Perjumpaan Iman dan Akal Budi

19

“Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah…dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa” (Kis 17:17-18)

 

Kalimat di atas menunjukkan bahwa sejak zaman para Rasul: awal pewartaan iman kristiani telah terjadi perjumpaan iman dengan aliran-aliran filsafat yang berkembang saat itu. Dalam teks Kis. 17:17-18 diperlihatkan bagaimana mereka mengadakan diskusi tentang iman dan akalbudi (ilmu pengetahuan) untuk mencari kebenaran. Para rasul dan jemaatnya berdiskusi bahkan berdebat dengan para ahli filsafat seperti Stoa dan Epikuros.

Ilmu membebaskan dari ketakutan (Epikuros)

Epikuros adalah seorang filsuf Yunani yang dilahirkan tahun 341 SM. Epikuros berbeda dengan Aristoteles yang mengutamakan penyelidikan ilmiah. Epikuros menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dan penyelidikan ilmu yang sudah dikenal sebagai alat untuk membebaskan manusia dari ketakutan agama. Ketakutan terhadap agama dimaksud adalah adanya rasa takut kepada dewa- dewa yang ditanam dalam hati manusia oleh agama orang Yunani lama. Menurut Epikuros ketakutan kepada agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Jadi aliran filsafat Epikuros diarahkan kepada satu tujuan memberikan jaminan kebahagiaan kepada manusia. Bagi Epikuros logika melihat kehidupan adalah semua yang kita pandang/ lihat itu adalah benar. Logika harus melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria tentang apa itu kebenaran. Pandangan adalah kritetia yang paling tinggi untuk menentukan kebenaran. Kebenaran dicapai dengan pemandangan dan pengalaman. Pemikiran kedua Epikuros adalah fisika. Teori fisika diciptakan oleh manusia untuk membebaskan manusia dari kepercayaan sia-sia kepada dewa-dewa. Dia berpendapat bahwa dunia ini bukan dijadikan dan dikuasai oleh dewa-dewa melainkan oleh gerakan hukum fisika. Segala yang terjadi dan dipandang di dunia ini disebabkan oleh penyebab kausal dan mekanis. Manusia harus merdeka menentukan nasibnya sendiri dan tidak dikuasai oleh dewa-dewa. Epikuros dalam Kisah Para Rasul itu berdebat dengan orang beriman soal kehadiran Allah. Epikuros dengan tegas mengajarkan bahwa manusia sesudah mati tidak hidup lagi (bertentangan dengan paham iman Kristiani yang percaya adanya kebangkitan orang-orang mati). Hidup adalah peristiwa yang sementara saja yang tidak bernilai harganya, maka hidup ditujukan untuk mencari kesenangan. Pemikiran ketiga dari Epikuros adalah etik. Ajaran etik tidak terlepas dari ilmu fisika yang ia ciptakan. Pokok ajaran etikanya adalah mencari kesenangan hidup, yang diartikan sebagai kesenangan ragawi dan kepuasan batin.

Penyempurnaan moral manusia (Stoa)

Stoa dalam Kisah para rasul 17:17-18 adalah seorang filsuf Yunani yang hidup tahun 340 SM. Dia seorang saudagar yang belajar filsafat di akademi dibawah pimpinan Xenocrates murid Plato yang terkenal. Stoa artinya ruangan, karena di ruangan penuh ukiran dia mengajarkan pelbagai ilmu pengetahuan. Tujuan utama dari ajaran Stoa adalah menyempurnakan moral manusia. Pokok ajaran filsafat Stoa adalah bagaimana manusia hidup selaras dengan keharmonisan dunia sehingga kebajikan adalah akal budi yang lurus. Akal budi yang sesuai dengan keselarasan/ keharmonisan dunia. Pada akhirnya manusia akan mencapai citra hidup manusia yang bijaksana yaitu hidup sesuai dengan jalan pikir alam semesta. Tentang logika, pemikiran Stoa tidak jauh berbeda dengan Epikuros yakni untuk memperoleh kriteria tentang kebenaran. Kebenaran adalah pemandangan yang menggambarkan barang yang dipandang sehingga orang yang memandang itu membenarkan dan menerima isi yang dilihatnya. Fisika kaum Stoa memberi pelajaran tentang alam tetapi juga tentang Teologi. Tentang etik Stoa, ini adalah inti dari filsafatnya. Maksud etiknya adalah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian melaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Kemerdekaan moral seseorang adalah dasar dari segala etik Stoa.

Iman dan Akal budi saling melayani

Pengetahuan kodrati dari Epikuros dan Stoa dapat menjerumuskan manusia ke dalam paham atheis, dengan pandangan mereka yang menolak adanya paham kebangkitan orang-orang mati. Epikuros dan Stoa memiliki pandangan yang hedonis, yaitu mencari kesenangan badani dalam hidup, dan ini berlawanan dengan ajaran iman kristiani. Sebagai umat kristiani kita tidak boleh melupakan dua hal pokok menanggapi pelbagai kemajuan akal budi manusia yakni pengertian kodrati akan Allah dan suara hati nurani. Seperti ditulis dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma. “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka… Apa yang tidak nampak dari pada-Nya yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1: 19-20). Perjumpaan akal budi (pengetahuan) dalam aliran filsafat sejak Gereja perdana dengan Teologi (pewartaan iman Kristiani) menjadi penting untuk disimak. Pemikir Kristiani bersikap kritis dalam menjawab gagasan filsafat Yunani. Adalah Origenes [Bapa Gereja di abad ke-2] yang menggunakan filsafat Platonis untuk menyusun argumen dan bentuk teologi Kristiani. Dia unggul dalam menangkis serangan filsuf Yunani dengan gagasan Teologi yang bernalar rasional. Kebenaran ilmu pengetahuan bertumpu pada akal budi tetapi teologi Kristiani bertumpu pada wahyu Kristiani. Kebenaran kristiani membawa penyelamatan dan berpuncak pada pewahyuan tentang Kristus. Karena itu perjumpaan ilmu pengetahuan (akal budi) dan pemahaman akan Allah (Teologi) harus saling melayani dan mendukung. Sebab jika tidak, keduanya akan menuai kepicikan dan ketimpangan ilmu yang bertujuan untuk kesejahteraan dan kebaikan umat manusia.

Share.

About Author

Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

19 Comments

  1. Selamat malam, saya mau bertanya.

    Menurut saya Iman dan akal budi/pengetahuan adalah hal yang bertentangan. Pemahaman saya kira-kira begini. Dengan memiliki Ilmu Pengetahuan maka sebenarnya manusia telah mencoba masuk kedalam kerja Allah itu sendiri. Dengan memanfaatkan Pengetahuaannya, manusia telah mencoba untuk menyamai Allah.

    Hal yang paling sesuai adalah dengan Pengetahuan tentang makhluk hidup. Iman mengajarkan bahwa Kehidupan berasal dari Allah, dan kehidupan terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Tapi dengan pengetahuan manusia telah mampu menciptakan manusia, manusia mampu mempertemukan sel telur dan sel sperma, dikondisikan sedemikian sehingga terjadi pembuahan dan akan terus berkembang menjadi manusia. Bahkan manusia telah mampu membuat makhluk hidup dari hasil kloning. Bukankah ini salah satu contoh usaha manusia untuk mengetahui bagaimana Allah bekerja dalam memberikan kehidupan kepada umatnya? Bukankah ini berarti manusia telah berusaha mencoba untuk menyamai dan mencontoh Allah?

    Juga ilmu yang membahas tentang asal mula kehidupan, contohnya teori evolusi, teori bigbang dan semacamnya. Iman mengajarkan bahwa Allah yang menciptakan semua yang ada di muka ini. Tapi dengan pengetahuan manusia telah mencoba mengetahui bagaimana Allah bekerja, manusia mencoba mengetahui bagaimana Allah menciptakan dunia ini. Menurut saya, ini juga adalah usaha manusia untuk menyamai dan mencoba menjadi seperti Allah.

    —-
    Ketika manusia jatuh dalam dosa, dijelaskan bahwa manusia telah memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jaahat. Sejak saat dijelaskan manusia menjadi sadar dan tahu bahwa telanjang itu adalah hal yang salah. Dalam Kejadian 3:22, Allah mengakui bahwa manusia telah menajdi seperti Allah, yaitu manusia tahu tentang yang baik dan yang salah. Manusia diusir dari taman Eden supaya manusia tidak juga memakan buah dari pohon kehidupan, yang mana yang membuat manusia akan benar-benar sama seperti Allah. Karena jika manusia memakan buah dari pohon kehidupan manusia akan hidup selama-lamanya.

    Bagaimana kalau saya berpendapat bahwa hal inilah yang sebenarnya dipelajari manusia dengan Ilmu pengetahuannya. Memang ilmu pengetahuan manusia saat ini belum mampu untuk menjadikan manusia hidup selama-lamanya, tapi menurut saya, pada tingkat tertinggi manusia akan mampu melakukan hal tersebut. Semakin canggih dan maju pengetahuan manusia, jika kelak dunia belum kiamat, maka sangat mungkin nanti ditemukan solusi bagaimana membuat manusia tetap hidup.

    Menurut pemahaman saya, pengetahuan adalah usaha manusia untuk menyamai Allah. Pengetahuan adalah cara menjadi sama seperti Allah tanpa memakan buah dari pohon kehidupan yang dulu ada di taman Eden.

    Tapi memang saya sadar, bahwa tidak semua ilmu pengetahuan untuk menyamai Allah. Misalnya bahan-bahan elektronik, itu biasanya digunakan untuk membantu dan mempermudah kehidupan manusia. Tapi jika ilmu pengetahuan itu membahas/meneliti tentang kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia, saya sering melihatnya sebagai usaha untuk menyamai Allah, sesuai penjelasan saya yang diatas.

    Ataukah kita mungkin seharusnya membatasi pengetahuan manusia? Maksudnya, diperbolehkan belajar tentang pengetahuan, tapi tidak diperbolehkan jika itu bisa menjadi sarana untuk menyamai Allah. Tidak boleh belajar tentang hal tertentu, karena pengetahuan seperti contoh yang saya jelaskan diatas bisa membuat manusia menyamai dan kurang menghormati Allah.

    Terima kasih.
    Mohon tanggapannya.
    Semoga kita bisa menempatkan pengetahuan dengan benar pada posisinya. Amin

    • Shalom Donny,

      Iman dan akal budi tidak bertentangan, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya sebagai berikut:

      KGK 159.    Iman dan ilmu pengetahuan. “Meskipun iman itu melebihi akal budi, namun tidak pernah bisa ada satu petentangan yang sesungguhnya antara iman dan akal budi: karena Allah sama, yang mewahyukan rahasia-rahasia dan mencurahkan iman telah menempatkan di dalam roh manusia cahaya akal budi; tetapi Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri, dan tidak pernah yang benar bisa bertentangan dengan yang benar” (Konsili Vatikan I: DS 3017). “Maka dari itu, penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan dengan sungguh ilmiah dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan, tidak akan pernah sungguh bertentangan dengan iman karena hal-hal profan dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama. Bahkan barang siapa dengan rendah hati dan dengan tabah berusaha menyelidiki rahasia-rahasia alam, kendati tanpa disadari pun ia bagaikan dituntun oleh tangan Allah yang melestarikan segala sesuatu dan menjadikannya sebagaimana adanya” (GS 36,2).

      Dengan kata lain, ilmu pengetahuan tidaklah bertentangan dengan iman, selama bisa dilihat dalam konteks yang benar. Iman menyelidiki “first / prime cause“, sedangkan ilmu pengetahuan menguak “secondary cause“.

      Namun, memang penyelidikan-penyelidikan kloning manusia menjadi satu contoh akan penerapan ilmu pengetahuan yang kebablasan. Penyelidikan ini menjadikan manusia bukan lagi sebagai “pribadi” namun menjadi produk pabrikan. Kalaupun suatu saat terjadi manusia kloning, maka kita dapat mengatakan bahwa tetap saja Tuhan yang memberikan jiwa kepada manusia. Hanya Tuhan sendiri yang dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada (ex-nihilo). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Terima kasih Pak Stef atas tanggapannya.

        Kita orang yang beriman memang mengakui dan mempercayai bahwa hanya Tuhan sendiri yang mampu menciptakan sesuatu dari yang tiada(ex-nihilo), tapi apakah ilmu pengetahuan berterima dengan hal itu? Saya pikir tidak, saat ini sudah banyak diskusi dan penelitian yang membahas hal tersebut. Semakin lama nanti, saya yakin manusia akan bisa mengetahui hal tersebut. Karena menurut saya, manusia selalu mencoba untuk mengetahui rahasia Tuhan dengan ilmu pengetahuan.

        Contohnya lagi saya sudah jelaskan diatas, seperti awal kehidupan individu. Bagaimana pun juga, seperti itulah awal kehidupan setiap manusia saat ini. Kita percaya Allah yang memberikan kehidupan, ya seperti itulah cara Allah memberikan kehidupan.

        Saya masih tetap melihat di beberapa hal, ilmu pengetahuan adalah untuk mengetahui rahasia Tuhan.

        • Shalom Donny,

          Pada akhirnya, kalau kita melihat, ilmu pengetahuan akan mengakui bahwa sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan penyebabnya tidak mungkin “nothingness” atau ketidakadaan. Ketidakadaan hanya dapat menghasilkan ketidakadaan dan tidak dapat menghasilkan keberadaan. Oleh karena itu, kalau seseorang ingin mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini dapat terjadi dengan sendirinya, maka orang tersebut harus menjelaskan bagaimana keberadaan terjadi dari ketidakadaan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Memang untuk saat ini, manusia belum mampu menjelaskan dengan baik bagaimana keberadaan berawal dari ketiadaan. Tapi perlu kita sadari juga bahwa para ilmuwan memang sudah mencoba untuk memikirkan hal tersebut. Kenudian juga tidak ada hal yang menjamin bahwa manusia tidak akan pernah mampu menjelaskan hal tersebut.

            Terlepas dari manusia bisa menjelaskan hal diatas atau tidak, saya melihat memang manusia mencoba untuk mengetahui rahasia-rahasia Allah, manusia mencoba mempelajari dan mengetahui bagaimana Allah bekerja di berbagai proses di sekitar kita. Saya sudah memberikan contohnya dikomentar sebelumnya.

            Padahal sesuai dengan penjelasan Bapa Thomas Aquinas, manusia pertama kali jatuh dalam dosa adalah karena kesombongan untuk ingin menjadi sama seperti Allah. Dalam Alkitab dijelaskan dengan sederhana, manusia pertama melakukannya hanya dengan memakan buah dari pohon pengetahuan. Hal yang sama namun dalam cara yang berbeda saya lihat terjadi saat ini. Manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi secara perlahan-lahan terus berkembang hingga kemudian menurut saya ada kemungkinan nanti menjadi sama seperti Allah.

            Faktanya lagi, beberapa orang yang kemudian merasa tidak perlu untuk mengakui keberadaan Tuhan adalah karena mereka telah merasa hebat dengan ilmu pengetahuan yang dipahaminya. Bagaimana jika saya menganggap ilmu pengetahuan merupakan karya iblis? Ilmu pengetahuan, langsung atau tidak langsung mencoba membuat manusia ragu dengan keberadaan Tuhan. Banyak orang yang menjadi mempertuhankan ilmu pengetahuan.

            Saya pribadi lebih setuju jika ilmu pengetahuan adalah bagian dari iblis, ilmu pengetahuan adalah bagian dari dunia. Dunia disini sesuai dengan istilah “dunia” yang sering disebutkan Yesus, salah satu contohnya dalam Yohanes 15:18. Hal ini menurut saya kemudian menjadi tantangan bagi kita umat beragama. Kita tidak boleh terlalu mempertuhankan ilmu pengetahuan. Memang dalam dunia sehari-hari kita juga harus mempunyai ilmu pengetahuan, dan satu sisi lagi kita juga harus menjadi umat yang beriman.

            • Salam Donny,

              Tidak ada yang dapat menjelaskan dari ketidakadaan dapat menghasilkan keberadaan. Logic manusia tidak dapat menjelaskan hal ini.

              Mencoba mengetahui rahasia Allah, dalam pengertian untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa melanggar nilai-nilai moralitas yang baik sebenarnya baik. Kita juga menikmati hasil dari ilmu pengetahuan, seperti teknologi internet, sehingga kita dapat berdiskusi di dunia internet. Jadi, ilmu pengetahuan bukanlah bagian dari iblis. Bahkan pada abad pertengahan dan sampai sekarang banyak ilmuwan juga berasal para pastor. Tentu saja ketika kita mentuhankan ilmu pengetahuan, maka itu menjadi berdosa. Jadi, yang penting kita menempatkan semuanya pada tempat yang semestinya: Pencipta sebagai pencipta dan ilmu pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • Terima kasih Pak, atas penjelasannya.

                Point yang saya ambil adalah mengetahui tujuan daripada ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu untuk kesejahteraan/kebaikan hidup manusia. Sekalipun Ilmu pengetahuan memang sedikit mencoba mengetahui rahasia Allah, itu tidak masalah, asal dimanfaatkan dan dipahami dengan benar.

                Ilmu pengetahuan bukan bagian dari iblis, tapi mungkin, kadang ilmu pengetahuan dimanfaatkan oleh iblis yang menjadikan manusia mempertuhankan ilmu pengetahuan.

                Terima kasih.
                Tuhan memberkati kita semua.

      • δυνάμεις του Χριστού on

        Salam Sejahtera admin yang baik. ada pertanyaan yang mengganjal di hati saya. begini duduk persoalannya. ada teman saya dari kristen yang bertanya kepada saya bahwa penglihatan st. malachy tentang nasib dari gereja katolik dan itu sudah tertulis di dalam kitab wahyu. apakah benar yang dikatakan teman saya itu. saya tidak bisa berargumen dengan dia kerena pengetahuan saya yang terbatas. Terima kasih

        • Shalom δυνάμεις του Χριστού,

          Menurut saya, silakan Anda meminta kepada teman Anda untuk memberikan penjelasan akan penglihatan St. Malachy dan Kitab Wahyu. Dua hal tersebut kalau terlalu dihubung-hubungkan menjadi satu hal yang terlalu dicari-cari. Bagaimana menghubungkan suatu nubuat yang belum tentu benar dengan Kitab Suci yang sudah pasti benar? Anda dapat membaca tentang nubuat St. Malachy di sini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam kasih Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • δυνάμεις του Χριστού on

            Terima kasih pak admin, sekarang saya lebih memahami bahwa kita harus berpegang pada sumber kebenaran yakni Kitab Suci dan tidak mempercayai ramalan yang belum tentu benar adanya dan bahkan sudah dirubah juga isinya.

  2. Bagaimana mwngenai adanya tanggapan yang menyatakan bahwa orang Kristen semakin meninggalkan agamanya justru menjadi semakin pintar, sedangkan semakin kuat imannya justru membuat ia semakin bodoh? Hal ini ditunjukkan dengan peradaban Eropa dimana pada saat Gereja begitu berkuasa atas kehidupan bermasyarakat, justru masyarakat Eropa hidup dalam keadaan yang kurang berpendidikan dan ini berbeda ketika mereka mulai meninggalkan Gereja dan menjadi lebih sekuler dimana mereka menjadi semakin pintar dan ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat seperti sekarang ini.

    • Shalom Ratio,

      Kita seharusnya melihat sejarah umat manusia juga sebagai proses perkembangan peradaban manusia. Dengan sudut pandang ini kita melihat proses perkembangan sejarah manusia, dari zaman batu, sampai ke peradaban yang maju seperti sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri, dalam perkembangan peradaban ini, ajaran Kristiani memegang peranan penting, sebagaimana pernah kami ulas sekilas di sini, silakan klik.

      Sejarah juga membuktikan bahwa para ilmuwan di abad pertengahan sampai ke abad 16-17, yang banyak memberikan dasar/ prinsip ilmu pengetahuan bagi perkembangan sains zaman ini, banyak yang datang dari kalangan Kristiani. Para imam dan rahib  banyak yang terlibat aktif dalam perkembangan ilmu pengetahuan, baik dalam hal biologi, kedokteran, metalurgi, astronomi, dst. Silakan Anda klik di Wikipedia atau membaca di ensiklopedia tentang tokoh-tokoh ini. Tanpa perletakan dasar-dasar ilmu pengetahuan di abad-abad tersebut, tentu catatan sejarah perkembangan sains tidak terjadi seperti sekarang ini. Maka kita tidak dapat mengabaikan peran mereka. Kenyataan tersebut justru membuktikan bahwa iman dapat tumbuh sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan begitu pula sebaliknya. Kemajuan ilmu pengetahuan di zaman ini tak terlepas dari perletakan dasar-dasar dan prinsipnya yang merupakan hasil penemuan di zaman sebelumnya. Ibaratnya, seorang insinyur atau dokter ahli yang telah sukses, selayaknya tidak mengabaikan peran guru TK, SD, SMP, SMA-nya yang turut menghantarkan dia sampai kepada kesuksesannya. Jika tidak, maka ia seperti pepatah, “ibarat kacang lupa akan kulitnya.”

      Bukan bagian kami di Katolisitas untuk mengadakan survey di kalangan para ahli science di zaman ini, untuk melihat apakah banyak dari antara mereka adalah orang yang beragama atau tidak. Biarlah survey ini diadakan oleh orang-orang lain yang lebih berkompeten untuk itu. Tetapi satu hal yang pasti, masih banyak orang yang terpelajar di negeri ini, ataupun di bagian dunia yang lain, yang juga adalah orang beragama. Hal sekularism memang marak di negara-negara maju, dan ini memperihatinkan, tetapi fakta ini tidak otomatis menihilkan peran agama dalam membentuk peradaban manusia. Nah peradaban manusia ini tidak hanya tergantung dari ilmu pengetahuan saja, tetapi juga moral dan etika. Dan hal moral dan etika ini tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama. Oleh nilai-nilai luhur inilah, manusia mengetahui bahwa jika ia sungguh manusia yang beradab, selayaknya menjunjung tinggi martabat dan perkembangan manusia (sehingga memperjuangkan keadilan sosial dan pendidikan dan hidup saling menghormati dan saling tolong menolong), menjunjung tinggi makna perkawinan (sehingga menolak seks bebas, pornografi, dan perkawinan sesama jenis), dan tidak menganiaya dan membunuh sesama manusia, (termasuk di dalamnya aborsi, euthanasia, bunuh diri dan perang). Hal ini tidak dapat dicapai hanya jika orang menekankan ilmu pengetahuan saja. Sebab ilmu pengetahuan itu adalah juga untuk dikembangkan demi kebaikan sesama umat manusia, bukan hanya untuk kalangan terbatas, sehingga membuat orang menjadi egois, mengejar keuntungan pribadi/ kelompoknya sendiri dan mengabaikan kepentingan sesamanya yang lebih lemah/ berkekurangan. Hanya dengan dasar moral dan etika yang terbentuk dari iman, segala kemajuan ilmu pengetahuan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya untuk memajukan kepentingan bersama. Dan inilah tantangan bersama manusia modern di zaman ini pada umumnya, dan tantangan umat beriman, pada khususnya: yaitu untuk menjadikan dunia menjadi semakin manusiawi, dan bukan hanya menjadi semakin ‘ilmuwi’. Inilah seruan yang terus didengungkan oleh Gereja, baik melalui Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (Gereja di dunia dewasa ini), klik di sini, dan juga melalui surat ensiklik Paus Benediktus XVI, Caritas in Veritate (Kasih dan Kebenaran), klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Syalom,
    Sangat menarik untuk memahami perjumpaan akal budi dan iman. Terlebih lagi perjumpaan yang terjadi untuk saling melayani, demi Kemuliaan Tuhan.
    Rasa ingin tahu saya membawa saya untuk memahami lebih jauh tentang cara kerja keduanya.
    Pemahaman saya, adalah jika keseluruhan alam semesta ( struktur, logika, hukum, dll ) dapat dipetakan ke dalam otak manusia, maka alam semesta dapat dipahami secara keseluruhan oleh umat manusia.

    Sedangkan jika kepenuhan Allah / keseluruhan Allah (struktur Nya, logika, intinya, hukum, dll. ) tidak dapat dipetakan ke dalam otak manusia, maka Allah tak dapat dikenal / dimengerti dengan baik oleh umat manusia.
    Pertanyaan saya bagaimanakah peranan Roh Kudus sehingga dapat mengimbangi peranan keduanya, sehingga terdapat harmonisasi kemakmuran.

    Salam sejahtera,

    Pardohar

    • Shalom Pardohar,

      Prinsipnya, Allah itu tidak terbatas, sedangkan mahluk ciptaan-Nya itu adalah terbatas. Maka manusia tidak akan mampu memetakan keseluruhan Allah ke dalam pemikirannya yang terbatas. Kita mengenal kisah ini seumpama pengalaman yang dialami oleh St. Agustinus pada saat ia berusaha menyelami realitas Allah Tritunggal Maha Kudus. Namun demikian, walaupun selalu ada unsur misteri dalam diri Allah, namun karena manusia telah diberi iman dan akal budi oleh Allah, maka Allah memampukan manusia untuk menangkap kebenaran tentang diri-Nya itu, melalui apa yang diwahyukan-Nya dalam Sabda ilahi-Nya. Sabda Allah ini kita ketahui dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan ajaran Magisterium Gereja. Pemahaman manusia akan Sabda Allah ini berkembang, sejak saat kita kecil sampai dewasa, juga sejak kita dibaptis sampai nanti kita wafat. Dalam perkembangan ini pentinglah peran Roh Kudus. Roh Kudus ini telah diberikan oleh Yesus kepada para rasul-Nya (Yoh 20:22) dan Gereja-Nya (lih. Kis 2) pada saat Pentakosta (lih. Kis 2), dan Roh Kudus ini terus menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20). Kita menerima Roh Kudus ini saat Pembaptisan. Dalam pimpinan Roh Kudus itulah umat beriman akan sedikit demi sedikit dipimpin kepada seluruh kebenaran yang dikehendaki oleh Allah.

      Kitab Suci mengatakan tentang Roh Kudus itu, yang adalah Roh Kebenaran demikian:

      “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yoh 16:13)

      Dengan demikian kita percaya bahwa walaupun pengetahuan kita tentang Allah terbatas, namun jika kita terus mendengarkan apa yang diajarkan oleh Roh Kudus, sebagaimana yang dipercayakan kepada para rasul dan para penerus mereka, maka kita akan dibimbing oleh Allah sendiri untuk semakin memahami Dia. Sebab manusia dengan mengandalkan kodratnya sendiri, tidak akan mampu memahami Allah. Maka manusia perlu menyerahkan diri ke dalam pimpinan Allah sendiri, yang bekerja melalui Gereja, yang meneruskan pengajaran para Rasul.

      Sebab Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya:

      “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16)

      Jika seseorang menerima kebenaran ini, yaitu bahwa Kristus mempercayakan pemberitaan tentang Dia kepada para rasul, dan kuasa untuk mengajarkan Sabda Tuhan juga kepada mereka (lih. Mat 16:17-19; 18:18) maka ia tidak akan menemui kesulitan untuk menerima bahwa untuk lebih mengenal Allah, ia perlu mendengarkan apa yang diajarkan oleh Gereja yang mewartakan kebenaran itu, yang dipercayakan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • syalom,
        terimakasih ibu Ingrid atas jawabannya. Kesimpulan saya sementara ini, bahwa sesungguhnya saya tidak mengenal Tuhan, kalau bukan Tuhan sendiri yang menyatakan siapakah Dia.

        [Dari Katolisitas: …. Kita mengenal Tuhan karena Tuhan menyatakan kepada kita Siapakah Diri-Nya, dan kita atas kehendak bebas kita, mau menerima pernyataan itu sebagai kebenaran yang secara prinsip dapat kita terima dengan akal budi. Inilah pengertian iman, yang adalah pemberian Allah, namun diterima/ ditanggapi dengan ketaatan oleh akal budi manusia yang menerimanya (lih. Konsili Vatikan II, Dei Verbum, 5).]

        Semoga Roh Kudus menambahkan iman saya akan kebenaran logos itu.

        Salam Sejahtera,
        Pardohar

  4. Thomas Soeharto.7 Maret 1950 on

    Salam perkenalan Romo,
    Saya merasakannya dalam kehidupan ini, bahwa “Iman dan akal budi saling melayani” jika apa pun yang kita kerjakan, diniatkan untuk melayani Nya, Iman akan bekerja lebih dahulu “menentukan arah kerja yang benar” (tidak coba2 lagi), baru akal budi bekerja dengan segala ilmu, pengetahuan yang ada pada kita secara “power full”. Saya beberapa kali mengalami moment nya “terbalik”, ber encana dengan “akal” yang saya miliki, tanpa “berserah diri” dulu (maksud saya berdoa dulu…,), dalam pelaksanaan “cape sekali” Romo…sejak sadar…., berdoa Bapa Kami….(saja…) dulu, dan dalam pelaksanan pekerjaan sesulit apa pun , kita dapat jalani. Itu ….Romo yang pernah saya alami. Salam; Thomas Soeharto.

  5. Paulus Prana on

    Matur nuwun Romo atas artikelnya yang menarik.

    Kesadaran semacam ini sekali lagi mempertegas bahwa Yang Terbaik bagi Hidup Manusia adalah EQUILIBRIUM (Kesetimbangan).
    Dari artikel tsb, Romo menggugah kesadaran kita dengan premis-premis sbb:
    1. Iman dan Akal Budi (pengetahuan) keduanya adalah hal yg bermanfaat
    2. Tapi, harus ada equilibrium yang tepat dalam perjumpaan keduanya agar resultant nya positif, bukannya sebaliknya.
    3. Akal Budi membabi-buta tanpa Iman, dan Iman membabi-buta tanpa Akal budi –> resultan negatif

    Konsep semacam ini, yang pertama kali diungkapkan seorang akademisi / filsuf dari Cina yg bernama Konfusius, ratusan / ribuan tahun sebelum Plato, ternyata sangat applicable dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

    Dari yang paling sederhana:
    Keseimbangan YIN dan YANG –> sesuai dengan 3 premis di atas
    bahkan konsep equilibrium Yin-Yang ini jg merupakan Pokok Dasar Ilmu Pengobatan Tradisional Cina, yaitu Homeostasis, yang sudah berkembang ribuan tahun sebelum ilmu kedokteran Eropa yg kita kenal skrg.

    Bahkan Hukum Fisika, Kimia, Biologi, dan lainnya ternyata juga kembali pada konsep equilibrium ini, misal:
    1. Newton: Hukum Aksi – Reaksi
    2. Reaksi Kimia: Hukum Kesetimbangan Reaksi
    3. Hukum Kekekalan Energi: dimana Total Sum energi itu sama, hanya berubah-ubah equilibrium dari berbagai bentuk energi –> dimana perbedaan titik equilibrium bisa menghasilkan impact yang amat jauh berbeda (misal damai atau perang)
    4. Ilmu Kedokteran: sdh dijelaskan di atas
    5. Ilmu lingkungan: Ekosistem yg baik: adalah Equilibrium dari peran & fungsi berbagai mahluk hidup dalam rantai makanan tsb. Kalau ada satu aja yg Under Populated atau Over populated, maka ekosistem tersebut berpotensi Rusak.
    6. dan lain-lain..

    Bahkan, dalam konteks amat mikro, hidup kita sehari hari di keluarga:
    Relasi Suami-istri yang terbaik adalah ketika bisa menemukan equilibrium peran & fungsi masing-masing, dimana titik Equi-nya bisa jadi berbeda-beda antara satu keluarga dan yg lainnya.
    Salah satu Suami atau Istri yg ekstrim dominan / ekstrim pasif biasanya berakibat negatif thd keluarga tsb.

    Note: Equilibrium mohon jangan disederhanakan sebagai fifty-fifty, tetapi sbg Titik Kesetimbangan Dinamis yang Tidak Mengabaikan elemen-elemen komplementer-nya.

    Just to share my thought.. that s all.
    Berkah Dalem,
    Paulus Prana