PendahuluanBerapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor khan cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”
Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.
Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang apa sebenarnya hakekat dari dosa, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.
Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan[1] dari pilihan[2] untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan (1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura).
Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.
Dosa adalah melawan akal budi, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.
Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “sense appetite“.[3] St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.
Dosa adalah melawan kebenaran, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).
Dosa melawan hati nurani yang benar. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.
Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa semua dosa adalah sama, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.
Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.
Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin” (KGK, 1856) dan (2) Dosa ringan atau “venial sin” (KGK, 1863)
Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.[4] Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.
Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.
Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.
Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa[5], di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.
Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa: [6]
Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.
Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll.[7] Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.
Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.
Nah, dosa adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima sakramen pengakuan dosa. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan Dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.
Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca bagian-2, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.
Dear team Katolisitas,
1. Menurut Kanon 1388 seorang imam yang membocorkan rahasia pengakuan dosa, maka ia terkena ekskomunikasi ( yang dalam hal ini berarti ia dianggap melakukan kesalahan berat) pertanyaannya mengapa demikian?
2. Mohon dijelaskan istilah macam-macam ekskomunikasi dan orang seperti apakah yang dapat terkena ekskomunikasi ?
Thank’s GBU always
Shalom Dave,
1. Mengapa membocorkan isi pengakuan dosa adalah dosa berat?
Demikian adalah jawaban dari Romo Wanta:
Dave Yth
Perbuatan membocorkan isi pengakuan dosa oleh imam adalah dosa dan kena hukuman otomatis. Mengapa? Karena membocorkan rahasia pengakuan adalah bertentangan dengan kode etik kewajiban seorang imam menyimpan rahasia pengakuan dosa. Hal itu merupakan pelaksanaan kanon 983 paragrap 2: Rahasia sakramental (pengakuan) tidak dapat diganggu gugat. Karena itu sama sekali tidak dibenarkan bahwa bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten sekecil apapun. Bapa pengakuan (pastor katolik) terikat kewajiban rahasia pengakuan peniten.
Semoga anda semakin paham.
salam
Rm wanta
2. Tentang ekskomunikasi
Topik tentang ekskomunikasi telah diulas di sini, silakan klik.
KGK 1463 Dosa tertentu yang sangat berat dihukum dengan ekskomunikasi, hukuman Gereja terberat. Ia melarang penerimaan Sakramen-sakramen dan pelaksanaan kegiatan Gereja tertentu. Karena itu pengampunannya, sesuai dengan hukum Gereja, hanya dapat diberikan oleh Paus, Uskup setempat atau oleh seorang imam yang diberi kuasa untuk itu (Bdk. KHK, kann. 1331; 1354-1357,(CCEO, cann. 1431; 1434; 1420). Namun dalam keadaan bahaya kematian, setiap imam, juga apabila ia tidak memiliki wewenang untuk memberi Pengakuan, dapat mengampuni setiap dosa (Bdk. KHK, kan. 976; CCEO, can. 725) dan setiap ekskomunikasi.
Selanjutnya, tentang macam- macam ekskomunikasi dan orang- orang yang melakukan pelanggaran apa yang dapat terkena sangsi ekskomunikasi, silakan anda membaca di link ini, silakan klik. Pada dasarnya, yang dapat terkena sangsi ekskomunikasi adalah orang yang sudah dibaptis secara sah, dan masih hidup; yang melakukan pelanggaran besar/ berat. Pelanggaran- pelanggaran berat yang dimaksud disebutkan dalam artikel di link tersebut.
Mohon maaf, karena terbatasnya waktu dan tenaga kami; dan juga masih banyaknya pertanyaan yang masuk, maka kami belum dapat menerjemahkannya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Setelah membaca tahapan dosa, saya semakin takut. saya sudah berdosa berat. saya sudah sampai ke tahap 5 menuju 6. Kemarin saya sudah mengaku dosa. hari ini hari yang berat karena saya berhenti total. semoga Tuhan memberikan rahmatNya untuk saya benar-benar bertobat kali ini. Tolong saya, Tuhan…
Shalom Imelda,
Terima kasih atas sharing dan perjuangannya dalam melawan dosa. Satu hal yang perlu ditekankan adalah kita tidak tidak dapat melawan dosa tanpa bekerjasama dengan rahmat Allah. Oleh karena itu, dalam melawan dosa, kita harus bergantung pada rahmat Allah, yang dapat kita terima melalui sakramen-sakramen, termasuk Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kalau sampai kita jatuh lagi, jangan takut dan malu untuk bangkit kembali, serta menerima Sakramen Tobat, sehingga secara bertahap, dosa yang telah menjadi kebiasaan dapat dipapas perlahan-lahan sehingga akhirnya dapat dihilangkan. Menjadi kebiasaan yang baik juga untuk berdoa secara spontan namun sering dalam keseharian kita, sehingga kita dapat terus menjalankan kegiatan sehari-hari bersama dengan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati niat baik anda untuk terus bertumbuh dalam kekudusan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Shalom,
saya masih keliru/binggung apa jenis(contoh2) dosa2 berat dan ringan. Semoga Ibu Ingrid boleh membantu.
Terima kasih.
[Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas, silakan klik, untuk mengetahui prinsip dasar tentang dosa berat dan dosa ringan. Jika ada yang belum jelas silakan bertanya kembali.]
Bu ingrid / pak stef,
Sy ingin bertanya,
1. dosa aja saja yg termasuk dosa berat & dosa apa yg termasuk dlm dosa ringan?
2. Apakah ada perbedaan cara/doa untuk pertobatan dr dosa berat & dosa ringan?
Terima Kasih
[Dari Katolisitas: Mohon membaca artikel di atas, silakan klik, karena di artikel tersebut sudah dibahas tentang pertanyaan anda. Mengenai pertobatannya: rahmat pengampunan atas dosa berat diterima melalui Sakramen Pengakuan Dosa, sedangkan untuk pengampunan dosa ringan dapat melalui perayaan Ekaristi. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa dalam Sakramen Pengakuan, dosa ringan tidak perlu diakui. Seseorang yang mengakui dosanya, baik dosa berat maupun ringan dalam sakramen Pengakuan dosa akan memperoleh rahmat dari Tuhan untuk memperoleh kekuatan untuk menghindari dosa- dosa tersebut. ]
aku ingin bertanya, klo misalkan menanggapi tentang Hujat terhadap Roh Kudus gimana?
Matius 12:31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.
kalau sudah terlanjur menghujat Roh Kudus melakukan pengakuan dosa apakah bisa di ampuni?
terima kasih.
Berkah Dalem.
[dari katolisitas: silakan melihat ini - klik ini dan ini - klik ini]
pagi, maaf saya santo. saya mau tanya, saya baru 2 bln terakhir ini masuk katolik, kalau aku mau melakukan pengakuan dosa dimana ya. akupun mau menjalani hidup yang damai tidak seperti meninggalkan hidup yg penuh dengan dosa ini. terima kasih
Shalom Santo,
Silakan anda menemui pastor paroki di mana anda tinggal, anda dapat membuat janji dengan beliau di sekretariat, atau menemuinya dalam Misa Harian, setelah itu, mungkin anda dapat meminta kepadanya untuk memberikan sakramen Pengampunan dosa. Atau cara lain, silakan mengamati papan pengumuman atau buletin paroki, karena biasanya ada jadwal untuk sakramen Pengakuan dosa, misalnya setiap hari Sabtu sore atau Jumat sore, silakan anda lihat apakah paroki anda mempunyai jadwal tersebut. Jika ada, silakan datang pada waktu pada jadwal tersebut.
Namun yang terpenting sebelum mengaku dosa, lakukanlah dulu pemeriksaan batin yang baik, yang dapat anda baca di sini, silakan klik. Lalu mengaku dosalah di hadapan imam tersebut, anda dapat membaca caranya di artikel tersebut, atau di buku Puji Syukur no. 104, dan doa Tobat pada no. 25, atau 26 atau 224.
Setelah menerima sakramen tersebut, mengucap syukurlah kepada Tuhan atas rahmat pengampunan yang anda terima, dan lakukanlah penitensi yang diberikan pada anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terima kasih Inggrid. Saya ingin bertanya mengenai Maria magdalena. Apakah wanita berzinah yg diampuni Jesus dalam injil Johanes dengan maria magdalena yg ada di kaki kayu salib serta yag datang ke kubur Jesus itu sama ?
Tks dan selamat Paskah serta Tuhan memberkati
[Dari Katolisitas: Silakan anda membaca artikel ini, silakan klik]
Salam,
saya mau tanya mulai umur berapa anak diharuskan untuk mengaku dosa?
terimakasih
Tuhan memberkati
christine
Shalom Christine,
Anak dapat mulai mengaku dosa pada saat ia telah memasuki usia akal budi (age of reason) yaitu usia menerima Komuni Pertama.
Silakan membaca selanjutnya di sini, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shallom Ingrid dan tim katolisitas,
Terima kasih sekali lagi atas jawabannya. Sy tidak tahu apa renc Tuhan bagi sy dan seluruh keluarga besar sy, tetapi keadaan kami benar2 amburadul. Sehingga mama saya sering bertanya apakah yg sdh beliau tabur hingga kehidupan anak2nya seperti ini? Beliau sangat tekun berdoa terutama doa rosario dan selalu berusaha hidup baik dan tidak menyakiti hati org lain, hanya kelemahannya sulit mengampuni kalau ada yg menyakiti beliau.
Tapi sy yakin semua rencana Tuhan baik agi semua ciptaanNya
Tuhan memberkati
Shalom Maria,
Memang sebagai manusia, kita tidak dapat memahami secara persis rencana Tuhan di dalam kehidupan kita. Namun ada satu yang dapat kita yakini, yaitu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, dan bahwa rancangan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, walau sekarang belum sepenuhnya kita pahami.
Maka janganlah berputus asa dengan keadaan keluarga besar anda yang menurut anda ‘amburadul‘ ini. Sebab Tuhan belum ‘selesai’ memproses tiap- tiap anggota keluarga anda. Adanya ujian hidup harus kita pandang sebagai kesempatan untuk bertumbuh di dalam iman dan kasih. Maka kemungkinan ujian hidup ini juga bertujuan untuk melembutkan hati mama anda agar memiliki hati yang lebih pengampun kepada orang lain, mengingat bahwa ia sendiri dan anak- anaknya membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Sebab jika anak berbuat salah atau sifat dasarnya kurang baik, sedikit banyak itu juga berhubungan dengan pendidikan iman dan pembentukan karakter yang seharusnya dilakukan oleh orang tuanya. Apakah mama sudah menanamkan iman Katolik kepada anak- anak, dan menekankan pentingnya hidup sesuai dengan iman Katolik? Apakah ia cukup mengajarkan tentang ‘takut akan Tuhan’, dan bahwa pada akhirnya kita harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatan kita di hadapan Tuhan? Sejauh mana hal ini telah dilakukan oleh mama anda, adalah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh mama anda. Apapun jawabnya, percayalah bahwa selalu tidak ada kata terlambat untuk bertobat, mengakui kesalahan/ kekurangan kita di hadapan Allah, dan mohon agar Tuhan mengampuni, menyembuhkan luka-luka batin kita, dan memulihkan kita.
Kita harus melihat bahwa hidup ini merupakan kesempatan untuk bertumbuh di dalam kekudusan. Sesekali kita dapat jatuh karena kelemahan kita, tetapi kita harus segera bangkit, bertobat, kembali kepada Tuhan. Semoga lama- kelamaan kita mempunyai kepekaan yang lebih baik, sehingga tidak lagi mengulangi dosa yang sama, dan akan semakin menghindari dosa.
Mungkin ada baiknya anda mendoakan mama anda, dan jika ada kesempatannya, silakan berdoa rosario dengannya. Semoga Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada keluarga besar anda, dan menjadikan segala sesuatunya indah menurut rencana-Nya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syalom bu Inggrid,
Saya orang yangingin meyakini keyakinan saya pada gereja katholik. Ada pertanyaan yang mungkin juga ditanyakan oleh sebagian kecil umat katholik yang belum memehami benar ajaran gereja. Ini adalah mengenai kewajiban umat katholik mengaku dosa kepada pastor, baik pada masa prapaska maupun pada kesempatan lain, misalnya setelah melakukan dosa besar. Bukan kah setiap awal kita beribadah selalu diawali dengan pengakuan dosa yang diucapkan bersama-sama? Mengapa ada pengakuan dosa ‘khusus’ di hadapan pastor? Pada ayat manakah di Injil yang menyatakan bahwa Yesus memerintahkan kita melakukan pengakuan dosa kepada Tuhan melalui pastor, tidak cukup hanya mengaku dosa secara langsung pada Tuhan? Saya minta maaf kalau pertanyaan ini menyinggung orang lain. Mohon penjelasan. Terima kasih, Tuhan memberkati.
Shalom Mraba,
Gereja Katolik mengajarkan bahwa seseorang memperoleh pengampunan dosa melalui sakramen Pengakuan Dosa, di mana Kristus hadir di dalam diri para imam-Nya untuk memberikan rahmat pengampunan-Nya. Maka jika kita sungguh bertobat, terutama dari dosa berat kita harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa. Sebab cara inilah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus bagi kita untuk memperoleh pengampunan dariNya.
Doa pengakuan dosa, “Saya mengaku kepada Allah yang Maha Kuasa……” yang dilakukan di awal Misa Kudus dan rahmat yang diterima dalam Komuni Kudus hanya menghapuskan dosa- dosa ringan, namun untuk dosa berat umat Katolik harus mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa di hadapan imam.
KGK 1385 Untuk menjawab undangan ini [undangan untuk menyambut Komuni Kudus], kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.
Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel seri tentang pengakuan dosa di sini (klik di judul berikut), untuk mengetahui dasar- dasar ajaran tentang hal ini- termasuk dasar dari Kitab Suci:
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 1)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 2)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 3)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 4)
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Inggrid,
Terima kasih buat jawabannya. Suami sy org yg sulit diajak bicara, bahkan kami sdh 10 thn tdk bicara. Kl sy sms jg tdk dibalas atau hanya ‘ya’ atau ‘tidak’ saja. Anak2 juga tidak berani sm papanya krn tergantung secara finansial ( walaupun yg 2 sdh mulai bekerja). Mengenai adik sy dan suaminya , mrk ber @ dalam dosa perselingkuhan masing2 dan setiap diberitahu untuk bertobat jawabannya adl pastor juga berdosa kok, juga pastor kan punya pacar dsb. Artinya kan mrk menolak kerahiman Tuhan ? dan ini kan dosa menghujat Roh Kudus ? Mrk berdua terlebih mengandalkan uang dan rasio untuk penyelesaian masalah2nya. Kadang sy lelah dan bingung melihat situasi keluarga sy. Setelah sy membaca artikel2 di katolisitas, sy semakin tahu dan semakin prihatin . Tmn2 sy juga kl sy beritahu, mengatakan apa yg ditulis itu berlebihan, Tuhan kan ngerti kalau kita lemah. Malah kadang dibuat guyon. Apakah keadaan seperti itu juga berdosa berat ?
Sy ingin sekali sy bisa bertemu di jakarta dengan tim katolisitas.
Sekali lagi terimakasih dan Tuhan memberkati
Shalom Maria,
Agaknya memang pada akhirnya harus diterima, bahwa hal mengubah hati adalah urusan Tuhan. Maka kita memang dapat menyampaikan teguran, jika orang- orang yang kita kasihi menyimpang dari jalan Tuhan, dan kita dapat mendoakan mereka; namun pada akhirnya, Tuhan saja yang dapat mengubah hati mereka.
Bahwa kita manusia yang lemah, itu benar, namun Tuhan menginginkan agar kita terus bertumbuh di dalam iman dan kekudusan, itu juga benar. Karena itu, kita membutuhkan uluran tangan Tuhan dan rahmat-Nya, yang kita peroleh melalui doa, firman-Nya, dan secara khusus dalam sakramen- sakramen-Nya. Maka kerahiman Tuhan jangan dijadikan alasan bagi kita untuk boleh tetap hidup dalam dosa, lantaran kita ‘mengharuskan’ Tuhan untuk mentolerir segala kelemahan kita. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita demikian:
“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:1-4)
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita, bahwa kasih karunia Allah yang kita terima dalam Baptisan harus mendorong kita untuk terus hidup dalam hidup yang baru bersama Yesus, dan bukan malah tinggal dalam dosa. Jika kita menanggap serius firman Tuhan ini, maka tidak seharusnya kita berbangga akan dosa- dosa kita. Kita harus mengingat bahwa segala dosa dan keinginan daging yang disebutkan dalam Gal 5:19-21 tidak akan membawa kita ke dalam Kerajaan Allah. Maka baiklah kita berjaga- jaga agar jangan sampai jatuh ke dalam dosa- dosa tersebut.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Pax Christi,
1. Istri saya mengaku pernah berdosa berat 4 tahun yang lalu, dia tidak menyesal dan tidak mau melakukan pengakuan dosa karena dia keras berpendapat cukup mengaku dosa saja dalam ekaristi (karena sakit hati yang dalam terhadap romo kami yang dahulu memberikan sakramen pernikahan ternyata selama pengabdiannya sebagai imam juga mempunyai istri dan anak). Saya dengan tulus memaafkan dia dan dulu sering mengajak untuk pengakuan dosa tetapi tidak berhasil, sampai sekarang istri saya tetap rajin ke gereja tetapi tidak mau menerima komuni kudus. Setiap kami ke gereja selalu saya doakan semoga Tuhan Yesus mengampuni dan membuka hati istri saya untuk pertobatan serta mau menerima kembali komuni kudus, tetapi belum terwujud juga. Saya teramat sedih menghadapi ini karena anak-anak kami sering bertanya mengapa ibu tidak mau menerima komuni. Bagaimana pendapat Ibu Ingrid, apakah bisa dan boleh saya mewakili istri melakukan pengakuan dosa kepada imam ? Dengan harapan doa saya segera dapat terkabul.
2. Setelah saya membaca artikel ini, saya sungguh malu ternyata sering saya melakukan dosa besar yang dulunya saya anggap perbuatan itu bukan dosa, saya ucapkan terimakasih kepada tim Katolisitas yang telah mengantar saya ke ruang pengakuan dosa. Tetapi terkadang saya tidak sanggup menghadapi cobaan kembali berdosa, apakah mengaku dosa yang sama berulang kali tetap memperoleh rahmat dari Tuhan?
3. Bagaimana ajaran gereja tentang profesi tentara yang harus tunduk pada perintah komandan, dihadapkan pada situasi membunuh atau dibunuh dalam medan perang? Sering timbul pertanyaan kalau membaca sejarah tentang perang posisi tentara punya dua sisi berlawanan sebagai pahlawan dan penjahat sekaligus, contoh Pattimura pahlawan bagi Indonesia tetapi pemberontak bagi pihak Belanda.
Terimakasih Ibu Ingrid dan tim katolisitas, karya anda sungguh telah mengantar saya lebih dekat kepada karya keselamatan Kristus dalam GerejaNya yang kudus. Kasih dan damai Tuhan beserta kita, shalom.
Shalom Thomas,
Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:
1. Tentang tidak mau mengaku dosa
Tentang istri anda yang tidak mau mengaku dosa, maka memang perlu diajak berdiskusi dan terus dibawa dalam doa. Anda dapat mulai berdiskusi dengan istri anda bahwa iman kita akan Sakramen Pengakuan Dosa bukan tergantung dari pastor, namun tergantung dari kebenaran yang diberikan dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Memang pastor yang menikah dapat memberikan batu sandungan, namun sekali lagi iman kita tidak tergantung dari pastor. Oleh karena itu, kalau anda mau, anda dapat mencetak artikel tentang Pengakuan Doa bagian 1-4. Dosa berat yang kita lakukan tidak dapat diampuni dengan mengikuti Sakramen Ekaristi, namun hanya dapat diampuni dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Sakramen Ekaristi hanya dapat menghapuskan dosa ringan. Kalau memang dia sungguh berkeras tidak mengaku dosa karena alasan seorang Romo yang menjadi batu sandungan dan bukan karena masalah doktrinal, maka memang jalan terbaik adalah mendoakannya. Kalau memungkinkan ada baiknya kalau anda dan istri dapat mengikuti retret, misal retret di lembah Karmel. Semoga dalam retret tersebut, hati istri anda dapat terbuka. Jangan berputus asa dalam kesulitan ini, namun teruslah menaruh pengharapan di dalam Tuhan. Pengakuan dosa tidak dapat diwakilkan, karena mensyaratkan penyesalan dari yang mengaku dosa.
2. Tentang dosa yang berulang
Kalau kita telah mengaku dosa dan kemudian jatuh ke dalam dosa yang sama lain, maka janganlah berputus asa. Biasa dosa yang terus berulang adalah dosa yang telah menjadi kebiasaan. Karena telah berakar dalam jiwa, maka untuk menghilangkannya perlu waktu. Oleh karena itu, saya menganjurkan untuk mengaku dosa ke pastor yang sama, sehingga dia dapat membantu anda dengan nasihat yang baik. Semakin dia tahu kelemahan anda, maka semakin dia dapat memberikan nasihat yang lebih baik, sama seperti dokter yang tahu penyakit pasiennya dengan baik akan dapat memberikan obat yang lebih baik. Kalau anda terus setia dalam doa dan sakramen, maka lama kelamaan dosa yang telah menjadi kebiasaan akan terkikis sampai akhirnya tercabut akarnya. Tentang perkembangan dosa, anda dapat melihatnya pada artikel di atas di bagian ini – silakan klik.
3. Tentang tentara yang berperang
Dalam tentara yang berperang, memang seorang bawahan wajib untuk mentaati perintah atasannya. Selama perang itu dapat dijustifikasi alasannya dan tidak membunuh membabi buta terutama kepada anggota masyarakat biasa (sipil), maka tentara dapat membela negara dengan konsekuensi membunuh sesama. Untuk itu, silakan melihat prinsip akibat ganda di sini – silakan klik.
Semoga jawaban singkat di atas dan link-link yang diberikan dapat membantu. Akhirnya, mari kita bersama-sama berjuang dalam kekudusan dengan terus bertekun dalam doa, Firman Tuhan dan menerima sakramen-sakramen, terutama dalam Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kami turut mendoakan agar istri anda dapat menerima kembali sakramen-sakramen. Anda juga dapat mengisi ujud doa di sini – silakan klik, dan akan didoakan oleh Romo Kris dan tim.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Terimakasih Inggrid untuk jawabannya. Sy sudah membawa keinginan sy ttg pengakuan dosa dan bapa pengakuan kepada Tuhan dan sy keliatannya sdh diberi oleh Tuhan. Mdh2an benar. Memang sy senang kalau bisa mengakukan dosa sampai tuntas (kadang sampai 2 jam).
Mengenai anak sy, mereka menganggap sy berlebihan karena kalau memang seperti yg sy katakan, maka org di dunia lebih bnyk yg berdosa drpd yg tdk, apalagi papanya sdh tidak ke ger dan dalam keadaan dosa perselingkuhan. Anak2 sdh dewasa, jadi berat buat sy kalau hrs menegur dgn keras. Sekarang yg no 2 (karena pacarnya muslim), hampir tdk pernak ke ger. Kalau ke ger karena harus mengantar. Setelah sy baca2 artikel di katolisitas, sy jd kurang pas kl minta anak sy yg no 2 untk ke ger dan menerima komuni. Dari kecil, pendidikan rohani anak2 memang hanya dr sy, karena suami sangat tidak percaya (dia katolik jg, tp setelh mau menikah). Menurut suami sy, semua ajaran katolik dan agam2 lain itu hanya untk spy org2 miskin dan frustasi mendapat kekuatan. Bahkan dia mengatakan kalau dia anak ‘setan’. Jadi apakah tindakan sy untuk memberitahu anak2 tentang ayat dr Surat Paulus itu boleh? karena kdg suami sy msh ke ger dgn pacarnya yg jg katolik ? Sy sangat terbeban dengan keselamatan jiwa suami sy jg. Kalau mrk tdk tahu, kalau tdk boleh menerima komuni dlm keadaan dosa berat, apakah jadinya tdk berdosa ? Ini yg diharapkan anak2 sy, mrk bilang papa tdk tahu kok kalau itu dosa. Sekarang sy hanya bs berdoa saja untuk pertobatan anak dan suami sy, juga unt pacarnya. Sy percaya akan kerahiman Tuhan. Satu lagi pertanyaan sy, adik dan ipar sy, jg suami sy melakukan dosa terhadap Roh Kudus, karena menolak kerahiman Tuhan, andai suatu hari mrk sempat bertobat, apakh bs memperoleh pengampunan, karena dosa menghujat Roh Kudus kan dosa yg tdk terampunkan ?
Tks Inggrid , Tuhan memberkati seluruh tim katolisitas dan semua pelayanannya.
Shalom Maria,
1. Terus terang, saya turut prihatin dengan keadaan anda dan suami anda. Memang idealnya, anda perlu memberi tahu kepada suami dan pacarnya itu agar tidak menyambut Komuni [karena kehidupan mereka dalam perselingkuhan tersebut tidak mencerminkan makna persatuan suami istri -seperti persatuan Kristus dan Gereja-Nya- yang dilambangkan oleh Komuni Kudus itu]. Namun saya rasa, diperlukan kebijaksanaan akan bagaimana cara yang bijak untuk memberitahukan hal itu. Kemungkinan harus secara bertahap terlebih dahulu; yaitu untuk membuka mata hati mereka terlebih dahulu bahwa mereka sesungguhnya tidak mempunyai ikatan yang sah di hadapan Tuhan. Mungkin dalam hal ini anak- anak anda yang sudah beranjak dewasa dapat membantu anda. Sebab jika mereka sudah dapat menerima bahwa perbuatan perselingkuhan mereka itu adalah dosa yang tak berkenan di hadapan Tuhan, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima, mengapa seharusnya mereka tidak menerima Komuni kudus.
2. Anda mengatakan bahwa adik dan ipar anda melakukan dosa terhadap Roh Kudus, namun kiranya dosa apakah yang dilakukannya sampai anda berpikir demikian? Tentang pengertian dosa menghujat Roh Kudus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan anda lihat, apakah mereka melakukan hal- hal seperti yang disebutkan di sana atau tidak, sebab jika tidak, itu belum tentu dapat dikatagorikan sebagai dosa menghujat Roh Kudus, yang artinya seseorang menolak sendiri pengampunan Tuhan (entah karena tidak mau atau merasa tidak perlu), sehingga ia tidak memperoleh pengampunan itu sendiri.
Jika sebelum wafat mereka sempat bertobat dan mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan, maka Tuhan dapat mengampuni dosa- dosa mereka, karena tiada dosa yang begitu besar yang tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Kerahiman Tuhan selalu lebih besar daripada dosa- dosa manusia. Namun masalahnya, seringkali maut datang begitu tiba- tiba tanpa yang bersangkutan sempat bertobat. Inilah yang menjadi keprihatinan kita. Semoga kita semua yang percaya kepada-Nya diberi-Nya rahmat, sehingga kita dapat bertobat sepenuhnya sebelum ajal menjemput kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shallom,
Sy mau bertanya, sy mempunyai anak laki2 yang sdh lama hanya kadang2 ke gereja. Sangat jarang (mungkin karena dia berpacaran dengan seorg muslim, tetapi pacarnya jg tidak menjalankan ibadatnya). Apakah kalau anak sy ini datang ke gereja boleh menerima komuni tanpa sakramen tobat terlebih dulu ? Karena sy tkt dia melakukan dosa sakrilegi. Ataukah lebih baik tidak usah dulu ke gereja sampai benar2 siap untuk bertobat ? Juga kalau anak2 di gereja tidak mengikuti misa dengan baik, apakah boleh menerima komuni ?
Kalau kita dalam kondisi berdosa, dan belum menerima sakramen tobat, apakh lebih baik tidak berdoa, karena doa kita akan sia2?
Saya sebetulnya sangat ingin sesering mungkin menerima sakramen tobat dan ingin mempunyai satu Bapak pengakuan, tetapi kesulitan sy adalah pastor sering sangat sibuk sehingga sy sungkan kalau mau minta pengakuan dosa. Bagaimana solusinya ya ?
Terima kasih dan sy tunggu jawabannya karena hal ini sudah lama mengganggu sy. Tuham memberkati
Maria
Shalom Maria,
Salah satu syarat untuk menerima Komuni adalah kita harus ada dalam kondisi berdamai dengan Tuhan, artinya tidak sedang dalam kondisi berdosa berat, ini disebutkan dalam Katekismus:
Nah, kalau anak anda telah jarang ke gereja, apalagi sudah tidak peduli dengan imannya, dan dia menyadari akan hal itu, dan tetap memutuskan untuk tetap tidak rajin ke gereja, artinya dia ada dalam keadaan tidak berdamai dengan Tuhan. Dengan demikian, seharusnya jika ia ingin menyambut Komuni, dia harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa terlebih dahulu. Pergi ke gereja dan mengikuti misa dapat saja dilakukan, tetapi tidak Komuni, karena sesungguhnya ia tidak siap untuk menerima dan bersatu dengan Tuhan Yesus, karena sudah sekian lama ia meninggalkan-Nya.
Kalau anak- anak tidak bersikap baik di gereja, maka anda sebagai ibu mempunyai kewajiban untuk memperingatkan dan mengajarkan sikap yang benar. Jika terlanjur anak sudah menerima Komuni, maka sepulang dari gereja anak- anak wajib diberitahu dan diberi pengertian tentang makna perayaan Ekaristi. Silakan anda membaca artikel- artikel di Katolisitas tentang Ekaristi, klik di sini dan di sini. Lalu, ajak anak anda untuk mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan sebaiknya andapun memberi teladan dengan mengaku dosa juga, supaya pada hari Minggu berikutnya anda sekeluarga dapat kembali menerima Komuni dengan disposisi hati yang lebih baik. Silakan membaca di sini untuk cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi, klik di sini
Kita boleh berdoa kapan saja, baik pada saat kita tahu kita baru saja jatuh dalam dosa, atau ketika kita sedang ‘baik- baik’ saja. Namun tentu saja, jika kita jatuh dalam dosa, kita harus segera bertobat, apalagi jika dosa itu dosa berat, karena dosa berat memisahkan kita dari Allah. Tentu kita tidak ingin memisahkan diri dengan Allah bukan? Maka jika Roh Kudus sudah menyatakan kepada kita dosa kita, maka secepatnyalah kita mengaku di hadapan Tuhan, baik di dalam doa pribadi, maupun segeralah menemui pastor untuk menerima rahmat pengampunan dalam sakramen Tobat/ Pengakuan Dosa.
Ya, adalah suatu tantangan bagi kita semua, baik kaum awam maupun pastor untuk memberikan komitmen terhadap Sakramen Pengakuan Dosa ini. Adalah suatu niatan yang baik dari pihak anda untuk mau mengaku dosa secara teratur dan mempunyai satu bapa Pengakuan. Silakan anda membawa permohonan ini kepada Tuhan, dan mohon agar dibukakan jalan bagi anda untuk menemukan pastor pembimbing rohani bagi anda. Jangan anda malu untuk bertanya kepada pastor paroki anda/ teman pastor anda, sebab seharusnya pastor yang baik akan ber-rela hati bahkan akan bersuka cita jika melihat umatnya ada yang mempunyai sikap seperti anda, yang serius ingin bertumbuh dalam iman dan kekudusan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org