Home Blog Page 139

Ayo Coba Sekali Lagi..:)

2

Harga diriku memang seharusnya sudah dibeli total oleh Darah Kristus. Namun, terkadang masih terasa terlalu mahal untuk papaku sendiri.

Papa saya bukan tipe papa idaman seperti yang digambarkan di film-film. Secara positif, beliau sebenarnya adalah orang yang bertanggungjawab dalam pekerjaan. Namun, kadang terlalu serius dalam pekerjaan hingga lupa keluarga. Kepalanya lebih keras dari karang. Pola pikirnya masih agak kuno dan kental dengan budaya Tionghoa. Dipadukan dengan temperamen yang lebih labil dari Gunung Merapi, lengkap sudah kombinasi maut kepribadiannya. Ketika beliau “meledak”, orang tidak bersalah turut menjadi korban.

Aku mencoba mengupayakan ketaatan pada orangtuaku sebagai salah satu usaha menjalani pertobatan di masa retret agung ini. Tantangan ini cukup sulit, karena jiwa mudaku berusaha menolak untuk memiliki kepatuhan total. Namun, termotivasi oleh dorongan-Nya, dan menurutku akan membantu dalam melatih pemurnian panggilan, aku bertekad melakukannya : melatih diriku untuk patuh pada orangtuaku dan tidak membantah.

Awalnya, aku masih bersemangat dan berusaha menerima beliau apa adanya. Aku masih bisa menyemangati diri untuk lebih mengubah diri daripada berusaha mengubah orang lain. Lama-kelamaan, stok kesabaran habis juga. Suatu hari, sikap sinis dan nada menyindir yang lama dipendam tertumpah. Kata-kataku menjadi tidak sopan. Aku membantah apa yang ia perintahkan padaku karena aku merasa caraku lebih benar. Syukurlah, Mama memintaku mengirimkan sesuatu. Ada kesempatan menjauh sebentar dari sumber kemarahan. Selama perjalanan, aku merenungkan apa yang sudah kuperbuat tadi. Akhirnya, timbul penyesalan karena aku gagal memenuhi janji pada Kristus untuk taat pada orangtuaku.

Akupun bertekad untuk meminta maaf pada papaku. Sepulang mengantarkan barang, papaku sudah bersikap seolah tidak ada apa-apa. Memang biasanya juga begitu. Kata maaf terasa mulai menggantung di ujung bibir, terbersit niat untuk tidak perlu meminta maaf. Toh tadi memang bukan salahku dan papa juga kelihatan sudah tidak mempermasalahkan. Syukur pada Allah, rahmat-Nya lebih kuat dari harga diriku sehingga aku akhirnya meminta maaf. Aku bersyukur bahwa Tuhan menguatkanku agar janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahku (lih. Ef 4:26).

Perjuanganku untuk bertobat di masa Prapaskah ini memang tidak mulus. Tidak jarang aku terjatuh dan gagal. Tapi, Allah senantiasa menetesiku dengan rahmat-Nya yang manis, menguatkanku untuk bangkit, dan memberi kesempatan untuk memintal kembali gulali yang sudah kurusak sendiri. Aku mau memintal kembali gulaliku. Kali ini, akan kucoba untuk memberi lebih banyak taburan rasa “kerendahan hati”. Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mulai melatih kerendahan hati selain sekarang. Semoga di masa Prapaskah ini, Allah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai panutan, aku ingin gulaliku semanis gulali Beata Teresa dari Kalkuta yang berkata :

Kerendahan hati adalah ibu dari semua kebajikan: kemurnian, kasih, dan ketaatan. Dalam kerendahan hatilah cinta kita menjadi nyata, setia, dan bersemangat.

Puisi Kasih

1

puisi kasihMalam berganti pagi. Tarian gemulai kabut tipis menghiasi angkasa. Sinar sang surya menyingkapkan misteri keindahan dan kekuatan kasih dari seorang pria yang tak sadarkan diri selama tiga hari, di bangsal sederhana. Lagu-lagu rohani menemaninya dari radionya yang mungil. Seluruh hidupnya tertumpahkan untuk mengabdi. Ia adalah seorang pendidik di sekolah bagi manusia kecil. Ia juga melayani sebagai seorang ketua lingkungan dengan ketulusan hati. Ia memberikan diri untuk mempersiapkan orang-orang yang ingin menjadi katolik. Pengabdiannya telah menyatu di dalam hati sehingga tiada kehausan untuk dipuji dan dihargai. Sebelum tak sadarkan diri, ia mengingau tentang paduan suara yang telah ia siapkan untuk melayani di dalam gereja yang ia cintai. Berkat dari Tuhan adalah istrinya yang memenemani. Saat itu ternyata merupakan ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh tahun. Doa dan berkat dariku dan Romo Niko, SS.CC di atas kepalanya atas persatuan suci tiba-tiba membuat tubuhnya bergerak. Istrinya membisikkan sebuah kata indah : “Rasa sayangku padamu tak pernah berubah dan semakin kian bertambah”. Ungkapan kasih sang istri membuat kelopak matanya terbuka. Ia pun sadarkan diri kembali sampai kini walaupun harus tetap duduk di kursi. Setiap hari ia melatih diri untuk berjalan kaki di rumahnya yang kecil. Seminggu sekali ia menemani sang istri membimbing anak-anak belajar kitab suci. Sorotan matanya menampakkan keinginannya untuk melayani sampai mati. Kasihnya  pada Tuhan dan umat-Nya tidak pernah berhenti walaupun fisiknya tiada  berdaya  lagi. Kasihnya senantiasa disegarkan dengan sekeping hati dari sang istri.

Kisah kasih ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita, manusia kini. Kasih suci menurunkan harapan bagaikan kerla-kerlip cahaya bintang di tengah gelapnya angkasa raya. Harapan yang telah dingin menampilkan kehangatannya kembali bahkan lebih dahsyat daripada letupan-letupan mercon berkat persembahan kasih. Kasih membuat hidup tetap mempesona dan berwarna walaupun penuh dengan duri.

Kasih merupakan anugerah terindah dari yang Maha Kuasa dan tertanan di dalam hati sehingga kasih senantiasa memancar dari keheningan jiwa. Kasih mampu berbicara tanpa kata. Kasih bisa menyanyi tanpa nada. Ia mampu berpuisi tanpa kata-kata mutiara. Ia menyapu gelapnya dunia hanya dengan satu kedipan mata. Keindahan kasih tak pernah sirna terhapus derita yang mungkin telah mengacaukan kehidupan. Di dalam gelapnya kehidupan, kasih senantiasa menghujankan terangnya. Di dalam kekeringan, kasih memompakan air kerinduan  bagaikan air bah yang meluap di dada.  Kekuatan kasih bukan seperti banjir yang melanda kota Jakarta, tetapi seperti air sungai yang senantiasa mengalir tiada hentinya. Kedahsyatan kasih bukan seperti badai yang menerpa, tetapi seperti angin semilir yang berhembus merasuki relung-relung jiwa.

Kasih nyata dalam perbuatan. Kasih terungkap bukan sekedar dalam  senyuman yang menawan dan kata-kata indah yang melunglaikan jiwa. Indahnya kata dan manisnya senyuman bisa-bisa hanya sebuah pesona sesaat dan rayuan semata. Perbuatan kasih merupakan ungkapan iman. Setetes kasih yang berasal dari iman mampu mengubah yang pahit menjadi manis bagaikan sepotong kayu yang dileparkan Nabi Musa ke dalam sumur di Mara sehingga memuaskan dahaga Bangsa Israel  ketika mereka berarak menuju tanah terjanji, Kanaan, dengan melewati padang gurun (Keluaran 15:22-26). Kasih mampu mamandang  sampai kedalaman relung batin dan sanubari sehingga mampu berbuat sesuai dengan kebutuhan. Kasih berbuat sesuatu tanpa menyakitkan, menjengkelkan, membingungkan, atau menyedihkan. Jika kasih menyebabkan sakit, itu bukan kasih tetapi luka. Jika kasih menorehkan kejengkelan, itu bukan kasih tetapi kekecewaaan. Jika kasih melahirkan kebingungan, itu bukan kasih tetapi dilema. Jika kasih membuat sedih, itu bukan kasih tetapi duka. Kasih senantiasa mendatangkan kebahagiaan hati yang melahirkan kebaikan.

Jadikan hidup ini sebuah “Puisi Kasih”, maka getaran kebahagiaan akan bertahta selamanya. TuhanYesus  adalah  Puisi Kasih yang agung. Seruan-Nya di atas salib “Aku haus” menggambarkan kasih itu senantiasa mencari. Darahnya yang mengalir dari kepala-Nya yang tertancap duri melukiskan kasih itu menghidupkan. Jadi, kasih adalah kehidupan iman, kasih merupakan raga persaudaraan, dan kasih adalah mahkota belarasa. Kasih akhirnya membuat banyak orang merasakan kekuatan dan pendampingan Tuhan dalam pergumulan hidupnya : “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29). Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Doa Untuk Bapa Suci Benediktus XVI, Gereja, dan Pemilihan Paus Baru

4

Allah Bapa, Maha Pengasih dan Penyayang, Penyelenggara hidup kami, Engkau telah memilih Bapa Suci Paus Benedictus XVI untuk memimpin Gereja-Mu. Karena usianya yang lanjut dan kesehatannya yang tidak memadai lagi, dengan penuh kebebasan beliau mengundurkan diri dari jabatannya itu. Terdorong oleh cintanya kepada Gereja-Mu, Bapa Suci mengajak kami semua umat-Mu untuk berdoa, “Marilah sekarang kita percayakan Gereja Kudus ini ke dalam penggembalaan Yesus Kristus, Sang Gembala Utama.”

Maka kami berdoa untuk Gereja-Mu yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, semoga kami semakin menjadi garam dan terang dunia; bersatu baik dalam kegembiraan dan harapan, maupun dalam duka dan kecemasan masyarakat di dunia ini, dan menjadi sakramen keselamatan, tanda kehadiran-Mu di tengah-tengah umat manusia.

Kami juga berdoa untuk hamba-Mu Paus Benedictus XVI, yang dengan rendah hati dan penuh kasih telah melayani Gereja-Mu sebagai penerus pelayanan St Petrus. Semoga Engkau mendampingi beliau dalam hidupnya pada hari-hari selanjutnya untuk menjadi pendoa bagi Gereja dan menjadi hamba-Mu yang setia dalam memberikan kesaksian iman yang teguh, harapan yang kokoh, dan kasih yang membara.

Kami berdoa pula untuk pemilihan Paus yang baru. Semoga Engkau membimbing Gereja-Mu dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja melalui para Kardinal yang akan memilih Paus baru. Semoga Engkau berkenan memberkati mereka, agar dengan hati terbuka dan doa yang penuh iman mereka dapat memahami kehendak-Mu dalam melaksanakan pemilihan Paus yang baru.

Semoga berkat pertolongan Bunda Tersuci, Santa Perawan Maria, Gereja Kristus mendapatkan Pengganti Santo Petrus yang akan memimpin Gereja dalam peziarahannya menuju surga. Dengan Pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Keuskupan Manado

13 Februari 2013

Hari Rabu Abu

Siapa itu Yesus Barabbas? (Mat 27:17)

0

Ada banyak orang mempertanyakan siapakah sebenarnya Yesus Barabbas yang disebut dalam Mat 27:17-26 , yang telah dipilih oleh orang-orang Yahudi untuk dibebaskan, dan Tuhan Yesus Kristus dihukum mati menggantikan dia.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth, menjelaskan tentang Yesus Barabbas ini, demikian:

“Di puncak pengadilan Yesus, Pilatus menghadirkan pilihan kepada orang banyak, antara Yesus dengan Barabbas. Satu dari antara mereka akan dibebaskan. Tetapi siapakah Barabbas? Biasanya perkataan dalam Injil Yohanes yang akan muncul di pikiran: “Barabas adalah seorang penyamun” (Yoh 18:40). Tetapi bahasa Yunani untuk “penyamun” telah mempunyai arti khusus dalam situasi politik yang terjadi pada zaman itu di Palestina. Kata itu menjadi persamaan kata dengan “pemberontak”. Barabbas mengambil bagian dalam pemberontakan (lih. Mrk 15:7) dan lebih lagi -dalam konteks itu- telah dituduh sebagai pembunuh (lih. Luk 23:19, 25). Ketika Matius menyebutkan bahwa Barabbas adalah “penjahat yang terkenal” (Mat 27:16), ini adalah bukti bahwa ia adalah pemberontak yang ternama, sesungguhnya kemungkinan adalah pemimpin sesungguhnya dari pemberontakan itu.

Dengan kata lain, Barabbas adalah seorang tokoh mesianis. Pilihan antara Yesus vs Barabbas bukan merupakan kebetulan: dua orang tokoh mesias, dua bentuk kepercayaan mesianis saling berhadapan di sini. Ini menjadi semakin jelas ketika kita memperhatikan bahwa nama Bar-Abbas berarti “anak dari bapa”. Ini adalah gelar mesianis yang tipikal, nama ideal bagi pemimpin utama bagi gerakan mesianis. Pemberontakan Yahudi besar yang terakhir di tahun 132 dipimpin oleh Bar-Kokhba, “anak bintang”. Bentuk namanya sama, dan muncul dengan maksud yang sama.

Origen, seorang Bapa Gereja, memberi kita detail lain yang menarik. Sampai abad ke-tiga, banyak manuskrip Injil mengacu kepada orang yang dipermasalahkan ini sebagai “Yesus Barabbas”- “Yesus, anak bapa”. Barabbas di sini adalah sebagai kebalikan dari Yesus, yang membuat klaim yang sama tetapi memahaminya dengan cara yang sangat berbeda sama sekali. Maka pilihannya adalah antara seorang Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata, yang menjanjikan kemerdekaan dan kerajaaan sendiri, dengan Yesus yang penuh misteri, yang mengajarkan bahwa jalan menuju kehidupan adalah dengan kehilangan nyawanya/ menyerahkan hidupnya. Apakah mengherankan jika orang banyak memilih Barabbas? ……

Jika kita harus memilih sekarang ini, apakah Yesus dari Nazareth, anak Maria, Anak Bapa, dapat memperoleh kesempatan? Apakah kita benar-benar mengenal Yesus? Apakah kita memahami-Nya? Apakah kita tidak, mungkin harus berusaha, sekarang ini dan selalu, untuk mengenal Dia lagi dan lagi? Sang penggoda tidak begitu kejam untuk menganjurkan kita secara langsung bahwa kita harus menyembah setan. Ia hanya menganjurkan bahwa kita memilih keputusan yang masuk akal, bahwa kita memilih untuk memberi prioritas kepada dunia yang terencana dan teratur secara menyeluruh, di mana Tuhan mendapat tempat-Nya sebagai perhatian privat tetapi tidak boleh mempengaruhi maksud-maksud dasar kita…..

Petrus, berbicara atas nama para murid, telah mengaku bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Kristus, Putera Allah yang hidup. Dengan ini, ia telah menyatakan dengan perkataan, iman yang membangun Gereja dan meresmikan komunitas  baru akan iman yang berdasarkan Kristus. Pada saat yang penting ini, ketika pengetahuan yang berbeda dan definitif tentang Yesus memisahkan para pengikut-Nya dengan pendapat umum, dan mulai menentukan mereka sebagai keluarga-Nya yang baru, sang penggoda muncul – mengancam untuk membalikkan semuanya menjadi kebalikannya. Tuhan secara langsung menyatakan bahwa konsep Mesias harus dipahami dengan pengertian keseluruhan pesan para Nabi- itu bukan kekuatan dunia, tetapi Salib itu, dan komunitas yang berbeda secara radikal, yang terbentuk melalui Salib itu…. ” (Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (New York: Double Day, 2007), p. 40-42)

Penjelasan ini membuka mata hati kita, bahwa bukan suatu kebetulan bahwa penjahat yang dipilih untuk dibebaskan sebagai ganti Yesus Kristus, juga bernama Yesus, bahkan Yesus Barabbas. Pembebasan Barabbas menunjukkan bahwa lebih mudah orang memilih pengertian mesias menurut dunia, daripada pengertian Mesias, yang dikehendaki Allah. Semoga oleh tuntunan Roh Kudus, kita mampu memilih yang benar, ketika dihadapkan atas pilihan ini: kejayaan duniawi, ataukah salib menuju kejayaan surgawi? Yesus Barabbas ataukah Yesus Kristus dari Nazareth?

Semoga bersama Rasul Petrus, kita dapat berkata dengan iman kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”! (Mat 16:18)

Aku Percaya akan Kehidupan Kekal

6

Pengharapan Kristiani

Setelah kita membahas apa yang kita percayai, yaitu dari: Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus, Gereja, maka kini kita melihat artikel terakhir dari Syahadat, yaitu “Aku Percaya akan kehidupan kekal”. Kehidupan kekal ini adalah kehidupan yang seharusnya dengan dengan penuh pengharapan dinantikan oleh seluruh umat beriman, karena Kristus sendiri telah menjanjikannya sesuai dengan rencana karya keselamatan-Nya. Pengharapan Kristiani mengarahkan pandangan kita kepada perkara-perkara yang di atas (lih. Kol 3:1) yang kekal adanya.

1. Pengharapan akan janji Kristus

Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Janji ini tidak akan mungkin diperoleh oleh manusia dengan kekuatannya sendiri, namun manusia diberikan jalan untuk mencapainya. Keselamatan ini hanya mungkin dicapai karena Tuhan sendiri telah memberikan kasih karunia kepada umat-Nya (Ef 2:8), iman yang bekerja melalui kasih (lih. Gal 5:6), percaya dan dibaptis (lih. Mrk 16:16). Rahmat Allah ini mengalir kepada umat-Nya melalui sakramen-sakramen maupun dalam bentuk rahmat – baik rahmat pembantu maupun rahmat pengudusan dan juga karunia-karunia Roh Kudus.

Karena yang menghalangi manusia untuk mencapai kehidupan kekal adalah dosa – terutama dosa berat – maka sudah seharusnya Kristus juga memberikan jalan bagi umat manusia untuk memperoleh pengampunan dosa, sehingga manusia tidak kehilangan harapan untuk mencapai kehidupan kekal. Oleh karena itu, berdasarkan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah dan kuasa yang diberikan kepada Gereja (lih. Yoh 20:21-23; Mat 16:16-19), maka umat Allah dapat memperoleh pengampunan dan Sorga kembali terbuka bagi umat Allah.

2. Pengharapan berdasarkan iman

Rasul Paulus menegaskan kepada kita bahwa kita harus berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, karena Kristus – yang adalah Allah – setia terhadap janji-Nya (lih. Ibr 10:23). Karena Allah sendiri menginginkan kebahagiaan kita, maka sudah selayaknya Ia menyediakan segala sesuatu untuk mencapainya. Dengan demikian, kalau kita bekerja sama dengan rahmat-Nya, kita akan memperoleh kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya. Santo Agustinus mengatakan, “Saya tidak pernah berharap untuk mendapatkan pengampunan atau Sorga ketika saya berfikir tentang dosa-dosa berat yang saya lakukan, namun saya menaruh pengharapan bahwa melalui jasa Kristus, saya memperoleh keselamatan dengan pertobatan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.”

3. Pengharapan menjadi nyata dengan melaksanakan kehendak Allah

Walaupun Tuhan menginginkan bahwa semua orang diselamatkan, namun kita tahu bahwa tidak semua orang diselamatkan (lih. Mat 7:21-23). Dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus mengatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Kesadaran bahwa di samping ada Sorga yang telah dijanjikan oleh Allah, terbentang juga satu kenyataan keberadaan neraka, maka sesungguhnya kita tidak boleh lalai untuk senantiasa melakukan perintah Allah untuk terus bertumbuh dalam kebajikan. St. Bernardus menuliskan “Pengharapan tanpa kebajikan adalah satu kepongahan.” (In Cantica, Serm. 80).

4. Pengharapan dan menghindari dosa

Rasul Paulus, yang sungguh luar biasa dalam karya pewartaan, mengingatkan kita semua agar kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Flp 2:12). Ini disebabkan karena walaupun Allah setia terhadap janji-Nya, namun kita sering tidak setia terhadap Allah dengan dosa-dosa yang kita lakukan. Itulah sebabnya, Gereja Katolik melalui Konsili Trente mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mempunyai kepastian yang sempurna bahwa dia akan termasuk dalam bilangan orang-orang yang terpilih atau bahwa dia akan bertekun terus dalam kebajikan sampai ia wafat (Konsili Trente, 6, Kan. 15,16). Rasul Paulus berkata, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor 10:12). St. Yohanes Krisostomus menuliskan bahwa harapan dan ketakutan adalah teman; ketika mereka meraja, mahkota Sorga secara mudah akan didapatkan.

Dengan demikian, percaya akan belas kasih Allah dan takut akan keadilan Allah, sesungguhnya harus berjalan beriringan. Mengutamakan keadilan Allah sampai menimbulkan ketakutan namun lupa akan belas kasih Allah akan menimbulkan keputusasaan. Sebaliknya, hanya meyakini akan keselamatannya karena belas kasih Allah namun melupakan bahwa Allah yang sama juga dapat menghakimi kita, dapat membuat kita terlena sehingga membawa kita kepada penghukuman kekal.

5. Pengharapan diperlukan untuk keselamatan

Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan (lih. Rm 8:24). Seseorang yang tidak mempunyai pengharapan akan berputus asa dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan baik ataupun berusaha menghindari dosa. Tanpa pengharapan, maka seseorang dapat kehilangan semangat untuk berjuang. Oleh karena itu, dalam salah satu tulisannya, St. Agustinus mengajarkan bahwa kekudusan yang membawa kita pada keselamatan didirikan di atas iman, dibangun dalam pengharapan, dan diselesaikan dalam kasih. Setelah kita sampai ke Sorga, maka pengharapan tidak lagi diperlukan karena kita telah sampai pada tujuan.

6. Pengharapan kristiani adalah pemberian Allah yang mengalir dari rahmat pengudusan

Pengharapan Kristiani sebagai salah satu tiga kebajikan ilahi diberikan secara cuma-cuma kepada kita pada saat kita dibaptis, yang olehnya pada saat bersamaan kita juga menerima rahmat pengudusan. Semakin rahmat pengudusan meningkat maka pengharapan Kristiani juga akan meningkat, sehingga pengharapan untuk mencapai kehidupan kekal juga menjadi satu kerinduan.

Apakah Kehidupan kekal

Di dalam perikop tentang penghakiman terakhir, Yesus berkata, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:46) Dua kekekalan ini dihadapkan kepada manusia, yaitu siksaan/kematian kekal dan kehidupan kekal (bdk Ul 30:19). Bagi yang menerima kehidupan kekal, dia akan memperoleh kebahagiaan yang sempurna dan tanpa batas di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan yang menerima siksaan kekal akan menerima penderitaan abadi di neraka.

Kebahagiaan abadi di Sorga

Ketika umat Katolik menerima berkat perjalanan sebelum meninggal dunia, pastor akan mendoakan doa penyerahan jiwa sebagai berikut (dikutip dari KGK 1020):

“Bertolaklah dari dunia ini, hai saudara (saudari) dalam Kristus, atas nama Allah Bapa yang maha kuasa, yang menciptakan engkau; atas nama Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, yang menderita sengsara untuk engkau; atas nama Roh Kudus, yang dicurahkan atas dirimu; semoga pada hari ini engkau ditempatkan dalam ketenteraman dan memperoleh kediaman bersama Allah di dalam Sion yang suci, bersama Maria Perawan yang suci dan Bunda Allah, bersama santo Yosef dan bersama semua malaikat dan orang kudus Allah. … Kembalilah kepada Penciptamu, yang telah mencipta engkau dari debu tanah. Apabila engkau berpisah dari kehidupan ini, semoga Bunda Maria bersama semua malaikat dan orang kudus datang menyongsong engkau. … Engkau akan melihat Penebusmu dari muka ke muka…” (Doa penyerahan jiwa).

Dari doa ini, kita melihat bahwa bagi umat Kristen, kematian bukanlah merupakan satu akhir, namun menjadi satu awal untuk memulai hubungan yang lebih erat dengan Allah di dalam kehidupan kekal di Sorga. Bagaimanakah kehidupan kekal ini? St. Thomas Aquinas dalam bukunya – The Aquinas Catechism – menggambarkan kehidupan kekal ini sebagai berikut:

1. Kesempurnaan pandangan akan Allah. Persatuan dengan Allah adalah melihat Allah sebagaimana adanya Dia, melihat Allah muka dengan muka secara jelas dan bukan hanya merupakan gambaran yang samar-samar seperti dari dalam cermin (lih. 1Kor 13:12).

2. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah. Kesempurnaan pengetahuan akan Allah memungkinkan manusia untuk dapat mengasihi Allah dengan lebih sempurna.

3. Kesempurnaan pujian kepada Allah. Melihat dan mengetahui Allah yang adalah baik, indah dan benar akan membawa kita untuk dapat memuji Allah dengan sesungguhnya. Dalam bukunya, City of God,  St. Agustinus menuliskan bahwa kita akan melihat, akan mengasihi dan akan memuji Allah.

4. Kesempurnaan penggenapan keinginan. Dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada seseorangpun yang dapat menjadi pemenuhan keinginan kita, yang dapat membuat kita bahagia secara sempurna. Di dalam Sorga, Tuhan sendiri akan menjadi pemenuhan keinginan kita. St. Agustinus dalam bukunya, confession, menuliskan “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami tidak dapat beristirahat dengan tenang sampai beristirahat di dalam Engkau.”

5. Kesempurnaan keamanan. Di dalam dunia ini tidak ada kesempurnaan keamanan, karena seseorang yang mempunyai banyak hal dan mempunyai posisi tinggi, akan semakin merasa takut kehilangan apa yang telah dimiliki. Namun, di dalam Kerajaan Sorga tidak ada kesusahan, jerih payah, ataupun ketakutan.

6. Persahabatan dengan para kudus. Di dalam Sorga kita akan mendapatkan persahabatan dengan para kudus yang diwarnai dengan sukacita, karena setiap orang akan memiliki segala sesuatu yang baik bersama-sama. Mereka akan saling mengasihi seperti diri mereka sendiri dan bergembira terhadap kebaikan yang dipunyai oleh orang lain. Dengan demikian, kegembiraan dan kebahagiaan seseorang juga akan menjadi kebahagiaan dan kegembiraan yang lain.

Penderitaan abadi di neraka

Untuk menggambarkan kehidupan di Sorga, Rasul Paulus menuliskan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9) Sebaliknya, neraka dapat digambarkan sebagai kebalikan dari semua kebahagiaan tersebut. St. Thomas Aquinas menggambarkannya sebagai berikut:

1. Keterpisahan abadi dengan Tuhan. Di dalam neraka maka para terhukum akan terpisah secara abadi dengan Tuhan maupun dengan segala sesuatu yang baik. Ini adalah penderitaan karena kehilangan (pain of loss / poena damni). Kehilangan ini melebihi penderitaan badani. Yesus menggambarkannya sebagai berikut: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Mat 25:30) Kegelapan akan ada di dalam diri terhukum dan juga di luar mereka.

2. Penyesalan hati nurani. Di neraka mereka akan mempunyai penyesalan. Namun penyesalan ini tidaklah berguna, karena penyesalan mereka bukanlah karena membenci dosa, namun penyesalan karena mendapatkan hukuman kekal.

3. Intensitas siksaan inderawi. Kitab Mazmur menggambarkannya demikian, “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mzm 49:14) Di dalam neraka akan terjadi penderitaan badani (poena sensus), di mana mereka yang masuk di dalamnya mengalami kematian untuk selamanya.

4. Keputusasaan akan keselamatan. Karena tidak ada pengharapan apapun untuk keselamatan, maka hal ini akan semakin memperberat penderitaan mereka. Nabi Yesaya menuliskan, “Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.” (Yes 66:24)

Berfokus pada kehidupan kekal mulai dari sekarang

Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!

Discernment – Pembedaan roh-roh

15

1. Pengantar

Tujuan dasar dari paper ini adalah untuk memahami karakter dan dasar biblis discernment, memahami tujuan pokok discernment adalah melakukan kehendak Allah serta beberapa contoh petunjuk praktis berkaitan dengan metode discernment. ((Berkaitan dengan istilah, saya cenderung mempertahankan formula discernment untuk mempertahankan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Dalam bahasa Indonesia, kata ini kerap diterjemahkan dengan kata: memilah-milah, pembedaan roh.)) Bermula dari beberapa pertanyaan praktis yang dijumpai sehari-hari, dibuka sebuah cakrawala kesadaran untuk menentukan sebuah pilihan. Misalnya: Kamu cenderung untuk lebih memilih:

  • Seorang pendamping rohani yang kudus atau seorang pendamping rohani yang inteligen?
  • Seorang teolog yang berdoa, atau Seorang rahib yang berteolog?
  • Doa yang berangkat dari kehidupan sehari-hari atau Kehidupan sehari-hari yang ditopang oleh doa?
  • Berbuat baik pada sesama untuk masuk Surga atau Sudah mengalami Surga, lalu berbuat baik pada sesama?

Contoh situasi yang lain bisa ditunjukkan misalnya:

  • Apa yang bisa saya lakukan untuk mengubah dan memperbaiki keadaan saya?
  • Apa yang harus saya lakukan?
  • Bagaimanakah caranya mengambil sebuah keputusan?
  • Kriteria apa saja yang harus dipakai untuk mengambil sebuah keputusan?
  • Bagaimanakah caranya untuk menguatkan sebuah keputusan yang sudah dibuat?
  • Bagaimanakah caranya untuk tetap setia pada sebuah keputusan?

Dalam tradisi kehidupan para pertapa di padang gurun, kemudian dilanjutkan oleh para rahib dalam kehidupan monastik, para saudara/i dalam konfraternitas religius, para religius dalam kongregasi misioner hingga pada persaudaraan kaum awam, ada sebuah praktek “Pendampingan rohani” yang terus menerus dipertahankan sebagai salah satu sarana untuk mengatasi situasi di ambang dua pilihan tersebut.

Namun bukan tujuan dari praktek ini untuk mencari jalan pendek, mempermudah atau menghindari konflik dengan institusi atau, -kalau dalam kehidupan religius-, untuk menghindari kaul ketaatan. Misalnya, dapat saja seorang frater dari sebuah kongregasi misioner berkata, “Saya berefleksi dan membuat discernment pribadi bahwa bukanlah kehendak Tuhan bagiku untuk berangkat ke tanah misi di Amerika Latin, melainkan untuk tinggal dan berkarya di Indonesia saja”, atau seorang bapak dalam keluarga berkata, “Setelah bermeditasi selama satu jam tiap hari selama sembilan hari berturut-turut, saya ingin mengabdi Tuhan sepenuhnya dengan cara terlibat aktif di Gereja, maka anak dan istri saya harus memahami kalau saya sering kali tidak bisa hadir di tengah-tengah mereka”.

Terhadap situasi-situasi semacam ini, kita bisa bertanya: Ada apa di balik ini? Intuisi ini apakah benar merupakan kehendak Allah atau ada sesuatu dalam diriku yang membuat aku sulit untuk menerima pendapat orang lain, sulit untuk taat pada pimpinan, sulit untuk berdialog, mengabaikan tanggung jawab pokok sebagai religius atau kepala keluarga? Atau ada problem tentang kepribadian yang belum matang dan belum sepenuhnya memutuskan untuk membaktikan HIDUP SEPENUHNYA kepada Allah?

Menarik sekali bahwa St. Benediktus pernah menulis: “perlu mengenal di mana Allah hadir dan di mana Allah tidak hadir”
Maka, poin yang hendak kita dalami di sini adalah 1) Apakah artinya melakukan kehendak Allah? 2) Apakah yang diminta oleh Allah padaku? 3) Bagaimana caranya agar aku dapat melakukan kehendak Allah? Dengan jalan apa? Bagaimana itu diaktualisasikan?

Untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar ini, saya mengusulkan pemakaian tiga kata kerja yang kerap dipakai oleh St. Ignatius dari Loyola dalam latihan rohaninya: mencari, menemukan, melakukan (merasakan).

2. Sudut pandang biblis

Dalam teks Perjanjian baru, terdapat kata dalam bahasa Yunani “Dokimazeto” ( …hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri… bdk 1 Kor 11: 28-29). Kata ini digunakan untuk menggambarkan sistem kerja discernment rohani, yaitu olah diri atau cara untuk menguji diri sendiri. Maka, “Dokimazeto” dalam teks ini hendaknya diaplikasikan pada kesadaran hati nurani dan pada perilakunya, untuk melihat apakah sikap batinnya itu seirama dan menjadikan manusia layak untuk menyambut Tubuh Tuhan.
Paulus, dalam teks 1 Tes 5 : 21 (… ujilah segala sesuatu). Berbeda dari teks sebelumnya, Paulus mengaplikaikan kata “Dokimazeto” pada komunitas. Kata ini digunakan untuk membedakan mana yang merupakan ungkapan dari kehendak Allah melalui komunitas, mana yang merupakan tipuan dan hasutan belaka dari si jahat.
Para penginjil menggunakan kata ini untuk menekankan kemampuan dalam membedakan tanda-tanda zaman (bdk. Mt 16 : 3 – Luk 12 : 56).

1Yoh 4 : 1 “Saudara saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah: sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”. Dalam teks ini, Yohanes ingin menasihatkan pembedaan roh. Yaitu sebuah kemampuan untuk melihat dan memilah-milah segala hal yang ditangkap dan dipahami. Tidak semua yang nampaknya baik adalah baik dan tidak semua yang menyengsarakan adalah sebuah kesengsaraan dan dosa. Kemudian hari, teks ini dikembangkan kemudian oleh St. Ignasius di dalam latihan rohani n° 313-336.
Tema yang sama ditemukan di 2 Kor 11: 13-15. Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan agar mereka mengenal betul, untuk menghindari akibat buruk yang mungkin ditimbulkan. Yesus sendiri di Mt 7: 15-20 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka …”. Di sini ada sebuah anjuran yang amat kuat bahwa Yesus menasihatkan para murid agar sanggup membedakan dengan seksama antara pohon dan buah-buahnya.

Sadar akan situasi real di mana umat Katolik hidup dan berada, St. Paulus menganjurkan umat di Efesus agar hidup seperti anak-anak terang, melakukan discernment dan belajar untuk masuk dalam communio, agar tidak masuk ke persekutuan yang tidak menghasilkan buah atau justru membuahkan kegelapan (bdk. Ef 5: 10).

Lahan lain di mana harus dipraktekkan discernment adalah kehidupan. Misalnya di Gal 6: 3-4: setiap orang dapat melakukan discernment sendiri, tentang keadaan mereka dalam terang Allah, sebelum penghakiman Allah, atas apa yang layak di hadapan Allah dan yang tidak layak. Teks yang lain tentang discernment dalam Perjanjian baru ditemukan dalam Flp 1: 9-10 (untuk membedakan antara yang baik dan terbaik), 1 Kor 1: 10 (kebijaksanaan Katolik yang berbeda dengan logika dunia), Ibr 5: 14 (discernment sebagai karakter sejati dari seorang Katolik yang dewasa, dengan demikian dia ditransformasi menjadi manusia baru, menurut Kristus).

Sebagai sebuah rangkuman singkat, dari sudut pandang biblis, obyek formal dari discernment adalah melakukan kehendak Allah terhadap diri kita. Ini berarti bahwa kita harus bertindak atau menghindari, menerima atau menolak nasehat, anjuran dan arah…mengenali kecenderungan mana yang harus diikuti dan mana yang tidak.

Maka, Discernment tidak muncul dalam Perjanjian Baru sebagai refleksi hukum positif-negatif moral pada norma-norma atau tindakan-tindakan, melainkan menyimpulkan dan mengumpulkan berbagai hal lalu mengakui akar validitasnya di dalam Kristus atau bukan.

Jika ini ditempatkan lebih baik, pada level religius – spiritual, dinamika kehidupan manusia dalam situasi konkret akan belajar banyak dari metode ini untuk mencari apa yang baik dan benar menurut kehendak Allah. Memang, tidak seorangpun bisa langsung mendengar Allah berbicara, namun dorongan hati ke arah nilai-nilai injili yang diajarkan oleh Yesus bisa menduga dan mengakui kehendak yang menyelamatkan dan menguduskan dari Allah di dalam kehidupan pribadi sendiri.

Menjadi semakin jelas sekarang bahwa dalam discernment, pisau yang digunakan untuk memilah-milah adalah Yesus Kristus ! Di dalam Kristus ditemui manifestasi kehendak Allah Bapa di dalam hidupnya, di dalam kesetiaannya, melalui latihan discernment spiritual setiap waktu. Pada praksis konkritnya, kriteri injili diasimilasi bagi orang Katolik melalui relasi dengan Allah (doa, meditasi, kontemplasi, perayaan iman komuniter, bacaan rohani, hidup berkomunitas …) dengan tuntunan Roh Kudus. Situasi-situasi seperti ini menciptakan secara alamiah sebuah keakraban yang memfasilitasi discernment rohani.
Yohanes menggarisbawahi pentingnya pengalaman batin dan persekutuan dengan pribadi ilahi, sebagai sebuah kondisi yang diperlukan untuk melakukan discernment spiritual, yang akan ditampilkan dalam pengakuan dan credo tentang Yesus sebagai Anak Allah, dalam kesetiaan pada cinta kasih yang konkret dan kesetiaan kepada otoritas Gereja (1 Yoh 2: 20.24.27; 1 Yoh 3: 24; 1 Yoh 4: 6.13.17-18; 1 Yoh 5: 6-9)

Maka, hanya dalam terang iman dalam Kristus dan “docilitas” kepada Roh-Nya, (hati yang terbuka, penuh kesiapsediaan seperti tanah yang subur menerima benih untuk ditumbuhkan), dimungkinkan bagi manusia, dengan bantuan rahmat ilahi, untuk berkembang menjadi dewasa, menjadi “sehati dan sejiwa dengan Kristus”. Ini adalah sebuah kepekaan (docilitas) yang mempengaruhi kekuatan kognitif dan kebijaksanaan, untuk memahami dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh, yang bergerak dengan sangat lembut di dalam praktek discernment.

Hasil dari proses ini adalah sebuah manusia baru, manusia rohani di dalam Kristus, karena orang yang telah menerima Kristus dengan iman adalah manusia baru. Dia menerima hak untuk menjadi anak-anak Allah, untuk menjadi generasi yang berbeda dari generasi yang dihasilkan dari daging, dari darah dan seturut kehendak manusia, melainkan dari Roh Allah (bdk. Yoh 1: 12-13; Yoh 3: 5-7, Gal 6: 15; 2 Kor 5: 17).

3. Membedakan variasi discernment

Ada berbagai jenis discernment. Pembedaan yang amat sederhana adalah discernment non-spiritual dan discernment spiritual.
Pada umumnya, discernment non-spiritual menggunakan teknik perusahaan. Misalnya, ada sebuah persoalan tentang jenis barang apa yang hendaknya ditarik dari pasar atau dijual pada awal tahun baru, pada liburan sekolah, pada liburan lebaran dst. Metode pemecahan masalah adalah sebuah pengambilan keputusan secara etis. Titik awal adalah keinginan untuk menebak sebuah resolusi tepat untuk sebuah masalah. Discernment ini pun selesai ketika diambil sebuah keputusan yang tepat dan problem pun tuntas. Sebagian besar unsur yang masuk di sini berkarakter horizontal.

Kedua, adalah Discernment spiritual. Bentuk ini menggunakan materi pokok pengalaman iman. Materi untuk discernment adalah hidup pribadi, di mana kita mempercayai kehadiran karya Allah dalam hati manusia. Ini adalah rahmat dari Roh Kudus dan buah dari cinta kasih (Ordo Penitentiae § 10). Titik awal untuk masuk dalam proses discernment ini adalah keinginan untuk melakukan kehendak Allah. Apakah cukup hanya sebuah keinginan? Tentu bukan semata-mata sentimentalisme ingin akan sesuatu, melainkan sebuah dinamika berkesinambungan untuk mencari Kehendak Allah dalam kehidupan pribadi, dalam komunitas dan dalam karya misi atau tugas yang sedang diemban. Discernment ini selesai jika kehendak Allah itu “ditemukan”.

Pembedaan yang lain bisa berupa beberapa jenis discernment:

  • Discernment injili: Menginterpretasi situasi dan kondisi historis dalam terang Injil, Yesus Kristus dan dalam terang rahmat dari Roh kudus. Perlu kebijaksanaan yang matang.
  • Discernment spiritual: Adalah sebuah gaya hidup yang menginterpretasi, menilai dan bekerja dari kacamata Allah. Ini adalah satu bentuk untuk memahami diri sendiri (mencari identitas) dalam terang Allah.
  • Discernment komuniter: Melibatkan semua anggota komunitas untuk melihat karya Allah lewat tanda-tanda zaman yang hadir dalam komunitas
  • Discernment panggilan: Obyeknya adalah panggilan. Tujuannya melihat apakah subyek memiliki karakter dan disposisi yang dibutuhkan untuk menjawab panggilan Allah dalam cara hidup tertentu.

4. Tujuan Discernment

Melihat berbagai aplikasi dan berbagai kerumitan yang ada dalam proses discernment, kita bisa bertanya, Mengapa perlu melakukan discernment dalam hidup? Allah mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk memanggil kita. Dia menghendaki agar hidup kita PENUH. Di sini, sejarah hidup dan hati manusia berada dalam tarik ulur dan dalam perjuangan terus menerus. Inilah konsep yang mendasari mengapa discernment itu perlu dan mendesak untuk dilakukan.

5. Peran pendamping dalam discernment

Namun, dalam proses discernment, kita tidak sendiri. Proses ini memerlukan kehadiran seseorang yang mendampingi. Peran pendamping discernment adalah bekerja sama dengan Allah melalui Gereja. Itulah sebabnya dia menjadi musuh dari musuh-musuh dari kodrat manusiawi manusia yang berusaha menjauhkan manusia dari Allah. Dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang pendamping, dia tidak bisa mengikutsertakan pandangan pribadinya sendiri. Justru merupakan kewajibannya untuk mengatakan apa yang diajarkan oleh Gereja.

Tugas pokok pendamping adalah mengevaluasi apakah argumentasinya berdasarkan fakta dan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya untuk sebuah discernment. Apakah keputusan yang diambil itu benar ataukah hanya ilusi dari subyek.
Misalnya, aku ingin menjadi missionaris di Afrika. Tetapi kondisi kesehatanku meminta satu makanan tertentu untuk bisa hidup dan aku punya alergi. Kalau aku tidak sehat, aku harus pergi ke rumah sakit.

Di sini, pendamping rohani akan melihat adanya motivasi kuat untuk menjadi misionaris. Di lain pihak, dia melihat juga bahwa demi kebaikan karya misi Gereja, kehadirannya akan merepotkan komunitas di mana dia akan tinggal.

Peran yang lain adalah menegur dan memperingatkan. Seorang pendamping rohani hendaknya memiliki kemampuan untuk mengenali perasaan, ketakutan, pengalaman negatif dan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan. Misalnya, dia bisa saja menegur yang didampingi untuk tidak membuat pilihan dalam discernment kalau melihat bahwa yang bersangkutan masih memiliki banyak ketakutan dan kecemasan.

Seorang pendamping diharapkan juga memiliki wawasan yang luas tentang kekayaan karisma di dalam Gereja. Misalnya, jika seorang pendamping berasal dari tarekat misionaris dan melihat bahwa yang didampingi tidak memiliki kualitas dan ada banyak halangan untuk menjadi seorang misionaris, maka dia bisa mengusulkan agar yang bersangkutan bisa berkunjung dan mengenal kehidupan para rahib, tarekat atau imam diosesan.

Sekarang mulai nampak jelas bahwa peran pendamping adalah memahami subyek, mendengarkan, melihat, menginterpretasi perkembangan rohaninya, mengintuisi kebebasan interior yang diperlukan subyek untuk mengambil keputusan dan tahu saat yang tepat untuk mendorong orang membuat keputusan. Jika pendamping melihat bahwa memang sudah saatnya bagi yang didampingi untuk mengambil keputusan, maka dengan tegas dia harus mengatakan: Sekarang adalah waktu bagimu untuk mengambil keputusan atau jika engkau mengambil keputusan sekarang, engkau akan membuat kesalahan cukup besar.

6. Discernment = Melakukan kehendak Allah

Manjalankan kehendak Allah itu tidak sama untuk semua orang. Masing-masing pribadi memiliki tugas sendiri-sendiri sesuai dengan rahmat dan karunia yang diterimanya dari Allah. Bukankah setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, ketrampilan yang majemuk, kekuatan fisik dan dan karakter pribadi yang bervariasi? Dengan titik tolak yang beragam ini, manusia mendapat tantangan untuk menentukan kebebasan yang dia miliki itu mau dibawa ke mana? Bukankah dengan kebebasan ini manusia mengenal batas, kelemahan, kekuatan, bakat… maka, otonomi yang dia genggam dalam tangan itu mau disalurkan ke jalur mana? “Melakukan kehendak Allah” dikondisikan oleh kemampuan manusia untuk memahami kebebasannya atau kemampuannya untuk memahami dirinya sendiri.

Dengan demikian, “menjalankan kehendak Allah” adalah misteri resiko dari kebebasan manusia. Sebuah kebebasan yang diberikan dan diserahkan di bawah kaki salib dengan bobot cinta. Bukankah dengan salib, Yesus pun meletakkan kebebasannya ke dalam tangan manusia yang ingin menyalibkan-Nya? Inilah tantangan dasar dari kesediaan untuk melakukan discernment dan kemudian memeluk kehendak Allah sebagai sebuah pilihan hidup saya.

Namun, resiko “menjalankan kehendak Allah” yang dilakukan dalam mentalitas kewajiban akan menjebak manusia dalam sebuah ritme kehidupan yang ritual: menjalankan sesuatu dengan pemikiran dasar: kubuat ini agar selamat. Misalnya, jika peraturan berdoa mewajibkan tangan di dada, kepala tegak, mata terkatup… maka, apa yang tertulis seperti itu akan kulakukan seperti itu juga. Kata “menjalankan” di sini berarti mengikuti apa adanya. Tidak kurang dan tidak lebih. Di sini ditampilkan “menjalankan” sebagai sebuah intuisi komunal, mendasarkan pada struktur yang sudah dicanangkan dan terbatas pada hal itu saja. Pertanyaannya, di sini tidak ada perjuangan untuk menyingkap makna yang tersirat di balik yang tersurat. Lemahnya kebebasan dan minimnya kemampuan reflektif untuk bertanya lebih dalam tentang apa yang diminta Tuhan dariku.

Resiko yang lain adalah ketika upaya untuk “menjalankan kehendak Allah” dilakukan dalam mentalitas hukum Farisi. Misalnya dalam kasus orang kaya yang ingin masuk surga (Mt 19: 16-22). Ada sebuah kesediaan manusia untuk mengikuti Kristus, namun ada tetapinya… misalnya asal tidak merepotkan saya, asal tidak merugikan saya, asal tidak mengganggu kerja saya dst. Kata “menjalankan” di sini terungkap seperti membangun atau menciptakan sesuatu. Di sini ditampilkan “menjalankan” sebagai sebuah intuisi personal. Oleh sebab itu, perlu ditelaah lebih lanjut pernyataan seperti: seorang pemimpin yang mengatakan, “Saya tahu bahwa ini adalah kehendak Allah bagimu”, atau seorang frater mengatakan,”Setelah berdoa, saya mendengar suara bahwa ini adalah Kehendak Allah bagiku.”

Dalam berbagai resiko ini, ada sebuah anjuran untuk lebih tajam dalam melakukan proses discernment. Berhati-hatilah untuk mengenali cara bekerja roh jahat. Ada bahaya laten dalam menjalankan proses discernment ini, yaitu perfezionisme. Ini tampak misalnya dalam pemikiran dan pernyataan: Saya merasa sakit karena tidak ikut misa; Saya sedih karena tidak mendapat nilai 10, tapi cuman 9,9; Saya kecewa karena tidak mendapat pujian; Saya merasa dihina karena tidak ada yang memuji hasil kerja saya; …. Syukur kepada Allah karena segala sesuatu dibuat sedemikian sempurna!!! Ini semua adalah tanda-tanda ketidakdewasaan, tidak adanya kebebasan dalam mengambil sikap dan menentukan pilihan.

Fakta bahwa saya sedang “menjalankan kehendak Allah” adalah bahwa saya bahagia, saya sedang melakukan yang terbaik untuk menggapai ideal hidup, dengan mengikuti Yesus Kristus. Ada sesuatu yang misterius, seperti jalan-jalan Allah itu misterius adanya dan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya itu adalah misteri. Maka, “melakukan kehendak Allah” dalam hal ini berarti kemampuan manusia, dalam dinamika kehidupannya sehari-hari, untuk menciptakan dan memperbaharui kembali panggilan setiap hari. Itulah sebabnya, perlu kerendahan hati seperti Musa, yang ketika dipanggil Allah untuk mendekatkan diri pada semak-semak yang bernyala, diminta untuk melepas sandal ketika masuk ke tanah yang dikuduskan.

Sebagai penutup, kriteria dalam melakukan discernment untuk “menjalankan kehendak Allah” ada bermacam-macam. Di sini diuraikan beberapa poin yang menjadi benang merahnya:

  • Kriteri teologis: Cinta kasih
  • Kriteri kristologis: Kerendahan hati
  • Kriteri pneumatologis: kreativitas, yaitu kehadiran berbagai macam karisma, kebudayaan di mana Roh Kudus berkarya
  • Kriteri eklesiologis: kesatuan (communio), yaitu berada dalam satu gereja
  • Kriteri antropologis: kebahagiaan

7. Subyektivitas manusia sebagai kriteri pokok dalam discernment

Sudah sedikit disinggung di atas kata-kata “subyek”. Apa makna kata “subyek” dalam discernment?
Subyek yang dimaksud bukanlah seorang manusia, berpangkat, berkuasa, berduit dan terkenal, melainkan sebuah kemampuan untuk mengambil keputusan, menjatuhkan pilihan secara bertanggungjawab untuk kehidupannya. Yang menjadi tekanan adalah kemampuan seorang individu untuk melihat di manakah problem yang sedang kuhadapi sekarang dan mengenal berbagai kelekatan yang tidak teratur yang kumiliki.

Maka, seseorang yang memiliki karakter subyek ini, tidak berarti orang bebas tanpa masalah. Bukan mereka yang pandai, yang baik dan berhasil dalam studi, memiliki kemampuan dalam 10 bahasa asing, selalu mendapat 10 dalam ujian, pandai dalam menggunakan sarana teknologi, melainkan yang matang dan bisa menemukan ritme dinamis kehidupannya, meskipun sedang jatuh dalam studi, sedang gagal dalam pekerjaan atau sedang mengalami berbagai permasalahan. Dalam situasi seperti ini, seseorang yang bersubyek, memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan kegagalannya dan berjuang semaksimal mungkin. Orang seperti ini memiliki kemampuan untuk berkembang, menjadi dewasa, siap dikoreksi dan menerima dengan rendah hati bantuan orang lain. Semua itu dilakukan demi kemuliaan Allah yang lebih besar (AMDG).

Dengan demikian, seseorang yang memiliki subyek, dia memiliki kemampuan untuk menerima batas dan kelemahan pribadi. Karakter subyektivitas seperti inilah yang diharapkan dari seseorang yang siap masuk dalam proses discernment.

8. Tiga waktu untuk melakukan discernment

St. Ignasius dari Loyola, dalam buku latihan rohani, mengkategorikan tiga waktu untuk melakukan discernment.
Pertama, dengan rahmat khusus. Yang menentukan kategori pertama ini adalah “karena Allah menghendaki”. Pada saat ini, Dia mewahyukan diri-Nya dan rencana-Nya pada waktu dan pada pribadi yang dikehendaki-Nya sehingga orang yang menerimanya tidak memiliki keragu-raguan. Misalnya, ketika aku tiba di sebuah pertapaan, aku merasakan dengan yakin bahwa panggilanku adalah hidup sebagai seorang rahib. Di tempat itu, aku merasa seperti ada di rumahku sendiri. Seolah-olah aku mencium udara di kampung halaman. Aku merasa tenang dan bahagia pada lubuk batin terdalam… Karena inisiatif berasal dari Allah, maka tidak ada keragu-raguan sedikitpun dan tidak ada pertanyaan. Ketika diputuskan untuk memilih dan menjalaninya, dan ternyata setelah sekian puluh tahun, intuisi pertama itu terkonfirmasi dengan fakta bahwa orang itu memang bahagia dan merasakan betul panggilan Tuhan di tempat itu, maka situasi semacam ini bisa dikategorikan dalam kelompok pertama.

Kedua, Dengan rahmat yang kita miliki kita berusaha. Pada saat ini, intuisi yang muncul bermacam-macam. Misalnya seorang anak muda yang sedang dalam proses pencarian panggilan hidup, ketika berkunjung ke sebuah biara, amat terkesan dengan gaya hidup seorang biarawan di sana dan berkata, “Pastor, saya bahagia melihat bagaimana engkau menghidupi panggilanmu. Engkau merasa berkecukupan meski tidak memiliki apa-apa. Kaul kemiskinanmu, yang merupakan identitasmu itulah yang menarik perhatianku”. Mungkin kesan dari seorang frater muda yang lain semacam ini: “Pastor, saya bahagia tinggal di Roma ini. Ada mobil banyak, ada kemungkinan menjadi sekretaris uskup. Aku merasa bahagia karena tidak kekurangan suatupun”. Pendapat manakah yang lebih mendukung dalam sebuah proses discernment? Dalam situasi ini, perlu sebuah pribadi yang memiliki “subyek” untuk berani memutuskan.

Langkah yang ditempuh misalnya dengan membuat sebuah daftar tentang hal-hal yang menghibur dan tidak, hal-hal yang menguntungkan dan sebaliknya. Apakah aku merasa bahagia dalam kedua situasi ini? Ketika menimbang-nimbang di depan tabernakel, mintalah rahmat: di mana aku merasa lebih bebas bertindak demi kemuliaan Allah?

Ketiga, waktu tenang / waktu teduh. Dalam periode ini, tidak ada peristiwa yang bergejolak, tetapi aku harus mengambil keputusan. Maka bisa dibuat misalnya sebuah analisis tentang poin apa yang paling berat, paling indah dan paling memikat. Namun, musti tetap dicanangkan dalam hati dan tidak boleh diubah: aku ingin melakukan kehendak Allah. Hanya saja, persoalannya adalah aku masih memiliki keragu-raguan…!!! Bagaimana ini dijembatani? Mari kita gunakan 3 langkah untuk mengambil keputusan:

  • Bayangkan saat ini sebagai waktu ajal, apa yang akan kau putuskan?
  • Jika masalah ini dimiliki orang lain, kamu sebagai sahabat dekatnya, nasehat apa yang akan kauberikan kepadanya?
  • Di hadapan pengadilan Allah, Dia tahu segala-galanya. Aku harus mengambil keputusan dengan kebebasan batin

Dengan melaksanakan latihan-latihan ini, diharapkan agar kita bisa memahami sebuah pilihan panggilan yang valid, bebas, terbuka, bertanggung jawab dan seiring dengan rahmat Allah.

9. Bibliografia

  • COSTA, M., Direzione spirituale e discernimento, AdP, Roma 2009
  • RAMBLA BLANCH, JOSÉ Ma, Discernir en comunidad: El Espíritu habla a las comunidades, Frontera Hegian 37 (2002)
  • RUIZ JURADO, El discernimiento espiritual, Madrid, BAC 2010
  • SCHIAVONE, P. (ed.), Ignazio di Loyola: Esercizi spirituali. Ricerca sulle fonti, San Paolo, Cinisello Balsamo 1995
  • SOVERNIGO, G., Le dinamiche personali nel discernimento spirituale, Messaggero di Sant”Antonio – Facoltà teologica del Triveneto, Padova 2010

 

doximazeto de anqropos eauton

doximazeto de anqropos eauton

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab