Home Blog Page 17

Bunga Cinta

0
Sumber gambar: http://spillwords.com/flower-of-love/

Refleksi Valentine oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Cinta adalah anugerah Tuhan yang indah
untuk membuat dunia dan seisinya damai dan sejahtera.

Cinta menjadi indah ketika dihargai oleh penerimanya.
Keindahan cinta dilambangkan dengan bunga mawar merah.
Bunga mawar mengungkapan cinta abadi yang penuh
dengan ketulusan dan pengorbanan.

Cinta Valentine bukanlah cinta murahan,
seperti cinta narsis, yaitu cinta diri yang norak
atau pun cinta nafsu yang membabibuta
Cinta Valentine adalah perasaan positif dan
pemberian diri tanpa akhir.

Cinta Valentine sempurna di dalam diri ibu kita.
Tidak kasar, tidak menyakiti hati dan fisik,
tidak mengharapkan balas jasa, tidak menutut,
memaafkan, empati, hangat, membimbing ke arah yang baik,
dan siap melayani kapan saja dan di mana saja.

Kenakanlah wajah bunda,
maka Valentine menjadi bermakna dan hidup pun bahagia.
Karena kekuatan cinta sangat dahsyat:
rasa pahit menjadi manis, debu menjadi emas,
keruh menjadi bening, penjara menjadi telaga,
derita menjadi nikmat,
kemarahan menjadi keramahan.

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3 : 14).

Happy Valentine Day

Iman yang Menyembuhkan

0

Sebuah kisah penyembuhan

Pengantar dari editor:
Romo Andi Suparman, MI, kembali menyapa kita melalui pengalamannya melayani penderita sakit di rumah sakit. Pelayanan kepada sesama yang sakit sesungguhnya adalah bentuk sapaan Tuhan, yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam keadaan apa pun, khususnya ketika sakit penyakit datang tanpa diundang. Dan ketika kesembuhan kemudian terjadi, adalah kasih karunia Tuhan yang Mahabaik yang bekerja pada umat-Nya, yang menanggapi kasih-Nya dengan iman yang aktif dan percaya sepenuhnya bahwa Ia mampu mengangkat segala bentuk penderitaan kita, bila Ia menghendakinya.

Tahun 2009, ketika masih di Filipina, aku bertugas sebagai asisten kapelan di sebuah rumah sakit. Seperti biasa, para pastor dan frater Kamilian bertugas di rumah sakit, melakukan kunjungan pasien dari kamar ke kamar, dari tempat tidur ke tempat tidur, untuk mendampingi, memberikan konseling, dan juga berdoa dan memberi pelayanan sakramen jika dibutuhkan.

Waktu itu, hari Minggu, aku melakukan kunjungan rutin di rumah sakit sambil membawa komuni untuk orang sakit. Aku bertemu dengan seorang pasien, seorang muda yang lutut kanannya bengkak. Kami sempat ngobrol lama. Pemuda itu selalu memanggilku ‘pastor’, mungkin karena aku memakai jubah. Maklum, kebanyakan umat di sana selalu memanggil ‘pastor’ kepada orang yang berjubah. Di akhir pembicaraan kami, dia memintaku, “Pastor, tolong berkati lutut saya.” Aku pun kaget karena aku belum menjadi pastor. Lalu aku mengatakan, “Aku tidak bisa memberikan berkat, karena aku belum ditahbiskan.” Tetapi dia dengan penuh keyakinan dan harapan meminta, “Tidak apa-apa, tolong berkati dan doakan saja lutut saya.” Lalu aku mengatakan kepadanya, “Apa yang engkau mau…?” Jawabnya, “Aku mau sembuh.” Aku pun memintanya untuk berdoa dan meminta kepada Tuhan apa yang dia mau dalam iman. Setelah itu kami berdoa bersama, dan aku mendoakan dan memberkati lututnya dengan air berkat yang selalu ada padaku ketika berjalan keliling dalam rumah sakit.

Pada hari Rabu dalam minggu itu, aku kembali mengunjunginya di ruang rawatnya. Ketika kami bertemu, dia malah meminta, “Pastor, tolong berkati perutku….” Aku tentunya heran, lalu bertanya, “Waktu itu kan sakitnya di lutut… kenapa sekarang malah minta berkatnya di perut?” Lalu dia menceritakan, bahwa selama tiga minggu di rumah sakit, lututnya bengkak karena kanker di tulangnya. Dan setiap pagi, dokter harus mengeluarkan cairan dari lututnya itu. Namun pada hari Senin setelah kami berdoa, bengkak di lututnya itu berkurang, dan tidak ditemukan lagi cairannya. Karena itulah dia meminta didoakan di perutnya yang juga terasa sakit. Aku pun mendoakan dan memberkati perutnya dengan air berkat. Setelah hari itu, kami tidak bertemu lagi karena aku pindah ke rumah sakit lain. Aku juga tidak tahu bagimana kisahnya selanjutnya. Dalam percakapan kami setelah berdoa, sempat dia selalu berterimakasih kepadaku dan mengatakan bahwa “itu karena kekuatan doa Pastor….” Namun aku selalu mengatakan kepadanya, bahwa itu bukan karena doaku. Tetapi, pertama-tama, karena kasih Tuhan yang selalu menaruh belas kasihan kepada kita umat manusia dan mendengarkan doa-doa kita.

Kedua, karena iman kita kepada Tuhan. Pemuda itu tahu dan percaya kepada Tuhan yang penuh kasih, yang setia mendengarkan doa-doanya. Kemudian, ia tahu apa yang ia butuhkan, ia mau sembuh dan ia yakin dalam iman bahwa Tuhan yang penuh kasih itu bisa menyembuhkan dia. Maka ia meminta dalam iman supaya Tuhan menyembuhkannya.

Dari pengalaman tersebut, aku kembali diteguhkan bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasih. Ia selalu menghendaki segala yang baik bagi kita umat manusia, dan selalu mendengarkan doa-doa kita. Namun aku pun kembali disadarkan akan pentingnya berdoa dengan iman, iman yang hidup, yang percaya sepenuhnya akan rencana Tuhan yang pasti baik bagi kita.

Iman yang hidup adalah iman yang tidak sekedar berupa kata-kata di mulut, tetapi yang bisa mengubah cara berpikir, bersikap, bertutur kata, dan cara hidup, dengan selalu mencari kehendak Tuhan, berserah kepada Tuhan dan meminta kepadaNya dalam doa untuk seluruh kebutuhan kita. Iman yang hidup itu diiringi dengan penghayatan, melalui perjuangan juga supaya apa yang kita harapkan dan mintakan dalam doa itu tercapai. Iman yang hidup juga berarti terbuka terhadap kehendak Tuhan. Sebab dalam pengalaman manusiawi kita, tak jarang penderitaan itu tidak bisa dielakkan. Bahkan ada penderitaan yang membawa kita kembali kepada Bapa ketika jalan menuju kesembuhan fisik tidak tercapai. Namun itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Pengalaman “kembali kepada Bapa dalam kematian” justru membantu yang menderita untuk terlepas dari penderitaan di dunia. Iman yang hidup membantu kita untuk memahami “jalan” Allah itu dan menerimanya dengan penuh syukur dan penyerahan diri. Di situlah juga “kesembuhan” terjadi, yaitu sebuah pengalaman batin yang ringan, bebas dari rasa beban dan derita, dalam menerima keadaan sakit yang tak terelakkan dengan hati terbuka pada kehendak Tuhan. Jadi terkadang walaupun secara fisik, kita tidak bisa sembuh, namun secara rohani dan emosional kita disembuhkan. Semuanya itu berkat kasih Tuhan dan iman yang hidup sebagai tanggapan atas kasih Tuhan itu.

Selanjutnya, kehadiran orang lain, termasuk para romo atau seperti diriku, sebenarnya hanyalah sarana yang membantu. Para romo dan calon romo, terutama yang melayani orang sakit, adalah sarana Tuhan untuk membawa kabar sukacita tentang Allah yang penuh kasih itu kepada mereka yang sakit. Melalui mereka, Tuhan yang penuh belas kasihan itu bisa dirasakan kehadiran-Nya oleh yang sakit. Melalui pelayanan mereka, orang sakit dibantu, baik itu melalui doa, konseling, atau empati, agar ia yang sakit bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan.

Semoga kasih Tuhan dan imanmu menyelamatkan dan menyembuhkanmu.

Romo Andi Suparman, MI

Menggenapi hukum dengan memberi iman

0
Sumber gambar: http://standrewtheapostlercia.blogspot.co.id/2011_02_01_archive.html

[Hari Minggu Biasa VI: Sir 15:16-21; Mzm 119:1-5, 17-18, 33-34; 1Kor 2:6-10, Mat 5:17-37]

Sewaktu saya sekolah dulu, pernah ada kejadian menghebohkan di sekolah. Seorang guru terbukti membocorkan jawaban ujian kepada sejumlah murid di kelasnya. Ia dan murid-murid yang menerima bocoran dikeluarkan dari sekolah. Seantero sekolah geger. Kepala sekolah akhirnya menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan demi kepentingan semua murid, dan demi ditegakkannya kejujuran dan keadilan dalam proses belajar dan mengajar di sekolah. Di balik semua itu, kami para murid, juga belajar suatu fakta yang berharga. Bahwa yang terpenting, bukan asal menjawab dengan benar, tetapi memahami prinsip yang diajarkan supaya dapat menjawab dengan benar. Jadi, guru yang baik, tentunya bukanlah guru yang memberikan bocoran jawaban ujian, tetapi yang dapat menanamkan pengertian kepada para muridnya sehubungan dengan mata pelajaran yang diajarkannya. Supaya selain menjadi paham dan bertambah pengetahuan, murid-muridnya juga dapat menjawab soal-soal ujian dengan benar. Agar akhirnya, mereka bisa lulus ujian dengan nilai yang baik.

Hidup ini adalah seumpama rangkaian ujian. Yang kalau dilalui dengan benar, akan menghantarkan kita kepada kelulusan, yaitu sampai pada kebahagiaan kekal di Surga. Bacaan sabda Tuhan hari ini menampilkan sosok Tuhan Yesus sebagai Guru yang sempurna, yang mengajarkan kepada kita petunjuk dan tips yang jitu, agar kita bisa lulus dalam ujian hidup ini. Yesus pun tak hanya mengajar, namun memberikan contoh bagaimana melaksanakan petunjuk itu, agar kita menjadi paham. Demikianlah, Yesus mengajar para murid-Nya tidak semata dengan melarang ini dan itu. Tetapi Yesus menanamkan pengertian dasar yang ada di balik larangan untuk berbuat jahat. Yaitu, bahwa Tuhan menghendaki kita memperoleh kebahagiaan kekal sebagai tujuan akhir hidup kita. Agar memperolehnya, kita perlu menginginkannya sejak kita masih hidup di dunia ini, dengan meniti langkah-langkahnya untuk dapat mengikuti teladan-Nya. Maka Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang….” (lih Mat 5:3-12) seolah mau mengatakan, kalau kamu mau bahagia, lakukanlah ini…. Pun Yesus mengajarkan inti yang terpenting yang menjiwai seluruh hukum Taurat, yaitu hukum kasih: kasihilah Allah, dan kasihilah sesamamu manusia. Inilah hukum yang terutama dan yang pertama, yang padanya tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (lih. Mat 22:37-40). Simpelnya, kalau kita sungguh mengasihi Tuhan dan sesama, maka kita tidak akan berbuat yang jahat. Jangankan membunuh orang, membenci atau berkata kasar kepada orang lain, juga tidak dilakukan. Sebab kita tahu itu jelas melanggar kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan mereka, dan melanggar kasih kepada sesama, yang juga dikasihi Tuhan. Demikian juga, kalau kita sungguh mengasihi Tuhan dan sesama, selayaknya kita menjunjung tinggi martabat diri kita sendiri dan sesama kita. Antara lain, dengan menjaga kemurnian jiwa dan tubuh. Sebab perbuatan zinah dengan tubuh diawali dengan perbuatan zinah di dalam hati, karena menempatkan kesenangan daging di atas cinta kasih yang tulus antara pria dan wanita, sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Lagi, kalau kita sungguh mengasihi Tuhan dan sesama, tentu kita menjaga dan menghormati janji perkawinan. Sebab dengan suami atau istri kita, kita telah berjanji di hadapan Tuhan, bahwa kita akan meniru teladan kasih Tuhan sendiri yang tidak mungkin tidak setia kepada jemaat-Nya. Sungguh, hukum Kristus yang terutama—yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama—membuat pesan Injil hari menjadi lebih mudah dipahami. Kasih kepada Allah dan sesama, menjadi petunjuk dan tolok ukur yang nyata, untuk menilai semua perkataan dan perbuatan kita: apakah semua itu dapat mengarahkan kita kepada kebahagiaan kekal di Surga, atau belum.

Semasa hidup-Nya di dunia, Yesus sendiri secara sempurna telah mengasihi Allah Bapa-Nya dan mengasihi sesama-Nya. Dengan menggenapi hukum kasih itulah, Yesus menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat 5:17).  St. Agustinus dan St. Yohanes Kristostomus mengajarkan tentang dua arti Yesus “menggenapi” hukum Taurat, yaitu: 1) “menambahkan apa yang sebelumnya tidak ajarkan oleh hukum Taurat, 2)  melakukan apa yang diajarkan oleh hukum tersebut.”  St. Yohanes Krisostomus menjelaskan bahwa yang ditambahkan oleh Yesus adalah iman, yang tidak dapat disampaikan oleh huruf-huruf dalam hukum Taurat itu (lih. St. Augustine, St. John Chrysostom, Catena Aurea, Mat 5:17-19). Nah, iman yang diajarkan oleh Yesus sebagai dasar seluruh hukum Taurat adalah iman akan kehidupan dan kebahagiaan kekal, yang dicapai melalui kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.  Demi mengasihi Allah dan sesama inilah, Yesus meminta agar kita hidup jujur apa adanya, tulus, murni, rendah hati, dan sederhana.

Namun sebagai Guru yang sempurna, Tuhan Yesus tidak memaksakan hukum-Nya ini kepada manusia. Kita dapat menepatinya, dan dapat memilih untuk berlaku setia, tapi juga sebaliknya. “Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kau ulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia; apa yang dipilih akan diberikan kepadanya” (Sir 15:16-17). Begitu besarnya kasih dan kebijaksanaan Tuhan, sehingga Ia memberikan kebebasan kepada kita untuk memutuskan apa yang kita kehendaki dalam hidup ini, dan Ia menghormati keputusan kita itu.  Namun demikian, tidak benar kalau dikatakan Tuhan menyuruh orang menjadi jahat (lih. Sir 15:20)—dan dengan demikian secara aktif merencanakan sejumlah orang untuk masuk neraka. Kalau sampai manusia berbuat jahat, itu bukan karena Tuhan yang mendorongnya namun karena kehendak orang itu sendiri. Tuhan Sang Kebenaran, tidak mungkin mendorong orang berbuat yang tidak benar, meski Ia memberikan kebebasan kepada manusia untuk memutuskan apa yang dikehendakinya. “Sabda-Mu adalah kebenaran,” kita lantunkan dalam Mazmur hari ini, “hukum-Mu, kebebasan…”  

Demikianlah, sabda Tuhan menyatakan, bahwa orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya dan hidup menurut hukum-Nya, sebagai orang-orang yang berbahagia. Mereka akan memandang keajaiban-keajaiban hukum-Nya (lih. Mzm 119:1-3). Dan jika kita memegang petunjuk-petunjuk ketetapan Allah sampai saat terakhir dan dengan segenap hati memeliharanya, Allah akan menyediakan “hadiahnya”. Yaitu: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor 2:9). Betapa besar kasih Tuhan yang dijanjikan-Nya kepada kita. Terpujilah Tuhan!

Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk karunia iman yang Kau beri pada kami. Dengan memberi dasar iman inilah, Engkau telah menggenapi semua hukum dan nubuat para nabi. Semoga rahmat-Mu meneguhkan iman kami, agar setiap hari kami semakin mengasihi Engkau dan mengasihi sesama kami. Amin.”

Kuasa Doa

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Ada sebuah kesaksian dari seorang ibu yang mensharingkan imannya tentang kuasa doa. Sharing ini terjadi pada acara rekoleksi yang bertemakan “Family in Love” dan dihadiri lebih dari duaratus limapuluh umat di aula Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera-Tangerang, tanggal 04 Februari 2017. Acara ini dikoordinasi oleh Couple of Christ (CFC). Ketika selesai acara mencium Salib Rosario dan Adorasi, seorang ibu mendatangiku dengan air mata yang berderai: “Yesus inilah tempat aku bersandar, tempat hatiku tercurah. Ia mendengarkan teriakanku untuk minta tolong”. Saya pun bertanya kepadanya: “Bu, apa ada yang ingin dibagikan tentang kuasa doa yang ibu alami?”​

Jawaban ibu terurai dalam kisah berikut ini. Anaknya perempuan, kira-kira kelas 1 SMP (Kelas 7), pada suatu hari jatuh. Setelah diperiksa, ternyata ada cairan di dalam otaknya. Ia harus segera menjalani operasi. Akan tetapi, sebelum menjalani operasi itu, ia mengalami koma dalam beberapa minggu. Semua dokter telah menyerah dengan keadaan anak itu. Ibunya terus berjuang untuk kehidupan anaknya. Ia berkata: “Dokter, terus bertindaklah untuk kesembuhan anakku. Aku yakin bahwa Tuhan Yesus menggunakan dokter untuk memulihkan anakku.” Ia kemudian berdoa: “Tuhan, aku tidak tega melihat penderitaan anakku ini. Biarlah aku yang menggantikannya. Namun, aku percaya Engkau pasti menyembuhkan anakku.” Melihat perjuangan ibu itu, dokter melakukan tindakan operasi anaknya itu dalam keadaan koma. Setelah menjalani operasi pertama, dokter harus melakukan tindakan operasi yang kedua. Sekarang tubuh anak itu dipenuhi dengan selang-selang. Ibunya sangat kuatir melihat kondisi anaknya yang demikian menderita: “Tuhan, alihkanlan selang-selang yang ada pada anakku itu padaku. Aku tidak sanggup melihat penderitaan anakku. Tolonglah anakku ya Tuhan.”

Setelah menjalani operasi yang kedua, beberapa saat kemudian anaknya itu sadar dan bisa duduk. Ibu itu kemudian bersujud kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau senantiasa melakukan mukjizat bagi orang yang percaya”. Anaknya sekarang bertumbuh sangat sehat dan banyak talenta. Ia mengatakan bahwa Bapa di Surga memberikan yang terbaik bagi yang memintanya: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Matius 7:11).

Kesimpulan dari ibu sebagai pesan bagi kita: “Tuhan suka dengan doa yang berani. Doa yang berani membuka hati Tuhan. Sebaliknya, doa yang lemah akan membatasi Tuhan dengan keterbatasan kita”.

Janganlah menjadi redup dan hambar

0
Sumber gambar: http://www.stpeternaples.com/271

[Hari Minggu Biasa V: Yes 58:7-10; Mzm 112:4-9; 1Kor 2:1:5; Mat 5:13-16]

Mungkin kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah baik jika kita menjadi orang yang idealis? Idealis tidak untuk diartikan menjadi fanatik, tetapi menjadi orang yang konsisten melaksanakan ajaran imannya dengan sepenuhnya dan sebaik-baiknya. Jika diartikan demikian, tentu ini baik dan cocok dengan pesan sabda Tuhan hari ini. Sebagai murid Kristus kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam, seperti halnya terang, adalah sesuatu yang sifatnya tidak tanggung-tanggung. Tidak seperti gula yang ada tiruannya dengan rasa yang “mirip” rasa gula yang tidak begitu manis; garam tidaklah bisa ditiru, atau dibuat tidak begitu asin. Seandainya garam tidak asin lagi, maka kata Yesus, “tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang” (Mat 5:13). Demikian juga dengan terang. Cahaya yang berguna untuk menerangi, tentu adalah cahaya yang bersinar terang, agar dapat membuat orang melihat sekitar dengan jelas.

Dengan analogi garam dan terang, Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh menjadi seorang  yang mengimani Dia dengan  setengah- setengah. Orang yang setengah beriman adalah orang yang memilih-milih ajaran menurut seleranya, tentang ajaran mana yang mau diimaninya dan dilakukannya—dengan kecenderungan memilih ajaran yang mudah dan menolak ajaran yang “sukar”. Contoh  tentang ajaran iman yang sukar ini adalah ajaran tentang salib. Sebagai murid Kristus kita tidak terhindar dari salib, bahkan Yesus mengajarkan agar kita mengambil bagian dalam menanggung salib kehidupan kita masing-masing, agar kita kelak dapat pula mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya (lih. Mat 16:24; bdk. Flp 3:10-11; Rm 6:5). Bacaan Kedua hari ini mengacu kepada surat Rasul Paulus yang menyampaikan alasannya, yaitu karena inti dari ajaran iman kita sebagai murid Kristus adalah: “Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:2). Sebab keselamatan kita diperoleh karena pengorbanan Kristus di kayu salib, yang diikuti oleh kebangkitan-Nya. Begitu pentingnya makna salib Kristus bagi keselamatan kita, maka Rasul Paulus memilih untuk tidak mengetahui apapun selain daripada fakta ini. Sebab keselamatan kita tidak datang dengan mudah, namun melalui pengorbanan habis-habisan dari Tuhan Yesus Penyelamat kita. Maka, kalau kita mau menjadi murid-Nya kita pun dipanggil untuk mau mengikuti jejak-Nya ini. Yaitu, agar kita juga mau ikut berjuang habis-habisan untuk setia melakukan ajaran Kristus, sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing.

Tantangan kita di zaman sekarang ini adalah menerapkan ajaran iman kita dalam hidup sehari-hari. Sebab ada kecenderungan bahwa kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan, tetapi kita berkompromi pada saat mau melakukannya, karena mengalah kepada keinginan yang lebih “enak” menurut tubuh kita. Bukankah sudah umum bahwa orang yang gemar korupsi, menerima suap atau memberi suap, sebenarnya juga sudah tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan ajaran iman? Atau orang umumnya lebih suka meyakini bahwa kalau ikut Yesus pasti diberkati, daripada harus menyangkal diri dan memikul salib kita sehari-hari untuk mengikuti Dia? Atau orang lebih suka mengikuti hobby kuliner ke sana ke mari dan enggan melakukan ketentuan Gereja untuk berpantang minimal setiap hari Jumat sebagai ungkapan tobat? Atau yang cenderung suka shopping, dan sulit untuk hidup sederhana dan mencukupkan diri dengan apa yang sudah dimiliki? Sepertinya walau kita mengetahui hal yang ideal, namun kelemahan dan keinginan badan kerap kali dituding menjadi alasan bagi kegagalan kita melaksanakannya.  Kita sering jatuh bangun dalam mengalahkan keinginan tubuh, dan karena itu, belum sepenuhnya mampu menundukkannya di bawah tuntutan ajaran Injil, sehingga belum maksimal juga dalam mewartakan Injil. Menurut St. Agustinus, sikap ini adalah seperti menaruh pelita di bawah gantang (wadah pengukur bulir jagung). Katanya, “Dengan apakah perkataan ini kita artikan, “meletakkannya [pelita] di bawah gantang”? Hanya untuk menyatakan menyembunyikan [pelita], atau adakah arti lain yang lebih penting? Meletakkan pelita di bawah gantang berarti memilih kemudahan secara badani dan kenikmatan, daripada tugas untuk mewartakan Injil.  Dan [juga berarti] menyembunyikan terang ajaran yang baik di bawah gratifikasi yang sifatnya sementara. Gantang merujuk kepada hal-hal yang berkenaan dengan tubuh, entah karena ganjaran akan diukurkan kepada kita (lih 2Kor 5:10), sebab setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya menurut apa yang dilakukan tubuhnya; atau karena hal-hal duniawi yang menyangkut tubuh itu datang dan pergi dalam ukuran waktu tertentu, yang dilambangkan dengan ukuran gantang. Sedangkan hal-hal kekal dan rohani itu tidak ada batasnya. Seseorang yang menempatkan pelitanya di atas kaki dian, adalah ia yang menundukkan tubuhnya kepada pelayanan sabda Tuhan, menempatkan pewartaan kebenaran di tempat tertinggi dan membuat tubuhnya tunduk di bawahnya. Sebab tubuh itu sendiri melayani untuk menjadikan ajaran bersinar makin terang, sedangkan suara [perkataan] dan gerak tubuh dalam perbuatan-perbuatan baik melayani untuk mendorong orang-orang yang mau mempelajarinya” (St. Augustine, Catena Aurea, Mat 5:14).

St. Agustinus mengingatkan kita, bahwa menjadi garam dan terang dunia itu sesungguhnya membutuhkan perjuangan. Namun jika dilakukan, hal itu akan membawa kebaikan, bagi kehidupan kita dan juga kehidupan sesama kita. Kejujuran, pengorbanan, ketulusan kasih dan pengendalian diri adalah nilai-nilai luhur yang tidak dapat ditentang atau digantikan. Tuhan tidak menghendaki bahwa kita hanya menyimpan nilai-nilai luhur  untuk diri kita sendiri, namun untuk dibagikan kepada sesama. Dan pada saat kita melakukan dan membagikannya, kita melaksanakan panggilan kita untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebab dunia di sekitar kita memang memiliki patokan nilai yang seringnya berbeda dengan nilai-nilai luhur ajaran iman kita. Kita menjadi garam dan terang dunia, jika kita berjuang untuk hidup kudus sesuai dengan ajaran iman kita. Perjuangan ini dimulai dari diri kita sendiri, dengan pertama-tama menundukkan keinginan daging di bawah tuntutan ajaran Injil, dan dengan demikian, kita dapat mewartakannya kepada sesama. Sebab dengan menundukkan keinginan sendiri di bawah tuntutan ajaran Injil, kita dapat terdorong untuk memberikan apa yang kita inginkan sendiri, kepada sesama kita yang lapar, miskin,  dan membutuhkan bantuan (lih. Yes 58:7-10).

Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana kita telah hidup sebagai garam dan terang dunia? Sudahkah kita “cukup asin” untuk menggarami, dan “cukup terang” untuk menerangi sekitar kita? Cukup konsisten kah kita dalam melaksanakan ajaran dan perintah Tuhan? Dan berjuang untuk bertumbuh dalam kekudusan? Mungkin baik kita mengingat apa yang dikatakan oleh St Paus Yohanes Paulus II ini:

“Seperti garam memberikan rasa kepada makanan dan terang menerangi kegelapan, demikianlah juga kekudusan memberikan arti kepada hidup dan membuatnya menjadi cermin bagi kemuliaan Tuhan. Berapa banyak orang kudus [Santo dan Santa], terutama mereka yang masih muda, yang dapat kita andalkan dalam sejarah Gereja! Dalam kasih mereka kepada Allah, kebajikan heroik mereka menyinari dunia, dan mereka menjadi teladan kehidupan, yang oleh Gereja dianggap sebagai contoh untuk ditiru oleh semua orang…. Melalui doa syafaat para saksi iman ini, semoga Tuhan menjadikan kalian semua… para orang kudus di milenium ketiga ini!” (Paus Yohanes Paulus II, World Youth Day, 2002).

Ya Tuhan, betapa ku rindu agar semua orang memuliakan Engkau. Bantulah aku, supaya dapat menjadi garam yang tidak menjadi tawar dan terang yang tidak menjadi redup, bagi dunia di sekitar ku. Agar semakin banyak orang dapat mengenal Engkau, Sang Terang, yang kubawa dalam diriku. Amin.”

Ilmu padi dalam hidup rohani

0

[Hari Minggu Biasa IV: Zef 2:3; 3:12-13; Mzm 146:7-10; 1Kor 1:26-31; Mat 5:1-12]

Pernahkah Anda dipuji? Misalnya, karena Anda sukses, paras Anda cantik atau ngganteng, Anda berprestasi, piawai dalam suatu keahlian tertentu, atau pandai main musik, bernyanyi, lancar berdoa spontan dan memimpin puji-pujian rohani? Nah, mungkin biasanya jawaban umum jika orang dipuji adalah, “Terima kasih”. Tapi bacaan sabda Tuhan hari ini membuatku merenung…, apakah jawaban itu tepat dan cukup? Sebab segala yang baik yang ada pada kita sebenarnya adalah pemberian Tuhan, milik Tuhan. Mungkin kesadaran ini perlu, supaya kita selalu ingat bahwa kita ini sesungguhnya miskin di hadapan Tuhan, dan Tuhanlah yang menjadikan kita “kaya”. Dengan demikian kalau ada orang memuji kita, kita tidak lekas besar kepala, karena tahu bahwa sesungguhnya yang patut dipuji adalah Tuhan yang memberikan segalanya kepada kita.

Belajarlah dari ilmu padi, kata orang bijaksana. Semakin berisi, padi itu semakin merunduk. Demikianlah kenyataannya, kita tidak menemukan padi yang berisi penuh namun berdiri tegak seperti lidi. Orang bilang, itu hukum alam, bahwa tanaman padi tak dapat melawan kodratnya yang harus merunduk, kalau ia sudah ‘matang’. Tapi sepertinya, manusia tidak otomatis demikian. Apakah kalau otaknya semakin berisi, alias pandai, atau kalau dompetnya semakin berisi alias kaya, orang pasti akan semakin rendah hati? Kan belum tentu…. Mungkin yang lebih banyak terjadi adalah sebaliknya! Hari ini Tuhan mengingatkan kita, bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai manusia, agar sesuai dengan rancangan indah yang Ia persiapkan, saat Ia menciptakan kita.

Manusia tidak hanya diciptakan untuk memiliki kodrat manusiawi, tetapi juga untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Yaitu untuk turut berbahagia dalam kehidupan Allah sendiri. Nah, untuk itu, Tuhan Yesus memberikan jalannya, yang terdengar sangat kontroversial, bukan saja bagi orang-orang di zaman-Nya, tetapi juga bagi orang-orang masa kini. Yesus mengajarkan Delapan Sabda Bahagia, suatu prinsip nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang umumnya dipahami ataupun diinginkan orang. Betapa lebih mudah orang menghubungkan  kekayaan, kelimpahan materi, ketenaran, kekuasaan dengan berkat Tuhan. Sedangkan kemiskinan, kesengsaraan maupun penyakit dimaknai sebagai kutukan Tuhan. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati manusia tidak tergantung dari segala kelimpahan semacam itu. Sebab dalam keadaan berkekurangan—yaitu kemiskinan jiwa, lapar dan haus akan kebenaran, dukacita, kelemahan…—orang dapat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Bagaimana mungkin? Sebab justru dalam keadaan keterbatasan tersebut, manusia mengalami ketergantungan penuh kepada Allah. Dan dalam ketergantungan inilah, kita memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.   

Allah berkenan kepada orang-orang yang rendah hati. Yaitu, yang mau menyandarkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Allah sendiri senantiasa memilih orang-orang yang lemah, rendah hati dan tidak terpandang, untuk mempermalukan mereka yang kuat, demikian yang kita dengar di Bacaan Kedua (1Kor 1:26-27).  Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan kerendahan hati. Walaupun Ia Allah, Ia “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:7-11).  Dengan kerendahan hati-Nya lah, Yesus mematahkan ikatan dosa kesombongan Adam yang diturunkan kepada kita.

Ketika menjadi manusia, Kristus sendiri pun hidup dalam kerendahan hati.  Ia memilih seorang perawan muda sederhana untuk menjadi ibu-Nya. Ia memilih seorang rahib sebagai perintis-Nya, dan para nelayan miskin sebagai rasul-rasul-Nya. Ia yang adalah Allah Pemilik segala sesuatu, memilih untuk hidup miskin. Walau mahakuasa, namun Ia lemah lembut dan murah hati… Yesus sendiri menapaki jalan kerendahan hati itu sampai rela wafat di kayu salib,  agar kita memperoleh keselamatan kekal. Betapa semua ini menunjukkan kepada kita, bahwa bahkan Tuhan yang mahakuasa pun rela “merunduk”, demi membukakan pintu kebahagiaan abadi bagi kita. Maka jika kita ingin sampai kepada kebahagiaan itu, kita pun mesti “merunduk”, mau dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi rendah hati, seperti Kristus. Sebab    “… Apa yang tidak terpandang dan hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:29). Allah berkenan kepada orang-orang yang rendah hati, yang mau taat kepada-Nya dan mengandalkan Dia. Oleh sebab itu, dalam kehidupan rohani, kekudusan diawali dengan kerendahan hati. St. Agustinus mengajarkan tentang arti kemiskinan di hadapan Tuhan atau kemiskinan rohani ini demikian: “Penambahan ‘rohani’ [dalam kemiskinan rohani] secara umum berkaitan dengan keangkuhan dan kesombongan. Sebab umumnya, orang sombong sering dihubungkan dengan kerohanian yang “melambung tinggi… dan menggelembung.” Maka “miskin rohani atau miskin di hadapan Tuhan, dipahami dengan benar sebagai “yang rendah”, takut akan Tuhan, tidak memiliki jiwa yang menggelembung” (St. Augustine, De Sermon in Mount, Catena Aurea, Mat 5: 1-3).

Demikianlah, pertumbuhan kita dalam kehidupan rohani tercermin dalam sikap yang satu ini: sudahkah kita rendah hati? Rupanya “ilmu padi” tidak hanya berlaku untuk tanaman padi, tetapi untuk kita juga sebagai manusia. Semakin kita diberkati, atau semakin kita dijadikan kuat oleh Tuhan, semakin kita harus mengakui kebesaran Tuhan yang menopang kita, dan semakin kita perlu bersandar kepada-Nya.   

Hhmmm… besok-besok, kalau ada orang memuji kita, apakah jawab kita? Semoga kita teringat untuk pertama-tama memuji Tuhan yang memberikan segala  kebaikan dan karunia kepada kita, dan semoga kita dapat bermurah hati untuk berbagi kepada orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Yesus, kubersyukur untuk segala anugerah dan pemberian-Mu. Bantulah aku agar tak menggantungkan kebahagiaanku pada semua pemberian itu; namun agar hatiku berpaut kepada-Mu, Sang Pemberi segala anugerah itu. Jauhkanlah dariku sikap sombong dan ingin dipuji. Buatlah aku selalu sadar bahwa Engkaulah yang layak dipuji dan menerima Semoga Kau perkenankan aku bertumbuh dalam kasih dan penyerahan diri yang total kepada-Mu, supaya dapat kuterima kebahagiaan sejati yang Kau-janjikan itu. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab