Home Blog Page 212

Tentang Prodiakon yang sikapnya buruk

32

Pertanyaan:

Syalom,
Saya mw tanya mengenai prodiakon…. yang saya tahu prodiakon itu membagi-bagikan hosti yang bisa dibilang sangat sakral… lalu, bagaimana apabila prodiakon tersebut ternyata bersikap bertentangan dengan ajaran gereja? seperti misalnya makan daging pada hari Jumat Agung, sedangkan prodiakon itu sendiri akan membagikan komuni pada hari jumat agung… ato misalkan prodiakon tersebut suka berkelahi dan mengancam serta mengintimidasi orang… apakah prodiakon tersebut masih layak untuk membagikan komuni pada hari Jumat Agung? apabila prodiakon tersebut berkeras untuk membagikan komuni pada hari Jumat Agung dengan dalih tidak ada yang tahu (padahal Tuhan tahu), maka apakah hosti tersebut tetap menjadi berkat bagi orang yang menerima komuni dari prodiakon tersebut? terima kasih…

Jawaban:

Shalom Leon,

Pertama- tama perlu kita ketahui bahwa kuasa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus diberikan oleh Kristus sendiri kepada para imam-Nya, oleh kuasa Roh Kudus. Oleh karena yang berperan adalah kuasa Kristus Tuhan sendiri, maka tidak tergantung dari faktor manusianya, dalam hal ini, apakah imamnya kudus atau tidak, atau prodiakonnya baik atau tidak; asalkan imamnya telah ditahbiskan secara sah, dan bahwa prodiakon itu sungguh telah memperoleh penugasan resmi oleh pihak otoritas Gereja. Sebab kondisi batin imam maupun prodiakon tidak membatalkan kuasa Tuhan yang oleh Sabda-Nya pada saat konsekrasi mengubah hakekat roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Hal ini diajarkan oleh St. Thomas Aquinas, seperti pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Petugas prodiakon di Indonesia sebetulnya kalau di luar negeri disebut “Extraordinary minister of Holy Communion” atau pelayan luar biasa pembagi Komuni Kudus. Jadi mereka adalah kaum awam, bukan diakon tertahbis, hanya mereka ditugaskan oleh pastor paroki untuk membantu membagikan Komuni Kudus, ini diperbolehkan menurut Kitab Hukum Kanonik Kan 230, § 3. “Bila kebutuhan Gereja memintanya karena kekurangan pelayan, juga kaum awam, meskipun bukan lektor atau akolit, dapat menjalankan beberapa tugas, yakni melakukan pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, menerimakan baptis dan membagikan Komuni Suci, menurut ketentuan-ketentuan hukum.”

Tentu ada syarat- syarat bagi penunjukan prodiakon/ Extraordinary minister of Holy Communion ini. Dokumen Immensae Caritatis yang dikeluarkan oleh Sacred Congregation of the Sacraments 29 Januari 1973, menyebutkan ketentuannya antara lain sebagai berikut (selengkapnya, silakan klik di link ini):

“Umat beriman yang adalah pelayan luar biasa Komuni Kudus haruslah orang – orang yang mempunyai kualitas yang baik dalam kehidupan Kristiani, iman dan moral. Biarlah mereka berjuang untuk menjadi layak bagi tugas mulia ini, menumbuhkan devosi mereka sendiri terhadap Ekaristi, dan menjadi teladan bagi umat yang lain melalui devosi mereka dan penghormatan mereka terhadap sakramen yang maha agung di altar. Tak seorangpun dapat dipilih jika penunjukan tersebut mengganggu/ meresahkan umat.” (Immensae Caritatis, I)

Jadi memang seharusnya yang dipilih untuk menjadi prodiakon haruslah orang Katolik yang melaksanakan ajaran iman Katolik. Jika prodiakon itu ternyata orangnya suka berkelahi dan mengintimidasi orang lain, sebenarnya memprihatinkan. Apakah anda mempunyai bukti-bukti akan hal itu? Jika ada, silakan sampaikan kepada pastor paroki anda, agar beliau juga mengetahuinya dan menindaklanjutinya.

Sekarang mengenai ketentuan puasa dan pantang. Kitab Hukum Kanonik mengajarkan demikian:

Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

Maka memang umumnya pada Jumat Agung kita melakukan pantang daging, tetapi jika karena alasan tertentu sang prodiakon itu tidak memilih pantang daging, sebenarnya tetap diperbolehkan sepanjang dia tetap melakukan pantang yang lain, misalnya pantang kopi, pantang gula, pantang garam, atau pantang makanan lainnya yang paling disukainya. Lain halnya jika prodiakon itu ternyata lupa berpantang, walaupun memang seharusnya tidak demikian. Jika anda menemukan hal sedemikian, silakan anda mengingatkannya untuk melakukan pantang yang lain.

Selanjutnya, jika benar bahwa kelakuan sang prodiakon itu sungguh tidak sesuai dengan iman Katolik, memang ini memprihatinkan, tetapi sesungguhnya, hal ini tidak mempengaruhi efek berkat Komuni Kudus yang dibagikannya kepada umat lainnya. Sebab seperti telah dijabarkan di atas, efek Komuni Kudus itu terjadi karena kuasa Roh Kudus, dan bukan karena kekudusan pelayan/ petugas yang membagikannya. Sedangkan, perihal pembagian tugas Komuni, itu seharusnya diatur sesuai dengan kebutuhan paroki, sehingga seseorang tidak dapat menuntut, “Itu hak/giliran saya membagikan Komuni”, tetapi prodiakon itu harus mempunyai kerendahan hati untuk bertugas membagikan Komuni kudus sepanjang ia ditugaskan karena kebutuhan. Tugas prodiakon itu adalah sebagai pelayan “luar biasa” namun bukan menjadi suatu pelayanan yang harus dilaksanakan jika tidak ada kebutuhan.

Dokumen  Inaestimabile Donum yang dikeluarkan oleh SCS (disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II 17 April 1980) dengan lebih jelas menyatakan demikian:

9. Komuni Ekaristi. Komuni adalah karunia Tuhan, diberikan kepada umat beriman melalui pelayan yang ditunjuk untuk maksud ini. Umat tidak diperbolehkan untuk mengambil sendiri hosti yang sudah dikonsekrasikan dan piala yang suci, apalagi  membagikan sendiri [hosti dan anggur itu] kepada orang lain.

10. Umat beriman, baik religius ataupun awam, yang telah diberi kuasa sebagai extraordinary ministers/ pelayan luar biasa Ekaristi (prodiakon) dapat membagikan Komuni hanya jika tidak ada imam, diakon [diakon tertahbis] ataupun akolit, ketika imamnya berhalangan karena penyakit atau usia lanjut, atau ketika jumlah umat yang menerima Komuni begitu banyak sehingga membuat perayaan Misa menjadi terlalu lama (lihat Immensae caritatis, 1). Oleh karena itu, kelirulah sikap para imam yang, meskipun hadir di perayaan tersebut, tetapi tidak membagikan Komuni dan membiarkan tugas itu dilaksanakan oleh para awam.

Demikian, tanggapan saya, semoga menjawab pertanyaan anda. Mungkin yang dapat anda lakukan, jika anda melihat seorang prodiakon yang sedemikian, adalah anda mendoakan dia, semoga Tuhan berbelas kasihan kepadanya dan memampukannya untuk meninggalkan sikap buruknya yang tidak sesuai dengan ajaran iman dan tugas mulia yang disandangnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tanggapan terhadap nubuat St. Malachy dan World’s Last Chance

13

1. Tanggapan tentang nubuat St. Malachy

Memang kita mendengar ada banyak prediksi tentang akhir jaman akhir- akhir ini, seperti yang diungkapkan oleh John Hogue. Namun sesungguhnya sikap yang paling baik pada saat ini adalah tidak usah terlalu merisaukannya, sebab tidak ada gunanya. Sebab pada akhirnya, Sabda Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui hari dan saatnya (Mat 25:13). Lebih baik memusatkan perhatian untuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali tersebut dalam hidup kita, entah pada saat kita wafat, atau jika sampai akhir jaman terjadi pada saat kita masih hidup. Karena sesungguhnya, kita tidak pernah tahu kapan persisnya akhir dunia, namun pesan inti dari Sabda Tuhan adalah: Berjaga- jagalah. Silakan jika anda tertarik, untuk membaca ajaran tentang Akhir Jaman menurut ajaran Gereja Katolik:

Akhir Jaman menurut Gereja Katolik (bagian 1)
Akhir Jaman menurut Gereja Katolik (bagian 2)
Rapture menurut ajaran Gereja Katolik
Perlukah kita mengetahui kapan akhir jaman?

Dengan demikian, tidak menjadi masalah, apakah seseorang mau mempercayai nubuat St. Malachy atau tidak. Sebab menurut informasi yang saya ketahui, silakan klik di link ini, nubuat St. Malachy (1139) yang ramai dibicarakan orang sekarang ini baru diketahui pada tahun 1590 (Cucherat, “Proph. de la succession des papes“, ch. xv). Teks tersebut pertama kali diterbitkan oleh Arnold de Wyon, dan sejak saat itu ada banyak diskusi tentang apakah teks ini adalah asli nubuat St. Malachy ataukah pemalsuan. Adanya rentang waktu 400 tahun yang ‘sunyi’ antara masa hidup St. Malachy dan penemuan teks ramalannya di abad ke 16 itu merupakan salah satu alasan yang kuat untuk mempertanyakan keasliannya; dan bahwa nubuat St. Malachy ini bahkan tidak disebutkan dalam riwayat hidupnya yang ditulis oleh St. Bernard. Walaupun memang sebagian orang percaya bahwa alasannya adalah karena teks tersebut ‘tersembunyi’ di arsip Roma selama 400 tahun, seperti teori yang dikatakan oleh Abbey Cucherat.

Menarik juga untuk disimak bahwa Wikipedia membagi daftar Paus itu menjadi dua bagian, yaitu 74 Paus dan antipaus sebelum nubuat itu ditemukan pada tahun 1590, dan 37 Paus yang memimpin setelah tahun 1590. Nah pada kelompok para Paus yang pertama (dari Celestine II s/d Urban VII), hubungan antara motto dan Paus yang bersangkutan umumnya jelas, sedangkan pada kelompok yang kedua (dari Gregorius XIV s/d Petrus Romanus) tidak sejelas pada kelompok yang pertama, bahkan ada yang sama sekali tidak diketahui hubungannya. Memang bisa jadi, ini adalah penggenapan nubuat yang kebetulan demikian terjadinya (jika teks tersebut asli), tetapi bisa juga ini adalah alasan yang masuk akal mengapa sebagian orang mempertanyakan keotentikan teks ini. Karena jika teks itu pemalsuan yang baru dibuat sekitar abad 16, maka tentu saja logis, bahwa daftar kelompok Paus dari 1143 sampai tahun 1590) pasti lebih jelas kaitannya (antara motto dan kenyataannya), karena merupakan pencatatan hal yang sudah terjadi; sedangkan kaitan ini menjadi tidak begitu jelas pada kelompok para Paus sesudah tahun 1590. Melihat fakta sedemikian, besar kemungkinan bahwa nubuat tersebut adalah pemalsuan yang baru dibuat tahun 1590.

2. Vatikan memperkuat nubuat St. Malachy?

Memang di tulisan nubuat itu terdapat 112 para Paus dengan motto yang bernada puitis untuk setiap Paus. Silakan membaca di link tersebut di atas. Di akhir nubuat itu tertulis: “Di akhir penganiayaan, Gereja Roma yang kudus akan dipimpin oleh Petrus orang Roma, yang akan menggembalakan kawanannya di tengah banyak penganiayaan, dan sesudahnya kota yang dikelilingi 7 bukit itu akan dihancurkan dan Hakim yang adil akan menghakimi bangsa- bangsa. Selesai.” Di sini terlihat bahwa tentang Petrus Romanus yang menurut daftar St. Malachy adalah Paus yang terakhir, ramalan tersebut tidak mengatakan bahwa tidak akan ada paus lagi yang mengisi antara dia dengan pendahulunya yang disebut sebagai Gloria Olivae, yang sering dihubungkan dengan Paus Benediktus XVI. Ini hanya mengatakan bahwa Petrus Romanus adalah Paus yang terakhir, sehingga terdapat kemungkinan yang sama antara apakah di antara Gloria Olivae dan Paus terakhir “Petrus Romanus” tidak ada Paus lain, atau, masih terdapat beberapa/ banyak Paus.

Tentang Paus Benediktus XVI yang dihubungkan Gloria Olivae karena nama Benediktus yang dipilihnya, juga sebenarnya merupakan keterangan yang memang bisa dihubungkan tetapi juga tidak spesifik hanya dapat digenapi oleh Paus Benediktus. Pertama karena walaupun order of Our Lady of Mount Olivet (Olivetan) termasuk dalam ordo St. Benediktus, namun tidak semua anggota ordo St. Benediktus adalah anggota Olivetan. Lagipula nama St. Benediktus Yosef Labre yang diacu oleh Paus Benediktus (karena pesta nama Santo tersebut bertepatan dengan hari kelahiran Paus yaitu 16 April), tidak berhubungan sama sekali dengan olive, Olivetans atau Mount Olivet. Kedua, seandainya waktu itu bukan Paus Benediktus XVI yang terpilih, siapapun yang berasal dari Ordo Benediktin dapat dianggap sebagai penggenapan nubuat. Atau, jika yang terpilih Paus dari Amerika Latin atau Paus berkulit hitam (karena buah olive berwarna hitam), atau Paus dari Italia atau Spanyol (negara yang sering dihubungkan dengan perkebunan olive/ zaitun) atau Paus yang punya hubungan dengan agama Yahudi (karena di Yerusalem anda Mount of Olive), juga dapat dihubungkan dengan penggenapan nubuat itu. Dengan demikian hubungan antara Paus Benediktus XVI dengan Gloria Olivae memang dapat saja dihubung-hubungkan, tetapi bukan merupakan tanda absolut pasti demikian artinya.

Mungkin memang suatu kenyataan yang menarik bahwa perayaan pemakaman Paus Yohanes Paulus II terjadi pada saat gerhana hibrid yang terjadi di daerah Pasifik Barat Daya dan Amerika Selatan, sehingga sepertinya cocok dengan nubuatan tersebut, yang menghubungkannya dengan motto “De labore solis (dari hasil pekerjaan matahari)”. Juga karena pada saat kelahirannya 18 Mei 1920, terjadi gerhana matahari sebagian di perairan India. Namun apakah de laboris solis maksudnya adalah gerhana matahari? Tentu ini bisa diinterpretasikan demikian, tetapi juga bukan pasti demikian.

Tentang mengapa hanya ada dua tempat foto Paus setelah Paus Yohanes Paulus II, juga bukan indikasi yang meyakinkan bahwa Vatikan mengatakan bahwa tinggal dua Paus lagi lalu akhir dunia. Sebab daftar foto Paus yang disusun menjadi poster tersebut juga akan terlihat aneh kalau ‘menyisakan’ banyak ruang foto yang kosong. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan baru, foto yang disisakan kosong itu mau dibuat berapa jumlahnya? Maka dapat saja keputusan dua foto yang kosong itu dapat saja karena faktor estetis penyusunan foto dalam sebuah poster. Jika nantinya sudah terisi (dua ruang kosong itu) dan lebih satu, maka dapat terjadi foto- foto itu akan disusun dengan format yang berbeda pada pencetakan poster berikutnya.

Berikut ini adalah foto nama- nama Paus -dari St. Petrus sampai Paus Benediktus XVI – yang terpahat di marmer di museum basilika St. Petrus di Vatikan, yang kami ambil di tahun 2010 yang lalu. Lihatlah bahwa di sana masih ada ruang ‘tersisa’ bagi beberapa Paus (tidak hanya tersisa dua Paus). Seandainya sudah penuh sekalipun dan belum terjadi akhir dunia, saya percaya tidak menjadi masalah bahwa akan dibuat plakat marmer lagi yang mengukir nama- nama semua Paus, dengan format/ ukuran yang mungkin berbeda.

3. Tanggapan terhadap video the World’s Last Chance (WLC)

Dari video WLC tersebut, kita mengetahui adanya tuduhan- tuduhan yang didasari atas interpretasi pribadi atas nubuatan Kitab Suci. Cara interpretasi ini sesungguhnya malah tidak sesuai dengan Kitab Suci, yang mengajarkan: “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Pet 1:20). Sebab sebagai contohnya, mereka mengintepretasikan the Whore (Pelacur itu) sebagai Evil Church, yang kemudian mereka simpulkan sendiri adalah Gereja Katolik. Padahal jelas disebutkan di dalam Kitab Suci, bahwa ‘the whore‘/ pelacur itu adalah suatu kota yang besar (Why 17:18), dan bukannya Gereja.

Selanjutnya adalah tuduhan bahwa Paus adalah antikristus. Ini adalah tuduhan yang tidak berdasar, karena definisi antikristus menurut Kitab Suci adalah mereka yang menentang Kristus/ Mesias:

“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. ….. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” (1 Yoh 2:18, 22)

“…dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.” (1 Yoh 4:3)

“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” (2 Yoh 1:7)

Jika seseorang dengan jujur membaca teks ini, maka ia akan mengetahui bahwa Paus bukanlah antikristus, karena justru Paus tidak pernah menyangkal Kristus, tidak pernah tidak mengakui Kristus, tidak pernah tidak mengakui bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Malahan ajaran Paus sungguh berpusat pada Kristus dan bahwa Kristus telah menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria yang dipilih Allah untuk melahirkan Dia.

Jadi tuduhan bahwa Paus Yohanes Paulus II bahwa ia adalah antikristus, karena ia dikenal sebagai Paus yang paling dicintai di seluruh dunia, juga tidak Alkitabiah. Sebab Kitab Suci juga tidak pernah menuliskan demikian, ini hanya interpretasi pribadi orang yang menuduh.

Beberapa tanggapan tentang tuduhan- tuduhan WLC ini sudah pernah dibahas di sini:

Apakah Gereja Katolik adalah the Whore of Babylon?
Apakah binatang pertama dalam Why 13 =Gereja Katolik?
Tentang warna merah dan ungu: satanisme di Gereja Katolik?
Tentang Inkuisisi
Tentang ajaran sesat Albigenses
Tentang Antikristus menurut Gereja Katolik

Tentang 666
Tentang Vicarius Filii Dei

 

Arti manusia diciptakan menurut gambaran Allah

10

Pertanyaan:

Damai KRISTUS. Topik ajaran Katolik mengenai MANUSIA terdiri TUBUH dan JIWA adalah Sungguh sangat menarik dan bahkan sangat berarti untuk Pengetahuan iMAN terlebih untuk Pemantapan IMAN. JiKa seandainya boleh ajaran Katolik ttg hal ini, mulai diterapkan di dunia pendidikan KATOLIK, krn hal ini sangat penting. Sbb pd kenyataanya kaum awam Katolik bhkan yg sudah dewasa tidak tahu akan hal ini. Atau sedikit demi sedikitlah di sentiL di saat2 kotbah pd acara, ibadah,misa KATOLIK.
Oh yah saya mau brtanya pd ROMO ttg MANUSIA adalah GAMBARAN DIRI ALLAH. Seperti Yg Kita Imani ttg ALLAH TRITUNGGAL: ALLAH BAPA, ALLAH PUTERA dan ALLAH ROH KUDUS. Nah kalu manusia kira2 bgmana? Maaf kalu sudah lebih jauh.
Kembali ke topik tdi, bhw manusia trdiri Tubuh & Jiwa Spiritual(Rohani). Ulasan ini mohon diperjelas lagi secara sderhana. Trus bgamaina dgn Jiwa orang brdosa yg tak ada Tobatnya hingga meninggal. Apakah jiwanya tetap disebut JIWA SPIRITUAL (ROHANI). Ataukah saya salah memahami ttg JIWA SPIRITUAL? yg mungkin diartikan sbg JIWA YG MEMANG BRSIFAT ROH. Maaf kalau saya salah. Mohon dibetulkan, ROMO. Trimakasih bnyk. DEO GRATIAS

Anthonius

Jawaban:

Shalom Anthonius,

1. Arti manusia diciptakan ‘menurut gambaran Allah’

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, maksud manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26-27), adalah sebagai berikut:

KGK 355     “Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Manusia menduduki tempat khusus dalam ciptaan: ia diciptakan “menurut citra Allah” (I); dalam kodratnya bersatulah dunia rohani dan dunia jasmani (II); ia diciptakan “sebagai laki-laki dan perempuan” (III); Allah menjadikan dia sahabat-Nya (IV).

Menurut gambaran Allah

KGK 356     Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia yang “mampu mengenal dan mencintai Penciptanya” (Gaudium et Spes/GS 12,3): ialah “yang di dunia merupakan satu-satunya makhluk, yang Allah kehendaki demi dirinya sendiri” (GS 24,3): hanya dialah yang dipanggil, supaya dalam pengertian dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Ia diciptakan untuk tujuan ini, dan itulah dasar utama bagi martabatnya…”

KGK 357    Karena ia diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberi kepada-Nya jawaban iman dan cinta, yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya.

KGK 358    Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia (Bdk. GS 12,1; 24,2; 39,1), tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya:
“Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Itulah manusia; untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangkan Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Allah malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu, supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya” (Yohanes Krisostomus, Serm. in Gen. 2,1).

KGK 359    “Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas” (GS 22,1).
“Rasul Paulus berbicara mengenai dua manusia, yang merupakan asal-usul umat manusia: Adam dan Kristus… Paulus mengatakan: ‘Adam, manusia pertama, menjadi makhluk hidup duniawi. Adam terakhir menjadi Roh yang menghidupkan’. Yang pertama diciptakan oleh Yang terakhir, dan juga mendapat jiwa dari Dia, supaya ia menjadi hidup… Adam terakhir inilah, yang mengukir citra-Nya atas yang pertama waktu pembentukan. Karena itulah, maka ia menerima sosok tubuhnya dan menerimanya, supaya Ia tidak kehilangan, apa yang Ia jadikan menurut citra-Nya. Adam pertama, Adam terakhir: Yang pertama mempunyai awal, yang terakhir tidak mempunyai akhir, karena yang terakhir ini sebenarnya yang pertama. Dialah yang mengatakan ‘Aku adalah Alfa dan Omega'” (Petrus Krisologus, sermo 117).

KGK 360    Umat manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama. Karena Allah “menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia” (Kis 17:26) Bdk. Tob 8:6..
Pandangan yang menakjubkan, yang memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal yang sama dalam Allah… dalam kesatuan kodrat, bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa rohani yang tidak dapat mati dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia; dalam kesatuan pemukiman di bumi, dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya, supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang; dalam kesatuan tujuan adikodrati: Allah sendiri, dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya: dalam kesatuan daya upaya, untuk mencapai tujuan ini;… dalam kesatuan tebusan, yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua orang” (Pius XII Ens. “Summi Pontificatus”) Bdk. NA 1.

KGK 361    “Hukum solidaritas dan cinta ini” (ibid.) menegaskan bagi kita, bahwa kendati keaneka-ragaman pribadi, kebudayaan dan bangsa, semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari.

KGK 362    Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: “Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.

KGK 380    “Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta” (MR, Doa Syukur Agung IV 118).

KGK 1702    Citra Allah hadir dalam setiap manusia. Ia menjadi tampak dalam persekutuan manusia yang menyerupai kesatuan Pribadi-pribadi ilahi.

Jadi Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, yang artinya adalah: 1) manusia dapat mengenal dan mengasihi Penciptanya; 2) manusia adalah seorang pribadi, bukan hanya ‘sesuatu’, 3) manusia diciptakan untuk menguasai alam dan melayani Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu untuknya, 4) misteri tentang manusia hanya dapat dipahami dengan mengacu kepada misteri Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, 5) umat manusia merupakan satu kesatuan, karena mempunyai asal yang sama yaitu Allah, 6) maka semua manusia adalah saudara dan saudari di dalam Tuhan; 7) manusia merupakan mahluk rohani, walaupun ia mempunyai tubuh jasmani.

Nah, selanjutnya manusia dipanggil Allah untuk mengambil bagian di dalam misteri Trinitas, yaitu dengan memberikan diri secara total atas dasar kasih, entah melalui kehidupan perkawinan ataupun selibat untuk Kerajaan Allah. Silakan anda  klik di sini untuk membaca tentang hal ini.

2. Bagaimana dengan jiwa orang yang berdosa dan tidak bertobat sampai pada waktu meninggal?

Manusia yang berdosa, tetap mempunyai jiwa spiritual, sebab jiwa yang diciptakan oleh Tuhan itu sifatnya kekal. Katekismus mengajarkan demikian tentang jiwa spiritual ini:

KGK 33    Manusia. Dengan keterbukaannya kepada kebenaran dan keindahan, dengan pengertiannya akan kebaikan moral, dengan kebebasannya dan dengan suara hati nuraninya, dengan kerinduannya akan ketidak-terbatasan dan akan kebahagiaan, manusia bertanya-tanya tentang adanya Allah. Dalam semuanya itu ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani padanya. “Karena benih keabadian yang ia bawa dalam dirinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan asal dalam materi saja” (GS 18,1) BA. GS 14,2., maka jiwanya hanya dapat mempunyai Tuhan sebagai sumber.

KGK 366     Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah (Bdk. Pius XII. Ens. “Humani generis” 1950: DS 3896; SPF 8) – ia tidak dihasilkan oleh orang-tua – dan bahwa ia tidak dapat mati (Bdk. Konsili Lateran V 1513: DS 1440); ia [jiwa] tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.

Jika seseorang berdosa berat, namun sebelum sempat bertobat ia wafat, maka jiwanya akan masuk ke dalam neraka. Katekismus mengajarkan:

KGK 1861    Dosa berat, sama seperti kasih, adalah satu kemungkinan radikal yang dapat dipilih manusia dalam kebebasan penuh. Ia mengakibatkan kehilangan kebajikan ilahi, kasih, dan rahmat pengudusan, artinya status rahmat. Kalau ia [dosa berat] tidak diperbaiki lagi melalui penyesalan dan pengampunan ilahi, ia mengakibatkan pengucilan dari Kerajaan Kristus dan menyebabkan kematian abadi di dalam neraka karena kebebasan kita mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan keputusan yang definitif dan tidak dapat ditarik kembali. Tetapi meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, namun kita harus menyerahkan penilaian mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah.

Selanjutnya, jika anda tertarik untuk mengetahui apakah yang terjadi setelah kematian, silakan klik di judul- judul berikut ini:

Apa yang terjadi setelah kematian
Pengadilan khusus dan pengadilan umum
Makna kematian bagi kita orang percaya
Kebangkitan Badan

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mana yang lebih penting: Ekaristi atau Sabda Tuhan?

6

[Dari Katolisitas: Diskusi ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari diskusi di tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena kami pandang menjurus ke topik yang semakin spesifik, kami memutuskan untuk menayangkan di topik terpisah]

Pertanyaan:

Shalom Bp. Herman Jay,

Terima kasih karna telah mengingatkan saya agar tidak menomorsatukan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lain, dan tidak begitu mudah menganggap diri sendiri yang paling benar.

Saya menerima tawaran Anda agar kita saling memahami dan memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman, sebagaimana yang telah Anda tulis di atas. Untuk itu, saya sangat memohon kesediaan Anda untuk sekali lagi menuliskan pengetahuan Anda kepada saya, agar saya bisa memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman saya. Dan, kali ini saya akan menuliskan apa yang saya ketahui dan rasakan tentang Ekaristi, supaya Anda bisa mengoreksinya.

Awalnya adalah saya menulis di Lukas Cung says: March 26, 2011 at 9:58 am, untuk menanggapi tulisan Bp. Paulus Sutikno Panuwun. Singkat kata: saya menyangka Bp. Paulus agak ‘menyayangkan’ umat yang lebih mengutamakan Ekaristi, tapi Bp. Paulus membalas di Paulus Sutikno Panuwun says: March 26, 2011at 8:32 pm, bahwa ia tidak berpendapat seperti yang saya sangkakan. Saya pun menjadi lega karnanya…

Lalu, Bp. Albertus Magnus Herwanta menanggapi di albertus magnus herwanta says: March 30, 2011 at 6:18 pm. Dari tulisan Bp. Albertus: “…Firman Tuhan (Kitab Suci) yang menjadi sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan kita.”, sekali lagi saya keliru menyangka. Saya menyangka Bp. Albertus berpendapat bahwa Kitab Suci adalah sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan hidup. Ini yang di Lukas Cung says: April 1, 2011 at 1:07 pm, saya sebut tidak sependapat dengan Bp. Albertus. Menurut saya, sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan saya adalah melulu Ekaristi (sesuai apa yang saya baca di Katolisitas.org, pada artikel “Ekaristi adalah Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani”). Tapi, di albertus magnus herwanta says: April 4, 2011 at 10:23 am, Bp. Albertus menjawab: ia tidak bermaksud seperti yang saya sangkakan. Sekali lagi, saya menjadi lega karnanya…

Bp. Herman Jay yang saya hormati… Saya pada usia 30-an seperti saat ini, yang baru menemukan Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup saya, adalah masa yang sangat terlambat. Seharusnya saya bisa menemukan ‘harta karun’ ini lebih awal.
Saya menemukan ‘harta karun’ ini dimulai ketika saya membaca buku-buku Scott Hahn (terjemahan bahasa Indonesia tentu saja). Ia menulis bahwa umat gereja lain mendapatkan ‘makan’ dari khotbah, Kitab Suci, nyanyi-nyanyian, namun umat Katolik mendapatkan ‘makan’ dari Tubuh dan Darah Kristus. Pikir saya, Scott Hahn ini ‘kan dari aliran gereja yang berprinsip ‘hanya Kitab Suci’, tapi koq ia bisa berpendapat bahwa umat Katolik mempunyai yang lebih, yaitu Ekaristi.
Di samping itu, saya pernah membaca bahwa Ekaristi adalah bentuk penyembahan tertinggi pada Gereja Katolik. Juga, Ibu Ingrid pernah menulis bahwa saat-saat setelah Komuni adalah saat-saat yang paling penting karna diri kita menyatu dengan Tubuh dan Darah Kristus. Untuk itulah mengapa saya berpendapat Ekaristi memang lebih penting daripada yang lain.
Betul bahwa dalam perayaan Misa Kudus ada Ibadat Sabda yang menghantarkan kita ke Ibadat Ekaristi. Tapi saya tidak berpendapat Ibadat Ekaristi mempunyai kedudukan yang sama dengan Ibadat Sabda. Contohnya Scott Hahn yang merasa di tempatnya yang lama sudah tersedia ‘Ibadat Sabda’ lantaran fokus utama mereka adalah kepada Kitab Suci, namun di Gereja Katolik sangat terasa fokus utamanya adalah kepada Ekaristi.
Dan, dengan sedikit “lancang” dan penuh rasa hormat, saya mau bertanya: Sudahkah Anda lebih rutin menerima Sakramen Tobat?
Bukan mau merasa lebih benar sendiri. Hanya, penerimaan saya terhadap Ekaristi, perlahan-lahan bertambah besar setelah saya lebih rutin menerima Sakramen Tobat.

Lalu, apakah kemudian saya mengabaikan aspek lain?
Kalau Bp. Herman membaca tulisan saya di Lukas Cung says: April 1, 2011 at 1:07 pm: “Memang, membaca dan merenungkan Firman Tuhan (Kitab Suci) adalah sangat penting buat saya, karna saya bisa mengetahui dan mengerti apa saja yang ingin dikatakan oleh Tuhan kepada saya” – tulisan yang Bapak komentari itu – rasa-rasanya saya tidak ‘mengangkat tinggi-tinggi Ekaristi dan membuang jauh-jauh Kitab Suci’.
Saya juga menulis di Lukas Cung says: March 26, 2011 at 9:58 am: “Tema APP, membaca Kitab Suci, rosario, doa harian, menimba pengetahuan dari Katolisitas dll, menurut saya adalah cara-cara yang bisa membantu kita untuk semakin menghayati Ekaristi”. Jadi, mohon Bp. Herman menjawab: apakah menurut Bapak saya telah menomorsatukan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lain?
Dan, mohon Bp. Herman mengoreksi saya berikut ini, yaitu menurut saya, menghayati Ekaristi adalah mau mengasihi sesama dalam kehiduapn sehari-hari dan mau menjadi semakin kudus – bukan hanya khusuk menghayati Ekaristi secara ritual – tapi bersedia “diutus” seperti yang selalu diucapkan oleh pastor usai berkat penutup dalam misa kudus (Mari pergi! Kita diutus!). Kalau saya berpendapat seperti itu, apakah saya telah merasa benar sendiri?

Mohon maaf untuk kata-kata saya yang kurang berkenan…

Terima kasih.

Salam,
Lukas Cung

Dan, kepada Bp. Stef dan Ibu Ingrid, saya menyampaikan terima kasih yang besar karna telah membuat saya mengerti dari sebelumnya tidak mengerti, bahwa Ekaristi memang sumber dan puncak hidup saya. Yakinlah, dengan menunjukkan apa yang belum saya mengerti, saya tidak berpendapat Anda berdua merasa paling benar sendiri – saya malah berpendapat, Anda berdua telah menunjukkan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik.

Jawaban:

Shalom Lukas Cung, Herman Jay, Albertus Magnus,

Sebenarnya saya sangat terkesan dengan membaca dialog tentang Ekaristi antara anda berdua, dan juga dengan Paulus dan Budi. Sebenarnya menurut saya, pada prinsipnya semua setuju bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Namun demikian perayaan Ekaristi ini, memang terdiri atas dua bagian yang tidak terpisahkan yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dan keduanya penting dan tidak terpisahkan. Jadi memang sikap yang tepat adalah jangan mempertentangkannya, untuk menanyakan mana yang lebih penting, namun melihatnya sebagai satu kesatuan dalam satu perayaan Ekaristi.

Mungkin tulisan dari Paus Benediktus XVI dalam Ekshortasi Apostoliknya, Verbum Domini, yang belum lama ini dikeluarkan, dapat membantu kita untuk lebih memahaminya. Paus menulis demikian:

“Dalam kata- kata Konstitusi tentang Liturgi Suci [Konsili Vatikan II] Sacrosanctum Concillium, “Kitab Suci adalah merupakan yang terpenting di dalam perayaan liturgi. Daripadanya diambil bacaan- bacaan, yang dijelaskan di dalam homili dan mazmur dinyanyikan. Dari Kitab Sucilah, permohonan, doa- doa dan lagu pujian liturgis memperoleh inspirasi dan isinya. Dari Kitab Suci, kegiatan- kegiatan liturgis dan tanda- tanda memperoleh maknanya.” (SC 24) Bahkan lagi, harus dikatakan bahwa Kristus sendiri “hadir di dalam Sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang bersabda ketika Kitab Suci dibacakan di Gereja.” (ibid. 7) Memang, “perayaan liturgi menjadi presentasi Sabda Tuhan yang berkesinambungan, lengkap dan efektif. Sabda Tuhan, yang terus menerus diwartakan di dalam liturgi, selalu adalah Sabda yang hidup dan efektif melalui kuasa Roh Kudus. Sabda tersebut menyatakan kasih Allah Bapa yang tidak pernah gagal di dalam efektivitasnya terhadap kita. (Ordo Lectionum Missae, 4)” (Verbum Domini, 52)

“…[di Perayaan Ekaristi] Kesatuan antara Sabda Tuhan dan Ekaristi mengambil dasar dari kesaksian Kitab Suci (lih. Yoh 6; Luk 24), diajarkan oleh para Bapa Gereja dan diteguhkan kembali di dalam Konsili Vatikan II…. Di dalam pribadi-Nya sendiri, Yesus membawa penggenapan gambaran kuno: “Roti Surga adalah roti yang telah turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia” … “Akulah Roti hidup” (Yoh 6:33-35). Di sini “hukum telah menjadi Seseorang. Ketika kita menyambut Yesus, kita menyantap Tuhan yang hidup,… kita sungguh memakan ‘Roti dari surga’ (J. Ratzinger (Benedict XVI), Jesus of Nazareth, New York, 2007, p. 268). Di khotbah di Kapernaum, prolog Injil Yohanes diterangkan secara lebih mendalam. Di sana Sabda Tuhan (Logos) menjelma menjadi daging, dan daging ini menjadi ‘roti’ yang diberikan kepada dunia (lih. Yoh 6:51), dengan penyebutan pemberian diri Kristus dalam misteri salib, yang diteguhkan kembali dengan Sabda tetang darah-Nya yang diberikan sebagai minuman (lih. Yoh 6:53). Misteri Ekaristi menyatakan manna yang sejati, Roti yang sejati dari surga: itu adalah Sabda Tuhan yang menjadi daging, yang menyerahkan diri-Nya untuk kita di dalam misteri Paska.

Pernyataan Lukas tentang para murid di perjalanan ke Emaus memampukan kita untuk merenungkan lebih lanjut tentang kaitan ini, antara mendengarkan Sabda dan pemecahan roti (lih. Luk 24:13-35). Yesus menampakkan diri kepada murid- murid-Nya sehari setelah hari Sabat, mendengarkan mereka saat mereka mengatakan tentang pupusnya harapan mereka, dan, bergabung dengan mereka dalam perjalanan mereka, “menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci” (Luk 24:27). Kedua murid mulai melihat Kitab Suci dengan cara yang baru dengan ditemani oleh Ia yang berjalan bersama mereka ini, yang kelihatannya secara tak terduga sangat memahami kehidupan mereka. Apa yang terjadi pada saat itu tidak lagi terlihat sebagai suatu kegagalan, tetapi sebagai penggenapan dan awal yang baru. Namun demikian, nyatanya bahkan kata- kata ini tidak cukup bagi kedua murid itu. Injil Lukas mengatakan bahwa “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenali Dia” (24:31) hanya ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan membagikannya kepada mereka, sementara sebelumnya “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka” (24:16). Kehdiran Yesus, pertama- tama dengan Sabda-nya dan kemudian dengan tindakan pemecahan roti, memungkinkan para murid itu untuk mengenali Dia. Sekarang mereka dapat menghargai dengan cara yang baru semua yang telah mereka alami dengan Dia: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Dari kejadian- kejadian ini, jelaslah bahwa Kitab Suci sendiri mengarahkan kita kepada sebuah penghargaan yang tak terpisahkan antara Sabda Tuhan dengan Ekaristi. “Tidaklah pernah dapat dilupakan bahwa Sabda Ilahi, yang dibacakan dan diwartakan oleh Gereja, mempunyai sebagai satu maksudnya, [yaitu] kurban Perjanjian Baru dan perjamuan rahmat, yaitu, Ekaristi.” (Ordo Lectionum Missae, 10). Sabda dan Ekaristi begitu dalam terjalin satu sama lain sehingga kita tidak dapat memahami salah satu tanpa satu yang lainnya: Sabda Tuhan secara sakramental menjadi daging dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi membuka bagi kita kepada pemahaman Kitab Suci, seperti halnya Kitab Suci menerangi dan menjelaskan tentang misteri Ekaristi. Tanpa kita mengenali kehadiran Tuhan yang nyata di dalam Ekaristi, pemahaman kita akan Kitab Suci tetap tidak sempurna. Karena alasan ini “Gereja telah menghormati Sabda Tuhan dan misteri Ekaristi dengan penghormatan yang sama, meskipun tidak dengan penyembahan yang sama, dan telah selalu dan di manapun menekankan dan meneguhkan dengan syarat- syaratnya tentang penghormatan itu. Digerakkan oleh teladan Pendirinya, Gereja telah tidak pernah berhenti merayakan misteri Paska ini dengan berkumpul bersama untuk membaca “apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci” (Luk 24:27) dan untuk melaksanakan karya keselamatan melalui perayaan peringatan Tuhan dan melalui sakramen- sakramen.” (Ibid.)

Dengan demikian mari kita semua mengambil sikap Gereja, yang tidak memisahkan Sabda Tuhan dengan Ekaristi, dan memberikan penghormatan yang sama terhadap keduanya. Sebab kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus pada saat Sabda Tuhan dibacakan pada saat pengucapan syukur dalam konsekrasi; dan melalui kehadiran Kristus dalam Ekaristi itulah hati kita dapat dikobarkan untuk meresapkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya di dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu mencari manakah di antara keduanya yang lebih penting, karena keduanya merupakan satu kesatuan.

Jadi Lukas Cung, adalah sangat baik untuk mencintai Ekaristi, namun saya mengusulkan, agar sebaiknya tidak menggunakan istilah “penuntun langkah perjalanan saya adalah melulu Ekaristi“, karena sebenarnya Ekaristi yang ada di sini tidak terpisahkan dengan Sabda Tuhan yang diwartakan dengan pembacaan Kitab Suci, sehingga agak rancu jika dikatakan “melulu” Ekaristi, seolah ibadat Ekaristi berdiri sendiri. Mari jangan mempertanyakan mana yang lebih penting antara keduanya, sebab Ekaristi dan Sabda Tuhan keduanya penting dan tak terpisahkan. Namun demikian saya kagum dengan semangat anda dan kecintaan anda kepada Ekaristi. Sungguh kita semua selayaknya berdoa mohon rahmat Tuhan agar semakin dapat memahami makna perayaan Ekaristi, yang terdiri dari kesatuan antara Ekaristi dan Sabda Tuhan. Sebab Ekaristi merupakan puncak pewartaan Sabda Tuhan, dan di dalam Ekaristi digenapilah Sabda Tuhan ini,

“… betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus… yang melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18)

Semoga Tuhan membantu kita untuk semakin dapat menghayati kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita yang dinyatakan melalui Ekaristi, saat Kristus Sang Sabda itu berkenan masuk ke dalam jiwa dan tubuh kita, agar kita diubah, sedikit demi sedikit, untuk menjadi semakin menyerupai Dia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Ya Tuhanku dan Allahku!

6

I. Dia sudah bangkit

Setelah kita merayakan Triduum – Kamis Putih, Jumat Suci dan malam Paskah – maka bersinarlah lilin-lilin di dalam Gereja dan bunyi lonceng berdentang dengan indahnya. Dan setelah 40 hari tidak mendengar senandung Haleluya, maka senandung “Alleluia” begitu penuh makna, seolah-olah seluruh isi bumi dan Sorga bersorak-sorak menyatakan “Terpujilah Tuhan“.

Minggu kedua Paskah ini menyatakan kembali pujian kepada Tuhan, karena Kristus telah bangkit. Pengalaman akan Kristus yang bangkit memberikan kekuatan dan menghapus segala kekuatiran. Itulah yang dialami oleh para rasul. Namun, rasul Tomas yang tidak bertemu dengan Yesus yang bangkit menyatakan keraguannya. Untuk menghapus keraguan Tomas, Kristus berkenan menampakkan Diri kepada para rasul, termasuk kepada Tomas. Percakapan antara Yesus dan Tomas memberikan kekuatan kepada kita semua, yang juga sering meragukan Allah, sering memberikan syarat-syarat kepada Allah, dan sering mengukur iman dari perasaan dan apa yang terlihat masuk akal menurut pendapat kita. Hanya dengan iman yang teguh akan Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga, maka kita dapat turut serta mewartakan Kristus dan menyerukan kembali, “Dia sudah bangkit!

II. Bacaan Minggu kedua Paskah

Bacaan minggu ke dua Paskah ini mengambil bacaan dari Kis 2:42-47; Mzm 118:2-4, 13-15, 22-24; 1Pet 1:3-9; Yoh 20:19-31. Bacaan-bacaan ini membawa kegembiraan pesan bahwa Yesus telah bangkit dan pesan bahwa kita juga harus mempercayainya. Secara khusus, kita akan menyoroti salah satu rasul, yaitu Rasul Tomas, yang hanya mau percaya jika dia melihat dan mencucukkan jarinya ke luka- luka Yesus. Berikut ini adalah bacaan dari Yoh 20:19-31:

19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

III. Telaah ayat Yohanes 20:19-31

1. Ayat 19-20: Latar belakang perikop. Kalau kita melihat konteks dari perikop Yoh 20:19-31, maka kita dapat melihat bahwa setelah kematian Yesus, para murid berada dalam kondisi kesedihan dan ketakutan, walaupun telah mendengar bahwa Yesus telah bangkit, seperti yang dikatakan kepada Maria Magdalena (Mat 28:9; Mrk 16:1,9; Yoh 20:14-16), Maria Ibu Yakobus dan Salome (Mat 28:9; Mrk 16:1) dan dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35; Mrk 16:12). Pada malam hari, ketika para rasul berkumpul dalam ketakutan, Yesus menampakkan diri kepada mereka.

2. Ayat 21- 23: Yesus memberikan kuasa kepada para murid. Setelah memberikan salam, Yesus mengutus para rasul, memberikan Roh Kudus, dan memberi kuasa untuk mengampuni atau menyatakan bahwa dosa seseorang tetap ada.

3. Ayat 24-25: Keraguan Tomas. Namun, Tomas yang tidak berada bersama-sama dengan para murid yang lain, meragukan cerita para murid yang lain. Bahkan dia mengeraskan hatinya dan meminta tanda untuk melihat dan mencucukkan jarinya ke luka Yesus untuk dapat mempercayai cerita tersebut.

4. Ayat 26-29: Yesus datang untuk menghapus keraguan Tomas. Setelah delapan hari dalam keraguannya, Tomas akhirnya dapat melihat Yesus yang menyediakan Diri-Nya agar Tomas dapat mencucukkan tangan pada luka di lambungNya. Yesus melakukan hal ini agar Tomas percaya.

5. Ayat 30-31: Maksud dari penulisan kitab. Kemudian rasul Yohanes menutup perikop ini dengan memberikan keterangan bahwa maksud dari penulisan kitab adalah agar kita semua percaya bahwa Yesuslah Sang Mesias, Anak Allah. Dan dengan iman akan Yesus, maka manusia dapat sampai pada keselamatan.

IV. Tafsir Yohanes 20:19-31

1. Ayat 19:20: Yesus menampakkan diri kepada para murid.

a. Kristus yang wafat membuat para murid tercerai berai.

Lima abad sebelum Kristus datang, nabi Zakharia menubuatkan “Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba akan tercerai berai” (Zak 13:7). Dan pada malam perjamuan terakhir, sebelum menghadapi sengsara-Nya, Kristus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa semua akan tergoncang imannya, karena Kristus, Gembala yang baik (Yoh 10:9,11) akan menderita sengsara dan wafat di kayu salib (lih. Mat 26:31; Mrk 14:27). Memang pada waktu Kristus ditangkap di taman Getsemani para murid lari tunggang langgang. Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mencoba untuk mengikuti Kristus, namun akhirnya juga berakhir dengan penyangkalan Rasul Petrus akan Kristus (lih. Mat 26:69-75). Ketika Yesus disalibkan, kecuali Rasul Yohanes, rasul-rasul yang lain menghilang dan tidak berani memunculkan diri mereka. Dan ketika Yesus telah bangkit dan menampakkan Diri-Nya kepada para rasul, maka salah satu dari murid-Nya, yaitu Rasul Tomas masih tidak percaya bahwa Dia telah bangkit (lih. Yoh 20:24-25).

b. Tanpa kebangkitan Kristus, maka iman kita akan sia-sia.

Kristus yang menderita, wafat dan bangkit serta naik ke Sorga adalah merupakan dasar iman Katolik. Tanpa penderitaan dan kematian Kristus, tidak ada kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga. Tanpa Jumat Agung tidak ada Minggu Paskah. Menekankan yang satu dan menghilangkan yang lain tidak memberikan pesan Kristus secara keseluruhan. Tanpa kebangkitan Kristus, maka iman kita akan sia-sia (lih. 1Kor 15:14). Inilah sebabnya, Kristus yang bangkit menjadi bagian dari syahadat para rasul. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 638-658) memberikan penjelasan tentang kebangkitan Kristus dengan begitu indahnya. KGK 638 menyatakannya sebagai berikut:

Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita. keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus” (Kis 13:32-33). Kebangkitan Kristus adalah kebenaran, di mana iman kita kepada Kristus mencapai puncaknya: umat Kristen perdana mempercayainya dan menghayatinya sebagai kebenaran sentral; tradisi meneruskannya sebagai sesuatu yang mendasar, dokumen-dokumen Perjanjian Baru membuktikannya; bersama dengan salib ia diwartakan sebagai bagian penting misteri Paska.
Kristus telah bangkit dari antara orang-orang mati.

Oleh kematian-Nya Ia telah mengalahkan kematian.
Ia telah memberi kehidupan kepada orang-orang mati.
(Liturgi Bisantin, Troparion pada hari Paska)

Bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan bahwa Kristus yang memang benar-benar mati kemudian bangkit dari antara orang mati? KGK, 639 menyatakkan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus terekam dalam sejarah. Kalau kita telusuri, maka kita akan melihat lebih dari 515 telah melihat Kristus yang hidup lagi setelah Dia disalibkan dan sebelum Dia naik ke Sorga:  (a) Maria Magdalena (Mat 28:9; Mrk 16:1,9; Yoh 20:14-16); (b) Maria Ibu Yakobus dan Salome (Mat 28:9; Mrk 16:1); (c) Dua orang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35; Mrk 16:12) ; (d) Sebelas rasul (Mat 28:17; Luk 24:36-49; Mrk 16:14; Yoh 20:26-29, terdiri dari: Simon Petrus (Luk 24:34; 1Kor 15:5), Sepuluh murid kecuali Tomas (Yoh 20:19-23) , Tomas (Yoh 20:27-28), Yakobus (1Kor 15:7); (e) Lebih dari lima ratus saudara (1Kor 15:6)

Mengapa saksi-saksi di atas menjadi penting? Karena banyak dari saksi-saksi itu masih hidup ketika Injil dan surat Rasul Paulus dituliskan. Kalau kebangkitan hanyalah isapan jempol belaka, maka tentu akan banyak keterangan yang menyanggah kesaksian para rasul. Apalagi, pada waktu itu, kekristenan berada dalam tekanan dan banyak yang dibunuh. Alasan yang lain adalah bagaimana melalui para rasul, yang notabene adalah orang-orang yang sederhana, yang kurang berpendidikan, namun pengajaran mereka dapat menyebar ke seluruh dunia. Bagaimana mungkin seluruh dunia dapat dipengaruhi oleh cerita fiksi dari orang-orang yang sederhana? Dan bagaimana mungkin ada begitu banyak orang yang rela mengorbankan nyawanya dan rela dibunuh demi kebenaran Injil?

c. Argument of fittingness untuk kebangkitan Kristus

Sekarang mari kita melihat argument of fittingness, yang berguna bagi kita, umat yang telah percaya akan Kristus. St. Thomas dalam bukunya Summa Theology menjelaskan bahwa ada lima alasan untuk kebangkitan Kristus: ((lih. St. Thomas Aquinas, ST III, q. 53, a. 1))

Pertama adalah menandai keadilan ilahi. Dikatakan “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52) Karena Kristus sendiri telah merendahkan diri serendah-rendahnya, bukan saja dengan menjadi manusia, namun rela mati di kayu salib, maka Kristus ditinggikan setinggi-tingginya. Kerendahan penderitaan dan kematian ditinggikan dengan kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga.

Alasan kedua adalah sebagai pelajaran iman kepada manusia. Dikatakan ” Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.” (2Kor 13:4) Kita yang lemah akan turut dibangkitkan bersama dengan Kristus, kalau kita hidup di dalam Dia.

Dan asalan iman ini memberikan alasan ketiga, yaitu agar manusia menaruh pengharapan di dalam Kristus. Sama seperti kita yang mati bersama Kristus, maka kita juga akan dibangkitkan bersama dengan Kristus. St. Thomas mengutip Ayub yang menuliskan “25 Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. 27 yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” (Ayb 19:25,27)

Iman dan pengharapan di dalam Kristus memberikan alasan ke-empat, yaitu agar umat Allah berjalan di dalam Kristus. Dikatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:4)

Alasan ke-lima adalah untuk menyelesaikan karya keselamatan. Dikatakan “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” (Rom 4:25)

d. Para murid ketakutan

Mari sekarang kita kembali melihat perikop ini. Dikatakan bahwa para murid ketakutan. Mereka ketakutan, walaupun mereka telah mendengar kesaksian dari Maria Magdalena dan juga kesaksian dari dua orang murid yang melakukan perjalanan ke Emaus. Kabar tentang kebangkitan Kristus mungkin telah menyebar ke seluruh pelosok negeri, sehingga di Injil Matius menuliskan bahwa imam-imam kepala mengatakan, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.“(Mt 28:13) setelah mereka mendengar laporan bahwa Kristus telah bangkit. Dan dalam situasi ini, para murid dapat menjadi sasaran kemarahan imam-imam kepala. Menghindari hal ini, maka para murid bersembunyi dalam ketakutan.

e. Kedatangan Yesus mendatangkan sukacita

Dalam situasi ketakutan seperti ini, pada sore hari, hari pertama dalam Minggu, ketika mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka sambil memberikan salam “Damai sejahtera bagi kamu!” Keterangan tentang keberadaan mereka di ruangan dengan “pintu-pintu terkunci” menekankan bahwa Yesus datang ke dalam ruangan tanpa mengetuk maupun merusak pintu, namun tiba-tiba datang ke dalam ruangan, yaitu dengan tubuh yang telah dimuliakan. Dan untuk membuktikan bahwa itu adalah Diri-Nya yang telah disalibkan, maka Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya, yaitu menunjukkan bekas luka karena disalibkan dan ditembus tombak. Salam dan kenyataan yang ada di depan mata para murid yang ketakutan mempunyai kekuatan untuk mengubah ketakutan menjadi sukacita (ay.20).

2. Ayat 21- 23: Yesus memberikan kuasa kepada para murid

Setelah Yesus mengubah ketakutan para murid menjadi sukacita (ay.19-20), maka Yesus memberikan tugas kepada mereka. Tugas ini adalah tugas yang sungguh luar biasa besarnya, yang hanya dapat dilaksakan dengan kuasa Roh Kudus dan pemberian kuasa yang begitu besar kepada para murid. Di ayat 21-23, kita dapat melihat adanya tiga hal yang diperintahkan dan diberikan oleh Kristus kepada para murid:

a. Yesus mengutus para rasul.

Dikatakan di ayat 21 “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sungguh suatu pernyataan yang membuka mata kita, bahwa Yesus memberikan suatu penugasan kepada para murid, sama seperti Bapa mengutus Yesus. Ini berarti sama seperti Yesus memberikan pengajaran dengan otoritas dari Sorga (lih. Mat 7:29; Mrk 1:22), maka para murid juga diberikan otoritas untuk mengajar dalam nama-Nya. Sama seperti Kristus menjadi perantara antara Allah Bapa dan manusia, maka para murid berpartisipasi dalam tugas perantaraan ini. (lih. 2Kor 2:14; 2Kor 5:18) Sama seperti Kristus melayani para murid dengan membasuh kaki para murid (lih. Yoh 13:1-17), maka para murid juga harus melayani umat Allah. Namun, kita harus melihat bahwa tugas perutusan sebagai nabi, imam dan raja tidaklah untuk menyaingi Kristus, namun harus dipandang sebagai partisipasi dalam tiga misi keselamatan Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja.

b. Yesus menghembuskan dan memberikan Roh Kudus.

Yesus tahu bahwa tidaklah mungkin manusia dapat mengemban tugas sebagai nabi, imam dan raja tanpa adanya Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang merupakan buah dari pengorbanan Kristus di kayu salib, yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta. Roh Kudus yang sama inilah yang membimbing para rasul untuk mewartakan Kristus ke seluruh penjuru dunia. Yesus memberikan Roh Kudus kepada para rasul secara khusus, yaitu dengan menghembusi mereka dan mengatakan, terimalah Roh Kudus (ay.22).

Kata “menghembuskan” memberikan kedalaman arti yang lain, seperti: (a) Roh Kudus, berasal dari Allah Bapa dan Allah Putera.; (b) Roh kudus adalah satu hakekat dengan Allah Bapa dan Allah Putera.; (c) Penciptaan manusia. Hal ini mengingatkan kita akan penciptaan manusia pertama: “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7) Sama seperti hembusan dari Tuhan memberikan kehidupan kepada manusia, maka hembusan dari Kristus, memberikan kehidupan spiritual, yaitu kehidupan baru di dalam Kristus, yaitu kehidupan di dalam Roh Kudus.; (d) Memulihkan rahmat. Karena dosa Adam dan seluruh manusia kehilangan rahmat Allah. Dan karena Adam diberikan kehidupan dengan hembusan nafas Allah, maka dosa dipulihkan dengan hembusan nafas Allah kepada para rasul. Dan melalui para rasul dan penerusnya, maka nafas Ilahi yang memberikan kehidupan spiritual diberikan kepada umat Allah lewat Sakramen Pengampunan, yang memungkinkan umat Allah menerima pengampunan dan dikembalikan kepada kehidupan rahmat. ((St. Cyril and St. Basil, de Spir. Sancto, cap. xvi. dan St. Ambrose, Serm. xx. in Ps. cxviii, cxix.)) ; (f) Secara simbolik, mengusir dosa. Dosa diumpamakan sebagai awan gelap. Dan sama seperti awan gelap tersapu angin, maka dosa tersapu oleh hembusan Roh Kudus. Hal ini dimanifestasikan dalam Sakramen Pengampunan dosa dengan hembusan kata-kata “Aku mengampuni engkau.

Terimalah Roh Kudus. Mengapa Kristus memberikan Roh Kudus? Bukankah Roh Kudus juga telah dicurahkan kepada mereka pada saat pembaptisan dan juga pada malam perjamuan? Dan Roh Kudus ini juga akan mereka terima secara penuh pada saat peristiwa Pentakosta. “Terimalah Roh Kudus” di ayat ini memberikan satu sisi yang lain, yaitu untuk memberikan pengampunan dosa. Hal ini dipertegas di ayat berikutnya.

c. Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa.

Pada ayat 23, kita melihat bahwa setelah Yesus mengutus para murid dan memberikan Roh Kudus, maka Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa. Yesus mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Menurut saya, sungguh sulit untuk mengartikan ayat ini tanpa mengkaitkannya dengan Sakramen Pengakuan Dosa. Ini adalah beberapa interpretasi yang diberikan oleh beberapa denominasi Kristen:

Yang percaya akan diampuni dan yang tidak percaya dosanya tetap ada. Biasanya interpretasi ini yang sering diberikan oleh denominasi-denominasi Kristen non-Katolik. Secara prinsip mereka ingin memberikan penjelasan bahwa kalau seseorang percaya akan pewartaan Injil, maka mereka akan diselamatkan dan kalau orang tidak percaya, maka dosanya akan tetap ada. Cornelius A. Lapide dalam bukunya The Great Commentary of Cornelius A Lapide menjawab argumentasi ini sebagai berikut: Jika memang orang-orang yang percaya akan pemberitaan Injil yang dimaksud di sini, maka, sama saja dengan mereka mengampuni dosa diri sendiri dan bukan melalui para rasul. Padahal, ayat tersebut dengan jelas menyebutkan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan “kamu” di sini jelas ditujukan kepada para rasul. Alasan yang lain adalah pewartaan Injil dan pengampunan dosa adalah dua hal yang berbeda. Jika ini dianggap hal yang sama dan kalau Kristus mengatakan untuk mewartakan Injil ke segala bangsa (lih. Mat 28:19-20), maka bukankah berarti semua menerima pengampunan? Namun, di satu sisi dikatakan bahwa ada orang- orang yang dosanya dinyatakan tetap ada. Kalau perintah ini diartikan untuk mewartakan Injil, maka bukankah Kristus telah memberikan perintah pewartaan Injil di Luk 10:1 “Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.“? Mengapa Kristus memberikan lagi perintah untuk mewartakan Injil dengan pengertian dan yang ganjil di Yoh 20:23?

Kuasa pengampunan dosa hanya diberikan pada para rasul waktu itu. Interpretasi ke dua menyatakan bahwa kuasa pengampunan dosa hanya diberikan pada para rasul waktu itu dan tidak diberikan kepada penerus para rasul. Argumentasi ini juga mempunyai kelemahan, karena dalam konteks ayat 21-23, maka kita melihat adanya tiga hal yang terjadi secara bersamaan, yaitu: pengutusan, pemberian Roh Kudus, dan kuasa pengampunan dosa. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kuasa pengampunan dosa hanya berlaku pada waktu itu dan dua hal yang lain diteruskan sampai sekarang. Kalau mau menyatakan bahwa kuasa untuk mengampuni dosa tidak diteruskan, maka pengutusan dan pemberian Roh Kudus juga tidak berlaku lagi.

Kuasa mengampuni dosa dan menyatakan dosa diberikan kepada semua umat Allah. Kalau interpretasi ini yang dipegang, maka akan ada dilema, bagaimana umat Allah dapat menerapkan ayat ini. Apakah setiap dari kita mempunyai kuasa untuk mengampuni atau menyatakan dosa seseorang tetap ada? Apakah dengan demikian, kalau seseorang menyatakan bahwa dosa musuhnya tetap ada, maka musuhnya secara otomatis akan masuk ke dalam neraka?

Kalau kita mau jujur dan setia terhadap teks, maka kita akan melihat bahwa memang kuasa untuk mengampuni dan menyatakan dosa diberikan kepada para rasul, seperti yang dituliskan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan kalau tugas perutusan (ay.21) dan pemberian Roh Kudus (ay.22) diberikan kepada para rasul dan juga penerusnya, maka kuasa mengampuni dosa dan menyatakan dosa juga diberikan kepada penerus para rasul. Dalam Gereja Katolik, penerus para rasul adalah para uskup. Dan karena para uskup ini dibantu oleh para imam, maka kuasa ini juga diberikan kepada para imam. Manifestasi dari kuasa ini adalah Sakramen Pengampunan Dosa atau Sakramen Tobat, yang dapat memberikan pengampunan akan dosa berat dan dosa ringan.

3. Ayat 24-25: Keraguan Tomas.

Ketika Yesus datang kepada para murid, Tomas tidak berada bersama-sama dengan mereka (ay.24). Dan pada murid dengan penuh antusias dan kegembiraan mengatakan kepada Tomas “Kami telah melihat Tuhan!” (ay.25). Siapakah yang dapat menahan berita yang menggembirakan ini? Namun berita gembira ini ditanggapi dengan dingin oleh Rasul Tomas. Rasul Tomas tidak hanya tidak percaya, namun dia juga mengeraskan hati. Dia yang telah hidup bersama-sama dengan para rasul yang lain, tetap tidak mau mempercayai kesaksian teman-temannya. Menunjukkan kekerasan hatinya, dia memberikan kondisi yang dapat membuat dia percaya, yaitu jika dia melihat bekas paku pada tangan dan sampai dia mencucukkan jarinya ke bekas paku itu dan mencucukkan tangannya ke lambung Yesus. Sungguh pernyataan yang sebenarnya berkesan sangat berani dan mungkin berkesan kurang ajar. Kita dapat membayangkan bahwa setiap hari para murid dan mungkin Bunda Maria, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus telah berusaha meyakinkan Tomas, bahwa memang Kristus telah bangkit.

Mungkin kita juga sering melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Tomas, yaitu memberikan kondisi menurut parameter kita sendiri. Kita menuntut agar Tuhan memberikan suatu bukti dan hanya kalau Tuhan memberikan bukti ini, maka kita merasa puas. Namun, kalau kita pikir, ini bukanlah iman yang benar. Kepercayaan orang yang dewasa bukanlah tergantung dari penglihatan maupun dari perasaan. Mungkin karena kesedihannya, rasul Tomas mengeluarkan kata-kata yang tajam. Ia sedih, karena para rasul telah melihat Yesus dan hanya dia sendiri yang belum melihat Yesus.

4. Ayat 26-29: Yesus datang untuk mengobati keraguan Tomas.

Kondisi seperti ini terjadi selama delapan hari. Dan pada hari ke delapan, ketika Tomas ada bersama-sama dengan para rasul yang lain, dan dalam kondisi pintu terkunci, tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di antara mereka, serta mengucapkan salam yang sama “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay.26) Secara spesifik, kemudian Yesus berkata kepada Tomas “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (ay.27)

Sungguh luar biasa, Yesus yang adalah Tuhan mau memberikan Diri-Nya memenuhi apa yang diminta oleh Tomas. Dia mau datang di tengah-tengah para rasul dan kemudian menyediakan Diri-Nya dan menunjukkan luka-Nya sehingga Tomas dapat mencucukkan jarinya ke luka Yesus di tangan dan juga di lambung-Nya. Yesus yang menginginkan agar tidak ada lagi murid-Nya yang hilang dan meminta agar Bapa menguduskan mereka dalam kebenaran (lih. Yoh 17:17) datang kepada Tomas untuk mengambil segala keraguan dalam diri Tomas dan pada saat yang bersamaan juga memperkuat iman para rasul yang lain. Kejadian ini juga dapat menguatkan seluruh umat Allah, yang seperti Tomas, sering dilanda kebimbangan, agar mereka dapat terus menaruh pengharapan di dalam Kristus.

a. Pengalaman akan Kristus yang bangkit

Pengalaman akan Kristus yang bangkit adalah pengalaman yang sungguh memberikan kekuatan iman. Inilah yang dialami oleh para rasul, termasuk rasul Tomas. Dia yang tadinya meragukan Kristus yang bangkit; namun setelah Kristus sendiri menampakkan Diri-Nya, maka dia menjadi rasul dengan iman yang teguh. Keteguhan imannya membawanya ke India dan mati sebagai martir di India seperti yang diceritakan tradisi.

Pengalaman akan Kristus yang bangkit sebenarnya juga dialami oleh seluruh umat beriman, walaupun mungkin tidak sedramatis seperti yang dialami oleh rasul Tomas. Ini adalah pengalaman sama seperti yang dialami oleh dua orang murid yang berjalan ke Emaus dan bertemu dengan Yesus, yang pada akhirnya mereka mengenali Yesus ketika Yesus memecah roti (lih. Luk 24:35). Ini adalah pengalaman yang sama setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi. Di perjalanan ke Emaus, Yesus menerangkan kisah Perjanjian Lama yang digenapi oleh Kristus sendiri, ini adalah sama seperti Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi. Sedangkan liturgi Ekaristi adalah sama seperti ketika Yesus memecah roti, di mana pada waktu itu, para murid mengenali Yesus. Jadi, setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi, kita dihadapkan pada Kristus yang bangkit. Bukan hanya dihadapkan pada kenyataan akan Kristus yang bangkit, namun Kristus yang bangkit ini juga bersatu dengan kita semua, karena kita menyambut-Nya di dalam Ekaristi.

Ketika menghadapi Kristus yang bangkit, maka Tomas hanya mengatakan “ya Tuhanku dan Allahku!” (ay.28) Ini adalah pengakuan akan Kristus yang menderita, wafat di kayu salib – yang terlihat dari luka-lukanya. Namun, ini juga merupakan pernyataan akan Kristus yang bangkit, yang membuktikan bahwa Kristus adalah Tuhan. Kalau Yesus bukan Tuhan, mungkin pada saat itu, Yesus akan menolak perkataan rasul Tomas dan mengatakan bahwa Aku bukanlah Tuhan. Namun, Kristus yang memang adalah Tuhan, menerima penghormatan dan pernyataan iman tersebut. Pernyataan akan Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit inilah yang harus kita ucapan pada setiap perayaan Ekaristi. Ketika imam berkata “Inilah tubuh-Ku…” dan “Inilah darah-Ku…“, maka kita dapat mengucapkan, “Ya Tuhanku dan Allahku“.

Ungkapan Tuhanku dan Allahku adalah ungkapan kodrat Yesus yang sungguh manusia, namun juga ungkapan yang bersifat pribadi, yang mengakui ke-Allahan Yesus. Ungkapan dan pengalaman pribadi inilah yang harus dialami oleh setiap umat Allah. Ungkapan iman ini bukan karena kita melihat Allah seperti rasul Tomas melihat Allah, namun karena memang merupakan ekspresi iman, yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Kalau kita melakukan hal ini, maka kita dapat disebut yang berbahagia, seperti yang Kristus nyatakan “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (ay.29).

b. Tentang iman

Mari sekarang kita melihat pengertian tentang iman, baik pengertian iman dari Kitab Suci maupun dari pengajaran Gereja.

1. Pengertian iman menurut Alkitab

Dikatakan di dalam surat Ibrani: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1). Rasul Paulus menegaskannya lagi di suratnya kepada jemaat di Efesus: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah… “(Ef 2:8)  Dengan demikian kita mengetahui bahwa iman berkaitan dengan pengharapan akan keselamatan kekal yang diberikan karena kasih karunia Allah. Rasul Yakobus mengajarkan, bahwa agar iman itu menyelamatkan, maka iman itu harus disertai perbuatan-perbuatan kasih, sebab tanpa perbuatan, iman itu kosong dan mati. Dia menuliskan: “…iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:22,24,26)

Dengan demikian sangat eratlah kaitan antara iman dan kasih, sebab keduanya adalah karunia Roh Kudus. Iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan ilahi yang menghantar kita kepada keselamatan kekal oleh Kristus, dan yang terbesar di antara ketiganya itu adalah kasih. Dikatakan “Oleh Dia (Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rom 5:2) Kasih karunia ini dicurahkan secara berlimpah, seperti yang ditegaskan rasul Paulus di suratnya kepada Timotius: “Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” (1 Tim1:14) Keutamaan kasih ini dituliskan oleh rasul Paulus: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Kor 13:2) dan “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:13)

2. Pengertian iman menurut Magisterium Gereja Katolik

Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang lain. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya. Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan“, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” (Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5)

Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akal budi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar telah menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia. Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,

KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5). Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa iman bukanlah tergantung dari penampakan, perasaan, atau yang menurut kita masuk akal. Kita harus mempunyai iman yang bersifat adi kodrati, yang melampaui kodrat kita, karena iman kita adalah kepada Allah yang adalah adi kodrati. Dengan demikian, iman kita akan mempunyai dasar yang kuat, yaitu bahwa yang menyatakan wahyu tersebut adalah Allah sendiri dan diteruskan secara murni oleh Gereja Katolik – yang didirikan oleh Kristus sendiri.

5. Ayat 30-31: Maksud dari penulisan kitab.

Dalam konteks kebenaran iman, maka Gereja Katolik mempercayai sumber yang tertulis (Kitab Suci) dan juga sumber yang tidak tertulis atau lisan. Hal ini ditegaskan sendiri oleh rasul Yohanes, ketika dia mengatakan “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,” (ay.30). Ini berarti, ada banyak hal yang tidak tercatat di dalam Kitab Suci. Kita juga membaca akan apa yang dijelaskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika bahwa mereka harus berdiri teguh dan berpegang pada ajaran-ajaran yang telah mereka terima, baik lisan maupun tertulis (lih. 2Tes 2:15). Bagaimana agar ajaran yang lisan dan tertulis ini dapat disampaikan secara murni dari generasi ke generasi? Rasul Paulus mengatakan bahwa Gereja (ecclesia) yang hidup adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1Tim 3:15).

Namun, apa yang tercatat dalam Kitab Suci adalah baik untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim 3:16). Dan rasul Yohanes menegaskan kembali bahwa segala yang telah dicatat bertujuan agar kita semua percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. Dan iman akan Yesus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga akan membawa kita pada kehidupan kekal (ay.31).

V. Kristus sudah bangkit!

Marilah, pada minggu ke-dua Paskah (Second Sunday of Easter) atau juga disebut Octave Easter, dan juga disebut St. Thomas Sunday, iman kita semakin diperkuat, karena kebangkitan Kristus menjadi dasar bahwa iman kita akan Kristus tidaklah sia-sia. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, Tuhan yang telah menderita, wafat, dan bangkit serta akhirnya naik ke Sorga. Penderitaan dan wafat-Nya membuktikan belas kasih Allah yang tak terbatas. Bukanlah satu kebetulan, jika pada minggu ke-dua Paskah ini, juga menjadi Pesta Kerahiman Ilahi (The Feast of the Divine Mercy). Kita menyambut gembira bahwa Allah adalah Allah yang berbelas kasih, yang mengasihi umat-Nya, memberikan kekuatan kepada umat-Nya, menjaga umat-Nya dan menuntun umat-Nya kepada keselamatan kekal. Bukti paling jelas adalah kalau kita melihat pada kehidupan para kudus. Dan minggu ke-dua Paskah tahun 2011 menjadi saat yang bersejarah, karena Paus Yohanes Paulus II akan dibeatifikasi. Diperlukan satu mukjizat lagi, agar ia dapat dinyatakan sebagai Santo.

“Yang terberkati Paus Yohanes Paulus II, doakanlah kami”.

Catatan: Artikel ini dipakai untuk pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk, tanggal 1 Mei 2011.

Arti mata dalam segitiga, crucifix dg tengkorak, tengkorak dan mahkota

3

Pertanyaan:

Yth. Tim Katolisitas

Saya menemukan sebuah web, disitu saya temukan gambar Mata Horus dan Triangle.

1. Lambang Mata Horus dan Triangle di Altar Gereja, dan bagian depan gereja. sepertinya Orthodox

http://i55.tinypic.com/ilf5no.jpg
http://i56.tinypic.com/25qtc34.jpg
http://i55.tinypic.com/kefaz4.jpg

2. Seorang Imam dengan Salib yang ada lambang tengkorak tepat dibawah kaki Yesus
http://i51.tinypic.com/2cfv1bd.jpg

3. seorang imam dengan tengkorak yang diberi mahkota
http://i51.tinypic.com/2zszdbp.jpg

Pertanyaan saya :
1. Apakah memang ada lambang Mata Horus tersebut dalam gereja katolik Roma ? atau itu adalah memang Freemasonry ?
2. Lambang Salib dengan tengkorak, apakah salib yang benar ? apa arti salib tersebut ?
3. Liturgi apa yang dilakukan Iman dengan tengkorak bermahkota itu ?

Mohon kiranya, Katolisitas dapat menjawab rasa penasaran dan ketidaktahuan saya…terima kasih.

Salam Damai dalam Kristus,
Chandra

Jawaban:

Shalom Chandra,

1. Arti mata dalam segitiga

Dalam ikonografi masa Medieval (abad 5-15) dan Renaissance (abad 14-17), gambar mata dalam segitiga yang terdapat dalam gedung gereja adalah simbol yang melambangkan Allah Trinitas, Sang Penyelenggara yang Maha Tahu (the Eye of Providence). Kadangkala lambang segitiga ini disertai juga dengan lambang sinar.

Namun dewasa ini, ada orang- orang yang mempertanyakan lambang tersebut, dan menghubungkannya dengan ‘eye of horus‘ yang berasal dari kebudayaan Mesir kuno, sebagai lambang perlindungan, kekuasaan dan kesehatan. Padahal kalau kita membandingkan lambang ‘the eye of Providence‘ dengan ‘an eye horus‘ maka kita dapat melihat perbedaannya, walaupun sama- sama menggunakan simbol mata. Maka dalam hal simbol, memang penjelasan akan makna masing- masing menjadi kuncinya. Ini hampir menyerupai dipakainya simbol ular pada tiang, yang dapat melambangkan hal yang positif: yaitu ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun, yang mendatangkan kesembuhan, yang menjadi pralambang korban Kristus yang ditinggikan di kayu salib yang menyembuhkan manusia dari dosa (lih. Yoh 3:14). Bahkan lambang ular di tiang ini juga digunakan untuk lambang IDI/ Ikatan Dokter Indonesia. Dengan penjelasan yang memadai, kita akan dapat menerima makna positif dari gambar ular di tiang ini, dan tidak serta merta menuduh IDI sebagai ikatan dokter yang ‘sesat’ karena mengambil simbol ular yang sering dihubungkan dengan iblis yang menggoda Adam dan Hawa. Dengan analogi yang sama, maka kita dapat mengetahui bahwa walaupun sama- sama mengambil simbol mata, makna ‘the eye of Providence‘ tidak ada kaitannya dengan ‘eye of horus‘ apalagi dengan segala dewa dewi Mesir. Gambar ‘eye of horus‘ juga berbeda dengan gambar ‘Eye of Providence‘ yang menyertakan simbol lain yaitu segitiga, yang menjadi simbol dari Allah Trinitas. Jika sampai lambang ini ada pada gedung- gedung gereja Orthodox dan Katolik, itu maknanya adalah ‘eye of Providence‘ dalam Allah Trinitas, dan tidak ada kaitannya dengan lambang Mesir kuno.

Bahwa kemudian lambang mata juga diambil oleh kelompok Freemasonry (abad 17), sebagai salah satu simbol pengajaran mereka, itu adalah cerita yang lain lagi. Lambang Freemason yang umum adalah penggaris siku dan jangka. Selanjutnya tentang Freemasonry, sudah pernah diulas di sini, silakan klik. Namun demikian, lambang mata yang bersinar juga dikenal di kalangan Freemason, walaupun tanpa bentuk segitiga. Mereka dapat saja mempunyai penjelasan sendiri, namun yang pasti tidak sama artinya dengan lambang ‘the eye of Providence‘ yang diyakini oleh umat Kristiani, baik gereja- gereja Orthodox (abad 11) maupun Katolik.

2. Makna salib crucifix dengan tengkorak

Makna salib crucifix dengan tengkorak di kaki salib mengacu kepada makna “Golgota” yang adalah Tempat Tengkorak (Mat 27:33, Mrk 15:22, Yoh 19:17). Tradisi Abad Pertengahan mempercayai bahwa tempat Yesus disalibkan merupakan kubur Adam dan Hawa, dan bahwa salib Kristus didirikan tepat di atas tengkorak Adam, sehingga makna inilah yang ditandai dengan lambang tengkorak di bawah kaki corpus/ tubuh Yesus.

3. Makna tengkorak dengan mahkota

Foto yang anda tanyakan adalah foto ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Republik Cekoslovakia dan menghormati Santo pelindung negara itu, yaitu St. Wenceslas, yang dibunuh sebagai martir lebih dari 1000 tahun yang lalu. St. Wenceslas adalah pemimpin negara Bohemia dari tahun 921 sampai wafat-Nya di tahun 935, karena akal bulus adiknya sendiri Boleslav I. Tubuh St. Wenceslas dipotong- potong, dan dikubur di tempat di mana ia dibunuh. Namun tiga tahun kemudian, Boleslav bertobat, dan memindahkan jenazah kakaknya ke gereja St. Vitus di Praha. Kisahnya dapat dibaca di link ini, silakan klik.

Maka upacara liturgi yang diadakan saat kunjungan Paus adalah penghormatan terhadap relikwi St. Wenceslas, yaitu tengkoraknya. Saya tidak mengetahui secara persis liturginya, tetapi tidaklah mengherankan jika penghormatan tersebut dilakukan dalam rangkaian perayaan Ekaristi, di mana sesudahnya diadakan penghormatan kepada St. Wenceslas yang telah menjadi teladan hidup yang ekaristis, dengan kerelaannya berbagi, sampai menyerahkan nyawanya demi imannya kepada Kristus.

Sudah menjadi Tradisi Suci, bahwa Gereja menghormati para kudus dan martir, dan memperlakukan relikwi mereka dengan hormat pula, sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan yang menciptakan mereka. Tentang makna relikwi sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Adapun penghormatan kepada jenazah ataupun kepada relikwi para orang kudus itu dasarnya adalah penghormatan kepada manusia (yang tidak hanya terdiri dari jiwa, tetapi juga tubuh) yang diciptakan oleh Tuhan sangat baik adanya (lih. Kej 1:31). Demikianlah Gereja Katolik memberikan penghormatan terhadap manusia sebagai karya ciptaan Tuhan yang tertinggi jika dibandingkan dengan tumbuhan dan hewan, karena menghormati Allah Sang Pencipta, yang menciptakannya. Apalagi mereka (para martir itu) kemudian membuktikan kesempurnaan kasih mereka kepada Tuhan dengan menyerahkan nyawa mereka demi iman mereka. Penghormatan kepada para martir ini tidak pernah melebihi penghormatan kepada Tuhan, dan penghormatan ini hanya mengarahkan umat beriman kepada Tuhan Sang Pencipta dan Sang Penyelamat, yang kepada-Nya para martir itu rela mengorbankan hidup mereka, demi mengikuti teladan Kristus yang mengorbankan hidup-Nya demi menyelamatkan kita. Para martir dan para orang kudus, merupakan teladan iman bagi kita, sebab mereka telah membuktikan kesetiaan mereka kepada Tuhan sampai mati (Why 2:10) dan ketahanan mereka terhadap ujian dalam hidup (lih. Yak 1:12), dan oleh karena itulah mereka memperoleh mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah:

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Why 2:10)

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yak 1:12)

Demikian penjelasan saya tentang pertanyaan anda, semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab