Home Blog Page 110

Kemiskinan dan pujian kepada Allah

2

Injil harus secara murah hati dan sederhana diwartakan, kata Paus Fransiskus saat Misa Selasa pagi [11-06-2013] di kapel Casa Santa Marta. Kemiskinan dan pujian kepada Allah, katanya adalah dua tanda kunci dari Gereja yang evangelis dan misionaris. Bukan sebaliknya Gereja yang kaya namun menjadi tua, tak bernyawa, yang menjadi sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat] yang mengabaikan harta sejati dari kasih karunia Allah yang cuma-cuma. Emer McCarthy melaporkan:

Paus Fransiskus memulai homilinya dengan mengutip nasihat Yesus kepada para Rasul, yang diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah: “Persembahkan dirimu tanpa emas atau perak, bahkan tanpa tembaga untuk pundi-pundimu” (Mat 10:9). Dia mengatakan Tuhan ingin kita mewartakan Injil dengan kesederhanaan, kesederhanaan “yang memberikan jalan kepada kekuatan Firman Allah,” karena jika saja para Rasul tidak memiliki “keyakinan dalam Firman Allah,” “mereka mungkin sudah akan melakukan sesuatu hal yang lain”. Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengidentifikasi” kata kunci “dalam amanat yang diberikan oleh Yesus: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, [karena itu] berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Dia mengatakan [bahwa] semuanya adalah rahmat dan ketika kita meninggalkan rahmat “sedikit ke satu sisi” dalam pewartaan kita, [maka] Injil [menjadi] “tidak efektif”.

Kotbah Injili mengalir dengan upah cuma-cuma, dari keajaiban keselamatan yang datang dan yang telah aku terima dengan cuma-cuma [maka] aku harus berikan [pula]dengan cuma-cuma. Ini adalah seperti keadaan mereka pada awalnya. St Petrus tidak memiliki rekening bank, dan ketika ia harus membayar pajak, Tuhan menyuruhnya ke laut untuk menangkap ikan dan menemukan uang dalam ikan, untuk membayar. Filipus, ketika ia bertemu dengan menteri keuangan dari Ratu Candace, tidak berpikir, ‘Ah, baik, mari kita mendirikan sebuah organisasi untuk mendukung Injil … ‘ Tidak! Dia tidak membuat sebuah ‘kesepakatan‘ dengan dia: ia berkhotbah, membaptis dan pergi.

Paus Fransiskus mengatakan [bahwa] Kerajaan Allah, “adalah sebuah karunia cuma-cuma”, tapi ia juga menambahkan bahwa dari komunitas Kristen awali, sikap ini telah mengalami pencobaan. “Ada godaan untuk mencari kekuatan”, katanya, “di tempat lain selain dalam karunia”. Godaan ini menciptakan “sedikit kebingungan,” ia memperingatkan, di mana” pewartaan menjadi perekrutan [dengan mengkonversi orang-orang dari satu keyakinan agama lain]”. Sebaliknya” kekuatan kita adalah upah cuma-cuma dari Injil.” Tuhan, “telah mengundang kita untuk mewartakan, tidak untuk menarik masuk orang-orang untuk pindah agama.” Mengutip Benediktus XVI, Paus Fransiskus menyatakan bahwa “Gereja tidak tumbuh melalui penarikan masuk orang-orang dengan mengkonversi agamanya namun dengan menarik (memberi daya tarik) orang-orang kepada Gereja”. Dan daya tarik ini, katanya, berasal dari kesaksian” orang-orang yang secara bebas mewartakan karunia dari keselamatan itu”.

Semuanya adalah rahmat. Semuanya. Dan apa tanda-tanda ketika seorang rasul hidup dengan karunia rahmat ini? Ada begitu banyak, tapi saya akan menggarisbawahi hanya dua: Pertama, kemiskinan. Pewartaan Injil harus mengikuti jalan kemiskinan. Kesaksian dari kemiskinan ini: saya tidak memiliki kekayaan, kekayaan saya ialah karunia yang saya terima dari Allah: karunia ini adalah kekayaan kita! Dan kemiskinan ini menyelamatkan kita dari menjadi manajer, pengusaha … Karya-karya Gereja harus dibawa ke depan, dan beberapa sedikit rumit, tapi dengan hati kemiskinan, bukan dengan hati dari pakar investasi atau pengusaha…”

Paus Fransiskus melanjutkan, “Gereja bukanlah sebuah LSM: Gereja adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih penting, dan ini adalah hasil dari karunia.  Diterima dan diwartakan”. Kemiskinan “merupakan salah satu dari tanda-tanda karunia ini.” Tanda lainnya “adalah kemampuan untuk memuji: ketika seorang rasul tidak hidup dengan karunia ini, ia kehilangan kemampuan untuk memuji Tuhan.” Memuji Tuhan, dalam kenyataannya, “pada dasarnya adalah karunia cuma-cuma, itu adalah doa cuma-cuma: kita tidak meminta, kita hanya memuji“.

“Keduanya ini adalah tanda-tanda dari seorang rasul yang hidup dengan karunia ini: Kemiskinan dan kemampuan untuk memuji Tuhan. Dan ketika kita menemukan para rasul yang ingin membangun sebuah Gereja kaya dan sebuah Gereja tanpa pujian cuma-cuma, [maka] Gereja menjadi tua, Gereja menjadi sebuah LSM, Gereja menjadi tak bernyawa. Hari ini kita mohon kepada Tuhan akan rahmat untuk mengakui kemurahan hati ini:… ‘secara cuma-cuma kalian telah menerima, secara cuma-cuma pula berikanlah’. Kenali karunia ini, pemberian Allah ini. Marilah kita bergerak maju dalam mewartakan Injil”.

Misa Selasa pagi ini dikonselebrasikan oleh Uskup Agung Gerhard Ludwig Müller Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman dan dihadiri oleh Staf Kongregasi.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 11 Juni 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

 

Penghiburan Kristiani dan hukum dari kebebasan sejati

0

Sabda Bahagia adalah ‘perintah-perintah baru’, tetapi itu tidak hanya merupakan sebuah daftar sederhana dari perbuatan-perbuatan yang dapat dilakukan demi kebaikan. Mereka tidak dapat dipahami dengan pikiran, hanya dengan hati, jadi jika hati kita tertutup kepada Allah kita tidak akan pernah tahu kebebasan sejati. Penghiburan Kristiani adalah kehadiran Allah dalam hati kita yang mengajarkan kita untuk memahami Sabda Bahagia sebagai hukum kebebasan sejati. Ini adalah fokus utama dari homili Paus Fransiskus dalam Misa Senin pagi [11-06-2013] di kediaman Casa Santa Marta. Emer McCarthy melaporkan.

Berefleksi pada bacaan-bacaan harian, Paus mulai dengan mencatat bahwa, pada awal Surat Kedua kepada jemaat Korintus, St Paulus menggunakan kata ‘penghiburan’ beberapa kali. Sebagai Rasul yang diutus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, ia menambahkan, “berbicara kepada orang-orang Kristen yang masih muda dalam iman,” orang-orang yang “baru mulai mengikuti jalan Yesus”, ia menegaskan hal ini, bahkan meskipun “tidak semua dari mereka dianiaya.” Mereka adalah orang-orang biasa, “tetapi mereka telah menemukan Yesus.” Paus mengatakan ini “adalah semacam pengalaman yang mengubah hidup di mana kekuatan khusus dari Allah diperlukan” dan kekuatan ini adalah penghiburan. Penghiburan, katanya lagi, “adalah kehadiran Allah dalam hati kita.” Tapi, Paus Fransiskus mengingatkan, agar Tuhan dapat “hadir dalam hati kita, kita harus membuka pintu”. Kehadiran-Nya membutuhkan “perubahan” [pertobatan] kita:

Ini adalah keselamatan: untuk hidup dalam penghiburan dari Roh Kudus, bukan penghiburan dari roh dunia ini. Tidak, itu bukan merupakan keselamatan, itu adalah dosa. Keselamatan bergerak maju dan membuka hati kita sehingga mereka dapat menerima penghiburan Roh Kudus, yang adalah keselamatan. Hal ini tidak bisa ditawar, kalian tidak dapat mengambil sedikit dari sini dan sedikit dari sana. Kita tidak bisa memilih dan mencampuradukkan, bukan? Sedikit Roh Kudus, sedikit semangat dunia ini Tidak! Ini  adalah memilih salah satu.

Paus Fransiskus melanjutkan, Tuhan dengan jelas menyatakan: “Kalian tidak bisa melayani dua tuan: kalian melayani Tuhan atau kalian melayani roh dunia ini.” Kalian tidak dapat ‘mencampuradukkan mereka’. Justru ketika kita terbuka kepada Roh Tuhan, kita mampu untuk memahami “hukum baru yang Tuhan berikan kepada kita”: Sabda Bahagia, di mana Injil mengutarakannya hari ini. Paus menambahkan bahwa kita hanya dapat memahami Sabda Bahagia ini “jika kita memiliki hati yang terbuka, dari penghiburan Roh Kudus”. Mereka “tidak dapat dipahami dengan kecerdasan manusia saja”:

“Mereka adalah perintah-perintah baru. Tapi jika kita tidak memiliki hati yang terbuka terhadap Roh Kudus, mereka akan tampak konyol.” Lihat saja, menjadi miskin, menjadi lemah lembut, bermurah hati, akan sulit menghantar kita kepada kesuksesan‘. Jika kita tidak memiliki hati yang terbuka dan jika kita tidak mengalami penghiburan Roh Kudus, yang adalah keselamatan, kita tidak dapat memahami hal ini. Ini merupakan hukum bagi mereka yang sudah diselamatkan dan telah membuka hati mereka untuk keselamatan. Ini adalah hukum bagi mereka yang telah bebas, dengan kebebasan dari Roh Kudus.”

Paus Fransiskus melanjutkan, “kita bisa mengatur hidup kita, sesuai dengan daftar perintah atau prosedur,” tapi itu adalah daftar yang “hanya manusiawi”. Pada akhirnya hal ini “tidak membawa kita kepada keselamatan”. Paus teringat bahwa banyak yang tertarik  “memeriksa” “doktrin baru ini dan kemudian berdebat dengan Yesus.” Dan ini adalah karena “hati mereka tertutup oleh kepentingannya sendiri”, “kekhawatiran bahwa Allah ingin mengubah.” Paus Fransiskus bertanya, Mengapa orang-orang “memiliki hati yang tertutup untuk keselamatan?” Paus berkata itu karena “kita takut akan keselamatan. Kita membutuhkannya, tapi kita takut” karena ketika Tuhan datang “untuk menyelamatkan kita, kita harus memberikan segalanya. Dia yang bertanggung jawab! Dan kita takut akan hal ini” karena “kita ingin mempunyai kontrol atas diri kita sendiri”. Paus menambahkan bahwa untuk memahami “perintah-perintah baru ini,” kita butuh kebebasan yang “lahir dari Roh Kudus, yang menyelamatkan kita, yang menghibur kita” dan yang adalah “pemberi hidup”:

Hari ini kita sekarang dapat memohon kasih karunia Tuhan untuk mengikuti-Nya, tetapi dengan kebebasan ini. Karena jika kita ingin mengikuti-Nya dengan kebebasan manusia kita sendiri saja, pada akhirnya kita menjadi orang munafik seperti orang Farisi dan Saduki, mereka yang berselisih dengan Dia . Ini adalah kemunafikan:. tidak mengizinkan Roh untuk mengubah hati kita dengan keselamatan-Nya. Kebebasan Roh, yang diberikanNya kepada kita, juga merupakan suatu jenis perbudakan, menjadi ‘diperbudak’ kepada Tuhan yang membuat kita bebas, itu adalah kebebasan yang lain. Sebaliknya, kebebasan kita adalah hanya perbudakan, tetapi tidak kepada Tuhan, tetapi kepada roh dunia. Mari kita mohon kasih karunia itu untuk membuka hati kita terhadap penghiburan Roh Kudus, sehingga penghiburan ini, yang adalah keselamatan, memungkinkan kita untuk memahami perintah-perintah ini. Maka jadilah itu !”

Misa dikonselebrasikan oleh Presiden dan wakil dari Dewan Kepausan untuk Awam, Kardinal Stanislaw Rylko dan Uskup Josef Clemens dan Uskup Agung India George Valiamattam, dari Tellicherry. Acara ini dihadiri oleh sekelompok imam dan kolaborator Dewan Kepausan untuk Awam.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 10 Juni 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

 

Berseru kepada Tuhan untuk pertolongan dalam kesusahan

0

Meratap kepada Allah mengenai penderitaan seseorang bukanlah dosa, tapi doa dari hati yang mencapai Tuhan: ini adalah refleksi Paus Fransiskus saat Misa Rabu pagi [5-6-2013] di kapel Domus Sanctae Marthae residensi di Vatikan, dengan kehadiran beberapa anggota dari Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen dan Perpustakaan Apostolik Vatikan. Antara lain, Ketua Kongregasi, Kardinal Antonio Canizares Llovera, Uskup Agung Joseph DiNoia, sekretaris Kongregasi yang sama, dan Monsignor Cesare Pasini, ketua Perpustakaan.

Kisah tentang Tobit dan Sarah, diceritakan dalam bacaan pertama hari itu [5-6-2013], adalah fokus homili Paus: Dua orang jujur yang hidup dalam situasi dramatis. Yang pertama adalah seorang yang buta, walaupun ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baiknya, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya, dan yang kedua [adalah seorang yang] menikahi tujuh laki-laki secara berurutan, [namun] masing-masing dari mereka meninggal dunia sebelum malam pernikahan mereka. Keduanya, dalam kesedihan besar mereka, berdoa kepada Allah supaya membiarkan mereka mati. “Mereka adalah orang-orang yang dalam situasi ekstrim,” jelas Paus Fransiskus, “dan mereka mencari jalan keluar.” Dia berkata, “Mereka mengeluh,” tapi, “mereka tidak menghujat.”:

Meratap di hadapan Allah bukanlah dosa. Seorang imam yang saya kenal pernah suatu kali berkata kepada seorang wanita yang mengeluh kepada Allah tentang kemalangannya: “Tapi, Nyonya, itu adalah sebuah bentuk doa. Silakan saja dengan itu.” Tuhan mendengar, Dia mendengarkan keluhan-keluhan kita. Pikirkanlah tokoh-tokoh besar, akan Ayub, ketika di bab III (ia berkata): ‘Terkutuklah hari aku datang ke dunia,’ dan Yeremia, dalam bab kedua puluh: ‘Terkutuklah hari’ – mereka mengeluh bahkan mengutuk, [namun] tidak kepada Tuhan, tetapi pada situasinya, benar? Ini manusiawi.”

Bapa Suci juga merefleksikan pada banyak orang yang hidup dalam garis keterbatasan: anak-anak yang kurang gizi, para pengungsi, penderita sakit parah. Dia melanjutkan untuk mengamati bahwa, dalam Injil hari itu, ada orang-orang Saduki yang membawa kepada Yesus sebuah perkara sulit tentang seorang wanita, yang adalah janda dari tujuh laki-laki. Pertanyaan mereka, bagaimanapun, tidak diajukan dengan ketulusan:

Orang-orang Saduki berbicara tentang wanita ini seolah-olah dia adalah sebuah laboratorium, di mana semuanya aseptik  – masalah wanita itu adalah sebuah masalah moral yang abstrak. Ketika kita berpikir tentang orang-orang yang menderita, apakah kita menganggap seolah-olah mereka adalah sebuah teka-teki moral yang abstrak, ide-ide murni, ‘tetapi dalam perkara ini … perkara ini …’, atau apakah kita berpikir tentang mereka dengan hati kita, dengan kedagingan kita, juga? Saya tidak suka kalau orang-orang berbicara tentang situasi-situasi sulit secara akademik dan bukan secara manusiawi, kadang-kadang dengan statistik … dan hanya itu. Dalam Gereja ada banyak orang-orang dalam situasi ini.”

Paus mengatakan bahwa dalam perkara-perkara ini, kita harus melakukan apa yang Yesus katakan, berdoa:

Berdoalah bagi mereka. Mereka harus datang ke dalam hatiku, mereka harus menjadi penyebab kegelisahan bagiku: saudara laki-lakiku menderita, saudara perempuanku menderita. Ini adalah misteri persekutuan para kudus: berdoalah kepada Tuhan, “Tapi, Tuhan, lihatlah orang itu: ia menangis, ia menderita. Berdoalah, biarkan saya berkata, dengan kedagingan saya: bahwa kedagingan kita berdoa. Bukan dengan ide-ide. Berdoa dengan hati.”

Dan doa-doa Tobit dan Sarah, yang mereka panjatkan kepada Tuhan bahkan meskipun mereka meminta untuk mati, memberi kita harapan, karena mereka diterima oleh Allah dengan cara-Nya sendiri, yang tidak membiarkan mereka mati, tapi menyembuhkan Tobit dan akhirnya memberikan seorang suami ke Sarah. Doa, jelasnya, selalu mencapai Tuhan, selama itu merupakan doa dari hati.” Sebaliknya, “ketika itu adalah sebuah latihan abstrak, seperti yang orang-orang Saduki diskusikan, tidak pernah mencapai Dia, karena itu tidak pernah pergi ke luar dari diri kita sendiri: kita tidak peduli. Ini adalah sebuah permainan intelektual.” Dalam kesimpulannya, Paus Fransiskus menyerukan pada umat beriman untuk berdoa bagi mereka yang hidup dalam situasi-situasi dramatis dan yang menderita sebanyak yang Yesus derita di kayu salib, yang menangis, “Bapa, Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mari kita berdoa – ia mengakhiri – “agar doa kita mencapai surga dan biarkan itu menjadi sumber harapan bagi kita semua.”

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 5 Juni 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

Mahkluk Tuhan paling berbahaya

5

Tidak terasa, beberapa hari lagi, Tuhan akan mengantarku memasuki tahapan hidup yang baru. Lembar kehidupan baru dalam biara dan saudara-saudara di dalamnya yang membuat hati penuh kegembiraan, kagum, dan bersemangat, sekaligus waspada, khawatir, dan menduga-duga. Aku sempat heran dan kagum untuk beberapa bulan. Kagum karena takjub akan rencana dan karya Tuhan dalam hidupku. Heran karena penasaran dengan alasan yang memotivasi mamaku hingga mengizinkan dan mendukungku untuk memilih jalan hidup selibat dalam biara.  Pertanyaan ini kemudian terjawab melalui suatu peristiwa.

Sekitar awal bulan Juli, mamaku terpaksa rawat inap di rumah sakit. Kata dokter sih infeksi lambung. Memang, penyakit maag kadang-kadang mengunjungi mama. Tapi, yang kali ini kelihatannya cukup serius. Belakangan, ternyata bukan maag, melainkan infeksi usus karena mungkin sempat mengkonsumsi makanan yang kurang higienis. Selama di rumah sakit ini, imanku akan panggilan Tuhan diuji. Betapa tidak. Dalam hati, pasti ada rasa khawatir dan cemas. Bagaimana nanti ketika aku sudah berada di biara? Apakah orangtuaku akan baik-baik saja? Ditambah lagi, mungkin memang mama sakit karena memikirkan keberangkatanku yang semakin dekat. Sering terlihat kekecewaan mama karena liburan keluarga yang dirancang sebelum aku masuk biara akhirnya harus berjalan tanpaku karena bertabrakan dengan jadwal masuk biara. Dalam situasi seperti ini, aku hanya bisa berpegang pada doa yang selama ini terbukti dalam hidupku : “Tuhan sendiri yang memulai, Tuhan pula yang akan menunjukkan jalannya hingga selesai. Terjadilah kehendak-Nya, apapun itu.”

Hingga pada suatu hari, mendadak si mama terlihat lebih ceria dan bisa makan. Padahal semalam sebelumnya mama masih diare dan muntah. Malah, sudah bisa lepas infus dan jalan-jalan ke kantin untuk membeli makanan kesukaan. Dokter aja sampai geleng-geleng. Sungguh mengherankan namun menggembirakan. Malam harinya, entah kenapa semua adikku juga berkumpul di rumah sakit. Kamipun makan malam bersama di kantin rumah sakit. Selama makan malam, satu keluarga ini bercerita dan bercanda bersama, orangtuaku, aku, dan adik-adikku. Entah kenapa, percakapan mengarah pada panggilanku.

Mama bercerita bahwa ia bisa menjadi lebih baik hari ini karena kebaikan Yesus. Sang Raja datang di malam sebelumnya dan menyentuh mamaku sehingga ketika pagi datang, entah kenapa mama merasa jauh lebih baik. Diare dan mual yang dirasa juga mendadak hilang sehingga bisa makan lagi. Peristiwa itu mengingatkan mama akan pengalamannya beberapa bulan lalu, ketika ia menangis dalam gereja, meratap kehilangannya pada Tuhan karena Ia memanggilku memasuki biara. Jawaban yang diberikan berupa penglihatan di mana mama melihat aku mengenakan jubah putih. Semenjak hari itu, mama merelakan aku menjawab panggilan Tuhan, walau kadang masih agak berat sehingga kadang masih tampak sedih.

Masalah pewahyuan pribadi ini, aku tidak tahu. Mamaku juga tidak mungkin cerita pada imam atau bahkan Uskup karena ia bukan seorang Katolik. Namun, aku percaya bahwa ini semakin meneguhkan panggilan-Nya padaku. Panggilan yang semakin mendasar, bukan sekedar menjadi imam atau biarawan saja, tetapi menjadi imam atau biarawan yang kudus. Memang itulah yang sedang dibutuhkan Gereja saat ini. Aku teringat biografi St. Josemaria Escriva, di mana ia pernah berkata : “Seorang imam tanpa kekudusan heroik? Dia akan menjadi makhluk yang paling aneh, tidak menentu, paling berbahaya..” (Catatan Sejarah Pendiri, 2210). Panggilan-Nya padaku tidak hanya sekedar menjalani kehidupan klerikal, tapi kehidupan klerikal yang kudus. Daripada jadi makhluk Tuhan paling berbahaya, mending jadi makhluk Tuhan paling seksi, eh.. kudus maksudnya.

Allah memanggil semua orang menjadi orang kudus, karena Ia adalah kudus (1 Pet 1:16). Karena Ia sendiri yang memerintahkan, tentu saja hal ini adalah hal yang mungkin, walaupun sulit. Setiap orang bisa menjadi santo-santa melalui jalan hidupnya masing-masing. Jalanku mungkin melalui mempersembahkan seluruh hidupku secara radikal pada Yesus dalam kehidupan biara. Satu hal yang pasti, persembahan ini bukan lagi persembahan hidupku semata. Dalam diriku ini tersimpan juga pengorbanan orangtuaku, adik-adikku, saudara-saudara, teman-teman, dan semua orang yang mendukung dan mendoakanku. Jawaban “ya” dariku atas panggilan-Nya bukan lagi melulu jawabanku, tapi terkandung juga jawaban “ya” dari mereka semua. Jawaban “ya” menuju kekudusan. Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk 9:62). Demikian pula untuk si pemintal gulali ini, tidak boleh lagi berpaling dari panggilan menuju kekudusan.

 

 

 

Aku punya cinta

0

Pagi habis hujan dan urat-urat tubuh masih merenggang dalam kedinginan.

Langit  masih diam dan wajahnya muram.

Aku bersama mobil tuaku melenggang menuju Gereja Santo Barnabas Pamulang.

Pikiranku menyempurnakan bait-bait puisi pelayanan yang akan aku hidangkan dalam rekoleksi para Legioner Kuria Maria Regina Missionum yang berasal dari empat paroki dengan tiga belas presidium (enam puluh dua peserta) tanggal 13 Juli 2013.

Wajah-wajah sumringah dan penuh harapan para legioner yang berasal dari berbagai usia dan keadaan menandakan sukacita mereka sebagai pelayan Tuhan.

Sukacita mereka adalah sukacita yang dibentuk dari Doa Tessera (doa wajib para legioner) dan dari pergumulan dalam mewartakan cinta Tuhan bagi sesama.

Semua pengalaman kegembiraan dan kekecewaan terolah menjadi jalan menuju kesempurnaan “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48)” seperti yang terungkap dalam sharing rasa.

Kehadiran seorang wanita dengan tinggi tubuh di bawah rata-rata dalam usia tigapuluh  delapan tahun menyingkapkan makna pelayanan yang benar.

Ia diam  dan tenang  sampai rekoleksi  purna.

Keterbatasan fisiknya mencuatkan pesan yang mendalam : “Aku punya cinta yang tak seorangpun mampu menilainya”.

Dunia hanya dapat ditaklukkan dengan cinta dan bukan dengan uang ataupun strategi-strategi pelayanan yang membuat pusing kepala.

Kesederhanaan hidup mereka dalam membagikan cinta telah menyentuh banyak  jiwa :

“Di dalam kegaluan jiwamu, aku hadir untuk menghiburmu,

Di dalam kesepianmu, aku datang untuk menemaniku. Perkenankanlah aku berarti bagimu”.

Semangat  melayani Tuhan semakin dikobarkan.

Godaan “pensiun “ dalam pelayanan dipatahkan dengan Sabda Tuhan : “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rom 12:11 ).

Karena itu,  biarkanlah cinta hadir, tumbuh, dan bersemi  di dalam hati.

Keindahan cinta dapat dinikmati bagaikan melodi yang dihayati dengan hati.

Semua ungkapan cinta yang suci akan menjadi berkat bagi yang membuka diri.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Jembatan Tuhan

5

Aroma keceriaan muncul dari seorang ibu yang terbaring sakit di rumah ketika ia datang dari Jawa Tengah ke Tangerang untuk mengunjungi anak dan cucunya.

Aroma keceriaan itu tak terkulum oleh naungan air mata.

Aroma itu bukan sekedar enak untuk dinikmati, tetapi indah untuk dimaknai.

Pegangan tangannya masih kuat dapat kurasakan.

Pernyataannya memberikan motivasi kehidupan bagi yang mendengarkan : “Romo puniko romo unik loh amargi  grapyak lan ora medeni”/Romo itu adalah romo unik loh karena ramah dan tidak menakutkan”.

Kegembiraan dalam hidupnya bersumber  pada falsafahnya : “Kula puniko nrimo ing pandum”/ “Saya itu menerima apapun dari Tuhan dengan ikhlas”.

Falsafahnya itu terbentuk  dari asam garam kehidupan.

Ia dengan tabah membesarkan keempat anaknya ketika suaminya meninggal dunia pada waktu anak pertamanya berusia sepuluh tahun.

Kehidupan yang berkecukupan dalam ukuran desa berubah menjadi pas-pasan.

Kehidupan yang pas-pasan tidak menghalanginya untuk berbagi dengan tetangga-tetangganya ketika panen datang.

Gelar sarjana dan kesetiaan iman anak-anaknya pada Tuhan Yesus Kristus membuatnya merasa tidak sia-sia dalam menjalani misi kehidupannya sampai pada kesudahannya.

Semua penyakit yang dialaminya akibat kelelahan tidak ditunjukkannya agar tidak menimbulkan kekuatiran bagi orang-orang yang disayanginya.

Permintaannya sebelum menerima mahkota surgawi mengundang jatuhnya air mata : “Asmo kulo puniko Warsini. Asmo kula nyuwun ditambah dados Warsini Wesi.  Anteman-anteman ing urip puniko ndadosaken kula wesi ingkang kiat kagem njembatani  berkah Dalem Gusti”/Nama saya adalah Warsini. Saya minta nama saya ditambah Warsini Besi. Palu-palu kehidupan telah membuatnya menjadi besi yang kuat sehingga bisa menjadi jembatan berkat Tuhan”.

Pesan yang perlu dimaknai : “Jangan jadikan kesulitan hidup sebagai sebuah lawan, tetapi jadikanlah sahabat sehingga akan membentuk kita menjadi jembatan kuat untuk mengalirkan berkat Tuhan”.  Roh kekuatannya adalah janji Tuhan :  “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18).

 

Tuhan memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab