Home Blog Page 141

Apa benar, tidak perlu imam dalam Gereja?

4

Berikut ini adalah beberapa hal yang sering dipertanyakan oleh orang-orang yang menganggap bahwa sesungguhnya tidak perlu ada imam dalam Gereja:

1. Tidak ada imam di zaman Perjanjian Baru?

Yesus memang bukan dari golongan Lewi (golongan suku imam Yahudi), karena yang dijanjikan dalam Kitab Suci adalah Yesus sebagai Mesias akan datang sebagai keturunan Daud (1 Raj 2:4; Luk 1:32-33), dan Daud ini adalah dari suku Yehuda. Maka memang semasa hidup-Nya Yesus tidak mempersembahkan kurban di bait Allah Yerusalem. Mengapa? Karena kurban yang menggenapi seluruh kurban dalam Perjanjian Lama itu adalah diri-Nya sendiri, lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Maka sebelum hal itu digenapi-Nya, Gereja (para murid-Nya) belum dapat merayakannya. Kekecualian adalah pada saat Perjamuan Terakhir, yaitu pada malam sebelum wafat-Nya, Kristus sudah menetapkan suatu perjamuan yang terakhir dengan para murid-Nya, di mana Ia mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Lalu Ia memerintahkan agar para murid-Nya mengenangkan Dia dengan merayakan perjamuan tersebut. Maka Perjamuan terakhir itu menjadi antisipasi kurban Tubuh dan Darah-Nya yang terjadi di hari berikutnya, yaitu pada Jumat Agung. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri dan dengan cara-Nya sendiri menunjukkan bahwa Ia hadir dalam perayaan perjamuan Tubuh dan Darah-Nya, sebagaimana dalam penampakan-Nya di perjalanan menuju Emaus (lih. Luk 24:13-35). Selanjutnya, kisah para Rasul (ditulis tahun 64) mencatat bahwa cara hidup jemaat perdana adalah: bertekun dalam pengajaran para rasul, dalam persekutuan, memecahkan roti, dan berdoa (Kis 2:42). “Memecah roti” di sini adalah perjamuan Ekaristi. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (ditulis sekitar tahun 58) menyebutkan bahwa para rasul sudah merayakan Ekaristi (lih. 1 Kor 11:24-30), bahkan memperingatkan kepada jemaat bahwa mereka harus benar-benar mempersiapkan batin sebelum menerima Ekaristi, sebab jika tidak, maka akan mendatangkan hukuman bagi mereka sendiri. Dengan demikian Rasul Paulus meneguhkan ajaran Kristus dan para rasul yang lain, bahwa atas kuasa Sabda Allah yang berupa pengucapan syukur (dalam konsekrasi), rupa roti dan anggur dalam Ekaristi itu diubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian orang yang tidak layak makan dan minum dari cawan Tuhan, ia berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan (lih. 1Kor 11:27). Jadi tidak benar jika dikatakan Gereja perdana tidak mempunyai imam sampai tahun 70 (tahun kehancuran Yerusalem). Sebab sejak awal para Rasul dan Gereja Perdana sudah merayakan Ekaristi, dan perayaan Ekaristi ini hanya dipimpin oleh para rasul dan kemudian para penerus mereka yang berperan sebagai imam, sebagaimana diketahui dari tulisan-tulisan para Bapa Gereja di abad-abad pertama. Silakan membaca lebih lanjut di artikel Perayaan Ekaristi di Jemaat Perdana, silakan klik.

Selanjutnya tentang sakramen Imamat, silakan klik di sini.

2. Ekaristi menentang ayat kurban yang sekali dan selamanya /’once and for all’?

Banyak orang salah paham dengan menyangka bahwa perayaan Ekaristi adalah mengurbankan Yesus berkali-kali, sehingga dengan demikian tidak sesuai dengan Ibr 7:27, 9:12. Namun ini adalah anggapan yang keliru, karena kurban yang dirayakan dalam Misa Kudus bukanlah korban yang baru, atau Kristus yang dikurbankan berulang- ulang; apalagi kurban berulang- ulang yang dilakukan oleh manusia seperti pada Perjanjian Lama. Yang dilakukan dalam Misa Kudus adalah memperingati dan menghadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus: korban Yesus yang satu dan sama itu; agar kita dapat memperoleh buah- buahnya. Dalam Ekaristi, korban Yesus dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu; walaupun tidak dengan cara berdarah-darah seperti yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Dengan kehadiran-Nya dalam Ekaristi tidak berarti bahwa Ia tidak tinggal di sorga (sebab Ia tetap ada di surga), namun Ia juga hadir di dunia; Yesus berada di sebelah kanan Allah Bapa namun juga ada di tengah- tengah kita umat-Nya.

Selanjutnya tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Sedangkan tentang Ekaristi sebagai Kurban yang berkenan kepada Allah (bukan hanya sebagai perjamuan dan ucapan syukur), silakan klik di sini.

3. St. Agustinus mengatakan bahwa Tubuh Kristus tidak dapat dicerna/ diuraikan?

Sejujurnya kutipan St. Agustinus itu diambil tanpa dilihat konteksnya, sehingga yang mengutip menjadi salah mengambil kesimpulan. Kutipan itu diambil dari sebuah kotbah (Sermon 227), yang diawali dengan perkataan demikian:

“I haven’t forgotten my promise. I had promised those of you who have just been baptized a sermon to explain the sacrament of the Lord’s table, which you can see right now, and which you shared in last night. You ought to know what you have received, what you are about to receive, what you ought to receive every day. That bread which you can see on the altar, sanctified by the word of God, is the body of Christ.†2 That cup, or rather what the cup contains, sanctified by the word of God, is the blood of Christ. It was by means of these things that the Lord Christ wished to present us with his body and blood, which he shed for our sake for the forgiveness of sins. If you receive them well, you are yourselves what you receive. You see, the apostle says, We, being many, are one loaf, one body (1 Cor 10:17). That’s how he explained the sacrament of the Lord’s table; one loaf, one body, is what we all are, many though we be.”

Di awal kotbahnya St Agustinus malah menekankan bahwa sakramen pada altar Tuhan adalah sungguh Tubuh dan Darah Tuhan, dan karena itu kita harus menerima-Nya setiap hari. Kalau begitu, mengapa St. Agustinus mengatakan bahwa Tubuh Kristus tak bisa dimakan/ dicerna? Mari kita lihat kutipannya yang lebih lengkap, sehingga memahami konteksnya:

“So they are great sacraments and signs, really serious and important sacraments. Do you want to know how their seriousness is impressed on us? The apostle says, Whoever eats the body of Christ or drinks the blood of the Lord unworthily is guilty of the body and blood of the Lord (1 Cor 11:27). What is receiving unworthily? Receiving with contempt, receiving with derision. Don’t let yourselves think that what you can see is of no account. What you can see passes away, but the invisible reality signified does not pass away, but remains. Look, it’s received, it’s eaten, it’s consumed. Is the body of Christ consumed, is the Church of Christ consumed, are the members of Christ consumed?†9 Perish the thought! Here they are being purified, there they will be crowned with the victor’s laurels. So what is signified will remain eternally, although the thing that signifies it seems to pass away. So receive the sacrament in such a way that you think about yourselves, that you retain unity in your hearts, that you always fix your hearts up above. Don’t let your hope be placed on earth, but in heaven. Let your faith be firm in God, let it be acceptable to God. Because what you don’t see now, but believe, you are going to see there, where you will have joy without end.”

Maka maksud St. Agustinus adalah: walaupun apa yang kelihatan sepertinya habis/ terurai, namun apa yang tidak kelihatan, yang ditandainya, tidak akan berlalu. Demikianlah Ekaristi dalam rupa roti itu akan nampak seperti terurai/ tercerna dalam tubuh kita, namun realita yang tak nampak, yang ditandainya, yaitu Tubuh Kristus, akan tetap ada.

4. Imam Katolik ada hanya karena sebagian orang ingin kembali ke zaman imam Yahudi dalam Perjanjian Lama?

Gereja Katolik menerima keutuhan Kitab Suci, baik Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB), sehingga selalu membaca Perjanjian Baru dalam terang Perjanjian Lama dan sebaliknya. Yesus datang untuk menggenapkan Perjanjian Lama dan bukan untuk menghapuskannya sama sekali. Jadi kalau sejak dahulu kala (dalam PL) Tuhan berkenan terhadap kurban yang dilakukan oleh manusia, sebagai ucapan syukur maupun permohonan pengampunan dosa, maka hal yang sama tetap berkenan kepada Tuhan, dalam di masa Perjanjian Baru, dengan Kristus sendiri sebagai kurbannya, yang menyempurnakan segala kurban dalam PL.

Maka pelaksanaan Ekaristi bukan karena kembali ke Perjanjian Lama, tetapi karena melaksanakan perintah Tuhan Yesus yang telah menggenapkan/ menyempurnakan segala kurban yang pernah dipersembahkan kepada Allah. Dengan demikian, kita -walaupun terpisah 2000 tahun lamanya dengan zaman Yesus hidup di dunia- dapat mempersatukan kurban diri kita (ucapan syukur, tobat, penyembahan, maupun permohonan) dengan kurban Kristus yang satu dan sama itu, yang mengatasi ruang dan waktu, yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Allah sendiri, agar kitapun dapat menerima buah-buahnya.

5. Imam harus mempunyai jalur apostolik?

Ya. Kitab Suci mencatat penumpangan tangan dari para Rasul, kepada para pembantu mereka (lih. 1 Tim 4:14, Kis 6:6) dan karena itu kita tidak dapat mengklaim bahwa siapapun dapat menjadi imam. Rahmat sakramen imamat adalah merupakan karunia Allah: suatu pemberian, dan karena itu, bukan merupakan hak yang dapat diklaim oleh semua orang. Memang atas rahmat Baptisan kita semua mengambil bagian dalam tri-misi Kristus (sebagai imam, nabi dan raja), namun yang dimaksud di sini adalah imamat bersama. Sedangkan imamat jabatan tetaplah ada pada para tertahbis, yang mempunyai jalur apostolik: yaitu terhubung dengan para Rasul, sebab menerima tahbisan dari para penerus mereka.

Maka bukan hak setiap orang untuk melakukan apa yang umumnya dilakukan oleh para imam Katolik, lalu mengklaim dirinya sebagai imam dan menuntut agar Paus mengakui mereka sebagai imam. Paus tidak berhak melakukan hal ini. Adalah tugas Paus untuk melestarikan Tradisi Suci para rasul tentang hirarki kepemimpinan Gereja, di mana imam terikat erat dengan bapa Uskup. Dengan demikian, jika ada orang yang jelas telah memisahkan diri dari kesatuan dengan Uskupnya, ia tak dapat mengklaim dirinya sebagai imam. Hal ini jelas dalam tulisan St. Ignatius dari Antiokhia (St. Ignatius ini adalah murid langsung dari Rasul Yohanes dan dari Uskup Antiokhia setelah Rasul Petrus. Ia wafat sekitar tahun 98 AD):

“Maka, kamu harus bertindak sesuai dengan pikiran para uskup, seperti yang pasti kamu lakukan. Para imam… adalah terikat dengan erat dengan para uskup seperti senar pada sebuah harpa…. Jangan salah tentang hal ini. Jika barangsiapa tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan (Ekaristi). Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barang siapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.”

Selanjutnya tentang topik Apakah Hirarki dalam Gereja sudah ada sejak awal, silakan klik di sini.

6. Jangan memanggil siapapun di dunia dengan sebutan “bapa” atau “guru”?

Mari memahami ayat Mat 23:9 dalam kaitannya dengan seluruh ayat dalam Kitab Suci. Maksud Yesus melarang menyebut siapapun sebagai bapa di bumi ini (lih. Mat 23:9) adalah untuk memperingatkan kepada umat bahwa: 1) hanya ada satu saja yang dapat kita anggap sebagai Allah Bapa; 2) janganlah seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang senang dihormati dan dipanggil sebagai rabbi dan bapa oleh semua orang.

Sebab di perikop-perikop yang lain dalam Kitab Suci, Yesus juga menyebut orang tua sebagai bapa dan ibu (lih. Mat 10:35; 19:29). Jika Ia sungguh melarangnya, maka Ia tidak mungkin menyebutkan sendiri panggilan ini. Abraham disebut sebagai “bapa Abraham” bapa leluhur kita (Luk 16:24, Kis 7:2; Rom 4:1, Yak 2:21), dan Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagi Timotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Rasul Yohanes juga berkhotbah kepada para bapa (1 Yoh 2:14). Tentunya rasul Paulus, Yakobus dan Yohanes memiliki maksud pada saat menuliskan ayat-ayat itu. Yaitu bahwa di dalam hidup kita ini memang ada orang-orang tertentu yang diberi tugas sebagai bapa untuk berperan sebagai orang tua bagi anak-anak, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Karena itu, kita juga tetap memanggil bapa/ papa kepada orang tua kita. Secara rohani, tugas kebapaan itu diberikan kepada para pemimpin umat, yaitu para pastor, seperti teladan Rasul Paulus.

Para pastor/ imam, uskup dan Paus itu berperan dalam kelahiran kita semua umat Katolik secara rohani. Mereka itu adalah yang membaptis kita umat beriman, mengajar kita, membimbing kita dan memberi teladan kepada kita bagaimana mengasihi, seperti Allah Bapa mengasihi kita. Oleh karena itu kita harus berdoa bagi para imam, uskup dan Paus, agar mereka senantiasa dapat melaksanakan tugasnya sebagai “bapa rohani” bagi kita. Kita memanggil mereka sebagai ‘bapa’/ ‘Romo’/ ‘pastor’ untuk menunjukkan hormat kita kepada mereka. Sama seperti banyak pendeta Protestan yang dipanggil Rev./ Reverend oleh jemaatnya, padahal tentu hormat/ reverence juga paling layak diberikan kepada Tuhan.

Akhirnya, menjawab pertanyaan di atas, apakah benar tidak perlu imam dalam Gereja tentu jawabnya adalah: Tidak. Gereja membutuhkan imam. Bahkan di tengah situasi dunia yang tidak menentu ini, imam yang kudus, sungguh-sungguh dibutuhkan, agar dunia dapat melihat cerminan Kristus sendiri di tengah umat-Nya. Betapa kita sepantasnya berterima kasih kepada para imam yang telah berkata “Ya”, terhadap panggilan Tuhan yang mulia ini!

Mari kita berdoa bagi rahmat panggilan imamat bagi kaum muda, dan mendoakan para imam agar dapat dengan setia melakukan tugas panggilan mereka untuk membawa kita semakin dekat kepada Kristus dan Kristus kepada kita.

 

Deklarasi Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI

26

Saudara-saudara [para kardinal] yang terkasih,

Saya telah mengumpulkan  Anda ke Konsistorium ini, tidak hanya untuk hal tiga kanonisasi, tetapi juga untuk mengkomunikasikan kepada Anda suatu keputusan yang sangat penting bagi kehidupan Gereja. Setelah berulang- ulang  memeriksa batin saya di hadapan Allah, saya telah sampai pada suatu kepastian bahwa kekuatan-kekuatan saya, karena usia yang lanjut, tidak lagi cocok untuk menjalankan tugas Kepausan dengan memadai. Saya sadar sepenuhnya bahwa tugas ini, sehubungan dengan sifat spiritualnya yang mendasar, harus dijalankan tidak hanya dengan perkataan dan perbuatan, tetapi juga tidak kurang dengan doa dan penderitaan. Akan tetapi, di dunia dewasa ini, yang dihadapkan pada banyaknya perubahan-perubahan yang cepat dan digoyangkan oleh pertanyaan-pertanyaan tentang relevansi yang mendalam bagi kehidupan iman, maka untuk mengemudikan bahtera Santo Petrus dan mewartakan Injil, dibutuhkan kekuatan baik pikiran maupun fisik, kekuatan yang dalam beberapa bulan terakhir ini, terus merosot di dalam diri saya sampai pada suatu keadaan di mana saya harus menyadari ketidaksanggupan saya untuk secara memadai menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepada saya. Untuk alasan ini, dan sadar sepenuhnya  atas seriusnya tindakan ini, dengan kebebasan penuh, saya menyatakan bahwa saya meletakkan jabatan sebagai Uskup Roma, Penerus Santo Petrus, yang dipercayakan kepada saya oleh Para Kardinal pada 19 April 2005, sedemikian rupa sehingga sejak 28 Februari 2013, pukul 20:00, Tahta Roma, Tahta Santo Petrus, akan kosong dan suatu Konklaf [pertemuan para kardinal untuk pemilihan paus baru] untuk memilih Paus baru akan harus diselenggarakan oleh mereka yang berkompeten.

Saudara-saudara yang terkasih, saya menyampaikan terima kasih dengan setulus-tulusnya atas semua kasih dan karya yang dengannya Anda telah mendukung saya dalam tugas saya dan saya meminta maaf untuk segala kesalahan-kesalahan saya. Dan sekarang, marilah kita mempercayakan Gereja Kudus kita kepada pemeliharaan Gembala Utama Kita, Tuhan Kita Yesus Kristus, dan memohon kepada bunda-Nya yang kudus Bunda Maria, agar ia membantu para Bapa Kardinal dengan kasih keibuannya, dalam memilih seorang Paus yang baru. Akan halnya saya, saya berkeinginan untuk juga dengan sepenuh hati melayani Gereja Kudus Allah di masa yang akan datang melalui kehidupan yang didedikasikan untuk doa.

Vatikan, 10 Februari 2013
Paus Benediktus XVI

[Diterjemahkan oleh Tradisi Katolik, dengan penyesuaian dari katolisitas.org]

Aku Percaya akan Pengampunan Dosa

9

Seruan pertobatan untuk keselamatan

Seruan pertobatan kepada umat manusia telah didengungkan oleh para nabi di dalam Perjanjian Lama dan juga menjadi seruan utama dalam Perjanjian Baru, yang kemudian diteruskan oleh Gereja-Nya. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan berkata kepada umat Israel “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!..” (Yeh 33:11). Tuhan menginginkan agar manusia berpaling kepada Tuhan, karena Dia mengasihi umat-Nya dan menginginkan agar manusia memperoleh kebahagiaan di Sorga. Tanpa pertobatan, kita semua akan binasa dan tidak mungkin memperoleh keselamatan kekal (lih. Luk 13:5).

Untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, St. Yohanes Pembaptis berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2). Di awal karya-Nya, Yesuspun berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17). Seruan pertobatan di awal pelayanan Kristus, yang kemudian dirangkai dengan seruan pertobatan dan pengampunan dosa, di berbagai kesempatan, diselesaikan oleh Kristus di kayu salib dengan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Untuk melanjutkan tugas untuk mengampuni dosa, maka setelah kebangkitan-Nya, Kristus sendiri memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada para rasul yang diteruskan oleh para penerus mereka, yaitu para uskup dibantu oleh para imam (lih. Yoh 20:21-23).

Dosa dan pertobatan

Definisi dosa

Secara mendasar, dosa dapat didefinisikan sebagai penghinaan terhadap Allah, yaitu karena kita melawan kodrat kita sebagai makhluk ciptaan dan menempatkan diri kita sebagai pencipta. Perlawanan ini menimbulkan pelanggaran yang bertentangan dengan akal budi, kebenaran maupun hati nurani yang baik. Lebih lanjut, St. Thomas Aquinas mengutip St. Agustinus menuliskan bahwa dosa adalah kata, perbuatan atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi atau hukum Allah. Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya sebagai berikut:

KGK 1849   Dosa adalah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang baik; ia adalah satu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Allah dan sesama atas dasar satu ketergantungan yang tidak normal kepada barang-barang tertentu. Ia melukai kodrat manusia dan solidaritas manusiawi. Ia didefinisikan sebagai “kata, perbuatan, atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi” (Agustinus, Faust. 22,27; Dikutip oleh Tomas Aqu., s. th. 1-2,71,6, obj. 1)

KGK 1850   Dosa adalah satu penghinaan terhadap Allah: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat” (Mzm 51:6). Dosa memberontak terhadap kasih Allah kepada kita dan membalikkan hati kita dari Dia. Seperti dosa perdana, ia adalah satu ketidaktaatan, satu pemberontakan terhadap Allah, oleh kehendak menjadi “seperti Allah” dan olehnya mengetahui dan menentukan apa yang baik dan apa yang jahat (Kej 3:5). Dengan demikian dosa adalah “cinta diri yang meningkat sampai menjadi penghinaan Allah” (Agustinus, civ. 14,28). Karena keangkuhan ini, maka dosa bertentangan penuh dengan ketaatan Yesus (bdk. Flp 2:6-9) yang melaksanakan keselamatan.

Pengelompokan dosa

Setelah kita mengetahui apakah hakekat dosa, selanjutnya kita perlu mengetahui juga pengelompokkan dosa, supaya kita dapat memeriksa diri kita sendiri, dosa apakah yang ada pada kita. Dosa dikelompokkan menurut beberapa kategori: dari asalnya, dari tingkat kejahatannya, dari aktivitasnya dan dari bobotnya.

Dari asalnya, dosa dapat dibagi dua: yaitu dosa asal dan dosa aktual. Dosa asal adalah dosa yang diwariskan oleh Adam sebagai perwakilan seluruh umat manusia, yang telah gagal dalam menaati dan melaksanakan kehendak Allah. Dosa aktual adalah dosa yang dilakukan oleh setiap individu berdasarkan atas kehendak bebas masing-masing. Dosa aktual ini terdiri dari dua jenis, yaitu dosa tentang pelanggaran (sin of commission) dan dosa kelalaian (sin of omission). Dosa tentang pelanggaran adalah dosa yang merupakan kegagalan untuk menghindari larangan dari Tuhan; sedangkan dosa kelalaian adalah dosa yang berhubungan dengan kelalaian untuk melakukan sesuatu yang baik.

Dari tingkat kejahatannya (malice), dosa dapat dikelompokkan menjadi: ketidaktahuan (ignorance), kelemahan (passion or infirmity) dan kejahatan (malice). Contohnya, dosa pornografi, yang dapat dimulai dari ketidaktahuan, seperti: ketidaksengajaan masuk ke situs yang tidak sopan, ketidaktahuan bahwa menonton blue-film bersama dengan pasangan hidup adalah perbuatan dosa, dll. Karena diperburuk oleh kelemahan dalam hal kemurnian, maka seseorang menjadi sulit untuk melepaskan dosa ini. Dalam tingkat yang lebih buruk, seseorang kemudian mulai menyebarkan pornografi, dan mulai merusak kehidupan banyak orang.

Dari aktivitasnya, dosa dapat dibedakan menjadi dosa di dalam pikiran/kehendak (cordis), dalam perkataan (oris) dan perbuatan (operis). Seseorang dapat saja mempunyai dosa perzinahan dalam pikiran (lih. Mat 5:28), yang dapat diikuti dengan kata-kata yang tidak sopan, sampai akhirnya diikuti dengan tindakan perzinahan dalam perbuatan yang nyata.

Dari bobotnya, dosa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu dosa ringan dan dosa berat. Dosa berat adalah dosa melawan kasih secara langsung, sedangkan dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hatinya, sedangkan dosa ringan memperlemah kasih kepada Tuhan. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa tersebut membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan ataupun berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat. (lih. St. Thomas Aquinas, ST, II-I, q.72, a.5) Lebih lanjut dalam tulisannya, “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari Tuhan. Ibaratnya, seseorang yang melakukan dosa ringan seumpama orang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhirnya.

Pertobatan atau penyesalan

Setelah kita menyadari hakekat dosa dengan berbagai macam pengelompokannya, maka hal yang lebih penting untuk disadari adalah bahwa dosa membawa maut, yang kalau tidak disertai dengan penyesalan, akan membawa kita kepada kehancuran abadi di neraka. Sikap yang diinginkan oleh Allah adalah sikap penyesalan dari dalam, seperti anak yang hilang yang berkata, ” Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.” (Luk 15:21). Konsili Trente (Sess. XIV, ch. iv de Contritione) memberikan penjelasan bahwa pertobatan adalah, “Kesedihan jiwa dan kebencian akan dosa yang telah dilakukan, dengan tujuan yang teguh untuk tidak berdosa lagi di kemudian hari.”

Secara etimologi, penyesalan (contrition) berarti menghancurkan sesuatu yang telah menjadi keras. Hati yang mengeras karena dosa inilah yang harus dihancurkan dalam pertobatan. Jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk inilah yang menyenangkan hati Allah (Mzm 51:17). Dari sini kita melihat bahwa pertobatan adalah peristiwa yang “sengit”, karena menghancurkan kesenangan diri demi kasih kepada Allah. Penyesalan adalah syarat mutlak bagi pengampunan dosa dari Allah.

Kristus mengampuni dosa melalui Sakramen Baptis

Seruan pertobatan inilah yang telah disampaikan oleh Kristus sejak awal karya-Nya. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Mat 4:17). Atau, dalam Injil Markus dituliskan, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Kalau kita manusia menjawab seruan pertobatan dari Kristus, maka kita akan diselamatkan, karena Kristus sendiri telah memberikan rahmat pengampunan dosa bagi kita, yang diperoleh-Nya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, sebagai silih atas dosa-dosa kita manusia.

Selanjutnya, mungkin orang bertanya, bagaimana caranya agar kita memperoleh pengampunan dosa dari Kristus? Injil Markus mengatakan, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk16:16) Dengan demikian, Kristus memilih cara baptisan untuk menyalurkan rahmat pengampunan-Nya yang mengalir dari karya penebusan-Nya di kayu salib. Dengan Sakramen Baptis, kita menyatukan diri kita dengan Kristus, meninggalkan manusia lama dan hidup di dalam Kristus menjadi manusia yang baru (lih. Rm 4:25). Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya sebagai berikut:

KGK 977     Tuhan kita telah menghubungkan pengampunan dosa dengan iman dan Pembaptisan: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:15-16). Pembaptisan adalah Sakramen pertama dan terpenting demi pengampunan dosa. Ia menyatukan kita dengan Kristus, yang telah wafat untuk dosa kita dan yang telah dibangkitkan demi pembenaran kita (bdk. Rm 4:25), supaya “kita hidup sebagai manusia yang baru” (Rm 6:4).

KGK 978     “Kalau kita mengakui iman untuk pertama kalinya dan dibersihkan dalam Pembaptisan suci, diberikanlah kepada kita pengampunan yang begitu berlimpah ruah, sehingga tidak ada satu kesalahan pun – baik yang melekat pada kita oleh turunan, maupun sesuatu yang kita lalaikan atau lakukan dengan kehendak sendiri – yang tidak dihapuskan dan tidak ada siksa yang masih perlu disilih. Namun orang tidak dibebaskan dari semua kelemahan kodrat oleh rahmat Pembaptisan; sebaliknya setiap orang harus berjuang melawan rangsangan hawa nafsu yang tanpa henti-hentinya mengajak kita untuk berbuat dosa” (Catech. R. 1, 11,3).

Gereja diberi kuasa oleh Kristus untuk mengampuni dosa

Kristus, yang menginginkan agar manusia memperoleh keselamatan (lih. 1Tim 2:4), tidak membiarkan manusia kehilangan rahmat pengampunan. Sebelum Ia naik ke Sorga, Kristus memberikan amanat agung kepada para murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20) Inilah sebabnya, Gereja menyadari tanggung jawab yang dipercayakan oleh Kristus, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan, baik melalui pengajaran, pemuridan maupun Pembaptisan.

Walaupun pada saat dibaptis, kita memperoleh pengampunan dosa asal, maupun dosa pribadi (aktual) – baik dosa ringan maupun dosa berat; dosa dengan pikiran, perkataan, maupun perbuatan; dosa pelanggaran maupun dosa kelalaian; baik dari ketidaktahuan, kelemahan, maupun kejahatan – dari saat awal hidup kita sampai pada saat dibaptis, namun kita masih harus terus berjuang untuk terus hidup dalam kekudusan. Dalam perjuangan ini, kita akan mengalami jatuh bangun, bahkan tidak jarang kita dapat melakukan dosa berat yang membahayakan keselamatan kita.

Untuk memberikan pengampunan Allah bagi umat-Nya setelah mereka menerima Sakramen Baptis, Kristus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada Petrus yang diteruskan oleh para penerusnya yaitu para Paus (lih. Mat 16:16-19) dan kepada para rasul yang diteruskan oleh para uskup dibantu oleh para imam (lih. Yoh 20:21-23). Dalam prakteknya, pengampunan dosa ini terjadi dalam Sakramen Tobat. Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya sebagai berikut:

KGK 981     Sesudah kebangkitan-Nya Kristus mengutus para Rasul-Nya, untuk “menyampaikan berita tentang pertobatan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem” (Luk 24:47). Karena itu para Rasul dan para penggantinya melaksanakan “pelayanan pendamaian” (2Kor 5:18): Pada satu pihak mereka mewartakan kepada manusia pengampunan oleh Allah, yang telah diperoleh Kristus bagi kita, dan menghimbau untuk bertobat dan beriman. Pada lain pihak mereka sungguh menyampaikan pengampunan dosa melalui Pembaptisan dan mendamaikan orang dengan Allah dan dengan Gereja berkat kuasa kunci yang diterimanya dari Kristus. “Gereja telah menerima kunci Kerajaan surga, supaya di dalam dia pengampunan dosa dapat terjadi oleh darah Kristus dan oleh karya Roh Kudus. Di dalam Gereja jiwa yang mati karena dosa hidup lagi, supaya hidup bersama Kristus, yang rahmat-Nya menyelamatkan kita” (Agustinus, serm. 214,11).

Memang mungkin sulit sekali bagi kita untuk dapat mengerti, mengapa paus, uskup dan para imam, yang adalah manusia seperti kita, diberi tanggung jawab yang sedemikian besar. Kuasa untuk mengampuni dosa ini artinya adalah, kuasa yang diberikan Kristus kepada para rasul-Nya (yang diteruskan kepada para penerus mereka) untuk mengampuni dosa sebesar apapun, tidak terbatas oleh waktu maupun tempat, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Petrus untuk mengampuni dosa tujuhpuluh kali tujuh (lih. Mat 18:22) yang artinya: tidak terbatas. Yesus mengajarkan bahwa kalau ada seseorang berbuat dosa tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali menyatakan penyesalannya, dia akan tetap mendapatkan pengampunan (lih. Luk 17:3). Menyadari tanggung jawab yang begitu besar yang diemban oleh para imam, St. Ambrosius menuliskan, “Tuhan menghendaki bahwa murid-murid-Nya memiliki kuasa yang besar; Ia menghendaki, agar pelayan-pelayan-Nya yang hina itu atas nama-Nya melaksanakan apa saja, yang telah Ia lakukan sewaktu Ia hidup di dunia (Ambrosius, poenit. 1,34). Dan lebih lanjut St. Yohanes Krisostomus menuliskan, “Para imam telah menerima kuasa, yang Allah tidak berikan baik kepada para malaikat maupun kepada para malaikat agung… Tuhan mengukuhkan di atas sana segala sesuatu, yang para imam lakukan di atas dunia ini.” (Yohanes Krisostomus, sac. 3,5).

Mensyukuri pengampunan dosa

Misteri pengampunan dosa yang diberikan, hanya dapat dimengerti dalam kebijaksanaan Kristus, yang memang memberikan kuasa kepada para rasul dan diteruskan kepada para paus, uskup dan imam, sehingga memungkinkan seluruh umat beriman memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Sejauh kita dapat melihat bahwa para paus, uskup dan imam adalah alat yang dipakai Tuhan untuk menguduskan umat beriman, maka kita dapat menerima dan bahkan mensyukuri kebijaksanaan Tuhan ini. Kita sepantasnya bersyukur akan karunia Gereja serta para imam, karena melalui mereka, kita memperoleh pengampunan dosa melalui Sakramen Baptis dan Sakramen Tobat. Mari, jangan hanya berhenti pada rasa syukur, namun bersama-sama kita mengaku dosa secara teratur, sehingga rahmat pengampunan senantiasa mengalir di dalam kehidupan kita, dan membantu kita dalam perjuangan kita untuk hidup kudus.

Pesan Bapa Suci Paus Benediktus XVI Untuk Masa Prapaskah 2013

2

“Percaya dalam amal membangkitkan amal”
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16)

Saudara dan saudariku terkasih,
Perayaan Prapaskah, dalam konteks Tahun Iman, menawarkan kita kesempatan berharga untuk merenungkan hubungan antara iman dan amal : antara percaya dalam Allah – Allah dari Yesus Kristus – dan amal, yang merupakan buah dari Roh Kudus dan yang menuntun kita di jalan pengabdian kepada Allah dan sesama.

1. Iman sebagai tanggapan terhadap kasih Allah

Dalam Ensiklik pertama saya, saya menawarkan beberapa pemikiran tentang hubungan erat antara keutamaan iman dan amal kasih secara teologis. Berangkat dari pernyataan tegas yang mendasar dari Santo Yohanes: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16), saya mengamati bahwa “menjadi Kristiani bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan luhur, tetapi perjumpaan dengan suatu peristiwa, seseorang, yang memberi kehidupan suatu cakrawala baru dan suatu arah yang pasti … Karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh 4:10), kasih kini tidak lagi menjadi ‘perintah’ belaka; kasih adalah tanggapan terhadap karunia kasih yang dengannya Allah mendekat kepada kita” (Deus Caritas Est, 1). Iman ini merupakan ketaatan pribadi – yang melibatkan seluruh pancaindera kita – bagi pernyataan kasih Allah yang tanpa syarat dan “penuh gairah” bagi kita, sepenuhnya terungkap dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah yang adalah Kasih melibatkan tidak hanya batin tapi juga akal budi: “Pengakuan akan Allah yang hidup adalah salah satu jalan menuju kasih, dan ‘ya’ dari kehendak kita terhadap kehendak-Nya menyatukan akal budi, kehendak dan perasaan kita dalam seluruh pelukan tindakan kasih. Tetapi proses ini selalu akhir yang terbuka; kasih tidak pernah ‘selesai’ dan lengkap”( Deus Caritas Est, 17). Oleh karena itu, untuk semua orang Kristiani, dan terutama untuk “pekerja amal”, ada kebutuhan untuk iman, untuk “supaya perjumpaan dengan Allah di dalam Kristus yang membangkitkan kasih mereka dan membuka jiwa mereka bagi orang lain. Akibatnya, sehingga boleh dikatakan, kasih kepada sesama tidak akan lagi bagi mereka perintah yang dibebankan dari luar, melainkan suatu konsekuensi yang berasal dari iman mereka, iman yang menjadi aktif melalui kasih “(Deus Caritas Est, 31a). Orang-orang Kristiani adalah orang-orang yang telah ditaklukkan oleh kasih Kristus dan oleh karena itu, di bawah pengaruh kasih itu – “Caritas Christi urget nos” (2 Kor 5:14) – mereka amatlah terbuka untuk mengasihi sesama mereka dengan cara nyata (bdk. Deus Caritas Est, 33). Sikap ini muncul terutama dari kesadaran dikasihi, diampuni, dan bahkan dilayani oleh Tuhan, yang membungkuk untuk mencuci kaki para Rasul dan memberikan diri-Nya di kayu Salib untuk menarik umat manusia ke dalam kasih Allah.

Iman mengatakan kepada kita bahwa Allah telah memberikan Putra-Nya demi kita dan memberi kita kepastian kemenangan sehingga hal itu sungguh benar: Allah adalah kasih! ….. Iman, yang melihat kasih Allah dinyatakan dalam hati Yesus yang tertikam di kayu Salib, menimbulkan kasih. Kasih adalah cahaya -, dan pada akhirnya, satu-satunya cahaya – yang dapat selalu menerangi dunia yang meredup dan memberi kita kegigihan yang diperlukan untuk tetap hidup dan bekerja” (Deus Caritas Est, 39). Semua ini membantu kita untuk memahami bahwa tanda dasariah yang membedakan orang-orang Kristiani adalah justru “kasih yang didasarkan pada dan dibentuk oleh iman” (Deus Caritas Est, 7).

2. Amal sebagai kehidupan dalam iman

Seluruh kehidupan Kristiani adalah tanggapan terhadap kasih Allah. Tanggapan pertama justru adalah iman sebagai penerimaan, yang dipenuhi dengan takjub dan syukur, akan prakarsa ilahi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendahului kita dan mengetengahkan kita. Dan “ya” dari iman menandai awal dari sebuah kisah persahabatan yang berseri-seri dengan Tuhan, yang memenuhi dan memberi makna penuh bagi seluruh hidup kita. Tapi itu tidak mencukupi bagi Allah karena kita hanya menerima kasih-Nya yang tanpa syarat. Tidak hanya membuat Ia mengasihi kita, tetapi Ia hendak menarik kita kepada diri-Nya sendiri, untuk mengubah kita sedemikian mendalamnya sehingga membawa kita untuk berkata bersama Santo Paulus : “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (bdk. Gal 2:20).

Ketika kita membuat ruang bagi kasih Allah, maka kita menjadi seperti Dia, berbagi dalam amal milik-Nya. Jika kita membuka diri terhadap kasih-Nya, kita memperbolehkan Dia untuk hidup dalam kita dan membawa kita untuk mengasihi bersama Dia, dalam Dia dan seperti Dia; hanya berlaku demikian iman kita menjadi benar-benar “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6), hanya berlaku demudian Dia tinggal di dalam kita (bdk. 1 Yoh 4:12).

Iman adalah memahami kebenaran dan mematuhinya (bdk. 1 Tim 2:4); amal adalah “berjalan” dalam kebenaran (bdk. Ef 4:15). Melalui iman kita masuk ke dalam persahabatan dengan Tuhan, melalui amal persahabatan ini dihidupkan dan ditumbuhkembangkan (bdk. Yoh 15:14dst). Iman menjadikan kita merangkul perintah Tuhan dan Guru kita; amal memberi kita kebahagiaan mempraktekkannya (bdk. Yoh 13:13-17). Dalam iman kita diperanakkan sebagai anak-anak Allah (bdk. Yoh 1:12dst); amal menjadikan kita bertekun secara nyata dalam keputraan ilahi kita, menghasilkan buah Roh Kudus (bdk. Gal 5:22). Iman memampukan kita untuk mengenali karunia yang telah dipercayakan Allah yang baik dan murah hati kepada kita; amal membuat mereka berbuah (bdk. Mat 25:14-30).

3. Keterkaitan yang tak terpisahkan dari iman dan amal

Dalam terang di atas, jelaslah bahwa kita tidak pernah bisa memisahkan, apalagi dengan sendirinya mempertentangkan, iman dan amal. Kedua keutamaan teologis ini terkait erat, dan adalah menyesatkan untuk menempatkan perlawanan atau “dialektika” di antara mereka. Di satu sisi, akan terlalu sepihak untuk menempatkan penekanan kuat pada prioritas dan ketegasan iman serta merendahkan dan hampir-hampir meremehkan karya amal nyata, mengecilkan karya itu ke paham kemanusiaan yang samar-samar. Di sisi lain, meskipun, sama-sama tidak membantu untuk melebih-lebihkan keunggulan amal dan kegiatan yang dihasilkannya, seakan-akan karya bisa mengambil tempat iman. Bagi kehidupan rohani yang sehat, perlu untuk menghindari baik fideisme maupun aktivisme moral.

Kehidupan Kristiani mencakup secara terus-menerus pendakian gunung untuk berjumpa Allah dan kemudian turun kembali, memberikan kasih dan kekuatan yang diambil dari-Nya, agar supaya melayani saudara dan saudari kita dengan kasih Allah sendiri. Dalam Kitab Suci, kita melihat bagaimana semangat para Rasul untuk mewartakan Injil dan membangkitkan iman orang-orang terkait erat dengan kepedulian mereka yang bersifat amal untuk pelayanan kepada kaum miskin (bdk. Kis 6:1-4). Dalam Gereja, kontemplasi dan aksi, yang dilambangkan dalam beberapa cara oleh tokoh Injil, Maria dan Marta, harus saling berdampingan dan saling melengkapi (bdk. Luk 10:38-42). Hubungan dengan Allah harus selalu menjadi prioritas, dan setiap pembagian harta benda, dalam semangat Injil, harus berakar dalam iman (bdk. Audiensi Umum, 25 April 2012). Kadang-kadang kita cenderung, pada kenyataannya, mengecilkan istilah “amal” untuk solidaritas atau bantuan kemanusiaan belaka. Namun, penting diingat bahwa karya terbesar dari amal adalah evangelisasi, yang adalah “pemerintahan sabda”. Tidak ada tindakan yang lebih bermanfaat – dan karena itu lebih beramal – terhadap salah seorang dari sesama daripada memecahkan roti sabda Allah, berbagi bersama Dia Kabar Baik akan Injil, memperkenalkan Dia kepada hubungan dengan Allah: evangelisasi adalah yang promosi tertinggi dan paling menyeluruh dari pribadi manusia. Sebagai hamba Allah Paus Paulus VI menulis dalam Ensiklik Populorum Progressio, pernyataan akan Kristus adalah penyumbang pertama dan utama bagi pembangunan (bdk. no. 16). Ini adalah kebenaran primordial kasih Allah bagi kita, yang hidup dan dinyatakan, yang membuka hidup kita untuk menerima kasih ini dan memungkinkan pengembangan menyeluruh dari kemanusiaan dan dari setiap orang (bdk. Caritas in Veritate, 8).

Pada dasarnya, segala sesuatu berasal dari Kasih dan cenderung menuju Kasih. Kasih Allah yang tanpa syarat dibuat kenal kepada kita melalui pewartaan Injil. Jika kita menyambutnya dengan iman, kita menerima kontak pertama dan sangat diperlukan dengan Yang Ilahi, mampu membuat kita “jatuh cinta dengan Kasih”, dan kemudian kita tinggal di dalam Kasih ini, kita tumbuh di dalamnya dan kita dengan sukacita mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Mengenai hubungan antara iman dan karya amal, ada bagian dalam Surat Efesus yang mungkin menyajikan catatan terbaik keterkaitan antara keduanya : “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (2:8-10). Dapat dilihat di sini bahwa prakarsa penebusan seluruhnya berasal dari Allah, dari kasih karunia-Nya, dari pengampunan-Nya yang diterima dalam iman; tetapi prakarsa ini, jauh dari pembatasan kebebasan kita dan tanggung jawab kita, sebenarnya adalah apa yang membuat mereka otentik dan mengarahkan mereka menuju karya amal. Ini terutama bukan hasil dari usaha manusia, yang di dalamnya mengandung kebanggaan, tetapi karya amal tersebut lahir dari iman dan karya amal itu mengalir dari kasih karunia yang diberikan Allah dalam kelimpahan. Iman tanpa perbuatan adalah seperti pohon tanpa buah: dua keutamaan saling memaknai. Masa Prapaskah mengundang kita, melalui praktek-praktek tradisional dari kehidupan Kristiani, memelihara iman kita dengan seksama dan memperbesar pendengaran akan sabda Allah serta dengan penerimaan sakramen-sakramen, dan pada saat yang sama bertumbuh dalam amal dan dalam kasih kepada Allah dan sesama, tidak sekedar melalui praktik puasa, pengampunan dosa dan derma.

4. Pengutamaan iman, keunggulan amal

Seperti setiap karunia Allah, iman dan amal memiliki asal mereka dalam tindakan Roh Kudus yang satu dan sama (bdk. 1 Kor 13), Roh dalam diri kita yang berseru “Abba, Bapa” (Gal 4:6), dan membuat kita berkata: “Yesus adalah Tuhan!” (1 Kor 12:3) dan “Maranatha!” (1 Kor 16:22, Why 22:20). Iman, sebagai karunia dan tanggapan, menjadikan kita mengetahui kebenaran Kristus sebagai Kasih yang menjelma dan disalibkan, sebagai ketaatan penuh dan sempurna pada kehendak dan rahmat ilahi yang tak terbatas terhadap sesama; iman tertanam dalam hati dan memikirkan keyakinan teguh bahwa hanya Kasih ini mampu menaklukkan kejahatan dan kematian. Iman mengajak kita untuk melihat ke masa depan dengan keutamaan harapan, dengan pengharapan yang pasti bahwa kemenangan kasih Kristus akan datang kepada penggenapannya. Untuk bagian ini, amal mengantar kita ke dalam kasih Allah yang terwujud dalam Kristus dan menggabungkan kita dalam cara yang bersifat pribadi dan nyata terhadap pemberian diri Yesus yang menyeluruh dan tanpa syarat kepada Bapa serta saudara dan saudari-Nya. Dengan memenuhi hati kita dengan kasih-Nya, Roh Kudus membuat kita mengambil bagian dalam pengabdian Yesus kepada Allah dan pengabdian persaudaraan bagi setiap orang (bdk. Rm 5:5).

Hubungan antara kedua keutamaan ini menyerupai antara dua sakramen dasariah Gereja: Baptis dan Ekaristi. Baptis (sacramentum fidei) mendahului Ekaristi (sacramentum caritatis), tetapi diarahkan kepadanya, Ekaristi menjadi kepenuhan perjalanan Kristiani. Dalam cara yang sama, iman mendahului amal, tetapi iman adalah sejati hanya jika dimahkotai oleh amal. Segala sesuatu dimulai dari penerimaan iman yang sederhana (“mengetahui bahwa manusia dikasihi oleh Allah”), tetapi harus sampai pada kebenaran amal (“mengetahui bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama”), yang tetap untuk selama-lamanya, sebagai pemenuhan semua keutamaan (bdk. 1 Kor 13:13).

Saudara dan saudari terkasih, dalam Masa Prapaskah ini, ketika kita mempersiapkan diri untuk merayakan peristiwa Salib dan Kebangkitan – di dalamnya kasih Allah menebus dunia dan menyorotkan cahayanya di atas sejarah – Saya mengungkapkan kehendak saya sehingga Anda semua dapat menghabiskan waktu berharga ini menyalakan kembali iman Anda dalam Yesus Kristus, agar supaya masuk bersama Dia ke dalam kasih dinamis bagi Bapa dan bagi setiap saudara dan saudari yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Untuk maksud ini, saya memanjatkan doa saya kepada Allah, dan saya memohonkan berkat Tuhan atas setiap orang dan atas setiap komunitas!

Dari Vatikan, 15 Oktober 2012
BENEDIKTUS XVI

(Diambil dari mingguan “HIDUP”)

Pesan Paus Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-47, Jejaring Sosial: Pintu Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi

0

vatikanMenjelang Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun 2013, saya ingin menyampaikan beberapa permenungan mengenai suatu kenyataan yang semakin penting tentang cara manusia sezaman berkomunikasi di antara mereka. Saya ingin mencermati perkembangan jejaring sosial digital yang membantu menciptakan “agora” baru, suatu alun-alun publik tempat manusia berbagi gagasan, informasi dan pendapat, dan yang dalamnya relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru dapat terwujud.

Ruang-ruang tersebut – bila dimanfaatkan secara bijak dan berimbang- membantu memajukan berbagai bentuk dialog dan debat yang, bila dilakukan dengan penuh hormat dan memerhatikan privasi, bertanggungjawab dan jujur, dapat memperkuat ikatan kesatuan di antara individu-individu dan memajukan kerukunan keluarga manusiawi secara berdaya-guna. Pertukaran informasi dapat menjadi komunikasi yang benar, relasi-relasi dapat mematangkan pertemanan, koneksi-koneksi dapat mempermudah persekutuan. Bila jejaring sosial terpanggil untuk mewujudkan potensi besar ini, orang-orang yang terlibat di dalamnya harus berupaya menjadi otentik, karena di dalam ruang itu, orang tidak hanya berbagi gagasan dan informasi, tetapi pada akhirnya orang mengkomunikasikan dirinya sendiri.

Perkembangan jejaring sosial menuntut komitmen: orang melibatkan diri di dalamnya untuk membangun relasi dan menjalin persahabatan, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan mencari hiburan, tetapi juga dalam menemukan dorongan intelektual serta berbagi pengetahuan dan keterampilan. Jejaring sosial semakin menjadi bagian dari tatanan masyarakat sejauh menyatukan orang dengan berpijak pada kebutuhan dasar. Jejaring sosial dengan demikian terpelihara oleh aspirasi yang tertanam dalam hati manusia.

Budaya jejaring sosial dan perubahan dalam sarana dan gaya berkomunikasi membawa tantangan bagi mereka yang ingin berbicara tentang kebenaran dan nilai. Seringkali, sama halnya dengan sarana-sarana komunikasi sosial yang lain, makna dan efektifitas berbagai bentuk ekspresi nampaknya lebih ditentukan oleh popularitasnya ketimbang kepentingan hakiki dan nilainya. Pada gilirannya, popularitas seringkali lebih melekat pada ketenaran ataupun strategi persuasi daripada logika argumentasi. Kadangkala suara lembut dari pikiran dikalahkan oleh membludaknya informasi yang berlebihan dan gagal menarik perhatian pada apa yang disampaikan kepada orang yang mengungkapkan diri secara lebih persuasif. Dengan demikian, media sosial membutuhkan komitmen dari semua orang yang menyadari nilai dialog, debat rasional dan argumentasi logis dari orang-orang yang berusaha keras membudidayakan bentuk-bentuk wacana dan pengungkapan yang menggerakkan aspirasi luhur dari orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Dialog dan debat dapat juga berkembang dan bertumbuh ketika kita berbicara dengan dan sungguh-sungguh menghargai orang-orang yang gagasan-gagasannya berbeda dengan kita. “Mengingat kenyataan keragaman budaya, perlulah memastikan bahwa manusia bukan saja mengakui keberadaan budaya orang lain tetapi juga bercita-cita diperkaya olehnya dan menghargai segala yang baik, benar dan indah“( Pidato pada Pertemuan dengan Dunia Budaya, Belem, Lisabon, 12 Mei 2010).

Tantangan yang dihadapi oleh jejaring sosial adalah bagaimana benar-benar menjadi inklusif: dengan demikian mereka memperoleh manfaat dari peran serta penuh dari orang-orang beriman yang ingin berbagi amanat Yesus dan nilai martabat manusia yang dikemukakan melalui pengajaran-Nya. Kaum beriman semakin menyadari bahwa kalau Kabar Baik tidak diperkenalkan juga di dalam dunia digital, ia akan hilang dalam pengalaman banyak orang yang menganggap ruang eksistensial ini penting. Lingkungan digital bukanlah sebuah dunia paralel atau murni virtual, tetapi merupakan bagian dari pengalaman keseharian banyak orang teristimewa kaum muda. Jejaring sosial adalah hasil interaksi manusia akan tetapi pada gilirannya, ia memberikan bentuk baru terhadap dinamika komunikasi yang membangun relasi: oleh karena itu pemahaman yang mendalam tentang lingkungan ini merupakan prasyarat untuk suatu kehadiran yang bermakna.

Kemampuan untuk menggunakan bahasa baru dituntut, bukan terutama untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup sezaman, tetapi justru untuk memampukan kekayaan tak terbatas dari Injil menemukan bentuk-bentuk pengungkapan yang mampu menjangkau pikiran dan hati semua orang. Di dalam lingkungan digital, perkataan tertulis sering disertai dengan gambar dan suara. Komunikasi yang efektif seperti yang terungkap dalam perumpamaan Yesus memerlukan pelibatan imaginasi dan kepekaan emosional mereka yang ingin kita ajak untuk berjumpa dengan misteri kasih Allah. Di samping itu kita mengetahui bahwa tradisi Kristiani selalu kaya akan tanda dan simbol: Saya berpikir, misalnya, salib, ikon, Patung Perawan Maria, kandang natal, jendela kaca berwarna-warni dan lukisan-lukisan di dalam gereja kita. Suatu bagian bernilai dari khazanah artistik umat manusia telah diciptakan oleh para seniman dan musisi yang berupaya untuk mengungkapkan kebenaran iman.

Dalam jejaring sosial, orang beriman menunjukkan kesejatiannya dengan berbagi sumber terdalam dari harapan dan kegembiraan mereka: iman kepada Allah pengasih dan penyayang yang terungkap dalam Kristus Yesus. Wujud berbagi ini tidak hanya terdiri dari ungkapan iman yang eksplisit, tetapi juga dalam kesaksian mereka, dalam cara mereka mengkomunikasikan “pilihan, preferensi, penilaian yang sungguh sesuai dengan Injil, bahkan bila tidak disampaikan secara eksplisit” (Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia 2011). Suatu cara yang secara khusus bermakna dengan memberikan kesaksian serupa terjadi melalui kerelaan untuk mengorbankan diri kepada orang lain seraya menanggapi pertanyaan dan keraguan mereka dengan sabar dan penuh hormat tatkala mereka mencari kebenaran dan makna eksistensi manusia. Dialog yang berkembang dalam jejaring sosial tentang iman dan kepercayaan menegaskan penting dan relevannya agama di dalam debat publik dan dalam kehidupan masyarakat. Bagi mereka yang telah menerima karunia iman dengan hati yang terbuka, jawaban yang paling radikal akan pertanyaan manusia tentang kasih, kebenaran dan makna hidup- pertanyaan – pertanyan serupa yang tentu tidak absen dari jejaring sosial – ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus. Wajar bahwa mereka yang memiliki iman ingin berbagi dengan orang yang mereka jumpai dalam forum digital dengan rasa hormat dan bijaksana. Namun pada akhirnya, jika upaya kita untuk berbagi Injil menghasilkan buah yang baik, hal itu selalu dikarenakan oleh kekuatan sabda Allah itu sendiri yang menyentuh hati banyak orang mendahului segala usaha dari pihak kita. Percaya pada kekuatan karya Allah harus selalu lebih besar daripada kerpecayaan apa saja yang kita letakan pada sarana-sarana manusia. Dalam ruang lingkup digital, juga, di mana suara yang tajam dan memecahbelah dibesar-besarkan dan di mana sensasionalisme menang, kita diundang untuk berlaku arif, penuh kehati-hatian. Dalam hal ini hendaklah kita ingat bahwa Eliyah mengenal suara Allah tidak dalam angin yang besar dan kuat, tidak melalui gempa bumi dan api tetapi dalam hembusan angin sepoi-sepoi” (1 Raj 19:11-12). Kita perlu percaya bahwa kerinduan mendasar manusia untuk mengasihi dan dikasihi dan untuk menemukan makna dan kebenaran -sebuah kerinduan yang Allah sendiri tanamkan dalam hati setiap laki-laki dan perempuan- menetap di zaman kita ini, selalu dan setidak-tidaknya terbuka kepada apa yang Beato Kardinal Newmann sebut ‘cahaya ramah’ dari iman.

Jejaring sosial, dengan menjadi sarana Evangelisasi dapat juga menjadi faktor dalam pembangunan manusia. Sebagai contoh, dalam konteks geografis dan budaya di mana orang Kristiani merasa terisolasi, jejaring sosial dapat memperkuat rasa kesatuan nyata dengan komunitas kaum beriman di seluruh dunia. Jejaring sosial mempermudah orang berbagi sumber-sumber rohani dan liturgi, menolong orang untuk berdoa dengan perasaan kedekatan bersama mereka yang mengaku iman yang sama. Suatu keterlibatan yang sejati dan interaktif dengan pertanyaan dan keraguan dari mereka yang berada jauh dari iman seharusnya membuat kita merasa perlu untuk memelihara iman kita melalui doa dan permenungan, iman akan Allah serta amal kasih kita: “Walaupun saya berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi apabila aku tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor 13:1)

Di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah. Akan tetapi jejaring sosial itu dapat juga membuka pintu terhadap dimensi lain dari iman. Banyak orang benar-benar menemukan, tepatnya berkat kontak awalnya di internet, pentingnya pertemuan langsung, pengalaman komunitas-komunitas dan bahkan peziarahan, unsur-unsur yang senantiasa penting dalam perjalanan iman. Dalam upaya untuk membuat Injil hadir dalam dunia digital, kita dapat mengundang orang untuk datang bersama-sama untuk berdoa dan perayaan liturgi di tempat-tempat tertentu seperti gereja dan kapel. Seharusnya tidak kekurangan kebersamaan atau kesatuan dalam pengungkapan iman kita dan dalam memberikan kesaksian tentang Injil di dalam realitas apa saja di mana kita hidup entah itu fisik atau digital. Kita kita berada bersama orang lain, selalu dan dengan cara apapun, kita dipanggil untuk memperkenalkan kasih Allah hingga ujung bumi.

Saya berdoa agar Roh Allah mendampingi dan senantiasa menerangi kamu, dan dengan segenap hati saya memberkati kamu sekalian, agar kamu benar-benar mampu menjadi bentara-bentara dan saksi-saksi Injil. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada segala mahkluk” (Mrk 16:15)

Vatikan, 24 Januari 2013

Pesta Santo Frasiskus de Sales

BENEDIKTUS XVI

Diterjemahkan oleh KWI. Link di www.mirifica.net

Tentang Teori Manusia Purba

7

Sejak Charles Darwin meluncurkan bukunya The Origin of Species di tahun 1859, paham tentang evolusi berkembang. Pemikiran Darwin dianggap sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan tentang evolusi, bahwa terbentuknya berbagai kelompok organisme adalah dari perubahan secara terus menerus dari kelompok organisme lain yang lebih rendah/ sederhana. Banyak orang tidak menyadari bahwa teori Darwin ini masih menantikan bukti -bukti dari fakta penemuan fosil. Sebab sejauh ini, bukti fosil menunjukkan sebaliknya: mayoritas fosil menunjukkan keadaan yang: 1) statis: bahwa species tidak menunjukkan perubahan ciri yang signifikan semasa hidupnya di dunia, dan 2) kemunculan yang tiba-tiba: species tidak muncul secara bertahap melalui perubahan yang  terus menerus, namun muncul secara tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna (lih. Stephen J Gould, The Panda’s Thumb, 1980, p. 181-182).

Namun demikian, kini di banyak buku sains, evolusi disajikan seolah-olah sudah menjadi suatu fakta, bahkan dengan menampilkan gambar-gambarnya. Termasuk juga gambaran peralihan dari semacam kera menjadi manusia (umum disebut: manusia purba), yang salah satunya konon bahkan ditemukan di pulau Jawa di tahun 1891, sehingga disebut Java man atau Pithecanthropus erectus. Namun di balik klaim penemuan-penemuan tersebut, terlihat adanya keterlibatan asumsi sang peneliti, sehingga dapat terjadi klaim penemuan seorang ilmuwan kemudian dibantah oleh ilmuwan yang lain, atau bahkan dikoreksi sendiri oleh sang penemu. Sayangnya, hal ini nampaknya tidak diketahui secara meluas oleh publik, sehingga klaim penemuan fosil manusia purba sepertinya sudah dianggap sebagai bukti kunci yang mendukung teori evolusi.

Tulisan berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi referensi ilmiah untuk menumbangkan argumen tentang manusia purba, sebab ada atau tidaknya manusia purba tidak mempengaruhi ajaran iman Katolik. Sebab meskipun suatu hari, fosil manusia purba secara meluas ditemukan di seluruh bumi, hal ini tidak menumbangkan prinsip ajaran iman Kristiani, bahwa Allahlah yang menciptakan manusia. Tidak masalah, jika ilmu pengetahuan dapat membuktikan secara meyakinkan, bahwa memang terjadi proses evolusi tersebut, sepanjang diakui adanya campur tangan sang “Intelligent Designer” (yaitu Allah) dalam proses peralihan itu. Sebab hanya oleh campur tangan Allahlah dapat terbentuk tubuh manusia yang sempurna untuk disatukan dengan jiwa manusia yang langsung diciptakan oleh Tuhan. Seleksi alam tidak mungkin menjelaskan proses peralihan yang terjadi secara drastis antara kera dan manusia, sebab menurut perhitungan matematis dibutuhkan waktu yang hampir tak terhingga, untuk perubahan karena seleksi alam itu, dan hal ini yang tidak cocok dengan kenyataan. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)

Sekarang pertanyaannya, mengapa sejauh ini Gereja tidak menyetujui teori makro-evolusi Darwin? Sekilas tentang hal itu, sudah pernah dibahas di artikel Hubungan Evolusi dengan Iman, klik di sini. Sekarang, mari kita melihat sekilas beberapa klaim tentang manusia purba:

1. Piltdown Man

Fosil ini ditemukan di Piltdown tahun 1912 oleh Charles Dawson, Arthur Smith Woodward dan Fr. Teilhard de Chardin. Dikatakan bahwa pertama kali yang ditemukan adalah bagian atas tengkorak manusia dan di dekatnya, rahang yang menyerupai rahang kera, namun gigi gerahamnya hilang. Gigi tersebut konon ditemukan 8 bulan sesudahnya, dan sesudah itu diperolehlah gambaran tentang Piltdown man. Seorang anthtropologis terkemuka pada zaman itu, Marcellin Boule, meragukan penemuan itu. Konon di tahun 1915 ditemukan kembali fosil serupa di radius 2 mil dari Piltdown, dan Piltdown man dianggap sebagai manusia Inggris purba, yang hidup sekitar 500,000 tahun yang lalu (prediksi ini kemudian terus turun sampai hanya 500 tahun yang lalu).

Piltdown man ini diyakini sebagai kebenaran selama 40 tahun, sebelum kemudian terbukti sebagai penipuan. Sebab ternyata tengkorak itu milik manusia modern, dan rahang kera itu ternyata milik kera yang belum lama mati. Gigi yang dipasangkan pada rahang  menunjukkan adanya tanda abrasif (tanda dikikis), dibuat agar menyerupai gigi manusia.

Piltdown man dinyatakan sebagai palsu/ forgery, hal ini ditulis di the New York Times, 21 November 1953, “Piltdown Man Hoax is Exposed.”

2. Australopithecines

Australopithecines ditemukan di Afrika tahun 1924, oleh Dr. Raymond Dart, dan dilanjutkan oleh Robert Broom dan J.T. Robinson. Australopithecines digambarkan sebagai mahluk yang berahang besar, ber-otak kecil, tinggi 4 kaki, berjalan menyerupai manusia, seolah merupakan mahluk yang kemudian ber- evolusi menjadi manusia. Namun kenyataannya, bukti fosil species ini sangatlah sedikit. Tak jarang hasil rekonstruksi tulang ini diperoleh dari “preconceived idea” dari ilmuwan yang meneliti, agar cocok dengan teori evolusi. Tahun 1954, Solly Zuckerman (Chief Scientific Advisor pemerintah Inggris), yang mengadakan penyelidikan semua fosil tulang ini mengumumkan hasil studinya, bahwa fosil binatang tersebut tidak menunjukkan bukti sebagai sesuatu yang kemudian ber-evolusi menjadi manusia. Tahun 1975, Dr. Charles Oxnard dari Chicago University mengumumkan hasil studinya, bahwa Australopithecines berbeda dari manusia dan dari kera modern, dan lebih menyerupai orangutan.

Fosil manusia purba yang serupa konon juga ditemukan di Afrika tahun 1950, oleh Dr. Louis Leakey dan istrinya. Ditemukan 400 bagian tulang, yang kemudian direkonstruksikan menjadi tengkorak. Rahang yang hilang ditambahkan berdasarkan atas penemuan rahang di tempat lain oleh anaknya. Hasilnya disebut sebagai manusia purba Zinjanthropus atau Zinj, yang diperkirakan hidup 1.75 juta tahun yang lalu. Namun kemudian, klaim ini dikoreksi oleh Leakeys sendiri, dengan mengatakan bahwa Zinj ternyata bukan manusia, namun hanya sejenis hewan Australopithecines.

Di tahun 1964, Dr. Leakey kemudian mengajukan kandidat lain yaitu Homo habilis, dengan tulang-tulang dan kapasitas tengkorak 670cc yang dianggap lebih menyerupai manusia. Namun berdasarkan bukti yang sedikit itu, banyak kaum evolutionists tidak sepaham dengan pandangan Dr. Leakey. Sebab saat itu telah berkembang ide urutan evolusi manusia, dari Australopithecines, Homo habilis, Homo erectus menuju ke Homo sapiens. Urutan ini dikacaukan dengan hasil penemuan Dr. Leakey yang melaporkan bahwa ia menemukan fosil Australopithecines, Homo habilis dan Homo erectus dalam jangka waktu yang sama di Bed II, Olduvai Gorge. Beberapa hari sebelum Dr. Louis Leakeys wafat, anaknya, Richard Leakeys, menunjukkan penemuan fossil tengkorak ER 1470, yang nampaknya mendukung perkiraan ayahnya bahwa genus Homo mempunyai sejarahnya sendiri, dan bukan turunan dari Australopithecines.

3. Java Man

Java man yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus, ditemukan tahun 1891 oleh Dr. Eugene Dubois di Trinil, Jawa. Tahun 1895, Dubois kembali ke Eropa dan menunjukkan fosil temuannya di International Congress of Zoologists: sebuah tengkorak dengan gigi yang nampaknya milik seekor kera; dan fosil yang ditemukannya setahun kemudian (1892) berjarak 50 feet dari temuan pertama, yaitu tulang paha yang mirip tulang manusia. Dubois menyimpulkan bahwa keduanya adalah milik satu species yang sama, atas dasar asumsi bahwa manusia purba tersebut baru saja berpindah ke Jawa. Demikianlah terbentuk rekonstruksi Java man (Pithecanthropus erectus).

Namun kisah ini menyimpan misteri. Sebab 30 tahun kemudian (1921) terjadi fakta yang cukup mencengangkan, sebab ternyata Dubois masih menyimpan dua tengkorak manusia (dikenal dengan nama Wadjak skulls) yang menunjukkan tengkorak manusia yang sesungguhnya. Maka artinya manusia (real man) sudah hidup bersama-sama dengan Java man (manusia purba/ ape-man) di Jawa di jangka waktu yang sama. Marcellin Boule, seorang ahli fosil (paleontologist) yang mempunyai otoritas pada saat itu, menolak Java man, dan mengatakan bahwa fosilnya adalah milik seekor gibbon atau kera. Akhirnya, di tahun 1938, Dr. Dubois sendiri merevisi pernyataannya tentang Java man, dengan mengatakan bahwa setelah penyelidikan yang panjang akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa temuannya itu adalah gibbon raksasa. Namun para evolutionists tetap menempatkan Java man dalam rantai evolusi manusia, dalam klasifikasi Homo erectus.

4. Peking Man

Dr. Davidson Black di tahun 1914 membantu dalam penemuan Piltdown man. Tahun 1926 Piltdown man masih diakui di Inggris. Black kemudian ditugaskan ke China untuk meneliti fosil di sana, ia dibantu oleh Dr. Pei dan Fr. Teilhard de Chardin. Tahun 1927, Black menemukan sebuah gigi geraham, yang diyakininya sebagai milik mahluk separuh kera dan separuh manusia, yang diberi nama Sinanthropus pekinensis, atau, Peking man. Menarik untuk disimak, bahwa kesimpulan akan adanya species ini didasari hanya oleh sebuah gigi.

Tahun 1929, ditemukan fosil menyerupai tengkorak yang konon menyerupai tengkorak kera yang besar. Teilhard yang saat itu membantu Black mengatakan bahwa temuan itu menyerupai tengkorak kera yang besar. Namun Black kemudian membuat rekonstruksi tengkorak itu, berdasarkan rekaannya sendiri (bukan berdasarkan atas cast dari tengkorak yang ditemukan itu) dan terciptalah gambar Sinathropus.  Cara rekonstruksi yang sedemikian ditentang oleh para ahli fosil lainnya yaitu Fr. Patrick O’Connell dan Malcolm Bowden yang sama-sama meneliti Peking man. Menurut gambaran itu, kerangka otaknya adalah 960 cc (yang termasuk ukuran otak manusia), jauh melampaui kapasitas tengkorak kera yang dilaporkan oleh Teilhard. Di samping itu, terdapat hal yang mencurigakan sehubungan dari lokasi ditemukannya fosil itu. Di lokasi ditemukan dua tingkat tumpukan abu yang luar biasa besar. Panjangnya seukuran panjang lapangan sepak bola, lebarnya setengah lapangan sepak bola dengan tinggi dua lantai bangunan. Di tumpukan itu terkandung pecahan tengkorak kera, namun hampir tidak ada tulang-tulang kera lainnya yang dapat membuktikan postur tubuh. Namun dari fakta ini, Black dan Teilhard menyimpulkan bahwa yang ditemukan adalah fosil manusia kera yang tinggal di gua-gua, yang berjalan tegap seperti manusia. Padahal karena banyaknya tumpukan abu itu, tak semuanya sempat diperiksa ataupun diidentifikasi.

Di tahun 1931, seorang arkeolog dan anthropolog terkemuka di dunia saat itu, Prof. Breuil, mengunjungi lokasi. Ia melihat fosil itu, dan bertanya-tanya apakah mungkin hanya dari tengkorak kera dapat dihasilkan sisa fosil sebanyak itu. Sekembalinya ke Perancis, Prof. Brueil menerbitkan artikel yang kontroversial, berdasarkan pengamatannya. Ia menyebutkan bahwa bukti yang disebut “traces of fire” itu sebenarnya adalah sisa dari tungku api yang besar yang terus menyala dalam waktu yang panjang. Tumpukan abu berasal dari pembakaran batu yang dibawa ke lokasi. Di tumpukan abu itu, selain terdapat sisa tengkorak kera, terdapat juga fosil tulang manusia modern. Maka Prof. Breuil memperkirakan fosil manusia tersebut berasal dari orang-orang yang bekerja di industri batu kapur tersebut, berkaitan dengan pembangunan kota tua Cambaluc/Cambriolet dekat Peking. Namun Black, Teilhard dan Pei tidak memperhitungkan penemuan Brueil. Mereka tidak menyampaikan adanya keberadaan industri tersebut dalam buku mereka, “Fossil man in China“.

Bagaimana dengan temuan tengkorak-tengkorak monyet yang tercampur dalam abu itu? Marcellin Boule, yang mengunjungi lokasi dan memeriksa tumpukan fosil itu mengemukakan bahwa sisa tengkorak kera itu kemungkinan adalah sisa makanan dari para buruh yang bekerja di industri tersebut (mengingat bahwa orang Cina memang mengkonsumsi otak monyet -dijadikan sup- sebagai makanan). Namun, pandangan Boule tidak sesuai dengan pandangan para evolutionists dan media pada saat itu, yang berkepentingan untuk menemukan missing link bagi evolusi manusia. Oleh karena pandangannya, Boule dikecam oleh para evolutionists. Penggalian terus berlangsung sampai tahun 1934, sampai akhirnya memang ditemukan fosil tulang-tulang manusia modern yang mati akibat tanah longsor. Fosil tersebut dibawa kepada Dr. Black untuk diperiksa. Di salah satu hari tersebut di bulan Maret 1943, Black ditemukan wafat di antara fosil tulang-tulang manusia tersebut.

Teilhard menulis surat ke Perancis dan melaporkan tentang keberadaan tengkorak dan tulang-tulang manusia itu, walaupun anehnya, tiga tahun kemudian ia mengirimkan laporan kedua yang menyatakan bahwa tidak ditemukan jejak tulang manusia yang sesungguhnya. Posisi Black kemudian digantikan oleh Prof. Weidenrieich, yang menerbitkan laporan 5 tahun kemudian tentang penemuan sisa tulang-tulang manusia di lokasi tersebut, termasuk foto-fotonya.

Namun kemudian secara misterius semua fosil Peking man menghilang. Ada beberapa dugaan: 1) Fosil ini dibawa oleh kapal Amerika setelah perang; 2) atau dihancurkan oleh Jepang yang menjajah Cina; 3) Dr. Pei, seorang peneliti berkebangsaan Cina yang membantu Black dan Teilhard menghancurkan bukti ini. Fr. O’Connel menulis, “Maka tengkorak-tengkorak tersebut dihancurkan sebelum pemerintah Cina kembali ke Peking untuk menghilangkan bukti penipuan dalam skala besar itu. Setelah pemerintah komunis mengambil alih pemerintahan, Dr. Pei menggunakan model Peking man untuk mengajar bangsa China, bahwa mereka berasal dari kera.

5. Skull 1470

Perubahan besar terjadi di tahun 1972. Richard Leakey, anak Dr. Leakey, menemukan tengkorak dan beberapa tulang kaki di Kenya, dan menamai tengkorak tersebut, Skull 1470. Kapasitas otaknya 800 cc, batas ter-rendah untuk Homo sapiens. Leakey mengklaim tengkorak itu milik manusia, yang hidup sekitar 2.8 juta tahun yang lalu.

Klaim ini mengakibatkan krisis: bagaimana tengkorak dan tulang yang termasuk dalam katagori manusia dapat ditemukan di zaman yang lebih purba daripada zaman moyang manusia? (Sebab zaman Australopithecus yang dianggap moyang manusia yang lebih tua, berasal dari 1.75 juta tahun lalu). Jika benar, maka penemuan Skull 1470 menggagalkan kesimpulan semua penemuan manusia purba sebelumnya.

6. Ramapithecus

Maka mata rantai moyang yang tak terpengaruh oleh penemuan Skull 1470 adalah Ramapithecus. Sebelum ditemukan Skull 1470, species ini tidak penting, sebab dianggap terlalu jauh di masa lalu, sekitar 11 juta tahun lalu. Namun, dengan ditemukannya Skull 1470, Ramapithecus menjadi satu-satunya penghubungan manusia dengan moyang kera, menurut teori evolusi.

Namun bukti bagi keberadaan Ramapithecus sangatlah sedikit: pecahan tulang rahang dan gigi yang seluruhnya dapat dimasukkan dalam kotak rokok. Karena begitu sedikitnya, maka dapat disusun dan diperkirakan entah sebagai kera atau manusia, tergantung dari kecondongan penelitinya. Sangatlah sulit dibayangkan bahwa para ahli menerima keberadaan Ramapithecus hanya dengan bukti rahang dan sedikit gigi. Belum lagi penemuan fossil menunjukkan bahwa di masa yang sama diperoleh fosil kera (baboons) di Ethiopia, dengan rahang dan gigi yang mirip dengan yang dimiliki Ramapithecus, sehingga species ini dapat digolongkan sebagai kera, daripada hominid. Tak heran, G.E Lewis, penemu fosil Ramapithecus ini tidak menganggap temuannya sebagai moyang manusia.

Penemuan penting lainnya terjadi tahun 1978, ketika David Pilbeam menemukan tulang rahang yang lengkap dari Ramapithecus, yang memang menunjukkan golongan kera. Pilbeam mengatakan bahwa temuan ini dan data-data lainnya menunjukkan bahwa kisah tentang asal usul manusia membutuhkan pemikiran kembali.

7. Laetoli (Tanzania)

Tahun 1974, istri Dr. Leakey, Mary Leakey, yang juga seorang paleontologist, menemukan fosil rahang mirip rahang manusia, yang menurutnya berumur 3.5 juta tahun. Tahun 1976, ia juga menemukan jejak kaki manusia modern di debu volkanis yang membatu, juga berumur 3.5 juta tahun. Fakta ini membuat para evolutionists bertanya-tanya, mengapa dapat terjadi, ada jejak manusia modern di atas batu yang usianya sangat purba.

8. Hadar (Ethiopia)

Tahun 1974, Dr. Donald Johanson dan Dr. Maurice Taieb menemukan bagian-bagian dari tulang rahang bawah, sebagian rahang atas, dan rahang atas dengan 16 gigi. Mereka mengklasifikasikan specimen sebagai manusia, yang hidup 4 juta tahun yang lalu.

Tahun 1975, Johanson menemukan sisa dua orang anak dan 4 atau 5 orang dewasa, dan menyebutnya sebagai keluarga pertama dari manusia zaman awal. Foto-foto sisa tulang menggambarkan tulang tangan yang menyerupai tangan manusia, rahang yang berbentuk U bukan V seperti milik Austraopithecines. Maka diyakini specimen tersebut sebagai fosil manusia, dari zaman 3.5 juta tahun yang lalu.

Di tahun yang sama, Johanson menemukan temuan baru, hampir setengah dari keseluruhan tulang, dan memperkirakannya berasal dari 3 juta tahun yang lalu. Ia menamai temuannya, Lucy. Ia yakin bahwa Lucy adalah kera, tingginya kurang dari 4 kaki, rahang bawahnya berbentuk V, seperti yang ada pada Australopithecus. Namun nampaknya para ilmuwan tidak sepakat tentang apakah Lucy dapat berjalan tegak seperti manusia. Majalah Time melaporkan bahwa Lucy berjalan tegak, sedangkan Dr. Owen Lovejoy mengatakan bahwa lutut Lucy jelas menunjukkan lutut kera, yang jauh berbeda dengan lutut manusia, sehingga tidak dapat dipastikan bahwa Lucy dapat berjalan tegak.

Maka di sini terjadi perbedaan pendapat antara Leakeys, Johanson dan Taieb tentang specimen temuan mereka, yaitu apakah temuan mereka yang pertama dan kedua itu termasuk katagori manusia (Homo) di masa 3.5 sampai 4 juta tahun lalu, sedangkan Lucy yang termasuk kera/ Australophitecus berasal dari zaman yang lebih akhir dari zaman Homo tersebut (yaitu 3 juta tahun lalu).

9. The Koobi Fora Skulls

Di tahun 1975 Richard Leakey menemukan tengkorak yang hampir lengkap di Koori Fora, dekat dengan di mana ia menemukan Skull 1470. Ia mengatakan bahwa tengkorak ini menyerupai Homo erectus (seperti Java man dan Peking man) dengan kapasitas otak 900 cc, yang hidup 1-1.5 juta tahun yang lalu. Maka ia menurunkan tingkatan Skull 1470 dalam golongan Homo habilis.  Selanjutnya, Richard Leakey mengajukan proposal “Pohon manusia”, yang dimulai dari Homo habilis, Homo erectus dan kemudian berevolusi ke Homo sapiens.

10. Afarensis

Pada tahun 1979, atas pengaruh Dr. Tim White, Johanson mengubah klasifikasi temuan sebelumnya, yang tadinya ia golongkan sebagai manusia (Homo), menjadi sejenis Lucy (Australopithecus), yang kemudian ia beri nama Afarensis. Afarensis ini dijadikannya orang tua bersama dari kedua cabang turunan: 1) Australopithecines: yaitu Africanus, Robustus, Boisei (atau Zijanthropus); 2) Homo habilis, Homo erectus, Homo sapiens. Baik Richard maupun Mary Leakey menolak kesimpulan ini, demikian pula beberapa ahli lainnya. Nyatanya, penemuan fosil selanjutnya merusak status Afarensis dan semua yang lain.

11. Boisei (atau Zijanthropus)

Di bulan Juli 1986, teman sejawat Richard Leakey yaitu Dr. Alan Walker menemukan Australopithecus boisei yang diperkirakan hidup 2-2.5 juta tahun yang lalu, dan umur ini hampir sama dengan Lucy (1.75 juta tahun lalu). Artinya: 1) Boisei tidak mungkin merupakan turunan dari Afarensis (Lucy), karena jangka waktu hidup mereka tak berbeda jauh untuk memberi jangka waktu evolusi; 2) Jika demikian, Africanus dan Robustus juga bukan turunan dari Afarensis; 3) Afarensis menjadi tidak penting, hanya merupakan salah satu dari jenis Australopithecines, tanpa diketahui siapa moyangnya; 4) Moyangnya Homo habilis juga tidak diketahui, sebab ia berasal di zaman waktu yang sama dengan Australopithecines; 5) Rangkaian “hominid evolution” menjadi terhapus.

Dalam majalah Discover (September 1986) terpampang gambar tengkorak Boisei dengan tulisan, “Tengkorak istimewa berumur 2.5 juta tahun yang ditemukan di Kenya telah menjungkirbalikkan semua gambaran tentang evolusi manusia purba. Kita tidak lagi tahu siapa melahirkan siapa -mungkin juga bahkan tidak tahu bagaimana, atau kapan, kita terbentuk [sebagai manusia].” Evaluasi ini disusun oleh paleontologist Pat Shipman, istri Alan Walker yang menemukan specimen tersebut (p. 86-93). Shipman mengatakan bahwa tidak ada cukup waktu bagi Afarensis untuk ber-evolusi menurunkan empat turunan hominid yang berbeda. “… Faktanya, kita bahkan tidak tahu seperti apakah species moyang yang kita cari… Seperti gempa bumi, tengkorak baru ini meruntuhkan bagan [evolusi] yang sudah teratur ini menjadi hipotesa baru yang janggal dan runcing.” (p.92)

12. Homo habilis

Kontroversi tentang Homo habilis dimulai sejak 1960, saat ia ditemukan oleh D.r Louis Leakey. Dengan kapasitas otak 650 cc status Homo diperdebatkan, sebab sejumlah ahli menggolongkannya sebagai Australopithecines. Saat menemukan Skull 1470 dengan kapasitas otak 800 cc, Richard Leakey menyatakannya sebagai fossil manusia, namun 5 tahun kemudian, ia dan temannya Alan Walker menurunkan klasifikasinya, hanya mereka tidak sepakat di tingkatan yang mana. Di majalah Scientific American (Agustus 1978) di hal 54, mereka menyatakan, “Kami sendiri tidak  sepakat tentang klasifikasi KNM-ER 1470. Satu di antara kita (Leakey) cenderung menempatkannya di genus Homo, sedangkan yang lain (Walker) di golongan Australopithecus.” Semua ini menambah peliknya Homo habilis, tanpa kejelasan mata rantai sebelumnya ataupun sesudahnya.

13. Homo erectus

Sebelumnya di sini termasuk Java man dan Peking man, namun keduanya sudah dianggap palsu. Di tahun 1975, Richard Leakey memasukkan fosil yang ditemukannya di Koobi Fora sebagai Homo erectus (KNM-ER 3733), dengan kapasitas otak 850/900 cc. Demikian juga temuan berikutnya (KNM-ER 3883). Namun Dr. Duane Gish mengatakan bahwa adalah mungkin, fosil- fosil tersebut yang digolongkan sebagai Homo erectus, sesungguhnya adalah Neanderthal man. Mereka digolongkan sebagai Homo erectus karena dianggap terlalu tua bagi Neanderthal man. (lih. Surat Dr. Gish kepada A.W Mehlert di Brisbane, 24 Maret 1978). Fakta ini menunjukkan bahwa penentuan klasifikasi ditentukan oleh suatu kriteria yang telah dibuat terlebih dahulu, sedangkan kriteria yang menjadi acuannya itu sendiri nampaknya tidak disepakati oleh semua ilmuwan.

14. The Boy

The Boy (milik seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun) ditemukan tahun 1984 oleh Richard Leakey dan Alan Walker. Ia ditemukan di Kenya, di lapisan debu vulkanis di zaman 1.6 juta tahun lalu. Konon, ini adalah temuan tulang-tulang yang paling lengkap yang pernah ditemukan sebagai moyang manusia. Walker mengatakan, “Ia (the Boy) kelihatan mirip sekali dengan manusia. Saya tak yakin apakah ahli patologi akan dapat melihat perbedaannya dari manusia modern…. ia  kelihatan sangat mirip dengan Neanderthal.The Washington Post menuliskan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang di zaman kuno mempunyai tubuh yang sesungguhnya tidak dapat dibedakan dengan tubuh kita sekarang (19 Oktober 1984, p. A1, A11). Ini adalah suatu pernyataan yang tidak mendukung bahwa terjadi evolusi dalam waktu 1.6 juta tahun, jika sejak zaman itu-pun mereka sudah mempunyai struktur tubuh seperti kita sekarang.

15. The Talgai Skull

Talgai Skull ditemukan di Queensland tahun 1886, dilaporkan di kongres sains di Sydney tahun 1914, namun baru dikemukakan kembali di tahun 1948, ketika N.W.G MacIntosh memeriksanya kembali. Science News (April 20, 1968, p. 381) menulis bahwa karena ciri-cirinya, “The Talgai Skull dimasukkan dalam katagori Homo erectus … namun fosil itu adalah milik seorang anak laki-laki Aborigin yang berusia 14 tahun, yang hidup dan mati sekitar 13,000 tahun yang lalu, [yang menurut klasifikasi jangka waktu], termasuk golongan Homo sapiens…. Penemuan ini menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens dapat merupakan species yang sama.”

16. Kow Swamp

Beberapa tahun setelah laporan tentang Talgai skull diterbitkan, A.G. Thorne dan P.G. Macumber menemukan sisa fosil tulang 30 orang di Kow Swamp, Victoria, Australia. Maka tahun 1972, Nature (238:316) memberikan detail penemuan itu, dan menuliskan bahwa fosil itu menunjukkan sisa tulang manusia, namun juga menunjukkan ciri tengkorak zaman purba, sehingga menunjukkan bahwa Homo erectus bertahan di Australia sampai sekitar 10,000 tahun yang lalu. Dengan bukti penemuan ini, Dr. Gish menyimpulkan bahwa tulang-tulang Homo erectus dapat saja serupa dengan tulang-tulang manusia di Kow Swamp. Memang dalam hal ini masih terdapat perbedaan pendapat dari antara para ahli, sebab jika dibandingkan dengan tulang-tulang manusia modern, tulang-tulang Kow Swamp memiliki kemiripan dengan Homo erectus, namun menurut para ahli lainnya, tulang-tulang ini masih berada di luar batas katagori Homo erectus. Keadaan ini tidak dengan tuntas menjelaskan bahwa dimungkinkan terjadinya percampuran variasi, dan bahwa klasifikasi yang ditentukan oleh para ilmuwan itu sendiri mengambil acuan dari sesuatu yang belum tentu pasti benar, sebab ciri acuan Homo erectus yaitu Java man dan Peking man, sesungguhnya menyimpan misteri akan keterlibatan adanya hipotesa, bahkan rekayasa.

17. The Castenedolo Skull, Cambrian fossil, Texan fossil

Adalah relevan untuk mengingat dua penemuan ini, yang sepertinya diabaikan, karena tidak sesuai dengan teori evolusi Darwin. The Castenedolo Skull ditemukan oleh Prof. Ragazzoni di tahun 1860 di Italia, di strata Pliocene, yang menurut klasifikasi waktu para evolutionist berasal dari zaman 5.3 juta (bahkan ada yang mengklasifikasikannya 15 juta tahun) sampai 2.5 juta tahun yang lalu. Fosil ini menunjukkan tengkorak manusia modern. Melihat fakta ini, orang yang netral (tidak mempunyai pra-konsepsi teori evolusi) akan dapat menerima bahwa manusia dengan kerangka tubuh seperti sekarang, sudah ada sejak zaman dulu kala. Namun memang hal ini tidak dengan mudah diterima oleh mereka yang sudah sejak awal mempunyai pra-konsepsi tentang evolusi. Dengan pra-konsepsi evolusi, tak mengherankan, mereka mengabaikan temuan ini, atau memperdebatkan data geologisnya untuk menghubungkan temuan fosil itu dengan zaman yang lebih modern.

Namun sesungguhnya ada lagi fakta yang juga lebih kuat menentang evolusi. Penemuan fosil di bebatuan Cambrian di Utah, Amerika Serikat (diperkirakan berasal dari 400 juta tahun), di tahun 1969, juga menunjukkan jejak tapak kaki manusia, dengan ukuran manusia modern. Penemuan berikutnya adalah beratus-ratus jejak kaki manusia yang ditemukan di antara jejak Dinosaurus di Paluxy River, Glen Rose, Texas, yang berasal dari bebatuan Cretaceous (sekitar 100 juta tahun lalu).

Melihat kenyataan ini, tidaklah dapat dikatakan bahwa semua ahli sepakat tentang teori evolusi, ataupun teori manusia purba yang dianggap sebagai penghubung manusia dengan moyangnya yaitu kera. Maka adalah fakta, bahwa tak semua paleontologist setuju bahwa penemuan fosil mendukung teori evolusi:

“Kemunculan yang tiba-tiba dari jenis-jenis organisme tertentu yang beradaptasi, sebagaimana terlihat dari penampakan yang tiba-tiba dari rekaman fosil dari keluarga species dan kelompok, terus menerus memberikan masalah [bagi teori evolusi]…. Sedikit paleontolog bahkan dewasa ini berpegang pada ide bahwa jeda (gaps) ini akan tertutup dengan pengumpulan penemuan-penemuan selanjutnya, yaitu bahwa temuan-temuan itu adalah hasil sample yang terjadi secara kebetulan. Tetapi kebanyakan [dari mereka] menganggap diskontinuitas ini sebagai sesuatu yang nyata, dan telah mencari penjelasan tentang hal-hal itu. (D. Dwight Davis, Genetics, Paleontology, and Evolution, Princeton University Press, 1949, p. 74.)

“Tak peduli seberapa jauh kita kembali ke rekaman fosil tentang kehidupan binatang di masa silam di dunia, kita tidak akan menemukan jejak bentuk binatang yang merupakan peralihan antara bermacam grup species …. Kelompok-kelompok binatang major [seperti kelompok serangga, ikan, amfibi, reptil, burung, mamalia, dst] tidak bercampur antara satu dengan lainnya. Mereka adalah tetap dan telah tetap (fixed) sejak awal…. Tak ada binatang yang diketahui bahkan dari bebatuan yang paling awal, yang tidak dapat langsung diklasifikasikan dalam kelompok organisme yang major tersebut.” (Dr. A.H. Clark, The New Evolution, Zoogenesis, Williams and Wilkinds, Baltimore, 1930, p. 129f.)

“Maka kita melihat bahwa rekaman fosil, sejarah aktual dari kehidupan binatang di dunia, meneguhkan asumsi bahwa pada saat kemunculan pertama kehidupan binatang secara umum pada dasarnya sama dengan apa yang sekarang kita ketahui … Tak ada bukti sekecil apapun bahwa suatu kelompok organisma tertentu berasal dari kelompok lainnya. (Dr. A. H. Clark, Quarterly Review of Biology, Dec., 1928., p. 539.)

Gereja Katolik melihat pandangan-pandangan ilmuwan ini sebagai beberapa hipotesa dari segi sains untuk menjelaskan tentang asal usul manusia. Gereja meyakini bahwa tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan iman. Maka Gereja terbuka akan fakta yang disampaikan oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, asalkan tanpa melibatkan unsur rekayasa ataupun sekedar asumsi. Sejauh ini, sebagaimana disampaikan di atas, nampaknya penemuan fosil tidak secara meyakinkan menunjukkan adanya bukti peralihan tersebut. Namun jika seandainya suatu hari penemuan fosil menunjukkan sebaliknya, hal ini juga tidak akan mengganggu kebenaran ajaran iman Kristiani, sebab terjadinya tubuh manusia yang sempurna untuk menerima jiwa manusia -pada sepasang manusia pertama- hanya diciptakan oleh campur tangan Tuhan, Sang “Intelligent Designer“. Hanya Allah-lah, dan bukan kebetulan semata ataupun seleksi alam, yang memungkinkan penciptaan tubuh manusia dengan kompleksitas unit bagian tubuh dan keindahannya yang mengagumkan, dan demikian juga, hanya Allah-lah yang menciptakan jiwa manusia dari ketiadaan.

Sumber:

Wallace Johnson, The Death of Evolution, (Rockford, Illinois: TAN books and Publishers, 2000)

Phillip E. Johnson, Darwin on Trial, (Illinois, InterVarsity Press, 1993)

Leakey L.S.B., By the evidence: memoirs, 1932-1951, (New York: Harcourt Brace Jovanovitch, 1974).

Morell V., Ancestral passions: the Leakey family and the quest for humankind’s beginnings, (New York: Simon & Schuster, 1995).

National Geographic, April 1979, p. 446-456

Scientific American, December 1974, p.64.

National Geographic, December 1976.

The Washington Post, October, 19, 1984, p. A1, A11

Science News, (April 20, 1968, p. 381)

http://www.veritas-ucsb.org/library/battson/stasis/2.html
http://www.cartage.org.lb/en/themes/sciences/lifescience/physicalanthropology/evolutionfact/apemen/apemen.htm
http://www.oocities.org/campuschristians_sjc/articles/diffevol.html

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab