Home Blog Page 157

Ajaran Bapa Gereja sebelum abad ke-4 tentang Trinitas?

3

Ada banyak orang mengira bahwa ajaran tentang Allah Trinitas baru diajarkan oleh Gereja setelah Konsili Nicea tahun 325. Anggapan ini keliru, sebab sesungguhnya ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang mengajarkan adanya Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Silakan membaca lebih lanjut tentang Allah Trinitas di sini, silakan klik.

Ajaran tentang Trinitas mengambil dasar dari pewahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya, sebagaimana dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus, dan kemudian ajaran ini dilestarikan oleh para rasul dan para penerus mereka.  “….Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Kor 8:6)

Dengan demikian, kelirulah pandangan yang menyangka bahwa ajaran tentang Trinitas baru timbul di abad ke-4. Sebab prinsip dasar Allah Trinitas sudah diajarkan oleh para rasul dan para penerus mereka yaitu para Bapa Gereja, sebelum abad ke-4. Berikut ini kutipannya:

1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))

2. St. Ignatius dari Antiokhia (35-107) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))

“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))

“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).

“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))

3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))

4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))

5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))

6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148))

“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).

“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).

7.  St. Teofilus dari Antiokhia (180), pertama kali menyebutkan istilah ‘Trinitas’:”Demikianlah juga ketiga hari sebelum diciptakannya terang [pada hari ke-empat], adalah lambang dari Trinitas, Allah, dan Firman-Nya dan Kebijaksanaan-Nya.” ((St. Theophilus of Antioch,  To Autolycus II.15))

8. St. Clement dari Alexandria (150-215 AD) dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190])).

“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).

9. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))

“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).

10. Tertullian [160-240 AD]
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).
“Sebab secara prinsip, Gereja sendiri itulah,  adalah Roh Allah sendiri, yang di dalamnya adalah Trinitas dari Satu ke-Allahan, Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((Tertullian, On Pudicity 21))

11. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225]))

12. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).

13. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).

14. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))

“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))

15. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))

16. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

Bagaimana agar tidak lupa kepada Tuhan dalam keseharian kita

4

Kita semua memang harus berjuang setiap hari agar tidak ‘lupa’ akan Tuhan. Sebab walaupun mulut kita sering mengucapkan kita mengasihi Tuhan, namun di dalam perbuatan, sering kita gagal mewujudkannya. Contoh yang sederhana ialah di dalam keseharian kita sering ‘lupa’ kepada-Nya, atau tepatnya lebih banyak memperhatikan diri sendiri dan kehendak sendiri daripada Tuhan dan kehendak-Nya. Singkatnya, kita cenderung lebih ‘cinta diri’ ketimbang ‘cinta Tuhan’.

Tulisan “Refleksi Praktis tentang Kekudusan”, silakan klik– mungkin dapat membantu, namun memang benar bahwa untuk senantiasa ingat akan Tuhan kita harus membawa serta Dia di dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini adalah tips sederhana yang mungkin dapat diterapkan, yang pada dasarnya melibatkan Tuhan di dalam segala hal yang kita lakukan setiap hari, baik pada saat yang senang ataupun susah:

1) Usahakan bangun lebih pagi setiap hari, dan awali dengan ucapan syukur. Pajanglah gambar Yesus di kamar tidur, atau di dekat tempat tidur kita, sehingga begitu kita terjaga/ terbangun, Yesuslah yang kita ingat terlebih dahulu. Begitu kita mengingatNya, kita mengucap syukur, bahwa kita diberi karunia ‘hidup’ hari itu.

2) Jangan lupa, mohonlah di dalam doa pagi, “Tuhan, bantulah aku untuk lebih mengingat Engkau hari ini.”

3) Sediakanlah ‘pojok doa’/ tempat berdoa di rumah. Letakkanlah di situ Kitab suci, buku doa/ renungan, rosario dan salib Tuhan Yesus.

4) Sediakan waktu secara khusus untuk berdoa (pagi dan malam) dan merenungkan bacaan harian hari itu, misalnya 1/2 jam sehari. Jika dirasakan kurang dapat ditambahkan kemudian hingga 1 jam atau lebih. Carilah waktu yang paling baik, jangan mengambil waktu terlalu malam, supaya tidak ngantuk dan terburu-buru. Lakukan doa hening, doa Yesus, atau doa lain, seperti Ibadat harian/Liturgy of the Hour, atau doa rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus (Gembira, Terang, Sedih, Mulia), ataupun doa spontan.

5) Ambillah sepenggal ayat/ kata dari bacaan Kitab suci hari itu, dan ulangi dalam batin sepanjang hari. Seperti misalnya kita terkesan dengan kata, “menghasilkan buah yang baik” (Luk 6:43). Doakanlah terus, “Tuhan, bantu aku agar aku menghasilkan buah yang baik hari ini.”

6) Jika mengendarai mobil, pasanglah kaset/ CD rohani, entah berupa lagu-lagu, ataupun doa rosario, atau jika ada/ memungkinkan dengarkanlah siaran radio Katolik.

7) Temukanlah Tuhan dalam hal-hal yang biasa dan rutin. Untuk ini mari kita teliti, kegiatan apa yang paling mendominasi hari-hari kita: Misalnya, jika kita bekerja di kantor, begitu sampai di meja kerja, ucapkanlah syukur. Jika mengalami kesulitan dalam pekerjaan, ucapkanlah, “Tuhan, kasihanilah aku.” Jika mengalami pujian dan berkat, “Tuhan, terima kasih, Engkau sungguh ajaib.”

8) Temukanlah Tuhan dalam hal-hal yang sederhana bahkan dalam hal-hal yang membosankan, seperti ketika sedang membersihkan rumah/ mencuci piring, olah raga/ jogging, atau sedang menunggu sesuatu, berdoalah Salam Maria. Ingatlah akan orang-orang yang membutuhkan doa kita, dan doakanlah mereka bersama dengan Bunda Maria, “Bunda Maria, doakanlah ….(nama yang mau di doakan) di hadapan Yesus. Salam Maria….dst” atau berdoalah rosario.

9) Temukanlah Tuhan pada saat kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai atau yang membutuhkan pengorbanan kita. Katakanlah dalam hati, “…ini kulakukan demi kasihku kepada Yesus… ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan salib Kristus… mari, Yesus, bantulah aku memikul salibku ini…. semoga salib kecil ini nanti menghantarku / dan ….. (nama orang yang kudoakan) ke surga”.

10) Temukanlah Tuhan dalam orang-orang yang kita jumpai. Mulai dari suami/ istri/ orang tua/ anak-anak yang terdekat dengan kita (atau bagi para biarawan biarawati, temukanlah Tuhan dalam diri superior, atau sesama rekan biarawan/ biarawati). Mulailah hari dengan menyapa dan memberikan ungkapan kasih kepada mereka.

11) Temukanlah Tuhan dalam orang-orang yang datang kepada kita/ yang kita jumpai pada hari itu, misalnya: tamu asing, teman yang berkeluh kesah, orang yang minta tolong, atau bahkan orang yang membuat kita sedih/ kesal. Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan pada mereka, kita lakukan terhadap Yesus.

12) Temukanlah Tuhan dalam berita dunia hari itu. Jika anda membaca koran/ mendengar berita TV, lihatlah apa yang terjadi di dunia sekitar kita, ucapkanlah syukur untuk segala berita baik, dan mohonlah pertolongan Tuhan jika ada bencana. Doakanlah mereka yang menderita, para pemimpin negara dan pemimpin Gereja.

13) Ingatlah untuk selalu berdoa mengucap syukur sebelum dan sesudah makan.

14) Jika kita mau berdisiplin, pasanglah alarm pada jam-jam tertentu untuk mengingatkan bahwa pada saat itu anda perlu berdoa singkat, misal setiap jam 6pagi, 12 siang, jam 3 siang, jam 6 sore. Begitu sudah terbiasa, maka alarm itu tidak dibutuhkan lagi.
Doa- doa singkat ini dapat sangat sederhana, “Terpujilah Engkau, Tuhan”,atau “Jesus and Mother Mary, I love you, save sinners.” Atau jika mau lebih khusus, doakanlah anggota keluarga atau teman atau siapapun yang ingin kita doakan pada saat itu. Atau mendoakan doa Angelus, setiap jam 6 pagi, 12 siang, 6 sore, dan doa Kerahiman pada jam 3 siang, memperingati jam wafatnya Tuhan Yesus.

15) Pasanglah sticker/’post-it’ polos di tempat-tempat tertentu yang paling sering kita lihat. Pada saat kita melihatnya, ucapkanlah syukur kepada Tuhan. Jika sudah terbiasa, kita tidak memerlukan post-it lagi.

16) Usahakan mengikuti Misa Kudus, lebih dari sekali seminggu. Persiapkan hati sungguh-sungguh sebelum mengikuti misa, dan pada saat konsekrasi, mohonlah sekali lagi, “Tuhan, bantulah aku mengingat dan mengasihi Engkau.”

17) Sediakanlah waktu untuk bersekutu dengan saudara/saudari seiman, dan mendalami iman Katolik anda.

18) Periksalah batin sebelum tidur. Persembahkan kepada Tuhan, segala yang baik yang kita perbuat hari itu. Dan mohonlah ampun atas kegagalan kita untuk berbuat baik hari itu. Sediakan waktu hening di dalam Tuhan. Contoh doa malam, klik di sini.

19) Jika kita temukan dosa dalam pemeriksaan batin itu, kita secepatnya mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, sedapat mungkin pada hari berikutnya, dan mohon agar Tuhan membantu kita agar tidak mengulangi dosa itu lagi.

20) Tutuplah hari dengan senyuman, “Yesus, aku bersyukur, terpujilah Engkau!”

Marilah kita berdoa, agar Tuhan memberikan kepada kita rahmat untuk senantiasa mengingat dan mengasihi-Nya. Mengingat akan Tuhan adalah bagian dari ‘doa’, dan oleh karena keinginan untuk berdoa itu sendiri adalah suatu rahmat (“…for the desire to pray is in itself a gift“), marilah kita bersyukur untuk rahmat ini, dan memohon agar Tuhan memampukan kita untuk menanggapi rahmat tersebut.

Tentang Mukjizat

11

Apakah mukjizat itu dan apakah mukjizat itu nyata dan apakah benar-benar ada orang yang dapat melakukan mukjizat? Berikut ini adalah keterangan yang disarikan dari link ini, silakan klik, tentang mukjizat:

1. Pengertian Mukjizat

Mukjizat adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kodrat alam karena efeknya melampaui kekuatan/ kemampuan mahluk ciptaan. Oleh karena efeknya yang melampaui kekuatan kodrati maka mukjizat disebut sebagai sesuatu hal yang adikodrati, yang melibatkan adanya campur tangan Ilahi. St. Thomas Aquinas mengajarkan, “Efek- efek tersebut dapat disebut sebagai mukjizat yang dilakukan oleh kuasa Ilahi yang dilakukan di luar ketentuan yang umum terjadi pada alam (St. Thomas Aquinas, Contra Gentiles, III, cii), melampaui ketentuan atau hukum alam (St. Thomas Aquinas,  Summa Theology I:102:4). Dengan demikian mukjizat dihubungkan dengan “jari Tuhan” (Kel 8:19, Luk 11:20), “tangan Tuhan” (1 Sam 5:6, Ezr 8:31). Tuhanlah yang menjadi penyebab mukjizat; mukjizat terjadi karena sesuai dengan rencana penyelenggaraan Tuhan (St. Thomas Aquinas, Contra Gentiles, III, xcviii).

2. Kuasa Tuhan dalam mukjizat

Kuasa Tuhan terlihat dalam mukjizat dari dua hal :1) langsung melalui perbuatanNya yang terjadi seketika itu juga; 2) tidak langsung/ dengan perantaraan melalui ciptaan-Nya sebagai sarana ataupun alat; yaitu para malaikat (seperti pada Dan 3, Kis 12), manusia seperti melalui perantaraan Musa dan Harun (Kel 7), para Rasul (Kis 2:43), St. Petrus (Kis 3:9), St. Paulus (Kis 19), jemaat perdana (Gal 3:5); ataupun kuasa Tuhan melalui relikwi suci, seperti mantel Nabi Elia (2 Raj 2), tulang- tulang Nabi Elisa (2 Raja 13), jumbai jubah Yesus (Mat 9), sapu tangan Rasul Paulus (Kis 19:12), ular tembaga di jaman Nabi Musa (Bil 21), tabut perjanjian, bejana suci di Bait Allah (Dan 5), dst.

3. Tujuan utama mukjizat

Tujuan utama mukjizat adalah untuk menunjukkan kemuliaan Tuhan. Di Perjanjian Lama mukjizat- mukjizat yang terjadi menyatakan penyelenggaraan Tuhan yang Maha Besar (lih. Kel 10:2, Ul 5:25, Kel 7-10, 1 Raj 18:21-38, 2 Raj 5). Di Perjanjian Baru, kebesaran dan kemuliaan Tuhan dinyatakan pada kisah mukjizat di Kana, mukjizat-Nya yang pertama dicatat dalam Kitab Injil Yohanes (lih. Yoh 2), pada saat Yesus menyembuhkan banyak orang sakit (Mat 9:8, Luk 18:43, Mat 15:31, Luk 19:37, Kis 4:21, dst), dan pada saat membangkitkan Lazarus (lih. Yoh 11). Yesus melakukan mukjizat- mukjizat tersebut bukan agar dikagumi orang, melainkan karena dorongan belas kasih-Nya terhadap manusia yang berdosa dan menderita. Dalam hal misi penyelamatan-Nya, dengan melakukan mukjizat- mukjizat, Kristus membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan dan Penguasa alam semesta. Mukjizat-Nya yang terbesar adalah kebangkitan-Nya dari kematian, agar kita yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal (lih 1 Pet 1:3).

Tujuan-tujuan berikutnya merupakan tujuan sekunder, seperti untuk mengkonfirmasi kebenaran dari pesan Ilahi yang disampaikan, atau sebuah kebenaran akan ajaran iman dan moral, seperti dalam kisah Musa (Kel 4), Elia (1 Raja 17:24); dan bagaimana orang Yahudi mengenali Yesus sebagai utusan Tuhan (lih Yoh 6:14, Luk 7:16; Yoh 2:11, Yoh 3:2, Yoh 9:38, Yoh 11:45); dan bagaimana Yesus mengacu kepada perbuatan-Nya (termasuk mukjizat- mukjizat-Nya) untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Putera Allah (lih. Mat 11:4; Yoh 10:37, Yoh 5:36, Mrk 16:17). Para Rasul juga mengajarkan bahwa mukjizat merupakan konfirmasi atas ke-Tuhanan Yesus (lih. Yoh 20:31, Kis 10:38, 2Kor 12:12).

Tujuan sekunder berikutnya adalah untuk memberi kesaksian akan kekudusan, seperti halnya bagaimana Tuhan membela Musa (Bil 12), Elia (2 Raj 1), Elisa (2 Raj 13); demikian juga dalam kisah orang buta yang dicelikkan (Yoh 9:30-) dan dalam proses kanonisasi orang kudus (Santo/a) dalam Gereja Katolik.

Tujuan lainnya adalah untuk mendatangkan kebaikan baik jasmani ataupun rohani sebagai penghargaan terhadap suatu kebajikan, seperti pada kasus janda Sarfat (1Raj 17), tiga pemuda dalam tungku api (Dan 3) dan perlindungan terhadap Dainel (Dan 5).

4. Siapa pembuat mukjizat

Wahyu ilahi mengajarkan kepada kita tentang pelaku mukjizat, sebagai berikut:

a. Hanya Tuhan yang dapat melakukan mukjizat substansial, seperti membangkitkan orang mati, ataupun menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh manusia. Mukjizat- mukjizat sedemikian dilakukan oleh Kristus, dan mukjizat yang terbesar yang dilakukan-Nya adalah kebangkitan-Nya dari mati (lih. Kis 10:40). Kristus melakukan mukjizat- mukjizat untuk menyatakan Kerajaan Allah (Mat 12; Luk 11), dan memberikan kuasa kepada para Rasul-Nya (Mat 10:8) dan para murid-Nya (Luk 10:9, 19) untuk melakukan mukjizat- mukjizat dan menjanjikan bahwa karunia mukjizat ini akan terus ada di dalam Gereja (lih. Mrk 16:17).
b. Mukjizat yang dilakukan oleh para malaikat yang dicatat dalam Kitab Suci selalu dilakukan atas kekuatan Tuhan.
c. Kitab Suci mencatat kuasa roh- roh jahat sebagai suatu kekuatan yang terbatas dapat mengakibatkan mukjizat, seperti para penyihir Mesir (lih. Kel 8:19), kisah Ayub, sebagaimana dikatakan oleh Kristus sendiri (Mat 24:24) dan oleh Rasul Yohanes (Why 9:14). Maka walaupun sepertinya roh- roh tersebut dapat melakukan sesuatu yang di luar kemampuan manusia, namun perbuatan tersebut kekurangan makna dan tujuan yang dapat dikatakan sebagai bahasa Tuhan kepada manusia.

5. Mukjizat Kristus berhubungan dengan inti ajaran-Nya

Mukjizat- mukjizat Yesus memperlihatkan kaitan antara ajaran dan misi-Nya, maksud Kerajaan Allah dan hubungan antara pengajaran dan prinsip terbesar yang kemudian dilestarikan oleh Gereja-Nya. Telah disampaikan bahwa motif mukjizat Yesus adalah belas kasihan Allah, dan belas kasihan ini besifat universal dan tidak mengenal batas ras/ bangsa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam mukjizat anak kepala rumah ibadat (Mat 8) dan anak perempuan Siro-Fenisia (Mrk 7). Mukjizat-mukjizat yang dilakukan pada hari Sabat menyatakan maksud kedatangan-Nya yaitu menyelamatkan umat manusia dan bahwa Kerajaan-Nya menandai penyempurnaan hukum Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Ajaran tentang sakramen dinyatakan lewat mukjizat di Kana (Yoh 2), tentang kuasa-Nya mengampuni dosa dalam mukjizat-Nya menyembuhkan orang lumpuh (Mat 9), kuasa-Nya yang mengatasi alam dinyatakan dengan menggandakan roti, meredakan angin ribut, mengadakan mukjizat penangkapan ikan, dst. Fokus kebenaran ajaran Kristus adalah kehidupan: Ia datang untuk memberi hidup kepada manusia, yang dinyatakan secara khusus dengan membangkitkan orang mati, seperti pada kasus Lazarus, dan kebangkitan-Nya sendiri dari kematian. Para Rasul mengacu kepada kebangkitan Yesus dari mati untuk menandai kebangkitan jiwa dari kematian dosa menuju kehidupan rahmat, dan menjadi janji dan nubuat kemenangan atas dosa dan maut dalam kebangkitan badan di akhir jaman (1 Tes 4).

Di atas semua itu, mukjizat terbesar setelah kebangkitan Yesus, yang masih terus terjadi sampai saat ini adalah mukjizat Ekaristi, yaitu di mana oleh kuasa Roh Kudus, melalui Sabda-Nya yang diucapkan oleh imam dalam doa konsekrasi, Kristus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Mukjizat ini terus terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi. Karena Kristus sendirilah yang hadir dalam Ekaristi ini, maka Ekaristi adalah “puncak dan sumber seluruh hidup Kristiani ” (KGK 1324).

6. Kesaksian para rasul tentang mukjizat

Kesaksian para rasul tentang mukjizat meliputi dua hal:

a. Mereka berkotbah tentang mukjizat Yesus, terutama kebangkitan-Nya dari mati (lih. Kis 2:22; 10:37) dan mereka sebagai saksi-Nya (Kis 2:32; 1:22) dan kebangkitan Yesus menjadi dasar pengajaran mereka di Yerusalem (lih, Kis 3:15; 4:10; 5:30; 10:40) di Antiokhia (Kisa 13:30-), Athena (Kis 17:31), di Korintus (1 Kor 15), di Roma (Rom 6 :1) dan Tesalonika (1 Tes 1:10)

b. Mereka sendiri melakukan mukjizat dalam nama Yesus, di Yerusalem (lih. Kis 2:43), membangkitkan orang lumpuh (lih. Kis 3:14), menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat (lih. Kis 8:7-8) dan membangkitkan orang mati (Kis 20:10), seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus (Rom 15:18-19, Gal 3:5, 2 Kor 12:12, 1 Kor 12)

7. Kesaksian para Bapa Gereja tentang mukjizat- mukjizat yang terjadi sepanjang sejarah Gereja

a. St. Clement dari Roma dan Ignatius dari Antiokhia mengatakan tentang mukjizat- mukjizat yang terjadi di jaman mereka.
b. Origen menyebutkan bahwa ia telah melihat contohnya bahwa setan- setan telah diusir, banyak orang disembuhkan dan nubuat digenapi (Origen, Against Velsus I, II, III, IV).
c. St. Irenaeus, menanggapi para penyihir di jamannya, mengatakan, “mereka tidak dapat membuat orang buta melihat, membuat orang tuli mendengar dan mengusir setan; dan mereka sangat jauh dari membangkitkan orang mati seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul, dengan doa dan seperti telah sering terjadi dalam komunitas, bahwa mereka bahkan berpikir hal itu tidak mungkin (St. Irenaeus, Against Heresies II)
d. Tertullian memberikan kesaksian tentang mukjizat- mukjizat yang terjadi di kalangan jemaat (lih. Tertullian, Apol., xxiii)
e. St. Agustinus memberikan daftar yang panjang tentang mukjizat- mukjizat yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, dengan menyebutkan nama-nama dan detail- detail yang bersangkutan; yang telah terjadi dalam waktu dua tahun sebelum ia menerbitkan tulisannya (St. Agustinus, City of God XXI.8; Retract., I, xiii)
f. St. Hieonimus menulis buku untuk menanggapi Vigilantus dan membuktikan bahwa relikwi harus dihormati, dengan mengutip makjizat- mukjizat yang terjadi melalui relikwi.
g. St. Gregorius Agung menulis kepada St. Augustinus dari Canterbury agar tidak menjadi sombong dengan banyaknya mukjizat yang Tuhan perkenankan terjadi melalui perbuatan tangannya bagi pertobatan orang- orang Inggris.

Dengan demikian dari awalnya, Gereja Kristus sejak jaman para rasul dan para murid mereka, telah terjadi rantaian mukjizat- mukjizat bersamaan dengan karunia bahasa roh, nubuat, untuk mengusir setan, penyembuhan, dst. Maka keberadaan Gereja, yaitu Kerajaan Allah di dunia, di mana di dalamnya Kristus dan Roh Kudus-Nya hadir, telah ditandai dengan kehidupan para orang kudus yang penuh dengan mukjizat, di berbagai negara dan waktu; merupakan kesaksian yang tak terputuskan tentang mukjizat itu sungguh riil/ nyata (St. Bellarminus, De noits Eccle. LIV- xiv), seperti yang disyaratkan pula dalam proses kanonisasi.

8. Bagaimana sikap terhadap mukjizat

Walaupun mukjizat terjadi di sepanjang sejarah Gereja, mukjizat bukanlah merupakan sesuatu yang terpenting yang harus kita minta setiap kali kita berdoa. Sebab di dalam kerendahan hati kita percaya bahwa Tuhan yang mengetahui segalanya akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kita mengakui kebaikan Tuhan dan Tuhan akan mengatur segalanya menjadi baik adanya. Maka jika kita memohon untuk meredakan badai ataupun menghentikan wabah, kita memohon bukan semata untuk terjadinya mukjizat, tetapi lebih kepada memohon kemurahan-Nya untuk memperhatikan permohonan kita, agar dengan cara-Nya sendiri, Ia menjawab permohonan kita sesuai dengan yang kita butuhkan.

Mengadakan mukjizat dalam nama Tuhan Yesus adalah suatu karunia (lih. 1Kor 12:28), yang diberikan Tuhan sesuai dengan kebijaksanaan dan kerelaan hati-Nya, untuk membangun Gereja-Nya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa mengadakan mukjizat dalam nama-Nya bukan sesuatu yang terutama bagi seorang murid, sebab yang terpenting adalah melakukan kehendak Allah (Mat 7:21-22) yaitu mengasihi Allah dan sesama.

Konsili Vatikan dalam Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium, mengajarkan tentang hal ini demikian:

“Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya secara layak/ teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).” (Lumen Gentium, 12)

Demikianlah keterangan tentang mukjizat, semoga berguna.

Bagaimana Ordo Benediktin membangun Kebudayaan Eropa?

1

St. Benediktus dari Nursia (480-543) dihormati oleh Gereja Katolik sebagai Santo pelindung benua Eropa dan para pelajar. Ia dikenal terutama karena “the Rule of St. Benedict“/ Ketentuan St. Benediktus, yang intinya sebagai berikut (untuk selengkapnya, silakan klik di sini):

1) Ketentuan St. Benediktus secara prinsip dapat dilakukan oleh siapa saja yang ingin hidup dengan ketaatan untuk berjuang bagi Kristus.

2) Pekerjaan merupakan sesuatu yang utama/ penting untuk bertumbuh dalam kebaikan, jadi bukan hanya keadaan untuk para budak (sebagaimana merupakan pandangan umum di zaman itu);

3) Kehidupan religius secara mendasar adalah bersifat sosial: karena itu dalam komunitas, mereka bekerja dan berdoa bersama, memiliki segala sesuatunya secara bersama. Ora et Labora, berdoa dan bekerja, merupakan semboyan mereka.

4) Walaupun tidak boleh mempunyai harta milik sendiri, para rahib Benediktin tidak mempunyai kaul kemiskinan. Mereka diperbolehkan memiliki kepemilikan bersama yang digunakan untuk karya komunitas dan untuk keuntungan masyarakat sekitar. Maka walaupun para rahib secara individual hidup sederhana, namun biara merupakan tempat untuk memberi sedekah untuk orang-orang miskin, untuk memberi pakaian kepada yang tidak punya pakaian, merawat yang sakit, menguburkan yang meninggal, dst.

5) St. Benediktus memulai suatu komunitas yang didasari oleh ketentuan tersebut yang kemudian berkembang menjadi ordo St. Benediktus.

6) Doa digabungkan dengan keseluruhan hidup, hidup tak lengkap jika tidak diresapi doa. Tingkat pertama adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri sesama. Maka mereka melayani orang sakit seperti melayani Kristus, menjamu tamu/ peziarah, seperti menyambut Kristus sendiri. Doa dalam komunitas adalah doa bersama secara publik, dan doa pribadi. Doa-doa ini digabungkan dalam kehidupan komunitas, dalam karya mereka mengajar di sekolah-sekolah dan universitas, dalam memajukan seni maupun pertanian maupun bidang studi lainnya, serta membimbing kerohanian umat.

Dalam tahapan periode sejarah, zaman Benediktin dan pengaruhnya ini jatuh di periode tahun 500-1500 sebelum zaman Renaissance, yang sering salah kaprah disebut “the Dark Ages“. Sekarang para ahli sejarah telah mengetahui dengan lebih objektif tentang apakah masa itu layak disebut sebagai “Dark Ages“. Sebab dalam abad-abad itu, manuskrip Yunani dan Latin disalin kembali, disimpan, didiskusikan, dan dilestarikan sehingga membuka jalan terhadap lahirnya Renaissance, yang merupakan kelahiran kembali ke zaman kuno yang dipadukan dengan agama Kristen, sehingga menghasilkan kebudayaan yang unik.

Masa tiga abad pertama dalam milenium kedua (yang disebut High Middle Ages) adalah jauh dari kegelapan ataupun terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan. Pada masa itu banyak dibangun katedral-katedral yang dari kompleksitasnya, terbukti dibangun oleh masyarakat yang beradab.

Maka para ahli sejarah kini berpandangan bahwa masa “Dark Ages” itu berkaitan dengan periode tahun 500-700, di mana saat itu memang masih relatif sedikit buah-buah yang dapat dirasakan dalam hal pendidikan, hasil karya sastra dan indikator budaya lainnya. Di periode itu memang terjadi kemunduran kebudayaan Eropa secara umum, yang disebabkan oleh invasi bangsa barbar yang menghancurkan kebudayaan Romawi. Invasi itu menghancurkan banyak kota, biara, perpustakaan, sekolah, dst. Hanya Gereja-lah yang bertahan dan bahkan berperan dalam masa ke-vakuman tersebut, untuk mempertahankan sisa-sisa kebudayaan yang ada, dengan menyalin kembali banyak naskah-naskah kuno, dan melestarikan ilmu bercocok tanam, metalurgi, fisika, biologi dst, dan mengajarkannya di sekolah-sekolah. Dengan prinsip “berdoa dan bekerja”, ordo Benediktin ini berkembang hingga menangani 37,000 biara yang tersebar di seluruh Eropa di abad- abad berikutnya. Ordo ini melestarikan agrikultur dan seni di Eropa. Mereka mengajarkan bagaimana bercocok tanam, membangun sistem irigasi, beternak, membuat perkebunan, membuat keju, menangkap ikan, dst. Biara-biara mereka menjadi unit yang efektif dalam hal menggunakan tenaga air, yang dipakai untuk menghancurkan bulir gandum, mengayak tepung, menenun, dst. Para rahib juga dikenal karena keahlian mereka di bidang metalurgi. Mereka memotong gunung penghasil marmer, mengerjakan pekerjaan kaca, mencetak plat besi, menambang garam, membuat jam, dst. Namun yang juga tak kalah penting, sebagaimana telah disebut di atas, mereka menyalin naskah-naskah kuno sehingga kebudayaan Barat akhirnya tidak punah. Itulah sebabnya kebudayaan Eropa tidak hancur, walaupun sempat diserang habis-habisan oleh kaum barbar.

Selanjutnya tentang kisah ini, silakan membaca artikel ini, silakan klik, yang ditulis oleh seorang profesor sejarah dari kalangan sekular, bukan dari kalangan imam Katolik, sehingga kita dapat mengetahui bahwa apa yang ditulisnya bersifat netral, tidak berisi muatan apapun untuk membela Gereja Katolik.

Kesimpulan:

Berikut ini adalah hal-hal yang menjadi ciri khas biara-biara Benediktin di Eropa yang berpengaruh terhadap kebudayaan Eropa:

1) menjadi tempat persinggahan peziarah ataupun orang-orang yang melakukan perjalanan, menjadi tempat pelayanan bagi orang-orang sakit, dengan memberikan tempat yang menawarkan keteraturan, kesalehan dan keramahan.

2) menjadi tempat pembelajaran bagi ilmu kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya, melalui pelestarian manuskrip/ naskah-naskah kuno, yang memberikan kontribusi terhadap kebudayaan klasik. Banyaknya istilah dan nama Latin yang digunakan dalam biologi dan ilmu kedokteran sampai sekarang adalah bukti nyata akan pengaruh kaum Benediktin dalam melestarikan ilmu tersebut.

3) menjadi pusat dikembangkannya jalan hidup yang berpusat pada liturgi, yang disebut sebagai ‘karya Allah’, dengan menggabungkan doa dengan pekerjaan manual maupun intelektual: “Ora et Labora

4) menjadi pusat pengembangan agrikultur, metalurgi dan sastra klasik.

5) memberikan pondasi bagi pendidikan kaum muda dan pembentukan Eropa di zaman Abad Pertengahan. Di setiap desa dan kota, di setiap katedral dan biara, terdapat sekolah, yang memberikan pendidikan gratis kepada kaum miskin. Prinsip pendidikan yang dilakukan kaum Banediktin memberikan pondasi bagi berdirinya universitas- universitas di Eropa, yang kemudian secara sistematik menyebar ke seluruh dunia.

6) Ordo Benediktin telah menghasilkan 24 orang Paus, 200 orang kardinal, 7.000 orang uskup agung, 15.000 orang uskup dan 1.500 orang Santo. Sampai tahun 1400, ordo Benediktin mempunyai 37.000 biara yang masing-masing menjadi pusat lokal budaya Katolik.

Dengan semua fakta ini, tak mengherankan jika St. Benediktus dinyatakan sebagai Santo pelindung Eropa, dan bahkan Paus kita yang sekarang mengambil nama Benediktus sebagai namanya, ketika ia dipilih sebagai Paus.

Yoh 10:16: Domba- domba Lain

4

Dituliskan di dalam Yoh 10:16 “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” The Navarre Bible menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut:

Kristus akan membentuk satu kawanan jemaat yang terdiri dari bangsa Yahudi dan bangsa- bangsa non- Yahudi yang percaya kepada-Nya. Hal ini sudah secara implisit diajarkan oleh Kristus dalam pernyataan-Nya kepada perempuan Kanaan (lih. Mat 15:24); dan secara eksplisit melalui perintah-Nya untuk mewartakan ajaran-Nya ke seluruh bangsa (lih. Mat 28:19-20, Mrk 16:15), mulai dari Yerusalem, ke seluruh Yudea, Samaria dan ke ujung bumi (lih. Kis 1:8).  Ini menggenapi nubuat tentang Mesias yang mencapai seluruh dunia (lih. Mzm 2:7; Yes 2:2-6; 66:17-19).

Rasul Paulus juga mengajarkan, “Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, …. bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.” (Ef 2:11-13, lih. Gal 3:27-28, Rom 3:22).

Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Gereja adalah bangsa Israel- bangsa pilihan Allah- yang baru (lih. Lumen Gentium, 9), sehingga di Gereja-lah kita termasuk dalam kawanan Kristus, dan Gereja ini harus kemudian menjangkau bangsa- bangsa lain, yaitu yang digambarkan sebagai ‘domba- domba lain’ dalam Yoh 10:16:

Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir (non- Yahudi) Ia [Allah] memanggil suatu bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan akan menjadi umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman akan Kristus, yang dilahirkan kembali bukan dari benih yang punah, melainkan dari yang tak dapat punah karena sabda Allah yang hidup (lih. 1Ptr 1:23), bukan dari daging, melainkan dari air dan Roh kudus (lih. Yoh 3:5-6), akhirnya dihimpun menjadi “keturunan terpilih, imamat rajawi, bangsa suci, umat pusaka – yang dulu bukan umat, tetapi sekarang umat Allah” (1Ptr 2:9-10)….

Adapun seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang gurun, sudah di sebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1 dst), begitu pula Israel baru, yang berjalan dalam masa sekarang dan mencari kota yang tetap dimasa mendatang (lih. Ibr 13:14), juga disebut Gereja Kristus (lih. Mat 16:18). Sebab Ia sendiri telah memperolehnya dengan darah-Nya (lih. Kis 20:28), memenuhinya dengan Roh-Nya, dan melengkapinya dengan sarana-sarana yang tepat untuk mewujudkan persatuan yang nampak dan bersifat sosial. Allah memanggil untuk berhimpun mereka, yang penuh iman mengarahkan pandangan kepada Yesus, pencipta keselamatan serta dasar kesatuan dan perdamaian. Ia membentuk mereka menjadi Gereja, supaya bagi semua dan setiap orang menjadi sakramen kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu[15]. Gereja, yang harus diperluas ke segala daerah, memasuki sejarah umat manusia, tetapi sekaligus melampaui masa dan batas-batas para bangsa. Dalam perjalanannya menghadapi cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan Gereja diteguhkan oleh daya rahmat Allah, yang dijanjikan oleh Tuhan kepadanya. Maksudnya supaya jangan menyimpang dari kesetiaan sempurna akibat kelemahan daging, melainkan tetap menjadi mempelai yang pantas baik Tuhannya, dan tiada hentinya membaharui diri di bawah gerakan Roh Kudus, sehingga kelak melalui salib mencapai cahaya yang tak kunjung terbenam.”

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan mengenai ayat Yoh 10:16, sebagai berikut:

KGK 60    Bangsa yang berasal dari Abraham menjadi pembawa janji yang Allah ikrarkan kepada para bapa bangsa, menjadi bangsa terpilih (Bdk Rm 11:28). yang dipanggil dengan maksud mempersiapkan pengumpulan semua anak Allah dalam kesatuan Gereja (Bdk. Yoh 11:52; 10:16). Bangsa ini menjadi akar pohon, yang padanya akan dicangkokkan orang-orang non- Yahudi, kalau mereka sudah percaya (Bdk. Rm 11:17-18.24).

Selanjutnya Paus Yohanes Paulus II, dalam surat ensiklik Redemptoris Missio mengajarkan demikian:

“Pertama- tama dan utama, adalah penting untuk bekerja keras demi mendirikan komunitas- komunitas Kristiani di mana- mana, yaitu komunitas yang menjadi “tanda kehadiran Allah di dunia”….. Tanggung jawab atas tugas ini adalah tugas Gereja universal maupun gereja- gereja partikular, kepada semua umat Allah dan semua karya evangelisasi …. Iman harus selalu diwartakan sebagai karunia Allah untuk dilaksanakan di dalam hidup di dalam komunitas (keluarga, paroki dan kelompok) dan untuk disebarkan kepada orang lain melalui perkataan dan perbuatan….

Para missionaris yang datang dari gereja- gereja lain dan negara lain harus berkarya di dalam persekutuan dengan kelompok lokal bagi perkembangan komunitas Kristen. Secara khusus …. untuk memajukan penyebaran iman dan perluasan Gereja di dalam lingkungan yang non- Kristen dan di antara kelompok- kelompok non- Kristen, dan untuk memupuk semangat misioner di kalangan gereja- gereja partikular, sehingga langkah- langkah pastoral akan selalu digabungkan dengan perhatian kepada karya misi ad gentes (kepada segala bangsa). Dengan cara ini, setiap gereja akan memberikan perhatian seperti Kristus Sang Gembala yang baik, yang mempersembahkan diri-Nya secara penuh kepada kawanan-Nya, tetapi pada saat yang sama, memikirkan “domba- domba lain, yang yang bukan dari kandang ini.” (Yoh 10:16) (Paus Yohanes Paulus II, surat ensiklik Redemptoris Missio, 49)

Dengan demikian, ‘domba-domba lain’ di sini maksudnya adalah mereka yang berada di luar kawanan domba-Nya. Mereka juga termasuk dalam perhatian Kristus Sang Gembala yang baik; agar mereka dapat menjadi satu dengan kawanan-Nya. Kini pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan kawanan domba-Nya? Kitab Suci menunjukkan bahwa kawanan domba Kristus adalah kawanan yang dipercayakan kepada Rasul Petrus (lih. Yoh 21:15-19, Mat 16:18) dan Kristus menghendaki agar kawanan ini selalu bersatu (Yoh 17:20-21)  dengan satu gembala, menjadi pemersatu semua bangsa (lih Yoh 11:52), seperti yang dikehendaki-Nya itu. Kita dapat melihat dalam sejarah Gereja, bahwa kawanan tersebut adalah Gereja Katolik, yang dipimpin oleh Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Maka ‘domba- domba lain’ yang dimaksud di sini adalah mereka yang berada di luar Gereja Katolik, termasuk yang non- Kristen, yang kemudian dituntun oleh Kristus agar mendengarkan suara-Nya, dan akhirnya dapat tergabung dalam Gereja-Nya.

Apa artinya Berkat Penutup di akhir perayaan Ekaristi?

2

Berkat Penutup dalam perayaan Ekaristi juga mencerminkan berkat di awal perayaan, dengan perkataan, “Tuhan bersamamu” dengan tanda salib. Tanda salib ini dibuat bersamaan dengan pada saat imam memberkati umat, atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Sejak abad-abad awal, berkat oleh imam di akhir perayaan liturgis telah dilaksanakan. Perkataan, “Ite Missa est” yang artinya “Pergilah, kamu diutus” atau diterjemahkan, “Pergilah, Misa telah selesai.”

Maka yang terpenting di sini bukanlah semata-mata berkat penutup itu sendiri, tetapi juga pengutusan, sehingga keseluruhan liturgi itu sendiri disebut “Misa”, yang diambil dari kata (“dismissal/ sending“), yang artinya adalah sebuah pengutusan. Demikianlah maka Katekismus menjelaskan bahwa perayaan Ekaristi disebut ‘Misa Kudus’, “karena liturgi, dimana misteri keselamatan dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman [missio], supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari.” (KGK 1332). Pengutusan ini mengacu kepada perkataan Yesus sendiri, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh 20:21) Dalam perayaan Ekaristi, kita telah mengambil bagian dalam Misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, dan kita telah menerima Kristus dalam Komuni kudus, yang menggabungkan kita ke dalam kehidupan-Nya dan misi-Nya.

Perkataan “Pergilah, Misa telah selesai” (Ite Misa est) itu sendiri melambangkan kenaikan Kristus ke surga, dengan kedua malaikat yang mengutus para murid. Setelah kenaikan Yesus ke surga yang disaksikan oleh para murid-Nya, kedua malaikat itu mengutus para murid untuk kembali ke Yerusalem dan mewartakan Kristus.

Sedangkan berkat penutup di akhir Misa merupakan simbol dari turunnya Roh Kudus atas para Rasul di hari Pentakosta. Berkat yang diberikan dengan tanda salib mengingatkan kita akan rahmat Allah di hari Pentakosta, dan bermacam karunia dan buah Roh Kudus, yang dicurahkan kepada kita atas jasa Kristus melalui sengsara dan wafat-Nya di salib. Memang kita telah menerima Roh Kudus di saat Pembaptisan dan sakramen Krisma, namun Roh Kudus kembali dicurahkan atas kita untuk menguatkan jiwa kita menjalani kehidupan sehari-hari sepulangnya dari perayaan Misa Kudus ini. Maka kata berkat penutup bukanlah hanya semata menyatakan bahwa Misa telah selesai dan umat diberkati, namun merupakan pengutusan umat dengan misi untuk menyampaikan berkat yang baru saja mereka terima, yaitu Kristus, ke dalam dunia.

Jadi perkataan berkat penutup itu sendiri merupakan penutup rangkaian . Oleh karena itu tanggapan yang kita berikan adalah ucapan syukur yang tak terhingga yang keluar dari hati kita yang terdalam, “Syukur kepada Allah”. Sebab tiada kata yang dapat mewakili rasa terima kasih kita kepada Allah atas rahmat yang terbesar itu, selain ucapan syukur kepada-Nya. Ekaristi yang artinya adalah “ucapan syukur” ditutup dengan kata penutup yang merupakan ungkapan syukur kepada Allah.

Sumber:
Edward Sri (2011-01-04), A Biblical Walk Through The Mass: Understanding What We Say And Do In The Liturgy (pp. 147-148). Ascension Press. Kindle Edition.

Rev. Bernard C Loeher, Following Christ Through the Mass, (Detroit, Michigan, Sacred Heart Seminary, 1935), p. 79-83.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab