Home Blog Page 140

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI kepada Orang Muda Sedunia 2013

1

vatikanPESAN BAPA SUCI PAUS BENEDIKTUS XVI KEPADA ORANG MUDA SEDUNIA PADA KESEMPATAN PERSIAPAN “WORLD YOUTH DAY” (WYD)  KE- 28, JULI TAHUN 2013

“Pergilah, dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku!” ( Mat 28:19)

Dengan sukacita dan kasih sayang yang besar, saya menyapa kalian. Saya yakin bahwa banyak dari antara kalian yang pulang dari WYD di Madrid dengan lebih  “bertumbuh dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman” (bdk. Kol 2:7). Tahun ini, di keuskupan- keuskupan, kita merayakan sukacita karena menjadi Kristen, dengan mengambil tema; “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Flp 4:4).  Dan sekarang kita bersiap diri untuk WYD berikutnya, yang akan mengambil tempat di Rio de Janeiro, Brazil, pada bulan Juli 2013.

Sebelum merenungkan hal-hal lain, saya mengundang kalian sekali lagi untuk mengambil bagian dalam peristiwa yang penting ini. Patung  Kristus Sang Penebus yang terpuji, yang memandang dari kota Brazil yang indah itu, akan menjadi lambang yang penuh perasaan bagi kita.  Lengan-lengan Kristus  yang terentang merupakan tanda dari hasrat untuk memeluk semua orang yang datang kepadaNya, dan hatiNya mengungkapkan cinta kasih yang tak terukur untuk setiap orang dan untuk setiap kalian. Biarkanlah dirimu ditarik menuju Kristus! Alamilah perjumpaan dengan semua orang muda  yang akan berduyun-duyun ke Rio untuk WYD mendatang! Terimalah cinta kasih Kristus dan kalian akan menjadi  saksi yang sangat diperlukan oleh dunia kita.

Saya mengundang kalian untuk bersiap ke WYD di Rio De Janeiro, dengan merenungkan mulai sekarang, tema “Pergilan, dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku!” (Mat 28:19). Inilah perintah perutusan yang agung yang diberikan Kristus kepada Gereja seluruhnya, dan kini, dua ribu tahun kemudian, perintah ini tetap sebagaimana adanya.  Mandat perutusan ini seharusnyalah bergaung secara kuat dalam hati kalian. Tahun persiapan perjumpaan di Rio bersamaan dengan “Tahun Iman”, yang diawali oleh Sinode para Uskup yang dipersembahkan bagi “Evangelisasi Baru bagi  Penyebarluasan  Iman  Kristen”. Saya gembira bahwa kalian juga, orang muda terkasih, dilibatkan dalam keluasan jangkauan perutusan ini sebagai bagian dari keseluruhan Gereja.  Membuat Kristus dikenal merupakan hadiah paling berharga yang bisa kalian sampaikan pada orang lain.

1. Panggilan yang Mendesak

Sejarah memperlihatkan bagaimana banyak orang muda, dengan pemberian diri mereka yang murah hati, memberikan andil  bagi Kerajaan Allah dan bagi pembangunan dunia ini dengan mewartakan Injil. Dipenuhi dengan antusiasme, mereka membawakan Kabar Gembira dari kasih Allah terwujud dalam Kristus; mereka menggunakan aneka sarana dan berbagai kemungkinan  yang lebih sedikit daripada yang tersedia  dan kita miliki saat ini. Seorang teladan yang saya ingat ialah beato Jose de Anchieta. Dia  seorang Jesuit muda dari Spanyol yang dikirim sebagai misionaris ke Brazil sebelum ia berusia dua puluh tahun dan menjadi seorang rasul yang hebat di Dunia Baru itu. Namun saya juga mengingat banyak di antara kalian sendiri yang secara murah hati mempersembahkan diri pada perutusan Gereja. Saya menjumpai kesaksian yang indah mengenai hal ini pada saat World Youth Day di Madrid, khususnya pada saat pertemuan saya dengan para relawan panitia.

Banyak orang muda pada masa kini secara sungguh-sungguh bertanya apakah kehidupan ini merupakan sesuatu yang baik, dan mereka mengalami kesukaran dalam menemukan jalan hidup.  Lebih  umum lagi, orang muda menghadapi aneka kesukaran dari dunia kita, dan bertanya diri: apakah ada sesuatu yang bisa kuperbuat? Sang Cahaya Iman menerangi kegelapan ini. Dia menolong kita untuk memahami bahwa setiap kehidupan manusia  berharga karena setiap orang dari kita adalah buah dari cinta Allah. Allah mengasihi setiap orang, bahkan mereka yang telah menjauhi  Dia atau menghina Dia. Allah menanti dengan sabar. Bahkan, Allah memberikan putera-Nya untuk wafat dan bangkit kembali untuk membebaskan kita secara radikal dari yang jahat. Kristus mengutus para muridNya untuk membawa pesan suka cita keselamatan dan hidup baru ini kepada semua orang di mana-mana.

Gereja, dalam meneruskan perutusan evangelisasi, juga memperhitungkan kalian. Orang muda terkasih, Anda ialah para misionaris pertama di tengah zamanmu!  Pada akhir Konsili Vatikan kedua – yang peringatannya ke 50 tahun kita rayakan tahun ini –Hamba Allah Paus Paulus VI  mengirimkan pesan bagi orang muda se-dunia. Pesan ini diawali dengan: “Kepada kalianlah, lelaki dan perempuan muda dunia, Konsili ingin menyampaikan pesan terakhir. Karena  kalianlah  yang menerima obor dari tangan para pendahulumu dan hidup di dunia pada periode yang paling penuh perubahan yang pernah terjadi dalam sejarahnya. Kalianlah, yang mengambil teladan dan pengajaran terbaik dari orangtua dan guru kalian, yang akan membentuk masyarakat masa depan. Kalian akan diselamatkan atau hancur bersamanya”.  Pesan ini ditutup dengan kata-kata: “Bangunlah, dengan antusias, sebuah dunia yang lebih baik daripada yang sekarang kita miliki!” (Pesan kepada Orang Muda, 8 Desember 1965).

Para sahabat terkasih, undangan  itu tetap berlaku kini.  Kita sedang melalui sebuah periode sejarah yang sangat khusus. Kemajuan teknologi telah memberi kita  kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah dikenal sebelumnya, terhadap interaksi antara manusia dan bangsa-bangsa . Namun globalisasi relasi-relasi ini akan menjadi positif dan membantu dunia untuk bertumbuh dalam kemanusiaan, hanya jika lebih didasarkan atas cinta kasih daripada atas materialisme.  Cinta kasih adalah satu-satunya hal yang dapat mengisi hati orang dan menyadarkan masyarakat secara bersama. Allah adalah kasih. Jika kita melupakan Allah, kita kehilangan pengharapan dan menjadi tak mampu mengasihi orang lain. Inilah alasan mengapa sangat perlu bersaksi akan kehadiran Allah agar orang lain bisa mengalaminya. Keselamatan kemanusiaan tergantung pada hal ini, seperti halnya keselamatan setiap kita juga. Setiap orang yang memahami hal ini hanya dapat berseru bersama Santo Paulus: “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” (1 Kor 9:16).

2. Menjadi Murid-murid Kristus

Panggilan misioner ini sampai pada kalian dengan satu alasan lain pula, dan alasan ini adalah bahwa panggilam missioner  perlu bagi perjalanan pribadi kita sendiri  dalam iman.  Beato Yohanes paulus II menuliskan bahwa “iman dikuatkan ketika ia disampaikan kepada orang lain!” (Redemptoris missio, 2).  Ketika kalian memberitakan Injil, kalian sendiri bertumbuh sebagaimana kalian menjadi makin secara dalam berakar pada Kristus dan dewasa sebagai orang-orang Kristen.  Komitmen missioner merupakan suatu dimensi yang esensial dari iman. Kita tidak dapat menjadi orang beriman sejati jika kita tidak melakukan evangelisasi. Pewartaan Injil hanya dapat merupakan hasil dari kegembiraan yang berasal dari  perjumpaan Kristus dan menemukan padaNya, batu karang di mana di atasnya hidup kalian bisa dibangun.  Ketika kalian bekerja membantu sesama dan mewartakan Injil pada mereka, maka hidup kalian sendiri yang begitu sering terpecah-belah karena kegiatanmu yang banyak, akan menemukan kesatuan dalam Tuhan.  Kalian akan juga membangun hidup kalian sendiri dan kalian akan bertumbuh serta  matang dalam kemanusiaan.

Apa artinya menjadi seorang misionaris atau utusan? Pertama-tama menjadi misionaris berarti menjadi murid Kristus. Menjadi murid Kristus  berarti  mendengarkan lagi  dan lagi pada undangan untuk mengikuti-Nya dan memandang kepadaNya: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Seorang murid ialah seorang pribadi yang penuh perhatian pada sabda Yesus (bdk. Luk 10:39)., seorang yang  mengakui bahwa Yesus ialah Guru yang sangat mengasihi kita, bahwa Ia memberikan hidup-Nya bagi kita. Setiap orang dari kalian, kemudian, mesti membirkan diri dibentuk oleh sabda Tuhan setiap hari. Dibentuk oleh sabda tuhan setiap hari akan menjadikan kalian para sahabat Tuhan Yesus  dan memampukan kalian untuk membimbing orang muda lainnya menuju persahabatan dengan Dia.

Saya mendorong kalian untuk memikirkan anugerah-anugerah yang telah kalian terima dari Tuhan sedemikian rupa sehingga  pada gilirannya kalian bisa menyumbangkannya pada orang lain. Belajarlah untuk membaca kembali sejarah pribadi kalian. Sadarlah akan warisan yang mengagumkan yang diteruskan kepada kalian dari keturunan-keturunan sebelum kalian.  Begitu banyak orang yang penuh iman telah dengan berani meneruskan iman di hadapan berbagai pencobaan dan  ketidakmengertian orang lain. Marilah kita jangan lupa bahwa kita ini merupakan keterhubungan dari mata rantai besar dari banyak sekali perempuan dan laki-laki yang telah meneruskan kebenaran iman dan yang menggantungkan diri pada kita untuk melanjutkan iman ini kepada orang lain. Menjadi seorang misionaris  mengandaikan pengetahuan atas warisan ini, yang mana ialah iman Gereja.  Perlulah mengetahui apa yang kalian imani, sehingga kalian dapat mewartakannya. Seperti telah saya tulis dalam pengantar buku YouCat,  katekismus untuk orang muda, yang saya berikan kepada kalian pada saat WYD di Madrid, “Kamu perlu mengenal imanmu persis seperti  seorang spesialis IT mengenal cara kerja internal suatu computer. Kami perlu memahaminya seperti seorang pemusik yang baik, yang memahami sebuah gubahan lagu yang ia mainkan. Ya, kamu perlu lebih dalam berakar dalam iman daripada generasi orangtuamu sehingga kamu dapat menanggung segala tantangan dan godaan zaman ini dengan kekuatan dan kepastian” (Kata Pengantar).

3. Pergilah!

Yesus mengutus para murid-Nya pergi melaksanakan misi dengan perintah ini: “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada semua makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mrk 26:15-16). Melakukan evangelisasi berarti membawakan Kabar Gembira keselamatan  kepada orang lain dan membuat mereka mengetahui bahwa Kabar Gembira ini ialah seorang pribadi: Yesus Kristus. Ketika aku menjumpai-Nya, ketika aku mengetahui betapa  aku sangat dikasihi oleh Tuhan dan diselamatkan oleh-Nya, aku  mulai merasakan tidak hanya keinginan, namun juga kebutuhan untuk membuat Tuhan dikenal oleh orang lain. Pada permulaan Injil Yohanes kita melihat, bagaimana  Andreas, dengan segera setelah  ia menjumpai Yesus, berlari untuk menjemput saudaranya, Simon (bdk. 1:40-42). Evangelisasi selalu mulai dari perjumpaan dengan Tuhan Yesus.  Siapa yang datang pada Yesus dan telah mengalami kasih-Nya, dengan segera ingin membagikan keindahan perjumpaan itu dan suka cita yang lahir dari persahabatan-Nya. Makin dalam kita mengenal Kristus, makin kita ingin membicarakan Dia. Makin sering kita bercakap-cakap dengan Kristus, makin sering kita ingin mempercakapkan Dia.  Makin kita dimenangkan oleh Kristus, makin kita ingin menarik orang lain kepada-Nya.

Melalui sakramen baptis, yang memberi  kita hidup baru, Roh Kudus mendiami serta menyalakan pikiran dan hati kita. Roh itu menunjukkan kepada kita bagaimana  mengenal Allah dan bagaimana berjumpa dengan Kristus. Inilah Roh Kudus yang mendorong kita untuk melakukan yang baik, untuk melayani orang lain dan untuk berserah diri. Melalui sakramen penguatan, kita diteguhkan oleh anugerah-anugerah Roh Kudus sehingga kita dapat member kesaksian akan Injil dalam kedewasaan yang makin bertumbuh.  Inilah Roh cinta kasih yang menjadi daya dorong di belakang perutusan kita. Roh ini mendorong kita agar keluar dari diri sendiri  untuk “pergi”  demi mewartakan Injil. Para orang muda terkasih, izinkanlah diri kalian dipimpin oleh kuasa kasih Allah. Biarkanlah cinta kasih itu mengatasi kecenderungan kalian untuk tinggal tertutup  dalam dunia kalian sendiri dengan masalah-masalahmu sendiri dan kebiasaan-kebiasaanmu sendiri.   Bersemangatlah untuk “keluar” dari diri kalian sendiri supaya “pergi “ menuju orang-orang lain dan memperlihatkan kepada mereka jalan ke perjumpaan dengan Allah.

4. Kumpulkanlah semua bangsa

Kristus yang bangkit mengutus para murid-Nya pergi untuk menjadi saksi atas kehadiran-Nya yang menyelamatkan di hadapan segala bangsa, karena Allah dengan cinta kasihnya yang berkelimpahan menghendaki setiap orang diselamatkan dan seorangpun jangan sampai hilang. Dengan pengorbanan-Nya yang penuh kasih di kayu salib, Yesus membuka jalan bagi setiap pria dan perempuan untuk datang mengenal Tuhan dan memasuki sebuah komunitas cinta kasih bersama-Nya. Dia membentuk sebuah komunitas para murid untuk membawa pesan keselamatan  Injil sampai ke ujung-ujung  bumi serta untuk mencapai  para lelaki dan perempuan di setiap zaman dan tempat. Marilah menjadikan hasrat Tuhan sebagai hasrat kita sendiri.

Para sahabat terkasih, bukalah mata kalian dan lihatlah ke sekitar kalian. Begitu banyak orang muda tidak lagi menjumpai makna dalam hidup mereka. Pergilah! Kristus membutuhkan kalian juga. Biarkan diri kalian sendiri ditangkap dan didorong oleh cinta kasih-Nya. Beradalah dalam pelayanan  kasih-Nya yang besar, sehingga  sehingga pelayanan ini dapat menggapai setiap orang, khususnya mereka yang “jauh”. Beberapa orang jauh secara geografis namun yang lain jauh karena cara hidup mereka tidak  memiliki  tempat bagi Tuhan. Beberapa orang belum mempunyai  penerimaan pribadi akan Injil, sementara beberapa yang lain telah pernah diberi Injil, tetapi hidup sedemikian rupa  seolah-olah Tuhan tidak ada. Marilah kita membuka hati bagi setiap orang.  Marilah kita masuk dalam percakapan yang sederhana dan hormat. Jika percakapan kita dilakukan dalam persaudaraan sejati, maka pasti akan berbuah. “Bangsa-bangsa”  yang kepada mereka kita dipanggil untuk menggapainya, bukanlah hanya Negara-negara lain di dunia.  Mereka adalah juga wilayah-wilayah yang berbeda dari hidup kita, seperti keluarga-keluarga kita, komunitas-komunitas kita, tempat-tempat belajar dan bekerja, kelompok-kelompok teman dan tempat-tempat di mana kita menghabiskan waktu luang kita. Pewartaan Injil yang suka cita dimaksudkan bagi semua wilayah hidup kita, tanpa kecuali.

Saya akan menekankan dua wilayah di mana paling memerlukan komitmen missioner  kalian. Kaum Muda terkasih, yang pertama ialah lapangan komunikasi-komunikasi sosial, khususnya dunia internet. Seperti pernah saya katakan kepada kalian pada kesempatan lain: “Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi […]Kepada anda sekalian, orang-orang muda, yang hampir memiliki  hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, hendaknya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ‘benua digital’ ini” (Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-43, 24 Mei 2009). Pelajarilah  bagaimana menggunakan media internet ini secara bijaksana.  Sadarlah akan bahaya-bahaya tersembunyi  yang dikandung oleh media-media itu, khususnya risiko atas ketagihan, atas kerancuan  dunia nyata dengan dunia virtual serta atas penggusuran pertemuan pribadi dan dialog oleh kontak-kontak internet.

Wilayah kedua adalah perjalanan dan migrasi. Dewasa ini, makin banyak orang muda melakukan perjalanan, kadang-kadang untuk keperluan studi atau  pekerjaan, dan di kala lain untuk bersenang-senang. Saya juga sedang berpikir mengenai pergerakan migrasi yang melibatkan berjuta-juta orang, yang sangat sering orang muda, yang berpindah ke wilayah-wilayah atau negara-negara lain karena aneka alasan finansial maupun sosial. Di sini juga  kita dapat menemukan  peluang-peluang atas penyelenggaraan Tuhan, untuk membagikan warta  Injil. Orang muda terkasih, jangan takut untuk bersaksi akan imanmu dalam keadaan yang demikian itu. Kenyataan  itu merupakan merupakan sebuah anugerah bagi mereka yang kalian temui ketika kalian mengkomunikasikan kegembiraan dari perjumpaan kalian dengan Kristus.

5. Jadikanlah murid-murid!

Saya membayangkan bahwa kalian sekali waktu mengalami kesukaran dalam mengajak teman sebaya agar mengalami iman.  Kalian pernah menemui betapa banyak orang muda, khususnya pada titik-titik tertentu dalam perjalanan hidup mereka, berhasrat untuk mengenal Kristus dan ingin menghayati nilai-nilai injil, namun juga merasa tidak cakap dan tidak mampu. Apa yang bisa kita lakukan? Pertama, keakraban  dan kesaksian kalian, akan menjadikan dua hal itu sendiri menjadi jalan di mana Tuhan dapat menyentuh hati mereka.  Mewartakan Injil tidak melulu berupa kata-kata, namun juga sesuatu yang melibatkan keseluruhan hidup seseorang  dan menerjemahkan Injil itu  dalam tanda-tanda cinta kasih.  Inilah cinta kasih  yang telah dicurahkan Kristus ke dalam hati kita yang membuat kita menjadi para penginjil.   Akibatnya, cinta kasih kita  harus makin menjadi seperti cinta Kristus sendiri. Kita harus selalu bersiap, seperti seorang Samaria yang baik hati itu, untuk menjadi penuh perhatian kepada siapapun yang kita temui, untuk mendengarkan, untuk memahami, dan untuk menolong.  Dengan cara ini kita dapat menolong mereka yang sedang mencari kebenaran dan makna  hidup dalam rumah Tuhan, Gereja, di mana harapan dan kasih berada (bdk. Luk 10:29-37). Para sahabat terkasih, jangan lupa bahwa tindakan kasih yang pertama yang bisa yang bisa kalian lakukan bagi orang lain adalah membagikan sang sumber harapan kita. Jika kita tidak memberi mereka Tuhan, maka kita member terlalu sedikit kepada mereka! Yesus memerintahkan para rasul-Nya: “Pergilah, dan jadikanlah semua bangsa murid-ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Aku perintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Jalan utama yang kita miliki untuk “menjadikan murid-murid” ialah melalui sakramen pembaptisan dan katekese. Hal ini berarti membimbing orang yang sedang kita beri  evangelisasi ke perjumpaan dengan Kristus yang hidup, dalam sabda-Nya dan dalam sakramen-sakramen. Dengan cara ini, mereka bisa beriman kepadaNya, mereka bisa datang untuk mengenal Tuhan dan untuk tinggal dalam rahmat-Nya. Saya ingin kalian masing-masing bertanya pada diri kalian sendiri: apakah aku pernah mengajak seseorang agar ikut dalam perjalanan penemuan iman Kristen?      Para sahabat terkasih, jangan takut untuk menasehatkan perjumpaan dengan Kristus kepada orang-orang dari zaman-mu sendiri. Mohonlah Roh Kudus untuk menolong. Roh Kudus itu akan menunjukkan kepada kalian jalan untuk mengenal dan mengasihi Kristus bahkan dengan cara yang lebih penuh, dan untuk menjadi kreatif dalam pewartaan  Injil.

6. Berteguh-lah dalam Iman

Ketika menghadapi aneka kesukaran dalam perutusan evangelisasi, mungkin kalian akan dicobai untuk berkata seperti nabi Yeremia: “Ah, Tuhan, aku tidak pandai bicara karena aku ini masih muda”. Tetapi Tuhan akan berkata kepada kalian juga: “Jangan katakan ‘aku ini masih muda’; tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, engkau harus pergi” (Yer 1:6-7). Kapan saja kalian merasa tidak cakap, tidak mampu dan rapuh dalam mewartakan dan memberi kesaksian iman, jangan takut. Evangelisasi bukanlah prakarsa kita. Dan evangelisasi tidak bergantung pada bakat-bakat kita. Evangelisasi adalah sebuah tanggapan yang setia dan taat pada panggilan Tuhan, dan karena itu bukan tergantung pada kekuatan kita melainkan pada kekuatan Tuhan.  Santo Paulus mengetahui hal ini dari pengalaman: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami” (2Kor 4:7).

Untuk alas an ini, saya menyemangati kalian untuk membuat doa dan sakramen-sakramen sebagai pondasi kalian. Evangelisasi yang asli lahir dari doa dan dilanjutkan dengan doa. Kita pertama-tama harus bercakap-cakap  dengan Tuhan agar mampu bercakap-cakap tentang Tuhan.   Dalam doa, kita mempercayakan pada Tuhan, orang-orang, yang kepada mereka kita telah diutus, memohon Dia agar menjamah hati mereka. Kita mohon Roh Kudus untuk menjadikan kita alat-alat untuk keselamatan mereka. Kita mohon Kristus untuk menaruh kata-kata-Nya di bibir kita dan untuk menjadikan kita tanda-tanda cinta kasih-nya. Secara lebih umum, kita berdoa bagi missi seluruh Gereja, seperti telah dengan jelas   diperintahkan Yesus: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:38). Temukanlah dalam Perayaan Ekaristi, mata air kehidupan iman dan kesaksian Kristen, dengan secara berkala menghadiri perayaan ekaristi setiap minggu dan kapan saja  kalian bisa hadir dalam sepekan. Datanglah ke Sakramen Tobat secara berkala.  Hal ini merupakan perjumpaan yang istimewa dengan belas kasih Allah saat Dia menyambut kita, mengampuni kita, memperbarui hati kita dalam cinta kasih. Berupayalah menerima Sakramen Penguatan atau Krisma, jika kalian belum menerimanya, dan persiapkanlah dengan penuh perhatian dan komitmen.    Sakramen Penguatan, seperti Sakramen Ekaristi, ialah sakramen perutusan, karena memberikan kepada kita kekuatan dan cinta kasih dari Roh Kudus untuk mengakui iman kita tanpa takut. Saya juga mendorong kalian untuk melaksanakan Adorasi Ekaristi. Menggunakan waktu untuk mendengarkan dan bercakap-cakap dengan  Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus menjadi  sumber semangat perutusan yang baru.

Jika kalian mengikuti jalan ini, Kristus sendiri akan memberikan pada kalian kemampuan untuk setia penuh terhadap sabda-Nya dan menjadi saksi yang  setia  dan bersemangat atas Dia. Kadang-kadang kalian akan dipanggil untuk memberikan bukti dari ketekunanmu, khususnya ketika Sabda Allah menemui penolakan atau tentangan. Di wilayah-wilayah dunia tertentu, sebagian dari kalian menderita oleh fakta bahwa kalian tidak dapat menjalankan kesaksian publik atas iman kalian akan Kristus berhubung dengan kurangnya kebebasan agama. Beberapa teman  telah membayar harga dari kenyataan bahwa mereka telah menjadi kepunyaan Gereja  dengan nyawa mereka. Saya meminta kalian untuk tetap berteguh dalam iman, percaya bahwa Kristus ada di sisi kalian pada setiap pencobaan.  Kepada kalian pula Ia berkata: “Berbahagialah kamu, jika karena Akukamu diceladan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah,karena upahmu besar di sorga” (Mat 5:11-12).

7. Bersama Seluruh Gereja

Orang muda terkasih, jika kalian tetap berteguh dalam pengakuan iman Kristen di mana pun kalian diutus, maka kalian memerlukan Gereja. Tak seorang pun bisa menjadi saksi Injil sendirian saja. Yesus mengutus para murid-murid-Nya menjalankan misi secara bersama-sama.  Dia berkata kepada mereka dalam dengan bentuk kata kerja  majemuk ketika mengucapkan: “Jadikanlah murid-murid”.  Kesaksian kita biasa disampaikan sebagai  anggota Komunitas Kristen, dan misi kita dijadikan berbuah oleh komunitas yang hidup dalam Gereja.  Oleh kesatuan dan kasih kita satu sama lain bahwa orang lain akan mengenali kita sebagai murid Kristus (bdk. Yoh 13:35). Saya bersyukur pada Allah karena karya evangelisasi yang menakjubkan yang diemban oleh komunitas-komunitas Kristen, paroki-paroki kita, dan gerakan-gerakan Gerejawi kita.  Buah-buah dari evangelisasi ini menjadi milik seluruh Gereja. Hal ini seperti sabda Yesus: “Yang seorang menabur, yang lain menuai” (Yoh 4:37).

Di sini saya tidak bisa urung mengungkapkan terimakasih saya akan rahmat yang besar atas para misionaris, yang mempersembahkan diri mereka secara penuh untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi. Saya juga bersyukur pada Tuhan atas para imam dan pribadi-pribadi yang berkaul yang menyerahkan diri mereka secara utuh sedemikian rupa sehingga Yesus Kristus diwartakan dan dikasihi.  Pada kesempatan ini saya ingin menyemangati orang muda yang di diundang oleh Allah untuk mempersembahkan diri mereka sendiri dengan antusias pada panggilan ini.: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis 20:35). Bagi mereka yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Dia, Yesus menjanjikan seratus kali lipat dan hidup abadi di sampingNya (bdk. Mat 19:29).

Saya juga menyampaikan terima kasih kepada para awam lelaki dan perempuan yang melakukan yang terbaik dengan menghayati hidup harian mereka sebagai misi atau perutusan di manapun mereka berada, baik di rumah maupun di tempat kerja, sehingga Kristus dikasihi dan dilayani, serta Kerajaan Allah bertumbuh. Saya memikirkan secara khusus mereka yang bekerja di bidang-bidang  pendidikan, kesehatan, bisnis, politik, dan keuangan, serta berbagai bidang yang luas dalam kerasulan awam. Kristus membutuhkan komitmen dan kesaksian kalian. Jangan biarkan – apakah itu berbagai kesukaran maupun kurangnya kesepahaman – menyurutkan semangat kalian dalam membawakan Injil Kristus di manapun kalian berada. Masing-masing dari kalian adalah bagian yang berharga dalam mosaik besar evangelisasi!

8. “Inilah aku, Tuhan!”

Akhirnya, para orang muda terkasih, saya meminta kalian semua untuk mendengarkan, dalam kedalaman hati kalian, panggilan Yesus untuk mewartakan Injil-Nya. Sebagaimana patung Yesus Sang Penebus yang sangat besar di kota Rio de Janeiro, Ia memperlihatkan hati-Nya  terbuka dengan cinta kasih bagi setiap orang, dan kedua lengan-Nya merentang lebar-lebar  untuk menggapai setiap orang. Jadikanlah diri kalian hati dan lengan-lengan Yesus! Pergilah dan bersaksilah bagi kasih-Nya! Jadilah generasi baru misionaris yang didorong oleh kasih dan keterbukaan bagi semua orang! Ikutilah teladan para misionaris besar Gereja seperti Santo Fransiskus Xaverius dan banyak yang lain.

Pada penutupan World youth Day di Madrid, saya memberkati sejumlah orang muda dari benua-benua yang berbeda yang akan pergi melaksanakan perutusan. Mereka mewakili semua orang muda  yang, menggemakan kata-kata Nabi Yesaya kepada Tuhan: “Inilah aku. Utuslah aku!” (Yes 6:8). Gereja memiliki kepercayaan pada kalian dan dia berterimakasih karena kegembiraan dan energi yang kalian sumbangkan. Dengan murah hati, gunakanlah talenta-talenta kalian untuk pelayanan pemberitaan Injil! Kita tahu bahwa Roh Kudus dicurahkan kepada mereka yang membuka hati terhadap pewartaan Injil ini. Dan janganlah gentar: Yesus, Sang Penyelamat dunia, bersama kita setiap hari sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20).

Panggilan ini, yang saya serukan kepada orang muda di seluruh dunia, bergema secara khusus bagi kalian orang muda Amerika Latin! Selama Sidang Umum ke-lima  Para Uskup Amerika Latin di Aparecida pada tahun 2007, para uskup menerbitkan sebuah “perutusan benua”. Orang muda membentuk  bagian terbesar dari jumlah penduduk di Amerika Selatan dan merupakan sumber daya yang penting dan berharga bagi Gereja dan masyarakat. Jadilah barisan pertama para misionaris! Kini, bahwa Hari Orang Muda Sedunia, World Youth Day, kembali di Amerika Latin, saya minta kalian, orang muda di benua ini, untuk menyebarkan semangat iman kalian kepada sahabat sebaya kalian dari seluruh dunia!

Semoga, Bunda Maria, Bunda Evangelisasi Baru, yang kepadanya kita memohon di bawah gelar Bunda Maria dari Aparecida dan Bunda Maria dari Guadalupe, menemani masing-masing kalian dalam perutusan kalian sebagai saksi cinta kasih Allah. Kepada kalian semua dengan  kasih sayang istimewa, saya  memberikan Berkat Apstolik saya.

Dari Vatikan, 18 Oktober 2012
Paus Benediktus XVI

[Diterjemahkan oleh RD. Yohanes Dwi Harsanto, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI]

Bagaimana Agar Memperoleh Indulgensi?

7

Indulgensi adalah (1) penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk (2) dosa-dosa yang sudah diampuni. (3) Warga beriman Kristen (4) yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan (5) bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif” (KGK 1471)

Beberapa point berikut ini adalah penjelasan tentang Indulgensi:

1. Konstitusi Apostolik tentang Doktrin Indulgensi

Beberapa point norma yang penting adalah sebagai berikut, selengkapnya silakan klik di sini:

N 2. Indulgensi sebagian dan indulgensi penuh menghapus sebagian ataupun seluruhnya penghukuman sementara/temporal karena dosa.

N 3. Indulgensi sebagian dan indulgensi penuh dapat selalu ditujukan kepada mereka yang sudah meninggal melalui doa permohonan bagi mereka.

N 4. Indulgensi sebagian diperoleh tanpa penentuan hari-hari ataupun tahun.

N 5. Umat beriman yang sedikitnya mempunyai hati yang menyesal melakukan perbuatan yang olehnya indulgensi sebagian dapat diperoleh, sebagai tambahan dari penghapusan hukuman sementara, memperoleh dari perbuatan itu, penghapusan hukuman yang setimpal melalui intervensi Gereja.

N 6. Indulgensi penuh hanya dapat diperoleh sekali dalam sehari, kecuali seperti disebut dalam N18, bagi mereka yang ada dalam sakrat maut. Indulgensi sebagian dapat diperoleh lebih dari sekali dalam sehari, kecuali ada indikasi eksplisit tentang keadaan sebaliknya.

N 7. Untuk memperoleh indulgensi penuh, perlu dilakukan suatu dipenuhi 3 kondisi: menerima sakramen Pengakuan Dosa, menerima Komuni dan berdoa bagi intensi-intensi Bapa Paus. Selanjutnya disyaratkan bahwa semua ikatan terhadap dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada.
Jika disposisi ini kurang lengkap, atau kalau ketiga kondisi ini tidak dipenuhi, maka indulgensi yang diperoleh adalah indulgensi sebagian, dengan kecualian sebagaimana disebut dalam N 11.

N 8. Ketiga kondisi dapat dipenuhi sebelum atau sesudah kegiatan yang disyaratkan; namun adalah layak bahwa Komuni diterima pada hari yang sama, demikian pula doa- doa untuk intensi Bapa Paus.

N 11. Ordinaris setempat dapat memberikan izin kepada umat beriman di wilayahnya, yang hidup di tempat-tempat yang tidak mungkin ataupun sangat sulit untuk menerima sakramen-sakramen Pengakuan dosa dan Komuni, agar mereka dapat memperoleh indulgensi penuh tanpa sakramen Pengakuan dosa dan Komuni, asal mereka sungguh bertobat dari dosa-dosa mereka, dan mempunyai intensi untuk menerima sakramen-sakramen ini secepat mungkin [setelahnya].

N 18. Kepada umat beriman yang dalam bahaya maut yang tak dapat dibantu oleh imam menerima sakramen-sakramen dan menerima berkat apostolik dengan indulgensi penuh (sesuai KHK Kan 468,2) Gereja tetap memberikan indulgensi penuh, asalkan mereka berdisposisi baik dan telah mempunyai kebiasaan untuk berdoa sepanjang hidup mereka….

Indulgensi penuh pada saat kematian dapat diperoleh oleh umat beriman meskipun mereka telah memperoleh indulgensi pada hari yang sama.

2. Dekrit tentang hal pengampunan dosa

Dekritnya: Decree of the Sacred Apostolic Penitentiary, silakan klik.

3. Syarat umum untuk memperoleh Indulgensi

Indulgensi, baik indulgensi sebagian atau indulgensi penuh, dapat diberikan kepada seseorang yang Katolik, yang dalam hubungan yang baik dengan Gereja, dan dalam keadaan rahmat, artinya tidak dalam keadaan berdosa berat, atau mempunyai dosa berat yang belum diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Untuk memperoleh indulgensi, seseorang harus mempunyai intensi/ maksud umum untuk memperoleh indulgensi. Intensi ini dapat disebutkan dalam doa di awal hari, atau sebelum melakukan tindakan tertentu yang disyaratkan untuk memperoleh Indulgensi.

Contoh doa di pagi hari yang memasukkan intensi untuk memperoleh indulgensi, silakan klik di sini.

4. Syarat untuk memperoleh Indulgensi Penuh

Empat syarat yang harus selalu ada untuk memperoleh Indulgensi Penuh, selengkapnya silakan klik di sini:

a. Mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Sekali pengakuan dosa secara sakramental cukup untuk memperoleh beberapa kali indulgensi sebagian, tetapi Komuni dan doa untuk intensi Bapa Paus harus dilakukan untuk memperoleh setiap Indulgensi penuh.

b. Menerima Komuni/ Ekaristi

c. Berdoa bagi intensi Bapa Paus, dipenuhi dengan satu kali doa Bapa Kami, sekali Salam Maria, namun setiap orang bebas mengucapkan juga doa spontan tentangnya sesuai dengan kesalehan dan devosi/ungkapan kasihnya.

d. Semua keterikatan pada dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika keterikatan terhadap dosa ringan masih ada, atau ketiga kondisi lainnya tidak dipenuhi, maka indulgensi yang diperoleh adalah indulgensi sebagian.

Indulgensi penuh diperoleh (jika keempat syarat di atas dipenuhi) kapanpun dan di manapun jika kita:

a. membaca Kitab Suci sedikitnya setengah jam,
b. mendoakan doa rosario Maria, sedikitnya lima dekade dengan meditasi peristiwa hidup Yesus, di gereja, di dalam keluarga atau dalam komunitas religius, atau dalam kelompok/ asosiasi rohani.
c. mendoakan doa Jalan Salib, merenungkan kisah sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.
d. mengunjungi Sakramen Mahakudus, dan berdoa Adorasi Sakramen Mahakudus sedikitnya selama setengah jam .

Indulgensi penuh diperoleh pada saat-saat tertentu:

a. Pada saat berkat Paus (bahkan melalui radio)
b. Misa penutupan Kongres Ekaristi
c. Sepanjang Sinoda Keuskupan
d. Sepanjang Kunjungan Pastoral
e. Mengikuti retret sedikitnya 3 hari penuh

Indulgensi penuh diperoleh pada hari-hari tertentu, ketentuan lebih lanjut klik di link ini– di link itu,  silakan klik di setiap point itu untuk membaca lebih lanjut ketentuan khusus/ tambahan (selain dari ke-empat syarat yang sudah disebutkan di atas) pada masing-masing hari itu agar dapat diperoleh Indulgensi penuh.

a. 1 Januari
b. Setiap hari Jumat dalam masa Prapaska dan permenungan tentang Kisah Sengsara Yesus setelah Komuni, dengan mendoakan doa di hadapan salib Yesus setelah Komuni: “Lihatlah, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa ….” (selanjutnya klik di sini)
c. Kamis Putih
d. Jumat Agung
e. Malam Paska: dengan memperbaharui janji Baptis
f. Hari Raya Pentakosta, dan mendoakan bersama, Veni Creator, klik di sini
g. Hari Raya Corpus Christi
h. Hari Raya Hati Kudus Yesus, dengan mendaraskan secara publik/ bersama, doa “Act of Reparation”, klik di sini
i. Hari Raya Rasul Petrus dan Paulus
j. ‘Portiuncula’- 2 Agustus
k. 1-8 November: mengunjungi kubur dan berdoa untuk arwah, setiap hari dari tanggal 1 sampai 8 November.
l. Hari arwah- 2 November
m. Hari Raya Kristus Raja, dengan mendoakan bersama “Act of Dedication of the Human Race to Christ”, klik di sini.
n. 31 Desember: dan mendoakan bersama doa Te Deum, klik di sini
o. Kunjungan pada Gereja atau Oratorium pada hari perayaan Santo/a pendirinya.
p. Perayaan titular Paroki
q. Kunjungan ke Gereja atau altar pada hari konsekrasinya.

Indulgensi penuh diperoleh pada saat khusus dan tempat khusus:

a. Kunjungan ke basilika di Roma dan
b. Kunjungan gereja-gereja stasional di Roma

Indulgensi penuh diperoleh di peristiwa yang khusus dalam hidup orang yang bersangkutan:

a. Memperbaharui janji Baptis pada hari peringatan Pembaptisannya.
b. Komuni Pertama, dan indulgensi penuh juga dapat diberikan kepada yang hadir dan dengan khidmat mengikuti Misa Komuni Pertama.
c. Mengikuti kegiatan misi: Menghadiri penutupan karya misi dan mendengarkan khotbah-khotbah sepanjang karya misi tersebut.
d. Spiritual Exercises (Latihan rohani)
e. Misa pertama dari Imam yang baru saja ditahbiskan
f. Tahun Yubelium dari Tahbisan imam (25, 50, 60 tahun)
g. Pada saat kematian, ketika imam tidak dapat memberikan sakramen dan berkat apostolik; asalkan selama hidupnya ia setia dan rajin berdoa.

5. Syarat memperoleh Indulgensi Sebagian (Partial Indulgence)

Di dalam Handbook of Indulgences yang dikeluarkan oleh Tahta Suci tanggal 29 Juni, 1968, ditulis beberapa cara untuk memperoleh Indulgensi sebagian (partial Indulgence):

1. Jika seorang beriman dalam melaksanakan tugasnya dan memikul beban kehidupan, mengangkat pikirannya kepada Allah dengan penuh kepercayaan dan kerendahan hati, dan berdoa, meskipun hanya di dalam hati- permohonan-permohonan yang saleh.

Doa ini tidak dilepaskan/ berdiri sendiri, melainkan merupakan doa yang didaraskan di tengah-tengah pelaksanaan tugas sehari-hari, dan dapat berupa doa yang sangat singkat, seperti:

“Tuhanku, aku mengasihi Engkau”
“Semuanya hanya bagi-Mu, Tuhan”
“Datanglah Kerajaan-Mu”
“Hati Yesus yang MahaKudus, Aku percaya kepada-Mu”

2. Jika seorang beriman, dihidupi oleh semangat iman dan dengan hati yang berbelas kasih memberikan dirinya sendiri atau perbuatannya untuk melayani saudara-saudarinya yang sedang membutuhkan pertolongan.

3. Jika seorang beriman, yang dengan semangat pertobatan, dan atas kehendaknya sendiri, berpantang dari apa yang sesungguhnya boleh dilakukannya dan menyenangkan hatinya. Hal ini berkaitan dengan penyangkalan diri yang didasari oleh kasih dan kehendak agar menjadi semakin serupa dengan Kristus yang miskin dan menderita.

Sedangkan untuk doa-doa yang olehnya umat memperoleh Indulgensi sebagian, silakan klik, berikut ini di antaranya:

1. “Kumohon kepada-Mu Tuhan,
arahkanlah, perbuatan-perbuatan kami dengan inspirasi kudus-Mu,
dan bawalah semuanya itu dengan bantuan-Mu yang penuh kasih ,
sehingga setiap doa dan karya kami dapat selalu dimulai dari Engkau dan melalui Engkau mencapai akhirnya dengan baik.”
Amin.

2. Doa iman, harapan dan kasih, dam doa tobat, dengan rumusan apapun. Setiap doa ini mengandung indulgensi.

3. Kunjungan dan Adorasi Sakramen Mahakudus.

4. Doa Adoro Te Devote, klik di sini.

5. Memohon dukungan doa kepada St. Yusuf, klik di sini (biasanya didoakan di bulan Oktober).

6. “Ku berterima kasih kepada-Mu, Allah yang Mahakuasa,
atas segala berkat-Mu, Engkau yang hidup dan berkuasa selama-lamanya.”
Amin.

7. “Malaikat Tuhan, pelindungku yang terkasih,
yang kepadanya kasihNya menjagaku di sini,
tetaplah selalu di sisiku hari ini,
untuk menerangi dan melindungi, mengatur dan membimbingku.”
Amin.

8. Doa Angelus, dan di masa Paska, doa Regina Caeli.

9. Doa Anima Christi (Jiwa Kristus)

10. Mengunjungi kubur dan berdoa bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian.

11. Komuni spiritual/ rohani, dengan rumusan apapun.

12. Pendarasan penuh khidmat, doa Syahadat Aku Percaya/ Syahadat panjang Nicea.

13. Pendarasan doa pagi (Lauds) ataupun sore (Vespers) untuk jiwa-jiwa orang yang telah meninggal.

14. Pendarasan De Profundis (Mzm 130).

15. Mengajarkan ataupun mempelajari doktrin/ ajaran Kristiani.

16. Doa di hadapan gambar salib/ patung Kristus setelah Komuni, “Lihatlah, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa …. klik di sini.

17. “Dengarkanlah kami ya Tuhan, Bapa yang kudus, Allah yang Mahakuasa dan kekal,
dan utuslah malaikat-Mu yang kudus dari surga untuk menjaga, memperhatikan, melindungi,
untuk tinggal dan membela semua yang tinggal di rumah ini. Demi Kristus Tuhan kami.”
Amin.

18. Doa silih di hadapan Hati Kudus Yesus, “Act of Reparation to the Sacred Heart of Jesus“, klik di sini

19. Doa dedikasi umat manusia kepada Kristus Raja, “Act of dedication of the human race to Christ the King“, klik di sini.

20. Pada setiap litani Nama Yesus yang MahaKudus, Litani Hati Kudus Yesus, Litani Darah Yesus Kristus yang sangat berharga, Litani Perawan Maria, St. Yusuf dan semua orang kudus.

21. Doa Magnificat.

22. Doa Memorare.

23. Doa Miserere.

24. Mengikuti Novena publik sebelum hari Raya Natal, Pentakosta dan Perayaan Maria dikandung tidak bernoda.

25. Dengan memakai benda-benda rohani, seperti crucifix, salib, rosario, skapular, medali, yang telah diberkati oleh imam.

26. Mendaraskan doa Passio/ Kisah sengsara Kristus, doa Hati Kudus Yesus dan doa hati Maria yang tak bernoda, doa St. Yusuf.

27. Doa untuk pentahbisan imam maupun panggilan religius lainnya.

28. Doa hening (mental prayer).

29. Marilah berdoa untuk Bapa Paus …. “Semoga Tuhan menjaganya, memberikan hidup dan menjadikannya terberkati di dunia, dan membebaskan dia dari kehendak para musuhnya.”

30. “O, perjamuan kudus, yang di dalamnya Kristus diterima, kenangan kisah sengsara-Nya diperbaharui, pikiran dipenuhi dengan rahmat dan diberikan kepada kami janji kemuliaan yang akan datang.”

31. Hadir dan mendengarkan dengan penuh perhatian pada sebuah khotbah/ pengajaran iman.

32. Berpartisipasi dalam rekoleksi sebulan sekali.

33. “Berikanlah istirahat kekal kepada mereka yang telah meninggal dunia, ya Tuhan, dan biarlah terang yang kekal bersinar atas mereka. Semoga mereka beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan.” Amin

34. “O Tuhan, karuniakanlah kehidupan kekal kepada semua orang yang berbuat baik kepada kami, demi nama-Mu.”

35. Dengan mendoakan doa rosario secara pribadi. Untuk pendarasan doa rosario secara pribadi di luar gereja, pembacaan persepuluhan dapat dilakukan tidak sekaligus. Meditasi/ permenungan peristiwa hidup Yesus harus dilakukan.

36. Membaca Kitab Suci sebagai bacaan rohani dengan penghormatan dan devosi kepada Sabda Tuhan.

37. Doa Salve Regina, Hail Holy Queen.

38. “Bunda Maria yang kudus, tolonglah mereka yang sedang alam kesusahan, kuatkanlah mereka yang lemah hatinya, hiburlah mereka yang berduka, doakanlah semua orang, jadilah pengantara bagi para imam, doakanlah para wanita yang saleh; semoga semua orang mengalami pertolonganmu …”

39. Berdoa di misa penghormatan orang kudus yang hari itu sedang dirayakan pesta namanya, atau doa lainnya yang telah disetujui.

40. Dengan membuat Tanda Salib dengan khidmat, sambil berkata: Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

41. “Kami menuju perlindunganmu, O Bunda Allah yang kudus. Jangan menolak permohonan kami di dalam kesusahan, tetapi lindungilah kami dari segala bahaya, O Perawan yang mulia dan terberkati.”

42. Mendoakan doa Tantum Ergo.

43. Mendoakan doa Te Deum.

44. Mendoakan doa Veni Creator, juga mendoakan,
“Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu.”

45. Dengan memperbaharui janji Baptis, dengan rumusan apapun.

46. “Kunjungilah rumah ini, kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, dan usirlah darinya segala sengat si Jahat. Biarlah para malaikat kudus-Mu tinggal di sini, yang menjaga kami dalam damai, dan biarlah rahmatmu selalu turun atas kami. Demi Kristus Tuhan kami.”

Apa itu metode historis-kritis dan mengapa perlu diwaspadai?

5

Metode historis-kritis adalah metode eksegese (tafsir Kitab Suci) yang umum digunakan dalam studi untuk mempelajari Kitab Suci selama sekitar 100 tahun terakhir. Komisi Kitab Suci Kepausan menyebutkan metode ini sebagai salah satu metode untuk penafsiran Kitab Suci.

Pengertian

Menurut komisi tersebut, “metode historis-kritis adalah sebuah metode yang sangat penting bagi studi ilmiah tentang arti teks-teks kuno. Karena Kitab Suci, sebagai “Sabda Tuhan di dalam bahasa manusia”, telah disusun oleh para pengarang manusia dalam semua bagian-bagiannya yang bervariasi dan dalam semua sumber-sumber yang ada di belakangnya. Karena itu, pemahaman Kitab Suci yang benar tidak saja memperbolehkan penggunaan metode ini, tetapi sesungguhnya mensyaratkan metode ini.” ((Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja, I, A)).

Prinsip Metode Historis-Kritis

Prinsip dasar dari metode historis kritis adalah sebagai berikut: ((Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja, I, A, 2)).

Metode ini disebut metode historis, bukan saja karena dikaitkan kepada teks-teks kuno Kitab Suci, dan pemahamannya secara historis, tetapi juga terutama karena metode ini mencoba menerangkan proses-proses historis yang memunculkan teks-teks Kitab Suci, proses-proses sehubungan dengan perubahan sistem bahasa yang seringkali kompleks dan terjadi dalam kurun waktu yang panjang.

Metode ini juga disebut metode kritis, karena dalam setiap langkahnya (dari kritik tekstual sampai kritik redaksi), metode ini bekerja dengan bantuan kriteria ilmiah yang maksudnya adalah agar menjadi seobyektif mungkin. Dengan cara ini, metode ini bermaksud untuk menyingkapkan teks-teks Kitab Suci yang sering sulit dimengerti, kepada para pembaca modern. Sebagai metode analisa, metode ini mempelajari teks Kitab Suci dengan cara seperti mempelajari teks-teks kuno lainnya, dan memberikan keterangan atas teks tersebut sebagai ekspresi pemaparan manusia. Namun demikian, terutama di bidang kritik redaksi, metode ini memungkinkan ahli tafsir Kitab Suci untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik akan isi wahyu ilahi.

Tahapannya

Tahapan dari metode ini adalah: ((Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja, I, A, 3))

1. Kritik teks

Berlandaskan atas kesaksian manuskrip yang tertua dan terbaik, juga papirus- papirus, versi kuno tertentu, teks tulisan Bapa Gereja, kritik teks berusaha menentukan suatu teks Kitab Suci yang sedekat mungkin dengan teks aslinya, menurut kaidah-kaidah tertentu.

2. Analisa bahasa

Teks kemudian dianalisa secara linguistik (bentuk kata/ morfologi dan tata bahasa/sintaksis) dan semantik (makna kata). Adalah tugas kritik literer untuk menentukan awal dan akhir dari unit-unit teks, besar maupun kecil, dan untuk menentukan koherensi teks.

3. Kritik jenis sastra (genre)

Kritik ini berusaha untuk mengidentifikasikan jenis sastra, lingkungan sosial yang memunculkannya, sifat-sifat khasnya dan sejarah perkembangannya.

4. Kritik tradisi

Kritik ini menempatkan teks di dalam arus tradisi dan berusaha menjabarkan perkembangan dalam tradisi ini dalam perkembangan zaman.

5. Kritik redaksi

Akhirnya, kritik redaksi mempelajari modifikasi teks sebelum terbakukan dalam bentuk finalnya, dan menganalisa bentuk final ini, dan berusaha mengidentifikasikan kecenderungan yang secara khusus merupakan ciri dari proses terakhir ini.

Mengapa perlu diwaspadai?

Sekitar seratus tahun terakhir, eksegese historis-kritis memang telah memberikan sumbangsih yang besar bagi pendalaman pengetahuan biblis: pemahaman yang lebih baik tentang kategori sastra, sumber sejarah dan komposisi teks; dalam hal asal kata/etimologi dan arkeologi; dalam hal mendalami bahasa-bahasa kuno dan kerangka budaya sehubungan dengan hal-hal yang ditulis dalam Kitab Suci. Namun demikian, tak pernah terjadi sebelum jangka waktu seratus tahun ini, terdapat krisis dalam menghubungkan iman dengan hasil penelitian modern.

1. Krisis iman, karena memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut iman

Masalah krisis iman dirasakan paling ekstrim dalam hubungannya dengan pribadi Yesus Kristus sendiri. Dengan menggunakan metode ini, banyak ahli Kitab Suci telah memisahkan ‘Yesus menurut sejarah’ dari ‘Kristus menurut iman’ dan dengan demikian telah memisahkan teologi dan ajaran iman dengan akal budi dan realitas. Akibatnya memprihatinkan, karena dengan dibuatnya kriteria-kriteria tertentu untuk tafsir Kitab Suci dalam metoda ini, maka seolah-olah tafsiran dari Para Bapa Gereja bahkan dianggap non-historis dan karena itu tidak dipertahankan. ((lih. Ratzinger, Car. J. Ratzinger, Card. J. Preface of 2002 Pontifical Biblical Commission Document The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bible, Libreria Editrice Vaticana)) Setelah dua puluh tahun mengamati, Paus mengatakan bahwa penafsiran Kitab Suci secara modern, telah menyingkirkan Tuhan sebagai Yang tak dapat dipahami ke dunia yang lain, dan tak dapat dinyatakan, supaya dapat memperlakukan teks Kitab Suci seperti keseluruhan realitas duniawi menurut metode ilmiah-alamiah. ((lih. Joseph Ratzinger, J. On the Question of the Foundations and Approaches of Exegesis Today, in Biblical Interpretation in Crisis: The Ratzinger Conference on the Bible and the Church, ed. Neuhaus, R,J. Eerdmans 1989. pi 7.)) Cara interpretasi macam ini bermuara dari gerakan rationalisme yang telah berkembang sejak zaman “Enlightenment“, yang anti terhadap hal-hal supernatural/ adikodrati. Para rasionalis dengan filosofi mereka, tidak dapat menerima klaim yang melekat pada tafsir Kristiani tradisional, yaitu tentang adanya pengetahuan yang istimewa mengenai makna historis yang datang dari Allah sendiri. Para penafsir rasional ini menolak arti teologis dan pewahyuan Kitab Suci yang selalu menjadi bagian terpenting dalam tafsir tradisional, karena menganggap bahwa cara tafsir ini tidak dapat dijelaskan dengan akal budi yang murni.

2. Pondasi-pondasi Kristianitas dipertanyakan

Ketika metode historis-kritis yang hanya berfokus pada ‘perkataan manusia sebagai manusia’, dan digunakan sebagai satu-satunya pendekatan terhadap Kitab Suci, maka iman menjadi tersingkir dari proses penafsiran. Metode historis-kritis yang memperlakukan Kitab Suci sebagai serial karya tulis yang ter-bagi-bagi menuruti jangka waktu yang berbeda, menurut definisinya, tetaplah termasuk dalam tingkatan hipotesa manusia. Jika ini menjadi cara satu-satunya untuk menafsirkan Kitab Suci, maka teologi disingkirkan dan digantikan dengan filosofi sekular dan pandangan dunia. Lebih lagi, jika kepercayaan akan keseluruhan/ kesatuan Kitab Suci tidak diperhitungkan, maka hubungan apapun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dianggap tidak penting. Kejayaan metode historis-kritis sepertinya menjadi lonceng kematian bagi tafsir Kristiani tentang Perjanjian Lama yang diajukan oleh Perjanjian Baru itu sendiri. Maka masalahnya di sini bukan detail sejarah, tetapi pondasi-pondasi Kristianitas itu sendiri yang dipertanyakan. ((Ratzinger, J. Preface of 2002 Pontifical Biblical Commission Document The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bible, Libreria Editrice Vaticana, p9-10)).

Contoh dari kedua hal di atas, terlihat misalnya dalam The Jesus Seminar. Pemisahan iman dari akal budi sebagai pendekatan teks Kitab Suci akhirnya bukan membantu, malahan sebaliknya, dapat melemahkan iman, sebab menghasilkan kesimpulan seolah-olah Yesus yang tercatat dalam sejarah berbeda dengan Kristus yang diimani. Padahal tentu hal ini tidak benar. Kami pernah menuliskan tentang hal ini, di sini, silakan klik. Bagaimana mungkin seseorang dapat mempercayai Kristus, kalau ia tidak yakin bahwa segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan-Nya sungguh terjadi dalam sejarah? Selanjutnya, seiring dengan metode historis-kritis ini para ekseget yang tergabung di sana kemudian membuat kriteria-kriteria ataupun asumsi tertentu dengan maksud membuat rekonstruksi teks, bahkan memilah-milah teks untuk menentukan teks mana yang kemungkinan asli dan mana yang kurang asli, menurut kriteria yang dibuat sendiri itu. Ini terlihat, misalnya bagaimana mereka memilah-milah perkataan Yesus dan atas kriteria yang dibuat sendiri, menentukan mana perkataan yang kemungkinan dikatakan oleh Yesus, dan mana yang mungkin tidak dikatakan oleh-Nya. Di sini masuklah semacam prakonsepsi, yang dibuat sendiri, yang didasari atas kecurigaan/ kekurangpercayaan atas teks Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan. Padahal Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan, mengandung kebenaran yang penuh, sehingga apapun yang tertulis di sana sungguh dikehendaki Allah untuk dituliskan. Oleh karena itu, walaupun misalnya, suatu teks hanya tertulis satu kali dalam satu Injil, tidak berarti kurang nilai kebenarannya dari teks yang ditulis oleh keempat Injil. Atau suatu kejadian yang dituliskan dalam suatu teks Injil dapat disampaikan dalam cara yang berbeda dalam Injil yang lain, namun tidak mengurangi kebenaran fakta ataupun ajaran yang terkandung di dalamnya.

Solusi menurut Paus Benediktus XVI

Dalam bukunya Jesus of Nazareth, Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) mengajak kita untuk tidak berhenti pada metode historis- kritis, tetapi untuk membaca Kitab Suci dengan lebih mendalam secara teologis. ((lih. Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth, (New York: Double Day, 2007), p. xxiii)) Paus mengakui bahwa pendekatan historis itu perlu, tetapi kalau itu digunakan hanya untuk melihat masa lalu secara terisolasi, maka pendekatan tersebut tidak memenuhi secara maksimal tugas kita untuk melihat tulisan-tulisan dalam Kitab Suci sebagai sebuah keseluruhan tulisan yang diinspirasikan oleh Tuhan ((lih. Joseph Ratzinger, Ibid., xvi)).

Maka menurut Paus terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk menjadi solusi terhadap krisis yang menyangkut metode historis-kritis ini, ((Fr. Marcus Holden, Beyond Historical Criticism, Pope Benedict XVI and the Reform of Biblical Exegesis, FAITH Magazine January-February 2009.)) yang kurang lebih merupakan kebalikan dari kecenderungan negatif dari penggunaan metode tersebut:

1. Berfokus kembali kepada iman dan akal budi

Langkah pertama adalah memurnikan metode historis-kritis ini. Kita tetap dapat melakukan penyelidikan historis secara akurat dan tak setengah-setengah tentang sejarah bangsa kuno, dan pada saat yang sama tetap percaya kepada Tuhan dan inspirasi ilahi. Dalam bukunya Jesus of Nazareth, Paus memulai setiap penelitiannya dengan keyakinan, “Aku percaya kepada Injil” ((Joseph Ratzinger, Ibid., xvi)), sehingga kecenderungan digantikan dengan iman. “Percaya” menjadi kata kunci bagi para penafsir Kitab Suci sebab tanpanya maka mereka akan berdebat bukan tentang masalah detail sejarah, tetapi tentang filosofi yang melatar- belakanginya. Maka yang diperlukan di sini adalah para peneliti mempraktekkan kritik terhadap diri sendiri, menyadari keterbatasan diri, mempunyai sikap jujur dan sadar akan prinsip-prinsip filosofi.

Menurut Paus, metode historis kritis dapat terbuka dan bekerjasama dengan pemahaman teologis akan Kitab Suci. Keterbukaan ini seiring dengan menerima secara akal budi sebelum mengimaninya. Sebab bahkan tanpa iman, seseorang tetap dapat melihat adanya hubungan yang saling terkait, yang sangat mengagumkan, akan tulisan-tulisan dalam Kitab Suci dan kejadian-kejadian yang dijabarkan di dalamnya, sebagai satu kesatuan. ((Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth, p. xviii)) Ketika seseorang dengan imannya mulai melihat bahwa keterkaitan tersebut datang dari Kristus dan mempunyai dasarnya secara adikodrati, maka ia mampu melihat kesatuan yang ada di dalam Kitab Suci. ((Joseph Ratzinger, Ibid., p. xix)).

Dalam bukunya Jesus of Nazareth, Paus Benediktus XVI memberikan contoh tafsir Kitab Suci dengan menggunakan metode historis kritis yang sudah dimurnikan. Ia membaca teks suci dengan iman dan penghormatan, dengan motif utama untuk menemukan, “wajah Kristus” yang sejati, dalam konteks ajaran ilahi Gereja yang tak mungkin salah, namun demikian pada saat yang sama, menggunakan cara historikal modern untuk memperoleh pemahaman akan konteksnya, bahasa dan penyusunan teks Kitab Suci. Dengan cara ini diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh, menggabungkan “harta yang baru dengan yang lama” (Mat 13:52), untuk memahami Sabda Tuhan yang mengatasi segala waktu. Dalam salah satu audiensi, Paus mengatakan, “Kita tak boleh lupa bahwa Sabda Tuhan mengatasi waktu. Pendapat manusia datang dan pergi. Apa yang sangat modern saat ini akan menjadi sangat antik di masa mendatang. Akan tetapi Sabda Tuhan adalah Sabda yang kekal, ia mengandung kekekalan dan tetap berlaku selamanya. Dengan membawa Sabda Tuhan di dalam diri kita, kita membawa di dalam diri kita kekekalan itu, yaitu hidup yang kekal.” ((Pope Benedict XVI, Papal Audience on St Jerome, 7th November 2007.))

2. Kembali ke arti rohani dari Kitab Suci

Paus Benediktus menawarkan solusi kedua untuk mengatasi krisis ini, yaitu untuk mengembalikan tafsir Kitab Suci kepada eksegese teologis sebagaimana dilakukan oleh para Bapa Gereja. Hal ini pula yang disampaikannya dalam pengantar dokumen Komisi Kitab Suci Kepausan tahun 1993. ((Cardinal Joseph Ratzinger, in Preface to the Pontifical Biblical Commission 1993, he praises, “new attempts to recover patristic exegesis and to include renewed forms of a spiritual interpretation of Scripture”)). Seseorang yang membaca tulisan-tulisan teologis yang ditulis Paus Benediktus, akan mengetahui betapa mendalamnya Paus berakar dalam teologi para Bapa Gereja. Dengan sikap ini maka tafsir Kitab Suci yang dilakukannya mempunyai pondasi yang kuat, sebab berangkat dari pondasi iman Kristiani yang sama dengan yang diterima oleh para Bapa Gereja dari para rasul. ((Demikianlah, Paus Benediktus XVI mengatakan, bahwa agar eksegese dapat kembali ke makna yang sesungguhnya, maka kita perlu memperkenalkan ajaran-ajaran para Bapa Gereja dan pemikiran para pengajar di Abad Pertengahan, lih. Biblical Interpretation in Crisis: The Ratzinger Conference on the Bible and the Church, ed. Neuhaus, R,J. Eerdmans 1989,1-23.)) Pendekatan ini juga nyata dalam bukunya, Jesus of Nazareth, dan dalam audiensi Paus tentang para Bapa Gereja, di mana Paus menunjukkan bagaimana pendekatan teologis yang diajarkan oleh para Bapa Gereja dapat diterapkan. Metode ini menyingkapkan arti rohani dari Kitab Suci yang dibangun di atas rencana Tuhan bagi sejarah dan keselamatan dunia. Arti ini disampaikan oleh para Bapa Gereja di dalam homili, penjelasan Kitab Suci, pernyataan teologis dan pengajaran katekumen. Metode ini kemudian diturunkan sebagai warisan iman Gereja dan dilestarikan sebagai inti teologi di sepanjang Abad Pertengahan. Arti rohani ini berpusat pada Kristus, baik dalam kepribadian-Nya, segala kejadian seputar diri-Nya, perbuatan-Nya, gambaran-Nya dan simbol-Nya, sebagaimana dicatat oleh pengarang Kitab Suci. Semua ini bukan ditambahkan dari luar, tetapi ditentukan sendiri oleh Tuhan menurut penyelenggaraan-Nya yang melampaui segalanya. Maka, “Kalau di ilmu pengetahuan yang diturunkan kepada manusia, hanya perkataan yang dapat dipergunakan untuk menandai sesuatu, namun di dalam Kitab Suci, perkataan dan segala yang dimaksudkannya dapat menandai sesuatu” ((St. Thomas Aquinas in  Commentary on Galatians, lecture 7, “In the other sciences handed down by men, in which only words can be employed to signify, the words alone signify. But it is peculiar to Scripture that words and the very things signified by them signify something”, In the Summa Theologiae I, 1,10, “The author of Sacred Scripture is God, in whose power it is to signify his meaning, not by words only (as man also can do), but also by things in themselves” 1,1,10)). Dengan demikian, adalah menjadi ciri khas yang unik dari Kitab Suci, bahwa ia dapat menandai arti yang sedemikian kaya, yang tidak terbatas hanya pada kata-kata yang tertulis di dalamnya. ((lih. KGK 111))

Origen, Bapa Gereja di abad ke-2 mengumpamakan Kitab Suci seperti kacang walnut yang segar: “[Pertama] Huruf itu pahit, seperti kulit kacangnya yang hijau; kedua, kamu akan sampai pada kulit cangkangnya yaitu ajaran moral, ketiga, kamu akan menemukan arti dari misterinya, yang dengannya jiwa-jiwa para orang kudus akan dikenyangkan di kehidupan ini maupun di kehidupan mendatang.” ((Origen, Homm. Num 9:7)). Di samping huruf-huruf dalam Kitab Suci, Tuhan juga mewahyukan tipe dan gambaran tentang arti historis dan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pewahyuan ini merupakan tujuan permenungan di mana Tuhan menjelaskan dengan banyak cara tentang misteri iman. Dengan demikian, muncullah pentingnya arti rohani sehubungan dengan pewahyuan iman, moralitas dan pemuliaan (dalam ketiga jenis arti rohani, yaitu arti alegoris, moral dan anagogis). Dengan digabungkannya dengan arti literal/ hurufiah, maka semua itu diringkas demikian, “Huruf mengajarkan kejadian, alegori: apa yang harus kau percaya, moral: apa yang harus kaulakukan, anagogi: ke mana kau harus berjalan”. ((lih. KGK 118, Contoh dari interpretasi ini adalah arti kata Yerusalem dalam Mzm 137, menurut St. Yohanes Cassian (dalam Spiritual Conferences, 14, VIII): Yerusalem, secara hurufiah adalah kota bangsa Yahudi, secara alegoris: Gereja Kristus, secara anagogis: kota surgawi di Surga, secara moral: sebagai jiwa manusia yang sering menjadi sasaran pujian maupun didikan dari Tuhan))

Allah sendirilah, yang mengatasi sejarah manusia, yang dapat menjamin peng-artian yang unik ini. Melalui inspirasi-Nya dan penyelenggaraan-Nya yang istimewa, Ia menjamin bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai hubungan yang khusus dengan kedatangan Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya. Allah telah menjamin bahwa Kitab Suci secara radikal berfokus kepada Kristus. Paus Benediktus, dalam Jesus of Nazareth, mengajarkan, “Semua kejadian dalam Kitab Suci dirangkum di dalam Dia [Kristus], bahwa Ia adalah titik pusat di mana semua koherensi keseluruhan Kitab Suci menjadi jelas – segalanya menantikan Dia, segalanya bergerak menuju Dia.” ((Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth, p. 246)). Maka jika prinsip dasar ini ditolak, sebagaimana terjadi pada eksegese setelah masa Enlightenment, maka jelas, pemahaman rohani menjadi tetap tidak tersingkapkan.

Maka penemuan arti rohani Kitab Suci adalah eksegese teologis yang terbaik (par-excellence). Sebab melaluinya mata hati kita dibukakan terhadap harta rohani yang begitu melimpah yang telah ditulis oleh para Bapa Gereja dan para pengajar gerejawi di abad Pertengahan, dan kita akan sampai pada sikap penghargaan yang baru akan mengapa kita mempunyai berkat yang luar biasa melimpah dalam Kitab Suci yang diinspirasikan oleh Tuhan. Paus menulis, “Para Bapa Gereja tidak menciptakan sesuatu yang baru ketika memberikan interpretasi Kristologis terhadap Perjanjian Lama; mereka hanya membuatnya menjadi sistematik, apa yang telah mereka temukan di dalam Perjanjian Baru.” ((Joseph Ratzinger, Preface to the 2002 Pontifical Biblical Commission Document The Jewish People and their Sacred Scriptures in the Christian Bible.)).

Meskipun Perjanjian Baru sendiri, khususnya melalui Rasul Paulus, telah memberikan kesatuan resmi dan pondasi bersama tentang arti rohani, namun para teolog Kitab Suci perlu belajar dari para Bapa Gereja yang menjadi praktisi dan pengembang metoda ini, seperti Origen, St. Agustinus, St. Gregorius Agung, St. Bede dan lainnya, tentu selalu dalam konteks keseluruhan Tradisi Katolik. ‘Kembali ke sumber’ adalah visi dari Paus Benediktus, untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan benar akan Kitab Suci.

Kesimpulan

Betapapun baiknya metode historis-kritis untuk membantu memahami telaah Kitab Suci, namun metoda itu tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya metode untuk memahami Kitab Suci. Sebab tanpa diimbangi oleh iman dan sikap penghormatan terhadap teks Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan, maka seseorang dapat memperlakukan Kitab Suci sebagai hanya tulisan manusia yang dilepaskan dari konteks keseluruhannya sebagai Wahyu Allah yang dinyatakan untuk menyelamatkan manusia di dalam Kristus Yesus. Dengan demikian, selain pendekatan historis-kristis diperlukan juga pendekatan teologis, sebagaimana diajarkan oleh para Bapa Gereja dan para pengajar gerejawi lainnya, yang membaca Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam satu kesatuan, yang berpusat pada Yesus Kristus, yang adalah penggenapan Wahyu Allah itu sendiri.

Maka, para ahli tafsir Kitab Suci Katolik perlu memahami baik arti hurufiah/literal maupun arti rohani/ spiritual, yang terdiri dari tiga jenis itu: alegoris, moral dan anagogis tersebut, ((lih. KGK 117, 118)) yang intinya adalah membaca Kitab Suci dalam terang Kristus. Dengan cara ini, eksegese tidak hanya dilakukan dengan metoda historis-kritis terhadap teks Kitab Suci, tetapi juga eksegese Kristologis, untuk mengungkapkan arti rohani dari teks tersebut. Dengan demikian, tafsir Kitab Suci tidak berhenti hanya pada huruf saja tetapi pada pesan rohani yang disampaikannya, tidak berhenti pada perkataan semata, tetapi pada perkataan ‘Sabda Allah’.

Renungan Paus Benediktus XVI yang bertemakan “proses pembaharuan dengan kembali sumber” sering diungkapkanya dalam khotbah maupun tulisan-tulisannya. Dengan menerapkan kedua prinsip ini, yaitu pendekatan baru/modern historis-kritis, yang dilakukan bersamaan dengan pendekatan teologis yang kembali ke sumber ajaran iman dari para Bapa Gereja dan pengajar gerejawi lainnya, kita dapat memperoleh pengalaman menemukan kembali harta rohani yang tak terhingga yang tersimpan di dalam Sabda Allah, yang selalu tak pernah ketinggalan zaman. Dengan melakukan kedua prinsip ini, Gereja dapat memperbaharui diri dan mengalami musim semi yang baru. Harapannya adalah, Gereja dapat melakukan misi evangelisasi dengan semangat yang baru untuk menjangkau banyak orang di dunia ini yang haus akan Tuhan dan Sabda-Nya, akan iman, harapan dan kasih. ((lih. Instrumentum Laboris, Preface, XII Ordinary General Assembly of the Synod of Bishops, October 2008.))

 

Aku Percaya Akan Kebangkitan Badan

37

Kebangkitan badan meneguhkan pengharapan

Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1Kor 15:13). Dengan kata lain, orang yang tidak percaya akan kebangkitan badan, tidak percaya akan Kristus sendiri yang telah bangkit. Maka, iman akan kebangkitan badan berhubungan erat dengan iman akan Kristus yang bangkit dari antara orang mati. St. Thomas dalam Summa Theology memberikan lima alasan mengapa Kristus bangkit, yaitu: (1) untuk menyatakan keadilan Allah; (2) untuk memperkuat iman kita; (3) untuk memperkuat pengharapan; (4) agar kita dapat hidup dengan baik; (5) untuk menuntaskan karya keselamatan Allah. Keterangan lengkap tentang hal ini dapat dibaca di sini – silakan klik.

Kebangkitan badan yang dimaksud di sini adalah badan yang telah terurai dan hancur akibat kematian akan dibangkitkan pada akhir zaman dan kemudian akan bersatu dengan jiwa masing-masing. Dengan demikian, setiap individu akan kembali mempunyai persatuan antara jiwa dan badan, dan kemudian hidup dalam kekekalan. Bagi yang masuk dalam Kerajaan Sorga akan mengalami kebahagiaan dalam persatuan jiwa dan badan yang telah dimuliakan dan bagi yang masuk dalam neraka akan mendapatkan hukuman dalam persatuan jiwa dan badan. Dengan berpegang teguh pada ajaran tentang kebangkitan badan, kita percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan kebahagiaan Sorgawi yang telah dijanjikan oleh Yesus menanti kita di kehidupan mendatang.

Apa gunanya mempercayai ajaran ini?

1. Tidak terpuruk dalam kesedihan akan kematian. Adalah reaksi psikologis yang wajar ketika seseorang menangisi kematian dari orang yang dikasihinya. Namun, jika ia percaya akan kebangkitan badan, ia tidak akan kehilangan harapan akan dapat berkumpul kembali dengan orang-orang yang dikasihinya itu. Rasul Paulus menegaskan hal ini, “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1Tes 4:13-14)

2. Mengambil ketakutan akan kematian. Tanpa kepercayaan akan adanya pengharapan yang lain setelah kematian, orang dapat terjebak dalam ketakutan akan kematian. Namun, karena kita percaya akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan, kematian mestinya tidak terlalu menakutkan. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut, sehingga Kristus membebaskan kita dari ketakutan terhadap maut (lih. Ibr 2:14-15).

3. Membantu kita untuk hidup lebih baik. Orang yang tidak melihat bahwa apa yang dilakukannya diperhitungkan untuk kekekalan, tidak mempunyai motivasi yang tinggi untuk hidup lebih baik. Namun, jika ia percaya akan kehidupan kekal di masa mendatang, ia akan terdorongi untuk berbuat baik, tahan menghadapi segala tantangan, penderitaan dan ketidakadilan di dunia ini. Rasul Paulus menuliskan, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1Kor 15:19).

4. Membantu kita untuk menjauhi kejahatan. Dengan percaya akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan, kita terdorong untuk menjauhkan diri dari kejahatan, karena tahu bahwa kejahatan dapat mengakibatkan penghukuman di kehidupan mendatang. Rasul Yohanes menulis, “dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh 5:29)

Realitas Kebangkitan Badan

Mereka yang menentang kebangkitan badan sebelum Kristus adalah kaum Saduki (Mat 22:23; Kis 23:8) dan orang-orang pagan (Kis 17:32), kaum Gnostics dan Manichaeans, di zaman Abad Pertengahan, adalah kaum Katharis, dan di zaman modern adalah kaum Materialis dan kaum Rationalis. Namun sebenarnya, kita dapat membuktikan kebangkitan badan baik dengan akal budi – sejauh yang dapat kita terangkan dengan akal budi – maupun dari Wahyu Allah.

Pembuktian dari akal budi

Dalam katekismus Konsili Trente dipaparkan pembuktian dari akal budi. Kebangkitan badan ada karena:
1) Keterpisahan tubuh dan jiwa dalam kematian itu menentang kodrat, sehingga sifatnya sementara.
Kebangkitan badan berkaitan dengan jiwa yang kekal. Ini dikatakan Yesus kepada kaum Saduki (lih. Mat 22:29-30). Jiwa manusia yang kekal ini secara kodrati cenderung untuk bersatu dengan tubuhnya. Jadi, pemisahan antara jiwa dan tubuh yang terjadi dalam kematian, bertentangan dengan kodrat manusia. Apa yang bertentangan dengan kodrat hanya akan bersifat sementara. Jika kodrat jiwa adalah kekal dan tubuh hancur dalam kematian, maka layaklah jika tubuh yang hancur ini kemudian akan dibangkitkan, dipulihkan dan bersatu dengan jiwanya yang kekal.

2) Prinsip keadilan: tubuh dan jiwa layak menerima penghargaan ataupun penghukuman tergantung dari perbuatannya. St. Krisostomus dalam homilinya kepada umat di Antiokia mengajarkan bahwa ketika manusia hidup di dunia, jiwa dan badannya saling bekerjasama ketika berbuat kejahatan maupun kebajikan, sehingga sudah selayaknya penghukuman maupun penghargaan diterima oleh jiwa maupun badan. Namun, banyak orang yang sebelum meninggal dunia tidak mengalami penghukuman terhadap kejahatan yang mereka lakukan ataupun tidak mendapatkan penghargaan dari kebajikan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, dalam Pengadilan Terakhir, ketika manusia memperoleh penghargaan maupun penghukuman, jiwa juga akan bersatu dengan tubuh, sehingga yang menerima penghargaan dan penghukuman adalah persatuan jiwa dan tubuh dan bukan hanya jiwa saja. Persatuan ini mensyaratkan kebangkitan badan.

3) Kebangkitan badan juga merupakan efek kesempurnaan dari penebusan Kristus. Kristus telah menebus dunia, karena dengan wafat-Nya, Ia telah menghancurkan kematian, sehingga ada kehidupan di dalam Kristus. Manusia yang kodratnya memiliki jiwa dan tubuh juga akan dibangkitkan sesuai dengan kodratnya, maka ada persatuan kekal antara jiwa dan tubuh. Dan karena Kristus sebagai Kepala Gereja telah bangkit – baik jiwa maupun tubuh-Nya – maka sebagai anggota Gereja, kita semua juga akan mengalami kebangkitan badan untuk bersatu dengan jiwa kita, seperti Kepala kita.

Pembuktian dari Kitab Suci

Di dalam Perjanjian Lama, terlihat adanya perkembangan pandangan tentang kebangkitan badan. Nabi Hosea dan Yehezkiel menggunakan simbol kebangkitan untuk menggambarkan pembebasan Israel atas dosa dan pengasingan (Hos 6:2, 13:14; Yeh 37:1-14). Yesaya mengajarkan kebangkitan badan (Yes 26:19), demikian juga dengan Daniel, yang mengajarkan baik mereka yang baik maupun yang jahat akan bangkit setelah kematian; orang- orang yang baik masuk surga, sedangkan yang jahat dihukum (lih. Dan 12:2). Kitab 2 Makabe juga mengajarkan doktrin kebangkitan orang mati (Mak 7:9,11,14,23,29; 12:43, 14:16).

Yesus menolak pandangan kaum Saduki, “Kamu sesat sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.” (Mat 22:29-30). Yesus mengajarkan bukan hanya kebangkitan badan bagi orang- orang benar (Luk 14:14) tetapi juga orang- orang jahat, yang akan dimasukkan ke neraka bersama- sama dengan tubuh mereka (Mat 5:29; 10:28; 18:8). “…mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:29). Kepada mereka yang percaya kepada-Nya, dan yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya, Yesus menjanjikan kebangkitan badan pada akhir zaman (Yoh 6:39-; 44,55). Sebab Kristus sendiri adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25), maka Ia berjanji bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun mereka sudah mati (lih. Yoh 11:26).

Para rasul mengajarkan tentang kebangkitan badan semua orang mati dalam hubungannya dengan kebangkitan Kristus (lih. Kis 5:1; 17:18,32; 24:15,21; 26:23). Rasul Paulus menegur jemaat di Korintus yang menolak kebangkitan badan, dan mengatakan bahwa dasar kebangkitan badan adalah kebangkitan Kristus, “Kristus telah dibangkitkan dari orang mati sebagai yang sulung dari orang- orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena satu orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap- tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya…..” (1 Kor 15:20-23). Musuh terakhir yang dibinasakan ialah maut (lih.1 Kor 15:26, 54-55). Maka karena kemenangan Kristus atas maut, kita beroleh kebangkitan badan (lih. Rom 8:11; 2Kor 4:14; Fil 3:21; 1 Tes 4:14,16; Ibr 6:1-20)

Para Bapa Gereja yang diserang oleh banyaknya ajaran sesat, mengajarkan dengan detail tentang kebangkitan badan, seperti yang dilakukan oleh St. Klemens dari Roma, St. Yustinus, Athenagoras, Tertullian, Origen, Methodius, St. Gregorius dari Nissa, St. Agustinus dalam Enchiridion 84-93, De civ. Dei XXII 4-.

Tubuh sebelum dan sesudah kebangkitan

Konsili Lateran ke-4 (1215) mengajarkan: “They will rise with their bodies which they have now.” Terjemahannya: Mereka [semua orang] akan bangkit dengan tubuh yang mereka miliki sekarang.”

Hal ini secara implisit dinyatakan dalam Kitab Suci, yaitu bahwa tubuh ini yang mati dan terdekomposisi, akan bangkit kembali, seperti tertulis dalam 2 Mak 7:11 “…aku berharap akan mendapatkan kembali semuanya [lidah dan tangannya] dari pada-Nya!”, dan dalam 1 Kor 15:53, “Karena yang dapat binasa ini dapat mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati.”

Para Bapa Gereja mengajarkan demikian, “Tubuh ini akan bangkit lagi dan diadili, dan “kita akan menerima penghargaan kita di dalam tubuh ini.” (St. Klemens, 2 Kor 9:1-5) “Kita berharap akan menerima kembali tubuh kita yang mati… dengan percaya bahwa pada Tuhan tidak ada yang mustahil” (St. Yustinus, Apol. 1.18). Dasarnya adalah, karena kebangkitan badan mensyaratkan identitas tubuh sebelum dan sesudah kebangkitan. Hal ini juga diajarkan oleh Methodius, St. Gregorius Nissa, St. Epiphanius (Haer. 64) dan St. Jerome (Adv. Ioannem Hierosolymitanum).

Maka secara umum para Bapa Gereja mengajarkan bahwa tubuh akan bangkit lagi dengan integritas yang lengkap, bebas dari distorsi, dari bentuk yang buruk maupun cacat. St. Thomas Aquinas mengajarkan, “Orang akan bangkit lagi dengan kemungkinan terbesar akan kesempurnaan alami,” sehingga artinya, [tubuh yang bangkit itu] di tahap usia yang dewasa (Summa Theology, Suppl. 81.1). Integritas dari tubuh setelah kebangkitan juga mensyaratkan organ- organ tubuh, dan pembedaan jenis kelamin. Namun demikian fungsi- fungsi vegetatif (makan dan berkembang biak) tidak ada lagi. Sebab dikatakan dalam Mat 22:30, “Mereka akan menjadi seperti malaikat Tuhan di surga.”

Komposisi Tubuh setelah Kebangkitan badan

1. Tubuh orang -orang benar akan diubah seperti tubuh Kristus yang bangkit (Sen. certa)

St. Paulus mengajarkan, “[Yesus Kristus] akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” (Fil 3:21). “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” (1 Kor 15:42-44), lihat 1 Kor 15:53.

Berdasarkan ajaran para Rasul, maka para Teolog mengelompokkan empat karunia sehubungan dengan kebangkitan badan orang- orang benar:

a. Tidak dapat menderita (incapability of suffering/ impassibilitas), tidak dapat lagi mengalami sakit ataupun mati. Why 21:4 “Dan Ia [Tuhan] akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau rapat tangis, dan duka cita sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (lihat juga Why 7:16, Luk 20:36: “Sebab mereka tidak dapat mati lagi”. Alasan mendasar impassibilitas ini adalah karena tubuh tunduk/ taat sempurna kepada jiwa. (Summa Theology, Suppl. 82,1)

b. Subtilitas, yaitu, sebuah kodrat yang rohani/ spiritual. Namun demikian, ini tidak untuk diartikan bahwa tubuh diubah menjadi hakekat spiritual ataupun penghalusan tubuh/ matter menjadi tubuh yang tidak bisa diraba (etheral body), lihat Luk 24:39 [disebutkan bahwa Yesus yang bangkit mempunyai tubuh yang dapat diraba, mempunyai daging dan tulang]. Maka model tubuh spiritual ini adalah tubuh kebangkitan Kristus, yang dapat keluar dari kubur yang tertutup rapat dan yang menembus pintu yang terkunci (Yoh 20:19, 26). Alasan dasar tubuh yang rohani ini adalah kesempurnaan dominasi jiwa yang ter-transfigurasi, terhadap tubuh (Summa Theology, Suppl. 83,1).

C. Agilitas, yaitu kemampuan tubuh untuk mentaati jiwa dengan kemudahan yang sempurna dan gerakan yang cepat. Maka ini bertentangan dengan beratnya tubuh duniawi yang dikondisikan oleh hukum gravitasi. Agilitas ini terjadi pada tubuh Kristus yang secara tiba- tiba hadir di tengah para Rasul-Nya dan yang lenyap dari pandangan mereka juga dengan cepat (Yoh 20:19, 26; Luk 24:31). Alasan dasar agilitas adalah kesempurnaan dominasi jiwa yang ter-transfigurasi, yang telah memindahkan tubuh (Summa Theology, Suppl. 84, 1)

d. Klaritas, bebas dari segala bentuk deformasi, dan diisi oleh keindahan dan terang. Yesus mengatakan, “Pada waktu itu orang- orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” (Mat 13:43), lih. Ul 12:3. Model transfigurasi ini adalah Transfigurasi Yesus di gunung Tabor (Mat 17:2), dan setelah kebangkitan-Nya (Kis 9:3). Alasan dasar transfigurasi ini adalah keindahan yang melimpah ruah dari jiwa yang ter-transigurasi ke dalam tubuh. Tingkat transfigurasi tubuh, menurut 1 Kor 15:41-, akan bervariasi tergantung dari tingkat keindahan jiwa, yang sebanding dengan ukuran jasa/ perbuatan kasih yang dilakukannya. (Summa Theology, Suppl. 85, 1)

2. Tubuh orang- orang yang jahat akan bangkit di dalam ketidakbinasaan (incorruptibility and immortality), tetapi mereka tidak mengalami transfigurasi (Sent. certa)

Incorruptibilitas dan immortalitas ini merupakan prasyarat bagi penghukuman abadi bagi tubuh di neraka. (Mat 18:8-). Immortalitas (lih. 1 Kor 15:52-) tidak termasuk perubahan tubuh dan fungsi- fungsi yang berhubungan dengan perubahan tubuh, tetapi pada orang jahat ini, immortalitas tidak berarti bahwa mereka tidak dapat menderita. (Summa Theology, Suppl. 86, 1-3).

Merindukan Kebangkitan Badan

Dalam artikel syahadat “Aku percaya akan kebangkitan badan”, seluruh umat Katolik diajak untuk sekali lagi berfokus pada tujuan akhir, yaitu Sorga. Dengan mengetahui bahwa suatu saat tubuh kita akan dibangkitkan dan bersatu dengan jiwa dan kemudian hidup dalam kekekalan, maka kita akan mengarahkan semua hal di dunia ini untuk mencapai kebahagiaan kekal. Dogma ini dapat membantu kita untuk senantiasa tabah dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, bertekun dalam kasih, dan senantiasa berjuang dalam kekudusan, sehingga pada akhirnya, kita akan menjadi manusia baru di dalam Kristus dan hidup bahagia selamanya di Sorga untuk selamanya. Kematian Kristus membuka pintu perdamaian antara kita dengan Allah dan oleh kurban Kristus kita dapat memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal.

Protected: Pengembangan katolisitas

0

This content is password-protected. To view it, please enter the password below.

Lemah Namun Kuat

3

Berita pengunduran diri Paus Benedictus XVI cukup mengejutkan. Aku penasaran mengenai alasan pengunduran diri beliau. Setelah mencari berbagai informasi, aku lebih terkejut lagi. Dan malu pada diriku sendiri.

Dalam salah satu akun jejaring sosial Dr. Scott Hahn, aku melihat betapa Bapa Suci bergumul dengan kelemahan dirinya demi melayani Tuhan. September 1991, beliau mengalami hemorrhagic stroke (stroke yang terjadi karena adanya perdarahan di otak) yang merusak penglihatannya untuk sementara. Enam tahun kemudian, beliau ingin mengundurkan diri dari jabatan Prefek CDF (Congregation for the Doctrin of the Faith / Kongregasi untuk Ajaran Iman), yang kemudian ditolak oleh Paus Yohanes Paulus II. Saat voting konklaf (proses pemilihan Paus) yang dulu memilih dirinya sedang berlangsung, beliau berdoa supaya Allah memilih kandidat lain yang lebih muda dan bertenaga, dan Allah berkata lain. Sebulan menjadi Paus, beliau kembali mengalami serangan stroke. Kardinal Barbarin menyatakan bahwa setelah serangan stroke pertama, Bapa Paus telah mengalami masalah jantung dan terus menjalani pengobatan. Seminggu setelah pengunduran dirinya, baru diketahui bahwa sebelum pemilihan beliau tahun 2005 lalu, jantung beliau ternyata telah dipasang pemacu.

Dengan kondisi fisik yang begitu rapuh, beliau tetap menanggapi panggilan Allah menjadi Paus. Tentu saja, menjadi Paus bukan perkara mudah. Terutama, di zaman yang lebih penuh tantangan dan godaan dibanding abad-abad sebelumnya. Aku jadi teringat betapa sering aku berlindung di balik segala kelemahanku ketika Allah memberikan tugas-tugas kecil.

St. Paulus berkata : “Sebab ketika aku lemah, aku kuat” (2 Kor 12:10). Sebagaimana St. Paulus dan Bapa Suci Benedictus XVI dikuatkan Allah dalam segala kelemahan mereka, aku juga ingin belajar bahwa kelemahan dan kekuranganku tidak menjadi halangan akan setiap panggilan dan tugas Kristus padaku.

Masa Pra-Paskah adalah saat yang tepat bagiku untuk belajar bahwa kasih Allah akan menguatkanku untuk menjalankan setiap kehendak-Nya. Gulali memang lembut, namun justru itulah daya tariknya. Aku juga penuh kelemahan, namun Allah tetap tertarik dan mencintaiku. Sebuah gulali manis dari Paus Pendahulu Benedictus XVI akan menemani perjalananku menikmati manisnya Rahmat Pertobatan dari Allah di masa Pra-Paskah ini :

Kita bukanlah kumpulan dari kelemahan dan kegagalan kita. Kita adalah kumpulan cinta Bapa pada kita dan kemampuan sejati kita untuk menjadi gambaran PutraNya, Yesus.” – Blessed John Paul II.

Facebook Account Scott Hahn :
http://www.facebook.com/pages/Scott-Hahn/165171813503937?ref=stream

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab