Orang Katolik Tidak Menyembah Patung

Pendahuluan

Cerita ini adalah yang penulis alami pada tahun 2000. Saat itu saya sedang mengunjungi sanak keluarga suami yang tinggal di Jawa Tengah. Suami saya tidak ikut, karena sedang bertugas di luar negeri. Karena hampir semua dari anggota keluarga mereka beragama Kristen Protestan, maka pada hari Minggu terakhir sebelum saya pulang ke Jakarta, mereka mengajak saya ikut kebaktian di gereja mereka. Karena saya pikir saya toh masih dapat mengikuti misa sore setibanya saya di Jakarta, maka saya setuju saja, karena saya tidak ingin merepotkan mereka untuk mengantarkan saya spesial ke gereja Katolik.

Kebaktian berlangsung khusuk. Injil hari itu adalah mengenai “mengasihi Allah dan sesama”, dan Bapak Pendeta mengutip kesepuluh Perintah Allah yang ada di Kitab Keluaran 20. Ayat ke-3 menekankan supaya kita tidak menyembah allah yang lain selain Allah Tritunggal. “Oh, sama dengan ajaran Gereja Katolik”, pikir saya. Namun penjelasan ayat yang ke-4 dan ke-5 membuat saya terhenyak.[1] Saat itu, beliau meminta seseorang untuk memberikan selembar uang kertas sebagai contoh. Katanya perintah Tuhan pada kedua ayat ini seperti halnya uang kertas, harus tercetak di sisi atas dan di sisi baliknya, kalau tidak, uang tersebut tidak berlaku. Maka kedua ayat itu harus diterapkan sekaligus, karena jika tidak artinya kita melanggar perintah Allah. Maka Pak Pendeta mengatakan kita tidak boleh membuat patung yang menyerupai apapun di langit dan di bumi, dan tidak boleh menyembahnya. Dia menyebutkan ‘kekeliruan’ gereja lain (beliau tidak menyebutkan Gereja Katolik) yang mengajarkan bahwa membuat patung itu boleh saja, asalkan kita tidak sujud menyembahnya sebagai Allah. Kemudian, beliau bertanya kepada jemaat, siapa dari antara hadirin yang berpendapat demikian. Hati saya bergemuruh, karena yang saya tahu, yang dilarang adalah membuat ‘patung’ yang kemudian disembah sebagai Tuhan. Jadi, saya memutuskan untuk mengangkat tangan saya, walaupun saya dipandang dengan tatapan aneh oleh banyak yang hadir. Hanya ada dua orang (termasuk saya) yang mengangkat tangan, dari sekitar 400 orang yang hadir. “Anggapan yang keliru”, kata Bapak Pendeta, dan saya bertekad dalam hati untuk menjelaskan hal ini kepadanya setelah kebaktian.

Sayangnya, saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Pak Pendeta setelah kebaktian. Saya pulang ke Jakarta dengan hati gundah. Satu minggu berikutnya saya isi dengan mempelajari Kitab Suci dan buku-buku ajaran Gereja Katolik mengenai hal patung ini. Minggu berikutnya saya menulis surat kepada beliau, dengan menuliskan ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar bagi Gereja Katolik yang menganggap bahwa membuat patung, memajang patung ataupun berdoa di depan patung bukanlah suatu penyembahan berhala, asalkan kita tidak tunduk menyembah patung itu dan menganggapnya sebagai Tuhan. Sampai sekarang, saya tidak pernah menerima balasan dari Bapak Pendeta tersebut. Namun, saya hanya berharap agar beliau dapat memahami dasar pengajaran Gereja Katolik dalam hal patung ini dan tidak beranggapan bahwa Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang ‘keliru’.

Surat kami kepada Bapak Pendeta

Berikut ini saya sertakan surat kepada Bapak Pendeta tersebut, yang sesungguhnya dapat ditujukan juga kepada siapa saja yang menganggap orang Katolik menyembah patung:

Salam damai dalam kasih Kristus,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Kebaktian Minggu tanggal 17 September 2000, yang bertemakan “Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”.

Saya terkesan dengan kotbah tersebut, hanya ada beberapa bagian yang berbeda dengan pengajaran di dalam Gereja saya, yaitu Gereja Katolik. Memang, Pak Pendeta tidak menyebut langsung ‘Gereja Katolik’ dalam khotbah Bapak, tetapi saya merasa terdorong untuk menjelaskan hal itu mengingat banyaknya kesalahpahaman yang terjadi antara jemaat Kristen Protestan dangan kami umat Katolik.

Dan setelah mendiskusikannya dengan suami saya, maka kami memutuskan untuk menulis surat ini dalam semangat kasih persaudaraan dalam Kristus.

Kami menyadari, bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Dan dengan semangat mencari kebenaran itu sendiri yang berasal dari Tuhan, kami ingin menjelaskan hal-hal dan latar belakang, serta dasar iman Katolik yang berkaitan dengan kotbah Bapak pada saat itu, yaitu mengenai ayat:

Keluaran 20:3-5 (menurut : Lembaga Alkitab Indonesia, 1999)

3)Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

4)Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

5)Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

Menurut khotbah Bapak, ayat yang ke-4 dan ke-5 tidak dapat dipisahkan, sehingga artinya adalah kita tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh menyembah sujud kepadanya.

(Analogi yang Bapak sampaikan pada waktu itu adalah uang kertas dua puluh ribu rupiah yang memiliki 2 sisi). Jadi anggapan bahwa membuat patung itu diperbolehkan asal tidak sujud menyembahnya, dianggap KELIRU.

Kami ingin mengutip dari beberapa ayat kitab suci dari beberapa terjemahan, untuk mengurangi kemungkinan distorsi dari bahasa itu sendiri.

3) You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me (RSV, NIV, KJV);

4) You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth;

5)you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Dari referensi di atas, maka terlihat bahwa istilah yang digunakan adalah:

Carved idol, yang artinya adalah “patung berhala” dan carved/graven image yang berarti “ukiran dari suatu gambaran”. Kalaupun hal ini masih bisa diperdebatkan, namun tetap tidak mengurangi esensi dari ayat tersebut, bahwa yang paling penting adalah kita tidak membuat image/patung/gambaran untuk disembah sebagai allah lain (dalam kaitannya dengan ayat yang ke 3).

Jadi, penyembahan “patung berhala” adalah dosa. Namun anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik adalah “sebagian orang Kristen” yang menyembah “patung” karena memiliki patung Yesus, Maria, santo/santa adalah sungguh-sungguh keliru. Hal ini adalah karena kesalahpahaman atau pengabaian dari apa yang dikatakan oleh kitab suci tentang maksud dan penggunaan patung. (Karena orang Katolik tidak menghormati patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya). [2]

Anggapan bahwa “Tuhan melarang penggunaan image/gambaran/patung”, seperti yang dikotbahkan Bapak, menjadi anggapan umum jemaat Protestan, (sedangkan Gereja Katolik memang melarang patung berhala, tetapi tidak melarang penggunaan patung untuk keperluan ibadah, karena patung hanya merupakan lambang saja yang membantu untuk mengarahkan hati kepada Tuhan).

Kalau kita sungguh-sungguh menyelidiki seluruh kitab suci, kita dapat menemukan bahwa penggunaan image/gambaran/patung dalam ibadah kepada Tuhan diperbolehkan, bahkan Allah sendiri yang “memerintahkan” penggunaan hal tersebut.

Tuhan memerintahkan untuk membuat patung untuk keperluan ibadah

Di samping kutipan kitab Keluaran 20:4-5, marilah kita melihat beberapa kutipan lain dimana Tuhan memerintahkan untuk membuat patung yang digunakan sebagai lambang yang memberikan gambaran/menunjuk kepada kehadiran Yesus pada Perjanjian Baru dan kekal, sebagai yang terkandung dalam ‘Tabut Perjanjian baru’ itu sendiri, dan Putera Allah yang ditinggikan[3]:

1. Keluaran 25:1,18-20

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Dan haruslah kau buat dua kerub (English: cherubims/angels) dari emas, kau buatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini, dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya”. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.”

2. Ketika raja Daud memberikan rencana pembuatan bait Allah kepada Salomo

2. 1 Tawarikh 28:18-19

”..juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas yang diperlukan untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian Tuhan. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh Tuhan yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu.”

Lihatlah bahwa semua yang tertulis di atas diilhami oleh Tuhan sendiri.

Memang bukan raja Daud yang membangun bait Allah, melainkan raja Salomo pada tahun ke-empat setelah ia menjadi raja atas Israel. Dan dia melakukan yang diperintahkan oleh raja Daud, seperti yang tertulis dalam kitab 1 Raja-raja 6:23-35, “selanjutnya di dalam ruang belakang itu dibuatnya dua kerub dari kayu minyak, masing-masing sepuluh hasta tingginya ……..” (Dua kerub yang terdapat pada bait Allah ini menunjuk kepada kehadiran Allah di dalam tabut perjanjian; dan Yesuslah yang kemudian menjadi pemenuhan dari perjanjian Allah ini).

3. Yehezkiel 41:17-18

… dan di seluruh dinding bagian dalam dan bagian luar, terukir gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan masing-masing kerub itu mempunyai dua muka.

4. Bilangan 21:8

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa:”Buatlah (sebuah patung) ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” (Ular ini yang ditinggikan Musa menjadi gambaran dari Yesus Putera Allah yang harus ditinggikan (Yoh 3:14)).

Berdasarkan dasar-dasar tersebut di atas, yang dilarang adalah image/ gambaran/ patung yang dijadikan “allah-allah yang lain” dan menyaingi Allah yang Satu. Yang dilarang oleh hukum Allah adalah pemujaan terhadap image /gambaran/patung itu sendiri. Dengan demikian, Keluaran 20:4-5 berkaitkan dengan Keluaran 20:3, yaitu jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.

Bagaimana kita menjelaskan kontradiksi ayat-ayat tersebut diatas butir 1-4 dengan kitab Keluaran 20:4-5?

Jawabannya sangat sederhana. Kerub/malaikat tidak dianggap sebagai allah dan tidak memerlukan pemujaan: Mereka adalah gambaran hamba Tuhan. Hal yang sama diterima oleh gereja Katolik saat ini, adalah penggunaan patung Yesus, Maria, santo/santa karena mereka bukan allah melainkan gambaran hamba Tuhan. (Jadi kita tidak menghormati patung itu apalagi menyembahnya, melainkan menghormati pribadi yang dilambangkannya, karena mereka membantu kita mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah).

Bagaimana umat Katolik menggunakan image/gambaran/patung:

1. Sebagai salah satu alat bantu umat untuk lebih menghayati kedekatannya dengan Yesus Kristus.

Penggunaan patung, lukisan, elemen artistik lainnya bagi umat Katolik adalah untuk membantu mengingat seseorang atau sesuatu yang digambarkannya. Sama seperti seseorang mengingat ibunya dengan melihat fotonya, demikian juga umat Katolik mengingat Yesus, Maria dan orang kudus lainnya dengan melihat patung/ gambar mereka. (Lagipula, Yesus sendiri sebagai Sang Putera Allah telah menjadi manusia, sehingga Yesus sendiri telah menjadi ‘gambaran Allah yang nyata.’ (lihat Kol 1:15) Karena itu, dengan kedatangan Yesus ke dunia, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Allah yang dalam Perjanjian Lama dilarang untuk digambarkan, maka di Perjanjian Baru malah dinyatakan sebagai ‘gambar hidup’ di dalam diri Yesus. Jadi Yesus memperbaharui ‘tata gambar’ tentang Allah, sebab Ia adalah gambaran Allah sendiri.[4]) Renungkanlah ini: Jika di rumah kita memasang gambar/ foto keluarga kita, mengapakah kita tidak boleh memasang gambar/foto Tuhan yang kita sayangi? Gambar/ patung Tuhan Yesus dipasang tidang untuk disembah, tetapi hanya untuk mengingatkan kita tentang betapa istimewanya Ia di dalam hidup kita.

2. Sebagai sarana pengajaran

Umat Katolik juga menggunakan image/gambar/patung sebagai sarana pengajaran, seperti yang diterapkan juga oleh umat Kristen lain terutama dalam mengajar anak-anak di sekolah minggu, seperti: menerangkan siapa Tuhan Yesus, mukjijat yang dibuatNya, dll dengan gambar-gambar. (Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang pada saat itu tidak dapat membaca! Penggunaan gambar/ patung untuk maksud pengajaran ini tentu bukan berhala, karena mereka akhirnya malah menuntun orang beriman kepada Tuhan. Hal serupa terjadi waktu kita pertama kali mengajar anak-anak kecil mengenali benda-benda tertentu. Kita membuat/ menunjukkan pada mereka gambar-gambar sederhana, seperti apel, ikan, rumah, dst. Tentu saja hal ini tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Jadi membuat gambar yang menyerupai sesuatu di sekitar kita bukan merupakan dosa asal kita tidak menyembah gambar- gambar itu).

3. Digunakan untuk peristiwa-peristiwa tertentu

Umat Katolik juga menggunakan hal tersebut dalam kesempatan tertentu, sama seperti umat Kristen pada umumnya mempunyai patung-patung kandang natal, gambar peristiwa natal, atau mengirim kartu natal bergambar pada hari natal. (Jika membuat segala gambar/ patung yang menyerupai segala sesuatu dianggap dosa, apakah berarti kebiasaan mengirimkan kartu Natal dan menghias pohon Natal dengan kandang Natal, adalah dosa? Jika ya berarti bahkan menonton TV pun adalah dosa, melihat segala buku bergambar adalah dosa, menggambar/ melukis adalah dosa, karena semua objeknya adalah segala sesuatu yang ‘menyerupai apapun yang di langit dan di bumi’).

Kesimpulan

Jadi, Tuhan memang melarang pemujaan terhadap image/gambaran/patung, tetapi Ia tidak melarang pembuatan image/ gambaran tersebut secara umum. Seandainya Ia melarangnya, maka film, televisi, video, foto, lukisan, kartu natal bergambar, uang, ataupun gambar-gambar lainya akan juga dilarang, karena semua itu mengandung unsur image/ gambaran yang menyerupai sesuatu di bumi atau di atas bumi….(lihat Kel 20:4) Karena itu, Gereja Katolik melihat ayat ke-4 ini sebagai kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, agar jangan kita membuat gambar/ patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan Allah.

Dengan demikian sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat Kristen lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

Kami yakin bahwa masih ada perbedaan-perbedaan yang ada dalam pengajaran Katolik dan Kristen Protestan. Alangkah baiknya jika kita masing-masing mau mengerti dasar-dasar atau latar belakang alkitabiah dan ajaran Gereja yang mendasari pengajaran tersebut untuk mengetahui kebenaran itu sendiri. Janganlah kita lupa bahwa di antara kita lebih banyak persamaannya dari pada perbedaannya.

Akhirnya, kami mengucapkan salam hangat kami untuk Bapak Pendeta dan seluruh jemaat Bapak. Semoga kasih Tuhan Yesus selalu mengikat kita semua sebagai satu saudara.

Salam dalam damai Kristus,

Ingrid Listiati & Wijoyo Tay

Penutup

Surat ini saya kirimkan kepada Bapak Pendeta tersebut. Nama dan alamat bapak Pendeta tersebut sengaja tidak saya cantumkan di sini karena saya pandang tidak perlu, karena yang terpenting adalah isi dari surat tersebut, untuk kita renungkan bersama. Kesaksian serupa ini mungkin dapat pula saudara/i alami dengan situasi yang berbeda, dan saya berharap artikel ini dapat sedikit membantu. Di atas semua itu, ingatlah bahwa kita harus selalu siap untuk menjelaskan iman kita, namun harus selalu dengan kelemah-lembutan dan hormat (lih. 1Pet 3:15).

Perlu kita ingat di sini bahwa berhala yang lebih ‘berbahaya’ sekarang adalah bukan terbatas hanya patung, tetapi segala ciptaan yang kita anggap lebih utama dari Tuhan, misal, uang, TV, pekerjaan, kedudukan, kecantikan, koleksi barang antik, main game, dst., yang menggeserkan peran Tuhan di dalam hidup kita, dan yang menyita waktu kita sampai tidak ada waktu untuk ke gereja, berdoa dan membaca sabda-Nya. Hal ini malah lebih nyata pada jaman sekarang, ketimbang hal membuat patung lembu tuangan (lih. Ul 9:16), namun prinsipnya sama, yaitu menyembah ciptaan dan bukan Sang Pencipta.

Mari kita refleksikan, apa yang menjadi ‘patung berhala’ di dalam hidup kita, yang mengambil tempat Tuhan di hati kita. Mari kita berdoa agar Tuhan membantu kita mengangkat keterikatan kita terhadap benda-benda tersebut. Dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dengan lebih sungguh, tidak hanya di mulut, tetapi sungguh turun sampai ke hati.


[1] Perintah kedua yang dibahas oleh Bapak Pendeta adalah “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit… di bumi … atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”(Kel 20:4) Dalam pengajaran Gereja Katolik, perintah kedua adalah: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan (Kel 20:7), karena ayat ke-4 yang mengacu pada patung berhala merupakan kesatuan/kelanjutan dari perintah pertama yaitu, “Jangan ada allah lain dihadapan-Ku…”(Kel 20:3)

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik 2132, Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena ‘penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius Spir 18,45) dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea II, DS 601). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu ‘penghormatan yang khidmat’, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.

[3] Lihat KGK 2130, Tetapi di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (bdk Bil 21:4-9; Keb 16-5-14, Yoh 3:14-15), tabut perjanjian dan kerub (bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).

[4] Lihat KGK 2131, …Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

215 Komentar to Orang Katolik Tidak Menyembah Patung

  1. memang benar kata-kata Scott Hahn bahwa orang katolik tidak dapat mengerti seberapa sulitnya orang protestan untuk memahami penghormatan katolik pada Maria

    saya pernah bertemu dengan salah seorang teman dari Gereja Protestan berbasis etnik. kami baru berkenalan dan komentar pertama yang keluar setelah kenalan adalah “oh, penyembah Maria”. tertawa, saya menanggapi komentarnya dengan menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak menyembah Maria. tetapi dengan percaya diri seakan tidak perlu dikoreksi teman saya berkata dengan nada menyimpulkan “Ah, itu kelihatan sekali kok”. dari komentar sederhana ini, saya berpikir bahwa:
    1. Memang ada prasangka kuat dalam pikiran para teman Protestan bahwa Gereja Katolik menyembah Maria
    2. Pemahaman ini sulit dan kadang tidak mau diubah
    3. kemudian saya bertanya “Kelihatan bagi siapa?”. apakah yang kelihatan pasti benar? siapa yang tau apa yang dilakukan: si pelaku atau si pemirsa? apakah bila saya memegang pisau yang berdarah di samping mayat, saya dengan otomatis membunuh?

    soal menyembah patung, masalah ini sudah basi tapi yah kok masih sulit dimengerti. penyembah patung itu seperti Laban yang kebingungan dan memburu Yakub karena terafim-nya hilang. baru-barusan ada patung Maria yang dipenggal, toh umat Katolik tidak menangis tujuh hari tujuh malam seakan-akan Maria bener-bener dipenggal. waktu pengrusakan Gereja beebrapa tahun lalu, gedung gereja saya termasuk yang terkena dengan hasil patung Yesus Kristus terbakar., toh warga paroki ku tidak histeris, merobek baju, menarik-narik rambut, nangis darah seakan-akan Tuhan Yesus menderita luka bakar. setiap umat Gereja Katolik yakin dengan sadar bahwa patung tetap patung. kami kadang menyematkan tindakan afeksi pada patung tersebut misalnya meletakkan rangkaian bunga, menyalakan lilin tapi tujuan kami adalah pada Pribadi yang dilukiskan oleh patung itu, bukan pada benda patung itu. kami tau bahwa yang jadi Tuhan adalah Pribadi Yesus Kristus, bukan benda patung

    terpujilah Tuhan Yesus dan terpujilah BundaNya yang Tak Bercela
    terima kasih

  2. Jika memang katolik tidak mengajarkan penyembahan terhadap patung, sy ingin bertanya,
    Pernah sy ikut suatu misa hari paskah. Pd waktu itu ada ritual dimana patung Yesus yg disalib dibawa keliling dan setiap umat yang hadir, mencium bagian kaki dr patung tersebut.
    Pertanyaan sy :
    1 bukankah sudah jelas kita tidak boleh menyembah patung, tetapi knp ada ritual seperti itu?
    2. Apa maksud mencium kaki patung, padahal kt tahu patung itu cm buatan manusia?
    3. Apakah dasar pembenaran alasan untuk sebagai penghayatan dsb dst sedangkan kita cm berpikir menggunakan pembenaran atas sifat manusiawi?
    4. Apakah benar perintah Allah dapat kt sesuaikan dengan pemikiran kt sebagai manusia? Dan apa anda yakin bahwa pemikiran2 tsb 100% tidak bertentangan dengan perintah Allah tsb?

    [dari katolisitas: sudahkah anda membaca beberapa link yang telah diberikan sebelumnya? Bacalah terlebih dahulu sampai selesai, setelah itu anda dapat memberikan argumentasi yang baru. Penciuman salib dapat anda baca di sini - silakan klik. Dari komentar anda, maka anda belum membaca seluruh link-link yang diberikan. Silakan melihat jawaban kami sebelumnya:

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan dan dibahas di beberapa artikel di situs ini. Gereja Katolik membaca ayat Kel 20:4-5 dalam kaitannya dengan Kel 20:3, dan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci, yang tidak melarang penggunaan patung untuk ibadah. Silakan anda membaca artikel berikut ini:
    Orang Katolik tidak menyembah patung, silakan klik
    Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala, silakan klik
    Diskusi dengan Indah dan Sherly tentang patung, silakan klik, dan klik di sini
    ]

  3. Shallom bu ingrid

    Saya mau tanya menurut bu ingrid, dapatkah seseorang diselamatkan dari dosa2nya dan menerima hidup yg kekal hanya berserah/ percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi, padahal orang tersebut tidak pernah minta doa syafaat pd bunda Maria, para santo atau Paus yg telah meninggal?

    terima kasih

    • Shalom Pemirsa,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau saya dapat menyimpulkan dari pertanyaan anda, maka saya melihat bahwa konsep keselamatan bagi anda adalah A atau B. Namun Gereja Katolik melihat keselamatan adalah A dan B. Sebagai contoh kalau anda tanya “dapatkah seseorang diselamatkan dari dosa2nya dan menerima hidup yg kekal hanya berserah/ percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi, padahal orang tersebut tidak pernah minta doa syafaat pd bunda Maria, para santo atau Paus yg telah meninggal?” maka jawabannya adalah tidak. Kenapa? Karena Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa hanya dengan percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Dapatkah anda menyebutkan ayat mana di Alkitab yang menyebutkan demikian? Gereja Katolik melihat keselamatan sebagai hal yang lalu, sekarang dan akan. Dengan demikian, keselamatan dari sisi manusia adalah suatu proses. Gereja Katolik juga melihat pentingnya iman, pengharapan dan kasih dalam keselamatan, pentingnya baptisan, pentingnya perbuatan, dan yang paling utama adalah pentingnya rahmat Allah, karena keselamatan adalah merupakan anugerah Allah yang jauh di atas kodrat manusia. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa umat Allah diselamatkan karena Maria. Anda dapat turut berdialog tentang konsep keselamatan di sini – silakan klik. Saya rasa diskusi tentang keselamatan dalam hubungannya dengan iman dan baptisan telah dibahas secara panjang lebar di link tersebut. Jangan lupa membaca di bagian bawahnya – silakan klik. Semoga penjelasan singkat ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Saya ingin menjawab ayat mana yang membenarkan pertanyaan pemirsa “dapatkah seseorang diselamatkan dari dosa2nya dan menerima hidup yg kekal hanya berserah/ percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi, padahal orang tersebut tidak pernah minta doa syafaat pd bunda Maria, para santo atau Paus yg telah meninggal?” maka jawabannya adalah TIDAK. Kenapa? Karena Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa hanya dengan percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Dapatkah anda menyebutkan ayat mana di Alkitab yang menyebutkan demikian? (Saya jawab: “Bagaimana dengan ayat berikut? : Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Roma 10:9). Bukankah ayat ini jelas menyatakan bahwa seseorang diselamatkan dari dosa2nya dan menerima hidup yg kekal apabila berserah/ percaya akan kuasa darah Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat secara pribadi? Thx.)

        • Shalom Marie,

          Terima kasih atas tanggapannya. Memang Roma 10:10, menekankan pengakuan iman untuk mendapatkan keselamatan. Namun, apakah hanya dengan pengakuan ini saja kita dapat langsung diselamatkan? Tentu saja tidak. Hidup yang kekal atau keselamatan ini diberikan oleh Allah karena kasih karunia, oleh iman/ kepercayaan yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8; Gal 5:6); dan ini diberikan melalui Pembaptisan (Yoh 3:5, Mat 28:19-20) yang melibatkan pertobatan untuk melaksanakan perintah Tuhan (lih. Mat 7:21-23; Ibr 11;39; Yak 2:14.). Maka Gereja Katolik tidak pernah memisahkan kasih karunia, iman, perbuatan kasih, Pembaptisan dan pertobatan dalam ajaran Keselamatan ini. Silakan membaca diskusi tentang keselamatan ini di sini – silakan klik dan artikel ini – silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Saya setuju dengan pendapat saudara Stefanus bahwa iman diikuti dengan perbuatan iman. Dan selama prosesnya keselamatan tersebut dapat hilang apabila manusia tetap hidup dalam “manusia lama” nya bahkan setelah menerima babtisan. Saya ingin menanyakan perihal perikop di Injil Lukas 23: 39-43 (Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. “Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”). Dari perikop tersebut, ada kesesuaian dengan ayat pada injil Kisah Para Rasul 2:21 (Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan). Dari kisah tersebut dapat dilihat bahwa hukuman mati berupa disalibkan pada masa itu adalah bentuk hukuman mati yang mengerikan, dan bagi umat Yahudi hukuman ini dihindari, karena dikutuk oleh Allah (Ulangan 21:23). Pastinya seorang kriminal sampai dijatuhi hukuman sedemikian pastilah dosanya sangat berat. Namun dari perikop tersebut dapat dilihat bahwa pada saat itu juga si penjahat berseru kepada Yesus dan percaya bahwa Yesus Tuhan “apabila Engkau datang sebagai Raja”, Yesus mengatakan bahwa “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”. Bukankah ini bukti keselamatan ada di dalam Dia tanpa diikuti perbuatan baik, dalam konteks penjahat tersebut tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbuat baik karena ajal sudah hampir menjemput? (ini hanya satu contoh saja, namun saya pribadi tetap mengakui bahwa tindakan iman itu penting dalam proses menjadi pengikut Kristus). Dari perikop tersebut, saya melihat bahwa tindakan mengakui Yesus sebagai Raja tersebut sudah merupakan tindakan iman “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10) yang merupakan kunci dari keselamatan itu sendiri. Dan inilah yang dapat dikatakan bahwa keselamatan itu adalah anugerah semata dan hanya melalui Yesus kita beroleh keselamatan tersebut. Mohon pendapatnya. Terima kasih.

            Submitted on 2011/12/14 at 2:15pm

            Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu–dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta–dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. (1 Yoh 2:27)

            • Shalom Marie,

              Terima kasih atas tanggapannya tentang penjahat yang tersalib dalam hubungannya dengan keselamatan. Saya pikir, saya tidak perlu menjawab pertanyaan anda yang tanggal 14 Desember 2011, karena saya tidak tahu maksud anda memberikan ayat 1 Yoh 2:27 kepada saya. Sekarang mari kita diskusikan tentang penjahat yang disalib, di mana dalam kesempatan lain, saya pernah menuliskan sebagai berikut:

              Penjahat yang bertobat, melakukan satu tindakan yang luar biasa. Orang dapat mengakui Yesus sebagai raja, ketika Yesus sedang melakukan mukjizat penggandaan roti atau membangkitkan orang mati. Namun, sangat sulit bagi seseorang untuk mengakui Yesus sebagai raja dan Tuhan dalam kondisi Yesus sedang disalibkan. Namun apa yang dilakukan penjahat yang bertobat? Dia menegur penjahat yang menghujat Yesus, dengan berkata “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Luk 23:40-41) Ini merupakan bentuk pertobatan dan pernyataan iman. Tidak cukup dengan pernyataan iman ini, penjahat yang bertobat memberikan pernyataan iman yang sungguh luar biasa dengan mengatakan “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42) Dia menaruh iman dan pengharapan di dalam Kristus, yang adalah Allah dan Raja, yang walaupun pada saat ini sedang menderita, namun penjahat ini menaruh pengharapan di dalam Kristus dan percaya bahwa Kristus akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya, yaitu sebagai Raja. Walaupun percakapan ini begitu singkat, namun ini adalah ungkapan kasih yang luar biasa. Setiap tarikan nafas dan perkataan yang terucap merupakan penderitaan yang sungguh menyiksa. Namun, dengan sisa nafasnya, penjahat ini mengungkapkan kasihnya kepada Yesus. Ungkapan iman, pengharapan dan kasih yang luar biasa ini dijawab oleh Yesus dengan indah: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (ay.43) Jadi, pertobatan yang sungguh; keinginan untuk bersatu dengan Kristus; pengharapan bahwa Kristus akan mengingatnya; imannya akan Kristus yang menderita sengsara, wafat dan bangkit dalam kemuliaan; serta tindakan kasih, mendatangkan keselamatan bagi penjahat ini.

              Apakah contoh ini dapat menjadi konfirmasi dari Rom 10:10? Tentu saja bisa. Apakah contoh ini bisa diterapkan pada semua orang? Tentu saja tidak bisa, karena penjahat tersebut bertobat, menunjukkan iman, pengharapan dan kasih kepada Yesus sampai akhir hayatnya, sedangkan semua orang yang telah mengaku bahwa Yesus Tuhan dan masih hidup di dunia ini, harus menunjukkan kesetiaan mereka sampai akhir. Jadi, kalau anda mempercayai bahwa keselamatan dapat hilang, maka Rom 10:10 tidak dapat diartikan sebagai ayat yang mendukung pengajaran sekali selamat tetap selamat. Pengakuan iman akan Kristus itu memang penting, namun sama pentingnya dengan baptisan dan kekudusan, karena memang tidak ada yang tidak kudus dapat melihat Allah (lih. Ibr 12:14). Gereja Katolik tidak pernah mengatakan bahwa keselamatan adalah karena perbuatan kita. Gereja Katolik mengatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah anugerah Allah, namun manusia juga dituntut untuk menggunakan akal budinya sehingga manusia dapat bekerjasama dengan rahmat Allah untuk bertobat, menerima baptisan, bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih, serta berjuang dalam kekudusan. Dengan kata lain, semua hal ini disebutkan di dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, kalau kita memang ingin konsisten terhadap pengajaran Kitab Suci secara menyeluruh, maka kita juga harus menjalankan semua pesan tersebut dan tidak hanya berhenti pada Rom 10:10. Semoga penjelasan ini dapat diterima.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • Shalom Stefanus,

                Saya setuju sekali dengan uraian anda di atas dan tidak berniat menguraikan lebih lanjut. Dan tentu saja saya tidak mengatakan bahwa dari Roma 10:10 dapat diartikan sekali selamat tetap selamat. Saya hanya mengkonfirmasi saja bahwa apa yang dikatakan di Roma 10:10 berlaku bagi siapa saja yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Itu syarat utamanya. Masalah apakah seseorang menghidupi keselamatan yang telah diterimanya seiring dengan berjalannya waktu, itu adalah buah dari keselamatan yang diperolehnya (Mat 3:8). Dan tidak menutup kemungkinan kasus seperti yang diuraikan di Injil Lukas 23: 39-43 dapat terjadi pada siapa saja walaupun itu bukan semua orang, seperti ucapan Yesus pada Injil Mat 19:26 (Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”), Luk 1:37 (Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil). Terimakasih.

                [dari katolisitas: Tanpa iman, tidak ada seorangpun yang berkenan kepada Allah. Namun, iman adalah pemberian dari Allah dan pada saat yang bersamaan adalah tanggapan dari manusia kepada wahyu Allah.]

  4. Firman Tuhan Vs Tradisi, apa pilihan anda, apakah tradisi itu menjadi suatu keenakan bagi anda yang mengikutinya? dasar segala sesuatu adalah Firman Tuhan, walau apapun dominasi gereja itu sendiri, dan JANGAN SESEKALI MENGGUNAKAN FIRMAN ITU SEBAGAI BATU SANGDUNGAN BAGI ANDA KERANA BILA TIBA SAATNYA NANTI, akan digenapilah Matius 7 : 21-23

    Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
    Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
    Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

    • Shalom Nick,

      Terima kasih atas tanggapan anda. Anda memberikan pertanyaan Firman Tuhan vs Tradisi. Bagaimana kalau saya pilih Kitab Suci dan Tradisi Suci yang dijaga oleh Magisterium Gereja? Definisi dari ketiganya adalah sebagai berikut:

      Tradisi Suci

      (KGK 75-83)

      Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

      Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).

      Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

      Kitab Suci

      (KGK 101-141)

      Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.” Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita. 

      Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.

      Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

      Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

      (KGK 85-87, 888-892)

      Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.” Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

      Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

      Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

      Kemudian, kaitan tentang Kitab Suci dan Tradisi Suci, anda dapat mengikuti diskusi ini – silakan klik. Anda dapat berpartisipasi dalam diskusi di link tersebut dan silakan memberikan argumentasi yang baru atau memperkuat argumentasi yang sudah ada. Namun, jangan memulai diskusi dari awal. Semoga hal ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Budi Darmawan Kusumo May 11, 2011 at 11:14 am

      Syalom Nick, ternyata perkataan anda itu BERLAWANAN dengan Kitab Suci sendiri, saya akan ambil quote dari message anda yang mengatakan :

      “dasar segala sesuatu adalah Firman Tuhan”

      Hal ini bertentangan dengan Kitab Suci di 1 Timotius 3:15 =

      “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni JEMAAT DARI ALLAH YANG HIDUP, tiang penopang dan DASAR KEBENARAN”.

      jadi Dasar kebenaran adalah gereja / jemaat, BUKAN Kitab Suci. Yang ngomong adalah Alkitab sendiri lho.
      Sehingga dari Gereja ( jemaat – jemaat Allah ) itu MEMBENTUK ALKITAB. Sekarang aku tanya ke Nick sendiri deh, coba dipikirkan baik – baik kalo ada yang tanya seperti ini :

      1.Mengapa urutan injil harus Matius-Markus-Lukas-Yohanes ? Kenapa tidak Lukas-Yohanes-Matius-Markus ?
      2.Bagaimana nasih para rasul yang lain setelah kitab para rasul selesai ? Kemana mereka pergi ?
      3.Apakah kamu tahu kalo Injil Lukas itu ternyata rangkuman dari Khotbah2 Paulus ?

      Ada banyak hal yang tidak akan dipahami di Alkitab jika TIDAK membaca Tradisi Suci.

      Semoga jadi bahan permenungan.
      Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

    • kooooook VS ?

      Kan lebih pas kalau dibilang Firman Tuhan yang dijaga dan diajarkan secara turun temurun oleh tradisi

      Kalau semua orang bebas mengintepretasikan Firman Tuhan apa guidelinenya ?

      apalagi kita tahu bahasa sendiri memiliki keterbatasan belum lagi ada masalah ambigu dalam memaknai bahasa juga ada masalah dalam penerjemahan

      Dimana jaminan tidak ada kesalahan penafsiran dari intepretasi pribadi anda ?

      misal kalau saya mempelajari hukum Newton tentunya disamping saya mempelajari textbook2 yang bersangkutan saya akan berkonsultasi pada orang yang lebih pakar dan terlebih dahulu telah mempelajarinya sebelum saya sehingga saya yain tidak salah memahami. Orang tersebut juga tentunya juga belajar dari pakar sebelumnya dan seterusnya yang bila dirunut ya tentunya Isaac Newton yang mengajarkannya.

      Tentunya akan ada argumen kalau membaca/mempelajari Firman bakal mendapat terang Roh Kudus sehingga gak bakal salah ….

      hasilnya tentunya sudah bisa dilihat ada berapa banayak variasi dogma/doktrin yang saling bertentangan satu dengan lainnya sebagai akibat intepretasi pribadi yang bebas tersebut

  5. Shallom. pak Stef dan bu ingrid….
    Umat katolik menempatkan patung Maria digua gua dan patung paus vatikan di beberapa sudut kota, jika saya tanya pd sdr jawabannya itu sikap penghormatan bukan menyembah, tapi dalam prakteknya sikap yg dilakukan/ ditunjukkan umat katolik didepan patung Maria atau patung Paus vatikan adalah bentuk penyembahan terhadap patung/ berhala, ini jelas sekali melanggar hukum Tuhan yg ke 2, maka gimana jika praktek praktek semacam itu dihentikan, mohon tanggapannya.

    thank

    • Shalom Tiyang desa,

      Tentang topik patung ini sudah banyak dibahas di situs ini. Silakan anda membaca terlebih dahulu di artikel- artikel ini, (silakan klik di judul-judul berikut):

      Orang Katolik tidak menyembah patung
      Apakah berhala itu?
      Dialog dengan Indah tentang patung
      Dialog dengan Sherly tentang patung

      Jika anda berniat berdialog dengan kami silakan anda sebutkan terlebih dahulu, apa yang anda maksud dengan pernyataan anda ini, “dalam prakteknya sikap yg dilakukan/ ditunjukkan umat katolik didepan patung Maria atau patung Paus vatikan adalah bentuk penyembahan terhadap patung/ berhala…” Sikap apa yang anda maksud di sini?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Shallom bu Ingrid

        Dilihat dari sikap umat katholik didepan patung maria atau patung paus vatikan, bisa dilihat langsung atau dokumen2 foto yg telah ada. saya kira arah pertanyaan saya sudah jelas.

        thanks

        [Dari Katolisitas: Silakan anda membaca tanggapan/ jawaban kami di rubrik FAQ tentang topik ini, silakan klik]

  6. Halo,

    Saya seorang Protestan dan baru mulai belajar mengenai Katolik, dan sedang dalam proses mencoba memahami penggunaan patung dsb.
    Memang jika dilihat dari tujuan sebenarnya memang baik, namun ada beberapa pertanyaan di hati saya:
    1. Mengenai pembuatan patung yang disebutkan di PL; saya lihat
    a. semuanya itu adalah perintah langsung dari Tuhan. Di luar perintah langsung dari Tuhan, saya tidak yakin apakah ada patung2 yang dibuat.
    b. Tujuannya juga untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kenyamanan atau kemudahan manusia (misal: mengarahkan hati).
    Dan mungkin ini sangat erat hubungannya dengan 10 perintah Allah yang sangat dipegang teguh pada saat itu. Setidaknya setahu saya di jaman Yesus tidak dibuat/ada patung Abraham, Yeremia, dan nabi2 besar lainnya.
    Jadi saya kurang tahu apakah pembuatan patung Yesus, Maria, Yusuf, dll diperintahkan Tuhan?

    2. Kita tentu paham mengenai istilah “menjadi batu sandungan” yang sering disebutkan dalam Alkitab. Dan bahkan dalam jawaban Ibu Inggrid mengenai makanan yang dipersembahkan dalam sembayangan istilah ini digunakan. Namun sayang sekali, saya melihat bahwa penggunaan patung dsb nya itu sudah menjadi batu sandungan, bukan hanya dari kalangan Protestan, bahkan dari agama lainnya yang menganggap Katolik menyembah patung. Saya hanya berpikir, tidak adakah cara lain untuk “mengarahkan hati” dan “menghayati kedekatan” dengan Tuhan tanpa menjadi batu sandungan?

    Bahkan jika kita mau jujur, tidak sedikit orang Katolik yang “lupa” dengan esensi dasar doa kepada orang2 suci dan Maria seperti yang sebenarnya jadi dasar dari Gereja Katolik. Contoh: Dalam kondisi darurat (di ambang kecelakaan, dsb) mungkin dia malah berdoa demikian: Maria, tolong saya; (ini fakta yang dilakukan teman saya)…. yang mana ini sudah di luar dasar pembenaran devosi pada Maria…karena harusnya kita memohon pada Tuhan.
    Entah disadari atau tidak; konsep orang2 kudus ini bila tidak dipahami dengan benar (sayangnya most likely terjadi), bahkan bisa menjadi batu sandungan bagi orang Katolik sendiri.

    Demikian pertanyaan saya, mohon maaf kalau ada yang salah karena saya baru belajar.

    Terima kasih.

    • Shalom Arif Setiabudi,

      Terima kasih atas tanggapan anda. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

      1. Tentang penggunaan patung di dalam Perjanjian Lama:

      a. Seperti yang anda katakan, patung-patung di dalam Perjanjian Lama (PL) adalah perintah Tuhan sendiri. Namun, di satu sisi, Tuhan juga memberikan perintah untuk tidak membuat patung. Perintah yang terlihat saling bertentangan ini sebenarnya tidaklah bertentangan, karena tidak menjadi masalah kalau kita membuat patung asal kita tidak menyembahnya. (lih. Kel 20:4-5). Kalau Tuhan memberikan perintah untuk membuat patung, maka ini berarti pembuatan patung tidaklah bermasalah. Akan menjadi masalah kalau kemudian kita menyembah patung tersebut (lih. 2Raj 18:4)

      b. Memang tujuan dari pembuatan patung di dalam Gereja Katolik adalah bukan untuk menyembah patung namun untuk mengarahkan hati umat Katolik agar dapat menyembah Tuhan dengan baik. Memang dapat Perjanjian Baru tidak ada perintah untuk membuat patung, namun di satu sisi, kita juga harus melihat tidak ada larangan untuk membuat patung. Bahwa di dalam PB tidak ada patung Abraham, Yeremia, dll. tentu saja dapat dimengerti karena fokus dari penyembahan umat Yahudi adalah di dalam bait Allah. Sedangkan bait Allah sendiri adalah merupakan duplikasi dari Bait Allah pada jaman Raja Salomo, yang berarti mungkin ada patung kerub seperti yang diperintahkan oleh Tuhan kepada Raja Salomo (lih. 1Raj 6:23-28; 2Taw 3:11-13). Yesus sendiri tidak menghujat Bait Allah ini sebagai tempat berhala. Dan memang tidak ada ayat yang menjelaskan bahwa Yesus memerintahkan membuat patung Yesus, Maria, Yosef, dll. Namun, juga tidak ada perintah larangan untuk membuat patung. Bukankah Yesus juga tidak memerintahkan untuk percaya kepada Sola Scriptura atau Sola Fide di dalam Perjanjian Baru?

      2. Tentang patung yang menjadi batu sandungan. Ini argumentasi yang cukup baik. Memang dalam hal makanan, rasul Paulus menjelaskan agar kita tidak menjadi batu sandungan. Di satu sisi, tidak semua hal harus kita korbankan hanya demi tidak menjadi batu sandungan, namun justru hal-hal yang terlihat menjadi batu sandungan dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk menjelaskan iman kita. Kalau rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus yang tersalib menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi (lih. 1Kor 1:23), bukan berarti bahwa Rasul Paulus berhenti mewartakan Kristus yang tersalib, bahkan dia mengatakan bahwa pemberitaan Kristus yang tersalib adalah kekuatan Allah bagi yang diselamatkan (lih. 1Kor 1:18).

      Kalau kita melihat lebih jauh tentang batu sandungan, bagi agama lain, bukan hanya Gereja Katolik – namun juga gereja-gereja non-Katolik – juga menjadi batu sandungan. Batu sandungan bagi mereka yang terbesar bukanlah tentang patung, namun tentang Kristus – karena bagi mereka Kristus hanyalah nabi biasa sedangkan kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan. Apakah dengan demikian, maka kita menghilangkan iman akan Yesus sebagai Tuhan? Tentu saja kita tidak mau melakukannya.

      Umat Katolik juga tidak menempatkan patung sebagai yang utama, karena bentuk penyembahan tertinggi yang diinginkan oleh Yesus adalah Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi tidak menjadi masalah ada patung atau tidak. Namun, juga tidak berarti bahwa kita terus menghapuskan patung-patung dari Gereja, karena ini adalah tradisi, yang tidak bertentangan dengan iman, bahkan membantu umat Allah untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Bahkan pada abad-abad awal, di mana tidak semua orang dapat membaca dan menulis, maka gambar-gambar dan patung-patung karya seni menjadi sarana untuk menerangkan iman Kristen. Hal yang sama, kita juga terapkan pada anak-anak kita, di mana kita sering menunjukkan gambar atau patung Yesus. Patung-patung dalam Gereja tidaklah mengganggu, karena mereka mempresentasikan anggota keluarga Allah dan bukan musuh-musuh Allah. Dengan demikian, liturgi menjadi penuh makna, karena bukan hanya dihayati sebagai penyembahan umat Allah di dunia ini, namun juga seluruh isi Sorga (Bunda Maria dan santa-santo, serta para malaikat) turut dalam pujian dan penyembahan kepada Kristus. Diskusi panjang tentang topik ini dapat anda ikuti di sini – silakan klik.

      Bahwa ada umat Katolik yang tidak tahu imannya secara baik memang harus diakui, sama seperti umat dari non-Katolik juga ada yang tidak tahu imannya secara baik. Umat Katolik dekat kepada Maria, karena menyadari bahwa Maria tidak pernah menyimpan semua doa hanya untuk dirinya sendiri, melainkan dia akan membawanya kepada Yesus, dan dia akan mengatakan “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5) Umat Katolik tahu bahwa Maria adalah mahluk ciptaan dan dia tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Kristus. Namun, umat Katolik tahu bahwa dia adalah ciptaan yang dipilih oleh Allah secara istimewa, sehingga terpilih menjadi bunda Allah. Kalau Allah memandang Bunda Maria baik sebagai Bunda Allah, maka sebagai pengikut Kristus, kita juga mengikuti Kristus – yaitu menghormati ibu-Nya. Kalau sampai terjadi penyimpangan dan ada yang tidak mengerti iman dengan benar, maka yang dibernarkan adalah pengertian dari orang-orang tersebut, karena masalahnya bukan di dalam pengajaran, namun pada orang-orang tersebut. Dan sekali lagi, Sakramen Ekaristi adalah cara umat Katolik menyembah Kristus, karena itulah yang dikehendaki oleh Kristus. Dan kalau anda pernah mengikuti Ekaristi, maka anda akan mengerti bahwa fokus dari Ekaristi adalah benar-benar Kristus sendiri. Semua devosi, seperti doa rosario, novena, dll tidak dapat menggantikan Sakramen Ekaristi, karena Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Semoga jawaban ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • saya juga bingung kenapa salib protestant tdk ada corpus nya (TUHAN Yesus)…padahal salib kan ada 3 di bukit golgota…kita harus tahu yg mana benar2 salib YEsus itu sendiri dan tdk tertukar

    • Salam sejahtera bagi semuanya,

      saya sangat tertarik dengan diskusi patung ini,
      saya seorang Katolik, dan saya bisa dibilang awam dalam iman Katolik, tapi bukan berarti saya tidak mengimaninya.

      Ijinkan saya melihat diskusi ini dari perspektif saya sebagai awam (karna jelas yang bertanya di sini juga awam tentang iman Katholik ).

      Saya seorang yang punya rasa seni, dan tentunya saya yakin ini adalah pemberian Tuhan Allah kita Yesus Kristus yang biasa saya sebut TALENTA.
      saya sangat mencintai Kristus, dan saya sangat merindukan-Nya dalam setiap detik hidup saya.
      Dengan dorongan rasa kerinduan yang amat sangat itu…saya seringkali menggambarkan wajah Yesus, mencoba menggambarkan apa yang ada di dalam hati saya.

      Semakin besar kerinduan itu, semakin megahlah karya yang saya bikin ( dalam hal ini gambar Yesus ).
      pertanyaan saya,
      ” SEUMPAMA ADA SEORANG RAJA YANG MEMPUNYAI WILAYAH YANG SANGAT LUAS, SAMPAI SAMPAI DIA TIDAK SEMPAT MENUNJUKKAN MUKANYA DI DEPAN SELURUH RAKYATNYA, TAPI SUATU KETIKA RAJA ITU MELAKUKAN KUNJUNGAN KE SUATU DAERAH TERPENCIL DARI DAERAH KEKUASAANNYA ITU, DAN DI SITU TERLIHAT SETIAP GAPURA DIHIASI DENGAN PATUNG BERGAMBARKAN WAJAHNYA, SETIAP PERSIMPANGAN JALAN DITANDAKAN DENGAN PATUNGNYA YANG DIBUAT DENGAN INDAH DAN SEPENUH HATI OLEH PENDUDUK SEKITAR, KIRANYA…APA YANG DI RASAKAN RAJA TERSEBUT? ”

      yah…mungkin perumpamaan saya kurang sempurna, tapi saya belajar dari teladan kita Yesus Kristus, saya seorang seniman gambar, apakah salah jika saya menggambarkan yang saya cintai dgn segenap hati dan hidup saya? Mungkin begitu juga yang dirasakan seniman pematung, BAHKAN ORANG2 YANG BUKAN SENIMAN…..
      itu hanya expresi…expresi yang dihargai, dan dijadikan sebagai hiasan dalam rumahnya yang kecil ini,
      dan saya yakin…KETIKA PATUNG PATUNG TERSEBUT JATUH DAN PECAH DIKARENAKAN UNSUR KETIDAKSENGAJAAN (BUKAN UNSUR YANG NEGATIF) MAKA KAMI UMATNYA TIDAK MERASA SEDIKITPUN KEHILANGAN TUHANNYA, MELAINKAN KAMI KEHILANGAN KARYA SEORANG HAMBA.

      terimakasih…. sekian yang ingin saya sumbang, maaf jika ada kata2 yang kurang berkenan di hati saudara.

      salam damai Kristus

      [dari katolisitas: teruslah menyumbangkan talenta anda yang diberikan oleh Tuhan untuk semakin memuliakan nama Tuhan.]

    • saudara Arif Setiabudi yang saya kasihi

      menanggapi teman anda yang berdoa “Maria, tolong saya”, sebenarnya hal tersebut dapat dimengerti dengan beberapa prinsip:
      1. Gereja Katolik mengajarkan bahwa kendati mendapat tempat istimewa dalam karya penyelamatan dan dalam Kerajaan Surga serta Gereja, Maria tetaplah ciptaan
      2. setiap anggota Gereja Katolik harus dan sudah tau akan hal ini
      3. doa teman anda tidak bearti bahwa ia tidak menggantungkan harapannya pada Tuhan Yesus. saya yakin teman anda tau dengan persis bahwa yang menyelamatkan hanya Tuhan Yesus.
      4. pertanyaan paling penting “apakah devosi kepada Maria mengurangi penyembahan pada Yesus? Apakah Tuhan Yesus merasa marah atau malah senang bila anggota Gereja Nya melakukan devosi pada bundaNya? Apakah Maria mencuri kemuliaan Tuhan? Apakah Maria menyimpan doa untuk dirinya sendiri? Bagaimana devosi yang benar kepada Maria?”. saya menemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dibahas dengan rinci oleh St. Louis of Monfort dalam buku True Devotion to Mary. buku tsb dapat diunduh di berbagai website lewat google dalam format pdf . kalau bisa, izinkan saya merekomendasikan buku ini kepada anda. tetapi ada baiknya bila anda berkonsultasi dahulu dengan pembimbing rohani anda. bila dimengerti dengan baik dan dilaksanakan dengan benar, devosi yang benar kepada Maria akan mengantar kepada penyembahan yang lebih dalam terhadap Tuhan Yesus. sudah banyak saksi akan hal ini terutama para Kudus. bahkan saya dapat mengatakan dengan berani bahwa setiap penyangkalan terhadap gelar Maria akan berujung pada keraguan akan KeTuhanan Yesus Kristus.

      mohon koreksi dari pak Stef dan bu Inggrid, bila ada yang tidak sesuai dengan iman Katolik
      terima kasih

  7. wow.. melalui pemikiran saudara Kevin saya jadi mengerti mengapa umat Protestan sampai sekarang terpecah2 dan saling mengklaim denominasinyalah yang mempunyai anugerah Roh kudus untuk menafsirkan Alkitab, karena sdr kevin bilang..free will dll, menafsirkan sesuai ‘Roh Kudus’ yang dianggap mereka miliki dan benar menurut hati nurani mereka, yang benar mereka terima yang salah tidak diterima.. dari mana taunya penafsiran itu salah? dari mana taunya penafsiran itu benar? dari hati anda sendiri? dari roh kudus anda? sudah nampakkah buah Roh Kudus yang menurut hati nurani sang penafsir kedalam kehidupan sehari2? kalau belum nampak buah roh..hati2 lho pak kevin, orang yang pandai berfilsafat juga pandai berargumen sesuai hati nuraninya dsendiri lho karena meyakini kebenaran hati mereka sendiri tanpa mau rendah hati membuka diri dan mendengarkan orang lain dan tunduk kepada peraturan yang baik… apakah argumen anda karena pandai berfilsafat dengan melihat fakta sejarah yang sesungguhnya atau cuma pandai berfilsafat menurut hati nurani anda sendiri atau memang Roh Kudus yang pastinya sudah menampakkan buah2nya bila benar itu Roh Kudus????

    Kalau saya, dengan rendah hati saya mau menerima pengajaran bapa gereja terdahulu yang melihat karya nyata Yesus maupun yang ditumpangi tangan diberkati para 12 rasul untuk meneruskan ajarannya karena saya berhati-hati nurani saya bersuara bahwa ia adalah roh kudus… Supaya saya tidak berpendapat semau saya dan akhirya memisahkan diri seperti fakta sejarah ribuan denominasi yang saling mengklaim denominasinya yang paling benar.. ngomong2 itu roh pemersatu atau roh pemecah bung kevin???

    • Wah, saya merasa senang sekali bisa ada artikel berkaitan tentang pemujaan patung ini.
      Saya adalah mantan seorang protestan dan dulu saya juga pernah mempertanyakan hal ini. Banyak orang-orang protestan yang mempertanyakan mengapa di gereja umat Katolik banyak patung, banyak terdapat ornamen2. Bahkan salah satu tante saya yang mantan katolik pun sekarang menolak hal tersebut.

      Sejak saya memutuskan untuk masuk Katolik, banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya, mengapa kita harus berdoa pada Bunda Maria, mengapa kita tidak hanya diselamatkan dengan iman, mengapa harus ada tradisi dalam Gereja? pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dan dipikirkan dengan kritis. Saya belajar banyak dari berbagai buku-buku Katolik yang saya baca. Salah satu buku yang paling saya sukai adalah buku Rome Sweet Home, Karangan Scott Hann, mantan pendeta Presbyterian, orang paling anti Katolik, yang justru malah menjadi Katolik dan masih melayani Gereja hingga sekarang. ORANG PALING ANTI KATOLIK BAHKAN BERUBAH MENJADI KATOLIK!

      Scott Hann bukanlah mantan seorang pendeta biasa, namun ia merupakan lulusan teologi ternama (untuk biografi dsb bisa dicari di berbagai sumber). Bahkan rekan-rekan Scott lainnya juga berpindah, dari seorang Anti-Katolik menjadi seorang Katolik yang taat. Berkaitan dengan pemujaan patung, Scott Hann menyatakan bahwa patung itu dapat diibaratkan dengan foto, kita tidak menggunakannya untuk menyembah, namun hanya mengenang orang tersebut. Dalam hal ini, patung digunakan dalam Gereja Katolik untuk membantu kita fokus berdoa pada Tuhan, BUKAN MENYEMBAH PATUNG TERSEBUT.

      Selain itu, menurut saya pribadi, patung dapat digunakan oleh anak-anak sebagai sarana untuk berdoa. Menurut ilmu psikologi yang saya pelajari, anak-anak masih berada dalam concrete operational stage, di mana ANAK-ANAK MEMBUTUHKAN SESUATU YANG ‘KONKRET’ UNTUK DAPAT MEMAHAMI. Konsep Ketuhanan, Allah yang tidak kelihatan namun harus dipercaya, merupakan hal yang sulit untuk dipahami oleh anak. Anak-anak hanya mampu memahami bila melihat sesuatu yang konkret. Oleh karena itulah kebanyakan buku anak-anak bergambar dan orang dewasa hanya textbook tanpa gambar. Adanya patung dalam Gereja dapat membantu anak-anak untuk berdoa lebih fokus dan membantunya untuk memahami keberadaan dan ke-’konkret’an Tuhan..

      Sekian yang bisa saya sampaikan. Saya masih perlu belajar banyak mengenai ajaran dan hukum Katolik, maka saya minta maaf bila terjadi kekeliruan dalam pendapat saya.

      Terima Kasih, damai Kristus beserta kalian semua.. =)

      • maaf, menyambung pernyataan saya yang sebelumnya, saya ingin mengajukan pertanyaan berkaitan dengan penggunaan patung

        pada misa Natal kemarin, saya bersama kakak dan ibu saya menghadiri misa di gereja. Kakak dan Ibu saya merupakan seorang protestan, di mana kakak saya sudah dibaptis dan cukup mengetahui ajaran-ajaran protestan dengan baik, sementara ibu saya baru saja belajar agama. Ketika ada perarakan bayi natal Yesus, kakak saya melihat Pastor mendupai patung keluarga kudus yang ada di kandang ternak. Kakak saya langsung berkata pada saya,” Dhita, inilah yang membuat umat Katolik dianggap menyembah patung.”

        Kakak saya paham betul bahwa umat Katolik tidak menyembah patung, namun bagaimana dengan umat-umat kristen non katolik yang lain? Saya sendiri sedang belajar dan tidak tahu alasan mengapa patung tersebut didupai..

        Apa alasan pendupaan patung tersebut? Pertanyaan ini bertujuan untuk menanggapi pernyataan kakak saya yang sudah ditulis sebelumnya. Terima Kasih dan Tuhan memberkati Tim Katolisitas =)

        • Shalom Dhita,

          Hal makna pendupaan/ penggunaan ukupan dalam ibadah, sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

          Agaknya di sini perlu dipahami bahwa hal ukupan dan patung keduanya merupakan lambang yang memaknai sesuatu. Jadi penghormatannya bukan kepada patungnya sendiri, tetapi kepada pribadi- pribadi yang dilambangkannya. Sebagai informasi anda saja, bahwa gereja Lutheran sendiri ada yang juga menggunakan ukupan/ pendupaan di hadapan patung salib (yang ada patung Yesus-nya), sehingga sebenarnya prinsip yang diterapkan di sini, sama dengan prinsip yang diterapkan di Gereja Katolik.

          Silakan anda melihat video-clip di link ini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Shalom Ingrid Listiati,

    Artikel ini sangat menarik perhatian saya karena selain yang anda sebutkan tadi, banyak sekali yang menjadi perbedaan yang mengakibatkan polemik tersendiri antara Kristen dengan katolik. Misalnya banyak yang sangat mempertentangkan adanya doa Salam Maria. Padahal Doa Salam Maria sendiri itu awalnya dari Salam yang diberikan oleh Elizabeth kepada Maria. Juga ada lagi mengenai kenapa kok kita yang katolik kalau berdoa memakai kata Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Ini dikarenakan saya juga pernah mengalami apa yang anda alami. Maksudnya saya juga pernah ke gereja kristen untuk melihat gimana cara mereka beribadah. ini sedikit sharing. Ketika itu saya duajak oleh teman saya yang beragama kristen untuk ikut kebaktian. Kebetulan sekali temanya ialah BERTOBAT LAHIR BARU. disitu pendetanya juga sempat menyinggung katanya ” Ngapain orang katolik kalau berdoa pakai atas nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus?” dalam hati saya ini sangat menghina walau pendeta tadi bilang tidak bermaksud menghina karena ada saya. Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan permenungan kita. Berkat Tuhan Beserta kita.

    • Shalom Adhiatmaka,
      Ya, sering kita mendengar kesalahpahaman dari saudara/i kita yang Kristen non- Katolik. Kita tidak perlu marah, sebab mungkin mereka berkata demikian, karena memang mereka diajarkan demikian. Jika ada kesempatannya, silakan anda mengutarakan ajaran Gereja Katolik, sehingga mereka dapat mengetahuinya juga.
      Perihal makna tanda salib, sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik. Kita membuat tanda salib karena kita percaya dan menghormati Allah Tritunggal Maha Kudus: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menghormati Allah sendiri; dan meresapkan makna Pembaptisan kita, sebab hanya oleh kasih karunia Allah yang telah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus oleh kuasa Roh Kudus, kita dapat diselamatkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Shalom semuanya,

    Wah…menarik sekali diskusi ini. Puji Tuhan, karena saya justru melihat semua ini baik & positif.

    Kita semua bersaudara, bukan? Jadi kalau ada beda-beda pendapat sedikit itu wajar kan.

    Yang terpenting adalah, bahwa kita semua adalah SATU di dalam Tubuh Mistik Kristus.

    Spt sdh ditulis juga di Katekismus Gereja Katolik artikel 791 ‘Kesatuan Tubuh tidak menghapus perbedaan antara anggota-anggota: “Dalam pembentukan Tubuh Kristus berlaku perbedaan anggota dan tugas. Satu Roh yang membagi-bagikan anugerah-Nya yang bermacam ragam, sesuai kekayaan-Nya dan sejalan dengan kebutuhan pelayanan, demi kepentingan Gereja”.
    Kesatuan Tubuh Mistik menyebabkan dan mengembangkan di antara kaum beriman cinta satu sama lain: “Maka, bila ada satu anggota yang menderita, semua anggota ikut menderita; atau bila satu anggota dihormati, semua anggota ikut bergembira” (LG 7). Kesatuan Tubuh Mistik mengatasi segala pemisahan antar manusia: “Karena kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:27-28).’

    Jadi janganlah kita mau dipecah-pecah terus.. Malahan, semua kita haruslah saling lebih MENGASIHI & BERBUAH yang baik dalam keseharian kita & terus minta rahmat-Nya untuk diberikan pengetahuan yang benar.

    Spt ketika Rasul Paulus berdoa untuk umat di Filipi, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.” (Flp 1:9-11).”

    Dan untuk umat di Kolose, “supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, sehingga hidupmu layak dihadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” (Kol 1:9-10).”

    Masalah ‘kebenaran-kebenaran’ itu ya masing-masing carilah dengan cara & pengalamannya sendiri-sendiri seiring pertumbuhan iman & pengetahuannya. Jadi ya ndak usah ‘dipaksakan’.

    Diskusi2 seperti ini (yang difasilitasi dengan bijak & baik oleh tim Katolisitas atau yang lain2), tentunya akan juga sangat membantu.

    Damai Kristus bersama kita semua. Amin.

    Peace and All Good
    Thomas

    • Shalom Thomas Rizal,

      Memang sudah seharusnya, bahwa kita semua sebagai murid- murid Kristus bersatu, sebab itulah yang menjadi kehendak Kristus sendiri. Dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, Yesus berkata, “…. Dan bukan untuk mereka [para rasul] ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang- orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21).

      Nah, kita mengetahui bahwa Yesus telah mempercayakan kepemimpinan para murid dan semua orang yang percaya kepada-Nya ini kepada Rasul Petrus, yang atasnya Yesus mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18). Maka jika Gereja Katolik mengajak semua murid Kristus untuk bergabung di dalamnya sebagai Satu Tubuh, itu adalah demi terpenuhinya keinginan Tuhan Yesus sendiri. Yesus menginginkan persatuan Tubuh-Nya dalam kesatuan dengan Dia sebagai Kepala, yang telah memberikan kuasa kepemimpinan kepada Rasul Petrus dan para penerusnya. Bahwa kenyataannya, ada banyak orang yang tidak sepaham dengan ajaran ini, itu adalah suatu realita; dan inilah yang menyebabkan ada banyaknya denominasi gereja dengan doktrin yang berbeda- beda. Ada banyak orang mengira, perbedaan doktrin ini tidak apa-apa, atau bahkan menyebutkan bahwa semua sama- sama benar. Namun akal sehat dan kejujuran sendiri menunjukkan bahwa tidak mungkin dua hal yang bertentangan sama- sama benar. Oleh karena itu, berdasarkan arti sesungguhnya, seharusnya kebenaran itu tidak pernah bersifat relatif; atau orang tidak bergitu saja berhak menentukan sendiri kebenaran menurut pandangannya.

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa kebenaran itu sifatnya obyektif. Kebenaran yang obyektif ini mempunyai nama, yaitu Yesus Kristus. Yesus adalah Kebenaran yang diwahyukan oleh Allah sendiri. Demikian pula Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus, haruslah merupakan sesuatu yang “diberikan”/ “didirikan” oleh Allah sendiri, dan bukannya didirikan oleh manusia, lalu dikatakan kemudian sebagai dikepalai oleh Kristus. Yesus hanya membentuk satu Gereja, dan Gereja ini adalah yang dibangun di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Gereja ini masih berlangsung sampai sekarang di dalam Gereja Katolik. Maka Gereja selalu mempunyai dua dimensi, yaitu baik yang bersifat rohani dan tidak kelihatan (sebagai Tubuh Mistik Kristus) maupun juga sebagai sesuatu yang kelihatan secara struktural (yaitu berada dalam kepemimpinan Rasul Petrus dan para penerusnya).

      Maka sebagai umat Katolik kita memegang pengertian Gereja sesuai dengan yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Konsep Gereja inilah yang diterapkan sejak masa jemaat awal; yang dapat kita ketahui dari tulisan para Bapa Gereja. Bagi mereka, Gereja adalah persatuan para umat beriman dalam kesatuan dengan para uskup mereka; dan dalam kesatuan dengan Paus yang pada waktu itu disebut sebagai uskup Roma. Hal inilah yang sampai saat ini dilestarikan di dalam Gereja Katolik. Pengertian ekklesiologi (tentang Gereja) seperti ini adalah salah satu unsur Kebenaran yang tak terpisahkan dari Kebenaran tentang Kristus, yang diwahyukan oleh Allah sendiri. Perihal ada banyak orang Kristen yang tidak mempunyai pandangan yang sama tentang Gereja, tidak menjadikan alasan bagi kita untuk meng- korting makna kebenaran sebagai sesuatu yang relatif dan dapat dicari sesuai dengan cara dan pengalaman masing- masing. Kebenaran itu adalah sesuatu yang obyektif. Namun kita sebagai orang Katolik tidak dapat memaksakan ajaran Gereja Katolik kepada siapapun. Yang dapat kita lakukan adalah kita menyampaikan ajaran kebenaran tersebut; dan kita persilakan orang -orang yang menerimanya untuk merenungkannya. Kita beryukur jika ajaran tersebut dapat diterima, namun jika tidak, kita tidak perlu marah ataupun kecewa. Tuhan Yesus tidak pernah memaksa, maka kitapun tidak dapat memaksa. Sebab para pengikut Kristus yang bukan Katolik, sesungguhnya tetaplah adalah saudara/i kita dalam Kristus dan kita tetap memiliki persekutuan dengan mereka, walaupun persekutuan ini tidak sempurna

      Jika anda tertarik untuk mengetahui ajaran Gereja Katolik tentang prinsip eklesiologi (pengertian tentang Gereja) silakan anda membaca Communionis Notio, silakan klik di sini

      Demikian tanggpan saya, semoga dapat juga menjadi masukan bagi anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Dear Ingrid,

        Terimakasih masukannya.

        Intinya saya ingin mengatakan “Masalah ‘kebenaran-kebenaran’ itu ya masing-masing carilah dengan cara & pengalamannya sendiri-sendiri seiring pertumbuhan iman & pengetahuannya. Jadi ya ndak usah ‘dipaksakan’.

        Saya langsung bagi menjadi 2 topik saja komen & reply anda supaya tidak kemana-mana.

        1. Mengenai Gereja Katolik & Kebenaran-nya, walau sayapun juga dalam ‘continuous learning mode until my last days on this earth’, saya 100% meng-amini & meng-imani. Insyaallah. Maka, mohon perhatikan cara penulisan saya, ‘kebenaran-kebenaran’ dan bukan ‘Kebenaran’. Saya harap itu menjawab.

        2. Hal kedua “masing-masing carilah dengan cara & pengalamannya sendiri-sendiri seiring pertumbuhan iman & pengetahuannya”.
        Sebenarnya itu lebih merupakan refleksi perjalanan iman saya pribadi. Mohon diizinkan utk sharing sedikit disini. Singkatnya, saya lahir, disekolahkan, dididik & dibesarkan secara Katolik. Cinta dgn tata cara liturgi maka pernah pula aktif sbg putra altar, koor dll.
        Tapi pada masa tertentu saya mengalami kekosongan dalam hidup saya. Kering rohani yang tidak terpuaskan dengan segala kekayaan yang di Gereja Katolik. Semua hanya ritual. Hambar. Membosankan. Tidak ada lagi pertumbuhan iman.
        Lantas saya mulai menjauh dari Tuhan & semakin menjauh. Memberontak dengan tidak mau lagi menghidupi Iman Katolik saya. Predikat Katolik KTP. Katolik NaPas, itulah saya. Berkelana dari gereja ke gereja yang non-Katolik pun saya ikuti. Buku-buku spiritualisme non-Kristen pun saya pelajari. Semua karena saya haus mencari ‘Kebenaran’ itu sendiri yang saya pikir kok tidak harusnya hanya ada di dalam Gereja Katolik, tetapi harusnya juga ada dalam berbagai agama & kepercayaan. Logika saya waktu itu adalah harusnya semua ‘kebenaran-kebenaran’ itu ada disetiap agama & kepercayaan. Makanya semua agama adalah ‘BENAR’.
        Tapi Yesus tidak pernah menjauh dari saya. Lewat berbagai macam cara yg agak aneh, akhirnya saya mengikuti suatu retret untuk kaum pria yang diadakan oleh sebuah gereja Kristen Protestan aliran karismatik. Walau awalnya saya merasa dipaksa, disana singkatnya, saya ditegur dan berdamai dengan Yesus secara pribadi.
        Dan yang saya ingin sampaikan disini, walaupun pertobatan saya terjadi di gereja non-Katolik, toh ternyata itu malah yang menarik saya demikian kuatnya untuk kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Kalau ingat-ingat, saya ini seperti orang yang menemukan cinta lamanya. CLBK, kata anak2 sekarang.

        Jadi, itulah yang saya maksud dengan “biarlah masing-masing mencari dengan cara & pengalamannya sendiri2″ karena toh ini semua kan rahmat Tuhan Yesus semata. Yang penting jangan pernah haus untuk terus bertanya, membuka hati & juga rendah hati supaya kita boleh terus belajar & bertumbuh iman & pengetahuannya.

        Pace e Bene
        Thomas

        • Shalom Thomas,

          1. Syukurlah jika anda sudah mengamini dan mengimani Gereja Katolik dan Kebenaran yang diajarkannya. Sebenarnya alasan saya menanggapi tulisan anda itu adalah karena dari pernyataan itu dapat menimbulkan kecenderungan seolah anda menyatakan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, karena anda mengatakan, "Masalah ‘kebenaran-kebenaran’ itu ya masing-masing". Saya hanya ingin memberitahu anda bahwa Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kebenaran itu sifatnya relatif yang bisa ditentukan oleh masing- masing orang menurut pengertiannya sendiri. Deklarasi Dominus Iesus dengan jelas mengajarkan hal ini, silakan klik, dan penjelasan/ ringkasannya di sini, silakan klik. Namun demikian, Gereja Katolik mengakui adanya hal yang baik dan benar yang diajarkan oleh agama- agama lain, dan hal ini merupakan persiapan bagi nilai- nilai Injil.

          "Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil[34], dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. (lihat Lumen Gentium 16)

          Atas dasar ini kita dapat mengatakan bahwa agama- agama lainpun mengajarkan hal- hal yang baik dan benar. Namun kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik, sehingga setiap umat Katolik mempunyai kewajiban untuk mewartakan kepenuhan kebenaran ini. Perihal orang yang mendengarkannya mau menanggapinya atau tidak, itu bukan lagi menjadi tanggung jawab kita, dan memang benar, kita tidak dapat memaksakannya. Tetapi hal adanya perbedaan bukan menjadi alasan untuk mengatakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh masing- masing orang. Ini bertentangan dengan hakekat kebenaran itu sendiri.

          Atau terhadap saudara- saudari kita yang Kristen non- Katolik:

          "Oleh karena itu Gereja-Gereja[19]]dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik. Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan…. (Unitatis Redintegratio 3)

          Mohon dipahami, ini bukan pendapat saya, tetapi ini adalah ajaran Gereja Katolik.

          2. Hal kedua “masing-masing carilah dengan cara & pengalamannya sendiri-sendiri seiring pertumbuhan iman & pengetahuannya”. Saya tidak berkeberatan dengan pernyataan ini, jika maksudnya adalah untuk mencari hal yang baik dan benar. Kenyataannya memang kita semua mencari kebenaran melalui pengalaman hidup kita. Namun yang menjadi masalah bagi kita umat Katolik adalah, jika kita menomorsatukan pengalaman/ pengertian pribadi di atas apa yang telah diwahyukan oleh Allah lewat Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang telah diajarkan oleh Magisterium. Dari kesaksian anda saya melihat betapa anda kembali kepada "cinta lama" anda yaitu iman Katolik anda. Ini sebenarnya sesuai dengan maksud komentar saya. Sebab kalau anda menomorsatukan perasaan dan pengalaman anda, bisa saja anda sudah meninggalkan iman Katolik anda, karena telah mengalami pertobatan di gereja non- Katolik. Padahal kenyataannya malah anda sendiri membuktikan bahwa pengalaman pribadi bukan yang terpenting, melainkan kepenuhan kebenaran itulah yang anda utamakan. Ini kan sangat berbeda dengan orang yang menomorsatukan pengalaman pribadi (mungkin yang juga mengalami serupa dengan pengalaman anda) tetapi akhirnya memilih untuk meninggalkan iman Katolik. Kalau anda mengatakan "masing-masing carilah dengan cara & pengalamannya sendiri-sendiri seiring pertumbuhan iman & pengetahuannya," maka pernyataan anda inipun dapat seolah membenarkan sikap orang itu. Walaupun kita tidak dapat menghakimi orang tersebut, namun sikapnya itu secara obyektif tidak dapat kita benarkan; sebab ia menempatkan pengalaman pribadi di atas pencarian kebenaran yang seutuhnya. Saya hanya memberi masukan kepada anda, justru karena melihat dari komentar- komentar anda selama ini, saya merasa andapun terpanggil untuk mewartakan kebenaran iman Katolik. Maka saya memberikan masukan supaya pada saat anda mewartakannya, anda tidak mengeluarkan pernyataan- pernyataan yang dapat malah mengaburkan pesan yang hendak anda sampaikan, padahal sebenarnya maksud anda tidak demikian. Dan saya sungguh percaya dengan maksud baik anda.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Dear Ingrid,

            Terimakasih sekali lagi untuk masukanya. Mohon doa-nya agar saya boleh terus bertumbuh dalam iman & pengetahuan yang benar mengenai Kristus Yesus Tuhan kita & Gereja-Nya.

            Salam kasih saya untuk anda & Stef serta semua tim pengasuh Katolisitas.

            Pace e Bene
            Thomas

  10. @ Johanes

    Johanes menulis:
    Anda mempercayakan iman dan keselamatan Anda kepada ajaran iman yang baru dipelajari oleh seorang mantan muslim abal abal yang baru belajar Kekristenan (pendeta gembala sidang anda) kurang lebih 17 tahun yg lalu dan terputus dari sejarah dan pengajaran akar kekristenan dari para rasul dan jemaat perdana. Intinya: apakah Anda merasa diselamatkan oleh ajaran iman yang baru diajarkan oleh Tiberias 17 thn yg lalu…yang artinya Anda sekaligus menyetujui Tuhan Yesus membohongi jemaatNya selama hampir 2000 tahun!!!! dan sekaligus membuktikan Yesus adalah seorang pendusta karna Dia pernah bilang sebelum kenaikanNya ke Surga untuk mengajarkan segala bangsa dan menjadikan mereka sebagai murid dan Ia akan menyertai GerejaNya sampai akhir jaman.

    Kevin menanggapi:
    Saya juga mau menggunakan cara orang Katolik menyerang di situs ini….
    Apakah di Katolik anda diajarkan untuk menghina Pendeta yang diurapi Tuhan seperti Pdt Drs Yesaya Pariadji dng menyebutnya “seorang mantan muslim abal-abal”? Ha..ha…ha… Bila anda belum tahu doktrin Tiberias dan siapa Pdt Drs Yesaya Pariadji, jangan asal buka mulut dan bicara ngawur, karena saya bisa menyebut anda gila dan tukang fitnah. Johanes, jangan sok tahu ketika anda belum tahu, dan jangan sembarangan menilai ketika anda belum punya cukup bekal untuk berdebat.
    Anda berkata bahwa bila orang mempercayai Pendeta yang baru 17 tahun bertobat berarti menyetujui Tuhan Yesus membohongi jemaatnya selama 2000 tahun, hahaha….. sungguh suatu pemikiran yang sangat tolol yang pernah saya dengar dari seorang Katolik. Lalu apa anda tidak sadar bahwa anda juga mempercayai ajaran konyol para bapa gereja yang umurnya kurang dari 2000 tahun itu juga merupakan penghujatan kepada Kristus karena tidak solascriptura?
    Tahu apa anda soal persatuan tubuh Kristus? Baru setetes doktrin Katolik seperti itu anda sudah bangga dengan faham Gereja yang dipelihara sampai akhir….
    Orang pandai tidak akan menganggap tubuh itu mata semua, atau tangan semua. Orang pandai akan bisa melihat bahwa yang namanya tubuh itu ada banyak anggota, banyak fungsi, banyak perbedaan, tapi dikontrol oleh satu kepala yaitu Kristus.
    Yang begini saja anda tidak ngerti, beraninya anda menghakimi doktrin gereja kami….
    Kalo anda belum puas dng perdebatan ini, silakan anda ajak pakar2 dari Katolik dan kita adakan seminar debat terbuka, dan saya akan ladeni kalian sampai kuda gigit jari….

    Johanes, kalo anda merasa pandai dan faham doktrin katolik dan saya menganggap anda paling tolol, mari kita buktikan siapa yang benar…..

    • Shalom Kevin dan Johanes,

      Terima kasih atas komentar anda berdua. Saya akan menutup komentar yang mendiskusikan kasus-kasus, seperti kasus pendeta Yesaya Pariadji, dll. Oleh karena tanggapan tentang hal ini, dengan sangat menyesal tidak dapat saya masukkan ke dalam site ini. Mohon dapat dimengerti. Mari, kita belajar untuk berdiskusi dengan tidak menyerang pribadi, namun berfokus pada diskusi tentang dogma dan doktrin. Dan untuk Kevin, saya pikir perkataan seperti “tolol” tidak perlu dituliskan, karena itu justru merugikan anda sendiri. Untuk Yohanes, komentar anda tentang pendeta Pariadji saya hapus. Mohon hal ini dapat dimengerti kedua belah pihak. Mari, kita kembali berdiskusi tentang dogma dan doktrin dan tidak pada kasus-kasus.

      Beberapa topik diskusi yang Kevin kemukakan, sebenarnya telah didiskuskan secara panjang lebar: untuk sola scriptura dapat dibaca di sini (silakan klik) dan untuk perpecahan gereja dapat dibaca di sini (silakan klik). Tentang apa gunanya tulisan para Bapa Gereja, silakan membacanya di sini (silakan klik). Silakan membaca tiga link tersebut dan anda dapat memberikan tanggapan lebih lanjut di link-link tersebut. Dan, mari kita menyampaikan iman yang kita percayai dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1 Pet 3:15).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • kepada saudara Kevin….

      kalau ajaran Bapa Gereja (maaf) konyol kenapa anda masih memakai Alkitab yang sudah dikanonkan (disahkan) oleh Bapa Gereja sendiri pada konsili Hippo??
      kan bisa saja Alkitab itu ajarannya konyolkan??
      kan Bapa Gereja yang mensahkan bahwa Alkitab merupakan Injil yang berasal dari wahyu Allah mengajarkan ajaran2 yang konyol, ngapain pakai hasil produk dari ajaran2 yang konyol yaitu Alkitab sebagai dasar iman??
      kalau konyol y tidak usah saudara Kevin memakai hasil dari ajaran Bapa Gereja yaitu Alkitab…
      ngapain juga pakai Alkitab yang mensahkan Alkitab orang2 yang mengajarkan ajaran2 konyol…

      kalau mengenai Sola Scriptura apakah dalam Alkitab yang merupakan hasil dari ajaran konyol dan penghujatan kepada Kristus menyebutkan bahwa “Hanya Alkitab Saja”??

      silahkan renungkan dan tanggapi…

      Pax Christi

      • @ Sdr Christopher

        Silakan simak baik-baik tulisan saya ini….
        Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 penulis yang berbeda latar belakang dan berbeda jaman. Dari sejak ditulisnya kitab-kitab Musa (pentateuch) hingga kitab Maleakhi (kitab terakhir di Perjanjian Lama) saja sudah memakan waktu lebih dari seribu tahun. Kitab-kitab yang tertulis dalam perkamen yang tersebar dimana-mana tersebut akhirnya mulai dikumpulkan. Dan pada jaman hidupnya Tuhan Yesus di tanah Israel, praktis kitab perjanjian lama sudah banyak terkumpul, karena kitab para nabi dan kitab Mazmur sudah sering dibaca oleh para Yahudi termasuk Tuhan Yesus sendiri ketika beribadah sabat si sinagoge. Ada masa tenggang sekitar 300 tahun setelah kitab Maleakhi dng lahirnya Yesus, dimana pada saat itu tidak terbit wahyu dari Allah, karenanya masa itu sering disebut abad kegelapan. Ketika Yesus mengajar selama 3,5 tahun, murid-muridnya tentu mencatat (kalo para theolog tidak setuju hal ini, maka saya katakan, para muridnya menghafal habis2an) segala peristiwa yang terjadi dan segala yang dikatakan Tuhan Yesus. Setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, maka murid2nya mulai menginjil kemana-mana, menyampaikan apa yang pernah mereka dapatkan dari Tuhan. Penginjilan tersebut dilakukan karena adanya Amanat Agung dari Tuhan Yesus di Matius 28:19-20, Markus 16:15. Apa yang disampaikan ketika mereka menginjil? Yang disampaikan secara singkat adalah: YESUS KRISTUS adalah TUHAN, percayalah kepadaNYA dan anda pasti selamat. Sementara pelayanan berlangsung puluhan tahun, tulisan para murid sudah banyak disalin, dari tulisan para murid langsung, sampai tulisan Paulus kepada jemaat di berbagai tempat. Pada saat proses kanonisasi Alkitab (PL & PB) selesai, maka lengkaplah sudah seluruh isi Alkitab yang berisi 66 kitab (39 PL dan 27 PB). Dengan penutup yang sangat jelas dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu 22:18-19, bahwa Alkitab sudah lengkap dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Dengan demikian Alkitab menjadi kanon tertutup, artinya semenjak saat itu, tidak ada wahyu baru, dan tidak perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk menjalankan atau menafsirkan Alkitab.

        Bila setelah proses kanon selesai orang masih membuat-buat tulisan baru, tafsir-tafsir baru, informasi-informasi baru dengan dalih “melengkapi Alkitab” maka saya katakan bahwa orang tersebut adalah orang terkutuk, seperti yang tertulis dalam Galatia 1:8-9, karena telah memberitakan injil yang lain. Ingat, konteks yang saya sampaikan ini dalam hal membuat tulisan “untuk melengkapi Alkitab”.

        Bila Alkitab adalah kanon terbuka, maka praktisnya semua orang tidak akan pernah tahu kapan selesainya, itu artinya setiap waktu bisa memungkinkan munculnya wahyu baru, dan saya katakan pada umat Katolik, bila kalian berpikir demikian, maka kalian perlu mempertimbangkan klaim islam yang mengaku sebagai wahyu terakhir / terkini / terlengkap. Kalo Katolik menganggap bahwa tulisan para bapa gereja (setelah era kanon) dianggap memiliki substansi yang setara dng Alkitab alias pelengkap Alkitab, kenapa tidak sekalian saja dijadikan Alkitab? Biar Alkitab Katolik tebalnya sebesar meja…

        Jadi saya jawab argumen Sdr Christopher, yang kami (protestan) permasalahkan dan saya sebut konyol itu adalah tulisan para bapa gereja setelah era kanonisasi…. artinya setelah Alkitab selesai tersusun. Oleh karenanya kami hanya percaya pada Alkitab saja sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Selain itu kami tidak bisa mempercayainya, karena yang diberi otoritas oleh Tuhan untuk menulis Alkitab adalah hanya orang yg telah ditentukan dari Musa hingga Yohanes. Penulis lain diluar ke-66 kitab dari Kejadian sd Wahyu adalah penulis “injil yang lain”… jadi tulisannya bukan wahyu Allah, tapi hasil rekayasa pikiran manusia alias hikmat manusia. Sekalipun yang ditulisnya tidak mengandung substansi yang bertentangan dengan Alkitab secara keseluruhan, tetap saja judulnya “injil yang lain” bukan dari Allah. Bila di sebuah negara memiliki UUD (Undang-Undang Dasar) lalu ada sekelompok orang dalam suatu komunitas propinsi membuat semacam Peraturan Daerah, sekalipun Perda tersebut tidak bertentangan dengan UUD, namun Perda tersebut tetap Perda, dan tidak akan pernah disebut UUD atau bagian dari UUD, dan tidak akan pernah dianggap setara dengan UUD. UUD buatan manusia yang lemah dan banyak kekurangan saja selalu akan dianggap cukup dan tidak pernah disetarakan dengan aturan lain apapun, apalagi Alkitab yang dibuat Tuhan secara sempurna?

        Dasar pemikiran Katolik yang senantiasa melibatkan intervensi manusia yang disebutkan memiliki andil dalam penulisan Alkitab menurut saya sudah terbalik porsinya. Dalam pemikiran protestan, Allah bisa menuliskan Firmannya tanpa turut campur tangan manusia, ini dibuktikan dengan dibuatnya 2 loh batu oleh tangan Allah sendiri yang diberikan kepada Musa sebelum dipecahkan. Namun akhirnya Allah memilih manusia untuk menuliskan Firmannya, itu demi meyakinkan manusia yang tidak mengalami kondisi seperti yang tertulis agar lebih mantap keyakinannya bahwa yang diimaninya / dibacanya tersebut bukanlah dongeng antah berantah, namun betul-betul ditulis sebut saja Raja Daud seorang raja besar Israel yang mengalami pengalaman rohani yang luarbiasa bersama Allah. Jadi peran manusia sebetulnya hanya 0% dalam penulisan Alkitab, sedangkan 100 % adalah peran Allah. Namun karena otak manusia yang berkalkulasi dng filsafat, akhirnya harus ditulis bahwa peran manusia 0,00000XX% dan peran Allah 99,999XX%, lebih parah lagi bila komposisinya dibalik. Bodohlah manusia bila menganggap bahwa Alkitab tidak mungkin dapat tercipta tanpa peran manusia (termasuk para bapa gereja). Namun di situs ini orang katolik sering menggunakan teori judi togel untuk membalikkan fakta… seperti misalnya, “..tapi buktinya / faktanya Alkitab ditulis oleh Bapa gereja”…. atau “faktanya Maria yg dipilih Allah dari sekian milyar manusia”…. itu yg saya sebut melihat fakta tanpa kondisi. Tuh kan yang keluar angka 66 bukan 36? Orang baru ngomong setelah angkanya keluar…. mereka lupa bahwa ada probability kondisi diluar itu, kalo tidak demikian tentu Tuhan tidak akan menulis pernyataannya seperti di Matius 3:9, Lukas 3:8, dengan sangat jelas dan keras Tuhan menyatakan bahwa Dia dapat menjadikan manusia (keturunan Abraham) dari batu-batu. Tuhan menunjukkan probability yang bisa terjadi bila suatu option tidak memenuhi kondisi seperti yang diharapkanNya.

        Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga anda dapat memahaminya….

        • Shalom Kevin dan Christopher,

          Sebenarnya, topik ini telah dibahas secara panjang lebar dalam diskusi wahyu Allah dan kebenaran di sini (silakan klik). Silakan untuk bergabung di diskusi di link tersebut. Secara prinsip, Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab, oleh karena itu Sola Scriptura tidaklah mendasar. Dan tidak ada satu ayatpun di Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitablah satu-satunya pilar kebenaran. Kalau memang benar Sola Scriptura benar, maka bagaimana menerangkan perpecahan 28,000 denominasi, yang masing-masing denominasi mengklaim ajarannya dari Alkitab? Tentang perpecahan gereja, silakan bergabung dalam diskusi ekklesiologi dan perpecahan gereja di sini (silakan klik).

          Gereja Katolik mempercayai bahwa wahyu Allah selesai dengan kematian rasul Yohanes yang menuliskan terakhir, kitab Wahyu. Namun, kalau anda ingin mengumpamakan sebuah negara, maka pilar kebenaran bukan hanya UUD, namun juga ada MA, ada Presiden. Dengan kata lain ada kekuasaan yudikatif, legislatif dan eksekutif. Sama seperti dalam pertandingan sepakbola, kita tidak dapat memberikan buku petunjuk bermain sepak bola, namun juga butuh wasit. Tanpa wasit, maka pertandingan akan kacau. Demikian juga, kebenaran tidak mungkin hanya dengan Alkitab saja, karena umat Allah dapat mempunyai penafsiran yang berbeda-beda.

          Jadi, kalau Gereja Katolik mengatakan, kita harus melihat Tradisi Suci, karena memang dituliskan bahwa kita harus percaya yang tertulis maupun yang lisan (lih. 2Tes 2:15). Dan Magisterium Gereja (lih. 1Tim 3:15) justru berperan untuk meneruskan warisan iman, baik yang tertulis dan lisan dari generasi ke generasi secara murni. Alkitab dapat saja tercipta dengan Tuhan menurunkan Kitab Suci dari langit. Namun, adalah menjadi kenyataan, bahwa Tuhan menggunakan para penulis Alkitab (manusia) untuk menyampaikan Wahyu Allah dengan inspirasi dari Roh Kudus dan menggunakan Gereja Katolik untuk menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Kitab Suci dengan perlindungan tak mungkin salah dari Roh Kudus. Jadi, inilah fakta yang tidak dapat dipungkiri. Saya menyarankan untuk berdiskusi lebih lanjut di dua link yang saya berikan di atas. Kevin dapat memberikan argumentasi baru di link-link tersebut. Semoga dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

        • @ sdr Kevin :
          anda berkata : “Jadi saya jawab argumen Sdr Christopher, yang kami (protestan) permasalahkan dan saya sebut konyol itu adalah tulisan para bapa gereja setelah era kanonisasi…. ”

          tanggapan saya: jadi sebelum era kanonisasi Alkitab yaitu pada sebelum konsili Hippo tulisan dan ajaran Bapa Gereja bagi anda tidak konyol dan setelah era kanonisasi adalah ajaran konyol??
          kok bisa gitu??
          anda mengambil kesimpulan darimana??
          apakah ajaran2 Bapa Gereja sebelum konsili Hippo (kanon Alkitab) bukan ajaran konyol dan setelah ajaran2 setelah konsili atau setelah era kanonisasi adalah ajaran konyol??
          apakah anda sudah membaca ajaran2 Bapa Gereja setelah dan sebelum kanonisasi Alkitab??
          apakah ada perbedaan ajaran sebelum dan setelah antara ajaran2 mereka sehingga anda menganggap ajaran Bapa Gereja setelah Kanon adalah ajaran konyol??
          wah2 tanggapan anda aneh sekali dan tidak mendasar…

          @dear Katolisitas : saya sangat salut dengan kerja keras tim katolisitas ini, dan saya hampir 80% sudah pernah membaca artikel2 maupun tanya jawab di site katolik ini termasuk link yang Bpk.Stefanus kasih (diskusi antara tim Katolisitas.org dan ibu Lisa)…
          procifiat buat tim katolisitas….

          Pax Christi

        • Shalom Kevin.
          Inilah kesaksian seorang pendeta dari gereja Presbytarian bernama DAVID MINIRTH dimana beliau dulunya sangat anti katholik.

          Selama di Calvary Chapel, saya memandang sangat rendah ajaran-ajaran katholik, saya sangat anti katholik. namun ketika saya melihat peran yang sebenarnya dari gereja perdana, penghargaan yang pantas mulai tumbuh. Saya mulai membaca tulisan tulisan para bapa gereja. Saya telah mempelajari sejarah beberapa gereja perdana, tapi sebagian besar terbatas dari buku-buku teks sejarah protestan.Saya terkejut melihat tulisan tulisan orang kristen abad pertama, kedua, ketiga pandangan yang sangat tinggi tentang Gereja dan Liturgi, yang sangat berbeda dengan pandangan orang Protestan Evangelis. penyembahan dan kepemimpinan gerja perdana sama sekali tidak sama dengan yang saya lihat di Calvary Chapel.atau diperkumpulan saya sendiri.Ini kelihatannya lebih Katholik.

          Mempelajari para Bapa Apostolik, para Bapa Gereja perdana, sangat mengganggu keyakinan-keyakinan Presbyterian saya. Namun, study study saya menunjukan bahwa gereja perdana dipimpin oleh para uskup. Sejarah Gereja perdana menunjukan bahwa para rasul telah menumpangkan tangan di atas pria pria dan menetapkan mereka sebagai uskup.Ketika saya menjadi pelayan Presbyterian , saya pikir pencarian saya akan gereja sudah selesai. Namun sekarang sejarah gereja memaksa saya untuk meneruskan pencarian.

          Sikap anti Katholik kami masih sangat tinggi, sehingga tidak memperhitungkan gereja Katholik sebagai pilihan . Untuk beberapa hal, pemahaman Katholik berbeda dengan pemahaman evangelis saya. Saya menganggap gereja Katholik memimpin jutaan orang kenereka karena ajarannya tentang keselamatan. Gereja Katholik menantang bahwa keselamatan oleh rahmat semata. Padahal Alkitab dengan jelas mengatakan keselamatan oleh rahmat, bukan oleh perbuatan. Saya melihat Gereja Katholik salah sama sekali karena saya pikir mengajarkan keselamatan oleh perbuatan. Belakangan , ketika posisi Katholik dijelaskan kepada saya, saya sangat terkejut betapa hal ini SERING DISALAH ARTIKAN OLEH ORANG ORANG PROTESTAN.

          PENOLAKAN KERAS UNTUK MEMPERTIMBANGKAN GEREJA kATHOLIK LENYAP PADA TAHUN 1986,KETIKA SUATU YANG TAK TERPIKIRKAN TERJADI. SAAT ITU SAYA MENDENGARKAN SCOTT HAHN DAN GERRY MATATICS, Dua tokoh yang sangat saya kenal cerdas dan paling bersemangat anti Katholik, sedang berpikir masuk katolik! Saya sangat terkejut Saya tidak dapat mempercayai itu! Saya berusaha mencari informasi itu. dan betapa kagetnya saya ternyata mereka hendak masuk katholik dan hampir menjadi katholik. Yang nenjadi pertanyaan saya adalah mengapa mereka yang dulunya anti Katholik ini benar benar pindah ke katholik? Saya tahu saya harus menghadapi secara jujur kemungkinan Katholik itu benar. saya muliai menyelidiki hal ini dengan membaca beberapa buku. BERKALI KALI GEREJA KATHOLIK MEMILIKI JAWABAN TERHADAP SEMUA KEBERATAN ALKITABIAH SAYA.Petunjuk- petunjukpun mulai jelas.

          Pada pertengahan tahun 1990 Caroline dan saya menghabiskan banyak waktu mempelajari gereja Katholik dan berdoa mohon bimbingan Allah. Kami dan keenam anak kami siap untuk masuk ke Gereja katholik. Tanggal 1 Juli, di Epiphany Cathedral, kami secara resmi diterima kedalam Gereja katholik oleh uskup John Nevins. Saya akhirnya menemukan Gereja yang didirikan kristus sendiri, setelah pencariab dua dekade. Meskipun komunitas Katholik menerima kami dengan suka cita, banyak teman dan keluarga kami dari Evangelis tidak memahami bahkan tidak senang dengan keputusan kami, TAPI KAMI TAHU KAMI SUDAH MENGAMBIL LANGKAH YANG BENAR.

          Bagaimana Bapak Kevin? semua dimulai dari mempelajari tulisan tulisan para BAPA GEREJA PERDANA. Tuhan memberkati.

          • @ Sdr Tuah Talino,

            Terimakasih atas kisah kesaksian perpindahan iman dari protestan ke katolik tersebut.
            Tanggapan saya sederhana: berarti David Minirth belum memahami doktrin protestan dengan baik.

            Shalom,

            • Shalom Kevin M,

              Terima kasih atas komentarnya. Saya mengundang anda untuk membaca “Rome Sweet Home” karangan Scott Hahn, seorang pendeta Presbyterian yang akhirnya berpindah menjadi Katolik. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Silakan membacanya, dan kemudian silakan memaparkan di bagian mana dari buku tersebut yang menyatakan bahwa dia tidak memahami doktrin Protestan dengan baik. Dan saya akan mencoba menanggapi keberatan anda semampu saya. Dengan demikian, kita dapat membuktikan apakah para pendeta yang perpindah ke Gereja Katolik adalah hanya merupakan alasan emosi semata, tidak mengetahui doktrin Protestan atau memang benar-benar mencari kebenaran dengan taruhan karir mereka, keuangan mereka yang meninggalkan posisi pendeta dan kemudian menjadi kaum awam di dalam Gereja Katolik. Semoga hal ini dapat diterima oleh Kevin.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • Shalom Sdr Stefanus,

                Pernyataan saya bahwa : “David Minirth belum memahami doktrin protestan dengan baik” itu adalah statement yang saya pinjam dari situs ini.

                Saya membaca beberapa kali di situs ini, ketika ada penganut Katolik yang pindah ke Protestan, komentar umat Katolik adalah : yang bersangkutan belum memahami doktrin Katolik dng baik, atau kalau diperhalus kalimatnya diganti menjadi kalimat tanya, “apakah yg bersangkutan sudah memahami ajaran Katolik dng benar?”.
                Statement tersebut mengandung unsur “kesombongan”, kekacauan penalaran dan subyektifitas yang sangat tinggi, seolah bila seseorang telah memahami doktrin Katolik dng benar, maka ybs tidak akan pernah dapat berpindah ke Protestan (atau agama lain). Padahal kita tahu bahwa sesempurna apapun sebuah doktrin, akhirnya semua kembali kepada mindset dan perspektif penganutnya. Murid-murid Tuhan Yesus langsung (yg 12 orang) yang setiap hari bersamaNya, mendengarkanNya, menerima ajaran yang sama dariNya, toh satu sama lain bisa bersilang pendapat, bahkan Yudas menghianatiNya. Itu bukti bahwa manusia berada dalam “kapasitas”nya sendiri secara subyektif sekalipun diajarkan ajaran yang sama / dibentuk dng cara yang sama. Sebagai contoh, anggaplah anda dan saya memiliki kapasitas yang sama dalam memahami suatu doktrin, namun toh anda akhirnya memilih Katolik dan saya memilih Protestan. Dan hal seperti ini bisa terjadi / dialami oleh jutaan manusia yang berada dalam tataran masing-masing dalam kapasitas yang sama.
                Dengan memahami hal ini, maka kita perlu berpikir 2 kali bila akan mengeluarkan statement seperti diatas.

                Mengenai buku Rome sweet home coba akan saya beli dan baca setelah waktu saya longgar. Namun sekali lagi saya sampaikan bahwa banyak hal yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan termasuk pindah agama, sekalipun kita membahas 1 topik saja soal David Minirth dalam tataran doktrin yang dipahaminya, tetap saja terdapat polemik area yang sangat luas, karena ketika saya mengatakan “meja” maka gambaran meja yang ada di benak anda, dengan gambaran meja yang ada di benak saya, bila mau digambarkan secara terperinci dalam dimensi matematis dan estetis, sudah pasti 99,99999999999% akan berbeda. Itulah kenapa ilmu filsafat terbentuk dan berkembang begitu luas dengan tetap menyandang predikatnya masing-masing tanpa pernah bisa dipertemukan / dipersatukan di setiap alirannya.
                Walau demikian, saya berterimakasih atas referensi anda tersebut.

                Saya tidak pernah menyatakan bahwa bila ada pendeta Protestan yg berpindah ke Katolik hanya didasarkan emosi semata (walau ini dapat saja terjadi). Bila memang David Minirth lebih memilih Katolik, tidak bisa disimpulkan bahwa keputusan dia benar. Sama dengan Irene Handono yang berpindah dari Katolik ke Islam, tidak bisa disimpulkan bahwa keputusan dia benar. Orang protestan akan mengatakan bahwa keputusan Minirt salah, tapi orang Katolik bilang bahwa keputusannya benar. Orang Islam akan mengatakan bahwa keputusan Irene Handono benar, tapi orang Katolik akan mengatakan yang sebaliknya. Inilah realitanya.

                Bila mengenai meninggalkan comfort zone, bukan hanya Minirth, Luther pun lakukan hal yg sama dengan menentang ajaran yang salah dari Katolik bahkan dengan resiko yang lebih besar.

                Demikian Sdr Stefanus, semoga kalimat-kalimat saya sekarang sudah makin rendah hati mengikuti gaya diskusi disini. Bila ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.

                • Shalom Kevin M,

                  Terima kasih atas komentarnya. Memang saya pernah mengatakan bahwa orang pindah dari Gereja Katolik ke gereja-gereja non-Katolik karena mereka tidak sepenuhnya memahami ajaran Gereja Katolik dengan baik. Dan hal ini telah saya coba paparkan dalam diskusi “mengapa berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain” di sini – silakan klik. Saya tidak mempermasalahkan pernyataan anda bahwa orang yang berpindah dari Protestan ke Gereja Katolik adalah karena mereka tidak tahu secara persis pengajaran Gereja Katolik. Namun, dari begitu banyak pendeta-pendeta yang pindah ke Gereja Katolik (anda dapat mendengarkan kesaksiannya di sini – silakan klik, dan sebagian tulisan di sini – silakan klik), dan kalau kita membaca atau mendengarkan kesaksian mereka, maka mereka mengorbankan begitu banyak hal demi kebenaran yang mereka temukan dalam Gereja Katolik.

                  Memang pada akhirnya yang mengetahui secara persis, apakah seseorang benar-benar menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi hanyalah orang tersebut dan Tuhan sendiri. Inilah sebabnya, kalau anda mau benar-benar berdiskusi tentang hal ini, saya menyarankan anda untuk membaca buku “Rome Sweet Home” dan anda dapat menyatakan pendapat anda, apakah Scott Hahn yang sebelumnya adalah pendeta Presbyterian kurang mengerti doktrin Protestan sehingga dia pindah ke Gereja Katolik. Silakan memberikan argumentasi di bagian mana dia kurang mengerti, dan saya akan menanggapi pernyataan anda. Tentang Irene Handono, kalau kita mendengar kesaksiannya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa dia banyak menerima informasi tentang doktrin Gereja Katolik yang kurang benar, sebagai contoh pembahasan tentang Trinitas (yang dijabarkan hanya sebagai segitiga), ke-Allahan Tuhan Yesus (yang di-Tuhankan tahun 325), dll.

                  Tentang perumpamaan anda tentang meja, yang disambung dengan pernyataan bahwa setiap orang mempunyai gambaran yang berbeda tentang meja, sebenarnya kurang tepat. Hal ini disebabkan karena setiap orang dapat menangkap esensi (universality) dari suatu benda. Gambaran detail (accidental) meja dapat berbeda-beda, namun universality dari suatu meja adalah sama. Manusia juga diberikan kemampuan untuk menangkap kebenaran yang obyektif, sehingga untuk mengatakan bahwa semuanya dapat menjadi benar adalah tidak benar. Dan inilah tugas dari masing-masing individu untuk terus mencari dan memperdalam kebenaran, sehingga pada waktunya kita menghadap Tuhan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita telah berusaha menempatkan kebenaran di atas segalanya, di atas kepentingan diri kita masing-masing. Tentang Martin Luther, sebenarnya dia didukung oleh penguasa sekuler, terbebas dari dogma dan doktrin Gereja Katolik, dll. Oleh karena itu, sebenarnya dia tidak meninggalkan comfort zone. Namun, pada akhirnya, hanya Tuhan saja yang tahu secara persis motif di balik tindakannya.

                  Dan pada akhirnya, kerendahan hati dalam berdiskusi tanpa mengaburkan kebenaran adalah bukan karena gaya diskusi di site ini, namun menurut saya pribadi adalah sesuatu yang harus kita lakukan kepada siapa saja, baik di site ini maupun di site agama lain, atau dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita sama-sama belajar untuk melakukannya dan ini berlaku untuk saya sendiri.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  stef – katolisitas.org

                  • saya sangat setuju dengan sdr Stef.

                    Dari orang orang yang saya tahu yang pindah dari Katolik ke Protestan kebanyakan mereka lebih kepada keberatan keberatan pribadi mereka misalnya: monoton, kothbah tidak menarik, nyanyiannya tidak enak……dll . Akhirnya mereka pindah. Dari pengakuan pribadi itu timbul suatu pertanyaan besar dalam diri saya: sebenarnya mereka beribadah memuaskan keinginan mereka atau benar benar mencari Tuhan? Kalau Tuhan berkehendak dicari dengan cara Misa Kudus. Apa hak pribadi kita untuk menolaknya?
                    Akhirnya Tuhan itu menjadi “apakah sesuai dengan keinginan saya?” bukan terjadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.

                • Shalom Kevin. memang mengenai kepindahan seseorang ke agama lain itu tergantung dengan penafsiran masing-masing, mungkin si A benar menurut saya, tapi bisa juga si A salah menurut orang lain itu semua tergantung kita menilainya. Cuma bagi saya biarkan saja ROH KUDUS yang menuntun kita untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Kita bisa berkeras hati tapi kalu ROH KUDUS yang bekerja kita tidak akan bisa menolaknya. Trims Tuhan memberkati.

                • Shalom kevin,
                  Saya rasa usul pak Stef untuk membaca buku tersebut sungguh baik jika anda mau mencari kebenaran atau minimal mengerti pokok ajaran gereja katolik yang sebenarnya. namun,jika anda terlalu sibuk mengisi penuh2 hati anda dengan prasangka,tuduhan dan kata2 kasar,ya sungguh lebih baik jika anda lanjutkan hidup dgn melayani jemaat di gereja anda saja.

                  Saya heran, orang2 yang mendebat masuk ke web ini, saya rasa pastilah orang2 yang dewasa iman dan melek ajaran Yesus. mungkin berprofesi sebagai pendeta muda. mereka ini orang2 yg cerdas, dan mampu menjelaskan alkitab sesuai pemikirannya sendiri yang dianggapnya benar. Ada yg bilang menemukan JOY, damai, dan sukacita di gerejanya masing2 sambil membanggakan denominasinya sendiri2. Tapi dari tulisan2nya, kok terbaca kepahitan, kata2 yg menyinggung yang tidak perlu ditulis,kasar dari yg sedang sampai parah. Lalu dimanakan letak roh lemah lembut itu?

                  kalo tidak bisa menerima penjelasan dari tim katolisitas, ya sudahlah. tinggalkan saja. Anda tentu sibuk dan punya pekerjaan lain di gereja anda. dengan begitu sedikit meringankan beban pak Stef & bu Inggrid karena harus menjelaskan berulang-ulang.Saya yg awam saja sampai mengerti.

                  Jadi, apa gunanya bagi anda sih? anda tidak mampu menunjukkan jati diri kristus dari tulisan anda, dan akhirnya tidak membuat kami cukup yakin berpindah ke gereja anda. anda juga tentunya tidak sedang sungguh mau mempelajari doktrin katolik.
                  Lalu, tujuannya apa dong?? saya sungguh ingin tahu.

                  • Shalom Ve,

                    Ve menulis:
                    Saya rasa usul pak Stef untuk membaca buku tersebut sungguh baik jika anda mau mencari kebenaran atau minimal mengerti pokok ajaran gereja katolik yang sebenarnya. namun,jika anda terlalu sibuk mengisi penuh2 hati anda dengan prasangka,tuduhan dan kata2 kasar,ya sungguh lebih baik jika anda lanjutkan hidup dgn melayani jemaat di gereja anda saja.

                    Saya heran, orang2 yang mendebat masuk ke web ini, saya rasa pastilah orang2 yang dewasa iman dan melek ajaran Yesus. mungkin berprofesi sebagai pendeta muda.

                    Kevin menanggapi:
                    Ve, (maaf) anda terlalu dangkal memahami konteks diskusi disini. Sdr Stef & Inggrid membuka website ini untuk menjelaskan doktrin Katolik. Tapi karena tidak dibatasi bahwa yang boleh mampir hanya orang Katolik saja, maka itu artinya siapapun (termasuk Non Katolik) boleh mampir dan ikut berkomentar. Yang namanya komentar itu adalah pendapat, dan yang namanya pendapat itu setiap orang berbeda. Kalo pendapat anda dan saya berbeda itu adalah hal yang lumrah / wajar, justru kalo pendapat anda dan saya di semua hal bisa sama persis itulah yang aneh.
                    Dengan kriteria apa anda menghakimi saya “terlalu sibuk mengisi penuh2 hati anda dengan prasangka,tuduhan dan kata2 kasar”..?. Apakah hanya karena gaya bahasa seseorang lalu anda bisa memastikan bahwa orang tersebut tidak benar? Apakah orang yang bicaranya kasar selalu salah dan orang yang bicaranya lembut selalu benar? Cobalah anda renungkan tulisan saya ini. Saya sarankan bagi Ve untuk bercermin dan bercermin, dan jangan buta atau membutakan mata hatimu. Ketahuilah bahwa Katolik memandang Protestan menyimpang. Dan kami Protestan memandang Katolik menyimpang. Sama-sama kan? Kecuali bila Katolik memandang Protestan benar, dan Protestan memaki-maki Katolik, itu baru namanya keterlaluan. Ve, belajarlah dewasa dan tidak egois. Jangan ketika anda diumpat anda tersinggung, kemudian anda mengumpat orang lain dan orang lain tidak boleh tersinggung, itu namanya narsis.
                    Anda mengajari saya untuk melayani jemaat di gereja saya, apa yang anda tahu tentang saya? Saya bukan pendeta, tidak pernah sekolah theology, tidak pernah terlibat dalam pelayanan apapun di gereja, tapi bertahun-tahun saya belajar Firman Tuhan dari Alkitab, buku-buku, berpikir, dan melalui banyak pengalaman hidup. Bila anda menganggap saya pendeta, dengan senang hati saya akan menerima anda sebagai jemaat pertama saya, dan saya akan mengajarkan kepada anda tentang kebenaran sejati, bukan mengajarkan kemunafikan yang berbalut sopan santun dan kerendahan hati.

                    Ve menulis:
                    Saya heran, orang2 yang mendebat masuk ke web ini, saya rasa pastilah orang2 yang dewasa iman dan melek ajaran Yesus. mungkin berprofesi sebagai pendeta muda. mereka ini orang2 yg cerdas, dan mampu menjelaskan alkitab sesuai pemikirannya sendiri yang dianggapnya benar. Ada yg bilang menemukan JOY, damai, dan sukacita di gerejanya masing2 sambil membanggakan denominasinya sendiri2. Tapi dari tulisan2nya, kok terbaca kepahitan, kata2 yg menyinggung yang tidak perlu ditulis,kasar dari yg sedang sampai parah. Lalu dimanakan letak roh lemah lembut itu?

                    Kevin menanggapi:
                    Saya sarankan anda membaca baik-baik ayat-ayat dibawah ini:

                    Yohanes berkata di Matius 3:7
                    Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

                    Tuhan Yesus berkata di Matius 23:33, Lukas 3:7
                    Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

                    Tahukah anda, Tuhan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati dan tidak pernah membalas itu ternyata juga mengata-ngatai orang-orang Farisi dengan pernyataan “keturunan ular beludak”. Apa Tuhan Yesus tidak punya kalimat lain yang lebih baik dan enak di dengar? Yohanes juga mengatakan hal yang sama.

                    Ketika bait Allah dijadikan pasar/ tempat berjualan, apa yang Tuhan Yesus lakukan? Apakah di dengan senyum berkata kepada mereka, “Hayoo, hayoo, minggirlah, ini Bait Allah lho… kamu dosa lho? Kok pada jualan disini?”… NO!!! Tuhan Yesus langsung mengobrak-abrik tempat jualan mereka dan berteriak memaki mereka. Tuhan Yesus marah !!!!

                    Kenapa Tuhan Yesus yang lemah lembut dan mengajarkan kelemahlembutan bisa tiba-tiba berkata kasar dan marah dengan action (bukan cuma marah dalam hati / kata-kata)…?
                    Karena yang dihadapi Tuhan Yesus adalah orang-orang bebal dan pengajar-pengajar kesesatan.

                    Bila anda faham ayat-ayat diatas dalam konteksnya, maka anda tidak akan terlalu sensitif ketika menyikapi perbedaan dan kata-kata kasar.
                    Ketahuilah Ve, di dunia ini banyak orang yang tutur katanya lemah lembut, namun berhati iblis. Sebaliknya banyak orang yang kata-kata dan sikapnya kasar namun hatinya mulia.
                    Suatu saat kelak bila anda mengalami terjebak / ditipu oleh orang yang sangat baik dan lemah lembut, anda bisa sadar dan paham apa yang saya tuliskan disini. Kata-kata lembut tidak selalu menggambarkan hati / niat yang baik, sebaliknya kata-kata kasar tidak selalu menggambarkan hati yang jahat / niat yang tidak baik.

                    Ketika kuliah dulu, saya hidup di jalanan. Saya banyak berteman dng orang-orang jalanan yang masuk kategori “penjahat” karena cara hidup dan perbuatannya yang sering merugikan orang lain. Mereka ini orang-orang yang sangat sangat keras dan menanggap hidup atau mati sama saja alias biasa saja. Namun diantara mereka saya jumpai beberapa orang sekalipun kata-kata dan perbuatannya tidak baik, namun hatinya sungguh baik. Mereka bergulat dengan keadaan dan kesulitan hidup, berjuang untuk eksis, hingga tidak sadar bahwa tindakannya merugikan pihak lain. Saya tidak berkata bahwa tindakan mereka benar. Namun sikap hati mereka, bila saya bandingkan dengan orang-orang lemah lembut yang tampak rohani, justru bertolak belakang, artinya sebagian penjahat itu memiliki hati yang lebih mulia daripada sebagian orang yang tiap minggu datang ke gereja. Ini kita bicara dalam tataran moral. Sedangkan pesan inti dalam Alkitab / Firman Allah itu tidak semata-mata hanya pesan moral, namun dimulai dari iman sebagai dasarnya. Percuma saja anda bicara soal kasih dan bermunafik dng kata-kata lembut bila esensi hati anda tidak demikian dan bila tidak didasari oleh iman yang benar.
                    Saya bisa menjabarkan soal kelemahlembutan / kerendahan hati dalam puluhan ribu kata yang mungkin lebih menperjelas pembaca disini, namun rasanya akan saya tulis lain kali saja.

                    Bila bicara soal roh lemah lembut, nanti kita kupas lain waktu. Namun perlu saya sarankan
                    kepada anda agar membaca kitab Amsal, agar anda paham bahwa tidak dalam semua hal orang harus bersikap lemah lembut, adakalanya orang harus mengatakan sesuatu yang keras untuk mendidik. Kitab Amsal bagus untuk anda memahami sikon dan saya kutipkan 2 ayat pembuka:

                    Amsal 26: 4 dan 5
                    4 Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.
                    5 Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

                    Tuhan mengajarkan kepada kita agar bisa membaca situasi, dan bertindak tepat sesuai orang dan situasinya, itulah pesanNya ketika kita menghadapi orang bebal dan penyesat.

                    Ve menulis:
                    kalo tidak bisa menerima penjelasan dari tim katolisitas, ya sudahlah. tinggalkan saja. Anda tentu sibuk dan punya pekerjaan lain di gereja anda. dengan begitu sedikit meringankan beban pak Stef & bu Inggrid karena harus menjelaskan berulang-ulang.Saya yg awam saja sampai mengerti.

                    Kevin menanggapi:
                    Entahlah apa anda sedang ber-empati terhadap Sdr Stef dan Inggrid, atau sedang unjuk gigi dengan memberikan pesan-pesan sponsor, namun saya percaya Sdr Stef dan Inggrid tidak terbebani oleh tulisan2 dan komentar2 saya, sebab ini adalah pelayanan mereka.
                    Anda tidak punya hak untuk memerintahkan saya meninggalkan situs ini. Hanya Sdr Stef dan Inggrid yang punya hak untuk menghentikan tulisan saya disini. Dan bila mereka menginginkannya, maka saya akan berhenti menulis komentar disini.
                    Bila Ve tidak suka terhadap tulisan / komentar saya, ya jangan dibaca, sebab membaca sesuatu yang tidak diinginkan itu sama dengan membohongi diri sendiri.
                    Bila ada pembaca yang membaca komentar saya lalu merasa tersinggung atau sakit hati, itu bagus, itu artinya mereka bisa belajar untuk mengampuni dan makin rendah hati. Bagaimana seseorang paham dirinya sudah rendah hati atau belum kalo tidak diuji? Anggaplah tulisan yg menyinggung itu sebagai ujian bagi iman anda.

                    Ve menulis:
                    Jadi, apa gunanya bagi anda sih? anda tidak mampu menunjukkan jati diri kristus dari tulisan anda, dan akhirnya tidak membuat kami cukup yakin berpindah ke gereja anda. anda juga tentunya tidak sedang sungguh mau mempelajari doktrin katolik.
                    Lalu, tujuannya apa dong?? saya sungguh ingin tahu.

                    Kevin menanggapi:
                    Ve, saya menulis disini untuk berdiskusi tentang doktrin Katolik yang menurut pandangan saya banyak yang salah. Saya tidak sedang menunjukkan diri saya yang rohani atau menunjukkan jati diri Kristus. Dan perlu Ve ketahui bahwa saya tidak sedang meyakinkan orang agar berpindah ke gereja Non Katolik, namun bila ada orang Katolik yang ingin belajar tentang doktrin Protestan, ya dengan senang hati saya akan mengajarnya.
                    Pertanyaan terakhir anda diatas rasanya perlu jawaban yang lebih tegas dari saya, baik saya akan menjawabnya biar anda gampang mencernanya: “Saya ingin menyadarkan saudara-saudara saya yang Katolik agar tidak menyimpang lebih jauh dari Alkitab”
                    Bila anda puas, anda boleh tepuk tangan, bila tidak puas, anda boleh berkomentar lagi.
                    “Saya tulis yang saya tahu, anda tulis yang anda tahu, saya tulis yang saya mau, anda tulis yang anda mau, bila tidak sepakat, ya kita tulis lagi”, itulah yang namanya Diskusi…

                    Kalo mau jadi Kristen Rajawali yang kuat, gagah perkasa, dan tidak munafik, belajarlah dari Alkitab. Kenapa saya sering menggunakan kata munafik? Karena banyak orang Nasrani yang ketika disinggung, sesungguhnya dia tersinggung, namun bibirnya menyatakan seolah dia tidak tersinggung, ini saya sebut munafik ! Dan Tuhan Yesus / Alkitab tidak mengajar kita seperti ini. Mereka ini sok kuat, sok lemah lembut, sok rendah hati, padahal level mentalnya masih rapuh namun berusaha memaksakan diri seolah “patuh” pada ajaran kasih. Tahukah Ve, berapa banyak manusia macam begini? Milyaran…
                    Saya orang blak-blakan, kalo tersinggung saya bilang tersinggung, kalo tidak saya bilang tidak. Kalo pendapat orang lebih benar maka saya akan akui dengan sportif.

                    Demikian Ve komentar saya, semoga tidak ada yang menyinggung hati anda. Dan bila ada yang menyinggung, saya mohon maaf, dan semoga anda bisa jadikan komentar saya sebagai bahan ujian / latihan untuk membuat hati anda / pembaca agar tidak mudah tersinggung. Kan anda harus lemah lembut dan rendah hati? ya nggak?

                    • Shalom Ve dan Kevin,

                      Mari kita bersama-sama menyikapi perbedaan dengan baik. Kita tidak perlu untuk menduga-duga maksud seseorang menuliskan pesan. Yang dapat kita nilai adalah argumentasi yang diberikan. Namun, kita tidak dapat menilai motif orang tersebut. Masing-masing dari kita harus belajar untuk menyampaikan sesuatu yang kita pandang benar dengan bijaksana dan minta rahmat kebijaksanaan. Ada banyak orang yang menggunakan ayat-ayat dari Mt 3:7; Mt 23:23; Lk 3:7 untuk membenarkan perkataan-perkataan yang mungkin cenderung kasar. Di satu sisi Kristus senantiasa mengajarkan kelemahlembutan, termasuk tidak membalas ketika Dia diludahi dan dipukul. Namun, ayat-ayat tersebut, yang memberikan pernyataan yang terlihat kasar adalah karena Yohanes Pemandi dan Kristus melihat kedalaman hati mereka. Mereka dapat melihat kedalaman hati seseorang, namun kita yang berkomunikasi lewat tulisan hanya dapat melihat argumentasi dan tidak dapat melihat kedalaman hati seseorang.

                      Jadi, tidak menjadi masalah bagi orang-orang yang memberikan argumentasi dengan perkataan kasar, karena menurut saya malah akan merugikan diri sendiri. Pembaca katolisitas bukanlah orang yang tidak dapat menilai. Mereka akan dapat menilai seseorang dari argumentasi yang diberikan secara baik dan terstruktur. Bagi saya pribadi, perkataan kasar justru akan memperlemah argumentasi seseorang. Dan Kevin sendiri telah mengakui dan berusaha untuk memperbaikinya. Kita tidak perlu membandingkan bahwa ada yang orang berkata kasar namun baik, karena ada juga orang yang berkata lemah lembut dan baik.

                      Saya tidak tahu, apakah Kevin memberikan Amsal 26:4-5 kepada website ini dan menganggap bahwa orang-orang Katolik di website ini adalah bebal, bodoh dan penyesat. Saya harap bukan begitu maksud anda. Namun, kalaupun demikian, tidaklah menjadi masalah, karena setiap orang mempunyai kebebasan untuk menilai. Seperti yang anda telah tuliskan, anda ingin untuk memaparkan doktrin Protestan dan menyanggah doktrin Katolik, maka anda mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan diskusi yang telah anda mulai di sini – silakan klik dan ini – silakan klik. Dengan demikian, kita tidak perlu menuduh dengan kata-kata yang tidak perlu, namun dimanifestasikan dalam bentuk argumentasi yang baik, seperti yang anda inginkan. Mari kita berfokus kembali pada diskusi dogma dan doktrin. Saya minta maaf, bahwa saya tidak ingin thread ini diteruskan, karena tidak akan membangun diskusi yang baik. Oleh karena itu, balasan akan thread ini tidak akan saya tampilkan. Semoga hal ini dapat diterima oleh semua pihak.

                      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                      stef – katolisitas.org

            • sdr David [mungkin maksudnya Kevin],
              Jawaban sdr sangat seenaknnya dan sdr tidak menyatakan pendapat sdr poin mana menurut sdr , pendeta David Minirth belum memahami doktrin protestan dengan baik. Apakah dasarnya?

              apakah sdr beranggapan bahwa kesaksian kesaksian jemaat di mimbar gereja jauh lebih baik dan mereka telah memahami doktrin protestan dengan baik dibandingkan dengan seorang pendeta (mantan) David Minirth? Bukankah pendeta yang mengajar jemaat? apakah sekarang jaman sudah berubah jemaat yang mengajar pendeta di mimbar?

              • @ Sdr Johanes

                Johanes menulis:
                Jawaban sdr sangat seenaknnya dan sdr tidak menyatakan pendapat sdr poin mana menurut sdr , pendeta David Minirth belum memahami doktrin protestan dengan baik. Apakah dasarnya?

                Kevin menanggapi:
                Silakan lihat komentar saya diatas (di forum ini juga) dan lihat juga komentar Sdr Stefanus kepada saya.

                Johanes menulis:
                apakah sdr beranggapan bahwa kesaksian kesaksian jemaat di mimbar gereja jauh lebih baik dan mereka telah memahami doktrin protestan dengan baik dibandingkan dengan seorang pendeta (mantan) David Minirth? Bukankah pendeta yang mengajar jemaat? apakah sekarang jaman sudah berubah jemaat yang mengajar pendeta di mimbar?

                Kevin menanggapi:
                Saya heran, kenapa anda dengan begitu lugunya membuat diskriminasi antara pendeta dengan jemaat. Apa anda pikir kesaksian Pendeta / Pastor pasti benar dan kesaksian jemaat pasti salah? Sungguh tidak masuk akal. Di situs ini saya pernah lihat sekilas (saya belum baca) kesaksian kalo tidak salah ada 2 orang, ntah itu kesaksian hidup atau mujijat. Dengan penalaran anda, seharusnya anda bertanya kepada mereka dng pertanyaan ini: “Apakah anda seorang pastor?”. Bila mereka jawab: “Ya”, maka anda boleh percaya karena kompeten, kalo mereka jawab: “Tidak”, maka anda tidak boleh percaya karena kesaksian jemaat tidak memiliki kompetensi yang memadai. Itukah maksud anda?

                Inilah permasalahannya….
                Anda di Katolik sudah terbiasa didoktrin bahwa jemaat itu pendengar, dan pastor itu pengajar. Itu artinya Pastor pandai, jemaat bodoh. Kami di Kristen (Protestan) tidak seperti itu. Dari kecil dulu, sewaktu sekolah minggu, kami sudah diajarkan untuk membawa dan membaca Alkitab sendiri. Itu artinya bahwa Kristen mengajarkan bahwa setiap kita bisa belajar langsung dari sumbernya, yaitu Alkitab dan Roh Kudus. Metode pengajaran Kristen sangat menghargai freewill, otoritas Roh Kudus, dan kuasa Firman, sehingga setiap orang dibentuk sesuai “semau apa / sejauh mana” orang tersebut rela / mau diajar oleh Tuhan. Dengan demikian, metode ini bisa menghasilkan cukup banyak orang Kristen yang “maju” / kompeten / memahami Alkitab dengan baik dan benar, bahkan saya mengenal beberapa kawan yg tidak pernah sekolah theology seperti saya memiliki kecakapan / pemahaman Alkitab yang diatas rata-rata kebanyakan pendeta.

                Saya pribadi tidak pernah silau / gentar dengan jabatan seseorang, biar itu pendeta / pastor atau apalah. Kualitas pemahaman Alkitab itu tidak ditentukan oleh gelar rohaninya, namun oleh penguasaan / kecakapannya dalam memahami Alkitab. Ini kita tidak sedang bicara soal moral, namun soal teori.

                Mari saya beri contoh tentang sekolah / belajar:
                Anda dan saya tentunya pernah sekolah. Sekolah adalah sarana belajar, itu artinya bahwa tanpa masuk di pendidikan formal (sekolah) pun seseorang tetap bisa belajar. Tujuan belajar adalah menambah pengetahuan / wawasan. Metode sekolah dalam memberikan pembelajaran adalah dengan buku acuan (seperti buku matematik, buku biologi, dsb) dan dengan penjelasan guru/dosen. Kenapa harus ada guru / dosen? Itu untuk membantu memudahkan mencerna materi, itupun kalo guru/ dosennya bisa mengajar dengan benar. Berapa banyak yang kita ketahui bahwa guru / dosen itu cuma men-dikte-kan catatan, murid-muridnya menulis selama 2 jam, trus dikasih PR, lain waktu ulangan? Banyak! Jenis guru/ dosen inilah yang saya sebut guru/dosen jadi-jadian, tidak bisa mengajar, tapi mau jabatan dan gaji. Kalo setiap hari kita sekolah (anggap saja SD/SMP/SMA) masuk dari jam 7 pulang jam 13, dan sepanjang waktu itu kita cuma mencatat dari papan tulis atau mencatat dari dikte guru, trus apa itu namanya belajar? Jelas itu bukan belajar, itu namanya mencatat.
                Guru yang paham arti belajar tentu akan menjelaskan bahwa murid-murid sudah diberikan buku acuan dan bisa belajar sendiri, lalu sang guru bisa memberikan fotocopian “catatan pribadi”nya, agar bisa dipelajari lagi di rumah. Nah pas di sekolah, guru cukup bercerita, menerangkan, menjelaskan, lalu membuka forum tanya-jawab. Inilah yang disebut belajar yang sesungguhnya. Belajar adalah sebuah proses kreatif otak untuk mengolah dan menyimpan informasi, bukan sekedar mencatat atau membaca. Untuk belajar, orang tidak selalu harus diajar. Karena belajar adalah soal berpikir, bukan soal tempat atau ijasah.
                Bila anda sudah paham ini, maka saya lanjutkan….

                Dengan demikian kita tahu bahwa belajar tidak harus selalu melalui institusi formal. Institusi formal hanyalah “alat bantu” ibaratnya “tutorial” atau “manual book” untuk mempermudah sekaligus menerapkan disiplin, konsistensi, dan sosialisasi. Diluar keempat hal tersebut, orang bisa belajar sendiri dari buku. Jadi sekarang kata kuncinya adalah buku.
                Guru / dosen yang mengajar muridnya pun sumber informasi / pengetahuannya didapat dari buku. Buku-buku pelajaran baik yang bersifat science maupun non science sudah dirumuskan sedemikian rupa melalui proses pengujian banyak pihak, sehingga secara umum bisa dipercayai kebenaran informasi di dalamnya terlepas dari kelengkapannya menyajikan informasi.
                Melalui buku, orang bisa belajar apapun sebanyak yang dia mau.
                Kapasitas pengetahuan seseorang sangat ditentukan dari seberapa banyak dia “melahap” informasi dari luar khususnya dari buku. Itulah kenapa para penemu-penemu di abad renaisanse, yang notabene adalah orang-orang jenius, mereka sangat akrab dengan buku sebagai sumber informasi mereka. Mereka menyerap informasi, mengolahnya, kemudian mengujinya. Dengan demikian lahirlah banyak hal di bidang kimia, biologi, fisika, matematika, dsb yang akhirnya manfaatnya bisa kita nikmati hingga saat ini.

                Cukup banyak dari kita yang sudah belajar banyak dan hingga saat ini tidak berprofesi sebagai guru / pengajar / dosen, namun memiliki pengetahuan spesifik maupun umum melebihi para guru / dosen.

                Dengan uraian panjang diatas, saya harap Sdr Johanes memahami bahwa kepandaian (kompetensi) seseorang bukanlah semata karena gelar / profesi yang dimilikinya, namun lebih ditentukan kepada seberapa banyaknya dia belajar. Orang cerdas bisa belajar dengan cepat, orang bodoh belajar lebih lambat. Tapi kalo orang cerdas cuma belajar 1 tahun, dan orang bodoh belajar 20 tahun, rasanya si bodoh ini bisa lebih pandai (banyak tahu) dibandingkan dengan si cerdas. Jadi bakat / talent / intelegensi seseorang memang berpengaruh tapi tidak sepenuhnya menentukan kuantitas pengetahuan. Intelegensi berpengaruh pada kualitas, sedangkan usaha berpengaruh pada kuantitas. Gabungan keduanya menghasilkan suatu pengetahuan yang sangat bermutu.

                Kesimpulannya adalah…
                Kami orang Kristen (Protestan) tidak, khususnya saya, tidak terpaku pada pendeta. Pendeta boleh ngomong apa saja, tapi Alkitab sudah menentukan kebenarannya sendiri. BIla pengajaran pendeta tidak sesuai dengan Alkitab, ya saya tolak, namun bila cocok ya saya terima. Hal ini saya berlakukan juga bagi doktrin agama lain, termasuk Katolik.
                Mengenai Minirth, saya belum beli / baca bukunya, tapi jelas saya menggunakan statement semua agama (termasuk katolik) ketika menilai seseorang yang keluar barisan, yaitu orang tersebut belum memahami doktrin agamanya dengan benar. Apakah ini pernyataan absolut atau relatif? Bisa salah satu atau keduanya.
                Doktrin Protestan maupun Katolik menjabarkan segala sesuatu yang “benar” menurut pandangannya. Bila si Minirth masuk sepenuhnya dalam doktrin Protestan, dan bisa menerima seutuhnya kebenarannya, maka mustahil dia berpindah ke Katolik. Demikian sebaliknya berlaku bagi orang Katolik yang berpindah ke Protestan. Bila si Minirth tdk setuju dengan beberapa hal dalam doktrin Protestan, itu artinya dia belum masuk sepenuhnya dan/ atau belum menerima kebenaran seutuhnya, sehingga tidak aneh kalau dia berpaling kepada yang lain, dan saya simpulkan Minirth tidak memahami doktrin Kristen dng baik.
                Bila anda menganggap bahwa pendeta / pastor pasti lebih tahu / lebih pandai dalam theologi dibandingkan jemaat, maka saya sarankan anda untuk belajar lagi dengan benar sebelum melanjutkan diskusi ini.
                Renungkan tulisan saya ini dalam-dalam, saya yakin anda mampu memahami maksud saya.
                Bila masih ada yang kurang jelas, silakan bertanya lagi.

                • Shalom Kevin dan Johanes,

                  Terima kasih atas komentarnya. Saya pikir diskusi seperti ini tidak perlu diteruskan, karena tidak akan membangun diskusi yang baik. Secara umum, kita harus mengakui bahwa pendeta maupun pastor seharusnya mempunyai ilmu teologi dan filsafat yang lebih baik dari pada kaum awam. Hal ini bukan karena mereka lebih cerdas dari kaum awam, namun karena mereka mendapatkan pendidikan secara khusus dan terstruktur tentang teologi dan filsafat. Tentu saja ada kaum awam yang cerdas, yang dapat mempelajari sendiri. Namun, tetap saja ada bedanya orang yang mengecap pendidikan formal dan tidak formal (catatan: saya berbicara secara umum dan bukan pada kondisi khusus). Sama seperti seorang arsitek – yang telah lulus arsitek dan telah bekerja sebagai arsitek – akan dapat membangun rumah yang lebih baik daripada yang dapat dilakukan oleh orang biasa. Ini adalah hal yang wajar, dan saya kira dapat diterima secara umum.

                  Dalam Gereja Katolik, tentu saja kita melihat posisi pastor sebagai gembala, yang memang harus mengajar, melakukan tugas pastoral, dan sakramen-sakramen. Dan, kaum awam juga bebas untuk berdiskusi dengan pastor, dengan pegangan tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Anda dapat saja tidak setuju dengan hal ini. Kalau anda mau, silakan membaca diskusi panjang ini – silakan klik. Jadi, dalam diskusi dengan pastor, pilar kebenaran yang digunakan jelas, dan tidak terpaku pada interpretasi pribadi. Silakan Kevin merenungkan sendiri kondisi gerejanya, karena kita tidak perlu membahasnya di sini. Saya sarankan, daripada melakukan diskusi seperti ini, silakan melanjutkan diskusi yang telah anda mulai di sini – silakan klik dan ini – silakan klik. Dan berfokuslah pada diskusi ini, sehingga anda mempunyai waktu untuk menyusun argumentasi yang baik dan mendalam. Dan seperti yang saya tuliskan sebelumnya, yang juga diterima oleh Kevin, maka silakan membeli buku Rome Sweet Home, dan silakan memberikan ulasan bagian mana dari buku tersebut yang Kevin pandang pengarang buku tersebut tidak mengerti doktrin Protestan dengan baik. Dengan demikian kita dapat membahasnya secara mendalam. Harapannya, diskusi dapat berfokus pada dogma dan doktrin. Semoga dapat diterima dengan baik. Mohon maaf, reply selanjutnya dari thread ini, tidak dapat saya masukkan ke dalam website.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  stef – katolisitas.org

                • @sdr Kevin :
                  Disinilah letak akal masalahnya.
                  Mengenai hal ini, apa yang sdr sampaikan di atas merupakan suatu “sentilan keras” kepada semua jemaat Protestan secara keseluruhan. Mengapa? Saya rasa web ini sudah menjelaskan dengan pajang dan leber sejarah gereja mula mula.Kalau semua jemaat Protestan memiliki pikiran yang sama dengan sdr. maka saya kemudian menjadi sengat tidak heran kalau Protestan terpecah pecah dalam 28.000denominasi yang berbeda beda dan maaf …[edit] .Dan besok pun akan terus terjadi perpecahan gereja, dan mungkin juga sdr Kevin juga mendirikan gereja baru sesuai dengan pendapat sdr Kevin. Tolong sdr renungkan baik baik pertanyaan saya berikut:”Apakah dengan cara demikian sdr turut mengaminkan apa yang didoakan Tuhan ” Supaya mereka semua menjadi satu”? ataukah tidak sebaliknya sdr membuka terus perpecahan karena setiap orang dengan sesuka dan sebebasnya mengartikan firman Tuhan dan mendirikan gereja baru yang sesuai dengan selera penafsirannya? Adakah Roh Kudus salah?
                  “Sentilan keras” kepada umat Protestan ini adalah pada saat kita berbicara tentang poin “KETAATAN”. Kata “KETAATAN” ini menurut pendapat saya menjadi barang yang sangat antik, kuno, mungkin juga tidak pernah ada di kalangan gereja Protestan. Coba sdr renungkan kembali berapa banyak kotbah pendeta di gereja anda yang mengajarkan point ketaatan ini?

                  Mengapa jemaat Katolik taat kepada magisterium gereja dalam pengajaran iman? Ini semata karena kami menantikan dengan PENUH IMAN JANJI TUHAN YESUS BAHWA IA AKAN MELINDUNGI GEREJANYA DAN KUASA MAUT TIDAK AKAN BERKUASA ATAS GEREJANYA.Inilah “KETAATAN” itu.dan ketaatan ini sudah cukuplah bagi kami. Maria sangat bingung dan tidak tahu mau berbuat apa atas kabar malaikat tetapi karena ia taat maka keselamatan terjadilah. Jadi, mengapa dalam ketidaktahuan dan kebutaan kita akan maksud dan arti firman Tuhan kita mencoba mengartikannya dengan asumsi pribadi yang akan menimbulkan perpecahan gereja dan sekaligus menyangkal apa yang didoakan Tuhan Yesus supaya pengikutNya bersatu?Sungguh sangat bahaya…….

                  Dan secara tekhnis , inilah yang membedakan Gereja Katolik dengan Protestan lainnya dalam pengajaran iman. Kotbah dalam Gereja Katolik tidak lebih dari 15 menit setiap Misa Kudus.Protestan bisa 1 jam. Apakah lebih lama lebih baik? Belum tentu. Gereja Katolik menjaga dalam kotbah yang singkat , padat dan jelas untuk sekecil mungkin tercampur dengan pendapat pribadi si pastor yang berkotbah dalam menginterpretasikan kitab suci sehingga apa yang disampaikan berada dalam koridor terjemahan yang di terima olah seluruh gereja universal di seluruh dunia. Dan point pokok dalam setiap Misa kudus bukanlah kotbah. Tetapi nilai yang paling berharga di atas semua kotbah adalah perjumpaan dengan Tuhan sendiri dalam TUBUH DAN DARAHNYA. Ini sudah lebih dari cukup bagi umat Katolik,dibandingkan dengan kotbah yang panjang lebar dan ada kemungkinan besar memuat pendapat pribadi yang dapat menimbulkan perpecahan gereja

                  Mengenai pendapat anda ttg kesaksian di web ini, perlu ditegaskan bahwa kesaksian ini bukan untuk mengajar, tetapi untuk menguatkan. Jadi anda TIDAK PERNAH akan menemukan kesaksian umat saat kotbah Misa berlangsung. Mengapa? jawabannya sudah diuraikan di alinea sebelum ini. Jadi perlu dibedakan pengajaran dengan kesaksian(sharing). Pengajaran iman bersifat mutlak dan bukan berdasarkan kesimpulan pembicara. Kesaksian memuat pengalaman hidup yang berbeda dikaikan dengan pengajaran iman.Semoga dimengerti.Tugas seorang pendeta adalah mengajar pengajaran iman. Termasuk pdt David Minirth. jadi saya rasa pdt David tahu tugasnya sebagai pengajar iman yang seharusnya mengajarkan iman Protestan. Bagaimana kemudian ia menjadi Katolik? saya rasa hanya Roh Kudus yang tahu. dan saya tidak mau berdiskusi tentang hal ini.karena ini bukan pengajaran iman, hanya berupa kesaksian pdt David.

                  ingatlah sdr Kevin, ketidaktaatan Adam dan Hawa mendatangkan dosa.Ketaatan Maria dan terutama ketaatan Yesus mendatangkan keselamatan bagi semua manusia.Lantas jangan sdr bilang bahwa :” kami tidak taat pada pendeta karena pendeta adalah manusia, tapi kami taat kepada Allah.” Kalau kamu taat kepada Allah, maka kamu juga taat kepada para pilihanNYa,atau setidaknya, kamu taat pada firmanNya bahwa Ia akan menyertai GerejaNya dan kuasa maut tidak akan menguasai GerejaNya. Kalau taat kepada firman Tuhan ini , maka kamu akan seperti Gereja Katolik yang mempercayakan seluruh hidupnya kepada PENYELENGGARAAN ILAHI. Banyak aliran dan sekte akan tetap bermunculan dan tenggelam , tetapi firman Tuhan ini akan tetap melekat pada Gereja yang dipilihNya. Yang mana? Silahkan sdr analisa dengan mendalam. Mana dari sekian puluh ribu gereja yang ada yang saling menyerang dan mengklaim diri paling benar yang merupakan Gereja yang tidak akan dikuasai oleh maut. Mulailah dari pengajaran para Rasul dan Bapa Gereja.

                  Semoga Tuhan memberkati sdr. Kevin

            • Shalom Kevin, Masa iya seorang pendeta protestan yang sudah bertahun -tahun mempelajari firman Tuhan dan sudah sekolah theologi, masih tidak paham/memahami doktrin protestan? menurut saya David Minirth memang sudah dibukakan hatinya oleh Roh Kudus sehingga mengetahui kebenaran.

              terima kasih Tuhanmemberkati.

              [dari katolisitas: baca kesaksian Alex Jones di sini - Alex Jones bagian 1 ; Alex Jones bagian 2 ; Alex Jones bagian 3; Alex Jones 4]

        • Kevin Wrote :
          Dengan demikian Alkitab menjadi kanon tertutup, artinya semenjak saat itu, tidak ada wahyu baru, dan tidak perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk menjalankan atau menafsirkan Alkitab.
          —————————————————————-
          Anggaplah tidak perlu juklak untuk menafsirkan Alkitab, lalu pertanyaannya : siapakah yang berhak dan memiliki kompetensi untuk menafsirkan Alkitab untuk kemudian mengajarkannya ke seluruh dunia?

          - Apakah para Bapa Gereja awal?
          - Apakah Martin Luther?
          - Apakah Pdt. A?
          - Apakah Pdt. B?
          - Apakah Ustadz A?
          - Apakah Sdr. Kevin?
          - Apakah Mr. Katro?

          kemudian, tafsiran siapakah yang akan umat Kristen pegang?

          • @ Mr. Katro

            Mr Katro menulis:
            Kevin Wrote :
            Dengan demikian Alkitab menjadi kanon tertutup, artinya semenjak saat itu, tidak ada wahyu baru, dan tidak perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk menjalankan atau menafsirkan Alkitab.
            —————————————————————-
            Anggaplah tidak perlu juklak untuk menafsirkan Alkitab, lalu pertanyaannya : siapakah yang berhak dan memiliki kompetensi untuk menafsirkan Alkitab untuk kemudian mengajarkannya ke seluruh dunia?

            - Apakah para Bapa Gereja awal?
            - Apakah Martin Luther?
            - Apakah Pdt. A?
            - Apakah Pdt. B?
            - Apakah Ustadz A?
            - Apakah Sdr. Kevin?
            - Apakah Mr. Katro?

            kemudian, tafsiran siapakah yang akan umat Kristen pegang?

            Kevin menanggapi:

            Ketika Tuhan Allah menyampaikan FirmanNya, Dia menggunakan bahasa manusia. Dia tidak menggunakan bahasa malaikat atau bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Tujuan Dia menggunakan bahasa manusia ialah agar manusia dapat memahami maksudNya.
            Ketika Tuhan Allah bermaksud mencetak / membukukan FirmanNya, Dia menggunakan peran manusia (walaupun Dia juga bisa mencetak tanpa peran manusia sedikitpun), itu artinya Dia ingin mengkomunikasikan maksudNya kepada manusia dalam perspektif manusia.
            Intinya Tuhan ingin agar manusia dapat memahami maksud dan rencanaNya.
            Bila Alkitab ditulis dengan bahasa programming (bahasa komputer / bahasa mesin/ bahasa program) maka kita perlu bertanya pada para programmer, apa maknanya. Namun karena Akitab ditulis dengan bahasa manusia (bhs Ibrani dan bhs Yunani) maka cukup menterjemahkannya ke dalam Bhs Inggris atau Bhs Indonesia, dan kemudian bisa membaca serta memahaminya. Memang untuk itulah Alkitab ditulis, agar setiap manusia dapat memahaminya ketika membacanya, itulah maksud Tuhan.

            Ketika Alkitab sudah selesai dikanon, maka Alkitab itu adalah milik semua orang. Bukan hanya milik Paus, Pastor, Pendeta, atau Gereja, tapi milik semua orang. Siapapun boleh membaca Alkitab, dan Roh Kudus sendiri yang akan memberikan pencerahan.
            Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya di dalam Yesus (ini adalah makna rohaninya), sedangkan makna sekulernya adalah sebuah organisasi keagamaan. Gereja memiliki peran untuk mewartakan maksud2 Tuhan dalam Alkitab, namun gereja tidak boleh mengklaim bahwa hanya dia (gereja) yang tahu / mampu menjelaskan isi Alkitab / maksud Tuhan. Gereja yang berprinsip seperti ini berarti sudah mengambil / mencuri otoritas Roh Kudus yang berkuasa untuk menjangkau setiap pribadi orang percaya.

            Sekarang saya akan menjawab pertanyaan anda:
            Alkitab bukanlah untuk ditafsirkan, namun untuk dipahami dan dilakukan. Walau dalam Alkitab tidak semua tulisan mengandung makna harafiah, namun lebih dari 90% isinya adalah literal dan tidak memerlukan hermeneutik (metode tafsir). Jadi tidak perlu repot-repot tanya ke gereja atau orang lain. Dibaca saja dengan kerendahan hati dan kerinduan akan Tuhan, maka Roh Kudus sendiri akan memampukan pembacanya untuk memahami maksud Tuhan atas dirinya.
            Bila anda pernah diajari gereja bahwa untuk memahami Alkitab maka orang harus bertanya pada pihak yang kompeten seperti pastor / pendeta, maka saya bilang itu adalah informasi yang keliru dan sangat menyesatkan, dan itu adalah upaya pembodohan karena orang tersebut diharuskan masuk ke dalam jebakan doktrin yang sudah disetting sedemikian rupa.

            Bicara soal tafsir-menafsir, itu seperti menebak arti mimpi, dan sifatnya sangat subyektif sekalipun tampaknya logis. Karena yang namanya tafsir / interpretasi itu berarti upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yang kurang jelas (silakan lihat artinya di KBBI (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php). Bila ada orang normal (tidak buta huruf dan waras) membaca seluruh Alkitab tapi sama sekali tidak mengerti 1% pun maksud / isinya, menurut saya cuma ada 2 kemungkinan: orang tersebut belum memiliki kapasitas merangkaikan informasi (seperti misalnya anak kelas 2 SD, bisa membaca namun belum banyak menangkap makna), atau kemungkinan kedua, orang tersebut mengalami gangguan secara psikologis.
            Untuk kedua jenis orang yang saya sebutkan tadi, jika dia tidak mampu menangkap 1% pun makna yang ada di Alkitab, maka tentunya orang tesebut juga tidak mampu memahami buku-buku lain atau novel / bacaan yang isinya mengandung muatan sejenis Alkitab.
            Tuhan tidak diskriminatif terhadap manusia, Dia mau menerima orang bodoh maupun orang pandai. Bila Tuhan hanya berkenan kepada orang yang pandai (yang mampu memahami atau menafsirkan Alkitab) maka tidak ada gunanya lagi bicara soal kasih. Jadi saya harap anda tidak terjebak dalam indoktrinasi Katolik sehingga anda akan selalu merasa kalah pintar, kalah kudus, kalah saleh dibandingkan pemuka-pemuka agama anda. Yang saya maksudkan dengan kata “kalah” tersebut adalah “merasa inferior”. Kita diajarkan untuk rendah hati, namun bukan berarti rendah diri / minder / tidak percaya diri dihadapan sesama manusia. Ingatlah bahwa indoktrinasi adalah salah satu cara iblis yang paling ampuh untuk menyesatkan umat percaya. Oleh karenanya kita harus kembali kepada Alkitab untuk menguji segala sesuatu.

            Alkitab bukan untuk ditafsirkan, namun untuk dipahami. Memang bagi sebagian besar orang, tidak semua isi Alkitab bisa dipahami dengan mudah, namun bukan berarti bahwa pesan intinya tidak bisa dimengerti. Tuhan sangat memahami manusia ciptaanNya yang sarat dengan keterbatasan dan kelemahan, dan Dia tidak pernah memerintahkan kepada kita agar memahami seluruh ayat dalam Alkitab. Seorang anak kelas 3 SD yang membaca kitab Keluaran 20:15 “Jangan mencuri”, saya pikir anak tersebut tentu bisa memahami maksudnya, apalagi kita orang dewasa. Bahkan orang-orang jalanan yang tidak pernah sekolahpun kalo kita sampaikan pesan ayat tersebut, bisa memahami maksudnya.

            Jadi ketika anda berbicara soal tafsiran siapakah yang akan umat Kristen pegang, maka saya jawab dengan gampang bahwa umat Kristen tidak perlu berpegang pada tafsiran siapapun, karena Alkitab (Firman Allah) itu mampu menjelaskan diriNya kepada setiap orang yang rindu akan Kebenaran.
            Ketika 40 orang belajar di sekolah yang sama, di kelas yang sama, diajar oleh guru yang sama, dengan jam pelajaran yang sama, apakah setiap orang bisa memahaminya dengan sama? Tentu saja tidak, buktinya ada yang nilainya 100, 80, 60, 40, atau bahkan 20. Apakah buku pelajarannya yang salah? Tidak. Apakah gurunya yang salah? Tidak. Yang menyebabkan perbedaan hasil pemahaman ada beberapa faktor seperti intelegensi, kerajinan belajar, kondisi tubuh / pikiran / emosi, dsb.
            Hal ini sama dengan banyaknya perbedaan pemahaman di Protestan, dan itu adalah wajar.

            Kami umat protestan percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya Kebenaran, dan Alkitab mampu menjelaskan dirinya sendiri ketika manusia menghampirinya dengan kerendahan hati dan kerinduan akan Tuhan.

            Demikian penjelasan saya….

            • Shalom Kevin M,

              Terima kasih atas tanggapannya terhadap pertanyaan Katro. Beberapa hal ini adalah tanggapan singkat yang dapat saya berikan:

              1. Tuhan memang menyatakan wahyu Allah seperti yang dituliskan dalam Alkitab. Dia menggunakan bahasa manusia, agar manusia dapat memahami Firman-Nya. Dia juga memakai beberapa gaya bahasa dan perumpamaan agar manusia dapat lebih memahami maksud dan rencana Allah. Dengan demikian Alkitab memang milik semua orang dan bukan hanya milik Paus, Pastor, Pendeta, dll. Namun, walaupun telah disampaikan dengan bahasa yang dimengerti manusia, namun adalah suatu kenyataan bahwa ada banyak hal yang dituliskan di dalam Alkitab sulit untuk dimengerti. Kita tahu, ada begitu banyak perbedaan dogma dan doktrin antara Gereja Katolik dan non-Katolik, seperti: tentang Perjamuan Suci (lih. Mt 26:26-28); tentang keselamatan – apakah hanya karena iman atau juga memerlukan yang lain, seperti baptisan dan kasih; tentang apakah Yesus mengetahui hari kiamat, karena di Mt 24:36 dikatakan bahwa Anakpun tidak mengetahui; Apakah Sola Scriptura benar, dan masih begitu banyak isu-isu yang lain. Dan inilah yang ditegaskan oleh rasul Petrus akan tulisan-tulisan dari rasul Paulus, sehingga dia mengatakan “Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat” (2 Pet 3:15). Dari sini, kita dapat melihat bahwa rasul Petrus, sebagai murid dari Yesus, yang telah berkumpul dengan Yesus, menyadari bahwa apa yang tertulis di dalam Alkitab tidaklah mudah dipahami seluruhnya.

              2. Anda mengatakan “Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya di dalam Yesus (ini adalah makna rohaninya), sedangkan makna sekulernya adalah sebuah organisasi keagamaan.” Kita mempunyai konsep yang berbeda tentang Gereja. Kalau anda ingin serius berdiskusi tentang konsep Gereja dengan dualitasnya: cara (means) dan tujuan (end), silakan untuk membuat topik secara terpisah dan kita dapat membahasnya secara lebih mendalam. Sebagai langkah awal, silakan membaca konsep tentang Gereja di sini – silakan klik, di mana dituliskan:

              a. Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia

              (lih. Ef 1:9-10, Kol 1:15-20,26-27; 1Kor 2:7, Lumen Gentium 2, KGK 760-764)

              Pada saat penciptaan dunia, Allah telah merencanakan untuk mengangkat manusia ke dalam kehidupan Ilahi. Namun rencana persatuan Ilahi ini terhalang oleh karena dosa Adam yang kemudian diturunkan kepada semua manusia. Karenanya Allah terus menerus mengutus para nabi untuk membawa manusia kembali kepadaNya, hingga akhirnya Ia mengutus Putera-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi tebusan atas dosa-dosa manusia, supaya tidak ada lagi penghalang antara manusia dengan Allah.

              Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, Sang Firman, (Yoh 1:1), oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat (lih. Kol 1:15-18, Ef 1:9-10). Karenanya, sudah sejak awal mula Allah telah merencanakan penggabungan jemaat dengan Kristus sebagai kepala yang kemudian dikenal sebagai ‘Gereja’. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada mulanya Allah menentukan orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya, supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara (lih. Rom 8:29). Nah, kesatuan semua manusia dengan Yesus sebagai yang sulung inilah yang disebut Gereja.

              Maka kalau ada orang bertanya pada kita sejak kapan Gereja direncanakan oleh Allah, kita dapat mengatakan bahwa Gereja sudah direncanakan sejak penciptaan dunia. Hanya saja pada waktu itu (di dalam Kitab Kejadian) belum secara eksplisit disebut sebagai ‘Gereja’. Persekutuan manusia dalam ‘wadah’ Gereja ini dipersiapkan oleh Allah melalui pembentukan bangsa Israel di masa Perjanjian Lama hingga tiba waktunya Kristus sendiri menyempurnakannya oleh kuasa Roh Kudus pada Perjanjian Baru, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama. Pada akhir zaman, Gereja akan mencapai kesempurnaannya, di mana semua orang benar sepanjang segala abad akan dipersatukan dengan Allah sendiri.

              Nyatalah, sebagai tujuan akhir hidup manusia, Gereja bersifat Ilahi, sebab di dalamnya manusia dipersatukan dengan Allah. Persekutuan kudus dengan Allah ini membawa manusia pada persekutuan dengan para orang kudus sepanjang zaman, karena semua orang kudus tersebut bersekutu dengan Allah, dan juga, karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38). Persekutuan kudus ini pula yang menjelaskan, bahwa hanya ada satu Gereja, karena hanya ada satu Tubuh Mistik Kristus, yang terdiri dari kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah mulia di surga, dan mereka yang sebelum masuk ke surga masih dimurnikan di Api Penyucian.[4] Kedua dimensi persekutuan ini –yaitu persekutuan dengan Allah dan dengan para kudusNya- menunjukkan sifat ilahi dari Gereja, yang membedakannya dari organisasi apapun di dunia.

              b. Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia

              (lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)

              Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[5] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.

              Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam GerejaNya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janjiNya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksiKu di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikanNya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[6]

              Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.

              Anda mengatakan “Gereja memiliki peran untuk mewartakan maksud2 Tuhan dalam Alkitab, namun gereja tidak boleh mengklaim bahwa hanya dia (gereja) yang tahu / mampu menjelaskan isi Alkitab / maksud TuhanKalau Gereja yang mengkanonkan Alkitab, maka apakah sulitnya untuk dapat menerima bahwa dengan kuasa Kristus untuk melindungi Gereja-Nya (lih. Mt 16:16-19), maka Gereja dilindungi Roh Kudus untuk dapat menginterpretasikan dengan benar akan pesan yang ingin disampaikan oleh Tuhan? Kalau kita menganggap Gereja dapat salah (fallible) dan Alkitab tidak mungkin salah (infallible), bagaimana mungkin sesuatu yang fallible dapat menghasilkan sesuatu yang infallible? Hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan oleh rasul Paulus “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat [Gereja] dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15) Hal ini bukan berarti bahwa semua orang tidak boleh menginterpretasikan Alkitab, namun untuk isu-isu yang cukup kompleks, maka umat Katolik melihat, mempelajari dan mengikuti apa yang dikatakan Magisterium Gereja, apalagi kalau hal tersebut telah ditetapkan sebagai dogma. Kalau mengikuti argumentasi anda, maka pertanyaan saya adalah: Mengapa setelah Martin Luther, yang membuat semua orang dapat menginterpretasikan Alkitab sendiri-sendiri, berakibat pada perpecahan 28,000 denominasi sampai saat ini?

              Dan kalau anda mengatakan “Gereja yang berprinsip seperti ini berarti sudah mengambil / mencuri otoritas Roh Kudus yang berkuasa untuk menjangkau setiap pribadi orang percaya.” maka pertanyaan saya: Mengapa kalau Roh Kudus-nya sama, yang telah memberikan inspirasi kepada penulis Alkitab dan memberikan inspirasi kepada pembaca Alkitab dari generasi-generasi, namun tetap terjadi perbedaan doktrin? Kalau dengan Alkitab yang sama, yang satu percaya akan kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi (seperti yang dipercayai oleh Martin Luther), mengapa dengan Alkitab yang sama, setelah 500 tahun kemudian terjadi ada banyak orang yang mengatakan bahwa Perjamuan Suci hanyalah simbol belaka? Bukankah dua hal yang saling bertentangan tidak mungkin keduanya benar, yang berarti seseorang harus memutuskan mana yang benar: Kristus hadir secara nyata atau hanya simbol dalam Perjamuan Suci. Dan kalau demikian, apakah parameter untuk mementukan mana yang benar dan mana yang salah? Dengan perkataan anda sendiri “Gereja yang berprinsip seperti ini berarti sudah mengambil / mencuri otoritas Roh Kudus yang berkuasa untuk menjangkau setiap pribadi orang percaya. maka bagaimana anda menerangkan otoritas Roh Kudus dengan perpecahan gereja-gereja?

              3. Dengan demikian, keterangan dan pertanyaan saya telah menjawab tanggapan anda “Alkitab bukanlah untuk ditafsirkan, namun untuk dipahami dan dilakukan. Walau dalam Alkitab tidak semua tulisan mengandung makna harafiah, namun lebih dari 90% isinya adalah literal dan tidak memerlukan hermeneutik (metode tafsir). Jadi tidak perlu repot-repot tanya ke gereja atau orang lain. Dibaca saja dengan kerendahan hati dan kerinduan akan Tuhan, maka Roh Kudus sendiri akan memampukan pembacanya untuk memahami maksud Tuhan atas dirinya.
              Bila anda pernah diajari gereja bahwa untuk memahami Alkitab maka orang harus bertanya pada pihak yang kompeten seperti pastor / pendeta, maka saya bilang itu adalah informasi yang keliru dan sangat menyesatkan, dan itu adalah upaya pembodohan karena orang tersebut diharuskan masuk ke dalam jebakan doktrin yang sudah disetting sedemikian rupa.
              ” Sayangnya, memang 10% yang memerlukan penafsiran dapat membawa perpecahan gereja. Dan inilah yang bertentangan dengan Roh Kudus, Roh pemersatu. Justru kerendahan hati umat Katolik tercermin dari ketaatannya akan apa yang telah ditetapkan oleh Magisterium Gereja. Dengan demikian, dogma dan doktrin dapat terjaga kesatuannya dari generasi ke generasi sampai berakhirnya dunia ini. Dan untuk isu-isu yang tidak kompleks, tentu saja umat Katolik dapat menginterpretasikannya sendiri. Hal ini sebenarnya sama seperti yang dialami oleh umat Kristen non-Katolik, yang juga bertanya kepada pendetanya akan beberapa ayat Alkitab yang sulit dimengerti. Kalau pendeta mempunyai lingkup satu gereja di lingkungan, maka Magisterium Gereja mempunyai lingkup Gereja semesta (universal Church) di seluruh dunia. Jadi, sangat jauh dari kesimpulan anda yang mengatakan bahwa semua ini adalah upaya pembodohan, karena justru Magisterium Gereja memberikan kepastian akan suatu dogma dan doktrin, sehingga umat Katolik tidak tersesat. Sadar atau tidak, maka umat Kristen non-Katolik sebenarnya telah menempatkan pendetanya atau diri sendiri sebagai Magisterium Gereja.

              4. Anda mengatakan “Bicara soal tafsir-menafsir, itu seperti menebak arti mimpi, dan sifatnya sangat subyektif sekalipun tampaknya logis. Karena yang namanya tafsir / interpretasi itu berarti upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yang kurang jelas (silakan lihat artinya di KBBI (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php).” Dalam menginterpretasikan Alkitab, maka kebenaran tidak boleh saling bertentangan. Kita harus percaya akan kebenaran yang bersifat obyektif. Kebenaran subyektif justru bertentangan dengan hakekat kebenaran itu sendiri.

              Anda mengatakan “Bila ada orang normal (tidak buta huruf dan waras) membaca seluruh Alkitab tapi sama sekali tidak mengerti 1% pun maksud / isinya, menurut saya cuma ada 2 kemungkinan: orang tersebut belum memiliki kapasitas merangkaikan informasi (seperti misalnya anak kelas 2 SD, bisa membaca namun belum banyak menangkap makna), atau kemungkinan kedua, orang tersebut mengalami gangguan secara psikologis. Untuk kedua jenis orang yang saya sebutkan tadi, jika dia tidak mampu menangkap 1% pun makna yang ada di Alkitab, maka tentunya orang tesebut juga tidak mampu memahami buku-buku lain atau novel / bacaan yang isinya mengandung muatan sejenis Alkitab. Tuhan tidak diskriminatif terhadap manusia, Dia mau menerima orang bodoh maupun orang pandai.” Kalau membaca Alkitab untuk menemukan nilai-nilai moral, hukum kasih, dll, maka semua orang dapat membacanya dan mengerti. Namun, hal inipun tidaklah semudah yang anda tuliskan, sebagai contoh: apakah kontrasepsi bertentangan dengan Alkitab atau tidak? Hal ini karena memang kadang suatu kebenaran berdasarkan kebenaran yang lain.

              Anda mengatakan “Bila Tuhan hanya berkenan kepada orang yang pandai (yang mampu memahami atau menafsirkan Alkitab) maka tidak ada gunanya lagi bicara soal kasih.” Tuhan memberikan macam-macam karunia di dalam Gereja, sehingga masing-masing anggota Gereja dapat melengkapi satu sama lain. Kita harus mengakui bahwa tidak semua orang diberikan karunia mengajar, dapat masuk ke dalam misteri iman secara mendalam, dll. Hal ini tidaklah bertentangan dengan “kasih” seperti yang anda sebutkan.

              Anda mengatakan “Jadi saya harap anda tidak terjebak dalam indoktrinasi Katolik sehingga anda akan selalu merasa kalah pintar, kalah kudus, kalah saleh dibandingkan pemuka-pemuka agama anda. Yang saya maksudkan dengan kata “kalah” tersebut adalah “merasa inferior”. Kita diajarkan untuk rendah hati, namun bukan berarti rendah diri / minder / tidak percaya diri dihadapan sesama manusia. Ingatlah bahwa indoktrinasi adalah salah satu cara iblis yang paling ampuh untuk menyesatkan umat percaya. Oleh karenanya kita harus kembali kepada Alkitab untuk menguji segala sesuatu.“Anda tidak perlu merasa diindoktrinasi oleh doktrin Gereja Katolik, kalau memang ada dogma atau doktrin dari Gereja Katolik yang tidak Alkitabiah. Kerendahan hati memang tidak sama dengan rendah diri. Sadar atau tidak, Gereja Katolik maupun gereja non-Katolik dihadapkan pada pilihan: 1. merasa bahwa Roh Kudus dan saya pasti benar atau Alkitab dan saya pasti benar, sehingga tidak membutuhkan yang lain untuk menafsirkan Alkitab, 2. tahu akan keterbatasan diri sendiri, sehingga membiarkan Gereja menentukan dogma atau doktrin karena diberikan kuasa oleh Kristus sendiri. Umat Katolik mengambil alternatif ke-2, karena memang itulah yang diajarkan di dalam Alkitab. Tidak ada yang salah dengan Roh Kudus dan Alkitab, namun “saya” dapat salah bahkan sering salah. Jadi, menyadari bahwa “saya” dapat salah, maka umat Katolik mengikuti dogma dan doktrin yang telah ditetapkan oleh Magisterium Gereja, yang tidak mungkin salah, karena dilindungi oleh janji Kristus sendiri (lih. Mt 16:16-19). Dengan demikian, diskusi akan menjadi lebih substansial, kalau membahas apakah peran Magisterium Gereja atau apakah Sola Scriptura benar atau salah?

              5. Anda mengatakan “Alkitab bukan untuk ditafsirkan, namun untuk dipahami. Memang bagi sebagian besar orang, tidak semua isi Alkitab bisa dipahami dengan mudah, namun bukan berarti bahwa pesan intinya tidak bisa dimengerti. Tuhan sangat memahami manusia ciptaanNya yang sarat dengan keterbatasan dan kelemahan, dan Dia tidak pernah memerintahkan kepada kita agar memahami seluruh ayat dalam Alkitab. Seorang anak kelas 3 SD yang membaca kitab Keluaran 20:15 “Jangan mencuri”, saya pikir anak tersebut tentu bisa memahami maksudnya, apalagi kita orang dewasa. Bahkan orang-orang jalanan yang tidak pernah sekolahpun kalo kita sampaikan pesan ayat tersebut, bisa memahami maksudnya.” Yang anda sebutkan di Kel 20:15 adalah merupakan bagian dari hukum kodrat, yang diketahui oleh orang beragama maupun tidak beragama. Namun, pesan di Alkitab lebih daripada itu. Bahkan Yesus menegaskan hal ini dalam amanat agung “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:20) Dengan demikian, Yesus menginginkan agar umat Allah percaya akan segala sesuatu yang diperintahkan, termasuk adalah perintah “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54) dan juga perintah-perintah yang lain. Dan pertanyaannya adalah apakah semua denominasi mengajarkan doktrin yang sama tentang hal ini?

              6. Anda mengatakan “Jadi ketika anda berbicara soal tafsiran siapakah yang akan umat Kristen pegang, maka saya jawab dengan gampang bahwa umat Kristen tidak perlu berpegang pada tafsiran siapapun, karena Alkitab (Firman Allah) itu mampu menjelaskan diriNya kepada setiap orang yang rindu akan Kebenaran.
              Ketika 40 orang belajar di sekolah yang sama, di kelas yang sama, diajar oleh guru yang sama, dengan jam pelajaran yang sama, apakah setiap orang bisa memahaminya dengan sama? Tentu saja tidak, buktinya ada yang nilainya 100, 80, 60, 40, atau bahkan 20. Apakah buku pelajarannya yang salah? Tidak. Apakah gurunya yang salah? Tidak. Yang menyebabkan perbedaan hasil pemahaman ada beberapa faktor seperti intelegensi, kerajinan belajar, kondisi tubuh / pikiran / emosi, dsb.
              Hal ini sama dengan banyaknya perbedaan pemahaman di Protestan, dan itu adalah wajar.

              a. Kalau memang Alkitab saja (Sola Scriptura) adalah benar, bagaimana anda menjelaskan perbedaan doktrin antara satu denominasi dengan denominasi yang lain, yang semuanya mengklaim bahwa pengajarannya berasal dari Alkitab? Bagaimana seseorang menentukan mana yang benar dari pengajaran yang saling bertentangan ini?

              b. Menggunakan logika anda tentang murid yang belajar di sekolah, yang mendapat nilai bervariasi, maka kita melihat justru hal tersebut terjadi karena parameter kebenaran yang dipakai adalah tetap. Kalau guru mengajarkan 2+2=4, maka murid yang menjawab bukan 4 adalah salah. Namun, yang terjadi dalam denominasi-denominasi bukanlah demikian, karena 2+2 dapat 4 atau 5 atau 6. Dengan demikian, akan sulit sekali untuk mengetahui kebenaran yang hakiki. Hal ini adalah sama seperti Martin Luther yang percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Perjamuan Suci dan banyak denominasi-denominasi yang mengatakan Perjamuan Suci hanyalah simbol. Kalau memakai logika anda, maka guru tidak dapat membenarkan jawaban “ya” dan “tidak” dari murid-muridnya. Harus ada salah satu yang benar, sehingga terjadi kebenaran yang absolut, yang obyektif (objective truth). Dengan demikian, perbedaan doktrin dan perpecahan di dalam gereja Protestan bukanlah hal yang biasa, namun telah melanggar pesan Yesus di Yoh 17.

              c. Anda mengatakan “Kami umat protestan percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya Kebenaran, dan Alkitab mampu menjelaskan dirinya sendiri ketika manusia menghampirinya dengan kerendahan hati dan kerinduan akan Tuhan.Kalau memang mampu menjelaskan dirinya sendiri, bagaimana kehidupan jemaat awal sebelum seluruh Alkitab terbentuk – sampai sekitar tahun 100 (Kitab Wahyu)? Kalau memang mampu menjelaskan sendiri, mengapa terjadi perpecahan gereja dan pertentangan dogma dan doktrin? Kalau memang Alkitab adalah satu-satunya kebenaran, mengapa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Alkitablah sebagai satu-satunya sumber kebenaran?

              7. Sebagai penutup, saya mengundang anda untuk berdiskusi di link-link yang telah membahas topik ini secara panjang lebar. Apa yang saya tulis di atas adalah merupakan pengulangan dari jawaban-jawaban yang telah saya berikan dalam diskusi saya sebelumnya. Oleh karena itu, kalau anda ingin membahas Sola Scriptura secara lebih mendalam, silakan memberikan argumentasi di link ini – silakan klik. Dan tentang ekklesiologi dan perpecahan gereja, silakan menyampaikannya di link ini – silakan klik. Cobalah berkonsentrasi pada satu topik, sehingga pembahasan dapat lebih mendalam. Alangkah lebih baik, kalau anda juga dapat membaca diskusi di link-link tersebut sebelum memberikan argumentasi, sehingga argumentasi yang anda sampaikan bukanlah merupakan pengulangan dari yang telah dibahas. Semoga hal ini dapat diterima oleh Kevin.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              Gereja sebagai tujuan akhir hidup manusia

              (lih. Ef 1:9-10, Kol 1:15-20,26-27; 1Kor 2:7, Lumen Gentium 2, KGK 760-764)

              Pada saat penciptaan dunia, Allah telah merencanakan untuk mengangkat manusia ke dalam kehidupan Ilahi. Namun rencana persatuan Ilahi ini terhalang oleh karena dosa Adam yang kemudian diturunkan kepada semua manusia. Karenanya Allah terus menerus mengutus para nabi untuk membawa manusia kembali kepadaNya, hingga akhirnya Ia mengutus Putera-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi tebusan atas dosa-dosa manusia, supaya tidak ada lagi penghalang antara manusia dengan Allah.

              Di dalam diri Kristus, Allah yang tidak kelihatan menyatakan diriNya dan Kristus menjadi yang sulung dari segala ciptaan. Segala sesuatu diciptakan di dalam Kristus, Sang Firman, (Yoh 1:1), oleh Kristus, dan untuk Kristus. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat (lih. Kol 1:15-18, Ef 1:9-10). Karenanya, sudah sejak awal mula Allah telah merencanakan penggabungan jemaat dengan Kristus sebagai kepala yang kemudian dikenal sebagai ‘Gereja’. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada mulanya Allah menentukan orang-orang yang dipilihNya untuk menjadi serupa dengan Kristus Putera-Nya, supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara (lih. Rom 8:29). Nah, kesatuan semua manusia dengan Yesus sebagai yang sulung inilah yang disebut Gereja.

              Maka kalau ada orang bertanya pada kita sejak kapan Gereja direncanakan oleh Allah, kita dapat mengatakan bahwa Gereja sudah direncanakan sejak penciptaan dunia. Hanya saja pada waktu itu (di dalam Kitab Kejadian) belum secara eksplisit disebut sebagai ‘Gereja’. Persekutuan manusia dalam ‘wadah’ Gereja ini dipersiapkan oleh Allah melalui pembentukan bangsa Israel di masa Perjanjian Lama hingga tiba waktunya Kristus sendiri menyempurnakannya oleh kuasa Roh Kudus pada Perjanjian Baru, yang merupakan penggenapan Perjanjian Lama. Pada akhir zaman, Gereja akan mencapai kesempurnaannya, di mana semua orang benar sepanjang segala abad akan dipersatukan dengan Allah sendiri.

              Nyatalah, sebagai tujuan akhir hidup manusia, Gereja bersifat Ilahi, sebab di dalamnya manusia dipersatukan dengan Allah. Persekutuan kudus dengan Allah ini membawa manusia pada persekutuan dengan para orang kudus sepanjang zaman, karena semua orang kudus tersebut bersekutu dengan Allah, dan juga, karena kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38). Persekutuan kudus ini pula yang menjelaskan, bahwa hanya ada satu Gereja, karena hanya ada satu Tubuh Mistik Kristus, yang terdiri dari kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah mulia di surga, dan mereka yang sebelum masuk ke surga masih dimurnikan di Api Penyucian.[4] Kedua dimensi persekutuan ini –yaitu persekutuan dengan Allah dan dengan para kudusNya- menunjukkan sifat ilahi dari Gereja, yang membedakannya dari organisasi apapun di dunia.

              Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia

              (lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)

              Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[5] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.

              Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam GerejaNya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janjiNya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksiKu di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikanNya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[6]

              Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.

              • Shalom Sdr Stefanus,

                Sdr Stefanus menulis:
                Dalam menginterpretasikan Alkitab, maka kebenaran tidak boleh saling bertentangan. Kita harus percaya akan kebenaran yang bersifat obyektif. Kebenaran subyektif justru bertentangan dengan hakekat kebenaran itu sendiri.

                Kevin menanggapi:
                Justru itulah yang saya (kami umat protestan) pegang, bahwa kita harus percaya pada kebenaran yang obyektif dan konsisten. Kebenaran yang tidak konsisten bukanlah kebenaran.
                Alkitab mencatat bahwa semua manusia ditetapkan untuk mati, setelah itu dihakimi (baca Ibrani 9:27), dan Alkitab juga mencatat bahwa ada 2 manusia yang belum mati hingga detik ini (diangkat ke surga) yaitu Henokh dan Elia. Dimana konsistennya? Henokh dan Elia akan turun sebagai 2 saksi Allah di akhir jaman nanti, kemudian akan dibunuh/ mati. (baca Wahyu 11). Dengan demikian genaplah nats yang tertulis di Ibrani 9:27.
                Yang tidak konsisten itu adalah doktrin Katolik, yang meng-interpretasikan Maria diangkat hidup-hidup ke surga. Sudah tidak ada ayatnya, bahkan bertentangan dengan Ibrani 9:27, ujung-ujung penjelasannya cuma pakai exception plus hermeneutik yang penuh relativisme dengan asumsi-asumsi yang dilogis-logiskan.
                Sdr Stef, kalo kita mau bicara soal absolutisme namun diwarnai dengan exception2, maka hasil akhirnya adalah relativisme. Silakan anda renungkan.

                Sdr Stefanus menulis:
                Kalau membaca Alkitab untuk menemukan nilai-nilai moral, hukum kasih, dll, maka semua orang dapat membacanya dan mengerti. Namun, hal inipun tidaklah semudah yang anda tuliskan, sebagai contoh: apakah kontrasepsi bertentangan dengan Alkitab atau tidak? Hal ini karena memang kadang suatu kebenaran berdasarkan kebenaran yang lain.

                Kevin menanggapi:
                Allah memerintahkan manusia untuk beranak cucu dan medianya adalah melalui aktifitas sexual. Namun Alkitab tidak pernah mencatat bahwa tujuan satu-satunya dari aktifitas sexual adalah untuk beranak cucu, itu artinya Tuhan juga memberikan / mengijinkan suami istri untuk menikmati kesenangan melalui persetubuhan. Bila tujuan persetubuhan suami istri hanya untuk melahirkan anak / keturunan, maka ketika suami istri melakukan persetubuhan tanpa mengharapkan jadinya seorang anak/janin, atau bila mereka tahu bahwa persetubuhan tersebut pasti tidak dapat menghasilkan keturunan, maka pelakunya sudah berdosa. Itu artinya, semua orang mandul sudah berdosa ketika melakukan persetubuhan, karena tahu tidak bakal punya anak, tapi tetap melakukan aktifitas sexual.
                Kontrasepsi dalam pengertian mencegah pertemuan sel telur dan sperma tidak bertentangan dengan Alkitab. Yang dilarang Alkitab adalah bila sel telur dan sperma sudah bertemu alias menjadi janin, lalu dimatikan, itu sama saja dengan membunuh manusia.

                Sdr Stefanus menulis:
                Anda mengatakan “Bila Tuhan hanya berkenan kepada orang yang pandai (yang mampu memahami atau menafsirkan Alkitab) maka tidak ada gunanya lagi bicara soal kasih.” Tuhan memberikan macam-macam karunia di dalam Gereja, sehingga masing-masing anggota Gereja dapat melengkapi satu sama lain. Kita harus mengakui bahwa tidak semua orang diberikan karunia mengajar, dapat masuk ke dalam misteri iman secara mendalam, dll. Hal ini tidaklah bertentangan dengan “kasih” seperti yang anda sebutkan.

                Kevin menanggapi:
                Maksud pernyataan saya diatas adalah, bila Tuhan hanya berkenan kepada orang pandai / yang mampu memahami atau menafsirkan Alkitab saja, maka tentunya Tuhan tidak cukup bijaksana ketika Dia berkata bahwa Dia mengasihi semua manusia. Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan membeda-bedakan orang berdasarkan kepandaian / pengetahuannya. Saya tidak perlu tuliskan dimana ayat-ayatnya krn anda pasti sudah tahu.

                Sdr Stefanus menulis:
                Anda tidak perlu merasa diindoktrinasi oleh doktrin Gereja Katolik, kalau memang ada dogma atau doktrin dari Gereja Katolik yang tidak Alkitabiah. Kerendahan hati memang tidak sama dengan rendah diri. Sadar atau tidak, Gereja Katolik maupun gereja non-Katolik dihadapkan pada pilihan: 1. merasa bahwa Roh Kudus dan saya pasti benar atau Alkitab dan saya pasti benar, sehingga tidak membutuhkan yang lain untuk menafsirkan Alkitab, 2. tahu akan keterbatasan diri sendiri, sehingga membiarkan Gereja menentukan dogma atau doktrin karena diberikan kuasa oleh Kristus sendiri. Umat Katolik mengambil alternatif ke-2, karena memang itulah yang diajarkan di dalam Alkitab. Tidak ada yang salah dengan Roh Kudus dan Alkitab, namun “saya” dapat salah bahkan sering salah. Jadi, menyadari bahwa “saya” dapat salah, maka umat Katolik mengikuti dogma dan doktrin yang telah ditetapkan oleh Magisterium Gereja, yang tidak mungkin salah, karena dilindungi oleh janji Kristus sendiri (lih. Mt 16:16-19). Dengan demikian, diskusi akan menjadi lebih substansial, kalau membahas apakah peran Magisterium Gereja atau apakah Sola Scriptura benar atau salah?

                Kevin menanggapi:
                Kata “saya” yang anda tuliskan diatas adalah sebuah kata kunci yang penting bagi pembahasan sola scriptura. Sdr Stef harus ingat, bahwa kata “saya” yang anda tuliskan diatas termasuk di dalamnya adalah Petrus, seluruh Paus, dan semua manusia di bumi ini.
                Saya setuju dengan pendapat anda ini !
                Anda harus ingat bahwa dalam Magisterium Gereja Katolik juga terdapat banyak “saya-saya”, namun disisi lain anda berusaha membenarkan “saya yang dapat salah” menjadi “saya yang tidak dapat menjadi salah” dengan berlindung di bawah ayat Matius 16:16-19 dengan mempersepsikannya secara keliru.
                Katolik lebih memandang Alkitab sebagai karya / peran dominan Bapa Gereja, sedang Protestan memandang Alkitab sebagai karya Allah. Itu artinya bahwa faham Katolik akan lebih banyak diwarnai “saya-saya” plus “relativisme” dibandingkan dengan faham Protestan yang lebih absolut menerima Alkitab sebagai tulisan Allah.
                Itulah kenapa saya bisa menyebut Magisterium sebagai Babel modern, karena berusaha mempersatukan dengan keseragaman konsep yang dari semula memang sengaja “dilepaskan” Allah bagi setiap individu. Itu artinya Allah sangat memahami nature manusia, sehingga memaklumkan dengan mencukupkan Alkitab / Firman Allah sesuai dengan kadar / takaran / talent / kapasitas per individu. Pesan intinya satu: Kasih ! (Matius 22:37-40). Dan kita tahu bahwa Kasih itu Yesus (1 Yoh 4:8,16). Jadi pesan Injil sederhana, percayalah kepada Yesus sbg Tuhan dan Juruslamat. Bila bicara dalam konteks yang lain, diluar keselamatan kekal, maka perbedaan pandangan soal aturan moral ini itu kembali kepada iman (Roma 14:23b). Jadi perbedaan pandangan dalam membaca Alkitab itu adalah hal yang memang diperkenankah Allah sesuai dengan takaran masing-masing individu. Lalu apa pemersatunya? Kasih! (Kolose 3:14). Silakan anda baca Surat-surat Paulus kepada jemaat di berbagai kota, semuanya menekankan kasih persaudaraan. Menganggap persatuan tubuh Kristus sebagai Gereja secara Jasmani sama dengan menentang tindakan Tuhan ketika mengacaubalaukan Babel (Kej 11:1-7). Tahukah anda kenapa Tuhan menceraiberaikan manusia yang semula satu logat dan satu bahasa? Karena setiap persatuan manusia, ujung-ujungnya akan menghujat Tuhan, kenapa? Karena setiap persatuan pasti ada yang memimpin, dan bila kepemimpinan sudah meliputi seluruh dunia (seluruh bangsa-bangsa) itu artinya sudah merebut kedudukan Tuhan yang merupakan Allah atas semua bangsa.
                Nanti berikutnya kita bisa diskusi soal ini.

                Sdr Stefanus menulis:
                Yang anda sebutkan di Kel 20:15 adalah merupakan bagian dari hukum kodrat, yang diketahui oleh orang beragama maupun tidak beragama. Namun, pesan di Alkitab lebih daripada itu. Bahkan Yesus menegaskan hal ini dalam amanat agung “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:20) Dengan demikian, Yesus menginginkan agar umat Allah percaya akan segala sesuatu yang diperintahkan, termasuk adalah perintah “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54) dan juga perintah-perintah yang lain. Dan pertanyaannya adalah apakah semua denominasi mengajarkan doktrin yang sama tentang hal ini?

                Kevin menanggapi:
                Saya mengerti bahwa yang anda maksudkan adalah perbedaan paham transubstansiasi dengan paham transfinalisasi dalam sakramen perjamuan kudus. Saya percaya bahwa semua gereja baik Kristen maupun Katolik menerapkan sakramen ini. Namun makna yang ditekankan setiap denominasi bisa berbeda, yang satu percaya terjadinya perubahan, yang lainnya menganggap simbol. Intinya, sakramennya tetap dilaksanakan. Hal yang serupa bisa juga saya tanyakan kepada anda, kenapa Katolik tidak menjalankan perintah Yoh 6:54 tersebut secara literal? Kenapa cuma makan Tubuh Yesus saja? Berarti cuma pastornya donk yg selamat, sebab dia yang minum? Tapi saya duga, Katolik tentu akan berdalih-dalih kembali dengan persatuan tubuh Kristus, atau apalah, yang jelas perintah yang begitu jelas dan gamblang faktanya tidak dijalankan sesuai aturannya.

                Saya percaya bahwa Tuhan Yesus menginginkan agar semua umatNya tahu dan menjalankan “segala sesuatu” yang telah diajarkanNya. Namun perlu anda ketahui bahwa tidak ada satupun manusia yang sanggup menjalankan “segala sesuatu” alias “semua” yang telah diperintahkan Tuhan Yesus. Apakah itu artinya semua orang gagal? Jelas tidak, sebab segala sesuatu yang diajarkan Yesus (diluar Soteriologi dan Christologi) sifatnya adalah ajaran moral / kasih yang fungsinya bukan untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan, namun untuk menyempurnakan manusia sebelum menuju kekekalan.

                Sdr Stefanus menulis:
                b. Menggunakan logika anda tentang murid yang belajar di sekolah, yang mendapat nilai bervariasi, maka kita melihat justru hal tersebut terjadi karena parameter kebenaran yang dipakai adalah tetap. Kalau guru mengajarkan 2+2=4, maka murid yang menjawab bukan 4 adalah salah. Namun, yang terjadi dalam denominasi-denominasi bukanlah demikian, karena 2+2 dapat 4 atau 5 atau 6. Dengan demikian, akan sulit sekali untuk mengetahui kebenaran yang hakiki. Hal ini adalah sama seperti Martin Luther yang percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Perjamuan Suci dan banyak denominasi-denominasi yang mengatakan Perjamuan Suci hanyalah simbol. Kalau memakai logika anda, maka guru tidak dapat membenarkan jawaban “ya” dan “tidak” dari murid-muridnya. Harus ada salah satu yang benar, sehingga terjadi kebenaran yang absolut, yang obyektif (objective truth). Dengan demikian, perbedaan doktrin dan perpecahan di dalam gereja Protestan bukanlah hal yang biasa, namun telah melanggar pesan Yesus di Yoh 17.

                Kevin menanggapi:
                Sdr Stefanus, rupanya anda kurang memahami maksud analogi saya tentang siswa dan sekolah yang sebetulnya saya maksudkan untuk mendefinisikan kapasitas siswa, bukan untuk menjelaskan standar pengajarannya. Saya sangat percaya kebenaran yang absolut, namun pengertian anda dan saya dalam mendefinisikannya berbeda.

                Baiklah, mari kita bicara soal absolut seperti yang anda inginkan. Saya ambil contoh dari 1 Korintus 6:9:
                Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

                Ayat tersebut diatas menjelaskan dengan gamblang bahwa orang-orang yang masuk kategori itu pasti neraka. Pertanyaan saya, “orang kikir” yang seperti apa? Apa definisi kikir? Dalam takaran / batasan / dengan kriteria apa seseorang dapat disebut kikir? Tolong berikan jawaban yang absolut seperti 2+2=4. Kan anda sendiri yang bilang bahwa kita / manusia harus memahami kebenaran secara absolut, jadi tolong anda jangan membalikkan jawabannya kepada Tuhan. Saya bisa berikan puluhan ayat kepada anda, tapi rasanya satu dulu cukup.

                Alkitab mengandung kebenaran yang absolut, ya, saya setuju 100%, namun bagaimana cara mengetahui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa pandangan / pemahaman kita tentang kebenaran absolut tersebut memang sudah absolut? Jawaban anda pasti Magisterium Gereja, namun jawaban saya adalah: Tuhan yang akan menyingkapkannya seiring waktu yang berjalan. Seringkali kebenaran absolut tidak tampak seketika itu juga, dan saya rasa Tuhan punya alasan yang sangat tepat untuk tidak menggambarkan segala sesuatunya secara eksplisit karena rangkaian Firman itu mengandung misteri besar yang hanya akan dibukakan sesuai waktu Tuhan. Apa buktinya? Buktinya Gereja Katolik sendiri tidak dapat memahami kebenaran absolut tentang heliosentris yang dikemukakan oleh Galileo. GK hanya memahami kebenaran relatif yang terbatas pada panca indera dan ayat-ayat tertentu yang sama sekali tidak meneguhkan secara mutlak bahwa bumilah pusat tatasurya. Kebenaran absolutnya disingkapkan Tuhan di waktu-waktu / masa-masa berikutnya setelah era teknologi mulai berkembang. Saya harap anda tidak terjebak dalam absolutisme tanpa kerangka waktu, karena sekali lagi, Magisterium itu ditetapkan oleh “saya-saya” yang bisa salah. Alkitab tidak bisa salah, namun yang memahaminya bisa salah. Mengkultuskan GK sebagai satu-satunya gereja yang benar sama dengan pernyataan Hitler yang mengatakan bahwa bangsa Arya / Jerman adalah ras manusia terunggul di muka bumi. Kebenaran Absolut tetap dan kekal, namun pernyataan Allah kepada manusia disampaikan secara progresif, sama seperti kasus makanan halal vs haram yang disingkapkan Allah kepada Petrus, bahkan dalam kasus ini Allah sendiri yang “merevisi” dari haram ke halalnya, sedangkan kita tahu bahwa Firman Allah itu mengikat kekal sampai selamanya.

                Saya belum pernah mendengar sekolah menetapkan aturan bahwa untuk lulus nilainya untuk semua mata pelajaran harus 100 (A semua). Yang saya ketahui adalah: untuk lulus nilainya rata-ratanya harus diatas 55 (atau minimal C semua). Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, itu sudah menghasilkan nilai 55, sedangkan mentaati perintah lainnya, itu akan memberikan tambahan nilai di hari penghakiman nanti. Saya tidak percaya bahwa setiap orang harus memahami secara benar absolut seluruh isi Alkitab dan menjalankannya persis seperti perintah yang tertulis baru orang tersebut dapat masuk surga. Yang mengajarkan paham seperti ini pastilah orang yang benar-benar tidak tahu kebenaran.

                Tulisan / komentar anda yang berwarna merah itu nanti akan saya komentari sesuai forumnya, namun sebagian (soal ekklesiologi dan perpecahan sudah saya jawab diatas).

                Semoga hal ini dapat diterima oleh Sdr Stef.
                Terimakasih.

                • Shalom Kevin,

                  Terima kasih atas tanggapannya. Kalau anda memang serius untuk berdiskusi tentang topik ini, silakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dengan warna merah, baik di komentar ini maupun di komentar saya sebelumnya. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, maka dengan sangat menyesal, komentar anda lebih lanjut tidak dapat saya masukkan ke dalam website. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan atas komentar anda.

                  I. Tentang konsistensi kebenaran dan Alkitab dan analogi

                  1. Anda mengatakan “Justru itulah yang saya (kami umat protestan) pegang, bahwa kita harus percaya pada kebenaran yang obyektif dan konsisten. Kebenaran yang tidak konsisten bukanlah kebenaran.” Kalau anda percaya akan hal ini, maka bagaimana anda menerangkan hal berikut ini: Martin Luther, John Calvin, Zwingli, dan Wesley percaya bahwa Maria tetap perawan, sedangkan sekarang banyak umat dari denominasi-denominasi Kristen menolak hal ini? Lihat, apa yang dikatakan oleh para pendiri Protestan tentang keperawanan Maria:

                  a. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”[15]

                  b. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16]

                  John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

                  c. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”[18]

                  d. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”[19]

                  Kalau para pendiri gereja Protestan percaya bahwa Maria tetap perawan, mengapa setelah 500 tahun kemudian para pengikutnya menjadi tidak percaya? Apakah Alasannya? Mengapa Kitab Suci yang digunakan sama, namun kesimpulannya dapat berbeda? Apakah anda melihat adanya kebenaran yang obyektif dan konsisten dalam hal ini? Dan dimanakah letak obyektifitas dan konsitensinya?

                  2. Anda mengatakan “Yang tidak konsisten itu adalah doktrin Katolik, yang meng-interpretasikan Maria diangkat hidup-hidup ke surga. Sudah tidak ada ayatnya, bahkan bertentangan dengan Ibrani 9:27, ujung-ujung penjelasannya cuma pakai exception plus hermeneutik yang penuh relativisme dengan asumsi-asumsi yang dilogis-logiskan. Sdr Stef, kalo kita mau bicara soal absolutisme namun diwarnai dengan exception2, maka hasil akhirnya adalah relativisme. Silakan anda renungkan.

                  a. Dalam hal ini, anda telah salah paham tentang apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik tentang Maria diangkat ke Sorga. Gereja Katolik tidak pernah mendefinisikan bahwa Maria diangkat hidup-hidup ke Sorga. Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3), Bapa Paus Pius XI mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik, mengacu pada ayat Gal 4:4, di mana dikatakan, “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.
                  Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia. Jadi, dalam hal ini tidak menjadi masalah apakah Maria diangkat ke Sorga pada waktu dia hidup maupun setelah dia meninggal. St. Thomas mengajarkan bahwa mengikuti kematian Puteranya, maka Bunda Maria meninggal dan kemudian setelah meninggal, dia diangkat tubuh dan jiwanya ke Sorga. Dogma ini berkaitan dengan dogma Maria dilahirkan tanpa dosa (immaculate conception).

                  b. Kita juga melihat perkembangan dari dogma ini, yang terlihat dari liturgi gereja. Liturgi memang tidak menyebabkan/ menjadi sumber iman Katolik, tetapi merupakan hasil/ disebabkan oleh iman Katolik. Jadi liturgi di sini adalah seperti buah yang dihasilkan dari pohon (lihat MD 20). Maka di sini diketahui bahwa iman Gereja tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga, telah lama berakar dalam Gereja. Para kudus yang mengajarkan hal ini antara lain adalah: St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), (1206-1280), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albert Agung, St. Benardinus (1380-1404), St. Robertus Belarminus (1542-1621), St. St. Petrus Kanisius (1520-1597), Alphosus Liguori (1696-1787). [lihat uraian MD 26-36].

                  c. Dengan demikian, dogma ini tidaklah bertentangan dengan Ibr 9:27, karena pengangkatan Maria adalah dapat terjadi setelah kematiannya (setelah genap waktunya). Doktrin ini mengatakan “…having completed the course of her earthly life,was assumedbody and soul into heavenly glory.” Pope Pius XII, 1950 ” Dan pengangkatan tubuh dan jiwa ini adalah merupakan janji bagi seluruh umat manusia yang bertekun dalam iman. Silakan melihat penjelasan tentang hal ini di sini – silakan klik. Bahkan Martin Luther mengatakan “There can be no doubt that the Virgin Mary is in Heaven. How it happened we do not know.” (Martin Luther’s Works, vol 10, pg 268).

                  d. Jadi, kalau anda mengatakan “ujung-ujung penjelasannya cuma pakai exception plus hermeneutik yang penuh relativisme dengan asumsi-asumsi yang dilogis-logiskan.“, maka harus dibuktikan lebih jauh. Bukankah anda telah memakai argumentasi yang sama dalam diskusi dengan saya tentang penal substitution di sini – silakan klik. Dengan argumentasi yang sama, anda sampai pada kesimpulan bahwa Yesus berdosa, sehingga Dia harus mengalami kematian, karena upah dosa adalah maut. Namun, kesimpulan ini malah bertentangan dengan Ibr 4:15. Dengan demikian, sering terjadi, bahwa ada dua kebenaran yang “terlihat” saling bertentangan. Dan kalau mau mengatakan relativism dan asumsi-asumsi yang dilogis-logiskan, anda juga harus menjelaskan apakah asumsi yang dipakai oleh Martin Luther, Calvin, Zwingli, Wesley yang percaya akan Maria tetap perawan dan asumsi apakah yang dipakai oleh para pengikutnya yang tidak percaya akan Maria yang tetap perawan?

                  Sdr Stef, kalo kita mau bicara soal absolutisme namun diwarnai dengan exception2, maka hasil akhirnya adalah relativisme. Silakan anda renungkan.” Mengapa tidak boleh ada “perkecualian” di dalam Alkitab, selama tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran yang ingin disampaikan dalam Alkitab? Contoh: Alkitab berkata bahwa sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa semua manusia dikandung dan lahir dalam dosa dan bahkan berbuat dosa (Ayb 25:4 Mzm 51:7 Mzm 58:4 Pkh 7:20 Rm 3:10-12,23 Rm 5:12,19). Kalau demikian, apakah Yesus, yang sungguh manusia (dan sungguh Allah) juga berdosa? Dengan demikian, kita harus melihat seluruh kebenaran yang dipaparkan di hadapan kita. Untuk itu, sebagai umat Katolik, kami berpegang pada keputusan Magisterium Gereja. Namun, anda yang tidak mempunyai Magisterium Gereja tidak terbebas dari masalah, bahkan mungkin anda mempunyai masalah lebih besar. Bahkan baik disadari atau tidak, anda tidak dapat terlepas dari asumsi-asumsi yang anda pegang, yang justru seringkali diyakini bahwa pendapat andalah yang terbenar karena menganggap telah membaca Alkitab dengan terang Roh Kudus. Namun, sering kenyataannya, ada begitu banyak pertentangan doktrin antara denominasi, seperti tentang: keperawanan Maria, Ekaristi, dll. Pertanyaan saya: darimanakah sumber perbedaan doktrin di antara denominasi-denominasi? Hermeneutik apakah yang dipakai sehingga terjadi perbedaan doktrin?

                  3. Di bagian akhir tentang analogi siswa yang sedang belajar, anda menuliskan “Sdr Stefanus, rupanya anda kurang memahami maksud analogi saya tentang siswa dan sekolah yang sebetulnya saya maksudkan untuk mendefinisikan kapasitas siswa, bukan untuk menjelaskan standar pengajarannya. Saya sangat percaya kebenaran yang absolut, namun pengertian anda dan saya dalam mendefinisikannya berbeda.” Semua orang tahu bahwa setiap siswa mempunyai kapasitas yang berbeda-beda. Namun, kapasitas yang berbeda-beda ini tidaklah menghapus takaran kebenaran yang sama, karena kodrat dari kebenaran yang obyektif. Dengan demikian, kebenaran adalah lebih besar dari kapasitas masing-masing siswa, karena tidak perduli siswa tersebut salah atau benar menjawab suatu persoalan, namun kebenaran yang dipakai adalah sama.

                  a. Anda mengatakan “Baiklah, mari kita bicara soal absolut seperti yang anda inginkan. Saya ambil contoh dari 1 Korintus 6:9:
                  Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

                  Ayat tersebut diatas menjelaskan dengan gamblang bahwa orang-orang yang masuk kategori itu pasti neraka. Pertanyaan saya, “orang kikir” yang seperti apa? Apa definisi kikir? Dalam takaran / batasan / dengan kriteria apa seseorang dapat disebut kikir? Tolong berikan jawaban yang absolut seperti 2+2=4. Kan anda sendiri yang bilang bahwa kita / manusia harus memahami kebenaran secara absolut, jadi tolong anda jangan membalikkan jawabannya kepada Tuhan. Saya bisa berikan puluhan ayat kepada anda, tapi rasanya satu dulu cukup.

                  1. Di jawaban saya sebelumnya, saya mengatakan “Menggunakan logika anda tentang murid yang belajar di sekolah, yang mendapat nilai bervariasi, maka kita melihat justru hal tersebut terjadi karena parameter kebenaran yang dipakai adalah tetap“. Contoh 2+2=4 hanyalah untuk menyatakan adanya suatu parameter kebenaran yang dipakai untuk menentukan kebenaran, dalam hal ini adalah ilmu matematika. Tentu saja dalam menentukan kebenaran iman dan moral tidaklah semudah seperti ilmu empiris – yang dapat dibuktikan secara empiris.

                  2. Di ayat di atas, terlihat jelas, bahwa yang absolut dari ayat tersebut adalah orang yang tidak adil tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah. Jadi, dengan demikian, semua contoh-contoh di atas adalah merupakan manifestasi dari ketidakadilan. Dan takaran manifestasi keadilan inilah yang dapat berbeda. Dalam matematika kita dapat mengukur secara pasti 2+2=4, namun dalam masalah iman dan moral, kita tetap mempunyai kepastian walaupun tidak dalam pembuktian empiris, sebagai contoh dalam moral kita mengenal tiga parameter: (a) obyek moral / moral object, (b) keadaan / circumstances, (c) tujuan / intention. Dan untuk melihat keputusan-keputusan yang sulit, kita dapat memakai double effectsilakan klik. Kalau anda ingin membahas tentang kikir, silakan memberikan parameter dari keadaan dan tujuan, karena obyek moralnya sudah pasti salah – menyalahi keadilan. Tentu saja analisanya akan lebih sulit daripada 2+2=4. Namun, tidak berarti bahwa kita tidak mempunyai parameter sama sekali untuk menentukan apakah satu perbuatan adalah baik atau buruk secara moral.

                  3. Justru dengan kondisi seperti inilah, maka setiap orang tidak dapat serta merta menganggap interpretasi yang dipegangnya adalah benar, karena hal ini dapat mengarah kepada relativism. Jadi, kembali ke pertanyaan sebelumnya. Kalau anda juga percaya akan kebenaran yang bersifat obyektif, bagaimana anda menyikapi kondisi nyata ini:

                  Hal ini adalah sama seperti Martin Luther yang percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Perjamuan Suci dan banyak denominasi-denominasi yang mengatakan Perjamuan Suci hanyalah simbol. Kalau memakai logika anda, maka guru tidak dapat membenarkan jawaban “ya” dan “tidak” dari murid-muridnya. Harus ada salah satu yang benar, sehingga terjadi kebenaran yang absolut, yang obyektif (objective truth). Dengan demikian, perbedaan doktrin dan perpecahan di dalam gereja Protestan bukanlah hal yang biasa, namun telah melanggar pesan Yesus di Yoh 17.

                  Jadi, dalam kasus ini, bagaimana seseorang mengetahui kebenaran, kalau jawabannya bisa “ya” dan bisa “tidak” untuk suatu kondisi yang sama namun saling mengkontradiksi?

                  b. Anda mengatakan “Alkitab mengandung kebenaran yang absolut, ya, saya setuju 100%, namun bagaimana cara mengetahui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa pandangan / pemahaman kita tentang kebenaran absolut tersebut memang sudah absolut? Jawaban anda pasti Magisterium Gereja, namun jawaban saya adalah: Tuhan yang akan menyingkapkannya seiring waktu yang berjalan.

                  1. Apa yang anda katakan adalah benar, bahwa umat Katolik akan melihat keputusan-keputusan dari Magisterium Gereja, yang pasti tidak akan bertentangan dengan Alkitab, karena dilindungi oleh Kristus sendiri (lih Mt 16:16-19). Anda mengatakan “Saya harap anda tidak terjebak dalam absolutisme tanpa kerangka waktu.”Kebenaran yang dinyatakan oleh Gereja bukan berarti diungkapkan secara penuh pada waktu-waktu awal. Bisa saja suatu kebenaran telah mempunyai tunas di Alkitab, berkembang dengan kesaksian dari Bapa Gereja, sampai akhirnya menjadi matang dan dinyatakan sebagai suatu dogma. Inilah yang disebut “organic development“, yaitu seperti pohon yang kecil dan berkembang menjadi besar. Namun perkembangan suatu doktrin tidak mungkin dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dan tidak mungkin dari “tidak ada” menjadi “ada” atau sebaliknya. Inilah yang membuat Cardinal Newman menjadi Katolik setelah menyelidiki perkembangan doktrin di dalam Gereja Katolik yang organik dan konsisten, yang dituliskannya dalam bukunya “The development of Christian Doctrine

                  Namun, apa yang terjadi di dalam gereja-gereja Protestan bukanlah perkembangan doktrin secara organik, karena seperti contoh yang saya sebutkan tentang Ekaristi, maka terlihat bahwa Martin Luther mengatakan “ya” terhadap kehadiran Kristus secara nyata dan kemudian generasi-generasi berikutnya mengatakan “tidak” untuk kondisi yang sama. Saya setuju dengan pertanyaan anda “Seringkali kebenaran absolut tidak tampak seketika itu juga, dan saya rasa Tuhan punya alasan yang sangat tepat untuk tidak menggambarkan segala sesuatunya secara eksplisit karena rangkaian Firman itu mengandung misteri besar yang hanya akan dibukakan sesuai waktu Tuhan.” Namun, kuncinya tidak mungkin kebenaran menjadi saling bertentangan. Kebenaran dapat berkembang dari kurang jelas ke lebih jelas, sampai akhirnya didefisikan sebagai dogma. Namun, kebenaran tidak mungkin bertentangan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.

                  2. Anda mengatakan “Apa buktinya? Buktinya Gereja Katolik sendiri tidak dapat memahami kebenaran absolut tentang heliosentris yang dikemukakan oleh Galileo. GK hanya memahami kebenaran relatif yang terbatas pada panca indera dan ayat-ayat tertentu yang sama sekali tidak meneguhkan secara mutlak bahwa bumilah pusat tatasurya. Kebenaran absolutnya disingkapkan Tuhan di waktu-waktu / masa-masa berikutnya setelah era teknologi mulai berkembang.” Pembahasan tentang Galileo Galilee dapat dilihat di sini – silakan klik. Silakan membaca jawaban tersebut, yang menyatakan bahwa sebelum Galileo, Nicolaus Copernicus sebenarnya telah mempresentasikan teori heliocentric – hanya pada waktu itu masih berupa hipotesa, serta telah dijabarkan keterangan-keterangan yang lain, yang menunjukkan bahwa Gereja tidaklah anti ilmu pengetahuan. Kemudian, pengajaran Gereja Katolik yang tidak mungkin salah hanyalah menyangkut iman dan moral, yang dinyatakan secara formal dan berlaku untuk seluruh umat beriman di seluruh dunia. Dengan demikian, tidaklah tepat untuk membandingkan kebenaran science dengan kebenaran iman dan moral, karena salah satu sumber kebenaran – Alkitab – bukanlah buku ilmu pengetahuan. Yang berarti Gereja tidak pernah menyatakan suatu pengajaran tentang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang mengikat umat beriman.

                  2. Anda mengatakan “Magisterium itu ditetapkan oleh “saya-saya” yang bisa salah. Alkitab tidak bisa salah, namun yang memahaminya bisa salah.Kembali, kalau Magisterium Gereja, yang anda anggap “saya-saya”, yang sebenarnya telah diberi kuasa oleh Kristus untuk mengembalakan umat (lih. Mt 16:16-19; Yoh 20:15-17) dapat salah, maka bagaimana seseorang – seperti Martin Luther, anda, pendeta – dapat mengetahui bahwa yang mereka percayai adalah benar?

                  Anda melanjutkan dengan “Mengkultuskan GK sebagai satu-satunya gereja yang benar sama dengan pernyataan Hitler yang mengatakan bahwa bangsa Arya / Jerman adalah ras manusia terunggul di muka bumi.” Kalau Kristus tidak pernah memberikan kuasa kepada Gereja-Nya, maka pernyataan anda adalah benar. Kalau Kristus telah memberikan kuasa kepada Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik, maka orang yang tidak mengikuti perintah Kristus justru menjadi salah. Perbedaan Gereja katolik dengan Hitler adalah Hitler tidak pernah diberikan kuasa oleh Kristus sedangkan Kristus memberikan kuasa kepada Gereja Katolik. Pertanyaan saya, dalam tingkat gereja lokal, apakah anda percaya bahwa apa yang diajarkan oleh gereja anda adalah yang paling benar? Apakah ada gereja lain, yang mempunyai pengajaran yang lebih benar dari gereja yang anda ikuti saat ini? Atau apakah anda menganggap pengertian anda yang paling benar dan tidak perduli pengajaran dari gereja anda maupun gereja lain, sejauh anda merasa bahwa pengertian anda adalah sesuai dengan Alkitab dan Roh Kudus? Parameter apakah yang anda gunakan untuk menentukan hal ini?

                  c. Anda mengatakan “Saya belum pernah mendengar sekolah menetapkan aturan bahwa untuk lulus nilainya untuk semua mata pelajaran harus 100 (A semua). Yang saya ketahui adalah: untuk lulus nilainya rata-ratanya harus diatas 55 (atau minimal C semua). Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, itu sudah menghasilkan nilai 55, sedangkan mentaati perintah lainnya, itu akan memberikan tambahan nilai di hari penghakiman nanti.

                  1. Kalau anda ingin berargumentasi bahwa percaya kepada Kristus saja sudah cukup, sedangkan sisanya adalah seperti bonus tambahan, maka tidaklah sesuai dengan pesan terakhir dari Kristus sebelum diangkat ke Sorga, yaitu “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20). Kita melihat elemen-elemen lain dalam keselamatan, yaitu menjadi murid Kristus, baptisan, melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Kristus (termasuk di dalamnya adalah sakramen-sakramen, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, perbuatan kasih, dll.)

                  2. Anda mengatakan “Saya tidak percaya bahwa setiap orang harus memahami secara benar absolut seluruh isi Alkitab dan menjalankannya persis seperti perintah yang tertulis baru orang tersebut dapat masuk surga. Yang mengajarkan paham seperti ini pastilah orang yang benar-benar tidak tahu kebenaran.” Pertanyaannya bukan pada setiap orang harus memahami secara benar absolut seluruh isi Alkitab, namun sampai seberapa jauh setiap orang benar-benar mencari kebenaran dengan seluruh hati, pikiran dan kekuatan, serta meletakkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Setiap orang mempunyai kapasitas untuk mencari dan mengerti kebenaran. Oleh karena itu, setiap orang harus mempergunakan seluruh keberadaan dirinya untuk mencari kebenaran, dan dalam kapasitasnya masing-masing hidup menurut kebenaran tersebut. Sebagai contoh: kebenaran tentang Gereja manakah yang didirikan oleh Kristus – satu gereja atau banyak gereja, kebenaran akan Ekaristi – nyata atau sekedar simbol, dll. Setiap orang pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan hal ini dihadapan Kristus. Dan hanya Kristus Sendirilah yang tahu secara persis apakah seseorang telah mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh dan hidup dalam kebenaran, serta berjuang dengan sepenuh hati dalam kekudusan. Dan perintah Kristus adalah “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mt 5:48)

                  II. Tentang ajaran moral dalam Alkitab

                  Anda mengatakan “Allah memerintahkan manusia untuk beranak cucu dan medianya adalah melalui aktifitas sexual. Namun Alkitab tidak pernah mencatat bahwa tujuan satu-satunya dari aktifitas sexual adalah untuk beranak cucu, itu artinya Tuhan juga memberikan / mengijinkan suami istri untuk menikmati kesenangan melalui persetubuhan.

                  a. Anda mengatakan “ Kontrasepsi dalam pengertian mencegah pertemuan sel telur dan sperma tidak bertentangan dengan Alkitab. Yang dilarang Alkitab adalah bila sel telur dan sperma sudah bertemu alias menjadi janin, lalu dimatikan, itu sama saja dengan membunuh manusia.” Kalau anda menuliskan hal di atas sebelum tahun 1930, maka semua gereja dari aliran manapun akan tidak setuju dengan pandangan anda, karena semua gereja menyetujui bahwa kontrasepsi adalah sesuatu yang berdosa. Dengan anda menuliskan bahwa kontrasepsi dalam pengertian mencegah pertemuan sel telur dan sperma adalah tidak bertentangan dengan Alkitab, maka anda telah melanggar salah satu tujuan dari seksual, yaitu untuk menghasilkan keturunan, seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Tanpa membuka diri terhadap terjadinya keturunan dalam hubungan seksual (misal: memakai kondom, dll), maka hubungan seksual hanyalah sebagai sarana untuk mencari kesenangan dan kenikmatan. Pertanyaannya adalah, mengapa semua gereja setuju bahwa kontrasepsi berdosa sebelum tahun 1930 dan kemudian setelah itu mereka menyatakan bahwa kontrasepsi tidak berdosa dan hanya Gereja Katolik sajalah yang tetap bertahan dengan pengajaran bahwa kontrasepsi adalah berdosa?

                  b. Dalam point ini, kita tidak mendiskusikan tentang kontrasepsi secara mendalam. Kalau anda mau berdiskusi tentang apakah kontrasepsi berdosa atau tidak, maka anda dapat melihat link ini – silakan klik. Pada point ini, kita melihat bahwa dalam hal moralpun tidaklah semudah yang anda katakan, bahwa semua orang yang membaca Alkitab akan langsung tahu apakah suatu tindakan moral salah atau benar, karena memang ada banyak kondisi moral yang dihasilkan dari kebenaran-kebenaran yang lain.

                  c. Anda mengatakan “Bila tujuan persetubuhan suami istri hanya untuk melahirkan anak / keturunan, maka ketika suami istri melakukan persetubuhan tanpa mengharapkan jadinya seorang anak/janin, atau bila mereka tahu bahwa persetubuhan tersebut pasti tidak dapat menghasilkan keturunan, maka pelakunya sudah berdosa. Itu artinya, semua orang mandul sudah berdosa ketika melakukan persetubuhan, karena tahu tidak bakal punya anak, tapi tetap melakukan aktifitas sexual.” Dalam pandangan Gereja Katolik, hubungan seksual mempunyai dua dimensi: procreation dan prounion. Procreation adalah untuk menghasilkan keturunan dan prounion adalah untuk persatuan suami istri. Kedua hal ini tidak boleh terpisahkan dalam hubungan seksual suami istri. Jadi, dalam kondisi suami istri tidak mengharapkan keturunan atau suami istri yang mandul, maka hubungan seksual yang normal (tanpa kontrasepsi) tidaklah berdosa, karena dari pihak suami istri tidak mencoba untuk menutup kemungkinan untuk mendapatkan keturunan, misalkan dengan kontrasepsi. Ini berarti sang pasangan tetap terbuka terhadap kelahiran kalau memang Tuhan mau memberikan keturunan kepada mereka – walaupun secara medis tidaklah mungkin.

                  III. Tentang Magisterium Gereja

                  1. Anda mengatakan “Kata “saya” yang anda tuliskan diatas adalah sebuah kata kunci yang penting bagi pembahasan sola scriptura. Sdr Stef harus ingat, bahwa kata “saya” yang anda tuliskan diatas termasuk di dalamnya adalah Petrus, seluruh Paus, dan semua manusia di bumi ini.” Perbedaannya adalah Yesus tidak pernah bicara kepada saya, anda dan banyak orang sebagaimana Yesus bicara kepada Petrus di Mt 16:16-19. Dengan demikian “saya/anda” dan Petrus dan seluruh Paus menjadi begitu berbeda. Yesus membangun Gereja di atas Petrus dan memberikan kuasa kepada Petrus untuk memegang kunci Sorga, namun Yesus tidak pernah memberikan kepada kita kunci Sorga. Kalau anda tidak setuju dengan hal ini, silakan bergabung dalam diskusi dengan Sherly di sini – silakan klik.

                  2. Anda mengatakan “Anda harus ingat bahwa dalam Magisterium Gereja Katolik juga terdapat banyak “saya-saya”, namun disisi lain anda berusaha membenarkan “saya yang dapat salah” menjadi “saya yang tidak dapat menjadi salah” dengan berlindung di bawah ayat Matius 16:16-19 dengan mempersepsikannya secara keliru.

                  a. Dalam Gereja Katolik, Magisterium Gereja Katolik adalah Paus, para kuria, dan para uskup di seluruh dunia. Keputusan yang tak dapat salah dapat dikeluarkan oleh Paus maupun seluruh uskup dalam suatu konsili atau seluruh uskup dalam persatuan dengan Paus, mengenai iman dan moral serta mengikat seluruh umat beriman di dunia. Dan memang Mt 16:16-19 inilah yang menjadi dasar dari semua ini. Kalau anda tidak setuju, maka silakan memberikan argumentasi di diskusi tentang hal ini di sini – silakan klik, sebelum anda menyatakan bahwa pandangan ini adalah keliru. Kalau dengan asumsi anda bahwa semua orang dapat menginterpretasikan Alkitab sendiri-sendiri, maka dasar apakah yang anda pakai? Bagaimana juga anda melihat perbedaan doktrin antara satu denominasi dengan denominasi yang lain?

                  b. Kalau anda mengatakan “Katolik lebih memandang Alkitab sebagai karya / peran dominan Bapa Gereja, sedang Protestan memandang Alkitab sebagai karya Allah.“, maka sebenarnya anda telah salah dalam mengerti pandangan Gereja Katolik tentang Alkitab. Gereja Katolik percaya bahwa Alkitab adalah karya Allah. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana Allah memberikan Alkitab ini kepada manusia? Kita melihat bahwa Alkitab ini tidak diturunkan dari langit dalam bentuk Alkitab yang kita kenal saat ini, namun ditentukan oleh Gereja Katolik. Kalau anda tidak setuju dengan hal ini, silakan bergabung dalam diskusi yang panjang di sini – silakan klik.

                  c. Anda mengatakan “ Itu artinya bahwa faham Katolik akan lebih banyak diwarnai “saya-saya” plus “relativisme” dibandingkan dengan faham Protestan yang lebih absolut menerima Alkitab sebagai tulisan Allah.” Perbedaannya adalah “saya” di dalam Gereja Katolik dilindungi oleh kuasa Kristus (lih. Mt 16:16-19) dan “saya” di dalam Gereja Katolik adalah 1, yaitu Magisterium Gereja Katolik, sehingga memungkinkan pengajaran yang sama dari satu generasi ke generasi yang lain dan tidak mungkin salah. Sedangkan dalam paham Protestan, maka “saya” berjumlah sebanyak umat/denominasi yang ada, karena paham Sola Scriptura. Dengan demikian, silakan menilai sendiri, mana yang memberikan paham relativism. Kembali, saya ingin bertanya, mengapa terjadi perpecahan sampai ada 28,000 denominasi, yang mengajarkan doktrin yang berbeda-beda? Martin Luther, Calvin, Zwingli, Wesley yang percaya akan Maria yang tetap perawan dan sekarang banyak umat Kristen tidak percaya. Bukankah kebenaran menjadi sesuatu yang relatif? Martin Luther yang percaya akan kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi dan kemudian banyak denominasi yang lain hanya melihatnya sebagai suatu simbol. Bukankah kebenaran menjadi sesuatu yang relatif? Kalau demikian, bagaimana faham Protestan yang anda pandang lebih absolut menerima Alkitab sebagai tulisan Allah dapat dijelaskan dengan perpecahan dan perbedaan pengajaran – karena kalau absolut, seharusnya tidak perlu ada perpecahan?

                  3. Anda mengatakan “Itulah kenapa saya bisa menyebut Magisterium sebagai Babel modern, karena berusaha mempersatukan dengan keseragaman konsep yang dari semula memang sengaja “dilepaskan” Allah bagi setiap individu. Itu artinya Allah sangat memahami nature manusia, sehingga memaklumkan dengan mencukupkan Alkitab / Firman Allah sesuai dengan kadar / takaran / talent / kapasitas per individu. Pesan intinya satu: Kasih ! (Matius 22:37-40). Dan kita tahu bahwa Kasih itu Yesus (1 Yoh 4:8,16). Jadi pesan Injil sederhana, percayalah kepada Yesus sbg Tuhan dan Juruslamat. Bila bicara dalam konteks yang lain, diluar keselamatan kekal, maka perbedaan pandangan soal aturan moral ini itu kembali kepada iman (Roma 14:23b).

                  a. Jadi anda ingin mengatakan bahwa keseragaman doktrin tidak sesuai dengan pesan Allah? Dan anda mengatakan bahwa interpretasi dari setiap individu adalah benar walaupun interpretasi individu dapat berbeda-beda, terutama dalam pengajaran-pengajaran yang sulit, karena begitulah Allah merencanakannya?

                  b. Tentu saja memang tidak ada yang menolak bahwa pesan dari Alkitab adalah kasih, karena Allah adalah kasih. Namun, kita juga tidak dapat menolak kalau pesan dari Alkitab juga untuk mengajarkan semua yang Yesus ajarkan, termasuk apakah Yesus mengajarkan kehadiran-Nya secara nyata dalam perayaan Ekaristi atau tidak, apakah Yesus mengajarkan Sakramen Tobat atau tidak, dll.

                  c. Anda mengatakan “Jadi perbedaan pandangan dalam membaca Alkitab itu adalah hal yang memang diperkenankah Allah sesuai dengan takaran masing-masing individu. Lalu apa pemersatunya? Kasih! (Kolose 3:14)” Kalau anda mengatakan bahwa persatuan tubuh Kristus adalah kasih, maka ini akan benar, kalau tidak ada perpecahan dalam denominasi-denominasi Kristen. Justru perpecahan inilah yang disoroti oleh St. Agustinus, sebagai suatu tindakan yang tidak mencerminkan kasih. Inilah juga yang menjadi salah satu masalah pada jemaat di Korintus, yang walaupun dikarunia begitu banyak karunia Roh Kudus, namun terjadi perpecahan. Jadi, bagaimana anda menghubungkan kasih dengan fakta perpecahan?

                  d. Anda mengatakan “Menganggap persatuan tubuh Kristus sebagai Gereja secara Jasmani sama dengan menentang tindakan Tuhan ketika mengacaubalaukan Babel (Kej 11:1-7). Tahukah anda kenapa Tuhan menceraiberaikan manusia yang semula satu logat dan satu bahasa? Karena setiap persatuan manusia, ujung-ujungnya akan menghujat Tuhan, kenapa? Karena setiap persatuan pasti ada yang memimpin, dan bila kepemimpinan sudah meliputi seluruh dunia (seluruh bangsa-bangsa) itu artinya sudah merebut kedudukan Tuhan yang merupakan Allah atas semua bangsa.
                  Nanti berikutnya kita bisa diskusi soal ini.
                  ” Kalau tidak ada persatuan hirarki dan kemudian seluruh umat Allah bersatu padu, maka pendapat anda benar sekali. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa tanpa adanya hirarki, maka gereja menjadi terpecah-belah. Kalau demikian, pertanyaan yang sama saya ajukan: Jadi, mengapa terjadi perpecahan gereja, kalau memang benar bahwa tidak perlu ada hirarki? Dalam tingkat gereja lokal, mengapa anda mempunyai pendeta yang memimpin jemaat? Apakah perbedaan antara pemimpin jemaat lokal dan pemimpin umat Katolik sedunia? Apakah salahnya kalau Gereja Katolik mengikuti perintah Kristus, yang membangun Gereja-Nya di atas Rasul Petrus, yang diteruskan oleh para Paus, sehingga terjadi kesatuan umat beriman? Kalau ini anda pandang salah, apakah kemudian perpecahan di antara denominasi-denominasi yang melanggar Yoh 17 adalah tidak salah?

                  IV. Tentang Ekaristi

                  Anda mengatakan “Saya mengerti bahwa yang anda maksudkan adalah perbedaan paham transubstansiasi dengan paham transfinalisasi dalam sakramen perjamuan kudus. Saya percaya bahwa semua gereja baik Kristen maupun Katolik menerapkan sakramen ini. Namun makna yang ditekankan setiap denominasi bisa berbeda, yang satu percaya terjadinya perubahan, yang lainnya menganggap simbol. Intinya, sakramennya tetap dilaksanakan. Hal yang serupa bisa juga saya tanyakan kepada anda, kenapa Katolik tidak menjalankan perintah Yoh 6:54 tersebut secara literal? Kenapa cuma makan Tubuh Yesus saja? Berarti cuma pastornya donk yg selamat, sebab dia yang minum? Tapi saya duga, Katolik tentu akan berdalih-dalih kembali dengan persatuan tubuh Kristus, atau apalah, yang jelas perintah yang begitu jelas dan gamblang faktanya tidak dijalankan sesuai aturannya.

                  a. Sungguh sangat disayangkan bahwa anda menganggap bahwa yang penting sakramen tetap dilaksanakan, walaupun yang satu menganggap simbol dan yang lain menganggap sebagai kehadiran yang nyata. Dua hal yang saling bertentangan tersebut adalah suatu perbedaan yang besar. Martin Luther sendiri mengatakan “Who, but the devil, hath granted such a license of wresting the words of the holy Scripture? who ever read in the Scriptures, that my body is the same as the sign of my body? or, that is is the same as it signifies? what language in the world ever spoke so? It is only then the devil, that imposeth upon us by these fanatical men…. Not one of the Fathers, though so numerous, ever spoke as the Sacramentarians: not one of them ever said, It is only bread and wine; or, the body and blood of Christ is not there present. Surely it is not credible, nor possible, since they often speak, and repeat their sentiments, that they should never (if they thought so) not so much as once, say, or let slip these words: It is bread only; or the body of Christ is not there, especially it being of great importance, that men should not be deceived. Certainly in so many Fathers, and in so many writings, the negative might at least be found in one of them, had they thought the body and blood of Christ were not really present: but they are all of them unanimous.” (LUTHER’S COLLECTED WORKS, Wittenburg Edition, no. 7, p. 391).

                  Apakah anda ingin mengatakan bahwa Martin Luther membuat kesalahan penafsiran dalam hal ini dan dia terlalu berlebih-lebihan ketika dia mengatakan bahwa yang berpendapat bahwa Tubuh Kristus merupakan simbol telah memutarbalikkan Alkitab dan dapat disebut devil? Dan apakah dasar pemikiran anda?

                  b. Tentang Yoh 6:54, yang mengatakan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman“, maka anda mempunyai permasalahan lebih besar daripada umat Katolik. Kalau makan daging saja tanpa minum darah anda permasalahkan, maka anda seharusnya mempermasalahkan sesuatu yang lebih besar, yaitu apakah dengan demikian tubuh dan darah Kristus diartikan secara literal benar-benar Tubuh dan Darah Kristus ataukah hanya sekedar simbo? Saya mengundang anda untuk berdiskusi tentang apakah hal ini secara mendalam di sini – silakan klik dan ini – silakan klik.

                  c. Tentang praktek makan tubuh dan minum darah Kristus banyak dilakukan di gereja-gereja Amerika. Namun, banyak gereja hanya memberikan Tubuh Kristus, dengan pertimbangan sebagai berikut – silakan melihat jawaban lengkapnya di sini – silakan klik.

                  1. Yesus sendiri mengatakan bahwa Diri-Nya adalah Roti Hidup yang turun dari Sorga.

                  “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan ini adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (Yoh 6:51). Jadi ayat ini menjadi satu kesatuan dengan ayat ke 53, 54, 56, yang menyebutkan, ‘makan daging-Nya dan minum darahNya’ sebagai syarat kehidupan kekal. Demikian juga pada ayat 57, Yesus berkata, “…barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Nah, hal ini sejalan dengan Rom 5:9-10 yang mengatakan, “…kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan… oleh hidup-Nya!”. Jadi penebusan dosa oleh darah Yesus itu sejalan dengan keselamatan yang kita peroleh dari Yesus, sang Roti Hidup, yang memberikan hidup-Nya kepada kita. Maka Tubuh dan Darah Yesus merupakan satu kesatuan. Penumpahan darah-Nya yang terjadi di kayu salib, bukan merupakan ‘pemisahan’ antara Tubuh dan Darah yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan untuk menunjukkan bahwa darah itu adalah darah Perjanjian Baru yang menjadi pemenuhan Perjanjian Lama, di mana segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa darah tidak ada pengampunan (Ibr 9: 22).

                  2. Tubuh dan darah Kristus adalah merupakan kesatuan.

                  Dengan demikian, roti yang pada saat konsekrasi telah diubah menjadi Tubuh Kristus dan anggur diubah menjadi oleh kuasa Roh Kudus, merupakan satu kesatuan. Tubuh merupakan satu kesatuan dengan darah-Nya; demikian juga darah-Nya menjadi kesatuan dengan TubuhNya. Seperti halnya kita: tubuh kita juga mengadung darah, dan darah kita hanya bisa terbentuk karena kesatuan dengan tubuh, maka hal yang sama terjadi juga pada Kristus. Darah Yesus yang tertumpah untuk pengampunan dosa kita adalah Darah yang terbentuk dari Tubuh-Nya yang mulia, sehingga kita tidak dapat membicarakan darah Yesus tanpa melihat kaitannya dengan Tubuh Kristus. Oleh karena itu, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, bahwa Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

                  Jadi, pemberian Komuni dalam bentuk hosti saja sudah cukup, karena hosti yang sudah diubah menjadi Tubuh Kristus sudah merupakan kepenuhan Kristus: tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya sudah terkandung dalam setiap partikel hosti maupun anggur.

                  d. Sekarang, kalau anda mengatakan bahwa Yoh 6:54 adalah begitu gamblang, apakah anda mengartikannya sebagai simbol atau literal? Apakah anda mengartikan Perjamuan Suci sebagai sesuatu yang literal atau simbolik? Dan apakah alasannya? Silakan melanjutkan diskusi ini pada link-link yang telah saya berikan.

                  V. Tentang pengajaran Kristus

                  Anda mengatakan “Saya percaya bahwa Tuhan Yesus menginginkan agar semua umatNya tahu dan menjalankan “segala sesuatu” yang telah diajarkanNya. Namun perlu anda ketahui bahwa tidak ada satupun manusia yang sanggup menjalankan “segala sesuatu” alias “semua” yang telah diperintahkan Tuhan Yesus. Apakah itu artinya semua orang gagal? Jelas tidak, sebab segala sesuatu yang diajarkan Yesus (diluar Soteriologi dan Christologi) sifatnya adalah ajaran moral / kasih yang fungsinya bukan untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan, namun untuk menyempurnakan manusia sebelum menuju kekekalan.

                  a. Adalah dua hal yang berbeda antara “sanggup menjalankan segala sesuatu yang diperintahkan Kristus” dengan “tidak mengajarkan semua yang diperintahkan oleh Kristus“. Kalau yang satu mengatakan Ekaristi hanyalah simbol dan yang satu mengatakan Yesus hadir secara nyata, maka tidak mungkin keduanya benar, karena keduanya saling bertentangan. Dan ini adalah bagian dari pengajaran Kristus di Yoh 6 dan Perjamuan Kudus.

                  b. Kalau anda mengatakan “Jelas tidak, sebab segala sesuatu yang diajarkan Yesus (diluar Soteriologi dan Christologi) sifatnya adalah ajaran moral / kasih yang fungsinya bukan untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan, namun untuk menyempurnakan manusia sebelum menuju kekekalan.” maka anda tidak melihat perlunya kasih dalam keselamatan seseorang. Sebenarnya, sungguh sulit untuk memisahkan kasih dari soteriologi (doktrin tentang keselamatan), karena Allah adalah kasih, dan memisahkan kasih dari Yesus, karena Yesus sendiri adalah kasih. Kesempurnaan kasih yang supernatural (mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Tuhan) – yang mensyaratkan iman – inilah yang akan menuntun seseorang kepada keselamatan.

                  VI. Kesimpulan

                  1. Akhirnya kita melihat bahwa konsitensi pengajaran dan kebenaran yang bersumber pada Alkitab sangatlah penting. Perkembangan doktrin dapat diterima sejauh tidak saling bertentangan, dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dan dari “tidak ada” menjadi “ada” atau sebaliknya. Dan seperti yang telah saya kemukakan di atas, mungkin perlu dipelajari lagi secara mendalam tentang pengajaran dari gereja-gereja Protestan yang berbeda-beda dari generasi ke generasi, seperti contohnya adalah tentang pengajaran Ekaristi, dimana Martin Luther mengajarkan Yesus hadir secara nyata dan banyak denominasi-denominasi mengajarkan hanya sekedar simbol. Dan hal yang sama terjadi dengan pengajaran tentang Maria tetap perawan, yang dipercayai oleh Martin Luther, Calvin, Zwingli, Wesley, namun ditolak oleh pengikut-pengikutnya. Dengan kondisi seperti ini, maka akan menjadi sangat sulit bagi seseorang untuk mempercayai bahwa iman yang dipegangnya adalah sesuatu yang benar, karena dapat saja yang sekarang benar dapat menjadi tidak benar di kemudian hari.

                  2. Untuk mengatakan bahwa yang penting adalah percaya kepada Yesus, namun mempunyai pengajaran yang berbeda-beda adalah sesuatu yang sebenarnya suatu pernyataan yang saling bertentangan. Kalau Yesus yang dipercaya adalah sama, maka pengajarannya haruslah sama, karena bagaimana mungkin orang yang sama dapat mengajarkan pengajaran yang saling bertentangan? Dan kalau memang Yesus yang dipercaya adalah sama dan pemersatunya adalah kasih, mengapa terjadi perpecahan, bukankah perpecahan bertentangan dengan kasih?

                  3. Kita melihat bahwa ada cukup banyak pengajaran di Alkitab yang cukup sulit, yang juga menjadi dasar untuk kebenaran yang lain. Tanpa adanya Magisterium Gereja, yang mempunyai kuasa untuk menginterpretasikan Alkitab, maka tidak mungkin terjadi persamaan pengajaran. Karena Gereja Katolik yang menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari Alkitab, maka Gereja Katoliklah – melalui Magisterium Gereja – dapat menginterpretasikan Alkitab sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus. Untuk mengatakan bahwa setiap individu bebas menginterpretasikan sendiri-sendiri dan merasa interpretasinya pasti benar (terutama untuk isu-isu yang cukup kompleks), maka sama saja dengan menempatkan individu-individu sebagai Magisterium Gereja, yang pada akhirnya mengakibatkan perpecahan yang bertentangan dengan Yoh 17.

                  4. Akhirnya, semoga diskusi ini dapat berguna, baik bagi kita berdua maupun bagi seluruh pembaca katolisitas.org. Untuk menjaga agar diskusi dapat berjalan dengan baik, mohon Kevin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam warna merah, baik di komentar ini, maupun di komentar sebelumnya. Semoga hal ini dapat dimengerti.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  stef – katolisitas.org

        • Maafkan.. walaupun sudah postingan lama, tapi saya gemes aja.makanya nulis.

          @Kevin
          Pada saat proses kanonisasi Alkitab (PL & PB) selesai, maka lengkaplah sudah seluruh isi Alkitab yang berisi 66 kitab (39 PL dan 27 PB). Dengan penutup yang sangat jelas dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu 22:18-19, bahwa Alkitab sudah lengkap dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Dengan demikian Alkitab menjadi kanon tertutup, artinya semenjak saat itu, tidak ada wahyu baru, dan tidak perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk menjalankan atau menafsirkan Alkitab.

          Komen
          Mungkin perlu dijelaskan juga.. proses kanonisasi itu selesainya (saat itu) ditangan siapa (kalau Anda tahu or bisa mengidentifikasikan). Pastilah orang itu (or lembaga itu, or komunitas itu) punya otorisasi untuk menentukan kitab mana yang boleh masuk kanon dan kitab mana yang tidak boleh masuk ke dalam kanon.

          @Kevin
          Dengan demikian Alkitab menjadi kanon tertutup, artinya semenjak saat itu, tidak ada wahyu baru, dan tidak perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk menjalankan atau menafsirkan Alkitab.

          Komen
          Dan saya hanya ingin bertanya, kenapa tidak perlu juklak dalam menjalankan atau menafsirkan Alkitab. Karena setahu saya justru Alkitab itu lah yang paling rawan mis interpretasi. Bacalah hikayat Calon Arang, dia salah menafsirkan alkitab umat tertentu (tidak sy sebutkan). Dia memang jadi sakti juga. tapi karena dia menafsirkan semau dia, maka dia tidak menjadi lebih bijaksana.

          @Kevin
          Jadi peran manusia sebetulnya hanya 0% dalam penulisan Alkitab

          Komen
          Jadi orang yang nulis gimana? perannya berapa persen? yg ngecek tulisan ke bahasa aslinya, berapa persen perannya?

          Masih banyak sih keberatan saya terhadap pendapat Anda. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau pondasinya saja sudah berbeda maka bangunan diatasnya juga pasti berbeda.

          [edit]

      • Dear Pak Christopher,

        ide saya, coba anda belajar Alkitab bahasa Ibrani, itu yg benar dan asli. sdh banyak kok pendeta yg sudah belajar langsung bahasa Ibrani.

        isi Alkitab ada yg ditambahkan, salah satunya “Makabe”.
        ingat Wahyu 22 : 18 = Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan, maka Allah akan menambahkan malapetaka-malapetaka yg tertulis dalam kitab ini. sungguh mengerikan.

        GBU

        • Shalom Lucia,

          1. Tidak ada salahnya mempelajari Alkitab dari bahasa aslinya, entah Ibrani atau Yunani. Namun mungkin yang terlebih penting adalah membaca, merenungkannya dan melaksanakannya.

          2. Anda keliru jika mengatakan bahwa Kitab Makabe adalah kitab yang ditambahkan. Jika kita mempelajari sejarah asal usul terbentuknya Kitab Suci, maka kita akan mengetahui bahwa, sudah sejak awal saat kanon Kitab Suci ditentukan di abad ke-4, kitab- Kitab Deuterokanonika itu sudah ada. Kitab- kitab tersebut adalah Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe, beserta sebagian kitab Daniel dan Esther, dan surat Yeremia). Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

          Berikut ini adalah secara mendetail perkembangan kanon Kitab Suci:

          a) Dekrit dari Paus St. Damasus I, Konsili di Rome, tahun 382.

          It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun.
          The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave, one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books; Paralipomenon, two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book; Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book. Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books.
          Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, two to the Corinthians, one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews. Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book. Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.
          Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.

          b) Konsili Hippo, tahun 393 mengkonfirmasikan kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I.

          It has been decided that besides the canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture.
          But the canonical Scriptures are as follows: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua the Son of Nun, Judges, Ruth, the Kings, four books, the Chronicles, two books, Job, the Psalter, the five books of Solomon (included Wisdom and Ecclesiastes (Sirach)), the twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, Ezra, two books, Maccabees, two books.

          (canon 36 A.D. 393).

          c) Konsili Carthage III, tahun 397 memberikan konfirmasi kembali tentang kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I. Berikut ini adalah kanonnya:

          It has been decided that nothing except the canonical Scriptures should be read in the Church under the name of the divine Scriptures. But the canonical Scriptures are: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, Paralipomenon, two books, Job, the Psalter of David, five books of Solomon (Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Sirach), twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, two books of Esdras, two books of the Maccabees.” (canon 47).

          d) Konsili Carthage IV, tahun 419, kembali mengkonfirmasikan kanon-kanon yang telah ditetapkan di konsili-konsili sebelumnya. Inilah keputusan dari konsili ini:

          That nothing be read in church besides the Canonical Scripture. ITEM, that besides the Canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture. But the Canonical Scriptures are as follows: * Genesis * Exodus * Leviticus * Numbers * Deuteronomy * Joshua the Son of Nun * The Judges * Ruth * The Kings (4 books) * The Chronicles (2 books) * Job * The Psalter * The Five books of Solomon (includes Wisdom and Sirach) * The Twelve Books of the Prophets * Isaiah * Jeremiah * Ezechiel * Daniel * Tobit * Judith * Esther * Ezra (2 books) * Maccabees (2books).
          The New Testament: * The Gospels (4 books) * The Acts of the Apostles (1 book) * The Epistles of Paul (14) * The Epistles of Peter, the Apostle (2) * The Epistles of John the Apostle (3) * The Epistles of James the Apostle (1) * The Epistle of Jude the Apostle (1) * The Revelation of John (1 book).
          Let this be sent to our brother and fellow bishop, [Pope] Boniface, and to the other bishops of those parts, that they may confirm this canon, for these are the things which we have received from our fathers to be read in church.
          ” CANON XXIV. (Greek xxvii.)

          e) Konsili Frorence atau Basel, tahun 1431-1445, adalah konsili yang mengkonfirmasikan kembali kitab-kitab yang menjadi bagian dari PL dan PB.

          We, therefore, to whom the Lord gave the task of feeding Christ’s sheep’, had abbot Andrew carefully examined by some outstanding men of this sacred council on the articles of the faith, the sacraments of the church and certain other matters pertaining to salvation. At length, after an exposition of the catholic faith to the abbot, as far as this seemed to be necessary, and his humble acceptance of it, we have delivered in the name of the Lord in this solemn session, with the approval of this sacred ecumenical council of Florence, the following true and necessary doctrine. Most firmly it believes, professes and preaches that the one true God, Father, Son and holy Spirit, is the creator of all things that are, visible and invisible, who, when he willed it, made from his own goodness all creatures, both spiritual and corporeal, good indeed because they are made by the supreme good, but mutable because they are made from nothing, and it asserts that there is no nature of evil because every nature, in so far as it is a nature, is good. It professes that one and the same God is the author of the old and the new Testament — that is, the law and the prophets, and the gospel — since the saints of both testaments spoke under the inspiration of the same Spirit.
          It accepts and venerates their books, whose titles are as follows. Five books of Moses, namely Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, Esdras, Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, Job, Psalms of David, Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaiah, Jeremiah, Baruch, Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, namely Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah, Haggai, Zechariah, Malachi; two books of the Maccabees; the four gospels of Matthew, Mark, Luke and John; fourteen letters of Paul, to the Romans, two to the Corinthians, to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, two to the Thessalonians, to the Colossians, two to Timothy, to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two letters of Peter, three of John, one of James, one of Jude; Acts of the Apostles; Apocalypse of John.
          ” (SESSION 11 4 February 1442)

          f) Konsili Trente, tahun 1546-1565.

          And it has thought it meet that a list of the sacred books be inserted in this decree, lest a doubt may arise in any one’s mind, which are the books that are received by this Synod. They are as set down here below: of the Old Testament: the five books of Moses, to wit, Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Josue, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, the first book of Esdras, and the second which is entitled Nehemias; Tobias, Judith, Esther, Job, the Davidical Psalter, consisting of a hundred and fifty psalms; the Proverbs, Ecclesiastes, the Canticle of Canticles, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaias, Jeremias, with Baruch; Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, to wit, Osee, Joel, Amos, Abdias, Jonas, Micheas, Nahum, Habacuc, Sophonias, Aggaeus, Zacharias, Malachias; two books of the Machabees, the first and the second.

          Of the New Testament: the four Gospels, according to Matthew, Mark, Luke, and John; the Acts of the Apostles written by Luke the Evangelist; fourteen epistles of Paul the apostle, (one) to the Romans, two to the Corinthians, (one) to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, to the Colossians, two to the Thessalonians, two to Timothy, (one) to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two of Peter the apostle, three of John the apostle, one of the apostle James, one of Jude the apostle, and the Apocalypse of John the apostle. But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as they have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn the traditions aforesaid; let him be anathema.” (Session 4, concerning the canonical Scriptures).

          Berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci, melalui Paus Damasus I tahun 382, pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397, yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang disebut sebagai Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka, sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik.

          3. Jadi bahwa kenyataannya sekarang Kitab Suci Protestan tidak memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika, itu bukan karena Gereja Katolik yang menambahkannya, tetapi karena Gereja Protestan yang menguranginya.

          Kemungkinan Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman (Sola Fide). Martin Luther juga menganggap beberapa kitab dalam Perjanjian Baru sebagai “kitab deuterokanonika”, seperti halnya surat rasul Yakobus – yang disebutnya sebagai “Epistle of straw/ surat jerami”, kitab Wahyu, dan surat Ibrani, karena kitab itu secara implisit mengutip kitab 2 Makabe 7, yaitu Ibr 11:35. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa gereja Protestan mencoret Kitab Deuterokanonika karena ingin mengikuti hasil konsili para Rabi Yahudi di Jamnia/ Javneh, sekitar tahun 100, agar lebih sesuai dengan kitab asli dalam bahasa Ibrani yang diterima oleh umat Yahudi. Namun sesungguhnya umat Kristen tidak perlu mengikuti hasil Konsili Jamnia. Karena konsili itu menolak Kristus, menolak Injil dan menolak seluruh kitab Perjanjian Baru, bagaimana mungkin kita bisa mempercayai bahwa mereka mempunyai otoritas dari Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci? [Karena salah satu alasan penolakan para Rabi agama Yahudi terhadap kitab- kitab Deuterokanonika adalah mereka menolak nubuatan yang tercantum di dalamnya yang jelas menggambarkan Kristus (lihat Keb 2:12-20). Selanjutnya, silakan klik di sini untuk melihat referensi ayat- ayat Perjanjian Baru, yang mengutip ataupun mengacu kepada ayat- ayat kitab- kitab Deuterokanonika]

          Namun demikian, walaupun Luther menolak kitab- kitab Deuterokanonika, tapi setelah bertentangan sendiri dengan para tokoh Protestan lainnya, akhirnya Luther tetap memasukkan kitab- kitab tersebut dalam Kitab Perjanjian Baru yang diterjemahkannya sebagai tambahan/ appendix antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hal ini berlangsung terus sampai tahun 1827, saat the British and Foreign Bible Society mencoret sama sekali atau membuang kitab- kitab Deuterokanonika dari kitab suci mereka.

          Maka Kitab Suci versi Protestan yang ada sekarang, bukan saja tidak lengkap, jika dibandingkan dengan Kitab Suci dari Gereja Katolik, tetapi juga tidak lengkap jika dibandingkan dengan Kitab Suci yang umum mereka pakai selama sekitar 300 tahun (dari abad ke 16 sampai ke 19). Dan bahwa kitab suci Protestan sekarang ini usianya baru sekitar 150 tahun, dan ditetapkan oleh manusia, dan bukan oleh Tradisi turun temurun dari para rasul dan para Bapa Gereja. Tak dapat dipungkiri bahwa Luther menentukan sendiri kitab- kitab yang dianggapnya ‘lebih penting’ dari kitab- kitab yang lain berdasarkan pemahaman pribadinya; dan inilah yang kemudian mempengaruhi pandangan para pengikutnya. Sedangkan Gereja Katolik dalam menentukan kanon, tidak berdasarkan pemahaman pribadi melainkan dari bukti tertulis dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang telah memasukkan kitab- kitab tersebut dalam tulisan mereka.

          Jadi yang benar adalah Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang dari sejak awal ditetapkan sudah demikian. Yang terjadi adalah pengurangan oleh pihak pendiri gereja Protestan, yang akhirnya diturunkan kepada generasi-generasi berikutnya dalam bermacam denominasi.

          3. Selayaknya anda tidak menghubungkan Wahyu 22:18 dengan Gereja Katolik. Ayat itu mengatakan, "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini."

          Nah, karena Gereja Katolik tidak menambahkan kitab [jika maksud anda Kitab- kitab Deuterokanonika] pada Kitab Suci, maka ayat Why 22:18 tidak ada korelasinya dengan Gereja Katolik. Lagipula "kitab" yang dimaksud oleh Rasul Yohanes dalam Wahyu 22:18 ini adalah hanya kitab Wahyu yang ditulisnya. Karena pada saat Kitab Wahyu ditulis (sekitar tahun 90- an) kanon Kitab Suci belum ditentukan. Yang ada hanya kumpulan naskah yang terpisah- pisah (termasuk ketiga Injil lainnya dan surat- surat para rasul) yang secara keseluruhan belum tergabung dalam satu jilid Kitab Suci seperti yang kita kenal sekarang.

          Akhirnya, Lucia, mari, jika masih ada pertanyaan ataupun tanggapan, kita mendiskusikannya dengan semangat kasih.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

          • Shalom Ibu Lucia, maaf sebelum menuduh lebih baik pelajari dulu sejarah-sejarah Gereja Purba, siapa yang menambah isi Alkitab atau siapa yang mengurangi isi Alkitab,biar kita tahu sebenarnya seperti apasih perkembangannya dulu. Tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar itu menjadi mentah karena ketidaktahuan kita. benar sekali kata cardinal Anglican yang berpindah ke Katholik, beliau mengatakan. LEARNING DEEP IN CHURCH HISTORY, STOP BEING A PROTESTAN. Tapi tak mengapa Ibu Lucia itu adalah karena ketidaktahuan Ibu. Tuhan memberkati.

        • dear Lucia…

          saya akan kalau bisa mencoba mencari Alkitab dari bahasa Ibrani…
          seperti kata bu Inggrid saya merasa antara Bahasa Ibrani, Indonesia, Inggris,Yunani atau bahasa2 lainnya tidaklah mereduksi arti dan inti ajaran Kristiani karena semua..
          karena semua terjemahan Alkitab kebanyakan diambil dari manuskrip2 terjemahan paling kuno yang masih ada, seperti Septuagint (yang ditulis antara 2 sampai 3 abad BC)…
          jadi tidaklah mereduksi arti maupun ajarannya…

          mengenai penambahan yang anda utarakan seperti kitab “Makabe” sudah dijelaskan oleh ibu Inggrid bahwa dari awal Kristiani peng-kanon-an sudah memasukkan kitab2 deuterokanonika sebagai Alkitab Kristiani, makanya saudara2 gereja Eastern Orthodox yang merupakan Gereja Timur Alkitabnya sama dengan Katolik, jadi bukanlah Katolik yang “menambahkan” kitab deuterokanonika tetapi orang2 Kristen atau gereja Reformasi yang di dirikan Martin Luther lah yang “mengurangi” Alkitab…

          maka mengenai Wahyu 22 : 18 = Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan, maka Allah akan menambahkan malapetaka-malapetaka yg tertulis dalam kitab ini. sungguh mengerikan.,,,
          yang anda katakan rasanya malah (maaf) tertuju pada anda yang “mengurangi” Alkitabkan??

          jadi sejak dahulu Alkitab kami umat Katoliklah (dan juga umat Orthodox yang Gereja Timur) yang sama dengan Alkitab yang di- kanon-kan oleh para Bapa Gereja (pendiri Gereja) dan tidak “menambahkan” seperti tuduhan anda..
          tetapi Gereja Reformislah yang “menguranginya”..
          nah apakah anda mau mengamini hal yang dilakukan oleh Gereja Reformis dengan “mengurangi” Alkitab dengan seenaknya yang berarti mengurangi sabda (Firman) Allah sendiri yang sudah dikanonkan oleh para Bapa Gereja pada awal Gereja Perdana??
          coba anda renungkan dan jawab…

          Pax Christi

          • Shalom Christopher,
            Mungkin perlu diperhatikan di sini bahwa makna “kitab ini” yang ditulis oleh Rasul Yohanes dalam Wahyu 22:18 mengacu kepada kitab Wahyu yang ditulisnya. Karena Kitab Suci pada saat kitab Wahyu dituliskan (yaitu sekitar tahun 90-100) sebenarnya belum terbentuk, sebab kanonnya saja baru ditentukan pada abad ke 4 (dimulai dari Paus Damasus I tahun 382). Dengan demikian peringatan agar jangan ada orang ‘menambahkan’ perkataan- perkataan dalam kitab ini maksudnya adalah sehubungan dengan kitab Wahyu tersebut.

            Apa yang anda sampaikan sebenarnya logis, namun kelihatannya bukan itu yang dimaksudkan oleh Rasul Yohanes pada saat menuliskan Why 22:18 tersebut.
            Memang, ayat itu sering disalahartikan oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa seolah- olah Gereja Katolik telah menambah-nambahi Kitab Suci. Jika kita menggunakan logika yang sama dengan logika mereka, memang pandangan anda benar, bahwa kalau kalau menambahi itu salah, demikian pula yang mengurangi juga salah. Namun, kelihatannya kesimpulan itu bukan yang ingin disampaikan oleh rasul Yohanes, karena alasan yang sudah saya sebut di atas.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • @Kevin:
      Mohon maaf kalau anda tidak berkenan dengan tulisan saya. Kalau saya salah menurut pandangan anda makan bagian ini tidak perlu km tulis: Saya juga mau menggunakan cara orang Katolik menyerang di situs ini….
      Kalau demikian pandangan km ke saya. apa bedanya kamu dengan saya?Justru kamu harus lebih baik dari saya kalau saya salah menurut kamu.

      Kalau pendeta (atau siapa saja) bertobat dan tidak mendirikan gereja baru mungkin masih saya bisa pertimbangkan. Tapi kalau dia terpisah dari gereja induknya dan membuat gereja baru jelas tidak perlu saya dukung karena dia sendiri tidak mengaminkan doa Yesus untuk persatuan jemaatNya.Banyak orang memakai istilah anggota anggota tubuh untuk membenarkan diri atas perpecahan gereja. Tapi kalau anggota itu terpisah dari badan real, bagaimana masih bisa disebut anggota tubuh?Apa badan realnya? kalau tidak ada real badan jasmani bagaimana masih bisa di sebut badan? pasti itu adalah semacam mayat. Hati-hatilah sebab setan juga bisa membuat mujijat,ingat persitiwa Yesus dicobai di padan gurun dan ular berbicara dengan Hawa di taman eden.

      Anda menulis:
      hahaha….. sungguh suatu pemikiran yang sangat tolol yang pernah saya dengar dari seorang Katolik. Lalu apa anda tidak sadar bahwa anda juga mempercayai ajaran konyol para bapa gereja yang umurnya kurang dari 2000 tahun itu juga merupakan penghujatan kepada Kristus karena tidak solascriptura?
      Komentar:
      Kalau anda tidak setuju dengan ajaran konyol Bapa Gereja, silahkan anda dan gereja anda dengan segera (sebab anda sendiri pasti akan konyol dan anda menertawakan kekonyolan anda sendiri) meninggalkan :
      1Alkitab perjanjian lama dan baru karena dikanon oleh Bapa Gereja.
      2Tidak perlu merayakan Natal dan Paskah Kebangkitan karena alkitab tidak menyuruh kita merayakan Natal dan Paskah Kebangkitan
      3.Tidak perlu beribadah hari Minggu
      4.Jangan menggunakan istilah sakramen dalam 5 sakramen gereja anda karena tidak ada pernah kata sakramen dalam alkitab. Karena istilah sakramen adalah produk bapa gereja.
      5.Istilah Trinitas/Tritunggal/Trinity yang anda imani adalah produk Bapa Gereja untuk menunjuk Bapa Putra san Roh Kudus. Alkitab tidak ada istilah ini. Mohon ditinggalkan saja.atau gunakanlah istilah lain, mungkin Tri murti, tri ratna atau apalah…..
      6 dan masih banyak kalau dibahas…

      Kalau saya menjadi anda, dengan sekali menolak ajaran Bapa Gereja, saya akan menolak seluruhnya bukan sebagian sebagian (tidak ada pendirian teguh) dalam hal ini saya lebih menghargai Saksi Yehova (yang meskipun ajarannya salah)jika dibandingkan dengan pendirian anda, mereka konsisten menolak semua yang saya sebut di atas kecuali no1(tetap tidak konsisten).

      Anda menulis:
      Kalo anda belum puas dng perdebatan ini, silakan anda ajak pakar2 dari Katolik dan kita adakan seminar debat terbuka, dan saya akan ladeni kalian sampai kuda gigit jari….

      Ingatlah Sdri lucia, anda sudah berada dalam komunitas yang baik, jadi hati-hatilah ketika anda berada disini. 1 Kor 15:33. Dan menurut saya disini bukan tempat yang tepat untuk anda berdebat, tapi tempat yang baik untuk memberitakan iman yang benar seperti yang sudah anda temukan di Tiberias. Anda sudah berada di tanah yang baik, hati2 ketika anda menginjak jalanan dan tanah berbatu. Silakan baca Lukas 8:5-8.

      Komentar: Pakar pakar Katolik sudah ada di sini dan diskusi sudah di mulai dan silahkan dilanjutkan, [edit: 3 kalimat dihapus].

      • @ Johanes

        Johanes menulis:
        Mohon maaf kalau anda tidak berkenan dengan tulisan saya. Kalau saya salah menurut pandangan anda makan bagian ini tidak perlu km tulis: Saya juga mau menggunakan cara orang Katolik menyerang di situs ini….
        Kalau demikian pandangan km ke saya. apa bedanya kamu dengan saya?Justru kamu harus lebih baik dari saya kalau saya salah menurut kamu.

        Kevin menanggapi:
        Sebelumnya saya tidak pernah menggunakan kalimat tersebut, namun suatu ketika saya menemukan ada tulisan dari pihak katolik (pembaca) bukan pengasuh situs ini, yang menggunakan kalimat tersebut, kalau tidak salah ada 2 komentar seperti itu. Jadi saya pikir tidak apa menggunakan gaya bahasa yang sama.
        Soal anda dan saya dianggap beda atau sama itu tidak masalah, itu kan cuma pemikiran subyektif saja, mau anda merasa lebih baik dari saya atau sebaliknya, tidak berpengaruh apapun.

        Johanes menulis:
        Kalau pendeta (atau siapa saja) bertobat dan tidak mendirikan gereja baru mungkin masih saya bisa pertimbangkan. Tapi kalau dia terpisah dari gereja induknya dan membuat gereja baru jelas tidak perlu saya dukung karena dia sendiri tidak mengaminkan doa Yesus untuk persatuan jemaatNya.Banyak orang memakai istilah anggota anggota tubuh untuk membenarkan diri atas perpecahan gereja. Tapi kalau anggota itu terpisah dari badan real, bagaimana masih bisa disebut anggota tubuh?Apa badan realnya? kalau tidak ada real badan jasmani bagaimana masih bisa di sebut badan? pasti itu adalah semacam mayat. Hati-hatilah sebab setan juga bisa membuat mujijat,ingat persitiwa Yesus dicobai di padan gurun dan ular berbicara dengan Hawa di taman eden.

        Kevin menanggapi:
        Anda berbicara tentang Tubuh Kristus lalu anda kaitkan dengan frasa “badan real”….
        Inilah kesalahannya, anda sudah terkontaminasi doktrin yang keliru bahwa Tubuh Kristus harus berarti sebuah organisasi / gereja. Kami protestan berpegang bahwa setiap individu orang yang percaya kepada Kristus adalah gereja / bait Allah, sekaligus anggota tubuh Kristus (1 Kor 3:16-17, 2 Kor 6:16). Semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat adalah tubuh Kristus. Kalo anda bicara tubuh yang semu dan tubuh yang real, itu dalih tak berdasar hanya untuk membenarkan bahwa tubuh real itu GK, sedangkan diluar itu tidak real, ah ada-ada aja….
        Tubuh Kristus itu dipimpin oleh Kristus sebagai kepala, sedangkan anggota / bagian tubuhnya ialah umat percaya. Dan yang namanya umat percaya itu jenisnya macam-macam, kapasitasnya juga macam-macam, cara pikirnya macam-macam, pokoknya jelas setiap orang berbeda satu sama lain, dan itu tidak masalah karena memang manusia didesain unik, namun yang menjadi masalah bukanlah banyaknya perbedaan, atau banyaknya denominasi di protestan dng berbagai tingkat iman dan pemahaman, yang menjadi masalah adalah katolik tidak memahami konsep persatuan tubuh Kristus dari sudut pandang yang benar. Perbedaan denominasi maupun personal dalam kristen itu hal yang normal, silakan baca Roma 12:4-5.
        Tulisan anda yang setan bisa bikin mujijat itu konteksnya apa yaa? kok sepertinya ga ada kaitan sama topik kita?

        Johanes menulis:
        Kalau anda tidak setuju dengan ajaran konyol Bapa Gereja, silahkan anda dan gereja anda dengan segera (sebab anda sendiri pasti akan konyol dan anda menertawakan kekonyolan anda sendiri) meninggalkan :
        1Alkitab perjanjian lama dan baru karena dikanon oleh Bapa Gereja.

        Kevin menanggapi:
        Wah…wah…wah… anda belum ngerti pandangan saya rupanya…
        Alkitab yang sudah selesai dikanon itulah yang kita pegang. Bukan tulisan2 lain setelah era kanonisasi. Pengertian bapa gereja itu harus dipisahkan sebelum era kanon atau setelah era kanon, dan kami hanya mempercayai tulisan bapa gereja sebelum era kanon, itu artinya kami hanya mempercayai 66 kitab ( 39 PL + 27 PB), deuterokanonika tidak kami terima, sebab itu di tulis di abad kegelapan (dimana tidak terbit wahyu dan nabi), dan bahkan GK pun baru memasukkannya sbg bagian Akitab setelah 1500 tahun setelah kanon selesai.

        Johanes menulis:
        2Tidak perlu merayakan Natal dan Paskah Kebangkitan karena alkitab tidak menyuruh kita merayakan Natal dan Paskah Kebangkitan

        Kevin menanggapi:
        Merayakan Natal & Paskah sekalipun tidak pernah diperintahkan di Alkitab untuk dirayakan, namun merayakan moment tersebut tidaklah melanggar Alkitab. Kalo orang boleh merayakan ulangtahun dirinya, atau merayakan ulang tahun teman2nya, kenapa kita tidak boleh merayakan ulang tahun Tuhan kita? Ketika anda / saya merayakan ulangtahun, itu juga bukan karena instruksi dari bapa gereja kan? Kalo faktanya natal dan paskah dirayakan dari waktu ke waktu, apa masalahnya? apakah karena itu produk bapa gereja lalu kita menolaknya? Bukan begitu cara berpikirnya…

        Johanes menulis:
        3.Tidak perlu beribadah hari Minggu

        Kevin menanggapi:
        Wah ini lebih parah… beribadah hari Minggu / sabat itu sudah dilakukan ribuan tahun atas perintah Tuhan sejak jaman Musa hingga era Kristus. Tuhan Yesus mengajar pada hari Sabat, murid2nya juga berkumpul pada hari Sabat untuk melakukan perjamuan kudus dan berdoa.

        Johanes menulis:
        4.Jangan menggunakan istilah sakramen dalam 5 sakramen gereja anda karena tidak ada pernah kata sakramen dalam alkitab. Karena istilah sakramen adalah produk bapa gereja.

        Kevin menanggapi:
        Ini adalah suatu pemikiran yang sangat keliru. Bila dulu ada orang namanya Joko apakah sekarang bila ada bayi lahir tidak boleh diberi nama Joko? Orang-orang yang berpikiran seperti anda itu akhirnya merumuskan agar umat Nasrani tidak boleh menggunakan kata Allah, karena menurut muslim, itu adalah tuhan mereka. Ada-ada aja…
        “Kata” adalah milik umum, siapapun boleh menggunakannya.
        Kalo begitu cara berpikir anda, seharusnya anda juga jangan tulis / sebut “bapa gereja” karena kata /frasa “bapa gereja” tidak ada di Alkitab.

        Johanes menulis:
        5.Istilah Trinitas/Tritunggal/Trinity yang anda imani adalah produk Bapa Gereja untuk menunjuk Bapa Putra san Roh Kudus. Alkitab tidak ada istilah ini. Mohon ditinggalkan saja.atau gunakanlah istilah lain, mungkin Tri murti, tri ratna atau apalah…..

        Kevin menanggapi:
        Alkitab memang tidak pernah menyebutkan Trinitas, namun alkitab mencatat relasi antar ketigaNya, dengan begitu jelasnya Yohanes menggambarkan kesatuan tiga pribadi tersebut akhirnya kita menyebutnya Tritunggal. Tidak usah bawa2 Bapa Gereja (setelah era kanon) lah… semua orang yang pernah sekolah dan tamat SD pun bisa bilang kok, bahwa kalo 3 itu 1 dan 1 itu 3 sebutannya Tritunggal. Emang cuma GK doang yg boleh klaim istilah tritunggal itu miliknya? aneh!

        Johanes menulis:
        Kalau saya menjadi anda, dengan sekali menolak ajaran Bapa Gereja, saya akan menolak seluruhnya bukan sebagian sebagian (tidak ada pendirian teguh) dalam hal ini saya lebih menghargai Saksi Yehova (yang meskipun ajarannya salah)jika dibandingkan dengan pendirian anda, mereka konsisten menolak semua yang saya sebut di atas kecuali no1(tetap tidak konsisten).

        Kevin menanggapi:
        Kalo anda mau menghargai SY ya silakan saja, tidak masalah…
        Dalam soal menerima / menolak ajaran bapa gereja sudah saya jelaskan diatas, bahwa kami hanya menerima yang sebelum era kanon. Alkitab sudah ditutup, sudah genap, sudah lengkap, tidak perlu diimbuhi lagi dengan tambahan2 pikiran manusia (bapa gereja setelah era kanon).

        Johanes menulis:
        Pakar pakar Katolik sudah ada di sini dan diskusi sudah di mulai dan silahkan dilanjutkan,

        Kevin menanggapi:
        Saya sudah pernah tulis bahwa disini bukan tempat yang baik untuk berdebat, maksudnya adalah.. ini rumahnya Sdr Stef & Inggrid dan aromanya adalah doktrin katolik, jurinya juga orang katolik, hasilnya tidak bisa obyektif, karena ujung2nya ya doktrin katolik yg diunggulkan, beda dng debat terbuka, dimana ada berbagai macam orang / agama / aliran dan jurinya dari pihak luar, hasilnya akan lebih obyektif tampak siapa yang benar. Memang perdebatan tidak selalu menghasilkan konklusi, tapi setidaknya mungkin bisa menjernihkan kekolotan pandangan. Orang tidak akan pernah sadar dirinya bodoh kalo tidak ketemu orang yang lebih pandai darinya.
        Untuk diskusi disini, saya tetap akan lanjutkan, walau tetap terbatas pada koridor “dibatasi hanya 3 kali putaran” seperti yg sebelumnya saya alami dan dialami oleh yang lain, hal ini cukup merugikan kami karena belum tentu putaran 3 menhasilkan konklusi namun sudah di-cut dan epilognya pasti membenarkan katolik tanpa bisa disanggah lagi.

        • Shalom Johanes dan Kevin,

          Terima kasih atas partisipasinya dalam diskusi. Menurut saya, diskusi dengan topik yang terlalu banyak tidak akan membawa kesimpulan yang baik, apalagi kalau topik-topik diskusi telah dibahas sebelumnya secara panjang lebar. Jadi, saya mengusulkan, agar Kevin dapat bergabung dalam diskusi yang sudah ada, dalam link-link yang saya berikan di bawah ini, sehingga tidak terjadi pengulangan diskusi.

          1. Tentang begitu banyak denominasi sebagai bukti perpecahan, dapat dilihat di diskusi panjang ini – silakan klik. Di link tersebut dibahas dasar-dasar Alkitab dan juga beberapa analogi, definisi denominasi, dll. Adalah menjadi suatu kenyataan bahwa 28,000 denominasi dengan doktrin yang berbeda-beda merupakan suatu perpecahan. Kalau anda tidak setuju dengan hal ini, silakan memberikan argumentasi di link tersebut. Kevin memberikan ayat Roma 12:4-5. Namun, bagaimana mungkin denominasi-denominasi dapat menjadi bagian-bagian tubuh dari tubuh yang sama, kalau mempunyai doktrin yang berbeda-beda? Di link tersebut saya telah memberikan argumentasi yang begitu panjang, bahwa 28,000 denominasi adalah suatu perpecahan yang berlawanan dengan pesan Yesus di Yoh 17.

          2. Hubungan antara kanon Alkitab dan Bapa Gereja, dapat dilihat di diskusi ini – silakan klik. Di link tersebut saya telah menunjukkan hubungan antara Alkitab, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Kalau Alkitab dihasilkan dari Magisterium Gereja, dan Magisterium Gereja dianggap dapat salah (falliblle) dan Alkitab adalah tidak dapat salah (infallible), maka bagaimana mungkin sesuatu yang fallible dapat menghasilkan sesuatu yang infallible? Ini adalah salah satu pertanyaan yang saya ajukan dalam diskusi tersebut. Tentang deuterokanonika, anda dapat membacanya secara detail di sini – silakan klik. Lihat juga perkembangan kanon Alkitab, yang menunjukkan bahwa kitab deuterokanonika bukanlah muncul tiba-tiba di abad 15:

          a) Dekrit dari Paus St. Damasus I, Konsili di Rome, tahun 382.

          It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun.
          The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave, one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books; Paralipomenon, two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book; Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book. Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books.
          Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, two to the Corinthians, one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews. Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book. Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.
          Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.

          b) Konsili Hippo, tahun 393 mengkonfirmasikan kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I.

          It has been decided that besides the canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture.
          But the canonical Scriptures are as follows: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua the Son of Nun, Judges, Ruth, the Kings, four books, the Chronicles, two books, Job, the Psalter, the five books of Solomon (included Wisdom and Ecclesiastes (Sirach)), the twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, Ezra, two books, Maccabees, two books.

          (canon 36 A.D. 393).

          c) Konsili Carthage III, tahun 397 memberikan konfirmasi kembali tentang kanon yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I. Berikut ini adalah kanonnya:

          It has been decided that nothing except the canonical Scriptures should be read in the Church under the name of the divine Scriptures. But the canonical Scriptures are: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, Paralipomenon, two books, Job, the Psalter of David, five books of Solomon (Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Sirach), twelve books of the Prophets, Isaiah, Jeremiah, Daniel, Ezekiel, Tobit, Judith, Esther, two books of Esdras, two books of the Maccabees.” (canon 47).

          d) Konsili Carthage IV, tahun 419, kembali mengkonfirmasikan kanon-kanon yang telah ditetapkan di konsili-konsili sebelumnya. Inilah keputusan dari konsili ini:

          That nothing be read in church besides the Canonical Scripture. ITEM, that besides the Canonical Scriptures nothing be read in church under the name of divine Scripture. But the Canonical Scriptures are as follows: * Genesis * Exodus * Leviticus * Numbers * Deuteronomy * Joshua the Son of Nun * The Judges * Ruth * The Kings (4 books) * The Chronicles (2 books) * Job * The Psalter * The Five books of Solomon (includes Wisdom and Sirach) * The Twelve Books of the Prophets * Isaiah * Jeremiah * Ezechiel * Daniel * Tobit * Judith * Esther * Ezra (2 books) * Maccabees (2books).
          The New Testament: * The Gospels (4 books) * The Acts of the Apostles (1 book) * The Epistles of Paul (14) * The Epistles of Peter, the Apostle (2) * The Epistles of John the Apostle (3) * The Epistles of James the Apostle (1) * The Epistle of Jude the Apostle (1) * The Revelation of John (1 book).
          Let this be sent to our brother and fellow bishop, [Pope] Boniface, and to the other bishops of those parts, that they may confirm this canon, for these are the things which we have received from our fathers to be read in church.
          ” CANON XXIV. (Greek xxvii.)

          e) Konsili Frorence atau Basel, tahun 1431-1445, adalah konsili yang mengkonfirmasikan kembali kitab-kitab yang menjadi bagian dari PL dan PB.

          We, therefore, to whom the Lord gave the task of feeding Christ’s sheep’, had abbot Andrew carefully examined by some outstanding men of this sacred council on the articles of the faith, the sacraments of the church and certain other matters pertaining to salvation. At length, after an exposition of the catholic faith to the abbot, as far as this seemed to be necessary, and his humble acceptance of it, we have delivered in the name of the Lord in this solemn session, with the approval of this sacred ecumenical council of Florence, the following true and necessary doctrine. Most firmly it believes, professes and preaches that the one true God, Father, Son and holy Spirit, is the creator of all things that are, visible and invisible, who, when he willed it, made from his own goodness all creatures, both spiritual and corporeal, good indeed because they are made by the supreme good, but mutable because they are made from nothing, and it asserts that there is no nature of evil because every nature, in so far as it is a nature, is good. It professes that one and the same God is the author of the old and the new Testament — that is, the law and the prophets, and the gospel — since the saints of both testaments spoke under the inspiration of the same Spirit.
          It accepts and venerates their books, whose titles are as follows. Five books of Moses, namely Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Joshua, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, Esdras, Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, Job, Psalms of David, Proverbs, Ecclesiastes, Song of Songs, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaiah, Jeremiah, Baruch, Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, namely Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakuk, Zephaniah, Haggai, Zechariah, Malachi; two books of the Maccabees; the four gospels of Matthew, Mark, Luke and John; fourteen letters of Paul, to the Romans, two to the Corinthians, to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, two to the Thessalonians, to the Colossians, two to Timothy, to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two letters of Peter, three of John, one of James, one of Jude; Acts of the Apostles; Apocalypse of John.
          ” (SESSION 11 4 February 1442)

          f) Konsili Trente, tahun 1546-1565.

          And it has thought it meet that a list of the sacred books be inserted in this decree, lest a doubt may arise in any one’s mind, which are the books that are received by this Synod. They are as set down here below: of the Old Testament: the five books of Moses, to wit, Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy; Josue, Judges, Ruth, four books of Kings, two of Paralipomenon, the first book of Esdras, and the second which is entitled Nehemias; Tobias, Judith, Esther, Job, the Davidical Psalter, consisting of a hundred and fifty psalms; the Proverbs, Ecclesiastes, the Canticle of Canticles, Wisdom, Ecclesiasticus, Isaias, Jeremias, with Baruch; Ezechiel, Daniel; the twelve minor prophets, to wit, Osee, Joel, Amos, Abdias, Jonas, Micheas, Nahum, Habacuc, Sophonias, Aggaeus, Zacharias, Malachias; two books of the Machabees, the first and the second.

          Of the New Testament: the four Gospels, according to Matthew, Mark, Luke, and John; the Acts of the Apostles written by Luke the Evangelist; fourteen epistles of Paul the apostle, (one) to the Romans, two to the Corinthians, (one) to the Galatians, to the Ephesians, to the Philippians, to the Colossians, two to the Thessalonians, two to Timothy, (one) to Titus, to Philemon, to the Hebrews; two of Peter the apostle, three of John the apostle, one of the apostle James, one of Jude the apostle, and the Apocalypse of John the apostle. But if any one receive not, as sacred and canonical, the said books entire with all their parts, as they have been used to be read in the Catholic Church, and as they are contained in the old Latin vulgate edition; and knowingly and deliberately contemn the traditions aforesaid; let him be anathema.” (Session 4, concerning the canonical Scriptures).

          3. Tentang peran Bapa Gereja, dapat dibaca di link ini – silakan klik. Kevin, anda dapat memberikan argumentasi di link ini untuk diskusi tentang Bapa Gereja.

          4. Anda mengatakan “Saya sudah pernah tulis bahwa disini bukan tempat yang baik untuk berdebat, maksudnya adalah.. ini rumahnya Sdr Stef & Inggrid dan aromanya adalah doktrin katolik, jurinya juga orang katolik, hasilnya tidak bisa obyektif, karena ujung2nya ya doktrin katolik yg diunggulkan, beda dng debat terbuka, dimana ada berbagai macam orang / agama / aliran dan jurinya dari pihak luar, hasilnya akan lebih obyektif tampak siapa yang benar. Memang perdebatan tidak selalu menghasilkan konklusi, tapi setidaknya mungkin bisa menjernihkan kekolotan pandangan. Orang tidak akan pernah sadar dirinya bodoh kalo tidak ketemu orang yang lebih pandai darinya.
          Untuk diskusi disini, saya tetap akan lanjutkan, walau tetap terbatas pada koridor “dibatasi hanya 3 kali putaran” seperti yg sebelumnya saya alami dan dialami oleh yang lain, hal ini cukup merugikan kami karena belum tentu putaran 3 menhasilkan konklusi namun sudah di-cut dan epilognya pasti membenarkan katolik tanpa bisa disanggah lagi.

          a. Tidak menjadi masalah kalau anda berpandangan bahwa di sini bukan tempat yang tepat untuk berdebat, mungkin lebih tepat berdialog. Website ini memang site yang memaparkan pengajaran Gereja Katolik, jadi pasti mempunyai warna pengajaran Gereja Katolik. Namun sebenarnya, kita tidak usah terlalu takut akan penilaian pembaca dan batasan diskusi, karena yang penting adalah argumentasi yang kita berikan. Kita harus percaya akan kekuatan “kebenaran“, yang dapat menarik orang-orang. Jadi, anda bebas untuk berdiskusi di site ini. Beberapa dialog memang kami batasi 3 putaran, karena keterbatasan waktu. Harap diingat, bahwa kami menerima begitu banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Dengan dialog tanpa akhir, maka kami tidak mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lain. Dan bukan kondisi seperti ini yang kami inginkan untuk site ini. Jadi, dalam dialog tiga putaran, pembaca juga dapat menilai argumentasi-argumentasi yang diberikan. Sebenarnya dalam suatu dialog, baik berupa tulisan maupun dialog terbuka dalam temu muka, senantiasa ada batasan waktu, baik 3 putaran maupun lebih. Batasan ini sebenarnya membuat masing-masing pihak berusaha untuk memberikan argumentasi secara baik, terstruktur. Biasanya dalam putaran ke tiga, maka tidak banyak lagi argumentasi baru yang dipaparkan, sehingga terjadi banyak pengulangan. Memang hal ini berbeda dengan “forum”, yang cenderung memberikan argumentasi yang tidak menyeluruh, namun sepotong-sepotong, sehingga diperlukan dialog tanpa batas waktu atau putaran.

          Kita telah berdialog tentang beberapa hal, di sini: tentang kerjasama rahmat dan kehendak bebas Maria (silakan klik); tentang penal substitution (silakan klik). Usulan saya, silakan melanjutkan dialog tersebut, walaupun telah mencapai tiga putaran – untuk dialog tentang penal substitution. Bahkan dalam dialog tentang “kerjasama rahmat dan kehendak bebas Maria” belum mencapai 3 putaran. Jadi, anda sebenarnya mempunyai kesempatan untuk memberikan argumentasi-argumentasi yang lain. Tentang kesimpulan akhir, sebenarnya anda juga dapat memberikan kesimpulan akhir pada argumentasi anda yang terakhir. Usulan saya, silakan menyelesaikan satu dialog. Setelah selesai, kemudian dilanjutkan dengan dialog yang lain. Terlalu banyak topik yang ingin anda bahas tidak dapat memberikan kedalaman pembahasan dari topik yang dibahas. Semoga usulan saya dapat diterima.

          Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Untuk diskusi lebih lanjut, silakan melanjutkan di link-link yang saya berikan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

      • Aku bangga jadi seorang Katolik, tapi disayangkan mungkin hanya ada beberapa saja yang mengerti betul tentang ajaran Katolik…trimakasih sekali kepada narasumber yang begitu cerdas, pintar, teliti dan mampu menyelesaikan tiap pertanyaan dari teman2 semua…yang jawabannya mudah dimengerti, dan nyata. Saya sangat tertarik membacanya… mudah2han ada judul baru lagi tentang Katolik biar pemahaman saya tentang Katolik makin berkembang dan bertambah terus…jangan lupa ADD aku…trimakasih..salam damai untuk kita semua…

    • Budi Darmawan Kusumo May 14, 2010 at 4:56 am

      Shalom saudarku Kevin.

      Dari tanggapan anda, saya kira perlu diperbaiki, karena banyak kata – kata yang kasar dan orang akan menganggap bahwa ternyata anggota gereja Tiberias tingkah lakunya kayak anda. jadi balaslah segala ‘kata – kata kasar’ dengan kelemahlembutan dan kasih.

      TUHAN YESUS memberkati dan BUNDA MARIA senantiasa menuntun anda kepada putraNYA

      • @ Sdr Budi Darmawan Kusumo

        Terimakasih atas saran masukan anda agar saya memperbaiki kata-kata, hal itu akan saya perhatikan. Tapi bila orang memandang bahwa karena kata-kata / tulisan saya lalu meng-generalisirnya dng membawa gereja saya, rasanya pemikirannya sangat dangkal, karena kita tahu bahwa pribadi berbeda dengan organisasi, semua orang dewasa tahu akan hal ini.

        Terimakasih atas tulisan epilog anda, saya meng-aminkan bahwa TUHAN YESUS memberkati saya, namun saya tidak memerlukan Bunda Maria untuk menuntun saya kepada Yesus, karena saya sudah punya akses langsung kepada Yesus melalui Roh Kudus. Itulah kata Alkitab / Firman Allah yang saya pegang, dan yang anda tuliskan tersebut adalah kata manusia.

        Mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan…

        [dari katolisitas: diskusi tentang Maria, pernah anda mulai di sini - silakan klik dan di sini - silakan klik]. Kalau anda mau, silakan melanjutkannya di link-link tersebut.

        • Budi Darmawan Kusumo May 17, 2010 at 2:21 am

          Shalom saudaraku Kevin.

          Mungkin saya akan sedikit berbagi pengalaman saja dari kata – kata anda :

          Kevin :
          Tapi bila orang memandang bahwa karena kata-kata / tulisan saya lalu meng-generalisirnya dng membawa gereja saya, rasanya pemikirannya sangat dangkal, karena kita tahu bahwa pribadi berbeda dengan organisasi, semua orang dewasa tahu akan hal ini.

          Budi :
          kata – kata, “semua orang dewasa tahu akan hal ini” yang justru malah saya temuin dalam kehidupan sehari – hari saya. banyak orang di sekeliling saya yang suka menggeneralisir suatu organisasi karena tingkah laku seseorang. sering kali kita tidak tahu mana orang dewasa yang benar – benar dewasa dengan orang yang dewasa tapi sesungguhnya masih belum dewasa. Oleh karena itu kita sebagai umat beriman harus selalu senantiasa memperbaiki sikap agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang dewasa yang masih belum dewasa ini.

          Kevin :
          amun saya tidak memerlukan Bunda Maria untuk menuntun saya kepada Yesus, karena saya sudah punya akses langsung kepada Yesus melalui Roh Kudus. Itulah kata Alkitab / Firman Allah yang saya pegang, dan yang anda tuliskan tersebut adalah kata manusia.

          Budi :
          Masalah ini juga sudah di bahas lengkap, tapi saya akan sedikit memberi komentar bahwa itu juga menjadi hak anda kalau tidak perlu bunda maria, tapi jika Bunda Maria yang menuntun dan mendoakan anda pada YESUS itu juga menjadi hak bunda maria sendiri ( walaupun anda tidak perlu). sama seperti saya mendoakan anda sekarang walaupun anda pribadi tidak menggubris saya.

          TUHAN YESUS memberkati & BUNDA MARIA selalu senantiasa menuntun anda pada putraNYA

    • Salam Kasih,
      Sdr Kevin saya mengerti sekali apa yang anda ucapkan, saya sudah mengikuti dan mencoba mengikuti webb katolisitas ini selama ampir 1 tahunan dan saya katakan secara jujur Tuhan membukakan kepada saya bahwa doktrin dan jawaban2 yang saya dapat banyak tidak nyambung dengan kebenaran firman Tuhan tetapi seharusnya kita tetap mengasihi mereka dengan kasih Tuhan Yesus ingat bagai mana pengorbanan Tuhan Yesus sebelum Dia di salib, kan kalau ada yang menghina atau mejelek2an hamba Tuhan atau anak2 Tuhan sendiri ya orang itu bukan menghina atau menjelekkan kita tapi Tuhan tidak usah menggunakan otot yang paling terpenting yang sudah kita lakukan adalah pelurusan kebenaran sudah di sampaikan mereka mau terima atau tidak ya itu pilihan mereka lagian mereka menanggapinya dengan ( silahkan klik di sini )
      Kevin setiap anak2 Tuhan punya Roh Kudus minta untuk belajar dan di didik dalam kebenaran pasti akan lebih dasyat kebenaran yang di bukakan.

      Submitted on 2010/05/25 at 12:32am

      salam kasih,
      Saya penasaran kapan maria di angkat kesorga dan di jadikan ratu sorga? di kisah para rasul 4:20 perkataan petrus dan Yohanes di hadapan pemimpin umat dan tua
      di katakan “sebab tidak mungkin kami untuk tidak berkata2 tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar ”
      Dari Firman ini saya ingin tahu siapa yang melihat dan siapa yang mendengar karena pengajaran petrus dan yohanes berdasarkan apa yang mereka terima dari Tuhan Yesus dan pimpinan Roh Kudus
      kalau menurut pastor di gereja di mana istri saya pergi misa dia mengatakan ketika Tuhan Yesus terangkat maria pun di angkat bersama2 , mungkin benar karena setelah Tuhan Yesus naik ke sorga cerita maria tidak ada lagi dan yang pasti murid2 Yesus menginjil dan mengajar tentang pengajaran, kebaikan, kuasa Tuhan Yesus dan tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang maria atau apa yang terjadi dengan maria mengingat maria menurut gereja katolik punya peranan penting sebagai perantara manusia dan Tuhan, apa murid2 Tuhan Yesus lupa dalam pengajarannya menyebut maria?

      • Shalom Adri A,

        Terima kasih atas komentarnya dan terima kasih telah mengikuti website ini selama satu tahun. Saya dapat mengerti kalau anda menilai bahwa pengajaran di site ini bertentangan dengan dokrin yang anda percaya, yang anda klaim lebih Alkitabiah. Untuk itulah, maka saya bertanya kepada anda, untuk memilih satu doktrin yang anda pandang tidak Alkitabiah, sehingga kita dapat membahasnya secara lebih mendalam. Jadi, kalau kami menyatakan perbedaan pendapat, bukan berarti kami menghina atau menjelek-jelekan. Justru kalau kami menyatakan setuju padahal kami tidak setuju, kami justru tidak berdialog dalam kebenaran. Anda dan Kevin, maupun pembaca non-Katolik yang lain, dapat secara bebas berdiskusi di sini, dan tim katolisitas telah dan akan menanggapi beberapa topik diskusi. Kalau saya memberikan beberapa link, karena memang topik tersebut telah dibahas sebelumnya. Dengan membaca terlebih dahulu link yang saya berikan, harapannya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu. Saya dapat cut and paste jawaban saya dari link yang lain, namun hal tersebut tidaklah berguna, karena hanya suatu pengulangan. Jadi, terus terang saya tidak mengerti, kalau anda berkeberatan kalau saya berikan link-link. Namun, kalau anda mempunyai argumentasi yang baru tentang suatu topik, maka saya akan membuka topik pembahasan yang baru.

        Cobalah lihat contoh ini:

        Anda bertanya dan memberikan tanggapan (25 Mei 2010, 12:32 am)”salam kasih,
        Saya penasaran kapan maria di angkat kesorga dan di jadikan ratu sorga? di kisah para rasul 4:20 perkataan petrus dan Yohanes di hadapan pemimpin umat dan tua
        di katakan “sebab tidak mungkin kami untuk tidak berkata2 tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar ”
        Dari Firman ini saya ingin tahu siapa yang melihat dan siapa yang mendengar karena pengajaran petrus dan yohanes berdasarkan apa yang mereka terima dari Tuhan Yesus dan pimpinan Roh Kudus
        kalau menurut pastor di gereja di mana istri saya pergi misa dia mengatakan ketika Tuhan Yesus terangkat maria pun di angkat bersama2 , mungkin benar karena setelah Tuhan Yesus naik ke sorga cerita maria tidak ada lagi dan yang pasti murid2 Yesus menginjil dan mengajar tentang pengajaran, kebaikan, kuasa Tuhan Yesus dan tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang maria atau apa yang terjadi dengan maria mengingat maria menurut gereja katolik punya peranan penting sebagai perantara manusia dan Tuhan, apa murid2 Tuhan Yesus lupa dalam pengajarannya menyebut maria?

        a. Anda pernah bertanya hal yang sama dan menggunakan argumentasi yang sama di sini (11 September 2009, 10:42pm) – silakan klik. Bandingkan dengan pernyataan sebelumnya sebagai berikut:

        Wah senang sekali bisa menemukan situs ini, bagaimana penolakan kebenaran, mana ada penipu mau ngaku menipu, begini aga deh
        Ada ngak dari petingggi2 gereja khatolik atao pastor yg mau bilang bahwa maria terangkat kesorga???? Sy mau bilang tidak ada
        Why? Sy cek sendiri di alkitab, kata pastor [dari katolisitas: saya hapus nama pastor dan paroki, karena tidak relevan dalam diskusi ini] bahwa ketika Yesus naik kesurga membawa maria naik kesorga juga utk di jadikan
        Ratu sorga atau mother of heaven wah sy baca di kisah para rasul 1:12-14 maria masih bersama2 anak2nya maria dan
        Para rasul lagi bertekun sehati berdoa menunggu Roh Kudus, ayooo mana yg berbohong Firman Tuhan atau pastornya?
        Satu lagi di wahyu 12:1-6 GK menegaskan bahwa wanita yg disebut di wayu adalah maria
        Yg menjadi pertanyaan di ayat 6 kok maria lari ke padang gurun ya? Katanya ratu sorga???
        Sy beritahukan ya perempuan yg di maksud itu adalah gereja yg melahirkan jemaat2
        Yg melawan si iblis di gereja salib suci dalm renungan sabda suci nya mengatakan benar bahwa perempuan yg
        Dimaksud adalah gereja tp ada jg yg mempercayai bahwa itu adalah maria,
        Ayo baca alkitabnya sungguh2 bukan hanya jadi pendengar ya.
        Satu lagi yg penting neh Tentang ratu sorga adalah dari jaman babylon yg sekarang di pakai
        GK bahwa maria adalah ratu sorga, coba liat di yeremia 7:16-20 tentang melawan penyembahan
        Ratu sorga, jelas di jaman yeremia di pembuangan di babylon dan bangsa israel sudah
        Terpengaruh dgn dgn budaya babylon artinya ratu sorga di pakai bangsa babylon
        Yg dipakai oleh GK utk menghormati maria. Klo ada yg tidak setuju dgn ayat yg saya tulis
        Dan ada yg bisa menjelaskan ketidak benaran ayat2 yg Saya kasih, sy akn mencoretnya
        Dari alkitab saya.
        Minta Tuhan utk membukakan pintu rohani kita semua, kemulian hanya bagi
        Tuhan Yesus.

        [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

        b. Kemudian saya telah menanggapi pertanyaan anda dan membuka topik yang baru, yaitu: “Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga” di sini – silakan klik. Tentu saja, saya dapat cut and paste dari jawaban saya, namun hal tersebut tidaklah berguna, karena hanya sekedar duplikasi. Dengan diskusi yang tidak terstruktur dan terpencar-pencar, membuat diskusi hanya dapat menyentuh kulitnya saja. Jadi, saran saya dalam hal ini adalah: 1) anda telah bertanya dan menyanggah, 2) Saya telah menjawab dan memberikan tanggapan, 3) Kalau anda tidak setuju, anda berhak juga untuk memberikan argumentasi atau memberikan sanggahan, 4) Selesaikanlah diskusi tersebut dan kemudian baru berpindah ke topik yang lain.

        Namun, pada akhirnya keputusan ada di tangan anda. Yang dapat saya lakukan adalah membuka diri saya untuk berdiskusi dengan anda, kalau memang anda mau berdiskusi secara serius dan mendalam. Semoga keterangan ini dapat menghapuskan kecurigaan maupun kesalahpahaman yang ada.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

      • Shalom Adri, Belum cukuplah anda mengikutinya selama setahun jika dibandingkan dengan pendeta-pendeta yang convert ke katholik dengan pengalaman sampai bertahun-tahun, mengembara kebeberapa sekte2 protestan akhirnya kembali ke pangkuan gereja katholik. jadi tidak cukup hanya setahun, bisa bertahun-tahun atau mungkin sampai memutih rambutmu. tidak ada kata terlambat untuk pulang kerumah. HOME SWEET ROME. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: