Allah Pencipta Langit dan Bumi

20

Pembahasan

Tuhan menciptakan segala sesuatu karena kasih dan dari sesuatu yang tidak ada. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk bersatu dengan-Nya, untuk berpartisipasi dalam kasih ilahi-Nya.

I. Dasar Kitab Suci:

  • Kej 1:1-31- Pada awal mula Tuhan menciptakan segala sesuatu dan semuanya baik.
  • Ayb 38:4-39:30- Tuhan yang dalam kemahakuasaannya menciptakan dan mengetahui segala sesuatu, adalah Pencipta semua mahluk, yang menopang dan memelihara semuanya.
  • Mzm 148- Seluruh ciptaan harus memuji Tuhan Sang Pencipta.
  • Keb 11:24-26- Tuhan menciptakan semuanya, mengasihi ciptaan-Nya dan menghendaki agar ciptaannya tetap bertahan.
  • Yer 27:5- Tuhan di dalam kekuatan-Nya menciptakan bumi dan segala isinya.
  • 2Mak 7:20-23- Tuhan adalah asal usul segala sesuatu; Ia memberi hidup dan nafas pada setiap manusia.
  • Kis 17:22-28- Pencipta kita Mahakuasa mengatasi semua, tetapi juga memelihara dan hadir di dalam hati manusia.
  • Ibr 1:1-3- Dunia diciptakan melalui Putera Allah, yang menopang seluruh alam semesta.
  • Why 21:1-5- Penglihatan akan suatu langit dan bumi yang baru.

II. Dasar dari Katekismus Gereja Katolik:

  • KGK 279, 290: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).
  • KGK 280-281, 315: Penciptaan adalah awal sejarah keselamatan, sebagaimana direnungkan dalam liturgi Paska.
  • KGK 282-285: Katekese tentang penciptaan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar manusia tentang asal usul dan tujuan manusia.
  • KGK 286: Adanya seorang Pencipta dapat diketahui dari karya- karya-Nya, berkat akal budi manusia.
  • KGK 290-292, 316: Allah menciptakan segala sesuatu oleh Sang Sabda yang adalah Putera-Nya, dan segalanya dihidupkan oleh Roh Kudus (Penciptaan= karya Trinitas)
  • KGK 293-294, 319: “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah”
  • KGK 295-301, 317-320: Tentang misteri Penciptaan
  • KGK 302-305, 321,322:  Tentang Penyelenggaraan ilahi
  • KGK 306-308, 323: Allah memberi manusia kemungkinan untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan-Nya
  • KGK 309-314, 324: Allah menciptakan satu dunia yang berada “di jalan” menuju kesempurnaan.
  • KGK 328-336: Penciptaan malaikat
  • KGK 337-349: Dunia yang kelihatan
  • KGK 355-379: Manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah

III. Dasar dari Bapa Gereja:

  • St. Klemens dari Roma (wafat tahun 98)
    “Dengan Sabda kebesaran-Nya Ia telah menciptakan segala sesuatu; dan dengan satu perkataan-Nya Ia dapat melenyapkan semua itu.”(St. Klemens, Letter to the Corinthians, Ch. 27:4)
  • St. Irenaeus (abad ke-2)
    “Sementara manusia, memang tidak dapat menciptakan apapun dari ketidak-adaan, tetapi hanya dari sesuatu yang sudah ada, namun Tuhan … adalah sangat mengatasi manusia, bahwa Ia sendiri dapat menciptakan hakekat ciptaan-Nya, ketika sebelumnya itu tidak ada.” (St. Irenaeus, Against Heresies, Bk 2, Ch.10).
  • St. Yustinus Martir (100-165)
    “Tetapi, yang benar, [Tuhan] telah memanggil tubuh kepada kebangkitan, dan menjanjikan kehidupan kekal kepadanya. Sebab ketika Ia berjanji untuk menyelamatkan manusia, di sana Ia memberikan janji kepada tubuh [akan kebangkitan]. Sebab apakah manusia selain daripada mahluk berakal budi yang terdiri dari tubuh dan jiwa? Apakah jiwa dengan sendirinya adalah manusia? Tidak; tetapi jiwa manusia. Apakah tubuh dikatakan adalah manusia? Tidak, tetapi itu disebut tubuh manusia. Jika baik tubuh maupun jiwa, dari dirinya sendiri tidak disebut manusia, tetapi apa yang terbentuk dari keduanya baru disebut manusia, dan Tuhan telah memanggil manusia menuju kehidupan dan kebangkitan. Ia telah memanggil bukan sebagian tetapi keseluruhan, yaitu jiwa dan tubuh.” (St. Justin Martyr, Fragments of the Lost Work on the Resurrection, Ch. 8)
  • St. Theofilus dari Antiokhia (120-185)
    “Jika Tuhan mencipta dunia dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya, apakah yang istimewa dalam hal itu? Seorang seniman dapat membuat sesuatu dari bahan yang ada sesuai kehendaknya, tetapi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan memulai sesuatu dari ketidakadaan untuk membuat apa yang dikehendaki-Nya.” (St. Theophilus of Antioch, Ad Autolycum II, 4: PG 6, 152)
  • St. Agustinus (354-430)
    “Dan dengan perkataan, “Tuhan melihat semuanya itu baik” (Kej 1:10), adalah cukup untuk diartikan bahwa Tuhan menciptakan apa yang diciptakan bukan atas keharusan, ataupun demi memenuhi suatu kebutuhan, tetapi murni dari kebaikan-Nya sendiri, yaitu, karena itu adalah baik.” (St. Augustine, The City of God, Bk 11, Ch.24)
  • St. Leo Agung (391- 461)
    “Jika… kita memahami dengan setia dan dengan bijaksana, awal penciptaan kita, kita akan menemukan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, sampai akhir agar ia dapat meniru Penciptanya, dan agar kita manusia mencapai martabat kodrati yang tertinggi, dengan mencerminkan bentuk kebaikan Ilahi, seperti di dalam cermin. Dan yakinlah bahwa ke arah ini, setiap hari rahmat Sang Penyelamat senantiasa memperbaharui kita, sejauh bahwa yang telah jatuh di dalam Adam, dibangkitkan kembali di dalam Adam yang kedua [yaitu Kristus].” (St. Leo Agung, Sermons, No. 12:1)
  • St. Yohanes Damaskus (645-749)
    “Ia [Allah] sendiri adalah Pembuat dan Pencipta para malaikat: sebab Ia menciptakan mereka dari ketidakadaan dan menciptakan mereka menurut gambaran-Nya, sebagai ras yang tidak fana, semacam roh atau nyala api yang tidak merupakan api material: di dalam perkataan Daud, “… [Tuhan] yang membuat..api yang menyala sebagai pelayan- pelayan-Mu.” (Mzm 104:4) (St. John Damascus, Exposition of the Orthodox Faith, Bk 2, Ch.3.

IV. Pendahuluan

Setelah kita membahas tentang Pencipta di beberapa pertemuan sebelumnya, baik dari hakekat-Nya, kehidupan di dalam Diri-Nya, dan bagaimana Ia mewahyukan diri-Nya kepada kita, maka sekarang kita akan membahas tentang ciptaan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Penciptaan adalah awal dari sejarah keselamatan Allah, yang mencapai puncaknya di dalam Kristus. Kristus sendiri menyingkapkan tujuan awal dari penciptaan dan bagaimana Kristus menata kembali seluruh karya ciptaan, agar dapat kembali seperti yang direncanakan oleh Allah, sehingga akhirnya Kristus akan “menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).

Dengan mengenal penciptaan, maka kita akan dapat menjawab pertanyan-pertanyaan tentang mengapa kita diciptakan, tujuan dari keberadaan kita, dari mana kita berasal, hubungan manusia dengan ciptaan yang lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan bagaimana kita hidup, cara kita menjalankan hidup, sehingga menentukan apakah kita akan sampai ke tempat tujuan akhir atau tidak (lih. KGK, 282).

V. Penciptaan adalah karya Allah Tritunggal Maha Kudus

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, artinya adalah: 1) Allah yang kekal memberi awal mula pada segala sesuatu; 2) Tuhan sendiri adalah Sang Pencipta; 3) semua ciptaan tergantung pada Allah yang menciptakannya. (lih KGK 290)

Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan menciptakan semuanya oleh Firman-Nya (lih. Yoh 1:1-3), yaitu Putera-Nya (Kol 1:16-17). Gereja juga mengakui bahwa penciptaan juga adalah karya Roh Kudus, “pemberi kehidupan” (lih. KGK 291).

Kitab Suci menyatakan bahwa karya penciptaan Allah Putera dan Roh Kudus tidak terpisahkan dari karya Bapa… Penciptaan adalah karya bersama Allah Trinitas (lih. KGK 292)

VI. Tujuan Penciptaan

1. Tuhan tidak membutuhkan apapun dan siapapun, namun Dia mencipta karena kebijaksaan-Nya.

Tuhan adalah sempurna dan bahagia secara absolut, yang berarti Dia tidak membutuhkan apapun dan siapapun untuk membuat-Nya bahagia. Inilah sebabnya, tiga Pribadi dalam satu hakekat menjadi sungguh fitting, karena kebahagiaan hanya mungkin kalau seseorang mengasihi atau memberikan dirinya. Karena Tuhan berbahagia di dalam diri-Nya, maka sebenarnya Tuhan tidak pernah kesepian tanpa adanya ciptaan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dengan demikian, penciptaan adalah karya dari Tritunggal Maha Kudus (lih. KGK, 290-292), yang dilakukan secara bebas tanpa paksaan dan di dalam kebijaksaan-Nya, Tuhan memandang baik.

2. Penciptaan sebagai wujud kasih dan menyalurkan kebaikan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Kalau memang Tuhan tidak memerlukan makhluk ciptaan, mengapa Tuhan menciptakan langit dan bumi, menciptakan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan? St. Thomas Aquinas memberikan prinsip “Bonum Diffusivum Sui” atau the good is diffusive in itself atau kebaikan adalah menyebar. Kalau Tuhan adalah kasih dan kebaikan itu sendiri, maka menjadi kodrat dari kebaikan dan kasih untuk semakin dibagikan. Kebaikan Tuhan terjadi secara sempurna, kekal di dalam kehidupan interior Tritunggal Maha Kudus. Secara terbatas, kebaikan ini diwujudkan dalam ciptaan atau kebaikan yang dinyatakan di luar diri Tuhan. Kebaikan Tuhan dinyatakan dengan menciptakan makhluk, baik yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu dari benda ciptaan, makhluk hidup yang tidak berakal budi – seperti tumbuhan dan binatang, makhuk hidup yang berakal budi – seperti manusia sampai malaikat.

Kita melihat Tuhan ingin menyampaikan kebaikannya kepada makhluk ciptaan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Dengan kata lain, Tuhan membagikan kebaikannya kepada mahluk-makhluk ciptaan yang mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan ini tidak hanya dalam perbedaan spesies atau kelompok, namun juga terdapat tingkatan dalam satu kelompok. Tingkatan ini dilihat dari kodrat kelompok tersebut dalam kaitannya dengan tujuan akhir. Sebagai contoh, ada tingkatan di dalam manusia, sehingga di dalam Sorga, manusia juga akan menempati tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan ini juga terjadi di dalam kelompok malaikat.

Katekismus Gereja Katolik, 293-294 menuliskan hal ini dengan begitu indahnya.

KGK, 293. Kitab Suci dan tradisi selalu mengajar dan memuji kebenaran pokok: “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah” (Konsili Vatikan I: DS 3025). Sebagaimana santo Bonaventura jelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” (sent. 2,1,2,2, 1). Tuhan tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya: “Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta” (Tomas Aqu. sent.2, prol.). Dan Konsili Vatikan I menjelaskan:

“Satu-satunya Allah yang benar ini telah mencipta dalam kebaikan-Nya dan ‘kekuatan-Nya yang maha kuasa’ – bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya, juga bukan untuk mendapatkan [kesempurnaan], melainkan untuk mewahyukan kesempurnaan-Nya melalui segala sesuatu yang Ia berikan kepada makhluk ciptaan – karena keputusan yang sepenuhnya bebas, menciptakan sejak awal waktu dari ketidak-adaan sekaligus kedua ciptaan, yang rohani dan yang jasmani” (DS 3002).

KGK, 294. Adalah kemuliaan Allah bahwa kebaikan-Nya menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Untuk itulah dunia ini diciptakan. “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia” (Ef 1:5-6). “Karena kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; tetapi kehidupan manusia adalah memandang Allah. Apabila wahyu Allah melalui ciptaan sudah sanggup memberi kehidupan kepada semua orang yang hidup di bumi, betapa lebih lagi pernyataan Bapa melalui Sabda harus memberikan kehidupan kepada mereka yang memandang Allah” (Ireneus, haer. 4,20,7). Tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah “Pencipta akhirnya menjadi ‘semua di dalam semua’ (1 Kor 15:28) dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita” (Ad Gentes, 2).

Dari teks KGK di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan menciptakan seluruh ciptaan untuk menyatakan kemuliaan-Nya, sehingga akhirnya seluruh ciptaan yang berakal budi dapat menikmati kebahagiaan bersama-Nya, Sang Tritunggal Maha Kudus.

VII. Apa yang diciptakan oleh Tuhan?

1. Pada mulanya, Tuhan menciptakan alam spiritual/ rohani dan material.

Pada awal mula sebelum ada segala sesuatu, hanya ada Tuhan. Waktu dimulai dengan adanya bumi dan tata surya, sehingga sebelum penciptaan bumi dan tata surya, belum ada waktu. Kitab Kejadian mengatakan bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Langit di sini adalah tempat kediaman para malaikat dan para kudus-Nya, sehingga perkataan, “Tuhan menciptakan langit,” dimaksudkan agar manusia ingat akan tujuan akhirnya. Dunia spiritual terdiri dari para malaikat dan surga di mana mereka tinggal. Sedangkan dunia material disebut bumi, sebab bumi adalah bagian yang terpenting dari dunia material.

2. Dunia material pada mulanya tidak berbentuk, tanpa penghuni dan tanpa terang.

Tuhan mencipta elemen-elemen material, yang olehnya dunia dibentuk (lih. Kej 1:1-2).

3. Tuhan menjadikan alam material menjadi seperti sekarang ini dalam enam hari.

Hari pertama, Ia menciptakan terang; hari kedua, cakrawala; hari ketiga, daratan dan tumbuh-tumbuhan; hari keempat, matahari, bulan dan bintang-bintang; hari kelima, segala ikan dan burung-burung di udara; hari ke-enam, binatang dan akhirnya, manusia. (lih. Kej 1,2)

4. Tuhan menciptakan hari Sabat

Hari Sabat, hari ketujuh, merupakan akhir pekerjaan Allah. Tuhan beristirahat pada hari ini, memberkati dan menguduskannya (lih. Kej 1:31). Maka Penciptaan diadakan dengan pandangan ke hari Sabat, yaitu kepada pujian dan penyembahan kepada Tuhan (lih. KGK 345-348). Namun bagi kita, hari yang baru telah datang: hari yang kedelapan, yaitu hari Kebangkitan Kristus. Hari ketujuh menyelesaikan Penciptaan yang pertama; hari kedelapan memulai Penciptaan yang baru. Penciptaan yang pertama memperoleh maknanya dan puncaknya di dalam Penciptaan yang baru di dalam Kristus (lih. KGK 349).

VIII. Bagaimana Tuhan menciptakannya?

1. Allah mencipta dengan Sabda-Nya (Firman-Nya)

Tuhan bersabda, maka semuanya terjadi. Ia tidak perlu berbicara, sebab yang diperlukan adalah Ia menginginkannya, dan apa yang dikehendakinya terjadi. Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Segala sesuatu dijadikan oleh Dia [Firman]…. (Yoh 1:1-3). Allah, “..menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Rom 4:17)

2. Penciptaan bukanlah kebetulan namun dari kebijaksanaan dan cinta Tuhan

Segala alam raya dan yang hidup di dalamnya bukan terjadi secara kebetulan atau takdir yang buta, melainkan diciptakan berdasarkan kebijaksanaan Tuhan (lih. KGK 295, Keb 9:9, Mzm 104:24). Tuhan yang mencipta seturut kehendak bebas-Nya, ingin agar ciptaan-Nya mengambil bagian di dalam keberadaan-Nya, kebijaksanaan-Nya dan kebaikan-Nya (lih. Why 4:11). “Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh belas kasihan kepada segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:9). Tuhan mencipta, sebab Ia menghendaki agar ciptaan-Nya berbahagia!

3. Allah menciptakan dari ketidakadaan

Makhluk ciptaan hanya dapat menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada. Namun, Tuhan yang maha kuasa dapat menciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang sudah ada ataupun bantuan apapun agar dapat mencipta. Juga ciptaan bukan semacam pancaran yang terjadi dengan sendirinya dari hakekat Allah (lih. KGK 296).

Kitab Suci mencatat hal tentang penciptaan dari ketidak-adaan ini dalam kitab ke-dua dari Makabe: “Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandunganku. Bukan akulah yang memberi kepadamu napas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing. Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Tuhan akan memberikan kembali roh hidup kepadamu, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya… Aku mendesak, ya anakku, lihatlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatu yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikianlah bangsa manusia dijadikan juga…” (2 Mak 7:22-23,28).

Karena Tuhan dapat menciptakan segalanya dari ketidak-adaan, maka Ia dapat juga, melalui Roh Kudus, memberikan kehidupan rohani kepada para pendosa dan menciptakan hati yang murni di dalam diri mereka; dan memberikan kehidupan jasmani kepada orang- orang yang telah wafat melalui Kebangkitan badan. Allah, “menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Rom 4:17). Dan karena Tuhan dapat membuat terang bersinar dalam kegelapan dengan Firman-Nya, maka Ia juga dapat memberikan terang iman kepada mereka yang belum mengenal Dia.” (Kej 1:3; 2 Kor 4:6, KGK 298)

4. Allah menciptakan segala sesuatunya dengan baik dan teratur

“Akan tetapi segala-galanya telah Kauatur menurut ukuran, jumlah dan timbangan (Keb 11:20). Alam semesta diciptakan Allah untuk manusia, yang dipanggil untuk mempunyai hubungan yang pribadi dengan Tuhan (lih. KGK 299). Karena ciptaan dihasilkan dari kebaikan Allah maka ciptaan mengambil bagian dalam kebaikan Allah (lih. Kej 1:4,10, 12,18,21,31). Allah menghendaki ciptaan sebagai hadiah bagi manusia, sebagai warisan yang dipercayakan kepadanya.

5. Allah memelihara dan menopang ciptaan-Nya

Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya sendirian, namun memelihara dan menopang keberadaannya, membuatnya mampu bertindak dan membawanya kepada tujuan akhirnya. “Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan. Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara, kalau tidak Kaupanggil? Engkau menyayangkan segala-galanya sebab itu milik-Mu adanya, ya Penguasa penyayang hidup!” (Keb 11:24-26)

IX. Penyelenggaraan Ilahi

1. Tuhan peduli pada ciptaan-Nya

Walau ciptaan diciptakan baik adanya, namun pada saat yang sama seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan “dalam perjalanan” menuju kesempurnaan akhir sebagaimana dikehendaki Tuhan (lih. KGK 302). Tuhan memelihara semua ciptaan-Nya. Yesus mengajarkan tentang penyelenggaraan Tuhan, demikian, “Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? ….Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33; lih. 10:29-31)

2. Tuhan menghendaki ciptaan-Nya bekerja sama dengan Dia

Tuhan tidak saja menciptakan, tetapi memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan-Nya mewujudkan rencana-Nya (lih. KGK 306). Kepada manusia diberikan kuasa untuk memenuhi dan menaklukkan bumi (lih Kej 1:26-28); mengambil bagian dalam karya penciptaan, dan mengusahakan keseimbangannya demi kebaikannya dan kebaikan sesama. Manusia diundang untuk mengambil bagian dalam rencana Allah, melalui perbuatannya, doa- doanya maupun penderitaannya, dan dengan demikian menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9, 1 Tes 3:2; Kol 4:11).

Tuhan berkarya di dalam diri ciptaan-Nya, Ia menjadi Penyebab utama yang bekerja melalui manusia, “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (lih. Flp 2:13, 1Kor 12:6). Namun demikian, tanpa bantuan rahmat Allah, manusia tidak dapat sampai kepada tujuan akhirnya (lih. KGK 308)

3. Penyelenggaraan Tuhan tidak menghapus skandal kejahatan

Tidak ada jawaban yang cepat yang memuaskan atas pertanyaan, mengapa jika Tuhan Maha Besar, peduli dan memelihara ciptaan-Nya, tetapi ada kejahatan di dunia? Sebab segala hal pesan iman Kristiani (ajaran tentang penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa, kasih Allah, penjelmaan Kristus, pengutusan Roh Kudus, Gereja, kuasa sakramen, panggilan untuk hidup kudus) adalah sebagian dari jawaban untuk pertanyaan ini (lih.KGK 309).

Tuhan mengizinkan adanya kejahatan, sebab dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan menjadikan  keseluruhan ciptaan di dalam tahap perjalanan menuju kesempurnaan akhir (lih. KGK 310).

Malaikat dan manusia harus menempuh perjalanan menuju tujuan akhir mereka melalui pilihan mereka sendiri, sehingga karena kebebasan ini, mereka dapat menyimpang. Maka, kejahatan moral lebih parah dari kejahatan fisik. Tetapi Tuhan tidak pernah baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab kejahatan moral (KHK 311). Sebaliknya, dalam kemahakuasaan-Nya Allah dapat mendatangkan kebaikan dari sesuatu yang buruk (lih. Rom 8:28), seperti dalam kasus Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya (lih. KGK 312,313).

Akhirnya kita percaya akan Tuhan yang mengatasi dunia dan sejarah. Walau penyelenggaraan-Nya sering tak dapat kita pahami, tetapi pada akhirnya ketika kita memandang Tuhan muka dengan muka, kita akan mengetahui dengan sempurna  bagaimana bahkan jalan- jalan kejahatan dan dosa, telah mengarahkan ciptaan-Nya kepada perhentian terakhir, seperti rencana-Nya.

X. Tuhan menciptakan langit dan bumi

1. Langit dan bumi

Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tak kelihatan (lih. KGK 325). Langit dan bumi di sini adalah segala ciptaan secara keseluruhan. Bumi adalah dunia manusia, sedangkan langit mengacu kepada cakrawala dan surga tempat Tuhan sendiri. Langit juga mengacu kepada para orang kudus, tempat bagi para mahluk rohani, para malaikat yang mengelilingi Tuhan (lih. KGK 326).

2. Para malaikat

Para malaikat adalah para pelayan dan pembawa pesan Tuhan (KGK 329). Mereka adalah mahluk rohani murni (yang tidak mempunyai tubuh), yang ber- akal budi dan berkehendak bebas (lih KGK 330). Para malaikat “selalu memandang wajah Tuhan” (lih. Mat 18:10); mereka adalah “pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Mzm 103:20).

3. Kristus dan para malaikat-Nya

Kristus adalah pusat dunia malaikat. Para malaikat itu adalah malaikat-malaikat-Nya (lih. Mat 25:31). Para malaikat itu adalah milik Kristus sebab mereka diciptakan melalui Dia dan untuk Dia (lih. Kol 1:16). Mereka adalah milik Kristus, sebab Ia telah menunjuk mereka sebagai pembawa kabar bagi rencana keselamatan-Nya: “Bukankah mereka [para malaikat]semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”

Para malaikat telah ada sejak penciptaan dan terus ada sepanjang sejarah keselamatan (lih.KGK  332), sejak zaman para nabi menyampaikan rencana Allah, sampai saat malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira untuk kelahiran Yohanes Pembaptis dan Kristus sendiri. Sejak penjelmaan Kristus di dunia sampai kenaikan-Nya ke surga, kehidupan Yesus senantiasa dikelilingi oleh para malaikat. Para malaikat memuja-Nya saat kelahiran-Nya, melindungi-Nya, menguatkan-Nya di saat di Taman Getsemani. Merekalah yang mewartakan kabar gembira saat Inkarnasi dan Kebangkitan-Nya; dan akan menyertai Yesus pada saat kedatangan-Nya kembali di akhir zaman (lih. KGK 333, Kis 1:10-11; Mat 13:41;24:31; Luk 12:8-9).

4. Para malaikat di dalam hidup Gereja

Seluruh kehidupan Gereja juga, secara rahasia memperoleh bantuan dari para malaikat (lih. KGK 334). Dalam liturginya, Gereja menggabungkan diri dengan para malaikat untuk memuji dan menyembah Tuhan (KGK 335). Sejak awal kehidupan sampai wafatnya, setiap manusia berada di dalam perlindungan malaikat dan doa syafaatnya (lih.KGK 336).

XI. Tuhan yang menciptakan dunia yang kelihatan

a. Setiap ciptaan Tuhan mempunyai keindahan tersendiri

Tuhan menciptakan dunia dengan segala keanekaragaman di dalamnya. Segala yang ada memperoleh keberadaannya dari Allah. Setiap ciptaan mempunyai keindahan/ kebaikannya sendiri, karena itu manusia harus menghormati ciptaan yang lain dan menghindari penggunaan yang tidak teratur akan alam dan ciptaan yang lain tersebut (lih. KGK 337-339).

b. Setiap ciptaan saling tergantung, saling melengkapi dan melayani

Tuhan menghendaki saling ketergantungan antara ciptaan-Nya, agar saling melengkapi dan melayani satu sama lain (lih. KGK 340). Keindahan alam: Keteraturan dan keseimbangan alam tercapai dari keberagaman ciptaan dan dari hubungan di antara mereka (lih. KGK 341).

Penghormatan akan hukum kodrat yang diperoleh dari keadaan alami ciptaan merupakan dasar kebijaksanaan dan dasar hukum moral (lih.KGK 354).

Solidaritas antara mahluk ciptaan ada karena semuanya diciptakan oleh Tuhan dan semua ditentukan untuk memuliakan Tuhan (lih. KGK 344).

c. Manusia merupakan puncak dari karya Sang Pencipta.

Manusia merupakan “puncak karya Sang Pencipta” (KGK 343), sebab manusia menempati posisi yang unik dalam Penciptaan, yaitu: 1) diciptakan menurut gambaran Allah; 2) dalam kodratnya, manusia mempersatukan dunia rohani dan jasmani; 3) manusia diciptakan laki-laki dan perempuan; 4) Tuhan menentukan manusia di dalam persahabatan dengan-Nya (lih. KGK 355).

XII. Tuhan menciptakan Manusia

1. Manusia diciptakan untuk mengenal dan mengasihi Allah:

a. untuk mengambil bagian di dalam hidup Allah.

Dari segala ciptaan, hanya manusia yang diciptakan untuk dapat mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya. Di bumi, hanya manusia-lah ciptaan yang dikehendaki Tuhan demi kebaikan manusia itu sendiri; dan hanya manusialah yang dipanggil untuk mengambil bagian -melalui pengetahuan dan kasih- di dalam kehidupan Allah sendiri (lih. KGK 356)

b. untuk melayani dan mengasihi Tuhan

Tuhan mencipta segalanya untuk manusia; dan sebaliknya manusia diciptakan untuk melayani dan mengasihi Tuhan dan mempersembahkan semua ciptaan kepada-Nya (lih. KGK 358)

2. Manusia dapat mengenal dirinya sendiri, dan memberikan dirinya kepada Tuhan dan sesama.

Dengan menjadi gambaran Allah, maka manusia tidak hanya ‘sesuatu’ tetapi ‘seseorang’. Ia mempunyai pengetahuan akan dirinya sendiri, memiliki dirinya sendiri dan dapat memberikan dirinya dan masuk dalam persekutuan dengan orang-orang lain. Manusia dipanggil oleh rahmat Tuhan untuk memberikan tanggapan iman dan kasih kepada-Nya, yang tidak dapat diberikan oleh ciptaan yang lain (lih. KGK 357)

3. Hanya dalam misteri Inkarnasi, misteri manusia menjadi jelas

Rasul Paulus membandingkan Adam dengan Kristus: “Adam pertama menjadi jiwa yang hidup, Adam yang terakhir adalah Roh yang memberi hidup. Adam pertama diciptakan oleh Adam yang terakhir, yang dari-Nya Adam yang pertama memperoleh jiwa dan hidupnya… Adam yang kedua ini memeteraikan gambaran-Nya di dalam Adam yang pertama saat menciptakannya…. Adam yang pertama mempunyai awal, sedangkan Adam yang terakhir tidak berakhir. Adam yang terakhir merupakan awal segalanya, sebab Ia sendiri berkata, “Aku adalah yang pertama dan terakhir… “ (lih. St. Petrus Krisologus, Sermo 117, KGK 359)

4. Karena berasal dari asal yang sama, maka seluruh umat manusia membentuk kesatuan dan merupakan satu saudara

“O penglihatan yang menakjubkan, yang membuat kita memandang umat manusia di dalam kesatuan asalnya di dalam Tuhan…. di dalam kesatuan kodratnya, yang terdiri dari tubuh material dan jiwa spiritual; di dalam kesatuan akhirnya dan misinya di dunia; di dalam kesatuan di dalam tempat kediamannya, yaitu di bumi yang mendatangkan kebaikan bagi manusia yang dapat mempergunakannya untuk mengembangkan kehidupan; di dalam kesatuan kepada tujuan akhirnya yang adikodrati: yaitu Tuhan sendiri, yang kepada-Nya semua mahluk harus menuju; di dalam kesatuan cara mencapai tujuan ini; …. di dalam kesatuan penebusan yang dikerjakan oleh Kristus bagi semua orang.” (Paus Pius XII, Summi Pontificatus, 3, KGK 360)

5. Tubuh dan jiwa manusia membentuk kesatuan

Manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah sekaligus mahluk jasmani dan mahluk rohani. Tuhan membentuknya dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (lih Kej 2:7); maka manusia keseluruhannya, tubuh dan jiwa, dikehendaki oleh Tuhan (KGK 362).

a. Jiwa manusia

Jiwa manusia mengacu kepada ‘kehidupan manusia atau keseluruhan pribadi manusia’ (lih. KGK 363), dan mengacu kepada hal terdalam dalam diri manusia. Oleh jiwa, manusia menjadi sangat istimewa sesuai dengan gambaran Allah: jiwa menandai prinsip rohani di dalam diri manusia. Jiwa menjadi ‘bentuk’ bagi tubuh; karena adanya jiwa maka tubuh menjadi hidup. Di dalam manusia bukan dua kodrat yang menyatu, tetapi kesatuan antara jiwa dan tubuh itu yang membentuk satu kodrat (lih. KGK 365).

b. Tubuh manusia

Tubuh manusia mengambil bagian di dalam martabat ‘gambaran Allah’. Disebut tubuh manusia sebab ia dihidupkan oleh jiwa yang rohani. Keseluruhan pribadi manusia di dalam Tubuh Kristus, dimaksudkan untuk menjadi bait Allah (lih. 1Kor 6:19-20; 15:44-45)

Gereja mengajarkan bahwa: 1) setiap jiwa manusia diciptakan langsung oleh Allah dan bukan dihasilkan oleh orang tua; dan bahwa 2) jiwa itu kekal. Jiwa tidak mati ketika terpisah dari tubuh pada saat kematian, dan akan kembali bersatu dengan tubuhnya pada saat kebangkitan badan (lih. KGK 366)

Kadangkala jiwa dibedakan dari roh, “roh, jiwa dan tubuh” (lih. 1 Tes 5:23); namun Gereja mengajarkan bahwa pembedaan ini tidak menunjukkan adanya dualitas di dalam jiwa. Roh menunjukkan bahwa sejak penciptaannya, manusia diarahkan kepada tujuan akhir yang adikodrati (rohani) dan bahwa jiwa tersebut dapat diangkat melampaui apa yang layak baginya kepada persekutuan dengan Tuhan (KGK 367).

6. “Laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka”

a. Laki-laki dan perempuan sama martabatnya

Manusia laki-laki dan perempuan diciptakan Allah, dengan kesamaan derajat sebagai pribadi manusia, namun di dalam perbedaannya sebagai laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan mempunyai martabat yang sama sebagai ‘gambaran Allah’. Di dalam kelaki-lakiannya dan keperempuanannya, mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Sang Pencipta (lih. KGK 369).

b. Tuhan bukan laki-laki atau perempuan

Namun perlu diketahui, bahwa rumusan ‘gambaran’ ini tidak terjadi sebaliknya, sebab Tuhan tidak sama sekali menurut gambaran manusia: Ia bukan laki-laki ataupun perempuan. Tetapi kesempurnaan laki-laki dan perempuan mencerminkan kesempurnaan Allah yang tak terbatas: yaitu kesempurnaan sebagai ibu dan sebagai ayah dan suami (lih. KGK 370).

c. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan bersama, untuk saling menolong

Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). Tidak ada satupun binatang dapat menjadi pasangan bagi manusia. Perempuan diciptakan Allah untuk menjawab kerinduan laki-laki akan pasangan baginya (lih. Kej 2:23), yang sama-sama mempunyai kodrat manusia (lih. KGK 371).

Manusia diciptakan satu untuk yang lainnya, bukan artinya menjadikan mereka tidak lengkap tanpa yang lain, tetapi Allah menciptakan keduanya supaya membentuk persekutuan, di mana yang satu menolong yang lain. Di dalam perkawinan, Allah mempersatukan keduanya menjadi ‘satu daging’ (Kej 2:24) dan mereka dapat meneruskan kehidupan manusia: “Beranak cuculah….” (Kej  1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada keturunan mereka, laki-laki dan perempuan sebagai pasangan dan orang tua, bekerjasama dengan cara yang unik dalam karya Sang Pencipta.

d. Manusia dipanggil untuk menaklukkan bumi sebagai pengelola

Menjadi penakluk bumi bukan dengan merusak bumi, sebab Tuhan memanggil manusia laki- laki dan perempuan untuk menjadi gambaran Allah yang menyayangi semua yang ada dan mengambil bagian dalam penyelenggaraan bagi ciptaan yang lain dan manusia bertanggungjawab atas bumi kepada Tuhan yang telah mempercayakannya kepadanya (lih. KGK 373)

XIII. Kesimpulan

Penciptaan adalah karya Allah Tritunggal Mahakudus. Allah mencipta langit dan bumi. Allah mencipta langit dan bumi, karena ingin menyampaikan cinta kasih dan kebaikan-Nya kepada sesuatu yang di luar diri-Nya sendiri. Maka dunia diciptakan demi kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah ditunjukkan oleh kebaikan-Nya yang menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Allah menciptakan dunia spiritual (yaitu surga dan para malaikat-Nya) dan dunia material (yaitu bumi dan segala isinya). Penciptaan bukan kebetulan namun karena kebijaksanaan dan cinta Tuhan. Tuhan mencipta dari ketidakadaan, Ia menciptakan segala sesuatu dengan baik dan teratur, memelihara dan menopang hidup mereka. Tuhan peduli akan segala ciptaan-Nya dan menghendaki ciptaan-Nya bekerjasama denganNya untuk mewujudkan rencana-Nya.

Manusia merupakan puncak karya penciptaan Allah, karena ia diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah. Maka, kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, namun hidup manusia adalah memandang Allah. Maka asal usul manusia adalah dari Allah dan tujuan akhir manusia adalah Allah sendiri. Manusia diciptakan untuk mengenal, mengasihi dan melayani Allah, serta mengambil bagian di dalam hidup Allah. Inkarnasi menjelaskan misteri hidup manusia, sebab di dalam Kristuslah seluruh umat manusia membentuk kesatuan sebagai satu saudara. Manusia merupakan kesatuan antara tubuh dan jiwa spiritual, yang diciptakan laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan agar saling menolong dalam persekutuan kasih.

XIV. Appendix:

1. Tentang tingkatan malaikat

Hal pembagian tugas para malaikat ini tidak dapat dikatakan sebagai ajaran iman yang termasuk “the truth of Faith” setingkat dengan Dogma, melainkan masih ada dalam katagori ‘free theological opinion‘, sehingga para teolog masih dapat mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Berikut ini adalah penjabaran yang mengambil sumber utama dari pengajaran St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology.

Menurut St. Thomas Aquinas, keempat tingkatan malaikat yang pertama merupakan tingkatan malaikat yang tidak diutus untuk menyampaikan pesan Allah, sedangkan kelima tingkat sesudahnya memiliki tugas untuk diutus ke luar /external ministry (lih. ST. I, q. 112, a.4). Ia mengutip St. Gregorius (Hom. xxxiv in Evang) dan Dionysius (Coel. Hier. xiii) yang mengatakan bahwa Malaikat yang ada di tingkat yang lebih tinggi tidak menjalankan pelayanan ke luar. Sehingga tugas para malaikat menurut tingkatannya, menurut St. Thomas Aquinas adalah:

1. Seraphim/ Serafim berasal dari kata Ibrani, saraph, artinya “untuk menghanguskan dengan api”. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Serafim adalah para malaikat surgawi yang ada di sekitar tahta pengadilan Tuhan. Serafim ini sering dihubungkan dengan kelompok malaikat yang memuji- muji Allah dengan kidung surgawi di sekitar tahta Allah.

2. Cherubim/ Kerubim, berasal dari kata Assyria, kirubu, karabu, artinya “dekat”, maka diartikan sebagai malaikat yang dekat dengan Allah, yang ada di sekitar kemuliaan Tuhan, dan melayani Tuhan. Dengan demikian baik Serafim maupun Cherubim keduanya menempati hirarki tertinggi dalam tingkatan malaikat di surga.

3. Thrones/ Singgasana/ Tahta suci, tidak disebutkan secara khusus, namun dari namanya, dapat diperkirakan bahwa para malaikat pada tingkatan ini juga yang ada di daerah sekitar tahta Allah.

4. Dominations/ Pemerintah, (bersama dengan ketiga tingkatan malaikat di atasnya) membimbing para malaikat di bawahnya tentang misteri Allah (St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I, q.112, a.3)

5. Virtues/ Kebajikan: para malaikat yang menjaga/ melindungi semua mahluk ciptaan corporeal; Virtues bertugas melakukan mukjizat dalam dunia material/ corporeal (ST, I, q.113, a.2).

6. Powers/ para malaikat yang bertugas mengatasi kuasa jahat (ST, I, q.113, a.2).

7. Principalities/ Kerajaan bertugas untuk menjaga semua jiwa- jiwa yang baik (ST, I, q.113, a.3).

8&9. Archangels/ penghulu malaikat dan angels/ malaikat (dan kemungkinan juga Principalities/ Kerajaan) bertugas untuk melindungi manusia (ST, I, q.113, a.3 dan 4). Hal ini disebutkan dalam Mazmur 90:11. Menurut St. Thomas para malaikat inilah yang sering disebut sebagai malaikat pelindung manusia.

Hal nama- nama maupun urutan tingkatan para malaikat ini bukanlah dogma, sehingga memang para Teolog masih dapat mempunyai pandangan sendiri- sendiri tentang hal ini. Urutan yang disampaikan di atas adalah berdasarkan tulisan St. Thomas Aquinas, namun ia  tidak memberikan secara rinci urutan nama- nama malaikat satu- persatu secara pribadi. Secara umum, menurut St. Thomas, para malaikat yang diutus kepada manusia (Mikael, Gabriel, Rafael) adalah tingkatan malaikat yang terendah/ dua terendah (angels/ archangels) (Summa Theology, Ia, 113.3).

Namun tentang tingkatan Malaikat Mikael, terdapat pandangan lain: St. Basil (dalam Hom. de angelis) dan Bapa Gereja Yunani seperti Salmeron dan Bellarminus menempatkan St. Mikael di atas semua para malaikat. St. Bonaventura mengatakan bahwa St. Mikael adalah pangeran dari Malaikat Serafim, yang pertama dari kesembilan tingkatan malaikat. Kemungkinan ini disebabkan karena pada Why 12:7 disebutkan bahwa Mikael dan para malaikatnya bertarung melawan Iblis (ular naga) tersebut.

Demikian juga terdapat pandangan yang berbeda tentang kedudukan Lucifer. Para Teolog ada yang menempatkan dia di tingkatan Serafim, namun juga ada yang menempatkan dia di tingkatan di bawahnya, di bawah tingkatan Serafim, Kerubim dan Tahta Suci. Dalam hal ini, Gereja sendiri memberi kebebasan kepada para Teolog untuk mempunyai pandangan berbeda karena ini bukan masalah prinsip yang berhubungan dengan hal dogmatik.

2. Tentang Teori Evolusi dan hubungannya dengan Iman

Teori Evolusi yang kita kenal sebenarnya merupakan suatu hipotesa, yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, sebelum dapat dikatakan sebagai kebenaran. Sementara ini, bukti ilmiah belum dapat dikatakan cukup mendukung hipotesa tersebut.

Ada dua inti besar teori Evolusi- yang dikenal sebagai “Macroevolution/ evolusi makro” yang dipelopori oleh Darwin:

  1. Semua mahluk hidup berasal dari mahluk sederhana yang terdiri dari satu sel atau lebih, yang terbentuk secara kebetulan.
  2. Species baru terbentuk dari species lain melalui seleksi alam, dengan melibatkan kemungkinan variasi, di mana variasi tersebut dapat bertahan dan berkembang biak. Dalam abad ke-20, hal ini diperjelas dengan memberi penekanan pada kemungkinan mutasi sebagai cara pembentukan variasi. Posisi ini dikenal sebagai Neo- Darwinism.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita melihat bahwa di sini terdapat 2 jenis evolusi, yaitu Evolusi makro, dan evolusi mikro. Evolusi makro membicarakan evolusi melewati batas-batas species, di mana species secara berangsur-angsur berubah menjadi species yang lain. Sedangkan evolusi mikro adalah evolusi yang berada di dalam batas satu species. Evolusi mikro adalah suatu realita yang dapat kita amati secara langsung pada alam, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Umumnya, evolusi mikro ini berhubungan dengan adaptasi dengan lingkungan baru, dan berupa pengurangan organ dan bukan penambahan dan penyesuaian.

Sedangkan teori evolusi yang kita kenal umumnya adalah evolusi makro. Ini bertentangan dengan iman, karena definisinya, teori evolusi makro merujuk pada asumsi bahwa tidak ada campur tangan Tuhan, sebagai Divine Intelligence, sebagai Pencipta umat manusia.

Beberapa problem mengenai teori Evolusi makro, baik dari segi filosofi maupun ilmu pengetahuan, adalah sebagai berikut:

A. Problem Evolusi makro dari sudut pandang filosofi:

  1. Teori Darwin berpendapat bahwa dari mahluk yang lebih rendah dapat dengan sendirinya naik/ membentuk mahluk yang lebih tinggi, yang disebabkan oleh kebetulan semata-mata, (dan bukan disebabkan karena campur tangan ‘Sesuatu’ yang lebih tinggi derajatnya). Ini bertentangan dengan prinsip utama akal sehat: sesuatu/ seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya.
  2. Teori Darwin tidak berdasarkan fakta konkrit bahwa species tertentu memiliki ciri khusus yang tidak dipunyai oleh species lain; sebab teori ini beranggapan bahwa semua species seolah-olah tidak punya ciri tertentu dan dapat berubah menjadi species yang lain, seperti tikus menjadi kucing, kucing menjadi anjing, dst. Hal ini tentu tidak terjadi dalam kenyataan.
  3. Teori ini mengajarkan bahwa kemungkinan variasi terjadi karena ‘kesalahan’/ hanya kebetulan; dan ini seperti mengatakan bahwa musik disebabkan oleh ‘keributan’ semata-mata.
  4. Teori Darwin tidak dapat menjelaskan perbandingan paralel antara hasil karya manusia dan satu sel mahluk hidup. Karena akal sehat dapat melihat secara objektif bahwa hasil karya manusia/ teknologi betapapun bagus dan rumitnya tidak memiliki kehidupan sedangkan mahluk satu sel memiliki kerumitan tertentu yang dapat menyebabkan ia hidup dan berkembang. Maka jika teknologi tersebut (yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mahluk satu sel) dihasilkan oleh mahluk dengan akal yang tinggi (yaitu manusia), maka betapa hal itu harus lebih nyata dalam hal penciptaan mahluk satu sel tersebut, yang seyogyanya diciptakan oleh mahluk yang jauh lebih tinggi dari manusia.
  5. Evolusi tidak dapat menjelaskan keberadaan keindahan alam di dunia. Jika segala sesuatu adalah hasil kebetulan yang murni, maka hal itu tidak dapat menjelaskan bagaimana kebetulan itu bisa menghasilkan keindahan yang ditimbulkan oleh keteraturan/ ‘order’. Dari pengalaman sehari-hari, kita mengetahui tidak mungkin terdapat kebetulan-kebetulan murni yang bisa menghasilkan keteraturan dan keindahan.
  6. Teori Darwin tidak membuktikan bahwa Tuhan Sang Pencipta tidak ada, melainkan teori ini mengambil asumsi ketidak-adaan Tuhan sebagai titik tolak. Bahwa kemudian dikatakan bahwa pembuktian ‘kebetulan secara ilmiah’ tersebut menunjukkan demikian, itu hanya merupakan demonstrasi untuk mengulangi suatu pernyataan yang diasumsikan sebagai kebenaran.

B. Problem Evolusi makro dari segi Ilmu Pengetahuan:

  1. Kenyataannya, species mahluk hidup sudah jelas memiliki keterbatasan ciri-ciri yang secara genetik tidak dapat berubah. Sampai saat ini tidak ada bukti nyata tentang pembentukan species baru dari species lain menurut seleksi alam.  Jikapun ada, maka mahluk persilangan ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang biak. Contoh: ‘mule’ , persilangan antara kuda dan keledai, tidak dapat berkembang biak/ steril.
  2. Hasil penemuan fosil tidak menunjukkan perubahan yang berangsur secara terus menerus pada species yang satu dan yang lain. Yang ditemukan adalah bentuk yang stabil untuk jangka waktu yang lama, dan tidak ditemukan fosil species perantara  yang menghubungkan satu species dengan yang lain. Jika benar ada mahluk antara kera dengan manusia, tentu fosil mahluk antara kera dan manusia harus banyak ditemukan, namun sampai saat ini tidak demikian, sehingga dikatakan bahwa terdapat ‘missing links’ antara fosil kera dan fosil manusia. Betapa ini menunjukkan bahwa mahluk penghubungnya tidak ditemukan karena memang tidak ada!
  3. Mutasi menunjukkan adanya pengurangan organ ataupun modifikasi organ yang sudah ada, karena kebetulan dan tidak essensial, seperti perubahan warna, bentuk, dst. Namun mutasi tidak dapat menjelaskan sesuatu yang tadinya tidak ada jadi ada. Jadi prinsipnya ‘indifferent/regressive’ dan bukan ‘progressive’.
  4. Darwin sendiri mengamati dengan teliti evolusi mikro, namun masalahnya dia menjadikannya sebagai rumusan untuk evolusi makro, walaupun sesungguhnya tidak dapat menjawab bagaimana sesuatu yang lebih sederhana membentuk sesuatu yang lebih rumit. Tidak usah jauh-jauh bicara soal keseluruhan tubuh; sebab bagaimana perkembangan dari satu sel menjadi organ mata atau telinga (yang walaupun kecil tapi kompleksitasnya cukup tinggi) saja belum dapat dibuktikan.
  5. Perhitungan matematika, yaitu teori probabilitas menunjukkan bahwa kemungkinan perubahan dari mahluk sederhana (1 sel atau lebih) menjadi mahluk yang kompleks adalah sangat kecil dan seluruh sejarah manusia tidak cukup untuk merealisasikan perubahan itu. Mungkin alibi ini termasuk yang paling mungkin dari pandangan ilmiah untuk membuktikan bahwa evolusi makro itu tidak mungkin terjadi. Salah satu tokoh evolusi seperti  Jacques Monod (1910-1976) sendiri mengakui bahwa kemungkinan evolusi dari mahluk bersel satu adalah “hampir nol” dan kemungkinan terjadi hanya sekali (Jacques Monod, Chance and Necessity, NY, Alfred A. Knopf, 1971, p.114-145). Monod seorang ahli biologi, menyuarakan pendapat dalam hal biologis, namun hal ini tidak sejalan dengan kemungkinan secara matematika, yaitu bagaimana satu kemungkinan yang langka tersebut dapat terjadi, dan dapat menjadi dasar perkembangan manusia dalam kurun waktu sejarah manusia yang terbatas. Menurut statistik, hal ini tidak mungkin.
  6. Seandainya benar, maka diperlukan waktu yang sangat panjang untuk realisasi kemungkinan mutasi/ ‘kebetulan’ ini. Keterbatasan waktu sejarah manusia yang menunjukkan paling lama sekitar 10.000- 15.000 tahun tidak memberikan jawaban untuk kemungkinan teori ini. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)
  7. Ilmu pengetahuan mengakui kompleksitas mahluk hidup ber-sel satu, dan tidak dapat menjelaskan bagaimana asal usul kehidupan. Dalam hal ini tokoh evolusi menawarkan penyelesaian dengan teori ‘blind chance’, tetapi seperti Monod sendiri mengakui, hal ini masih problematik, dan lebih tepat disebut sebagai ‘teka-teki’. (Jacques Monod, Ibid., p. 143)

Kenyataan di atas sesungguhnya dapat membantu kita untuk melihat hal evolusi tersebut secara lebih objektif. Kini, mari kita lihat pandangan Gereja mengenai hal evolusi ini, yang dapat saya rumuskan dalam beberapa point:

  1. Kita percaya bahwa jiwa manusia diciptakan secara langsung oleh Allah, dari yang tadinya tidak ada jadi ada. Jiwa ini dihembuskan kedalam embrio manusia yang terbentuk dari hubungan suami istri. Jadi jiwa manusia bukan berasal dari produk evolusi. Dalam surat ensiklik Humani Generis (1950), Paus Pius XII menolak ide evolusi total (yang menyangkut tubuh dan jiwa) manusia dari kera (primate). Dalam Humani Generis 36, Paus Pius XII mengajarkan bahwa meskipun dalam hal asal usul tubuh manusia, masih dapat diselidiki apakah terjadi dari proses evolusi, namun yang harus dipegang adalah: semua jiwa manusia adalah diciptakan langsung oleh Tuhan. Namun demikian mengenai evolusi tubuh manusia itu sendiri, masih harus diadakan penyelidikan yang cermat, dan tidak begitu saja disimpulkan bahwa manusia yang terbentuk dari ‘pre-existing matter’ tersebut sebagai sesuatu yang definitif.
  2. Jadi ide evolusi total ini sama sekali bukan hipotesa bagi orang katolik. Namun demikian, para ilmuwan dapat terus menyelidiki hipotesa bahwa tubuh manusia dapat diambil dari kehidupan yang sudah ada (ancestral primate), walaupun juga dengan sikap hati-hati, “great moderation and caution”. Tetapi ia harus memegang bahwa semua manusia diturunkan dari satu pasang manusia (monogenism), bukan dari banyak evolusi paralel (polygenism) seperti pada hipotesa tertentu, sebab semua manusia diturunkan dari Adam dan Hawa. Dan hal ini sesuai dengan konsep “dosa asal” yang diturunkan oleh manusia pertama.
  3. Mengenai penciptaan tubuh manusia dari materi yang sudah ada sebenarnya tidak bertentangan dengan sabda Tuhan yang menciptakan tubuh Adam dari tanah/ debu, yang kemudian dihembusi oleh kehidupan, yang menjadi jiwa manusia (Kejadian 2:7). Namun hal ini tidak bertentangan dengan penciptaan manusia seturut gambaran Allah, sebab yang dimaksudkan di sini adalah manusia sebagai mahluk rohani yang berakal dan memiliki kehendak bebas.
  4. Jadi diperbolehkan jika orang berpikir bahwa kemungkinan tubuh kera dapat berkembang mendekati tubuh manusia dan pada titik tertentu (di tengah jalan), Tuhan menghembusi jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu yang kemudian terus berevolusi (evolusi mikro) sampai menjadi manusia yang kita ketahui sekarang. St. Thomas Aquinas I, q.76, a.5, menyebutkan bahwa teori  yang menyebutkan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera (evolusi makro), harus kita tolak. Tubuh Adam haruslah merupakan hasil dari campur tangan Tuhan untuk mengubah materi apapun yang sudah ada (pre-existing matter) dan menjadikannya layak sebagai tubuh yang dapat menerima jiwa manusia. Campur tangan ini mungkin saja luput dari pengamatan ilmiah, seperti yang diakui sendiri oleh Monod, saat mengatakan bahwa asal usul hidup manusia adalah suatu teka-teki.
  5. Tidak mungkin bahwa dalam satu tubuh dapat terdapat dua macam jiwa, yang satu adalah rational (manusia) dan yang kedua, irrational (kera), sebab terdapat perbedaan yang teramat besar, yang tidak terjembatani antara jiwa kera dan jiwa manusia. Lagipula tubuh kera bersifat spesifik yang diadaptasikan dengan lingkungan hidup yang tertentu. Jadi tidak mungkin bahwa tubuh manusia merupakan hasil dari perubahan-perubahan ‘kebetulan’ dari tubuh kera.
  6. Kemungkinan yang lebih masuk akal adalah, jika manusia diciptakan melalui ‘pre-existing matter’ seperti dari tubuh kera sekalipun, terdapat campur tangan Tuhan untuk mengubah tubuh tersebut menjadi tubuh manusia, yang tidak merupakan kelanjutan dari tubuh kera tersebut, seperti halnya terdapat campur tangan Tuhan untuk menghembuskan jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu, yang bukan merupakan kelanjutan dari jiwa kera. Inilah yang secara ilmiah dikenal sebagai ‘lompatan genetik’, namun bedanya, ilmuwan mengatakan itu disebabkan karena kebetulan semata, sedangkan oleh Gereja dikatakan sebagai sesuatu yang disebabkan oleh campur tangan Tuhan.
  7. Cardinal Schonborn dalam artikel di New York Times menjelaskan bahwa pengamatan pada mahluk hidup yang telah menunjukkan ciri-ciri yang final menyebabkan kita terkagum dan mengarahkan pandangan kepada Sang Pencipta. “Membicarakan bahwa alam semesta yang kompleks dan terdiri dari mahluk-mahluk yang ciri-cirinya sudah final ini, sebagai suatu hasil ‘kebetulan’, sama saja dengan ‘menyerah’ untuk menyelidiki dunia lebih lanjut. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa akibat terjadi tanpa sebab. Ini tentu saja seperti membuang pemikiran akal manusia yang selalu mencari solusi dari masalah.” (Cardinal Schonborn, in New York Times, July,7, 2005, “The Designs of Science”, in First things 159 (January 2006) 34-38)
  8. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa, akal sehat manusia pasti dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan yang menyangkut asal usul manusia. Keberadaan Tuhan Pencipta dapat diketahui secara pasti melalui karya-karya ciptaan-Nya, dengan terang akal budi manusia (lih. KGK 286). “Kita percaya bahwa Allah menciptakan dunia menurut kebijaksanaan-Nya. Dunia bukan merupakan hasil dari kebutuhan apapun juga, ataupun takdir yang buta atau kebetulan.” (KGK 296)

Uraian di atas adalah merupakan prinsip dasar mengapa kita sebagai orang Katolik tidak dapat menerima teori evolusi makro ala Darwin, sebab prinsip ajaran Gereja adalah manusia diciptakan bukan sebagai hasil kebetulan, tetapi karena sungguh diinginkan oleh Allah. Sedangkan mengenai evolusi mikro di dalam batas species, kita semua dapat menerimanya, sesuai dengan penjelasan di atas. Prinsipnya, jikapun ada evolusi, tidak mungkin melangkahi batas penyelenggaraan Allah. Allah-lah yang menciptakan manusia, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa manusia diciptakan dari ketiadaan, (out of nothing) dan tubuh dari materi yang sudah ada (pre-existing matter) namun Allah mempersiapkan tubuh itu agar layak menerima jiwa manusia.  Kesatuan tubuh dan jiwa manusia tersebut diciptakan menurut gambaran Allah.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

20 Comments

  1. Adrianus Beda on

    Yth. Pak Stef dan Bu Ingrid

    Salam,

    Bagaimana menjelaskan kepada anak2 SMA dan OMK yang bertanya “Apakah Adam dan Hawa sungguh2 manusia pertama (dalam arti historis)..?? Jika iya, lalu bagaimana menghubungkannya dengan bab dan ayat yg menceritakan tentang pernikahan Kain setelah diusir orangtuanya di tempat lain, bukankah jawaban iya tadi lalu tidak mendapat dukungan dari bab dan ayat tentang Kain ini tadi..?? Lalu, jika Adam dan Hawa bukan manusia pertama (dalam arti historis), lalu bagaimana menjelaskan bahwa Kitab Suci bukan buku fakta sejarah, melainkan buku “Kebenaran Iman” dan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan..??
    Adam dan Hawa bukan nama identitas diri, melainkan merujuk pada manusia universal. Apa arti Adam dan Hawa..??

    Terimakasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Adrianus,

      Pertanyaan-pertanyaan Anda kurang lebih sudah pernah dibahas/ diulas di situs ini. Silakan membaca terlebih dahulu beberapa artikel-artikel berikut ini, dan jika masih ada pertanyaan, silakan menuliskan pertanyaan Anda di bawah artikel yang bersangkutan:

      Tentang apakah Adam dan Hawa adalah manusia pertama, dan siapa istri Kain, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik
      Tentang bagaimana hubungan antara teori evolusi dan iman, silakan klik
      Penjelasan tentang 6 Hari Penciptaan, silakan klik
      Tentang bagaimana dapat terjadi bermacam ras/ bangsa, silakan klik
      Tentang Sains Penciptaan, silakan klik
      Kebenaran Sejarah dalam Kitab Kejadian, silakan klik

      Kitab Suci memang bukan buku sejarah ataupun buku science, namun demikian bukan berarti yang dituliskan di dalamnya adalah kisah fiktif. Silakan membaca artikel-artikel di atas terlebih dahulu. Memang Adam artinya adalah ‘manusia’ atau ‘umat manusia’, sedangkan Hawa artinya adalah ‘ibu dari segala yang hidup’. Maka sesuai dengan namanya, Adam dan Hawa diciptakan sebagai sepasang manusia pertama yang daripada mereka akan diturunkan segenap umat manusia.

      Teori Adam sebagai manusia pertama tidak bertentangan dengan ditemukannya fosil purbakala oleh para arkeolog. Sebab meskipun dianggap bahwa tubuh manusia ‘berasal’ dari perkembangan tubuh mahluk lain (walau hal ini tetap memerlukan pembuktian lebih lanjut), tetap tidak mengubah prinsipnya bahwa diperlukan intervensi Tuhan untuk mengubah tubuh mahluk lain tersebut untuk dapat menjadi tubuh manusia yang cocok untuk menerima jiwa manusia. Prinsip ini tidak menentang makna yang disampaikan oleh Kitab Kejadian, sebab Tuhan membentuk tubuh manusia juga dari ‘sesuatu materi’ yang sudah ada, yaitu debu tanah (lih. Kej 2:7).

      Masalahnya sekarang, banyak fosil ditemukan, yang diyakini sebagian orang berasal dari semacam ‘kera’/ apes yang berevolusi menjadi manusia. Namun fosil yang menunjukkan perubahan pelan- pelan antara kera menjadi manusia itu tidak pernah ditemukan. Maka para ahli mengatakan fosil peralihan antara ‘kera’ menjadi manusia yang tidak ditemukan tersebut sebagai ‘the missing link‘ (rantai yang hilang).  Namun demikian, jika kita mendasarkan pada prinsip logika berpikir, kita akan dapat menerima, bahwa ‘rantai yang hilang’ ini bukannya hilang, tetapi tidak ada. Sebab tidak mungkin mahluk yang lebih rendah bisa berubah jadi mahluk yang lebih tinggi, atas dasar prinsip: ‘sesuatu tidak dapat memberi, jika sebelumnya ia tidak punya’. Maka kalau pada kera tidak ada akal budi dan kehendak bebas seperti pada manusia, maka tidak mungkin mereka dapat disebut sebagai ‘orang tua’ manusia. Dengan kata lain, tanpa campur tangan Tuhan, suatu mahluk hidup yang di bawah derajat manusia tidak dapat berubah pelan- pelan/ berevolusi menjadi manusia. Sekalipun diyakini terjadi perubahan, perubahan itu hanya mungkin karena campur tangan Tuhan, sehingga terjadi perubahan drastis yang tidak lagi menyerupai kera, tetapi sungguh menjadi tubuh manusia yang layak menjadi kediaman jiwa manusia. Di saat itulah (jika saja teori ini benar) Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, manusia pertama yang menjadi orang tua pertama bagi umat manusia.

      Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Adam dan Hawa adalah sepasang orang tua pertama, dan dari mereka seluruh umat manusia berasal. Maka konsekuensinya, pada jaman awal mula, memang terjadi perkawinan sesama saudara (incest), dalam hal ini antara sesama anak- anak dari Adam dan Hawa, sebab Kitab Suci mencatat bahwa Adam dan Hawa tidak hanya memiliki 2 anak (Kain dan Habel), tetapi juga Set dan anak-anak laki-laki dan perempuan (Kej 5:4) yang jumlahnya dan namanya tidak dituliskan di dalam Kitab Suci. Maka pada saat itu memang terjadi pernikahan antar saudara, yaitu antara anak-anak Adam dan Hawa, walaupun kemudian setelah jumlah umat manusia berkembang, hal ini tidak lagi diperbolehkan oleh Tuhan (lih. Im 18:6-18). Larangan ini cocok dengan kenyataan bahwa kode genetik manusia dapat mengalami “defect”/ cacat yang dapat bertambah besar sehubungan dengan regenerasi manusia. Maka jika pada generasi pertama-tama, efek resesif sangat minimal namun semakin ke bawah generasinya, efek ini makin besar. Oleh sebab itu Allah akhirnya melarang perkawinan sesama saudara.

      Prinsip Adam sebagai manusia pertama, yang darinya turunlah semua umat manusia, dan oleh karena ketidaktaatannya ia berdosa, dan karena itu semua orang turut berdosa dan menerima maut sebagai akibatnya; adalah penting; sebab Kristus justru diutus oleh Allah untuk memulihkan keadaan ini dengan keadaan kebalikannya. Yaitu Kristus sebagai Adam yang baru, dengan ketaatan-Nya menghancurkan kuasa dosa dan maut. (lih. Rom 5:12-21)

      Selanjutnya jika Anda masih mempunyai pertanyaan, silakan menggunakan fasilitas pencarian di sudut kanan atas homepage, dan ketik kata kuncinya, lalu enter. Semoga Anda dapat menemukan pembahasannya. Jika belum ada, silakan Anda bertanya kembali kepada kami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Yth. Pak Stef dan Bu Inggrid,

    Dalam litani St. Rafael, terdapat kalimat “satu dari ketujuh malaikat yang berada di hadirat Yang Mahatinggi, doakanlah kami.”

    Siapa saja ketujuh malaikat yang dimaksud di atas? mohon dapat diberikan profil malaikat-malaikat tersebut.

    terima kasih

    [dari katolisitas: Silakan melihat artikel di atas di bagian ini – silakan klik]

  3. agustinus purnama on

    Mengenai Penciptaan dan Evolusi, Kardinal Schonborn dari Wina telah menyampaikan satu rangkaian kuliah katekese, yg merupakan 6 kuliah katekese yg disampaikan di katedralnya di Wina. Kuliahnya ini dapat diakses di website-nya, yaitu cardinalschonborn.com.

    Sbg diketahui Kardinal Schonborn ini adalah jendralnya komisi Tahta Suci yg menghimpun Catechism of the Cath Church (1994).

    Melalui tangan beliau ini juga telah diterbitkan katekese utk kaum muda, yaitu yg dikenal sbg YOUCAT, yg dipopulerkan pd World Youth congress di Madrid th yg lalu. Yg saya tidak faham adalah mengapa hal ini tidak ada gemanya sama sekali di kalangan gereja di Indonesia ini

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Agustinus Purnama,

      YOUCAT sedang saya terjemahkan, dan akan diterbitkan oleh Penerbit-Percetakan Kanisius, dan akan dipakai dalam “Indonesian Youth Day” 2012, 20-26 Oktober 2012 di Sanggau. Informasi mengenai IYD itu sendiri silahkan klik http://www.orangmudakatolik.net

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • agustinus purnama on

        Salam, Syukurlah ternyata Youcat ada gemanya juga di sini.Saya usulkan agar teks terjemahan tsb dimasukkan juga di jejaring internet , shg siapa saja, (termasuk yg bukan Katolik) dpt ikut meng-akses dan men-download freely, dan Rama menjadi penjaga gawang yg akan menjawab setiap kali ada pertanyaan2 lewat Twitter maupun lewat Facebook. Maklumlah anak2 muda itu biasanya pelit utk beli buku, dan mereka itu sangat faham dunia cyber.

  4. Kejadian 1 : 1 – 19 :

    1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
    2. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
    3. Berfirmanlah Allah : “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
    4. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
    5. Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
    6. Berfirmanlah Allah : “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
    7. Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan airj yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
    8. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”
    9. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah segala air yang ada di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.
    10. Lalu Allah menamai yang kering itu darat dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
    11. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.
    12. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”
    14. Berfirmanlah Allah : “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda mneunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
    15. dan sebagai penerangh pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.”
    16. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
    17. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
    18. dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap.
    19. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.”

    Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab tersebut, sepertinya tidak ada masalah. Padahal kalau kita sedikit jeli dan teliti, sebenarnya pada ayat-ayat tersebut banyak bermasalah.
    bingung,,,matahari belum di jadikan, kok udah terang dan siang…???

    Dan ada lagi
    Contoh : Pada ayat ke 5 dikatakan oleh penulis Alkitab sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”

    Kemudian pada ayat ke 8 dikatakan juga sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”

    Dan sama saja pada ayat ke 13 juga dikatakan sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”

    Pertanyaannya : Darimana penulis Alkitab mengetahui dan menentukan petang, pagi, hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, sementara pada saat itu matahari, bulan dan bintang belum diciptakan?

    Bukankah untuk mengetahui petang harus ada matahari yang sudah mulai tenggelam? Dan bukankah untuk mengetahui pagi, harus ada matahari yang baru mau terbit.

    Dan bukankah untuk mengetahui hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, harus ada perputaran bumi mengelilingi matahari selama 24 jam?

    • Shalom Restu Alam,

      Pada saat terjadi terang (Kej 1: 3-6), kitab Kejadian tidak menyebutkan apakah yang menjadi sumber dari terang. Kita tidak dapat mengatakan bahwa sumber terang adalah matahari, karena matahari baru diciptakan pada hari ke-empat. Oleh karena itu, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa ada suatu terang, namun sumber terang tersebut bukanlah matahari. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya, maka tidaklah sukar bagi kita untuk mengatakan, Tuhanlah yang menciptakan terang, walaupun belum ada matahari pada hari pertama. Jadi, pada hari pertama-ketiga, Tuhanlah atau suatu sumber terang yang diciptakan Tuhan -yang tidak kita ketahui- yang menjadi sumber terang. Bahwa Tuhan yang menjadi sumber terang Kitab Wahyu mengatakan, “Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” (Why 22:5)

      Maka pada hari pertama ini diciptakanlah terang oleh Tuhan, entah berupa partikel terang atau sesuatu terang menyeluruh, yang kemudian dibedakan dengan gelap. Terang ini dapat pula menyerupai terang tiang awan yang menemani bangsa Israel (lih. Kel 14:19) yang terangnya tidak berasal dari matahari. Namun di samping adanya terang, esensi dari penciptaan hari pertama adalah waktu. Sebelum Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat material, maka Tuhan harus menciptakan sesuatu yang begitu esensial bagi semua hal yang bersifat material, yaitu adanya dimensi waktu, yang ditandai dengan adanya terang dan gelap atau siang dan malam.

      Pada saat Kitab Suci dituliskan penulis Kitab Suci tidak/ belum mengetahui teori heliosentris tentang perputaran bumi mengelilingi matahari yang menjadi penentu waktu (Teori heliosentris baru mulai dikenal di abad ke-16). Para penulis Kitab Suci menuliskannya atas ilham Roh Kudus, bahwa pada hari pertama Penciptaan, Allah menciptakan waktu, yang ditandai dengan pergantian siang dan malam, petang dan pagi. Setelah ada dimensi waktu, Allah menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Bahwa kemudian Allah menciptakan benda- benda penerang (matahari, bulan, bintang) itu merupakan kelanjutan dari apa yang telah ditentukan Allah sebelumnya, dan menyempurnakan dalam hal pergantian terang dan gelap tersebut dalam tatanan alam semesta.

      Akhirnya, perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci bukanlah buku science/ ilmu pengetahuan tempat kita dapat memperoleh penjelasan mendetail tentang terbentuknya alam semesta. Yang dapat kita ketahui dalam kisah Penciptaan adalah bahwa Allah mencuptakan segala sesuatunya secara bertahap, ada urutannya, dari segala yang tidak berbentuk menjadi semakin sempurna, sampai kepada manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Tentang selang waktunya secara persis kita tidak dapat memperoleh konfirmasinya, sebab segalanya dapat pula terjadi sedemikian, namun  dapat juga terjadi dalam kurun waktu yang lama, mengingat satu hari bagi Tuhan dapat berarti ribuan tahun (lih. 2Pet 3:8).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Shalom….
    saya sudah membaca semua uraian diatas… tapi masih ada yang mengganjal..
    berikut kutipan’nya :
    =======================================
    b. Tuhan bukan laki-laki atau perempuan
    =======================================

    lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa Yesus Tuhan kita adalah Laki2?

    Aku semakin meragukan ajaran-ajaran Kristen….

    • Shalom Stefany,
      Tuhan memang mengatasi gender, karena Dia adalah Roh. Namun, kalau Tuhan memutuskan untuk masuk ke dalam sejarah manusia dan mengambil kodrat manusia, walaupun tanpa meninggalkan ke-Allahan-Nya, maka Dia harus mengambil rupa manusia, termasuk dengan gendernya, yaitu laki-laki. Jadi tidak ada pertentangan di dalam-Nya. Diskusi akan menjadi lebih substansial, kalau kita membahas apakah Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • saya mau menanggapi sedikit tentang hal ini. Banyak sekali diantara kita yang mempertanyakan mengapa Tuhan turun menjadi manusia dan mengambil rupa sebagai laki-laki bukan perempuan? mohon maaf sebelumnya jika tidak berkenan. Pada zaman Yesus, laki-laki dianggap memiliki kedudukan/peran besar di dalam kehidupan bermasyarakat daripada seorang perempuan.(baca kisah mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang, pada ayat terakhir tertulis hanya bilangan laki-laki yang dihitung) selain itu, dalam hak suara (pendapat, dsj) hanya laki-laki yang dapat memberikan keputusan. Maka dari itu, banyak pengajar pada zaman itu merupakan laki-laki. Secara fisik juga laki-laki memang diciptakan lebih kuat daripada wanita, karena pada zaman itu untuk mengajar dari satu tempat ke tempat lainnya umumnya berjalan kaki atau menggunakan hewan. Namun setelah Yesus wafat, Tuhan memberikan “hak” kepada wanita untuk mewartakan kabar gembira yaitu dengan pertama kali menemukan kubur Yesus yang kosong.

        [dari katolisitas: Kita juga jangan melupakan bahwa yang melahirkan Kristus adalah seorang perawan, yaitu perawan Maria.]

  6. Robertus Triwidodo Pr on

    Pak Stef dan Bu inggrid yg baik,

    Trimakasih atas atas artikel terbarunya.

    Saya sering membaca web katolisitas. Web yg Bapak dan Ibu asuh sangat membantu saya dalam mengajar sekolah iman di paroki saya sejak 2 tahun yll. Banyak info yg sangat bermanfaat.
    Saya usul bagaimana kalo katolisitas juga menambah menu ‘email alert’. Artinya setiap ada artikel, dokumen, faq, tanyajawab, even iman, dsj, yg baru ditampilkan ke email pembaca yg memang sengaja berlangganan. Sehingga kalo ada yg baru, saya diberitau via email dan linknya, dan saya segera bisa mengetahuinya dan membukanya.
    Trimakasih.

    Salam dan doa

    Rm Triwidodo Pr

    • Shalom Romo Triwidodo, Pr.,

      Terima kasih atas dukungannya untuk karya kerasulan katolisitas.org. Kami sangat senang jika ada tanya-jawab maupun artikel di situs ini yang berguna untuk membantu mengembangkan iman Katolik. Usulan Romo untuk menambahkan fasilitas pemberitahuan lewat email akan kami perhatikan. Sementara ini, Romo dapat menggunakan fasilitas RRS: link to katolisitas.org. Mohon doa dari Romo agar karya kerasulan ini dapat berguna dan turut serta membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      tim katolisitas.org

      • Dear Pak Stef,
        Terlebih dahulu mohon maaf atas pertanyaan yg agak nyeleneh ini : Karena Tuhan maha pencipta dan menciptakan dari ketidak adaan, apakah mungkin Tuhan dapat juga menciptakan Tuhan (lain/baru)?

        Regards,
        Yanto

        • Shalom Yanto,

          Nampaknya pertanyaannya sendiri keliru, sebab hakekat Tuhan adalah “Ia yang mengatasi segala ciptaan, sehingga Ia sendiri tidak diciptakan.” Dengan demikian, yang namanya Tuhan itu tidak diciptakan. Maka dalam teologi Kristen, Allah yang mengatasi segala waktu dan segala ciptaan itu sudah ada sejak kekekalan dalam kesempurnaan-Nya, yaitu dalam Pribadi Allah Trinitas. Ketiga Pribadi dalam satu Allah tersebut ada bersama-sama sejak awal mula. Baru kemudian setelah waktunya genap, sesuai dengan rencana-Nya, Pribadi Allah yang kedua, yaitu Sang Putera Allah, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam sejarah umat manusia. Dalam penjelmaan-Nya ini, Ia tidak berhenti menjadi Allah, walaupun Ia mengambil rupa manusia; sehingga dikatakan bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

          Selanjutnya, silakan membaca di artikel-artikel ini, Trinitas: Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, silakan klik; dan Yesus Sungguh Allah sungguh manusia, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Sungguh membantu banget dalam memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan dalam hatiku selama ini, sangat beralur dan mendasar apa yang disampaikan. terima kasih Katolisitas. Tuhan memberkati pelayanan anda selalu. Amin.