Home Blog Page 119

Paus: Keberanian untuk melakukan hal-hal besar, kerendahan hati untuk menghargai hal-hal kecil

0

Dalam homilinya pada Misa Kamis pagi [25/4/2013] di Casa Santa Marta, Paus Fransiskus fokus pada bagaimana orang Kristen seharusnya mewartakan Kabar Gembira sebagaimana yang diamanatkan oleh Yesus dan diceritakan dalam Injil Markus yang dibacakan dalam Liturgi Sabda. Emer McCarthy melaporkan:

Merayakan Pesta St Markus Penginjil, Paus mengatakan dalam berbagi Injil, orang Kristen harus memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal besar, namun pada saat yang sama, [juga memiliki] kerendahan hati untuk menghargai hal-hal kecil.

Hadir pada liturgi Kamis pagi ini adalah anggota Sekretariat Sinode para Uskup, didampingi Sekretaris Jenderal Uskup Agung Nikola Eterovic, dan sekelompok polisi dari Vatican Gendarmerie (red-Kepolisian Vatikan).

Homili Paus Fransiskus fokus pada perikop Injil Markus yang menggambarkan Kenaikan Tuhan Yesus. Sebelum naik ke surga Dia mengutus para rasul untuk memberitakan Injil “ke ujung dunia”, tidak hanya di Yerusalem atau di Galilea.

Pergilah “ke seluruh dunia. Kaki langit … cakrawala besar … Dan seperti yang kalian lihat, hal ini merupakan misi Gereja. Gereja terus lanjut untuk memberitakan hal ini kepada semua orang, ke seluruh dunia. Tapi Gereja tidak berjalan sendirian: Gereja berjalan bersama Yesus. Jadi mereka pun telah pergi keluar dan memberitakan Injil ke segala penjuru, sementara Tuhan bertindak bersama mereka. Tuhan bekerja dengan semua orang yang memberitakan Injil. Ini adalah keluhuran budi yang seharusnya dimiliki orang Kristen. Seorang Kristen yang kecut hati tidak dapat dipahami: keluhuran budi ini adalah bagian dari panggilan Kristen: selalu lebih dan lebih, lebih dan lebih, lebih dan lebih, selalu seterusnya”.

Surat Pertama Santo Petrus – Paus katakan – mendefinisikan gaya pemberitaan Kristen tersebut sebagai salah satu kerendahan hati:

“Gaya pemberitaan injili seharusnya memiliki sikap ini:. kerendahan hati, pelayanan, amal, kasih persaudaraan. [Mungkin kita akan berkata:] ‘Tapi … Tuhan, kita harus menaklukkan dunia!’ Kata itu, menaklukkan, tidak bekerja. Kita harus memberitakan [Injil] di dalam dunia. Seorang Kristen harus tidak seperti tentara yang saat mereka memenangkan pertempuran menyapu bersih segala sesuatunya.”

Seorang Kristen – Paus melanjutkan – “menyatakan Injil dengan kesaksiannya, bukan dengan sekedar kata-kata”. Dan dengan disposisi ganda, seperti St Thomas Aquinas mengatakan: jiwa yang besar tidak takut hal-hal besar, yang bergerak maju menuju cakrawala yang tak terbatas, dan kerendahan hati untuk memperhitungkan hal-hal kecil. “Ini adalah ilahi – Paus mengamati – ini seperti ketegangan antara besar dan kecil” dan “kegiatan misionaris Kristen” berlanjut “di sepanjang jalan ini”.

Injil St Markus – kata Paus – berakhir dengan “sebuah ungkapan yang indah” di mana dikatakan bahwa Yesus sedang bekerja bersama para murid, meneguhkan “sabda itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.

“Ketika kita pergi keluar dengan keluhuran budi dan kerendahan hati ini, ketika kita tidak takut oleh hal-hal besar itu, oleh batas pandangan kita, tetapi juga mempertimbangkan hal-hal kecil ini – kerendahan hati, amal keseharian – Tuhan meneguhkan sabda itu. Dan kita bergerak maju. Kemenangan Gereja adalah Kebangkitan Yesus. Tapi pertama-tama ada Salib. Hari ini kita meminta Tuhan untuk menjadi para misionaris dalam Gereja, para rasul dalam Gereja tetapi dalam semangat ini: keluhuran budi yang besar dan juga kerendahan hati yang besar. Maka jadilah itu”.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 25 April 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Aku ini hamba Tuhan

5

Orang biasanya mengalami stress atau depresi karena dua hal : Pertama, mendambakan sesuatu tapi tidak kesampaian. Kedua, tidak mendambakan atau mengharapkan suatu hal, tetapi hal tersebut menimpa atau datang padanya. Kata-kata imam dalam homili ini cukup masuk akal.

Permasalahan yang selama ini terjadi dalam hidup juga demikian. Pasangan suami-istri yang lama menikah stress karena tidak punya anak, tetapi pasangan pemuda yang tidak mengharapkan anak dan ingin bersenang-senang malah hamil di luar nikah. Repot ya jadi orang.. Ke kiri salah, ke kanan salah. Intinya adalah hal-hal harus terjadi semau gue dan serencana gue.

Dua permasalahan tersebut terjadi pada diriku dalam suatu pergumulan yang sama : panggilan-Nya. Sepanjang pergumulanku dalam melakukan discernment dan pemurnian batin, kedua hal ini terjadi. Peristiwa pertama, hal yang tidak aku harapkan datang padaku, yakni ketika aku merasakan bisikan-Nya untuk mempersembahkan hidup sepenuhnya hanya untukNya. Aku tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Walaupun aku dibesarkan dalam latar pendidikan Katolik, tidak pernah terlintas bahwa menjadi imam adalah sesuatu yang cool atau menginspirasi. Selain itu, aku saat itu berpikir bahwa sudah jelas orangtuaku akan menolak jika aku memutuskan untuk menjawab panggilan-Nya. Pergumulan awal sudah cukup sulit.

Peristiwa kedua, hal yang aku harapkan untuk datang, tapi terancam tidak dapat terwujud. Ini muncul ketika aku sudah bergumul cukup jauh untuk masalah panggilan tersebut. Aku yakin Tuhan memang memanggilku dan menginginkanku untuk mengikutiNya dengan menyerahkan diri seutuhnya. Ketika semangat itu tetap membara dan jalan-jalan mulai terbuka, aku berhadapan dengan salah satu cobaan yang tak terhindar : konflik dengan orang tua. Konflik tersebut tidak terelakkan sekalipun aku telah menjelaskan bahwa proses menjadi imam tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Butuh bertahun-tahun hingga seseorang ditahbiskan menjadi imam, sehingga Tuhan bisa menuntunku kembali jika memang menjadi imam bukan jalanku. Namun, orangtua, terutama mamaku, berkeras untuk menolak. Sempat terlintas apakah sebaiknya aku mempertimbangkan kembali untuk menunda rencana masuk ke biara. Sempat terlintas pula jika seandainya jawabanku padaNya tidak akan terwujud.

Lucunya, jawaban untuk kedua hal tersebut adalah sama : memenuhi kehendak Allah. Aku memilih untuk melakukan sama seperti yang Bunda Maria lakukan, menjadikan apa yang Tuhan kehendaki sebagai kehendakku. Di peristiwa pertama, aku berjuang memasrahkan impianku menjadi peneliti dan dosen, rencana hidup, dan kekhawatiranku mengenai keluarga ke tangan Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Demikian pula dengan peristiwa kedua, aku memasrahkan bila seandainya Tuhan memang mau menunda atau bahkan tidak memilihku sebagai imam-Nya. Aku rela. Karya Tuhan sungguh nyata. Semenjak aku menyerahkan diri dalam peristiwa pertama, aku mendapat dukungan, bimbingan, dan petunjuk mengenai panggilanku. Semenjak aku menyerahkan diri dalam peristiwa kedua, justru panggilanku semakin dikuatkan dan diteguhkan. Seminggu setelah pertengkaran hebat tersebut, orangtuaku mengatakan bahwa mereka akan belajar merelakanku dan mempersembahkanku pada Allah. Bahkan, kita sekarang dapat membahas mengenai panggilanku dengan gembira.

Mungkin benar bahwa permasalahan hidup seseorang bukan masalah keinginannya terpenuhi atau tidak. Tuhan jelas tahu apa yang terbaik buat kita, dan dalam kehendak-Nya, kita pasti mendapat jalan yang terbaik. Sekalipun, jalan tersebut awalnya terlihat berbeda dari yang kita inginkan sehingga kita bersedih dan stress. Tapi, semua akan indah pada waktu-Nya (Pkh 3:11). Dengan demikian, hanya dalam memenuhi kehendak Kristuslah kita akan menemukan kebahagiaan terbesar dan kekal. Tuhan, aku mau gulaliku besar, berwarna warni, dan berbentuk bulat. Tapi, kalau Tuhan maunya gulaliku berbeda dari yang aku mau, ya nggak apa-apa deh. Yang penting, aku tahu rasanya pasti manis.

Ketika aku meilhat seseorang sedang sedih, aku selalu berpikir ia sedang menolak sesuatu dari Yesus” – Beata Teresa dari Kalkutta

Dalamnya Makna Tanda Salib

65

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib menunjukkan keadilan Allah, yang menunjukkan betapa kejamnya akibat dosa kita, sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu (lih. Gal 3:13); 3) salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar, yaitu bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (Yoh 15:13) agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16); 4) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.

Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.

Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai “tefilin” yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…” Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.

Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja

Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:

1) Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”

2) St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36)  mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”

3) St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”

4) St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”

Memang dalam hal cara membuat tanda salib itu terjadi perkembangan, karena pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja, namun kemudian diajarkan juga untuk membuat tanda salib di mulut (St Jerome, Epitaph Paulae) dan di hati (Prudentius, Cathem., vi, 129). Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang, yang secara jelas diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), seperti demikian:

“The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right…

Cara membuat tanda salib

Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).

Umumnya caranya adalah demikian:

Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mengucapkan: “Atas nama Bapa”), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan “dan Putera”, kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan “dan Roh Kudus” Amin). Dan tangan kembali terkatup.

Kapan kita membuat tanda salib?

1) Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.

2) Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.

3) Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)

4) Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.

5) Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,

6) Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.

7) Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberkati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.

Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menhormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

Apa artinya “Ego Eimi”?

2

Perkataan “Ego eimi” kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “I am“, atau dalam bahasa Indonesia, “Aku ada”. Frasa ini diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam jawaban-Nya kepada orang-orang Yahudi yang menuduh-Nya kerasukan setan karena Yesus mengatakan bahwa Ia bukan dari dunia ini (lih. Yoh 8:23) dan bahwa Ia diutus oleh Allah Bapa (lih. Yoh 8:42). Dengan mengatakan demikian, Yesus mengatakan secara implisit bahwa Ia telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum dilahirkan ke dunia ini, sehingga Allah Bapa dapat mengutus-Nya. Keberadaan Yesus sebelum lahir ke dunia diperjelas oleh-Nya dengan mengatakan, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58) atau dalam bahasa Inggrisnya, “Amen, amen, I say to you, before Abraham was made, I AM.” (Jn 8:58). Jika kita melihat ke kamus bahasa Yunani, “Ego eimi” artinya adalah I have always been and shall be: Aku sudah selalu ada dan akan selalu ada.

Dalam Perjanjian Lama, kita ketahui adanya hubungan antara kedua ‘nama’ Allah, yaitu: 1) Elyeh atau “I AM” yang digunakan oleh Allah atau para utusan-Nya yang berkata atas nama-Nya; 2) dan Yahweh atau “He is” yang digunakan oleh para penyembah-Nya, yang karena sungguh dianggap begitu sakral, maka di banyak kesempatan digantikan dengan sebutan Adonai, ataupun Elohim.

Maka frasa “Aku ada/ I AM” dalam Yoh 8:58 ini, mengacu kepada pernyataan Allah tentang diri-Nya, sebagaimana dikatakan-Nya kepada Nabi Musa, “Aku adalah Aku” (Kel 3:14). Di terjemahan bahasa Inggrisnya,  “God said to Moses, “I AM WHO I AM“; and He said, “Thus you shall say to the sons of Israel, ‘I AM has sent me to you.” (Ex 3:14). Dengan demikian, perkataan “I AM” itu mengacu kepada istilah yang digunakan Allah untuk menyatakan identitas/ nama diri-Nya, yang menyatakan bahwa Ia adalah Pribadi yang tidak terbatas oleh waktu dan tidak tergantung siapapun/ apapun. Maka, perkataan “I AM” (Ego eimi) di Yoh 8:58 memiliki arti yang lebih dalam dan luas daripada “Akulah” atau “Aku adalah”. Sebab frasa “I AM” ini mengacu kepada frasa “YHWH”/ Yahweh (He is); dan dengan demikian, Kristus menyatakan Diri-Nya bahwa Ia adalah Yahweh; Ia adalah Allah.

Jadi, perkataan yang disebutkan Yesus, “Ego eimi” tersebut adalah jawaban yang sudah lengkap tentang Diri-Nya, yaitu bahwa Ia adalah Yahweh, “I AM“. Justru karena istilah itu sudah cukup jelas mengacu kepada sebutan/ nama Allah bagi orang-orang Yahudi, maka mereka yang mendengarkan-Nya itu mengambil batu untuk melempari Dia (Yoh 8:59), sebab mereka mengganggap Yesus telah menghujat Allah, dengan menyamakan diri-Nya dengan Allah (lih. Yoh 10:33). Mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat Kebenaran bahwa apa yang dikatakan Yesus justru sungguh benar, sebab Ia memang adalah Allah, sebab Ia adalah Putera Allah yang diutus Allah Bapa ke dunia untuk menebus dosa umat manusia.

Bagaimanakah nasib bayi yang belum dibaptis?

31

Gereja Katolik mempercayai bahwa baptisan diperlukan untuk mendapatkan keselamatan (lih. Mrk 16:16), karena dengan baptisan, maka seluruh dosa manusia – baik dosa asal maupun dosa pribadi – dihapuskan. Pertanyaanya, bagaimana nasib bayi-bayi yang meninggal sebelum dibaptis? Untuk menjawab pertanyaan tentang nasib bayi-bayi yang meninggal tetapi belum sempat dibaptis, maka kita harus mengetahui beberapa prinsip berikut ini:

1) Menjadi ajaran iman bahwa orang-orang yang meninggal dengan dosa asal (original sin) tidak dapat bertemu dengan Tuhan muka dengan muka atau mengalami “beatific vision“. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1257) mengatakan “Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5.). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16.). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.

2) Dalam konsep keselamatan, dosa asal diampuni lewat Sakramen Baptis, yaitu suatu cara biasa (ordinary means) yang diinstitusikan sendiri oleh Kristus. Dikatakan di KGK 1263 “Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa (Bdk. DS 1316). Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.”

3) Namun demikian, tidak selalu perlu unuk menerima Baptisan secara explisit (dalam hal ini Baptisan air). Hal ini dikarenakan bahwa dosa asal juga diampuni lewat keinginan yang murni (Baptisan rindu) untuk menerima Baptisan (secara eksplisit atau implisit), atau oleh baptisan darah (mati untuk Kristus). KGK, 1258 mengatakan “Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya. Pembaptisan darah ini demikian pula kerinduan akan Pembaptisan menghasilkan buah-buah Pembaptisan walaupun tidak merupakan Sakramen.
Namun baptisan rindu dan baptisan darah mensyaratkan seseorang untuk menggunakan akal budi, karena mensyaratkan pengambilan keputusan. Namun bayi tidak mempunyai akal budi secara aktual, hanya berupa kapasitas yang belum direalisasikan. Oleh karena itu, maka bayi tidak mungkin mengalami baptisan darah maupun baptisan rindu.

4) karena bayi-bayi tidak pernah berbuat dosa pribadi (personal), maka mereka tidak akan menderita, baik secara fisik maupun secara spiritual.

5) Sebuah kebahagiaan yang sesuai dengan kodrat manusia adalah sesuatu yang mungkin setelah kehidupan ini. Secara proposional, dengan kodrat manusia, maka manusia dapat menikmati kebahagiaan dalam permenungan Tuhan (in loving contemplation of God), melalui ciptaan-Nya. Tempat inilah yang disebut “Limbo“.

Lima hal di atas adalah alasan-alasan yang mendasari pengajaran tentang Limbo. Dokrin limbo ini melalui sejarah yang panjang, dari St. Gregory Nazianzus, St. Augustine, St. Thomas Aquinas. St. Thomas yang berpendapat bahwa Limbo adalah “natural happiness”  bagi para bayi yang meninggal namun belum sempat dibaptis. Dan posisi ini kemudian didiskusikan lagi mulai dari St. Robert Bellarmine, dan mencapai ektrimnya pada “Jansenists“, yang berpendapat bahwa bayi yang meninggal dan belum dibaptis akan masuk neraka. Dan posisi dari jansenists inilah yang ditentang oleh Gereja. Pada saat ini, Gereja belum mengeluarkan dokumen secara resmi tentang Limbo. Dan Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

KGK, 1261″Anak-anak yang mati tanpa Pembaptisan, hanya dapat dipercayakan Gereja kepada belas kasihan Allah, seperti yang ia lakukan dalam ritus penguburan mereka. Belas kasihan Allah yang besar yang menghendaki, agar semua orang diselamatkan (Bdk. 1 Tim 2:4.), cinta Yesus yang lemah lembut kepada anak-anak, yang mendorong-Nya untuk mengatakan: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku; jangan menghalang-halangi mereka” (Mrk 10:14), membenarkan kita untuk berharap bahwa untuk anak-anak yang mati tanpa Pembaptisan ada satu jalan keselamatan. Gereja meminta dengan sangat kepada orang-tua, agar tidak menghalang-halangi anak-anak, untuk datang kepada Kristus melalui anugerah Pembaptisan kudus.

KGK, 1283 “Mengenai anak-anak yang mati tanpa dibaptis, liturgi Gereja menuntun kita, agar berharap kepada belas kasihan ilahi dan berdoa untuk keselamatan anak-anak ini.

Dari beberapa dasar pro dan kontra tentang Limbo inilah, maka pada saat ini Gereja masih belum mengeluarkan secara terperinci doktrin tentang Limbo. Yang perlu kita pegang pada saat ini adalah belas kasih Allah kepada anak-anak yang tanpa dosa pribadi.

Kehadiran Tuhan dalam mahluk ciptaan-Nya

36

St. Thomas menjelaskan tentang kehadiran Tuhan di mana-mana (the omnipresence of God), yaitu bahwa Tuhan ada di dalam semua ciptaan-Nya sebagai Penyebab dari keberadaan mereka (lih. Summa Theology, I, q.8, a.1). Jika Tuhan tidak hadir di dalamku sebagai Penyebab keberadaanku yang Dia pertahankan dan pelihara setiap waktu, maka aku akan tenggelam dalam ketiadaan, sebab keberadaanku bukan milik hakekatku, tetapi sebagai sesuatu yang diterima [dari Sang Pencipta].

Demikianlah yang ditulis oleh St. Thomas Aquinas:

… Sesuatu ada di mana ia bekerja. Sedangkan Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu, menurut Yes 26:12, “Ya Tuhan, … sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.” Oleh karena itu Tuhan ada di dalam segala sesuatu.

Aku menjawab bahwa, Tuhan ada di dalam segala sesuatu; memang tidak sebagai bagian dari hakekat segala sesuatu itu, tidak juga sebagai bagian dari ciri-ciri mereka, tetapi sebagai Penyebab yang hadir pada tempat di mana Ia berkarya…Nah karena Tuhan adalah Diri-Nya sendiri dalam hakekat-Nya, maka mahluk ciptaan adalah akibat langsung dari-Nya, sebagaimana bernyala adalah akibat langsung dari api. Tuhan menyebabkan akibat ini, sebagaimana terang disebabkan di dalam udara oleh matahari, sepanjang udara tetap diterangi. Maka, sepanjang sesuatu itu ada, Tuhan harus ada di dalamnya, menurut cara ketentuan keberadaan. Keberadaan (being) adalah sesuatu yang ada di tempat yang paling dalam di dalam segala sesuatu, dan secara paling mendasar tak terpisahkan dari segala sesuatu itu…. Oleh karena itu, Tuhan ada di dalam segala sesuatu, dan di tempat yang paling dalam.

… Tuhan ada di atas segala sesuatu oleh keistimewaan kodrat-Nya; namun demikian, Ia berada di dalam segala sesuatu sebagai penyebab keberadaan segala sesuatu; seperti telah disebutkan di atas. (Summa Theology, I, q.8, a.1)

Dan seperti Tuhan hadir di dalam segala sesuatu dan memberikan keberadaan mereka, Ia hadir di semua tempat, memberikan keberadaan kepada segala sesuatu yang mengisi tempat itu.

St. Thomas Aquinas juga mengajarkan bahwa kehadiran Tuhan di mana-mana (omnipresent) dengan hakekatnya, kehadiran dan  kuasanya (lih. Summa Theology I, q.8, a.3): 1) Tuhan ada dengan hakekat-Nya di dalam segala sesuatu, dalam artian bahwa Ia memberikan keberadaan kepada segala sesuatu; 2) Tuhan ada di dalam segala sesuatu dengan kehadiran-Nya, dalam artian bahwa segala sesuatu diketahui/ dikenal secara sempurna oleh-Nya. Setiap tindakan dan gerakan hati kita diketahui/ dikenal oleh Tuhan lebih sempurna daripada kita mengenalinya sendiri. Maka kita selalu ada di dalam kehadiran Tuhan. Ini penting disadari dalam kehidupan rohani, yaitu bahwa kita selalu mengingat bahwa kita selalu berjalan di dalam kehadiran Allah. 3) Allah hadir di dalam segala sesuatu dengan kuasa-Nya, dalam artian bahwa segala sesuatu tunduk pada pengaturan dan kuasa-Nya. Keberadaanku terpampang di hadapan Tuhan dan Ia dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya. Kuasa ini nyata secara khusus di dalam mukjizat Tuhan dan intervensi-intervensi adikodrati. Sebab dikatakan, “tiada yang mustahil bagi Tuhan” (lih. Luk 1:37).

Namun demikian, walaupun Tuhan hadir di mana-mana (omnipresent), Tuhan hadir di dalam mahluk rohani yang dalam keadaan rahmat, dengan cara yang istimewa, yang lain dengan kehadiran-Nya pada segala sesuatu dengan ketiga macam kehadiran itu. Tuhan hadir dalam jiwa orang benar melalui kebijakan ilahi sebagai tujuan/ sasaran dari iman, pengharapan dan kasih orang tersebut. Jadi dengan cara ini, Tuhan hadir dalam jiwa kita, sebagai Kekasih jiwa kita. Inilah maksud dari pernyataan bahwa Allah Trinitas tinggal di dalam kita seperti tinggal di dalam bait-Nya.

St. Thomas Aquinas menjelaskan tentang perbedaan antara kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan kehadiran dalam orang-orang yang mengimani-Nya, hal ini demikian:

“Dikatakan Tuhan ada di dalam sesuatu dengan dua cara: 1) cara yang pertama, menurut ketentuan Penyebab yang mengakibatkan terjadinya sesuatu; dan karena itu Tuhan ada di dalam segala sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. 2) cara lainnya adalah, Ia ada di dalam segala sesuatu seperti tujuan/ sasaran pekerjaan ada di dalam orang yang mengerjakannya; dan ini sesuai dengan cara kerja jiwa, [yaitu] seperti halnya apa yang dikenal berada di dalam diri orang yang mengenal; dan apa yang diinginkan ada di dalam diri orang yang menginginkannya. Dengan cara yang kedua ini, Tuhan ada secara istimewa di dalam diri mahluk yang berakal budi yang mengenal dan mengasihi Dia, secara nyata dan secara tetap. Dan karena mahluk yang berakal budi memperoleh hak istimewa ini oleh karena rahmat Tuhan…. maka dikatakan bahwa Allah berada di dalam para kudus-Nya oleh karena rahmat.” ( Summa Theology, I, q.8, a.3)

Melalui Baptisan, kita memperoleh rahmat Tuhan yang membersihkan kita dari dosa, dan yang memberikan hidup ilahi kepada kita. Maka melalui Baptisan, derajat kita diangkat oleh Tuhan, dari keadaan kodrati sebagai manusia mahluk ciptaan-Nya, kepada keadaan adikodrati sehingga kita dapat menjadi anak-anak angkat-Nya, menerima hidup ilahi (digabungkan dalam kehidupan Allah sendiri) sehingga kelak berhak memperoleh warisan kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga. Dalam kehidupan kekal di Surga inilah kita mengalami kesempurnaan hidup di dalam Allah, dalam kehadiran-Nya yang melingkupi kita dan menjadikan kita serupa dengan Dia (lih. 1 Yoh 3:2).

Betapa kita perlu mensyukuri rahmat Allah ini, yang memang dicurahkan kepada kita yang percaya kepada-Nya. Adalah menjadi tugas kita, untuk menjaga keadaan rahmat yang kita terima di saat Pembaptisan ini, agar kita sungguh didapati-Nya setia beriman sampai akhir, dengan selalu bekerja sama dengan rahmat Tuhan, yaitu dengan mewujudkan iman dalam perbuatan kasih, supaya kelak Tuhan berkenan menggenapi janji keselamatan kekal itu bagi kita.

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab