Orang Katolik Tidak Menyembah Patung

259

Pendahuluan

Cerita ini adalah yang saya alami pada tahun 2000. Saat itu saya sedang mengunjungi sanak keluarga suami yang tinggal di Jawa Tengah. Suami saya tidak ikut, karena sedang bertugas di luar negeri. Karena hampir semua dari anggota keluarga mereka beragama Kristen Protestan, maka pada hari Minggu terakhir sebelum saya pulang ke Jakarta, mereka mengajak saya ikut kebaktian di gereja mereka. Karena saya pikir saya toh masih dapat mengikuti misa sore setibanya saya di Jakarta, maka saya setuju saja, karena saya tidak ingin merepotkan mereka untuk mengantarkan saya spesial ke gereja Katolik.

Kebaktian berlangsung khusuk. Injil hari itu adalah mengenai “mengasihi Allah dan sesama”, dan Bapak Pendeta mengutip kesepuluh Perintah Allah yang ada di Kitab Keluaran 20. Ayat ke-3 menekankan supaya kita tidak menyembah allah yang lain selain Allah Tritunggal. “Oh, sama dengan ajaran Gereja Katolik”, pikir saya. Namun penjelasan ayat yang ke-4 dan ke-5 membuat saya terhenyak.[1] Saat itu, beliau meminta seseorang untuk memberikan selembar uang kertas sebagai contoh. Katanya perintah Tuhan pada kedua ayat ini seperti halnya uang kertas, harus tercetak di sisi atas dan di sisi baliknya, kalau tidak, uang tersebut tidak berlaku. Maka kedua ayat itu harus diterapkan sekaligus, karena jika tidak artinya kita melanggar perintah Allah. Maka Pak Pendeta mengatakan kita tidak boleh membuat patung yang menyerupai apapun di langit dan di bumi, dan tidak boleh menyembahnya. Dia menyebutkan ‘kekeliruan’ gereja lain (beliau tidak menyebutkan Gereja Katolik) yang mengajarkan bahwa membuat patung itu boleh saja, asalkan kita tidak sujud menyembahnya sebagai Allah. Kemudian, beliau bertanya kepada jemaat, siapa dari antara hadirin yang berpendapat demikian. Hati saya bergemuruh, karena yang saya tahu, yang dilarang adalah membuat ‘patung’ yang kemudian disembah sebagai Tuhan. Jadi, saya memutuskan untuk mengangkat tangan saya, walaupun saya dipandang dengan tatapan aneh oleh banyak yang hadir. Hanya ada dua orang (termasuk saya) yang mengangkat tangan, dari sekitar 400 orang yang hadir. “Anggapan yang keliru”, kata Bapak Pendeta, dan saya bertekad dalam hati untuk menjelaskan hal ini kepadanya setelah kebaktian.

Sayangnya, saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Pak Pendeta setelah kebaktian. Saya pulang ke Jakarta dengan hati gundah. Satu minggu berikutnya saya isi dengan mempelajari Kitab Suci dan buku-buku ajaran Gereja Katolik mengenai hal patung ini. Minggu berikutnya saya menulis surat kepada beliau, dengan menuliskan ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar bagi Gereja Katolik yang menganggap bahwa membuat patung, memajang patung ataupun berdoa di depan patung bukanlah suatu penyembahan berhala, asalkan kita tidak tunduk menyembah patung itu dan menganggapnya sebagai Tuhan. Sampai sekarang, saya tidak pernah menerima balasan dari Bapak Pendeta tersebut. Namun, saya hanya berharap agar beliau dapat memahami dasar pengajaran Gereja Katolik dalam hal patung ini dan tidak beranggapan bahwa Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang ‘keliru’.

Surat kami kepada Bapak Pendeta

Berikut ini saya sertakan surat kepada Bapak Pendeta tersebut, yang sesungguhnya dapat ditujukan juga kepada siapa saja yang menganggap orang Katolik menyembah patung:

Salam damai dalam kasih Kristus,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Kebaktian Minggu tanggal 17 September 2000, yang bertemakan “Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”.

Saya terkesan dengan kotbah tersebut, hanya ada beberapa bagian yang berbeda dengan pengajaran di dalam Gereja saya, yaitu Gereja Katolik. Memang, Pak Pendeta tidak menyebut langsung ‘Gereja Katolik’ dalam khotbah Bapak, tetapi saya merasa terdorong untuk menjelaskan hal itu mengingat banyaknya kesalahpahaman yang terjadi antara jemaat Kristen Protestan dangan kami umat Katolik.

Dan setelah mendiskusikannya dengan suami saya, maka kami memutuskan untuk menulis surat ini dalam semangat kasih persaudaraan dalam Kristus.

Kami menyadari, bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Dan dengan semangat mencari kebenaran itu sendiri yang berasal dari Tuhan, kami ingin menjelaskan hal-hal dan latar belakang, serta dasar iman Katolik yang berkaitan dengan kotbah Bapak pada saat itu, yaitu mengenai ayat:

Keluaran 20:3-5 (menurut : Lembaga Alkitab Indonesia, 1999)

3)Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

4)Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

5)Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

Menurut khotbah Bapak, ayat yang ke-4 dan ke-5 tidak dapat dipisahkan, sehingga artinya adalah kita tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh menyembah sujud kepadanya.

(Analogi yang Bapak sampaikan pada waktu itu adalah uang kertas dua puluh ribu rupiah yang memiliki 2 sisi). Jadi anggapan bahwa membuat patung itu diperbolehkan asal tidak sujud menyembahnya, dianggap KELIRU.

Kami ingin mengutip dari beberapa ayat kitab suci dari beberapa terjemahan, untuk mengurangi kemungkinan distorsi dari bahasa itu sendiri.

3) You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me (RSV, NIV, KJV);

4) You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth;

5)you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Dari referensi di atas, maka terlihat bahwa istilah yang digunakan adalah:

Carved idol, yang artinya adalah “patung berhala” dan carved/graven image yang berarti “ukiran dari suatu gambaran”. Kalaupun hal ini masih bisa diperdebatkan, namun tetap tidak mengurangi esensi dari ayat tersebut, bahwa yang paling penting adalah kita tidak membuat image/patung/gambaran untuk disembah sebagai allah lain (dalam kaitannya dengan ayat yang ke 3).

Jadi, penyembahan “patung berhala” adalah dosa. Namun anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik adalah “sebagian orang Kristen” yang menyembah “patung” karena memiliki patung Yesus, Maria, santo/santa adalah sungguh-sungguh keliru. Hal ini adalah karena kesalahpahaman atau pengabaian dari apa yang dikatakan oleh kitab suci tentang maksud dan penggunaan patung. (Karena orang Katolik tidak menghormati patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya). [2]

Anggapan bahwa “Tuhan melarang penggunaan image/gambaran/patung”, seperti yang dikotbahkan Bapak, menjadi anggapan umum jemaat Protestan, (sedangkan Gereja Katolik memang melarang patung berhala, tetapi tidak melarang penggunaan patung untuk keperluan ibadah, karena patung hanya merupakan lambang saja yang membantu untuk mengarahkan hati kepada Tuhan).

Kalau kita sungguh-sungguh menyelidiki seluruh kitab suci, kita dapat menemukan bahwa penggunaan image/gambaran/patung dalam ibadah kepada Tuhan diperbolehkan, bahkan Allah sendiri yang “memerintahkan” penggunaan hal tersebut.

Tuhan memerintahkan untuk membuat patung untuk keperluan ibadah

Di samping kutipan kitab Keluaran 20:4-5, marilah kita melihat beberapa kutipan lain dimana Tuhan memerintahkan untuk membuat patung yang digunakan sebagai lambang yang memberikan gambaran/menunjuk kepada kehadiran Yesus pada Perjanjian Baru dan kekal, sebagai yang terkandung dalam ‘Tabut Perjanjian baru’ itu sendiri, dan Putera Allah yang ditinggikan[3]:

1. Keluaran 25:1,18-20

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Dan haruslah kau buat dua kerub (English: cherubims/angels) dari emas, kau buatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini, dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya”. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.”

2. Ketika raja Daud memberikan rencana pembuatan bait Allah kepada Salomo

2. 1 Tawarikh 28:18-19

”..juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas yang diperlukan untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian Tuhan. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh Tuhan yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu.”

Lihatlah bahwa semua yang tertulis di atas diilhami oleh Tuhan sendiri.

Memang bukan raja Daud yang membangun bait Allah, melainkan raja Salomo pada tahun ke-empat setelah ia menjadi raja atas Israel. Dan dia melakukan yang diperintahkan oleh raja Daud, seperti yang tertulis dalam kitab 1 Raja-raja 6:23-35, “selanjutnya di dalam ruang belakang itu dibuatnya dua kerub dari kayu minyak, masing-masing sepuluh hasta tingginya ……..” (Dua kerub yang terdapat pada bait Allah ini menunjuk kepada kehadiran Allah di dalam tabut perjanjian; dan Yesuslah yang kemudian menjadi pemenuhan dari perjanjian Allah ini).

3. Yehezkiel 41:17-18

… dan di seluruh dinding bagian dalam dan bagian luar, terukir gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan masing-masing kerub itu mempunyai dua muka.

4. Bilangan 21:8

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa:”Buatlah (sebuah patung) ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” (Ular ini yang ditinggikan Musa menjadi gambaran dari Yesus Putera Allah yang harus ditinggikan (Yoh 3:14)).

Berdasarkan dasar-dasar tersebut di atas, yang dilarang adalah image/ gambaran/ patung yang dijadikan “allah-allah yang lain” dan menyaingi Allah yang Satu. Yang dilarang oleh hukum Allah adalah pemujaan terhadap image /gambaran/patung itu sendiri. Dengan demikian, Keluaran 20:4-5 berkaitkan dengan Keluaran 20:3, yaitu jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.

Bagaimana kita menjelaskan kontradiksi ayat-ayat tersebut diatas butir 1-4 dengan kitab Keluaran 20:4-5?

Jawabannya sangat sederhana. Kerub/malaikat tidak dianggap sebagai allah dan tidak memerlukan pemujaan: Mereka adalah gambaran hamba Tuhan. Hal yang sama diterima oleh gereja Katolik saat ini, adalah penggunaan patung Yesus, Maria, santo/santa karena mereka bukan allah melainkan gambaran hamba Tuhan. (Jadi kita tidak menghormati patung itu apalagi menyembahnya, melainkan menghormati pribadi yang dilambangkannya, karena mereka membantu kita mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah).

Bagaimana umat Katolik menggunakan image/gambaran/patung:

1. Sebagai salah satu alat bantu umat untuk lebih menghayati kedekatannya dengan Yesus Kristus.

Penggunaan patung, lukisan, elemen artistik lainnya bagi umat Katolik adalah untuk membantu mengingat seseorang atau sesuatu yang digambarkannya. Sama seperti seseorang mengingat ibunya dengan melihat fotonya, demikian juga umat Katolik mengingat Yesus, Maria dan orang kudus lainnya dengan melihat patung/ gambar mereka. (Lagipula, Yesus sendiri sebagai Sang Putera Allah telah menjadi manusia, sehingga Yesus sendiri telah menjadi ‘gambaran Allah yang nyata.’ (lihat Kol 1:15) Karena itu, dengan kedatangan Yesus ke dunia, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Allah yang dalam Perjanjian Lama dilarang untuk digambarkan, maka di Perjanjian Baru malah dinyatakan sebagai ‘gambar hidup’ di dalam diri Yesus. Jadi Yesus memperbaharui ‘tata gambar’ tentang Allah, sebab Ia adalah gambaran Allah sendiri.[4]) Renungkanlah ini: Jika di rumah kita memasang gambar/ foto keluarga kita, mengapakah kita tidak boleh memasang gambar/foto Tuhan yang kita sayangi? Gambar/ patung Tuhan Yesus dipasang tidang untuk disembah, tetapi hanya untuk mengingatkan kita tentang betapa istimewanya Ia di dalam hidup kita.

2. Sebagai sarana pengajaran

Umat Katolik juga menggunakan image/gambar/patung sebagai sarana pengajaran, seperti yang diterapkan juga oleh umat Kristen lain terutama dalam mengajar anak-anak di sekolah minggu, seperti: menerangkan siapa Tuhan Yesus, mukjijat yang dibuatNya, dll dengan gambar-gambar. (Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang pada saat itu tidak dapat membaca! Penggunaan gambar/ patung untuk maksud pengajaran ini tentu bukan berhala, karena mereka akhirnya malah menuntun orang beriman kepada Tuhan. Hal serupa terjadi waktu kita pertama kali mengajar anak-anak kecil mengenali benda-benda tertentu. Kita membuat/ menunjukkan pada mereka gambar-gambar sederhana, seperti apel, ikan, rumah, dst. Tentu saja hal ini tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Jadi membuat gambar yang menyerupai sesuatu di sekitar kita bukan merupakan dosa asal kita tidak menyembah gambar- gambar itu).

3. Digunakan untuk peristiwa-peristiwa tertentu

Umat Katolik juga menggunakan hal tersebut dalam kesempatan tertentu, sama seperti umat Kristen pada umumnya mempunyai patung-patung kandang natal, gambar peristiwa natal, atau mengirim kartu natal bergambar pada hari natal. (Jika membuat segala gambar/ patung yang menyerupai segala sesuatu dianggap dosa, apakah berarti kebiasaan mengirimkan kartu Natal dan menghias pohon Natal dengan kandang Natal, adalah dosa? Jika ya berarti bahkan menonton TV pun adalah dosa, melihat segala buku bergambar adalah dosa, menggambar/ melukis adalah dosa, karena semua objeknya adalah segala sesuatu yang ‘menyerupai apapun yang di langit dan di bumi’).

Kesimpulan

Jadi, Tuhan memang melarang pemujaan terhadap image/gambaran/patung, tetapi Ia tidak melarang pembuatan image/ gambaran tersebut secara umum. Seandainya Ia melarangnya, maka film, televisi, video, foto, lukisan, kartu natal bergambar, uang, ataupun gambar-gambar lainya akan juga dilarang, karena semua itu mengandung unsur image/ gambaran yang menyerupai sesuatu di bumi atau di atas bumi….(lihat Kel 20:4) Karena itu, Gereja Katolik melihat ayat ke-4 ini sebagai kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, agar jangan kita membuat gambar/ patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan Allah.

Dengan demikian sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat Kristen lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

Kami yakin bahwa masih ada perbedaan-perbedaan yang ada dalam pengajaran Katolik dan Kristen Protestan. Alangkah baiknya jika kita masing-masing mau mengerti dasar-dasar atau latar belakang alkitabiah dan ajaran Gereja yang mendasari pengajaran tersebut untuk mengetahui kebenaran itu sendiri. Janganlah kita lupa bahwa di antara kita lebih banyak persamaannya dari pada perbedaannya.

Akhirnya, kami mengucapkan salam hangat kami untuk Bapak Pendeta dan seluruh jemaat Bapak. Semoga kasih Tuhan Yesus selalu mengikat kita semua sebagai satu saudara.

Salam dalam damai Kristus,

Ingrid Listiati & Wijoyo Tay

Penutup

Surat ini saya kirimkan kepada Bapak Pendeta tersebut. Nama dan alamat bapak Pendeta tersebut sengaja tidak saya cantumkan di sini karena saya pandang tidak perlu, karena yang terpenting adalah isi dari surat tersebut, untuk kita renungkan bersama. Kesaksian serupa ini mungkin dapat pula saudara/i alami dengan situasi yang berbeda, dan saya berharap artikel ini dapat sedikit membantu. Di atas semua itu, ingatlah bahwa kita harus selalu siap untuk menjelaskan iman kita, namun harus selalu dengan kelemah-lembutan dan hormat (lih. 1Pet 3:15).

Perlu kita ingat di sini bahwa berhala yang lebih ‘berbahaya’ sekarang adalah bukan terbatas hanya patung, tetapi segala ciptaan yang kita anggap lebih utama dari Tuhan, misal, uang, TV, pekerjaan, kedudukan, kecantikan, koleksi barang antik, main game, dst., yang menggeserkan peran Tuhan di dalam hidup kita, dan yang menyita waktu kita sampai tidak ada waktu untuk ke gereja, berdoa dan membaca sabda-Nya. Hal ini malah lebih nyata pada jaman sekarang, ketimbang hal membuat patung lembu tuangan (lih. Ul 9:16), namun prinsipnya sama, yaitu menyembah ciptaan dan bukan Sang Pencipta.

Mari kita refleksikan, apa yang menjadi ‘patung berhala’ di dalam hidup kita, yang mengambil tempat Tuhan di hati kita. Mari kita berdoa agar Tuhan membantu kita mengangkat keterikatan kita terhadap benda-benda tersebut. Dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dengan lebih sungguh, tidak hanya di mulut, tetapi sungguh turun sampai ke hati.


[1] Perintah kedua yang dibahas oleh Bapak Pendeta adalah “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit… di bumi … atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”(Kel 20:4) Dalam pengajaran Gereja Katolik, perintah kedua adalah: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan (Kel 20:7), karena ayat ke-4 yang mengacu pada patung berhala merupakan kesatuan/kelanjutan dari perintah pertama yaitu, “Jangan ada allah lain dihadapan-Ku…”(Kel 20:3)

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik 2132, Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena ‘penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius Spir 18,45) dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea II, DS 601). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu ‘penghormatan yang khidmat’, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.

[3] Lihat KGK 2130, Tetapi di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (bdk Bil 21:4-9; Keb 16-5-14, Yoh 3:14-15), tabut perjanjian dan kerub (bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).

[4] Lihat KGK 2131, …Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

259 Comments

  1. budiaryotejo on

    Persoalan bagi orang protestan adalah bahwa
    mencium itu = menyembah
    doa didepan patung= menyembah
    ini sunggup pola dan cara berpikir yg keliru….
    kalo anda mencium kaki istrimu =menyembah ? Saya tidak sukan2 utk cium kaki istri saya karena saya sangat kagum-cintai dan hormati. Apakah itu menyembah ????
    Demikian juga dengan orang tua kita. Apakah anda menyembah ? Tidak bukan……

    Demikian juga hal berdoa…….apakah klo anda berdoa dihadapan wajah foto orang tua anda yg sdh meninggal, ato mungkin foto istri anda yg sdh almarhum…apakah anda menyembah foto itu.
    Tidak bukan……Saya yakin anda berdoa yg ada berhubungan dengan image/citra yg ada difoto tersebut.
    Demikian juga dgn saya dan yakin seluruh umat Katolik bila berdoa dihadapan patung salib
    Kristus adalah doa yg ada kaitan dgn image/citra yg ada disalib itu walopun terbuat dari batu,logam,kayu dsb.

    Demikian. Admin klo kurang2 tolong dpt ditambahkan
    Kristus.

    Kristus

    Kristus. Jadi doa yg kami lakukan adalah bukan pada benda (kayu/batu/dilvet/emas) melainkan dengan image/citra yg ada pada benda yersebut tersebut.

    Kristus

    Kristus….

  2. Salam Natal buat pak Stef & bu Ingrid yg t’kasih. Smoga kasih kurnia Tuhan Yesus sntiasa mnyrtai anda smua & karya krasulan ni.

    Trus trang sya kta’n, website Katolisitas bnyak m’dedah’n sya kpd kmurnian greja Katolik. Nmun 1 hal yg msh sya t’kesan bisa m’bntah ialh ttng hal mnyembah patung ni. & sya mngambil kputusan utk mnulis kpd pak & bu kali ni stelah mlihat upacara Misa Natal d Vatican kmarin, d mna sluruh dunia mlihat bapak Paus m’cium patung bayi Jesus… Jujur sya kata’n, ni sngat2 m’ganggu sya. Klihatannya s’olah2 kta sngat m’agung’n patung t’sbut; diarak dgn pnuh ritual sgala. Sya rasa’n ni ssuatu yg kurang pntas, pak & bu… Sya mngerti, kiranya patung t’sbut blh dguna’n utk tjuan simbolik. Tp sptnya tindakan kta trsebut sngt mlampau. Apakh esensi Kristus lahir pd figura ptung bayi t’sbut? Sya x fkir bgitu… Shingga ad seorang teman sya yg non-kristen yg b’sma2 sya mnonton misa t’sbut jg mnegur, bhwa aneh tindakan t’sbut, yg jelas2 berhala…

    Sya blh trima hujah ibu yg mmetik Bil 21:8-9 (Musa m’buat patung ular tembaga). Tp lupakah ibu ksinambungan dr perikop ini? Dlm 2 Raj 18:4-5, raja Hizkia, dgn dorongan roh Kudus, m’hancur’n tugu & patung ular gangsa tsb (Nehustan), & mmimpin Israel kmbali mnymbah Tuhan tnpa sbarang brhala… Skrang cuba kta fkir’n, kiranya Tuhan m’bnarkan Hizkia m’hancurkn patung yg Dia sndiri printah’n utk dbuat- olh Nabi Musa, ap pla pndanganNya pd patung yg dbuat pla olh kita- tangan2 b’dosa..?

    Mrujuk pd hujah bhwa patung blh m’bntu kta lbh konsentrasi dlm b’doa, sya rsa ni argumen yg lemah. Sya rsa doa yg tnpa sbrang imej bantu akn lbih m’bantu kta utk lbih mrasa’n dkat pd Tuhan. Sbb tnpa sbrang imej patung yg cnderung m’buat minda kta b’fkir bhwa kta b’doa pdnya, kta akn lbh mrasa’n khadiran Tuhan dlm hati kta scara langsung..! Bila kta b’doa dgn m’buka hati, Tuhan akn msuk k dlamnya, tnpa prlu kta mmikir’n kberadaanNya mlalui patung2 yg kta lihat…

    Jujur sya kata’n pak & bu, iman katolik ialh iman yg pling indah. Sya sdh bisa mmhami mngapa kta blh b’doa mlalui bunda Maria, mngapa prlu mngakui dosa kpd paderi, dst… Tp hal ttg patung ni, bgaimna pn p’jelasan kta utk mrasional’nnya, ttap jg salah bu… Krna sngat2 jelas tindakn kta b’lwanan dgn ap yg dkehendaki Tuhan. Krna Tuhan m’beri hkumnya dgn sgt jelas, jngan m’buat berhala utk kta sembah, yg mnyrupai ap pn d bwah langit, d atas bumi & d dlm air..! (& ini sya kra t’msuk patung bayi). Tnpa mngira wlupn mksd kta adlah esensi yg kta sembah, tp berhala ttap adlh berhala. Wlupn hati kta mugkin hnya m’hormati esensi yg kta rujuk, tp tindakn kta sptnya sgt m’agungkn b’doa dgn khadiran patung…

    Mohon maaf kiranya ad t’kasar bhasa. Sya rsa sngt t’ganggu dgn prkara ni sjak dlu. Sya sngat2 mnyayangi greja Katolik, shingga sya x dpt mnerima ap2 alasan yg blh m’gugat kmurnian greja kta, shingga dpt mnafi’n k’agungan karya Kristus d dunia yg hnya skali shj utk slamanya mnuntun kpd kselamatan. Sya x dpt byang’n klu d akhir zman nnt, kta dnafi’n Tuhan hny krna k’alpaan kta trhadap isu berhala ni (@ lbh tpat klu sya kata’n prtimbngan yg keliru ttg ap yg dbenar’n & dlarang?)…

    Mohon p’cerahan dr phak Katolisitas..? Sya mnanti’n jwapan. & kiranya bapak & ibu lbih snang kiranya kta blh b’dialog, sya lebih2 lg gmbira. Sila e-mail ke: jonaslash297@gmail.com

    Merry Christmas..!
    God bless…

    [dari Katolisitas : Selamat Natal juga bagi anda. Semoga kasih karunia Tuhan senantiasa menaungi anda. Terima kasih atas tanggapan anda, namun topik serupa telah dibahas secara mendalam dalam beberapa artikel dalam situs ini. Tindakan Bapa Suci, seperti yang anda sendiri ketahui, hanyalah ekspresi beliau pada Yesus yang tergambar oleh patung bayi Yesus. Ekspresi tersebut ditujukan pada Yesus, bukan patungnya, seperti seorang remaja yang mencium foto kekasihnya. Setelah selesai Misa, patung tersebut mungkin akan sekedar disimpan di gudang hingga dipakai di kesempatan berikutnya. Akan berbeda halnya jika patung tersebut ternyata disembah-sembah setiap hari dan dianggap dosa bila tidak menyembahnya. Dengan akal sehat yang jernih, kita dapat dengan jujur membedakan tindakan mana yang bermaksud menyembah berhala dan tindakan mana yang hanya ekspresi simbolis tanpa bermaksud menyembah, bukan? Silahkan membaca artikel-artikel berikut beserta tanya-jawab di bawah setiap artikel. Semoga dapat membantu anda.]
    Apakah Gereja Katolik Menyembah Patung
    Apakah Umat yang Berdoa di Depan Patung Menyembah Berhala?
    Orang Katolik Tidak Menyembah Patung

    • Dear Katolisitas yang Seiman.

      Saya adalah Putra Gereja katolik, dan saya juga harus mengakui bahwa permasalahan yang di sampaikan oleh bapak John diatas merupakan polimik dalam hati saya yang sama dengan beliau.

      memang esensi Kita menghormati Yesus Juru Selamt Manusia adalah dengan memberikan penghormatan tertinggi badi Tuhan Yesus. yang menjadi persoalan adalah kenapa kita harus mencium Patung? Kenapa? apakah dengan doa kita tidak yakin bahwa Tuhan Mendengar rasa syukur dan keluh kesah kita.

      Argumen yang mengatakan bahwa itu hanyalah media bisa diterima jika media itu merupakan perlambanan semisal dengan bendera sebagai lambang negara. persoalannya adalah, lambang seperti bendera atau yang serupa manusia biasanya hanya sebatas mengahrgainya saja. lambang bendera tersebut manusia tidak berdoa minta restu atau suatu hal seperti yang kita jumpai banyak umat berdoa di depan patung minta restu dari Tuhan.

      Jadi menurut saya pengandaian patung sebagai media sepertinya bias dan tidak kuat, karena media seperti bendera tidak kita doakan minta restu, tapi di depan patung kita melihat banyak Nasrani yang berlutut minta Restu Tuhan.

      Sahabat Katolisitas yang Seiman, terus terang ketika saya melihat tiap Nasrani maju mencium patung. dalam hati saya berfikir ini seperti kita melangkah masuk neraka? kita sudah menyembah patung dan menghargai patung secara nyata. esensi menyembah Tuhan telah tergantikan dengan patung-patung tersebut. saya memahami argumen kita yg mengartikan sebagai perlambanan tapi, siapa yg menjamin bahwa mereka yg melangkah mencium patung mengerti bahwa itu hanya patung? mungking saja mereka bisa berandai mereka mendapat berkat karena mencium patung tersebut?

      Team Katolisitas yang seiman, bisakah kebiasaan mencium patung dan berdoa di depan patung bisa perbaharui atau di revisi? bisakah kita umat katolik meminta Vatikan atau Paus untuk melihat kemabali tradisi seperti ini?

      Sekali lagi mohon pencerahan sebab saya Cinta Yesus tanpa batas.
      Kiranya Tuhan yesus Mengampuni saya jika apa yg saya pikirkan dan saya percayai adalah salah.

      mohon jika Katolisitas menjawab keluhan saya ini tolong balaskan juga ke email saya tymus7@gmail.com

      • Shalom Thomas,

        Saya hanya mengharapkan bahwa Anda telah membaca artikel di atas – silakan klik, sehingga minimal Anda dapat melihat alasan mengapa penghormatan di depan patung (dulia relatif) bukanlah merupakan penyembahan (latria) yang hanya ditujukan bagi Allah. Umat Katolik dapat membedakan bahwa patung hanya sarana dan bukan obyek penyembahan. Jadi, bagi orang yang tidak mau mencium patung sebagai tanda hormat tidak menjadi masalah. Pada akhirnya, penyembahan tertinggi dalam Gereja Katolik bukanlah berdoa di depan patung, namun dalam Sakramen Ekaristi. Sebaliknya, kita juga jangan mempermasalahkan seseorang yang ingin mencium patung, sebagai ungkapan hormatnya (bukan menyembah) atau kasihnya kepada orang-orang yang digambarkan dalam patung tersebut – baik santa-santo, Bunda Maria, Kristus maupun salib Kristus. Sungguh salah, kalau kemudian kita terjebak pada pemikiran bahwa mereka yang mencium patung menuju kepada penghukuman neraka.

        Tanda bahwa kita tidak menyembah patung-patung adalah kalau patung tersebut jatuh dan hancur atau dirusak, maka tidak membuat umat yang biasa mencium patung tersebut menjadi tidak dapat berdoa. Doa tetap saja dapat dipanjatkan. Namun, kalau media patung dapat membantu mereka yang memerlukannya untuk dapat mengarahkan pikiran mereka untuk menyembah Allah, maka tidaklah menjadi masalah kalau mereka kemudian berlutut atau bahkan mencium patung tersebut. Mungkin kita dapat juga melihat pembandingnya dalam Perjanjian Lama, bagaimana Tuhan sendiri yang memerintahkan Musa untuk membuat Tabut Perjanjian Lama dengan patung kerub di atasnya. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  3. Soal patung dan Bukan Patung:
    MAri kita renungkan bersama bahwa semua alat itu adalah sarana keimanan kita untuk menujukan hati kita kepada Tuhan. Umat Katolik membuat salib dengan ada patung Yesus yang melekat pada salib itu tidak dapat kita katakan sebagai menyembah patung, demikian pula halnya bagi jemaat Protestan (maaf saya tidak pakai istilah Kristen sebab antara Katolik dan Protestan keduanya adalah Kristen atau orang yang mengikuti Kristus)jadi keduanya tidak berbeda dari segi iman, yang berbeda hanyalah penafsiran masing-masing dalam mengimplemantasikan keimanannya, itu saja.
    Bagi umat Katolik adanya patung Yesus pada salib bukanlah dimaksudkan untuk disembah melainkan sebagai peringatan setiap orang bahwa pada salib tersebut pernah ada seseorang yang mati di salib yang tidak bersalah namun Dia menerima disalibkan karena kasihnya kepada manusia sehingga wajib bagi orang Katolik untuk tahu siapa orang yang berada pada salib itu sebagai sebuah peringatan dan menumpu keimanan.
    Bagi Protestan salibnya tidak menggunakan patung juga tidak salah sebab jemaat protestan juga mengenang bahwa salib itu lambang dosa dan Yesus pernah disalib namun di hari ketiga Dia bangkit dan salibnya telah kosong yang artinya bahwa hanya salib tanpa patung mengingatkan kembali bahwa Yesus sudah bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga dan Yesus tidak disalib lagi sebagai lambang dosa manusia sehingga jemaat protestan lebih memilih salib kosong karena Yesus telah bangkit, bukan Yesus wafat di kayu salib, nammun keduanya tidak ada yang salah baik Katolik maupun Protestan keduanya bermakna sama hanya saja berbeda momen ketika masing-masing aliran mengambil dasar keimanannya.
    Bukankah salib saja juga artinya patung? Bagaimana keimanan kita terhadap salib tersebut? Apakah Jemaat Protestan mau jika dikatakan oleh orang bahwa mereka menyembah patung salib dari kayu dan sebagainya? tentu tidak bukan. Alasannya sama persis dengan apa yang dikemukakan oleh Katolik.
    Perlu saya jelaskan bahwa Katolik dan Protestan menjadikan dasar keimanan mereka pada saat yang berlainan momentum yang terjadi pada Kristus Yesus, namun keduanya tidak ada perbedaan sama sekali, yang berbeda hanya cara pandang dan cara mendasarkan pikiran keimanannya masing-masing, itu saja.
    Terima kasih.

  4. cara2 katolik mencium patung dan membakar kemenyaan dikaki maria sambil sujud menyelipkan kertas doa permohonan di kaki patung maria,
    terkadang hal ini benar2 mencoreng kristen dimata umat lain,
    memang yesus tidak melarang membuat patung dan sebaliknya,
    saya pun setuju tidak ada yang salah dengan patung, namun dogma
    bisa jadi alat iblis menyeret manusia bercacat dimata tuhan dengan cara masuk kepada pikiran dan pola2 dogma yang menjadi memberhalakan patung ditempat2 usaha dikamar menjadi dewa pelindung, mohon penjelasannya
    trims

    [dari katolisitas: Umat Gereja Katolik tahu bahwa patung tersebut hanya patung. Umat Katolik dapat membedakan mana yang ciptaan dan mana yang Pencipta. Patung, gambar dari Kristus, Maria dan orang-orang kudus hanyalah sarana yang membantu umat beriman untuk berdoa. Jadi, apakah yang menjadi alat iblis?]

  5. saya sudah baca sanggahan2 tentang pembuatan patung kerubim dan patung ular
    pada perjanjian lama, namun bukan untuk disembah, tapi dalam masa yesus
    saya tidak pernah menemukan yesus memberi perintah membuat patung, sebagai
    pengingat, mohon dibantu, tx

    [dari katolisitas: Di masa Yesus, juga tidak ada perintah dari Yesus untuk tidak boleh membuat patung.]

  6. Sungguh benar hukum Taurat Musa menjadi hidup semasa Yesus masih hidup & Dia berkata tidak ada satu iota atau titik pun yg diganti, bahkan justru digenapi. Dengan demikian Musa boleh beristirahat. Begitu sulitnya imam2 kepala & ahli2 taurat memahami spirit (yg hidup) dalam sebuah aturan. Dengan Iman, Kasih, & Pengharapan Yesus berhasil mengajarkan apa yg menjadi kehendak Bapa. Pilihan ada ditangan kita, haruskah kita mewartakan alkitab ala imam 2kepala/ahli2 taurat atau dengan Iman, Kasih, & Pengharapan.

    [dari katolisitas: Mohon diperjelas bagian ini "Pilihan ada ditangan kita, haruskah kita mewartakan alkitab ala imam 2kepala/ahli2 taurat atau dengan Iman, Kasih, & Pengharapan."]

    • Tentang konsep Tritunggal; Bunda Maria; patung Yesus.

      [Dari Katolisitas: kami edit, karena kalimatnya tidak jelas maksudnya.]

      Bukankah alkitab sudah cukup jelas hrs dimaknai dgn iman, maka alkitab menjadi hidup (& tumbuh berkembang sesuai dgn perkembangan iman dari orang yg membacanya dgn bantuan bimbingan roh kudus) seperti taurat Musa menjadi hidup (bukan barang mati) karena dimaknai secara iman oleh Yesus. Dengan demikian alkitab bukan sekedar buku tetapi buku iman yg hidup & memberi hidup jiwa rohani kita. Adalah wajar jika gereja kita sbg pengurus kebun anggur telah berkembang & memberikan pengajaran sehingga para rasul boleh beristirahat.

      [Dari Katolisitas: Para Rasul memang telah beralih dari dunia ini, maka mereka telah mempercayakan tugas kepemimpinan mereka kepada para penerus mereka]

      Yesus sebagai gembala utama telah mempercayakan kpd Petrus, & Petrus telah mewariskan kepada penerusnya. … [dari Katolisitas: kami edit]

      • Yoh21:15-19 Yesus memberi “surat kuasa” pada petrus sebanyak 3 kali berbunyi “Gembalakanlah domba-dombaKu. Dialah gembala kita sepeninggal Yesus dan Petrus mewariskannya pada gereja. Kita selayaknya tidak memisahkan diri agar kita bisa disebut sebagai anggota/tubuh gereja yg satu, kudus, katolik, & apostolik sesuai dgn syahadat yg diajarkan penerus Petrus.

  7. Alkitab membuat kita beroleh hidup, kita hidup bersama alkitab, alkitab hidup karena Kristus selalu menyertai kita selamanya. Alkitab bukanlah benda pusaka milik seolah kita minta tuliskan lagi bagi anak cucu kami, tapi saat mereka menuliskannya yg lebih baru untuk kamu, justru kamu berkata bukankah kamu sudah mati, untuk apa mengajar kami yg hidup ini.

    [dari katolisitas: Mohon diperjelas tulisan ini "tapi saat mereka menuliskannya yg lebih baru untuk kamu, justru kamu berkata bukankah kamu sudah mati, untuk apa mengajar kami yg hidup ini."]

  8. Ada begitu banyak patung disekeliling kita : Liberty; patung 3 wajah presiden AS di Mt Rushmore; merlion simbol neg singapur; patung Yesus kota Rio dejaneiro; patung proklamator Soekarno-Hatta; patung pancoran ;patung bundaran HI; patung garuda wisnu kencana; patung Stalin; patung lilin tokoh dunia di madame tussaud ;patung Buddha; patung rangka dinosaurus di museum2; manekin di toko pakaian; boneka barbie di etalase mall dll… Menyerupai apa benda2 tsb? Apa latar belakang agama pembuatnya perlu kita cek satupersatu? Pembuatnya dimurka Allah pd saatnya kelak? Disembahkah? diidolakan? Allah akan cemburu? Kita melihat patung itu dgn kacamata apa? Kacamata logika atau iman? Bagaimana suasana hati saat memandang patung itu? Jawabnya bergantung pada kadar keimanan seseorang. Masing2 mengetahui isi hatinya mau kuapakan patung itu? Kalau seseorang merasa tidak menyembah patung apakah harus didesak …..[dari Katolisitas: kami edit] Kita hanya bisa mempertanggungjawabkanya [edit], tapi tidak kepada orang-orang yang dari awal sudah punya gambaran sendiri bahwa kami menyembahnya, yang sampai kapanpun tetap percaya kepada pandangan mereka sendiri.

    [Dari Katolisitas: Yang kami lakukan di situs ini adalah menjelaskan kepada yang bertanya, namun jika yang bertanya tetap berkeras dengan pandangan mereka, maka memang kami tidak dapat memaksa. Namun jika mereka mau mendengarkan, semoga penjelasan kita dapat menjadi masukan, dan semoga mencerahkan.]

    • Shalom, pak Stef/ bu Inggrid
      Saya mau usul apakah bisa ditampilkan di dlm artikel diatas gambar patung yg disebut dlm kitab suci, untuk menambah wawasan pembaca yg penasaran seperti apa sih ular tembaga nabi musa, terafim, kerub, dewa dagon, ba’al, molokh, dll. Saya pribadi sudah melihat di wikipedia cukup lengkap & dengan sekilas sdh paham patung Yesus, Maria, Santo/a masuk kategori tidak disembah & ada berkahnya sbg media penyampai pesan. Terima kasih.

      [dari katolisitas: Terima kasih atas usulannya. Kalau ada waktu kami akan tambahkan. Namun untuk sementara, silakan browsing di google.]

  9. Tadinya, saya sempat ragu, ketika pada waktu itu saya masih terkecoh dengan ayat yang hampir bertentangan dengan perintah Bapa sendiri dalam kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut. Dan, at last, I dont have to worry about it!!!!! Thanks katolisitas.org

    Das Swardaniya…!!!!!

    Alles in Ordnung…!!!!!

    Xie-xie…!!!!!

  10. Bole Za bertanya..??? Kbetulan ada teman sya bertanya pada sya…Kenapa Umat Katolik Menyembah Patung Bunda Maria…???

    Trima Kasih….???

    [Dari Katolisitas: Umat Katolik tidak menyembah patung. Silakan membaca kembali artikel di atas, ataupun artikel ini, silakan klik]

  11. Yth:Pembina Katolisitas.org

    Dengan ini saya ingin bertanya.Bolehkah Salib atau patung Bunda Maria di pasang di tempat usaha.Terima kasih.

    Salam.

    Y.Gandhi.

    [dari katolisitas: Tentu saja tidak menjadi masalah untuk memasang salib dan benda rohani lain di tempat usaha Anda, selama benda-benda sakramentali tersebut ditaruh di tempat yang layak.]

    • Yohanes/Yosafat Gandhi…Maaf jika huruf nama anda yang depannya berisial Y nya saya tidak tau.

      Masalah salib…Itu tak masalah…Asalkan tindakan yang benar.

      Untuk anda cocok sekali.

      Amsal 1:33
      “Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.”

      [Dari Katolisitas: Pada akhirnya, semua benda-benda sakramentali hanya merupakan tanda/ sarana untuk menumbuhkan iman dan kepercayaan kita akan rahmat dan kuasa Allah. Maka bukan benda-benda itu yang penting, melainkan iman kita sendiri akan Allah itulah yang terpenting, yaitu Allah yang menyertai, melindungi dan memberkati].

Add Comment Register



Leave A Reply