Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalam tulisan terdahulu, kita melihat bahwa adalah sangat logis kalau kita percaya kepada satu Tuhan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Kemudian setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Pertanyaan selanjutnya: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus, menjadi seorang Kristen. Namun sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi.

Pertanyaan di atas menjadi penting pada jaman sekarang ini, mengingat bahwa ada begitu banyak tipe ke-Kristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Sering kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:

  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.

Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Dalam pencarian kebenaran, fokusnya bukan diri sendiri, tapi pada kebenaran, yang pada akhirnya akan mengarahkan manusia kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus. Ini berarti kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja yang mana?

Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangat mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir jaman.

Gereja terpecah belah

Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus yang tadinya beliau menjadi jemaat gereja Y. Kemudian karena suatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka “Bagaimana bila suatu saat, karena suatu hal, ada umat di gereja X mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, sehingga nanti ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”

Dan kalau kita meneliti secara jujur, inilah yang terjadi di dunia ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia ini, dimana data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, kenapa tidak ada kesatuan? Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu bukan roh pemecah.”

Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang

Kita dapat melihat sejak dari awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada sejak dari jemaat awal. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Dan benih perpecahan ini terjadi terus, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja:

  • Gereja Timur Orthodox (1054).
  • Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
  • Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
  • Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
  • Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
  • Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
  • Presbyterian di Skotlandia (1560).
  • Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
  • Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
  • Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.

Perpecahan ini terus berkembang dan bertambah setiap hari di dunia ini. Namun perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum Yesus mengalami penderitaan. Yesus berdoa untuk persatuan umat Tuhan, seperti persatuan antara Bapa dan Yesus sendiri dan juga agar dunia bisa percaya kepada Yesus (lih. Yoh 17:21).

Mungkin ada yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua percaya kepada Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama, sebagai contoh: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Jumlah sakramen ada berapa? Isu-isu tentang otoritas, dll. Kita juga tahu bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dll.

Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa.

Kita sering mendengar seseorang mengatakan bahwa yang penting bahwa manusia percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, dan tidak penting berada di gereja yang mana. Mungkin pernyataan seperti ini, ada pengaruh tulisan dari C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen sama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Yang penting masuk ke rumah tersebut dan perkara mau masuk ruangan di manapun itu tidaklah penting. Ruangan di sini dapat berarti denominasi gereja-gereja.

Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti hakekat dari gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita bisa mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal satu rumah, memilih ruangan masing-masing dan tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama. Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita masing-masing mempunyai peraturan yang harus ditaati, sehingga semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mar 3:25). Kalau di dalam rumah besar terpecah-pecah dengan berbagai pengajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Kalau benar bahwa semua orang tinggal di rumah besar itu, seharusnya semakin lama mereka tinggal bersama-sama, mereka akan semakin bersatu.

Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, kenapa mereka mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab dari hakekat Gereja itu sendiri.

Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus sebagai kepala, dan Gereja sebagai tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan kepalanya, yaitu Kristus. Dan kalau Yesus sendiri berkata bahwa umat Tuhan harus bersatu, maka umat harus mengikuti. Persatuan inilah yang diinginkan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya ada satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja adalah hanya secara spiritual, dimana semua mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa dimana dua atau tiga orang berkumpul, maka Dia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi dimana dua atau tiga jemaat berkumpul disitulah terbentuk gereja. Disinilah letak permasalahannya, bahwa hakekat Gereja bukan hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]

Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih dari Allah untuk semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Di sinilah Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus mengalami pemurnian dan pertobatan terus menerus sampai kepada tujuan akhir, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.

Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus

Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakrament, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berdasarkan apostolik atau para murid yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Dan Gereja ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, dimana tidak ada apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]

Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya.

Mungkin ada yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi Gereja Katolik yang sekarang ada adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, kita telusuri lebih jauh. Taruhlah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada jaman reformasi. Seharusnya setelah diperaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah jaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) Gereja, maka gereja justru terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denomasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.

Keberatan yang lain ada yang berkata bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak, mulai dari abad awal melalui begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Juga banyak yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Tidak terlepas percobaan dari dalam Gereja Katolik sendiri, baik melalui korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dll. Gereja Katolik mengakui bahwa ada unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.

Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus.

Namun sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Sehingga dikatakan ada suatu “pertumbuhan organik“.[11] Konsistensi ini dapat dibuktikan dari segi waktu dan juga tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.

Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?

(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).

Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak kenal dengan Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]

Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembatisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.

Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini dikarenakan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).

Berapa banyak dari umat agama lain yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini adalah suatu tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik – dimana kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini – untuk senantiasa berjuang setiap hari mempraktekkan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus adalah merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh Para Kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?


[1] Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan “actual grace” atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembabtisan.

[2] Rasul Yohanes mengatakan “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.

[3] (Lih. Yoh 14:6) ” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.

[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)

[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. – Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat gereja, namun menerima. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.

[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di api penyucian.

[8] Lihat Lumen Gentium 8, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”

[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata ” Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan “jemaat-Ku”. Namun dalam bahasa aslinya adalah “ekklesia” yang berarti “gereja”. Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada “satu”.

[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai inklinasi untuk berbuat dosa (concupiscence). Inklinasi untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.

[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.

[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.

[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan hukum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan akhir – yaitu persatuan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.

[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”

[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).

[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan “. Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.

[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

137 Komentar to Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

  1. God is a concept by which we measure our pain.

    [dari katolisitas: Apakah dengan demikian, pernyataan di atas ingin mengatakan bahwa Tuhan tidaklah nyata? Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu - silakan klik.]

  2. Bagaimana dengan pendapat John Lennon dibawah ini menurut Katolisitas?

    I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky. I believe that what people call God is something in all of us. I believe that what Jesus and Mohammed and Buddha and all the rest said was right. It’s just that the translations have gone wrong.

    John Lennon

    • Shalom Dave,

      Terima kasih atas kutipannya dari John Lennon. Menurut saya, kutipan di atas tidak sesuai dengan iman Katolik dan perlu dikritisi lebih lanjut. Apakah dengan mengatakan “I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky.” maka dia ingin mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Pribadi? Kalau seseorang mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang mempunyai akal budi dan keinginan, maka sesungguhnya hal ini bertentangan dengan prinsip “seseorang tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya”. Karena manusia mempunyai akal budi dan kehendak, maka Tuhan pasti mempunyai akal budi dan kehendak dalam derajat yang sempurna secara absolut. Silakan melihat artikel ini – silakan klik.

      Apakah perkataan “I believe that what people call God is something in all of us“  bermaksud untuk mengatakan bahwa ada partikel Tuhan di dalam diri setiap orang? Kalau demikian, maka hal ini menjadi paham pantheism yang bertentangan dengan iman Katolik, karena mengajarkan Tuhan ada di dalam semua dan semua adalah Tuhan. Namun, kalau maksudnya Tuhan menjaga dan memelihara eksistensi setiap individu, maka ini adalah pernyataan yang benar. Bahkan Tuhan berdiam secara istimewa pada orang yang telah menerima baptisan dan berada dalam kondisi rahmat.

      Perkataan “I believe that what Jesus and Mohammed and Buddha and all the rest said was right” perlu diklarifikasi. Perkataan yang mana yang dianggap benar? Apakah kalau ada kebenaran yang dinyatakan dan saling bertentangan, maka semuanya dianggap benar? Kalau demikian, ini adalah paham relativisme, yang ditentang oleh Gereja Katolik. Lihat artikel ini – silakan klik dan ini – silakan klik. Dan akhirnya kalimat “It’s just that the translations have gone wrong.” perlu dipertanyakan. Jadi, interpretasi siapa yang dianggap benar? Dengan perkataan lain, pernyataan yang diberikan oleh John Lennon tentu saja tidak sesuai dengan iman Katolik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. salam

    mungkin pertanyaan ini konyol, apa istimewanya jd org Katolik? Hak2 apa yg hanya didapatkan oleh org Katolik yg umat lain tdk dptkn? Kenapa harus ke gereja? Tp pertanyaan2 ini yg sering ditanyakan terutama oleh org2 di luar Katolik, terima kasih.

    [dari katolisitas: silakan mulai dengan membaca artikel di atas - silakan klik. Kalau Kristus mendirikan Gereja Katolik, maka sudah seharusnya kita masuk di dalamnya. Kalau Tuhan memberikan perintah untuk untuk menguduskan hari Tuhan, maka sudah seharusnya kita pergi ke Gereja.]

  4. “You have a fine way of setting aside the commands of God in order to observe your own traditions!”

    [dari katolisitas: Menurut saya, akan lebih baik, kalau anda memberikan argumentasi di bagian mana dari artikel di atas yang bertentangan dengan perintah Allah, sehingga kita dapat berdiskusi secara lebih mendalam.]

  5. Mohon penjelasan mengenai perikop ini dalam hubungannya dengan Gereja Katolik.

    Kis.11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

    a. Kumpulan orang percaya (gereja) Katolik kah yang dimaksud dengan perikop tersebut.
    b. Apakah perikop tersebut juga memberi bukti bahwa ada jemaat sebelum murid2 Yesus mulai mengajar?

    2 Petrus2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.

    a. Apa yang dimaksud dengan Jalan Kebenaran dalam surat Petrus di atas?
    b. Adakah dokumen yang mendukung fakta bahwa Petrus pernah ke Roma.

    Terima kasih.

    • Shalom Nien Mitano,

      1. Kis 11:26

      a. Kis 11 :26 mengacu kepada Gereja apostolik/ jemaaat perdana yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, yang saat itu sudah tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia (Lih. Kis 11:19). Dari perikop tersebut kita ketahui bahwa saat itu Gereja awal yang terbentuk secara resmi di hari Pentakosta di Yerusalem, sudah meluas ke wilayah- wilayah sekitarnya. Maka jika anda tanyakan apakah yang disebut di ayat Kis 11:26 ini adalah Gereja Katolik, maka jawabnya adalah ya, karena memang Gereja apostolik tersebut adalah Gereja Katolik, walaupun nama “Katolik” baru resmi dikenakan pada Gereja pada awal abad ke-2 (tahun 107). Saat itu (107), Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Symrna 8, untuk menyatakan Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.” (St. Ignatius,  Surat kepada jemaat di Symrna, 8). Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, yaitu bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus; walaupun sebenarnya asal usul Gereja Katolik, tetaplah adalah Gereja yang satu dan sama, yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus yang resmi dilahirkan di hari Pentakosta sekitar tahun 30.

      Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal; atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Ini sesuai dengan amanat agung yang dikatakan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga, agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

      Jadi, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Di sini kata “Katha holos atau katholikos”; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Memang Kristus pertama- tama menugasi para rasul-Nya untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea, namun akhirnya, sampai ke seluruh dunia (lih Kis 1:8). Karena pusat dunia saat itu ialah Roma, maka Rasul Petrus dan Paulus saat itu sama- sama menuju Roma, untuk memenuhi perintah Kristus ini.

      b. Sepanjang pengetahuan saya, perikop Kis 11:19-30 tidak memberikan bukti bahwa ada (Gereja) jemaat sebelum murid- murid Yesus mulai mengajar. Sebab yang mendirikan Gereja (ekklesia) apostolik ini adalah Kristus, dan kuasa Roh Kudus turun atas para rasul pada saat Pentakosta, yang memampukan mereka mengajar orang banyak dan melakukan mukjizat dengan kuasa yang mereka terima dari Allah. Baru sejak saat itu Gereja berkembang, mulai dari Yerusalem, lalu ke Yudea, dan seluruh dunia sebagaimana diperintahkan Kristus (lih. Kis 1:8).

      2. 2 Petrus 2:21

      a. “Jalan Kebenaran” yang dimaksud di sini adalah Kristus. Sehingga ayat 22, menjabarkan keadaan serius dari mereka yang kembali ke dalam kehidupan yang penuh dosa setelah mengetahui ajaran Kristus yang menyelamatkan. Ayat ini mengacu kepada para pengajar sesat maupun mereka yang disesatkan oleh pengajaran mereka. Jika demikian, keadaan mereka yang terakhir menjadi lebih parah daripada keadaan mereka yang mula- mula (lih. Mat 12:45).

      b. Dokumen yang mendukung fakta bahwa Rasul Petrus pernah ke Roma sudah pernah dijabarkan di sini, silakan klik. Sedangkan tanggapan bagi mereka yang tidak mengakui keberadaan Kristus di Roma, klik di sini. Tentang benarkah makam Petrus ada di basilika St. Petrus Vatikan, klik di sini. Tentang tanggapan kami terhadap informasi yang menyatakan bahwa kubur Petrus ada di Yerusalem, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Saya bingung menjawab pertanyaan yang diajukan kawan Protestan sbb:

    1. apakah jemaat dalam Mat. 16:18 artinya gereja khatolik, Yesus mendirikan jemaat bukan Gereja Katolik

    2. apakah tubuh YESUS sbg roti hidup diserahkan YESUS sekali saja, atau berulang ulang setiap perayaan ekaristi..

    3. manakah yg masuk sorga.. seseorg yg ke gereja khatolik tanpa mengakui YESUS sbg Juruselamatnya, atau seseorg yg mengakui YESUS sbg Juruselamatnya tanpa ke gereja khatolik..

    Bisakah saya mendapat penjelasan, terima kasih atas waktunya

    Tuhan Memberkati Katolisitas

    • Shalom Aida Bela,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1. Tentang Gereja Katolik: Apakah Yesus mendirikan Gereja dan Gereja ini adalah Gereja Katolik, maka ada beberapa tanya jawab yang membantu di sini – silakan klik, klik ini dan klik ini. Kalau memang Yesus tidak mendirikan Gereja Katolik, yang satu, kudus, katolik dan apostolik, namun hanya jemaat, maka pertanyaannya adalah: jemaat yang mana, karena pengajaran dari jemaat-jemaat tersebut adalah berbeda-beda?

      2. Tentang Roti Hidup: Yesus sebagai roti hidup yang disebutkan dalam Yohanes 6 dan juga dalam Perjamuan Kudus. Kita melihat apa yang dikatakan oleh Yesus “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Dengan demikian, Kristus menginginkan agar kita dapat memperingati Kristus dengan cara merayakan Sakramen Ekaristi. Dan karena kita ingin memperingati kasih Kristus setiap hari, maka Gereja Katolik mengadakan perayaan Ekaristi setiap hari. Dan kalau kita mengingat perayaan ini dilakukan oleh banyak umat Katolik dengan waktu yang berbeda-beda, maka dapat dikatakan bahwa perayaan ini adalah perayaan yang dilakukan setiap saat.

      3. Tentang keselamatan: Seseorang yang ke Gereja Katolik namun tidak mengaku Yesus sebagai juru selamatnya, maka perlu dipertanyakan apakah orang ini benar-benar mengerti tentang iman Katoliknya. Setiap bagian dari perayaan Ekaristi adalah berfokus pada Kristus sendiri. Semua sakramen-sakramen yang ada di dalam Gereja Katolik mengalir dari misteri Paskah Kristus. Bagaimana mungkin seorang Katolik tidak mengaku bahwa Kristus adalah juru selamatnya? Namun, kalau seorang Katolik tidak bertumbuh dalam kasih, maka dia juga tidak dapat diselamatkan (lih. LG, 14)

      Bagaimana dengan seseorang yang mengaku Yesus sebagai juru selamat namun tidak masuk ke dalam Gereja Katolik? Lumen Gentium 14 menjelaskannya demikian:

      Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.

      Jadi, kuncinya adalah apakah orang tersebut benar-benar tidak tahu (invincible ignorance) bahwa Gereja Katolik adalah benar-benar menjadi sakramen keselamatan. Kalau dia tahu bahwa Gereja diperlukan untuk keselamatan namun tidak mau masuk ke dalamnya, maka dia tidak dapat diselamatkan. Namun, yang tahu secara persis apakah orang tersebut tahu atau tidak (dalam kategori: invincible ignorance) adalah Tuhan sendiri. Silakan melihat tanya jawab tentang keselamatan di sini – silakan klik dan ini – silakan klik. Semoga jawaban dan link-link ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Mengapa Protestant cuba menjelekkan POPE di mata dunia ya?
    Mengapa mereka itu menjelekkan Tradisi orang Katolik??
    Apakah sebenarnya mesej yang cuba disampaikan oleh mereka???

    • Shalom Epie,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Tradisi Suci merupakan salah satu pilar kebenaran yang tidak diakui oleh Kristen non-Katolik. Dan Paus adalah wakil Kristus di dunia ini dan menjadi penerus rasul Petrus, yang menjadi pemersatu umat beriman, yg kalau memberikan pengajaran ex-cathedra yang tidak dapat sesat – yang mensyaratkan pengajaran iman dan moral, yang diberikan dalam kapasitasnya sebagai penerus rasul Petrus serta berlaku seluruh dunia. Dan peran ini juga tidak diakui oleh Kristen non-Katolik.

      Kita mencoba untuk melihat bahwa mereka yang melakukan kritikan berniat baik dengan mengingatkan umat Katolik yang mereka pandang mempunyai pengajaran yang sesat. Yang dapat kita lakukan adalah menyambut niat baik ini dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Semoga dengan penjelasan yang memadai, maka mereka minimal dapat melihat bahwa iman Gereja Katolik sesungguhnya mempunyai dasar yang kuat. Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu marah, namun hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk semakin mempelajari iman Katolik kita, sehingga kita dapat menerangkannya dengan hormat dan lemah lembut jika ada yang meminta pertanggungjawaban akan apa yang kita percayai.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Jona Widjaja May 5, 2011 at 9:37 pm

    Syalom,
    saya katolik
    bagaimana menjelaskan tentang mengapa gereja Katolik berdoa kepada Bunda Maria, para Santo & Santa & juga para malaikat kepada orang2 kristen diluar Katolik? terutama kepada Bunda Maria, karena mereka berpikir kalau kita (Katolik) juga menyembahnya, oiya, mereka juga sering mengira kalau kita (Katolik) menyembah patung2 itu seperti berhala. bagaimana cara menjelaskannya dengan singkat jelas dan padat yah?
    terimakasih,
    GBU

    [dari katolisitas: silakan melihat ini - klik ini, dan ini - klik ini, dan klik ini]

  9. Titus Anindya P April 10, 2011 at 1:29 pm

    Syalom rekan2 katolisitas.org yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus…

    Perkenalkan, saya Titus dari GPIB, salah satu gereja Protestan/Reformed di Indonesia. Saya memang bukan orang Katolik namun saya sangat suka dengan sejarah gereja yang banyak saya dapatkan dari rekan2 umat Katolik yang sudah memulai peradabannya jauh lebih lama dari Protestan.

    Saya juga sangat kagum dengan kesatuan iman umat Katolik yg sampai hari ini masih berada dalam satu naungan Gereja yang Kudus dan Am. Bahkan sampai sekarang saya juga masih suka “merinding” bila menyaksikan siaran langsung Misa Natal dari Vatikan di televisi yang begitu khidmat dan sakral. Saya membayangkan betapa indahnya bila persatuan semacam ini bisa tumbuh juga di antara denominasi gereja2 Protestan walaupun hal itu nampaknya mustahil untuk dilakukan.

    Yang ingin saya tanyakan adalah :

    1. Adakah upaya2 yang dilakukan oleh para pemimpin gereja baik dari Katolik maupun Protestan untuk menjalin/memperbaiki kembali hubungan kasih persaudaraan yang terkesan telah sangat renggang sejak revolusi pada abad pertengahan? Sebab sejatinya kita adalah bersaudara dalam Kristus walaupun pandangan kita sangat berbeda secara doktrinal dalam beberapa hal.

    2. Gereja Katolik memang baik dan sempurna karena secara sah berasal langsung dari Tuhan Yesus sendiri. Namun masih adakah kemungkinan untuk tumbuhnya gereja2 lain di luar Gereja Katolik yang juga berasal dari Kristus?
    Sebagai contoh, misalkan pada suatu daerah terdapat peradaban yang sangat terpencil, jauh dari jangkauan pelayanan Gereja Katolik. Apakah tidak mungkin bila Tuhan juga dapat memberikan semacam “lilin-lilin kecil” bagi mereka sebagai penerang iman mereka karena jangkauan cahaya Gereja Katolik tidak dapat menyinari mereka?

    3. Gereja Protestan memang terkesan urakan, ugal-ugalan dan tidak beraturan, bagaikan anak bungsu yang meninggalkan Bapa dan Saudaranya dalam Lukas 15:11-32. Akan tetapi dari kacamata iman rekan2 Katolik tidak adakah sedikitpun kebenaran Kristus dalam Gereja Protestan?
    Dari sekian ratus denominasi gereja Protestan, tidak adakah satupun yang layak untuk menerima “Kunci Kerajaan Allah” juga?
    Sebab revolusi dalam gereja pun tentunya terjadi atas kehendak Tuhan untuk memperbaiki dan menjaga Gereja-Nya dari kegelapan. Bila pada waktu itu tidak terjadi revolusi yang dilakukan oleh Martin Luther dan kawan2 mungkin pemahaman kita tentang Kekristenan tidak akan sekaya saat ini, sebab adalah sangat sulit bagi orang2 awam dan berpendidikan rendah seperti saya untuk memahami dan mempelajari pengetahuan2 maupun doktrin2 teologi gerejawi yang cukup kompleks dalam Gereja Katolik.

    Terima kasih rekan2, Bapak Stefanus dan Ibu Inggrid, tulisan2 Anda sangat memberkati dan membantu saya untuk lebih mengenal Kekristenan tidak hanya dari dalam gereja saya sendiri, tetapi juga dari kacamata iman saudara2 umat Katolik.

    Salam Kasih Karunia dan Damai Sejahtera,
    Tuhan Yesus Memberkati…..!!!

    • Shalom Titus Anindya P,

      Terima kasih atas pertanyaan dan komentarnya, serta selamat datang di situs ini. Memang Gereja Katolik mempercayai bawah ada empat tanda dalam Gereja, yaitu satu, kudus, katolik dan apostolik, yang dapat anda lihat juga di artikel ini – silakan klik. Persatuan umat Allah adalah kerinduan kita bersama, dan terlebih lagi adalah kerinduan Yesus sendiri – bahkan persatuan umat Allah adalah perintah Kristus sendiri, seperti yang didoakannya di Yohanes 17. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan atas pertanyaan anda:

      1. Tentang Ekumenisme: Sebenarnya, kalau kita melihat, konsili yang terakhir, Konsili Vatikan II ,dipenuhi dengan semangat ekumenisme. Vatikan II tidak mengeluarkan dogmatik yang baru, namun memberikan pendekatan pastoral dari dogma-dogma yang telah ada. Salah satu hasil dari KV II adalah Dekrit Unitatis Redintegration, yang dapat anda baca di sini – silakan klik. Pada bagian awal dijelaskan bahwa Gereja Katolik mengemban amanat persatuan dari Kristus namun pada saat yang bersamaan menyadari hakekatnya sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Dengan kesadaran dan ketaatan ini, Gereja Katolik ingin merangkul gereja-gereja yang lain. Inisiatif yang lain adalah dengan adanya “Pontifical Council for Promoting Christian Unity“, yang memang secara aktif mengusahakan persatuan umat Kristen. Mereka berdialog dengan gereja-gereja Timur dan juga dari gereja-gereja lain (Ecclesial Communites). Salah satu laporannya dapat anda lihat di sini – silakan klik , yang memaparkan usaha, harapan dan kendala dalam mewujudkan persatuan umat beriman. Anda juga dapat melihat arsip yang lain di sini – silakan klik.

      2. Tentang gereja-gereja di luar Gereja Katolik: Seperti yang anda percayai, bahwa Gereja Katolik didirikan secara langsung oleh Kristus sendiri, yang dapat ditelusuri dari Kitab Suci, Tradisi Suci, maupun dari Magisterium Gereja. Kalau Kristus sendiri menginginkan persatuan, maka sulit sekali untuk dapat menerima bahwa Kristus menghendaki banyak gereja dengan berbagai perbedaan dogma dan doktrin. Kalau Kristus sendiri mengajarkan monogami dan Gereja adalah mempelai wanita, maka sungguh sulit untuk diterima bahwa Kristus menghendaki adanya banyak gereja atau banyak mempelai wanita. Kalau dalam hukum kodrat kita tahu bahwa poligami berdosa, maka Kristus tidak mungkin mempunyai banyak gereja, karena itu berarti sama saja dengan mempunyai banyak mempelai wanita.

      Bahwa ada banyak daerah yang belum terjangkau oleh misionaris, maka menjadi tugas seluruh umat beriman untuk mencoba menjangkau mereka. Gereja Katolik dari awal mula mengirimkan banyak sekali misionaris ke daerah-daerah terpencil. Karya misionaris ini bukan hanya untuk sementara, namun biasanya mereka akan tinggal menetap dan mencoba untuk membentuk komunitas Gereja. Dan banyak misionaris-misionaris yang akhirnya menjadi martir atau dibunuh dalam tugas pelayanan mereka.

      Bahwa ada gereja-gereja non-Katolik yang turut melakukan karya-karya misionaris adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal. Dan saya juga mempercayai ada begitu banyak umat dari gereja-gereja non-Katolik yang memang mempunyai ketulusan dan kesungguhan untuk melakukan karya evangelisasi, yang didasari oleh kasih kepada Kristus sendiri. Jadi, hal ini adalah sesuatu yang baik. Oleh karena itu pada dokumen Unitatis Redintegratio, par. 3 (UR, 3) dikatakan “Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik.

      Namun, menjadi tugas setiap umat beriman dalam kapasitasnya masing-masing harus benar-benar mempelajari imannya. Kalau kita telah menyadari bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, maka dengan penuh kerendahan hati, minimal kita mencoba mempelajari apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik, yang mungkin pada akhirnya akan menuntun kita untuk masuk dalam Gereja Katolik.

      3. Tentang gereja Protestan: Saya yakin, bahwa ada begitu banyak orang yang dengan tulus hati mencari dan mengasihi Kristus dengan segenap hati, termasuk umat dari gereja-gereja non-Katolik. Dan dokumen dari Gereja Katolik mengakui akan hal ini. Namun, yang mungkin disayangkan adalah mereka yang terpisah dari Gereja Katolik sebenarnya justru tidak menikmati kesatuan beserta dengan karunia yang lain, seperti sakramen-sakramen, yang sebenarnya diberikan oleh Kristus sendiri untuk membantu umat-Nya. Di dalam dokumen yang sama dikatakan:

      Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah, Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.” (UR, 3)

      Kalau demikian, apakah yang diselamatkan hanya orang yang secara formal masuk dalam Gereja Katolik saja? Silakan membaca jawaban ini – silakan klik. Secara prinsip, kalau kita mengakui bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus, dan Yesus adalah kepala dari Tubuh Mistik Kristus (Gereja Katolik), serta Kepala dan Tubuh tidaklah terpisahkan, maka keselamatan juga terdapat (subsist) di Gereja Katolik. Tentu saja keterangan ini tidak akan cukup untuk menjelaskan secara detail pertanyaan anda. Oleh karena itu, silakan membaca link yang saya telah berikan. Kalau masih ada pertanyaan atau tanggapan setelah membaca link tersebut, maka anda dapat menyampaikannya lagi.

      Tentang revolusi Gereja, maka tentu saja Tuhan mengijinkan semuanya terjadi, karena tidak ada sesuatupun terjadi tanpa seijin Tuhan. Namun, perpecahan Gereja bukanlah yang dikehendaki oleh Tuhan, karena hal itu bertentangan dengan konsep Gereja yang satu dan persatuan yang diinginkan oleh Kristus sendiri. Dan bahwa ada oknum-oknum dalam Gereja pada waktu itu, yang mungkin tidak menjalankan apa yang seharusnya dilakukan adalah harus disayangkan. Namun, kalau Kristus telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya (lih. Mat 16:18), maka kita harus mempercayai janji ini. Kalau saja Martin Luther dapat memperbaiki Gereja Katolik dari dalam dan tidak memutuskan untuk keluar, mungkin dia dapat dikenang sebagai salah satu santo yang besar. Kita dapat melihat St. Fransiskus dari Asisi, St. Klara sebagai figur-figur yang memperbaiki Gereja dari dalam.

      Kita sering salah mengira bahwa Gereja Katolik tidak membuka kekayaan doktrin dan dokumen Gereja, Kitab Suci kepada umat awam. Anda dapat melihat jawaban ini – silakan klik. Gereja Katolik senantiasa terbuka dan seluas mungkin menyebarkan pengajarannya. Jangan lupa juga, bahwa mesin cetak masal, baru ditemukan sekitar abad 15. Sebelumnya, orang-orang tidak mempunyai Kitab Suci pribadi, karena diperlukan waktu yang lama bagi seseorang untuk menyalin Alkitab secara manual. Siapa yang menyalin? Kebanyakan dilakukan oleh rahib-rahib, seperti dari ordo Benediktus.

      Dan di zaman digital ini, maka anda dapat menemukan dogma dan doktrin dari Gereja Katolik di http://www.vatican.va dalam berbagai bahasa. Di sana anda dapat menemukan semua dokumen yang pernah ditulis oleh para Paus, beberapa kongregasi, dll. Memang harus diakui, bahwa tidak mudah untuk memahami dokumen-dokumen tersebut. Salah satu penyebab untuk memahami dokumen-dokumen tersebut adalah karena memang dokumen resmi memberikan kepresisian doktrin, yang pada akhirnya menggunakan bahasa-bahasa teologis. Dokumen-dokumen resmi tidak menggunakan bahasa yang berbunga-bunga, karena dapat menimbulkan beberapa arti atau dapat salah dimengerti. Namun, inilah yang menjadi tantangan bagi hirarki Gereja dan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk dapat mensosialisasikan pengajaran Gereja Katolik dalam bahasa yang mudah dipahami.

      Akhirnya, saya membuka diri untuk berdiskusi dengan anda tentang beberapa hal di atas. Semoga semangat kita untuk benar-benar mencari kebenaran benar-benar dapat menuntun kita kepada Kebenaran itu sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Ini hampir menjawab pertanyaan saya kenapa sih Kristen terbagi-bagi? kenapa teologi2 nya aja berbeda-beda? Kalau Semua benar kenapa tidak disatukan? Dan kalau ada yg salah gimana kita bedakan dan kadang kita melihat dr karunia-karunia karismatik di suatu gereja dan akhirnya cara kita memilih gereja menjadi salah. Seperti yang anda bilang di awal artikel ini.

        Yang membuat saya bertanya-tanya dan pusing sendiri kadang saya mao lepas iman saya saja karena konsep keselamatannya saja berbeda. Ada yg bilang musti percaya dan usaha kita ga bisa buat kita selamat. Lah saya yg masi struggle dengan pertanyaan2 dan kadang masi ragu, apakah iman saya yg kerdil ini ckup untuk Dia selamatkan saya. Jadi kalau Tuhan ga memilih saya untuk selamat maka saya tidak akan selamat. Saya ketakutan sekali..

        Sekarang saya bingung saya memilih ibdah ke Katolik karena saya tenang, walaupun pengenalan dan iman saya ttg Allah Tritunggal dan Bunda Maria masi minim tapi saya medapat kekuatan dan ketenangan di gereja katolik. Apakah ini jg salah dalam memilih gereja?

        • Shalom Leonard,

          Terima kasih atas pertanyaannya. Memang kadangkala kalau kita menganut agama tertentu dan memutuskan untuk masuk ke agama Katolik, maka tidaklah semudah membalik telapak tangan. Diperlukan rahmat Tuhan dan keberanian untuk menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Jadi, saran saya, jangan terburu-buru. Kajilah iman Katolik satu persatu – minimal yang pokok -, sehingga tidak ada ganjalan besar untuk masuk menjadi Katolik. Kalau anda senang dengan ibadah iman Katolik yang tenang, maka ini merupakan langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah mencoba mempelajari apakah benar ibadah seperti di dalam Gereja Katolik adalah merupakan ibadah yang diinginkan dan diperintahkan Kristus. Karena kalau Kristus benar-benar menginginkan Diri-Nya disembah dalam Sakramen Ekaristi, maka siapakah kita yang mau seenak sendiri mengubah cara menyembah Kristus? Saya menyarankan, berfokuslah pada satu topik, seperti tentang Ekaristi. Kalau anda setuju dengan topik ini, maka saya ingin menyarankan anda untuk membaca beberapa artikel berikut ini:

          Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi – silakan klik
          Ekaristi sumber dan puncak spiritualitas kristiani – silakan klik
          Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi – silakan klik
          Ekaristi sebagai sakramen pemersatu – silakan klik
          Diskusi dengan beberapa umat Kristen non-Katolik dapat dilihat di sini – silakan klik.
          Arsip diskusi apologetik Kristen dapat dilihat di sini – silakan klik.
          Diskusi tentang ekklesiologi dan perpecahan Gereja – silakan klik.

          Setelah anda membaca beberapa artikel tersebut, anda dapat bertanya kembali. Atau kalau anda mau mulai dari topik yang lain, silakan juga bertanya dan berdialog. Semoga anda dapat menemukan kepenuhan kebenaran di dalam Gereja Katolik. Kalau anda merasa bahwa pengenalan iman anda tentang Trinitas dan Bunda Maria kurang, maka hal ini tidak menjadi masalah, karena anda dapat belajar. Yang terpenting adalah kita semua benar-benar mencari kebenaran. Dan Tuhan akan membiarkan Diri-Nya ditemukan bagi orang yang benar-benar mencari-Nya dengan tulus hati (lih. Yer 29:13-14) dan pada akhirnya kebebasan itu akan membebaskan kita (lih. Yoh 8:32). Akhirnya saran saya, kalau anda mendapatkan ketenangan ketika mengikuti Ekaristi, silakan terus menghadiri perayaan Ekaristi (tanpa menyambut Tubuh dan Darah Kristus) dan pada saat yang bersamaan terus mendalami makna Ekaristi dalam beberapa link yang saya berikan di atas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Terima Kasih
            saya skrg mao blajar Katakumen
            tp sedang cari guru yg baik. karena saya bnyak pertanyaan.. hahaha…
            Saya sadar slama ini sejak mao benar2 bertobat saya kaya perahu yg di ombang ambing..
            Sebentar di non-Katolik saya smpat blajar agama disana tp byk bgt saya merasa ada yang kurang
            saya berharap di Katolik saya menemukan seluruh kebenaran. karena saya merasa byk yg terjawab semua pertanyaan saya di situs ini.

            Walau ada thread-thread yang isi nya diskusi yg mengarah ke debat karena masing-masing yakin dipimpin oleh Roh Kudus.

            Saya juga bngung knapa bs bgtu? bagaimana cara ny membedakan Suara Roh Kudus ama Suara Daging? maaf kalau salah tmpt lagi tanya nya

            Tuhan berkati

            • Shalom Leonard,

              Terima kasih atas pertanyaan dan sharing dan pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

              1. Tentang Pembedaan Roh (discernment): Karunia membeda- bedakan roh (discernment) dapat membantu kita untuk mengetahui apakah suatu dorongan yang ada di dalam hati kita itu berasal dari Roh Kudus, dari si jahat atau dari diri kita sendiri. Dorongan yang berasal dari Roh Kudus selalu menghasilkan damai sejahtera, walaupun dapat saja terlihat sulit pada awalnya. Sedangkan dorongan yang berasal dari si jahat umumnya terlihat enak dan mudah pada awalnya, namun akhirnya tidak mendatangkan damai sejahtera. Memang bagi seseorang yang sudah hidup diperbaharui di dalam Kristus, maka tidaklah terlalu sulit untuk membedakan hal yang baik dari yang buruk, sehingga tidaklah terlalu sulit untuk memilih satu di antara keduanya. Yang kemungkinan lebih sulit adalah untuk memilih satu keputusan dari antara dua atau lebih pilihan yang kelihatannya sama- sama baik. Untuk hal ini memang diperlukan karunia discernment untuk menentukan pilihan tersebut. Mungkin dalam hal ini, kita perlu belajar dari St. Ignatius dari Loyola, yang mengajarkan di dalam membuat keputusan, maka kita perlu memilih sesuatu yang mendatangkan kemuliaan lebih besar kepada Allah (for the greater glory of God/ ad maiorem Dei gloriam).

              2. Tentang proses belajar: Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari proses belajar adalah sungguh baik. Jadi, jangan sungkan untuk bertanya, baik kepada katekis maupun dalam situs ini – kalau anda pandang dapat membantu proses belajar anda. Namun, saya ingin menyarankan, sebaiknya untuk dapat belajar tahap demi tahap. Sebagai contoh, silakan mempelajari, bertanya, berdialog tentang satu topik, misal: mengapa anda mau masuk ke Gereja Katolik dan bukan gereja lain. Setelah topik ini selesai, maka anda dapat masuk ke topik yang lain, seperti: konsep keselamatan, sakramen, dll. Semoga Tuhan memberkati kerinduan anda untuk menemukan kebenaran.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: