Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

133

Pendahuluan

Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor khan cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”

Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.

Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang apa sebenarnya hakekat dari dosa, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.

Apakah ‘dosa’ itu?

Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan[1] dari pilihan[2] untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan(1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.

Dosa adalah melawan akal budi, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.

Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “sense appetite“.[3] St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.

Dosa adalah melawan kebenaran, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).

Dosa melawan hati nurani yang benar. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.

Apakah bobot dosa berbeda-beda?

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa semua dosa adalah sama, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.

Namun kalau kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya pernyataan di atas justru kurang mendasar. Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin” (KGK, 1856) dan (2) Dosa ringan atau “venial sin” (KGK, 1863)

Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.[4] Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.

Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.

Apakah efek dari dosa?

Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa[5], di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.

Bagaimana proses Dosa berkembang?

Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa:[6]

  1. Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.
  2. Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).
  3. Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).
  4. Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.
  5. Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.
  6. Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.
  7. Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).
  8. Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.

Jadi apakah Sakramen Pengakuan Dosa?

Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll.[7] Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.

Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.

Nah, dosa adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima sakramen pengakuan dosa. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan Dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.

Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca bagian-2, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.


CATATAN KAKI:
  1. Disebut suatu keputusan, karena dosa adalah suatu keputusan yang diambil oleh keinginan atau “the will“. Pikiran dapat saja membayangkan atau mempengaruhi “the will” untuk berbuat dosa. Namun kalau pada akhirnya seseorang mengambil keputusan untuk tidak menuruti pikiran tersebut, maka orang tersebut tidak berbuat dosa. []
  2. Dosa adalah suatu pilihan, karena kita mempunyai kehendak bebas atau “free will” untuk memutuskan apakan kita memilih berdosa atau tidak. []
  3. Sebelum dosa asal, sense appetite atau keinginan daging tunduk sepenuhnya pada akal budi. Namun setelah dosa asal, semua orang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, atau yang disebut concupiscence (lih KGK, 2515). []
  4. St. Thomas Aquinas, ST, II-I, q.72, a.5 []
  5. Jacques Dupuis, The Christian Faith: In the Doctrinal Documents of the Catholic Church, 7th ed. (New York: Alba House, 2001), 512, p.203.; KGK, 405. []
  6. Francis Spirago, The Catechism Explained: An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion (Tan Books & Publishers, 1994), p. 451-454 []
  7. Lihat data dari The New York Times []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

133 Comments

  1. Shalom tim katolisitas, dari tahapan-tahapan dosa di atas, saya menyimak ada bagian dua yang seperti mengunyah-ngunyah pikiran-pikiran dosa. bagaimanakah agar kita tidak mengunyah-ngunyah dosa?dari pengalaman saya, misalnya saya melihat seorang wanita yang berpakaian tidak sopan dsb, pikiran saya cenderung berpikir tidak murni. pada awalnya saya langsung memotong pemikiran seperti itu. namun kok rasanya pikiran-pikiran ini seperti tertimbun dan lama-kelamaan malah meledak sehingga saya harus terjatuh lagi dalam dosa ketidakmurnian. bagaimanakah caranya untuk mengatasi hal ini?

    • Shalom Kefas,

      Agaknya, resep utama untuk memutuskan segala bentuk keterikatan terhadap dosa bukanlah hal yang baru dan Anda-pun sebenarnya sudah mengetahuinya. Yaitu: doa, permenungan Sabda Tuhan dan penerimaan sakramen-sakramen terutama sakramen Ekaristi dan sakramen Pengakuan dosa secara rutin. Doa yang dimaksud di sini bukan hanya doa 5 menit setiap pagi dan malam, tetapi doa yang sesering mungkin, terutama pada saat godaan itu datang. Juga termasuk dalam doa, adalah permenungan akan sengsara Tuhan Yesus, seperti doa Jalan Salib, agar kita teringat akan penderitaan yang Tuhan Yesus pikul karena segala dosa-dosa kita. Permenungan ini akan mendorong kita untuk tidak mau jatuh pada kesalahan dan dosa yang sama, karena itu artinya kitapun masuk dalam bilangan orang-orang yang mendera dan menyalibkan Tuhan kita.

      Pemeriksaan batin yang baik, yang kemudian diikuti oleh sakramen Pengakuan dosa juga adalah obat yang baik untuk melepaskan diri dari keterikatan dosa. Jika konsisten dilakukan, maka kita akan terdorong untuk memperbaiki diri, karena umumnya akan timbul rasa tidak enak di hati, jika harus sering-sering mengaku dosa untuk kesalahan yang sama. Ada banyak kesaksian orang, yang bisa terlepas dari keterikatan dosa, dengan rajin mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. Walau pada awalnya malu karena setiap minggu mengaku dosa untuk kesalahan yang sama itu, namun setelah beberapa minggu, akhirnya ia sungguh-sungguh dapat terlepas dari ikatan dosa itu. Sakramen Ekaristi juga sangatlah membantu kita dalam perjuangan untuk melawan kebiasaan buruk kita.

      Tentu selanjutnya, harus selalu dihindari, segala kemungkinan yang dapat menarik diri sendiri untuk jatuh kepada kelemahan yang sama tersebut. Dan untuk itu memang diperlukan perjuangan dan niat yang teguh.

      Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom terima kasih bu Ingrid untuk jawabannya..
        selanjutnya saya ingin bertanya lagi:
        1. apakah setelah mengakukan dosa dan memperoleh pengampunan, kemudian melaksanakan penitensi, dosa2 tersebut dilupakan oleh Tuhan dan pada saat kita dihakimi tidak akan diungkit lagi oleh Tuhan Yesus?
        2. Bisakah saya mengakui dosa orang lain?karena ada teman saya yang ingin mengaku dosa tapi bukan Katholik?
        3. Bagaimana cara untuk mendoakan nenek moyang kita yang telah meninggal sebelum dibabtis (dalam arti masih hidup dalam penyembahan berhala dsb.)?
        4, saya merasa malu jika setiap minggu harus mengakui dosa yang sama. Karena kesan saya romo tempat saya mengaku sepertinya mulai tidak sabar dan berpikir saya hanya bermain-main dengan sakramen ini. terkadang sebelum saya sempat mengaku sampai selesai romo sudah memotong pengakuan saya. apakah saya perlu memberi jeda yang lebih panjang? seperti sebulan sekali agar romonya tidak marah?
        Terima kasih..salam damai dalam Tuhan Yesus Kristus…

        • Shalom Kefas,

          1. Jika kita telah bertobat, mengakui dosa dalam sakramen Pengakuan dosa, dan melaksanakan penitensinya, maka kita telah diampuni.

          St. Paus Pius X, dalam Katekismus-nya tentang sakramen Pengakuan dosa:

          19. “Sakramen Pengakuan dosa menyampaikan rahmat pengudusan yang olehnya dosa-dosa berat diampuni dan juga dosa-dosa ringan yang kita akui, dan yang karenanya kita bertobat. Sakramen tersebut mengubah penghukuman/ siksa dosa yang kekal menjadi siksa dosa sementara, yang bahkan darinya ia [sakramen itu] mengampuni lebih kurang menurut sikap batin kita. Sakramen itu menghidupkan kembali jasa-jasa perbuatan baik yang  kita lakukan sebelum kita berbuat dosa berat; dan memberikan kepada jiwa kita bantuan pada waktunya melawan kejatuhan kepada dosa lagi, dan memulihkan damai sejahtera dalam hati nurani.” (The sacrament of Penance confers sanctifying grace by which are remitted the mortal sins and also the venial sins which we confess and for which we are sorry; it changes eternal punishment into temporal punishment, of which it even remits more or less according to our dispositions; it revives the merits of the good works done before committing mortal sin; it gives the soul aid in due time against falling into sin again, and it restores peace of conscience.)

          22. “Sakramen Pengakuan dosa mempunyai kuasa untuk mengampuni semua dosa, tak peduli berapa banyak dan berapa besar dosa-dosa tersebut, asalkan sakramen tersebut diterima dengan sikap batin yang disyaratkan.”

          Dengan demikian dosa-dosa yang sudah diampuni itu tidak akan diungkit lagi oleh Tuhan, namun dari pihak kita, tetap ada konsekuensi yang harus kita tanggung, berupa ‘siksa dosa sementara/ temporal’ yang dapat dipulihkan dengan kita melakukan silih, dengan doa-doa dan perbuatan kasih. Di sinilah perlunya indulgensi, di mana pengertiannya menurut Katekismus Gereja Katolik adalah:

          KGK 1471    “Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengakuan.

          Apakah Itu Indulgensi ?

          “Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”.”Ada indulgensi sebagian atau seluruhnya, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya.” Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati (Paulus VI, Konst. Ap. “Indulgentiarum doctrina” normae 1-3).”

          2. Dalam sakramen Pengakuan dosa, yang diakui adalah dosa kita sendiri, bukan dosa orang lain. Untuk dosa orang lain, silakan ia mengakui dosanya sendiri di hadapan Tuhan.

          3. Untuk mendoakan jiwa nenek moyang kita, kita dapat memohon belas kasihan Tuhan dalam doa-doa pribadi kita, namun yang terbaik adalah dengan mengajukan ujud doa dalam perayaan Ekaristi (lih. KGK 1032).

          4. Tidak perlu merasa malu untuk mengakui dosa yang sama di hadapan pastor/ romo. Namun yang juga penting adalah memohon dengan sungguh kepada Tuhan, agar kita dapat memperoleh tobat yang sejati, agar dapat berjuang sekuat tenaga, untuk tidak jatuh ke dosa yang sama lagi.

          Menurut St. Paus Pius X, ada 5 hal yang perlu untuk pengakuan dosa yang baik: 1) Pemeriksaan batin yang baik, 2) duka cita yang mendalam karena telah melawan Tuhan; 3) niat yang kuat agar tidak berdosa lagi; 4) pengakuan akan dosa-dosa kita; 5) melakukan penitensinya.

          Jika Anda terus mengulangi dosa yang sama, maka perlu dilihat, adakah yang belum dilakukan dari kelima hal ini? Sudahkah Anda dan saya melakukan hal yang paling mendasar, yaitu dengan tekun dan setia memeriksa batin kita setiap hari? Misalnya pada malam hari? (Silakan klik di sini, untuk contoh doa malam dengan pemeriksaan batin). Pengakuan dosa yang sering seperti 2 minggu sekali atau bahkan seminggu sekali adalah hal yang baik, dan jika dilakukan dengan disposisi batin yang baik, akan melepaskan kita dari ikatan dosa tertentu yang paling sering dilakukan. St. Paus Yohanes Paulus II, dan Mother Teresa mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan sebanyak seminggu sekali, dan lihatlah betapa rahmat Tuhan telah membantu mereka bertumbuh dalam kekudusan dalam hidup mereka.

          Maka masalahnya bukan untuk membuat Pengakuan itu lebih jarang, tetapi untuk membuat Pengakuan dosa yang telah dengan rutin dilakukan agar menjadi Pengakuan dosa yang baik, supaya sungguh berdaya guna mengubah kita menjadi orang yang lebih baik. Setiap umat beriman sama-sama berjuang dalam hal ini, dan untuk itu marilah kita saling mendoakan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom katolisitas, Apakah mngucapkn kata – kata sperti ” Astagfirullah” ,” Allahuakbar” dll. apabila dilakukn penilaian dri perspektif Katolik adalah sbuah dosa? Saya sering mngucapkn kata-kata seperti itu krna tersugesti oleh kaum muslim dskitar tmpat tinggal sya. Tlong penjelasannya .

    Salam dlm Kristus Yesus.

    • Shalom Tribarfin,
      Silakan membaca artikel di atas, silakan klik, untuk mengetahui tentang definisi dosa; dan tentang relitas dosa dalam hidup manusia, klik di sini. Pendek kata, dosa adalah perbuatan yang melawan akal sehat, melawan hati nurani dan melawan kehendak Allah.
      Nah, ungkapan-ungkapan yang Anda sebutkan memang tidak melawan Allah, dan kemungkinan juga umum diucapkan oleh umat Kristen di Arab, sebab mengandung arti yang positif/ tidak menentang Allah. Namun jika diucapkan di sini, memang persoalannya menjadi berbeda, karena ungkapan itu tidak umum diucapkan oleh umat Kristiani di Indonesia, dan bahkan dapat menjadi batu sandungan, terutama kepada saudara-saudari kita yang muslim, yang mungkin kurang berkenan jika ungkapan tersebut diucapkan oleh umat non-muslim. Dalam hal ini, kita harus berpegang kepada ajaran Rasul Paulus, yaitu jangan melakukan sesuatu yang dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain, sebab jika kita tetap melakukan itu, artinya kita berdosa (lih. 1 Kor 8:9-12).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Apakah ketika kita mengakukan dosa kita, setelah itu seluruh dosa kita PASTI diampuni atau cuma sekedar harapan? kalau menurut pemahaman saya baca baca di ekaristi.org, dikatakan kita tidak dapat mengetahui secara absolute certainty kalau kita diampuni.

    • Shalom Sam,

      Asalkan seseorang telah melakukan pemeriksaan batin yang baik, dan telah mengakukan semua dosanya dalam sakramen Pengakuan dosa, maka dosanya akan diampuni, oleh karena janji Kristus sendiri terhadap Gereja-Nya. Namun jika ia tidak mengakui semua dosanya, maka dosanya yang masih disembunyikannya itulah yang belum memperoleh pengampunan.

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 1456    Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan: “Dalam Pengakuan para peniten harus menyampaikan semua dosa berat, yang mereka sadari setelah pemeriksaan diri secara saksamajuga apabila itu hanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya melawan dua perintah terakhir dari sepuluh perintah Allah (Bdk. Kel 20:17; Ul 5:21; Mat 5:28); kadang-kadang dosa ini melukai jiwa lebih berat dan karena itu lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan secara terbuka” (Konsili Trente: DS 1680).

      “Jadi kalau warga beriman Kristen berusaha mengakukan semua dosa yang mereka ingat, mereka tanpa ragu-ragu menempatkan segala dosanya di hadapan kerahiman ilahi, agar diampuni. Tetapi siapa yang berbuat lain dan dengan sengaja mendiamkan sesuatu, ia tidak menyampaikan apa-apa kepada kebaikan ilahi demi pengampunan oleh imam. Karena kalau orang sakit merasa malu membuka lukanya kepada dokter, maka obat tidak akan menyembuhkan apa yang tidak dikenalnya (Hieronimus, Eccl. 10,11)” (Konsili Trente: DS 1680).

      KGK 1441        Hanya Tuhan dapat mengampuni dosa (Bdk. Mrk 2:7). Karena Yesus itu Putera Allah, Ia mengatakan tentang diri-Nya, “bahwa di dunia Anak Manusia mempunyai kuasa mengampuni dosa” (Mrk 2:10). Ia melaksanakan kuasa ilahi ini: “Dosamu sudah diampuni” (Mrk 2:5; Luk 7:48). Lebih lagi: berkat otoritas ilahi-Nya, Ia memberi kuasa ini kepada manusia (Bdk. Yoh 20:21-23)., supaya mereka pun melaksanakannya atas nama-Nya.

      KGK 1444    Tuhan memberi kepada para Rasul kuasa-Nya sendiri untuk mengampuni dosa, Ia juga memberi kepada mereka otoritas untuk mendamaikan para pendosa dengan Gereja. Aspek gerejani dari tugas ini terutama kelihatan dalam perkataan meriah Kristus kepada Simon Petrus: “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga; apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19). Jelaslah, bahwa “tugas mengikat dan melepaskan, yang diserahkan kepada Petrus, ternyata diberikan juga kepada Dewan para Rasul dalam persekutuan dengan kepalanya Bdk. Mat 18:18; 28:16-20.” (LG 22).   

      Dengan demikian, kita tidak perlu meragukan apakah kita menerima pengampunan Allah atau tidak jika kita sudah dengan tulus mengakui semua dosa kita di hadapan imam-Nya yang telah diberi kuasa oleh Allah untuk mengampuni dosa-dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. Sebab Tuhan pasti memenuhi janji-Nya untuk mengampuni kita umat-Nya, jika kita telah sungguh bertobat. Maka yang tidak pasti bukan pengampunan dari pihak Tuhan, tetapi apakah peniten itu sudah sungguh-sungguh memeriksa batin dan mengakui semua dosanya, termasuk dosa yang tersembunyi. Jika sudah, maka iman kita mengajarkan bahwa ia pasti memperoleh pengampunan dosa dari Allah, melalui sakramen Pengakuan dosa tersebut. Namun jika belum, itulah dosa yang belum diampuni, sebab belum diakui di hadapan Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Ketika kita mengakukan dosa kita, setelah itu dosa kita benar benar telah dihapuskan. Bagaimana kalau ketika kita mengakukannya, kita tidak benar benar bertobat, atau dengan kata lain pertobatan itu hanya di mulut saja? apakah dosa kita tetap telah dihapuskan?

    • Shalom Sparx,

      Kalau kita mengatakan dalam Pengakuan Dosa bahwa kita menyesal dan berjanji dengan pertolongan Tuhan untuk tidak berbuat dosa, namun dalam hati kita sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh menyesal, maka kita telah berbuat dosa baru yang justru malah semakin berat. Kalau ini yang terjadi, sebenarnya kita tidak mendapatkan pengampunan dosa, karena salah satu materi Pengakuan dosa adalah penyesalan. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • syalom katolisitas,,

        apakah hanya dengan mengaku dosa dan menyesali dosa, lalu tidak mengulangi kembali perbuatan dosa, kita bisa atau dapat diampuni???

        tidak perlu kah kita meminta maaf terlebih dahulu kepada siapa kita telah berbuat dosa?

        misal saya berbohong kepada teman, tidak perlukah saya minta maaf terlebih dahulu? atau hanya dengan bertobat kita sudah diampuni??

        terimakasih.

        [Dari Katolisitas: Tentu sudah seharusnya kita meminta maaf kepada sesama yang kepadanya kita telah berbuat salah, jika memungkinkan -maksudnya orang yang kepadanya kita telah berbuat salah itu masih hidup dan masih bisa dihubungi. Namun persyaratan kita diampuni oleh Tuhan tidak hanya semata tergantung dari kesediaan orang itu untuk mengampuni kita. Seandainya orang itu tidak mengampuni kita sekalipun, Allah tetap mengampuni kita (Ia melepaskan kita dari ikatan dosa tersebutu), asalkan kita sudah sungguh bertobat dan mengakui dosa tersebut di hadapan-Nya dalam sakramen Pengakuan dosa. Juga, kalau misalnya sudah tidak memungkinkan untuk meminta maaf kepada orang tersebut, karena ia sudah meninggal atau sudah pindah entah kemana, maka ikatan dosa kita itu dapat dilepaskan oleh imam yang mendapat kuasa dari Kristus untuk mengampuni dosa umat-Nya.]

  5. Bernabas Irijanto Batu on

    Adalah sebuah MAKNA yang sangat VISIONER ! Ketika Santo PETRUS yang dipilih / ditunjuk oleh Allah BAPA, lalu disampaikan oleh Allah PUTERA untuk menjadi BATU KARANG Jemaat didirikan dan diberikan KUNCI SURGA. Betapa tidak, Santo Petrus adalah Sosok Pendosa dan bahkan Penghianat Tuhan Yesus yang nyata dan berulang ulang. Adalah suatu CONTOH untuk Umat yang diharapkan untuk tetap Setia dan Bertobat dalam kehidupan Jemaat Tuhan sampai akhir zaman. Kenapa bukan Santo Yohanes atau Santo lain yang lebih taat dan setia untuk layak ditunjuk / dipilih BAPA lalu disampaikan PUTERA sebagai tempat Tuhan mendirikan Jemaat-Nya dan bahkan diberikan Kunci Surga sebagai peringatan kepada yang tidak mau taat kepada penunjukkan / pilihan Allah BAPA sendiri…?!?

    Semoga KUASA PENGAMPUNAN DOSA sesama Manusia hendaknya dipergunakan untuk layak Dosa dapat diampuni. Yang terus menerus sebagai suatu ketaatan yang nyata.

    Demi Nama BAPA, dan PUTERA, dan ROH KUDUS. Amin

    • Shalom Bernabas,

      Silakan terlebih dahulu membaca artikel seri tentang Keutamaan Petrus di situs ini:

      Keutamaan Petrus (1): Menurut Kitab Suci
      Keutamaan Petrus (2): Bukti Sejarah tentang Keberadaan Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus (3): Tanggapan terhadap Mereka yang Menentang Keberadaan Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus (4): Menurut Dokumen Awal Gereja
      Keutamaan Petrus (5): Dalam Gereja di Lima Abad Pertama

      Adalah merupakan kebijaksanaan Tuhan Yesus, bahwa Ia telah menunjuk Rasul Petrus sebagai batu karang, yang atasnya Ia mendirikan Gereja-Nya. Allah yang mengetahui segala sesuatu, mengetahui setiap kelebihan dan kekurangan setiap murid-Nya, dan atas kehendak-Nya ia telah memilih Rasul Petrus sebagai pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja-Nya setelah kenaikan-Nya ke Surga. Walaupun Rasul Petrus adalah orang yang tak luput dari kesalahan, namun keutamaannya jika dibandingkan dengan para Rasul lainnya juga sangat nyata, seperti pernah di artikel Keutamaan Petrus (bagian 1) menurut Kitab Suci.

      Rasul Petrus memang pernah menyangkal Yesus, namun yang disangkalnya adalah bahwa ia mengenal Yesus (karena takut), namun ia tidak pernah menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah. Nampaknya, walaupun ia pernah menyangkal Yesus, namun Rasul Petrus bertobat, dan Kristus tetap mempercayakan kepadanya tugas untuk memimpin umat-Nya. Ini memberikan pengharapan kepada kita, yang juga kerap dapat jatuh dalam dosa -dan dengan demikian seperti Petrus kitapun menyangkal Yesus- agar kitapun meniru teladannya untuk bertobat, dan kembali menyatakan kasih kita kepada Kristus, sebagaimana dilakukan oleh Rasul Petrus (lih Yoh 21: 15-19). Walaupun kita lemah dan kerap jatuh dalam dosa, namun asalkan kita terus bertobat dan kembali kepada Tuhan, maka Ia berkenan mengampuni kita dan tetap mempercayakan juga tugas-tugas bagi kita sesuai dengan kehendak-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Bernabas Irijanto Batu on

    Syaloom katolisitas.org,

    Kalau boleh saya sharing dan mohon koreksi tentang pandangan saya ini !?

    1. Sakramen Pengakuan Dosa adalah ANUGERAH KASIH yang sangat LUAR BIASA yang dijalankan dan dimaknai oleh Gereja Katolik. Betapa tidak, hal ini sesuai dengan Injil Yohanes 20 : 22 – 23
    20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
    20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

    2. Mengakui DOSA adalah bukan perkara yang MUDAH bagi Manusia, walaupun itu hanya bercanda. Karena Pengakuan Dosa membutuhkan keberanian yang Luar Biasa dan Resiko yang berbahaya kepada orang yang bersangkutan Dosa tersebut, bila tidak dapat menahan diri pada sebuah Pengakuan Dosa.

    3. Pengakuan Dosa adalah MUTLAK sebagai syarat untuk PENGAMPUNAN DOSA. Yang mana, hubungan ini sebagai ikatan satu sama lain. Dosa DAPAT DIAMPUNI jika terlebih dahulu MENGAMPUNI DOSA sesama manusia. Jadi Umat Katolik sangat siwajibkan untuk MENGAMPUNI DOSA sesama Manusia……JIKA…Dosanya mohon DIAMPUNI. Dengan kata lain, JANGAN HARAP Dosamu dapat DIAMPUNI oleh Tuhan Yesus, JIKA kamu tidak pernah mengampuni Dosa sesamu Manusia terlebih dahulu. Betapa EGOIS-nya Manusia yang mohon DIAMPUNI, sementara tidak mau / pernah MENGAMPUNI Dosa sesamanya Manusia. Sekaligus menjadikan Tuhan Yesus menjadi TEMPAT SAMPAH DOSA sesama manusia semata. Bukankah Manusia yang berbuat DOSA ? Kenapa Tuhan Yesus yang mesti mengurusi Dosa sesama Manusia yang dengan mudah dapat memberikan PENGAMPUNAN DOSA oleh karena Pemberian ANUGERAH KASIH Mengampuni Dosa sesama manusia oleh Tuhan Yesus secara LANGSUNG dan NYATA ?!?

    4. Tuhan Yesus telah memberikan BERKAT KUASA Pengampunan Dosa melalui Allah Roh Kudus yang tidak dapat dipungkiri sebagian Umat Katolik tidak mengunakan Berkat Kuasa ini. Mungkin juga tidak memahami Berkat Kuasa Pengampunan Dosa ini. Apalagi yang tidak memahami ? Justru Cemburu dan Menghujat semata. Apalagi kalau menjadikan TUHAN sebagai TEMPAT SAMPAH DOSA atau percaya HANYA Tuhan yang dapat mengampuni DOSA. Maka SIA SIA lah Berkat Kuasa Pengampunan Dosa yang diberikan Tuhan melalui pemulihan hubungan Tuhan dengan Manusia melalui Pengorbanan Sahabat yang menyerahkan Nyawa-Nya demi sahabat-NYA oleh Tuhan Yesus kita.

