Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

Pendahuluan

Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor khan cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”

Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.

Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang apa sebenarnya hakekat dari dosa, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.

Apakah ‘dosa’ itu?

Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan[1] dari pilihan[2] untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan (1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.

Dosa adalah melawan akal budi, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.

Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “sense appetite“.[3] St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.

Dosa adalah melawan kebenaran, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).

Dosa melawan hati nurani yang benar. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.

Apakah bobot dosa berbeda-beda?

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa semua dosa adalah sama, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.

Namun kalau kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya pernyataan di atas justru kurang mendasar. Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin” (KGK, 1856) dan (2) Dosa ringan atau “venial sin” (KGK, 1863)

Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.[4] Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.

Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.

Apakah efek dari dosa?

Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa[5], di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.

Bagaimana proses Dosa berkembang?

Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa:[6]

  1. Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.
  2. Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).
  3. Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).
  4. Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.
  5. Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.
  6. Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.
  7. Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).
  8. Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.

Jadi apakah Sakramen Pengakuan Dosa?

Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll.[7] Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.

Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.

Nah, dosa adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima sakramen pengakuan dosa. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan Dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.

Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca bagian-2, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.


CATATAN KAKI:
  1. Disebut suatu keputusan, karena dosa adalah suatu keputusan yang diambil oleh keinginan atau “the will“. Pikiran dapat saja membayangkan atau mempengaruhi “the will” untuk berbuat dosa. Namun kalau pada akhirnya seseorang mengambil keputusan untuk tidak menuruti pikiran tersebut, maka orang tersebut tidak berbuat dosa. []
  2. Dosa adalah suatu pilihan, karena kita mempunyai kehendak bebas atau “free will” untuk memutuskan apakan kita memilih berdosa atau tidak. []
  3. Sebelum dosa asal, sense appetite atau keinginan daging tunduk sepenuhnya pada akal budi. Namun setelah dosa asal, semua orang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, atau yang disebut concupiscence (lih KGK, 2515). []
  4. St. Thomas Aquinas, ST, II-I, q.72, a.5 []
  5. Jacques Dupuis, The Christian Faith: In the Doctrinal Documents of the Catholic Church, 7th ed. (New York: Alba House, 2001), 512, p.203.; KGK, 405. []
  6. Francis Spirago, The Catechism Explained: An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion (Tan Books & Publishers, 1994), p. 451-454 []
  7. Lihat data dari The New York Times []

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

96 Komentar to Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

  1. yusup sumarno May 11, 2012 at 7:31 am

    Dear katolisitas,

    Anda menulis ini: “Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.”

    Menurut saya ada salah pengetikan yang mendasar di sana.
    Melihat penjelasan / paragraf sesudahnya, pernyataan anda di atas (yang saya copas) sangat bertentangan dengan paragraf selanjutnya yang intinya Gereja meyakini ada dosa besar dan dosa kecil.

    Seharusnya anda tidak mengetik kata ‘tidak’ pada frase ‘tidak mendasar’.
    Tanpa kata ‘tidak’, kalimat utuhnya menjadi: “Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat mendasar.”

    semoga koreksi saya ini tepat dan dapat diterima dan lalu dibetulkan agar tidak ada kontradiksi dalam penjelasan anda sendiri.

    [dari katolisitas: kata "tidak mendasar", adalah argumentasi yang diberikan oleh pihak non-Katolik.]

  2. halo kak,
    aku mau tanya nih.
    aku hobi maen game baik di PlayStation atau di Computer.
    meski banyak maen game, aku jarang melalaikan tugas dan kewajibanku. menurut aku sih daripada berbuat hal2 negatif lebih baek maen game aja. lebih fun. gitu kak.
    apa dosa kalo aku banyak bermaen game? kalo iya, dosa berat atau ringan?

    • Shalom Andre,
      Memang main game di komputer itu mengasyikkan, sehingga dapat terjadi orang yang sering main game dapat kecanduan game. Walaupun dengan main game, seseorang tidak melalaikan tugasnya sebagai pelajar, namun di satu sisi main game yang terlalu banyak dapat menjadi dosa ringan. Hal ini berkaitan dengan pengendalian diri serta kesalahan untuk membuang waktu dengan percuma, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan secara lebih berguna, seperti: olahraga, bermain musik, membaca buku yang memberikan pendidikan yang baik – termasuk buku ilmu pengetahuan dan Kitab Suci -, terjun dalam organisasi baik di masyarakat maupun di gereja. Jadi, saya ingin menyarankan agar anda dapat melakukan banyak hal yang lebih berguna daripada main game. Semoga dapat membantu.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,stef – katolisitas.org

      • Shalom Andre…^^

        saya mau berbagi pengalaman nih..

        “Game sebagai hobi”
        Dulu saya juga sama seperti Andre, menjadikan main Game sebagai hobi dan banyak main game(sampai2 hafal semua cheat dan triknya, dari PS sampai yang On-Line), dari yang awalnya hanya main game sebentar dan lama kelamaan malah menjadi semakin tak tergantikan posisinya. Lupa makan, minum, orang sekitar, dan yang paling parahnya lagi sampai lupa kalau Tuhan itu Ada, waah..

        “Kecanduan game”
        Hal ini terjadi secara terus menerus selama 2 tahun.. mulai dari saya kelas 2 SMP sampai dengan kelas 1 SMK, yang membuatnya lebih menyenangkan lagi karena saya selalu dibayarin (ada saja teman yang mau menjadi donatur ketika ingin main game). Dengan demikian ini akan mempercepat proses kecanduan saya terhadap game. Dan benar saja, hampir setiap hari saya pulang larut malam(kurang lebih jam 8, padahal pulang sekolah pada waktu itu sekitar jam 2). Dan hal itu terjadi secara terus menerus. dan selain saya menguasai Cheat dan trik dalam bermain game, saya juga menguasai psikologi yg secara otomatis, (seperti karunia, tp saya rasa itu bukan karunia) saya jadi mengetahui bagaimana ciri2 tertentu / penampilan orang yang suka main game, bagaimana kehidupannya, dan bahkan saya pernah sampai menembus kedalam hatinya untuk melihat bagaimana isinya.
        Weleeh…. rasanya seperti tidak ada tempat untuk kegiatan lain, semua full oleh permainan – permainan yang tidak berbuah baik seperti yang Tuhan kehendaki.

        “Perubahan itu akhirnya datang”
        Dan oleh karena itu saya menjadi sadar.. saat itu saya seperti tersentak dan menjadi hening sejenak, lalu melihat seisi / sekeliling WarGame(Warung game), disana saya merasa amat sedih, melihat sekumpulan orang egois, dimana perhatian.. hati.. dan perasaan ditujukan hanya pada dunia yang tidak real (rasa egois ini didapat karena hanya terfokus pada dunia game yang ada didepannya dan tanpa menghiraukan orang lain dan imbasnya akan terrealisasi di kehidupan nyata), dan saya rasa hati kecil saya mengatakan “ini bukan tempatmu”, lewat peristiwa kecil itu kehidupan saya diubahkan 180 derajat, saya mencoba memperbaiki hidup saya, saya mengumpamakan seperti halnya orang yang lumpuh mencoba untuk berjalan, nampaknya hal ini terdengar mustahil, karena Game sudah mengakar sampai kehati.. namun seperti halnya orang lumpuh yang percaya kepada Yesus dan akhirnya menjadi tahir, dan saya pun mencoba demikian..
        dan nampaknya butuh waktu yang tidak singkat bagi saya untuk dapat berubah, lewat perjalanan hidup saya mencoba untuk rendah hati, awalnya Bagi saya tanpa main game ini seperti hidup di padang pasir. But I’ll try..

        “Ia senantiasa ADA untuk kita”
        Masa – masa perubahan dimulai..
        pertama saya harus PERCAYA , Mengijinkan Tuhan supaya dapat berkarya dalam kehidupan kita, lalu mengaku dosa karena sudah menghilangkan Tuhan dari pikiran dan Hati, dan membuat segalanya hanya menurut kepada peraturan hati saya(kebenaran hati yang salah, oleh karena hanya mementingkan penghiburan diri dengan skala yang banyak),
        dan saya menjadi seperti dipulihkan kembali, rasanya seperti membuang beban berat yang digendong.. kelegaan itu muncul.. apalagi setelah mengetahui firman pada Injil Matius Bab 28 ayat 20 yang berbunyi “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

        “Perasaan itu muncul lagi”
        Akhirnya selang satu minggu semenjak saya sadar, godaan untuk bermain game itu datang lagi, dan saya mencoba melawan ini dengan berdialog dengan diri sendiri, “Hei.. ini keinginan daging, jangan dituruti.. ” dan pencobaan itu semakin kuat dengan adanya donatur.. walaah.. lalu terbersit dalam pikiran saya “wah kesempatan ngga’ dateng 2 kali niih”.. saya mencoba untuk melawan keinginan ini dalam hati, “Heii.. jangan macam2″ kata saya untuk menghardik keinginan ini.. dan akhirnya saya mampu menolak dari tawaran teman saya itu dengan baik..
        (“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Lukas 8 : 8 )

        “Kuncinya tidak berkompromi dengan hal semacam itu”
        Saya teringat pesan Tuhan Yesus tentang Pohon baik yang menghasilkan Buah yang baik.
        “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:17)

        Dengan tidak berkompromi dengan hal – hal semacam itu sebenarnya kita sudah menutup rapat2 pintu menuju kedagingan..
        Hendaknya kalau bermain game secukupnya saja, hendaknya ada batasan2, dan sebenarnya banyak orang yang salah konsep.. konsep yang salah itu dengan bermain game dalam waktu luang.

        Seyogyanya waktu luang yang diberikan oleh Tuhan itu kita gunakan untuk mengasah talenta yang Tuhan berikan.. sama seperti yang Bapak Stef sarankan yakni “olahraga, bermain musik, membaca buku yang memberikan pendidikan yang baik – termasuk buku ilmu pengetahuan dan Kitab Suci -, terjun dalam organisasi baik di masyarakat maupun di gereja” selain itu juga kita dapat membantu mendampingi anak2 sekolah minggu, membaca kisah hidup santo santa, misal kisah hidup santo Yohanes Maria vianey, lalu membaca mengenai Kesaksian Catalina mengenai Misa kudus, Bunda Maria dari Garabandal.. itu lebih baik, dan
        itu semua dapat mengasah dan semakin membuat kita semakin berbuah banyak..

        tanggapan mengenai tulisan Andre “aku jarang melalaikan tugas dan kewajibanku. menurut aku sih daripada berbuat hal2 negatif lebih baek maen game aja. lebih fun.”
        lebih baik lagi kalau “aku jarang melalaikan tugas dan kewajibanku. menurut aku sih daripada berbuat hal2 negatif lebih baek melatih diri supaya menjadi semakin berkenan dihadapanNya . lebih fun” ^^

        coba bayangkan kalau banyak waktu luang kita hanya untuk bermain game? waduuh.. bisa2 ketika Tuhan datang dalam kemuliaannya kita masih sibuk dengan hal2 yang bersifat duniawi itu..
        jangan sampai deeh..

        berikut adalah contoh2 konsekuensi yang dihasilkan Jika bermain game secara berlebihan :
        -Sifat Egois (Karena hanya terfokus pada dunianya sendiri)
        -Menuju pada gerbang keMurtad’an (karena didalam game sendiri ada unsur2 jahat yang terkandung didalamnya, seperti pengenalan jenis2 Iblis, Iblis yang melawan kehendak Tuhan, saling membunuh, saling mencaci maki, dll. lalu untuk setting dan tema game sendiri disesuaikan supaya manusia jatuh dalam kesenangan dan akhirnya lupa akan semuanya.
        -Akan terjadi pembalikan disposisi hati.. yang benar akan menjadi salah dan sebaliknya..

        Contoh yang lebih ekstrim :
        Seorang pemuda tewas gantung diri karena MAUnya hancur, (MAU adalah robot dalam game yang dalam proses meng-upgrade dibutuhkan uang(asli) yang tidak sedikit) pemuda ini sampai dgn tingkat Red MAU, dan kurang lebih ia berhutang kepada temannya hampir 10 jt rupiah demi upgradenya ini, dan karena ini ia mendapatkan buahnya..

        Seorang anak sekitar 4tahun menembak ayahnya tepat dikepala karena ayahnya menolak untuk membelikan Playstation, ini terjadi baru2 ini di Saudi Arabia.. (hal ini juga terjadi karena tidak ada penanaman dan tuntunan katekese yang benar kepada anak)

        dan masih banyak lagi yang lainnya.. wuiih..

        berikut sharing dari saya, semoga bisa membantu..

        Berkah dalem..

        [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing pengalaman Anda]

        Fiat Voluntas Tua ^^

  3. Mengapa lebih gampang mengaku dosa di hadapan Tuhan,dan sangat sulit mengaku dosa di depan Pastor, mengapa demikian?

    • Shalom Yulius,

      Memang mengaku dosa kepada Tuhan secara langsung lebih mudah dibandingkan kalau harus mengaku dosa di hadapan pastor. Kalau kita mengaku dosa secara langsung kepada Tuhan, maka tidak ada orang yang mengetahui dosa kita selain Tuhan, yang walaupun kita tidak mengaku, Tuhan juga telah tahu. Sebaliknya mengaku dosa di hadapan pastor butuh keberanian dan kerendahan hati, karena kita harus mengakukan dosa kita di hadapan Tuhan yang diwakili oleh manusia – yaitu seorang Pastor. Namun, kita harus melakukan apa yang memang diperintahkan oleh Kristus. Jadi, kalau Kristus sendiri menginginkan umat Allah mengaku dosa di hadapan pastor (lih. Yoh 20:21-23), maka siapakah kita sehingga kita berani menolak perintah Kristus?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Saya pernah membaca sejarah pengampunan dosa….

    Diceritakan bahwa dahulu pengakuan dosa dilakukan dihadapan umat ( orang banyak ) sehingga umat pengetahui dosa orang tersebut dan sekarang sakramen pengakuan dosa dilakukan secara tertutup…

    1.Jika apa yang diceritakan itu benar, apakah itu tidak melanggar hak privasi orang tersebut?
    2. Sejak kapan Gereja Katolik melakukan perubahan tata cara pelaksanaan sakramen pengampunan dosa dari yang terbuka menjadi tertutup?
    3. Alasan mengapa perubahan itu terjadi?

    Thanks……….

    • Shalom Krisna,

      Pada waktu awal, memang pengakuan dosa dilakukan secara terbuka dan kemudian berkembang menjadi tertutup (private). Perkembangan ini dapat anda lihat di link ini – silakan klik. Pengakuan dosa secara tertutup membuat orang semakin berani untuk mengakukan dosanya. Hak privasi seseorang tidaklah dilanggar dengan mengaku dosa secara terbuka, karena tidak ada orang yang memaksa seseorang untuk mengaku dosa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Saya ingin bertanya…..

    Jika ada orang Indonesia yang pergi berlibur ke Korea Selatan, dan dia pergi ke Geraja Katolik di Korea Selatan, dan melakukan sakramen pengakuan dosa, tetapi dia tidak bisa bahasa Korea, dan pasturnya juga tidak bisa bhs Indonesia…

    Apakah sakramen pengakuan dosa itu sah, sah dalam arti bahwa dosa orang tersebut sudah dihapuskan meskipun tidak bisa mengerti bahasa Korea?

    Thanks……

    • Salam Krisna,

      Yang anda tanyakan adalah soal sah tidaknya pengakuan dosa yang dilakukan kepada pastor yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Jawabnya, menurut saya tidak sah, karena tidak ada komunikasi antara peniten dengan pastor. Sakramen pengakuan atau rekonsiliasi memerlukan pemahaman isi dari komunikasi antara peniten dan pemberi kemurahan/pastor. Jika materi pengakuan tidak dimengerti maka pengakuan itu tidak memberikan efek rekonsiliasi, mintalah berkat saja. Lain halnya jika ada penterjemah atau ditulis jika dia mengerti bahasanya. Sebab pastor tidak bisa memberikan nasihat kepada peniten yang tidak dimengerti apa dosanya. Nasihat penting sebelum memberikan absolusi kepada peniten. Tiga unsur Sakramen Pengakuan Dosa adalah: peniten jujur terbuka mengungkapkan dosanya, nasihat kepada peniten, dan doa absolusi kepada peniten atas dosanya oleh imam sebagai in persona Christi capitis et pastoris et ecclesiae.

      salam
      Rm Wanta

      Tambahan dari Ingrid:

      Shalom Krisna,

      Sebenarnya, pengetahuan akan dosa yang diakui disyaratkan bagi yang mengaku dosa dan imamnya, karena yang terjadi dalam Sakramen Pengakuan Dosa itu adalah seumpama seorang pasien yang sakit rohani datang menghadap kepada dokter. Sang dokter itu harus mengenali/ mengetahui sakit pasien yang datang kepadanya, baru ia dapat mengobati.

      Tentang Pengakuan dosa kepada imam, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 1456 Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan: “Dalam Pengakuan para peniten harus menyampaikan semua dosa berat, yang mereka sadari setelah pemeriksaan diri secara saksama… juga apabila itu hanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya melawan dua perintah terakhir dari sepuluh perintah Allah (Bdk. Kel 20:17; Ul 5:21; Mat 5:28); kadang-kadang dosa ini melukai jiwa lebih berat dan karena itu lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan secara terbuka” (Konsili Trente: DS 1680).
      “Jadi kalau warga beriman Kristen berusaha mengakukan semua dosa yang mereka ingat, mereka tanpa ragu-ragu menyampaikan segala-galanya kepada kerahiman ilahi, agar mereka diampuni. Tetapi siapa yang berbuat lain dan dengan sengaja mendiamkan sesuatu, ia tidak menyampaikan apa-apa kepada kebaikan ilahi demi pengampunan oleh imam. Karena kalau orang sakit merasa malu membuka lukanya kepada dokter, maka obat tidak akan menyembuhkan apa yang tidak dikenalnya (Hieronimus, Eccl. 10,11)” (Konsili Trente: DS 1680).

      Jadi jika seorang datang ke Korea, seperti yang Anda tanyakan, dan di sana diadakan Sakramen Pengakuan dosa, namun tidak ada pastor yang memberikan dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris, yang dimengerti oleh baik peniten maupun imamnya, maka kemungkinannya adalah sebagai berikut:

      1. Tidak mengaku dosa kepada imam Korea itu, namun menunggu sampai ada imam yang dapat berbahasa Inggris atau Indonesia (jika ada). Jika tidak tidak bertemu satu pastor-pun yang dapat berbahasa Indonesia/ Inggris, silakan menunggu sampai selesai liburan dan bersegeralah mengaku dosa di hadapan imam dengan bahasa Indonesia sesampainya di tanah air.

      2. Jika ada dorongan yang kuat sekali untuk mengaku dosa di sana (Korea), maka yang dapat dilakukan adalah mengajak seorang penerjemah, yang dapat berbahasa Korea dan Indonesia, namun ia harus terikat juga oleh ketentuan bahwa ia tidak membocorkan rahasia Pengakuan dosa itu. Untuk hal ini, ada dasarnya dari Kitab Hukum Kanonik, demikian:

      KHK 990 Tak seorang pun dilarang mengaku dosa lewat penerjemah, dengan menghindari penyalahgunaan dan sandungan, serta dengan tetap berlaku ketentuan Kanon 983 § 2.

      KHK 983 § 1 Rahasia sakramental tidak dapat diganggu gugat; karena itu sama sekali tidak dibenarkan bahwa bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan suatu cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten sekecil apapun.

      § 2 Terikat kewajiban menyimpan rahasia itu juga penerjemah, jika ada, serta semua orang lain yang dengan cara apapun memperoleh pengetahuan mengenai dosa-dosa dari pengakuan.

      3. Namun jika faktanya sudah terjadi, bahwa orang itu sudah mengaku dosa kepada imam Korea yang tidak mengerti bahasa Indonesia, maka nampaknya sakramen tersebut diterimakan tidak sesuai dengan ketentuan, maka tidak sah. Sebaiknya orang itu mengakukan dosanya kembali di Indonesia, di hadapan imam yang mengerti bahasa Indonesia.

      Demikianlah yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan Anda. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom, Romo..

        Diatas disebutkan kalau “Nasihat penting sebelum memberikan absolusi kepada peniten. Tiga unsur Sakramen Pengakuan Dosa adalah: peniten jujur terbuka mengungkapkan dosanya, nasihat kepada peniten, dan doa absolusi kepada peniten atas dosanya oleh imam sebagai in persona Christi capitis et pastoris et ecclesiae.”

        Namun kadang-kadang waktu saya mengaku dosa, romo pengakuan langsung memberikan doa2 yang harus saya doakan sebagai penitensi, tanpa ada nasehat. Apakah nasehat itu sifatnya “hanya” penting (kalau mendesak boleh ditiadakan) atau mutlak harus ada?

        Terima kasih

        • Agung yth,

          Nasihat penting, agar peniten dapat memperbaiki hidupnya. Jika tidak ada, mungkin karena si peniten mengaku dosa dengan kesalahan yang sangat ringan dan dipertimbangkan cukup dengan doa. Kebijakan ini ada pada pastor ybs. Kadang dosanya tidak terungkap, hanya berupa keluhan dan sebagainya. Semestinya pengakuan dosa tidak dipakai untuk konseling persoalan pribadi, pengakuan dosa ya mengaku dosa saja. Bagi saya nasihat penting, tetapi semua melihat keadaan si peniten dan diserahkan pada pastor pemberi pengakuan dosa.

          salam
          Rm Wanta

      • Itulah sebabnya maka kita HARUS HANYA BERDOA KEPADA TUHAN UNTUK PENGAKUAN DOSA ! Kemanapun kita pergi ke Arab Saudi, Korea, Kubub Utara (tempatnya bangsa Inuit), kr Rusia, kepedalaman Papua .. kita tidak usah pergi kepada “manusia” (hamba Tuhan) untuk MENGAKU DOSA. Cukup berdoa kepada Tuhan yang mengerti semua bahasa2 didunia. Masalah terselesaikan.

        • Salam Aisha,
          Anda mempunyai keberatan mengapa seseorang harus mengaku dosa kepada seorang pastor khan? Saya percaya bahwa kita mendasarkan iman kita bukan menurut apa yang kita pandang baik, namun berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Kristus. Coba kita mulai diskusi dari Yoh 20:21-23: “Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Bagaimana anda mengartikan ayat-ayat tersebut?

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Shalom pak stef dan aisha.
            Mengenai mengakukan dosa kepada pastor (manusia), yg menjadi masalah bukannya sulit meminta waktu atau mendapatkan pastor yg mengerti bahasa kita, tapi bagaimana kita “berani” mengaku dosa yg “menjijikan” kepada sesama manusia. Misalnya mengaku melakukan dosa korupsi, bisa dibayangkan sulitnya mengaku bahwa rumah, mobil, harta diperoleh dari korupsi kepada manusia. Lebih mudah mengaku langsung kepada Tuhan karena tdk ada risiko ketahuan melakukan korupsi oleh org lain, minimal walau hanya pastor yg mendengar, ybs akan merasa malu jika pastor tau bahwa rumahnya hasil korupsi. Misalnya jg, betapa sulitnya mengakukan dosa melakukan aborsi, memaki org tua, melakukan perzinahan, tdk membayar pajak, pelaku tabrak lari, menggosipkan pastor paroki tanpa lihat langsung kejadiannya, dll (contoh yg saya berikan cukup ekstrem dan saya yakin byk org berpendapat hal2 tsb adalah “dosa berat”), dan hal itu cukup diakukan kepada Tuhan langsung dan yakin pengampunan Tuhan sudah terjadi. Saya tdk mengatakan bahwa mengaku dosa langsung kepada Tuhan tdk akan diampuni, tetapi atas dasar iman dan ketaatan kepada Gereja maka sebaiknya tetap mengaku dosa kepada Tuhan lewat pastor, karena itulah ajaranNya. (Sedikit sharing: pengalaman mengaku dosa kepada pastor selalu menegangkan, mendebarkan, lebih mendebarkan daripada org muda menyatakan cinta kepada lawan jenis yg disukainya, butuh waktu dan keberanian ekstra utk mengakui dosa, berhari2 berpikir apa yg mau diakukan, berpikir dosa2 apa yg mau diakukan, berpikir jgn2 kalau pastor tau dosa saya gmn ya, dll, dan menurut pastor yg pernah menerima pengakuan saya, itulah rahmat Tuhan. Jadi, marilah kita takut mengaku dosa tapi tetap maju utk mengaku dosa dgn gentar dan penuh harapan akan rekonsiliasi dgn Tuhan, sungguh itu adalah rahmat) Mohon koreksi pak Stef jika salah.

            Terima kasih

  6. Dear team Katolisitas,
    1. Menurut Kanon 1388 seorang imam yang membocorkan rahasia pengakuan dosa, maka ia terkena ekskomunikasi ( yang dalam hal ini berarti ia dianggap melakukan kesalahan berat) pertanyaannya mengapa demikian?
    2. Mohon dijelaskan istilah macam-macam ekskomunikasi dan orang seperti apakah yang dapat terkena ekskomunikasi ?
    Thank’s GBU always

    • Shalom Dave,

      1. Mengapa membocorkan isi pengakuan dosa adalah dosa berat?

      Demikian adalah jawaban dari Romo Wanta:

      Dave Yth

      Perbuatan membocorkan isi pengakuan dosa oleh imam adalah dosa dan kena hukuman otomatis. Mengapa? Karena membocorkan rahasia pengakuan adalah bertentangan dengan kode etik kewajiban seorang imam menyimpan rahasia pengakuan dosa. Hal itu merupakan pelaksanaan kanon 983 paragrap 2: Rahasia sakramental (pengakuan) tidak dapat diganggu gugat. Karena itu sama sekali tidak dibenarkan bahwa bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten sekecil apapun. Bapa pengakuan (pastor katolik) terikat kewajiban rahasia pengakuan peniten.
      Semoga anda semakin paham.

      salam
      Rm wanta

      2. Tentang ekskomunikasi

      Topik tentang ekskomunikasi telah diulas di sini, silakan klik.

      KGK 1463    Dosa tertentu yang sangat berat dihukum dengan ekskomunikasi, hukuman Gereja terberat. Ia melarang penerimaan Sakramen-sakramen dan pelaksanaan kegiatan Gereja tertentu. Karena itu pengampunannya, sesuai dengan hukum Gereja, hanya dapat diberikan oleh Paus, Uskup setempat atau oleh seorang imam yang diberi kuasa untuk itu (Bdk. KHK, kann. 1331; 1354-1357,(CCEO, cann. 1431; 1434; 1420). Namun dalam keadaan bahaya kematian, setiap imam, juga apabila ia tidak memiliki wewenang untuk memberi Pengakuan, dapat mengampuni setiap dosa (Bdk. KHK, kan. 976; CCEO, can. 725) dan setiap ekskomunikasi.

      Selanjutnya, tentang macam- macam ekskomunikasi dan orang- orang yang melakukan pelanggaran apa yang dapat terkena sangsi ekskomunikasi, silakan anda membaca di link ini, silakan klik. Pada dasarnya, yang dapat terkena sangsi ekskomunikasi adalah orang yang sudah dibaptis secara sah, dan masih hidup; yang melakukan pelanggaran besar/ berat. Pelanggaran- pelanggaran berat yang dimaksud disebutkan dalam artikel di link tersebut.

      Mohon maaf, karena terbatasnya waktu dan tenaga kami; dan juga masih banyaknya pertanyaan yang masuk, maka kami belum dapat menerjemahkannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam,

        Sehubungan dengan kerahasiaan pengakuan dosa, saya ingin menanyakan mengenai pemanfaatan isi pengakuan sebagai ilustrasi. Apakah dibenarkan apabila imam memberikan ilustrasi atau contoh kasus kepada seseorang/banyak orang dengan memanfaatkan isi pengakuan, walaupun tidak menyebutkan identitas pengaku sama sekali? Terima kasih.

        Pacem,
        Ioannes

        • Ioannes yth,

          Tidak diperkenankan seorang imam mengingat dosa orang dan menyampaikan isi dosa pada publik, ada hukumannya. Pada umumnya seorang imam sudah tahu dan lupa akan dosa orang yang datang kepadanya meminta Sakramen Pengakuan Dosa.

          salam
          Rm Wanta

          • Salam,

            Berarti isi dosa dalam pengakuan dosa tidak boleh dibuka di publik bersama identitas sang pengaku. Akan tetapi, apakah seorang pastor boleh menggunakan dosa seseorang sebagai contoh tanpa menyebutkan identitas sang pengaku? Misalnya, saat seorang pastor memberikan homili mengenai perceraian, ia memberikan ilustrasi bahwa banyak pasangan mengaku dosa pada sang pastor bahwa mereka berselingkuh sehingga memicu keretakan rumah tangga mereka. Namun, pastor tersebut tidak menyebutkan identitas pengaku-pengaku yang bersangkutan. Apakah hal tersebut dibenarkan? Terima kasih.

            Pacem,
            Ioannes

            • Shalom Ioannes,
              Beberapa sumber dokumen Gereja ini dapat membantu kita bahwa “seal of confession” harus tetap terjaga, termasuk sebenarnya dengan taruhan nyawa dari imam tersebut. Bagi imam yang melanggarnya terkena ekskomunikasi secara otomatis.

              “Let him beware of betraying the sinner by word or sign or in any other way whatsoever. . . we decree that he who dares to reveal a sin made known to him in the tribunal of penance shall not only be deposed from the priestly office, but shall moreover be subjected to close confinement in a monastery and the performance of perpetual penance” (Fourth Lateran Council, cap. xxi; Denzinger, “Enchir.”, 438)Kan. 983 § 1    Rahasia sakramental tidak dapat diganggu gugat; karena itu sama sekali tidak dibenarkan bahwa bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan suatu cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten sekecil apapun.Kan. 983 § 2    Terikat kewajiban menyimpan rahasia itu juga penerjemah, jika ada, serta semua orang lain yang dengan cara apapun memperoleh pengetahuan mengenai dosa-dosa dari pengakuan.Kan. 1388 § 1    Bapa pengakuan, yang secara langsung melanggar rahasia sakramental, terkena ekskomunikasi latae sententiae yang direservasi bagi Takhta Apostolik; sedangkan yang melanggarnya hanya secara tidak langsung, hendaknya dihukum menurut beratnya tindak pidana.Kan. 1388 § 2    Penerjemah dan lain-lainnya yang disebut dalam kan. 983, § 2, yang melanggar rahasia, hendaknya dihukum dengan hukuman yang adil, tak terkecuali ekskomunikasi.KGK 1467.    Pelayanan ini luar biasa mulianya. Ia menuntut penghormatan dan sikap hati-hati terhadap orang yang mengakukan dosanya. Karena itu, Gereja menjelaskan bahwa setiap imam, yang mendengar Pengakuan, diwajibkan dengan ancaman siksa yang sangat berat, supaya berdiam diri secara absolut, menyangkut dosa yang ini, peniten sampaikan kepadanya dalam Pengakuan (Bdk. CIC, can. 1388 §1; CCEO, can. 1456.). Ia juga tidak boleh merujuk kepada pengetahuan, yang Pengakuan telah berikan kepadanya mengenai kehidupan peniten. Rahasia Pengakuan ini, yang tidak mengenal kekecualian dinamakan “meterai sakramental”, karena apa yang dipercayakan peniten kepada imam, tinggal “termeterai” oleh Sakramen.

              Pertanyaannya adalah apakah seorang pastor dapat memberikan contoh dosa-dosa yang dia dengar dari pengakuan dosa untuk memberikan ilustrasi. Secara prinsip, pelanggaran dari seal of confession terjadi, kalau seorang pastor mengungkapkan rahasia dari seseorang yang mengakukan dosanya. Dengan demikian, apapun yang dikatakan oleh pastor secara langsung atau tidak langsung, dengan perkataan atau dengan cara lain, yang mengungkapkan apa yang terjadi di dalam pengakuan dosa tidaklah diperkenankan, terutama yang dapat mengarah kepada waktu, tempat dan orang tertentu (dari komunitas tertentu, dll).
              Bagaimana kalau seorang pastor ingin menggunakan contoh-contoh dosa, sehingga umat dapat lebih mengerti. Untuk menghindari seorang pastor menyerempet bahaya mengungkapkan apa yang terjadi dalam Sakramen Tobat, maka akan lebih baik seorang pastor mengatakan seperti ini: “Dari pengalaman menangani anak muda, maka saya mengerti bahwa tantangan terbesar bagi anak-anak muda masa kini adalah untuk menjaga kemurnian, terutama dari pengaruh pornografi.” daripada mengatakan “Banyak anak muda yang mengaku dosa kepada saya mengatakan bahwa mereka sulit menghindari dosa pornografi.” Dari ilustrasi yang diberikan ini, maka kalau seorang imam mengatakan “Dari pengalaman”, maka pendengar tidak dapat menyimpulkan bahwa pengalaman tersebut pasti dari pengakuan dosa, karena juga bisa didapatkan dari pembicaraan, pembinaan, konseling, dll. Dengan cara ini, maka orang yang pernah dan akan mengaku dosa kepada pastor tersebut tidak akan merasa bahwa suatu saat pastor tersebut dapat mengungkapkannya kepada orang lain, walaupun tidak menyebutkan tempat, waktu, maupun nama orangnya. Kedua contoh tersebut tidak melanggar seal of confession, namun contoh pertama adalah lebih bijaksana. Semoga dapat membantu.
              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,stef – katolisitas.org

              • Saya rasa perlu ada juga etika yang sama yang harus dipegang oleh pewarta awam yang menerima konseling dari sesama awam (semacam kerahasiaan dokter-pasien, psikiater-pasien).

                Banyak juga konselor awam Katolik yang juga merupakan pewarta firman menggunakan metode yang sama dalam berkotbah (memberi contoh kasus dari hasil konselingnya meskipun tanpa menyebutkan nama). Atau memang sudah ada aturannya untuk hal ini?

                • Shalom Agung,

                  Menurut pengetahuan saya, tidak ada salahnya memberikan contoh-contoh dari suatu kasus tanpa menyebutkan nama, jika tujuannya adalah untuk membantu umat yang lain, untuk membangun iman umat, dan tentu untuk memuliakan nama Tuhan. Bukankah ini juga yang dilakukan oleh banyak pengarang dalam hampir semua majalah ataupun buku-buku psikologi yang mengisahkan kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Biar bagaimanapun contoh-contoh sangat diperlukan, agar memudahkan orang melihat bahwa sabda Tuhan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, walau dalam keadaan yang paling sulit sekalipun; dan sabda Tuhan ini memimpin langkah kita untuk menemukan makna hidup kita yang sesungguhnya.

                  Maka yang penting adalah jangan sampai menyebutkan detail-detail yang sedemikian, sehingga terlalu menjurus kepada orang yang dimaksud, padahal detail tersebut juga tidak berpengaruh terhadap garis besar topik yang sedang dibicarakan (sebab pada dasarnya yang ingin dikisahkan adalah pengalamannya -dan betapa besar karya/pertolongan Tuhan di dalamnya- dan bukanlah pribadi orang yang terlibat di dalamnya). Maka, dalam hal ini aturan umumnya adalah ‘prudence’/ kebijaksanaan bari pihak sang konselor/ pewarta awam tersebut.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. imelda waruna July 5, 2011 at 10:45 am

    Setelah membaca tahapan dosa, saya semakin takut. saya sudah berdosa berat. saya sudah sampai ke tahap 5 menuju 6. Kemarin saya sudah mengaku dosa. hari ini hari yang berat karena saya berhenti total. semoga Tuhan memberikan rahmatNya untuk saya benar-benar bertobat kali ini. Tolong saya, Tuhan…

    • Shalom Imelda,

      Terima kasih atas sharing dan perjuangannya dalam melawan dosa. Satu hal yang perlu ditekankan adalah kita tidak tidak dapat melawan dosa tanpa bekerjasama dengan rahmat Allah. Oleh karena itu, dalam melawan dosa, kita harus bergantung pada rahmat Allah, yang dapat kita terima melalui sakramen-sakramen, termasuk Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kalau sampai kita jatuh lagi, jangan takut dan malu untuk bangkit kembali, serta menerima Sakramen Tobat, sehingga secara bertahap, dosa yang telah menjadi kebiasaan dapat dipapas perlahan-lahan sehingga akhirnya dapat dihilangkan. Menjadi kebiasaan yang baik juga untuk berdoa secara spontan namun sering dalam keseharian kita, sehingga kita dapat terus menjalankan kegiatan sehari-hari bersama dengan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati niat baik anda untuk terus bertumbuh dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Shalom,
    saya masih keliru/binggung apa jenis(contoh2) dosa2 berat dan ringan. Semoga Ibu Ingrid boleh membantu.

    Terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas, silakan klik, untuk mengetahui prinsip dasar tentang dosa berat dan dosa ringan. Jika ada yang belum jelas silakan bertanya kembali.]

  9. Bu ingrid / pak stef,
    Sy ingin bertanya,
    1. dosa aja saja yg termasuk dosa berat & dosa apa yg termasuk dlm dosa ringan?

    2. Apakah ada perbedaan cara/doa untuk pertobatan dr dosa berat & dosa ringan?

    Terima Kasih

    [Dari Katolisitas: Mohon membaca artikel di atas, silakan klik, karena di artikel tersebut sudah dibahas tentang pertanyaan anda. Mengenai pertobatannya: rahmat pengampunan atas dosa berat diterima melalui Sakramen Pengakuan Dosa, sedangkan untuk pengampunan dosa ringan dapat melalui perayaan Ekaristi. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa dalam Sakramen Pengakuan, dosa ringan tidak perlu diakui. Seseorang yang mengakui dosanya, baik dosa berat maupun ringan dalam sakramen Pengakuan dosa akan memperoleh rahmat dari Tuhan untuk memperoleh kekuatan untuk menghindari dosa- dosa tersebut. ]

  10. Vincentius Jiwo Prisambodo May 24, 2011 at 1:44 am

    aku ingin bertanya, klo misalkan menanggapi tentang Hujat terhadap Roh Kudus gimana?
    Matius 12:31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.

    kalau sudah terlanjur menghujat Roh Kudus melakukan pengakuan dosa apakah bisa di ampuni?
    terima kasih.
    Berkah Dalem.

    [dari katolisitas: silakan melihat ini - klik ini dan ini - klik ini]

  11. pagi, maaf saya santo. saya mau tanya, saya baru 2 bln terakhir ini masuk katolik, kalau aku mau melakukan pengakuan dosa dimana ya. akupun mau menjalani hidup yang damai tidak seperti meninggalkan hidup yg penuh dengan dosa ini. terima kasih

    • Shalom Santo,

      Silakan anda menemui pastor paroki di mana anda tinggal, anda dapat membuat janji dengan beliau di sekretariat, atau menemuinya dalam Misa Harian, setelah itu, mungkin anda dapat meminta kepadanya untuk memberikan sakramen Pengampunan dosa. Atau cara lain, silakan mengamati papan pengumuman atau buletin paroki, karena biasanya ada jadwal untuk sakramen Pengakuan dosa, misalnya setiap hari Sabtu sore atau Jumat sore, silakan anda lihat apakah paroki anda mempunyai jadwal tersebut. Jika ada, silakan datang pada waktu pada jadwal tersebut.

      Namun yang terpenting sebelum mengaku dosa, lakukanlah dulu pemeriksaan batin yang baik, yang dapat anda baca di sini, silakan klik. Lalu mengaku dosalah di hadapan imam tersebut, anda dapat membaca caranya di artikel tersebut, atau di buku Puji Syukur no. 104, dan doa Tobat pada no. 25, atau 26 atau 224.

      Setelah menerima sakramen tersebut, mengucap syukurlah kepada Tuhan atas rahmat pengampunan yang anda terima, dan lakukanlah penitensi yang diberikan pada anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Terima kasih Inggrid. Saya ingin bertanya mengenai Maria magdalena. Apakah wanita berzinah yg diampuni Jesus dalam injil Johanes dengan maria magdalena yg ada di kaki kayu salib serta yag datang ke kubur Jesus itu sama ?
    Tks dan selamat Paskah serta Tuhan memberkati

    [Dari Katolisitas: Silakan anda membaca artikel ini, silakan klik]

  13. Salam,
    saya mau tanya mulai umur berapa anak diharuskan untuk mengaku dosa?
    terimakasih
    Tuhan memberkati

    christine

    • Shalom Christine,
      Anak dapat mulai mengaku dosa pada saat ia telah memasuki usia akal budi (age of reason) yaitu usia menerima Komuni Pertama.
      Silakan membaca selanjutnya di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Shallom Ingrid dan tim katolisitas,
    Terima kasih sekali lagi atas jawabannya. Sy tidak tahu apa renc Tuhan bagi sy dan seluruh keluarga besar sy, tetapi keadaan kami benar2 amburadul. Sehingga mama saya sering bertanya apakah yg sdh beliau tabur hingga kehidupan anak2nya seperti ini? Beliau sangat tekun berdoa terutama doa rosario dan selalu berusaha hidup baik dan tidak menyakiti hati org lain, hanya kelemahannya sulit mengampuni kalau ada yg menyakiti beliau.
    Tapi sy yakin semua rencana Tuhan baik agi semua ciptaanNya
    Tuhan memberkati

    • Shalom Maria,

      Memang sebagai manusia, kita tidak dapat memahami secara persis rencana Tuhan di dalam kehidupan kita. Namun ada satu yang dapat kita yakini, yaitu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, dan bahwa rancangan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, walau sekarang belum sepenuhnya kita pahami.

      Maka janganlah berputus asa dengan keadaan keluarga besar anda yang menurut anda ‘amburadul‘ ini. Sebab Tuhan belum ‘selesai’ memproses tiap- tiap anggota keluarga anda. Adanya ujian hidup harus kita pandang sebagai kesempatan untuk bertumbuh di dalam iman dan kasih. Maka kemungkinan ujian hidup ini juga bertujuan untuk melembutkan hati mama anda agar memiliki hati yang lebih pengampun kepada orang lain, mengingat bahwa ia sendiri dan anak- anaknya membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Sebab jika anak berbuat salah atau sifat dasarnya kurang baik, sedikit banyak itu juga berhubungan dengan pendidikan iman dan pembentukan karakter yang seharusnya dilakukan oleh orang tuanya. Apakah mama sudah menanamkan iman Katolik kepada anak- anak, dan menekankan pentingnya hidup sesuai dengan iman Katolik? Apakah ia cukup mengajarkan tentang ‘takut akan Tuhan’, dan bahwa pada akhirnya kita harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatan kita di hadapan Tuhan? Sejauh mana hal ini telah dilakukan oleh mama anda, adalah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh mama anda. Apapun jawabnya, percayalah bahwa selalu tidak ada kata terlambat untuk bertobat, mengakui kesalahan/ kekurangan kita di hadapan Allah, dan mohon agar Tuhan mengampuni, menyembuhkan luka-luka batin kita, dan memulihkan kita.

      Kita harus melihat bahwa hidup ini merupakan kesempatan untuk bertumbuh di dalam kekudusan. Sesekali kita dapat jatuh karena kelemahan kita, tetapi kita harus segera bangkit, bertobat, kembali kepada Tuhan. Semoga lama- kelamaan kita mempunyai kepekaan yang lebih baik, sehingga tidak lagi mengulangi dosa yang sama, dan akan semakin menghindari dosa.

      Mungkin ada baiknya anda mendoakan mama anda, dan jika ada kesempatannya, silakan berdoa rosario dengannya. Semoga Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada keluarga besar anda, dan menjadikan segala sesuatunya indah menurut rencana-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. Syalom bu Inggrid,
    Saya orang yangingin meyakini keyakinan saya pada gereja katholik. Ada pertanyaan yang mungkin juga ditanyakan oleh sebagian kecil umat katholik yang belum memehami benar ajaran gereja. Ini adalah mengenai kewajiban umat katholik mengaku dosa kepada pastor, baik pada masa prapaska maupun pada kesempatan lain, misalnya setelah melakukan dosa besar. Bukan kah setiap awal kita beribadah selalu diawali dengan pengakuan dosa yang diucapkan bersama-sama? Mengapa ada pengakuan dosa ‘khusus’ di hadapan pastor? Pada ayat manakah di Injil yang menyatakan bahwa Yesus memerintahkan kita melakukan pengakuan dosa kepada Tuhan melalui pastor, tidak cukup hanya mengaku dosa secara langsung pada Tuhan? Saya minta maaf kalau pertanyaan ini menyinggung orang lain. Mohon penjelasan. Terima kasih, Tuhan memberkati.

    • Shalom Mraba,

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa seseorang memperoleh pengampunan dosa melalui sakramen Pengakuan Dosa, di mana Kristus hadir di dalam diri para imam-Nya untuk memberikan rahmat pengampunan-Nya. Maka jika kita sungguh bertobat, terutama dari dosa berat kita harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa. Sebab cara inilah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus bagi kita untuk memperoleh pengampunan dariNya.

      Doa pengakuan dosa, “Saya mengaku kepada Allah yang Maha Kuasa……” yang dilakukan di awal Misa Kudus dan rahmat yang diterima dalam Komuni Kudus hanya menghapuskan dosa- dosa ringan, namun untuk dosa berat umat Katolik harus mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa di hadapan imam.

      KGK 1385    Untuk menjawab undangan ini [undangan untuk menyambut Komuni Kudus], kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

      Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel seri tentang pengakuan dosa di sini (klik di judul berikut), untuk mengetahui dasar- dasar ajaran tentang hal ini- termasuk dasar dari Kitab Suci:

      Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 1)
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 2)
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 3)
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 4)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  16. Dear Inggrid,
    Terima kasih buat jawabannya. Suami sy org yg sulit diajak bicara, bahkan kami sdh 10 thn tdk bicara. Kl sy sms jg tdk dibalas atau hanya ‘ya’ atau ‘tidak’ saja. Anak2 juga tidak berani sm papanya krn tergantung secara finansial ( walaupun yg 2 sdh mulai bekerja). Mengenai adik sy dan suaminya , mrk ber @ dalam dosa perselingkuhan masing2 dan setiap diberitahu untuk bertobat jawabannya adl pastor juga berdosa kok, juga pastor kan punya pacar dsb. Artinya kan mrk menolak kerahiman Tuhan ? dan ini kan dosa menghujat Roh Kudus ? Mrk berdua terlebih mengandalkan uang dan rasio untuk penyelesaian masalah2nya. Kadang sy lelah dan bingung melihat situasi keluarga sy. Setelah sy membaca artikel2 di katolisitas, sy semakin tahu dan semakin prihatin . Tmn2 sy juga kl sy beritahu, mengatakan apa yg ditulis itu berlebihan, Tuhan kan ngerti kalau kita lemah. Malah kadang dibuat guyon. Apakah keadaan seperti itu juga berdosa berat ?
    Sy ingin sekali sy bisa bertemu di jakarta dengan tim katolisitas.
    Sekali lagi terimakasih dan Tuhan memberkati

    • Shalom Maria,

      Agaknya memang pada akhirnya harus diterima, bahwa hal mengubah hati adalah urusan Tuhan. Maka kita memang dapat menyampaikan teguran, jika orang- orang yang kita kasihi menyimpang dari jalan Tuhan, dan kita dapat mendoakan mereka; namun pada akhirnya, Tuhan saja yang dapat mengubah hati mereka.

      Bahwa kita manusia yang lemah, itu benar, namun Tuhan menginginkan agar kita terus bertumbuh di dalam iman dan kekudusan, itu juga benar. Karena itu, kita membutuhkan uluran tangan Tuhan dan rahmat-Nya, yang kita peroleh melalui doa, firman-Nya, dan secara khusus dalam sakramen- sakramen-Nya. Maka kerahiman Tuhan jangan dijadikan alasan bagi kita untuk boleh tetap hidup dalam dosa, lantaran kita ‘mengharuskan’ Tuhan untuk mentolerir segala kelemahan kita. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita demikian:

      “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:1-4)

      Rasul Paulus mengajarkan kepada kita, bahwa kasih karunia Allah yang kita terima dalam Baptisan harus mendorong kita untuk terus hidup dalam hidup yang baru bersama Yesus, dan bukan malah tinggal dalam dosa. Jika kita menanggap serius firman Tuhan ini, maka tidak seharusnya kita berbangga akan dosa- dosa kita. Kita harus mengingat bahwa segala dosa dan keinginan daging yang disebutkan dalam Gal 5:19-21 tidak akan membawa kita ke dalam Kerajaan Allah. Maka baiklah kita berjaga- jaga agar jangan sampai jatuh ke dalam dosa- dosa tersebut.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Pax Christi,
        1. Istri saya mengaku pernah berdosa berat 4 tahun yang lalu, dia tidak menyesal dan tidak mau melakukan pengakuan dosa karena dia keras berpendapat cukup mengaku dosa saja dalam ekaristi (karena sakit hati yang dalam terhadap romo kami yang dahulu memberikan sakramen pernikahan ternyata selama pengabdiannya sebagai imam juga mempunyai istri dan anak). Saya dengan tulus memaafkan dia dan dulu sering mengajak untuk pengakuan dosa tetapi tidak berhasil, sampai sekarang istri saya tetap rajin ke gereja tetapi tidak mau menerima komuni kudus. Setiap kami ke gereja selalu saya doakan semoga Tuhan Yesus mengampuni dan membuka hati istri saya untuk pertobatan serta mau menerima kembali komuni kudus, tetapi belum terwujud juga. Saya teramat sedih menghadapi ini karena anak-anak kami sering bertanya mengapa ibu tidak mau menerima komuni. Bagaimana pendapat Ibu Ingrid, apakah bisa dan boleh saya mewakili istri melakukan pengakuan dosa kepada imam ? Dengan harapan doa saya segera dapat terkabul.
        2. Setelah saya membaca artikel ini, saya sungguh malu ternyata sering saya melakukan dosa besar yang dulunya saya anggap perbuatan itu bukan dosa, saya ucapkan terimakasih kepada tim Katolisitas yang telah mengantar saya ke ruang pengakuan dosa. Tetapi terkadang saya tidak sanggup menghadapi cobaan kembali berdosa, apakah mengaku dosa yang sama berulang kali tetap memperoleh rahmat dari Tuhan?
        3. Bagaimana ajaran gereja tentang profesi tentara yang harus tunduk pada perintah komandan, dihadapkan pada situasi membunuh atau dibunuh dalam medan perang? Sering timbul pertanyaan kalau membaca sejarah tentang perang posisi tentara punya dua sisi berlawanan sebagai pahlawan dan penjahat sekaligus, contoh Pattimura pahlawan bagi Indonesia tetapi pemberontak bagi pihak Belanda.
        Terimakasih Ibu Ingrid dan tim katolisitas, karya anda sungguh telah mengantar saya lebih dekat kepada karya keselamatan Kristus dalam GerejaNya yang kudus. Kasih dan damai Tuhan beserta kita, shalom.

        • Shalom Thomas,

          Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

          1. Tentang tidak mau mengaku dosa

          Tentang istri anda yang tidak mau mengaku dosa, maka memang perlu diajak berdiskusi dan terus dibawa dalam doa. Anda dapat mulai berdiskusi dengan istri anda bahwa iman kita akan Sakramen Pengakuan Dosa bukan tergantung dari pastor, namun tergantung dari kebenaran yang diberikan dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Memang pastor yang menikah dapat memberikan batu sandungan, namun sekali lagi iman kita tidak tergantung dari pastor. Oleh karena itu, kalau anda mau, anda dapat mencetak artikel tentang Pengakuan Doa bagian 1-4. Dosa berat yang kita lakukan tidak dapat diampuni dengan mengikuti Sakramen Ekaristi, namun hanya dapat diampuni dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Sakramen Ekaristi hanya dapat menghapuskan dosa ringan. Kalau memang dia sungguh berkeras tidak mengaku dosa karena alasan seorang Romo yang menjadi batu sandungan dan bukan karena masalah doktrinal, maka memang jalan terbaik adalah mendoakannya. Kalau memungkinkan ada baiknya kalau anda dan istri dapat mengikuti retret, misal retret di lembah Karmel. Semoga dalam retret tersebut, hati istri anda dapat terbuka. Jangan berputus asa dalam kesulitan ini, namun teruslah menaruh pengharapan di dalam Tuhan. Pengakuan dosa tidak dapat diwakilkan, karena mensyaratkan penyesalan dari yang mengaku dosa.

          2. Tentang dosa yang berulang

          Kalau kita telah mengaku dosa dan kemudian jatuh ke dalam dosa yang sama lain, maka janganlah berputus asa. Biasa dosa yang terus berulang adalah dosa yang telah menjadi kebiasaan. Karena telah berakar dalam jiwa, maka untuk menghilangkannya perlu waktu. Oleh karena itu, saya menganjurkan untuk mengaku dosa ke pastor yang sama, sehingga dia dapat membantu anda dengan nasihat yang baik. Semakin dia tahu kelemahan anda, maka semakin dia dapat memberikan nasihat yang lebih baik, sama seperti dokter yang tahu penyakit pasiennya dengan baik akan dapat memberikan obat yang lebih baik. Kalau anda terus setia dalam doa dan sakramen, maka lama kelamaan dosa yang telah menjadi kebiasaan akan terkikis sampai akhirnya tercabut akarnya. Tentang perkembangan dosa, anda dapat melihatnya pada artikel di atas di bagian ini – silakan klik.

          3. Tentang tentara yang berperang

          Dalam tentara yang berperang, memang seorang bawahan wajib untuk mentaati perintah atasannya. Selama perang itu dapat dijustifikasi alasannya dan tidak membunuh membabi buta terutama kepada anggota masyarakat biasa (sipil), maka tentara dapat membela negara dengan konsekuensi membunuh sesama. Untuk itu, silakan melihat prinsip akibat ganda di sini – silakan klik.

          Semoga jawaban singkat di atas dan link-link yang diberikan dapat membantu. Akhirnya, mari kita bersama-sama berjuang dalam kekudusan dengan terus bertekun dalam doa, Firman Tuhan dan menerima sakramen-sakramen, terutama dalam Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kami turut mendoakan agar istri anda dapat menerima kembali sakramen-sakramen. Anda juga dapat mengisi ujud doa di sini – silakan klik, dan akan didoakan oleh Romo Kris dan tim.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  17. Terimakasih Inggrid untuk jawabannya. Sy sudah membawa keinginan sy ttg pengakuan dosa dan bapa pengakuan kepada Tuhan dan sy keliatannya sdh diberi oleh Tuhan. Mdh2an benar. Memang sy senang kalau bisa mengakukan dosa sampai tuntas (kadang sampai 2 jam).
    Mengenai anak sy, mereka menganggap sy berlebihan karena kalau memang seperti yg sy katakan, maka org di dunia lebih bnyk yg berdosa drpd yg tdk, apalagi papanya sdh tidak ke ger dan dalam keadaan dosa perselingkuhan. Anak2 sdh dewasa, jadi berat buat sy kalau hrs menegur dgn keras. Sekarang yg no 2 (karena pacarnya muslim), hampir tdk pernak ke ger. Kalau ke ger karena harus mengantar. Setelah sy baca2 artikel di katolisitas, sy jd kurang pas kl minta anak sy yg no 2 untk ke ger dan menerima komuni. Dari kecil, pendidikan rohani anak2 memang hanya dr sy, karena suami sangat tidak percaya (dia katolik jg, tp setelh mau menikah). Menurut suami sy, semua ajaran katolik dan agam2 lain itu hanya untk spy org2 miskin dan frustasi mendapat kekuatan. Bahkan dia mengatakan kalau dia anak ‘setan’. Jadi apakah tindakan sy untuk memberitahu anak2 tentang ayat dr Surat Paulus itu boleh? karena kdg suami sy msh ke ger dgn pacarnya yg jg katolik ? Sy sangat terbeban dengan keselamatan jiwa suami sy jg. Kalau mrk tdk tahu, kalau tdk boleh menerima komuni dlm keadaan dosa berat, apakah jadinya tdk berdosa ? Ini yg diharapkan anak2 sy, mrk bilang papa tdk tahu kok kalau itu dosa. Sekarang sy hanya bs berdoa saja untuk pertobatan anak dan suami sy, juga unt pacarnya. Sy percaya akan kerahiman Tuhan. Satu lagi pertanyaan sy, adik dan ipar sy, jg suami sy melakukan dosa terhadap Roh Kudus, karena menolak kerahiman Tuhan, andai suatu hari mrk sempat bertobat, apakh bs memperoleh pengampunan, karena dosa menghujat Roh Kudus kan dosa yg tdk terampunkan ?
    Tks Inggrid , Tuhan memberkati seluruh tim katolisitas dan semua pelayanannya.

    • Shalom Maria,

      1. Terus terang, saya turut prihatin dengan keadaan anda dan suami anda. Memang idealnya, anda perlu memberi tahu kepada suami dan pacarnya itu agar tidak menyambut Komuni [karena kehidupan mereka dalam perselingkuhan tersebut tidak mencerminkan makna persatuan suami istri -seperti persatuan Kristus dan Gereja-Nya- yang dilambangkan oleh Komuni Kudus itu]. Namun saya rasa, diperlukan kebijaksanaan akan bagaimana cara yang bijak untuk memberitahukan hal itu. Kemungkinan harus secara bertahap terlebih dahulu; yaitu untuk membuka mata hati mereka terlebih dahulu bahwa mereka sesungguhnya tidak mempunyai ikatan yang sah di hadapan Tuhan. Mungkin dalam hal ini anak- anak anda yang sudah beranjak dewasa dapat membantu anda. Sebab jika mereka sudah dapat menerima bahwa perbuatan perselingkuhan mereka itu adalah dosa yang tak berkenan di hadapan Tuhan, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima, mengapa seharusnya mereka tidak menerima Komuni kudus.

      2. Anda mengatakan bahwa adik dan ipar anda melakukan dosa terhadap Roh Kudus, namun kiranya dosa apakah yang dilakukannya sampai anda berpikir demikian? Tentang pengertian dosa menghujat Roh Kudus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan anda lihat, apakah mereka melakukan hal- hal seperti yang disebutkan di sana atau tidak, sebab jika tidak, itu belum tentu dapat dikatagorikan sebagai dosa menghujat Roh Kudus, yang artinya seseorang menolak sendiri pengampunan Tuhan (entah karena tidak mau atau merasa tidak perlu), sehingga ia tidak memperoleh pengampunan itu sendiri.

      Jika sebelum wafat mereka sempat bertobat dan mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan, maka Tuhan dapat mengampuni dosa- dosa mereka, karena tiada dosa yang begitu besar yang tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Kerahiman Tuhan selalu lebih besar daripada dosa- dosa manusia. Namun masalahnya, seringkali maut datang begitu tiba- tiba tanpa yang bersangkutan sempat bertobat. Inilah yang menjadi keprihatinan kita. Semoga kita semua yang percaya kepada-Nya diberi-Nya rahmat, sehingga kita dapat bertobat sepenuhnya sebelum ajal menjemput kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  18. Shallom,
    Sy mau bertanya, sy mempunyai anak laki2 yang sdh lama hanya kadang2 ke gereja. Sangat jarang (mungkin karena dia berpacaran dengan seorg muslim, tetapi pacarnya jg tidak menjalankan ibadatnya). Apakah kalau anak sy ini datang ke gereja boleh menerima komuni tanpa sakramen tobat terlebih dulu ? Karena sy tkt dia melakukan dosa sakrilegi. Ataukah lebih baik tidak usah dulu ke gereja sampai benar2 siap untuk bertobat ? Juga kalau anak2 di gereja tidak mengikuti misa dengan baik, apakah boleh menerima komuni ?
    Kalau kita dalam kondisi berdosa, dan belum menerima sakramen tobat, apakh lebih baik tidak berdoa, karena doa kita akan sia2?
    Saya sebetulnya sangat ingin sesering mungkin menerima sakramen tobat dan ingin mempunyai satu Bapak pengakuan, tetapi kesulitan sy adalah pastor sering sangat sibuk sehingga sy sungkan kalau mau minta pengakuan dosa. Bagaimana solusinya ya ?
    Terima kasih dan sy tunggu jawabannya karena hal ini sudah lama mengganggu sy. Tuham memberkati
    Maria

    • Shalom Maria,

      Salah satu syarat untuk menerima Komuni adalah kita harus ada dalam kondisi berdamai dengan Tuhan, artinya tidak sedang dalam kondisi berdosa berat, ini disebutkan dalam Katekismus:

      KGK 1385 Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya”(1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa berat (mortal sin), harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

      Nah, kalau anak anda telah jarang ke gereja, apalagi sudah tidak peduli dengan imannya, dan dia menyadari akan hal itu, dan tetap memutuskan untuk tetap tidak rajin ke gereja, artinya dia ada dalam keadaan tidak berdamai dengan Tuhan. Dengan demikian, seharusnya jika ia ingin menyambut Komuni, dia harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa terlebih dahulu. Pergi ke gereja dan mengikuti misa dapat saja dilakukan, tetapi tidak Komuni, karena sesungguhnya ia tidak siap untuk menerima dan bersatu dengan Tuhan Yesus, karena sudah sekian lama ia meninggalkan-Nya.

      Kalau anak- anak tidak bersikap baik di gereja, maka anda sebagai ibu mempunyai kewajiban untuk memperingatkan dan mengajarkan sikap yang benar. Jika terlanjur anak sudah menerima Komuni, maka sepulang dari gereja anak- anak wajib diberitahu dan diberi pengertian tentang makna perayaan Ekaristi. Silakan anda membaca artikel- artikel di Katolisitas tentang Ekaristi, klik di sini dan di sini. Lalu, ajak anak anda untuk mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan sebaiknya andapun memberi teladan dengan mengaku dosa juga, supaya pada hari Minggu berikutnya anda sekeluarga dapat kembali menerima Komuni dengan disposisi hati yang lebih baik. Silakan membaca di sini untuk cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi, klik di sini

      Kita boleh berdoa kapan saja, baik pada saat kita tahu kita baru saja jatuh dalam dosa, atau ketika kita sedang ‘baik- baik’ saja. Namun tentu saja, jika kita jatuh dalam dosa, kita harus segera bertobat, apalagi jika dosa itu dosa berat, karena dosa berat memisahkan kita dari Allah. Tentu kita tidak ingin memisahkan diri dengan Allah bukan? Maka jika Roh Kudus sudah menyatakan kepada kita dosa kita, maka secepatnyalah kita mengaku di hadapan Tuhan, baik di dalam doa pribadi, maupun segeralah menemui pastor untuk menerima rahmat pengampunan dalam sakramen Tobat/ Pengakuan Dosa.

      Ya, adalah suatu tantangan bagi kita semua, baik kaum awam maupun pastor untuk memberikan komitmen terhadap Sakramen Pengakuan Dosa ini. Adalah suatu niatan yang baik dari pihak anda untuk mau mengaku dosa secara teratur dan mempunyai satu bapa Pengakuan. Silakan anda membawa permohonan ini kepada Tuhan, dan mohon agar dibukakan jalan bagi anda untuk menemukan pastor pembimbing rohani bagi anda. Jangan anda malu untuk bertanya kepada pastor paroki anda/ teman pastor anda, sebab seharusnya pastor yang baik akan ber-rela hati bahkan akan bersuka cita jika melihat umatnya ada yang mempunyai sikap seperti anda, yang serius ingin bertumbuh dalam iman dan kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: