Home Blog Page 201

1 Kor 2:16, The Mind of Christ

1

Pertanyaan:

Bapak pengasuh Katolisitas

Terima kasih atas pencerahannya mengenai redeeming the time
Ada satu lagi yang ingin saya tanyakan tentang : “THE MIND OF CHRIST”seperti yang tertulis di dalam 1Kor 2 : 16. Apa pula itu artinya ?

Tx / S.Ginting

Jawaban:

Shalom Superiadi,

1 Kor 2:16 tentang ‘pikiran Kristus’/ the mind of Christ, berkaitan dengan ayat- ayat sebelumnya yaitu ayat 14 dan 15.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (1Kor 2:14-16)

Berikut ini adalah keterangan yang saya sarikan dari penjelasan The Navarre Bible:

Dikatakan di sana “manusia duniawi”, yang maksudnya adalah orang yang bertindak hanya mengandalkan kemampuan manusiawinya (akal dan kehendak) dan yang oleh karena itu hanya dapat bijaksana di dalam hal- hal dunia. Sedangkan manusia rohani adalah umat Kristiani tang dilahirkan kembali di dalam Tuhan; di mana rahmat Allah mengangkat kemampuan manusia dan memampukannya melakukan perbuatan- perbuatan yang mempunyai nilai adikodrati, yaitu iman, harapan dan kasih. Seseorang yang berada dalam kondisi rahmat dapat merasakan hal- hal ilahi sebab ia membawa serta Roh Kudus di dalam jiwanya, dan ia memiliki pikiran Kristus dan sikap Kristus, yang artinya pikiran dan sikap yang sesuai dengan kehendak Allah.

St. Thomas Aquinas menjelaskan tentang hal bagaimana seseorang yang duniawi tidak dapat memahami hal-hal rohani, sedangkan seseorang yang rohani dapat menilai segala sesuatu (ay. 15), demikian: “Seseorang yang sadar dengan benar merasakan bahwa ia bangun dan orang yang lain [yang sedang tidur] adalah orang yang tidur; tetapi orang yang tidur tidak dapat mempunyai penilaian yang benar tentang dirinya sendiri ataupun orang lain yang bangun. Oleh karena itu, hal- hal yang ada tidak sesuai dengan apa yang dilihat oleh orang yang tidur; tetapi hanya oleh orang yang bangun/ sadar …. Sehingga Rasul Paulus mengatakan, ‘manusia rohani menilai segala sesuatu’: sebab seorang yang pengertiannya dicerahkan dan yang perhatian kasihnya diarahkan oleh Roh Kudus dapat membentuk penilaian yang benar tentang hal- hal khusus yang menyangkut keselamatan. Seseorang yang tidak rohani mempunyai pemahaman yang redup dan perhatian kasihnya tidak teratur jika dipandang dari sudut pandang hal- hal rohani; dan oleh karena itu, seseorang yang rohani tidak dapat dinilai oleh seseorang yang tidak rohani, sama seperti orang yang tidur tidak dapat menilai orang yang bangun.” (St. Thomas Aquinas, Commentary on 1 Cor, ad loc.).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Mimpi

29

Pertanyaan:

Di kisah Yusuf… kita mengetahui bahwa Yusuf mampu menafsirkan mimpi…

Di 1 Raja-Raja 3:5 dikatakan bahwa TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi

Apakah ada lagi di Alkitab yang berhubungan dengan mimpi? Jika ya… ada apakah dengan mimpi? apakah tidak ada apa-apa?

Alexander

Jawaban:

Jawaban dari Caecilia Triastuti:

Shalom Alexander,

Pada dasarnya, seperti tertulis dalam KS, Tuhan dapat saja menggunakan mimpi untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia, karena Tuhan Maha Hadir, Maha Kuasa, dan Ia mencintai manusia. Ia dapat menggunakan segala macam cara baik cara alamiah maupun yang bersifat super natural untuk menyatakan rencana-Nya yang agung kepada manusia. Dalam Perjanjian Lama misalnya yang dialami oleh Abimelek dalam Kej 20:3, kemudian dialami Yakub di Kej 28:12 dan Kej 31:10, Raja Salomo dalam 1 Raj 3: 5-15, oleh Raja Nebukadnezar dalam Dan 2:19 dan oleh Daniel dalam Dan 7:1. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan juga menyampaikan petunjuk-Nya kepada Yusuf melalui mimpi (Mat 1:20; 3:13) dan kepada Rasul Paulus (Kis. 23:11; 27:23), walau dalam dua kisah yang terakhir ini dapat juga diartikan Paulus memperoleh penglihatan saat dia dalam keadaan bangun.

Di antara mimpi-mimpi biasa yang umumnya disebabkan karena proses-proses psikis manusiawi, diperlukan proses discernment apakah sebuah mimpi  berasal dari Tuhan. Pada peristiwa-peristiwa mimpi dalam Kitab Suci yang disebutkan di atas, Tuhan dapat memberikan hikmat khusus kepada si penerima mimpi sehingga yang bersangkutan sepenuhnya yakin bahwa mimpinya adalah dari Tuhan (Berdasarkan pengajaran St Thomas Aquinas (ST II-II: 95, 6).

Tambahan jawaban dari Ingrid Listiati:

Shalom Alexander,

Memang tertulis dalam kitab Ulangan 18:10: “Neither let there be found among you any one that … observeth dreams” (“Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang… menjadi  seorang peramal, seorang penelaah…”). Namun di banyak ayat dalam Kitab Suci, kita ketahui bahwa Tuhan dapat memakai mimpi untuk menyampaikan kehendak-Nya ataupun kejadian- kejadian yang akan datang kepada orang yang bermimpi, seperti dituliskan oleh Triastuti di atas.

Ketika St. Thomas ditanya apakah menafsirkan sesuatu yang akan terjadi melalui mimpi dapat diperbolehkan, ia menjawab demikian:

“Hal menafsirkan sesuatu yang akan terjadi melalui mimpi adalah tahayul dan tidak diperkenankan ketika dasarnya adalah pendapat yang salah. Karena itu, kita harus melihat apa yang benar dalam hal menafsirkan hal- hal yang akan datang dari mimpi…. Kita harus mempertimbangkan apa yang menjadi penyebab mimpi dan apakah itu dapat merupakan penyebab peristiwa yang akan datang, atau apakah hal- hal itu dapat diketahui.

Maka harus diamati bahwa penyebab mimpi kadang ada di dalam diri kita dan kadang di luar diri kita. Penyebab mimpi dari dalam diri kita ada dua macam: yang pertama berkenaan dengan jiwa, yang mana hal- hal tersebut telah menguasai pikiran seseorang dan perhatiannya saat ia dalam keadaan sadar dan hal ini terjadi dalam imajinasinya ketika ia tidur. Penyebab yang sedemikian bukanlah karena penyebab suatu kejadian yang akan datang. Maka mimpi- mimpi yang macam ini tersangkut dengan kejadian masa datang secara tidak disengaja, dan jika benar- benar terjadi itu hanya karena kebetulan. Namun kadang penyebab mimpi yang datang dari dalam ini berkaitan dengan tubuh: sebab disposisi tubuh memimpin kepada pembentukan pergerakan di dalam imajinasi yang sesuai dengan disposisi; sehingga seseorang yang dingin rasa humornya akan bermimpi bahwa ia berada di air atau salju: dan untuk alasan ini dokter mengatakan bahwa kita harus memperhatikan mimpi untuk menemukan disposisi internal [tubuh].

Demikian pula, penyebab mimpi dari luar diri kita juga terdiri dari dua macam, berhubungan dengan tubuh (jasmani) dan dengan jiwa. Berkaitan dengan tubuh jika imajinasi orang yang tidur dipengaruhi entah oleh udara sekitar, atau melalui kesan adanya sosok surgawi, sehingga gambaran- gambaran tertentu muncul kepada yang tidur, sesuai dengan disposisi sosok surgawi tersebut. Penyebab spiritual ini sering diperkirakan adalah Tuhan, yang menyatakan hal- hal tertentu kepada manusia di dalam mimpi- mimpi mereka dengan perantaraan para malaikat, menurut Bil 12:6… Namun kadang- kadang, karena perbuatan iblis, gambaran- gambaran tertentu muncul di waktu mereka tidur, dan dengan cara ini mereka, seringnya menyatakan hal- hal yang akan terjadi kepada mereka yang telah masuk dalam hubungan erat yang terlarang, dengan mereka.

Oleh karena itu, kita harus berkata bahwa tidak dilarang untuk menggunakan mimpi untuk mengetahui hal- hal di masa datang, asalkan mimpi- mimpi itu disebabkan oleh pernyataan ilahi [dari Tuhan], atau oleh beberapa penyebab kodrati baik dari dalam maupun luar, asalkan kemanjuran dari penyebabnya diberikan. Tetapi akan menjadi tidak diperkenankan (unlawful) dan tahayul, jika hal itu disebabkan oleh pernyataan iblis, yang telah dibuat berdasarkan perjanjian, entah secara eksplisit melalui permohonan kepada mereka untuk maksud tersebut, ataupun secara implisit, melalui penafsiran yang diberikan melampaui batas- batas yang mungkin.” (Summa Theologica (ST) II-II, q.95, a.6)

Untuk membaca selengkapnya, silakan klik di link ini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Caecilia Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org

Tenanglah! Aku Ini, Jangan Takut!

2

I. Jangan takut!

Jangan Takut! Itulah perkataan Yesus kepada para murid yang ketakutan karena perahu mereka terombang-ambing badai (lih. Mat 14:27). Ketakutan membuat seseorang tidak dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas, dan bahkan dapat mengaburkan iman. Namun, pandangan yang terus-menerus kepada Yesus dapat menguatkan iman, serta dapat memberikan pengharapan yang pasti kepada kita. Iman yang teguh membuat kita dapat melangkah dengan pasti dan pengharapan di dalam Yesus membuat kita terus bertahan untuk mencapai tujuan akhir. Oleh karena itu, mari kita menghadapi tantangan hidup maupun tantangan dalam karya kerasulan dengan memusatkan pandangan kita kepada Yesus, yang terus-menerus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!

II. Teks Matius 14:22-33 (Minggu ke-19, tahun A)

22.  Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
23.  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.
24.  Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
25.  Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
26.  Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!“, lalu berteriak-teriak karena takut.
27.  Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!
28.  Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.
29.  Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
30.  Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!
31.  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?
32.  Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.
33.  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.

III. Telaah dan interpretasi Matius 14:22-33

1. Latar belakang perikop

Perikop dari Mat 14:22-23 menceritakan Yesus berjalan di atas air, yang juga diceritakan di dalam Injil yang lain, yaitu: Mrk 6:45-52 dan Yoh 6:16-21. Peristiwa Yesus berjalan di atas air terjadi setelah penggandaan roti dan terjadi ketika perahu yang ditumpangi para murid tertimpa badai topan di danau Galilea. Danau Galilea atau danau Genesaret (lih. Luk 5:1) atau disebut juga laut Tiberias (lih. Yoh 6:1; Yoh 21:1) adalah danau yang cukup luas, yang kurang lebih lebarnya hampir mencapai 10 km dengan panjang hampir mencapai 26 km. ((lih. Josephus, Bell. Jud. 3, 18.)) Kalau sebelumnya, banyak karya Yesus terjadi di sekitar danau Galilea, maka pada perikop ini, kita melihat bagaimana Yesus melakukan sesuatu yang melawan hukum alam, yaitu dengan berjalan di atas danau Galilea.

2. Karya kerasulan dan kehidupan doa adalah berbanding lurus (ay.22-23)

Menarik sekali, kalau kita simak, bahwa setelah Yesus melayani orang banyak, memberikan kesembuhan kepada mereka, serta mengadakan mukjizat penggandaan roti (lih. Mat 14:13-21), Dia menyuruh semua orang pergi termasuk juga para murid. Kemudian, Yesus pergi ke atas bukit, mengasingkan diri dan berdoa seorang diri. Ini berarti doa adalah merupakan unsur yang penting dalam pelayanan. Namun, pertanyaannya adalah mengapa Yesus, yang sungguh Allah perlu berdoa? Pertama, karena selain Kristus mempunyai kodrat sungguh Allah, Dia juga sungguh manusia. Kalau doa dapat didefinisikan sebagai “membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya” ((Thomas Aquinas, Summa Theology, q. II-II, 83, a.1-2)), maka sungguh menjadi hal yang wajar, kalau Kristus yang juga sungguh manusia (di samping sungguh Allah) menyatakan keinginan-Nya kepada Allah Bapa. Kita dapat melihat bagaimana Yesus mengungkapkan keinginan-Nya dalam kodrat-Nya sebagai manusia, ketika Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat 26:42; bdk. Mrk 14:36; Luk 22:42).

Alasan kedua bahwa Yesus berdoa adalah untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36). Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13). Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, Tuhanlah yang menjadi kekuatan, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46). Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34) Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang mengajarkan kita, para murid Kristus agar mengetahui bagaimana caranya untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – telah menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya berdoa.

Yang menjadi bahan permenungan kita adalah, Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia menunjukkan pentingnya doa. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa doa adalah merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan umat beriman. Dan terutama doa harus menjadi sumber kekuatan bagi umat Allah yang melakukan karya kerasulan. Dapat dikatakan bahwa relasi antara kegiatan pastoral dan spiritualitas adalah tak terpisahkan dan dapat dibandingkan seperti kodrat manusia, yang terdiri dari tubuh dan jiwa, di mana kegiatan pastoral adalah seumpama tubuh dan spiritualitas adalah seumpama jiwanya. Sama seperti tubuh tunduk terhadap jiwa, maka setiap karya pastoral harus mengalir dari spiritualitas. Karya pastoral yang tidak berakar pada spiritualitas atau kehidupan rohani adalah sama seperti tubuh tanpa jiwa. Tanpa ada kehidupan rohani di dalamnya, hanya tinggal menunggu waktu, maka kegiatan pastoral akan mati dengan sendirinya. Jadi, karya pastoral mensyaratkan kehidupan rohani para pelakunya, sehingga dapat menghasilkan buah- buah yang limoah, dan menghantar semua yang terlibat di dalamnya kepada kekudusan.

3. Gelombang kehidupan (ay.24)

Kehidupan rohani yang terbangun dari kehidupan doa dan sakramen menjadi sangat penting, karena begitu banyak gelombang yang menimpa kehidupan kita. Tanpa kehidupan doa yang baik, maka perahu kehidupan kita juga akan goncang. Tanpa kehidupan doa yang baik, maka perahu karya kerasulan kita juga akan tergoncang. Bahkan, kalau perahu adalah lambang Gereja, tanpa kehidupan doa yang baik dari anggota Gereja, maka Gereja juga akan tergoncang. Dan inilah yang terjadi ketika terjadi masa-masa sulit dalam sejarah Gereja. Namun, Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 16:18; Mat 28:19-20), tidak pernah meninggalkan Gereja Katolik, sehingga pada saat-saat yang sulit, Tuhan mengirimkan santa-santo yang turut membangun Gereja dari dalam.

4. Dalam badai, Yesus datang menyapa “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay.25-27)

Cara Tuhan untuk menyelamatkan seseorang dalam kesulitan atau Gereja yang dalam krisis sering dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dalam perikop ini diceritakan bahwa Yesus datang kepada para murid yang sedang panik karena terjangan badai, pada waktu dan cara yang tidak tidak umum. Yesus datang pada jam tiga (the fourth watch of the night) dan dengan cara berjalan di atas air. Sistem jam Yahudi kuno adalah dibagi tiga, yang setiap bagiannya terdiri dari empat jam (lih. Rat 2:19; Hak 7:19; Kel 14:24). Namun, Matius 14 menceritakan bahwa Yesus datang pada “the fourth watch of the night“, yang mengindikasikan sistem waktu bangsa Romawi. Pada petang hari, mulai jam 6 sore sampai jam 9, adalah masa jaga pertama, yang disusul dari jam 9-12, dan jam 12 malam – 3 pagi, dan masa jaga ke-empat adalah mulai jam 3 sampai jam 6 pagi. Dari perhitungan ini, Kitab Suci Bahasa Indonesia menterjemahkan “the fourth watch of the night” sebagai jam tiga malam. Dengan kata lain, Yesus datang pada saat waktu jaga terakhir.

Bayangkan bahwa para murid mungkin berjuang semalam suntuk di kapal dari terjangan ombak dan badai. Mungkin mereka menyadari bahwa guru mereka tidak bersama mereka, sehingga mereka tidak dapat meminta tolong kepada-Nya (lih. Luk 8:22-25). Pada saat gawat seperti ini dan pada waktu yang sungguh sulit dan tak terduga, mereka melihat sosok yang berjalan di atas air, sehingga mereka mengira bahwa itu adalah hantu (ay.26). Namun, kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay.27) Kata “tenang” atau tharséō sering dipakai Yesus ketika Dia menguatkan orang-orang sakit yang datang kepada-Nya. Dia mengatakan kepada orang lumpuh (lih. Mat 9:2) dan kepada perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan (lih. Mat 9:22) agar mereka tenang, percaya, sehingga mereka dapat memperoleh kesembuhan. Bahkan Yesus mengatakan lebih lanjut, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dari sini kita dapat belajar, bahwa dalam kondisi tanpa harap, kita dapat terus berharap kepada Yesus. Yang diperlukan adalah kepercayaan bahwa Yesus akan membantu kita, dan tidak akan pernah membiarkan kita untuk menghadapi permasalahan hidup sendirian. Kata tharséō juga digunakan oleh Yesus ketika Dia mengatakan kepada para murid bahwa jangan sampai mereka takut kalau terjadi penganiayaan di dunia ini (lih. Yoh 16:33); serta dipakai ketika Yesus mengatakan kepada Rasul Paulus agar jangan takut untuk bersaksi (lih. Kis 23:11). Ini berarti dalam menghadapi masalah kehidupan, masalah kesehatan, dan juga masalah-masalah yang harus dihadapi dalam menjalankan karya-karya kerasulan, seseorang harus terus bersandar kepada Yesus, sehingga Yesus dapat terus memberikan kekuatan. Kita harus senantiasa mengingat perkataan Yesus, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

5. Mata yang tertuju kepada Yesus (ay.28-32)

Mendengar perkataan Yesus serta mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapatkan ketenangan. Namun, bagi orang yang mengasihi, ketenangan saja tidaklah cukup. Orang yang mengasihi senantiasa ingin bersatu dengan orang yang dikasihinya. Petrus, yang mengasihi Yesus mengatakan, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay.28) Sungguh pernyataan yang terdengar berani dan mungkin cenderung terburu-buru. Namun, St. Hilarius dan St. Krisostomus melihat dari sisi yang berbeda, yaitu Petrus dipenuhi dengan kasih dan iman akan Kristus. Kasihnya membuat Petrus ingin cepat bersama dengan Yesus yang saat itu masih berjalan di atas air dan imannya membuat Petrus percaya bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air, serta percaya bahwa Yesus dapat memberikan kekuatan yang sama kepada orang lain.

Melihat kedalaman hati Petrus, maka Yesus menjawab “Datanglah!” (ay.29), sama seperti Kristus melihat kedalaman iman dari orang lumpuh dan wanita yang sakit pendarahan. Terhadap orang yang sakit ini, Yesus lebih lanjut mengatakan “Imanmu telah menyelamatkan engkau”, “dosamu telah diampuni”. Namun, terhadap Petrus, Yesus berkata “Datanglah”. Dan dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus, Petrus turun dari perahu, menapakkan kakinya dan kemudian berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Imanlah yang membuat seseorang berani untuk meninggalkan apa yang dia punyai, melepaskan apa yang dia pegang, meninggalkan daerah nyamannya, dan kemudian melangkah ke sesuatu yang mungkin lebih sulit, lebih tidak nyaman, namun, dengan mata terus tertuju kepada Yesus. Karena imanlah Abraham mau meninggalkan yang dia miliki untuk menuju tanah terjanji; dan karena imanlah Musa mau pergi menghadap ke Firaun dan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tokoh-tokoh Kitab Suci ini mau melakukan perintah Tuhan, karena mereka berpegang pada Sabda Allah. Demikian juga dengan Petrus, yang dengan berani menapakkan kakinya ke luar perahu, untuk berjalan di atas air, karena Yesus, yang adalah Sang Sabda, telah berkata kepadanya, “Datanglah!” Dengan demikian, selama seseorang memusatkan perhatian pada Sabda atau Kristus, maka dia akan dapat mengarungi badai kehidupan.

Ketika Petrus tidak lagi berfokus pada Yesus, namun pada apa yang terjadi di sekitarnya, pada tiupan angin, maka hatinya dipenuhi dengan kebimbangan dan ketakutan. St. Thomas Aquinas mendefinisikan takut sebagai penarikan diri dari kejahatan yang mengancam yang sulit diatasi. ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I-II, q.23, a.4)) Dengan demikian, ketakutan dari Rasul Petrus bersumber pada kejahatan atau ancaman yang terjadi di sekelilingnya. Dan pada saat seseorang berfokus pada ancaman serta melupakan apa yang baik yang berada di depannya, maka iman dan harapan seolah-olah menjadi kabur. Dia melupakan apa yang menjadi dasar dari langkah kehidupannya dan tidak lagi melihat bahwa sesuatu yang baik adalah mungkin untuk dicapai. Karena ancaman sekitarnya, Rasul Petrus melupakan bahwa dasar dia berjalan di atas air adalah karena kekuatan dari Sabda Kristus, dan tujuan dari dia berjalan di atas air adalah untuk mendekat dan bersatu dengan Kristus. Kehilangan dasar (iman) dan tujuan (harapan), membuat Rasul Petrus ketakutan dan kemudian mulai tenggelam.

Lawan dari ketakutan adalah keberanian (audacity), yaitu sikap berani untuk menghadapi tantangan atau ancaman. Keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan bukanlah bersumber pada diri kita, namun pada Kristus sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita takut, maka kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita, yaitu Kristus sendiri. Inilah yang dilakukan oleh rasul Petrus, ketika dia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay.30)  Dan pada saat kita meminta tolong kepada Tuhan, ketika kita mengangkat tangan kita, maka Tuhan menghampiri kita, memegang tangan kita dan menarik kita dari keterpurukan kita, sama seperti Kristus kemudian mengulurkan tangan-Nya (ay.31). Ketika Kristus mengulur tangan-Nya, Dia menghapus semua kebimbangan dan ketakutan Petrus, dan kemudian Kristus membawa Petrus naik ke perahu (ay.32). Sungguh menarik bahwa ketika Yesus menghapus ketakutan dan kemudian naik perahu bersama mereka, maka dikatakan bahwa anginpun reda. Hanya ketenangan di dalam Tuhanlah yang dapat meredakan ketakutan kita.

6. Pengakuan akan Kristus sebagai Anak Allah (ay. 33)

Pengalaman akan Kristus yang sungguh mampu untuk melakukan mukjizat baik yang mampu melakukan kesembuhan-kesembuhan, memperbanyak roti, menguasai kekuatan alam, serta membuat Petrus dapat berjalan di atas air serta menolongnya ketika dia tenggelam, membuat para rasul menyembah Yesus dan mengatakan, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Sebelumnya, para murid kebingungan akan identitas Yesus ketika Yesus meredakan angin ribut, sehingga mereka terheran-heran dan bertanya, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Namun, pada kejadian ini, mereka menyadari bahwa guru mereka adalah Anak Allah. Pernyataan akan ke-Allahan Kristus ini juga diulangi oleh Petrus di Matius 16:16, yang dilanjutkan dengan pemberian kuasa oleh Kristus kepada Rasul Petrus untuk memegang kunci Kerajaan Sorga.

IV. Mengarungi hidup dengan penuh iman dan pengharapan

Perikop Yesus berjalan di atas air memberikan pelajaran kepada kita, agar kita senantiasa menaruh kepercayaan kita kepada Yesus, sehingga kita dapat mengarungi gelombang kehidupan dengan penuh iman dan pengharapan. Tanpa iman dan pengharapan di dalam Kristus, kehidupan kita akan terpusat pada masalah dan gelombang. Namun dengan iman dan pengharapan, kita akan dapat melalui gelombang kehidupan dengan ketenangan dan damai.

Yesus tidak benar- benar mati di salib?

24

Pertanyaan:

salam…….@admin
1. Bahwa Yesus tidak mencontohkan pada masa hidupnya tentang tanda salib. Bahkan pasca “kebangkitan”nya belum ada tanda salib yang dia contohkan. Yah, karena memang Yesus tidak mati disalib. Silahkan BACA DISINI

2. Para pengarang Kitab Suci tidak dapat membuat distorsi atas Wahyu Allah yang ditulisnya. Itulah sebabnya, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, pada waktu dan tempat yang berbeda juga, namun dapat menyampaikan inti pengajaran yang sama. Fakta ini malah menjadi bukti nyata bagi keotentikan Kitab- kitab tersebut,,,,,
Jadi adakah termasuk LUPA pada LUKAS.Bagian tesebut = bagi saya adalah bukti tidak otentik=.

3. Sebab kedudukan Kitab Suci tidak lebih tinggi dari Gereja. Gereja (jemaat) adalah Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepalanya
Gereja adalah rumah ibadah.
Kristus adalah imam/pemimpin.
Keduanya berjalan dengan tuntunan KITAB SUCI. Karena Kitab Suci adalah dari Tuhan baik dari sisi mana saja.
Kitab Suci = Gereja dan Kristus maka jika ada perbedaan pendapat dalam suatu perkara, mana yang akan digunakan?
1.Gereja
2.Kitab Suci
3.Gereja yang menafsirkan KS
4.KS berdasarkan tafsir Gereja?
5.Berpikir dalam kerangka KS?
Seperti kasus perceraian. Musa membolehkan, Yesus melarang. Jika saya berselingkuh, maka hukum KS/Gereja mana yang berlaku?
salam

Jawaban:

Shalom Abu Hanan,

1. Yesus tidak benar- benar mati?

Anda memberikan argumen bahwa Tanda Salib tidak diajarkan Yesus karena Yesus sendiri tidak mati di salib, namun Ia hanya ‘mati suri’/ koma. Dalam argumen anda, anda mengatakan hal yang menyebabkan Ia tidak mati adalah karena diberi minum anggur asam (Yoh 19:29), yang mempunyai efek narkotik dan menjadikan Dia koma. Ramuan ini (anda sebut juice tanaman Asclepias Acida) menurut anda adalah buatan kaum Essenes yang mahir dalam hal pengobatan. Selain ini anda juga menyebutkan bahwa orang yang dihukum salib biasanya meninggal perlahan, namun jika ingin dipercepat maka korban dipatahkan kakinya, dan hal ini tidak diperbuat atas Yesus. Prajurit hanya menikam lambungnya dan dari situ keluar air yang deras mengalir, yang menandakan bahwa Ia masih hidup. Maka menurut anda, pada saat Injil mengatakan Yesus ‘kelihatan’ sudah mati, namun sebenarnya belum mati. Jenazah kemudian diturunkan dan diberi rempah- rempah oleh Yusuf Arimatea, Nikodemus dan Magdalena yang sebenarnya adalah obat, sehingga dapat membuatnya bangun/ siuman.

Namun argumen ini sesungguhnya merupakan hipotesa, yang tidak sejalan dengan fakta-fakta berikut ini:

1. Injil Yohanes mengatakan, “Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. (Now there was a vessel (σκεῦος, skeúos) set there, full of vinegar (Douay Rheims Bible). Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.”

Pertanyaannya, mengapa sampai ada bejana anggur asam di tempat para prajurit itu yang menyalibkan Yesus, sehingga mereka mencucukkan bunga karang pada hisop untuk mengunjukkannya ke mulut Yesus? Walau tidak tertulis dalam Injil, sehingga dapat saja orang menduga banyak hal (seperti bahwa minuman itu dibuat dan dibawa ke sana oleh orang- orang Essenes), namun hipotesa yang lebih kuat adalah karena minuman anggur asam (Posca) tersebut merupakan minuman populer bagi para orang Romawi dan Yunani kuno. Minuman itu adalah campuran antara anggur asam/ cuka dengan air dan sari tumbuh- tumbuhan. Sumber yang netral Wikipedia juga mengatakan demikian, bahwa posca yang berasal dari Yunani aslinya adalah campuran untuk obat, namun kemudian menjadi mimuman sehari- hari bagi prajurit Romawi dan orang- orang kelas bawah, sejak abad 2 SM sampai sepanjang sejarah Romawi dan Byzantin. Dalam campuran ini, digunakan kembali anggur yang sudah rusak karena penyimpanan yang kurang baik. Dengan sifatnya yang asam, anggur ini mengandung vitamin C, dapat membunuh bakteri dan aromanya mengatasi bau air bersih lokal. Maka hipotesa bahwa anggur asam ini mempunyai efek membuat orang koma, nampaknya berlebihan. Mengingat bahwa cara memasukkan minuman ke dalam tubuh Yesus juga hanya melalui cucukan bunga karang, sehingga praktis hanya membasahi mulut, nampaknya tidak banyak efek yang bisa diharapkan dari cairan tersebut.

2. Mengapa air dan darah mengalir dengan kuatnya dari lambung Yesus yang ditikam?

Dikatakan dalam Injil Yohanes, “tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan. Dan ada pula nas yang mengatakan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.” (Yoh 19:33-37)

Maka prajurit tersebut menikam lambung Yesus (kemungkinan untuk menikam jantungnya), untuk memastikan agar Dia benar- benar mati. Dari sanalah segera mengalir air dan darah. Fenomena ini memang tidak biasa pada orang- orang yang sudah meninggal, dan ini juga dicatat oleh saksi mata yang melihat sendiri dan memberikan kesaksian itu (lih. Yoh 19:35). A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, ed., menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut: “Ada banyak pandangan untuk menjelaskan hal itu, dan kebanyakan mengatakan bahwa air tersebut merupakan serum tubuh yang terkumpul di pericardium, karena penderitaan yang sangat intens yang diterima Yesus [akibat cambukan, siksa dan aniaya hukuman salib]. Namun apakah alirannya yang keras merupakan mukjizat ataupun dapat dijelaskan secara alami, sebagaimana dikatakan para ahli fisiologis, tidak menjadi penting. Sebab kenyataannya demikian, dan ini dicatat di kitab Injil. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa kedua cairan itu melambangkan Baptisan dan Ekaristi, dan melihat adanya rahmat Tuhan yang mengalir melalui kedua aliran yang dan menghidupkan kembali dan memberi hidup ini, yang melahirkan Hawa yang baru (yaitu Gereja) dari rusuk/ lambung Adam yang baru, yang ‘tertidur’ [sleep of death] di kayu salib.”

3. Rempah- rempah adalah obat dari kaum Essenes yang membangunkan Yesus dari koma?

Wikipedia, mengutip Kittle Gerhardt, mengatakan bahwa ritual pemurnian adalah praktek yang umum dilakukan oleh bangsa- bangsa di Palestina pada abad- abad awal, dan bukan hanya menjadi kebiasaan orang Essenes. (Kittle, Gerhardt. Theological Dictionary of the New Testament, Volume 7. pp. 814, note 99).

Menurut adat orang Yahudi, orang yang wafat harus segera dikubur. Orang Yahudi umumnya menguburkan jenazah dalam kubur batu. Umumnya jenazah dimandikan dan dibungkus dengan kain pengikat. Minyak wangi dan rempah- rempah dapat dikenakan pada jenazah. Injil Yohanes mengatakan bahwa Nikodemus datang ke kubur dengan membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu (myrrh and aloes, lih. Yoh 19:39). Khasiat minyak mur pertama tama adalah sebagai pewangi, sedangkan gaharu adalah untuk mengobati luka. Walaupun ada pula efek medisinalnya, namun adalah suatu hipotesa yang masih harus dibuktikan untuk mengatakan bahwa minyak tersebut dapat membangunkan orang dari koma/ mati suri, apalagi jika diandaikan harus memberi efek relatif segera.

4. Kitab Suci jelas menyatakan bahwa Yesus mati.

Kami umat Kristiani menerima apa yang disampaikan oleh keseluruhan Kitab Suci, dan tidak hanya menerima sebagian ayat dan menolak ayat yang lain. Hal kematian Yesus dicatat di dalam Injil dengan jelas. Sebab walaupun di ayat Mrk 15: 39 memang dikatakan bahwa kepala pasukan “melihat” mati-Nya Yesus, namun ayat sebelumnya mengatakan, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Mrk 15:37, lih. Mat 27:50, Luk 23:46, Yoh 19:30). ‘Menyerahkan nyawa’ adalah perkataan lain (sinonim) dari kata ‘mati’. Injil Lukas mencatat bahwa sebelum menyerahkan nyawa-Nya, Yesus berkata, “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46).

Banyak Bapa Gereja yang mengartikan teriakan nyaring ini pada saat kematian-Nya sebagai indikasi bahwa Ia adalah Tuhan dan bahwa Ia wafat atas kehendak bebas-Nya sendiri. Perkataan yang diucapkan sedemikian menunjukkan bahwa Ia tetap mempunyai kesadaran penuh dan pengendalian diri yang sempurna sampai pada akhir hidup-Nya. Kematian Kristus adalah kematian yang dikehendaki oleh Diri-Nya sendiri: Ia mempunyai kuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya dan memperoleh-Nya kembali (lih. Yoh 10:17-), namun Ia memberikannya demi menyelesaikan rencana Ilahi untuk keselamatan manusia. Kata- kata terakhir-Nya merupakan pernyataan kehendak bebas-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia. Pada saat jam tiga petang, pada saat anak domba paska dikorbankan di bait Allah (yang hanya beberapa yard dari tenpat penyaliban Yesus) menurut ritual Perjanjian Lama, Anak Domba Allah telah wafat (lih. 1 Kor 5:7).

Maka hipotesa yang menyatakan Yesus hanya mati suri ataupun pingsan (tidak sungguh- sungguh wafat) tidak cocok dengan banyak ayat dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Kristus sungguh wafat/ menyerahkan nyawa-Nya.

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci…” (1Kor 15:3)

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (1Kor 15:20)

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan…” (1Ptr 1:3)

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh…” (1 Ptr 3:18)

Di atas semua itu, hal kematian Yesus telah berkali- kali dikatakan oleh Yesus sendiri (lih. Mat 17: 22; Mat 20:19; Mat 26:2; Mrk 9:30; Mrk 10:33-34; Luk 18:32).

“Ia [Yesus] berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 17:22)

“Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” (Mrk 9:30)

… kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” (Mrk 10:33-34)

“Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit.”

Maka seseorang yang mengatakan bahwa Yesus hanya mati suri, sama saja ia menuduh Yesus berdusta. Bagi kami umat Kristiani, argumen tersebut tidak berdasar, justru karena bertentangan dengan perkataan Yesus yang adalah Sang Kebenaran. Sebab yang mempunyai hipotesa tersebut adalah manusia yang tak luput dari kesalahan, sedangkan yang mengatakan bahwa Yesus wafat dibunuh adalah Tuhan Yesus sendiri, yang tidak mungkin salah. Maka argumen yang mengatakan bahwa Yesus pingsan (yang biasanya didahului gejala berangsur kehilangan kesadaran), juga tidak sesuai dengan kenyataan, karena justru sampai akhirnya, Yesus dengan sadar berseru, bahkan dengan suara lantang, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46).

Bahwa setelah wafat-Nya, ketika lambung Yesus ditusuk oleh tombak, lalu memancarlah air dan darah, juga tidak dapat dikatakan bahwa itu merupakan tanda bahwa Ia masih belum wafat. Sebab keadaan tersebut walaupun langka, dapat diterangkan secara medis, dan dapat pula merupakan tanda supernatural sebagai pemenuhan nubuat yang samar- samar digambarkan dalam Perjanjian Lama. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa seperti Hawa terbentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja (sebagai Hawa yang baru, Mempelai Kristus) terbentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Kristus (Adam yang baru), seperti dikatakan juga oleh Rasul Paulus dalam Ef 5: 24-27.

2. Lukas keliru sewaktu mengatakan bahwa ada nubuatan tentang kebangkitan Yesus di kitab Mazmur?

Tidak, St. Lukas tidak keliru. Ada ayat- ayat dalam kitab Mazmur yang memang menyampaikan nubuat tentang wafat dan kebangkitan Kristus Sang Mesias. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

3. Tentang kaitan Kitab Suci, Gereja dan Kristus

Nampaknya harus diketahui terlebih dahulu, bahwa ada perbedaan antara Gereja dan gereja. Sebab Gereja (dengan huruf besar) artinya adalah jemaat/ ekklesia, sedangkan gereja (dengan huruf kecil) adalah gedungnya. Maka dalam artian Gereja sebagai jemaatlah, kita mengatakan bahwa Kristus adalah Kepalanya. Dengan Kristus sebagai Kepala Gereja, maka tidak dapat dikatakan bahwa kedudukan Kitab Suci berada di atas Kristus dan Gereja, sebab Kristus sebagai Allah Putera itu sendiri lebih tinggi dari Kitab Suci dan tidak terbatas oleh Kitab Suci. Bahwa selama penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus menaati ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, itu benar, tetapi secara keseluruhan, dalam kodrat-Nya sebagai Allah, Kristus tidak dibatasi atau terbatas dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Kitab Suci sendiri mengajarkan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (jemaat) dan bukan Kitab Suci itu sendiri, seperti diajarkan oleh Rasul Paulus, “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15).

Oleh karena itu, Gereja Katolik melestarikan semua Wahyu Ilahi yang disampaikan baik dalam Kitab Suci maupun yang diajarkan dalam Tradisi Gereja. Sebab dikatakan di dalam Injil Yohanes bahwa Kitab Suci tidak memuat semua ajaran Yesus, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Hal- hal lain/ ajaran yang tidak tertulis dalam Kitab Suci tersebut tetap diteruskan oleh para murid Kristus kepada para penerus mereka untuk dilestarikan. Sebab Rasul Paulus mengajarkan agar Gereja berpegang kepada ajaran- ajaran para rasul baik yang tertulis dalam Kitab Suci, maupun yang tidak tertulis/ lisan (dalam Tradisi Suci), “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15). Maka Sabda-Nya dipercayakan Kristus kepada Gereja, dan Gerejalah yang paling berhak untuk menginterpretasikan Sabda-Nya dengan benar. Keempat Injilpun ditulis berdasarkan ajaran lisan (Tradisi Suci) yang diberikan oleh Kristus kepada para murid-Nya (Gereja), yang kemudian dituliskan oleh Rasul Matius dan Rasul Yohanes, St. Lukas (murid Rasul Paulus) dan St. Markus (murid Rasul Petrus). Itulah sebabnya Gereja Katolik memegang baik Tradisi Suci maupun Kitab Suci, karena keduanya berasal dari sumber yang sama.

Kristus tidak menulis Kitab Suci, namun mendirikan Gereja di atas Rasul Petrus, demikian Sabda-Nya, “Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat (Gereja)-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18); dan Ia berjanji menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 28:19-20). Dengan demikian, Kristus mempercayakan kepemimpinan umat-Nya kepada Petrus dan para penerusnya, yang kini disebut sebagai Magisterium Gereja, yang diberi kuasa untuk mengajar dan mengampuni dosa, yang disebut kitab suci “kuasa untuk mengikat dan melepaskan” (Mat 16:19, Mat 18:18). Kuasa mengajar dalam hal ini adalah dalam hal iman dan moral, sehingga jika terdapat perbedaan pandangan yang berhubungan dengan iman dan moral, yang menjadi acuan adalah ajaran yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang telah ditentukan oleh Magisterium Gereja, yang diberi kuasa oleh Kristus untuk memimpin Gereja. Selanjutnya Magisterium mengeluarkan ketentuan/ peraturan/ hukum Gereja yang sifatnya lebih praktis untuk melaksanakan ajaran iman dan moral tersebut. Jadi di sini terlihat adanya tiga pilar dalam Gereja yang tidak terpisahkan: yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Keterangan tentang hal ini, silakan klik di sini.

Selanjutnya, dalam kehidupan menggereja, para penerus rasul itu adalah Paus dan para Uskup, dan mereka dibantu oleh para imam. Para Uskup memimpin wilayahnya yang disebut keuskupan. Dan untuk penyelesaian praktis yang menyangkut pelanggaran ataupun perkara hukum Gereja, hal itu dapat diputuskan oleh Tribunal keuskupan.

4. Dasar untuk menyikapi perceraian dan perselingkuhan

Dalam Gereja Katolik, tidak diperbolehkan adanya perceraian, (lih. Mat 19:6). Namun adakalanya, perkawinan diadakan padahal tidak memenuhi persyaratan perkawinan yang sah seperti yang disyaratkan oleh hukum Gereja. Jika ini kejadiannya, maka perkara tersebut dapat diajukan ke pihak Tribunal keuskupan, dan jika hal ini dapat dibuktikan, maka Tribunal dapat memberikan ijin pembatalan perkawinan, artinya menyatakan bahwa perkawinan tersebut batal, karena tidak memenuhi syarat sebagai perkawinan yang sah. Pembatalan perkawinan tidak sama artinya dengan perceraian, sebab pembatalan artinya perkawinan itu sudah tidak sah sejak awal (karena halangan/ cacat yang sudah ada sebelum atau sejak hari H perkawinan), dan bukannya sudah sah awalnya, tetapi cerai kemudian karena alasan yang baru terjadi setelah perkawinan. Tentang hal ini, prinsipnya sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik. Sedangkan jika perkawinan sudah sah diberikan, maka tidak dapat diceraikan. Jika toh ada pihak yang meninggalkan pasangannya yang sah, maka ketentuan yang berlaku adalah keduanya tidak dapat menikah lagi. Hal bahwa dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Musa memperbolehkan perceraian, itu sudah dijelaskan oleh Tuhan Yesus, bahwa hal itu diberikan karena ketegaran hati umat Israel, sedangkan bukan demikian yang pada awalnya ditentukan Allah (lih. Mat 19:8). Dengan demikian, Gereja Katolik mengacu kepada ajaran yang dikehendaki oleh Allah sejak awal mula, seperti yang diajarkan oleh Yesus, yaitu, perkawinan adalah antara seorang laki- laki dan perempuan, dan setelah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia (lih. Mat 19:5-6).

Sedangkan untuk perselingkuhan, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Perselingkuhan adalah tindakan yang melanggar moral namun bukan yuridis, oleh karena itu tidak dikaitkan dengan Tribunal. Kitab Hukum Kanonik mengatur tindakan yuridis, bukan moral baik atau buruk. Pelanggaran moral diselesaikan antara sang peniten di hadapan Tuhan dalam sakramen Pengakuan dosa, dan tentu ia memiliki kewajiban moral untuk tidak mengulanginya lagi ataupun bertanggungjawab untuk perbuatannya jika perselingkuhan itu sampai melahirkan kehidupan yang baru. Dalam menyelesaikan perkara- perkara di atas, baik hal perkawinan, perselingkuhan atau perkara- perkara lainnya, acuan dasarnya tetap Kitab Suci, Tradisi Suci dan ajaran Magisterium Gereja.

Kata ‘Gereja’ memang mempunyai dua makna, yaitu jemaat (dengan huruf besar: Gereja) dan gedung gereja (dengan huruf kecil: gereja). Jika dikatakan Kristus adalah Kepala Gereja, ini adalah dalam pengertian bahwa Yesus adalah Kepala jemaat. ‘Gereja’ yang menafsirkan Kitab Suci juga adalah jemaat, dan bukan bangunan. Gereja Katolik adalah Gereja (jemaat) yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, dan karena Gereja diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar, maka apa yang diajarkan oleh Gereja tidak mungkin bertentangan dengan Kitab Suci.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Bertumbuh bersama TYTC (Truly Youth Truly Catholic)

15

[Dari Katolisitas:

Kami di katolisitas.org sangat mendukung kegiatan orang muda Katolik yang ingin mendalami ajaran iman Katolik, seperti pada komunitas TYTC (Truly Youth Truly Catholic) ini. Rubrik ini disediakan untuk memuat diskusi mereka tentang iman Katolik, yang rencananya akan diadakan setiap Jumat di paroki Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Semoga apa yang dituliskan di sini dapat berguna bagi sekalian pembaca].

Pengantar

Seiring berkembangnya jaman, orang muda Katolik sering mendapatkan label yang menggambarkan bahwa mereka tidak peduli terhadap iman mereka. Pernyataan tersebut ada benarnya, namun hal ini bukan berarti bahwa mereka tidak perlu memahami iman mereka. Di samping itu, katekese (pengajaran) terhadap orang muda di Gereja Katolik pun berangsur-angsur mulai pudar, sehingga banyak sekali ketidaktahuan orang muda Katolik terhadap “identitas” mereka, yang pada akhirnya membuat iman mereka mudah terguncang oleh serangan-serangan dari luar. Seperti peribahasa “tak kenal maka tak sayang”, banyak orang muda Katolik yang sebelum mengenal keindahan iman mereka, sudah berpaling ke gereja lain. Telah menjadi hal yang biasa bila kita mendengar orang muda Katolik berpendapat bahwa Gereja Katolik itu kuno dan membosankan, serta merasa tidak bertumbuh dalam iman.

Sekarang ini, Gereja Katolik pun sudah melihat permasalahan tersebut dan mulai mengambil langkah dalam hal katekese orang muda ini. Menjelang World Youth Day 2011, Paus Benediktus XVI mengatakan, “Beberapa orang mengatakan bahwa orang muda sekarang ini tidak tertarik terhadap katekese, tetapi saya tidak percaya terhadap pernyataan tersebut dan saya yakin bahwa saya benar. Mereka tidak seburuk apa yang dipikirkan orang; orang muda sebenarnya ingin tahu tentang kebenaran hidup mereka.” Dari pernyataan ini, kita dapat melihat bahwa semua orang muda Katolik memang perlu menyadari akan pentingnya mengenal dan mengasihi iman Katolik.

Duc in altum, yang artinya “bertolaklah ke tempat yang dalam” memberitahukan kita bahwa dengan bantuan Tuhan segala sesuatu bisa terpenuhi. Seperti ketika Kristus memerintahkan Simon, “bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu,” Simon segera melakukan itu dan tertangkaplah sejumlah besar ikan (Luk 6). Truly Youth Truly Catholic Community pun terbentuk dari keputusan untuk duc in altum atas perintah Kristus supaya kita mewartakan segala sesuatu yang Ia ajarkan melalui Gereja-Nya (Mt 28:19-20). Dengan ini, Truly Youth Truly Catholic Community ingin menyediakan wadah bagi orang muda Katolik dari seluruh paroki untuk berkumpul bersama sambil menemukan keindahan-keindahan iman Katolik melalui katekese atau ajaran-ajaran Gereja.

Pada akhirnya, semoga kita sebagai orang muda Katolik yang tetap berjiwa muda (truly youth) memiliki kerinduan untuk mengetahui iman Katolik lebih dalam, sehingga membentuk kita menjadi anak muda yang sungguh Katolik (truly Catholic), dan bermuara pada keinginan untuk membagikan kebenaran ajaran Gereja Katolik ini kepada sesama.

(ditulis oleh Kevin Ang, TYTC)

Kebahagiaanmu Adalah Kekuatanku

6

Pengantar dari Editor:

Tidak sering dalam keseharian, kita mengetahui mengenai pelayanan pastoral untuk orang sakit, walaupun sesama yang sakit selalu saja ada di sekitar kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Terima kasih Romo Andi Suparman, MI, yang telah berkenan berbagi suka duka pengalamannya melayani aneka kebutuhan pastoral dan pendampingan pasien serta keluarganya di Rumah Sakit Umum Daerah Maumere, Flores. Sebagai imam muda yang baru sepuluh bulan ditahbiskan, Romo Andi bergumul dengan tantangan pelayanannya yang memerlukan kesungguhan, kerendahan hati, ketegaran, kesetiaan, dan iman. Kisah yang dituturkannya di bawah ini tak pelak lagi menyaksikan kepada kita semua, betapa indah karunia penyelenggaraan Allah, yang selalu menyediakan semua yang diperlukan oleh anak-anak-Nya, baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Terpujilah Allah yang senantiasa memelihara dan menyelenggarakan hidup yang berkelimpahan rahmat bagi semua yang selalu mengandalkan Dia.

Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,  sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.  Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (2 Kor 9 : 13 -15)

Duniaku di sekitar rumah sakit

Hari pertama saya masuk pelayanan di rumah sakit setelah absen beberapa minggu untuk mengikuti kegiatan di luar Flores, sungguh mengharukan. Pagi itu, badanku masih terasa capai, karena perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta di hari sebelumnya. Apalagi penundaan pesawat dari Bali ke Maumere yang tidak jelas penyebabnya, membuatku merasa gerah dan bertambah lelah. Setiba di rumah, masih ada banyak hal yang harus kubereskan, padahal hari sudah malam.

Tetapi pagi itu saya merasa ada dorongan dari dalam untuk tetap pergi mengunjungi pasien di rumah sakit. Apalagi kurang lebih sebulan saya tidak berjumpa dengan mereka. Biasanya selalu ada semangat baru yang kuterima selepas kunjungan harian di rumah sakit. Senyum tawa kebahagiaan pasien yang kudampingi di tengah penderitaannya karena sakit, selalu saja memberikan semangat dan kekuatan baru kepadaku.

Para rekan kerjaku, para staf dan pelayan medis rumah sakit, memberikan banyak ucapan kepadaku, seperti  ‘selamat datang’, ’selamat berjumpa kembali’, ‘sudah lama tidak ketemu’, dan tentunya, ‘mana oleh-oleh dari luar Flores’. Demikian juga para pasien dan keluarga pasien yang sering keluar-masuk rumah sakit, yang sudah kujumpai sebelumnya, memberikan ucapan  yang sama. Semuanya itu tentunya mengungkapkan arti kehadiranku di tengah-tengah mereka. Ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan saat menerima ucapan-ucapan kegembiraan mereka. Sambutan hangat mereka membuatku selalu merasa, bahwa kehadiranku berarti bagi mereka. Walaupun aku menyadari bahwa seringkali aku tidak memberikan apa-apa kepada mereka sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti materi, uang, dll.

Kegiatan harianku berkisar sekitar kebutuhan orang sakit. Aku selalu hadir di tengah-tengah mereka, memberikan apa yang bisa kuberi dan kumiliki, seperti mendoakan, melayani Sakramen Orang Sakit, rekonsiliasi dan Ekaristi, memberikan konseling, menghibur yang bersusah. Selebihnya hanyalah menghadirkan diri secara utuh di tengah-tengah mereka, walaupun hanya menjadi pendengar setia terhadap berbagai masalah dan persoalan yang mereka hadapi atau alami.

Aku hanyalah seorang pelayan Tuhan yang biasa, yang memberikan pelayanan pastoral terhadap orang sakit, keluarga orang sakit, para dokter dan perawat, dan siapa saja yang kujumpai di rumah sakit, yang membutuhkan pelayananku. Aku tahu, bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang mempunyai segudang ilmu tentang kesehatan atau spiritualitas. Apalagi aku masih terlalu muda dalam kehidupan imamat (baru 10 bulan). Walaupun pengalamanku dengan orang sakit dari berbagai latar belakang, jenis penyakit, dan penderitaan sudah tidak sedikit lagi sejak aku menjalankan tahap pembinaanku di Filipina sejak tahun 2000, namun hal itu tidak pernah membuatku merasa cukup dan puas untuk menimba pengalaman baru demi memperkaya pelayananku di rumah sakit.  Sumber pengetahuanku  yang paling berarti ialah dari pengalaman pertemuan dan interaksi dengan orang-orang yang kulayani. Pengalaman itu tetap menjadi guru terbaik bagiku. Apa yang kuperoleh dari buku-buku, dari kegiatan-kegiatan rohani, seringkali hanya melengkapi dan memperkuat apa yang kualami di tempat pelayanan. Sungguh, pengalaman masih merupakan guru yang terbaik.

 

Pagi yang berahmat

Pagi itu cukup berbeda dengan hari-hari lainnya. Orang pertama yang kujumpai di lorong rumah sakit adalah bekas pasien yang kulayani, yang kini sudah sembuh. Begitu banyak pasien yang telah kulayani setiap  hari, dan aku mengakui bahwa aku merasa sulit untuk mengingat mereka satu persatu serta jenis penderitaan yang mereka derita. Kecuali kalau kejadiannya sangat unik, baru bisa kuingat terus menerus. Itupun kalau sering bertemu. Tetapi yang pasti bahwa selama berada bersama mereka di kamar pasien atau di mana saja dalam pelayanan, saya sungguh bersatu dengan mereka secara fisik, mental, dan spiritual.

Saya tidak ingat lagi apa jenis penyakit ibu ini. Tetapi dia sempat dirawat di rumah sakit bersama anaknya yang masih duduk di sekolah dasar ketika saya bertemu dan melayani dia. Seperti biasanya saya mendoakan semua pasien yang saya layani di tempat tidur mereka. Banyak juga yang merasa tidak cukup kalau hanya berdoa dan diberkati, tetapi juga meminta diberkatkan air dan garam untuk konsumsinya selama sakit. Demikian juga ibu ini, selain meminta doa, dia juga meminta diberikan air dan garam. Semuanya itu kulakukan dengan iman dan harapan yang teguh bahwa Tuhan akan memberikan apa yang terbaik bagi mereka dan mengabulkan segala doa dan harapan hati mereka.

Ketika kami bertemu di lorong rumah sakit, dia menyapaku dengan semangat. Ada perasaan bahagia dan senang terpancar di wajahnya. “Selamat pagi Romo. Anakku sudah sembuh dan sekarang sudah masuk sekolah lagi. Aku juga sudah sehat; sekarang sudah masuk kerja lagi,” katanya dengan gembira. Serentak, pikiranku mencoba mengingat kembali siapa sesungguhnya ibu ini. Dan akhirnya aku bisa ingat kembali bahwa dia dan juga anaknya pernah aku kunjungi dan doakan sewaktu mereka dirawat di rumah sakit sebelumnya. “Terimakasih untuk doa-doanya bagi kami. Tuhan mendengarkan doa-doa kami dan juga doa-doa Romo bagi kami,” lanjutnya.

“Oh ok, Bu. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk kesembuhannya,” jawabku kepadanya. Saat itu juga hatiku berdebar-debar penuh kegembiraan. “Siapakah aku ini sampai dia harus berterima kasih kepadaku?  Bukankah Tuhan yang sudah membuat semuanya indah baginya?” kataku dalam hati. “Tetapi itu karena doa Romo juga untuk kami”, lanjutnya.

Tak lama kemudian, dia memintaku untuk memberkati rosario besar yang telah disiapkannya setelah sembuh dan menantiku untuk memberkatinya. Aku merasa aneh, mengapa harus menungguku, karena masih banyak romo lain selama aku di luar daerah.  “Aku sudah lama mempersiapkan rosario ini untuk diberkati oleh Romo. Aku mau menggantungkan rosario besar ini di pintu masuk rumah kami, supaya selalu dilindungi oleh Tuhan”, katanya. Aku merasa tersanjung ketika mendengarkan perkataannya, dan hanya bisa tersenyum. Lalu meyakinkan dia, akan melayani permintaannya andaikan dia bawa rosarionya ke rumah sakit. “Ok Romo, aku akan bawa esok. Aku yakin sekali pada keampuhan doa Romo, makanya aku menunggu sampai Romo tiba” katanya lagi.  Aku hanya tersenyum, lalu berpamitan untuk  melanjutkan kunjunganku ke kamar pasien.

Pagi itu merupakan suatu pagi yang berahmat bagiku. Tak pernah kuduga bahwa aku harus menerima kabar sukacita itu dari mantan pasien yang kulayani. Tubuhku yang letih serentak dikuatkan kembali, dan semangat baru muncul dalam diriku untuk melanjutkan kegiatanku hari itu di rumah sakit.

Keesokan harinya, aku menemuinya lagi untuk memenuhi janjiku. Benar memang, dibawanya rosario besar dari kayu, yang panjangnya kurang lebih 1 meter. Kuberkati rosarionya sambil lalu berjanji akan terus mendoakan dia dan keluarganya agar selalu diberkati Tuhan. Betapa besar kegembiraan yang terpancar di wajahnya usai pemberkatan itu. Tentu semua harapan dan impiannya terpenuhi setelah lama menunggu sampai aku tiba di rumah sakit lagi.

Kesembuhan datangnya dari Tuhan

Tentunya ini bukanlah pengalaman pertama yang kualami di mana seseorang memperolah rahmat kesembuhan dari penyakitnya. Sewaktu aku di Filipina, di beberapa rumah sakit yang kulayani, ada juga yang sembuh dari penyakitnya setelah kami berdoa bersama. Demikian juga di rumah sakit yang kulayani sekarang. Ada banyak kisah penyembuhan yang kualami. Ada yang sembuh secara fisik, ada yang sembuh secara psikologis, dan juga secara spiritual. Pengalaman – pengalaman itu tentunya adalah karya agung Tuhan. Kesembuhan itu datangnya dari Tuhan. Aku atau siapapun juga, hanyalah perantara atau medium untuk terjadinya rahmat penyembuhan itu. Kuingat Rasul Petrus bersaksi dalam Kis 3 : 16 Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.

Aku selalu mengatakan kepada pasienku bahwa rahmat kesembuhan itu berasal dari Tuhan, dan sesungguhnya Tuhan ada dan berdiam di dalam hati setiap orang. Karena itu, rahmat kesembuhan itu seharusnya datang dari dalam diri setiap orang, bukan dari luar. Apa yang datang dari luar, seperti sentuhan, kata-kata hiburan, doa-doa, perawatan, dll,  hanyalah melengkapi dan memfasilitasi proses terjadinya rahmat penyembuhan di dalam diri pasien.

Karena itu, untuk memperoleh kesembuhan, seorang pasien harus mampu menciptakan kondisi bathin yang aman dan damai, serta membangkitkan semangat dan kekuatan, a fighting spirit, dari dalam dirinya untuk bisa bangun dan keluar dari penderitaan, baik fisik maupun psikologis, yang sedang dideritanya. Sebab di dalam diri setiap orang ada kekuatan yang memampukan tubuhnya untuk bekerja memulihkan dirinya sendiri. Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Kemampuan tubuh itu bisa bekerja dengan efektif kalau ada aspek–aspek lain yang mendukung, seperti kondisi psikologis/emosional, spiritual, bathin, dan juga sosialnya. Kondisi emosional yang selalu diliputi stress, bathin yang tidak tenang, kehidupan sosial yang tidak mendukung dan juga kehidupan rohani yang lumpuh, membuat kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya terhambat. Sebaliknya, kondisi emosional, bathin, spiritual, dan sosial yang stabil akan mendukung tubuh manusia untuk bekerja secara sempurna dan mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Di samping itu, pengalaman saya sendiri mengatakan bahwa keyakinan pasien itu sendiri juga sangat penting, yaitu Tuhan bisa membantu dia dengan segala cara yang paling tepat, terutama lewat apapun bantuan, apakah pengobatan, therapy, doa, dll, yang diberikan kepadanya;  bahwa dia bisa disembuhkan dari penderitaannya melalui berbagai bantuan yang diberikan kepadanya. Sebab kayakinan itu akan membantu cara tubuhnya bekerja. Hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan manusia dari penderitaannya, dari penyakitnya. Hal-hal lain hanyalah perantara atau sarana, yang dalam mata iman, adalah bagaimana Tuhan bekerja dalam diri pasien.

Hal itu sajalah yang saya bantu terhadap pasien dalam pelayanan saya di rumah sakit. Saya hanyalah manusia biasa, yang membantu pasien untuk mencapai kestabilan aspek-aspek dalam dirinya. Kerjasama dan keterbukaan pasien terhadap dirinya ditambah bantuan yang kuberikan, sangatlah berguna dan efektif demi tercapainya kesembuhan dirinya.

Pengalaman akan rahmat kesembuhan yang diperoleh ibu tadi bersama anak-anaknya, dan juga orang orang lain dalam pelayananku, merupakan bentuk nyata rahmat Tuhan dalam hidup mereka. Rahmat itu datangnya dari Tuhan. Kebanyakan mereka berterimakasih kepadaku setelah disembuhkan, tetapi aku selalu menasehati mereka untuk bersyukurlah kepada Tuhan, sebab rahmat itu datang dari Tuhan, bukan daripadaku.  Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Kor 9 :10)

Tuhan yang kelihatan

Namun aku harus jujur, bahwa kebahagiaan mereka adalah kekuatanku. Kalau aku mencoba menoleh ke belakang dan mengingat kembali semua liku-liku perjalanan panggilanku ini, aku jujur mengatakan bahwa melayani orang sakit itu sangat susah dan melelahkan. Apa yang orang sering katakan “burn out”, adalah sebuah kenyataan. Pelayan orang sakit mudah sekali mengalami burn out, seperti capai, lelah, bosan, dan patah semangat. Karena hampir setiap hari kita berhadapan dengan penderitaan, dan seringkali penderitaan di  rumah sakit berakir dengan kematian. Dan karena itu seringkali pelayan orang sakit merasa bahwa semua perjuangan dan kerja kerasnya tidak membawa hasil. Kalau hasilnya tidak bisa tercapai, apalah gunanya melanjutkan pelayanan itu?

Bergelut dengan pengalaman ini, aku dihadapkan dengan pertanyaan dasar yang selalu melintasi bathin sejak awal mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi imam pelayan orang sakit:  Mengapa saya berada di sini, di dalam pelayanan ini? Semua jawabanku bisa disatukan dalam satu jawaban utama: semuanya kerana Tuhan. Tuhan yang memanggil aku dan Dia juga yang telah menetapkan aku. Dia juga telah mempersiapkan dan membuat segala sesuatu baik bagiku. Sebab sebagaimanapun susahnya jalan ini, aku selalu memperoleh kekuatan baru dalam kelemahanku dan penghiburan dalam kesusahan. Tuhan tahu apa yang kubutuhkan, dan Dia menyediakannya bagiku kalau memang itu diperlukan sekali, melalui banyak pihak di sekelilingku. Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami. (Yes 26 : 12)

Aku dipanggil untuk melayani DIA melalui saudara-saudariku yang sakit. Apapun yang kulakukan untuk mereka, aku melakukannya untuk Tuhan. Mereka adalah Tuhan yang kelihatan bagiku. Dan sesungguhnya, pada penghakiman terakhir, inilah yang dikatakan Tuhan kepada mereka yang berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah, “Sebab ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. “ (Mat 25 : 36). Maka melayani Tuhan yang kelihatan di dalam diri sesama yang sakit dan menderita, sesungguhnya adalah panggilan bagi masing-masing dari kita.

Bagaimana aku menjaga diri sendiri

Karya pelayananku cukup menguras emosi dan menuntut ketegaran mental dalam menghadapi pasien yang sakit, seringkali tidak hanya jasmaninya tetapi juga mental spiritualnya. Tak jarang kami berhadapan dengan keluarga pasien yang juga mengalami kelelahan fisik dan mental. Kami juga harus tegar saat mendampingi pasien yang sedang di ambang ajal. Aku wajib menjaga kestabilan dan kesehatan mentalku sendiri agar Tuhan dapat terus memakai aku dengan optimal. Aku mencoba untuk tidak membawa pengalamanku dengan orang sakit di dalam rumah sakit bersamaku. Apapun yang kualami di ruang pasien, sedapat mungkin kulupakan atau kuhilangkan dari bayanganku kalau aku keluar dari rumah sakit. Ini caraku untuk mengurangi negative energy yang terpancar dari  pasien ketika mendengarkan masalah mereka. Salah satu efek negatif dari pelayanan kami ini adalah pengalaman terbawa emosi dengan orang sakit. Saking terbawa emosi dengan penderitaan mereka, diri kita juga bisa sampai berpikir aneh-aneh dan tidak bisa tidur. Maka cara untuk menjaga diri ialah dengan melupakan apa saja yang dialami di tempat pelayanan dan menghirup udara baru di luar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orang yang kami layani. Itu sebabnya aku tidak ingat lagi penyakit ibu tadi. Aku sengaja melupakannya sejak awal, sehingga aku tiidak bisa ingat secara detail sakit ibu itu dan anaknya.

 

Tak henti mensyukuri penyelenggaraan Allah dalam karya pelayananku

Pengalaman kesembuhan yang ibu tadi ungkapakan sungguh merupakan sumber kekuatan bagiku. Sebab di tengah kesulitan menjalani pelayanan ini, ungkapan kebahagiaannya memberikan kekuatan baru kepadaku, untuk melanjutkan pelayanan yang telah kumulai sejak lama. Aku merasa bahwa Tuhan telah memakai aku sebagai sarana untuk menyembuhkan ibu itu. Bukan aku yang menyembuhkan dia, tetapi Tuhan menggunakan aku agar ibu itu menerima rahmat penyembuhan. Sehingga sekecil apapun yang telah kulakukan terhadap ibu itu dan anaknya, karena datang dari hati yang ikhlas dan iman, harap dan kasih yang tulus, itu sangat berarti baginya dan bagiku juga. Kehadiranku tetaplah berarti bagi Tuhan dan bagi kebahagiaan ibu dan anaknya itu. Sadar akan arti kehadiranku, aku semakin dikuatkan untuk melangkah maju dalam pelayananku, kendatipun berbagai tantangan yang kuhadapi. Hanya kepada Tuhan aku mengadu. Sungguh Tuhan telah menggunakan dia untuk menguatkan aku dalam panggilanku. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. (2 Kor 9 : 8)

July 17, 2011

Romo Andi Suparman, MI

Refleksi setelah Misa Pesta St. Kamilus dan penyembuhan orang sakit

di Rumah Sakit Dr. T.C. Hiller, Maumere.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab