Home Blog Page 118

Pihak ketiga dalam cinta sejati

0

Memahami Trinitas saja sudah menjadi sebuah perjuangan besar bagi umat Katolik. Apalagi menjelaskannya. Sudah banyak analogi, penjelasan, ulasan teologis, dokumen, dan buku-buku yang mencoba menyelami misteri diri Allah. Namun, apa daya. Manusia sama seperti sebuah ceruk di pinggir pantai. Tidak akan mampu memahami sepenuhnya mengenai Allah yang bagai samudra luas, kecuali nanti ketika Tuhan mengizinkan masing-masing ceruk itu bersatu denganNya dalam lautan kebahagiaan kekal. Tapi, mungkin Ia sebenarnya sudah menunjukkan sidik jari-Nya, dan sekaligus menjadi model contoh, di setiap ciptaan-Nya.

Bagiku, keluarga sama seperti ice lemon tea. Manis-manis kecut. Manis karena mereka adalah harta yang luar biasa berharga, pemberian Allah yang pertama dan sangat berarti bagiku. Kecut karena gesekan yang terjadi di antara kita lebih menyakitkan dibandingkan gesekan lainnya. Mungkin karena ikatan keluarga sungguh dekat sehingga gesekan yang terjadi pun cukup sering. Terutama, antara aku dan papaku. Sama-sama kepala batu, dasar memang sudah turunannya (dan dulu aku kira aku nggak akan sama seperti papaku).

Tapi, ketika aku mencoba melihat keluargaku, aku melihat Allah Trinitas. Melihat sidik jari-Nya, dan melihat model yang Ia tinggalkan sebagai contoh. Allah Bapa mencurahkan Diri-Nya sepenuhnya pada Allah Putra, dan Allah Putra membalas sepenuhnya kasih Allah Bapa. Allah Bapa dan Putra bersatu dalam ikatan Roh Kasih yang saling dicurahkan. Kedua orangtuaku dulu menikah dan membentuk keluarga karena kasih. Aku tahu bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Allah, termasuk kasih. Bahkan, Allah sendiri adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dengan demikian, hubungan antara papa & mamaku sebenarnya tidak hanya melulu antara suami dan istri. Ada “Pihak Ketiga”, yakni Allah. Cinta sejati antara sepasang kekasih adalah cinta antara pria dan wanita yang diikat oleh cinta Allah. Dengan demikian, segala sesuatu dilakukan demi membahagiakan Allah dan pasangan.

Aku juga melihat Allah Trinitas dalam keluargaku. Allah memiliki kebapaan, keputraan, dan hakikat keluarga, yakni kasih. Dalam keluargaku, aku melihat seorang papa yang mencintai anak-anaknya dengan mamaku sebagai pengikat kasih tersebut. Tentu saja, ini adalah gambaran, yang tidak sempurna untuk menggambarkan Allah Tritunggal sepenuhnya. Tapi, aku melihat sidik jari-Nya, di mana kasih papaku pada semua anaknya menggambarkan Allah Bapa yang mengasihi Putra-Nya. Kasih tersebut sendiri menjadi nyata dalam pribadi mamaku, yang menjadi pengikat kasih antara anak-anak dan papa, seperti Roh Kudus yang dicurahkan Bapa kepada Putra, dan dibalas oleh Putra kepada Bapa.

Gambaran ini sekaligus menjadi model bagi keluargaku. Sidik jari-Nya dalam keluargaku menjadi petunjuk seperti apa keluarga yang diinginkan Allah, yakni seperti Diri-Nya sendiri. Allah ingin agar persatuan dalam keluargaku tidak terceraikan, bersatu dengan utuh, dan memberikan diri sepenuhnya untuk satu sama lain. Sama seperti Allah Bapa yang memberikan seluruh yang Ia miliki pada Allah Putra, dan Allah Putra yang mempersembahkan semuanya pada Allah Bapa, dan yang saling diberikan di antara KeduaNya tidak lain adalah Roh Cinta Allah yang Kudus. Keeratan persatuan di antara Ketiga Pribadi sungguh sempurna sehingga Tiga Pribadi Allah adalah satu. Persatuan inilah yang sebenarnya telah dianugerahkan Allah pada setiap keluarga. Namun, tentu saja anugerah bebas untuk diterima atau ditolak. Sayang, di zaman ini, banyak keluarga dan pasangan yang menolak anugerah tersebut dan menyerah.

Semoga, hidup keluargaku dan keluarga semua orang menjadi lengket-ket-ket jadi satu seperti gulali yang lengket di bibir. Semoga seluruh Gereja lengket-ket-ket jadi satu seperti gula kapas yang manis. Semoga seluruh manusia lengket-ket-ket jadi satu saudara karena Roh Cinta Allah yang pekat. Kalau bisa, selengket-ket-ket Allah Bapa,Putra, dan Roh Kudus, di mana 3=1. Selamat Hari Raya Tritunggal Mahakudus!

 

Dalam misteri-Nya yang terdalam, Allah bukanlah suatu kesendirian, tetapi suatu keluarga. Karena, dalam Diri-Nya, Ia memiliki Kebapaan, Keputraan, dan hakikat dari keluarga, yakni Kasih.” – Beato Yohanes Paulus II

Paus: Roh Kudus membimbing kita pada Kebenaran!

0

Berikut adalah terjemahan Audiensi Umum Paus Fransiskus pada tanggal 15 Mei 2013:

Saudara saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, saya ingin merefleksikan aksi Roh Kudus dalam membimbing Gereja dan tiap-tiap dari kita kepada Kebenaran. Yesus sendiri berkata pada pengikutnya: Roh Kudus “akan membimbingmu kepada kebenaran” (Yoh 16: 13), sebab Ia sendiri adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17; 15:26; 16:13).

Kita hidup pada era di mana orang lebih meragukan kebenaran. Benediktus XVI telah berulang kali berbicara mengenai relativisme, yang adalah kecenderungan untuk menganggap tidak ada hal yang pasti dan berpikiran bahwa kebenaran datang dari konsensus atau dari sesuatu yang kita sukai. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah “sang” kebenaran sungguh ada? Apakah “sang “kebenaran itu? Bisakah kita mengetahuinya? Bisakah kita menemukannya? Muncul dalam benak saya pertanyaan dari Pontius Pilatus, penguasa di Roma, saat Yesus mengungkapkan padanya makna di balik misinya: “Apakah kebenaran itu? (Yoh 18:37,38)”, Pilatus tidak dapat memahami bahwa “Sang” Kebenaran itu sedang berdiri di hadapannya, ia tidak dapat melihat pada Yesus wajah kebenaran, yaitu wajah Allah. Dan Yesus adalah benar-benar: Sang Kebenaran, yang pada waktu penggenapan “menjadi daging” (Yoh 1:1, 14) dan datang untuk tinggal di tengah kita sehingga kita dapat mengenalNya. Kebenaran tidak dapat diraih sebagai sesuatu benda, kebenaran itu dijumpai. Itu bukanlah kemilikan, namun sebuah perjumpaan dengan sebuah Pribadi.

Namun siapa yang dapat memampukan kita untuk menyadari bahwa Yesus adalah, “Sang” Sabda kebenaran, Satu-satunya Putra Allah Bapa? Santo Paulus mengajarkan bahwa “tidak ada yang dapat mengatakan “Yesus Tuhan” kecuali oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Adalah Roh Kudus sendiri, karunia dari Kristus yang bangkit, yang dapat membuat kita mengenali Kebenaran. Yesus mendeskripsikan Dia sebagai “Penghibur”, yang disebut “Dia yang datang menolong”, yang berada di samping kita untuk menopang kita dalam perjalanan mencari pengetahuan ini, dan pada Perjamuan Terakhir, Yesus meyakinkan pengikut-Nya bahwa Roh Kudus akan mengajari mereka segala hal serta mengingatkan mereka tentang apa yang sudah Ia katakan kepada mereka (Yoh 14:26).

Jadi bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup kita dan dalam hidup Gereja untuk membimbing kita pada kebenaran? Pertama-tama ia mengingatkan kembali dan memberikan kesan dalam hati yang percaya akan sabda yang diucapkan Yesus dan, melalui sabdanya ini, hukum Allah  —sebagaimana diucapkan para Nabi di Perjanjian Lama — terukir dalam hati kita dan menjadi kriteria diri kita dalam mengevaluasi keputusan, dan sebagai pedoman dalam aktifitas sehari-hari kita; ia menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan. Nubuat besar Yehezkiel tergenapi: Kamu akan menjadi bersih; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu…. Roh-Ku kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya (36:25-27). Ternyata, dalam relung hati terdalam kitalah tindakan kita menjadi nyata: adalah hati itu sendiri yang harus diubahkan kepada Allah, dan Roh Kudus mengubahnya saat kita membuka diri padaNya.

Kemudian, seperti yang dijanjikan Yesus, Roh Kudus membimbing kita “ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:13); Ia tidak hanya membimbing kita untuk berjumpa dengan Yesus, kepenuhan dari Kebenaran, namun Ia juga membimbing kita “masuk ke dalam” Kebenaran itu, dengan kata lain, Ia membuat kita masuk pada persatuan yang semakin mendalam dengan Yesus, memberikan kita pengetahuan akan segala sesuatunya tentang Allah. Dan kita tidak dapat meraih hal ini dengan usaha kita sendiri. Kecuali Allah mencerahkan kita dari dalam, eksistensi ke-Kristenan kita menjadi topeng belaka. Tradisi Gereja menyatakan bahwa Roh kebenaran bekerja dalam hati kita, mengilhami “indera keimanan” (sensus fidei) yang melaluinya, Umat Allah, seperti yang dinyatakan dalam Konsili Vatikan II, di bawah bimbingan Magisterium, melekat pada iman yang diturunkan, masuk lebih dalam dengan penghakiman yang benar, dan menerapkan sepenuhnya dalam hidup (bdk. Dogmatic Constitution Lumen Gentium, n. 12). Mari kita mencoba bertanya pada diri kita sendiri: apakah saya terbuka pada kerja Roh Kudus? Apakah saya berdoa agar Ia memberikan saya pencerahan, untuk membuat saya lebih peka terhadap gerakan Allah?

Ini adalah doa yang harus kita doakan setiap hari: ” Roh Kudus, buatlah hati saya terbuka akan sabda Allah, buatlah hati saya terbuka akan kebaikan, buatlah hati saya terbuka akan keindahan Allah setiap hari”. Saya ingin mengajukan pertanyaan pada setiap orang: berapa banyak dari kalian yang berdoa setiap hari pada Roh Kudus? Mungkin tidak banyak, namun kita harus memenuhi keinginan Yesus dan berdoa setiap hari pada Roh Kudus untuk membuka hati kita pada Yesus.

Mari kita berpikir mengenai Maria yang “menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya” (Luk 2:19, 51). Penerimaan akan Sabda dan kebenaran iman hingga mereka menjadi bagian dari hidup, dimungkinkan dan menjadi semakin meningkat di bawah gerak karya Roh Kudus.. Dalam hal ini, kita harus belajar dari Bunda Maria, kita harus menghidupkan jawaban “ya” yang diberikannya, kesiapannya tanpa pamrih untuk menerima Putra Allah dalam kehidupannya, yang diubahkan sejak saat itu. Melalui Roh Kudus, Bapa dan Putra tinggal bersama kita: kita hidup di dalam Allah dan dari Allah. Namun apakah hidup kita benar-benar terinspirasi oleh Allah? Berapa banyak hal yang kita serahkan pada Allah?

Saudara saudari terkasih, kita perlu memberikan diri kita untuk dibasuh dalam cahaya Roh Kudus sehingga ia dapat membimbing kita kepada Kebenaran Allah, yang adalah satu-satunya Tuhan dalam kehidupan kita. Pada Tahun Iman ini, mari kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita benar-benar telah mengambil langkah untuk mengenal Kristus dan kebenaran iman dengan lebih baik melalui membaca, merenungkan Sabda Suci, mempelajari Katekese dan menerima sakramen secara teratur. Dan juga pada saat yang sama, mari kita bertanya pula langkah apa yang kita tempuh untuk memastikan bahwa iman kita menguasai keberadaan kita sepenuhnya. Kita bukanlah orang Kristen “paruh waktu”, hanya pada saat, keadaan, pertimbangan tertentu; tidak ada seorangpun yang bisa menjadi Kristen dengan cara seperti ini, kita adalah orang Kristen sepanjang waktu! Secara total! Semoga kebenaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan dan dianugerahkan oleh  Roh Kudus, selalu dan sepenuhnya mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Mari kita memanggilnya lebih sering lagi agar Dia membimbing kita pada jalan murid – murid Kristus. Mari kita mengundangnya setiap hari. Saya menyarankan hal ini: mari kita membangunkan Roh Kudus setiap hari, dengan cara ini, Roh Kudus akan membawa kita lebih dekat pada Kristus.

———————————————————————————————————–

Salam:

Saya mengirimkan salam yang istimewa kepada uskup, imam, dan umat beriman yang datang dari Sardinia. Teman terkasih, terima kasih atas kedatangannya dan saya dengan hangat meletakkan Anda dan komunitas Anda pada campur tangan keibuan Perawan Tersuci, yang Anda hormati dengan julukan “Madonna di Bonaria”.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengumumkan pada Anda bahwa saya ingin mengunjungi Tempat Ziarah di Cagliari  — hampir pasti di bulan September — karena kota Buenos Aires dan Cagliari terikat dalam hubungan persaudaraan dari masa lampau. Pada saat berdirinya kota Buenos Aires, pendirinya ingin kota itu dinamai“Città della Santissima Trinità” [kota Tritunggal Mahakudus], namun para pelaut yang membawanya ke sana adalah orang Sardinia dan mereka ingin menamai kota tersebut “Città della Madonna di Bonaria” [kota Bunda Kita dari Udara Baik]. Perdebatan muncul di antara mereka dan mereka menemukan jalan tengah yang menghasilkan nama yang panjang“Città della Santissima Trinità e Porto di Nostra Signora di Bonaria”[kota Tritunggal Mahakudus dan Pelabuhan Bunda dari Bonaria]. Namun, karena terlalu panjang, sehingga hanya dua kata terakhir (dalam bahasa Spanyol) yang bertahan seiring berjalannya waktu: Bonaria, Buenos Aires, mengenang ikon kalian, Madonna di Bonaria.

Saya dengan gembira menyapa banyak peziarah dan pengunjung yang  berbahasa Inggris pada audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Skotlandia, Swedia, Australia, India, Vietnam, Canada, dan Amerika. Seiring dengan persiapan Gereja menyambut turunnya Roh Kudus pada Pentakosta, saya berdoa agar karunia kebijaksanaan, sukacita, dan damai menemani Anda dan keluarga dalam perjalanan sebagai pengikut Kristus yang sejati. Allah memberkati kalian semua!

Dan terakhir, saya menyapa para orang muda, orang sakit, dan pengantin baru. Selama bulan Mei ini, kepada orang muda, cobalah meniru wanita muda dari Nazaret, Maria. Semoga ia membantu Anda untuk menjadi sederhana, memiliki hati yang murni dan untuk memberikan sinar ketentraman pada yang kesepian dan penderitaan. Saya berharap kalian, yang sakit, dengan pertolongan Bunda Maria, semoga kalian menghidupi hidup Anda dengan mempercayakan rasa keputusasaan Anda pada Tuhan, Allah dari segala penghibur. Dan Anda, pengantin baru terkasih, semoga Anda selalu menemukan sukacita dan saling mendukung dalam kesetiaan Anda.

(OSP)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 15 Mei 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Paus Fransiskus: Jadilah garam dunia!

1

Orang Kristen hendaknya menebarkan garam spiritual berupa iman, pengharapan, dan kasih: ini adalah seruan Paus Fransiskus pada Misa Kamis pagi di Kapel Domus Sanctae Marthae kediaman Paus di Vatikan. Paus memperingatkan tentang resiko menjadi hambar, “Orang-orang Kristen pajangan.”

Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus fokus pada cita rasa menjadi seorang Kristen yang dipanggil untuk mempersembahkan hidup mereka bagi orang lain. Bapa Suci berkata bahwa ‘garam’ yang Allah berikan kepada kita adalah iman, pengharapan, dan kasih. Namun, dia memperingatkan, kita harus berhati-hati dengan garam ini, yang telah diberikan kepada kita melalui kepastian bahwa Yesus wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan kita, “jangan sampai menjadi tawar, jangan sampai hilang kekuatannya.” Garam ini, ia melanjutkan, “bukan untuk disimpan, karena garam yang taruh di dalam wadahnya tidak melakukan apa pun: sama sekali tidak.”

“Garam akan menciptakan sebuah rasa ketika Anda menggunakannya untuk membuat sesuatu menjadi lebih lezat. Saya pun mengganggap bahwa garam yang disimpan di dalam wadahnya, yang lembab dan hilang kekuatannya, membuatnya menjadi tidak berguna. Garam yang kita terima adalah garam yang harus dikeluarkan, untuk diberikan, [dalam rangka] memberikan cita rasa: jika tidak, garam itu akan menjadi hambar dan tidak berguna. Kita sepatutnya memohon kepada Tuhan agar tidak membiarkan kita menjadi orang Kristen dengan garam yang hambar, dengan garam yang hanya tersimpan di dalam botol. Garam pun memiliki sebuah keistimewaan lain: ketika garam digunakan dengan baik, orang tidak menyadari rasa garam itu. Rasa garam itu – tidak dapat dirasa. Yang terasa adalah kelezatan makanannya: garam mempertajam cita rasa makanan.”

“Ketika kita memberitakan iman, dengan garam ini,” kata Paus Fransiskus, “mereka yang menerima kabar baik tersebut, menerimanya sesuai dengan keistimewaan mereka masing-masing, seperti [yang terjadi pada yang garam digunakan dengan baik] pada makanan.” Sehingga, “masing-masing pribadi dengan keistimewaannya menerima garam tersebut dan menjadi lebih baik [atasnya].” Bapa Suci melanjutkan untuk menjelaskan bahwa “keaslian” iman Kristiani bukanlah sesuatu yang seragam:

“Iman Kristen dari mulanya bukan tentang keseragaman! [Tetapi tentang] masing-masing individu sesuai dengan dirinya sendiri, dengan kepribadiannya sendiri, dengan karakteristik tersendiri, budayanya – dan membiarkan tetap seperti itu, karena itu adalah harta yang dimilikinya. Namun,  hal itu memberikannya sesuatu yang lebih: memberikan cita rasa! Keaslian iman Kristen ini sangatlah indah, karena jika kita ingin menjadi seragam – semua digarami dengan cara yang sama – bagaikan seorang wanita yang menaburkan garam terlalu banyak, dan yang ada hanyalah rasa asin, bukan rasa makanannya. Keaslian orang Kristen adalah: masing-masing pribadi, dengan karunia yang Tuhan berikan kepadanya.”

“Ini,” lanjut Paus, ”adalah garam yang harus kita tabur.” Garam yang “bukan untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan,” -dan ini, Ia berkata, “berarti [sedikit] tentang transendensi”: “Untuk keluar dengan kabar gembira, untuk keluar dengan kekayaan yang kita miliki dalam garam tersebut, dan membagikannya kepada orang lain.” Di sisi lain, katanya, ada dua “jalan keluar” bagi sang garam, sehingga ia tidak rusak. Pertama: menaburkan garam tersebut “di dalam makanan, dalam pelayanan untuk orang lain, untuk melayani sesama.” Yang kedua: “transendensi kepada Sang Pencipta garam. ”  Bapa Suci menegaskan, “Demi menjaga cita rasa garamnya, tidak hanya butuh diberikan melalui khotbah,” tetapi, “juga perlu yang lain yaitu transendensi dengan doa dan adorasi.”

“Dengan cara inilah garam diawetkan, [dengan begitu garam tersebut menjaga] cita rasanya. Dengan menyembah Tuhan, saya ‘keluar’ dan tertuju kepadaNya, dan dengan penginjilan, saya pergi untuk memberitakan Kabar Gembira. Jika kita tidak melakukan kedua transendensi ini, garam tersebut akan tetap berada di dalam wadahnya, dan kita akan menjadi ‘orang-orang Kristen pajangan’. Kita bisa saja menunjukkan: inilah garam saya – dan betapa indahnya hal itu! Ini adalah garam yang saya terima dalam Pembaptisan, ini adalah yang saya terima dalam Krisma, yang saya terima dalam Katekisasi – Tetapi lihat: orang-orang Kristen pajangan! Sebuah garam yang hambar, garam yang tidak berguna.

Kardinal Angelo Sodano dan Kardinal Leonardo Sandri berkonselebrasi, Misa tersebut dihadiri sekelompok imam dan mitra awam dari Kongregasi bagi Gereja-Gereja Oriental.

(EME)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 23 Mei 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Paus Fransiskus: Sukacita Kristiani jauh berbeda dari kesenangan semata

0

Sukacita Kristen adalah sukacita seorang  peziarah yang mana tidak bisa terus kita ‘simpan dalam botol’ bagi diri kita sendiri, atau kita berisiko menjadi komunitas yang ‘melankolis’ dan ‘hanya bernostalgia’. Selain itu, sukacita Kristiani jauh berbeda dari [sekedar] kesenangan semata. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam lagi dari kebahagiaan sesaat, karena hal ini berakar pada keyakinan kita bahwa Yesus Kristus bersama Allah dan kita.

Inilah pelajaran yang Paus Fransiskus tarik dari Kisah Para Rasul di Misa Jumat pagi saat ia menggambarkan sukacita para murid dalam hari-hari antara Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dan Pentakosta dan apa yang kita dapat pelajari dari mereka. Misa di kapel residensi Santa Marta yang dirayakan oleh Uskup Agung Mérida, Baltazar Enrique Porras Cardozo, dan abbas utama para rahib Benediktin Notker Wolf, dan dihadiri oleh staf Vatican Radio yang didampingi oleh Direktur Jenderal, Pater Federico Lombardi. Emer McCarthy melaporkan:

“Seorang Kristen adalah seorang pria dan seorang wanita dengan sukacita. Yesus mengajarkan kita hal ini, Gereja mengajarkan kita hal ini, secara khusus dalam masa [liturgi] ini. Sukacita apakah ini? Apakah ini adalah bersenang-senang [maksudnya] ??  Bukan: ini bukanlah hal yang sama. Senang itu baik, kan? Bersenang-senang itu baik. Tetapi sukacita lebih dari itu, suatu hal yang lain. Ini adalah sesuatu yang tidak berasal dari alasan ekonomi jangka pendek, dari alasan-alasan sesaat: ini adalah sesuatu yang lebih dalam lagi. Ini merupakan sebuah karunia. Kesenangan, jika kita ingin bersenang-senang sepanjang waktu, pada akhirnya menjadi dangkal, hanya di permukaan, dan juga membawa kita kepada keadaan di mana kita kekurangan kebijaksanaan Kristiani; itu membuat kita sedikit bodoh, naif, bukan? Semuanya menyenangkan. . .  Tidak. Sukacita adalah suatu hal yang lain. Sukacita merupakan karunia dari Tuhan. Ia mengisi kita dari dalam. Ia seperti sebuah urapan Roh. Dan sukacita ini adalah kepastian bahwa Yesus bersama dengan kita dan dengan Bapa.”

Seorang yang bersukacita, Paus melanjutkan, adalah orang yang percaya diri. Yakin bahwa “Yesus bersama dengan kita, bahwa Yesus dengan Bapa.” Ia bertanya: Bisakah kita ‘memendam’ sukacita ini agar kita selalu memilikinya sendiri?

“Tidak, karena jika kita menahan sukacita ini untuk diri kita sendiri hal ini akan membuat kita sakit pada akhirnya, hati kita akan menjadi tua dan berkeriput dan wajah kita tidak lagi akan memancarkan sukacita besar itu, [yang sekarang] hanya nostalgia saja, melankolis yang tidak sehat. Kadang -kadang wajah melankolis orang Kristen memiliki lebih banyak kesamaan dengan acar paprika daripada sukacita karena memiliki kehidupan yang indah. Sukacita tidak dapat disembunyikan di tumit: ia harus dilepaskan. Sukacita adalah suatu kebajikan peziarah. Ia adalah sebuah karunia yang berjalan, berjalan di jalan kehidupan, yang berjalan dengan Yesus: berkhotbah, mewartakan Yesus, mewartakan sukacita, memperpanjang dan memperlebar jalan itu. Ini adalah kebajikan yang Agung, dari orang-orang yang Agung yang naik melampaui hal-hal kecil dalam hidup, di atas kepicikan manusia, dari orang-orang yang tidak akan mengizinkan dirinya terseret ke hal-hal kecil dalam masyarakat, dalam Gereja: mereka selalu melihat ke kaki langit.”

Sukacita adalah “peziarah,” Paus Fransiskus menegaskan. “Orang Kristen bernyanyi dengan sukacita, dan berjalan, dan membawa sukacita ini.” Ini adalah sebuah kebajikan dari jalan tersebut, [yang] sebenarnya lebih dari sebuah kebajikan. Ini adalah sebuah karunia:

“Ini adalah karunia yang membawa kita pada kebajikan berbesar hati. Orang Kristen itu besar hati, ia tidak bisa menjadi seorang penakut: orang Kristen itu besar hati. Dan kebesaran hati adalah kebajikan dari nafas, kebajikan untuk selalu maju, tetapi dengan semangat yang penuh Roh Kudus. Sukacita adalah kasih karunia yang kita minta dari Tuhan. Hari-hari ini dengan cara yang khusus, karena Gereja diajak, Gereja mengajak kita untuk meminta sukacita itu dan juga keinginan: bahwasanya yang mendorong kehidupan seorang Kristen itu maju adalah keinginan. Semakin besar keinginan kalian, akan menjadi semakin besar sukacita kalian. Orang Kristen adalah seorang pria, adalah seorang wanita dengan [hasrat] keinginan: selalu menginginkan lebih pada jalan kehidupan tersebut. Kita minta kepada Tuhan rahmat ini, karunia Roh ini: sukacita Kristiani. Jauh dari kesedihan, jauh dari kesenangan semata … Itu adalah sesuatu hal yang lain. Ini adalah anugerah [yang] harus kita cari.”

Paus Fransiskus menyimpulkan bahwa saat ini kehadiran Tawadros II, Patriakh Alexandria di Roma adalah alasan yang sangat baik untuk menjadi gembira: “Karena ia adalah seorang saudara yang datang untuk mengunjungi Gereja Roma untuk berbicara,” dan untuk berjalan “bagian dari jalan tersebut bersama – sama.”

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 10 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

 

 

Nikmati Kesederhanaan

4

Di tengah keremangan malam, anak-anak pekerja pabrik bersila di lantai beralaskan tikar.

Mereka berdoa kepada Sang Pencipta dengan sepenuh jiwa dalam Misa.

Mereka menyimak kotbah yang aku sampaikan.

Mereka menyanyikan lagu favourite mereka “Mars Berbelarasa” dengan kerasnya karena telah hafal di luar kepalanya.

Setelah Misa purna, mereka bermain dengan penuh sukacita di bawah terang rembulan.

Tiada kegelisahan terhadap masa depan mereka karena mereka terbiasa dengan hidup apa adanya.

Mereka bersyukur masih bisa sekolah walaupun dengan fasilitas seadanya.

Mereka tetap tekun belajar dengan lampu listrik yang kedap-kedip nyalanya.

Seragam sekolahnya yang penuh jahitan tidak menyurutkan semangat mereka untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Tas dan sepatu jadul tidak mengurangi  kehendaknya untuk meraih cita-citanya.

Petuah dari orang tuanya “Sinau sing bener, supoyo dadi wong pinter”/Belajarlah yang betul agar menjadi orang pandai, tertanam dalam hatinya.

Petuah itu senantiasa menyegarkan jiwanya.

Tas baru yang dibagikan sebagai hadiah akhir tahun sekolah membuat mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan bagaikan kejatuhan bulan.

Seorang anak membisikkan kata-kata ke telingaku : “Romo, tas ini aku impikan sejak Taman Kanak-Kanak”.

Dalam hati mereka tersirat tekad “aku mau belajar lebih rajin dari tahun sebelumnya agar tidak mengecewakan Tuhan dan orang tua”.

Mereka pulang dengan bangganya mencangklongkan tas barunya di punggungnya.

Mereka meninggalkan pesan  “Nikmatilah kesederhanaan, maka sukacita terukir di dalam loh jiwa”.

Kuncinya adalah nasihat  Paulus, yaitu  “Kejarlah kasih itu” (1 Korintus 14:1a), sampai bersatu dengan Kristus, Sang Kasih itu, sehingga Kristus, yang sederhana,  hidup di dalam  diri kita.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:20).

Tuhan memberkati kita.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Umat Kristen yang hangat suam-suam kuku melukai Gereja

0

Semua orang Kristen memiliki tugas untuk meneruskan iman dengan keberanian, Umat Kristen yang hangat suam-suam kuku, iman yang hangat suam-suam kuku melukai Gereja, karena hal tersebut menciptakan perpecahan. Keberanian untuk menjadi orang Kristen di masyarakat saat ini adalah fokus dari homili Jumat pagi Paus Fransiskus di Casa Santa Marta. Emer McCarthy melaporkan:

Paus Fransiskus berkonselebrasi dengan Uskup Agung Claudio Maria Celli, Presiden dari Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial dan misa dihadiri oleh Garda Swiss Kepausan dengan komandan mereka Daniel Rudolf Anrig. Pada hari Minggu 6 Mei, para penjaga itu akan mengadakan perayaan tahunan mereka, memperingati pertahanan terakhir mereka di tahun 1527 dengan Misa dan pengambilan sumpah anggota baru.

Pada akhir perayaan, Paus Fransiskus memberi mereka salam khusus, menggambarkan pelayanan mereka sebagai “kesaksian yang indah akan kesetiaan terhadap Gereja” dan “kasih bagi Paus.”

Dalam homilinya yang berfokus pada bacaan hari ini, Paus Fransiskus mengatakan semua orang Kristen yang telah menerima karunia iman harus meneruskan karunia ini dengan mewartakannya dengan kehidupan kita, dengan perkataan kita. Namun kemudian, Paus bertanya, “apakah iman yang mendasar ini? Ini adalah iman akan Yesus yang Bangkit, akan Yesus yang telah mengampuni dosa-dosa kita melalui kematian-Nya dan mendamaikan kita dengan Bapa”:

Menyalurkan iman ini mengharuskan kita untuk berani: keberanian untuk menyebarkan iman. Sebuah keberanian yang terkadang sederhana. Saya teringat – maaf – sebuah cerita pribadi: sewaktu kecil setiap Jumat Agung nenekku membawa kami ke Prosesi Lilin dan pada akhir prosesi sampai pada Kristus yang berbaring dan nenek saya meminta kami berlutut dan mengatakan kepada kami anak-anak, ‘Lihat Dia sudah mati, tapi besok Dia akan Bangkit! “Itu adalah bagaimana iman merasuk: iman akan Kristus yang Tersalib dan Bangkit. Dalam sejarah Gereja ada banyak, banyak orang yang telah ingin mengaburkan kepastian yang kuat ini dan berbicara tentang kebangkitan spiritual. Tidak, Kristus hidup.”

Paus Fransiskus terus mengatakan bahwa “Kristus hidup dan juga hidup di antara kita”, ia menegaskan bahwa umat Kristen harus memiliki keberanian untuk memberitakan kebangkitan-Nya, Kabar Baik tersebut. Tapi, ia menambahkan [bahwa] ada juga keberanian lain yang Yesus minta dari kita:

Yesus – untuk memasukkannya ke dalam istilah yang lebih kuat – menantang kita untuk berdoa dan mengatakan ini: ‘Apapun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak’ Jika kamu meminta sesuatu dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya … Tapi ini benar-benar ampuh! Kita harus memiliki keberanian untuk pergi kepada Yesus dan bertanya kepadaNya: Tapi Engkau mengatakan ini, lakukan itu! Buat iman bertumbuh, buat evangelisasi bergerak maju, bantu aku untuk memecahkan masalah ini! … Apakah kita memiliki keberanian ini dalam doa? Atau kita berdoa sedikit, kapan kita bisa, menghabiskan ‘sedikit’ waktu dalam doa? Tapi keberanian itu, parresia (Yunani: Keberanian untuk berbicara di muka umum) bahkan dalam doa … .

Paus mengingatkan kembali bagaimana kita membaca dalam Alkitab bahwa Abraham dan Musa memiliki keberanian untuk “bernegosiasi dengan Tuhan”. Sebuah keberanian “untuk kepentingan orang lain, untuk kepentingan Gereja” yang kita juga perlu hari ini:

Ketika Gereja kehilangan keberanian, Gereja masuk ke dalam suasana yang ‘hangat suam-suam kuku, Umat Kristen yang suam-suam kuku, tanpa keberanian … Mereka sangat melukai Gereja, karena suasana ini menarik kalian ke dalamnya dan masalah-masalah timbul di antara kita; kita tidak lagi memiliki cakrawala, atau keberanian untuk berdoa ke surga, atau keberanian untuk mewartakan Injil. Kita yang hangat suam-suam kuku … kita memiliki keberanian untuk terlibat dalam hal-hal kecil kita dalam kecemburuan kita, iri hati kita, karir kita, dalam keegoisan untuk melangkah majuDalam segala hal ini, tapi ini tidak baik bagi Gereja: Gereja harus berani! Kita semua harus berani dalam doa, dalam menantang Yesus “

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 3 Mei 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab