Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah TuhanDalam tulisan terdahulu, kita telah membahas bahwa kepercayaan kepada satu Tuhan adalah sesuatu yang sangat logis/ masuk akal (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Tahap selanjutnya adalah: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus dan menjadi seorang Kristen. Namun pertanyaannya sekarang, Kristen yang mana?
Pertanyaan di atas menjadi penting di zaman sekarang ini, mengingat bahwa dewasa ini ada begitu banyak tipe kekristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih dahulu tentang Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus, adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Maka, kerap kali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:
Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Padahal, dalam pencarian kebenaran, seharusnya, fokus kita bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada kebenaran, yang akhirnya mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus Kristus. Dengan kata lain, kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.
Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah: “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangatlah mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir zaman.
Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Menurut mereka, pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus. Sebelumnya sang pendiri ini adalah salah seorang anggota jemaat gereja Y. Kemudian karena sesuatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana bila suatu saat, karena sesuatu hal, ada umat di gereja X yang juga mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, bukankah nanti dapat terjadi ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”
Kalau kita meneliti dengan jujur, inilah yang terjadi sekarang ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia. Data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah, “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, mengapa tidak ada kesatuan? Padahal kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu dan bukan roh pemecah.”
Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak jemaat awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Namun, sayangnya perpecahan ini tetap terjadi, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Di abad- abad berikutnya, perpecahan gereja terus terjadi, contohnya:
Perpecahan ini terus bertambah setiap hari sampai saat ini, walaupun sesungguhnya, perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum sengsara-Nya. Yesus berdoa untuk semua orang yang percaya kepada-Nya agar bersatu seperti Ia bersatu dengan Allah Bapa agar dunia bisa percaya kepada-Nya (lih. Yoh 17:21).
Mungkin ada orang yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua gereja percaya akan Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu yang tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama. Contohnya: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Ada berapakah jumlah sakramen? Isu-isu tentang otoritas, dan lain sebagainya. Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dan hal perbedaan ajaran terjadi juga di antara sesama gereja-gereja non- Katolik.
Ada banyak orang beranggapan bahwa yang penting adalah seseorang percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, namun tidaklah penting dari gereja yang mana. Mungkin anggapan seperti ini sedikit banyak sejalan dengan tulisan C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen seumpama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Maka yang terpenting adalah, pertama- tama masuk ke rumah tersebut terlebih dahulu, sedangkan hal masuk di ruangan mana tidaklah menjadi terlalu penting. Di sini, ruangan diartikan sebagai denominasi gereja-gereja.
Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti tentang hakekat gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita dapat mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal dalam satu rumah, memilih ruangan masing-masing, namun tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama? Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita, masing-masing rumah tangga mempunyai peraturan yang harus ditaati, agar semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mrk 3:25). Kalau sebuah rumah yang besar terpecah-pecah dalam berbagai ajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Jika pemahaman yang diajarkan oleh C.S Lewis ini benar, maka, seharusnya semakin lama semua orang yang sama-sama tinggal di rumah itu semakin bersatu, dan bukannya semakin terpecah.
Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, mengapa gereja- gereja itu mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab jika dipahami tentang hakekat Gereja itu sendiri.
Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus adalah Kepala, dan Gereja adalah anggota-anggota tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan Gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan Kepalanya, yaitu Kristus. Kalau Yesus sendiri menghendaki agar para anggota-Nya bersatu, maka mereka harus mengikuti. Persatuan ini dikehendaki oleh Kristus, sehingga Ia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya terdiri dari satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan -sebagai Mempelai Kristus- juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.
Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja hanyalah bersifat spiritual, di mana para anggotanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul, maka Ia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi di mana ada dua atau tiga orang jemaat berkumpul, di situlah terbentuk Gereja. Namun di sinilah letak permasalahannya, sebab hakekat Gereja bukanlah hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]
Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih Allah ini agar semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Oleh karena itu, Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus menerus mengalami pemurnian dan pertobatan agar sampai kepada tujuan akhirnya, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.
Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakramen, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah Kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berasal dari para rasul yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik-lah yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Karena Gereja didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, maka tidak ada suatu apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]
Mungkin ada pula orang yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni; dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi, menurut anggapan ini, Gereja Katolik yang sekarang adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, mari kita telusuri lebih jauh. Anggaplah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada zaman reformasi. Seharusnya setelah diperbaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah zaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) maka gereja justru semakin terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denominasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.
Keberatan yang lain ialah anggapan yang mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak. Sejak abad awal sudah ada begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Selanjutnya, banyak orang yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, terdapat pula percobaan yang terjadi di dalam tubuh Gereja Katolik sendiri, baik karena korupsi maupun penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dan lain-lain. Gereja Katolik mengakui bahwa hal- hal ini terjadi karena adanya unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Namun demikian, kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun diterpa berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Jika Gereja Katolik hanya buatan manusia, maka Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.
Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Ajaran Gereja Katolik selalu mengambil sumber dari pengajaran Yesus dan para rasul, sebagaimana yang dilestarikan oleh para penerus mereka. Perumusan suatu ajaran yang diadakan di abad- abad kemudian bukan merupakan perubahan ataupun tambahan yang sama sekali baru terhadap suatu ajaran, namun merupakan penjelasan yang semakin menyempurnakan ajaran tersebut. Hal perkembangan ini dikenal dengan istilah “pertumbuhan organik” suatu ajaran.[11] Konsistensi ajaran Gereja dapat dibuktikan dari segi waktu maupun tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.
(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).
Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak mengenal Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, karena bukan kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan melaksanakan hukum kasih[13], di mana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka tetap diperoleh dari Yesus Kristus.[15]
Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalnya memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup di dalam kasih, dll. Bahkan Gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. Konsili menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” (Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium 14)
Akhirnya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Konsili Vatikan II menegaskan akan pentingnya kita untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mengasihi Tuhan dan sesama[1]. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmani, namun bukan secara rohani, dan orang yang sedemikian tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).
Mungkin ada dari kalangan non- Katolik yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik – yang seharusnya telah mengetahui bahwa kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini – untuk senantiasa berjuang setiap hari untuk melaksanakan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh para orang kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?
[1]Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan “actual grace” atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembaptisan.
[2] Rasul Yohanes mengatakan “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.
[3] (Lih. Yoh 14:6) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.
[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)
[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. – Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat Gereja, namun menerimanya dari Kristus. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.
[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di Api penyucian.
[8] Lihat Lumen Gentium 8, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakan Gereja kepada Petrus dan para rasul lainnya, untuk diperluas dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”
[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata ” Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan “jemaat-Ku”. Namun dalam bahasa aslinya adalah “ekklesia” yang berarti “gereja”. Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada “satu”.
[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscence). kecenderungan untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.
[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “An Essay of the Development of Christian Doctrines“, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajaran yang dapat ditelusuri sampai kepada zaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam hal pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk karena ia menempatkan kebenaran di atas segalanya, ia berpindah dari gereja Anglikan ke Gereja Katolik.
[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.
[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan hukum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan akhir – yaitu persatuan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.
[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”
[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).
[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan “. Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.
[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.
Kami pernah membaca di dalam website ini , kutipan Injil tentang Pokok Anggur dan ranting-rantingnya.
Kutipan tersebut dijadikan dasar untuk menunjukkan kesatuan dan keutuhan Tubuh Kristus dan juga secara khusus kesatuan gereja ( katolik ) di dunia. Gereja-gereja non katolik berada di luar satu pokok anggur tersbut.
Kami ingin menanyakan kembali:apakah penafsiran dari kutipan perumpamaan pokok anggur itu memang layak dan valid dijadikan dasar argumentasi untuk mendukung dogma Katolik tentang kesatuan gereja di dunia?
Apakah perumpamaan di atas hanya mempunyai tafsir tunggal seperti di atas?
Saudara-saudara seiman dari gereja kristen nonkatolik belum tentu menerima tafsir tunggal demikian sebagai argumentasi biblis untuk mendukung kesatuan gereja di dunia.
[dari katolisitas: Kutipan tentang Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya bukanlah satu-satunya pendukung kesatuan Gereja. Kita dapat melihat alasan-alasan yang lain dalam artikel di atas - silakan klik dan juga diskusi ini - silakan klik. Semoga dapat membantu.]
manakah yang paling benar . . . . kristen katolik
kristen protestan
atau kristen yang lain
apakah bedanya nasrani dan kristen?
[dari katolisitas: SIlakan melihat tanya jawab "Mengapa kita memilih Gereja Katolik" - silakan klik. Nasrani dan Kristiani keduanya mengacu kepada para murid/ pengikut Kristus.
Kitab Suci mengatakan bahwa para murid Kristus disebut sebagai Kristen (Kis 11: 26). Sedangkan istilah 'Nasrani' berhubungan dengan kata 'Nasaret'. Dalam Kitab Suci dikatakan Yesus disebut sebagai Orang Nazaret (lih. Mat 2:23), a Nazorean, yang berasal dari kata 'nezer' yang artinya tunas (Yes 11:1) dan 'nazorite' yaitu nazir (orang yang mempunyai nazar khusus untuk mengkhususkan dirinya bagi Tuhan (lih. Bil 6:2); dan Nazaret juga adalah nama kota tempat di mana Tuhan Yesus Kristus tinggal bersama dengan St. Yusuf dan Bunda Maria, saat Ia menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, setelah wafat dan kebangkitan Kristus, para pengikut Kristus (sepertihalnya Rasul Paulus) diasosiasikan juga sebagai 'orang Nasrani' (lih. Kis 24:5) karena mereka mengikuti Kristus, Orang Nazaret.]
Benarkah ini ajaran Katolik???
Yahudi/ Israel yang sejati adalah Gereja Katolik, Inilah satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Yesus (seorang Yahudi keturunan Daud) diatas 12 Rasul Yahudi (yang dilambangkan oleh PL sebagai 12 suku Israel) yang mana fondasi utama 12 Rasul ini adalah Petrus seorang Yahudi pula (Mat 16:18)
Gereja-gereja/ jemaat-jemaat lain didirikan oleh manusia biasa, bukan Yesus. Kebanyakan pendiri jemaat adalah non yahudi, atau kalaupun ada yang mendirikan adalah orang Yahudi, pendirinya bukan Yesus dan bahkan bukan penerus dari 12 fondasi Gereja Israel Sejati.
Para Paus dan Bapa Gereja dilain pihak, adalah penerus dari Petrus dan 11 Rasul lainnya. Jadi meskipun mereka memiliki ras non Yahudi, mereka dapat kepercayaan penuh dari Allah dan 12 rasul untuk menggembalakan Israel yang sejati ini.
Melalui Gereja Katoliklah, identitas Israel dipulihkan. Kerajaan Israel sudah pulih.
3 Tanda kerajaan Israel Kuno dimasa kejayaanya:
1. Memiliki Bunda Ratu (Gebirah), ibu dari Raja
2. Memiliki perdana Menteri yang memegang “Kunci” pemerintahan
3. Kelengkapan 12 suku Israel dalam persatuan penuh
3 tanda Gereja Katolik sebagai pemulihan Kerajaan Israel:
1. Memiliki Bunda Ratu, Maria, Ibu dari Yesus
2. Memiliki seorang pemegang kunci, yaitu Paus yang diawali Petrus (Mat 16:18)
3. Para Paus dan Uskup, penerus 12 Rasul dalam kesatuan penuh
3 tanda ini tidak pernah ada di jemaat manapun, entah protestan, Jehovah WItness, Messianik, Adventist, Kharismatik, Pentakostal, dsb… kecuali Katolik
Shalom Ian,
Secara prinsip, Gereja memang merupakan Israel yang baru. Hal ini disebutkan dalam dokumen Vatikan II, Lumen Gentium, art.9, yang menuliskan:
Yang perlu ditekankan, dalam hal ini bukan masalah pendiri dari Yahudi atau non-yahudi. Yang perlu ditekankan adalah pendiri Gereja adalah Kristus sendiri yang adalah Allah, yang memberi kuasa kepada rasul Petrus dan penerusnya untuk menjadi pemimpin Gereja (lih. Mat 16:16-19). Kuasa untuk mengajar juga diberikan kepada para rasul yang lain (lih. Yoh 20:21-23), yang kemudian diteruskan oleh para uskup dalam persatuan dengan Paus. Dan Gereja yang didirikan oleh Kristus mempunyai empat tanda, yaitu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Silakan membaca artikel ini – silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Shawlom & terimakasih kepada para pekerja katolisitas.org; “Ad Maiorem Dei Gloriam”.
God is a concept by which we measure our pain.
[dari katolisitas: Apakah dengan demikian, pernyataan di atas ingin mengatakan bahwa Tuhan tidaklah nyata? Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu - silakan klik.]
Bagaimana dengan pendapat John Lennon dibawah ini menurut Katolisitas?
I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky. I believe that what people call God is something in all of us. I believe that what Jesus and Mohammed and Buddha and all the rest said was right. It’s just that the translations have gone wrong.
John Lennon
Shalom Dave,
Terima kasih atas kutipannya dari John Lennon. Menurut saya, kutipan di atas tidak sesuai dengan iman Katolik dan perlu dikritisi lebih lanjut. Apakah dengan mengatakan “I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky.” maka dia ingin mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Pribadi? Kalau seseorang mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang mempunyai akal budi dan keinginan, maka sesungguhnya hal ini bertentangan dengan prinsip “seseorang tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya”. Karena manusia mempunyai akal budi dan kehendak, maka Tuhan pasti mempunyai akal budi dan kehendak dalam derajat yang sempurna secara absolut. Silakan melihat artikel ini – silakan klik.
Apakah perkataan “I believe that what people call God is something in all of us“ bermaksud untuk mengatakan bahwa ada partikel Tuhan di dalam diri setiap orang? Kalau demikian, maka hal ini menjadi paham pantheism yang bertentangan dengan iman Katolik, karena mengajarkan Tuhan ada di dalam semua dan semua adalah Tuhan. Namun, kalau maksudnya Tuhan menjaga dan memelihara eksistensi setiap individu, maka ini adalah pernyataan yang benar. Bahkan Tuhan berdiam secara istimewa pada orang yang telah menerima baptisan dan berada dalam kondisi rahmat.
Perkataan “I believe that what Jesus and Mohammed and Buddha and all the rest said was right” perlu diklarifikasi. Perkataan yang mana yang dianggap benar? Apakah kalau ada kebenaran yang dinyatakan dan saling bertentangan, maka semuanya dianggap benar? Kalau demikian, ini adalah paham relativisme, yang ditentang oleh Gereja Katolik. Lihat artikel ini – silakan klik dan ini – silakan klik. Dan akhirnya kalimat “It’s just that the translations have gone wrong.” perlu dipertanyakan. Jadi, interpretasi siapa yang dianggap benar? Dengan perkataan lain, pernyataan yang diberikan oleh John Lennon tentu saja tidak sesuai dengan iman Katolik. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
salam
mungkin pertanyaan ini konyol, apa istimewanya jd org Katolik? Hak2 apa yg hanya didapatkan oleh org Katolik yg umat lain tdk dptkn? Kenapa harus ke gereja? Tp pertanyaan2 ini yg sering ditanyakan terutama oleh org2 di luar Katolik, terima kasih.
[dari katolisitas: silakan mulai dengan membaca artikel di atas - silakan klik. Kalau Kristus mendirikan Gereja Katolik, maka sudah seharusnya kita masuk di dalamnya. Kalau Tuhan memberikan perintah untuk untuk menguduskan hari Tuhan, maka sudah seharusnya kita pergi ke Gereja.]
“You have a fine way of setting aside the commands of God in order to observe your own traditions!”
[dari katolisitas: Menurut saya, akan lebih baik, kalau anda memberikan argumentasi di bagian mana dari artikel di atas yang bertentangan dengan perintah Allah, sehingga kita dapat berdiskusi secara lebih mendalam.]
Mohon penjelasan mengenai perikop ini dalam hubungannya dengan Gereja Katolik.
Kis.11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
a. Kumpulan orang percaya (gereja) Katolik kah yang dimaksud dengan perikop tersebut.
b. Apakah perikop tersebut juga memberi bukti bahwa ada jemaat sebelum murid2 Yesus mulai mengajar?
2 Petrus2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
a. Apa yang dimaksud dengan Jalan Kebenaran dalam surat Petrus di atas?
b. Adakah dokumen yang mendukung fakta bahwa Petrus pernah ke Roma.
Terima kasih.
Shalom Nien Mitano,
1. Kis 11:26
a. Kis 11 :26 mengacu kepada Gereja apostolik/ jemaaat perdana yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, yang saat itu sudah tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (Lih. Kis 11:19). Dari perikop tersebut kita ketahui bahwa saat itu Gereja awal yang terbentuk secara resmi di hari Pentakosta di Yerusalem, sudah meluas ke wilayah- wilayah sekitarnya. Maka jika anda tanyakan apakah yang disebut di ayat Kis 11:26 ini adalah Gereja Katolik, maka jawabnya adalah ya, karena memang Gereja apostolik tersebut adalah Gereja Katolik, walaupun nama “Katolik” baru resmi dikenakan pada Gereja pada awal abad ke-2 (tahun 107). Saat itu (107), Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Symrna 8, untuk menyatakan Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.” (St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Symrna, 8). Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, yaitu bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus; walaupun sebenarnya asal usul Gereja Katolik, tetaplah adalah Gereja yang satu dan sama, yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus yang resmi dilahirkan di hari Pentakosta sekitar tahun 30.
Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal; atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Ini sesuai dengan amanat agung yang dikatakan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga, agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
Jadi, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Di sini kata “Katha holos atau katholikos”; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Memang Kristus pertama- tama menugasi para rasul-Nya untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea, namun akhirnya, sampai ke seluruh dunia (lih Kis 1:8). Karena pusat dunia saat itu ialah Roma, maka Rasul Petrus dan Paulus saat itu sama- sama menuju Roma, untuk memenuhi perintah Kristus ini.
b. Sepanjang pengetahuan saya, perikop Kis 11:19-30 tidak memberikan bukti bahwa ada (Gereja) jemaat sebelum murid- murid Yesus mulai mengajar. Sebab yang mendirikan Gereja (ekklesia) apostolik ini adalah Kristus, dan kuasa Roh Kudus turun atas para rasul pada saat Pentakosta, yang memampukan mereka mengajar orang banyak dan melakukan mukjizat dengan kuasa yang mereka terima dari Allah. Baru sejak saat itu Gereja berkembang, mulai dari Yerusalem, lalu ke Yudea, dan seluruh dunia sebagaimana diperintahkan Kristus (lih. Kis 1:8).
2. 2 Petrus 2:21
a. “Jalan Kebenaran” yang dimaksud di sini adalah Kristus. Sehingga ayat 22, menjabarkan keadaan serius dari mereka yang kembali ke dalam kehidupan yang penuh dosa setelah mengetahui ajaran Kristus yang menyelamatkan. Ayat ini mengacu kepada para pengajar sesat maupun mereka yang disesatkan oleh pengajaran mereka. Jika demikian, keadaan mereka yang terakhir menjadi lebih parah daripada keadaan mereka yang mula- mula (lih. Mat 12:45).
b. Dokumen yang mendukung fakta bahwa Rasul Petrus pernah ke Roma sudah pernah dijabarkan di sini, silakan klik. Sedangkan tanggapan bagi mereka yang tidak mengakui keberadaan Kristus di Roma, klik di sini. Tentang benarkah makam Petrus ada di basilika St. Petrus Vatikan, klik di sini. Tentang tanggapan kami terhadap informasi yang menyatakan bahwa kubur Petrus ada di Yerusalem, silakan klik di sini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Saya bingung menjawab pertanyaan yang diajukan kawan Protestan sbb:
1. apakah jemaat dalam Mat. 16:18 artinya gereja khatolik, Yesus mendirikan jemaat bukan Gereja Katolik
2. apakah tubuh YESUS sbg roti hidup diserahkan YESUS sekali saja, atau berulang ulang setiap perayaan ekaristi..
3. manakah yg masuk sorga.. seseorg yg ke gereja khatolik tanpa mengakui YESUS sbg Juruselamatnya, atau seseorg yg mengakui YESUS sbg Juruselamatnya tanpa ke gereja khatolik..
Bisakah saya mendapat penjelasan, terima kasih atas waktunya
Tuhan Memberkati Katolisitas
Shalom Aida Bela,
Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:
1. Tentang Gereja Katolik: Apakah Yesus mendirikan Gereja dan Gereja ini adalah Gereja Katolik, maka ada beberapa tanya jawab yang membantu di sini – silakan klik, klik ini dan klik ini. Kalau memang Yesus tidak mendirikan Gereja Katolik, yang satu, kudus, katolik dan apostolik, namun hanya jemaat, maka pertanyaannya adalah: jemaat yang mana, karena pengajaran dari jemaat-jemaat tersebut adalah berbeda-beda?
2. Tentang Roti Hidup: Yesus sebagai roti hidup yang disebutkan dalam Yohanes 6 dan juga dalam Perjamuan Kudus. Kita melihat apa yang dikatakan oleh Yesus “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Dengan demikian, Kristus menginginkan agar kita dapat memperingati Kristus dengan cara merayakan Sakramen Ekaristi. Dan karena kita ingin memperingati kasih Kristus setiap hari, maka Gereja Katolik mengadakan perayaan Ekaristi setiap hari. Dan kalau kita mengingat perayaan ini dilakukan oleh banyak umat Katolik dengan waktu yang berbeda-beda, maka dapat dikatakan bahwa perayaan ini adalah perayaan yang dilakukan setiap saat.
3. Tentang keselamatan: Seseorang yang ke Gereja Katolik namun tidak mengaku Yesus sebagai juru selamatnya, maka perlu dipertanyakan apakah orang ini benar-benar mengerti tentang iman Katoliknya. Setiap bagian dari perayaan Ekaristi adalah berfokus pada Kristus sendiri. Semua sakramen-sakramen yang ada di dalam Gereja Katolik mengalir dari misteri Paskah Kristus. Bagaimana mungkin seorang Katolik tidak mengaku bahwa Kristus adalah juru selamatnya? Namun, kalau seorang Katolik tidak bertumbuh dalam kasih, maka dia juga tidak dapat diselamatkan (lih. LG, 14)
Bagaimana dengan seseorang yang mengaku Yesus sebagai juru selamat namun tidak masuk ke dalam Gereja Katolik? Lumen Gentium 14 menjelaskannya demikian:
Jadi, kuncinya adalah apakah orang tersebut benar-benar tidak tahu (invincible ignorance) bahwa Gereja Katolik adalah benar-benar menjadi sakramen keselamatan. Kalau dia tahu bahwa Gereja diperlukan untuk keselamatan namun tidak mau masuk ke dalamnya, maka dia tidak dapat diselamatkan. Namun, yang tahu secara persis apakah orang tersebut tahu atau tidak (dalam kategori: invincible ignorance) adalah Tuhan sendiri. Silakan melihat tanya jawab tentang keselamatan di sini – silakan klik dan ini – silakan klik. Semoga jawaban dan link-link ini dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Mengapa Protestant cuba menjelekkan POPE di mata dunia ya?
Mengapa mereka itu menjelekkan Tradisi orang Katolik??
Apakah sebenarnya mesej yang cuba disampaikan oleh mereka???
Shalom Epie,
Terima kasih atas pertanyaannya. Tradisi Suci merupakan salah satu pilar kebenaran yang tidak diakui oleh Kristen non-Katolik. Dan Paus adalah wakil Kristus di dunia ini dan menjadi penerus rasul Petrus, yang menjadi pemersatu umat beriman, yg kalau memberikan pengajaran ex-cathedra yang tidak dapat sesat – yang mensyaratkan pengajaran iman dan moral, yang diberikan dalam kapasitasnya sebagai penerus rasul Petrus serta berlaku seluruh dunia. Dan peran ini juga tidak diakui oleh Kristen non-Katolik.
Kita mencoba untuk melihat bahwa mereka yang melakukan kritikan berniat baik dengan mengingatkan umat Katolik yang mereka pandang mempunyai pengajaran yang sesat. Yang dapat kita lakukan adalah menyambut niat baik ini dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Semoga dengan penjelasan yang memadai, maka mereka minimal dapat melihat bahwa iman Gereja Katolik sesungguhnya mempunyai dasar yang kuat. Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu marah, namun hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk semakin mempelajari iman Katolik kita, sehingga kita dapat menerangkannya dengan hormat dan lemah lembut jika ada yang meminta pertanggungjawaban akan apa yang kita percayai.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Syalom,
saya katolik
bagaimana menjelaskan tentang mengapa gereja Katolik berdoa kepada Bunda Maria, para Santo & Santa & juga para malaikat kepada orang2 kristen diluar Katolik? terutama kepada Bunda Maria, karena mereka berpikir kalau kita (Katolik) juga menyembahnya, oiya, mereka juga sering mengira kalau kita (Katolik) menyembah patung2 itu seperti berhala. bagaimana cara menjelaskannya dengan singkat jelas dan padat yah?
terimakasih,
GBU
[dari katolisitas: silakan melihat ini - klik ini, dan ini - klik ini, dan klik ini]