Home Blog Page 158

Apa artinya “Tuhan bersamamu” dan “Dan bersama rohmu”?

5

“Tuhan bersamamu”

Kata “Tuhan bersamamu” (“The Lord be with you“) yang diucapkan oleh imam dalam liturgi bukanlah merupakan perkataan sapaan umum, seperti ucapan “Selamat pagi”, yang dijawab, “Selamat pagi, juga, Romo”. Sebaliknya, ungkapan “Tuhan bersamamu”/ “Tuhan sertamu” mempunyai akar yang kuat dalam Kitab Suci, yang seharusnya membuat kita semakin menghayati, apakah sebenarnya yang sedang kita rayakan di dalam liturgi:

1. Secara mendasar, perkataan “Tuhan bersamamu” menyampaikan perwujudan janji Kristus sendiri, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20)

2. Perkataan “Tuhan bersamamu” juga menyatakan kenyataan yang sungguh mendalam artinya: tentang kehidupan ilahi yang tinggal di dalam jiwa kita, yang kita terima melalui Pembaptisan. Dengan perkataan ini, imam mendoakan agar kehidupan ilahi yang kita terima melalui Baptisan itu terus bertumbuh di dalam kita.

3. Perkataan “Tuhan bersamamu” mengingatkan kepada perkataan-perkataan yang disampaikan kepada banyak tokoh dalam Kitab Suci, mereka yang oleh Tuhan dipercaya untuk mengambil bagian di dalam rencana keselamatan Allah. Tak jarang panggilan Tuhan ini mensyaratkan mereka meninggalkan keadaan ‘kenyamanan’ mereka (comfort zone) untuk melakukan misi tersebut dan selanjutnya memasrahkan kehidupan mereka kepada-Nya secara total. Demikianlah perkataan Tuhan, “Aku menyertai engkau” menjadi jaminan akan penyertaan Tuhan pada orang-orang pilihan-Nya, sebagaimana yang dikatakan-Nya atau yang disampaikan oleh malaikat-Nya, kepada Ishak (Kej 26:3,24), Yakub (Kej 28:13-15); Musa (Kel 3:12), Yosua (Yos 1:5); Gideon (Hak 6:12-16), Yeremia (Yer 1:6-8) dan Bunda Maria (Luk 1:28).

Beberapa contohnya, misalnya:

Sewaktu Tuhan berseru kepada Musa dari tengah semak yang terbakar (lih. Kel 3), Ia memberi tugas yang sulit kepada Musa, yaitu untuk kembali ke Mesir menemui Raja Firaun yang sedang berusaha membunuhnya (lih. Kel 2:15), dan meminta kepada Firaun agar membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir. Maka Musapun merasa bahwa tugas ini terlalu berat baginya (lih. Kel 3:11) dan bahkan berusaha menolaknya dengan memberi berbagai alasan, seperti: bahwa orang-orang akan bertanya siapakah Allah yang menugasinya (lih. Kel 3:13), ia meragukan apakah orang percaya kepada perkataannya (lih. Kel 4:1), apalagi ia tidak pandai berbicara (lih. Kel 4:10). Terhadap keraguan Musa ini, Tuhan memberikan jaminan, “Aku akan menyertai engkau” (lih. Kel 3:12; 4:12). Melalui kelemahan Musa inilah, justru kuasa Allah dinyatakan; sebagaimana kemudian diajarkan oleh Rasul Paulus (lih 2 Kor 12:9-10).

Demikian pula selanjutnya, Allah berjanji menyertai Yosua untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Terjanji (lih. Yos 1:5-6, 9). Juga terhadap Gideon, yang kepadanya Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberi tugas kepada Gideon agar membebaskan umat Israel dari orang-orang Midian (lih. Hak 6:12-16). Gideon yang tidak berpengalaman dan berasal dari suku yang terlemah dan terkecil dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel mengalahkan orang-orang Midian.

Adakalanya kita, seperti Nabi Musa, juga merasa tak mampu melakukan tugas yang dipercayakan kepada kita -entah dalam hubungan kita dengan pasangan kita, masalah keluarga ataupun di tempat kerja. Maka, perkataan, “Tuhan bersamamu” di awal liturgi mengingatkan kita kembali akan janji penyertaan Tuhan. Perkataan itu juga mengingatkan kita akan tugas yang dipercayakan oleh Allah kepada kita dalam rencana keselamatan-Nya. Pada saat kita mendengar kata, “Tuhan bersamamu”, kita mengikuti jejak Musa, Yosua, Gideon, dan banyak tokoh lainnya dalam Kitab Suci yang mengikuti panggilan Tuhan. Kita memang tidak ditugasi untuk melawan para penjajah ataupun pemimpin bangsa yang jahat seperti Firaun; tetapi kita mempunyai peran tertentu di dalam perkawinan, keluarga, persahabatan, di paroki maupun komunitas, yang kalau kita jalani dengan iman dan kesetiaan, akan menghantar kita ke Tanah terjanji yang sesungguhnya, yaitu Surga. Perkataan, “Tuhan bersamamu”, memberikan jaminan bahwa saat kita menghadapi berbagai pergumulan hidup, kita memperoleh pertolongan dari Allah. Tuhan akan menopang kita saat kita mengalami masalah dalam perkawinan kita, saat kita merasa tak mampu mendidik anak-anak kita, dalam kesulitan di pekerjaan, pergumulan dalam penyakit yang sedang dialami ataupun kesedihan yang mendalam setelah wafatnya orang yang kita cintai. Perayaan Ekaristi yang dimulai dengan janji penyertaan Allah ini seharusnya menghalau dukacita, kekhawatiran maupun kegelapan jiwa kita.

4. Di atas semua itu, perkataan “Tuhan bersamamu” menunjuk kepada peristiwa yang di dalamnya kita akan berpartisipasi, yaitu misteri wafat dan kebangkitan Kristus dan persekutuan (komuni) kita dengan Dia. Bukankah bentuk kebersamaan dan penyertaan Allah yang paling sempurna adalah jika Tuhan sendiri masuk ke dalam tubuh dan jiwa kita? Inilah sesungguhnya yang terjadi dalam perayaan Ekaristi, yaitu Allah menghampiri kita, untuk bersatu dengan kita agar dapat tinggal menyertai kita. Kita sesungguhnya tidak layak untuk menerima begitu besarnya karunia ini, namun adalah kehendak Allah untuk menyertai kita sebagaimana Ia menyertai Musa, Yosua, Gideon dan yang lainnya yang percaya dan mengandalkan pertolongan Tuhan.

“Dan bersama roh-mu”

“Dan bersama roh-mu” merupakan tanggapan yang kita ucapkan terhadap perkataan “Tuhan bersamamu” yang diucapkan oleh imam. Tanggapan ini mencerminkan apa yang tertulis dalam surat Rasul Paulus (lih. Gal 6:18). Dengan mengatakan “dan bersama roh-mu”, kita mengakui bahwa Roh Kudus bekerja secara aktif melalui dan di dalam diri imam sepanjang liturgi, oleh karena rahmat tahbisannya. ((lih. Pius Parsch, The Liturgy of the Mass (St. Louis: B. Herder, 1957), p. 109.)) Jeremy Driscoll menjelaskan, “Umat mengacu kepada ‘roh’ sang imam, yaitu bagian dirinya yang terdalam di mana ia telah ditahbiskan sesungguhnya untuk memimpin umat di dalam tindakan yang sakral ini. Umat mengatakan, ‘Jadilah imam bagi kami saat ini’, dengan menyadari bahwa hanya ada satu Imam, yaitu Kristus sendiri, dan bahwa orang ini yang mewakili-Nya harus sungguh-sungguh siap melakukan tugas yang sakral ini dengan baik.” ((Jeremy Driscoll, What Happens at Mass (Chicago: Liturgy Training Publications, 2005), p. 25)). Kita mengucapkan, “Dan bersama roh-mu”, karena sepenuhnya menyadari bahwa pada saat itu -dalam liturgi suci- imam bertindak sebagai Kristus, ‘in persona Christi‘, atas kuasa tahbisannya.

Seorang Santo di abad modern ini, St. Josemaria Escriva mengajarkan bahwa doa semacam ini bagi para imam adalah sangat penting, apalagi dalam konteks Misa Kudus: “Saya memohon kepada semua orang Kristen untuk berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kami para imam, agar kami belajar untuk melakukan kurban kudus ini dengan cara yang kudus. Saya mohon agar kalian menunjukkan kasih yang mendalam kepada Misa Kudus. Dengan cara ini, kalian akan meneguhkan kami para imam untuk merayakannya dengan penuh hormat, dengan martabat ilahi dan manusiawi: untuk menjaga kebersihan jubah pakaian ibadah dan semua benda yang digunakan untuk penyembahan, dan untuk bertindak dengan khusuk, dan tidak terburu-buru.” ((St. Josemaria Escriva, Christ is Passing By, p. 15. As cited in Charles Belmonte, Understanding the Mass (Princeton, NJ: Scepter, 1989), p. 53.))

Begitu dalamnya makna ucapan salam ini, dan karena itu mari kita menghayatinya dan meresapkannya ke dalam hati kita, pada saat kita mengucapkannya.

Sumber utama:
Sri, Edward (2011-01-04). A Biblical Walk Through The Mass: Understanding What We Say And Do In The Liturgy (pp. 24-29). Ascension Press. Kindle Edition.

 

Apakah Henokh dan Elia diangkat ke surga?

6

Dalam Kitab Suci memang dikatakan bahwa Henokh ‘diangkat oleh Allah’ (lih. Kej 5:24, lih. Sir 44:16), walaupun tidak dikatakan ke mana ia diangkat, hanya dikatakan ‘diangkat dari bumi’ (Sir 49:14) atau ‘tidak mengalami kematian ‘(Ibr 11:5). Dan tentang Nabi Elia, dikatakan, “…. tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai” (2 Raj 2:11); atau dikatakan bahwa ia “diangkat ke surga” (1Mak 2:58). Maka ayat-ayat ini sering dianggap sebagai dasar yang menunjukkan bahwa baik Henokh maupun Elia diangkat ke surga. Namun demikian, kita juga membaca ayat yang lain dalam Injil Yohanes yang mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh 3:13). Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga sebelum Kristus, sehingga dengan demikian tidak pula Henokh dan Elia. Bagaimana kita menjelaskan hal ini?

Nampaknya kita tidak dapat memperoleh kepastian yang definitif tentang hal ini, dan Gereja Katolik memperbolehkan adanya beberapa interpretasi yang mungkin, yaitu demikian:

1. Kemungkinan Henokh dan Elia tidak diangkat ke Surga dalam artian tempat kediaman Allah dan para malaikat-Nya, namun ke tempat penantian, di mana jiwa-jiwa orang-orang benar menantikan kedatangan Kristus Sang Mesias untuk membawa mereka ke Surga tempat mereka bersatu sempurna dengan Allah, setelah Kristus membuka pintu surga dengan kemenangan-Nya atas maut. Keberadaan tempat penantian jiwa-jiwa orang benar ini dikisahkan dalam perikop Lazarus (lih. Luk 16:19-31).

2. Henokh dan Elia diangkat ke tingkatan surga yang berbeda, sebab di dalam Kitab Suci juga dikisahkan adanya tiga tingkatan surga (lih. 2 Kor 12:2).

Pandangan ini diajarkan oleh St. Thomas Aquinas (lih. Summa Theologica III, q.49, a.5), yang mendasarkan ajarannya atas perkataan Rasul Paulus, yang mengatakan bahwa Kristuslah yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke tempat kudus (yaitu Surga) melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib; dan karena itu, tidak ada seorangpun yang masuk ke sana sebelum Kristus membuka jalannya/ pintunya.

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri…” (Ibr 10:19-20)

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa jalan ke tempat kudus (surga) itu tertutup karena dosa, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya….” (Yes 35:8). Dosa yang dimaksud di sini adalah dosa asal yang kita terima dari Adam dan Hawa, dan dosa pribadi yang kita lakukan sendiri.

Oleh pengorbanan Kristus [yang buahnya kita terima melalui Baptisan], dosa-dosa kita dihapuskan. Maka pintu surga terbuka bagi kita melalui pengorbanan Kristus. Hal ini diajarkan oleh Rasul Paulus, “Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang… Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.” (Ibr 9:11-12)….

Memang menurut Rasul Paulus para orang benar dan para nabi, “karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran…” (Ibr 11:33), namun iman dan kebenaran mereka tak akan cukup untuk menghalau penghalang yang ada akibat dosa manusia. Penghalang ini dilenyapkan hanya oleh darah Kristus. Oleh karena itu, sebelum pengorbanan Kristus, tak akan ada yang dapat memasuki Kerajaan Surga dan memperoleh pandangan surgawi (beatific vision/ eternal beatitude), yang adalah persatuan yang penuh dengan Tuhan: memandang Allah dalam keadaan-Nya yang sesungguhnya (lih. 1Yoh 3:2).

Dengan dasar pemahaman ini, menurut St Thomas, Elia (demikian pula Henokh) diangkat ke surga atmosferik, namun bukan surga empyrean yang merupakan tempat kediaman Allah dan para kudus-Nya; di sanalah keduanya hidup sampai kedatangan Antikristus.

Selanjutnya, walau hal ini bukan ajaran definitif Gereja Katolik, namun beberapa Bapa Gereja (contohnya St. Gregorius, St. Hieronimus, St. Yustinus Martir) mengatakan bahwa Henokh dan Elia adalah kedua orang saksi yang akan datang kembali menjelang akhir zaman (lih. Why 11:3-12); keduanya akan wafat sebagai martir di Yerusalem, dan dibangkitkan dari kematian oleh Kristus, dan setelah itu mereka akan menerima tubuh kebangkitan, bersama dengan semua orang benar di akhir zaman.

3. Namun demikian, ada pula orang-orang yang menginterpretasikan bahwa Henokh dan Elia keduanya sungguh diangkat ke surga tempat kediaman Allah. Mereka tetap menerima karunia ini atas jasa pengorbanan Kristus, namun oleh kehendak Allah, mereka telah menerimanya sebelum pengorbanan Kristus itu terjadi dalam sejarah manusia. Kekecualian ini diberikan oleh Allah, karena semasa hidupnya mereka sungguh berkenan di hadapan Allah. Jika pengertian ini yang diambil, maka ayat Yoh 3:13 diinterpretasikan menggunakan gaya bahasa hiperbolisme, yang menekankan bahwa secara umum memang tidak ada orang yang telah sampai ke surga sebelum Yesus. Kekecualian beberapa kasus khusus (Henokh, Elia, dan bahkan mungkin juga Musa) itu tidak disebutkan karena Yesus tidak ingin menekankan kasus khusus itu dalam konteks pembicaraan-Nya dengan Nikodemus. (Selanjutnya tentang gaya bahasa sebagai salah satu hal yang menentukan interpretasi Kitab Suci, silakan klik di sini)

Sisi lain dari keyakinan akan fakta diangkatnya Henokh dan Elia ke surga, tubuh dan jiwanya, juga memberikan alasan yang kuat, bahwa Allah dapat melakukan hal yang serupa kepada Bunda Maria yang telah dipilih-Nya menjadi ibu yang melahirkan Kristus Putera-Nya. Sebab pemilihan Bunda Maria ini juga atas dasar bahwa Allah berkenan kepadanya, sehingga ia dipercaya untuk melakukan tugas yang teramat mulia (yang tak pernah dipercayakan kepada seorang yang lain), yaitu untuk mengandung dan melahirkan Kristus Sang Juru Selamat kepada dunia. Jika Henokh dan Elia yang mewarisi dosa Adam saja dapat diangkat Allah ke surga, apalagi Bunda Maria yang sejak awalnya telah dipenuhi dengan rahmat Allah, sehingga tidak berdosa. Adapun diangkatnya Bunda Maria tubuh dan jiwanya, (juga Henokh dan Elia) tetap terlaksana atas jasa pengorbanan Kristus, hanya saja mereka telah menerima buah pengorbanan Kristus itu lebih dahulu daripada kita semua orang percaya, yang akan menerima penggenapan janji akan kebangkitan badan di akhir zaman nanti.

Demikianlah beberapa kemungkinan interpretasi tentang pengangkatan Henokh dan Elia. Walaupun berbeda, namun interpretasi-interpretasi ini saling memperkaya satu sama lain. Sepengetahuan kami, Gereja Katolik tidak mengeluarkan pernyataan definitif tentang hal ini, mengingat ayat tersebut memang dapat memberikan pengertian yang berbeda, jika dikaitkan dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Fakta ini juga membuat kita merenung dalam kerendahan hati, bahwa adakalanya kita tidak dapat sepenuhnya memahami secara tuntas Sabda Allah dalam Kitab Suci, justru karena kekayaan makna yang dapat disampaikannya.

Mengapa Membeli Pedang (Lukas 22:35-36)?

2

Banyak orang memahami bahwa inti ajaran Yesus adalah cinta kasih, sebagaimana terlihat dari pengajaran-Nya maupun dari kerelaan-Nya untuk menderita sengsara dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Namun demikian, ada sebagian orang yang mempertanyakan, apakah Yesus mengajarkan kekerasan, sebab dikatakan di Lukas 22:35-36, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membeli pedang. Apakah ayat itu memang bermaksud mengajarkan kekerasan?

Sebenarnya, kalau kita membaca Kitab Suci secara keseluruhan, tidak mungkin seseorang dapat menarik kesimpulan bahwa Kristus mengajarkan kekerasan. Kita dapat melihat pengajaran-Nya, yang dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia di Injil Matius (lih. Mat 5), pemberitaan-Nya tentang Kabar Gembira dan perbuatan-Nya menyembuhkan segala sakit penyakit, dan akhirnya pengorbanan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia, sebagai tanda kasih-Nya kepada kita manusia.

Mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan Yesus di dalam ayat Luk 22:35-36:

“Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?” Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.”

Dalam ayat Luk 22:35, Yesus mengingatkan para murid akan perintah-Nya di Luk 10:4, yang mengatakan, “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.” St. Gregorius mengatakan bahwa Yesus ingin menekankan bahwa dalam memberitakan Kristus dan melakukan karya misi, janganlah menggantungkan diri kepada kekayaan duniawi atau hal-hal yang bersifat sementara. St. Gregorius, St. Agustinus, St. Ambrosius mengatakan lebih lanjut bahwa dalam memberitakan Injil, seseorang harus berfokus pada misi yang diembannya dan jangan terganggu oleh hal-hal lain – yang digambarkan dengan ungkapan, “Janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.”

Luk 22:36, merupakan kelanjutan dari ayat 35 – yang membuktikan bahwa walaupun para murid diutus Kristus tanpa membawa apapun, termasuk pundi, bekal, kasut, ternyata mereka tidak kekurangan apapun. Namun, kemudian di ayat 36, Kristus mengatakan bahwa kalau mereka mempunyai pundi dan bekal, mereka sekarang harus membawanya, bahkan mereka disuruh membeli pedang. Dari sini kita melihat adanya perbedaan perintah Kristus. St. Bede mengatakan bahwa Kristus mengajarkan bagaimana harus bersikap dalam waktu damai dan penindasan. Dalam waktu damai, mereka senantiasa mengabarkan Kabar Gembira, namun pada waktu penindasan mereka harus bersiap-siaga untuk mempertahankan diri. St. Agustinus menegaskan bahwa dua perintah yang berbeda ini, bukan karena perintah-Nya yang tidak konsisten, tetapi karena perintah ini berkaitan dengan  waktu dan situasi yang berbeda.

Persiapan untuk mempertahankan diri ini digambarkan sebagai ‘membeli pedang’. Kita harus mengartikannya secara allegoris, karena tidak mungkin Kristus yang berkata kepada Petrus, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (lih. Mat 26:52) dapat menyuruh para murid-Nya menggunakan pedang untuk menyerang orang lain. Dan Kristus juga tahu bahwa beberapa murid yang bersenjata pedang tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan tentara Romawi- yang bersenjata lengkap, seperti yang juga ditegaskan oleh St. Krisostomus. Lebih lanjut St. Krisostomus mengatakan bahwa Yesus mengatakan untuk membeli pedang, yang berarti persiapan untuk bertahan – yaitu dari serangan kaum Yahudi. Dari uraian ini, maka kita dapat melihat bahwa tidak ada pertentangan antara Luk 10:4 (Luk 22:35) dan Luk 22:36 karena dipergunakan untuk waktu dan situasi yang berbeda. Dengan demikian, maka Yesus tidak mungkin mengajarkan kekerasan, karena Dia mengatakan “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Mat 5:5).

Agama berdasarkan wahyu: Yahudi, Islam, dan Kristen

33

Agama Yahudi (Jews)dan Kristen memang berakar dari wahyu Allah, namun keduanya tidak sama. Karena agama Yahudi mengambil kitab-kitab dari Perjanjian Lama namun tidak mempercayai kitab-kitab Perjanjian Baru, karena mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai pemenuhan Perjanjian Lama. Hal ini kita lihat misalnya pada kutipan yang diambil oleh Paus Benedict XVI dalam bukunya “Jesus of Nazareth“, p.108-109, mengutip buku karangan Rabbi Neusner, yang membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babylonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)

I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
I: “Nothing.” (Tidak ada)
He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?)
I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu)

Dari percakapan ini kita ketahui bahwa orang Yahudi memiliki gambaran tersendiri untuk seorang Mesias, yaitu haruslah seorang yang mematuhi dan mengajarkan Kitab Torah (Lima kitab Taurat Musa), seperti para Nabi terdahulu. Mereka tidak dapat menerima bahwa Yesus Kristus sendiri adalah “The Living Torah” , yaitu “Taurat Allah yang hidup”, pemenuhan dari Taurat itu sendiri, sehingga ajaran Yesus bukan menunjuk kepada buku/ kitab tertentu, melainkan menunjuk kepada Diri-Nya. Sebab Ia berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6), bahwa tak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Kristuslah ‘meterai’ Perjanjian Baru dan kekal antara Allah dan manusia. Perjanjian Lama telah diperbaharui oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, yang tidak dapat diperbaharui lagi. Namun, sayangnya kaum Yahudi tidak melihat demikian.

Di sinilah bedanya pemahaman tentang Alkitab, bagi umat Kristen, kaum Yahudi, dan Muslim. Karena, bagi mereka yang non-Kristen, mereka memegang pengajaran dari buku/ Alkitab: kaum Yahudi dengan Tanakh (Kitab Ibrani) yang berisi Torah, Talmud,dan teks lainnya, dan kaum Muslim dengan Kitab Al Qur’an. Sedangkan, pada umat Kristen, sumber pengajaran adalah dari Pribadi Yesus sendiri, dari apa yang diajarkan dan dilakukan-Nya. Maka, Alkitab Kristen terdiri dari 2 bagian, Perjanjian Lama, yang hampir sama dengan Kitab kaum Yahudi, sedangkan Perjanjian Baru, yang merupakan kitab ajaran Yesus, tidak dituliskan sendiri oleh Yesus, (karena Kristus Sang Sabda tidak membatasi ajaran-Nya dengan ‘apa yang tertulis di buku’) melainkan oleh para murid-Nya dengan inspirasi dari Roh Kudus yang menuliskan tentang kehidupan dan ajaran Kristus tersebut. Dalam hal ini, Gereja Katolik dengan tuntunan Roh Kudus, berperan untuk menentukan kitab-kitab mana yang sungguh terinspirasi oleh Roh Kudus, untuk dimasukkan di dalam Kitab Perjanjian Baru yang merupakan Wahyu Allah yang dinyatakan oleh Kristus.

Dalam sejarah perkembangan Gereja, kita mengetahui adanya perkembangan ajaran skisma yang menyimpang sejak dari abad awal. Misalnya Gnosticsm, yang menentang segala yang berupa materi dan tubuh, sehingga tidak percaya akan Tuhan yang menjelma mengambil rupa ‘tubuh’ manusia. Atau Arianism, yang juga tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Nah dalam perjalanan waktu memang di Arabia pada abad ke 6-7 berkembang banyak ajaran skisma, misalnya Monophysitism (yang merupakan pengembangan Apollinarism) dan Monothelism, yang pada dasarnya mengajarkan bahwa Yesus bukan sepenuhnya manusia, dan Ia hanya mempunyai satu kehendak saja dari Bapa sehingga tidak sungguh-sungguh manusia seperti kita. Padahal ajaran Gereja jelas menyatakan Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Hal ini ternyata tidak mudah diterima, sebab manusia mempunyai kecenderungan untuk menyederhanakan konsep Allah agar dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Oleh karena itu, maka berkembanglah ajaran-ajaran lain (bahkan oleh orang Kristen sendiri) yang membuat pengertian yang menyimpang tentang ke-Kristenan. Pada saat itulah, agama Islam muncul, dengan ajaran mereka yang sederhana, bahwa Allah itu satu, dan tidak ada inkarnasi atau Allah yang menjelma menjadi manusia. Kesederhanaan inilah yang mungkin banyak menarik orang untuk menjadi Islam.

Penyederhanaan konsep Allah ini tidak sejalan dengan ajaran Gereja, sebab justru wahyu Allah yang telah dinyatakan sepanjang sejarah manusia adalah Allah Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (silakan baca/ kilk di sini Yesus, Tuhan yang dinubuatkan oleh para Nabi, dan Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi). Iman Kristiani tidak terlepas dari karya Penyelamatan Allah Bapa, dengan mengirimkan Putera-Nya untuk menjelma menjadi manusia Yesus Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Wahyu Allah yang dinyatakan oleh Kristus ini merupakan kepenuhan Wahyu Allah, sehingga tidak akan ada lagi Wahyu yang lain lagi. Hal ini disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik #65 -67, & 73, yang kami kutip berikut ini: (penegasan/ cetak tebal adalah dari kami)KGK 65: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal,  yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:”Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu…. Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm 2,22)

KGK 66: “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristien, supaya dalam peredaran zaman lama-kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

KGK 67:  Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.
Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

KGK 73: Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada wahyu lain lagi.

Dengan pengajaran di atas, maka kita sebagai orang Katolik percaya bahwa kepenuhan dan kesempurnaan Wahyu Allah sudah diberikan di dalam dan oleh Kristus sendiri.  Oleh karena itu kita menganggap wahyu Allah sebelum Kristus sebagai wahyu yang menunjuk kepada Kristus, sedangkan wahyu-wahyu lain sesudah Kristus, apalagi yang bertentangan dengan ajaran Kristus, tidak dapat kita anggap sebagai Wahyu Allah.

Eli, Eli, lama sabakhtani dan mengapa Yesus berdoa?

119

Dalam Injil 3 Injil dituliskan demikian: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46). Untuk menelaah hal ini, kita perlu melihat bahwa sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, Yesus adalah Tuhan dan juga adalah manusia. Oleh karena itu, Yesus mempunyai dua keinginan dan juga dua akal budi. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca artikel-artikel Kristologi berikut ini:

Jadi, pada waktu disalib Yesus tetap Tuhan dan juga manusia. Maka pada perkataan, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“, ini mengacu kepada kodrat kemanusiaan Yesus, yang berdoa kepada Allah Bapa-Nya.

Doa Yesus di Salib adalah doa berpengharapan.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana Alkitab dapat dipercaya, karena penulis Alkitab yang ditulis dalam terang Roh Kudus, tetap menuliskan sesuatu yang terjadi, yang mungkin dapat menjadi kesalahpahaman bagi banyak orang di masa yang akan datang.

Doa yang dipanjatkan oleh Yesus di Mat 27:46 bukanlah doa orang yang berputus asa, namun doa yang berpengharapan. Adalah jamak bagi orang Yahudi untuk dapat mengingat Mazmur. Dan pada waktu seseorang memulai sebuah Mazmur, ini berarti orang tersebut berniat untuk menyatakan Mazmur tersebut sampai selesai. Dan oleh karena keterbatasan fisik Yesus pada saat disalibkan (sebagai catatan: pada saat seorang disalibkan, maka setiap tarikan nafas adalah merupakan suatu siksaan), Dia hanya mengucapkan satu baris dari Mazmur 22. Dan oleh karena itu, umat Katolik percaya bahwa Yesus menyatakan Mazmur 22 secara keseluruhan, yang merupakan suatu pernyataan akan kemenangan Tuhan terhadap segala penderitaan dan juga termasuk kematian. Hal ini dapat dilihat bahwa Yesus mengutip Mazmur, di mana pada permulaan Mazmur dikatakan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? …” (Mz 22:1) dan kemudian diakhiri dengan seruan pujian kepada Tuhan. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah ayat-ayat dari Mzm 22:

    • Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud.
      1) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
      2) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
      3) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
      4) Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
      5) Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
      6) Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
      7) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
      (8) “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
      9) Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
      10) Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
      11) Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
      12) Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
      13) mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
      14) Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
      15) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
      16) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
      17) Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
      18) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
      19) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
      20) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.
      21) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!
      22) Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:
      23) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
      24) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
      25) Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
      26) Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
      27) Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
      28) Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
      29) Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
      30) Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
      31) Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.

Pada beberapa kata-kata di atas digaris bawah dari Mazmur yang tertulis dari abad 14-8 SM, terpenuhi dalam drama penyaliban Yesus. Inilah salah satu yang menyebabkan umat Katolik percaya akan Yesus sebagai Tuhan, karena Dia telah dinubuatkan sebelumnya, termasuk kelahiran, karya publik, mukjijat, penderitaan, kematian, kebangkitan, dll. Nubuat ini begitu penting agar manusia tidak salah mengenali Orang yang telah dijanjikan oleh Allah dari awal mula. Kalau ini bukan dari Tuhan sungguh sangat sulit untuk menerangkan bagaimana suatu nubuat yang dinyatakan ratusan bahkan seribu tahun lebih sebelum masehi terpenuhi dalam diri Yesus. Keterangan lebih lanjut dapat dibaca di dalam rangkaian artikel Kristologi.

Mengapa Yesus berdoa?

Yesus berdoa dalam berbagai kesempatan (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).

Untuk itu, kita harus melihat definisi dari doa. Thomas Aquinas, Summa Theology, q. II-II, 83, a.1-2 membahas tentang definisi doa, dimana dia mengatakan bahwa doa adalah “membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya.” Karena di dalam Kristus (satu pribadi) ada dua keinginan, yaitu manusia dan Tuhan, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa karena Dia mempunyai kodrat manusia. Sama seperti kita sebagai orang beriman, kita menyatakan keinginan kita di hadapan Allah.

Dalam konteks pribadi Yesus, yang mempunyai kodrat sungguh manusia, maka bukanlah hal yang aneh kalau Yesus berdoa, sebagaimana manusia juga perlu berdoa. Namun di satu sisi, karena di dalam Yesus ada persatuan (hypostatic union) antara Tuhan dan manusia, maka pada akhirnya kehendak-Nya sebagai manusia senantiasa sama dengan kehendak-Nya sebagai Tuhan.

Yesus berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).

Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).

Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).

Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).

Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).

Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya berdoa.

Jadi dari keterangan di atas, Yesus berdoa karena 1) selain mempunyai kodrat ilahi,  Yesus juga mempunyai kodrat sebagai manusia  2) demi kepentingan manusia, sehingga manusia dapat meniru apa yang telah dilakukan-Nya. Mungkin akan sulit untuk menerima argumentasi di atas tanpa percaya terlebih dahulu bahwa Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, karena apapun yang dilakukan oleh Yesus senantiasa bersumber pada kodrat-Nya sebagai persatuan (hypostatic union) antara kodrat Tuhan dan kodrat manusia.

Invincible ignorance dalam jaman ini

10

Memang tidak mudah untuk menjawab kondisi apakah seseorang masuk dalam invincible ignorance atau tidak. Untuk orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan Injil, kita dapat mengatakan bahwa mereka adalah termasuk dalam kategori invincible ignorance atau “ketidaktahuan yang tak teratasi” atau “ketidaktahuan yang bukan karena kesalahan mereka sendiri”. Namun, mereka juga tidak dapat menghindar terhadap natural law atau hukum kodrat, yang telah ditorehkan di dalam hati setiap manusia (hati nurani). Nah, masalahnya adalah, apakah kita dapat mengatakan bahwa orang-orang yang telah mendengar Injil dan tidak percaya pasti termasuk dalam invincible ignorance? Untuk menjawab hal ini, kita dapat melihat dokumen tentang Gereja di dunia dewasa ini – tentang martabat hati nurani dan tulisan dari Paus Pius XII.

Di lubuk hatinya manusia menemukan hukum, yang tidak di terimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggema dalam lubuk hatinya: jalankanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili[16]. Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya[17]. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama[18]. Atas kesetiaan terhadap hati nurani Umat kristiani bergabung dengan sesama lainnya untuk mencari kebenaran, dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam hidup kemasyarakatan. Oleh karena itu semakin besar pengaruh hati nurani yang cermat, semakin jauh pula pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok menghindar dari kemauan yang membabi-buta, dan semakin mereka berusaha untuk mematuhi norma-norma kesusilaan yang objektif. Akan tetapi tidak jaranglah terjadi bahwa hati nurani tersesat karena ketidaktahuan yang tak teratasi [invincible ignorance], tanpa kehilangan martabatnya. Tetapi itu tidak dapat dikatakan tentang orang, yang tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta.“(Gaudium et Spes, 16)

Paus Pius XII mengatakan terhadap mereka yang tidak tergabung dalam Gereja Katolik oleh karena ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari (invincible ignorance), namun yang selalu mencari kehendak Tuhan: Paus menyebutnya mereka ini sebagai “yang berhubungan dengan Tubuh Mistik Kristus dengan kerinduan dan keinginan tertentu yang tidak disadari” dan mereka ini bukannya tidak termasuk dalam keselamatan kekal, tetapi, “…mereka tetap kurang dapat memperoleh bermacam karunia surgawi dan bantuan-bantuan yang hanya dapat diberikan di dalam Gereja Katolik” (AAS, 1.c., p 243).

Dengan demikian terlihat jelas, bahwa orang yang tidak perduli terhadap nilai-nilai kebenaran dan berbuat dosa tidak dapat langsung dikategorikan invincible ignorance, karena hati nuraninya menjadi tumpul dan tidak dapat membedakan secara jelas antara norma-norma kesusilaan yang baik dengan yang buruk. Namun, orang yang senantiasa mencari kebenaran di atas kepentingan pribadi, yang senantiasa mencari kehendak Allah, akan menemukan kebenaran, apalagi di dunia sekarang ini, di mana informasi tentang iman dapat dengan mudah didapatkan.

Katekismus mengajarkan:

KGK 846      …….seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (LG 14).

KGK 847      Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16, Bdk. DS 3866 – 3872).

Dengan dasar ini, maka kita dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anda:

1) Mereka yang telah diperkenalkan Injil dan masih tidak percaya: Kita tidak dapat  menilai secara kasat mata, apakah orang tersebut termasuk dalam invincible ignorance (kesalahan karena ketidaktahuan yang tidak terhindari) atau culpable ignorance (Kesalahan karena kekhilafan sendiri). Semua ini tergantung dari kondisi orang tersebut, hati nurani orang tersebut, dan sampai seberapa jauh mereka mencari kebenaran dan menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, sampai seberapa jauh mereka menjalankan kehendak Allah, dll. Oleh karena itu, hanya Tuhan saja yang tahu apakah seseorang masuk dalam kategori invincible ignorance atau tidak.

2) Kebebasan beragama. Orang justru sering salah menggunakan semangat kebebasan beragama dan toleransi, yang seolah-olah diartikan bahwa semua agama sama saja, yang berarti tidak perlu memberitakan apa yang dipercayainya kepada orang lain. Justru, menjadi tugas umat Katolik untuk memberitakan kebenaran Injil kepada semua orang tanpa kecuali. Namun, tentu saja, pemberitaan ini harus dilakukan dengan cara yang bijaksana (prudence) dan tidak boleh memaksa dan menggunakan cara-cara yang justru berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan.

Kondisi sebagian umat Katolik yang tidak mau menyebarkan kebenaran dapat menjadikan orang-orang yang belum mengenal Kristus menjadi tidak mengetahui kebenaran secara penuh. Dan keadaan ini dapat diperparah dengan sikap sebagian dari umat Katolik yang tidak hidup menurut ajaran Gereja Katolik, yang tidak mencerminkan kekudusan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, orang yang tidak percaya karena kurang melihat saksi Kristus yang baik, atau umat Katolik yang tidak hidup menjadi saksi Kristus yang baik harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Kristus sendiri.

Karya-karya pastoral dan karya-karya sosial dan kasih adalah sesuatu yang baik. Namun, semua karya-karya tersebut harus menuntun seseorang kepada Sang Kebenaran, karena karya-karya tersebut merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Sang Kebenaran itu sendiri, yaitu Yesus. Di satu sisi, pemberitaan Injil harus juga digalakkan, sehingga umat Katolik dapat mengerti secara persis akan apa yang dipercayainya dan melakukan apa yang dipercayainya dengan sungguh-sungguh dan sukacita. Bahkan pemberitaan Injil harus dilihat sebagai perbuatan kasih, karena memberitakan kebenaran, yang akan menuntun semua orang kepada keselamatan kekal. Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keselamatan kekal. Dan, pemberitaan ini juga diharapkan mampu menjangkau umat dari agama lain. Namun, apakah umat dari agama lain mau menjawab panggilan ini atau tidak, semuanya tergantung dari mereka dan Tuhan, karena pada akhirnya yang dapat mengubah hati adalah Tuhan sendiri. Dalam hal ini, yang terpenting adalah kita tidak boleh menjadi penghalang rahmat Tuhan yang hendak dicurahkan kepada semua orang. Oleh karena itu, dalam kapasitas kita masing-masing, kita harus berusaha dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan kita untuk senantiasa mengikuti kehendak dan perintah Allah, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang untuk menemukan kepenuhan kebenaran yang mereka cari, dalam Gereja Katolik

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab