Home Blog Page 146

Siapakah Orang Majus dalam Injil Matius?

12

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, menjelaskan bahwa “Majus/ Magi” memiliki banyak arti, dari yang positif sampai negatif: 1) Anggota kalangan imam Persia; 2) dalam budaya Yunani, Magi diartikan sebagai pemimpin agama yang berpegang pada filosofi; 3) orang yang mempunyai dan menggunakan pengetahuan dan kemampuan adikodrati; 4) penipu, sebagaimana yang ditulis dalam Kis 13:10 tentang Magus (tukang sihir) yang bernama Baryesus.

Paus mengatakan bahwa orang Majus yang disebut dalam Mat 2 adalah arti yang pertama. Jika mereka bukan anggota imam Persia, mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan religius dan filosofis yang telah berkembang di daerah itu. Astronomer Wina, Ferrari d’ Occhieppo, menghubungkan mereka ini dengan para astronomer di kota Babilonia. Merekalah yang memperhitungkan terjadinya konjungsi planet Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6 BC (yang menghasilkan cahaya bintang yang terang di Betlehem), yang dipercaya sebagai tahun sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus.

Namun para majus yang disebut dalam Injil Matius ini bukan hanya para astronomer (ahli perbintangan) namun juga orang yang ‘bijak’/ sarjana (wise men). Mereka menunjukkan dinamika agama-agama yang mencari Tuhan yang sejati. Kebijaksanaan memurnikan pesan ilmu pengetahuan. Maka, sebagaimana kisah kandang Natal dihubungkan dengan kitab Yes 1:3, demikianlah kisah para Majus dihubungkan dengan Mzm 72:10 dan Yes 60; maka para majus (orang bijak) dari Timur dikenal sebagai raja-raja (tiga raja), dan bersama mereka datanglah juga unta-unta, yaitu binatang yang mereka tumpangi.

Maka intinya adalah: para orang bijak dari Timur menandakan awal yang baru. Mereka melambangkan perjalanan umat manusia menuju Kristus. Mereka memulai prosesi yang terus berlanjut sepanjang sejarah. Mereka tidak hanya melambangkan bangsa yang menemukan jalan menuju Kristus, tapi mereka juga mewakili aspirasi terdalam dari manusia, dinamika agama-agama, dan akal budi manusia menuju Kristus.

 

Markup: Title With Special Characters

0

Putting special characters in the title should have no adverse effect on the layout or functionality.

Special characters in the post title have been known to cause issues with JavaScript when it is minified, especially in the admin when editing the post itself (ie. issues with metaboxes, media upload, etc.).

Latin Character Tests

This is a test to see if the fonts used in this theme support basic Latin characters.

! # $ % & ( ) *
+ , . / 0 1 2 3 4
5 6 7 8 9 : ; > = <
? @ A B C D E F G H
I J K L M N O P Q R
S T U V W X Y Z [
] ^ _ ` a b c d e f
g h i j k l m n o p
q r s t u v w x y z
{ | } ~

Markup: Title With Markup

0

Verify that:

  • The post title renders the word “with” in italics and the word “markup” in bold.
  • The post title markup should be removed from the browser window / tab.

Seputar Kristologi

0

Dalam banyak diskusi dengan para pembaca katolisitas tentang kristologi, sering muncul begitu banyak pertanyaan yang sama. Yang menjadi masalah, ketika kami memberikan link-link yang telah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan, maka sering sekali ada sebagian pembaca yang menolak untuk benar-benar membaca artikel-artikel yang telah diberikan. Alasan ini timbul, karena mungkin keengganan untuk membaca artikel-artikel yang cukup panjang. Oleh karena itu, dalam serba-serbi kristologi ini, kami akan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul sehubungan dengan kristologi secara singkat dan padat. Secara berkala kami akan menambahkan tanya jawab singkat ini.

Bagi yang ingin membaca tanya jawab secara lebih detail, maka dapat melihat arsip diskusi tentang kristologi di sini – silakan klik dan beberapa artikel yang berhubungan dengan kristologi dapat dilihat pada beberapa link berikut ini:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam doa syahadat bagian Aku Percaya akan Allah Bapa yang Maha Kuasa dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Semuanya itu menunjukkan kesempurnaan rancangan keselamatan Allah.

Bagaimana mungkin Kristus adalah Tuhan kalau Kitab Suci juga membuktikan bahwa Yesus adalah manusia?

Tidak ada yang menyangkal bahwa Kitab Suci membuktikan bahwa Yesus adalah manusia, sehingga Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh manusia. Namun, Kitab Suci yang sama juga membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sehingga Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa Kristus mempunyai kodrat Allah. Ke-Allahan-Nya dapat dibuktikan dengan kedatangan-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi dari generasi ke generasi: Kelahiran-Nya (lih. Mik 5:2), kehidupan-Nya yang membuat banyak mukjizat (lih. Yes 29:18, 35:5-6, 61:1; bdk. Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30), penderitaan dan kematian-Nya (lih. Yes 42, 49, 50, 53). Yesus menyatakan ke-Allahan-Nya juga dengan mengajar dan memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri -bukan dengan mengatakan “Beginilah firman Tuhan…. ” (Kel 4:22; 5:1; Yos 24:2; Hak 6:8; 1Sam 10:18, dst) seperti dikatakan oleh para nabi, namun Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu…” (lih. Mat 5-6). Dengan perkataan-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah Tuhan. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan… ” (Yoh 13:13). Yesus juga menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan dengan menyatakan bahwa Ia berdiam di dalam hati setiap orang, terutama dalam mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan, dan bahwa semua orang kelak akan dihakimi atas dasar perbuatannya terhadap mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan itu, sebab dengan perbuatan tersebut mereka memperlakukan Dia (lih. Mat 25:31-46). Yesus juga melakukan begitu banyak mukjizat seperti menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41), menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19). Yesus juga menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah karena Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa (lih. Mat 9:2-8; Mrk 2:3-12; Luk 5:24, Luk 7:48); Kristus juga mengatakan bahwa Dia mampu memberikan hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28) dan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Dengan cara-Nya sendiri Yesus menyatakan diri-Nya adalah Sang Yahweh, terutama dengan mengatakan bahwa diri-Nya adalah, “Aku adalah Aku/ I am who am”, yang adalah sinonim/ persamaan arti kata ‘Yahweh’ itu sendiri. Karena klaim ke-Allahan inilah, maka Yesus hendak dibunuh dan dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (lih. Yoh 10:33). Selanjutnya, Yesus sendiri tidak menolak ketika Rasul Tomas mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) dan tidak menolak ketika Dia disembah oleh para murid (lih. Mat 28:16-17). Dan akhirnya dalam Kitab Wahyu digambarkan bahwa Yesus bertahta dalam kemuliaan dan seluruh ciptaan menyembah-Nya (lih. Why 5:13-14).

Apakah misi Yesus ketika Dia datang ke dunia ini?

Ada banyak orang mengatakan bahwa misi Yesus datang ke dunia ini hanya sebagai utusan Bapa (lih Yoh 20:21), melakukan kehendak Allah Bapa (lih. Yoh 6:38) dan menggenapi hukum (lih. Mat 5:17) serta mewartakan Injil (lih. Mrk 1:38). Namun, kalau kita membaca Kitab Suci secara keseluruhan, maka kita melihat bahwa misi yang diemban oleh Yesus adalah lebih daripada itu. Di dalam kehidupan-Nya, Kristus – yang adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) – senantiasa memberitakan kebenaran (lih. Yoh 18:37), karena kebenaran akan memerdekakan manusia (lih. Yoh 8:32). Dia juga menjadi terang dunia sehingga siapa yang percaya kepada-Nya tidak berada dalam kegelapan (lih. Yoh 8:12; Yoh 9:39) melainkan mendapatkan hidup yang kekal (lih. Yoh 3:16-18; Yoh 10:10). Dia datang bukan untuk dilayani, namun untuk melayani, dan memanggil orang berdosa dan yang hilang, agar mereka bertobat (lih. Mat 9:13; Mrk 2:17; Luk 5:32; Luk 19:10) serta memperoleh keselamatan (lih. 1Tim 1:15). Keselamatan ini diperoleh dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28; 1Yoh 4:10; Gal 4:4-5; 1Yoh 4:10) atau dengan kata lain, Dia rela untuk mati dan menghasilkan keselamatan bagi umat manusia (lih. Yoh 12:27; Yoh 12:47). Dengan penebusan-Nya, maka Kristus memberi kekuatan dan rahmat agar umat Allah dapat hidup dalam kekudusan (lih. Rm 8:3-4).

Apakah Yesus memberikan Diri-Nya untuk disalibkan dengan rela atau karena paksaan?

Secara sekilas, mungkin kita melihat bahwa kaum Yahudi dan penguasa Romawi memaksa Yesus untuk mati di kayu salib. Namun, kalau kita menelusuri Perjanjian Baru, maka kita akan melihat bahwa ada banyak ayat yang membuktikan bahwa Yesus secara sukarela memberikan Diri-Nya sebagai penebus dosa. Ditegaskan bahwa Tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (lih. Mat 20:28; Mrk 10:45; bdk. 1Tim 2:6; Yes 53:10). Bagaimana Dia memberikan diri-Nya? Sebagai gembala yang baik, maka Dia rela memberikan nyawa bagi domba-domba-nya (lih. Yoh 10:11) dan hal ini dipenuhi-Nya dalam kematian-Nya di kayu salib. Yesus sendiri menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengambil dari Yesus, namun Dia sendiri berkuasa memberikan menurut kehendak-Nya sendiri (lih. Yoh 10:18). Justru, karena Kristus yang adalah Allah, rela menderita dan mati, yang didasari oleh kasih-Nya kepada manusia dan Allah Bapa, maka penderitaan dan kematian-Nya mempunyai efek yang sungguh luar biasa, yaitu dapat menebus umat manusia.

Mengapa Kristus menjelma menjadi manusia di pertengahan sejarah manusia?

Adalah layak jika Kristus menjelma menjadi manusia (Inkarnasi) di era peradaban manusia di saat telah terdapat pencatatan sejarah dan budaya universal dalam tingkatan tertentu. Hal ini perlu: 1) agar Inkarnasi dapat dipercaya sebagai kejadian sejarah, dan bukan hanya mitos atau legenda yang dikelilingi kabut masa prasejarah; 2) sehingga pengetahuan tentang kejadian Inkarnasi ini dapat menyebar ke seluruh bangsa dan negara; 3) agar Inkarnasi Kristus dapat terjadi setelah persiapan yang layak, sebab Allah tidak melakukan karya-Nya yang terbesar tanpa persiapan yang memadai. Persiapan akan inkarnasi Kristus telah terjadi selama sekitar 2000 tahun dalam sejarah bangsa Yahudi, mulai dari Abraham dan para nabi. Akan menjadi tidak layak, jika penjelmaan Kristus ini tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa diharapkan ataupun dirindukan, tanpa instruksi ataupun nubuat sebelumnya. Juga menjadi tidak layak jika selama sepanjang sejarah, manusia dibiarkan berjalan tanpa campur tangan Allah sendiri untuk menuntunnya ke arah kesempurnaan yang dikehendaki Allah. Dengan demikian, tidak layaklah jika Inkarnasi Kristus terjadi di awal sejarah manusia sehingga tanpa persiapan yang cukup, ataupun di akhir sejarah manusia, karena Inkarnasi bertujuan untuk menguduskan umat manusia.

Bagaimana hubungan teori Evolusi dengan iman?

33

Bagaimana umat Katolik menyikapi teori evolusi dan apakah teori evolusi ini bertentangan dengan iman? Pertama-tama kita harus memegang bahwa karena iman dan akal itu sama-sama berasal dari Allah, maka kita percaya bahwa seharusnya tidak ada pertentangan antara iman dan akal (reason) dan science yang menjadi hasil dari akal tersebut untuk mencapai kebenaran, asalkan pencarian kebenaran tersebut dilakukan dengan tulus tanpa memasukkan ide-ide pribadi yang kemudian dianggap sebagai kebenaran.

Teori Evolusi yang kita kenal sebenarnya merupakan suatu hipotesa, yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, agar dapat dikatakan sebagai kebenaran. Sementara ini, bukti ilmiah belum dapat dikatakan mendukung hipotesa tersebut.  Ada dua inti besar teori Evolusi- yang dikenal sebagai “Macroevolution/ evolusi makro”yang dipelopori oleh Darwin:

  1. Semua mahluk hidup berasal dari mahluk sederhana yang terdiri dari satu sel atau lebih, yang terbentuk secara kebetulan.
  2. Species baru terbentuk dari species lain melalui seleksi alam, dengan melibatkan kemungkinan variasi, di mana variasi tersebut dapat bertahan dan berkembang biak. Dalam abad ke-20, hal ini diperjelas dengan memberi penekanan pada kemungkinan mutasi sebagai cara pembentukan variasi. Posisi ini dikenal sebagai Neo- Darwinism.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita melihat bahwa di sini terdapat 2 jenis evolusi, yaitu Evolusi makro, dan evolusi mikro. Evolusi makro membicarakan evolusi melewati batas-batas species, di mana species secara berangsur-angsur berubah menjadi species yang lain. Sedangkan evolusi mikro adalah evolusi yang berada di dalam batas satu species. Mikro evolution adalah suatu realita yang dapat kita amati secara langsung pada alam, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Umumnya, evolusi mikro ini berhubungan dengan adaptasi dengan lingkungan baru, dan berupa pengurangan organ dan bukan penambahan dan penyesuaian.
Teori evolusi yang kita kenal umunya adalah evolusi makro. Ini bertentangan dengan iman, karena definisinya, teori Evolusi makro merujuk pada asumsi bahwa tidak ada campur tangan Tuhan (sebagai Divine Intelligence) sebagai pencipta umat manusia.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa terdapat beberapa problem mengenai teori Evolusi makro, baik dari segi filosofi maupun ilmu pengetahuan, dan akal sehat kita sesungguhnya dapat menilai mana yang benar:

A. Problem Evolusi makro dari sudut pandang filosofi:

  1. Teori Darwin berpendapat bahwa dari mahluk yang lebih rendah dapat dengan sendirinya naik/ membentuk mahluk yang lebih tinggi, yang disebabkan oleh kebetulan semata-mata, (dan bukan disebabkan karena campur tangan ‘Sesuatu’ yang lebih tinggi derajatnya). Ini bertentangan dengan prinsip utama akal sehat: sesuatu/ seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya.
  2. Teori Darwin tidak berdasarkan fakta konkrit bahwa species tertentu memiliki ciri khusus yang tidak dipunyai oleh species lain; sebab teori ini beranggapan bahwa semua species seolah-olah tidak punya ciri tertentu dan dapat berubah menjadi species yang lain, seperti tikus menjadi kucing, kucing menjadi anjing, dst. Hal ini tentu tidak terjadi dalam kenyataan.
  3. Teori ini mengajarkan bahwa kemungkinan variasi terjadi karena ‘kesalahan’/ hanya kebetulan; dan ini seperti mengatakan bahwa musik disebabkan oleh ‘keributan’ semata-mata.
  4. Teori Darwin tidak dapat menjelaskan perbandingan paralel antara hasil karya manusia dan satu sel mahluk hidup. Karena akal sehat dapat melihat secara objektif bahwa hasil karya manusia/ teknologi betapapun bagus dan rumitnya tidak memiliki kehidupan sedangkan mahluk satu sel memiliki kerumitan tertentu yang dapat menyebabkan ia hidup dan berkembang. Maka jika teknologi tersebut (yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mahluk satu sel) dihasilkan oleh mahluk dengan akal yang tinggi (yaitu manusia), maka betapa hal itu harus lebih nyata dalam hal penciptaan mahluk satu sel tersebut, yang seyogyanya diciptakan oleh mahluk yang jauh lebih tinggi dari manusia.
  5. Evolusi tidak dapat menjelaskan keberadaan keindahan alam di dunia. Jika segala sesuatu adalah hasil kebetulan yang murni, maka hal itu tidak dapat menjelaskan bagaimana kebetulan itu bisa menghasilkan keindahan yang ditimbulkan oleh keteraturan/ ‘order’. Dari pengalaman sehari-hari, kita mengetahui tidak mungkin terdapat kebetulan-kebetulan murni yang bisa menghasilkan keteraturan dan keindahan.
  6. Teori Darwin tidak membuktikan bahwa Tuhan Sang Pencipta tidak ada, melainkan teori ini mengambil asumsi ketidak-adaan Tuhan sebagai titik tolak. Bahwa kemudian dikatakan bahwa pembuktian ‘kebetulan secara ilmiah’ tersebut menunjukkan demikian, itu hanya merupakan demonstrasi untuk mengulangi suatu pernyataan yang diasumsikan sebagai kebenaran.

B. Problem Evolusi makro dari segi Ilmu Pengetahuan:

  1. Kenyataannya, species mahluk hidup sudah jelas memiliki keterbatasan ciri-ciri yang secara genetik tidak dapat berubah. Sampai saat ini tidak ada bukti nyata tentang pembentukan species baru dari species lain menurut seleksi alam.  Jikapun ada, maka mahluk persilangan ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang biak. Contoh: ‘mule’ , persilangan antara kuda dan keledai, tidak dapat berkembang biak/ steril.
  2. Hasil penemuan fosil tidak menunjukkan perubahan yang berangsur secara terus menerus pada species yang satu dan yang lain. Yang ditemukan adalah bentuk yang stabil untuk jangka waktu yang lama, dan tidak ditemukan fosil species perantara  yang menghubungkan satu species dengan yang lain. Jika benar ada mahluk antara kera dengan manusia, tentu fosil mahluk antara kera dan manusia harus banyak ditemukan, namun sampai saat ini tidak demikian, sehingga dikatakan bahwa terdapat ‘missing links’ antara fosil kera dan fosil manusia. Betapa ini menunjukkan bahwa mahluk penghubungnya tidak ditemukan karena memang tidak ada! Sekalipun jika klaim missing links tersebut benar-benar dianggap otentik, tetaplah menjadi suatu pertanyaan, mengapa temuan fosil-fosil itu relatif sangat sedikit/jarang, sebab jika teori ini memang benar, maka seharusnya fosil peralihan tersebut harus dengan mudah ditemukan, sebab perubahan tersebut, jika dikatakan terjadi melalui seleksi alam maka perubahannya secara gradual dan memakan waktu yang lama, sehingga fosilnya seharusnya relatif mudah ditemukan, seperti penemuan fosil kera dan fosil manusia, kedua species yang konon dihubungkan oleh “the missing links” tersebut.
  3. Mutasi menunjukkan adanya pengurangan organ ataupun modifikasi organ yang sudah ada, karena kebetulan dan tidak essensial, seperti perubahan warna, bentuk, dst. Namun mutasi tidak dapat menjelaskan sesuatu yang tadinya tidak ada jadi ada. Jadi prinsipnya ‘indifferent/regressive’ dan bukan ‘progressive’.
  4. Darwin sendiri mengamati dengan teliti evolusi mikro, namun masalahnya dia menjadikannya sebagai rumusan untuk evolusi makro, walaupun sesungguhnya tidak dapat menjawab bagaimana sesuatu yang lebih sederhana membentuk sesuatu yang lebih rumit. Tidak usah jauh-jauh bicara soal keseluruhan tubuh; sebab bagaimana perkembangan dari satu sel menjadi organ mata atau telinga (yang walaupun kecil tapi kompleksitasnya cukup tinggi) saja belum dapat dibuktikan.
  5. Perhitungan matematika, yaitu teori probabilitas menunjukkan bahwa kemungkinan perubahan dari mahluk sederhana (1 sel atau lebih) menjadi mahluk yang kompleks adalah sangat kecil dan seluruh sejarah manusia tidak cukup untuk merealisasikan perubahan itu. Mungkin alibi ini termasuk yang paling mungkin dari pandangan ilmiah untuk membuktikan bahwa evolusi makro itu tidak mungkin terjadi. Salah satu tokoh evolusi seperti  Jacques Monod (1910-1976) sendiri mengakui bahwa kemungkinan evolusi dari mahluk bersel satu adalah “hampir nol” dan kemungkinan terjadi hanya sekali (Jacques Monod, Chance and Necessity, NY, Alfred A. Knopf, 1971, p.114-145). Monod seorang ahli biologi, menyuarakan pendapat dalam hal biologis, namun hal ini tidak sejalan dengan kemungkinan secara matematika, yaitu bagaimana satu kemungkinan yang langka tersebut dapat terjadi, dan dapat menjadi dasar perkembangan manusia dalam kurun waktu sejarah manusia yang terbatas. Menurut statistik, hal ini tidak mungkin.
  6. Seandainya benar, maka diperlukan waktu yang sangat panjang untuk realisasi kemungkinan mutasi/ ‘kebetulan’ ini. Keterbatasan waktu sejarah manusia yang menunjukkan paling lama sekitar 10.000- 15.000 tahun tidak memberikan jawaban untuk kemungkinan teori ini. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)
  7. Ilmu pengetahuan mengakui kompleksitas mahluk hidup ber-sel satu, dan tidak dapat menjelaskan bagaimana asal usul kehidupan. Dalam hal ini tokoh evolusi menawarkan penyelesaian dengan teori ‘blind chance’, tetapi seperti Monod sendiri mengakui, hal ini masih problematik, dan lebih tepat disebut sebagai ‘teka-teki’. (Ibid., p. 143)

Kenyataan di atas sesungguhnya dapat membantu kita untuk melihat hal Evolusi tersebut secara lebih objektif. Kini, mari kita lihat pandangan Gereja mengenai hal evolusi ini, yang dapat saya rumuskan dalam beberapa point:

  1. Kita percaya bahwa jiwa manusia diciptakan secara langsung oleh Allah, dari yang tadinya tidak ada jadi ada. Jiwa ini dihembuskan kedalam embrio manusia yang terbentuk dari hubungan suami istri. Jadi jiwa manusia bukan berasal dari produk evolusi. Dalam surat ensiklik Humani Generis (1950), Paus Pius XII menolak ide evolusi total (yang menyangkut tubuh dan jiwa) manusia dari kera (primate). Dalam Humani Generis 36, Paus Pius XII mengajarkan bahwa meskipun dalam hal asal usul tubuh manusia, masih dapat diselidiki apakah terjadi dari proses evolusi, namun yang harus dipegang adalah: semua jiwa manusia adalah diciptakan langsung oleh Tuhan. Namun demikian mengenai evolusi tubuh manusia itu sendiri, masih harus diadakan penyelidikan yang cermat, dan tidak begitu saja disimpulkan bahwa manusia yang terbentuk dari ‘pre-existing matter’ tersebut sebagai sesuatu yang definitif.
    Jadi ide evolusi total ini sama sekali bukan hipotesa bagi orang katolik. Namun demikian, para ilmuwan dapat terus menyelidiki hipotesa bahwa tubuh manusia dapat diambil dari kehidupan yang sudah ada (ancestral primate), walaupun juga dengan sikap hati-hati, “great moderation and caution”. Tetapi ia harus memegang bahwa semua manusia diturunkan dari satu pasang manusia (monogenism), bukan dari banyak evolusi paralel (polygenism) seperti pada hipotesa tertentu, sebab semua manusia diturunkan dari Adam dan Hawa. Dan hal ini sesuai dengan konsep “dosa asal” yang diturunkan oleh manusia pertama.
  2. Mengenai penciptaan tubuh manusia dari materi yang sudah ada sebenarnya tidak bertentangan dengan sabda Tuhan yang menciptakan tubuh Adam dari tanah/ debu, yang kemudian dihembusi oleh kehidupan, yang menjadi jiwa manusia (Kejadian 2:7). Namun hal ini tidak bertentangan dengan penciptaan manusia seturut gambaran Allah, sebab yang dimaksudkan di sini adalah manusia sebagai mahluk rohani yang berakal dan memiliki kehendak bebas.
  3. Jadi diperbolehkan, (walau tentu harus  mempertimbangkan adakah buktinya yang meyakinkan) jika orang berpikir bahwa kemungkinan tubuh primata dapat berkembang mendekati tubuh manusia dan pada titik tertentu (di tengah jalan), Tuhan menghembusi jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu yang kemudian terus berevolusi (evolusi mikro) sampai menjadi manusia yang kita ketahui sekarang. St. Thomas Aquinas I, q.76, a.5, menyebutkan bahwa teori  yang menyebutkan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera (evolusi makro), harus kita tolak. Tubuh Adam haruslah merupakan hasil dari campur tangan Tuhan untuk mengubah materi apapun yang sudah ada (pre-existing matter) dan menjadikannya layak sebagai tubuh yang dapat menerima jiwa manusia. Campur tangan ini mungkin saja luput dari pengamatan ilmiah, seperti yang diakui sendiri oleh Monod, saat mengatakan bahwa asal usul hidup manusia adalah suatu teka-teki.
    Tidak mungkin bahwa dalam satu tubuh dapat terdapat dua macam jiwa, yang satu adalah rational (manusia) dan yang kedua, irrational (kera), sebab terdapat perbedaan yang teramat besar, yang tidak terjembatani antara jiwa kera dan jiwa manusia. Lagipula tubuh kera bersifat spesifik yang diadaptasikan dengan lingkungan hidup yang tertentu. Jadi tidak mungkin bahwa tubuh manusia merupakan hasil dari perubahan-perubahan ‘kebetulan’ dari tubuh kera.
    Kemungkinan yang lebih masuk akal adalah, jika manusia diciptakan melalui ‘pre-existing matter’ seperti dari tubuh kera sekalipun, terdapat campur tangan Tuhan untuk mengubah tubuh tersebut menjadi tubuh manusia, yang tidak merupakan kelanjutan dari tubuh kera tersebut, seperti halnya terdapat campur tangan Tuhan untuk menghembuskan jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu, yang bukan merupakan kelanjutan dari jiwa kera. Inilah yang secara ilmiah dikenal sebagai ‘lompatan genetik’, namun bedanya, ilmuwan mengatakan itu disebabkan karena kebetulan semata, sedangkan oleh Gereja dikatakan sebagai sesuatu yang disebabkan oleh campur tangan Tuhan.
    Namun demikian, karena sejauh ini, sains belum dapat membuktikan secara meyakinkan bahwa tubuh manusia berasal dari “pre-existing mater“, maka sikap Gereja  melihat masalah ini adalah dengan sikap berhati-hati (“moderation and caution“- HG 36)
  4. Cardinal Schonborn dalam artikel di New York Times tgl 7 Juli 2005 menjelaskan bahwa pengamatan pada mahluk hidup yang telah menunjukkan ciri-ciri yang final menyebabkan kita terkagum dan mengarahkan pandangan kepada Sang Pencipta.  Membicarakan bahwa alam semesta yang kompleks dan terdiri dari mahluk-mahluk yang ciri-cirinya sudah final ini, sebagai suatu hasil ‘kebetulan’, sama saja dengan ‘menyerah’ untuk menyelidiki dunia lebih lanjut. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa akibat terjadi tanpa sebab. Ini tentu saja seperti membuang pemikiran akal manusia yang selalu mencari solusi dari masalah.”
  5. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa, akal sehat manusia pasti dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan yang menyangkut asal usul manusia. Keberadaan Tuhan Pencipta dapat diketahui secara pasti melalui karya-karya ciptaan-Nya, dengan terang akal budi manusia.. KGK no 295 mengatakan, “Kita percaya bahwa Allah menciptakan dunia menurut kebijaksanaan-Nya. Dunia bukan merupakan hasil dari kebutuhan apapun juga, ataupun takdir yang buta atau kebetulan.”

Uraian di atas adalah merupakan prinsip dasar mengapa kita sebagai orang Katolik tidak dapat menerima teori Evolusi makro ala Darwin, sebab prinsip ajaran Gereja adalah manusia diciptakan bukan sebagai hasil kebetulan, tetapi karena sungguh diinginkan oleh Allah. Sedangkan mengenai evolusi mikro di dalam batas species, kita semua dapat menerimanya, sesuai dengan penjelasan di atas. Prinsipnya, jikapun ada evolusi, tidak mungkin melangkahi batas penyelenggaraan Allah. Allah-lah yang menciptakan manusia, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa manusia diciptakan dari ketiadaan, (out of nothing) dan tubuh dari materi yang sudah ada (pre-existing matter) namun Allah mempersiapkan tubuh itu agar layak menerima jiwa manusia.  Kesatuan tubuh dan jiwa manusia tersebut diciptakan sesuai dengan gambaran Allah.

Selanjutnya, hal analisa mineral dan outer space hanya merupakan metoda ilmiah, yang hasilnya juga tidak dapat menjawab misteri asal-usul kehidupan.

Jadi dalam hal ini kita melihat benang merah antara science dan iman. Di samping pertimbangan akal sehat pada hasil penelitian evolusi, pada akhirnya diperlukan kerendahan hati untuk menerima apa yang diajarkan oleh Gereja. Gereja tidak menentang science, namun juga tidak dapat menyatakan hipotesa ilmiah sebagai kebenaran, karena statusnya masih hipotesa dan belum sepenuhnya dapat dibuktikan.

Latar belakang Rasul Paulus

5

Rasul Paulus dikenal sebagai Rasul yang dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain/ non- Yahudi (lih. Rom 11:13, 15:16; Gal 1:16, Kis 26:20) dan dengan demikian menjadi jembatan antara bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa lain. Untuk tugas ini, Tuhan telah mempersiapkan Rasul Paulus sejak awal, sebab ia menerima pendidikan yang baik, baik dalam kalangan Yahudi maupun di kalangan Yunani.

Demikianlah keterangan sekilas tentang Rasul Paulus ((lih. Laur, Gebhard M Heyder a. S., Paul of Tarsus, translated by Herman Mueller, SVD, (Manila: Logos Publication, 1994), p. 7-8)):

1.  Latar belakang Yahudi

a) Kelahiran:

Rasul Paulus dilahirkan di Tarsus, sebuah kota metropolis Romawi, propinsi Kilikia (Kis 22:3). Tarsus, di sisi utara, melalui gerbang Kilikia, tergabung dengan budaya Asia Kecil; sedangkan di sisi timur melalui gerbang Syria berhubungan dengan negara-negara Asia, dan di sisi selatan dengan daerah Mediterania.

Di saat St. Stefanus dibunuh sebagai martir -kemungkinan di tahun yang sama dengan tahun Kristus wafat- Saulus dijabarkan sebagai seorang pemuda (lih. Kis 7:57). Maka disimpulkan Paulus dilahirkan setelah Kristus, di antara 3-10 AD.

Rasul Paulus dilahirkan oleh orang tua berkebangsaan Yahudi, dari suku Benyamin (Rom 11:1; Flp 3:5). Menurut St. Hieronimus, orang tua Rasul Paulus bermigrasi ke Tarsus dari Palestina, namun tetap adalah kaum Yahudi yang taat (Flp 3:5). Mereka kemungkinan adalah orang-orang yang cukup berada, sebab mereka dapat memberikan pendidikan yang baik kepada Rasul Paulus.

b) Pendidikan secara Yahudi:

Pendidikan bahasa Yahudi dipromosikan oleh Joshua ben Gamala, namun kita tidak dapat mengetahui dengan pasti, apakah Rasul Paulus menjadi murid di sekolah ini, ataukah menerima pendidikan dasar dari ayahnya, sebagaimana yang umum terjadi pada kebanyakan anak-anak Yahudi. Pendidikan lanjutan (semacam SMP) telah ada di tengah-tengah kaum Yahudi, sejak tahun 75 BC, yang didirikan oleh Simon ben Shetah. St. Paulus menerima pendidikan yang lebih tinggi yang ada di kalangan Yahudi sejak zaman Nabi Ezra, sejak tahun 450 BC. Karena menerima pendidikan tinggi ini, dikatakan dalam Kisah para Rasul bahwa Rasul Paulus dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel  (lih. Kis 22:3).

2. Latar belakang pendidikan secara Yunani:

Kita tak dapat mengetahui dengan pasti apakah Paulus pernah menempuh pendidikan Yunani secara formal di sekolah Yunani, ataukah ia mempelajari bahasa Yunani melalui kehidupan di tengah-tengah bangsa Yunani.

Dari beberapa kutipan sastra Yunani dalam Kisah Para Rasul tentang Areopagus di Athena, menunjukkan kutipan-kutipan yang sering digunakan dalam masyarakat. “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan kita ada” (Kis 17:28) berasal dari perkataan Epimedes dari Kreta (550-449 BC), atau kelanjutannya: “Sebab kita semua adalah keturunan Allah juga.” (Kis 17:28), adalah dari Aratus (310-240 BC) atau Cleanthes (320-230 BC). Oleh karena itu pakar teologi, Fernand Prat SJ, berpendapat bahwa bahasa Yunani Rasul Paulus diperolehnya bukan dari sekolah, namun dari permbicaraan sehari-hari.

Namun jika kita melihat gaya penulisan Yunani dalam surat-suratnya sebagai yang tulisan yang terindah dalam kitab Perjanjian Baru, yang juga memasukkan ekspresi-ekspresi yang jarang digunakan, maka kita cenderung percaya bahwa Rasul Paulus telah menerima pendidikan bahasa Yunani secara formal. Pandangan ini dipegang oleh Frederick William Farrar.

3. Panggilan rahmat

Namun di atas panggilannya sebagai jembatan kaum Yahudi dan Yunani, pertama-tama Rasul Paulus menerima bahwa ia dipanggil secara khusus oleh Tuhan dan memperoleh rahmat-Nya dalam keadaan yang tidak layak. Panggilan Tuhan Yesus atasnya terjadi dalam perjalanannya ke Damaskus (Damsyik). Sebelum ke Damaskus, ia memberikan diri sepenuhnya kepada hukum Taurat, dan setelah peristiwa Damaskus, ia memberikan sepenuhnya kepada Kristus. Lukas melaporkan hal ini sebanyak tiga kali (Kis 9:1-9, 22:6-16, 26:12-18).

Rasul Paulus dapat menerapkan perkataan Allah kepada Nabi Yeremia di dalam kehidupannya sendiri, “Sebelum Aku membentuk engkau di rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, sebelum engkau dilahirkan Aku telah menentukan engkau, sebagai nabi bagi bangsa- bangsa yang Kutunjukkan kepadamu.” (Yer 1:5). Apa yang dulu ia pikir berharga, kemudian ia anggap rugi (lih. Flp 3:7-8) jika dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus.

Fr. Fernand Prat SJ menuliskan empat acuan ayat yang sangat penting, agar kita dapat memahami keotentikan pengalaman Rasul Paulus pada saat pertobatannya, yaitu justru karena sebelumnya ia adalah seorang Yahudi yang sangat taat dan yang karena ketaatannya itu ia menganiaya jemaat Allah, sebab ia berpikir bahwa dengan melakukannya ia berbuat sesuatu yang benar menurut hukum taurat: “Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” (Gal 1:13-14)…. “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1Kor 15:9)…”…aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” (1 Tim 1:13) …”tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” (Flp 3:5-6).

Seseorang yang sedemikianlah yang kemudian dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menjadi Rasul-Nya, dan sungguh rahmat Tuhan-lah yang mengubahnya menjadi seorang Rasul yang luar biasa, yang kita kenal dengan nama Rasul Paulus. Kasih Tuhan Yesus mengubah seluruh hidup Rasul Paulus, dan karena pengalaman dikasihi oleh Tuhan ini, Rasul Paulus dapat mengatakan ungkapan yang indah ini, yang juga dapat menjadi ungkapan hati kita semua yang mengimani Kristus: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20)

Menerima mahkota di Sorga

Tradisi Gereja mencatat kematian Rasul Paulus di sekitar tahun 64-67, sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Gereja, Eusebius. Eusebius mencatat kematian Rasul Petrus dan Paulus di bawah penganiayaan Kaisar Nero. Rasul Petrus wafat dengan disalib terbalik sedangkan Rasul Paulus dengan dipenggal kepalanya (lih. Eusebius, History of the Church, Book II, ch. 25).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab