Home Blog Page 214

Akulah kebangkitan dan hidup

8

I. Iman kita kepada Kristus yang bangkit dapat membangkitkan.

Kitab Kejadian menggambarkan hukuman akibat ketidaktaatan Adam dan Hawa, yaitu ketika Tuhan berkata “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej 3:19) Dari sini kita melihat bahwa kematian merupakan konsekuensi dari dosa. Gereja Katolik menegaskan hal yang sama, bahwa kematian adalah akibat dari dosa (KGK, 1008; GS, 18). Drama kematian inilah yang terjadi pada peristiwa kematian Lazarus. Namun, di dalam Kristus tidak ada kematian, melainkan orang yang percaya akan dibangkitkan. Dan pada drama kebangkitan Lazarus inilah, Yesus secara tidak langsung membuktikan bahwa Diri-Nya adalah Tuhan, yang berkuasa atas hidup dan mati, karena  Ia adalah Kebangkitan dan Hidup (lih. Yoh 11:25). Paus Benediktus pada surat gembala Prapaskah kepausan 2011 menuliskan:

Pada Hari Minggu Kelima, ketika diwartakan pembangkitan Lazarus, kita diperhadapkan kepada misteri terakhir dari keberadaan kita: “Akulah kebangkitan dan kehidupan … Percayakan engkau akan hal itu?” (Yoh. 11:25-26). Bagi Komunitas Umat Beriman Kristiani inilah saatnya untuk dengan tulus-ikhlas,─bersama dengan Martha,─  menaruhkan segenap harapannya kepada Yesus dari Nazaret itu: “Ya, Tuhan, saya percaya, bahwa engkaulah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dalam dunia ini” (Yoh. 11:27). Persekutuan dengan Kristus di dalam hidup ini, mempersiapkan kita untuk dapat mengatasi batas-batas kematian, sehingga kita masuk ke dalam hidup abadi bersama dengan Dia. Iman kepercayaan kepada kebangkitan orang mati dan harapan akan kehidupan kekal itu membuka mata kita kepada arti makna yang terdalam dari keberadaan kita: Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kebangkitan dan kehidupan, dan kebenaran ini memberikan arti yang otentik dan pasti kepada sejarah manusia, kepada kehidupan pribadi dan sosial laki-laki dan perempuan, kepada budaya, politik dan ekonomi. Tanpa terang iman itu, segenap jagat-raya akan berakhir, tertutup dalam liang kubur dan tidak akan ada lagi masa depannya, tidak akan ada lagi harapannya.

Dalam terang iman Kristen inilah, maka kita memperoleh pengharapan akan kehidupan yang baru bersama Kristus. Cerita Lazarus yang dibangkitkan oleh Kristus, yang adalah kebangkitan dan hidup, yang kemudian bangkit dari antara orang mati, menjadikan iman kita tidaklah sia-sia (lih. 1Kor 15:14). Sama seperti Lazarus, kita juga sering mati karena dosa. Dan pembebasan dari kematian akibat dosa hanya mungkin kalau Kristus memberikan rahmat-Nya dan pada saat yang bersamaan, kita mau keluar dari kegelapan dosa menuju terang.

II. Bacaan minggu ke-lima masa Prapaskah

Pada bacaan minggu ke-lima masa Prapaskah, kalender Gereja Katolik memberikan bacaan dari Yeh 37:12-14; Maz 13-:1-8; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45 atau Yoh 11:3-7,17,20-27,33-45. Berikut ini adalah bacaan dari Yoh 11:1-45:

(1) Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.  (2)  Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
(3)  Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (4)  Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”  (5)  Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.

(6)  Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;  (7)  tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” (8)  Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?”  (9)  Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.  (10)  Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.”

(11)  Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.”  (12)  Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.”  (13)  Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.  (14)  Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;  (15)  tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.”  (16)  Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

(17)  Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.  (18)  Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.  (19)  Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
(20)  Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.  (21)  Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.  (22)  Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”  (23)  Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”  (24)  Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”  (25)  Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,  (26)  dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”  (27)  Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

(28)  Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.”  (29)  Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.  (30)  Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.  (31)  Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.  (32)  Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”  (33)  Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:  (34)  “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”  (35)  Maka menangislah Yesus.

(36)  Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!”  (37)  Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”  (38)  Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

(39)  Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”  (40)  Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”  (41)  Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.  (42)  Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”  (43)  Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”  (44)  Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (45) Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

III. Telaah ayat Yoh 11:1-45

a. (Ayat 1- 5) Latar belakang perikop: Menceritakan tentang Lazarus, orang yang dikasihi Yesus sedang sakit. Lazarus ini adalah saudara dari Marta, adik dari Maria – yang pernah meminyaki kaki Yesus dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. Maria dan Marta kemudian mengirimkan berita kepada Yesus, bahwa Lazarus sakit. Setelah Yesus mendengar bahwa orang yang dikasihi-Nya – Lazarus – sakit, maka Yesus sengaja tinggal dua hari lagi di tempat di mana Dia berada. Dia menegaskan bahwa penyakit yang diderita Lazarus tidak akan mendatangkan kematian, namun akan mendatangkan kemuliaan.

b. (ayat 6-10) Yesus mengajak para murid untuk mengunjungi Lazarus di Betania: Setelah Yesus memutuskan untuk tinggal dua hari lamanya, maka Yesus kemudian mengajak para rasul untuk mengunjungi Lazarus di Betania. Yesus yang tadinya menyingkir dari Yudea ke daerah sungai Yordan, kemudian mengajak para rasul ke Betania, sekitar 2 mil (sekitar 3 km) dari Yerusalem. Pernah mengalami akan dilempari batu, maka murid mencoba memperingatkan Yesus untuk tidak kembali ke daerah Yudea.

c. (ayat 11-16) Percakapan Yesus dengan murid-Nya: Pada bagian ini, Yesus menjelaskan bahwa Lazarus telah tertidur atau mati. Dan sekali lagi, Yesus menyatakan bahwa kematian Lazarus dapat berguna, sehingga para murid dan banyak orang akan semakin percaya.

d. (ayat 17-27) Percakapan Yesus dengan Marta: Ketika Yesus dan para rasul tiba di Betania, maka Lazarus telah empat hari berada di dalam kubur. Mendengar bahwa Yesus telah tiba, maka Marta bergegas menemui Yesus. Maria mengatakan bahwa kalau Yesus datang sebelumnya, maka Lazarus pasti tidak akan mati. Namun, Marta tetap menyatakan kepercayaannya kepada Yesus, Anak Allah (lih. ay.27). Dalam percakapan inilah Yesus menyatakan, bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup (ay.25), dan menyatakan bahwa Lazarus akan bangkit. Namun, Marta tidak menangkap dengan jelas, apakah Yesus akan membangkitkan Lazarus sekarang atau pada saat kebangkitan badan.

e. (ayat 28-35) Percakapan Yesus dengan Maria: Marta kemudian memberitahu Maria bahwa Yesus datang. Dengan bergegas Maria bertemu dengan Yesus, tersungkur di bawah kaki-Nya dan mengatakan hal yang sama bahwa kalau seandainya Yesus ada di situ, maka Lazarus tidak akan mati. Terdorong oleh perasaan kasih, maka Yesus turut menangis.

f. (ayat 36-38) Orang banyak berkomentar: Orang banyak yang menyaksikan Yesus menangis, mengatakan bahwa Yesus sungguh mencintai Maria dan saudara-saudaranya. Namun, orang banyak ini kemudian mempertanyakan mengapa Yesus yang telah melakukan begitu banyak mukjizat tidak dapat membangkitkan Lazarus dari mati.

g. (ayat 39-45) Yesus membangkitkan Lazarus: Kemudian Yesus pergi ke kubur, dan setelah berdoa, Yesus berbicara langsung dengan Lazarus untuk keluar dari kubur. Melihat mukjizat ini, maka banyak orang yang percaya kepada Yesus.

IV. Tafsir ayat Yohanes 11:1-41

a. (ayat 1-5) Sahabat-sahabat Yesus mengalami penderitaan

Perikop ini terjadi setelah orang-orang Yahudi ingin menangkap dan melempari Yesus dengan batu, karena mengatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Kemudian Yesus dan murid-murid-Nya menyingkir ke seberang Yordan, tempat Yohanes Pemandi membaptis (lih. Yoh 1:28), mungkin di Bethabara (the house of confidence atau rumah yang penuh keyakinan). Ketika berada di tempat inilah, maka datang utusan dari Maria dan Marta memberitahu Yesus, bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, yang tinggal di Betania sedang sakit parah.

Betania, yang terletak sekitar 3 km dari Yerusalem, artinya adalah rumah penderitaan (the house of suffering) . Yesus juga beberapa kali tinggal di rumah Lazarus (lih. Yoh 12:1; Mt 21:17; Mk 11:1; Mk 11:11-12). Betania juga menjadi tempat tinggal Simon si kusta (lih. Mt 26:6; Mk 14:3).

Ada perdebatan di antara para ahli Alkitab, apakah Maria, saudara Lazarus adalah Maria Magdalena, atau Maria yang mengurapi kaki Yesus. Ada yang mengatakan sama, namun ada juga yang mengatakan bahwa ketiganya adalah tiga wanita yang berbeda. Tradisi Gereja Katolik mengatakan bahwa ketiga wanita ini mengacu kepada orang yang sama. ((Scott Hahn, Catholic Bible Dictionary (New York: Doubleday Religion, 2009), p.588-589))

Maria Magdalena: Magdala adalah salah satu kota di pinggiran danau Galilea, antara Tiberias dan Kapernaum. Yesus telah mengusir tujuh roh jahat dari Maria Magdalena (lih. Mk 16:9; Lk 8:2). Kita juga tahu bahwa dia adalah salah satu perempuan yang melayani rombongan Yesus (lih. Lk 8:2), yang juga salah seorang saksi mata dari penyaliban Kristus (lih. Mt 27:56; Mk 15:40; Yoh 19:25), penguburan Yesus (lih. Mt 27:61; Mk 15:47) dan juga saksi dari kubur yang kosong (lih. Mt 28:1-10; Mk 16:1-8; Lk 24:10), serta dia juga disebutkan secara spesifik dan sendiri dalam penampakan Yesus. (lih. Mk 16:9; Jn 20:1-18). Tradisi mengidentifikasikan Maria Magdalena dengan perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak (lih. Lk 7:36-50). Maria Magdalena ini adalah juga Maria, saudara Lazarus dan Marta dari Betania: yang dipuji oleh Yesus, yang memilih untuk bersimpuh diam di dekat kaki Yesus dan mendengarkan Yesus (lih. Lk 10:39-42). Dia menyaksikan kebangkitan Lazarus (lih. Yoh 11) dan juga adalah perempuan yang mengurapi kaki Yesus di Betania (lih. Yoh 12:3-8).

Dari latar belakang ini, kita dapat melihat bahwa Yesus memang mempunyai hubungan yang istimewa dengan Lazarus, Maria dan Marta. Itulah sebabnya, Maria dan Marta mengirimkan utusan bahwa orang yang Yesus kasihi – Lazarus – sedang sakit parah. Sungguh suatu pesan yang mempunyai konotasi suatu kepercayaan yang begitu besar. Pesan itu seolah-olah ingin mengatakan “Sudahlah cukup kalau Engkau mengetahui bahwa orang yang Engkau kasihi (Lazarus) sedang sakit. Dan kami percaya akan tindakan-Mu.” Dan dalam perikop ini juga ditegaskan bahwa Yesus memang mengasihi Maria, Marta dan Lazarus (ay.5)

Apakah kita juga mempunyai sikap yang percaya seperti Maria dan Marta, yang mempercayakan semua keputusan di tangan Yesus atau apakah kita mempunyai sikap yang memaksa bahwa Yesus harus melakukan apapun yang kita inginkan? Dalam hubungan yang berdasarkan kasih, maka sikap seperti Maria dan Marta inilah yang tepat, karena kasih senantiasa menginginkan yang baik bagi orang yang dikasihinya. Oleh sebab itu, kalau mereka percaya bahwa Yesus mengasihi mereka, maka juga percaya bahwa Yesus akan melakukan yang terbaik untuk Lazarus. Akankah kita yang mungkin sedang berada di Betania atau rumah penderitaan dapat menemukan Yesus yang berada di Bathabara, yang menjadi rumah yang penuh kepercayaan? Sahabat-sahabat Yesus telah membuktikan bahwa menaruh kepercayaan kepada Yesus pada saat menderita tidaklah sia-sia. Bagaimana dengan anda?

b. (ayat 6-10) Kasih menanggung segalanya.

Namun, apa yang dilakukan oleh Kristus yang mengasihi Lazarus yang sedang sakit? Bukannya cepat-cepat datang ke rumah Lazarus di Betania, namun, Dia justru seolah-olah menunda kedatangan, dengan tinggal di daerah itu selama dua hari lamanya (ay.6). Setelah dua hari, baru Yesus mengatakan bahwa Dia ingin kembali ke Yudea. Kalau Yesus mengasihi Lazarus, mengapa Dia seolah-olah menunda? Jawabannya adalah agar para murid percaya (ay.15), agar Marta mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (ay.27), supaya semua orang percaya kepada Yesus (45). Penundaan ini menjadi penting, karena Yesus ingin membuktikan bahwa Dia, yang adalah Allah benar-benar mampu membangkitkan Lazarus yang benar-benar telah mati. Kalau Yesus langsung datang, mungkin orang dapat memberikan argumentasi, bahwa Lazarus sebenarnya belum benar-benar mati. Namun, kalau telah empat hari (ay.39) Lazarus wafat dan telah mengeluarkan bau, maka tidak ada lagi orang yang dapat menyangkal bahwa Yesus membangkitkan orang yang telah mati. Dengan demikian, kemuliaan Allah dapat dinyatakan dengan sempurna (ay.40).

Selain ingin menyatakan kemuliaan Allah, Yesus yang mengasihi Lazarus tidak membiarkan orang yang dikasihi-Nya menderita. Oleh karena itu, Yesus mengatakan kepada para rasul “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” (ay.7) Namun, para murid mengingatkan Yesus, bahwa sebelumnya orang-orang Yahudi telah hendak menangkap (lih. Yoh 10:39) dan melempari Yesus dengan batu (lih. Yoh 10:30). Mungkin para murid juga ketakutan, bahwa mereka juga akan ditangkap dan juga dilempari batu.

Dan kemudian Yesus meyakinkan para murid, bahwa yang terpenting adalah berjalan bersama Yesus. Mungkin dalam ketakutannya, para murid lupa bahwa Yesus adalah terang dunia, dan barang siapa mengikuti Yesus tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang hidup. (lih. Jn 8:12) Selama seseorang berjalan dalam terang, atau lebih tepatnya bersama dengan Sang Terang, maka kakinya tidak akan terantuk (ay.9).

c. (ayat 11-16) Penderitaan mendatangkan kemuliaan

Setelah menyatakan niat-Nya untuk kembali ke Yudea, Yesus kemudian menjelaskan bahwa Dia bukan kembali ke Yerusalem, namun ingin pergi ke Betania. Yesus mengatakan bahwa Dia ingin membangunan Lazarus yang tertidur. Para murid tidak mengerti mengapa Yesus ingin membangunkan orang yang tertidur biasa (lih. ay12-13), sehingga Yesus mengatakannya dengan lebih jelas, bahwa Lazarus telah meninggal (ay.15). St. Agustinus menekankan bahwa memang benar bagi para murid – yang tidak bisa membangunkan orang mati – maka Lazarus adalah mati. Namun, bagi Yesus, yang sungguh Allah dan penguasa kehidupan, maka Lazarus hanyalah tertidur. Sebagian dari orang tertidur mempunyai mimpi buruk dan sebagian lagi mempunyai mimpi indah. Demikian juga pada saatnya kita meninggal, setiap orang tertidur dan dibangkitkan harus mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya.

Yesus mengatakan “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya” (ay.15). Hal ini sama saja dengan mengatakan kalau beberapa hari yang lalu aku hadir di rumah Lazarus, maka aku akan menyembuhkan orang yang sakit. Namun, karena waktu itu Aku tidak hadir dan Lazarus telah mati, maka Aku dapat membangkitkannya dari kematian. Dan peristiwa yang luar biasa ini menjadi salah satu bukti bahwa Yesus adalah sungguh Allah, yang berkuasa terhadap kematian. Kemudian, Tomas atau Didimus mengajak teman-temannya untuk bersedia mati bersama Yesus (ay.16). Kita juga dipanggil seperti Tomas, yang mau melakukan apa saja bersama Yesus. Dan kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus: “Barangsiapa hendak mengikut Aku, maka ia harus menyangkal dirinya, memanggul salibnya dan mengikut Aku” (Mt 16:24).

d. (ayat 17-27): Yesus adalah kebangkitan dan hidup

Ketika Yesus tiba di kota Betania, maka Lazarus telah meninggal selama empat hari (ay.17). Mungkin satu hari diperlukan untuk menemukan Yesus, dan Yesus tinggal dua hari di seberang sungai Yordan (Bathabara), serta satu hari lagi perjalanan dari Bathabara ke Betania. Namun, yang jelas, Lazarus benar-benar telah meninggal. Dikatakan bahwa banyak orang Yahudi yang datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka. Dan dalam tradisi Yahudi, maka upacara kematian akan ada pemain musik dan orang-orang yang ramai menangis dengan keras dan bahkan mereka sering menggunakan orang yang pekerjaannya adalah menangis. Di tengah-tengah situasi inilah, Marta mendengar kedatangan Yesus dan dengan bergegas, Marta kemudian menemui Yesus (ay.20).

Marta menyatakan bahwa seandainya Yesus ada di situ, Lazarus pasti tidak akan mati, dan bahkan sekarangpun Allah akan memberikan segala sesuatu yang Yesus minta (ay.21). Dan Yesus menjawab “Saudaramu akan bangkit” (ay.22). Namun, jawaban Yesus dirasakan tidak terlalu tegas atau dapat mempunyai beberapa arti, karena Yesus tidak menyatakan kapan Lazarus akan dibangkitkan – apakah sekarang atau nanti. Kita juga sering mengalami hal seperti ini pada saat kita menuntut Yesus untuk memberikan jawaban yang jelas bagi kita, seperti: kapan, sekarang, nanti, bagaimana, dll. Namun Yesus tidak memberikan jawaban yang lengkap dalam menyatakan rencana-Nya. Dia akan memberikan jawaban tahap demi tahap sesuai dengan kondisi kehidupan kita. Pada saat kita menjalankan perintah-Nya, maka Dia kemudian akan memberikan pernyataan yang lain, sehingga lama-kelamaan kita masuk dalam kepenuhan rencana-Nya. Di sinilah perlunya iman, sehingga kita dapat percaya akan segala sesuatu yang Dia nyatakan, terutama dalam perintah-perintah-Nya, yang telah dinyatakan di dalam Kitab Suci maupun oleh Gereja Katolik.

Marta yang percaya akan kebangkitan badan, kemudian menjawab “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”  (ay.24). Kemudian, Yesus mempertegas identitas-Nya, yaitu sebagai kebangkitan dan hidup. Yesus mengatakan “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Di ayat 25-26 ini, Yesus memberikan tiga pernyataan dan satu pertanyaan:

(a) Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Berarti Dialah yang berkuasa untuk membangkitkan dan menghidupkan. Yesus bukan mengatakan bahwa Dia dapat membangkitkan, namun kebangkitan dihubungkan dengan Diri-Nya, di mana tanpa Diri-Nya maka tidak terjadi kebangkitan bagi semua orang. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 994) menuliskan “Yesus menghubungkan iman akan kebangkitan itu dengan pribadi-Nya: “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25). Pada hari kiamat Yesus sendiri akan membangkitkan mereka, yang percaya kepada-Nya (Bdk. Yoh 5:24-25; 6:40.) yang telah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya (Bdk. Yoh 6:54.). Dalam kehidupan-Nya di dunia ini Yesus telah memberikan tanda dan jaminan untuk itu, waktu Ia membangkitkan beberapa orang mati (Bdk. Mrk 5:21-42; Luk 7:11-17; Yoh 11.) dan dengan demikian mengumumkan kebangkitan-Nya sendiri, tetapi yang termasuk dalam tatanan yang lain. Kejadian yang sangat khusus ini Ia bicarakan sebagai “tanda nabi Yunus” (Mat 12:39), tanda kanisah (Bdk. Yoh 2:19-22.): Ia mengumumkan bahwa Ia akan dibunuh, tetapi akan bangkit lagi pada hari ketiga (Bdk. Mrk 10:34.)

(b) Yang percaya akan hidup walaupun sudah mati. Pernyataan ini berkaitan erat dengan mukjizat yang akan dilakukan oleh Yesus, yaitu kepada Lazarus. Yesus menyatakan bahwa Lazarus yang telah percaya kepada-Nya akan dibangkitkan. Namun, pernyataan ini juga berhubungan dengan orang percaya yang telah mengalami kematian, karena semua orang percaya akan mendapatkan kehidupan abadi di dalam Kerajaan Sorga.

(c) Yang percaya dan hidup tidak akan mati untuk selamanya. Pernyataan ini berkaitan erat dengan Maria, Marta, para rasul dan orang-orang yang percaya kepada Kristus pada waktu itu. Mereka yang hidup dan percaya kepada Kristus tidak akan mati untuk selama-lamanya. Yesus bersabda, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia… Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman… Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

(d) Percayakah engkau? Setelah memberikan tiga pernyataan tersebut, maka Yesus bertanya kepada Marta dan juga kita semua, apakah kita percaya akan pernyataan Yesus? Dan sudah seharusnya kita mengikuti jawaban dari Marta “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” (ay.27). Dengan jawaban ini, maka iman Marta telah disempurnakan oleh Kristus. Dia yang tadinya mungkin hanya melihat Kristus sebagai orang yang mampu membuat mukjizat, sekarang dia percaya bahwa Kristus adalah Sang Mesias, Anak Allah, sumber dari segala kehidupan, karena Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6).

Tanya jawab antara Yesus dan Marta menggambarkan bahwa seseorang di dalam penderitaan sering mempertanyakan dengan akal budinya tentang penderitaannya. Dan penderitaannya hanya dapat diterimanya dengan penuh kepercayaan dan tidak putus pengharapan dengan mengaitkannya dengan Kristus. Hanya dengan berfokus pada Kristus yang terlebih dahulu menderita, maka kita akan mempunyai perspektif yang berbeda dalam menghadapi penderitaan. Penderitaan menjadi suatu cara untuk membuat seseorang dapat bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Rasul Paulus justru bermegah dalam kesengsaraannya, karena kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (lih. Rm 5:3-5)

e. (ayat 28-35) Tersungkur di depan kaki Yesus

Setelah Marta bertemu dengan Yesus dan dikuatkan imannya, maka dia kemudian pergi menemui Maria yang masih berada di dalam kampung. Maria berkata bahwa Sang Guru memanggil Marta (ay.28). Rasul Yohanes tidak mengatakan bagaimana dan kapan Yesus memanggil Maria. Namun, yang jelas, begitu Maria mendengar kabar sukacita itu, bahwa Sang Guru yang dinantikannya telah datang, maka dia bergegas menemui Yesus, yang masih berada di tempat perjumpaan-Nya dengan Marta (ay.30). Bisa dibayangkan betapa Maria merasakan suatu sukacita yang mendalam mendengar bahwa Sang Guru yang dinantikannya telah datang. Maka dengan kabar ini, Maria bangkit dan mendapatkan Yesus. Dan orang-orang Yahudi yang berada di sana yang sedang menghibur keluarga yang sedang bersedih, kemudian mengikuti Maria, karena berfikir bahwa Maria akan pergi ke makam Lazarus. Dan tanpa disadari, mereka nanti akan menjadi saksi-saksi akan mukjizat yang akan dilakukan oleh Kristus. Menurut adat Yahudi, makam biasanya terletak di luar kampung.

Dan ketika Maria melihat Yesus, dia tersungkur dan mengucapkan kata yang sama dengan apa yang diucapkan Marta “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (ay.32). Karena Maria dan Marta adalah saudara yang mempunyai iman yang sama, kesedihan yang sama, maka mereka mengucapkan kata-kata yang sama. Namun, tidak seperti Marta, Maria tersungkur di depan kaki Yesus. Maria, yang dipenuhi dengan kesedihan dan sekaligus kegembiraan melihat Gurunya datang, dia tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya dan kemudian langsung tersungkur.

Dan melihat tangisan Maria dan orang-orang yang berada di sekitarnya, maka masygullah (RSV = deeply moved in spirit; KJV = groaned in the spirit) dan terharulah (RSV, KJV= troubled) hati Yesus. Ayat ini membuktikan bahwa Yesus juga mempunyai perasaan seperti manusia. Dia mengerti kesedihan dan kegalauan hati kita dalam derajat yang sempurna, karena Kristus adalah manusia yang sempurna. (lih. KGK, 472-473)

KGK, 472 Jiwa manusiawi ini, yang diterima Putera Allah, benar benar dilengkapi dengan kemampuan untuk mengetahui secara manusiawi. Kemampuan ini sebenarnya tidak mungkin tanpa batas: is bertindak dalam kondisi historis keberadaannya dalam ruang dan waktu. Karena itu, Putera Allah, ketika Ia menjadi manusia, hendak bertambah pula dalam kebijaksanaan dan usia dan rahmat” (Luk 2:52). Ia hendak menanyakan apa yang seorang manusia harus belajar dari pengalaman. Dan ini sesuai dengan kenyataan bahwa dengan sukarela Ia mengambil “rupa seorang hamba” (Flp 2:7).

KGK, 473 Tetapi pada waktu yang sama, dalam pengetahuan manusiawi yang sesungguhnya dari Putera Allah, nyata pula kehidupan ilahi pribadi-Nya. “Kodrat manusiawi Putera Allah mengenal dan menyatakan dalam diri-Nya bukan dari diri sendiri, melainkan berdasarkan hubungan-Nya dengan Sabda segala sesuatu, yang dimiliki Allah” (Maksimus Pengaku Iman, qu. dub. 66). Itu berlaku pada tempat pertama mengenai pengetahuan langsung dan batin, yang Putera Allah terjelma miliki tentang Bapa. Dalam pengetahuan manusiawi-Nya Putera juga menunjukkan pengetahuan ilahi tentang pikiran hati manusia yang rahasia.

Tergerak oleh belas kasihan, maka Yesus bertanya “Di manakah dia kamu baringkan?” (ay.34) Kristus bukannya tidak tahu di mana Lazarus dibaringkan, namun Dia bertanya untuk menarik perhatian mereka, iman dan pengharapan mereka. Dan mereka kemudian mengantar Yesus ke tempat penguburan Lazarus. Kemudian dikatakan Kristus menangis (wept) (ay.35). Kata menangis di sini menggunakan (Yun = dakrúō), yang sebenarnya berarti meneteskan air mata, tanpa perlu untuk mengeluarkan suara. Sedangkan Maria dan Marta menangis dengan menggunakan kata (Yun = klaíō) yang menjadi tangisan yang keras, jeritan, sebagai suatu reaksi akan kematian. Yesus hanya meneteskan air mata ketika sahabat-Nya meninggal, namun Yesus menangisi Yerusalem (Yun = klaíō), yang penuh dosa dan tidak mau bertobat (lih. Lk 19:41). Bukan kematian fisik yang membuat Yesus sampai menangis, namun dosa. Dosa inilah yang memang membawa penderitaan dan tetesan keringat darah, serta kematian Kristus. Namun, dengan kuasa-Nya, Kristus bangkit dan naik ke Sorga, dan memberikan rahmat demi rahmat kepada umat-Nya. Bagi Kristus, kematian fisik adalah sesuatu yang bersifat sementara, namun kematian spiritual adalah bersifat kekal, yang dapat memisahkan manusia dengan Tuhan untuk selamanya.

f. (ayat 36-38) – Banyak orang di luar Kristus tidak percaya.

Menyaksikan Yesus meneteskan air mata, maka orang-orang Yahudi berkata “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (ay.36) Mereka tahu bahwa Yesus mengasihi sahabat-sahabat-Nya, namun mereka tidak mempercayai bahwa Yesus dapat membangkitkan orang mati, sehingga mereka berkata “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” (ay.37) Mereka berkata “tidak sanggup” kepada Yesus. Inilah yang membedakan antara orang-orang yang menjadi sahabat Kristus dan orang-orang di luar Kristus. Sahabat-sahabat Kristus mempunyai kesempatan untuk mendengarkan Kristus, bertanya dan kemudian mendapatkan jawaban pasti dari Kristus, seperti pernyataan bahwa kematian Lazarus akan membawa kemuliaan Tuhan (ay.4) dan membuat banyak orang percaya (ay.15), serta pernyataan bahwa Kristus adalah kebangkitan dan hidup (ay.25).

Sama seperti umat Gereja Katolik, maka kita semua yang telah dibaptis dan disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus mendapatkan suatu keistimewaan. Keistimewaan ini terletak pada kedekatan dengan Kristus dan Gereja yang didirikan-Nya, sehingga kebenaran dapat diterima dalam kepenuhannya. Hanya ada di dalam Gereja Katolik, Gereja yang didirikan Kristus, maka seseorang akan mendapatkan kebenaran yang penuh, cara yang penuh, sehingga dapat sampai kepada tujuan akhir, yaitu Sorga. Dengan kata lain, keanggotaan di dalam Gereja Katolik membuat kita mempunyai akses terhadap semua kepenuhan kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus yang secara konsisten dan murni diwariskan oleh Gereja Katolik dari satu generasi ke generasi yang lain.

g. (ayat 39-45) – Kebangkitan dan pembebasan

Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus. Yang pertama kali dilakukan oleh Yesus adalah menyuruh mereka untuk mengangkat batu penutup makam. Menurut adat istiadat Yahudi, rakyat kebanyakan dan orang-orang miskin biasanya dikuburkan dalam kuburan umum (lih. Yer 26:23; 2Raj 23:6). Sedangkan orang-orang yang kaya biasanya dikuburkan di dalam gua (lih. Yes 22:16; Mt 27:60), yang kemudian ditutup dengan batu yang dilabur warna putih (lih. Mt 23:27). Dikatakan di ayat Mt 23:27 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Untuk membangkitkan orang mati, maka tahap pertama yang dilakukan oleh Yesus adalah membuka penutup yang terlihat bersih dan memperlihatkan seluruh kejelekan dan seluruh kotoran yang mungkin ada di dalamnya. Cara ini adalah sama untuk membawa seseorang pada pertobatan. Seseorang harus membiarkan Kristus membuka hatinya, dan membawa seluruh apa yang ada di dalam kegelapan kepada terang, sehingga hal-hal buruk yang tidak terlihat jelas dapat terlihat sangat jelas. Kesadaran akan keburukan yang terpampang di depan mata, membuat seseorang menyadari dosa-dosanya dan memperoleh kesembuhan.

Marta yang tahu bahwa saudaranya telah meninggal selama empat hari, mengatakan bahwa saudaranya, Lazarus, telah mengeluarkan bau (ay.39). Demikian juga dengan dosa, semakin lama dipupuk, maka dia akan mengeluarkan bau busuk yang sulit hilang. Namun, untuk menghilangkan dosa tidak ada cara lain kecuali membawanya ke tempat terang, sehingga terjadi pertobatan. Pertobatan pertama atau perjalanan menuju ke tempat terang pertama adalah terjadi pada saat kita dibaptis, dimana rasul Paulus menegaskan bahwa barang siapa dibaptis, dia mati bersama Kristus dan kemudian bangkit bersama Kristus (lih. Rm 6:4). Pertobatan kedua atau perjalanan menuju terang yang kedua adalah terjadi secara terus menerus di dalam kehidupan umat beriman. Pertobatan ini dapat terjadi dalam Sakramen Tobat – untuk dosa-dosa berat – dan Sakramen Ekaristi dan doa-doa pribadi – untuk dosa-dosa ringan.

Kalau seseorang menolak untuk dibawa ke tempat terang, seperti pernyataan Marta, maka Kristus mengingatkan kepada kita semua “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (ay.40). Atau dengan kata lain, Kristus telah mengatakan bahwa Dialah kebangkitan dan hidup, dan di dalam Dia tidak ada kegelapan, sehingga orang yang percaya kepadanya akan hidup dan tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan. Jadi mengapa engkau meragukannya? Kadang mungkin cobaan yang dialami seseorang terlihat dan terasa terlalu berat, sehingga seseorang kurang percaya akan penyelenggaraan ilahi, melupakan bahwa Kristus lebih besar dari semua percobaan.

Setelah mereka mengangkat batu itu, maka Yesus menengadah ke langit dan berdoa, mengucap syukur dan mengatakan bahwa Bapa senantiasa mendengarkan Sang Putera. Dalam Trinitas, walaupun ada Tiga Pribadi, namun mereka mempunyai satu hakekat (essence), sehingga kehendak mereka adalah satu. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (lih. Yoh 4:34). Mengapa Yesus berdoa sebelum melakukan mukjizat? Dari ayat 42, maka kita melihat bahwa apapun yang dilakukan oleh Kristus adalah untuk memberikan instruksi kepada umat Allah.

Apa yang dilakukan oleh Yesus juga mengungkapkan bahwa doa memegang peranan penting untuk membawa seseorang yang telah mati terhadap dosa untuk menuju kepada terang atau pada pertobatan. Doa memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat mengubah kebiasaan buruk. Inilah yang terjadi pada pertobatan St. Agustinus. Dia telah mencoba berubah dengan kekuatan sendiri selama bertahun-tahun, namun tidak berhasil. Setelah dia mempunyai penyerahan kepada Tuhan, maka rahmat Tuhan menjadi berdayaguna (efficacious) dan dapat benar-benar membawa perubahan.

Setelah penyerahan di dalam doa, maka Yesus berseru dengan suara keras “Lazarus, kemarilah keluar!” (ay.43). Seruan keras dari Yesus, seolah-olah ingin mendobrak dan mengalahkan kematian, juga untuk mengalahkan kegelapan dosa, karena kematian adalah akibat dari dosa. St. Agustinus mengaitkan hal ini dengan Kristus yang mengalahkan dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin). St. Agustinus dalam bukunya “On the Sermon of the Lord on the Mount” mengatakan bahwa ada tiga perbedaan dosa: di hati, di perbuatan, dan di kebiasaan, sehingga mengakibatkan seolah-olah ada tiga kematian. Satu adalah di rumah, yaitu saat hati memberikan persetujuan akan keinginan; kedua, ketika keinginan tersebut dibawa keluar rumah atau dituruti dalam perbuatan; ketiga, ketika perbuatan dosa tersebut menjadi kebiasaan, sehingga seolah-olah menarik pendosa tersebut ke kubur dan sulit untuk melepaskan diri. Inilah sebabnya, Kristus juga membangkitkan tiga orang yang telah mati dengan perkataan yang berbeda-beda: (a) Talita Kum / Hai Anak, bangunlah! (Mrk 5:41; Luk 8:54); (b) Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk 7:14); (c) Lazarus, kemarilah keluar! (Yoh 11:43). Diperlukan Kristus yang berseru dengan suaru keras atau diperlukan rahmat Allah yang luar biasa untuk dapat melepaskan kita dari dosa yang telah menjadi kebiasaan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK, 1865.    Dosa menciptakan kecondongan kepada dosa; pengulangan perbuatan-perbuatan jahat yang sama mengakibatkan kebiasaan buruk. Hal ini mengakibatkan terbentuknya kecenderungan yang salah, menggelapkan hati nurani dan menghambat keputusan konkret mengenai yang baik dan yang buruk. Dosa cenderung terulang lagi dan diperkuat, namun ia tidak dapat menghancurkan seluruh perasaan moral.

KGK, 1866.    Kebiasaan buruk dapat digolongkan menurut kebajikan yang merupakan lawannya, atau juga dapat dihubungkan dengan dosa-dosa pokok yang dibedakan dalam pengalaman Kristen menurut ajaran santo Yohanes Kasianus dan santo Gregorius Agung (Bdk. mor 31,45.). Mereka dinamakan dosa-dosa pokok, karena mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dosa-dosa pokok adalah kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan, kelambanan, atau kejemuan [acedia].

Dan dosa-dosa pokok ini, yang telah menjadi kebiasaan harus dilawan dengan kebajikan, yang merupakan kebiasaan baik dari jiwa, sebagai contoh: a) kesombongan yang merupakan kesalahan menilai diri sendiri harus dilawan dengan kerendahan hati; b) ketidakmurnian yang merupakan penyimpangan keinginan-keinginan daging harus dilawan dengan kemurnian, dll.

Firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Demikian juga, seruan lantang dari Yesus membuat Lazarus yang telah mati selama empat hari datang keluar dengan kaki dan tangan terikat oleh kain kafan dan muka tertutup dengan kain peluh (ay.44). Firman yang sama seharusnya memberikan kepada kita efek yang sama, yaitu membuat kita semua keluar dari kegelapan dosa dan kemudian terbebas dari dosa, sama seperti Yesus mengatakan “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (ay.44). Biarkan pendosa yang bertobat pergi atau mendapatkan kebebasan. Kebebasan ini hanya mungkin di dapat kalau seseorang memegang kebenaran, bahwa Yesus adalah Anak Allah yang sanggup membangkitkan dan memberikan kehidupan, sehingga orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun dia telah mati. Ini juga memberikan pengharapan baru kepada seluruh umat Allah, karena kita tidak akan pernah mati melainkan memperoleh hidup bahagia untuk selama-lamanya bersama dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Harapan baru yang membebaskan ini akan membantu banyak orang untuk percaya kepada Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup (ay.45)

V. Percaya dan mengikuti Kristus memberikan kehidupan yang kekal.

Dari perikop ini kita belajar bagaimana kita harus percaya kepada Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup, karena di dalam Kristus tidak ada kematian. Selama kita percaya kepada Kristus dan hidup menurut perintah-perintah-Nya, maka kita tidak akan hidup walaupun kita sudah mati, karena bagi Kristus, kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun merupakan awal kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang memungkinkan kita melihat Allah muka dengan muka. Hanya dengan percaya kepada Kristus, maka orang yang hidup tidak akan mati dan yang mati akan tetap hidup. Kita yang tadinya hidup dalam kegelapan dan melalui pembaptisan telah dibawa oleh Kristus kepada terang, harus tetap hidup sebagai anak-anak terang (lih. Ef 5:8). Apa yang telah kita mulai dengan Roh, janganlah kita mengakhirinya di dalam daging (lih. Gal 3:3).

Catatan: Artikel ini dipakai untuk pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk, tanggal 6 April 2011.

Apakah Krisma = Sidi? Mengapa Krisma tidak ‘terasa’?

8

Pertanyaan:

Sakramen krisma bagi umat katolik pada dasarnya sama dengan sidi bagi umat kristen protestan (non katolik). apakah pernyataan tersebut benar?
Efektivitas pengaruh Roh Kudus pada saat pemberian krisma kepada umat yang menerima, kelihatannya tidak terasa. Hanya berupa upacara liturgis yang tidak menimbulkan efek nyata, bahkan terkesan ritual belaka. Mengapa demikian?

Herman Jay

Jawaban:

Salam Herman Jay,
Dari segi makna dan sejarahnya, tentu saja sidi tidak sama dengan Sakramen Krisma. Sidi tidak diberikan oleh uskup yang mempunyai suksesi apostolik sejak para rasul. Sidi pun bukan sakramen. Pendek kata, sejak kaum protestan memisahkan diri dari Gereja yang satu, kudus, katolik, apostolik, (abad 16) maka mereka sudah berbeda sama sekali secara hakikat dan martabat Gerejawi. Namun demikian, saling mengetahui tetap bisa ada bagusnya, untuk upaya dialog dan pemahaman yang sehat, serta untuk mewartakan iman Katolik yang jernih.
Sakramen Krisma dan ketujuh sakramen memiliki substansi ex opere operato dan ex opere operantis. Ex opere operato artinya, daya guna sakramen itu sendiri ada ketika sakramen itu diterimakan secara sah sesuai maksud Gereja. Ex opere operantis artinya, si pelayan sakramen dan penerima sendiri akan mengalami daya guna sakramen jika layak menyambutnya, yaitu mempersiapkan diri, berdisposisi baik, tidak dalam dosa berat, dan setelah menerima sakramen membuka hati terhadap rahmat Allah yang dianugerahkan melalui dan dalam sakarmen tersebut. Dalam hal ini, bukan soal perasaan. Mengapa? Karena perasaan selalu tak bisa dipercaya konsistensinya, subjektif dan sesaat.
Bolehlah saya berbagi pengalaman. Saya menerima sakramen Krisma tahun 1985 di gereja Salib Suci stasi  gunung Sempu, Paroki Pugeran, Yogyakarta dari tangan Mgr Julius Darmaatmadja, uskup Keuskupan Agung Semarang waktu itu. Jujur saja, perasaan saya waktu itu, gembira karena bertemu teman-teman dan karena mau dipestakan. Apalagi ketika itu juga ada perayaan peresmina gereja tersebut yang dihadiri bupati Bantul. Kami pun siap dengan aneka kesenian dan penampilan. Yang kami pikirkan itu saja, bukan pertama-tama hakikat sakramen krisma. Ketika menerima minyak krisma di dahi dan ditepuk pipi saya oleh uskup, saya tidak merasakan “resting in the spirit” atau ledakan suka cita luar biasa dalam hati saya. Tidak sama sekali. Yang saya perhatikan waktu itu ialah bahwa saya senang bisa berjumpa uskup sedekat ini dan beliau memandang saya dengan penuh kasih sambil mengucapkan forma sakramen Krisma, “Terimalah tanda karunia Roh Kudus”. Lalu saya menjawab “Amin”. Bapa uskup tersenyum dan menepuk pundak kiri saya, saya pun tersenyum kepada beliau. (Pas waktu itu lampu blitz menyala, dan foto itu tersimpan sampai kini sebagai kenangan). Begitu saja. Selesai. Kembali ke tempat duduk, berdoa dalam hati, mengenangkan betapa baiknya Tuhan, diiringi lagu-lagu liturgi dari koor yang memang isinya pujian – permohonan pada Roh Kudus dan nadanya sangat membantu doa. Dalam beberapa kali latihan sebelum hari-H, katekis selalu menekankan bahwa dalam liturgi Sakramen Krisma, Roh Kudus benar-benar melantik saya menjadi Saksi Kristus, bahwa saya sudah menjadi Katolik mandiri yang harus belajar iman Katolik dan mewartakan Kristus dengan penuh kasih tanpa disuruh-suruh lagi oleh orangtua atau guru agama. Itu saja. Tidak ada deru angin taufan ataupun perasaan “wow”. Biasa saja kok. Dalam perjalanan waktu, karena kebiasaan berdoa, menerima ekaristi, menerima sakramen tobat, aktif di lingkungan dan OMK, aktif di organisasi pemuda di , maka kesadaran akan “kedewasaan iman” itu berkembang. Maka saya bisa mengalami tuntunan Roh Kudus itu bukan hanya sesaat, namun sepanjang waktu dalam proses hidup sehari-hari. Sampai kini, buah sakramen Krisma itu selalu saya alami: semangat, damai, suka cita, kemurahan hati,… dst berselang-seling tanpa perasaan euforia. Perasan euforia karena daya Roh Kudus yang memancar dari dalam diri saya alami sekali saja ketika tahun 1990 mengalami resting in the Spirit dalam suatu retret ketika SMA  itupun hanya 15 menit.
Selebihnya Roh Kudus membimbing dengan halus dalam hidup rutin yang manusiawi dan  bermartabat. Sampai akhirnya saya berjumpa beberapa kali dalam wawancara pribadi dengan Mgr Julius Kardinal Darmaatmadja di Seminari. Saya ingat bahwa Sakramen Krisma telah saya terima melalui beliau.  Beliau tentu saja lupa, karena begitu banyak yang menerima Sakramen Krisma melalui beliau. Ketika saya pindah ke Jakarta tahun 2008, saya menjumpai beliau sebagai uskup Keuskupan Agung Jakarta, dan saya sudah menjadi imam 8 tahun. Dan ketika beliau memberi saya “celebret” (surat kewenangan memberikan pelayanan sakramen di wilayah keuskupan), saya mengingat proses mengagumkan bagaimana Roh Kudus menuntun saya, bahwa saya menerima sakramen Krisma melalui beliau ini. Semua  bukan oleh perasaan euforia, melainkan lebih-lebih melalui ketekunan dan ketaatan. Damai dan suka cita terjadi di dalam proses hidup itu.
Salam: Yohanes Dwi Harsanto Pr

Tentang Hak Kesulungan

6

Pertanyaan:

Syalom, saya punya beberapa pertanyaan yang mengganggu saya, apa arti hak kesulungan, apakah jika kita melepaskan hak kesulungan sekalipun menangis darah hak itu tidak akan kembali pada kita, ini saya kaitkan dengan apabila orang tersebut sudah berpindah keyakinan dan suatu saat kembali lagi menjadi katolik apakah juga akan ditolak oleh Yesus, saya mohon pencerahan.terima kasih sebelumnya Tuhan memberkati

Agustinus

Jawaban:

Shalom Agustinus,

Sementara menunggu jawaban dari Rm. Didik, saya menjawab dari apa yang saya ketahui tentang hak kesulungan. Saya mengambil sumber dari New Advent Encyclopedia, klik di sini yang menjelaskan tentang hak kesulungan antara lain sebagai berikut:

“Di antara orang Yahudi, seperti halnya di antara bangsa- bangsa lain, anak sulung menerima hak- hak istimewa. Ia menempati tempat yang pertama setelah bapanya (Kej 43:33) dan semacam otoritas untuk mengarahkan adik- adiknya (Kej 37:21-22, 30, dst); sebuah berkat istimewa yang diperuntukkan baginya pada saat kematian ayahnya, dan ia akan meneruskan peran ayahnya menjadi kepala keluarga, menerima dua bagian di antara bagian adik- adiknya (Ul 21:17). Juga hak kesulungan termasuk hak menjadi imam dalam keluarga itu. Hak menjadi kepala keluarga hanya berlaku ketika adik- adiknya masih tinggal di rumah yang sama, sebab setelah adik- adiknya telah keluar dari rumah itu dan membentuk keluarga, maka mereka masing- masing menjadi kepada keluarga dan imam dalam rumah tangganya sendiri….

Di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyebut Kristus sebagai “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu” (Kol 1:15-16); dengan demikian kurban Kristus Sang Mesias adalah juga kurban pertama (first- fruits) yang diberikan kepada Allah Bapa demi penebusan dosa manusia.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang kesulungan Kristus sebagai ‘yang sulung’ yang bangkit dari antara orang yang mati:

KGK 655 Akhirnya kebangkitan Kristus – dan Kristus yang telah bangkit itu sendiri – adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang: “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung… Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikianlah semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15:20-22). Selama menantikan pemenuhan ini, Kristus yang telah bangkit hidup dalam hati umat beriman. Dalam Kristus yang telah bangkit, umat Kristen mengecap “karunia-karunia dunia yang akan datang” (Ibr 6:5) dan hidupnya dilindungi Kristus di dalam Allah Bdk. Kol 3:1-3., “supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:15).

Maka secara obyektif, makna ‘kesulungan’ ini sebenarnya mengacu kepada Kristus, yang memang adalah yang sulung dari segala yang diciptakan, dan yang sulung yang bangkit dari alam maut. Sedangkan, kita sebagai murid- muridNya mengambil bagian di dalam Kristus karena kita semua adalah anggota Tubuh Mistik Kristus. Jadi kesulungan ini bukan merupakan hak kita terlepas dari Kristus. Hanya karena persatuan kita dengan Kristuslah maka kita dapat disebutkan sebagai Gereja (jemaat) anak- anak sulung yang namanya terdaftar di surga (lih. Ibr 12:23).

Nah, sekarang kita tergabung dalam Kristus dan menjadi anggota Tubuh-Nya melalui Pembaptisan (lih. KGK 1267). Melalui Pembaptisan ini jiwa kita dimeteraikan menjadi anak- anak angkata Allah di dalam Kristus. Meterai Pembaptisan ini tidak dapat dibatalkan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang hal ini demikian:

KGK 1272 Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristus, karena melalui Pembaptisan ia digabungkan bersama Kristus (Bdk. Rm 8:29). Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai [character] rohani yang tidak dapat dihapuskan, satu tanda, bahwa ia termasuk bilangan Kristus. Tanda ini tidak dihapuskan oleh dosa mana pun, meskipun dosa menghalang-halangi Pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan (Bdk. DS 1609-1619). Karena Pembaptisan diterimakan satu kali untuk selamanya, maka ia tidak dapat diulangi.

KGK 1273 Ketika orang beriman digabungkan kepada Gereja oleh Pembaptisan, mereka menerima meterai sakramental, yang “menugaskan mereka untuk menghormati Allah secara Kristen” (LG 11). Meterai Pembaptisan menyanggupkan dan mewajibkan orang Kristen, agar melayani Allah dengan mengambil bagian secara aktif dalam liturgi Gereja yang kudus dan menjalankan imamat semua orang Kristen melalui kesaksian hidup kudus dan cinta penuh semangat (Bdk. LG 10)

KGK 1274 Meterai Tuhan (“Dominicus character”: Agustinus, ep. 98,5) adalah meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita “untuk hari penyelamatan” (Ef 4:30, Bdk. Ef 1:13-14; 2 Kor 1:21-22). “Pembaptisan adalah meterai kehidupan abadi” (Ireneus, dem. 3). Orang beriman, yang mempertahankan “meterai” sampai akhir, artinya setia kepada tuntutan yang diberikan bersama Pembaptisannya, dapat mati “ditandai dengan meterai iman” (MR, Doa Syukur Agung Romawi 97), dalam iman Pembaptisannya, dalam harapan akan memandang Allah yang membahagiakan – penyempurnaan iman – dan dalam harapan akan kebangkitan.

Dengan demikian, memang meterai Pembaptisan (yang merupakan partisipasi kita umat beriman terhadap kesulungan Kristus) tidak dapat dihapuskan. Namun apakah seseorang dapat akhirnya sampai ke surga, tergantung dari apakah ia dapat mempertahankan meterai iman tersebut. Jadi kalau seseorang Katolik, pernah kemudian meninggalkan Kristus dalam hidupnya sementara waktu, dan ia ingin kembali kepada Kristus, yang perlu dilakukan adalah ia kembali bertobat dan menerima rahmat pengampunan Tuhan dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Lalu ia akan memperoleh kembali janji kehidupan kekal yang telah diterimanya pada waktu Pembaptisan, karena meterai Baptisan tersebut tidak terhapuskan. Maka, seseorang yang telah berpindah keyakinan, lalu ingin kembali kepada iman Katolik, dapat diterima kembali di dalam Gereja Katolik, tentu asalkan ia mau menerima dan menaati ajaran- ajaran Kristus seperti yang diajarkan dalam Gereja Katolik. Tuhan Yesus tidak menolak siapapun yang datang dan kembali kepada-Nya, demikian pula sikap Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tambahan dari  Rm. Didik:

Shalom Agustinus,

Saya menambah apa yang telah dijelaskan oleh bu Inggrid. Memang dalam tradisi Perjanjian Lama anak sulung mendapatkan peran sentral, seperti bisa menggantikan peran ayahnya dalam keluarga mereka, mendapat warisan dua kali lipat dari adik-adiknya (Ul 21:15-17), dan mendapatkan berkat secara khusus dari ayahnya (Kej 28:4). Dan kita ingat bagaimana pada peristiwa tulah ke-10 di Mesir, anak sulung manusia dan ternak yang jenang pintu rumahnya tidak diolesi darah anak domba paskah, dibunuh(lih. Kel 11:5-7). Sejak saat itu anak sulung laki-laki menjadi milik Tuhan (Im 12:6-8), sehingga harus ditebus oleh orang tuanya (Kel 34:19-20), termasuk Yesus sendiri (Luk 2:22-24).

Namun, kita justru menjumpai bahwa tidak semua anak sulung digambarkan secara positif dalam Alkitab. Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub, adiknya, demi semangkur bubur kacang merah. Ruben sebagai anak sulung Yakub ditolak (Kej 49:4) karena telah meniduri budak ayahnya (Kej 35:22a). Demikian pula saat Samuel diutus Tuhan mengurapi anak Isai, bukan si sulung yang terpilih melainkan si bungsu, Daud, yang tengah menggembalakan ternak (1 Sam 16:6-13). Sementara dalam perumpamaan tentang Bapa yang baik hati Tuhan Yesus justru melukiskan si anak sulung sebagai orang merasa diri benar dan tidak senang atas kembalinya sang adik (Luk 15:11-32), seperti halnya orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak senang bahwa banyak pendosa dan pemungut cukai bergaul akrab dengan Yesus (Luk 15:1-2).

Dengan pelbagai lukisan tersebut,  sebenarnya hak kesulungan menjadi tidak berarti bagi kita. Apalagi menurut Rasul Paulus hanya Yesus yang menjadi buah sulung kebangkitan sehingga hanya Dia yang terutama dari segala hal (Kol 1:18; 1 Kor 15:23).

Sementara mereka yang telah dibaptis memang telah menerima meterai kekal seperti telah dipaparkan oleh Bu Inggrid, maka kalaupun untuk sementara waktu pernah meninggalkan Gereja, kita justru berharap bahwa kemudian dia kembali ke pangkuan Gereja. Maka manakala mereka bertobat dan kembali menjadi warga Katolik, akan diterima dengan tangan terbuka, tentu saja akan dibimbing dalam kehidupan baru sebagai umat Katolik.

Rm. Didik  Bagiyowinadi Pr

Doa untuk anak Down syndrome

1

Pertanyaan:

yth………
mohon bantuan tema yang cocok untuk ibadat mungguan 09 april 2011, wujudnya mohon kekuatan keluarga dalam mendampigi anak yang di vonis dokter down syndrom, kelainan bawaan………….tk….perlu saya imformasikan ini adalah pengalaman pertama saya dalam memimpin ibadah dan wujud khusus lagi, bukan ibadat mingguan rutin…atas bantuannya saya ucapkan terima kasih….Tuhan Memberkati

Anselmus

Jawaban:

Shalom Anselmus,

Jika ibadat mingguan itu mau mengambil bacaan harian pada hari itu, maka bacaan pada tanggal 9 April itu diambil dari Yoh 7:40-53, yaitu tentang tanggapan sebagian orang yang mengenali Yesus sebagai Mesias, dan sebagian yang lain yang tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Jika ibadat itu dilakukan pada sore/ malam hari, dapat juga dipakai bacaan Injil pada hari Minggu 10 April 2011 yang membahas tentang kisah Lazarus yang dibangkitkan (Yoh 11:1-45).

Tetapi kalau ibadatnya mau diisi oleh bacaan yang mungkin lebih berhubungan dengan ujud keluarga, yaitu untuk mendoakan anak yang mempunyai kelainan bawaan down syndrome, mungkin dapat diambil bacaan Injil tentang bagaimana Yesus mengasihi anak- anak, dan menginginkan agar anak- anak datang kepada-Nya (Luk 18:15-17). Di perikop itu dikatakan Tuhan Yesus merangkul anak- anak. Tidak peduli apakah mereka sehat atau sakit, semua anak- anak dikasihi oleh Tuhan Yesus. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menerima Kerajaan Allah dengan sikap seperti seorang anak kecil. Artinya adalah kita menolak kesombongan kita dan kepuasan terhadap diri sendiri, dan kita mengenali bahwa kita tidak dapat berbuat apa- apa dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita harus sadar bahwa kita memerlukan rahmat, pertolongan dari Allah Bapa untuk menemukan jalan kita dan tetap tinggal di dalamnya. Menjadi seperti anak kecil adalah mempunyai kepasrahan seperti anak-anak, percaya seperti anak- anak percaya, dan mengemis/ meminta seperti anak kecil meminta.” (J. Escriva yang terberkati, Christ is passing by, 143)

St. Ambrosius mengajarkan demikian, “Mengapakah dikatakan bahwa anak- anak adalah empunya Kerajaan Allah? Sebab mereka umumnya tidak mempunyai intensi jahat ataupun menipu, atau mereka tidak berani membalas dendam; mereka tidak mempunyai pengalaman nafsu, mereka tidak mencuri dan mereka tidak ambisius. Kebajikan ini tidak disebabkan bukan karena mereka tidak tahu kejahatan, tetapi karena mereka menolak kejahatan. Itu bukan disebabkan karena mereka tidak dapat berdosa, tetapi karena mereka tidak melakukan dosa. Oleh karena itu, Tuhan tidak mengacu kepada masa kanak- kanak begitu saja, tetapi kepada kepolosan anak- anak yang ada bersamaan dengan kesederhanaannya.” (St. Ambrosius, Expositio Evangelii, sec Lucam, in loc.)

Orang tua yang mempunyai anak yang didiagnosa down syndrome mungkin bertanya- tanya kepada Tuhan mengapa hal ini terjadi atas mereka. Namun kita percaya Tuhan memiliki rencana tertentu di balik semua ini. Mungkin waktu akan sedikit demi sedikit menyingkapkan rencana Tuhan, bahwa kehadiran anak itu tetaplah menjadi berkat bagi keluarga itu, secara khusus terhadap orang tuanya. Sebab kehadiran anak itu akan membuat semua anggota keluarga menyadari bahwa mereka membutuhkan Tuhan untuk menghadapi hidup ini. Kasih antara orang tua dan kasih di antara sesama anggota keluarga menjadi sangat penting bagi pertumbuhan anak dengan kelainan mental ini. Pengabdian orang tua untuk membesarkan dan mendidik anak ini dengan kasih, menjadi sarana bagi Tuhan untuk menguduskan orang tua, membentuk mereka menjadi semakin menyerupai Dia dalam hal mengasihi.

Berikut ini adalah doa permohonan bagi anak yang memiliki kelainan mental, yang mungkin dapat diucapkan orang tuanya:

“O Tuhan, Engkau telah selalu melindungi anak- anak yang lemah; Engkau memberikan tangan yang dapat meraba untuk merasakan indahnya permukaan kehidupan kepada anak- anak yang tuna netra, Engkau berikan penglihatan untuk memandang kemuliaan warna- warna dan bentuk bumi ini kepada anak- anak yang tuna rungu; Engkau memberikan semangat yang bebas untuk bergerak di dunia ini kepada mereka yang timpang; dan Engkau memberikan bahasa isyarat kepada mereka yang bisu.
Apakah yang akan Engkau berikan kepada mereka yang terakhir, yaitu mereka yang kelainan mental? Dengan apakah Engkau akan melingkupi anak- anak ini yang juga adalah anak- anak-Mu? O Tuhan, letakkanlah cinta di dalam hati umat manusia, sebagai perisai bagi mereka. Hindarkanlah tangan yang akan melukai mereka, berkatilah tangan yang akan membimbing dan mengajar mereka, dan berikanlah hikmat kebijaksanaan dan kekuatan dan kedamaian hati kepada mereka yang mengasihi dan melayani mereka.

Amin.”

(sumber: Family Prayer Book, ed. Father Donald FX Connolly, (New York: The Regina Press, 1967), p. 212)

Akhirnya, ijinkan saya mengutip kesaksian seorang ibu yang anaknya didiagnosa mengidap kelainan bawaan, seperti dikutip oleh Kimberly Hahn, dalam bukunya, Life-giving Love:

Awalnya berat bagi ibu itu untuk menerima kenyataan tersebut, tetapi setelah merenungkannya dan membawa hal ini terus menerus dalam doa, akhirnya ia menemukan jawabannya. “Tuhan memberkati saya dengan sebuah eskalator menuju surga….Tuhan memahami kelemahan saya. Ia mengetahui bahwa saya membutuhkan lebih dari sekedar tangga untuk sampai ke surga, sehingga Ia memberikan kepada saya uluran tangan anak saya, untuk menaiki eskalator itu…. ” ((Kimberly Hahn, Life- giving Love, (Michigan: Servant Publication, 2001), p. 61)).

Demikianlah Anselmus, yang dapat saya bagikan menanggapi pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Bagaimana untuk dapat lepas dari dosa homoseksual?

16

Pertanyaan:

Shalom Pak Stefanus,

Pertama saya ingin bercerita sedikit tentang masalah saya. Saya adalah seorang pria yang punya orientasi seksual berbeda dari orang kebanyakan. Melihat artikel yang ditulis di katolisitas bahwa setiap orang apapun orientasi seksualnya harus menjaga tubuhnya kudus, maka saya bertekad untuk melakukannya. Namun, ternyata pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan.

Sebelumnya, saya pernah mengakukan dosa saya dan bertobat ketika mengikuti retret di Cikanyere. Sungguh, retret tersebut mengubah hidup saya dan ketika saya mengakukan dosa saya lakukan dengan niatan yg murni dan sungguh-sungguh. Lalu ketika itu juga ada kesempatan untuk konseling dengan suster/frater di sana, karena satu dan lain hal saya memutuskan untuk tidak melakukannya. Sepulangnya dari sana saya merasakan damai sejahtera dan saya tidak lagi melakukan dosa berat seperti yg sebelumnya malahan menjadi giat membaca kitab suci dan berdoa.

Namun, belakangan ini karena segala kepenatan aktifitas dan lain hal frekuensi doa saya menjadi semakin berkurang, menjadi fluktuatif. Ketika sedang semangat maka saya sangat semangat untuk berdoa, ketika sedang lelah atau apa, saya menjadi tidak berdoa lagi.

Masalahnya adalah saya sangat menyesal sedalam-dalamnya karena saya terjatuh kembali dalam dosa berat. Bagaimana ini Pak Stef? Apakah ada yang salah dengan diri saya? Menurut Pak Stef bagaimana solusinya? Entah mengapa saya merasa sangat rapuh untuk berjuang dalam hal ini berapapun seringnya saya mengakukan dosa dalam sakramen tobat. Terakhir kali saya mengakukan dosa pada masa Adven.

Jika berkenan saya ingin meminta dukungan doa untuk dapat melawan godaan-godaan dosa ketidakkudusan ini. Saya sangat bingung apa yang harus saya lakukan, apalagi kita sedang dalam masa prapaskah, saya merasa tidak layak bahkan untuk datang ke gereja sekalipun. Apakah saya butuh konseling dengan romo/suster/frater?Tolong saya pak Stef.

Hendrik [nama diganti]

Jawaban:

Shalom Hendrik [nama diganti],

Terima kasih atas keterbukaan anda. Yakinlah bahwa kalau anda merasa bahwa ada sesuatu yang salah dalam perbuatan anda, maka ini adalah rahmat Allah dan juga merupakan gerakan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang memberikan inspirasi kepada manusia agar manusia dapat terus berjalan sesuai dengan ketetapan Allah, yang berarti senantiasa membawa manusia kepada pertobatan. Dari komentar anda, anda telah tahu bahwa kecenderungan untuk melakukan hubungan sesama jenis adalah berdosa dan bertentangan kemurnian. Seseorang yang mempunyai kecenderungan homoseksual belum sampai pada tahap dosa, sama seperti seseorang mempunyai kecenderungan untuk marah. Kalau kemarahan dituruti dan merugikan orang lain dan tatanan yang baik, maka perbuatan marah tersebut menjadi berdosa. Sama seperti kecenderungan homoseksual yang kemudian berkembang menjadi perbuatan, maka itu menjadi suatu perbuatan dosa.

I. Tentang homoseksualitas

Dalam tanya jawab ini – silakan klik – dibahas tentang homoseksual, yang menuliskan:

Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut:

KGK 2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besarBdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu tidak baik” (CDF, Perny. “Persona humana” 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

Namun demikian, Gereja juga menyadari bahwa tidak sedikit pria dan wanita yang sedemikian mempunyai kecenderungan homoseksual yang tidak mereka pilih sendiri. Mereka ini harus dilayani dengan hormat, dengan kasih dan bijaksana. Mereka harus diarahkan agar dapat memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya, dengan hidup murni, melalui kebajikan dan pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan sakramen, menuju kesempurnaan Kristen (KGK 2358-2359).

Jadi penting dipahami bahwa terdapat dua macam hal yang berbeda yaitu, 1) kecenderungan homoseksual dan 2) menjadi pelaku homoseksual. Kecenderungan ketertarikan terhadap sesama jenis itu belum membuahkan dosa sebelum dinyatakan dalam aktivitas seksual homoseksual. Gereja Katolik menganggap kecenderungan ini sebagai “objective disorder“/ ketidakteraturan yang obyektif, karena menjurus kepada hubungan seksual yang tidak wajar.

Perlu diketahui bahwa, kecenderungan homoseksual di sini menyerupai kecenderungan yang dimiliki untuk kebiasaan buruk lainnya, misal ada orang yang memiliki kecenderungan pemarah, pemabuk, pemalas, dst. Dalam hal ini, kita ketahui:

1. Kecenderungan ini baru akan berbuah menjadi dosa, jika terus dituruti keinginannya, dalam hal ini, adalah jika mereka yang gay/homoseksual terus bergaul dalam lingkungan ‘gay’ dan mempraktekkan kehidupan seksual gaya ‘gay’ ini. Namun, jika tidak, maka kecenderungan tersebut tidak berbuah dosa.

2. Jadi kecenderungan ini benar-benar ada/ nyata, walaupun bukan berarti kita dapat membiarkannya. Contoh, tentu saja kita tidak dapat mengatakan karena seseorang memiliki kecenderungan pemarah, maka ia boleh saja hidup sebagai seorang pemarah. Kita justru harus mengalahkan kecenderungan itu dengan kuasa yang kita terima dari kemenangan salib Kristus, sebab oleh Dia segala belenggu dosa dipatahkan.

Ryan Sorba, dalam talk-nya Framingham State University, tgl 31 Maret 2008, yang memperkenalkan bukunya The Gay Gene Hoax, menjelaskan, bahwa kecenderungan gay bukan merupakan sesuatu yang genetik (seperti yang dipropagandakan beberapa pakar sekarang ini). Karena berdasarkan penelitian yang diadakan di Scandinavia pada bayi-bayi kembar, dapat diketahui bahwa salah satu dari bayi tersebut dapat menjadi gay, namun yang lainnya normal. Seandainya homoseksual itu genetikal tentu kedua bayi itu menjadi gay. Menurut Sorba, perilaku homoseksual banyak dipengaruhi oleh lingkungan, terutama penganiayaan seksual di masa kecil, seperti yang dialami dan diakui sendiri oleh banyak aktivis homoseksual. Hal lain yang cukup berpengaruh adalah kurangnya faktor bapa atau ibu, yang mempengaruhi seseorang di masa kecil (misalnya karena faktor perceraian, dst).

Jadi sebenarnya, orang-orang yang lesbi atau gay sebenarnya dapat menghindari dosa, dengan tidak mengikuti dorongan nafsu seksualnya yang terarah kepada teman sejenis kelamin. Jika mereka hidup mengikuti hawa nafsu tersebut, tentu saja mereka berdosa. Alkitab sangat jelas menjabarkan hal ini. Namun, di dalam Kristus, mereka memiliki harapan untuk dapat mengarahkan hidup mereka ke arah kebenaran. Itulah sebabnya Gereja Katolik tidak menolak para gay dan lesbian, namun tidak membenarkan perbuatan mereka; melainkan mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan untuk menerapkan kemurnian/ chastity. Maka di sini perlu dibedakan akan perbuatan/ dosa homoseksual dan orangnya. Dosa/ praktek homoseksual perlu kita tolak karena merupakan dosa berat yang melanggar kemurnian, namun manusianya tetap harus dihormati dan dikasihi. Walaupun demikian, Gereja tetap memegang bahwa kecenderungan homoseksual adalah menyimpang.(berdasarkan Congregation for the Doctrine of Faith yang dikeluarkan tgl 3 Juni 2003 mengenai, Considerations regarding Proposals to give legal recognition to unions between Homosexual Persons, 4).

II. Tentang tahapan dosa

Dari penjelasan di atas, maka kita melihat bahwa kecenderungan homoseksual yang dituruti menjadi suatu perbuatan dosa dan dapat membawa maut. Namun, yang menjadi masalah, orang sering tahu bahwa hal ini berdosa, tetapi sering tidak dapat melepaskan diri. Hal ini disebabkan, karena dosa tersebut telah menjadi suatu kebiasaan dari jiwa. Dalam artikel tentang pengakuan dosa bagian 1 di sini – silakan klik – dituliskan perkembangan dosa sebagai berikut:

Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.

Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).

Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).

Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.

Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.

Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.

Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).

Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

III. Tentang dosa yang menjadi kebiasaan

Dosa yang menjadi kebiasaan adalah merupakan tahap 6. Untuk dapat lepas dari dosa ini, dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan dan membutuhkan rahmat Tuhan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Yang terpenting, pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa.

IV. Langkah-langkah praktis untuk mengatasinya:

Kita dapat belajar dari apa yang anda telah jalankan. Retret dapat membantu seseorang untuk menyadari dosa-dosa di dalam dirinya, sehingga dia dapat bekerjasama dengan rahmat Allah untuk bertobat secara sungguh-sungguh. Kekuatan rahmat Allah yang dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh membuat rahmat Allah menjadi berdayaguna. Namun, setelah retret, kita yang hidup dalam pekerjaan sehari-hari harus menghadapi keseharian yang sama, termasuk juga menghadapi godaan-godaan di sekitar kita. Yang menjadi masalah, ketika kita masuk dalam keseharian kita, maka kita menjadi lupa bahwa untuk menolak godaan, kita memerlukan rahmat Allah yang didapat melalui doa dan sakramen.

1. Ikutilah retret.

Kalau memungkinkan cobalah mengikuti retret lagi, sehingga anda dapat kembali mengulang saat-saat indah bersama Allah. Anda dapat juga mengikuti retret yang sama sekali lagi. Dan memang sudah seharusnya, kalau memungkinkan kita dapat mengikuti retret satu tahun sekali.

2. Menerima Sakramen Tobat secara teratur.

Baik anda dapat mengikut retret atau tidak, namun anda harus datang ke Sakramen Tobat. Pada saat menerima Pengakuan Dosa, janganlah kuatir bahwa anda akan jatuh lagi pada dosa yang sama. Yang terutama adalah anda berfokus pada belas kasih Allah dan rahmat Allah, yang dapat membantu anda untuk dapat melawan godaan, sehingga anda tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Kalau ada suara-suara yang mengatakan bahwa percuma anda menerima Sakramen Tobat, karena nanti akan berdosa lagi, buanglah jauh-jauh suara-suara tersebut. Berfokuslah pada belas kasih Allah dan berusahalah untuk tidak jatuh pada dosa yang sama lagi, karena tidak mau menyedihkan hati Allah. Kalau memungkinkan, anda dapat mengaku dosa kepada pastor yang sama, sehingga pastor tersebut tahu secara persis kelemahan anda dan juga perjuangan anda dalam melawan dosa ini. Pastor tersebut juga dapat menjadi pembimbing rohani anda (spiritual director).

3. Bertekunlah dalam Firman Tuhan.

Kita tahu bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Dengan semakin mendalami Firman Tuhan, maka kita akan semakin tahu apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan dapat menegur dan pada saat yang bersamaan dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Anda dapat mengikuti bacaan berdasarkan kalendar liturgi Gereja Katolik, seperti dalam buku: ruah, mutiara iman, dll.

4. Bertekunlah dalam doa dan sakramen.

Doa memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat menghadapi godaan-godaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Kalau penyembahan yang tertinggi adalah Sakramen Ekaristi, maka sudah seharusnya kita harus menerima Kristus dalam Sakramen ini sesering mungkin. Oleh karena itu, kalau memungkinkan ikutilah misa harian.

5. Cobalah untuk berlatih kebajikan kemurnian.

Latihan ini memerlukan rahmat Tuhan dan ketekunan kita. Ini berarti setiap hari, kita mohon rahmat Tuhan agar diberikan kemurnian. Kemurnian hati ini sangat penting, karena Kristus menekankan bahwa “berbahagialah yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mt. 5:8). Latihan ini juga memerlukan kedisiplinan untuk melakukan pemeriksaan batin setiap hari. Cobalah melihat apakah pada hari ini, ada kebajikan kemurnian yang telah dilanggar, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan?

6. Melawan ketika godaan masih kecil.

Kita harus menyadari bahwa diri kita pada dasarnya adalah lemah. Oleh karena itu, godaan yang dapat kita lawan adalah godaan-godaan yang masih dalam skala yang kecil. Ketika godaan masih kecil, maka akan lebih mudah kita melawannya dan menyingkirkannya. Kalau kita tidak menghentikan godaan ini sedari kecil, maka akan sangat sulit kalau godaan tersebut telah begitu besar.

7. Hindari kesempatan berbuat dosa.

Kadangkala godaan yang kecil sekalipun sulit kita hindari. Jangan pernah sombong dengan kekuatan kehidupan spiritualitas kita. Karena ketika kita sombong akan kehidupan spiritualitas kita, maka pada saat itulah kita lemah. Oleh karena itu, cara paling aman, jauhilah dan larilah dari hal-hal yang membuat kita berdosa. Dalam terapi pasien yang menggunakan obat-obatan maupun pemabuk, salah satu cara adalah menghindari semua hal-hal yang berbau obat-obatan maupun minuman keras, termasuk tempat, kehidupan malam, teman-teman, dll. Jadi, anda yang paling tahu kondisi anda. Amatilah dan renungkanlah, bagaimana anda dapat jatuh lagi? pada kesempatan seperti apa? urutkan kejadiannya, sehingga anda tahu bahwa kalau anda menghindari kejadian tersebut, maka anda tidak terjebak pada dosa yang sama. Sebagai contoh, kalau menggunakan facebook membuat anda terjebak pada teman-teman yang dulu, yang menggoda untuk melakukan dosa yang sama, maka anda harus menghapus account facebook dan mulailah untuk berteman dengan teman-teman yang nyata. Kalau yang membuat anda jatuh adalah aktifitas berinternet, cobalah untuk mengurangi aktifitas ini. Atau, kalaupun anda harus melakukan aktifitas berinternet, jangan melakukannya di kamar tidur, namun lakukan di tempat-tempat yang ada anggota keluarga, saudara maupun teman.

8. Bergabung dalam komunitas.

Komunitas dapat membantu kehidupan spiritualitas seseorang. Dengan berkumpul bersama-sama dengan orang-orang yang mempunyai spiritualitas yang baik, maka spiritualitas kita juga akan terbangun. Anda dapat mengikuti Legio Maria, kelompok devosi kerahiman ilahi, kelompok pendalaman Alkitab, kelompok doa karismatik, doa meditasi, dll.

Demikian, apa yang dapat saya sampaikan. Semoga uraian di atas dapat membantu. Yang terpenting, janganlah berputus ada dan senantiasa memohon belas kasih Allah. Bersyukurlah bahwa Roh Kudus telah mengingatkan anda bahwa anda harus memperbaiki dosa yang telah dilakukan. Dan dengan Roh Kudus yang sama, mintalah kekuatan untuk melawan dosa ketidakmurnian. Biarlah masa prapaskah ini menjadi masa pertobatan dan penuh rahmat. Yakinlah bahwa Tuhan melihat perjuangan anda untuk bertumbuh dalam kekudusan. Anda dapat meminta doa di pojok doa – klik ini, dan tulis PRIBADI, sehingga ujud doa tidak ditampilkan di dalam website. Kita saling mendoakan, agar kita dapat terus berjuang dan bertumbuh dalam kekudusan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Orang buta yang menjadi pewarta

7

Akulah Terang Dunia

Yesus berkata “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12). Yesus adalah terang dunia, yang memberikan penerangan kepada dunia, kepada setiap orang. Karena kegelapan adalah ketidak-adaan terang, dan Yesus adalah Terang itu sendiri, maka di dalam Yesus tidak ada kegelapan. Setiap orang yang masuk di dalam hadirat-Nya, yang mau disentuh oleh Sang Terang, tidak akan mengalami kegelapan. Drama perjalanan dari gelap menuju terang, baik secara fisik maupun spiritual inilah yang ingin disampaikan dalam Yohanes 9:1-41. Pada saat seseorang mengatakan “Aku percaya, Tuhan! Dan aku sujud menyembah-Mu” (ay. 39), maka seseorang telah dipisahkan dari kegelapan dan berada dalam terang Tuhan.

Paus Benediktus XVI dalam surat gembala prapaskah kepausan mengajarkan bahwa perikop Yoh 9 mengajarkan tentang Kristus, Sang Cahaya Dunia, dengan menuliskan “Hari Minggu Keempat, melalui kisah “orang yang buta sejak lahir” itu, menampilkan Kristus, Sang Cahaya Dunia. Injil hari ini mengkonfrontasikan masing-masing kita dengan pertanyaan ini: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”  “Ya, Tuhan, aku percaya” (Yoh. 9:35,39) seru orang yang buta sejak lahir itu dengan sukacita, dan dengan demikian ia menyuarakannya juga bagi semua orang beriman. Mukjijat penyembuhan ini menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita.  Ia menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup dan membimbing semua orang laki-laki dan perempuan untuk hidup sebagai “anak-anak terang”

Perikop Yoh 9:1-41 adalah perikop yang begitu panjang dan begitu indah, yang mungkin memerlukan pembahasan yang begitu panjang lebar. Namun, pada tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang proses perjalanan iman dari orang yang buta melihat Sang Terang. Secara prinsip perikop ini dapat dibagi menjadi:

  • 1-3: Latar belakang tentang seorang yang buta.
  • 4-5: Tujuan dari Yesus menyembuhkan orang buta itu.
  • 6-7: Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta itu.
  • 8-34: Kesaksian orang buta
    • 8-12: Orang buta itu bersaksi kepada tetangga-tetangga.
    • 13-16: Orang buta itu bersaksi di depan orang-orang Farisi.
    • 17: Orang buta itu berkata bahwa Yesus adalah seorang nabi.
    • 18-23: Orang tua dari si buta itu menyatakan bahwa anaknya dapat memberikan kesaksian sendiri.
    • 24-34: Orang buta itu meneruskan kesaksiannya di depan orang-orang Farisi, sampai akhirnya dia dibuang dari jemaat.
  • 35-37: Yesus memberitakan diri-Nya sebagai Anak Manusia.
  • 38: Orang buta itu bersembah sujud di hadapan Tuhan.
  • 39-41: Yesus memberikan pesan kepada dunia tentang keselamatan.

Buta sejak lahir, O happy fault

Perikop ini dibuka dengan suatu pertemuan antara Yesus dan orang yang buta sejak lahir. Kemudian para murid mempertanyakan atas dosa siapakah sehingga dia menjadi buta, apakah dosanya sendiri atau orang tuanya. Bagi orang-orang Yahudi, kekayaan dihubungkan dengan berkat, sedangkan kemiskinan dan penderitaan dihubungkan dengan dosa dan kutuk, baik dosa sendiri (lih. Ul 24:16; Yer 31:30; Yeh 18:20; Ayub 4:7-8; 2 Mak 7:18) maupun dosa orang tua (Kel 20:5; Kel 34:6-7; Tob 3:3). Namun bagi orang Kristen, kemiskinan dan penderitaan tidak secara otomatis karena dosa, dan Yesus menegaskan “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Jn 9:3)

Memang secara fisik, tidak banyak orang yang dilahirkan buta. Namun secara rohani, bukankah kita semua manusia terlahir buta, karena akal budi kita dikotori oleh dosa asal, yang diturunkan dari dosa manusia pertama, sehingga kita semua mempunyai kecenderungan berbuat dosa (concupiscence)? Namun, dosa dari Adam ini diperingati dalam setiap malam Paskah sebagai dosa yang membahagiakan, yang disenandungkan “O happy fault, O necessary sin of Adam, which gained for us so great a Redeemer!” Dan Sang Penebus, yaitu Yesus inilah yang dianugerahkan oleh Allah Bapa untuk membebaskan kita, orang-orang yang memang dilahirkan “buta” secara rohani oleh karena dosa asal. Oleh sebab itu, ini juga kisah masing-masing dari kita.

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku

Sungguh suatu perkataan yang harus kita resapkan bersama-sama, karena Yesus mengatakan bahwa “kita” dan bukan hanya Yesus yang harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Yesus (ay. 4). Yesus mengatakan “kita”, ketika Dia menjawab pertanyaan para murid. Kita, yang menjadi murid Kristus juga termasuk dalam golongan “kita”. Dan kita, juga harus mengerjakan pekerjaan Dia atau Bapa. Pekerjaan apakah? Karena Bapa berkata “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mt 17:5), maka kita harus mendengarkan dan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Kristus.

Kalau doa adalah suatu ungkapan yang terdalam dari hati, maka kita harus benar-benar menaruh perhatian yang lebih pada perkataan Yesus pada saat Dia berdoa. Dan apa yang diperintahkan-Nya terungkap pada kata-kata seperti yang didoakan-Nya:

17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. 18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:17-21).

Dari doa ini, kita tahu, bahwa Yesus menginginkan kita untuk menjadi kudus, karena hanya dengan kekudusan, maka seseorang dapat diterima di dalam Kerajaan Sorga. Karena kekudusan adalah kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama demi kasih kepada Tuhan, dan Yesus berdoa untuk menguduskan para murid dalam kebenaran (Yoh 17:17), maka kita harus memegang teguh bahwa kasih harus berdasarkan kebenaran. Tindakan yang seolah-olah adalah tindakan kasih namun tidak berdasarkan kebenaran bukanlah perbuatan kasih. Dan sama seperti Bapa telah mengutus Yesus untuk mengabarkan kasih dan kebenaran (Yoh 17:18), maka Yesus juga mengutus kita semua untuk mewartakan kasih dan kebenaran. Yesus telah menguduskan diri kita semua dengan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, yang kita terima pada saat kita dibaptis.

Maka kita semua yang telah dibaptis harus bersatu padu membangun Gereja. Tanpa persatuan, maka dunia tidak dapat percaya bahwa Allah telah mengutus Yesus Sang Putera Allah. Oleh karena itu, Yesus sendiri telah mendirikan Gereja Katolik sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, di mana persatuan umat beriman dinyatakan dalam kesatuan liturgi dan doktrin, di bawah Paus yang menjadi wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja. ((Lumen Gentium, 22))

Sampai kapankah kita harus mengerjakan pekerjaan ini? “4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (Yoh 9:4-5). Ini bukan berarti bahwa pekerjaan itu hanya dilaksanakan selama Yesus ada di dunia ini, namun sampai pada akhir jaman, dimana Yesus sendiri yang akan memisahkan terang dan gelap, yaitu pada saat penghakiman terakhir. Sebelum maut memisahkan kita dan atau akhir dunia, di mana setiap orang akan mengalami pengadilan Tuhan, maka kita semua masih mempunyai kesempatan untuk berlomba-lomba dalam kekudusan. Namun pada saat pengadilan terakhir dinyatakan, dan sebagian dinyatakan untuk masuk dalam kegelapan abadi, maka tidak ada lagi yang dapat bekerja (ay. 4), karena semuanya telah selesai dan lengkap. Oleh karena itu, kita semua yang telah menerima Sakramen Baptis, yang menerima Roh Kristus, harus bersatu padu di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, untuk senantiasa bekerja mewartakan kasih dan kebenaran Kristus sampai pada saat kedatangan Kristus yang ke-dua.

Pergilah basuhlah dirimu dalam kolam Siloam

Kristus dalam perikop ini menunjukkan satu perbuatan nyata yang menguak pentingnya seseorang menerima baptisan untuk diselamatkan. Bagaimana Yesus membuat orang buta itu melihat? “Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.” (Yoh 9:6-7).

St. Agustinus mengatakan bahwa “mengaduk ludah dengan tanah” mengacu kepada “Firman telah menjadi manusia” ((St. Augustine, Tractate XLIV, Ch. IX, 2)), yaitu Yesus sendiri. Dan ini juga sejalan dengan arti dari Siloam, yaitu yang diutus, yang mengacu kepada Yesus sendiri yang diutus oleh Bapa. Oleh karena itu, bagaimana orang buta ini dapat melihat? Karena inisiatif dari Allah. Kita mengenal Kristus dan dibebaskan dari kebutaan mata hati kita untuk menjadi terang melalui Sang Terang, karena rahmat Ilahi. Tanpa rahmat ilahi, kita tidak mungkin dapat mengenal Sang Terang. Sama seperti Kristus yang menyembuhkan orang buta tersebut dengan suatu proses (meludah, mengaduk, mengoleskan), maka kita yang sebelumnya buta dijamah oleh Kristus sendiri. Kita menanggapi kasih Kristus ini dengan keinginan dan keputusan untuk mengikuti Dia dalam proses katekese. ((Ibid)). Namun Allah tidak ingin kita hanya sekedar mengenal-Nya, karena Ia ingin bertahta dalam hidup kita. Allah ingin kita menjadi “yang terkasih” (the beloved), karena Allah sendiri ingin mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada kita dan menjadikan kita anak-anak angkat-Nya. Oleh karena itu, Allah, melalui Gereja-Nya, membaptis kita, sama seperti Yesus mengutus orang buta tersebut ke kolam Siloam. ((Secara harafiah, Siloam merupakan suatu tempat penampungan air untuk orang-orangyang tinggal di Yerusalem, yang dibangun oleh raja Hizkia (lih. 2Raj 20:20; 2Taw 32:30) pada abad ke-7 SM. Lebih lanjut dikatakan bahwa para nabi air dari kolam Siloam merupakan tanda dari berkat Allah (lih. Yes 8:6; Yes 22:11).)) Orang buta tersebut dapat melihat setelah membasuh diri di kolam Siloam, sama seperti kita yang melihat terang karena rahmat Sakramen Baptis. Melalui Pembaptisan kita dipersatukan dengan Yesus “Yang Diutus oleh Allah Bapa”, dan kemudian kitapun kemudian diutus oleh Allah untuk hidup seturut dengan panggilan kita sebagai anak-anak angkat Allah di dalam Kristus.

Bersaksilah tentang Aku yang telah memberikan terang…

Ayat 8-34 adalah suatu perjalanan iman yang harus dilalui oleh setiap orang yang dibaptis, sebagai suatu akibat dari melihat terang. Seseorang yang telah melihat terang dan hidup dalam terang tidak dapat membiarkan dirinya dan orang lain untuk tetap hidup dalam kegelapan. Orang yang hidup dalam terang akan mengorbankan segalanya untuk tetap hidup dalam terang.

Pertama, orang buta tersebut harus bersaksi kepada orang-orang terdekatnya, yaitu anggota keluarga, tetangga-tetangga, komunitas setempat. Mungkin mereka akan berkata “bukankan dia ini yang selalu mengemis?” (ay. 8), sama seperti seseorang mengatakan bukankah dia ini yang dulunya hidup bergelimang dosa? Atau, yang dulu hidupnya tidak jujur? Dan orang akan senantiasa mempertanyakan alasan mengapa orang buta itu, ataupun juga kita, berubah.

Menarik sekali bahwa orang buta ini begitu bersukacita akan perubahan yang dialaminya, sehingga ketika tetangganya bertanya bahwa bukankah dia yang dulu mengemis dan buta, dia dengan bersukacita menjawab, “Ya, benar” (ay. 9-10). Kita juga dapat mengatakan hal yang sama, bahwa kita yang memang telah lama buta dan tinggal dalam kegelapan telah dijamah oleh Kristus dan memperoleh terang. Namun, kesaksian ini akan menjadi lebih efektif kalau kita dapat membuktikan bahwa kita memang dapat melihat, yang berarti tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Atau dengan kata lain, kesaksian ini akan lebih berarti kalau kita juga berjuang untuk hidup kudus, hidup sebagai anak-anak terang. Dengan demikian, kita juga dapat berkata seperti yang dikatakan oleh orang buta yang telah disembuhkan itu, “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat” (ay. 11).

Namun selanjutnya, sungguh sayang, orang buta itu menjawab “tidak tahu” ketika para tetangga bertanya “Dimanakah Dia?” (ay. 12). Apakah kita juga menjawab tidak tahu ketika orang bertanya tentang Yesus? Orang buta tersebut tidak mendapatkan proses katekese, namun kita yang telah melalui proses katekese dan pelajaran agama sebelum dibaptis maupun pendalaman iman setelah dibaptis, tidak mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak tahu tentang Yesus. Orang buta tersebut tahu tentang Yesus, namun dia tidak tahu di mana Yesus. Kita yang telah mendapatkan kepenuhan Yesus di dalam Gereja Katolik harus menunjukkan kepada orang yang bertanya kepada kita, untuk juga menemukan Yesus di dalam Gereja Katolik.

Kesaksian kedua yang diberikan oleh orang yang tadinya buta adalah kepada orang-orang Farisi, yang mungkin dalam kehidupan kita dapat mewakili orang-orang yang berkuasa yang lebih besar dari kita, misalnya orang-orang yang bertanggung jawab di dalam perusahaan tempat kita bekerja, di dalam masyarakat yang majemuk, dll. Kita, yang telah menerima terang dari Kristus juga akan menghadapi tantangan yang sama, ketika banyak orang dari agama yang berbeda, mungkin mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, Yesus bukanlah Allah, dll.  Mungkin juga kita akan menghadapi tantangan yang berkata bahwa Gereja Katolik bukanlah Gereja yang didirikan oleh Kristus, atau Gereja Katolik hanyalah salah satu denominasi Kristen.

Di sinilah kita belajar bahwa para santa-santo adalah suatu bukti dari kebenaran dalam Gereja Katolik. Sama seperti orang buta yang telah disembuhkan, maka santa-santo adalah bukti bagaimana orang yang telah dijamah oleh Kristus dan bertumbuh dalam sakramen, dapat mempunyai kerendahan hati dan ketaatan, yang menghasilkan buah berlimpah. Orang yang tidak percaya akan Kristus maupun Gereja Katolik akan bertanya “Mengapa yang terberkati Bunda Teresa mau dan mempunyai kekuatan untuk melayani orang-orang yang paling miskin di Kalkuta? Mengapa ada orang yang mau hidup selibat dan mengabdikan diri bagi sesama dan menjadi pastor dan suster? Mengapa semua orang korupsi, sedangkan umat yang beragama Katolik jujur? ” Inilah “argument of the heart“, yang mungkin sulit untuk dibantah, karena fakta memang di depan mata, sama seperti orang-orang Farisi tidak dapat menyangkal kesembuhan dari orang yang buta sejak lahir itu.

Dan pada saat orang-orang bertanya tentang perubahan dalam diri kita, maka kita dapat menunjuk kepada Sang Terang yang memberikan kekuatan kepada kita. Siapakah yang merubah kehidupanmu? (ay. 17). Kita harus menunjuk kepada Sang Sumber Terang, yaitu Kristus. Orang buta yang telah disembuhkan pada saat itu belum mendapatkan kepenuhan wahyu, sehingga dia menjawab, “Ia adalah seorang nabi” (ay. 17). Walaupun jawaban ini tidak salah, namun belum lengkap. Seorang nabi adalah orang yang mewartakan kebenaran, yaitu kebenaran Allah. Namun Kebenaran itu mempunyai nama, sebab Kebenaran telah menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus.

Pada saat kita hanya menerima semua dogma dan doktrin Gereja Katolik  dalam batas pengetahuan saja, namun tidak melaksanakannya dalam kehidupan nyata, maka sebenarnya sama saja kita mengatakan bahwa Yesus hanyalah sebatas “Nabi“. Sebatas nabi yang mungkin tidak perlu disembah dan tidak perlu menjadi fokus yang paling penting dalam kehidupan kita. Sedangkan, untuk sampai pada tahap penghayatan akan kebenaran yang bukan hanya terbatas pada pikiran, maka semua pengajaran Kristus, yang dinyatakan lewat Gereja harus diendapkan dalam hati, sehingga dengan seluruh keberadaan kita mengasihi kebenaran. Iman kita bukan hanya tergantung dari perkataan orang tertentu, bukan hanya tergantung dari website tertentu, bukan hanya tergantung dari guru kita ataupun orang tua kita. Karena pada akhirnya iman kita adalah merupakan “personal faith” (iman pribadi). Dan tepat sekali apa yang dikatakan oleh orang tua dari orang buta ini, “Ia telah dewasa, tanyakanlah padanya sendiri” (ay. 23). Iman pribadi inilah yang dituntut oleh Kristus kepada setiap orang yang telah menerima Kristus, sama seperti ketika Kristus bertanya kepada Petrus “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mt 16:15). Pengakuan iman yang pribadi seperti ini merupakan iman yang dewasa, yang akan senantiasa dimurnikan secara terus-menerus.

Dalam perikop ini, terlihat bahwa orang buta yang telah disembuhkan harus menghadapi lagi pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan dari orang-orang Farisi. Demikian juga dengan kita: pertanyaan-pertanyaan dan ujian-ujian iman ini akan terus berlangsung selama hidup kita. Kita harus mempertanggungjawabkan iman yang kita bukan hanya dengan perkataan, namun juga dengan perbuatan, dan juga dengan segala resikonya. Orang buta yang disembuhkan tahu dan mengalami kesembuhan dari Yesus. Dan keyakinan ini begitu dalam terpatri di dalam hatinya, sehingga tidak ada kekuatan di dunia ini yang dapat mengubah keyakinannya, termasuk interograsi dari orang-orang Farisi.

Akhirnya, interograsi dari orang-orang Farisi tersebut menyebabkan orang buta yang telah melihat itu diusir keluar (ay. 34). Ayat 34 yang mengatakan “… Lalu mereka mengusir dia ke luar“, bukanlah hanya sekedar diusir dari ruangan, namun diusir dari komunitas, atau dengan kata lain di-ekskomunikasi. Orang yang di-ekskomunikasi, yang di keluarkan dari komunitas Yahudi, dianggap sebagai orang asing, tidak boleh masuk ke dalam sinagoga. Dengan kata lain, orang buta tersebut dikucilkan. ((Pengucilan atau ekskomunikasi ini dapat berlangsung sementara, seperti 30 hari dan dapat diperpanjang sampai 60 hari atau 90 hari. Kalau setelah masa ekskomunikasi ini berakhir dan orang tersebut tidak bertobat, maka dia akan dijatuhi hukuman yang lebih serius. Di depan pengadilan, mereka akan dijatuhi kutuk (malediction). Dan tahap ketiga adalah mengucilkan orang tersebut untuk selamanya.)) Dalam percakapan dengan orang-orang Farisi, orang buta yang telah disembuhkan mengetahui resiko pengusiran ini, namun dia tidak takut akan resiko yang harus ditanggungnya. Bandingkan dengan sikap orang tuanya yang takut dikucilkan, sehingga tidak berani untuk memberitakan kebenaran (ay. 22). Kita sebagai orang-orang yang telah mengalami jamahan Kristus, dan hidup dalam terang Kristus selayaknya rela berkorban untuk terus hidup dalam kebenaran.

Perjuangan membawa sang buta kepada Sang Kebenaran.

Mungkin peristiwa kesembuhan dan pengusiran orang buta itu dari komunitas Yahudi diketahui oleh banyak orang, termasuk oleh Yesus (ay. 35). Inilah sebabnya pada waktu Yesus bertemu dengan orang itu, Yesus berkata “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?“. Anak Manusia adalah gelar dari Sang Mesias (lih. Dan 7:13). Tidak ada keraguan dalam diri orang buta tersebut bahwa Anak Manusia adalah merujuk kepada Sang Mesias, sehingga dia berkata “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya” (ay. 36). Yesus yang tahu bahwa orang buta itu diusir dari komunitas Yahudi melalui tahta Musa menawarkan kepada orang buta tersebut suatu komunitas yang lebih baik, yaitu komunitas yang diperintah sendiri oleh Diri-Nya.

Bagi Yesus, kesembuhan fisik dari orang buta tersebut tidaklah cukup. Inilah sebabnya, Yesus bukan bertanya apa yang akan dilakukan oleh orang buta itu setelah di-ekskomunikasi dari komunitas Yahudi, melainkan Yesus bertanya “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Kalau pada pertemuan pertama Yesus memberikan terang bagi kebutaan mata orang itu, maka pada pertemuan ke dua, Yesus memberikan terang spiritual, sehingga orang buta itu dapat memperoleh terang keselamatan. Dan dengan penuh kasih Yesus memberikan jati diri-Nya kepada orang buta tersebut “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” (Jn 9:37). Mendengar perkataan Yesus, orang buta itu bersembah sujud dan berkata “Aku percaya, Tuhan!” (ay. 38). Di sinilah orang buta tersebut melihat terang Sorgawi, terang yang membawanya kepada keselamatan kekal.

Kerendahan hati adalah sikap yang diperlukan untuk mencapai Kebenaran.

Untuk memperoleh iman seperti orang buta tersebut, diperlukan suatu kondisi, yaitu seseorang harus menyadari bahwa dia adalah seorang yang buta. Hal ini berarti, iman yang benar seperti ini hanya dapat dicapai ketika seseorang menyadari dengan segala kerendahan hati bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa. Dan Yesus menegaskan hal ini dengan berkata “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat” (ay. 39). Kerendahan hati membuat rahmat Tuhan mengalir secara bebas dalam kehidupan seseorang, sehingga pada akhirnya rahmat Tuhan ini menuntun orang tersebut kepada keselamatan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa tanpa kerendahan hati, seseorang tidak akan mungkin memperoleh keselamatan, seperti yang ditegaskan oleh Yesus “…supaya barangsiapa melihat menjadi buta.” Orang yang buta namun tidak menyadari kebutaannya – seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi (ay. 40) – adalah sungguh tragis dan ini merupakan pernyataan kesombongan mereka. Kesombongan inilah yang menjadi penghalang bagi rahmat Tuhan untuk mengubah kehidupan mereka. Oleh karena itu, hidup mereka akan terus berada di dalam kegelapan.

Siapa yang dipercaya banyak, dituntut lebih banyak.

Orang yang tidak buta seharusnya tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan, serta dia tetap berjalan dalam terang.  Maka, orang percaya yang telah melihat, namun tetap hidup dalam kegelapan, lebih besar dosanya daripada orang yang buta.  Yesus berkata, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (ay. 41). Orang-orang Farisi yang mempunyai pengetahuan yang begitu luas, terpelajar, dan tahu tentang tanda-tanda dari Sang Mesias, tetapi mereka tidak mau percaya akan segala kenyataan yang terbentang di depan mata, bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Padahal sesungguhnya, mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya. Maka, ketidak percayaan mereka ini disebabkan oleh kekerasan hati mereka. Yesus menegaskan hal ini dengan berkata “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lk 12:48).

Dalam konsep keselamatan, orang buta adalah orang-orang yang memiliki “invincible ignorance“, yaitu “orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, yang dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.” ((Lumen Gentium 16)) Meskipun dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah dalam kategori ini untuk dapat memperoleh keselamatan, namun dalam belas kasihan-Nya, Tuhan dapat memakai parameter yang berbeda dalam mengadili mereka.

Namun bagi orang-orang yang melihat, atau orang-orang yang telah mengenal Kristus akan dituntut lebih banyak. Inilah sebabnya Gereja Katolik mengatakan “Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” ((Lumen Gentium, 14)) Hal ini disebabkan karena orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.

Dan terlebih lagi bagi orang-orang Katolik sendiri yang mendapatkan kepenuhan kebenaran dan begitu banyak rahmat yang mengalir dalam sakramen-sakramen, dituntut lebih banyak. Lumen Gentium mengatakan “Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”. ((Ibid)) Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai “kepenuhan kebenaran” harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi kita umat Katolik, tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena kita telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama dari Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan kita untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.

Yesus adalah terang dunia.

Dari perikop ini, maka kita melihat perjalanan iman dari orang buta, yang sebenarnya merupakan refleksi dari perjalanan iman kita. Kita yang telah disembuhkan dari kegelapan – karena dosa asal – lewat Sakramen Baptis, dituntut untuk terus hidup dalam terang. Dan kita semua juga diundang oleh Kristus untuk menjadi duta atau utusan Kristus (lih. 2 Kor 5:20) untuk mewartakan kabar gembira sampai pada kedatangan Kristus yang kedua. Kita dituntut untuk menyebarkan terang Kristus kepada semua orang, sehingga semua orang juga dapat sampai kepada sumber Terang, yaitu Kristus. Di manapun tingkat spiritualitas kita, kita sekali lagi diingatkan bahwa kita harus senantiasa kembali kepada sikap kerendahan hati, seperti yang diingatkan oleh St. Teresa dari Avila dalam bukunya puri batin (interior castle). Kerendahan hati inilah yang memungkin seseorang yang berada dalam kegelapan dapat melihat terang, dan orang yang berada dalam terang tidak terjatuh dalam kegelapan serta semakin memancarkan terang Kristus. Mari kita semua memegang teguh apa yang Yesus katakan “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12).


Catatan: Artikel ini ditulis tanggal 3 Agustus 2009, direvisi dan dipakai untuk pendalaman Alkitab di paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk pada tanggal 30 Maret 2011.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab