Perjalanan Hidup Panggilanku

80

Pengantar dari Katolisitas :

Terima kasih kepada Fr. Yudi yang telah berkenan membagikan kisah pengalaman hidupnya tentang liku- liku perjalanan imannya yang membawanya ke seminari Karmelit di Malang, Jawa Timur. Tuhan memang mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan setiap anak- anak-Nya, teristimewa dalam kehidupan Fr.Yudi yang telah berani menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup membiara untuk menjadi seorang imam. Memang ada banyak tantangan yang harus dihadapi, namun kita percaya bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya dalam kehidupan Fr. Yudi, akan juga membimbing Frater untuk selanjutnya, dan selamanya.

Mari bersama sebagai sesama anggota Tubuh Kristus, kita mendoakan Fr. Robertus Yudi Kristianto, agar niatannya untuk menjadi seorang imam dapat terpenuhi. Semoga melalui kesaksian hidupnya ini, banyak orang muda dapat terdorong untuk menanggapi panggilan Tuhan yang istimewa ini: yaitu untuk memberikan kasih yang total kepada Allah dan kepada sesama.

Kehidupan awal

Sebelum memulai cerita mengenai perjalanan hidup panggilan saya, perkenankan saya memperkenalkan diri saya terlebih dulu. Nama saya Robertus Yudi Kristianto. Saya anak pertama dari dua bersaudara, dilahirkan di Jakarta 24 tahun yang lalu. Saat ini saya berada di Malang, Jawa Timur, untuk menempuh pendidikan sebagai seorang Karmelit (frater Ordo Karmel). Cerita perjalanan hidup panggilan saya akan saya kisahkan sejak masa kecil hingga sekarang.

Saya dilahirkan di dalam sebuah keluarga yang cukup sederhana. Kedua orang tua saya adalah orang Katolik, khususnya ibu saya adalah orang yang sangat saleh dan taat beragama. Sejak kecil saya sudah dibimbingnya untuk juga taat beragama, pergi ke gereja, dan ikut kegiatan kegerejaan. Namun, sayang semua itu hanyalah harapan dari ibu saya saja. Sebagai seorang anak yang hidup di lingkungan Jakarta, tentu saja Yudi kecil juga terpengaruh oleh gaya hidup yang “semau gue”.

Awalnya karena masih kecil saya hanya ikut saja dengan kemauan orang tua, misalnya jika diminta pergi ke gereja bersama, saya mau tidak mau ikut saja dengan keinginan orang tua ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketika usia saya semakin bertambah dan saya semakin besar, saya mulai berani untuk mengambil keputusan untuk tidak ikut ke gereja bersama dengan orang tua, dengan alasan akan pergi ke gereja sendiri saja. Saya menyebut ini sebagai “masa kegelapan hidup saya”.

Saya menyebutnya sebagai “masa kegelapan” karena memang hidup saya cukup “kacau” dengan melakukan banyak kenakalan remaja. Saya dapat menceritakannya demikian, karena sebagai seorang anak kecil saya sudah berani memberontak atau melawan kehendak orang tua. Saya juga sudah berani mencuri uang orang tua hanya demi untuk bermain playstation. Saya pernah juga terlambat pulang dan tanpa izin main ke rumah teman sepulang sekolah sampai malam hari, hingga membuat ibu saya khawatir. Sudah tak terkira banyaknya air mata yang dikeluarkan ibu saya karena kenakalan-kenakalan dan keras kepala saya dengan tidak mengikuti perintahnya. Dan yang paling parah, saya tidak pernah pergi ke gereja semenjak saya mengatakan akan pergi ke gereja sendiri. Saya memang pamit pada orang tua untuk pergi ke gereja, namun kenyataanya saya bukan ke gereja tetapi main ke tempat persewaan playstation.

Selama beberapa tahun demikianlah perjalanan hidup saya, tidak ada orang lain yang tahu tentang semua ini kecuali saya sendiri dan Tuhan. Namun, saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa ada Tuhan yang memperhatikan gerak-gerik saya. Saya tumbuh menjadi anak yang tidak pernah menghayati imannya sebagai pengikut Kristus. Maka dari itu saya menyebut masa kecil saya sebagai “masa kegelapan”. Saya sering menganalogikan hidup panggilan saya sebagai suatu peristiwa “pertobatan”, yang saya identikkan dengan peristiwa pertobatan Rasul Paulus. Walaupun ini terkesan tak pantas karena menyamakan diri dengan Rasul Paulus, namun paling tidak demikianlah dapat sedikit saya gambarkan perjalanan hidup saya yang memang merupakan suatu bentuk perjalanan dari seseorang yang bertobat.

“Pertobatan”: awal perjalanan panggilan saya

Permulaan masa pertobatan ini terjadi menjelang saya lulus dari SMP. Waktu itu saya hendak menentukan untuk melanjutkan ke suatu SMA biasa. Namun tanpa saya minta, ibu saya menawarkan kepada saya untuk masuk ke sekolah seminari. Tentu saja saat itu saya tidak tahu apa itu seminari, yang nota bene merupakan sekolah untuk para calon imam. Pergi ke gereja bertemu dengan para romo atau ikut kegiatan gereja saja jarang, apa lagi mengenal yang namanya sekolah seminari. Setelah mendapat penjelasan dari ibu, saya mulai mempertimbangkan pilihan saya tersebut. Entah kapan persisnya, namun setelah saya mendapat tawaran tersebut saya mulai membawa kedua pilihan tersebut dalam doa-doa pribadi saya. Karena bagi saya apa yang akan saya pilih itulah yang akan menentukan masa depan saya selanjutnya. Menurut ibu saya, jika saya sekolah di SMA biasa, saya berpotensi untuk menjadi anak yang lebih “rusak”, namun jika masuk seminari, hidup saya akan lebih teratur dan saya akan menjadi anak yang lebih baik.

Peristiwa ini memang menjadi awal dari pertobatan saya, namun sesungguhnya ini bukanlah menjadi awal dari panggilan saya. Akhirnya, saya memang memutuskan untuk masuk ke seminari. Awalnya saya mendaftar dan ikut tes seleksi di seminari menengah “Wacana Bakti” di Jakarta, namun saya tidak lulus ujian seleksi. Menerima keputusan tersebut sebenarnya saya dan ibu merasa kecewa dan sempat putus asa, namun tanpa diminta seorang teman ibu saya datang ke rumah dan memberikan informasi bahwa di Bogor ada seminari menengah yang membuka pendaftaran. Singkat cerita, saya akhirnya mendaftar di seminari ini dan diterima. Saya pun menjalani pendidikan seminari menengah saya di seminari Stella Maris, Bogor, selama 4 tahun.

Hidup di seminari saya jalani sebagaimana layaknya anak SMA biasa. Teman-teman saya sejak kelas 1 sudah mulai menentukan akan masuk ke ordo, kongregasi, atau diosesan yang mereka minati kelak. Sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang semua istilah itu. Istilah seminari saja baru saya ketahui dari ibu saya. Selama 3 tahun kehidupan saya di seminari saya hayati sebagai layaknya anak muda biasa dengan tidak memiliki pikiran akan melanjutkan ke seminari tinggi manapun. Namun yang menarik adalah bahwa selama saya di seminari menengah ini, kehidupan rohani saya berubah sangat drastis. Saya menjadi sangat haus akan waktu doa, dan memang setiap kali ada waktu kosong atau saya sedang menghadapi suatu masalah, saya selalu membawa persoalan saya tersebut dalam doa. Dalam doa-doa saya, saya selalu memohon dukungan doa dari Bunda Maria, ibu Yesus Kristus. Karena itu pulalah saya memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Bagaimana pertama kali devosi ini muncul bagi saya saat itu rasanya tidak terlalu jelas. Ketika itu saya hanya merasakan bahwa saya ingin sekali berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Saya merasa hati saya menuntun saya untuk mohon didoakan oleh Bunda Maria, dan yang terjadi memang luar biasa bahwa saya mengalami banyak sekali kelegaan dan mendapat kekuatan setelah berdoa dengan perantaraan Bunda. Inilah yang saya rasakan waktu itu ketika di seminari menengah, saya merasakan gerakan hati untuk berdoa bersama Bunda Maria di hati saya. Namun, setelah saya menjadi lebih dewasa semua itu menjadi jelas bagi saya, mengapa saya memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Semua itu juga karena saya memiliki kedekatan yang mendalam dengan ibu saya, maka saya menjadi lebih mudah untuk dekat dengan Bunda Maria karena figur keibuannya itu. Dengan berdevosi kepada Bunda Maria, saya merasa dibawa lebih dekat kepada Yesus, Puteranya, untuk menghadapi tantangan dan kesulitan hidup ini.

Semua peristiwa ini menjadi awal dari perjalanan pertobatan saya. Sebelum masuk seminari saya merupakan anak yang sangat tidak rohani karena tidak pernah merayakan misa di gereja dan berdoa pribadi. Namun, setelah masuk seminari seolah-olah batin saya mulai memunculkan kerinduannya yang terdalam untuk dekat dengan Tuhan dan berdialog dengan-Nya. Kerinduan batin saya yang selama ini terpendam, karena saya tidak pernah mencoba untuk mendengarkan jeritan batin saya tersebut.

Ketika saya merasa sungguh terpanggil

Pengalaman saat saya mulai merasa sungguh terpanggil terjadi ketika saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara Minggu Panggilan di Paroki Herkulanus, Depok. Ketika itu kami mendapat tugas untuk koor di paroki dan membuka stan di sana. Hal ini sudah merupakan suatu “mukjizat” karena jika dipikir secara nalar, saya tidak mungkin dipilih sebagai anggota koor saat itu, karena saya tidak bisa menyanyi dan memang selama 3 tahun kehidupan saya di seminari, saya tidak pernah terpilih sebagai anggota koor. Singkat cerita saya mengikuti setiap proses persiapan koor itu dengan segala keterbatasan saya, yang sebenarnya bahkan saya nilai cenderung “merusak” koor, namun Tuhan sudah memilih saya untuk ikut dalam rombongan koor tersebut.

Saat itu saya sudah berada di kelas 3 SMA dan akan lulus. Sebenarnya dalam hati saya sudah sempat memutuskan untuk tidak akan melanjutkan ke seminari tinggi. Setelah lulus saya akan kuliah di luar saja. Namun, Tuhan berkehendak lain. Oleh karena itu saya menyebut saat itu sebagai saat awal dari “keterpanggilan” saya. Itu adalah saat ketika saya berada di Paroki Herkulanus, pada misa Sabtu sore dimana kami mengisi koor di gereja tersebut dalam rangka Minggu Panggilan. Saat itu ada seorang suster yang mensharingkan cerita panggilannya. Menyimak sharing suster tersebut, hati saya seakan tergerak. Saya merasa bahwa hidup saya tidak berarti apa pun, kok sampai dengan berani saya menolak panggilan Tuhan. Melalui peristiwa ini saya memikirkan kembali keputusan awal saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan ke seminari tinggi. Pesan Rasul Paulus kepada umat di Filipi terasa seiring dengan langkah yang saya ambil saat itu, ".... aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada yang ada di hadapanku, dan berlari- lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3: 13-14)

Dengan keputusan tersebut, maka konsekuensinya setelah saya lulus kelas 3 SMA, saya harus menjalani masa pendidikan untuk 1 tahun lagi sebagai masa persiapan sebelum masuk ke seminari tinggi. Masa ini saya sebut sebagai masa “pencarian”, yaitu pencarian akan ordo atau kongregasi yang akan saya pilih untuk bergabung. Tentu saja dengan memutuskan untuk tetap melanjutkan ke seminari tinggi tidak melepaskan saya dari satu persoalan mendasar yaitu saya tetap tidak tahu akan memilih ordo atau kongregasi yang mana. Jadi sekali lagi, saya membawa persoalan saya ini dalam doa-doa saya dengan perantaraan Bunda Maria. Waktu itu saya hanya berpegang pada satu prinsip bahwa saya ingin masuk ke ordo atau kongregasi yang bersifat pendoa dan memiliki devosi kepada Bunda Maria. Saya tidak ingin masuk ke diosesan manapun. Saya bawa ujud pribadi ini di dalam setiap doa-doa pribadi saya, dan akhirnya Tuhan menjawab kegelisahan saya tersebut.

Pada suatu hari, seorang kakak kelas saya yang sudah lulus jauh sebelum saya, bergabung ke dalam Ordo Karmel di Malang, dan ia mengirimkan sebuah brosur Karmel ke seminari kami di Bogor. Ketika saya membacanya, saya langsung merasakan adanya gerakan batin yang mengatakan bahwa inilah ordo yang dipilih Tuhan buat saya, dan Tuhan ingin saya masuk dalam ordo Karmel ini sebagai jawaban atas doa-doa saya. Hal ini juga merupakan sebuah mukjizat kecil buat saya, karena seumur hidup saya belum pernah mengenal ordo Karmel, belum pernah bertemu dengan imam Karmelit seorang pun, tetapi saya langsung tertarik hanya karena membaca brosur tersebut. Ordo Karmel adalah ordo pendoa dan memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bahkan setelah beberapa waktu kemudian baru saya ketahui bahwa Maria merupakan dasar spiritual dari ordo ini, dan Maria sungguh menganugerahi ordo ini dengan berkatnya secara khusus melalui pemberian Sekapulir Coklat / Sekapulir Karmel oleh Bunda Maria melalui suatu penampakan, kepada pemimpin Karmelit yang kudus, St. Simon Stock. Mungkin karena dasar inilah saya langsung tertarik kepada Ordo Karmel, karena sesuai dengan gerakan hati dan prinsip saya selama ini.

Awal hidup baru di Karmel

Masuk ke Karmel bagi saya sudah merupakan perjuangan tersendiri karena itu berarti saya harus pergi dari Jakarta menuju ke Malang untuk orientasi. Saat datang ke sana, saya bersama dengan teman satu seminari, sehingga pada saat diadakan orientasi dan tes, kami berdua adalah peserta yang sama-sama datang dari Seminari Menengah Stella Maris, Bogor. Namun kini teman saya itu sudah menjadi awam. Saat hendak orientasi itu, kami sempat mendapat sedikit kendala dimana kami mengalami penundaan karena satu dua hal, namun entah kenapa saya pribadi tetap merasakan semangat yang berkobar untuk paling tidak datang ke Karmel dan ikut merasakan kehidupan para Karmelit di sana. Akhirnya, kami berdua pun mendapat kesempatan untuk melakukan orientasi ke Malang, tepatnya kami menjalani masa orientasi kami di Biara Novisiat Karmel di Batu, Malang.

Setelah beberapa hari menjalani masa orientasi ini, secara pribadi saya telah mantap untuk memilih Ordo Karmel sebagai ordo yang akan saya masuki kelak. Kehidupan di seminari pun berjalan seperti biasa dan setelah saya lulus dari seminari menengah, saya langsung menjalani tes penyaringan masuk ke Ordo Karmel di novisiat Batu tadi. Semua proses seleksi saya jalani dengan sebaik-baiknya, dan memang membuahkan hasil. Saya diterima masuk dalam Ordo Karmel. Namun masa novisiat 2 tahun saya jalani dengan cukup sulit, karena saya memiliki banyak keragu-raguan dalam menanggapi panggilan ini. Saya cukup sering bertanya dalam hati apakah ini sungguh panggilan saya? Keraguan semakin menebal saat saya menghadapi kenyataan bahwa dari 13 orang yang masuk ke novisiat bersama-sama dengan saya, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan biara.

Tantangan demi tantangan

Masa novisiat 2 tahun itu ternyata masih dapat saya lalui dengan cukup baik walau harus menghadapi masa krisis doa yang cukup berat, sehingga akhirnya saya diizinkan untuk mengikrarkan kaul perdana saya. Pengikraran kaul perdana ini menjadi tanda bahwa saya telah resmi diterima sebagai anggota sementara Ordo Karmel Indonesia dan sekarang saya menyandang status sebagai frater profesi dan bukan lagi sebagai frater novis. Setelah itu kehidupan saya berganti, saya dan teman-teman yang lain harus pindah dari biara novisiat di Batu ke biara “Beato Titus Brandsma” di Malang. Di sini adalah tempat para frater menjalani masa pendidikan strata 1. Untuk itu kami harus tinggal di tempat ini selama 4 tahun untuk menyelesaikan kuliah filsafat teologi kami di STFT Widya Sasana, Malang.

Kehidupan saya di biara Titus Brandsma ini ternyata juga tidak membaik, satu persatu masalah datang silih berganti. Masalah yang satu belum selesai, yang baru sudah datang lagi. Kehidupan saya terasa semakin berat. Belum lagi saya harus menghadapi persoalan dalam bidang studi. Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah anak yang cerdas dan saya memang mengalami sedikit kesulitan dalam menempuh studi di STFT ini. Persoalan-persoalan yang saya hadapi lebih banyak berkaitan dengan kehidupan pribadi saya sendiri, seperti kekeringan dalam hidup doa yang berkepanjangan, masalah sakit yang sampai membuat setiap segi kehidupan saya menjadi kacau, dan masih banyak lagi. Sedangkan persoalan kehidupan membiara seperti berelasi dengan sesama frater, romo, dan umat sekitar saya tidak terlalu mengalami persoalan yang berat.

Persoalan-persoalan pribadi yang harus saya hadapi ini memang merupakan penghalang terbesar dalam hidup panggilan saya ini. Banyak sekali saya mengalami jatuh bangun yang hampir selalu membuat saya putus asa. Apalagi sekarang saya harus menghadapi kenyataan bahwa sakit saya sudah cukup menganggu hidup panggilan saya, dan saya diharuskan segera memperbaiki segalanya, jika tidak, maka hidup panggilan saya tidak dapat diteruskan dan saya tidak akan diizinkan untuk menjadi imam Karmelit. Mengapa ini menjadi persoalan yang amat memberatkan buat saya, karena sakit ini membuat kehidupan saya kacau. Studi saya menjadi terhambat karena saya sempat mendapat nilai “E” untuk satu mata pelajaran, dan itu berarti saya harus menunda satu tahun untuk selesai S1; juga dalam relasi dengan orang lain saya menjadi canggung dan terhambat; dan masih banyak lagi sebenarnya yang menyulitkan hidup saya di biara.

Namun saya ingin tetap bertahan, seraya memegang erat janji Tuhan yang selalu dapat saya temukan di dalam 1 Kor 10:13, "Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya." Dan saya tahu bahwa dengan berpegang erat kepada Tuhan saya akan selalu mengalami pertolonganNya.

Misteri panggilan Tuhan bagi saya

Kehidupan di biara memang kelihatan “berat”, namun kita dapat bersama-sama melihat ke dalam kehidupan kita masing-masing adakah hidup kita saat ini selalu terasa enak dan tidak memberatkan? Apapun pilihan hidup kita, kita selalu mengalami konsekuensi bebasnya, konsekuensi yang muncul karena pilihan bebas kita. Setiap pilihan hidup kita akan selalu memiliki sisi menyenangkan maupun sisi yang kurang menyenangkan. Inilah yang dinamakan kehidupan.

Banyak orang berkata bahwa pilihan untuk menjalani hidup selibat itu berat dan tidak menyenangkan, apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Selama manusia hidup di dunia akan selalu mengalami dua hal, yaitu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Saya mengalami bahwa hidup panggilan sebagai seorang selibat haruslah sungguh-sungguh didasarkan pada panggilan Tuhan sendiri. Inilah prinsip utama yang menurut saya harus dipegang oleh setiap orang yang tertarik dengan panggilan hidup selibat, untuk melayani dan bekerja di kebun anggurNya.

Saya akan menggambarkan maksud dari “panggilan Tuhan” tersebut. Panggilan Tuhan ini saya sering menganalogikannya dengan suara batin atau suara hati. Panggilan hidup sebagai seorang selibat haruslah merupakan suatu gerakan hati, dan itulah sebabnya mengapa panggilan itu disebut suatu misteri karena memang “tidak jelas” bahkan bagi diri si terpanggil sekalipun. Saya mengambil contoh dari kisah hidup saya sendiri. Saya merasa terpanggil ketika saya akan lulus SMA. Pada kisah panggilan hidup saya di atas, saya merasa terpanggil setelah saya mendengarkan sharing dari seorang suster. Saya merasakan adanya suatu gerakan hati untuk terus melangkah melanjutkan panggilan saya. Saya merasa bahwa Tuhan masih menginginkan saya untuk lanjut, dan ini jugalah yang menjadi pegangan saya sampai hari ini bahwa saya “MERASA” Tuhan masih memanggil saya. Maka walaupun saya harus mengalami banyak sekali kesulitan dalam menjalani hidup panggilan saya ini, saya masih dapat bertahan sampai hari ini karena saya “merasa” Tuhan masih memanggil saya. Pengalaman merasa ini adalah sangat individu bagi setiap pribadi dan mungkin akan dialami atau dirasakan secara berbeda-beda oleh setiap orang. Sebab Tuhan sering bekerja secara sangat personal dalam kehidupan kita. Walau kadang Tuhan juga bekerja di dalam dan melalui komunitas. Hanya kita masing-masing yang mampu mengenali rasa “merasa” itu dan perasaan itu tidak selalu mudah untuk dibagikan kepada orang lain yang tidak merasakannya atau mengalaminya dalam bentuk yang berbeda.

Saya mengatakan bahwa panggilan itu misteri bahkan bagi diri si terpanggil sekalipun, maksudnya bagi diri orang-orang yang sudah menjalani hidup membiara atau sebagai rohaniwan (bukan yang baru tertarik dengan hidup selibat). Ini karena saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya pun belum sepenuhnya yakin bahwa saya sungguh-sungguh terpanggil, juga semua orang yang hidup selibat pasti akan mengalami pergulatan ini setiap hari. “Panggilan itu sekuat jawabannya”. Kalimat ini sungguh menginspirasi saya, bahwa kesungguhan panggilan Tuhan ini dipengaruhi oleh jawaban kita. Kami memang belum yakin sepenuhnya apakah Tuhan sungguh-sungguh memanggil kami, maka dari itu kami harus membarui jawaban “YA” kami setiap hari.

Lalu adakah indikasi-indikasi yang mampu membuat para kaum selibater ini masih merasa yakin bahwa Tuhan masih memanggil mereka? Jawabannya: ya ada! Kita ambil contoh kasus hidup saya sendiri saja, walaupun saya harus mengalami banyak sekali kesulitan dalam belajar, bersosialisasi, berdamai dengan diri saya sendiri, relasi dengan Tuhan, dan sebagainya. Namun, saya masih dapat bertahan hingga sekarang walaupun saya mengalami bahwa hidup sebagai seorang selibat itu berat, saya masih merasakan bahwa Tuhan sungguh memberkati hidup saya di tempat yang saat ini saya pilih. Tuhan masih memberi saya KEBAHAGIAAN dan sekian banyak RAHMAT serta ANUGERAH kehidupan. Inilah dua kunci atau indikator yang dapat dijadikan patokan bagi seseorang bahwa memang jalan hidup yang dialaminya saat ini sungguh merupakan pilihan hidup yang tepat bagi dirinya. Saya merasakan kebahagiaan karena selama ini saya mengalami banyak sekali perubahan dalam hidup saya. Saya kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri. Menjadi pribadi yang percaya diri dan berani. Semua hal ini belum tentu akan saya dapatkan jika saya tidak berada di biara. Saya juga dapat mengenal dan bertemu dengan banyak orang, mencintai banyak orang dengan tidak eksklusif. Inilah anugerah-anugerah dan kebahagiaan yang saya rasakan selama saya menjalani hidup panggilan saya di biara ini.

Jadi, apapun pilihan hidup kita saat ini, satu hal yang harus selalu kita pegang sebagai prinsip hidup kita bahwa kita harus selalu bertanya setiap hari kepada diri kita sendiri: Apakah aku bahagia dengan hidupku saat ini? Tidak ada bentuk kehidupan di dunia ini yang sepenuhnya hanya berisi hal-hal yang menyenangkan, bahwa selama manusia hidup di dunia ini haruslah berjuang dan perjuangan ini menandakan bahwa kehidupan ini memang sungguh berat! Tuhan sendiri mengundang kita untuk selalu datang kepadaNya, seperti yang Ia ungkapkan dalam Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita nanti, apa yang Tuhan rencanakan bagi hidup kita kelak. Satu hal dapat kita lakukan sebagai manusia adalah selalu ikut kehendak Tuhan, caranya dengan berpasrah. Inilah yang menjadi pegangan hidup saya saat ini, bahwa menjadi apa saya kelak semua saya serahkan kepada rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Bagaimana cara supaya kita dapat sedikit “tahu” terhadap rencana Tuhan ini dalam hidup kita? Yaitu dengan berdoa, menjalin relasi yang mendalam dengan Tuhan. Sebagaimana diteladankan oleh banyak nabi-nabi di perjanjian lama, salah satunya nabi Elia.

Terus bergantung kepada Tuhan sepanjang sisa perjalanan yang menentukan

Kini, kami satu angkatan hanya tinggal 4 orang (sebelumnya 13 orang) dan kami semua harus berjuang dengan persoalan diri kami masing-masing. Khususnya saya yang memang sudah mendapat ultimatum bahwa saya harus segera melakukan perubahan dalam waktu 1 tahun ke depan ini, jika tidak ingin dikeluarkan. Bagi saya kenyataan ini memang sangat berat, namun dalam keyakinan saya yang terdalam saya masih mau berharap pada Tuhan. Dalam suatu retret akhir tahun, saya menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbaharui niat dan motivasi saya untuk ke depan. Saya ingin kembali memperbaiki relasi doa saya dengan Tuhan yang selama ini terhambat karena krisis yang berkepanjangan. Setelah retret tersebut saya mulai mendapat semangat baru dalam hidup doa saya. Saya sadar bahwa tidak banyak yang dapat saya buat untuk sembuh dari sakit ini, maka dari itu saya hanya dapat berbuat semampu saya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan lewat doa-doa saya. Saya mau percaya bahwa jika memang Tuhan menginginkan saya untuk menjadi imam-Nya, maka IA pasti akan membantu saya untuk dapat keluar dari setiap persoalan yang harus saya hadapi saat ini dan kelak. Saya hanya dapat berpasrah dan membuka diri dan hati saya untuk menerima urapan rahmat kasih-Nya. Saya meyakini satu hal dari Tuhan yang saya ikuti ini, bahwa IA adalah Allah dan Tuhan yang bertanggung jawab. Jika IA memberikan sesuatu hal bagi manusia, maka IA akan menyelesaikannya pula. Jika Tuhan telah memulai sesuatu pekerjaan yang baik di dalam kita, Dia akan meneruskannya sampai pada kesudahannya (Filipi 1:6

"Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus").

Jika Tuhan memberikan saya “sedikit” cobaan ini, maka saya percaya bahwa Tuhan akan membantu saya. Saya percaya dan bahkan saat ini saya mulai merasakan bahwa Tuhan mempunyai maksud di balik semua ini, saya merasakan bahwa sepertinya Tuhan sedang menyiapkan saya untuk sesuatu yang lebih besar di depan saya nanti. Tuhan punya rencana atas hidup setiap manusia di dunia ini, dan saya (serta kita semua) hanya diminta untuk pasrah dan mengikuti saja akan apa yang diminta oleh Tuhan. Apa pun yang terjadi saat ini dalam diri saya dan masing-masing dari kita, biarlah semua itu terjadi, karena Allah peduli! Bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita merupakan HADIAH BESAR pemberian Tuhan kepada kita anak-anak-Nya yang terkasih.

Oleh Fr Robertus Yudi, O Carm

Share.

About Author

Editor katolisitas.org

80 Comments

  1. Sr. Yulia HK on

    Selamat berjuang karena hidup adalah perjuangan…Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatNya berjuang sendiri. Kita berjuang bersama dalam panggilan yang sama. selamat dan Berkah Dalem

  2. Diakon A.Ignatius Sujasan CDD on

    Salam kenal,

    Puji Syukur kepada Tuhan karena melalui wadah ini,banyak orang yang mulai mencari dan menemukan panggilan Tuhan bisa saling berkomunikasi. saya mau mengusulkan : apakah dimungkinkan kalau dalam katolisitas ini, ditampilkan juga daftar ordo atau kongregasi yang ada di Indonesia beserta dengan alamatnya.

    terima kasih

    salam dan doa

    [Dari Katolisitas: Jika ada dari pembaca yang berkenan memberikan daftarnya maka kami bersedia menampilkannya di situs ini. Terima kasih atas saran ini.]

    Diakon Ignas CDD

  3. Shalom,

    Sy jg merasakan hal yg sama untuk bisa menanggapi panggilannya. Dan sekarang ini sy sedang mencari2 kemanakah sy harus pergi, walaupun ini semua ditentang habis2an oleh kedua orang tua saya. Beberapa waktu yg lalu sy sempat mengikuti live-in di biara Shanti Bhuana (CSE)-Cikanyere, dan skrg rencananya sy ingin juga live-in di biara O’Carm namun sy kurang mendapat info biara2 dsana, mungkin apabila ada yg tau saya mohon informasi nya. Trims

    Oia, cerita sharing anda semua disini memberi saya motivasi lagi untuk tetap melanjutkan niat saya ini, mohon doa dan dukungannya. Salam damai

    • Shalom Willy,

      Terima kasih atas sharing Anda. Wira, Seorang pembaca katolisitas dan sekarang mengasuh kolom gulali Santo-Santa (link to katolisitas.org) mempunyai pengalaman seperti yang Anda alami. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya dia masuk ke biara O’Carm. Saya telah mengirimkan email pribadi kepada Anda untuk kontak langsung kepada Wira. Semoga niat baik Anda mendapatkan jalan yang baik. Yakinlah kalau kita mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka Dia sendiri akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (lih. Rom 8:28). Kami juga mengundang seluruh pembaca katolisitas untuk turut mendoakan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. haiii,,salam perkenalan,kepada tim katolisitas,,sy dari malaysia,beragama katolik,,
    shallom,,,maaf,,sy cuman minta pendapat,,gmana rasanya ada panggilan,untuk menjadi suster atau pelayan tuhan?

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Marlena,

      Pertama-tama harus muncul rasa ingin. Pada zaman dulu syaratnya ialah ada rasa ingin yang meluap-luap atau kerinduan yang berkobar-kobar. Namun pada masa kini, minimal ada keinginan saja sudah cukup bagi Anda untuk melamar testing memasuki biara. Jika lulus test, maka kemantapan bisa dipupuk dan ditumbuhkan makin kuat dalam biara.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  5. DANNY FAJAR NATJTHA NUGRAHA on

    Terimakasih Frater Yudi, atas jawabannya yang begitu memuaskan saya. Oh berarti Frater Yudi dekat dong dengan saya, karena saya sering ke Rajabasa ke tetangga Frater (Biara SVD) untuk jenguk Romo Willi Leman, dan ke rumah tante saya di jalan Simpang Tambora no 12. Malahan yang sering ke tempat tante saya Romo Paul. Oh ya, Danny tanya lagi tidak apa apa kan ? Yang mau Danny tanyakan : ketika kita mengalami satu pergumulan batin (dalam memutuskan suatu persoalan) kita kan tidak tau hasilnya yang akan datang. Lalu dalam pergumulan batin itu muncullah 2 suara hati yang dari Allah dan dari Iblis. Bagaimana cara membedakan suara hati (yang ada di hati kita) apakah itu dari suara iblis ataukah dari Yesus? Karena selama ini yang terjadi selalu terjadi kebingungan dalam menentukan suara hati, walaupun sudah didahului dengan proses doa untuk memohon rahmat Tuhan. Terimakasih Fr Yudi, Danny tunggu kabarnya, kapan kapan kalau Danny libur kerja Danny mampir ke tempat Fr Yudi. Tks JBU

  6. Ekaristi Rosario on

    Salam Kasih Fr Yudi,
    saya sangat terkesan dengan cerita pengalaman hidup dr Frater. Tahun ini saya berumur 20 tahun, dan tahun ini juga saya ingin bergabung dengan para Biarawati Karmel di Manado. Doakan saya semoga cita-cita saya dapat terwujud.

    [dari Katolisitas: kami turut bersatu dalam doa kepada Tuhan untuk mohon bimbingan dan rahmatNya bagi Saudari dalam menanggapi panggilanNya untuk bergabung dengan biara Karmel di Manado. Semoga Bapa yang Maha Kasih senantiasa meneguhkan rahmat panggilan itu dan menyertai Anda menjalaninya dengan baik hingga cita-cita Anda terwujud, sesuai dengan kehendakNya]

    • robertus yudi on

      Dear Sdri. Ekaristi Rosario,

      sukses selalu untuk perjalanan panggilan anda, doa saya selalu menyertai anda. selamat berjalan bersama Allah di jalan karmel, mari kita berjuang bersama untuk mencapai puncak gunung karmel yaitu Yesus sendiri yang tidak lain adalah tujuan akhir hidup kita semua. semoga Tuhan sendiri yang memberi anda kekuatan untuk menghidupi cara hidup yang lebih radikal ini, mintalah selalu kekuatan dan penyertaan-Nya maka anda akan setia di jalan panggilan ini. GBU

      In Carmelo,

      fr. yudi, O. Carm

  7. Anastasia Rafaela on

    Salam kasih Fr. Yudi,

    Terima kasih atas sharing nya. Saya sangat terkesan dengan cara pandang dan pola pikir frater yang sungguh terbuka dengan hati yang demikian juga peka. Seiring dengan banyaknya hal yang frater kemukakan menunjukkan bahwa untuk mengabdi kepada Allah berarti sungguh-sunguh bersedia menjadi ‘pelayan’ atau bahkan benar-benar bersedia menjadi ‘hamba’ Allah (Mat 20:26-27). Keteguhan iman dan ketaatan yang konsisten alias terus menerus dalam berdoa dan bekerja/berbuat kasih/melayani menjadi komitmen dan tanggung jawab yang luar biasa untuk selalu hidup kudus. Oleh karenanya tidaklah heran bahwa hanya melalui Kristus sajalah menjadikannya mungkin terjalin kesatuan kasih yang sehati dan sepikir agar mampu atau sanggup bekerjasama dengan-Nya hingga dapat terus terbina keakraban kasih sejati dalam Dia. Yang pada akhirnya kasih kesetiaan abadi kepada Allah Bapa sajalah yang akan senantiasa mengalahkan kekecewaan, keputusasaan, kepedihan, kedukaan atau kesulitan lainnya seberat apapun juga. Demikian kesan dan pesan yang dapat saya terima. Saya turut mendukung dan mendoakan frater Yudi.

    Peace and Best Wishes
    Anastasia Rafaela

    • robertus yudi on

      Dear Sdri. Rafaela,

      terima kasih banyak atas dukungan doa dan sarannya pada saya. Saya akan berjuang sekuat tenaga saya untuk dapat tetap bertahan di jalan panggilan ini. Saat ini ada satu persoalan besar menghadang di depan saya, dan itu sungguh mampu menghentikan perjalanan saya. Saya sendiri tidak dapat berharap banyak dari diri saya sendiri, saya hanya dapat tetap berharap pada Tuhan. Semoga saya dapat mengatasi persoalan saya yang satu ini, dan akhirnya saya dapat memenangkan semua ini. Semoga saya tidak mengecewakan banyak orang yang mungkin mendukung saya di jalan panggilan ini. Doa dan dukungan moral selalu saya butuhkan khususnya saat-saat berat ini. Terima kasih banyak. Semoga Tuhan berkati hidup kita semua. Amin

      Kasih dan doaku,
      Fr.Yudi,O. Carm

      • Fr. Yudi yang saya hormati,
        Saya harap saat Anda membaca ini, Anda masih setia terhadap Allah yang memanggil Anda. Sekiranya ada yang bisa saya bantu, silahkan minta email saya kepada tim katolisitas. Saya berdoa agar Anda selalu mengatakan “Ya” kepada Yesus yang memanggil Anda setiap harinya. Rahmatnya tidak akan pernah terlambat.

        Ad Maiorem Dei Gloriam.
        Edwin ST

        • robertus yudi on

          Dear Sdr. Edwin,

          terima kasih banyak atas dukungan dan tawarannya, saya akan sangat senang sekali berkenalan dengan anda lebih jauh. Saya kira tim katolisitas dapat memberikan email anda kepada saya.

          sampai sekarang saya masih ingin setia kepada Allah, saya sudah mengajukan lamaran untuk pembaruan kaul saya. Namun semuanya pada akhirnya harus saya serahkan kepada Allah, jika memang Ia masih memperkenankan saya untuk tetap di jalan ini tidak akan ada yang mustahil. Saya hanya tinggal menunggu keputusan para romo pembimbing saya apakah kaul saya diterima oleh mereka, dengan mempertimbangkan banyak aspek kehidupan harian saya. Saya sudah berusaha untuk memberi yang terbaik namun sisanya biar Tuhan yang melengkapi. Saya hanya bisa berpasrah pada setiap keputusan nanti. Doakan saja semoga mereka masih memperkenankan saya untuk berjuang lebih baik lagi, sampai hari ini saya masih menunggu keputusannya.

          terima kasih atas dukungannya dan senang berkenalan dengan anda.

          In Carmelo,

          fr. yudi, O.c

          • Fr. Yudi yg saya hormati,
            Saya senang mendengar bahwa Anda masih berani mengajukan pembaharuan kaul. Kalau Tuhan memang memanggil Anda menjadi imamNya dan Anda meng-iyakan pasti terjadi. Tetapi terkadang hal yang sulit ialah Tuhan mau Anda di ‘rumah’ yang mana? OCarm, OFM, OFM Cap, SJ, SDB, SVD, FI, OP, atau projo? Saya pernah dengar cerita beberapa romo yang sudah beberapa kali pindah ‘rumah’. Sekarang pun saya punya kawan yang nanti September 2012 tahbisan imam setelah 20 tahun membiara karena pindah – pindah ‘rumah’. Tak tanggung – tanggung, dulu beliau di Malaysia sekarang di Australia. Dia cerita, sampai – sampai seluruh mata pelajaran tambahan Filsafat dan Teologi sudah pernah dia ambil selama kurun waktu 20 tahun tersebut.

            Menghidupi panggilan tidak mudah, saya salut sama Anda.

            Tim Katolisitas saya ijinkan untuk meneruskan alamat email anda ke Frater Yudi.

            Ad Maiorem Dei Gloriam!
            Edwin

  8. Shallom Fr. Yudi,

    Puji Tuhan di atas balasan serta renungan yg sy terima dari Father…sy semakin mendapat keyakinan dan kekuatan baru untuk menikmati panggilan Tuhan yg misteri itu, sebagai pengetahuan Father, sy sudah pernah mengikuti retret panggilan pada suatu ketika dahulu, yg dikendalikan oleh paderi diosis (untuk menjadi Father Diosis) tp ternyata minat sy bukan di dalam Father Diosis, sy jg pernah mengikut retret panggilan yg di kendalikan oleh Puteri Karmel di pertapaan tambunan, tetapi masih jg tidak merasakan tempat sy di sana….Pertapaan Karmel ini telah di asaskan oleh romo yohanes indrakusuma, memandangkan ordo ini masih agak baru di sabah, malaysia maka sy merasakan agak kurang selamat untuk masuk disana sebab setiap tahun ada sj yg sudah masuk, tetapi di keluarkan dgn alasan yg kurang jelas…tetapi sejujurnya, di sudut hati kecil sy, sy benar2 punya kerinduan untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan dan sekaligus rindu untuk mendapat kan sakramen imamat itu. Di sabah, ordonya terlalu terhad…yg ada cuma dua iaitu, paderi diosis dan ordo brother CSE (Pertapaan Karmel) jadi untuk membuat peninjauan pd ordo2 lainnya terlalu terhad…sejujurnya, kerinduan itu masih tetap ada sehingga kini, cuma sy tidak tahu d mana lagi ordo lain yg blh sy pergi dan melakukan proses peninjauan….

    • Anastasia Rafaela on

      Salam kasih saudara Joe,

      Menanggapi pernyataan saudara tentang…’sebab setiap tahun ada sj yg sudah masuk, tetapi di keluarkan dgn alasan yg kurang jelas…’ tampaknya bacaan liturgi dalam minggu ini dapat memberi pencerahan akan proses panggilan hidup menjadi seorang imam yang hampir serupa seperti halnya proses panggilan hidup menjadi seorang raja atau menjadi salah seorang murid Yesus (Markus 3: 13-19).

      Yang mana sebagai kriteria calon raja seperti tertulis dalam 1 Sam 16: 7
      Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

      Dengan ketentuan atau syarat nya yang adalah benar-benar nyata ‘terus menerus/konsisten’:
      •bekerja/melayani (1 Sam 16: 11: … sedang menggembalakan kambing domba) dan
      •beriman teguh pada-Nya’ (1 Sam 17:37: Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”).

      Dalam proses nominasi maka calon raja akan diuji ‘ketaatan dan keteguhan’-nya guna membuktikan komitmen dan tanggungjawabnya dalam bersikap dan bertindak baik, benar dan jujur akan kasih pelayanannya (1 Sam 24:3-21).

      Yang pada akhirnya Allah Bapa jugalah yang menentukan siapa yang layak dan pantas menerimanya (2 Sam 5: 3-4), yaitu yang terbukti kesetiaan hatinya untuk memiliki pengendalian atau penguasaan diri yang baik dan senantiasa lebih mengutamakan kehendak Allah daripada keinginan dirinya sendiri walau harus terlebih dulu menghadapi duka cita dan derita (2 Sam 1:1-4, 11-12, 19, 23-27).

      Demikian kiranya hasil renungan yang dapat saya mengerti dari bacaan liturgi dalam minggu ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau kurang tepat penafsirannya. Untuk tim katolisitas silahkan meralatnya dan dengan berbesar hati saya menerima koreksinya serta terima kasih pula tentunya.

      Peace and Best Wishes
      Anastasia Rafaela

      • Shallom Sdri. Anastasia,

        Sy amat bersyukur diatas renungan dan kesaksian yg telah dikongsikan olh sdri. sejujurnya untuk masuk ke dalam ladang Allah, bnyk hal dan kepentingan diri yg perlu di sangkalkan…kterbukaan dan kerelaan untuk dibentuk seperti tanah liat yg dibentuk menjadi bejana untuk kegunaan ramai, demikian jg emas yg di bakar untuk dpt dihasilkan menjadi emas yg murni, semuanya itu memerlukan kerendahan hati dan keteguhan iman padaNYA…sy faham skrg, puji Tuhan.

        Salam,
        Joe

  9. Fr. Yustus Lim on

    Panggilan adalah misteri dan rahasia Allah. Kesaksiaan ini mengingatkan akan perjalanan panggilan hidup saya juga demikian. Semoga benih panggilan Tuhan yang telah tumbuh dalam hidup kita, kita semakin berani dan mampu untuk menjawabNya walaupun ada banyak tantangan dan rintangan datang silih berganti. Salam kenal bro,,,,,

    • robertus yudi on

      salam kenal juga frater maaf terlambat memberi balasan, saya jarang buka internet soalnya heheheee…
      mari kita sama-sama berjuang untuk tetap setia di jalan ini, semoga kehendak Tuhanlah yang terjadi atas hidup kita semua. Amin

  10. Shalom Father

    saya amat tersentuh akan kesaksian perjalanan iman father di dalam menyahut panggilan Tuhan…memang untuk menjadi paderi bukanlah satu hal yg mudah untuk diputuskan dengan berkata “ya” sekiranya belum ada keterbukaan dan persiapan yg cukup dan khusus untuk itu…tapi father, apa yg ingin saya sharekan di sini ialah, sy jg mempunyai kerinduan untuk melayani di ladang-NYA, cuma sy tidak tahu bagaimana untuk memulakan segalanya dalam keadaan sy sekarang ini yg umurnya sudah hampir menjangkau 36 tahun…sy mempunyai kerinduan itu, tetapi perasaan tidak layak itu yg sering menghalangi sy…

    • Joe Yth,

      Saya mengagumi dan memberikan apresiasi atas keterbukaan dan keberanian menjawab panggilan Tuhan. Motivasi awal ini perlu dimurnikan apakah benar Tuhan memanggil anda? Caranya adalah mengikuti retret panggilan. Saya tidak tahu di Malay jadwal itu tetapi di Indonesia ada retret panggilan. Jika anda serius nanti saya akan berikan. Rumah retret Panti Semedhi Sangkalputung dan Girisonta memberi kesempatan itu. Lalu untuk awal ini sebaiknya anda live-in di biara atau pastoran untuk konsultasi dan hidup bersama dengan rama atau live-in di Seminari selama seminggu. Setelah itu bagaimana perasaan anda? Bagaimana suara hati anda? Masihkah menggema panggilan itu dan mendorong anda untuk maju? Ikutilah retret panggilan menjadi religius/imam. Setelah anda mantap, baru masuk ke Seminari Tinggi, tentu melalui kursus persiapan selama 2 tahun di KPA.

      Salam,
      Rm Wanta Pr.

      Tambahan jawaban dari Fr Yudi :

      Dear Joe,

      Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas dukungannya pada saya. Sampai hari ini saya pun masih berjuang untuk menanggapi panggilan Tuhan ini.

      Sdr. Joe kalau persoalan Anda adalah karena merasa tidak layak, saya jadi bertanya apa yang membuat Anda selama ini merasa tidak layak sehingga mengurungkan niatnya menjadi imam? Kalau menurut refleksi saya selama ini dan mendengar pendapat dari romo pemimbing saya (saya dulu juga pernah bergulat tentang ketidaklayakan kita sebagai manusia untuk menjadi imam). Sdr. Joe sebagai seorang manusia yang berdosa (Anda, saya dan semua saja) pastilah kita tidak layak di hadapan Tuhan. Apalagi saya sebagai calon imam saya lebih merasa tidak layak, karena tugas yang suci dan luhur ini harus saya emban yang notabene juga orang yang sangat berdosa. Namun, Sdr. Joe, Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia datang bukan utk orang sehat tetapi orang sakit. Yesus berkarya justru lebih memilih melayani para pendosa, orang miskin dan orang sakit. Dan mengapa Yesus malah mengecam para ahli taurat dan orang farisi? Itu karena orang miskin, pendosa (spt. pelacur) dan orang sakit adalah orang-orang yang sadar akan keberdosaan mereka, akan ketidaklayakan mereka di hadapan Tuhan (di zaman Yesus orang sakit, miskin dan pelacur dianggap sebagai orang-orang yang hidupnya tidak diberkati Allah dan pendosa berat maka juga dikucilkan). Dan Tuhan sungguh memerhitungkan hal itu sebagai iman, maka justru dengan berbekal kesadaran diri akan keberdosaan mereka dan iman mereka untuk mau percaya pada Yesus dan disembuhkan. Apa yang terjadi Tuhan Yesus sungguh mengampuni dosa mereka dan menyembuhkan kelemahan-kelemahan diri mereka (baik fisik maupun batin). Dan mengapa orang farisi dan ahli taurat dikecam? Itu karena mereka sombong ! Mereka merasa diri baik dan suci, padahal mereka lebih banyak dosanya dibandingkan orang-orang miskin dan pelacur! Kenapa lebih besar dosanya? Karena mereka tidak sadar akan dosa-dosa mereka, mereka sombong dan tidak mau percaya Yesus yang adalah Mesias. Ingat perumpamaan Yesus bagi mereka ini? Mereka bagaikan kubur yang dicat putih luarnya tetapi dalamnya penuh kebusukkan, dan sebagainya ada dalam Kitab Suci.

      Jadi apa yang mau saya katakan di sini adalah tidak usah terlalu memikirkan ketidaklayakan kita di hadapan Tuhan, dan menjadikan itu sebagai penghalang untuk mempersembahkan diri bagi Tuhan. Kalau Sdr. Joe sadar akan ketidaklayakan saudara, justru itu baik sebagai modal awal mengikuti Yesus. Bagi Tuhan apa yang di depan adalah lebih penting dari yang sudah berlalu, kalau kita sudah mau menyesali dosa dan kesalahan kita, bertobat dan mohon ampun pada Tuhan, maka Tuhan akan mengampuni kesalahan kita dan melupakan apa yang ada di belakang, yang penting adalah setelah kita bertobat apakah kita akan jatuh lagi dalam lubang yang sama? Ataukah pertobatan kita hanya pura-pura? Tapi bagaimana pun juga Tuhan tetap mahapengasih dan Ia pasti akan mengampuni kita kalau kita mau terus bertobat dan kembali kepada-Nya. Sdr. Joe jangan takut akan ketidaklayakan saudara, ingat perkataan Rasul Paulus, ia pernah berkata kira-kira demikian: “justru di dalam kelemahankulah Tuhan semakin kuat berkarya melalui diriku”. Jika aku lemah maka aku kuat karena Tuhan yang menguatkan aku.

      Semoga ini dapat membantu pergulatan sdr. Joe dalam menentukan panggilan hidup Anda. Kalau tidak dapat menjadi biarawan masih ada jalan lain mungkin sebagi selibater awam, atau ikut dalam kelompok awam suatu kongregasi tertentu.

      Salam,
      Fr. Yudi, O. Carm

      • Shallom saudari ku Anastasia,

        sy telah membaca kisah hidup Father Henry Paul, dan kisah itu jg benar2 menyentuh hati sy…ternyata Tuhan tidak memandang pada umur untuk berani melangkah masuk ke dalam pekerjaan di ladangNYA. Dia lebih inginkan hati yg telus, jujur dan ikhlas…Puji Tuhan kerana kesempatan ini…terima kasih ya saudari ku Anastasia…

        Tuhan memberkati
        Joe Alfred

  11. PETRUS PITANG on

    Panggilan TUHAN untuk bekerja dikebun anggurNya memang sangat halus. Bagaimana kita yang menerima panggilan itu merawat, memupuknya dalam kehidupan kita sehari-hari. Frater Yudi salut untuk anda. Banyak tantangan yang anda hadapi namun kepasrahan dan berserah pada anggilanNya, saya yakin TUHAN pasti mempunyai rencana yang indah untuk anda. Oleh karena itu saya hanya mengirimkan ini untuk menguatkan panggilanmu; Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenaan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma : 12: 1). TUHAN Yesus Memberkati.

    • robertus yudi on

      Dear Pak Petrus Pitang,

      pertama-tama saya hendak mengucapkan rasa syukur dan terima kasih saya atas perhatian dan dukungan pak Petrus untuk saya. Bukan hanya saya saja pak yang mengalami cobaan hidup, semua orang juga menderita bahkan lebih dari yang saya rasakan saat ini. Tetapi memang saya sungguh berusaha untuk tetap sabar dan menerima semua cobaan ini sebagai jalan Tuhan buat saya. saya memang selalu mengatakan pada diri saya sendiri bahwa apa yang saya alami saat ini pasti adalah persiapan untuk masa depan saya. Untuk sesuatu yang lebih besar dan indah yang sudah Tuhan persiapkan buat saya, walau saya belum mengetahuinya.

      Sekali lagi terima kasih kepada pak Petrus atas segala dukungan dan perhatiannya buat saya, saya sangat senang menerimanya dan merasa dikuatkan, pak. Tuhan sampai saat ini masih ingin menguji saya, cobaan dan kesulitan masih datang silih berganti bahkan lebih berat dari yang saya tuliskan di sharing saya di atas. Saya hanya minta bantuan doa-doanya buat saya semoga saya bisa bertahan dan yang lebih penting semoga saya semakin berpasrah pada kehendak Tuhan. Saya ingin seperti Bunda Maria yang berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Semoga hanya kehendak Tuhanlah yang terjadi dalam hidup kita masing-masing. Amin.

      Tuhan berkati kita semua,
      In Carmelo,

      Fr. Yudi, O. Carm

  12. danny fajar natha nugraha on

    Malam Fr Yudi. Saya Danny dari Malang. Saya pernah live in di biara Karmel Malang Jl Hasanudin Batu Malang Jawa Timur. Waktu itu jamannya Fr Pardede. Fr Pardede sekarang kabarnya bagaimana apa sudah jadi romo. Itu yang pertama, yang kedua yang saya tanyakan bagaimana caranya mengecek apakah panggilan yang kita rasakan adalah berasal dari Tuhan dan bukan sekedar pelarian semata. Karena menurut saya hidup itu indah. Yang saya takutkan kalau tiba2 perasaan yang ada hanya sesaat dan gagal di tengah jalan dan keluar dari biara. Pastinya kalau hal itu terjadi pasti membuat yang bersangkutan mengalami masa yang sulit untuk kembali ke masyarakat. Satu lagi dan yang terakhir. Bagaimanakah caranya melepaskan kemelekatan yang ada dalam diri kita terutama saat kita sudah menjadi frater atau (kita harus meninggalkan segala yang kita miliki termasuk keluarga…terimakasih Fr Yudi saya tunggu kabarnya

    • Robertus Yudi on

      Dear Danny,

      Salam kenal yah, ternyata kamu orang Malang berarti dekat donk dengan biara kami hehehee….
      Ok pertama tentang kabar Fr. Pardede, dia sudah keluar sejak lama dan saya tidak tahu di mana keberadaannya.

      Pertanyaan kedua, tentang cara mengetahui apakah panggilan kita itu asli atau hanya pelarian ? Ini pertanyaan sulit, karena sebenarnya yang tahu jawabannya adalah kamu sendiri. Kamu yang paling mengenal dan mengerti segala hal yang terjadi dalam diri atau batin kamu. Namun saya akan berusaha memberikan sedikit petunjuk (yg sebenarnya sudah tertulis di cerita saya di atas). Pertama, yang namanya panggilan dari Tuhan itu sebenarnya suatu misteri dan sesuatu yg abstrak (tidak jelas pasti atau tidak kelihatan), ini prinsip awalnya ! Jadi, kalau kamu mau tau apakah panggilan kamu itu sungguh asli atau hanya pelarian (sekali lagi hanya kamu sendiri yang bisa merasakannya) prinsipnya apakah “rasa” keterpanggilan itu sungguh-sungguh berasal dari kedalaman batinmu, atau juga (seperti pengalaman saya di atas) berasal dari kerinduan hatimu atau mungkin dari pergulatan pencarian hidupmu yang kamu bawa selalu dalam doa kepada Tuhan. Apakah kamu “merasakan” bahwa Tuhan sendiri yang menggerakkan saya, apakah “rasa” itu sungguh kuat hingga kita tidak bisa lagi menahannya (melupakannya atau tidak menghiraukannya). Kalau bingung kamu bisa baca lagi kisah saya di atas pada masa hidup saya ketika di seminari menengah, di sana saya menceritakan bagaimana akhirnya saya menemukan panggilan Tuhan ini dan menemukan bahwa Karmel adalah pilihan (jawaban) Tuhan atas pencarian saya selama ini. Mungkin cerita saya itu bisa memberikan sedikit gambaran akan maksud dari “rasa” keterpanggilan itu. Kalau sudah seperti itu bisa dikatakan bahwa itu memang sungguh panggilan Tuhan ! (tapi masih belum pasti akan jadi imam, masih butuh banyak perjuangan utk menghidupi dan mempertahankannya).

      Saya juga mau berkomentar tentang ketakutan kamu kalau ternyata itu hanya perasaan sementara (sesaat) saja? Sekali lagi, jika memang itu terjadi itu adalah “kesalahan” kamu karena SEHARUSNYA semua itu sudah kamu ketahui sebelumnya. Memang butuh proses pemikiran, pertimbangan dan pergulatan yang lama serta jangan lupa dibawa dalam doa mohon rahmat agar kita bisa melihat kehendak Tuhan secara lebih jelas dalam hidup kita (sekali lagi baca kisah saya di atas, saya kira saya sudah menjelaskan apa yang saya lakukan dalam proses pencarian saya tersebut di sana). Tetapi kalau ternyata kamu memang masuk dan akhirnya keluar itu juga tidak apa-apa tidak ada yang salah dalam hal ini karena panggilan Tuhan itu misteri, saya saja sampai hari ini (juga saya yakin para romo, bruder, frater dan suster yang sudah senior sekalipun) juga tidak bisa mengatakan bahwa saya (mereka) sungguh 100% dipanggil oleh Tuhan. Panggilan Tuhan itu memang pertama-tama inisiatif dari Tuhan, namun Tuhan membutuhkan kerja sama kita utk menghidupi, menghayati dan mempertahankannya. Keberlangsungan panggilan kami sepenuhnya tergantung dari tanggung jawab kami dalam menghidupinya, mau serius atau kacau itu saja pilihannya ! Dan memang pasti butuh penyesuaian kalau akhirnya keluar dari biara dan hidup di masyarakat sebagai awam biasa. Tetapi saya melihat pengalaman saudara-saudara saya yang sudah keluar, ternyata mereka bisa enjoy dgn hidup baru mereka karena memang itu pilihan Tuhan utk mereka. Oh iya saya juga mau mengingatkan bahwa setiap kita dipanggil Tuhan utk bahagia, jadi pilihan hidupmu apa pun itu, seharusnya mendatangkan kebahagiaan, jika kelak kamu masuk biara dan tidak bahagia, itu bisa menjadi pertanda bahwa itu bukan pilihan Tuhan buat hidupmu, bisa saja kamu memang dipanggil menjadi awam (berlaku juga sebaliknya).

      Pertanyaan ketigamu, tentang melepaskan diri dari kemelekatan. Saya hanya bisa menjawab itu merupakan rahmat dari Tuhan, saya katakan demikian karena jujur saya sendiri dan saya kira banyak kaum religius juga masih harus berjuang seumur hidup utk melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan hidupnya. Pertama-tama memang itu saya percaya rahmat dari Tuhan, tetapi dari diri kita sendiri memang harus ada perjuangan (sekali lagi Tuhan butuh kerja sama kita) kalau kita sungguh mau serius dalam menjalani panggilan ini ya harus berjuang utk melepaskan diri dari kelekatan kita. Kalau tidak mau bisa saja tetap menjadi religius, namun menjadi religius yang tidak radikal dan bagi saya pribadi akan sulit bagi dia untuk menjadi saksi kehadiran Kristus bagi orang di sekitarnya, dan saya kira para umat akan dapat merasakannya ! Dan kamu sendiri bisa membayangkan akan jadi religius model apa dia, seperti sabda Tuhan (Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang). Dalam hal ini saya memang tidak bisa berkesaksian banyak, namun kalau kamu memang mau serius kamu bisa datang ke rumah kami di Jl. Terusan Rajabasa 4, di sini ada seorang frater muda (baru masuk) dia sebelumnya adalah seorang yang sangat-sangat sukses hidupnya, lalu meninggalkan segalanya dan mengikut Tuhan di jalan ini. Mungkin kesaksian dia lebih bisa menyentuh kamu dari pada saya.

      Namun, kalau masalah keluarga saya sendiri punya pengalaman yang bisa disharingkan, baru-baru ini (dalam tahun ini) keluarga kami baru saja mendapat masalah besar (sangat besar malah) yang sungguh membuat ibu saya sedih dan tidak habis pikir. Saya sendiri begitu mendengarnya juga kecewa dan sungguh protes pada Tuhan, saya sampai berkata: “mana janji-Mu ketika aku menyerahkan diriku dalam hidup ini, maka Engkau akan menjaga keluargaku, menjaga segala yang aku tinggalkan ?” Namun berkat permenungan panjang saya dan tentu dibantu oleh para romo di sini, saya disadarkan bahwa tidak menjamin bahwa ketika kita memberikan diri kita pada Tuhan secara penuh di jalan panggilan ini, maka semua yang kita tinggalkan (keluarga kita) akan baik-baik saja. Bukan berarti Tuhan tidak menjaga mereka, namun harus kamu ingat bahwa Tuhan sendiri memberi manusia kebebasan utk menentukan apa yg akan terjadi dalam hidupnya, jadi kalau ada suatu masalah bisa saja itu karena kelalaian salah satu anggota keluarga kita sendiri (seperti pengalaman keluarga saya), atau mungkin saja memang Tuhan ingin memberi kita semacam “ujian” utk melihat keseriusan penyerahan diri kita. Inti yang mau saya katakan, ini semua adalah ujian-ujian yang (mungkin) akan juga kamu alami jika kamu memang akhirnya sungguh menjadi religius (masih ada banyak jenis ujian yang lain loch yah). Semua ini dimaksudkan utk semakin memurnikan panggilan kamu apakah sungguh asli dari Tuhan dan apakah kita sungguh mau menyerahkan diri kita secara utuh dan total padaNya. Ini butuh proses yg panjang, tidak menuntut ketika kamu ingin masuk menjadi religius kamu sudah harus menjadi sempurna. Kesempurnaan justru diperoleh dalam perjalanan, ketika sudah masuk dan menghidupinya (saya rasakan sendiri!). Hanya rahmat Tuhan yang mampu membuat hidup kita menjadi sempurna seperti Dia sendiri, dan kita tetap harus selalu berusaha dan selalu memohonkan rahmat dari-Nya (Baca dan renungkan Luk 11:5-13).

      Sekali lagi saya mengundang kamu untuk kapan-kapan kalau ada waktu utk main ke sini dan kita bisa berdiskusi panjang lebar tentang masalah ini kalau kamu memang sungguh ingin mengetahui dan menemukan apakah kamu sungguh terpanggil. Rumah kami selalu terbuka utk menerima anda.

      Alamat saya:

      Biara Karmel “Beato Titus Brandsma”
      Jl. Terusan Rajabasa 4, Malang
      Tlp:561409

      • Kepada Rm Wanta Pr. yg dikasihi, salam kasih dalam Tuhan…sy bersyukur di atas sarana yg diberikan oleh Rm, sy sgt berminat untuk mengetahui jadual2 retret tersebut….nanti bila ada tarikh yg bersesuaian, mungkin sy akan bisa datang dan mengikuti retret tersebut…

        • Joe yth,

          Retret Panggilan di Griya Hening Susteran OSF, Ambarawa, tgl 28-29 Januari 2012, dan 21-22 Januari di Civita, Jakarta. Hubungi Rm Gandhi, Sj nomor hp.08156607774. atau Fr Cahyo hp. 081380847614

          Salam
          Rm Wanta

          • Shallom Romo Wanta, Pr.

            Terimakasih di atas maklumat yg telah diberikan, agar bisa sy hubungi bila2 masa dan mendapatkan maklumat2 lain mengenai retreat tersebut. Puji Tuhan…

            God Bless,
            Joe Alfred