Home Blog Page 109

Kuasa Tuhan Sungguh Nyata

0

Lagu  “Satu hal yang kurindu berdiam di dalam rumah-Mu”  telah membentuk sikap batiniah seribu tiga ratus umat dari berbagai Paroki di Jakarta  untuk  merasakan kuasa penyembuhan dan pemulihan Tuhan dalam Misa dan Adorasi pada tanggal 31 Juli 2013 malam.

Misa dan Adorasi ini dilaksanakan di Gereja Maria Imakulata Citra Garden –Paroki Trinitas Cengkareng.

Hati ini pun dipenuhi semangat dalam memimpin Misa dan Adorasi  bersama Romo Widi OMI dan Romo Basir OMI, gembala gereja Tuhan itu, karena yakin Dia akan bertindak secara lembut, tetapi dahsyat.

Mata manusiawi sempat terpana dengan jumlah kehadiran umat yang  di luar dugaan karena hari itu hari kerja dan macetnya luar biasa menjelang lebaran.

“Rindu akan jamahan Tuhan ” merupakan jawabannya.

Homili tentang janji Tuhan kepada Hizkia yang sakit  keras “Allah Berfirman bahwa Aku telah mendengarkan doamu dan Aku telah melihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau. Pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah Tuhan” (2 Raja-Raja 20:5) telah membuka harapan baru bahwa  pertolongan Tuhan akan terpenuhi.

Seruan sederhana “Glory…Glory” secara bersama-sama menjadi suatu pujian indah karena mereka datang ke hadirat Tuhan dengan membawa pergumulan hidup mereka.

Janji Tuhan yang dinyatakan dalam adorasi hening setelah seruan Anak Domba Allah “ Katakanlah kepadaKu  apa yang menjadi kebutuhanmu. Aku akan memberi kelegaan kepadamu” mengundang air mata karena kasih-Nya terasa nyata.

Hampir semua umat datang dalam doa pribadi  untuk menimba kuasa Tuhan yang memampukannya menjalani kehidupan yang penuh dengan pencoban ini dengan iman.

Bisikan seorang ibu sungguh menyentuh hati :  “Romo, doakanlah aku agar Tuhan memberikan kepadaku hati yang lapang dalam  menghadapi penyakit kanker dan sedang menjalani kemoterapi sehingga aku tidak akan pernah meninggalkanNya”.

Sukacita dan kegembiraan sanubari nampak dalam wajah anak-anak Tuhan ini.

Hatipun disatukan oleh Tuhan untuk membangun dan mengembangkan Gereja Trinitas sebagai rumah Tuhan yang nyaman.

Banyak umat pasti akan mengambil  air kehidupan yang menyegarkan jiwa mereka.

Trimakasih kepada PDKK Trinitas, KTM Trinitas, PPG Trinitas, dan semua panitia sehingga perayaan rohani ini berjalan sesuai dengan rencana-Nya.

Tuhan memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Tebar Bintang

0

Teriknya matahari pagi bak membakar ragawi, tetapi senyuman tiga ratus remaja Paroki Santa Odilia – Citra Raya – Tangerang bersemayam di hati yang membuat kesejukan bagi jiwa-jiwa yang merindukan oase rohani.

Mereka datang dari sudut-sudut paroki, sampai 40 km persegi, untuk mengikuti acara Tebar Bintang (Temu Bareng Anak Remaja, Bina Iman, Nambah Teman, dan Anti Galau), pada tanggal 28 Juli 2013.

“Yel-yel” yang mereka buat merupakan hasil permenungan akan tekad di hati, yaitu  iman semakin mendalam dan melayani sesama remaja sejak dini.

Permainan-permainan merupakan ungkapan kreatif dari penghayatan iman dan kehendak untuk mengabdi.

Keadaan jauh dari Paroki dan sulitnya melakukan kegiatan iman karena kondisi masyarakat membuat anak-anak remaja ini menjadi lebih kuat dan berani.

Memimpin doa rosario dihadapan  umat sudah menjadi makanan sehari-hari.

Kini mereka pulang dengan  semangat baru untuk membimbing adik-adik remaja  lainnya agar semakin mengenal Tuhan Yesus Kristus di dalam lingkungan Sekolah yang kebanyakan bukan Katolik.

Mereka tidak sendirian karena Tuhan  telah menyediakan para pembina yang tulus hati, yaitu guru-guru, para katekis sukarelawan, para suster, para pastor, para ketua lingkungan, dan dewan paroki,  untuk membibing dan memotivasi, dan bukannya untuk memonitoring layaknya polisi.

Kini terjawablah salah satu kesimpulan Temu Pastoral akhir-akhir ini yang telah disampaikan Bapak Uskup Keuskupan  Agung, Jakarta , Mgr. Ign. Suharyo,  bahwa terjadi krisis kader-kader  pemimpin paroki  sehingga  pembentukan kader-kader menjadi perhatian utama.

Menyuntikkan semangat misioner sejak dini, yaitu kepada remaja-remaja ini, dapat menjadi jalan pembentukan kader-kader pemimpin paroki.

Peka terhadap bimbingan Allah adalah menjadi kuncinya : Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena  mendengar (Matius 13:16).

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Tonggak Kenangan

0

Senyuman hangat menghiasi wajah-wajah peserta  Persekutuan Doa  dan Pendalaman Iman “Ora et Labora” Paroki Santo Lukas  Sunter – Jakarta Utara pada tanggal  22 Juli 2013.

Senyuman komunitas para pelayan paroki ini merupakan  senyuman atas hamparan kehidupan yang telah mereka alami dan terolah dalam terang Ilahi.

Mereka telah mengalami kehidupan yang  bagaikan tiada pelangi di atas bumi,  tiada mentari  yang mengatasi dinginnya pagi yang menusuk relung hati, dan tiada rembulan yang menyinari seramnya malam.

Sebuah doa dari seorang ibu yang pernah mengalami serangan stroke  lima tahun silam dan disembuhkan oleh Tuhan secara ajaib  pantas untuk disimaki : “Tuhan, tolong bisikan sebuah kata pengharapan yang akan menjadi pelangi yang mewarnai pagi, yang akan menjadi mentari yang menghangatkan pagi, yag dapat menjadi rembulan yang tersenyum menyinari kegelapan malam hari”.

Aku pegang bahunya tanda kagum akan pengalaman imannya.

Janji Tuhan dalam Mazmur 50:15 yang didapatkannya dalam pertemuan komunitas “Ora et Labora” ini telah menopang imannya  atas hujaman pertanyaan-pertanyaan atas kehidupannya selama ini : “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau dan engkau akan memuliakan Aku”.

Janji Tuhan telah terpenuhi bahwa Tuhan Allah telah mendengarkan doanya dan  menolongnya.

Tuhan Allah kini mau ditinggikan sebagai Allah yang membebaskan umat-Nya.

Allah Sang Pembebas umatnya dimuliakannya dalam  pelayanannya kepada para lansia.

Pengalaman hidupnya mudah-mudahan membuat para lanjut usia  menyambut Tuhan Allah untuk mengisi kehampaan hidupnya sehingga mereka tetap berbuah dan segar di masa tuanya : “Pada Masa tua pun masih berbuah, menjadi gemuk, dan segar” (Mazmur 92:15).

“Aku punya ceritera  indah tentang kehidupan” merupakan pesan yang seharusnya dihayati.

Waktu berlalu secara terburu-buru.

Tegakkan “Tonggak Kenangan   Kehidupan”  yang mengalirkan kisah yang memampukan orang bersahabat dengan penderitaannya.

 

Tuhan memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Pesona Sang Senja

0

Ketika langit jingga menaungi alam semesta, aku mendatangi  seorang ibu yang terbaring sakit di sebuah rumah sakit di jakarta.

Ia  ingin bertemu denganku karena pernah berjumpa dalam  devosi kerahiman ilahi.

Kata-katanya yang terbata-bata mengungkapkan kerinduan yang menggelora di dada  untuk menerima doa dari imamnya.

Ia melayani orang-orang sakit sebagai seorang anggota legioner dan meneguhkan mereka dengan kasih Tuhan di kala ia masih sehat.

Semua pelayanannya memberikan inspirasi  sebagai permenungan di kala tak berdaya :

“Aku dahulu mengunjungi orang-orang sakit, mendoakan mereka, dan melayani mereka.

Kini giliranku untuk dikunjungi, didoakan, dan dilayani.

Aku tidak merasa kecil hati dengan kondisi ini.

Melayani dan dilayani menjadi tongkat rohani, yang sebelumnya aku tidak pernah meliriknya sama sekali.

Ketika aku hanya bisa terbaring  di ranjang ini, aku mulai merenungkannya.

Tongkat rohani itu ternyata sangat berarti  untuk menguatkan punggung jiwaku kalau pun aku harus menghadap Tuhan Yesus yang aku cintai”.

Setelah  berkata demikian, ia  memintaku dengan suara lirih untuk membacakan ayat Kitab Suci dari 2 Raja-Raja 20:5  “Beginilah Firman Tuhan : Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya  Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga  engkau akan pergi ke rumah Tuhan”.

Aku terkejut ternyata itu Firman Tuhan yang ditujukan kepada Hizkia, sang pelayan Tuhan,  yang sedang sakit seperti dirinya.

Ia kemudian menyampaikan dengan pelan-pelan  kata-kata perpisahan sebelum menghadap Tuhan dengan kelulusan hati : “Aku mau sambut  Sang Senja”.

Aku pegang tanganya erat-erat sambil  mengatakan kata-kata yang mengalir dengan sendirinya : “Ibu, engkau telah bersatu dengan Sang Senja yang  membuat alam semesta berwarna jingga yang mempesonakan”.

Kita adalah kabut yang setia  menanti senja untuk menyambut malam.

Kisah kehidupan kita akan terukir abadi di dalam keheningan langit.

 

Tuhan memberkati

Pastor Felix Supranto, SS.CC

Nyanyian Sukma

0

Kegelapan malam menudungi Gedung Pelayanan  Santo Damian, Paroki Santa Odilia, Tangerang.

Delapan puluh umat duduk diam, siap untuk  mendengarkan ajaran Tuhan melalui  acara “Pencurahan Roh Kudus” dalam  Seminar Hidup Baru Dalam Roh pada tanggal 19 Juli 2013.

Pria,  wanita,  tua, muda, dan  remaja disatukan dengan kerinduan akan jamahan Tuhan yang mengubah jiwa dan hati.

Senadung lagu “Roh Allah, Kau Hadir Di sini” mengalir  syadu di tengah  redupnya lampu aula.

Tuhan semakin lama semakin terasa dekat dan semakin dekat.

Kedekatan Tuhan  bagaikan cahaya lampu dengan  sumber apinya.

Penumpangan tangan  dari  imamnya mengundang  deraian air mata.

Air mata ini bukan air mata  dukacita,  tetapi air mata sukacita  karena menemukan kekuatan baru  untuk meninggalkan  masa silam yang suram dan  gundah yang sering melanda jiwa.

Air mata sukacita mengalir karena  mengalami secerah harapan baru dari Tuhan  yang telah disediakan bagi mereka.

Setelah  acara penumpangan tangan  “Mohon  Mengaktifkan Karunia-Karunia Roh Kudus dalam Sakramen Permandian dan Krisma” usai, aku bertanya kepada  para remaja yang terus menangis tersedu-sedu.

Jawabannya ada dalam sebuah kesaksian  dari seorang remaja yang masih duduk di Sekolah Lanjutan Pertama yang kuolah menjadi sebuah  pesan  yang  indah untuk ditanam dalam kehidupan :

 “Ini bukan sebuah tangisan.

Akan tetapi, sebuah nyanyian sukma   yang terangkai dari  hitungan jari atas bilangan kekilafan.

Ratapan penyesalan  menghantar pada  pertobatan .

Kerling mata Tuhan Yesus  merupakan sumber perubahan.

Jantungku pun berbisik  bahwa aku  ingin menjadi panas dalam api Tuhan.

Hidup dalam kesucian merupakan langkah  untuk dekat dengan Tuhan, Sahabat kita”.

 Pesan itu  mengingatkan kita  akan Nasihat Daud : “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu” (Mazmur 119:9)

Malam itu pun bercahaya  dengan taburan keindahan dan  semaian  sukacita karena dekat dengan Tuhan.

 

Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Apakah teladan hidup St. Alexis?

7

Ada sejumlah orang mempertanyakan, apakah yang dapat dipelajari dari kisah hidup seseorang yang bernama Alexis (Alexius) di abad ke-5, yang kemudian dikenal sebagai Santo Alexis? St. Alexis diakui sebagai orang kudus, pertama-tama di Gereja Timur sebelum abad ke-9, namun kemudian juga ia diterima di Gereja Barat (Roma) menjelang abad ke-10.

Sekilas kisah hidup St. Alexis

Sebelum membahas lebih lanjut tentang St. Alexis, mari kita membaca sekilas kisah hidupnya ((sumber: Alban Butler, Lives of the Saints, volume III, Texas, USA: Christian Classics, Thomas More Publishing, 2nd edition, reprinted 1996, p. 123-124))

“St. Alexis adalah seorang anak tunggal dari seorang senator yang kaya di Roma, yang bernama Euphemian dan istrinya, Aglae. Ia lahir dan dididik di ibukota di abad ke-5. Melalui teladan kasih dari orang tuanya, ia belajar bahwa kekayaan yang dibagikan kepada kaum miskin akan tinggal pada kita selamanya, dan bahwa perbuatan amal kasih adalah adalah harta karun yang menghantar ke Surga, dengan bunga penghargaan yang sangat besar. Ketika masih kecil, ia telah mempunyai perhatian kepada orang-orang yang susah, dan menganggap dirinya harus bertanggungjawab terhadap mereka yang menerima perbuatan amal kasihnya dan menganggapnya sebagai penolong. Khawatir bahwa penghormatan duniawi akan mengalihkan perhatiannya dan membagi hatinya dari hal-hal yang lebih terhormat, ia memutuskan untuk meninggalkan hak-hak istimewanya yang diperolehnya sejak lahir, dan ingin mengundurkan diri dari kemewahan dunia. Setelah mengikuti kemauan orang tuanya untuk menikah dengan seorang gadis yang kaya, ia, di hari pernikahannya, meninggalkan istrinya itu setelah meminta persetujuan darinya. Alexis menyamar dan pergi ke Syria, hidup dalam kemiskinan yang sangat, tinggal di gubuk yang berhubungan dengan gereja St. Perawan Maria “Bunda Allah” di Edessa. Di sini Alexis hidup selama 17 tahun sampai sebuah penampakan Bunda Maria mengatakan dan menyatakan kesuciannya kepada orang banyak, dan menyebutnya “the Man of God” (pelayan Tuhan). Lalu Alexis kembali ke rumahnya, namun ayahnya tidak mengenalinya lagi. Ayahnya itu menerimanya sebagai pengemis dan memberikannya pekerjaan, dan ia diberikan sebuah tempat di sudut bawah tangga sebagai tempat tinggalnya. Selama 17 tahun kemudian ia hidup tanpa dikenal di rumah ayahnya sendiri, menanggung penghinaan dari para perlayan yang lain, dengan kesabaran dan keheningan. Setelah wafatnya, sebuah tulisan ditemukan padanya, yang menyatakan namanya dan keluarganya yang sesungguhnya, dan riwayat hidupnya.

Jalan luar biasa, yang tentangnya Allah berkenan, yang kadang berhubungan dengan jiwa-jiwa  tertentu saja, lebih cenderung untuk dikagumi daripada diikuti. Jika orang-orang tersebut mau melakukan apa saja untuk mencari penghinaan, maka kita harus dengan sabar menghadapi penghinaan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita. Hanya dengan merendahkan diri kita dalam setiap kesempatan, maka kita dapat berjalan di jalan kerendahan hati dan mengangkat dari hati kita segala jenis akar kesombongan yang tersembunyi. Racun dari kesombongan ini mempengaruhi semua keadaan; sering ia tersembunyi dalam hati, bahkan setelah seseorang telah dapat mengendalikan dirinya dari hawa nafsu yang lain. Kesombongan akan tetap ada, bahkan pada orang-orang yang sempurna, untuk dikalahkan…. jika kita tidak waspada maka tak ada dari perbuatan kita yang sempurna/ tak bercacat. Kesombongan akan selalu mengintai, merasuki setiap perbuatan terbaik kita, dan semakin dalamnya luka itu, semakin jiwa menjadi kebal dan semakin tak mampu mengetahui penyakitnya dan kelemahannya itu….”

Teladan hidup St. Alexis

Agaknya kita perlu membaca riwayat St. Alexis ini dengan kaca mata rohani, dan bukan dengan kaca mata jasmani semata, yang umum menjadi tolok ukur dunia. Sebab menurut pandangan umum, tentu saja lebih baik jika St. Alexis hidup sebagai orang kaya dan terhormat, lalu dengan kekayaannya ia membantu banyak orang miskin. Tentu hal ini baik juga, namun St. Alexis terpanggil untuk melakukan hal yang lebih tinggi melampaui pemikiran umum di dunia, yaitu dengan meninggalkan kemewahan hidupnya, dan dengan demikian memberikan teladan ketidakterikatannya akan hal-hal duniawi, untuk mengarahkan hati sepenuhnya kepada hal-hal surgawi. Ia memilih untuk hidup miskin, menjadi pengemis untuk berbagi dengan sesama pengemis. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya dan bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah orang tuanya sendiri, tanpa dikenali. Ia tetap hidup miskin sampai wafatnya, dengan diam menanggung penghinaan yang diterimanya dari para pelayan yang lain yang dulu pernah menjadi pelayan-nya. Sejujurnya, jika direnungkan, tak banyak orang yang dapat melakukan hal ini.

Seseorang hanya perlu merenung sejenak untuk menemukan kemiripan kisah hidup Alexis dengan kisah hidup Kristus sendiri, yang juga meninggalkan segala-galanya untuk menjadi manusia, dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia Ia memilih untuk hidup miskin sebagai hamba, dan taat sampai wafat di salib (lih. Flp 5:10). Walaupun kisah pengosongan diri Kristus tak dapat disejajarkan dengan kisah hidup siapapun, namun kisah hidup pengosongan diri St. Alexis tetaplah sesuatu yang istimewa, justru karena dalam skala yang lebih kecil mengikuti teladan Kristus, dan dalam ukuran itupun, tidak mudah untuk dilakukan oleh kebanyakan orang. Lebih mudah bagi orang kaya untuk menyumbang dalam keadaan kelebihannya, sementara ia tetap hidup dalam kelimpahannya. Namun diperlukan keteguhan batin dan keterpautan hati kepada Tuhan yang total dan luar biasa, bagi seseorang yang kaya untuk meninggalkan kekayaannya, untuk hidup miskin, dan menjalani kehidupannya dengan semangat pengosongan diri, mati raga, sambil memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah dan sesama yang menderita. Itulah sebabnya Kristus mengatakan kepada orang muda yang kaya yang datang kepada-Nya, bahwa jika ia ingin sempurna, ia perlu meninggalkan segala kekayaannya untuk mengikuti Kristus (lih. Mat 19:21). Nampaknya hal ini terlalu berat bagi orang muda itu, namun tidak bagi St. Alexis. Sejujurnya, dalam sejarah Gereja, bukan hanya St. Alexis yang memilih untuk meninggalkan kemewahan dunia untuk hidup miskin dan memusatkan hati kepada Allah. St. Antonius pertapa, St. Dominic, St. Fransiskus dari Asisi, St. John Calybites, dan sejumlah orang kudus lainnya yang juga memilih jalan hidup sedemikian. Menurut ukuran dunia, mereka itu mungkin dipandang bodoh dan tidak waras, tetapi ukuran Tuhan bukan ukuran dunia. Dengan kemiskinan dan ketidakterikatan mereka terhadap hal-hal duniawi, para orang kudus itu mengikuti teladan hidup Kristus, yang lebih dahulu memilih untuk hidup miskin sepanjang hidup-Nya di dunia, untuk menjadi sahabat bagi kaum papa dan terbuang.

Maka marilah kita menerima teladan hidup para orang kudus itu dengan kerendahan hati dan dengan kaca mata iman. Gereja, atas dasar Sabda Tuhan, tidak menilai pengorbanan dan perbuatan kasih seseorang hanya dari memberikan kekayaan dan hal-hal jasmani lainnya. Sebab kasih itu bahkan dapat dinyatakan dengan lebih sempurna dengan pengorbanan, mati raga, pemberian diri seutuhnya bagi kaum miskin. Semangat inilah sebenarnya yang makin langka dihayati di dunia sekular sekarang ini, namun yang masih dijumpai dalam Gereja-Nya, dalam pelayanan dari berbagai kongregasi hidup bakti kepada kaum miskin, cacat dan terpinggirkan. Selayaknya kita sebagai umat Katolik menghargai karya-karya ini, dan mendukungnya dengan doa-doa dan amal kasih. Selanjutnya, bagi kita sendiri, mari kita mengikuti teladan St. Alexis dalam hal kerendahan hati, dan ketidakterikatannya terhadap harta duniawi, nama baik dan kekuasaan. Dalam semangat kemiskinan ini, semoga kita dapat semakin memusatkan hati dan perhatian kita kepada Tuhan, yang telah lebih dahulu meninggalkan segala-galanya dan menjadi miskin dan papa, ketika Ia mengambil rupa manusia untuk menyelamatkan kita.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab