Home Blog Page 202

Kisah Yusuf: Tujuan Menghalalkan Cara?

1

Pertanyaan:

Tujuan Menghalalkan Cara:
Kisah Yusuf dan saudara-saudaranya yang dibaca selama misa harian dalam Minggu Biasa XIV (Tahun A/1) menunjukkan bahwa penjualan Yusuf akibat kebencian saudara-saudaranya membawa hikmat di kemudian hari. Ketika terjadi paceklik di Israel, keluarga besar Yakub justru diselamatkan oleh Yusuf.
Dari kisah di atas , dapatkah disimpulkan bahwa cara yang tidak benar dan amoral justru direstui Tuhan untuk kepentingan yang lebih luas di masa mendatang? Kalau demikian halnya, kisah Yusuf ini dapat dijadikan dasar justifikasi bagi prinsip tujuan menghalalkan segala macam cara.

Jawaban:

Shalom Herman Jay,

Nampaknya cara berpikir sedemikian kurang tepat. Bukan Allah yang ‘merestui’ cara yang tidak benar, tetapi bahwa meskipun manusia jatuh ke dalam dosa dan melakukan perbuatan/ cara- cara yang tidak baik sekalipun, namun Tuhan tetap dapat mendatangkan kebaikan di balik semuanya itu. Sebab Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, sehingga manusia dapat, dengan keputusannya sendiri memilih untuk melakukan hal- hal yang tidak baik, seperti yang terjadi pada saudara- saudara Yusuf, yang menjual Yusuf kepada para saudagar- saudagar Midian yang membawanya ke Mesir. Dalam Kitab Suci tidak dikatakan bahwa Tuhanlah yang menyuruh para saudara Yusuf untuk menjual Yusuf ke Mesir. Tetapi Tuhan, oleh karena ke-MahaTahu-annya, sudah mengetahui bahwa kelak para saudara Yusuf akan melakukan hal itu oleh karena iri hati; dan meskipun demikian, Tuhan tetap dapat mempergunakan keadaan yang tidak benar itu untuk menjadi bagian dari rencana-Nya mendatangkan kebaikan bagi orang- orang pilihan-Nya. Yaitu pertama- tama kepada Yusuf (yang mengasihi Tuhan, terbukti dengan kehidupannya yang ‘lurus’ di hadapan Tuhan- lih. Kej 39), Yakub yang kepadanya Tuhan telah berjanji akan memberkati keturunannya (lih. Kej 28:15); dan kepada saudara- saudara Yusuf. Dengan demikian, dipenuhilah ayat Rom 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Ketika Yusuf berkata, “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir” (Kej 45:8); Yusuf menjelaskan bahwa segala sesuatunya merupakan bagian dari rencana Allah [dengan pengertian seperti yang dijabarkan di atas]. Melalui peristiwa tersebut kita ketahui bahwa dalam keadaan apapun Tuhan dapat menunjukkan kerahiman-Nya kepada manusia.

Berikut ini adalah penjelasan dari The Navarre Bible, tentang perikop Kej 45 tersebut:

“Kemurahan hati Firaun juga adalah tanda kerahiman Tuhan, namun kerahiman Tuhan yang terbesar dinyatakan adalah bahwa Yakub, dapat menemukan anaknya yang dipikirnya telah hilang (lih. ay. 28)

Selain menunjukkan tentang kerahiman Tuhan, kisah Yusuf juga menunjukkan kebesaran jiwa dari Yusuf yang tidak menyimpan dendam, mengarahkan segala tindakannya untuk memperoleh kembali saudara- saudaranya, memimpin mereka sedikit demi sedikit agar bertobat dari dosa yang mereka perbuat, mengampuni mereka sejak awal, dan memperlakukan mereka sebagai saudara. Sikap Yusuf menjadi teladan bagi kita …. pengampunan harus selalu ada di dalam hubungan kita dengan sesama.” (The Navarre Bible, Pentateuch, p. 210)

Paus Yohanes Paulus II yang Terberkati, juga menuliskan tentang pentingnya pengampunan yang menjadi inti pesan Injil, dalam kehidupan kita. “Pengampunan menunjukkan adanya di dunia ini, kasih yang lebih berkuasa daripada dosa. Pengampunan juga adalah keadaan yang mendasar bagi rekonsiliasi, tidak saja di dalam hubungan antara Tuhan dan manusia, tetapi juga di antara manusia dengan manusia yang lain.” (Paus Yohanes Paulus II, Dives in misericordia 14)

Dengan demikian, kisah Yusuf sesungguhnya bukan kisah ‘Tujuan Menghalalkan Cara’, namun adalah kisah nyata tentang Belas Kasih Allah dalam sejarah umat manusia, di mana Allah tetap dapat menjadikan keadaan yang buruk sekalipun akibat dosa manusia, untuk menyatakan kerahiman-Nya kepada umat manusia; dan agar manusia belajar untuk mengampuni satu sama lain, sama seperti Allah telah mengampuni kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mukjizat Penggandaan Roti Adalah Gambaran Akan Sakramen Ekaristi

25

I. Pemberian diri, Mukjizat dan Ekaristi

Kita mungkin sering mendengar ulasan tentang mukjizat penggandaan roti dan ikan. Tulisan ini mencoba mengupas bahwa mukjizat ini terjadi karena peran serta para murid dan orang-orang yang hadir, yang mau menyediakan apa yang ada pada diri mereka, sehingga Kristus dapat mengambil dan menyempurnakannya, yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk kebaikan bersama serta menyatakan kemuliaan Tuhan. Mukjizat ini juga menjadi gambaran akan apa yang terjadi pada Perjamuan Terakhir, yang juga terjadi sampai saat ini dalam Sakramen Ekaristi. Pemberian diri inilah yang juga dituntut dari semua umat Allah yang berpartisipasi dalam setiap perayaan Ekaristi, sehingga setiap orang dapat menyatukan persembahan dirinya dengan korban Kristus.

II. Teks Matius 14:13-21

Dalam minggu ke-18 masa biasa tahun A ini, bacaan liturgi memberikan bacaan dari: Yes 55:1-3; Mzm 145:8-9,15-18; Rom 8:35,37-39; dan Mat 14:13-21. Mari sekarang kita melihat teks dari Injil Matius yang diberikan [penekanan dari saya]:

13.  Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.
14.  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
15.  Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.
16.  Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.
17.  Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.
18.  Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”
19.  Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
20.  Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
21.  Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

III. Telaah dan interpretasi Matius 14:13-21

1. Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi (ay.13)

Kalau kita melihat konteksnya, maka perikop ini terjadi setelah Yohanes Pembaptis dipenjara dan kemudian dibunuh oleh Herodes, sang raja di wilayah itu (lih. Mat 14:1-12; Mrk 6:14-29; Luk 9:7-9; Luk 3:19-20). Di dalam Injil, disebutkan ada empat Herodes: (a) Herodes Agung atau Raja Herodes (Mat 2:1), (b) Herodes Antipas, yang membunuh Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12) dan yang mengolok-olok Yesus yang menderita (Luk 23:7-11), (c) Herodes Agripa I – keponakan dari Herodes Agung, yang membunuh Yakobus, saudara Yohanes (Kis 12:1-3) dan yang memenjarakan rasul Petrus (Kis 12:4-7) serta yang meninggal secara mendadak dan misterius (Kis 12:20-23), (d) Herodes Agripa II – yaitu anak Herodes Agripa I, yang kepadanya Paulus dihadapkan untuk menjawab tuduhan dari kaum Yahudi ketika Paulus dipenjara di Kaisaria (Kis 25:23).

Herodes Antipas inilah yang membunuh Yohanes Pembaptis. Dia adalah anak dari Herodes Agung dan dia diberi kekuasaan untuk memerintah daerah Galilea dan Perea dari tahun 4 SM sampai tahun 39. Walaupun dia telah menikah dengan puteri Raja Arab, namun dia hidup bersama dengan selirnya yang bernama Herodian, istri dari saudaranya, Herodes Filipus. ((Flavius Josephus, Jewish Antiquities, XVIII, 5,4, – yang dikutip oleh The Navarre Bible, St. Matthew)) Dan karena mengkritik kehidupan moral dari Herodes Antipas yang mengawini istri saudaranya, serta jebakan licik dari Herodian, maka Yohanes Pembaptis dipenjara dan akhirnya dipenggal kepalanya (lih. Mat 14:1-12; Mrk 6:16-29). Disebutkan juga bahwa Herodes ingin bertemu dengan Yesus, karena berpikir bahwa Yesus adalah penjelmaan Yohanes Pembaptis yang telah dibunuhnya, atau penjelmaan Elia, atau penjelmaan salah satu nabi dari Perjanjian Lama (lih. Luk 9:7-9). Dalam keadaan setelah Yohanes Pembaptis dibunuh dan Herodes mencoba bertemu dengan Yesus, dikatakan bahwa Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi (lih. Mat 14:1).

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Yesus harus menyingkir? Apakah Yesus takut untuk dibunuh? Beberapa interpretasi dari Bapa Gereja mungkin dapat membantu. Alasan mengapa Yesus menyingkir adalah karena memang waktu yang ditetapkan oleh Bapa atau kematian Yesus belum tiba, seperti yang dikemukakan oleh St. Yohanes Krisostomus. Dan alasan ini juga dikemukakan oleh rasul Yohanes yang menuliskan “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.” (Yoh 7:30, lih. Yoh 8:20) Santo Hieronimus memberikan tambahan penjelasan bahwa menyingkirnya Yesus merupakan bentuk belas kasih Yesus kepada musuhnya, sehingga Dia tidak menambah dosa Herodes yang telah membunuh Yohanes Pembaptis dan kemudian nantinya harus membunuh Yesus. ((lih. St. Thomas Aquinas, Catena Aurea, commentary on the Gospel of Matthew 14:13-14)) Alasan yang lain adalah karena Yesus ingin menghindari paksaan umat Yahudi yang ingin menjadikan Dia seorang raja (lih. Yoh 6:15). Kemungkinan yang lain adalah karena Yesus dan para murid-Nya memang membutuhkan istirahat, karena mereka sama sekali tidak mempunyai waktu untuk makan (lih Mrk 3:20) dan beristirahat (lih. Mrk 6:31). Dan memang walaupun Yesus dan para murid-Nya menyingkir ke tempat yang sunyi, namun orang-orang mendengar tentang hal ini dan mencoba menemukan mereka. Dan orang-orang yang melihat ke mana mereka pergi, kemudian menyusul mereka lewat jalan darat (lih. Mrk 6:33).

2. Seperti domba tanpa gembala (ay. 14)

Ketika Yesus dan para murid-Nya sampai di tempat tujuan dan mendarat, Dia melihat sejumlah besar orang, sehingga tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Yesus melihat bahwa mereka tercerai berai, sama seperti domba-domba tanpa gembala (lih. Mat 9:36; bdk. Bil. 27:17; 1Raj 22:17). Tergerak oleh belas kasihan, maka tanpa diminta, Yesus menyembuhkan mereka yang sakit (ay.14) dan tanpa kenal lelah Yesus dan para murid-Nya membantu orang- orang itu sampai menjelang malam. Hal ini menjadi peringatan kepada para pelayan umat agar tanpa lelah melayani umat.

3. Kamu harus memberi mereka makan (ay.15-16)

Menyadari bahwa hari telah menjelang malam dan mereka semua berada di tempat yang sunyi, maka para murid meminta kepada Yesus untuk menyuruh orang-orang pergi dan membeli makanan di desa-desa (ay.15; bdk. Mrk 6:36; Luk 9:12).  Namun kemudian Yesus membuat jawaban yang sungguh mengejutkan para murid, karena Dia berkata, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” (ay.16) Para murid terbiasa untuk menyaksikan Yesus membuat mukjizat dan merasa aman akan posisi mereka. Namun, tiba-tiba dalam kondisi yang sungguh tidak memungkinkan untuk memberi makan lebih dari 5.000 orang, Yesus justru mengatakan bahwa merekalah yang harus memberi makan orang banyak itu. Para murid yang telah mengikuti Yesus dan melihat bagaimana Yesus telah melakukan banyak mukjizat, kini dihadapkan untuk menangani keadaan yang sulit ini. Berapa sering dalam situasi paroki, seseorang dapat merasa diri tidak siap, ketika harus menjadi seorang ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua seksi maupun bidang, atau harus menjadi koordinator untuk acara tertentu. Mereka tiba-tiba berhadapan dengan perkataan Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan“.

Di Injil Yohanes, Yesus bertanya kepada Filipus, di manakah mereka dapat membeli roti supaya semua orang yang berkumpul dapat makan (lih. Yoh 6:5). Dan Filipus menimbang apa yang mereka punyai, lalu mengatakan “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (lih. Yoh 6:7) Menjawab perkataan Yesus agar para murid yang memberi makan orang-orang, St. Markus melaporkan hal yang sama dengan menuliskan, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (Mrk 6:37) Jawaban yang seolah-olah merupakan pertanyaan yang mempunyai konotasi tidak yakin.

4. Mengakui keterbatasan dan membawanya kepada Yesus (ay.17-18)

Dalam kondisi kebingungan ini, kini mereka mulai melihat apa yang mereka punyai pada saat itu. Injil Matius dan Lukas melaporkan bahwa para murid mengatakan bahwa mereka hanya mempunyai lima roti dan dua ikan (Lih. Mat 14:17; Luk 9:13). Injil Yohanes menuliskan bahwa Andreas, saudara Petrus melaporkan bahwa ada seorang anak kecil yang membawa lima roti dan dua ikan (lih. Yoh 6:9). Namun, di ayat yang sama, Rasul Andreas berkata, “tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Para murid tidak yakin, bahwa apa yang mereka punyai cukup untuk memberi makan begitu banyak orang. Kita juga dapat melihat bagaimana para nabi di dalam Perjanjian Lama melakukan hal yang sama: mereka tidak yakin ketika Tuhan mempercayakan suatu tugas kepada mereka. Ketika Tuhan menyuruh Musa menghadap Firaun, maka Musa menjawab, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel 3:11) Bahkan ketika Tuhan telah membuktikan bahwa Dia dapat membuat mukjizat melalui Musa, Musa masih meragukan dirinya dan berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:10) Dan bahkan ketika Tuhan menyatakan bahwa Dia akan menyertai dan mengajar Musa akan apa yang harus dikatakan, Musa tetap ragu dan menjawab, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:13) Kita juga melihat bahwa Gideon merasa terlalu muda untuk melawan orang Midian. (lih. Hak 6:15). Bahkan nabi Yeremiah merasakan keterbatasan seperti musa dan Gideon, sehingga dia mengatakan “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer 1:6)

Dengan demikian, janganlah kita merasa rendah diri akan keterbatasan kita. Justru Tuhan memilih orang-orang yang terbatas kemampuannya, sehingga kemuliaan dan kuasa Tuhan menjadi sempurna (lih. 2Kor 12:9). Namun, satu hal yang harus kita lakukan agar mukjizat dapat terjadi adalah membawa semua yang ada pada diri kita, baik waktu, harta, talenta dan juga semua kelemahan kita di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku….” (Mat 14:18)

5. Lihat, mukjizat itu nyata! (ay. 19-21)

Pada saat para murid membawa membawa lima roti dan dua ikan atau pada saat kita membawa apa yang ada pada diri kita kepada Yesus, maka mukjizat akan terjadi. Ada dua mukjizat penggandaan roti dan ikan. Mukjizat penggandaan roti dan ikan yang pertama diberikan dalam Mat 14:13-21; Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; dan Yoh 6:1-13. Setelah itu mukjizat penggandaan roti dan ikan yang kedua dituliskan dalam Mat 15:32-39; Mrk 8:1-10. Ada perbedaan jumlah orang yang diberi makan serta sisa roti antara mukjizat pertama dan kedua, yaitu yang pertama 5,000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, sisa dalam mukjizat itu adalah 12 bakul, sedangkan yang kedua berjumlah 4,000 dan sisanya adalah 7 bakul.

Di salah satu diskusi dalam situs katolisitas, seorang pembaca menuliskan bahwa dia pernah mendengar bahwa ada sebagian umat Katolik yang mengatakan bahwa mukjizat tersebut tidaklah benar-benar terjadi, karena mereka berpendapat bahwa yang terjadi hanyalah orang-orang tersebut saling berbagi, yang dimulai oleh anak kecil yang memberikan lima roti dan dua ikan (lih. Yoh 6:9). Dalam dialog ini, saya memberikan beberapa argumentasi sebagai berikut:

1. Dalam kaitan dengan makna literal. Kalau kita mau tetap setia terhadap teks, maka yang pertama kali yang harus kita lihat adalah makna literal. Ini berarti apakah dengan mengatakan bahwa kejadian ini hanyalah “saling berbagi” merupakan manifestasi bahwa kita tidak percaya bahwa Kristus dapat melakukan hal ini. Apakah dengan demikian, kita ingin menghilangkan dimensi mukjizat yang dilakukan oleh Kristus? Di satu sisi, dari teks juga tidak dapat disimpulkan secara pasti bahwa kejadian penggandaan roti dan ikan hanyalah merupakan peristiwa berbagi dalam komunitas.

Bahkan dari teks “14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”
“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.
” (Yoh 6:14-15) maka kita melihat bahwa orang-orang yang hadir mengganggap bahwa kejadian penggandaan roti dan ikan adalah suatu mukjizat, sehingga mereka ingin menjadikan Yesus sebagai raja. Kalau hanya peristiwa berbagi dalam komunitas, mungkin reaksi dari orang-orang tidak akan sampai ingin menjadikan Yesus sebagai raja dan hanya menganggap bahwa kejadian tersebut adalah hal yang biasa saja.

2. Dalam kaitannya dengan komentar dari Bapa Gereja. Dalam Catena Aurea, St. Thomas mengutip St. Agustinus dan Bede yang mengatakan:

“AGST. Dia memperbanyak lima roti di tangan-Nya, sebagaimana Dia menghasilkan panen dari beberapa bulir. Ada kekuatan di tangan Kristus; dan yang terjadi pada lima roti itu, seolah-olah, biji, yang tidak jatuh ke bumi, namun menjadi berlipat ganda oleh-Nya, yang menciptakan bumi.

BEDE. Ketika orang banyak melihat mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan kita, mereka kagum; karena mereka belum tahu bahwa Dia adalah Allah. Kemudian orang-orang, Penginjil menambahkan, yaitu orang-orang duniawi, yang pemahamannya adalah duniawi, ketika mereka telah merasakan keajaiban bahwa Yesus, mengatakan, ini adalah kebenaran bahwa seorang Nabi telah datang ke dalam dunia.

Dari dua kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa mereka menangkap bahwa peristiwa ini adalah suatu mukjizat dan bukan hanya sekedar kejadian berbagi dalam komunitas.

3. Dalam kaitan dengan Ekaristi. Kalau kita melihat konteks dari Yoh 6, maka kita akan melihat kaitan antara mukjizat penggandaan roti (Yoh 6:1-13) dan mukjizat penggandaan Roti Hidup, yaitu Yesus sendiri dalam Sakramen Ekaristi (Yoh 6:25-68). Dengan mereduksi mukjizat penggandaan roti menjadi sekedar kejadian berbagi di dalam komunitas, menjadi sulit untuk melihat konteks Ekaristi sebagai suatu mukjizat, di mana Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan) dalam setiap partikel roti dan anggur, serta menggandakan Diri-Nya, sehingga Dia dapat tinggal dan bersatu dengan seluruh umat beriman.

6. Lihat, mukjizat itu adalah gambaran dari Ekaristi. (ay.19)

Sebelum Yesus melakukan mukjizat penggandaan roti dan ikan, maka disuruh-Nya  orang banyak itu untuk duduk di rumput. Injil Markus dan Lukas menerangkan bahwa orang-orang dibagi dalam kelompok-kelompok berjumlah lima puluh atau seratus, serta duduk di rumput (lih. Mrk 6:40; Luk 9:14). Ini menunjukkan keteraturan dan juga Kristus menginginkan suasana perjamuan yang formal.

Setelah semua berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, maka dituliskan “diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.” (Mat 14:19). Kita melihat beberapa kata kunci di ayat ini, seperti: mengambil, mengucap syukur, memecah-mecah dan memberikan atau membagikan. Kita dapat melihat apa yang terjadi dalam Perjamuan Suci, di mana dituliskan, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Mat 26:26) Bahkan ketika Kristus wafat, Dia melakukan hal yang sama kepada dua orang murid yang mengadakan perjalanan ke Emaus. Dituliskan, “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” (Luk 24:30) Di ayat berikutnya, dikatakan bahwa pada saat itulah mata mereka terbuka dan mengenal Kristus. Mengapa mata mereka terbuka pada saat Kristus mengambil, mengucap berkat, memecah-mecah, dan memberikannya kepada mereka? Karena kata-kata itulah yang diucapkan oleh Kristus pada saat Dia masih hidup, yaitu ketika Kristus mengadakan mukjizat penggandaan roti, yang tidak hanya dilakukan sekali namun dua kali.

Menarik untuk disimak, bahwa kata-kata yang sama -mengambil roti, mengucap berkat, memecah- mecahkannya dan memberikannya- diucapkan juga oleh Yesus pada saat Perjamuan Terakhir. Namun, pada saat Perjamuan Terakhir, Kristus memberikan makna yang lebih dalam lagi. Pada saat Perjamuan Terakhir, Kristus tidak hanya memperbanyak roti dan mengenyangkan perut, namun Dia memberikan Diri-Nya sendiri, sehingga Dia mengatakan, “Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-ku” (Mat 26:26). Dan orang yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan mendapatkan kehidupan yang kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (lih. Yoh 6:54). Dan perkataan dan makna yang sama terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1335) menegaskan bahwa mukjizat penggandaan roti adalah merupakan gambaran akan Sakramen Ekaristi.

KGK, 1335.    Mukjizat perbanyakan roti menunjukkan lebih dahulu kelimpahan roti istimewa dari Ekaristi-Nya (Bdk. Mat 14:13-21; 15:32-39.): Tuhan mengucapkan syukur, memecahkan roti dan membiarkan murid-murid-Nya membagi-bagikannya, untuk memberi makan kepada orang banyak. Tanda perubahan air menjadi anggur di Kana (Bdk. Yoh 2:11.) telah memaklumkan saat kemuliaan Yesus. Ia menyampaikan penyempurnaan perjamuan pernikahan dalam Kerajaan Bapa, di mana umat beriman akan minum (Bdk. Mrk 14:25.) anggur baru, yang telah menjadi darah Kristus.

7. Lihat, mereka makan sampai kenyang (ay.20-21)

Dituliskan bahwa para murid membantu membagi-bagikan roti tersebut kepada orang banyak yang telah duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Dan di ayat 20 disebutkan bahwa mereka semua yang berjumlah 5.000 pria ditambah dengan wanita dan anak-anak, makan sampai kenyang. Roti dan ikan yang telah diberkati Kristus bukan hanya cukup mengenyangkan semua orang, bahkan tersisa 12 bakul penuh. Mukjizat yang sama terjadi setiap hari di seluruh dunia dalam setiap perayaan Ekaristi. Kalau jumlah umat Katolik seluruh dunia adalah 1,2 milyar, dan kalau yang mengikuti misa harian adalah satu persen dari total umat, maka setiap hari terjadi penggandaan roti sebanyak 12 juta. Pada hari Minggu, terjadi lebih banyak lagi penggandaan roti. Dan mereka semua dikenyangkan dengan makanan rohani, yaitu Kristus sendiri.

IV. Mari kita memperbaharui iman kita akan Sakramen Ekaristi

Dari ulasan di atas, maka kita dapat melihat adanya kaitan yang sangat erat antara mukjizat penggandaan roti, Perjamuan Terakhir dan Sakramen Ekaristi. Hal ini seharusnya memperkuat iman kita akan Kristus yang sungguh-sungguh hadir (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam setiap perayaan Ekaristi. Bahkan kalau Kristus sendiri menyediakan Diri-Nya untuk bersatu dengan umat-Nya dalam setiap perayaan Ekaristi, maka sudah seharusnya umat Allah dapat datang kepada Kristus serta berpartisipasi secara aktif, bukan hanya saat Misa Minggu, namun juga berusaha untuk hadir dalam misa harian. Mari, kita menyediakan diri kita, menyisihkan waktu kita, membawa beban dan sukacita kita, serta menyatukannya dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi.

Pandangan Iman Katolik terhadap Hedonisme

2

Pertanyaan:

Apa pandangan iman katolik terhadap HEDONISME ?
Berto

Jawaban:

Shalom Berto,

Hedonisme, paham yang mengejar kesenangan/ kenikmatan dunia (yang sifatnya sementara) sebagai tujuan hidup, tidak sejalan dengan iman Kristiani, yang mengajarkan akan kebahagiaan kekal sebagai tujuan hidup.

Berikut ini adalah pengertian tentang hedonisme yang kami terjemahkan dari link ini, silakan klik:

Hedonisme

Ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan hidup dan kebaikan manusia yang tertinggi. Dengan kesenangan, para hedonis sejati berpegang pada pengakuan kenikmatan- kenikmatan yang tidak sempurna di dunia ini.

Hedonisme pertama kali diformulasikan oleh filsuf Yunani Aristippus (c. 435-360 B.C.). Salah paham terhadap ajaran Socrates (470-399 B.C.), yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir kehidupan, Aristippus menyamakan kebahagiaan dengan kesenangan. Ia berpegang bahwa kesenangan intelektual adalah lebih tinggi daripada kesenangan indera, tetapi yang terpenting adalah kesenangan yang dapat diperoleh di sini dan sekarang. [Menurut Aristippus], suatu perbuatan adalah baik, dan karena itu merupakan kebajikan, sepanjang itu memberikan pemuasan pada saat ini.

[Prinsip] Hedonisme disempurnakan oleh Epicurus (c. 341-270 B.C.), yang menggabungkannya dengan teori fisik dari Demokritus (c. 460-370 BC)…. Bagi Epicurus, tujuan hidup bukanlah kesenangan intensif tetapi kedamaian pikiran yang tetap, suatu tingkatan ketenangan yang ceria. Di atas semua itu seseorang harus menghindari ketakutan terhadap Tuhan dan ketakutan terhadap kematian. Orang bijak tersebut menetapkan bahwa sebelum kematiannya ia telah mempunyai sebanyak mungkin jumlah kesenangan dan sesedikit mungkin kesakitan/ penderitaan. Moderasi dianjurkan namun bukan atas dasar pertimbangan moral namun atas kesanggupan seseorang untuk menikmati kesenangan di masa mendatang dalam hidupnya. Keinginan/ hasrat harus dibatasi kepada batas- batas yang didalamnya hal tersebut dapat dipuaskan. Apapun yang meningkatkan kesenangan ataupun kedamaian pikiran secara umum adalah baik, dan apapun yang menguranginya adalah buruk. Hedonisme modern adalah filosofi moral yang dipilih oleh mereka yang mengingkari atau meragukan keberadaan hidup yang akan datang. (Diterjemahkan dari Fr. John Hardon’s Modern Catholic Dictionary).

Melihat pengertian di atas, maka prinsip hedonisme sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik. Katekismus mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan kerinduan untuk mencapai kebahagiaan, namun kebahagiaan yang dimaksud di sini adalah kebahagiaan yang tidak terbatas oleh kesenangan duniawi, tetapi kebahagiaan yang tak terukur yang hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan.

KGK 1718     Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya:

“Pastilah kita semua hendak hidup bahagia, dan dalam umat manusia tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan rumus ini, malahan sebelum ia selesai diucapkan” (Agustinus, mor. eccl. 1,3,4).

“Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia. Aku hendak mencari Engkau, supaya jiwaku hidup. Karena tubuhku hidup dalam jiwaku, dan jiwaku hidup dalam Engkau” (Agustinus, conf. 10,29).

“Allah sendiri memuaskan”/ God alone satisfies. (Tomas Aquinas, symb. 1)

Mengagungkan kesenangan dunia/ kesenangan daging malahan dikecam oleh Rasul Petrus (lih. 1 Ptr 2:11), Paulus (lih. Gal 5:19-21) dan Yohanes (lih. 1 Yoh 2:16). Jika dihubungkan dengan prinsipnya, hedonisme termasuk dalam dosa kerakusan, yaitu salah satu kebiasaan buruk yang menjadi dosa pokok (capital sin).

KGK 1866    Kebiasaan buruk dapat digolongkan menurut kebajikan yang merupakan lawannya, atau juga dapat dihubungkan dengan dosa-dosa pokok yang dibedakan dalam pengalaman Kristen menurut ajaran santo Yohanes Kasianus dan santo Gregorius Agung (Bdk. mor 31,45). Mereka dinamakan dosa-dosa pokok, karena mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dosa-dosa pokok adalah kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan, kelambanan, atau kejemuan [acedia].

Demikian, semoga uraian di atas menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

The Golden Rule, Mat 7:12

6

Pertanyaan:

Mat 7:12″ Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. Ada yang mengatakan firman ini adalah peraturan Emas. Mohon penjelasan?

Lacius Dalius

Jawaban:

Shalom Lacius,

Memang Mat 7:12 yang mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”, sering disebut peraturan emas/ the Golden Rule; mengingat bahwa prinsipnya sungguh sederhana namun begitu indah dan penting dalam membina hidup kebersamaan dengan sesama kita.

Berikut ini adalah keterangan yang saya terjemahkan dari penjelasan dalam The Navarre Bible:

“Peraturan emas ini memberikan kepada kita sebuah patokan untuk menyadari kewajiban kita terhadap sesama, dan kasih yang harus kita berikan kepada sesama. Namun demikian, jika diinterpretasikan secara superfisial, peraturan ini dapat menjadi peraturan yang egois. [Padahal] peraturan ini tidak berarti, “Saya memberi kamu sesuatu supaya kamu memberiku sesuatu”, tetapi bahwa kita harus berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih: kita cukup pandai untuk tidak memberi batas dalam hal sebanyak apa kita mengasihi diri sendiri. Peraturan ini disempurnakan oleh “perintah Yesus yang baru” (lih. Yoh 13:34), ketika Ia mengajar kita untuk mengasihi sesama sebagaimana Ia telah mengasihi kita.” (The Navarre Bible, St. Matthew, Jose Maria Casciaro, ed.,(Dublin, Ireland: Four Courts Press, reprint 1993), p. 82)

Sedangkan penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard ed.  adalah:

“Peraturan emas (lih. Luk 6:31)- Pesan keseluruhan Kitab suci yang digenapi oleh Tuhan Yesus dirangkum dengan ini: Di dalam segala sesuatu yang menyangkut sesama (cinta kasih, pengampunan, dst) tolok ukur sikap yang terbaik bagi kita adalah perlakuan yang kita inginkan untuk kita terima (meskipun tidak/ belum kita terima) dari sesama kita. Hal ini menghilangkan keinginan yang kita miliki di dalam diri sendiri atau lebih tepatnya membaginya dengan sesama sehingga memperbaiki suatu keseimbangan. Injil Matius mengajarkan kasih kepada sesama yang melibatkan kasih kepada Tuhan sebagai motivasinya (lih. Mat 22:34-40). Untuk rumusan negatif tentang the Golden Rule, lihat Tob 4:15: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa Silih

4

Pertanyaan:

Trima kasih ,,,sangat berguna bagi saya

Tanya
1. Apa itu doa silih
2. Kapan dilakukan
3. contoh doa silih

Mohon jawabannya
Trima kasi….. Tuhan memberkati.

Theresia

Jawaban:

Shalom Theresia,

Silih (reparation) adalah “tindakan atau fakta memperbaiki kesalahan. Itu mencakup usaha untuk mengembalikan hal-hal kepada keadaan mereka yang normal atau baik, sebagaimana sebelum kesalahan dilakukan. Itu berkenaan terutama untuk mengganti rugi bagi kerugian/ kehilangan yang diderita atau kerusakan yang disebabkan oleh tindakan yang buruk secara moral. Berkenaan dengan Tuhan, silih berarti berusaha menyenangkanNya, dengan kasih yang lebih besar untuk kegagalan kasih karena dosa; silih berarti mengembalikan apa yang telah dengan tidak adil diambil dan mengganti/ menebus dengan kemurahan hati bagi keegoisan yang telah menyebabkan luka.”
(
Catholic Dictionary, ref: https://www.catholicculture.org/culture/library/dictionary/index.cfm?id=36047)

Selanjutnya tentang silih, berdasarkan keterangan dari link ini, silakan klik:

Silih (reparation) merupakan konsep teologis yang berkaitan dengan penebusan dan keadilan sehingga berkaitan dengan misteri terdalam dalam iman Kristiani. Iman Kristiani mengajarkan bahwa manusia telah jatuh dari keadaan asalnya (keadaan pada saat diciptakan), dan melalui penjelmaan Kristus, sengsara dan wafat-Nya, Ia telah menebus dan mengembalikan manusia kembali sampai ke tingkat tertentu keadaan asalnya tersebut. Meskipun Tuhan dapat saja mengampuni tanpa menghendaki keadilan (harga yang harus dibayar) dalam penebusan dosa manusia itu, namun kebijaksanaan-Nya tidak menentukan demikian. Ia menghendaki agar dipenuhi suatu keadilan, sesuatu yang harus dibayar untuk segala luka yang telah diperbuat oleh manusia kepada-Nya. Adalah baik bagi pendidikan manusia bahwa kesalahannya dapat berakibat bahwa sesuatu harus dilakukan untuk menebusnya. Dan penebusan ini telah dilakukan dengan adil kepada Allah Bapa, melalui penderitaan, wafat Kristus Sang Allah Putera yang menjelma menjadi manusia bagi kita. Dengan ketaatan yang dilakukan dengan sukarela untuk menderita dan wafat di kayu salib, Yesus Kristus menebus bagi kita ketidaktaatan dan dosa. Dengan demikian Ia membuat silih terhadap keagungan Tuhan yang telah terganggu oleh kekejaman manusia ciptaan-Nya. Kita dikembalikan kepada kondisi rahmat melalui jasa kematian Kristus, dan rahmat itu memampukan kita untuk menambahkan/ menggabungkankan doa- doa kita, perbuatan dan penderitaan kita kepada segala yang dialami oleh Kristus, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus yang “menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). Oleh karena itu kita dapat membuat silih demi keadilan Tuhan, bagi pelanggaran dosa kita sendiri, dan dengan adanya persekutuan para kudus yang tergabung dalam Tubuh Mistik Kristus, kita sebagai sesama anggota Kristus, dapat juga membuat silih bagi dosa- dosa sesama kita.

Misa Kudus, yaitu penghadiran kembali akan kurban Yesus oleh kuasa Roh Kudus, dipersembahkan untuk membuat silih dosa umat manusia. Katekismus mengajarkan:

KGK 1414     Sebagai kurban, Ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati (in reparation for the sins of the living and the dead) dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan.

Dengan demikian, dengan mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi, kita mengambil pula bagian dalam kurban silih yang dilakukan Kristus demi menebus dosa umat manusia. Oleh karena itu, kita yang tergabung dalam Tubuh Mistik Kristus dapat juga mempersembahkan kepada Tuhan doa- doa silih, baik bagi pengampunan dosa- dosa kita sendiri, maupun bagi pengampunan dosa sesama, dan semuanya ini tentu mengambil sumber dari jasa pengorbanan Kristus.

Semoga penjelasan di atas menjawab pertanyaan anda tentang doa silih. Doa silih dapat dilakukan kapan saja, namun jika ingin dikaitkan dengan devosi tertentu, dapat dilakukan secara khusus setiap hari Jumat sepanjang tahun (yang  bertepatan dengan hari wafat Kristus), terutama pada setiap hari Jumat pertama setiap bulan, seperti yang dikatakan Kristus dalam wahyu pribadi St. Margaret Alacoque, tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus. Contoh doa silih yang paling sempurna adalah Misa Kudus, selanjutnya adalah adorasi Sakramen Mahakudus, doa novena Hati Kudus Yesus, doa Koronka Kerahiman Ilahi, maupun doa- doa lainnya yang intinya mempersembahkan hidup kita dan doa pujian kepada Tuhan demi pengampunan dosa kita maupun dosa sesama kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa OMK perlu memahami imannya?

21

“Malu bertanya, sesat di jalan”

Pernahkah anda ‘nyasar‘ ketika sedang dalam perjalanan? Coba kita ingat- ingat, bagaimana rasanya, tentu tidak enak bukan? Bisa jadi kita sudah mempunyai peta ke tempat tujuan itu, tetapi karena satu dan lain hal, eh kita masih bisa kesasar di tengah jalan. Misalnya, jika kita terlalu asyik mengobrol dengan teman seperjalanan, tahu- tahu kita menikung, padahal seharusnya lurus. Jika ini yang terjadi, umumnya yang kita lakukan adalah bertanya kepada orang lain yang kita jumpai, agar kita memperoleh petunjuk tentang jalan mana yang harus kita tempuh agar sampai ke tujuan kita.

Dalam kehidupan kita di dunia, hal yang serupa juga terjadi. Sebab sesungguhnya hidup kita di dunia ini adalah perjalanan yang seharusnya menghantar kita ke tujuan akhir, yaitu kebahagiaan abadi di Surga. Oleh karena itu, tidak usah heran, bahwa di dalam hati setiap orang selalu ada keinginan untuk hidup bahagia. Jujur saja, bukankah semua orang, baik tua maupun muda, ingin bahagia? Tetapi, harus diakui, bahwa untuk mencapai kebahagiaan di dunia ini  gampang- gampang susah. Sebabnya adalah:  dunia di sekitar kita banyak menawarkan kebahagiaan yang palsu, yang sifatnya se-saat saja, seperti permen yang manis di luar, tetapi pahit di dalam. Sehingga ada banyak orang tertipu, dan akhirnya tidak bahagia.

Nah, supaya kita benar- benar bisa hidup bahagia, kita perlu petunjuk; dan petunjuk ini kita dapatkan dari Tuhan Yesus, yang masih terus hadir dan mengajar melalui Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik. Dengan menaati ajaran Gereja-Nya inilah kita pasti akan sampai kepada tujuan akhir kita, di mana kita akan mencapai puncak kebahagiaan yang kita rindukan, yaitu saat kita bersatu dengan Tuhan dan memandang wajah-Nya yang sesungguhnya (lih. 1 Yoh 3:2). Dunia ini boleh memberikan banyak tawaran, supaya kita lengah dan menyimpang dari tujuan akhir itu, tetapi jika kita tetap berpegang kepada ajaran iman kita yang kita peroleh dari Gereja-Nya, maka kita punya pengharapan yang besar, kita tidak akan nyasar, atau jika sekalipun nyasar, maka segera dapat kembali menemukan jalan yang benar.

Semua orang ingin hidup bahagia

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa keinginan untuk hidup bahagia itu berasal dari Tuhan (lih. KGK 1718). Tuhanlah yang menanamkan keinginan tersebut di dalam hati setiap orang, supaya kita dapat datang mendekat kepada-Nya, sebab hanya Tuhan satu- satunya yang dapat memenuhi kebahagiaan itu dengan sempurna. Ada semacam kata- kata mutiara, yang ditulis oleh St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas, yang berbunyi demikian:

Kita semua ingin hidup bahagia; di keseluruhan umat manusia, tidak ada seorangpun yang tidak setuju dengan pendapat ini, bahkan sebelum keinginan ini sepenuhnya tercapai. ((St. Agustinus, De moribus eccl. 1,3,4: PL 32, 1312)).

Lalu, bagaimana bisa terjadi, bahwa aku mencari Engkau, ya Tuhan? Sebab dengan mencari Engkau, Tuhanku, aku mencari kebahagiaan hidup… ((St. Agustinus, Confessions, 10, 20: PL 32, 791)).

Tuhan sendirilah yang memuaskan- God alone satisfies. ((St. Thomas Aquinas, Expos. in symb. apost. I ))

Jangan memakai resep sendiri, tetapi pakailah resep Tuhan

Meskipun kita tahu bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya hanya diperoleh di dalam Tuhan, ada banyak orang berusaha mencari dan menentukan sendiri kebahagiaannya. Mungkin bagi orang muda, kebahagiaan disamakan dengan jalan- jalan bersama teman- teman, main game yang seru di komputer, sukses di sekolah maupun di pekerjaan, bisa berpenampilan OK, atau dapat pacar yang keren. Lalu, bagaimana jika semua itu tidak kita peroleh, apakah lalu kita punya alasan untuk tidak bahagia? Apakah kita akan kehilangan jati diri karenanya? Kabar baik yang Tuhan beri kepada kita adalah: kita tidak perlu takut kehilangan jati diri. Sebab kita semua diciptakan oleh Tuhan secara istimewa menurut gambaran-Nya (lih. Kej 1:26). Coba sejenak kita bayangkan seseorang yang paling mengasihi kita di dunia ini…. Nah, kasih Tuhan jauh melebihi kasih orang itu kepada kita. Buktinya, Tuhan bukan saja mengaruniakan banyak hal kepada kita dan mengabulkan permohonan kita, tetapi, lebih daripada itu: Ia menyerahkan Putera-Nya yang Tunggal demi menyelamatkan kita.

Ya, kita semua dikasihi-Nya dengan luar biasa, sehingga Allah Bapa mengutus Yesus Putera-Nya yang Tunggal untuk menjadi manusia dan wafat bagi kita, supaya oleh Dia, dosa- dosa kita diampuni dan kita semua dapat diangkat untuk menjadi anak- anak-Nya. Kasih Tuhan inilah yang menghendaki agar kita dapat bersatu dengan-Nya, baik di dunia ini, maupun di surga kelak. Oleh karena itu, kebahagiaan yang sesungguhnya sebenarnya tidak terbatas pada apa- apa yang dapat kita lihat dan rasakan di dunia ini, tetapi terutama adalah yang berkaitan dengan kehidupan kekal di surga kelak. Yesus bersabda, “….carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33). Tuhanlah yang menciptakan kita dan terlebih dahulu mengasihi kita; oleh karena itu wajarlah jika Ia ingin agar kita mengenal dan mengasihi-Nya juga. Karena kasih-Nya, Ia ingin agar kita hidup bahagia, maka jika kita ingin benar- benar bahagia, kita harus memperhatikan ‘resep‘ yang diberikan Tuhan ini, yaitu yang pertama- tama kita harus mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Resep berikutnya dari Tuhan adalah: sesungguhnya Ia menghendaki agar semua orang dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya (lih. 1 Tim 2:4). Jadi sudah menjadi kehendak Tuhan agar kita membagikan Kabar Gembira ini kepada orang- orang di sekitar kita, agar merekapun dapat masuk dalam Kerajaan-Nya.

Semua orang dipanggil untuk masuk dalam Kerajaan Allah

Setiap orang dipanggil Allah untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya (lih. KGK 543). Walaupun pertama- tama kabar ini diberikan kepada bangsa Israel, tetapi sesungguhnya Kerajaan ini dimaksudkan Allah untuk menerima semua bangsa. Untuk masuk ke dalam Kerajaan ini, pertama- tama kita harus menjadi anak-anak Allah, yang ‘dilahirkan kembali dari Allah’ (lih. KGK 526). Kelahiran kembali di dalam Tuhan Yesus kita peroleh dalam sakramen Baptis. Selanjutnya, kita harus menerima sabda Yesus dengan iman, dan dengan demikian kita menjadi seperti tanah gembur yang menerima benih, sehingga kelak menghasilkan buah yang banyak (lih. Lumen Gentium 5, Mrk 4:14, 26-29, Luk 12:32).

‘Buah yang banyak’ ini juga dijanjikan oleh Yesus kepada semua orang yang tinggal di dalam Dia (lih. Yoh 15:4-5). Artinya, jika kita ingin membuat hidup ini berarti dan membawa manfaat bagi diri kita dan orang lain, maka kita perlu hidup bersama Yesus, dan tinggal di dalam Dia, seperti ranting- ranting pohon yang bersatu dengan batang pohon. Nah, untuk itu kita perlu bertanya kepada diri kita: sejauh mana kita sebagai ranting- ranting Kristus bersatu dengan Dia, di dalam doa, membaca, merenungkan dan melaksanakan Sabda-Nya, dan dalam menerima sakramen- sakramen-Nya? Sejauh mana kita hidup saling mengasihi dengan sesama saudara di dalam Kristus?

Siapa yang memegang kunci Kerajaan Allah

Sabda Allah memberitahukan kepada kita bahwa di awal kehidupan-Nya di muka umum, Yesus memilih dua belas rasul untuk mengambil bagian dalam perutusan-Nya (lih. Mrk 3:13-19). Kristus memperbolehkan mereka mengambil bagian dalam kuasa-Nya dan mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan menyembuhkan orang sakit (lih. Luk 9:2). Melalui mereka dan para penerus merekalah Kristus memimpin Gereja-Nya. Maka, tak mengherankan, jika Sabda Tuhan mengajarkan, bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja, yaitu jemaat Allah yang hidup (lih. 1 Tim 3:15). Jangan lupa, bahwa Kristus telah memilih Rasul Petrus sebagai pemimpin Gereja-Nya, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 16:18-19). Jadi, kita ketahui bahwa Kristus telah memberikan kunci Kerajaan Allah ini kepada Rasul Petrus (lih. Mat 16:19), dan dengan demikian mempercayakan kepemimpinan jemaat-Nya di dunia ini kepada Rasul Petrus. Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ adalah kuasa mengajar umat-Nya yang diberikan kepada para rasul (lih. Mat 18:18) demikian pula dalam hal pengampunan dosa (lih. Yoh 20:21-23), namun terutama kepada Rasul Petrus, sebagai pemimpin para rasul.

Jika kita merenungkan hal ini, maka kita akan mengetahui bahwa Kristus mendirikan satu Gereja (jemaat), dan menghendaki agar jemaat-Nya bersatu di bawah pimpinan Rasul Petrus dan para rasul. Sebab Tuhan Yesus menghendaki agar Gerejanya tetap ada sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20), maka kepemimpinan Rasul Petrus dan para rasul ini juga terus berlangsung melalui para penerus mereka sampai akhir zaman. Nah, sekarang, Gereja (jemaat) manakah yang dipimpin oleh penerus Rasul Petrus? Jawabnya lugas dan sederhana: Gereja Katolik. Gereja Katolik sekarang dipimpin oleh Paus Benediktus XVI, yang merupakan penerus Rasul Petrus, yang jika diurut dari Rasul Petrus, menempati urutan ke 266.

Mengalami Kerajaan Allah di dunia ini di dalam Gereja Katolik

Maka dengan menjadi Katolik, kita sesungguhnya sangat diberkati oleh Tuhan. Betapa tidak, kita termasuk di dalam anggota Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri! Kita menerima kepenuhan rahmat Allah yang dijanjikan Tuhan Yesus melalui kehadiran-Nya di dalam Gereja-Nya. Dengan kehadiran-Nya ini, Kerajaan Allah sudah dapat kita alami di dunia ini. Sebab di mana Yesus meraja, di sanalah hadir pula Kerajaan-Nya yang tak terpisahkan dari-Nya. Kristus meraja dalam Gereja-Nya, dalam pewartaan Sabda-Nya, dalam sakramen- sakramen-Nya secara khusus dalam Ekaristi. Ekaristi merupakan cara yang unik yang dikehendaki-Nya, untuk tetap hadir di tengah- tengah Gereja-Nya. Jadi setiap kita menyambut Ekaristi, kita menyambut Yesus dan Kerajaan-Nya (lih. KGK 1380). “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (Luk 22:19; 1 Kor 11:24) demikian pesan Yesus kepada para rasul-Nya. Jika kita menghayati makna ini, kita tidak akan malas ataupun terpaksa ikut perayaan Ekaristi/ Misa.

Dalam Ekaristi, Kerajaan Allah bukan saja hanya dekat, tetapi malah menghampiri dan bersatu dengan kita. Saat kita menerima Ekaristi, Kerajaan Allah hadir di dalam kita di sini dan sekarang (‘here and now’), yang merupakan gambaran jaminan kemuliaan Kerajaan Surgawi yang akan datang (lih. KGK 1402, 1419)  Ekaristi memampukan kita untuk tinggal di dalam kasih dan berbuat kasih, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi saksi yang hidup tentang kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Nah, mari kita memeriksa sikap dan perbuatan kita sehari- hari: Sudahkah kita melakukan panggilan Tuhan ini, yaitu untuk menyambut-Nya dalam Ekaristi dan menjadi saksi akan kasih Allah yang kita terima? Bagaimana sikap kita terhadap orang tua, kakak, adik, teman, guru, pembantu dan orang- orang di sekitar kita? Sebab setelah menerima benih kasih dan Firman Allah di dalam hati kita, kitapun dipanggil Allah untuk turut bekerja sama dengan Dia menaburkan benih tersebut di dalam hati sesama. Dengan demikian kasih Tuhan dan Kerajaan-Nya dapat dialami oleh semakin banyak orang, dan semakin banyak orang memuliakan nama-Nya.

Kesimpulan: Mari mendalami iman Katolik

Jika kita menyadari bahwa Kristus hadir di tengah- tengah kita sebagai anggota Gereja-Nya, maka hal yang harus kita lakukan selanjutnya adalah bagaimana kita mensyukurinya, menghayatinya dan mewartakannya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kalau kita ‘tak kenal maka tak sayang’. Bukankah ini sungguh benar? Jika kita mau menghayati kehadiran Kristus, mengalami Kerajaan-Nya yang hadir di dalam hati kita dan di dalam Gereja-Nya, maka pertama- tama kita perlu mengenal atau mengetahui iman Katolik sehingga kita dapat mengasihinya. Sebab Kristus hanya mendirikan satu Gereja, dan Gereja-Nya itu didirikan di atas Rasul Petrus (Mat 16:18), yang diberi kuasa oleh Kristus untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (lih. Mat 16:19), artinya untuk mengajar dan memimpin umat-Nya. Dengan demikian, jika kita ingin sungguh- sungguh mengalami Kristus yang hadir di tengah kita dan mengajar kita, maka kita perlu mendengarkan ajaran Gereja Katolik. Selanjutnya, yang terpenting adalah bukan hanya sekedar mendengarkan, namun juga mempelajarinya dan melaksanakannya. Dengan demikian, kita dapat sungguh- sungguh hidup dan tinggal di dalam Kristus, yang menjadikan hidup kita menghasilkan buah yang limpah. Di dalam Kristus kita tidak akan tersesat, melainkan kita akan menemukan arti hidup dan mencapai tujuan hidup kita, yaitu kebahagiaan sejati. Inilah alasannya mengapa kita semua, terutama kaum muda, perlu memahami ajaran iman kita. Jangan menunggu sampai umur kita sudah lanjut baru mau mempelajari iman kita. Mari memberikan yang terbaik kepada Tuhan, yaitu: kasih kita kepada-Nya, sejak masa muda kita, dan seterusnya!

Appendix

KGK 1718 Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya….

KGK 526 “Menjadi anak” di depan Allah adalah syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan surga (Bdk. Mat 18:3-4). Untuk itu, orang harus merendahkan diri (Bdk. Mat 23:12), menjadi kecil; lebih lagi: orang harus “dilahirkan kembali” (Yoh 3:7), “dilahirkan dari Allah” (Yoh 1:13), supaya “menjadi anak Allah” (Yoh 1:12).

KGK 543 Semua orang dipanggil supaya masuk ke dalam Kerajaan. Kerajaan mesianis ini pertama-tama diwartakan kepada anak-anak Israel (Bdk. Mat 10:5-7), tetapi diperuntukkan bagi semua orang dari segala bangsa (Bdk. Mat 8:11; 28:19). Siapa yang hendak masuk ke dalam Kerajaan itu, harus menerima sabda Yesus.
“Memang, sabda Tuhan diibaratkan benih, yang ditaburkan di ladang (lih. Mrk 4:14); mereka yang mendengarkan sabda itu dengan iman dan termasuk kawanan kecil Kristus (lih. Luk 12:32), telah menerima Kerajaan itu sendiri. Kemudian benih itu bertunas dan bertumbuh atas kekuatannya sendiri hingga waktu panen (lih. Mrk 4:26-29)” (Lumen Gentium 5).

KGK 1380 Adalah sangat layak bahwa Kristus hendak hadir di dalam Gereja-Nya atas cara yang khas ini. Karena Kristus dalam rupa yang kelihatan [saat itu hendak] meninggalkan mereka yang menjadi milik-Nya, maka Ia hendak memberi kepada kita kehadiran sakramenal-Nya; karena [saat itu hendak] Ia menyerahkan diri di salib untuk menyelamatkan kita, Ia menghendaki bahwa kita memiliki tanda kenangan cinta-Nya terhadap kita, yang dengannya mengasihi kita “sampai kesudahannya” (Yoh 13:1), bahkan sampai kepada menyerahkan hidup-Nya. Di dalam kehadiran-Nya dalam Ekaristi, Ia tinggal dengan cara yang rahasia di tengah kita sebagai Dia, yang telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diri untuk kita (Bdk. Gal 2:20), dan Ia hadir di dalam tanda-tanda yang menyatakan dan menyampaikan cinta kasih ini.

“Gereja dan dunia sangat membutuhkan penghormatan kepada Ekaristi. Di dalam Sakramen cinta ini Yesus sendiri menantikan kita. Karena itu, tidak ada waktu yang lebih berharga daripada menemui Dia di sana: dalam penyembahan, dalam kontemplasi dengan penuh iman, dan siap untuk memberi silih bagi kesalahan besar dan ketidakadilan yang ada di dunia. Penyembahan kita tidak boleh berhenti” (Yohanes Paulus II, surat Dominicae cenae, 3).

KGK 1402 Di dalam satu doa tua Gereja memuji misteri Ekaristi: “O perjamuan kudus, di mana Kristus adalah santapan kita; kenangan akan sengsara-Nya, kepenuhan rahmat, jaminan kemuliaan yang akan datang”. Karena Ekaristi adalah upacara peringatan Paska Tuhan, dan karena kita, oleh “keikutsertaan kita pada altar… dipenuhi dengan semua rahmat dan berkat surgawi” (MR, Doa Syukur Agung Romawi 96), maka Ekaristi adalah juga antisipasi kemuliaan surgawi.

KGK 1419 Oleh karena Kristus telah pergi dari dunia ini kepada Bapa-Nya, maka dalam Ekaristi, Ia memberi kepada kita jaminan akan kemuliaan-Nya yang akan datang. Keikutsertaan dalam kurban kudus membuat hati kita menyerupai hati-Nya, menopang kekuatan kita dalam peziarahan hidup ini, membuat kita merindukan kehidupan abadi, serta menyatukan kita sekarang ini dengan Gereja surgawi, Perawan Maria yang kudus, dan dengan semua orang kudus.

Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium 9:

“Sesungguhnya akan tiba saatnya – demikianlah firman Tuhan, – Aku akan mengikat perjanjian baru dengan keluarga Israel dan keluarga Yuda … (Yer 31:31-34). Perjanjian baru itu diadakan oleh Kristus, yakni wasiat baru dalam darah-Nya (lih. 1Kor 11:25). Dari bangsa Yahudi maupun non- Yahudi, Ia memanggil suatu bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan akan menjadi umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman akan Kristus, yang dilahirkan kembali bukan dari benih yang punah, melainkan dari yang tak dapat punah karena sabda Allah yang hidup (lih. 1Ptr 1:23), bukan dari daging, melainkan dari air dan Roh kudus (lih. Yoh 3:5-6), akhirnya dihimpun menjadi “keturunan terpilih, imamat rajawi, bangsa suci, umat pusaka – yang dulu bukan umat, tetapi sekarang umat Allah”(1Ptr 2:9-10).

Kepala umat masehi itu Kristus, “yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rom 4:25), dan sekarang setelah memperoleh nama – berdaulat dengan mulia di sorga. Kedudukan umat itu ialah martabat dan kebebasan anak-anak Allah. Roh kudus diam di hati mereka bagaikan dalam kenisah. Hukumnya adalah perintah baru untuk mengasihi, seperti Kristus sendiri telah mengasihi kita (lih. Yoh 13:34). Tujuannya [adalah] Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia, untuk selanjutnya disebarluaskan, hingga Ia membawanya mencapai kesempurnaan pada akhir jaman, ketika Kristus, hidup kita, menampakkan diri (lih. Kol 3:4), dan “makhluk sendiri akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan memasuki kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rom 8:21). Oleh karena itu umat masehi, meskipun kenyataannya tidak merangkum semua orang, dan tak jarang nampak sebagai kawanan kecil, namun bagi seluruh bangsa manusia merupakan benih kesatuan, harapan dan keselamatan yang kuat. Terbentuk oleh Kristus sebagai persekutuan hidup, cinta kasih dan kebenaran, umat itu oleh-Nya diangkat juga menjadi upaya penebusan bagi semua orang, dan diutus ke seluruh bumi sebagai cahaya dan garam dunia (lih. Mat 5:13-16).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab