Home Blog Page 142

APP : Aksi Paskah Pembangunan

0

APP tidak hanya berarti AKSI PUASA PEMBANGUNAN tetapi seharusnya juga berarti AKSI PASKAH PEMBANGUNAN. Menurut pengalaman Gereja di Indonesia, APP sebagai aksi puasa pembangunan merupakan suatu gerakan yang melibatkan seluruh umat Katolik selama masa Prapaskah untuk mewujudkan secara nyata puasa, pantang, derma dalam berbagai bentuk kegiatan yang membangun masyarakat, yang secara nyata membawa dampak untuk kesejahteraan banyak orang. Hal ini merupakan suatu gerakan yang mempunyai makna sosial dan liturgis. Misalnya kerja bersama-sama untuk membersihkan lingkungan sekitar yang kotor, bersama-sama membangun rumah keluarga yang miskin, beramai-ramai mengunjungi dan menghibur para narapidana atau orang sakit. Kebersamaan ini tentu menguatkan satu sama lain tetapi lebih dari itu ada nilai liturgisnya. Bersama-sama kita menyatakan tobat dan pembaruan diri tidak hanya dalam perayaan-perayaan liturgis tetapi juga dalam karya nyata. Sangat bagus kalau kegiatan ini dilaksanakan selama masa Prapaskah apalagi bila dibarengi dengan pendalaman hidup rohani termasuk menguatkan dan memurnikan motivasi serta niat hati yang tulus dan jujur lewat pembinaan dan katekese.

Sebagai kegiatan selama masa Prapaskah sebenarnya harus dipahami sebagai “persiapan” untuk perayaan Paskah yang adalah puncak dan pusat perayaan tahunan. Gerakan APP yang rapih dan penuh semangat ini seharusnya tidak berhenti pada hari-hari menjelang Tri-hari Suci. Tetapi seharusnya diteruskan bahkan mesti mencapai puncaknya pada masa Paskah, selama 50 hari, tentu dengan suatu spiritualitas yang cocok untuk masa khusus dari Paskah yaitu kegembiraan dan kemuliaan kebangkitan dalam Tuhan Yesus Kristus. Maka hendaknya dipilih dan dijalankan kegiatan-kegiatan sosial-liturgis yang mengungkapkan kegembiraan dan kemuliaan kebangkitan itu. Dalam membuat program kegiatan liturgi tahunan, sangatlah tepat dan adil bila diberi prioritas pada aksi nyata yang bersifat sosial-liturgis selama masa Paskah ini. Dengan demikian APP seharusnya pertama-tama adalah AKSI PASKAH PEMBANGUNAN yang disiapkan selama 40 hari dengan aksi puasa pembangunan.

Mungkin selama ini ada banyak kegiatan sosial-liturgis yang amat bermanfaat untuk menghayati makna dari Paskah selama 50 hari, namun dilaksanakan dalam kelompok atau secara pribadi tanpa suatu tema dengan orientasi bersama yang jelas. Perumusan tema dan program konkrit untuk menjabarkan tema tertentu selama masa Paskah akan sangat bermanfaat menyatukan segala daya dalam diri umat beriman untuk secara pribadi dan bersama menghayati arti dari misteri Paskah sebagai kemenangan atas dosa dan maut. Bila ada program yang jelas dengan kegiatan yang nyata maka umat akan sangat terbantu untuk merasakan pentingnya masa Paskah sebagai puncak dan pusat masa tahun liturgi.

Dalam hal devosi ternyata selama masa Prapaskah kita sangat ditolong untuk menghormati Yesus yang rela menderita dan mati untuk kita dengan merenungkan peristiwa-peristiwa jalan salib. Dan selama masa Paskah apakah ada kegiatan devosional yang khas untuk membantu kita menghargai dan menghormati Yesus Kristus yang bangkit mulia? Menyadari hal ini, ada upaya untuk memperkenalkan dan memajukan devosi yang disebut “Jalan Kemuliaan” dan “devosi kerahiman”. Devosi-devosi seperti ini hendaknya menggerakkan umat beriman untuk mewujudkan maknanya secara bersama-sama dalam hidup dan pelayanan. Demi menghidupi peristiwa-peristiwa kemuliaan dapat dipilih peristiwa yang mungkin amat relevan atau sangat mendekati kenyataan hidup di tingkat paroki atau umat basis untuk diwujudnyatakan secara khusus.

Berkaitan dengan devosi “Jalan Kemuliaan” ada komunitas dan paroki yang telah menjalankannya dengan penuh semangat. Pengaruhnya terhadap pembentukan semangat hidup “paskah” dapat dirasakan tidak hanya oleh pribadi-pribadi yang menjalankannya, tetapi juga oleh orang-orang lain yang mengalami kebaikan karena perubahan sikap hidup para devosan itu. Peristiwa-peristiwa yang direnungkan dalam berbagai bentuk dan mau dihayati dalam berbagai cara antara lain: 1. Yesus Bangkit: Kubur Kosong; 2. Yesus Menampakkan Diri Kepada Maria Magdalena; 3. Yesus Menampakkan Diri Kepada Dua Murid Di Jalan Ke Emaus; 4 Yesus Menampakkan Diri Kepada Simon Petrus; 5. Yesus Menampakkan Diri Kepada Sepuluh Murid Tanpa Thomas; 6. Yesus Mencurahkan Roh Kudus Kepada Para Rasul; 7. Yesus Menampakkan Diri Kepada Thomas; 8. Yesus Menampakkan Diri Kepada Petrus Dan Keenam Rekannya; 9. Yesus Menampakkan Diri Kepada 500 Orang Saudara; 10. Yesus Mengutus Murid-Murid Ke Seluruh Dunia; 11. Yesus Menampakkan Diri Kepada Paulus; 12. Yesus Naik Ke Surga; 13. Yesus Di Sisi Kanan Bapa Dan Hidup Selama-lamanya; 14. Roh Kudus Turun Atas Para Rasul.

Peristiwa-peristiwa kebangkitan ini memang amat berarti dalam hidup persekutuan. Gerakan bersama untuk merenungkan atau mendalami maknanya lalu mewujudkannya secara konkrit akan membarui lingkungan tanpa kenal batas-batas. Ada banyak upaya untuk semakin menghayati makna kebangkitan dalam hidup: menyadari kekosongan hidup sementara di bumi ini; memperhatikan secara ikhlas orang yang ada di sekitar kita; mendengarkan kata-kata-nasihat, usul-saran yang baik demi kemajuan hidup rohani-jasmani bersama, berkumpul bersama untuk menepis ketakutan dan membangun keberanian dan ketabahan; rela meminta ampun dan mau memberi ampun kepada sesama yang bersalah, menguatkan iman dan mengakuinya dengan berani; peka menyadari kehadiran Tuhan yang bangkit dalam hidup harian yang biasa, dalam situasi yang sulit, dalam himpunan orang banyak; bersedia melaksanakan tugas perutusan kapan dan di mana saja; berani mengubah haluan yang salah dan mengikuti yang benar; peka dan mengapresiasi hal-hal yang agung, mulia dan surgawi; berani menanggung risiko mengikuti dorongan Roh Kudus.

Dapat direncanakan tindakan nyata bersama yang membawa kegembiraan dan kebangkitan hidup bagi banyak orang antara lain olah raga bersama, bazar, wisata dan ziarah, kunjungan persaudaraan kepada saudara-saudara yang beriman lain, hiburan dan peneguhan bagi saudara-saudara di panti asuhan, di penjara dan pusat-pusat rehabilitasi.

Pimpinan Gereja (KWI atau Uskup Setempat) dapat membantu seluruh umat dengan menentukan tema khusus atau dalam kesatuan dengan tema Aksi Puasa Pembangunan sambil menggarisbawahi semangat hidup sebagai orang yang telah bangkit dan mengambil bagian dalam kegembiraan dan kemuliaan Paskah. Pesan Paskah atau Surat Gembala Paskah bisa menjadi salah satu bentuk acuan umat beriman dalam merencanakan dan melaksanakan aksi bersama sebagai umat yang bangkit dan mau membangkitkan orang lain. Dengan demikian kita berharap Paskah dan masa 50 hari kebangkitan sungguh-sungguh menjadi hari-hari puncak dalam seluruh perjalanan dan penghayatan Tahun Liturgi. Semoga APP tidak hanya berarti Aksi Puasa Pembangunan tetapi pertama-tama berarti Aksi Paskah Pembangunan yang membantu menghayati arti Paskah dan menggerakkan umat beriman untuk membarui lingkungan hidup alam dan sosial.

P.Bernardus Boli Ujaan, SVD

Menyalakan Kembali Semangat Pembaruan Diri Di Hari Rabu Abu

2

Rabu Abu adalah awal dari masa Prapaskah. Perayaan hari ini dilaksanakan dengan unsur-unsur khusus yang memberi arti pada masa Prapaskah. Berdasarkan namanya, hari ini merupakan hari perayaan dengan ritus pemberkatan abu dan pengolesannya pada kepala umat beriman. Pada hari awal masa Prapaskah ini, dapat dimulai kegiatan perayaan menurut pola “stasi-stasi” yaitu perayaan yang berpindah-pindah dari satu paroki/stasi ke paroki/stasi yang lain. Paling baik dilaksanakan di bawah pimpinan Uskup kalau memungkinkan, pada hari Minggu atau hari lain yang cocok. Hari Rabu Abu adalah salah satu hari yang cocok. “Sangat dianjurkan agar kebiasaan menghimpun umat setempat seturut pola “stasi-stasi” di Roma dilestarikan dan ditingkatkan terutama pada masa Prapaskah. Hal ini hendaknya dilakukan sekurang-kurangnya di kota-kota besar. Caranya disesuaikan dengan situasi khas setempat. Perhimpunan umat beriman seperti ini, terutama kalau dipimpin uskup setempat, dapat dirayakan pada hari Minggu atau hari lain yang lebih cocok” (Lihat pedoman tentang Hari Rabu Abu dalam Missale Romanum 2002, hal).

Ketika pola “stasi-stasi” dilaksanakan di Roma selama masa Prapaskah, nampak jelas semangat menyiapkan sungguh-sungguh perayaan Paskah Tahunan dengan membarui diri. Hal ini dilaksanakan sebagai suatu gerakan bersama-sama di bawah pimpinan Uskup Roma (Paus). Gerakan bersama itu secara kasat mata kelihatan dalam: datang bersama, berkumpul bersama di satu tempat, berdoa dan berarak bersama sambil menyanyi menuju tempat utama perayaan. Misalnya mereka berkumpul di gereja Santa Anastasia dan berarak menuju basilika Santa Sabina di bukit Aventino. Umat beriman mengambil bagian dalam gerakan bersama ini bukan dengan tujuan utama membuat manifestasi sosial-politik seraya memperdengarkan orasi-orasi dengan macam-macam tuntutan perubahan dan pembaruan pada pihak lain (pemegang kekuasaan, para bangsawan, raja dan kaisar), tetapi lewat gerakan bersama ini mereka mau menunjukkan itikad baik untuk membarui diri bersama-sama di bawah pimpinan Uskup.

Pembaruan hidup yang dimulai dari diri sendiri dalam kebersamaan sebagai satu gerakan, tidak berlangsung sejenak dalam hitungan menit atau jam secara instan selama perayaan ini berlangsung, tetapi terjadi dalam suatu proses yang menuntut kesabaran dan ketekunan, langkah demi langkah seperti nyata dalam perarakan bersama menuju tempat utama perayaan. Inilah sebuah ziarah hidup yang sungguh mempersiapkan pertemuan dengan Tuhan dalam perayaan Paskah, baik di bumi ini maupun di sorga nanti. Persiapan dalam bentuk proses pembaruan diri dan komunitas meliputi tiga kelompok: persiapan para katekumen yang akan dibaptis pada Sabtu Paskah malam, persiapan para peniten yang bertobat dan akan diterima lalu disatukan kembali dengan Gereja dalam perayaan hari Kamis Putih, dan persiapan seluruh umat beriman untuk mengambil bagian secara penuh dalam perayaan Paskah dengan membarui janji baptisnya. Persiapan intensif dimulai pada hari Rabu Abu ini. Suatu awal yang baik akan berpengaruh besar dalam mengambil langkah-langkah selanjutnya selama masa prapaskah. Langkah awal liturgis ini betapapun baiknya akan menjadi suatu kegiatan ritual saja bila tidak diteruskan dalam tindak nyata pembaruan diri.

Tindak nyata selama masa persiapan ini ditunjukkan lewat puasa, doa, membaca-merenungkan Sabda Tuhan dan amal-bakti selama empat puluh hari. Angka empat yang disusul nol (satu atau lebih nol) untuk hitungan hari atau tahun, dipakai dalam KS sebagai simbol dari masa sulit penuh tantangan dan cobaan berat yang harus dilewati sebagai persiapan untuk suatu tugas perutusan atau peristiwa yang penting dan menyelamatkan. Misalnya 40 hari bencana air bah yang menghanyutkan dan membinasakan sebelum muncul hidup baru (Kej. 7:4.12.17), 40 hari penyucian Musa dan Elia sebelum mereka bertemu dengan Tuhan (Kel. 24:18;34:28; Ul. 9:9.11.18; 10:10; 1 Raj. 19:8), 40 hari Yesus hidup di padang gurun sambil berpuasa dan dicobai oleh setan sebelum Ia berkeliling membawa berita gembira yang menyelamatkan (Mt. 4:2; Mk. 1:13; Lk. 4:2), 40 tahun masa pengembaraan penuh tantangan dialami oleh bani Israel yang keluar dari Mesir sebelum masuk ke dalam Tanah Terjanji (Bil. 14:33; 32:13; Ul. 8:2; Yos. 5:6), selama 40 tahun bani Israel diserahkan Tuhan kepada orang Filistin sebelum muncul seorang pembebas (Hak. 13:1), dan 400 tahun masa hidup bani Israel di Mesir dalam suasana perhambaan penuh kerja paksa sebelum mereka dibebaskan Tuhan untuk keluar menuju Tanah Terjanji (Kej. 15:13; Kis. 7:6).

Jadi ada banyak tantangan untuk menjalani masa Prapaskah ini dengan manfaat yang besar. Selalu ada cobaan-cobaan untuk tidak melakukan dengan serius atau bahkan mengabaikan sama sekali puasa, doa, baca-renungkan Sabda Tuhan dan amal bakti selama masa persiapan ini. Namun Gereja mengingatkan umat beriman sejak awal masa ini agar melaksanakan dengan sungguh-sungguh tindak nyata dari persiapan ini. Menyadari kekurangan dan kelemahan dalam hal ini, sejak awal dan selama ziarah-perarakan ini Gereja memohon bantuan doa dan pengantaraan para kudus di sorga. Selama ziarah hidupnya di dunia mereka telah berusaha sedapat mungkin mengatasi kelemahan-kelemahannya dan tabah menghadapi cobaan-cobaan dengan taat pada Firman Tuhan, dengan doa dan puasa serta amal-bakti yang tulus. Bila litani para kudus dinyanyikan dalam perarakan menuju tempat perayaan, hendaknya disadari perjuangan para kudus serta contoh hidup dan doa mereka bagi kita yang masih berada dalam ziarah hidup di dunia ini.

Mengacu pada pola “stasi-stasi” yang disesuaikan seperlunya dengan situasi setempat, pada hari Rabu Abu ini umat beriman dapat berkumpul di salah satu tempat ibadat di luar gereja stasi/paroki tempat utama perayaan, misalnya di dekat makam orang kudus, di tempat ziarah, di salah satu gereja stasi atau paroki lalu dibuat doa dengan urutan sbb:

Pertama-tama imam memberi salam kepada umat, lalu mengucapkan doa pembuka yang intinya berkisar pada misteri Salib Suci, atau mohon pengampunan dosa, atau doa untuk Gereja, khususnya untuk keuskupan yang bersangkutan; dapat juga dipanjatkan salah satu dari doa untuk umat atau oratio super populum (lihat TPE Imam, hlm. 267-280).

Kemudian diatur dan dilaksanakan perarakan menuju gereja, tempat misa akan dirayakan. Selama perarakan dilagukan Litani Orang Kudus. Pada tempat yang cocok dalam litani itu dapat disisipkan seruan-seruan kepada santo pelindung atau pendiri gereja dan orang-orang kudus dari keuskupan yang bersangkutan.

Ketika perarakan sampai di dalam gereja utama, imam menghormati altar dan, kalau dianggap baik, mendupainya. Dengan melewatkan bagian-bagian lain Ritus Pembuka, dan kalau perlu, Kyrie, imam langsung mengucapkan doa pembuka. Kemudian dipanjatkan doa pemberkatan abu dan pengolesannya pada dahi umat.

Rumusan doa pemberkatan abu dan seruan yang menyertai pengolesan abu pada kepala (Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Atau: Ingatlah, engkau ini abu dan akan kembali menjadi abu) menjelaskan arti dari tindakan ritual itu: tanda penyesalan atas dosa, tobat dan kerendahan hati, mengaku diri berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.
Antifon yang mengiringi pengolesan abu berbunyi:

Marilah kita mengenakan karung dan menaburi kepala dengan abu.
Marilah kita berpuasa dan meratap di hadapan Tuhan,
karena Allah kita penuh belas-kasihan;
Ia akan mengampuni dosa-dosa kita.

Mengenakan karung dan menaburi kepala dengan abu merupakan tanda yang sangat jelas dari kesungguhan dan kerendahan hati untuk bertobat, menyesal, mohon ampun dan mau membarui diri secara radikal. Kesungguhan hati dalam hal ini membuat orangnya terbuka terhadap rahmat keselamatan dari Tuhan yang mengetahui baik sekali hati orang dan dapat membedakan dengan teliti hal lahiriah dan hal batiniah. Meskipun dalam upacara Rabu Abu tidak dibagikan karung untuk dikenakan tetapi upacara pengolesan abu dipertahankan.

Awalnya pengolesan abu pada hari ini dibuat khusus untuk para peniten yang telah melakukan dosa berat secara publik sebagai tanda dimulainya masa menjalankan penitensi selama hari-hari Prapaskah agar dapat diterima kembali pada hari Kamis Putih. Ketika praktek penitensi publik menghilang, pemberian abu pada hari ini dibuat untuk semua orang beriman yang mengambil bagian dalam perayaan. Hal ini diresmikan oleh Paus Urbanus II pada akhir abad XI. Dengan demikian semua orang beriman hendaknya menyadari diri sebagai orang berdosa (1 Yoh 1:8) dan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penitensi selama masa Prapaskah. Ada kebiasaan untuk mengoles abu yang basah pada dahi sehingga meninggalkan bekas selama mungkin pada hari ini untuk mengingatkan orang beriman agar sungguh-sungguh menjalankan tobat sebagai persiapan perayaan Paskah.

Bernardus Boli Ujan, SVD

Dimuat dalam LITURGI, Vol. 20, no. 1, Jan-Feb 2009, hlm. 39-41.

Janur pada Minggu Palma?

0

Sebentar lagi, kita akan merayakan hari Minggu Palma. Menurut kebiasaan liturgis, pada hari ini disiapkan daun palma untuk diberkati dan digunakan oleh umat dalam perarakan menuju gereja untuk merayakan Ekaristi. Daun palma yang dipegang umat itu dapat dilambai-lambaikan sambil menyanyikan lagu-lagu yang mengenangkan sorak-sorai khalayak ramai menyambut kedatangan Yesus di atas seekor keledai hendak memasuki kota Yerusalem sebagai raja damai. Apakah daun palma adalah satu satunya yang dapat digunakan untuk ritus pemberkatan dan perarakan? Apakah bisa digunakan daun selain palma, misalnya janur, atau ranting-ranting pohon lain?

Sebenarnya dalam Kitab-Kitab Injil terdapat variasi cerita tentang Yesus dielu-elukan oleh para murid atau orang banyak ketika masuk kota Yerusalem. Variasi itu nampak antara lain dalam bahan yang digunakan orang banyak untuk mengelu-elukan Yesus. Coba kita perhatikan:

Mt 21:8 “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan”.

Mrk 11:8 “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang”.

Injil Matius dan Markus menceriterakan bahwa orang banyak itu menghamparkan pakaiannya di jalan. Tetapi Matius dan Markus tidak menceritakan bahwa orang banyak itu memegang daun palma. Yang menarik juga adalah bahwa ranting-ranting pohon itu disebarkan di jalan, bukan dipegang dan dilambaikan.

Luk 19:36 “Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu mereka menghamparkan pakaiannya di jalan”. Lukas tidak menceriterakan bahwa para murid Yesus yang mengiringi-Nya menyebarkan ranting-ranting hijau dan memegang daun palma.

Satu-satunya Injil yang menyebut pemakaian daun palma adalah Yohanes 12:13 “Mereka (orang banyak) mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yohanes tidak menceritakan bahwa orang banyak itu menyebarkan ranting-ranting pohon atau menghamparkan pakaiannya di jalan.

Jadi nama Hari Minggu Palma dan tradisi upacara pemberkatan serta perarakan dengan daun palma sebenarnya berdasarkan cerita dari Injil Yohanes. Arti dari daun palma itu menjadi jelas dari konteks ceritanya, yaitu peristiwa Yesus dielu-elukan, disoraki, disalami sebagai raja, yang datang dalam nama Tuhan untuk membawa damai. Maka daun palma yang dilambai-lambaikan merupakan tanda pujian dan kemuliaan, kemenangan dan damai. Arti simbolis yang sama dari daun palma ini dapat kita temukan dalam Kitab Wahyu: “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why 7:9-10).

Menurut catatan Egeria mengenai liturgi di Yerusalem sekitar abad ke-empat, sudah ada perarakan dengan ranting palma dan zaitun pada Hari Minggu Palma untuk mengenangkan peristiwa Yesus dielu-elukan ketika memasuki kota Yerusalem. Biasanya pada sore Hari Minggu itu umat berkumpul di bukit zaitun dan sekitar jam 5 sore di atas bukit itu mereka mendengarkan pemakluman Injil mengenai masuknya Yesus secara mulia ke kota Yerusalem. Setelah itu mereka berarak menuju pusat kota Yerusalem. Anak-anak juga turut serta dalam perarakan sambil membawa ranting palma dan zaitun. Kemudian cara perayaan seperti ini mulai dibuat juga di Spanyol (abad ke-lima), di Gallia (abad ke-tujuh) dan di Roma (abad ke-sebelas). Berdasarkan tradisi ini, dapatlah dimengerti mengapa sebaiknya daun palma dipakai meskipun bukanlah satu-satunya yang diberkati dan digunakan dalam perarakan. Dapat pula dipakai ranting zaitun atau ranting hijau lain (terutama kalau di wilayah bersangkutan tidak ada tumbuhan palma) dan boleh juga janur, bila ada kemiripan makna simbolisnya.
Khusus mengenai pemakaian janur, yang biasanya dibuat dari daun kelapa (sebangsa palma) menandakan pesta atau hari raya. Hiasan seperti ini digantungkan pada pintu (gerbang) dan dapat dipakai sebagai hiasan pada pagar sepanjang jalan menuju tempat pesta dan di tempat pesta itu sendiri. Dapat pula janur dipakai sebagai hiasan oleh para penari pembawa persembahan. Bahkan ada keranjang janur berupa wadah untuk bahan sesajen.

Nah, janur mana yang hendak dipakai pada perayaan Minggu Palma? Apakah digunakan oleh umat atau oleh penari? Ataukah dipakai lebih sebagai hiasan di jalan menuju tempat perayaan dan di dalam ruang ibadat itu sendiri? Sebagai hiasan di jalan mungkin serasi dengan makna penggunaan daun palma. Sebagi hiasan di jalan atau sarana yang dipegang oleh umat (dan dipakai oleh penari), janur dapat memperlihatkan kegembiraan dan sorak-sorai menyambut kedatangan Yesus sang Raja Damai ke tengah umat-Nya. Namun sebagai hiasan di dalam gereja perlu dipertimbangkan baik-baik, karena janur yang terbuat dari daun kelapa muda berwarna kuning terang (nur) dengan nuansa meriah dapat mengurangkan arti kenangan akan penderitaan Yesus yang dimaklumkan dalam Kisah Sengsara dan dirayakan dalam Ekaristi Minggu Palma. Rasanya jauh lebih cocok bila janur sebagai hiasan dalam gereja dipakai pada malam Paskah terutama sekeliling lilin Paskah sehingga memperkuat makna lilin Paskah sebagai Terang Kristus yang menghalau kegelapan dosa dan maut. Pada kesempatan istimewa ini janur menjadi simbol terang, kemuliaan, dan kemenangan.

P. Bernardus Boli Ujan, SVD

Dimuat dalam majalah LITURGI, Januari-Februari 2006.

Panas Api Cinta

7

Di gerbang gereja, beberapa orang terlihat sedang menawarkan sebuah buku. Aku menolak buku tersebut saat seseorang menawariku, takut disuruh bayar seperti pengalaman serupa waktu dulu pertama kali ke gereja. Setelah duduk dalam deretan bangku dan selesai berdoa, baru aku tahu kalau buku itu gratis. Dengan sedikit rasa sesal di hati, aku berpikir seharusnya aku mengambil saat ditawari.

Sempat tergelitik dalam benak bahwa betapa aku ternyata masih bermental gratis. Lebih mudah dan enak jika menerima pemberian yang gratis. Masih manusiawi, sih. Namun, ternyata Tuhan memaksaku berpikir lebih jauh. Bila aku ingin mendapat sesuatu secara “gratis”, apakah sikapku pada Tuhan juga demikian? Bila pengorbanan dan penderitaan adalah jalan yang Tuhan inginkan dari murid-Nya, apakah aku sudah siap melepas mental “gratis”?

“Banyak orang rela mengalami penderitaan asalkan tidak direpotkan oleh penderitaan itu” – St. Francis de Sales

Ternyata, saya belum siap. St. Fransiskus dari Sales menyindirku dengan telak. Aku ingin terlihat heroik seperti para kudus, namun menolak untuk menyelami penderitaan. Dalam hati, aku berharap bisa seperti para martir. Namun, untuk berkorban bagi keluarga atau sesama yang membutuhkan saja aku masih mengeluh.

Aku menemukan diriku sendiri masih berada dalam pola pikir “gratis”. Konsep penderitaan dalam diriku masih hanya teori. Aku ingin intim dengan Tuhan tapi menolak berdoa secara disiplin karena merepotkan. Aku ingin pertolongan Tuhan datang saat aku butuh, namun sering menghindar ketika orang lain merepotkanku. Aku mencari pengorbanan yang tidak merepotkan.

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat 16:24)

Yesus ingin aku menjadi murid-Nya. Konsekuensinya adalah dengan memanggul salibku setiap hari. Bila aku menyatakan diriku beriman akan Kristus, imanku akan hidup hanya bila aku memiliki cinta kasih. Cintaku padaNya menjadi nyata hanya bila aku mau berkorban. Pengorbanan yang paling mudah adalah melalui orang-orang di dekatku.

Aku harus belajar bahwa memintal gulali membutuhkan api. Tidak mungkin gulaliku terbentuk bila aku menolak panasnya api. Aku butuh api Roh Kudus untuk membakarku dengan cinta-Nya. Memang api cinta panas dan menyakitkan. Supaya gulaliku untukNya bisa terbentuk, aku harus mulai belajar menanggung panas api cinta.

Prinsip Dasar Ajaran Gereja Katolik mengenai relasi antara Negara dan Gereja

2

Hubungan antara Negara dan Gereja/Agama (Kristen Katolik) dirumuskan dalam salah satu dokumen hasil sidang akbar (konsili) para uskup sedunia yang dipimpin paus di Vatikan tahun 1962-1965. Konsili ini disebut Konsili Vatikan ke-II. Adapun dokumen yang di dalamnya dirumuskan hubungan Negara dan Gereja itu berjudul “Gaudium et Spes” (“Kegembiraan dan Harapan”). Dokumen ini sering disingkat dengan GS. Dokumen ini merupakan konsistusi (ajaran resmi) yang bersifat pastoral mengenai Gereja dalam dunia dewasa ini. Dokumen ini disahkan oleh bapa suci Paus Paulus VI pada tanggal 7 Desember 1965. Secara khusus, hubungan antara Negara dan Gereja dirumuskan dalam GS artikel nomer 76 (judul “Negara dan Gereja”). Isi lengkapnya sbb:

Terutama dalam masyarakat yang bersifat majemuk, sangat pentinglah bahwa orang-orang mempunyai pandangan yang tepat tentang hubungan antara negara dan Gereja, dan bahwa ada pembedaan yang jelas antara apa yang dijalankan oleh umat Kristen, entah sebagai perorangan entah secara kolektif, atas nama mereka sendiri selaku warganegara di bawah bimbingan suara hati Kristiani, dan di pihak lain apa yang mereka jalankan atas nama Gereja bersama para gembala mereka. Berdasarkan tugas maupun wewenangnya Gereja sama sekali tidak dapat dicampuradukkan dengan negara, dan tidak terikat pada sitem politik manapun juga. Sekaligus Gereja itu menjadi tanda dalam perlindungan transendesi pribadi manusia.

Di bidang masing-masing Negara dan Gereja bersifat otonom tidak saling tergantung. Tetapi keduanya, kendati atas dasar yang berbeda, melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama. Pelaksanaan itu akan semakin efektif dijalankan oleh keduanya demi kesejahteraan umum, jika semakin baik keduanya menjalin kerja sama yang sehat, dengan mengindahkan situasi setempat dan sesama. Sebab manusia tidak terkungkung dalam tata duniawi melulu, melainkan sementara mengarungi sejarah manusiawi ia sepenuhnya mengabdi kepada panggilannya untuk kehidupan kekal. Gereja, yang bertumpu pada cinta kasih Sang Penebus, menyumbangkan bantuannya, supaya di dalam kawasan bangsa sendiri dan antara bangsa-bangsa makin meluaslah keadilan dan cinta kasih. Dengan mewartakan kebenaran Injil, dan dengan menyinari semua bidang manusiawi melalui ajaran-Nya dan melalui kesaksian umat Kristen, Gereja juga menghormati dan mengembangkan kebebasan serta tanggung jawab politik para warganegara.

Para Rasul dan para pengganti mereka beserta rekan-rekan sekerja mereka diutus untuk mewartakan Kristus Penebus dunia kepada masyarakat. Dalam menjalankan kerasulan mereka mengandalkan kekuasaan Allah, yang sering sekali justru dalam kelemahan para saksi menampilkan kekuatan Injil. Sebab barang siapa membaktikan diri kepada pelayan sabda Allah, harus menggunakan cara-cara serta bantuan-bantuan yang khas bagi Injil, yang dalam banyak hal berlainan dengan sumber-sumber daya masyarakat duniawi.

Hal-hal duniawi dan perkara-perkara, yang dalam kondisi hidup manusia melampaui dunia ini, berhubungan erat sekali; dan Gereja memanfaatkan hal-hal duniawi sejauh dibutuhkan oleh perutusannya. Tetapi Gereja tidak menaruh harapannya atas hak-hak istimewa yang ditawarkan oleh pemerintah. Bahkan akan melepaskan penggunaan hak-hak tertentu yang diperolehnya secara sah, bila karena penggunaan ketulusan kesaksiaannya ternyata disangsikan, atau bila kondisi-kondisi kehidupan yang baru memerlukan pengaturan yang baru. Tetapi selalu dan di mana-mana hendaknya ia diperbolehkan dengan kebebasan yang sejati mewartakan iman, menyampaikan ajaran sosialnya, menunaikan tugasnya dalam masyarakat tanpa di halang-halangi, dan menyampaikan penilaian morilnya, juga tentang hal-hal yang menyangkut tata politik, bila itu di tuntut oleh hak-hak asasi manusia atau oleh keselamatan jiwa-jiwa, dengan menggunakan semua dan hanya bantuan-bantuan yang sesuai dengan Injil serta kesejahteraan-kesejahteraan semua orang, menanggapi zaman maupun situasi yang berbeda-beda.

Sementara Gereja dengan setia berpaut pada Injil, dan menunaikan perutusannya di dunia, Gereja, yang dipanggil untuk memelihara serta memupuk apapun yang serba besar, baik dan indah dalam masyarakat manusia, memantapkan perdamaian diantara manusia demi kemuliaan Allah.”

Kesimpulan: Menurut ajaran resmi Gereja Katolik, Negara memiliki otonomi, Gereja juga memiliki otonomi. Keduanya berbeda, punya ciri khas masing-masing, saling menghormati wilayah kewenangan masing-masing, namun keduanya bisa dan seharusnya bekerja sama melayani masyarakat manusia demi kesejahteraan masyarakat manusia itu.

Begitulah ajaran resmi Gereja Katolik mengenai relasi antara Negara dan Gereja/Agama Katolik.

Sekolah kehidupan yang bernama “Perkawinan”

1

familyKalau pepatah mengatakan bahwa hidup adalah sekolah, di mana di dalamnya kita berkesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lewat berbagai peristiwa sehari-hari, maka perkawinan bisa jadi adalah salah satu mata pelajaran yang paling sukar dan menantang. SKSnya banyak dan menentukan, sehingga perlu ketekunan dan keseriusan yang tinggi dalam menjalaninya. Bagaimana tidak, dapat kita bayangkan tidak mudahnya dua orang yang berbeda dalam banyak hal, sepakat untuk hidup dan berbagi bersama dengan kesetiaan penuh, sampai usia lanjut, dan di tengah segala tantangan hidup, hingga maut memisahkan. Maka itu ujian-ujiannya sering,  dan kadang berat serta melelahkan. Tetapi kabar baiknya adalah jika kita gagal dalam ujian, seringkali masih ada kesempatan kedua dan seterusnya untuk memperbaiki dan terus memperbaiki, asal ada kemauan.  Selain itu, PR (pekerjaan rumah)nya juga banyak, dan tidak seperti ujian yang kadang harus dihadapi sendirian, PR seringnya harus dikerjakan berdua, kalau hanya salah satu yang mengerjakannya, banyak pengertian dan keharmonisan tidak dapat dicapai.  Padahal  pengertian serta keharmonisan adalah sarana-sarana untuk mencapai kebahagiaan yang dicari. Tentu kebahagiaan bersama sekeluarga sampai akhir hidup adalah yang menjadi tujuan awal dan tujuan akhir dari orang-orang yang memutuskan untuk menikah. Kebahagiaan yang juga dirancang dan dikehendaki oleh Tuhan bagi manusia yang dikasihiNya, hingga setelah masa pembelajarannya di dunia ini selesai,  boleh mencapai kehidupan bahagia kekal di Surga bersama Tuhan.

Berbeda dengan para lajang yang mempunyai banyak kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang disukainya dan apa yang tidak, orang-orang yang dikaruniai kehidupan perkawinan terikat oleh aneka tuntutan yang lahir dari perbedaan kepribadian dan kebutuhan dengan pasangannya, serta berbagai situasi lain seperti anak-anak, pekerjaan pasangan, dan keluarga besar dari pasangan. Tetapi hadiah dari semua itu adalah pribadi yang terbentuk menjadi lebih toleran, sabar dan bijaksana, berpengertian, mudah berkorban, mudah merasa bahagia, dan berbagai ketrampilan pengendalian diri lainnya yang ujungnya adalah rasa damai dan bahagia dalam jiwa, serta sebuah jalan menuju kekudusan. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.(Kol 3:12). Tentu saja para lajang dan orang yang memutuskan untuk tidak menikah bukannya tidak berkesempatan memiliki keutamaan pribadi seperti semua itu, namun mereka mengalami dan menjalaninya dalam bentuk yang berbeda. Tuntutan dari kehidupan perkawinan yang terus menerus memerlukan pengertian dan pengorbanan itu mestinya tidak terasa seperti sebuah tuntutan yang menyiksa jika pihak-pihak yang terlibat di dalamnya menjalaninya dengan cinta yang tulus, niat yang baik, yang didasari oleh komitmen yang kuat untuk setia demi kebahagiaan bersama.

Ada catatan tersendiri mengenai cinta. Ketika Tuhan mempertemukan dua insan dalam cinta yang indah dan mempersatukan keduanya dalam ikatan perkawinan yang suci, cinta itu adalah pemberian, anugerah, yang dikaruniakanNya dengan cuma-cuma, kita tidak perlu mengusahakan apapun untuk memperolehnya. Tetapi agar pemberian itu berdaya guna dan menghasilkan kebahagiaan yang didambakan manusia dan Tuhan, harus ada kerjasama dari kedua manusia yang menerimanya, agar cinta itu tetap menyala dan aktif bekerja, tidak redup, lalu dingin dan padam. Di sinilah komitmen dan niat baik itu masuk. Cinta akan selalu menjadi dasar utama sepasang suami istri menjalani hidup berkeluarga, tetapi cinta yang tidak hanya berhenti kepada pemberian dari Tuhan, tetapi yang juga disadari sebagai sebuah keputusan, dan disyukuri dengan tanggung jawab. Demikian jugalah pada layaknya tanggapan aktif manusia kepada pemberian-pemberian Tuhan yang lainnya seperti kepandaian, kesehatan, bakat, dan lain-lain. Cinta yang dikerjakan, diolah, dikembangkan, dan ditekuni lewat sebuah proses, membuat cinta itu tumbuh, berkembang,dan berbuah. Termasuk di dalamnya mengerjakan berdua PR-PR mata pelajaran perkawinan, yang tidak selalu sama bobot kesukaran dan kuantitasnya antara satu pasangan dengan pasangan yang lain.

Misalnya PR saya sendiri pada saat ini adalah belajar menerapkan bahwa pada saat saya ingin dilayani, disayangi dengan khusus, dan dimengerti oleh pasangan, itu adalah justru saat di mana saya harus lebih dulu melayani, menyayangi dengan khusus, dan mengerti pasangan saya, sehingga pasangan saya merasa bahagia, sebelum ia kemudian terdorong membalas dengan cinta yang sama. Harapan saya kepada pasangan diubah menjadi harapan untuk saya sendiri lakukan lebih dulu, sehingga kebahagiaan dapat masuk tanpa didahului protes atau rengekan, bahkan ternyata sukacita yang saya cari sudah saya dapatkan dengan mendahului mengungkapkan apa yang saya harapkan dari pasangan, sebelum ia sendiri melakukannya. Ini semua juga proses, memerlukan kesabaran, terutama proses menundukkan ego kita. Belajar mengendalikan ego itu baik, supaya kita tidak terus menerus dikendalikan oleh ego, sebab hal itu sebenarnya amat melelahkan. Sebaliknya mengalah demi kebaikan bersama dan mengikuti kehendak Tuhan, walaupun awalnya terasa berat, akan terasa lebih membebaskan dan membahagiakan dalam prosesnya, tidak hanya bagi diri kita tetapi juga bagi pasangan kita dan sesama. Sekali lagi, sebagaimana PR seringnya harus dikerjakan berdua, penerapan contoh di atas adalah timbal balik, harus ditanggapi dan dilakukan kedua belah pihak, supaya bahagia itu dirasakan berdua. Rasul Paulus mengajarkannya dalam Roma 12:10, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Dan jika di jaman ini, kesetiaan nampak seperti sebuah benda usang yang sudah tidak mode lagi, di mana perpisahan, perceraian, perselingkuhan seolah menjadi begitu sering dan biasa, ingatlah bahwa dunia ini bisa berputar dan terus berjalan karena kesetiaan. Bumi setia berputar pada porosnya, matahari setia terbit di pagi hari tanpa pernah absen, hujan dan panas setia menyambangi bumi supaya kehidupan dapat berlangsung, organ-organ tubuh kita bekerja siang malam dengan sinergi yang mengagumkan dan setia supaya tubuh kita terus hidup. Lalu banyak orang di sekeliling kita begitu setia menjalankan tugasnya walau tugas itu selalu sama dan harus dilakukan setiap hari tanpa putus, misalnya seorang ibu yang harus selalu memasak untuk keluarga, petugas perlintasan rel kereta api yang harus selalu mengamati jalannya kereta dari berbagai arah, dan banyak lagi. Demikianlah kesetiaan adalah barang mahal yang tak ternilai harganya yang menopang seluruh kehidupan umat manusia. Di saat kejenuhan atau kebosanan melanda, ingatlah akan Tuhan yang tidak pernah bosan memelihara manusia, peliharalah kesadaran akan rasa syukur atas hidup, dan betapa kehidupan ini dapat terus berjalan karena ditopang oleh pilar-pilar kesetiaan.  Kesetiaan adalah buah dari kasih.  “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kol 3:14)

Semoga kasih selalu menyemangati kita untuk menikmati kehidupan perkawinan dan menjaganya sebaik-baiknya. Sehingga kebahagiaan yang dicita-citakan banyak orang dari sebuah kehidupan perkawinan, dapat mencapai tujuannya yang hakiki, yaitu kebahagiaan yang dicita-citakan Tuhan sendiri bagi manusia ciptaan yang dikasihiNya. (Triastuti )

“[Speaking of marriage and family] In this entire world there is not a more perfect, more complete image of God, Unity and Community. There is no other human reality which corresponds more, humanly speaking, to that divine mystery.”
– Pope John Paul II

(Di seluruh dunia ini tiada hal yang mewakili citra Allah, Persatuan dan Komunitas demikian sempurna dan lengkap seperti yang dinyatakan oleh sebuah perkawinan dan kehidupan keluarga. Tiada realitas kemanusiaan yang terkait begitu dalam kepada misteri Ilahi yang melebihi apa yang terjadi dalam perkawinan. -Paus Yohanes Paulus II Yang Terberkati-)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab