Home Blog Page 203

Ef 5:16, “Redeeming the time”

3

Pertanyaan:

Bapak Pengasuh Katolisitas

Mohon tanya apakah Efesus 5 : 16 yang di dalam bahasa Ingris ditulis “Redeeming the time” apakah di dalam bahasa aslinya berarti “Tebus waktu” ?
Kalau memang benar : Apakah artinya tebus waktu tersebut dan bagaimana caranya menebus waktu ?

Tx / S.Ginting

Jawaban:

Shalom S. Ginting,

Ef 5:16 mengatakan, “pergunakan waktu yang ada, karena hari- hari ini adalah jahat.”

Dalam Douay Rheims Bible dan King James Version, memang tertulis, “redeeming the time….” Namun istilah ini adalah semacam idiom, sehingga tidak untuk diterjemahkan literal sebagai ‘menebus waktu/ tebus waktu’. Dalam kitab Revised Standard Version (RSV) dan New American Bible (NAB) artinya lebih jelas, “making the most of the time ….”

Demikian adalah penjelasan yang saya peroleh dari The Navarre Bible, Captivity Epistles:

“Ketika kehidupan seseorang sesuai (koheren) dengan imannya, maka hasilnya adalah kebijaksanaan sejati; dan inilah yang langsung memimpinnya untuk mempergunakan waktu yang ada semaksimal mungkin (‘make the most of the time‘, atau ‘redeeming the time‘). Faktanya, kita harus memperbaiki waktu- waktu yang terbuang percuma. St. Agustinus menjelaskan, bahwa redeeming the time “berarti berkorban saat adanya kebutuhan, menghadirkan perhatian- perhatian yang terarah kepada hal- hal yang bersifat kekal, dan dengan demikian memperoleh kekekalan dengan koin waktu (St. Agustinus, Sermon 16, 2).

Kata kairos, yang diterjemahkan sebagai ‘waktu’, mempunyai arti yang khusus dalam bahasa Yunani. Kata itu mengacu kepada isi waktu tertentu yang di dalamnya kita menemukan diri sendiri, kondisi yang diciptakannya, dan kesempatan- kesempatan yang merupakan saat- saat yang menawarkan maksud yang tertinggi/ final dari kehidupan ini. Sehingga ‘menggunakan waktu yang ada/ making the most of the time‘ adalah bukan sekedar ‘tidak membuang- buang waktu’; tetapi berarti ‘mempergunakan setiap keadaan dan setiap saat’ untuk memberi kemuliaan kepada Tuhan. Sebab “waktu adalah harta yang meleleh,” demikian dikatakan oleh Monsinyur Escriva. “Waktu berlalu dari kita, meluncur melalui jari- jari kita seperti air melalui batu- batu pegunungan. Hari esok akan segera menjadi hari kemarin. Kehidupan kita sangatlah pendek. Hari kemarin telah berlalu dan hari ini sedang lewat. Tetapi betapa besar yang dapat dilakukan demi kasih kepada Tuhan, di dalam ruang waktu yang singkat ini!” (Jose Maria Escriva, Friends of God, 52, seperti dikuti di The Navarre Bible, Captivity Epistles, Jose Maria Casciaro, (Dublin, Ireland: Four Cour Press, 1996, reprinted), p. 86-87).

Demikian tanggapan saya, semoga Tuhan membimbing kita agar menggunakan waktu di dalam hidup kita yang singkat ini untuk menjadikannya bermakna bagi kehidupan kekal, demi kemuliaan Tuhan kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kerajaan Sorga Seumpama Harta, Mutiara, dan Pukat

3

I. Kerajaan Sorga adalah segalanya.

Pada minggu ke-17 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan tiga perumpamaan terakhir tentang Kerajaan Sorga, yang diumpamakan seperti seorang yang menjual segala yang dia punyai demi memiliki harta dan mutiara yang berharga. Dengan demikian kita melihat bahwa Kerajaan Sorga adalah sesuatu yang sudah seharusnya menjadi fokus utama dan tujuan dari kehidupan kita. Hal-hal yang lain dianggap sebagai kurang penting, atau dengan kata lain, hal-hal yang bersifat kekal seharusnya dipandang lebih utama daripada hal-hal yang sementara.

II. Telaah Matius 13:44-52

44.  “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
45.  Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
46.  Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
47.  “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
48.  Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
49.  Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
50.  lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
51.  Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.”
52.  Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Dari ayat-ayat di atas, maka kita melihat bahwa di bagian pertama, Kristus memberikan dua perumpamaan tentang Kerajaan Allah, yaitu: (a) seperti harta yang terpendam di ladang (ay.44), (b) pedagang yang mencari mutiara yang indah. (ay.45-46) Di bagian kedua, Kristus memberikan perumpamaan lain, bahwa Kerajaan Sorga adalah seumpama pukat yang dilabuhkan ke laut, dan berbagai jenis ikan dikumpulkan dan ditangkap (ay.47-48), yang kemudian dijelaskan artinya sebagai akhir zaman, di mana yang baik akan mendapatkan kehidupan kekal di Sorga dan yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di neraka (ay. 49-50). Dan di ayat 51-52 dijelaskan bahwa para murid juga menerima perutusan untuk menjaring manusia dengan mewartakan Injil.

III. Interpretasi ayat Matius 13:44-52

1. Tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga

Kalau kita melihat dalam konteks yang lebih luas dari ayat Matius 13:44-52, maka dalam Matius 13, kita menemukan adanya tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang terdiri dari: (a) perumpamaan tentang seorang penabur, (b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum, (c) perumpamaan tentang biji sesawi, (d) perumpamaan tentang ragi, (e) perumpamaan tentang harta terpendam, (f) perumpamaan tentang mutiara yang indah, (g) perumpamaan tentang pukat. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih ke pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri dan tanah yang subur, Kristus ingin menunjukkan kondisi. Kondisi yang memungkinkan seseorang menerima Kerajaan Sorga adalah dengan menjadikan diri kita untuk menjadi tanah yang gembur, sehingga Sabda Allah dapat bertumbuh dan berbuah seratus kali, enam puluh kali atau tiga puluh kali lipat. Dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Kristus ingin menekankan bahwa kondisi yang baik agar Sabda Allah bertumbuh tidaklah cukup, namun diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi menunjukkan kekuatan dan keefektifan Kerajaan Allah, yaitu dapat bertumbuh sangat pesat dan luar biasa mulai dari hal yang sangat kecil. Perumpamaan tentang harta dan mutiara menunjukkan harga yang harus dibayar untuk memperoleh Kerajaan Sorga. Dan akhirnya perumpamaan tentang pukat mengulangi perumpamaan tentang lalang di antara gandum, yang menceritakan akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan yang jahat dari yang  baik/benar, serta memberikan hukuman bagi orang yang jahat di neraka dan memberikan anugerah keselamatan bagi umat Allah yang setia sampai akhir. Dengan demikian, maka kita melihat bagaimana tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga memberikan gambaran akan kondisi, syarat, kekuatan dan keefektifan, harga yang harus dibayar, dan kebahagiaan yang didapat atau penderitaan kalau tidak mendapatkannya. Ke-tujuh perumpamaan ini sungguh luar biasa dan melengkapi satu sama lain, sehingga umat Allah semakin disadarkan bahwa Allah sungguh-sungguh menginginkan agar semua manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati di Sorga dan memperoleh pengetahuan sejati akan kebenaran. (1Tim 2:4)

2. Harta di ladang, harta yang terpendam (ay.44)

Perumpamaan pertama dalam perikop minggu ke-17 tahun A ini menceritakan bahwa Kerajaan Allah seumpama seseorang yang menemukan harta di ladang, menguburkannya kembali, dan dengan sukacita menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Dalam Catena Aura, St. Thomas Aquinas mengutip St. Krisostomus yang mengatakan bahwa pemberitaan Injil adalah tersembunyi di dalam dunia ini. St. Hieronimus mengatakan bahwa harta yang tersimpan adalah Allah sendiri yang tersembunyi dalam kemanusiaan Kristus atau Kitab Suci yang membuka pengetahuan akan Sang Penyelamat.

Di ayat ini dikatakan bahwa seseorang “menemukan”. Menemukan mempunyai konotasi tidak sengaja atau tiba-tiba. Seseorang dapat saja menemukan harta terpendam melalui kejadian-kejadian yang tidak disangka-sangka, seperti: dalam penderitaan seseorang menemukan makna hidup dan Kristus; tiba-tiba merasa kosong dalam hidup, yang menuntun pada penemuan jati diri melalui Sabda Allah, dll. Orang tersebut tidak membayar ketika menemukan harta tersebut, namun harta tersebut mempunyai harga yang sangat mahal untuk dimiliki. Namun, karena harta tersebut sungguh sangat berharga melebihi segalanya, maka orang tersebut dengan sukacita menjual seluruh miliknya demi dapat memiliki harta tersebut. Dan memang menemukan Kristus dan menjalin hubungan yang intim dengan Kristus jauh lebih berharga dari apapun.

St. Agustinus menjelaskan bahwa ada empat obyek kasih manusia, yaitu: sesuatu di atas kita, kita sendiri, sesuatu yang sederajat dengan kita dan sesuatu di bawah kita. Karena mencintai diri sendiri adalah merupakan kodrat manusia dan adalah cukup jelas bahwa seseorang tidak seharusnya mencintai sesuatu yang di bawahnya, maka tidak banyak perintah tentang dua hal ini. Namun, di dalam Alkitab disebutkan banyak sekali ayat-ayat untuk mengasihi sesama kita dan terutama untuk mengasihi Tuhan, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (lih. Mat 22:37-40). Dengan demikian, kalau seseorang telah menemukan Tuhan, maka dengan segala risikonya dia harus menempatkan Tuhan di atas segalanya, karena memang hanya Tuhanlah yang berharga untuk dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Apapun yang kita punyai prioritasnya harus di bawah Tuhan, karena Tuhan adalah segalanya dan apapun yang kita punyai adalah milik Tuhan. “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21; Luk 12:34).

3. Mutiara yang indah dan tak ternilai (ay.45-46)

Perumpamaan kedua yang diberikan oleh Yesus tentang Kerajaan Sorga adalah seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah (ay.45) dan setelah menemukannya, dia menjual seluruh hartanya. Di sini ditekankan bahwa Kerajaan Sorga bukan hanya merupakan harta (ay.44), namun juga sesuatu yang indah. Keindahan Kerajaan Sorga ini harus dicari, seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Melalui nabi Yeremia, Tuhan mengatakan “13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yer 29:13-14). Bagi kita yang telah menerima Sakramen Baptis, maka sesungguhnya, kita telah menemukan mutiara yang indah. Namun, belum tentu semua orang yang dibaptis menjalankan hal yang kedua, yaitu menjual seluruh harta miliknya untuk membeli maupun mempertahankan mutiara yang indah. Apakah benar-benar maksudnya menjual seluruh harta miliknya demi mendapatkan Kristus secara penuh? Banyak santa dan santo yang melakukannya, dan para pastor dan suster juga menjalankannya. Bagaimana dengan orang-orang yang berkeluarga, hidup dalam dunia bisnis? Kita dapat menjalankan satu sikap yang juga diajarkan Kristus untuk dapat juga memiliki mutiara yang indah atau Kerajaan Sorga, yaitu sikap miskin di hadapan Allah (lih. Mat 5:3). Orang yang miskin di hadapan Allah senantiasa melihat bahwa harta, kekuasaan, kedudukan dan apapun yang dimilikinya adalah merupakan karunia Tuhan. Dan semuanya ditempatkan dengan semestinya, yaitu sebagai sesuatu yang digunakan (bukan dicintai) untuk semakin memperbesar Kerajaan Allah.

4. Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik (ay.47-50)

Yesus memberikan perumpamaan terakhir tentang Kerajaan Sorga seperti pukat yang dilabuhkan ke laut, yang mengumpulkan semua jenis ikan, yang baik maupun yang tidak baik. Pukat ini tidak seperti jaring biasa. Pukat yang dipakai adalah dragnet, yang merupakan alat penangkap ikan, dengan panjang sekitar 400m (1/4 miles) dengan ketinggian sekitar 3 meter. Pukat ini biasanya ditarik oleh dua perahu, dengan masing-masing perahu memegang kedua ujung pukat. Karena ada pemberat, maka pukat ini dapat tenggelam mencapai dasar. Karena ditarik oleh perahu yang berbeda, maka pukat ini dapat mengambil semuanya dalam jangkauannya dan kemudian para nelayan menarik kedua ujung pukat ke daratan. Setelah itu, kaum nelayan di daratan, kemudian menarik pukat itu bersama-sama. Pukat akan dipenuhi dengan berbagai macam jenis ikan, yang baik dan yang tidak baik.

Ini merupakan pararel dari perumpamaan tentang lalang dan gandum. Kalau Yesus menjelaskan bahwa ladang adalah dunia (ay.38), maka dalam perumpamaan tentang pukat, lautan adalah dunia, serta pukat adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam, maka Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang dalam atau Duc in Altum. Dan setelah penuh, maka pukat tersebut diseret ke pantai dan orang-orang kemudian memilih ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik. Ini menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan manusia yang baik dari ikan yang tidak baik.  Dan bagi orang yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di dalam neraka (ay.50).

Perumpamaan ini juga menceritakan bahwa di dalam pukat tertangkap ikan yang baik dan yang tidak baik, sama seperti di dalam Gereja terdiri dari orang kudus dan pendosa. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 867) menuliskannya sebagai berikut:

Gereja adalah kudus: Roh Kudus adalah asalnya; Kristus, Mempelainya, telah menyerahkan Diri untuknya, untuk menguduskannya; Roh kekudusan menghidupkannya. Memang orang berdosa juga termasuk di dalamnya, tetapi ia [Gereja] adalah “yang tak berdosa, yang terdiri dari orang-orang berdosa”. Dalam orang-orang kudusnya terpancar kekudusannya; di dalam Maria ia sudah kudus secara sempurna.

5. Perutusan (ay.51-52)

Setelah Yesus mengatakan perumpamaan tersebut, maka Yesus berpaling kepada para murid dan bertanya mengertikah kamu semuanya itu? Dengan kata lain, mengertikah kamu, bahwa ketika engkau Kupanggil, Aku akan menjadikan engkau penjala manusia? (lih. Mat 4:9; Mrk 1:17). Di ayat ke 52 Yesus melanjutkan tugas perutusan ini dengan mengatakan “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Menggunakan fungsi ahli taurat, yang bertugas mengajar, maka Yesus menerapkan tugas ini kepada para murid dan diteruskan oleh Paus dan para uskup dibantu oleh para imam. Dan sebagai pengajar, maka mereka juga harus menjaga keharmonisan antara harta yang lama dan harta yang baru, atau Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – seperti yang diinterpretasikan oleh St. Agustinus. Namun, tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Sorga bukan hanya diberikan kepada paus, para uskup dan para imam, namun juga kepada semua umat Allah yang telah dibaptis.

IV. Pemberian diri untuk membangun Kerajaan Sorga

Dari uraian di atas, maka kita dapat melihat bahwa Kerajaan Sorga adalah begitu berharga dan begitu indah. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk mendapatkan Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, kita harus mohon rahmat Allah dan karunia keberanian, sehingga kita berani untuk mengorbankan segalanya bagi Tuhan. Kita harus bersama-sama mengatakan apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus “7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 8  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil 3:7-8). Kita juga ingin mengikuti St. Agustinus, yang mengatakan bahwa kita harus menukar segala yang kita punya untuk dapat menerima Kerajaan Sorga, atau menukar diri kita dengan Kerajaan Sorga. St. Agustinus melanjutkan bahwa pertukaran diri kita bukan sama berharganya dengan Kerajaan Sorga, namun karena hanya itulah yang kita punyai. Mari, kita berikan diri kita seutuhnya kepada Tuhan, sehingga Dia dapat membentuk kita dan menjadikan kita kawan sekerja Allah (1Kor 3:9), untuk membawa sesama kita kepada- Nya.

Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku

5

Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1 : 38)

“Maaf, Pak, untuk bisa membuka informasi rekening Anda di bank kami, kami harus bertanya dulu kepada Bapak sebuah pertanyaan ini: “Siapa nama ibu kandung Bapak?” Saya ikut mendengarkan percakapan gadis pegawai customer service sebuah bank itu dengan ayah saya. Saya mendengar Ayah bukannya menjawab pertanyaan itu, melainkan malah ganti bertanya (ayah saya memang sangat hobi mempertanyakan segala sesuatu), “Kenapa ya Mbak, pertanyaan yang menjadi kode rahasia itu selalu nama ibu kandung, mengapa bukan yang lainnya; nama ayah kandung, misalnya?” Gadis customer service itu menjelaskan dengan sabar, “Ya Pak, ibu kandung yang melahirkan kita itu kan pasti hanya satu ya Pak, sedangkan ayah kan tidak. Ayah bisa lebih dari satu, atau bahkan tidak diketahui,” urainya sambil tersenyum. Saya yang tidak ikut bertanya, menjadi tercenung mendengarnya, sehingga saya jadi ikut manggut-manggut menyadari kebenaran jawaban gadis pegawai bank itu. Alangkah personal dan indahnya karunia Tuhan dalam hidup manusia melalui seorang ibu. Seseorang yang tidak punya apa-apa sekalipun pasti mempunyai ibu yang melahirkan dan membesarkannya.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti sekilas di televisi, upacara pernikahan putra mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran William, dengan kekasihnya, Kate Middleton. Dalam beberapa ulasan seputar pernikahannya, dibahas pribadi Pangeran William yang sederhana dan tidak mengundang banyak kontroversi sebagaimana sering terjadi pada seorang selebriti muda dunia. Rupanya pribadinya yang santun itu tidak lepas dari pengaruh ibu dari Pangeran William yaitu mendiang Putri Diana, yang melahirkan dan membesarkannya dengan semangat kesederhanaan dan kepedulian kepada orang kecil dan sering mengajaknya melihat kehidupan orang-orang biasa di luar lingkungan kerajaan. Terutama di masa kecil Pangeran William ketika ibunya masih hidup dan dekat dengannya. Latar belakang dari cara ibunya membesarkannya itu pula yang nampaknya kemudian mendasari pilihannya kepada seorang Kate, yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, sebagai pasangan hidupnya. Latar belakang yang mungkin Pangeran William sendiri tidak selalu menyadarinya, sesuatu yang terpendam di bawah sadarnya, namun membentuk hidupnya begitu rupa, dengan indahnya. Di balik senyumnya yang santun, baik disadarinya ataupun tidak, Pangeran William membawa semua teladan kasih dan pengajaran ibunya dalam segala keputusan hidupnya.

Walaupun banyak orang menandai hari Ibu dan merayakan secara khusus ulang tahun ibu sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap kasih dan pengabdiannya membesarkan kita, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu menyadari betapa besarnya peran hidup dan cinta seorang ibu di dalam hidup seorang manusia. Dari ibu yang melahirkan dan membesarkan kita, sesungguhnya kita belajar untuk mencintai dan menerima cinta dalam hidup ini, yang akan selanjutnya terus membentuk pribadi kita sebagai manusia dewasa seutuhnya di dalam masyarakat. Dari seorang ibu pula kita belajar mengenal berbagai fungsi-fungsi kehidupan untuk pertama kalinya, dan belajar memahami hidup dengan segala suka dukanya.

Pada bulan Maria, Ibunda Yesus Kristus Tuhan kita, yang jatuh di bulan Mei ini, saya merenungkan keputusan Allah Bapa untuk memilih Maria, seorang gadis bersahaja yang berhati lembut dan penuh iman kepada Tuhan, untuk menjadi ibu kandung dari Yesus. Betapa tidak main-mainnya keputusan itu, betapa akan cermatnya Allah memilih manusia yang akan mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mengantar Sang Anak Manusia yang diutus untuk menebus dosa seluruh dunia dari maut dan dosa kekal. Betapa seriusnya tanggung jawab itu, betapa besar dan dalamnya peran itu, betapa Allah pasti telah memilih dengan cermat agar Anak Manusia dibesarkan di dalam teladan cinta yang penuh dan pengawasan penuh kasih sayang yang akan mengantarnya menjadi manusia dewasa yang memikul tugas semulia dan seagung itu. Ya, seorang manusia, dengan segala keterbatasan seorang manusia. Karena Yesus Kristus adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. Ibu dari Penebus dunia tidak mungkin dipilih secara acak dan dipikul oleh siapa saja yang bersedia. Ibu Sang Penebus yang dengan tanggungjawab yang demikian besar membentuk Sang Putera menjadi manusia seutuhnya, dan mengantarnya menjalani penderitaan tak terperi di Kalvari, tentu tidak dipercayakan kepada sembarang manusia. Allah telah mempersiapkan Bunda Maria dengan penuh kecermatan, penuh cinta, bahkan sebelum Bunda Maria dilahirkan, yaitu dengan menyucikannya dari dosa asal, sebagai suatu bekal agung yang akan menyertai perjalanan hidup Putera-Nya ke dunia sebagai manusia, dan menyempurnakan misi agung-Nya sampai akhir. Dan semua rencana Allah yang luar biasa indah dan mengagumkan itu hanya mungkin terlaksana, jika sang puteri bersahaja dengan kerendahan hati tak terkira, yang telah dipersiapkan Allah itu, berkata “ya”. Karena Allah harus bekerja atas dasar kehendak bebas manusia yang dikasihi-Nya. Seluruh hidup Bunda Maria adalah sebuah jawaban “ya” kepada Allah. Jawaban yang sangat teguh, walau kadang diucapkannya di tengah keraguan, kepedihan, kebingungan, dan ketakutan. Tetapi karena iman dan kasih Maria kepada Allah, ia bertekad untuk tetap dan selalu mengatakan “Ya, Allah, aku mau, aku siap, pakailah aku”. Dan demikianlah seluruh rencana Allah bagi keselamatan alam semesta dan kebahagiaan seluruh umat manusia menjadi kenyataan. Demikianlah jawaban “ya” seorang gadis bersahaja yang penuh ketaatan membuat kita mempunyai Penebus yang begitu luar biasa indah dan agung.

Dan sebagaimana kita begitu mencintai dan menghormati ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh pengorbanan, betapa Manusia Yesus yang bersifat jauh lebih mulia daripada kita, juga akan mencintai dan menghormati ibu kandung-Nya. Betapapun hal itu tidak sepenuhnya terungkap di dalam Kitab Suci. (Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu, Yoh 21 : 25). Bila kita mencintai seseorang, orang itu akan selalu ada di dalam pikiran kita, di dalam hati kita. Bahkan rasa cinta itu dapat membuat kita makin lama makin menyerupai orang yang kita cintai. Saya yakin Yesus sebagai Tuhan dan manusia, sangat menghormati dan mencintai ibunda-Nya. Dan tentu demikian juga sebaliknya, Bunda Maria kepada Yesus, Puteranya. Yesus menyimpan selalu di dalam hati-Nya, cinta dan penghormatan-Nya sebagai anak, kepada Bunda Maria, ibu-Nya. Seperti juga kita manusia kepada ibu kita, bahkan pasti lebih, karena Yesus adalah Manusia Cinta. Itulah sebabnya menjelang akhir hidup-Nya, saat nafas-Nya sudah tinggal satu-satu, Yesus masih ingin mengingat dan memperhatikan Bunda yang dicintai-Nya. Di sela-sela nafas-Nya yang semakin berat dan menyakitkan, Yesus menyempatkan diri berpesan dengan seluruh sisa tenaga-Nya, demi cinta-Nya kepada Bunda-Nya, demi cinta-Nya kepada manusia, demi supaya cinta Ibunda-Nya dan cinta-Nya sepenuhnya tercurah kepada manusia dengan sempurna, Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19 : 26-27).

Cinta Yesus akan Bunda-Nya dan cinta-Nya akan manusia memenuhi pikiran-Nya, bahkan dan justru di saat paling kelam dan paling mencekam menjelang akhir nafas-Nya. Oh, betapa pentingnya dan berharganya bunda-Nya itu bagi-Nya. Dan Tuhan Yesus tidak hanya menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, tetapi Ia juga menyerahkan bunda-Nya untuk menjadi bunda kita semua. Untuk mengasihi, mendoakan, menjadi teladan dan pelindung kita semua juga. Karena Yesus telah merasakan dan mengalami indahnya cinta bunda-Nya, ia ingin manusia yang dicintai-Nya juga mengalami dan memiliki cinta bunda-Nya itu. Itulah satu lagi bukti betapa amat sangat dalamnya cinta Yesus kepada kita, sehingga seorang ibu yang amat dikasihi-Nya pun tak lupa diberikan-Nya sebagai hadiah cinta untuk kita. Sungguh, tak ada cinta demikian besar dan sempurna yang pernah diterima oleh manusia selain dari cinta Tuhan Yesus Kristus yang total, segala-galanya, seluruh jiwa dan raga-Nya, seluruh milik-Nya yang paling berharga, untuk kita semua. Permenungan ini mencengkeram hati saya dengan keharuan yang amat sangat. Yesus yang mencintai saya dan ingin selalu saya cintai dengan lebih sungguh, amat mencintai bunda-Nya. Begitulah juga rasa cintaku kepada bunda Yesus yang kucinta. Demikianlah cinta Bunda Maria kepada Yesus Putera-Nya yang juga sangat mencintai kita, telah menyempurnakan cinta kasih Allah kepada manusia. Ya, Bunda Maria, Bunda Allah, Bundaku. (Caecilia Triastuti)

Ketika Listrik Padam

5

Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasihNya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit, hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan Allah adalah Allah yang adil, berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia (Yesaya 30 : 18).

Semalam listrik di rumah orangtua saya padam selama kira-kira satu setengah jam. Sejak saya masih kecil, listrik PLN di kota kelahiran saya ini memang cukup sering padam. Saat listrik mati di malam hari, nyaris tidak ada sesuatu yang berarti yang bisa dilakukan. Kecuali jika ada mesin pembangkit listrik portable yang bisa memberikan energi listrik cadangan dan membuat peralatan listrik, terutama lampu, bisa menyala. Maklum hampir seluruh kegiatan hidup manusia modern ditopang oleh energi listrik. Jangankan internet, membaca buku atau koran saja kurang bisa karena tidak nyaman dilakukan dalam penerangan cahaya pengganti yang biasanya minim. Maka di rumah, satu-satunya yang bisa dilakukan dengan nyaman hanyalah duduk-duduk sambil mengobrol sekeluarga di ruang tengah dalam keremangan cahaya lampu darurat yang terangnya terbatas. Sambil menunggu lampu menyala kembali dan dengan harapan menyala dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Terpaksa” duduk bersama dalam keremangan tanpa bisa melakukan hal lain kecuali mengobrol, ternyata terasa sangat mengasyikkan bagi saya. Kisah-kisah kenangan masa kecil, humor-humor keluarga, dan aneka pembicaraan hangat antar anggota keluarga segera mengalir. Aneka percakapan segar yang jarang sempat menemukan momennya dalam kesibukan masing-masing anggota keluarga sehari-harinya. Kegelapan yang di waktu kecil sering membuat saya jengkel terhadap PLN, (karena di masa kecil, malam hari adalah saatnya belajar dan membuat PR), malam itu malahan nyaris saya syukuri.

Kemudian, tak lama listrik PLN pun kembali menyala. Dalam waktu singkat, momen kehangatan berkumpul tadi seketika berakhir. Setelah lampu menyala, semua kembali terserap ke kesibukan masing masing, Ibu melanjutkan melihat acara kesayangannya yang tadi sempat terputus di televisi, dan Bapak segera melanjutkan kesibukannya mengoreksi pekerjaan mahasiswanya di depan laptop. Saya terhenyak menyadari diri saya sendiri masih termangu-mangu rindu di ruang tengah, sendirian, masih ingin melanjutkan obrolan seru kenangan masa kecil yang seketika terhenti ketika lampu menyala lagi. Tetapi tidak ada siapa-siapa lagi di dekat saya. Saya menyadari dengan heran bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merindukan listrik PLN mati.

Tuntutan dunia modern yang memacu semua orang terlibat dengan aktif di dalamnya dan diiringi tuntutan ekonomi keluarga, kadang-kadang membuat anggota-anggota keluarga tanpa disadari kehilangan momen-momen penting untuk saling mendengarkan, dan saling menguatkan satu sama lain. Apalagi bila acara makan bersama bukan menjadi budaya di keluarga itu. Anak-anak dan pra-remaja merindukan untuk bisa mengobrol berlama-lama menceritakan aneka pengalaman hidupnya kepada orangtuanya; para istri atau suami rindu untuk curhat lebih banyak kepada pasangan hidupnya. Momen-momen kebersamaan dan kebiasaan untuk saling mendengarkan dan bertukar kisah, membuat hidup sebagai keluarga mempunyai makna yang dalam. Kebersamaan ini memberikan keseimbangan dalam jiwa kita, dan merawat kesehatan mental kita sebagai anggota masyarakat, yang penuh dengan tantangan dan dinamika yang kadang tidak mudah untuk dihadapi. Orangtua mempunyai banyak kesempatan emas untuk memberikan pengajaran akan nilai-nilai hidup yang berharga kepada anak-anaknya, manakala aktivitas saling bercerita dan saling mendengarkan sudah menjadi kebiasaan di dalam keluarga. Tetapi jaman sekarang, kalaupun listrik mati, mungkin para remaja masih akan sibuk ber-SMS ria dengan kawan-kawannya atau sibuk bermain-main dengan aneka games yang tersedia di telepon genggamnya dan anak-anak masih bisa sibuk dengan alat permainan anak-anak masa kini sejenis Nintendo-DS portable bertenaga baterai.

Kalau berinteraksi dengan intensif antar anggota keluarga saja sering tidak terlalu sempat, bagaimana halnya dengan membina relasi aktif interaktif dengan Tuhan? Pada saat kita sedang begitu sibuk mengerjakan aneka persiapan untuk pelayanan dan pekerjaan di Gereja, bagaimana seandainya Tuhan yang kita layani ternyata hanya duduk di sudut memperhatikan kesibukan kita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berkata dengan rindu kepada kita, “Martha, Martha, engkau begitu khawatir akan banyak perkara. Duduklah saja di sini di dekatKu dan marilah menyegarkan dirimu dengan aliran kasihKu yang selalu rindu untuk Kucurahkan kepadamu”. (Bdk. Lukas 10 : 38-42). Atau saat kita sedang dilanda rasa malas untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dan enggan meluangkan waktu lebih banyak untuk berdoa, Tuhan memandang kita dengan sedih sambil berkata,” Tidak dapatkah engkau berjaga bersamaKu satu jam saja? “ (Bdk. Markus 14 : 37-38). Cinta kasih kepada sesama manusia seperti diri kita sendiri adalah sangat penting dan merupakan perintah Allah sendiri. Tetapi mencintai Allah harus tetap menjadi prioritas yang utama. Justru dari cinta yang murni kepada Allahlah, cinta kita kepada sesama menemukan motivasi yang tepat dan kekuatan yang selalu terbarui. Urutannya jelas di dalam perintahNya mengenai hukum yang pertama dan utama. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22 : 37-39). Saya teringat homili romo di gereja yang saya kunjungi hari ini: orang yang tidak peduli dengan kebutuhan sesamanya disebut egois. Orang yang peduli dan selalu membantu sesamanya tanpa memikirkan tentang Allah disebut humanis. Menjadi humanis sangat baik, tetapi belum cukup. Karena Allah yang menciptakan kita dan memelihara kita yang berhak atas kasih dan pujian serta penyembahan dan pelayanan kita yang mula-mula di atas segalanya.

Mengerjakan hal-hal yang baik bagi sesama dan keluarga serta melayani Gereja-Nya tanpa secara khusus menyediakan waktu berdiam di hadapanNya sambil membuka diri untuk mengetahui apa yang Dia sebenarnya kehendaki dari kita, bisa membuat perjalanan kita untuk sampai kepada Tuhan terbelokkan ke arah yang tidak tepat. Mungkin analoginya seperti membuat kunjungan ke sebuah panti jompo, sambil membawa aneka hidangan lezat dan mahal yang sudah kita persiapkan dengan penuh kasih dan semangat, untuk bisa dinikmati para lansia yang akan kita kunjungi. Sesampainya di sana, ternyata hidangan lezat aneka rupa yang sudah kita persiapkan tidak bisa dinikmati oleh mereka, karena ternyata sebagai lansia mereka mempunyai banyak pantangan makanan demi menjaga kesehatan mereka yang sudah semakin rawan di usia lanjut.

Ketika Yesus memperhatikan bahwa para murid sangat sibuk dan bahkan sampai tidak sempat makan, Dia berkata, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6 : 31). Setelah itu Yesus dan para murid kembali mendapatkan kekuatan untuk mengajar dan akhirnya terjadi mukjizat menggandakan roti dan ikan. Saya lantas teringat bahwa berhenti secara rutin untuk meluangkan waktu hanya bagi Tuhan dan bersama Tuhan dalam kehidupan doa dan Firman adalah sumber energi bagi hidup beriman dan pelayanan kita. Seperti saat kita tidur, kita tidak melakukan apa-apa, merelakan waktu-waktu kita yang berharga untuk berbaring diam, memejamkan mata, dan terlelap dalam tidur. Setelah bangun, kita menjadi segar kembali dan siap bekerja lagi dengan kekuatan dua kali lipat lebih efisien daripada saat kita memaksakan diri untuk terus bekerja karena merasa sayang membuang waktu untuk berhenti demi istirahat. Dalam berhenti sejenak demi relasi kita dengan Allah, kita akan mendapatkan terang untuk memurnikan motivasi-motivasi kita dan terus belajar untuk hidup dalam kerendahan hati dalam kebergantungan sepenuhnya kepada Tuhan. Demikian Allah berkata, Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46 : 11). Tanpa diam dan berhenti, bisa-bisa kita melupakan tujuan perjalanan hidup kita yang sesungguhnya yaitu untuk melakukan kehendak Allah dan mengasihiNya dengan segenap hati tanpa mengikuti kemauan dan hikmat kita sendiri yang serba terbatas ini.

Maka jika kita mendapati diri kita dalam kemacetan lalu lintas yang menjemukan, atau terjebak dalam situasi hidup di mana segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan, bersyukurlah dan nikmatilah, karena mungkin itu adalah saat dimana Tuhan yang sedang rindu memanggil kita dan mengijinkan ‘listrik padam sejenak’, supaya kita mengalami kembali betapa hangatnya berdiam di hadapan Tuhan dan betapa nyamannya mendengarkan Dia berbicara dan sekali lagi menyatakan kasih dan berkatNya yang tidak berkesudahan kepada kita. (Triastuti)

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasehat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1 : 1-3).

Menghadiri perkawinan non-Katolik, bolehkah?

25

Pertanyaan:

Dear Romo,

Thanks for the answer. Satu lagi sy mau tanya, apakah dosa jika seseorang yg beragama Katolik datang ke upacara pernikahan gereja temannya yg menikahi seorang Kristen? mengapa dan apa alasannya?
Sy punya teman yang menolak untuk menghadiri (walau hanya sbg tamu) upacara pernikahan temannya yang akan menikah dgn seseorang beragama Kristen dengan dalih bahwa hal itu dilarang oleh hukum gereja Katolik.

Regards,
angela

Jawaban:

Shalom Angela,

Sebenarnya hal menghadiri upacara perkawinan adalah pilihan bebas dari setiap orang yang diundang, sama seperti sang pengundang mempunyai kebebasan mengundang siapapun yang dianggap tepat untuk diundang. Maka, seseorang bebas untuk datang atau tidak datang ke suatu undangan upacara perkawinan. Jika teman anda menolak untuk menghadiri upacara perkawinan temannya, tentulah ada alasannya, apalagi jika ia mengatakan bahwa perkawinan itu sesungguhnya tidak memenuhi persyaratan perkawinan yang sah menurut Hukum Gereja Katolik.

Sesungguhnya andapun dapat memeriksa, terutama jika anda juga mengenal dengan baik sahabat anda itu, apakah ada halangan/ cacat dalam perkawinan yang akan dilangsungkan itu. Jika ada, maka wajarlah jika anda atau teman anda itu memutuskan untuk tidak menghadiri perkawinan itu, terutama jika pemahamannya tentang kehadiran dalam upacara/ perayaan perkawinan adalah turut memberikan restu dan dukungan kepada perkawinan tersebut. Jika di mata Gereja Katolik, perkawinan itu cacat dan sesungguhnya tidak sah, maka apakah kita sebagai umat Katolik mau turut merestui perkawinan tersebut atau tidak? Tentu hal ini terpulang kepada hati nurani masing- masing; namun tentu jika seseorang menolak untuk menghadiri undangan tersebut, itu adalah haknya secara pribadi.

Seperti telah dituliskan oleh Romo Wanta (selengkapnya, klik di sini), berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 1983, kan. 1057 ada tiga syarat bagi perkawinan yang sah menurut hukum Gereja Katolik, yaitu: 1) dilaksanakan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mempunyai kemampuan legitim untuk melaksanakan perkawinan itu, yakni tidak terhalang oleh halangan yang menggagalkan dari hukum ilahi atau hukum positif (gerejawi dan sipil); 2) adanya saling kesepakatan tanpa cacat mendasar untuk perkawinan; 3) secara publik dilaksanakan dengan tata peneguhan yang diwajibkan hukum, yakni sebagaimana dituntut oleh hukum gereja atau negara. Dengan perkataan lain, jika tidak dipenuhi ketiga syarat ini, maka sebenarnya perkawinan tersebut tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sah sebagai perkawinan secara hukum Gereja Katolik. Jadi hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik adalah: 1) halangan menikah (untuk mengetahui tentang apa saja yang termasuk di dalamnya, klik di sini); 2) cacat konsensus; dan 3) cacat forma kanonika (untuk penjelasan point 2 dan 3, klik di sini)

Sebagai contohnya, jika salah satu dari pasangan sudah pernah menikah secara sah (walaupun menurut agama lain), maka sesungguhnya ia tidak dapat menikah lagi secara sah menurut hukum Gereja Katolik (ini termasuk halangan menikah, lih. Kan. 1085). Atau jika pasangan menikah untuk alasan yang salah, misalnya demi memperoleh ijin tinggal di luar negeri, sehingga tidak ada niatan yang sungguh untuk terus mempertahankan kesetiaan perkawinan (ini termasuk cacat konsensus, lih. Kan. 1101, §2). Atau kalau salah satu pihak dari mempelai adalah Katolik, namun ia merencanakan pemberkatan perkawinan di gereja non-Katolik, tanpa meminta ijin dari pihak Ordinaris/ keuskupan (ini termasuk cacat forma canonica, lih. Kan. 1108). Sebab pada dasarnya, tanpa ijin dari otoritas Gereja, tidak diperbolehkan adanya perkawinan campur antara seorang Katolik dengan seorang Kristen non- Katolik (lih. Kan. 1124). Namun demikian, pihak Ordinaris dapat memberikan ijin, jika terdapat alasan yang adil dan masuk akal, dengan kondisi: 1) pihak Katolik harus berjanji untuk tetap Katolik dan berusaha sekuat tenaga untuk membaptis dan mendidik anak- anak secara Katolik, 2) pihak yang non- Katolik menyadari janji dan kewajiban dari pihak yang Katolik ini; 3) kedua pihak harus menerima instruksi tentang tujuan dan hakekat perkawinan Katolik (lih. Kan. 1125).

Jadi nampaknya, masalahnya bukan apakah Gereja Katolik melarang umat Katolik untuk hadir di upacara perkawinan yang diadakan di gereja non- Katolik. Sebab larangan itu memang tidak ada. Yang ada adalah Gereja Katolik menetapkan syarat- syarat suatu perkawinan yang sah menurut hukum kanonik, yang mengikat umat Katolik dan pasangan yang menikah dengan seorang Katolik (walaupun ia non- Katolik). Nah, jika ada di antara syarat-syarat ini tidak dipenuhi, maka dapat dimengerti jika seorang Katolik yang diundang memutuskan untuk tidak menghadiri undangan tersebut, karena kemungkinan keputusan ini dibuat sesuai dengan hati nuraninya, yang tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan ketentuan Gereja Katolik. Namun sebaliknya, jika yang menikah keduanya bukan Katolik (bahkan bukan Kristen) maka ketentuan hukum kanonik, terutama forma canonica tidak mengikat pasangan yang menikah itu. Maka, jika umat Katolik diundang ke upacara pemberkatan perkawinan non- Katolik ini, dan jika tidak ada halangan menikah dalam perkawinan tersebut -sehingga hati nuraninya tidak menghalanginya untuk turut merestui/ mendukung perkawinan itu- maka tentu saja ia dapat menghadiri upacara maupun perayaan perkawinan tersebut.

Demikianlah Angela, tanggapan saya atas pertanyaan anda. Semoga dapat menjadi masukan buat anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kerajaan Sorga, lalang dan gandum

8

1. Kerajaan Allah, ujian dan harapan

Bacaan pada minggu ke-16 masa biasa ini mengupas tentang Kerajaan Allah, yang diumpamakan seperti menabur benih yang baik di ladang, seperti biji sesawi dan seperti ragi. Bacaan ini memberikan pengertian mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan mau memasuki hubungan yang lebih mendalam dengan Yesus, serta terus berjaga-jaga, yang akan dapat masuk ke dalam misteri Kerajaan Sorga. Pemberitaan akan Kerajaan Surga terus diberitakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga orang-orang yang mempunyai niat baik untuk mendengarkan dapat termasuk dalam bilangan ‘gandum’, yaitu mereka yang dapat disebut sebagai anak-anak terang. Dan melalui Gereja-Nya, umat Allah dilindungi dari lalang atau pengajaran-pengajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus, sehingga umat Allah dapat dihantar kepada keselamatan kekal, dan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah (lih. Mat 13:43).

2. Telaah teks Matius 13:24-43

24.  Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
25.  Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
26.  Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
27.  Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
28.  Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
29.  Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
30.  Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”
31.  Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.
32.  Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
33.  Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”
34.  Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,
35.  supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”
36.  Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.”
37.  Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;
38.  ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.
39.  Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.
40.  Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.
41.  Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
42.  Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan gertakan gigi.
43.  Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Yesus memberikan tujuh perumpamaan di dalam Matius bab 13 di tepi danau Galilea (lih. Mat 13:1).  Oleh karena itu, bab ini sering disebut “pengajaran dengan perumpamaan atau the parable discourse” atau juga disebut “perumpamaan tentang Kerajaan” atau “perumpamaan di danau”, karena Yesus mengajarkan perumpamaan ini di tepi danau. Di bab 13 ini, kita dapat melihat tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yaitu: (a) perumpamaan tentang seorang penabur, (b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum, (c) perumpamaan tentang biji sesawi, (d) perumpamaan tentang ragi, (e) perumpamaan tentang harta terpendam, (f) perumpamaan tentang mutiara yang indah, (g) perumpamaan tentang pukat.

Pada minggu ke-16 masa biasa tahun A ini, bacaan Matius 13:24-42 memberikan tiga perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang dapat dibagi sebagai berikut:

Ayat 24-30: Kerajaan Sorga seperti menabur benih yang baik ke ladang.
Ayat 31-32: Kerajaan Sorga seperti biji sesawi
Ayat 33: Kerajaan Sorga seperti ragi.
Ayat 34-35: Alasan Yesus memberikan pengajaran lewat perumpamaan.
Ayat 36-43: Yesus menerangkan perumpamaan tentang lalang di ladang.

3. Interpretasi Matius 13:24-43

a. Tentang Kerajaan Sorga.

Pemberitaan tentang Kerajaan Sorga yang mensyaratkan pertobatan adalah merupakan pokok pemberitaan Kristus yang dimulai sejak karya publik Kristus (lih Mat 4:17; Mat 10:7; Luk 4:42-43; Luk 10:9; Kis 1:3). Kerajaan Sorga adalah tawaran yang diajukan oleh Kristus kepada seluruh umat manusia dan menjadi tujuan akhir dari umat manusia. Namun, seperti yang diberitakan oleh Kristus, untuk mencapai Kerajaan Sorga dibutuhkan pertobatan (lih. Mat 4:17), sehingga seseorang dapat masuk ke dalam misteri yang lebih mendalam akan Kerajaan Allah. Khotbah di bukit mengatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Hanya dengan sikap miskin di hadapan Allah inilah, seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Dengan sikap miskin di hadapan Allah, seseorang akan dapat bertobat, mendahulukan dan memperjuangkan kebenaran yang diperintahkan oleh Allah lewat Gereja-Nya. Dan dengan semangat yang sama, ia akan dapat berpartisipasi untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini sebagai gambaran akan Kerajaan Allah di Sorga. Secara khusus, tugas memberitakan Kerajaan Allah diberikan kepada Gereja, termasuk seluruh anggotanya. Dokumen Vatikan II, Lumen Gentium, 5 menuliskan:

“Misteri Gereja Kudus itu diperlihatkan ketika didirikan. Sebab Tuhan Yesus mengawali Gereja-Nya dengan mewartakan kabar bahagia, yakni kedatangan Kerajaan Allah yang sudah berabad-abad lamanya dijanjikan dalam Alkitab: “Waktunya telah genap, dan Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15; lih Mat 4:17). Kerajaan itu menampakkan diri kepada orang-orang dalam sabda, karya dan kehadiran Kristus. Memang, sabda Tuhan diibaratkan benih, yang ditaburkan di ladang (lih. Mrk 4:14), mereka yang mendengarkan sabda itu dengan iman dan termasuk kawanan kecil Kristus (lih. Luk 12:32), telah menerima kerajaan itu sendiri. Kemudian benih itu bertunas dan bertumbuh atas kekuatannya sendiri hingga waktu panen (lih. Mrk 4:26-29). Mukjizat-mukjizat Yesus pun menguatkan, bahwa Kerajaan itu sudah tiba di dunia: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20; lih. Mat 12:28). Tetapi terutama Kerajaan itu tampil dalam Pribadi Kristus sendiri, Putera Allah dan Putera manusia, yang datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Adapun sesudah menanggung maut di kayu salib demi umat manusia, kemudian bangkit, Yesus nampak ditetapkan sebagai Tuhan dan Kristus serta Iman untuk selamanya (lih. Kis 2:36; Ibr 5:6; 7:17-21). Ia mencurahkan Roh yang dijanjikan oleh Bapa ke dalam hati para murid-Nya (lih. Kis 2:33). Oleh karena itu Gereja, yang diperlengkapi dengan kurnia-kurnia Pendirinya, dan yang dengan setia mematuhi perintah-perintah-Nya tentang cinta kasih, kerendahan hati dan ingkar diri, menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua Bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu didunia. Sementara itu Gereja lambat-laun berkembang, mendambakan Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan, agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan.”

b. Mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan?

Kalau kita mengamati bagaimana Yesus mengajar, maka kita melihat bahwa adakalanya Yesus mengajar secara langsung, seperti yang kita lihat dalam khotbah di bukit tentang delapan sabda bahagia (lih. Mat 5:3-10), namun adakalanya Yesus juga mengajar dengan menggunakan perumpamaan, seperti pengajaran tentang Kerajaan Sorga. Pertanyaannya adalah mengapa Yesus berbicara dengan menggunakan perumpamaan? Alkitab mengatakan bahwa memang kepada para murid-Nya yang telah diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, Yesus berbicara secara langsung tanpa menggunakan perumpamaan (lih. Mat 13:10-11). Apakah dengan demikian Kristus menyembunyikan sesuatu kepada banyak orang? St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Kristus berbicara kepada banyak orang dengan menggunakan perumpamaan karena (1) orang-orang yang mendengarkan tidak akan mengerti atau tidak pantas untuk mendengarkan pengajaran yang disampaikan secara langsung, (2) prinsip mediasi. ((lih. St. Thomas Aquinas, ST, III, q.42, a.3))

Apa yang dapat diterima oleh seseorang adalah tergantung dari disposisi hati dari orang yang menerima (the mode of the receiver). Sebagai contoh, bagi orang yang punya disposisi hati yang dibentuk oleh agama Katolik, maka orang tersebut akan menghormati dan mendengarkan pengajaran tentang Ekaristi. Namun bagi orang yang tidak percaya, maka pengajaran tentang Ekaristi mungkin tidak terlalu diperhatikannya. Bagi orang yang telah dibentuk sebagai seseorang yang anti Katolik, maka pengajaran apapun tentang iman Katolik dianggap salah. Penjelasan apapun yang diberikan seolah-olah tidak masuk akal. Dengan menggunakan perumpamaan, Yesus dapat membuat orang tertarik untuk menjadi pengikut-Nya, yang membuat orang tersebut dapat mengikuti pengajaran-Nya secara lebih mendalam. Yesus menjelaskan perumpamaan tersebut bukan hanya kepada para rasul namun juga para murid. (lih. Mar 4:10). Ini berarti, orang-orang yang ingin benar-benar mencari kebenaran dapat bertanya dan menemukannya.

Alasan kedua mengapa Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan adalah sebagai manifestasi dari prinsip mediasi. Yesus menginginkan agar Dia dapat mengajarkan kepada para rasul dan para murid, dan kemudian para rasul dan para murid mengajarkan kepada semua orang, baik dengan lisan maupun tertulis. Dengan prinsip ini, maka sungguh penting untuk menjadi bagian dari bilangan umat Allah. Dan kalau Kristus sendiri telah mendirikan Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19) dan menjadi Kepala Gereja (lih. Ef 5:23), maka untuk menjadi bilangan murid Kristus, kita harus masuk ke dalam bilangan Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan demikian, kita dapat mengalami kepenuhan kebenaran dan kepenuhan pengajaran Kristus, seperti pengajaran tentang sakramen, liturgi, dan doktrin-doktrin yang lain, termasuk pengajaran tentang Kerajaan Allah.

c. Kerajaan Sorga seperti menabur benih yang baik ke ladang (ayat 24-30, 36-42)

1. Penjelasan tentang perumpamaan

Dalam perumpamaan pertama, Yesus memberikan perumpamaan Kerajaan Sorga seperti orang yang menabur benih (lih. Mat 13:24-30) dan kemudian menjelaskannya kepada para murid arti dari perumpamaan tersebut (lih. Mat 13:36-42). Yesus menjelaskan bahwa orang yang menabur benih yang baik di ladang adalah Kristus sendiri, yang mewartakan pertobatan dan Kerajaan Allah di dunia, sehingga setiap orang dapat mendengarkan-Nya. Namun, ketika semua orang tertidur (ay.25), musuh atau iblis (ay.25, 28, 39) menaburkan benih lalang (ay. 25) atau anak-anak si jahat (ay.38). Dan ketika hamba-hamba atau para malaikat melihat gandum dan lalang tumbuh bersama (ay.27-28), mereka bertanya kepada Tuhan apakah mereka perlu mencabut lalang tersebut. Namun, Tuhan mengatakan bahwa mereka harus menunggu sampai waktu menuai atau akhir zaman, sehingga lalang tersebut atau segala hal yang menyesatkan dan jahat dapat dikumpulkan dan dibakar (ay.40-42) dan orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Sorga (ay.43).

Dalam perumpamaan di atas, dijelaskan bahwa Anak Manusia-lah yang menaburkan benih yang baik. Hal ini akan terlihat lebih jelas, kalau kita juga membaca perumpamaan tentang Sang Penabur (lih. Mat 13:1-23). Kristus telah menaburkan benih yang baik kepada setiap orang, namun benih ini dapat tumbuh dengan baik kalau manusia menjawab panggilan Tuhan, yang digambarkan sebagai benih yang jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah yang berlimpah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (ay.23). Namun, di perumpamaan berikutnya (ay.23-42), Kristus memberikan perumpamaan bahwa untuk dapat mencapai Kerajaan Sorga, diperlukan kewaspadaan dan senantiasa berjaga karena si jahat menaburkan benih lalang, dan dengan demikian secara aktif merusak benih yang baik yang ditaburkan oleh Kristus.

2. Berjaga-jagalah sehingga kita terhindar dari percobaan

Di dalam perikop ini dikatakan bahwa si jahat menaburkan benih lalang ketika semua orang sedang tertidur (ay.25). Yesus ingin menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga, baik terhadap serangan si jahat dan berjaga-jaga sampai pada akhir kehidupan kita, maupun berjaga sampai akhir zaman (lih. Mat 24:42-43). Yesus menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa sehingga kita tidak jatuh dalam percobaan (lih. Mrk 14:38). Rasul Paulus menekankan untuk tetap berdiri teguh dalam iman dan tetap kuat (lih. 1Kor 16:13). Lebih lanjut Rasul Paulus menekankan agar sebagai anak-anak terang, kita harus berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan (lih. 1Tes 5:8).  Hanya dengan tiga kebajikan ilahi, yang ditopang oleh doa dan dikuatkan oleh Roh Kudus, kita dapat berjaga-jaga tanpa mengenal lelah, sehingga tidak memberi kesempatan kepada si jahat untuk menaburkan benih lalang. Secara simbolis, St. Hieronimus dan St. Agustinus mengartikan bahwa yang tertidur adalah para pastor dan para uskup yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik serta tidak mengajarkan pengajaran yang benar. Inilah sebabnya para pastor dan para uskup harus senantiasa mengajarkan doktrin yang kokoh kepada umat Allah seperti yang diajarkan oleh Kristus lewat Magisterium Gereja, sehingga umat Allah tidak mudah digoyahkan oleh pengajaran-pengajaran yang populer namun salah. Sebaliknya, umat Allah juga harus senantiasa berpegang pada pengajaran yang diberikan oleh Kristus lewat Magisterium Gereja, yang diteruskan oleh para uskup dan juga para pastor, sehingga si jahat tidak mempunyai kesempatan untuk menaburkan benih lalang atau benih kesesatan kepada umat Allah.

3. Benih lalang yang mematikan

Benih lalang yang ditaburkan oleh si jahat bukanlah benih lalang biasa, namun adalah jenis zizanium, yaitu sejenis gandum liar, atau juga dikenal sebagai cockle, tare atau darnel. Jenis lalang ini sangat sulit dibedakan dengan gandum biasa, karena bentuknya yang serupa. Kalau seseorang mencoba memisahkan lalang dengan gandum sebelum waktunya, maka mereka dapat salah mencabut. Seseorang hanya dapat membedakan antara lalang ini dengan gandum ketika mereka bertumbuh besar dan bulir-bulirnya mulai masak. Walaupun serupa, lalang jenis ini sangat merugikan. Kalau sampai orang memakannya, maka orang tersebut akan merasa mabuk dan pusing. Untuk menggambarkan bahayanya lalang ini, di zaman tersebut, ada orang yang membalas dendam seseorang dengan menyebarkan benih lalang ini gandum. Kalau seseorang membuat adonan gandum yang tercampur dengan lalang, maka adonan tersebut akan rusak.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa benih baik yang tercampur dengan benih lalang akan menjadi sangat berbahaya. St. Yohanes Kristotomus dan St. Thomas Aquinas menyebutkan bahwa ajaran yang menyesatkan adalah ajaran yang benar bercampur dengan ajaran yang salah, sehingga banyak orang sulit untuk membedakannya. Sebagai contoh, kita dapat melihat pengajaran dari teologi kemakmuran, yang memberikan kebenaran tentang kasih Allah, namun mereduksi kasih Allah sebatas hal-hal yang bersifat material. Silakan melihat artikel “Teologi kemakmuran, ajaran gampang tapi salah” di sini – silakan klik. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Katolik bersyukur karena kita mempunyai Magisterium Gereja (lih. 1Tim 3:15), yang dapat memberikan kepastian ajaran seperti yang diperintahkan oleh Kristus, sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus. Dengan memegang ajaran yang benar dan berbuah dalam kasih, maka besarlah pengharapan kita akan memperoleh keselamatan abadi di Sorga.

4. Penghakiman terakhir adalah akhir zaman

Dalam perikop tersebut ditekankan bahwa Yesus membiarkan gandum untuk tumbuh bersama-sama dengan lalang, sampai pada akhir zaman (ay.40-41). Hal ini memberikan pengharapan sekaligus kesediaan untuk mempersiapkan diri. Pengharapan bahwa Tuhan akan terus memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan kita sampai kita dipanggil Tuhan. Namun pada saat yang bersamaan, pengharapan ini juga harus dibarengi dengan kesiapsiagaan, karena tentang hari dan saatnya tidak ada seorangpun yang tahu (lih. Mat 24:36). Pada saat akhir zaman, lalang yang dibiarkan tumbuh bersama gandum di ladang tidak dapat dibiarkan masuk ke dalam gudang yang sama. Pada saat itu, orang-orang yang melakukan kesesatan dan melakukan kejahatan akan dicampakkan ke dalam dapur api (ay.40-42). Bagaimana dengan gandum atau orang-orang yang melakukan kehendak Bapa? Mereka akan mendapatkan kebahagiaan abadi di Sorga (ay.43).

d. Kerajaan Sorga seperti biji sesawi (ayat 31-32)

Pada bagian ini, Kristus memberikan perumpamaan yang lain tentang Kerajaan Sorga, yaitu seperti biji sesawi yang ditaburkan seseorang di ladang, yang kemudian menjadi besar dan memberi kesempatan bagi burung-burung datang dan bersarang pada cabang-cabangnya. Biji sesawi memang biji yang sangat kecil, namun dapat tumbuh menjadi pohon yang dapat mencapai 4 meter, sehingga dapat memberikan keteduhan bagi makhluk hidup, seperti burung-burung. Injil Kristus yang diumpamakan seperti biji sesawi memang kecil dan bahkan menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi dan menjadi kebodohan bagi orang-orang non-Yahudi (lih. 1Kor 1:23). Namun ajaran akan Kristus yang tersalib dan bangkit telah mengubah dunia dan menjadi jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Kita juga mengingat perkataan Kristus yang mengatakan bahwa jika biji tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, namun jika ia mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah (lih. Yoh 12:24). Dengan kata lain, biji ini adalah Kristus sendiri, yang telah mati di kayu salib dan ditanam di makam dan setelah kebangkitan-Nya, maka tumbuh menjadi begitu besar menjadi Gereja, yang menjangkau umat Yahudi dan non-Yahudi seluruh dunia.

e. Kerajaan Sorga seperti ragi (ay.33)

Yesus kemudian memberikan perumpamaan berikutnya, yaitu Kerajaan Sorga adalah seperti ragi yang diambil oleh seorang perempuan dan dapat membuat adonan roti. Ragi yang sedikit sekali dapat dicampurkan ke adonan dan membuat adonan roti tersebut berkembang. St. Hieronimus mengartikan perempuan tersebut adalah Gereja, yang mengumpulkan umat Allah dari segala bangsa, sehingga menjadi kumpulan umat Allah yang besar, yang berada dalam kesatuan umat Allah di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Lebih lanjut, secara alegoris, St. Bernardus (l. 5. de Consider.) menjelaskan bahwa perempuan yang mengambil tepung terigu tiga sukat itu adalah Bunda Maria yang bersatu dengan Kristus yang mempunyai kodrat yang terdiri dari tubuh, jiwa (tubuh dan jiwa adalah kodrat manusia) dan ke-Allahan. Atau St. Agustinus menjelaskan bahwa ragi melambangkan kasih, karena menyebabkan aktifitas dan fermentasi. Sedangkan perempuan tersebut adalah kebijaksanaan dan tiga sukat melambangkan tiga hal dalam manusia, yaitu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap pengertian; atau tiga tingkatan hasil, seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat. ((St. Augustine, Quaest. Ev., i, 12))

Perikop ini juga menjadi peringatan bagi kita semua yang telah menerima Kristus dalam Sakramen Baptis dan juga dalam Sakramen Ekaristi, agar dapat menjadi ragi di dalam keluarga dan masyarakat.

4. Mensyukuri karunia Gereja Katolik

Akhirnya, dari perikop di atas, maka kita dapat melihat bahwa untuk dapat memahami misteri Kerajaan Sorga, diperlukan sikap pertobatan atau sikap miskin di hadapan Allah. Namun, pada saat yang bersamaan diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga, mengingat bahwa ada begitu banyak tantangan di dunia saat ini, termasuk pengajaran-pengajaran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kristus. Hanya dengan terus berpegang pada pengajaran Kristus yang diteruskan dan dijaga secara murni oleh Magisterium Gereja, maka umat Allah dapat mempunyai pondasi yang kokoh, yang tahan terhadap serangan dari luar. Dengan pondasi yang kokoh ini, maka umat Allah dapat menjadi ragi bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Mari, sebagai umat Katolik, kita mensyukuri karunia Gereja Katolik yang telah diberikan oleh Kristus untuk menjaga kita semua. Dan mari kita senantiasa berjaga-jaga sehingga pada saatnya nanti, kita akan bersinar di dalam Kerajaan Sorga, seperti yang dijanjikan sendiri oleh Kristus.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab