Tanya-Jawab
Embun-Minggu

10 FAQ TERKINI - KLIK UNTUK SEMUA FAQ

Markus 5: 1-13, Lukas 8: 27-33 dan Matius 8: 28-32: Penyembuhan itu dilakukan di Gerasa (menurut Markus dan Lukas) atau di Gadara (menurut Matius)? Yesus menyembuhkan satu orang (menurut Markus dan Lukas) atau dua orang yang kerasukan setan (menurut Matius)?

Demikianlah penjelasan tentang kedua kota itu:[1]

“Gadara adalah kota tak jauh dari danau Genesaret, salah satu dari sepuluh kota yang disebut Dekapolis. Gergesa (kemungkinan variasi dari kata “Gerasa”) adalah sebuah kota yang terletak 12 mil di sisi tenggara Gadara, dan sekitar 20 mil di timur sungai Yordan. Maka tak ada kontradiksi antara ketiga Injil di sini. Yesus datang ke daerah ini di mana kedua kota terletak, dan salah satu pengarang Injil menyebut kota yang satu dan dan pengarang lainnya menyebut kota lainnya. Terlihat bahwa para pengarang itu tidak setuju dalam hal menekankan kota yang mana, sebab jika ya, tentu mereka sudah menyebutkan nama kota yang sama. Namun hal ini menunjukkan bahwa mereka mengenal daerah tersebut. Tak ada orang yang dapat menulis sedemikian, hanya mereka yang sungguh mengenal fakta-faktanya.”

Maka ketiga pengarang Injil menulis tentang daerah yang sama. Kota Romawi Gerasa adalah kota yang terkenal, yang sudah dikenal oleh kaum Yunani/non-Yahudi, sedangkan Gadara ibukota dari Perea, propinsi Romawi, adalah kota utama dari kesepuluh kota di Dekapolis.[2] Kedekatan antara kedua kota mengakibatkan mereka yang tinggal di Gerasa dapat disebut orang Gadara (Gadarenes). Gambar kapal di koin uang logam kota Gadara kemungkinan menunjukkan bahwa Gadara kemungkinan membentang sampai ke danau Galilea.[3] Para penulis Injil tersebut memilih untuk mengacu kepada area yang sama, dengan cara yang berbeda.

Namun yang jelas, baik Matius, Markus dan Lukas tidak saling bertentangan saat menyampaikan kejadian ini. Mereka sama-sama mengacu kepada daerah di sekitar danau Galilea. Lagipula area persisnya tempat mukjizat ini terjadi, tidaklah menjadi sepenting pemahaman kita akan kisah kejadian ini, yaitu bahwa Kristus mempunyai kuasa atas dunia spiritual, dan Ia menyatakan kuasanya atas roh jahat tersebut.

Sedangkan apakah Yesus menyembuhkan satu atau dua orang yang kerasukan setan, juga bukanlah suatu pertentangan. Perbedaan serupa juga terjadi dalam penulisan perikop Yesus menyembuhkan seorang atau dua orang yang buta berikut ini.

 

[1] lih. Albert Barnes, Notes on the New Testament: Matthew and Mark (Grand Rapids, MI: Baker, 1949), p. 91

[2] Robert Lenski C.H, The Interpretation of St. Mark’s Gospel (Minneapolis, MN: Augsburg, 1946), p. 205; James Burton Coffman, Commentary on Mark (Abilene, TX: ACU Press), 1975, p. 85; Ronald F. Youngblood, 1995, New Illustrated Bible Dictionary (Nashville, TN: Nelson), 1995, p. 468

[3] J.W McGarvey, The Fourfold Gospel (Cincinnati, OH: Standard), p. 344; John and James Strong McClintock and Strong, Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature (Grand Rapids, MI: Baker, 1969), 3: 706

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 31, 2014  


Be the first person to like this faq.

Yang perlu kita ingat adalah waktu yang kita ketahui di dunia ini berbeda dengan yang ada di Purgatorium. Dengan demikian, sangat sulit untuk membandingkan waktu di dunia dengan waktu di Purgatorium. Selanjutnya, hanya Tuhan saja yang tahu apakah jiwa-jiwa di sana telah diangkat ke Surga atau belum. Oleh karena itu, kita dapat terus mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia, terutama kerabat ataupun sahabat kita. Kita meyakini bahwa doa-doa yang kita panjatkan tidak akan sia-sia. Kalaupun jiwa-jiwa di Purgatorium yang kita doakan telah diangkat ke Surga, maka Tuhan dapat mengarahkan doa-doa tersebut untuk membantu jiwa-jiwa yang lain yang masih ada di Purgatorium.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 31, 2014  


1 people found this faq useful.

Tentu saja kita dapat mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium, bahkan Gereja menganjurkan agar kita mendoakan mereka. Mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium merupakan salah satu bentuk kasih, karena doa-doa kita dapat membantu jiwa-jiwa tersebut, sehingga mereka dapat diangkat ke Surga. Itulah sebabnya, di dalam setiap perayaan Ekaristi, Gereja senantiasa mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium, terutama bagi mereka yang tidak didoakan oleh siapapun.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 31, 2014  


1 people found this faq useful.

Purgatorium berbeda dengan tempat Penantian atau Pangkuan Abraham (bosom of Abraham). Purgatorium adalah ‘tempat’/ keadaan di mana jiwa-jiwa dimurnikan, sedangkan Pangkuan Abraham adalah ‘tempat’/ keadaan penantian di mana jiwa-jiwa menanti untuk diangkat ke Surga oleh Kristus. Semua orang yang telah dibenarkan dan berada di Pangkuan Abraham adalah orang-orang yang telah ditentukan masuk ke Surga, namun belum dapat masuk ke dalamnya. Sebab pintu Surga belum terbuka, sebelum Kristus naik ke Surga untuk menjadi yang sulung dari segala sesuatu (lih. Kol 1:15-20), untuk membuka pintunya bagi umat beriman. Jadi, jiwa-jiwa yang telah dimurnikan dalam Api Penyucian akan masuk ke dalam Pangkuan Abraham sebelum akhirnya diangkat ke Surga oleh Kristus. Namun, setelah kenaikan Kristus ke Surga, tidak ada lagi Pangkuan Abraham, sebab semua orang yang telah sempurna dalam kasih, telah dapat masuk Surga karena Yesus telah membukakan pintunya. Sedangkan, Api Penyucian tetap ada sampai akhir zaman.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 31, 2014  


1 people found this faq useful.

Kita tahu bahwa segera setelah manusia meninggal dunia, maka dia akan diadili langsung oleh Kristus. Pengadilan ini disebut Pengadilan Khusus (lih. Ibr 9:27; Luk 16:19-31). Mereka yang meninggal dunia dalam kondisi rahmat, artinya tidak dalam dosa berat, namun belum sempurna dalam kasih, akan dimurnikan dahulu dalam Api Penyucian. Dengan demikian, Pengadilan Khusus memberikan keputusan bahwa sejumlah jiwa orang-orang yang meninggal dunia  akan masuk ke dalam Api Penyucian (atau ke Surga atau ke neraka).

Sedangkan Pengadilan Terakhir terjadi ketika kedatangan Kristus yang kedua atau akhir zaman (lih. Luk 8:17; Mat 25:32-33). Pada saat Pengadilan Terakhir ini, jiwa-jiwa di Api Penyucian yang belum terangkat ke Surga akan mendapatkan tubuh yang telah dibangkitkan dan kemudian diadili di hadapan seluruh umat manusia. Setelah itu, mereka akan masuk ke dalam Surga, tubuh dan jiwa-nya. Setelah Pengadilan Terakhir, Api Penyucian tidak ada lagi karena tidak diperlukan lagi proses pemurnian. Sebab segala sesuatu telah dinyatakan dengan sempurna, dan setiap orang telah memperoleh konsekuensi dari segala perbuatannya.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 30, 2014  


Be the first person to like this faq.

Tidak semua orang yang masuk Surga harus melalui Purgatorium. Bagi yang meninggal dalam keadaan telah sempurna dalam kasih, seperti Bunda Maria dan sejumlah santo-santa, dan orang-orang yang suci hatinya, akan langsung masuk ke Surga tanpa melalui Purgatorium. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 30, 2014  


Be the first person to like this faq.

Prinsipnya adalah, pemurnian jiwa dapat terjadi di dunia ini maupun di kehidupan setelah kematian, di Purgatorium. Dalam kasus  si pencuri ini, nampaknya pemurnian ini terjadi di dunia, yang nyata terlihat dalam penderitaannya disalibkan di sisi Yesus. Maka tetaplah contoh tersebut tidak mengubah ajaran Gereja Katolik. Keselamatan kekal diperoleh karena karunia Allah, oleh iman yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8; Gal 5:6); dan  keselamatan itu diperoleh melalui pertobatan, yang nyata dalam penerimaan Baptisan (Mrk 16:16; Kis 2:38). Dan  selanjutnya, seseorang tetap harus menjaga kekudusannya sampai akhir hidupnya di dunia, agar ia dapat  diselamatkan dan memandang Allah di Surga (Ibr 12:14).

Kasus penjahat yang bertobat yang disalibkan bersama Yesus adalah suatu contoh yang khusus/ istimewa, sebab apa yang terjadi atasnya juga begitu khusus bahkan langka. Sebab ia- lah satu-satunya orang yang bertobat menjelang ajal, ketika sedang disalibkan bersama Yesus. Maka sekalipun tidak menerima sakramen Baptis, ia menunjukkan  kerinduan akan Pembaptisan, yang tetap menghasilkan baginya buah-buah Pembaptisan (lih. KGK 1258). Penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih yang ditunjukkannya kepada Yesus sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat ia terima melalui Sakramen Baptis (lih. KGK 1259). ‘Firdaus’, paradise atau dalam bahasa Yunani adalah parádeisos, yang salah satunya dapat diartikan sebagai satu ‘tempat’ bagi orang-orang beriman yang meninggal dunia sebelum kebangkitan Kristus. ‘Tempat’ ini disebut juga sebagai limbo of the just, the bosom of Abraham (Luk 16:23) atau terjemahannya, pangkuan Abraham, atau Hades (tempat penantian). Semua jiwa yang berada di tempat ini, akan menuju ke Surga secara langsung setelah kebangkitan Kristus. Dalam Syahadat Aku Percaya, kita mengatakan, bahwa kita percaya akan Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal, …. “yang disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati….” Dalam jangka waktu tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus datang ke tempat penantian untuk memberitakan wahyu Tuhan secara lengkap kepada jiwa-jiwa yang berada di sana. Di tempat penantian inilah si penjahat yang bertobat itu ada bersama Yesus pada hari itu, sebelum akhirnya Yesus membawanya ke Surga.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 29, 2014  


1 people found this faq useful.

Tidak. Ini adalah kabar gembira! Semua jiwa yang ada di Purgatorium, setelah mengalami pemurnian dan pada ‘saat’ yang dipandang tepat oleh Allah, akan dibebaskan dari Purgatorium dan hanya mempunyai satu tujuan: Surga. Jadi, tidak mungkin jiwa-jiwa di Purgatorium dapat masuk ke neraka.

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 29, 2014  


Be the first person to like this faq.

Purgatorium bukanlah semacam kesempatan kedua bagi umat Allah. Dalam suatu pengadilan khusus, setiap orang menerima hasil penghakiman yang menentukan ganjaran bagi jiwanya pada saat kematiannya. Katekismus (KGK 1022) mengajarkan, “Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan Surgawi ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya. “Pada malam kehidupan kita, kita akan diadili sesuai dengan cinta kita” (Yohanes dari Salib, Dichos 64).

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 29, 2014  


1 people found this faq useful.

Kita percaya akan kesempurnaan karya penebusan Kristus, karena karya tersebut dilakukan oleh Kristus yang adalah sungguh Allah. Kristus melakukannya atas dasar kasih yang sempurna, sampai rela menyerahkan nyawa- Nya untuk kita sahabat-sahabat-Nya (lih. Yoh 15:13). Namun, kesempurnaan penebusan Kristus tidak menjadikan kita, umat-Nya cukup berpangku tangan saja. Sebaliknya,  kita dipanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah (lih. 1Kor 3:9). Rasul Paulus bahkan mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).  Jadi, walaupun karya penebusan Kristus sungguh sempurna, namun kita semua dipanggil untuk turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk pertumbuhan Gereja. Inilah sebabnya, seluruh umat Allah juga turut dipanggil untuk mendoakan anggota-anggota Gereja yang masih berada di dalam proses pemurnian di Purgatorium.

Alasan berikutnya adalah, karena kesempurnaan penebusan Kristus tidak otomatis diiringi dengan kesempurnaan kasih umat yang ditebus-Nya, yang harus diwujudkan dengan kasih kepada Allah dan sesama. Padahal, sudah menjadi kebijaksanaan ilahi bahwa Surga adalah kesempurnaan kasih. Dan karena Allah itu sempurna adanya, maka untuk bersatu dengan-Nya, kita-pun harus sempurna (lih. Mat 5:48). Dengan demikian, orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat, namun belum sempurna dalam kasih, masih perlu dimurnikan terlebih dahulu, sebelum dapat bersatu dengan Allah di Surga. Pemurnian ini disebut Purgatorium. Dengan demikian, Purgatorium bukanlah mencerminkan ketidaksempurnaan penebusan Kristus, namun sebaliknya,  justru menunjukkan kesempurnaan karya ilahi yang menyempurnakan manusia dari dalam sehingga pada saatnya, orang-orang pilihan ini dapat menjadi kudus seperti Kristus (lih. 1Yoh 3:2).

Stefanus Tay & Ingrid Tay   Oct 29, 2014  


Be the first person to like this faq.

20

Keutamaan Petrus (5): Dalam Gereja di Lima Abad Pertama

Dengan melihat kepada kehidupan Gereja di lima abad pertama, kita dapat melihat dengan jelas tentang peran Rasul Petrus dan para penerusnya untuk memimpin dan mengajar jemaat. Pengingkaran akan hal ini dapat dikatakan sebagai pengingkaran sebuah fakta.

43

Apa artinya menjadi Katolik?

“Kamu masih Katolik?” Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh…

8

Dari mana asalnya Kitab Suci?

Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau…

0

Bunda Maria, Model Evangelisasi

Apa itu Evangelisasi? Cara yang paling sederhana untuk memahami apakah arti evangelisasi, adalah mengacu kepada pengajaran Paus Paulus VI tentangnya.…