Tanya-Jawab
Embun-Minggu
0

Kambing? No; Domba? Yes!

[Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam: Yeh: 34:11-12; 15-17; Mzm 23:1-6; 1Kor 15:20-28; Mat 25:31-46 ] Mungkin ada banyak orang…


10 FAQ TERKINI - KLIK UNTUK SEMUA FAQ

Allah dalam diri-Nya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas (KGK 1). Namun, demikian secara bebas, Dia menciptakan makhluk berakal budi - yaitu malaikat dan manusia - seturut dengan gambarnya (Kej 1:27), yaitu dengan memberikan kepada mereka kehendak bebas (free will). Kehendak bebas ini adalah merupakan kekuatan dari kehendak yang mengalir dari akal budi, sehingga manusia dapat "melakukan" atau "tidak melakukan", "memilih ini" atau "memilih itu". (KGK 1731) Dari definisi ini, maka memang dengan kehendak bebasnya, manusia dapat menolak Allah atau memberikan diri secara bebas kepada Allah. Namun, kalau sampai seseorang salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, maka hal ini tentu bukan kesalahan Allah, melainkan tanggung jawab orang tersebut, yang tidak mampu menggunakan kehendak bebasnya secara bertanggungjawab.

Dengan kehendak bebas ini, Allah sungguh menghargai manusia, sehingga manusia dapat secara bebas untuk masuk dalam hubungan pribadi dengan Allah. Masuk dalam hubungan pribadi dengan Allah, yang adalah menjadi tujuan akhir manusia, sesungguhnya mensyaratkan pemberian diri secara bebas (KGK 1730). Hal ini sama seperti seorang wanita, yang harus memberikan diri secara sukarela tanpa paksaan kepada pria dalam hubungan perkawinan. Dan hal ini hanya mungkin terjadi, kalau manusia mempunyai kehendak bebas. Jadi, kehendak bebas adalah pemberian Allah yang sungguh berharga bagi manusia, dan sungguh baik, karena dengannya, manusia dapat dihargai sebagai sebuah pribadi, yang mampu masuk dalam hubungan antar pribadi secara bebas, mampu memberikan diri secara bebas, dan sampai akhirnya memperoleh kebahagiaan dalam persatuan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkannya demikian:

KGK 1 : Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana-mana Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya. Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.

KGK 311 : Para malaikat dan manusia, ciptaan yang berakal budi dan bebas, harus menyongsong tujuannya terakhir dengan kehendak bebas dan mengutamakan tujuan itu karena cinta. Karena itu mereka juga dapat menyimpang dari jalan dan dalam kenyataannya sudah berdosa. Demikianlah kejahatan moral, yang jauh lebih buruk daripada kebobrokan fisik, masuk ke dalam dunia. Bagaimanapun juga, baik langsung maupun tidak langsung, Allah bukanlah sebab kejahatan moral (bdk. Agustinus, lib. 1,1,1; Tomas Aqu. s.th. 1-2,79,1). Namun Ia membiarkannya terjadi karena Ia menghormati kebebasan makhluk-Nya, dan dengan cara yang penuh rahasia Ia tahu menghasilkan yang baik darinya:
"Allah yang maha kuasa... dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas tidak mungkin membiarkan kejahatan apa pun berada dalam karya-Nya, kalau Ia tidak begitu maha kuasa dan baik, sehingga Ia juga mampu mengambil kebaikan dari kejahatan" (Agustinus, enchir. 11,3).

KGK 1730 : Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan telah memberi kepadanya martabat seorang pribadi, yang bertindak seturut kehendak sendiri dan menguasai segaIa perbuatannya. "Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri" (Sir 15:14), supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan" (GS 17). "Manusia itu berakal budi dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya" (Ireneus, haer. 4,4,3).

KGK 1731 : Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

KGK 1742 : Kemerdekaan dan rahmat. Rahmat Kristus sama sekali tidak membatasi kemerdekaan kita, jikalau kemerdekaan ini sesuai dengan cita rasa kebenaran dan kebaikan, yang Allah telah letakkan di dalam hati manusia. Pengalaman Kristen membuktikan yang sebaliknya terutama dalam doa: semakin kita mengikuti dorongan rahmat, maka kemerdekaan batin kita dan ketabahan kita dalam percobaan serta dalam menghadapi tekanan dan paksaan dari dunia luar akan semakin bertambah. Melalui karya rahmat, Roh Kudus mendidik kita menuju kemerdekaan rohani, supaya menjadikan kita rekan kerja yang bebas dari karya-Nya dalam Gereja dan dunia.
"Bapa yang mahakuasa dan maharahim,... singkirkanlah segaIa sesuatu yang merintangi kebahagiaan kami, dan jauhkanlah apa yang membebani jiwa dan raga kami, sehingga dengan tulus ikhlas kami melaksanakan kehendak-Mu" (Doa pembukaan, Hari Minggu 32).

KGK 1745 : Kebebasan mewarnai perbuatan yang sungguh manusiawi. Ia menjadikan manusia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dikerjakan dengan kehendak bebas. Perbuatan-perbuatan yang dikehendaki manusia, tetap dimilikinya.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 23, 2014  


Be the first person to like this faq.

Menurut Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, 17 Desember 2001 di Vatikan, pemasangan pohon Natal dan kandang Natal dilakukan pada malam Natal.

Berikut ini kutipannya:

"Malam Natal

109. Dalam waktu antara Ibadat Sore I Natal dan misa tengah malam - baik tradisi nyanyian Natal yang menjadi sarana ampuh menyampaikan pesan sukacita dan damai Natal, maupun kesalehan umat menawarkan beberapa bentuk doa yang berbeda-beda dari negara ke negara -- semua ini hendaknya disambut gembira dan kalau perlu diserasikan dengan perayaan liturgi sendiri. Beberapa contoh, misalnya:

- "kandang hidup" dan pemasangan kandang di rumah-rumah kaum beriman yang merupakan kesempatan yang baik untuk doa keluarga: doa ini hendaknya mencakup pembacaan kisah kelahiran Yesus menurut Lukas, nyanyian khas Natal, serta doa permohonan dan pujian, khususnya oleh anak-anak, "bintang" dalam peristiwa keluarga seperti ini;

- pemasangan pohon Natal. Ini juga mewartakan kesempatan yang bagus untuk doa keluarga. Terlepas dari asal usul historisnya, pohon Natal memiliki simbol kuat dewasa ini dan tersebar amat luas di tengah umat Kristiani; pohon Natal mengingatkan pohon yang tumbuh di tengah Taman Eden (Kej 2:9) maupun pohon Salib, yang mendapat makna Kristologis: Kristus adalah pohon hidup sejati, lahir dari tunggul insani, dari Perawan Maria, pohon yang selalu hijau dan berbuah lebat. Di negara-negara Eropa Utara, pohon Natal dihias dengan apel dan malaikat dapat ditambahkan 'bingkisan'. Namun di antara bingkisan yang ditempatkan di bawah pohon Natal, hendaknya ada juga bingkisan untuk kaum miskin sebab mereka merupakan bagian dari setiap keluarga Kristiani..."

Dokumen yang sama menyebutkan bahwa masa Adven adalah masa penantian, pertobatan dan pengharapan (lih. no. 96). Maka pemasangan pohon Natal berikut hiasan/ bingkisannya -yang lebih berkonotasi suasana perayaan/ suka cita- memang hendaknya dilakukan sesaat sebelum malam Natal, di mana suasananya sudah mendekati hari Natal. Namun jika ini tidak memungkinkan, menurut hemat kami, jalan tengahnya adalah: pohon Natal yang tanpa hiasan dapat dipasang beberapa hari sebelumnya (sedapat mungkin di Minggu terakhir Adven), namun pemasangan hiasan dan bingkisan yang mengacu kepada ekspresi perayaan, silakan dilakukan pada sesaat sebelum Misa Malam Natal. Dengan demikian makna Adven sebagai masa penantian dan pertobatan tetap dijaga dan diekspresikan dalam prakteknya.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 22, 2014  


1 people found this faq useful.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah menyediakan rahmat khusus kepada Bunda Maria sehubungan dengan perannya sebagai Bunda Allah, maka ia disebut sebagai "penuh rahmat" (lih. Luk 1:28). Allah memberikan kepenuhan rahmat-Nya kepada  Bunda Maria agar ia terbebas dari dosa asal sejak ia terbentuk sebagai janin di rahim ibunya, St. Anna. Dengan demikian, Maria malah lebih lagi memerlukan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Sebab hal ‘dibebaskan dari dosa asal sejak di dalam kandungan’ tidak mungkin terjadi tanpa jasa Kristus yang menyelamatkannya dan menguduskannya.

Karena kuasa Kristuslah maka Bunda Maria dapat dikandung tanpa noda dan dibebaskan dari dosa seumur hidupnya. Jadi hal ‘tidak berdosa’ ini bukan disebabkan karena kekuatan Maria sendiri, tetapi karena rahmat Allah. Namun rahmat Allah yang istimewa ini, memang hanya diperuntukkan untuk Bunda Maria saja, karena yang menjadi ibu yang mengandung Yesus, ya hanya Bunda Maria saja. Ibu dari Bunda Maria (St. Anna) tidak mengandung Yesus, maka ia tidak menerima rahmat yang sama dengan rahmat yang diberikan kepada Bunda Maria yang mengandung Yesus. Maka pengudusan Bunda Maria dari noda dosa asal, tidak mensyaratkan pengudusan yang sedemikian kepada ibunya juga. Maka, keistimewaan ini -yaitu dibebaskan dari noda dosa asal- memang hanya diberikan kepada Bunda Maria. Bunda Maria menerima keistimewaan rahmat ini dari Misteri Paska Kristus, yang diperolehnya secara antisipatif, yaitu sebelum peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya itu terjadi. Kuasa Kristus Sang Putera Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, memungkinkan-Nya untuk dapat memberikan kuasa-Nya kepada Maria ibu-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Perolehan secara antisipatif, rahmat keselamatan yang mengalir dari Misteri Paska Kristus, juga diterima oleh para nabi dan orang-orang yang dibenarkan oleh Allah, yang hidup di zaman sebelum Kristus.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 20, 2014  


Be the first person to like this faq.

Berikut ini adalah terjemahan yang diambil dari ketetapan dari CDF (Kongregasi Ajaran Iman), Donum Vitae - Penghormatan terhadap Hidup Manusia, di bawah sub judul: A. HETEROLOGOUS ARTIFICIAL FERTILIZATION. Teks selengkapnya, klik di sini:

"3. Apakah "Ibu Tumpang" (Surrogate Motherhood) dapat dibenarkan secara moral?

Tidak, untuk alasan-alasan yang sama yang mengarahkan seseorang untuk menolak pembuahan buatan secara heterolog; sebab hal itu bertentangan dengan kesatuan perkawinan dan bertentangan dengan martabat prokreasi seorang manusia.

'Ibu Tumpang' mewakili kegagalan obyektif untuk memenuhi kewajiban-kewajiban [yang berkenaan dengan]kasih keibuan, kesetiaan perkawinan dan keibuan yang bertanggungjawab; itu menentang martabat dan hak anak untuk dikandung, dibawa di dalam rahim, dan dilahirkan ke dunia dan dibesarkan oleh orang tuanya sendiri. Hal itu mengakibatkan kerusakan/ pemerosotan keluarga, sebuah pemisahan antara elemen-elemen fisik, psikologis dan moral yang membentuk keluarga tersebut.

Dengan 'ibu tumpang', instruksinya berarti: a) Wanita yang mengandung membawa embrio yang ditanamkan di rahimnya dan yang secara genetik adalah seorang yang asing bagi embrio itu sebab embrio itu diperoleh melalui persatuan gamet dari para donor. Ia menjalankan kehamilan dengan janji untuk menyerahkan bayi itu setelah kelahirannya kepada pihak yang memberi tugas atau membuat perjanjian bagi kehamilan itu. 2) Wanita yang membawa dalam kehamilannya sebuah embrio pada proses prokreasi di mana ia memberi kontribusi/ donasi sel telurnya sendiri, menyuburkan melalui inseminasi dengan sperma dari laki-laki lain yang bukan suaminya. Ia membawa dalam kehamilannya, janji untuk menyerahkan anak itu, begitu ia dilahirkan kepada pihak yang memberi tugas atau membuat perjanjian bagi kehamilan itu."

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 20, 2014  


1 people found this faq useful.

Dosa berat adalah pelanggaran berat melawan hukum Allah, yang secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati seseorang, sehingga secara sadar orang tersebut menyimpang dari tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) materi berat sebagai obyek, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) dengan pertimbangan yang matang menyetujui melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain, seseorang tahu bahwa dosa itu menyangkut dosa yang berat, tahu bahwa dosa itu berat, dan tetap melakukannya dengan penuh kesadaran. Jadi, orang yang melakukan dosa berat sesungguhnya telah menolak Allah secara total dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Kalau seseorang meninggal di dalam kondisi dosa berat dan tidak bertobat, maka dia akan masuk ke dalam api neraka. (lih. Yak 1:15, 1Yoh 5:16)

Tentang dosa berat, Katekismus Gereja Katolik, menuliskan:

KGK, 1855: Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya.

KGK, 1857: Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: "Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan" (RP 17).

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 17, 2014  


1 people found this faq useful.

Sakramen Baptis memberikan pengampunan terhadap semua dosa, termasuk dosa berat. Karena Sakramen Baptis hanya dapat diterimakan satu kali dalam kehidupan ini, bagaimana untuk mendapatkan pengampunan dari dosa berat setelah dibaptis? Ada dua cara seseorang dapat diampuni dari dosa berat setelah baptisan, yaitu melalui:  Sakramen Tobat dan Sesal sempurna / sesal karena cinta.

Sakramen Tobat diberikan oleh Kristus untuk memberikan pengampunan dari semua dosa, baik dosa ringan maupun dosa berat. (lih. KGK 1446; bdk. Mat 16:16-19, Yoh 20:21-23). Sedangkan sesal sempurna, yaitu sesal yang tulus karena kesadaran telah menyedihkan hati Allah, yang mengalir dari kasih kepada Allah (lih.Luk 23:39-43), yang dibarengi dengan niat yang teguh untuk mengaku dosa secepatnya jika memungkinkan, dapat juga menghapus dosa berat. (lih. KGK 1452) Jadi untuk mendapatkan pengampunan dari dosa berat yang dilakukannya, walaupun seseorang telah melakukan penyesalan sempurna, namun secepatnya dia tetap harus mengakukan dosanya di dalam Sakramen Tobat.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 1446.    Kristus telah menciptakan Sakramen Pengakuan untuk anggota-anggota Gereja-Nya yang berdosa, terutama untuk mereka yang sesudah Pembaptisan jatuh ke dalam dosa berat dan dengan demikian kehilangan rahmat Pembaptisan dan melukai persekutuan Gereja. Sakramen Pengakuan memberi kepada mereka kemungkinan baru, supaya bertobat dan mendapat kembali rahmat pembenaran Bapa-bapa Gereja menggambarkan Sakramen ini sebagai "papan penyelamatan kedua sesudah kecelakaan kapal yakni kehilangan rahmat" (Tertulianus, paen. 4,2; bdk. Konsili Trente: DS 1542)

KGK 1452.    Kalau penyesalan itu berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu, ia dinamakan "sempurna" atau "sesal karena cinta" [contritio]. Penyesalan yang demikian itu mengampuni dosa ringan; ia juga mendapat pengampunan dosa berat, apabila ia dihubungkan dengan niat yang teguh, secepat mungkin melakukan pengakuan sakramental (bdk. Konsili Trente: DS 1677. 1822)

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 17, 2014  


3 people found this faq useful.

Dewasa ini banyak orang - di dalam Gereja Katolik maupun di luar Gereja Katolik - yang mengklaim bahwa mereka menerima wahyu dari Allah. Umat Katolik harus menyikapi hal ini dengan hati-hati karena wahyu-wahyu tersebut belum tentu otentik, dan tidak jarang dapat menyesatkan umat beriman. Wahyu-wahyu ini disebut sebagai wahyu pribadi. Wahyu pribadi adalah wahyu yang diterima oleh sejumlah orang (seperti yang diterima oleh para santa santo) dalam sejarah umat manusia, yang sifatnya tidak menambah perbendaharaan iman maupun menyempurnakan wahyu umum - yang kesempurnaannya telah dipenuhi di dalam Kristus. Tujuan dari wahyu pribadi ini adalah sebagai tanda penyertaan Allah untuk membimbing manusia dalam tindakan yang sesuai dengan apa yang telah diwahyukan-Nya dalam wahyu umum (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-II q.174 a.6 reply 3). Dengan demikian, wahyu pribadi yang otentik akan membangkitkan devosi, doa, pertobatan, maupun partisipasi dalam sakramen-sakramen, dan tetap menjaga persatuan dengan para uskup dan paus, serta tidak mungkin bertentangan dengan wahyu umum.

Karena Kristus telah memberi wewenang kepada Gereja untuk mengajar (lih. Mat 16:18-19), dan Rasul Paulus menuliskan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (lih. 1Tim 3:15), maka Magisterium Gereja - yang mendasarkan pengajarannya pada Kitab Suci dan Tradisi Suci - dapat memberikan penilaian apakah wahyu pribadi tersebut otentik atau tidak. Namun, demikian, kalaupun wahyu pribadi ini telah dinyatakan otentik, umat beriman tidak dituntut untuk mempercayainya sebagaimana mempercayai artikel-artikel iman. Gereja dapat menyatakan bahwa wahyu pribadi yang telah disetujui otentisitasnya dapat memberikan manfaat bagi umat beriman.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan "wahyu pribadi", yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk "menyempurnakan" wahyu Kristus yang definitif atau untuk "melengkapinya", melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat "menerima" wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas "wahyu-wahyu" yang demikian itu.

Paus Benediktus XIV (31 March 1675 – 3 May 1758) menuliskan:

Meskipun sebuah persetujuan [dalam tingkat]iman Katolik boleh tidak diberikan kepada wahyu-wahyu [pribadi]yang telah disetujui, namun, persetujuan [dalam tingkat]iman manusia, yang dibuat sesuai dengan tuntunan kebijaksanaan, adalah layak diberikan kepadanya; karena sesuai dengan tuntunan-tuntunan ini, wahyu-wahyu [pribadi]tersebut adalah mungkin dan layak dipercaya. [De Serv. Dei Beatif.]

 

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 10, 2014  


5 people found this faq useful.

Agar dapat menerima indulgensi, seseorang harus dibaptis, dalam hubungan yang baik dengan Gereja, tidak sedang di-ekskomunikasi, dalam keadaan rahmat, setidaknya ketika ia melakukan hal-hal yang disyaratkan untuk memperolehnya. Untuk memperolehnya, orang itu harus sedikitnya mempunyai intensi untuk memperoleh indulgensi dan memenuhi persyaratannya, dalam hal waktu ataupun cara yang ditentukan untuk itu.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 10, 2014  


1 people found this faq useful.

Tidak. Karena keistimewaan tertinggi dari partisipasi dalam Kurban Misa dan sakramen- sakramen lainnya, dan daya guna dari setiap sakramen itu dalam hal pengudusan dan pemurnian, maka pada setiap sakramen itu tidak ditambahkan lagi dengan indulgensi. Ketika indulgensi diberikan sehubungan dengan penerimaan sakramen, itu bukan karena partisipasi dalam sakramen itu, tetapi karena sejumlah keadaan yang luar biasa, seperti contohnya, pada saat Komuni Pertama, atau Misa pertama seorang imam, dalam rangka novena, dst.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 10, 2014  


1 people found this faq useful.

Ajaran tentang keselamatan yang diajarkan oleh Gereja Katolik tidak pernah berubah. Ajaran tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus- Tidak ada keselamatan di luar Gereja) itu tetap berlaku setelah Konsili Vatikan II. Yang diubah hanyalah cara penyampaiannya saja, yaitu tadinya secara negatif, yang dimulai dengan kata “Tidak ada….”, menjadi positif, yaitu “Keselamatan datang dari Kristus melalui Gereja Katolik.” Rumusan ini mengambil dasar dari Yoh 14:6 yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh hanya melalui Yesus Kristus. Sebab dikatakan, "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku [Yesus]." Dan karena Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya- maka keselamatan juga diperoleh melalui Gereja-Nya.

Jadi, doktrin tentang EENS (Tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik) tetap diajarkan oleh Konsili Vatikan II, yang kemudian dijabarkan maknanya dalam Katekismus Gereja Katolik dengan rumusan yang positif menjadi: Keselamatan datang dari Kristus melalui Gereja-Nya (lih. KGK 846-847)

Selanjutnya, KV II menyampaikan sintesa ajaran Gereja tentang keselamatan sebagaimana disampaikan oleh Tradisi Suci dan Magisterium. Gereja Katolik mengajarkan bahwa memang terdapat kemungkinan bagi seseorang yang tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik untuk diselamatkan, namun ada syaratnya, yaitu bahwa: 1) keadaannya yang tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya itu terjadi bukan karena kesalahannya sendiri, 2) ia mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan suara hatinya; 3) ia bertobat/ menyesal atas dosa-dosanya; 4) ia hidup beriman dan melaksanakan cinta kasih. Sebab dengan hal-hal ini orang tersebut dapat diandaikan bahwa ia menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.

Maka kesimpulannya tentang ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan adalah sebagaimana dijelaskan dalam Katekismus:

"Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan" (EENS)

KGK 846    Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

"Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan" (LG 14).

KGK 847    Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
"Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal" (LG 16, Bdk. DS 3866 - 3872).

Dengan demikian, ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan tidak pernah berubah, yaitu bahwa Gereja Katolik perlu untuk keselamatan. Walaupun demikian, terdapat kemungkinan keselamatan bagi orang-orang, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, asalkan mereka hidup mencari Tuhan dan melakukan perintah-perintah Nya sebagaimana diketahui lewat hati nurani, dan asalkan ia bertobat dan hidup dalam iman dan kasih. Jika ini yang terjadi, keselamatan yang dapat diperolehnya tersebut tetap diberikan melalui Kristus saja, dengan perantaraan Gereja-Nya; sebab rahmat keselamatan hanya diberikan Allah di dalam Kristus.  Karena Kristus sebagai Sang Kepala, tidak terpisahkan dari Tubuh-Nya, maka rahmat keselamatan itu yang diberikan oleh Kristus, mengalir melalui Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik.

Berkaitan dengan topik ini adalah artikel-artikel berikut ini:

Apa itu EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus)?
Apakah Konsili Vatikan II mengubah ajaran Konsili Vatikan I tentang EENS?
Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya masuk neraka?

Paus Benediktus XVI dan Sola Fide
Tidak ada Keselamatan kecuali melalui Yesus

Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?
Keselamatan dalam hubungannya dengan Baptisan

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Nov 9, 2014  


3 people found this faq useful.

1

Doa dalam Kehidupan Kristiani

Doa dalam misteri iman kita Di awal buku YOUCAT[1] ditulis sebuah pertanyaan yang mungkin sering muncul di hati semua orang:…

20

Keutamaan Petrus (5): Dalam Gereja di Lima Abad Pertama

Dengan melihat kepada kehidupan Gereja di lima abad pertama, kita dapat melihat dengan jelas tentang peran Rasul Petrus dan para penerusnya untuk memimpin dan mengajar jemaat. Pengingkaran akan hal ini dapat dikatakan sebagai pengingkaran sebuah fakta.

43

Apa artinya menjadi Katolik?

"Kamu masih Katolik?" Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh…

8

Dari mana asalnya Kitab Suci?

Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau…

0

Bunda Maria, Model Evangelisasi

Apa itu Evangelisasi? Cara yang paling sederhana untuk memahami apakah arti evangelisasi, adalah mengacu kepada pengajaran Paus Paulus VI tentangnya.…