    5. Jadi dengan Berkat Kuasa Pengampunan Dosa sesama manusia dalam Injil Yohanes 20 : 22 -23 memberikan makna bahwa : Jangankan Romo / Pastor yang dapat KUASA MENGAMPUNI DOSA sesama Manusia, Umat AWAM saja sudah diberikan Kuasa Pengampunan Dosa sejak Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus samapai Akhir Zaman. Bahkan menjadi Syarat yang HARUS dilakukan untuk mendapatkan Pengampunan Dosa dari Tuhan sendiri. Seperti dalam Doa Bapa Kami :

    “…Ampunilah Dosa kami, seperti kamipun mengampuni Dosa sesama kami….”

    Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

    • Shalom Bernabas,

      Dalam doa Bapa Kami di bagian “Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”, seluruh umat Allah tidak diberikan kuasa untuk mengampuni dosa, namun diminta untuk dapat mengampuni kesalahan sesama. Kalau kita dapat mengampuni, maka masalahnya bukanlah pada diri orang lain, namun pada diri kita yang tidak dapat mengampuni. Namun, pada Yoh 20:21-23, maka kita melihat konteks yang berbeda, yaitu Kristus memberikan kuasa kepada para rasul – yang diteruskan oleh para uskup dibantu para imam – untuk mengampuni dosa orang lain, sehingga diampuni juga di Sorga; dan menyatakan dosa tetap ada, sehingga dosanya tetap ada.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. 1. Apakah tidak percaya kepada Tuhan Yesus dan ajaranNya bisa disamakan / dikategorikan dengan menghujat Roh Kudus? Mohon diberi contoh hal – hal yang dikategorikan dengan menghujat Roh Kudus dalam kehidupan sehari – hari.
    2. Bagaimanakah pandangan gereja Katolik terhadap kebaikan yang sudah ada pada Manusia sejak manusia itu sendiri diciptakan ? apakah hal tersebut masih dipertahankan sampai sekarang ?
    3. Apakah yang dimaksud dengan ada kebenaran ditiap Agama – agama apapun agama tersebut ? apakah hal tersebut bisa mengantar / menuntun Agama selain Kristen kelak bisa masuk dalam kerajaan surga tanpa perantaraan Kristus ?
    4. Bagaimanakah pandangan gereja Katolik dengan pandangan seperti ini; Aku tidak mengenal Yesus dan bagi saya Yesus bukan Tuhan, tapi aku mengenal perbuatan- perbutanNya dan aku mencontoh dan melakukan hal tersebut tapi Aku beragama lain (selain Kristen)) ?

    • Shalom Jery,

      1. Tentang dosa menghujat Roh Kudus

      Tentang dosa menghujat Roh Kudus, silakan klik di sini. Di sana telah disebutkan pengertiannya dan contoh-contohnya.

      2. Tentang kebaikan pada diri manusia

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa meskipun manusia pertama sudah jatuh dalam dosa, namun manusia tidak menjadi rusak sama sekali sehingga tidak lagi ada kebaikan di dalam diri mereka. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka meskipun dirusak oleh dosa, namun tetaplah itu tidak mengubah kenyataan bahwa manusia diciptakan Allah baik adanya. Oleh karena itu martabat manusia tetap harus dijunjung tinggi. Katekismus mengajarkan:

      KGK 405    Walaupun “berada pada setiap orang secara pribadi” (Bdk. Konsili Trente: DS 1513), namun dosa asal tidak mempunyai sifat kesalahan pribadi pada keturunan Adam. Manusia kehilangan kekudusan asli, namun kodrat manusiawi tidak rusak sama sekali, tetapi hanya dilukai dalam kekuatan alaminya. Ia takluk kepada kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut dan condong kepada dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan “concupiscentia”. Karena Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus, ia menghapus dosa asal dan mengarahkan manusia kepada Allah lagi, tetapi akibat-akibat untuk kodrat, yang sudah diperlemah tinggal dalam manusia dan mengharuskan dia untuk berjuang secara rohani.

      3. Tentang adanya kebenaran di tiap-tiap agama

      Yang dimaksud dengan adanya sinar kebenaran yang ada juga dalam agama- agama lain itu adalah adanya hal-hal yang baik yang diajarkan oleh agama-agama tersebut yang mengatur cara-cara bertindak dan cara hidup (lih. Konsili Vatikan II, Nostra Aetate 2). Dan Gereja menganggap segala hal yang baik dan benar tersebut sebagai persiapan Injil (lih. Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 16) yaitu persiapan bagi mereka untuk dapat menerima kepenuhan kebenaran yang diajarkan oleh Kristus.

      Apakah kebenaran yang mereka ketahui itu dapat menghantar kepada keselamatan? Jawabnya tergantung kepada apakah ketidaktahuan mereka akan kebenaran Kristus itu disebabkan karena kesalahan mereka sendiri atau tidak. Konsili Vatikan II mengajarakan, “mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar…. (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 16). Namun jika sampai orang tersebut diselamatkan, semua hanya terjadi karena Kristus, satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6).

      Selanjutnya mengenai ajaran tentang keselamatan, silakan klik di sini.

      4. Mengenal dan mencontoh perbuatan Yesus tapi tidak percaya kepada-Nya

      Pandangan ini belum secara penuh sesuai dengan Sabda Tuhan tentang keselamatan/ kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16,18,36; Yoh 6:40; 1 Yoh 2:23, 1 Yoh 5:10, 13), dan belum menandakan bahwa orang tersebut sungguh mengenal Allah. Sebab demikianlah yang dikatakan dalam Kitab Suci:

      “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” (1 Yoh 2:3)

      “Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” (1 Yoh 3:23)

      “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” (1 Yoh 2:4)

      “Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” (1 Yoh 5:10-12)

      Namun kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah orang itu tidak sungguh mengenal Kristus karena kesalahannya sendiri, atau tidak? Sebab jika bukan karena kesalahannya sendiri, maka yang berlaku adalah seperti yang disebutkan dalam Lumen Gentium 16 (lihat point 3). Sedangkan jika ia sudah sungguh-sungguh mengetahui tentang Kristus dan ajaran-Nya namun sengaja, dengan kesadaran penuh menolak-Nya, maka yang berlaku adalah seperti yang disebut dalam Yoh 3:18, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Orang Berd*sa on

    Shalom om Stef,tante Inggrid,romo Santo,& seluruh Tim Katolisitas.

    Saya seorang Katolik dan saya sudah berusha mengimani serta mengikuti semua ajaran Katolik sebaik mungkin.tapi ada satu hal yang masih suka menghalangi yaitu rasa penasaran saya (yang suka tiba2 muncul) dengan Masturbasi dan Pornografi.
    sebenarnya saya sudah berusaha meniatkan untuk tidak lagi penasaran dengan hal tersebut sejak pengakuan saya yang terkahir kemarin yaitu hari jum’at.sayangnya,apa mungkin karena beban tugas kuliah yang yang sementara saya pikul atau mungkin karena kesengajaan saya sendiri yang mungkin mau mencobai Rahmat Tuhan(walaupun sebenarnya saya tidak mau melakukan itu)
    ,tepat kemarin sore saya jatuh lagi bahkan sampai 2 kali.
    Dan malamnya saya langsung berdoa Rosario untuk memohon agar masih bisa diberikan kesempatan oleh TUHAN untuk menerima sakramen Pengakuan pagi ini.tetapi,ternyata TUHAN berkehendak lain.pada saat saya mau ketemu romonya(romo yang berada d paroki saya),beliau malah kayak menolak sehingga tadi saya cuma bisa berdoa di dalam Gereja dihadapan salib Tuhan dalam keadaan seperti orang terbuang karena seakan2 dicampakkan atau mungkin TUHAN udah gak sayang saya lagi?
    (mohon diperhatikan:saya tidak bermaksud mengutuk TUHAN)
    dan sekarang saya bingung mau bagaimana lagi?
    bahkan fikiran untuk tidak lagi mempercayai Iman Katolik menyerang saya ketika romo yang saya semula harapkan untuk bisa memberikan Sakramen Pengampunan tersebut menolak.
    saya juga sempat mendoakan Doa 15 Penderitaan Rahasia TUHAN YESUS KRISTUS yang disebarkan sebelumnya oleh Santa Brigitta dari Swedia (bahkan sampai setiap hari)karena terdapat salah satu Janji TUHAN dimana,
    “18.Setiap kali kau mengucapkan doa ini,engkau akan mendapatkan pengampunan 100 hari”
    Tapi,saya pun masih bingung dengan hal tersebut.

    Mohon petunjuknya om Stef,tante Inggrid,romo Santo dan segenap tim Katolisitas lainnya.

    Terima Kasih….

    • Shalom Orang Berd*sa,

      Pertama-tama, marilah kita sadari bahwa jika kita jatuh ke dalam dosa, namun segera menyesalinya, itu adalah karena Roh Kudus yang menyadarkan kita. Untuk itu kita perlu bersyukur, karena Tuhan memampukan hati nurani kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan pertobatan. Nampaknya inilah yang terjadi pada Anda, sehingga Anda berkehendak untuk segera mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, setelah Anda jatuh ke dalam dosa tersebut. Bahwa kenyataannya niat Anda belum sampai terlaksana, anggaplah itu sebagai kesempatan untuk membuktikan keteguhan niat Anda untuk bertobat, dan keesokan harinya kembali meminta kesediaan Romo untuk memberikan sakramen Pengakuan Dosa. Janganlah berpikiran terlalu negatif, sebab dapat terjadi, Romo terburu-buru setelah Misa pagi karena ada acara lain atau tugas lain. Sudahkah Anda menyatakan keinginan Anda untuk mengaku dosa, atau kesan Romo menolak adalah kesan Anda pribadi sebelum bertanya? Sebab umumnya Romo tidak akan menolak jika ada umat yang mau mengaku dosa, kecuali jika ia memiliki suatu kegiatan/ kepentingan lain yang mendesak.

      Jika demikian, silakan Anda melihat jadwal Pengakuan Dosa di paroki Anda, atau menanyakan ke sekretariat, untuk mengatur waktu untuk bertemu dengan Romo untuk sakramen Pengakuan dosa. Anggaplah ini sebagai bagian dari proses pertobatan Anda. Janganlah berpikir bahwa Tuhan menolak atau mencampakkan Anda, sebab Tuhan tidak pernah menolak orang yang sungguh bertobat. Tuhan sendiri menjanjikan akan memberi kelegaan kepada orang yang berbeban berat (lih Mat 11: 28). Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tak dapat diampuni oleh Tuhan, asalkan diakui dengan penuh penyesalan. Kasih Tuhan melampaui segala kelemahan dan dosa-dosa kita, janganlah kita meragukan hal ini.

      Sedangkan tentang doa St. Brigita, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Salam sdr. Berd*sa,

      Jumat tgl.26 Anda mengaku dosa karena godaan seksual, tgl.29 Anda jatuh ke dosa yg sama. Hari Senin tgl.30 Anda ingin mengaku dosa lagi karena dosa yg sama. Mungkin sebelum tgl.26 Anda sudah mengaku dosa beberapa kali kepada Romo untuk dosa seksual yg sama tsb. Bila demikian, mungkin saja Romo “agak” menghindar sewaktu Anda bertemu tgl.30.

      Marilah kita melihat secara positif sikap Romo tsb. Misalnya, pada tgl.30 Anda dapat mengaku dosa, apakah Anda dapat yakin selama 5-hari kedepan tidak jatuh lagi ke godaan seksual yg sama? Mungkin, Romo tsb mengajak Anda menyadari bahwa: Setelah mengaku dosa tidak berarti Anda akan kebal terhadap dosa.

      Dalam hidup rohani, marilah kita memusatkan perhatian pada perkembangan relasi pribadi kita dengan Yesus, Tuhan kita. Apakah dari hari ke hari kita semakin mempunyai relasi kasih yg mendalam dengan Tuhan…dan menyadari kehadiran-Nya dalam peristiwa2 hidup kita yg sederhana? Sakramen-sakramen dalam Gereja adalah bantuan Ilahi bagi kita agar kita tumbuh dalam relasi ini.

      Perjalanan rohani ibarat Anda mendaki gunung. Bila ada kerikil atau lumpur masuk sepatu Anda, Anda tetaplah berjalan menuju puncak gunung. Tetapi bila kerikil atau lumpur itu sudah benar-benar mengganggu, Anda dapat berhenti sebentar membersihkan sepatu Anda… dan segeralah berjalan kembali! Tetapi, bila setiap ada kerikil atau kotoran masuk sepatu, dan setiap kali itu pula Anda berhenti berjalan dan membersihkan sepatu… Anda tidak akan sampai ke puncak gunung. Energi Anda telanjur habis, dan Anda akan pulang kerumah bukan sebagai penakluk puncak gunung tetapi sebagai tukang bersih sepatu.

      Seorang biarawan yg sudah berpuluh tahun memberi nasehat: dalam perjalanan rohani ada TIGA hal penting, yaitu: kesetiaan, kesabaran, keberanian.

      Kesetiaan: untuk mengembangkan hidup rohani, kita harus disiplin membuat kebiasaan baik: doa harian rutin pagi-sore-malam, pantang dan puasa di hari tertentu, dll. semuanya dilakukan secara disiplin. “Kebiasaan baik”/ virtue akan menghilangkan “kebiasaan buruk” dgn sendirinya.

      Kesabaran: kita harus menerima kenyataan bahwa kita ini rapuh. karena itu kita butuh pertolongan Tuhan. Tidak marah pada diri sendiri, tetapi berserah pada Tuhan. Tuhan dapat menunjukkan kemuliaan-Nya dalam kelemahan kita.

      Sekian dulu. Selamat menempuh jalan rohani Anda.
      Semoga Tuhan memberkati kita.

      • Orang Berd*sa on

        Terima Kasih Solusinya,Puji Tuhan beberapa hari yang lalu saya sudah mendapat absolusi. Maksud saya, Absolusi ( Sakramen Pengakuan Dosa )
        Tolong Doakan Perjuangan saya supaya jangan saya jatuh lagi.

        GOD Bless u all… ^_^

        [Dari Katolisitas: Kami turut mendoakan, agar rahmat Allah yang Anda terima dalam sakramen Pengakuan Dosa itu memampukan Anda untuk seterusnya menolak bujukan dosa tersebut.]

  9. Tahap 6: Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.
    Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati.
    Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan.
    Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.

    Shalom team katolisitas, saya masih belum paham dengan ilustrasi diatas. Apakah maksudnya : anak Yairus mati karena dosa didalam hati, kemudian anak janda dari kota Nain mati karena dosa yang telah menjadi kebiasaan, dan kematian lazarus karena lazarus memiliki kebiasaan jahat yang mendatangkan maut kepadanya ?
    Mohon penjelasannya.
    Trims sebelumnya.

    • Shalom Frans,

      Salah satu metode membaca Kitab Suci adalah dengan melihat arti secara spiritual. Kalau kita hubungkan bahwa dosa dapat membawa kematian, maka peristiwa tiga kali Kristus membangkitkan orang mati berbicara juga tentang bagaimana Kristus membantu kita untuk bangkit dari dosa. Kebangkitan yang pertama, terjadi masih di rumah, yang dilambangkan dengan rumah hati kita, sehingga mudah untuk dibangkitkan. Sama seperti dosa yang masih di dalam hati lebih mudah untuk diatasi. Namun kalau sudah sampai menjadi perbuatan (kebangkitan yang kedua – dilambangkan di pintu gerbang) dan telah menjadi kebiasaan (kebangkitan yang kedua – dilambangkan telah berhari-hari mati), maka akan lebih sulit untuk mengatasinya. Dibutuhkan rahmat Allah untuk mengatasi dosa-dosa ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef- katolisitas.org

  10. Shalom Katolisitas.org

    Saya bersyukur boleh membaca artikel ini dan sangat berguna sekali bagi kehidupan rohani kita semua, yang saya ingin tanyakan adalah kata ini:

    “Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424).”

    dan juga kutipan tentang (habit of sin) atau kebiasaan berbuat dosa, terutama yang saya baca di artikel “Berfantasi sex apakah dosa?” yang dikatakan bahwa dosa dapat dikalahkan dengan kebajikan.

    Pertanyaan saya, 1)Apakah seorang yang berdosa berat akan terampuni diluar pengakuan dosa dengan kebajikan yang dia lakukan, contoh dia dalam kecenderungan dosa masturbasi (habit of sin) ,tetapi dia berhasil kita sebut saja dia sudah lepas dan tidak pernah jatuh lagi dalam dosa itu dengan cara-cara kebaikan yang dia lakukan lalu apakah dia terampuni?

    terimakasih Katolisistas, Tuhan memberkati

    [Dari Katolisitas: Cara yang ketahui Gereja tentang penerimaan rahmat pengampunan Allah sebagaimana dikehendaki oleh Kristus adalah melalui sakramen Pengakuan dosa, berdasarkan Sabda Kristus sendiri di Yoh 20:21-23. Maka Gereja Katolik meneruskan ajaran ini. Jika Anda Katolik, silakan Anda mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. Cara yang lain, walaupun sepertinya dapat saja dilakukan, namun tidak memberikan jaminan pengampunan dosa, sebagaimana yang dijanjikan oleh Kristus. Sakramen Pengakuan dosa yang mensyaratkan kerendahan hati dan ketaatan (sehingga kita mau menyatakan dosa kita di hadapan Tuhan melalui imam-Nya), adalah cara yang dikehendaki oleh Kristus bagi kita untuk mencabut akar dosa yaitu kesombongan dan ketidaktaatan akan kehendak Tuhan.]

  11. Saya hampir 6 tahun hidup di Seminari menengah dan tinggi, hingga akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri. Semenjak itulah saya tidak pernah mengaku dosa lagi, saya menganggap bahwa Tuhan yg akan memaafkan saya secara langsung tanpa pengakuan dosa, tp apa yg terjadi, saya semakin semena-mena dlm hidup, toh saya tdk perlu lg mengaku dosa dan Tuhan pasti memaafkan saya. Ketika kita mulai berpikir demikian, kita akan terus-terus terjatuh dlm dosa, menyepelekan atau menggampangkan terhadap dosa itu sendiri. Karena saat kita hanya meminta maaf pada Tuhan, dan tidak mendapatkan penitensi, saya rasa kita gampang sekali untuk kembali jatuh dlm dosa tersebut, rasa penyesalan menjadi kurang, setidaknya demikian yg saya rasakan, padahal sakramen tobat dlm gereja Katolik itu sungguh luar biasa, krn setiap pastor mendapatkan otoritasnya dari Tuhan sendiri utk mengampuni dosa kita. Jamgan pernah menyepelekan Sakramen Tobat.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing Anda ini, semoga menguatkan pemahaman dan penghayatan kita akan sakramen Pengakuan Dosa]

  12. Shalom Om Stef n Tante Inggrid dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…

    Sebagai orang berdosa,saya hanya mau tahu kira-kira berapa kali waktu yang dibutuhkan untuk kita sebagai manusia-manusia berdosa untuk melakukan Sakramen Pengakuan Dosa?

    Itu Saja,
    Terima Kasih n Tuhan Yesus Memberkati..

    • Shalom Richard,

      Secara teknis, seharusnya setiap kali, sesudah kita jatuh dalam dosa berat, kita perlu segera mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa. Pengakuan akan dosa berat ini penting, sebab sesungguhnya jika kita belum mengakuinya, kita tidak dapat menerima Komuni kudus. Nah tentang apa itu dosa berat, sudah dijelaskan di artikel di atas, yaitu 1) obyek moralnya berat (artinya memang akibatnya berat/ buruk bagi diri sendiri maupun orang lain), 2) kita sudah tahu bahwa perbuatan itu dosa, 3) namun tetap kita lakukan juga, dengan kehendak bebas kita. Misalnya sudah tahu bahwa menyontek itu dosa, dan akibatnya buruk terhadap diri sendiri dan orang lain, namun tetap dilakukan juga.

      Nah, memang tidak ada patokan tertulis, seberapa sering kita perlu mengaku dosa. Ada orang yang mengaku dosa seminggu sekali atau dua minggu sekali, tentu itu baik. Beberapa penulis rohani Katolik menyarankan sebulan sekali kita mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, namun dapat lebih sering, jika ingin mengalahkan kecenderungan dosa tertentu. Maka Pengakuan Dosa, jika dilakukan dengan baik, akan membantu kita untuk bertumbuh secara rohani. Pengakuan Dosa di sini tidak dilihat sebagai beban dan kewajiban, tetapi sebagai suatu kebutuhan, agar kita dapat bertumbuh untuk menjadi semakin menyerupai Kristus. Mother Teresa dan Paus Yohanes Paulus II mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa seminggu sekali. Jika mereka yang hidupnya sudah sedemikian baik saja mau merendahkan hati untuk mengakui dosa dan kekurangan mereka di hadapan Tuhan, maka selayaknya kitapun bersikap yang sama. Dengan demikian sakramen Pengakuan dosa bukan menjadi sekedar rutinitas menjelang Natal dan Paskah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan rohani kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Dear Admin,

    Berikut kutipan dr artikel di atas,
    Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason).

    Pertanyaan saya, klau mamusia pertama punya
    –berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason)–
    mengapa Hawa masih bisa tergoda dan tunduk pada hawa nafsu/bujukan setan (ular)??
    Kan logikanya klau Hawa punya berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason) maka Hawa tidak akan/tidak pernah/dan pasti tidak tunduk pada hawa nafsunya (malah sebaliknya hawa nafsunya yg tuduk pd akal budinya) dan tergoda oleh kelicikan setan sbb Hawa punya BERKAT KEUTUHAN dr Tuhan lantas bagaimana mungkin Hawa bisa jatuh ke dlm dosa walaupn sudah punya “berkat keutuhan”.

    Mohon pencerahan.

    Salam kasih.

    Salu

    • Shalom Salu,

      Walaupun manusia pertama mempunyai berkat keutuhan (gift of integrity), namun memang memungkinkan bahwa manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Berkat keutuhan berhubungan dengan bagaimana akal budi manusia dapat menguasai secara penuh kedagingan. Namun, dosa manusia pertama bukanlah dosa kedagingan, namun bersifat spiritual – yaitu kesombongan. Kesombongan inilah yang membawa manusia pada kehancuran. Kesombongan ini juga yang menjadi sebab kejatuhan malaikat yang jahat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Syalome
      .
      hawa adalah manusia ciptaan tuhan allah yang kekal, yg di buatkalah olehnya (allah) dr tanah liat,dan dengan kuasanyalah jadilah hawa. Dan pada dasarya kenapa hawa begitu tertipudaya oleh setan, karna setan merasa iri kpada tuhan allah atas penciptaanya setan yg dr api sedangkan hawa dr tanah, itu sebabnya hawa di bujukrayu setan dg iming2 kesenangan sesa’at pada hawa yang akhirnya hawa bisa berdosa. Dan pada saat itulah setan berjanji untuk terus mnjerumuskan kaum adam hawa dg iming2 kesenangan duniawi sesaat yg pada akhirya mmbawa kaum hawa pada jurang kenistaan dan berdosa. Mereka (setan) ada dimananana,tangan,telinga,mulut,hidung,mata,bahkan d otak kita yg selalu bepikir kotor dan penuh nafsu birahi,adalah termasuk bujuk rayu setan yang nista,
      …satu hal pertanyaan saya tentang tema pengakuan dosa d atas.. “apakah kunci sorga?”

      Terimakash. Halemlumpiyah (74/c01<)

      • Shalom Horey,

        Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa Allah menciptakan setan dari api. Setan adalah malaikat yang jatuh dalam dosa. Para malaikat itu adalah mahluk rohani yang murni, sehingga tidak terdiri dari suatu materi apapun, termasuk dari api.

        Silakan membaca di sini tentang kejatuhan malaikat, silakan klik.

        Allah menciptakan manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, yang pada mulanya baik dan kudus adanya. Bahwa kemudian manusia pertama jatuh dalam dosa, itu adalah kesalahan manusia sendiri. Karena dosa asal inilah, selanjutnya kita manusia yang adalah keturunan Adam dan Hawa, mempunyai kecenderungan berbuat dosa, walaupun kita sudah dibaptis. Namun demikian, dengan bantuan rahmat Allah, yang secara khusus diterima melalui sakramen-sakramen Gereja, terutama Baptis, Ekaristi dan Pengakuan Dosa, kita dapat menolak dosa, dan hidup menjaga kekudusan, baik tubuh maupun jiwa. Maka tidak dapat dikatakan bahwa semua anggota tubuh kita pasti identik dengan dosa. Ada banyak contoh dari kehidupan para orang kudus (Santo dan Santa) dan terutama contoh dari Kristus sendiri dan juga dari Bunda Maria, yang hidup dalam kekudusan, baik tubuh maupun jiwa. Mereka sungguh menghayati dan menghidupi bahwa tubuh mereka adalah bait Allah yang hidup (lih.1 Kor 3:16, 6:19) yang mereka persembahkan kepada Tuhan sesuai dengan rencana-Nya.

        Selanjutnya tentang apakah itu kunci Kerajaan Surga, sudah pernah diulas di artikel ini, silakan klik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply