat membuat mereka semakin menghargai apa yang telah diperbuat oleh orang tua mereka sendiri terhadap mereka. Ketiga, para opa dan oma juga akan sangat bersyukur dengan kelahiran cucu- cucu mereka, ((Kimberly Hahn, Life-giving Love, p. 58-59)) karena melihat bahwa pengorbanan mereka untuk membesarkan anak-anaknya kini telah ‘membuahkan’ seorang anak, yang memperteguh hubungan kasih antara mereka dengan keluarga anak dan menantunya itu.

Di atas semua itu, anak merupakan berkat bagi orang tua terutama karena melalui anak, Tuhan dapat membentuk orang tua untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Berapa banyak dari kita yang dapat semakin menghayati kasih kebapaan Allah, ketika kita sendiri menjadi bapa? Berapa banyak dari kita yang melihat potret diri kita sebagai manusia yang rapuh dan sering jatuh dalam dosa, setelah kita melihat kerapuhan anak- anak kita? Berapa banyak dari kita yang dapat lebih menghargai hal- hal sederhana dan belajar untuk lebih mudah mengampuni, jika kita melihat sikap anak- anak yang polos dan pemaaf? Berapa banyak dari kita yang terdorong untuk lebih mengenal Allah, karena kita ingin menceritakan tentang Dia kepada anak- anak kita?

Jika kita sudah dapat menghayati bahwa anak adalah karunia Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk menguduskan kita, maka kita akan dapat lebih menghargai kehadiran mereka. Entah mereka sehat atau cacat, bermasalah atau tidak, mereka tetap adalah berkat yang Tuhan kirimkan untuk kebaikan jiwa kita. Dalam buku yang sama, Kimberly Hahn menyampaikan kesaksian seorang ibu yang mempunyai anak yang didiagnosa autis. Awalnya berat bagi ibu itu untuk menerima kenyataan tersebut, tetapi setelah merenungkannya dan membawa hal ini terus menerus dalam doa, akhirnya ia menemukan jawabannya. “Tuhan memberkati saya dengan sebuah eskalator menuju surga….Tuhan memahami kelemahan saya. Ia mengetahui bahwa saya membutuhkan lebih dari sekedar tangga untuk sampai ke surga, sehingga Ia memberikan kepada saya uluran tangan anak saya, untuk menaiki eskalator itu…. ” ((Kimberly Hahn, Life-giving Love, p. 61)). Ya, melalui anak- anak, orang tua dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang mengasihi, yang mau memberikan diri secara total dan tanpa syarat. Dengan kasih yang tulus memberi tanpa mengharapkan balasan itu, tercerminlah di dalam kita wajah Tuhan, dan inilah yang menghantarkan kita kepada pemahaman akan makna hidup kita.  Dengan kelahiran anak, maka pasangan suami istri dipanggil untuk menjadi orang tua bagi anaknya, dan untuk menjadi tanda yang kelihatan akan kasih Allah bagi anak- anak mereka. ((lih. Familiaris Consortio 14)) Ya, Tuhan mau agar kita bisa mengasihi seperti Kristus.

Namun, di atas semua itu, bukan berarti jika pasangan suami istri yang belum atau tidak dikaruniai anak artinya tidak diberkati Tuhan. Waktu menunggu kehadiran buah hati dapat menjadi kesempatan emas untuk bertumbuh di dalam iman dan kepasrahan kepada Tuhan. Atau, keadaan ini dapat juga ditanggapi dengan melakukan adopsi, dan dengan demikian pasangan suami istri membagikan kasih Tuhan yang tak bersyarat kepada keluarga yang lain. Atau, keadaan tidak mempunyai anak juga dapat dijadikan kesempatan bagi pasangan untuk untuk melayani kehidupan sesama, seperti melalui kegiatan- kegiatan gerejawi, pendidikan dan pelayanan bagi keluarga- keluarga lain ataupun kepada kaum miskin dan cacat ((lih. Familiaris Consortio 14)). Dengan demikian, pasangan suami istri tersebut dapat memberikan diri secara total bagi kegiatan kerasulan untuk membangun Gereja, dan dengan demikian meneruskan kasih Allah juga, walaupun bukan kepada anak- anak kandung mereka. Dengan demikian, Allah mempunyai banyak cara untuk menguduskan pasangan suami istri, namun yang jelas, tidak dengan membenarkan bahwa anak-anak adalah beban. Sebab sekali lagi, anak itu adalah berkat yang sangat berharga dari Allah!

7. Anak menjadi anak orang tua vs anak menjadi anak pembantu.

Mudah bagi kita untuk membayangkan bahwa di dalam suatu perlombaan, maka para pesertanya berjuang untuk memperoleh gelar juara untuk mendapatkan mahkota. Sesungguhnya kehidupan keluargapun demikian. Mahkota keluarga adalah kelahiran anak- anak dan pendidikan mereka menjadi anak- anak yang mengasihi Tuhan dan sesama. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “… sebab diciptakannya perkawinan dan kasih suami istri adalah untuk kelahiran anak- anak dan pendidikan anak-anak merupakan mahkotanya.” ((Familiaris Consortio 14)).
Maka peran orang tua dalam melahirkan anak tidak terpisahkan juga dari peran mereka untuk mendidik anak- anak agar layak disebut sebagai anak- anak Tuhan. Karena orang tua sudah diikutsertakan Tuhan dalam proses penciptaan anak- anak mereka, maka selanjutnya orang tua juga mempunyai tugas untuk mendidik anak- anak. Dalam hal ini, orang tua menjadi “pendidik pertama dan utama bagi anak- anak mereka” ((Katekismus Gereja Katolik 1653, Familiaris Consortio, 40)), dan peran ini tidak dapat digantikan dan tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada orang lain. ((Familiaris Consortio 36)) Sayangnya secara umum di Indonesia, terutama di kota- kota besar, terdapat kecenderungan adanya masalah dalam hal ini. Entah karena kesibukan kedua orang tua yang bekerja, atau entah karena sudah menjadi kebiasaan turun temurun, kedua orang tua memasrahkan urusan anak- anak kepada pembantu rumah tangga. Anak- anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pembantu, daripada bersama orang tua. Anak- anak lebih banyak berinteraksi dengan pembantu daripada dengan orang tua. Ini memprihatinkan, karena bagaimana kita dapat mengharapkan pembantu untuk mengajari anak- anak kita tentang iman, terutama jika mereka berbeda iman dan keyakinan dengan kita. Bagaimana kita dapat mengharapkan pembantu rumah tangga kita menanamkan nilai- nilai Kristiani, jika mereka sendiri tidak mengetahuinya.

Padahal seharusnya, orang tualah yang bertugas menciptakan suasana rumah tangga yang penuh kasih dan menghormati Tuhan dan sesama, dan keluargalah yang menjadi sekolah pertama bagi anak- anak  untuk mengajarkan bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik. ((lih. Familiaris Consortio, 36)) Dasar utama seluruh kegiatan pendidikan di dalam keluarga adalah cinta kasih orang tua, dan tujuannya adalah agar anak bisa lebih ‘pandai’ mengasihi sehingga kelak mereka dapat menjadi orang- orang yang berperan positif di dalam masyarakat dan menjadikan masyarakat sekitarnya menjadi lebih baik.

Jadi suami istri dipanggil oleh Allah untuk semakin menghayati panggilannya sebagai ayah dan ibu, melalui kehadiran anak- anak. Peran kebapaan seorang ayah dipenuhi jika ia mengasihi anak- anaknya dan istrinya sebagai ibu anak- anaknya. ((lih. Familiaris Consortio 25)). Seorang bapa dipanggil untuk mengusahakan keharmonisan keluarga dan perkembangan bagi seluruh anggota keluarga. Hal ini dicapai dengan, pertama- tama, ia bertanggungjawab untuk melindungi kehidupan anaknya sejak di dalam kandungan istrinya. Kedua, ia harus lebih memberikan komitmen untuk mendidik anak- anak, bersama dengan istrinya. Ketiga, ia wajib mengusahakan agar pekerjaannya jangan sampai mengakibatkan perpisahan di dalam keluarga, tetapi malah memperkuat persatuan dan kestabilannya. Dan terakhir, ia harus menjadi saksi hidup yang melaksanakan ajaran iman Kristiani, sehingga dapat dengan efektif memperkenalkan anak- anak kepada pengalaman akan Kristus dan Gereja-Nya. ((Ibid.)) Demikian juga, ibu dipanggil untuk melakukan tanggungjawab yang sama dalam membina keutuhan keluarga dan mendidik anak- anak. Penting disadari di sini bahwa perlu diperbaiki mentalitas yang mengatakan bahwa adalah lebih baik wanita bekerja di luar rumah daripada di dalam rumah ((lih. Familiaris Consortio 23)). Walaupun kadang terdapat kondisi yang mengharuskan istri turut bekerja untuk turut menopang kebutuhan keluarga, ini tidak mengubah fakta bahwa sebagai ibu, ia tetap perlu memberikan komitmen untuk menyediakan waktu mendidik anak- anak terutama dalam hal iman dan kebajikan- kebajikan Kristiani. Anak dapat banyak belajar dari ibunya dengan melihat teladan hidupnya, dan ini pengaruhnya lebih kuat daripada pengajaran dengan kata- kata.  Ibu yang dengan tulus mengurus dan mendidik anak- anak akan mengajarkan kepada anak akan arti pengorbanan dan kasih seorang ibu. Ibu yang bersahaja, tidak hidup mewah, tidak terobsesi dengan belanja/ shopping akan memberi banyak pelajaran tentang pentingnya kesederhanaan sebagai bagian dari pertumbuhan iman. Rasul Paulus mengajarkan, “Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.” (1 Tim 2:15).

Selain dari itu, jika orang tua dengan aktif mendidik anak- anaknya sendiri, orang tua dapat menanamkan kepada anak rasa tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri dan mengambil bagian dalam tugas rumah tangga, tentu dengan memperhitungkan umur mereka. Ini penting, agar anak tidak terbiasa untuk dilayani daripada melayani. Menanamkan tanggungjawab dan kesiapsediaan untuk melayani pada anak merupakan tugas orang tua, untuk membentuk pribadi anak seturut teladan Kristus, yang datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (lih. Mat 20:28; Mrk 10:45)

8. Tujuan utama keluarga: Surga vs tujuan utama keluarga: kegembiraan di dunia saat ini.

Sampailah kita ke butir permenungan yang terakhir. Yaitu, Surga. Seringkah kita berpikir, bahwa hidup kita di dunia ini sesungguhnya tidak sampai satu per sejuta persen dari hidup yang Tuhan rencanakan bagi kita? Sejak awal Tuhan menciptakan kita di dalam kasih-Nya dan Ia merencanakan agar kita dapat kembali bersatu dengan-Nya di dalam kasih-Nya itu. Jika dua sejoli saja mempunyai keinginan untuk selalu bersama, maka kasih Tuhan kepada kita masing- masing, yang lebih sempurna daripada kasih sepasang manusia itu, juga menginginkan kebersamaan yang sempurna. Maka surga di sini maksudnya adalah kebersamaan yang kekal dengan Tuhan (lih. Yoh 14:3); persekutuan sempurna antara kita dengan Allah dan dengan sesama manusia di dalam Kristus Yesus (1 Yoh 1:3). Inilah yang digambarkan sebagai Perkawinan Anak Domba, di mana Kristus Sang Anak Domba bersatu dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja-Nya (lih. Why 19:6-10), yang adalah kita semua.

Jadi kehidupan keluarga kita semasa kita masih berziarah di dunia ini harus mengarah ke surga. Pertanyaannya, sudahkah kita melaksanakannya? Sebab pandangan kita ke surga ini sungguh akan memberi kekuatan dalam kehidupan berumah tangga. Misalnya jika sampai salah satu dari pasangan jatuh di dalam dosa tertentu, maka pasangan yang lain tidak serta merta meninggalkannya; namun justru berjuang untuk mengangkatnya, agar dapat kembali bersama- sama berjalan di jalan Tuhan menuju surga. Kita harus mengingat bahwa melalui sakramen perkawinan kita sebagai suami istri telah diikat oleh Tuhan, dan harapannya adalah kita dapat saling menuntun agar bersama kita dapat memperoleh kebahagiaan kekal. Pandangan ke surga ini membuat seluruh keluarga kompak, saling membantu saling menopang dalam iman, sebab tiap- tiap anggota menginginkan agar sekeluarga berkumpul kembali di surga nanti.

Jika kita sebagai pasangan suami istri mengarahkan pandangan ke surga, maka kita akan menyadari bahwa segala yang ada pada kita (harta milik, kesehatan, kepandaian, bakat, dst) semuanya sesungguhnya adalah karunia yang ‘dititipkan’ pada kita untuk kita kelola bagi kemuliaan Allah. Kita dapat semakin memiliki kebijaksanaan untuk menghitung hari- hari kita di dunia yang terbatas ini (lih. Mzm 90:12). Bukan berarti bahwa kita tidak boleh atau tidak usah bekerja, tetapi di dalam bekerja kita tidak melulu memikirkan bagaimana mengumpulkan rejeki duniawi sebanyak- banyaknya demi kesenangan jasmani; namun kita mengarahkan pandangan kepada hal- hal yang di atas (lih. Kol 3:1), demi mencapai tujuan akhir hidup kita, yaitu Surga. Bagaikan atlet lari marathon yang sedang berlari menuju tujuan, jika lelah tentu dapat saja beristirahat sejenak dan minum, tetapi pikiran, hati dan badan harus terus mengarah kepada tujuan akhir; sebab jika tidak demikian, kita tidak akan sampai ke sana!

Demikian pula, pandangan ke surga juga mempengaruhi kita dalam mendidik anak- anak. Jika fokus kita adalah menghantar anak- anak ke surga, maka kita harus dengan serius membina pertumbuhan iman mereka. Pendidikan di sekolah- sekolah Katolik menjadi salah satu caranya, namun pendidikan iman itu harus tetap diadakan di rumah. Di samping membaca Kitab Suci, mungkin cara yang baik selanjutnya adalah memperkenalkan riwayat hidup para Santa/ santo, agar anak- anak dapat meniru teladan iman mereka. Hal ini menjadi semakin penting pada keluarga yang mengirimkan anak- anaknya bersekolah di sekolah national plus yang belum tentu menyediakan pendidikan iman Katolik yang baik. Mengingat cukup seriusnya dan bertambah mendesaknya kebutuhan ini, kita sebagai orang tua juga harus mempersiapkan diri untuk ‘membentengi’ anak- anak kita dengan perisai iman yang baik, agar tidak begitu saja menjadi korban ‘kesesatan’ media dan pergaulan yang tidak baik. Sudah saatnya kita mengisi cawan hati kita dengan iman yang hidup, agar kita dapat membagikan isi cawan itu kepada anak- anak kita.

Juga tak kalah penting adalah tugas orang tua untuk mendidik anak anak untuk hidup dalam kemurnian (chastity), sebab hanya dengan kemurnian kita bisa memandang Allah di surga (lih. Mat 5: 8) Pendidikan kemurnian ini menghantar anak- anak untuk menemukan tugas panggilan hidup mereka, entah panggilan hidup berkeluarga ataupun selibat untuk Kerajaan Allah. Kedua jenis panggilan hidup ini merupakan cara yang sama- sama mengarahkan manusia kepada kekudusan. Namun demikian, orang tua tetap perlu dengan sikap terbuka memberikan penjelasan kepada anak tentang keluhuran makna hidup selibat bagi Kerajaan Allah, yang merupakan bentuk yang tertinggi/ teragung bagi pemberian diri kepada Allah yang merupakan makna yang paling berharga bagi seksualitas. ((lih. Familiaris Consortio 37)) Jadi orang tua harus bersyukur dan bahkan berbangga jika ada dari antara anaknya yang terpanggil untuk menjadi imam ataupun suster, karena dengan demikian, mereka turut mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan.

Sungguh, di tengah dunia yang makin konsumtif ini, kita juga perlu memohon kepada Tuhan agar mata hati kita tidak tergiur akan gemerlapnya kemewahan dunia, dan melupakan inti yang terpenting dalam hidup manusia. Paus Yohanes II mengajarkan, bahwa kita harus mengajarkan kepada anak- anak kita agar tidak menilai orang dari apa yang dia miliki, tetapi dari apa adanya orang itu, ((lih. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 35, seperti dikutip Familiaris Consortio 37)) sebab setiap orang diciptakan di dalam kasih Tuhan. Penghayatan akan pengajaran ini membawa dampak dua arah, yaitu cara pandang kita kepada diri kita sendiri, dan terhadap orang lain. Terhadap diri kita sendiri, hal ini menjadikan kita tidak terikat terhadap kekayaan dan memilih untuk hidup lebih sederhana. Sedangkan terhadap orang lain kita dapat lebih menerapkan kasih yang tulus. Kita dapat memulainya dengan bersikap yang baik kepada pembantu di rumah, atau supir, mengingat bahwa mereka mempunyai martabat yang sama dengan kita; dan kita mengajarkan anak- anak kita untuk juga bersikap demikian terhadap mereka.

Hidup yang sederhana dan terarah kepada Kristus yang tersalib akan mengarahkan kita kepada Kristus yang bangkit. Maka kita selalu diingatkan untuk bangkit, dan melanjutkan kehidupan kita dengan penuh semangat, sebab Tuhan Yesus menyertai keluarga kita. Apapun yang terjadi, suka duka dan pergumulan di dalam keluarga kita ini sifatnya sementara, dan diijinkan Tuhan terjadi agar menghantarkan kita lebih dekat kepada-Nya. Maka, janganlah menunggu sampai datangnya masalah yang berat dalam perkawinan baru kita mencari Tuhan. Janganlah sampai kita menunggu hingga anak- anak kita terjerumus dalam pergaulan yang salah, baru kita tersadar dan berusaha memperbaikinya. Janganlah kita memusatkan seluruh energi untuk memenuhi segala kebutuhan jasmani pasangan dan anak- anak kita tanpa mengindahkan kebutuhan rohani mereka. Sebab Tuhan Yesus mengatakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).  Sabda ini merupakan ajakan bagi kita untuk mulai dari sekarang, membangun rumah tangga kita di dalam Tuhan dan bersama Tuhan, dengan Surga dan keselamatan kekal sebagai tujuannya. Sebab pada saat kita melaksanakannya, Tuhan juga akan memberikan kita kesempatan untuk mulai mengecap buahnya, bahkan pada saat kita masih hidup di dunia ini. Keluarga yang erat bersatu dalam kasih, dengan Tuhan Yesus sebagai pusatnya!

III. Membangun kehidupan perkawinan di atas batu jangan di atas pasir.

Tujuan untuk mencapai Surga bagi keluarga-keluarga Katolik hanya mungkin kalau keluarga-keluarga Katolik membangun perkawinan dengan dasar perkawinan Katolik, yaitu: memusatkan kehidupan perkawinan pada Kristus, dengan dibantu doa, Firman dan Sakramen, disertai dengan kasih pemberian diri yang tulus, yang setia sampai akhir. Dengan dasar ini, maka hubungan suami istri memperoleh makna yang sesungguhnya, dan kehadiran anak-anak dapat dipandang sebagai anugerah. Orang tua mau menyisihkan waktunya untuk berinteraksi dengan anak-anaknya dan mengasihi mereka. Selain kasih yang tulus, kehidupan rohani yang baik, komunikasi yang baik, pasangan suami istri Katolik memerlukan rahmat Allah untuk dapat membuat kehidupan perkawinan seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Hanya bersama Tuhan, kita dimampukan untuk membangun rumah tangga kita di atas pondasi yang kuat, dengan mengarahkan pandangan kita kepada kebahagiaan Surgawi. Dengan pandangan terarah kepada Tuhan Yesus, kita dapat menjadikan keluarga kita sebagai persekutuan kasih orang- orang yang percaya dan mewartakan Injil, yang berdialog dengan Tuhan dan yang melayani sesama. ((Familiaris Consortio, 50-64))

Ini berbeda dengan jika kita membangun rumah kita atas dasar kesenangan duniawi dan berfokus pada hal-hal yang bersifat sementara dan jasmani. Sebab jika demikian,  kita bagaikan membangun rumah di atas pasir. Dengan dasar yang rapuh ini, rumah menjadi rentan terhadap angin, hujan dan banjir, sebab mudah roboh karenanya.  Memang, kehidupan keluarga kita di dunia ini tidaklah sepi dari godaan dan masalah, yang serupa dengan hujan dan banjir. Namun Injil mengatakan, “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat 7:25) Mari, sebagai keluarga Katolik kita membangun kehidupan keluarga di atas batu, sehingga ketika banjir, hujan, dan badai menerpa kehidupan keluarga kita, maka kita dapat bertahan terus sampai pada kesudahannya.

Catatan: Artikel ini adalah bahan seminar “Perkawinan Katolik vs perkawinan dunia” pada tanggal 9 April 2011, yang diselenggarakan oleh kerjasama Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Regina Caeli – PIK dan Paroki Stella Maris – Pluit.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab