Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

169

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan

Dalam tulisan terdahulu, kita telah membahas bahwa kepercayaan kepada satu Tuhan adalah sesuatu yang sangat logis/ masuk akal (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Tahap selanjutnya adalah: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus dan menjadi seorang Kristen. Namun pertanyaannya sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi

Pertanyaan di atas menjadi penting  di zaman sekarang ini, mengingat bahwa dewasa ini ada begitu banyak tipe kekristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih dahulu tentang Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus, adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Maka, kerap kali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:

  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.

Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada "saya?" Padahal, dalam pencarian kebenaran, seharusnya, fokus kita bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada kebenaran, yang akhirnya mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus Kristus. Dengan kata lain,  kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja yang mana?

Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah: "Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangatlah mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir zaman.

Gereja terpecah belah

Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Menurut mereka, pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus. Sebelumnya sang pendiri ini adalah salah seorang anggota jemaat gereja Y. Kemudian karena sesuatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka, "Bagaimana bila suatu saat, karena sesuatu hal, ada umat di gereja X yang juga mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, bukankah nanti dapat terjadi ada gereja X1, X2, dan seterusnya?"

Kalau kita meneliti dengan jujur, inilah yang terjadi  sekarang ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia. Data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang 'timbul dan tenggelam' sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah, "Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, mengapa tidak ada kesatuan? Padahal kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu dan bukan roh pemecah."

Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak jemaat awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Namun, sayangnya perpecahan ini tetap terjadi, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Di abad- abad berikutnya,   perpecahan gereja terus terjadi, contohnya:

  • Gereja Timur Orthodox (1054).
  • Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
  • Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
  • Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
  • Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
  • Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
  • Presbyterian di Skotlandia (1560).
  • Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
  • Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
  • Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.

Perpecahan ini terus bertambah setiap hari sampai saat ini, walaupun sesungguhnya, perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum sengsara-Nya. Yesus berdoa untuk semua orang yang percaya kepada-Nya agar bersatu seperti Ia bersatu dengan Allah Bapa agar dunia bisa percaya kepada-Nya (lih. Yoh 17:21).

Mungkin ada orang yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua gereja percaya akan Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu yang tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama. Contohnya: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Ada berapakah jumlah sakramen? Isu-isu tentang otoritas, dan lain sebagainya. Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dan hal perbedaan ajaran terjadi juga di antara sesama gereja-gereja non- Katolik.

Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa

Ada banyak orang beranggapan bahwa yang penting adalah seseorang percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, namun tidaklah penting dari gereja yang mana. Mungkin anggapan seperti ini sedikit banyak sejalan dengan tulisan C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen seumpama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Maka yang terpenting adalah, pertama- tama masuk ke rumah tersebut terlebih dahulu, sedangkan hal masuk di ruangan mana tidaklah menjadi terlalu penting. Di sini, ruangan diartikan sebagai denominasi gereja-gereja.

Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti tentang hakekat gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita dapat mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal dalam satu rumah, memilih ruangan masing-masing, namun tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama? Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita, masing-masing rumah tangga mempunyai peraturan yang harus ditaati, agar semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mrk 3:25). Kalau sebuah rumah yang besar terpecah-pecah dalam berbagai ajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Jika pemahaman yang diajarkan oleh C.S Lewis ini benar, maka, seharusnya semakin lama semua orang yang sama-sama tinggal di rumah itu semakin bersatu, dan bukannya semakin terpecah.

Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak

Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, mengapa gereja- gereja itu mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab jika dipahami tentang hakekat Gereja itu sendiri.

Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] di mana Kristus adalah Kepala, dan Gereja adalah anggota-anggota tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan Gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan Kepalanya, yaitu Kristus. Kalau Yesus sendiri menghendaki agar para anggota-Nya bersatu, maka mereka harus mengikuti. Persatuan ini dikehendaki oleh Kristus, sehingga Ia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya terdiri dari satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan -sebagai Mempelai Kristus- juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Kristus hanya mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja yang didirikan di atas Rasul Petrus (Mat 16:18) , dan Kristus menghendaki Gereja-Nya tetap satu agar menjadi saksi hidup bagi kesatuan antara Diri-Nya dengan Allah Bapa (Yoh 17:20-23). Sama seperti Kristus tak mungkin menyangkal kesatuan antara Diri-Nya dengan Allah Bapa, maka Kristus-pun tak mungkin menyangkal kesatuan antara Diri-Nya dengan Gereja-Nya. Oleh karena kesatuan tersebut, kita tidak dapat memisahkan Kristus dengan Gereja-Nya; kita tidak dapat mengikuti Kristus, tetapi tidak mau bergabung dengan Gereja yang didirikan-Nya.

Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja hanyalah bersifat spiritual, di mana para anggotanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul, maka Ia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi di mana ada dua atau tiga orang jemaat berkumpul,  di situlah terbentuk Gereja. Namun di sinilah letak permasalahannya, sebab hakekat Gereja bukanlah hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]

Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih Allah ini agar semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Oleh karena itu, Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus menerus mengalami pemurnian dan pertobatan agar sampai kepada tujuan akhirnya, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.

Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus

Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakramen, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah Kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berasal dari para rasul yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik-lah yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut "the four marks of the Church." (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Karena Gereja didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, maka tidak ada suatu apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]

Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya

Mungkin ada pula orang yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni; dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi, menurut anggapan ini, Gereja Katolik yang sekarang adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, mari kita telusuri lebih jauh. Anggaplah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada zaman reformasi. Seharusnya setelah diperbaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah zaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) maka gereja justru semakin terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denominasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.

Keberatan yang lain ialah anggapan yang mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak. Sejak abad awal sudah ada begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Selanjutnya, banyak orang yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, terdapat pula percobaan yang terjadi di dalam tubuh Gereja Katolik sendiri, baik karena korupsi maupun penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dan lain-lain. Gereja Katolik mengakui bahwa hal- hal ini terjadi karena adanya unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Namun demikian, kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun diterpa berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Jika Gereja Katolik hanya buatan manusia, maka Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.

Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus

Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu "satu, kudus, katolik, dan apostolik." Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Ajaran Gereja Katolik selalu mengambil sumber dari pengajaran Yesus dan para rasul, sebagaimana yang dilestarikan oleh para penerus mereka. Perumusan suatu ajaran yang diadakan di abad- abad kemudian bukan merupakan perubahan ataupun tambahan yang sama sekali baru terhadap suatu ajaran, namun merupakan penjelasan yang semakin menyempurnakan ajaran tersebut. Hal perkembangan ini dikenal dengan istilah "pertumbuhan organik" suatu ajaran.[11] Konsistensi ajaran Gereja dapat dibuktikan dari segi waktu maupun tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.

Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?

(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).

Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak mengenal Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, karena bukan kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan melaksanakan hukum kasih[13], di mana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka tetap diperoleh dari Yesus Kristus.[15]

Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalnya memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup di dalam kasih, dll. Bahkan Gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. Konsili menegaskan bahwa "andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan." (Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium 14)

Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?

Akhirnya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Konsili Vatikan II menegaskan akan pentingnya kita untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mengasihi Tuhan dan sesama[1]. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmani, namun bukan secara rohani, dan orang yang sedemikian tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).

Mungkin ada dari kalangan non- Katolik yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik - yang seharusnya telah mengetahui bahwa kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini - untuk senantiasa berjuang setiap hari untuk melaksanakan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus merupakan cara untuk " menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja" yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh para orang kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?


[1]Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan "actual grace" atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembaptisan.

[2] Rasul Yohanes mengatakan "..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.

[3] (Lih. Yoh 14:6) "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.

[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)

[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. - Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat Gereja, namun menerimanya dari Kristus. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.

[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di Api penyucian.

[8] Lihat Lumen Gentium 8, "Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakan Gereja kepada Petrus dan para rasul lainnya, untuk diperluas dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai "tiang penopang dan dasar kebenaran" (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik."

[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata " Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan "jemaat-Ku". Namun dalam bahasa aslinya adalah "ekklesia" yang berarti "gereja". Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada "satu".

[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscence). kecenderungan untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.

[11] Cardinal Newman, dalam bukunya "An Essay of the Development of Christian Doctrines", meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajaran yang dapat ditelusuri sampai kepada zaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam hal pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk karena ia menempatkan kebenaran di atas segalanya, ia berpindah dari gereja Anglikan ke Gereja Katolik.

[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.

[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan hukum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan akhir – yaitu persatuan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.

[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. " ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan."

[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).

[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam "satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan ". Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.

[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.


CATATAN KAKI:
  1. lih. Lumen Gentium 14 []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

169 Comments

  1. starlibra_14 on

    shalom inggrid..

    saya sedikit memberi masukan sih untuk statement bahwa ” Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus ” ..

    menurut pendapat saya, dimana saja kita beribadah baik kristen maupun katholik pun sama saja. kenapa saya berkata seperti itu ?? ingat ” fokus kita adalah kepada Tuhan ”
    Di dalam Alkitab tidak ada kata-kata yang mengatakan bahwa ” greja katholiklah merupakan greja yang didirikan oleh kristus ” , jika anda menuliskan seperti itu, dengan maksud yang tersembunyi, anda telah beranggapan bahwa ” greja non-katholik bukan merupakan greja yang didirikan oleh kristus ” [ secara logis ] benar bukan ??
    apabila anda seperti itu sama saja anda telah menyombongkan diri anda sendiri sebagai jemaat katholik.. kenapa anda tidak berfikir kita yang sebagai anak-anak Allah, [ baik kristen maupun katholik , yang percaya satu-satunya juru selamat yaitu Tuhan Yesus ] bergabung menjadi satu, yaitu satu visi dan misi yaitu penuaian jiwa ??

    Apakah anda perna melihat dan sedikit merieview pekerjaan murid-murid Yesus ?? ” Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus ” . mereka diutus untuk menuai jiwa-jiwa , mereka [ murid Yesus ] tidak bekerja hanya untuk diam, mengembangkan masing-masing greja dan meninggikan masing-masing greja yang merupakan murid Yesus. Melainkan mereka berkeliling dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain mempraktekkan hidup mereka sebagai Murid Yesus melalui [tubuh] mereka yang merupakan Bait Allah [ greja ], agar dapat dicontoh oleh orang lain.
    pernahkah mereka [ murid Yesus ] meninggikan salah satu greja [ kristen / katholik ] ??

    setelah saya telusuri saya pun mulai memahami, bahwa orang-orang farisi merupakan ” kaum yangmeyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya malaikat, kedatangan mesias yang diutus Allah pada masa yang akan datang ”
    apakah kita sama seperti diatas ? saya pikir ” ya ” , kenapa ? karena kita memang benar mempercayai itu semua. tetapi apakah kesalahan dari orang farisi ? ” kaum Farisi digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti ” , karena mereka sangat teliti akan hukum taurat, mereka lupa akan hukum cinta kasih, dan mereka pun mulai meninggikan diri-sendiri dan mementingkan diri – sendiri, dan mereka tidak mentolerir kesalahan / dosa.

    pertanyaan saya :
    1. Jika anda menggunakan statement “Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus ” , adakah cinta kasih seperti yang diajarkan Kristus ??
    kenapa tidakah anda berfikir untuk menyatukan visi dan misi [ katholik maupun kristen ], yang walaupun berbeda agama tetapi tetap satu ??

    2. Bukankah kita seperti orang fairisi ? yang datang ke greja memuliakan nama Tuhan, aktif di greja, mengetahui isi Firman Tuhan, tetapi pada dasarnya kita masih belum kudus di dalam kehidupan sehari-hari ?? So jadilah sama seperti gambaran-Nya, dan pratekkanlah seperti ayat ini “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ” [ karena semua hukum Firman Tuhan tercakup dalam satu Firman ini ].

    NB : saya tidak berkata-kata atas kelogisan / pengetahuan saya terhadap alkitab, saya bukanlah seorang teolog, saya hanya umat [ jemaat biasa] tetapi dorongan hati dan hikmat yang Tuhan berikan untuk saya berkata-kata seperti ini.. komentar saya disini tidak ada maksud untuk menyalahkan, tetapi ingin mengajak untuk berkembang bersama-sama di dalam Yesus ^^

    terima kasih..

    • Shalom Starlibra,

      Terima kasih atas masukan Anda.

      Mungkin Anda berpandangan demikian, karena latar belakang Anda sebagai seorang yang Kristen non- Katolik. Mungkin Anda mengalami kasih Tuhan dan mengenal Kristus dalam gereja Anda, dan ini sudah cukup bagi Anda, maka Anda tidak mencari tahu lebih jauh.

      Sebagai umat Katolik, saya juga setuju dengan Anda bahwa “fokus kita adalah Tuhan“. Justru karena berfokus kepada Tuhan, maka kita perlu memusatkan hati kepada apa yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Sesungguhnya, dengan pemikiran yang terpusat kepada Kristus ini, dan kehendak yang kuat untuk mengetahui dan melaksanakan kehendak-Nya, seseorang dapat sampai kepada Gereja Katolik.

      Memang dalam Kitab Suci tidak tertulis secara literal, “Tuhan Yesus mendirikan Gereja Katolik”. Namun jelas Tuhan Yesus hanya mendirikan satu Gereja, yaitu yang didirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18-19); dan yang akan disertai-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Nah, Gereja yang memiliki jalur apostolik yang tidak terputus, sejak dari Rasul Petrus sampai ke pemimpinnya sekarang adalah Gereja Katolik. Selanjutnya, Tuhan Yesus juga menyatakan bahwa Ia menghendaki agar semua murid-Nya menjadi satu (lih Yoh 17:20-21). Maka jelaslah juga bahwa Ia berkehendak agar Gereja-Nya tetap satu, yang walaupun terdiri dari berbagai bangsa dan bahasa, namun memiliki satu ajaran yang sama, cara ibadah yang sama, dan satu kepemimpinan yang sama yang berasal dari-Nya. Melalui fakta sejarah dan sampai sekarang, kita melihat bahwa Gereja yang memiliki ajaran yang satu dan sama, yang dipegang oleh semua anggotanya di seluruh dunia, dan yang tunduk dalam satu kepemimpinan yang sama, itu adalah Gereja Katolik. Maka secara obyektif, kita melihat bahwa dalam Gereja Katolik-lah terpenuhi apa yang sejak awal dikatakan dan dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Walaupun Gereja Katolik diterpa banyak pergumulan sepanjang sejarahnya, namun adalah fakta juga bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang tetap bertahan sejak didirikan Kristus itu sampai sekitar 2000 tahun ini.

      Apa yang saya tulis di atas ini adalah fakta, yang didukung juga oleh catatan sejarah. Maka jika kami menuliskannya tentu bukan untuk maksud menyombongkan diri, namun agar umat Katolik menyadari akan tanggungjawabnya. Yaitu bahwa: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk 12:48) Sebab sebagai anggota Gereja mempunyai jalur apostolik, setiap umat Katolik mempunyai tanggung jawab untuk turut melestarikan dan melakukan keseluruhan ajaran Kristus dan para Rasul itu, baik yang lisan maupun tertulis. Dengan cara inilah kami umat Katolik membuktikan kasih kami kepada Tuhan. Atau meminjam istilah Anda, “berfokus kepada Tuhan”.

      Nah sekarang, di gereja-gereja lain, mungkin saja orang dapat mengenal Kristus dan mengalami kasih-Nya. Namun demikian, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa pada awalnya Tuhan Yesus mendirikan hanya satu Gereja. Kristus yang menghendaki murid-Nya menjadi satu, tentu tidak menghendaki para murid-Nya memiliki berbagai perbedaan ajaran iman. Sebut saja, tentang apakah Baptisan perlu untuk keselamatan; jika ya, bolehkah membaptis anak sejak bayi? Atau apakah keselamatan yang diperoleh saat Baptisan itu bisa hilang atau tidak? Seperti apakah perayaan iman yang dikehendaki oleh Kristus? Apakah Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur di tengah umat-Nya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa perbedaan ini ada, dan inilah yang membuat ada banyak sekali denominasi Kristen, yang konon berjumlah sekitar 30.000 di seluruh dunia. Seberapapun kita dipaksa untuk mengatakan bahwa perbedaan itu tidak ada atau tidak penting, itu tidaklah benar, sebab kalau memang demikian, mengapakah para pemimpinnya dulu memutuskan untuk memisahkan diri atau mendirikan denominasi baru? Kalau sudah satu dan sama, mengapa perlu mendirikan denominasi baru? Mungkinkah Kristus mengajarkan pengertian yang berbeda-beda dan bahkan bertentangan, untuk suatu topik ajaran iman?

      Maka tentu saja, kami umat Katolik juga prihatin akan adanya perbedaan itu, dan kami juga berdoa bagi persatuan kembali umat Kristen. Namun jika kami berdoa agar semua umat Kristen bersatu di bawah kepemimpinan Bapa Paus, sungguh itu bukan untuk menyombongkan diri, tetapi karena kami mengetahui dari Kitab Suci, bahwa itu adalah kehendak Kristus. Sebab Kristus mendirikan GerejaNya atas Rasul Petrus, dan Paus adalah penerus Rasul Petrus, yang kepadanya Kristus berjanji akan menyertai dan memberi kuasa untuk mengajar dan menggembalakan umat-Nya.

      Nah sekarang izinkan saya menanggapi pertanyaan Anda:

      1a. Jika anda menggunakan statement “Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus” , adakah cinta kasih seperti yang diajarkan Kristus ??

      Tanggapan kami:

      Cinta kasih yang diajarkan oleh Kristus, adalah kasih yang tidak dapat dipisahkan dari kebenaran. Sebab Kristus yang Allah, adalah kasih (1 Yoh 4:8) adalah kebenaran (Yoh 14:6). Maka tak mengherankan, bahwa “dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah, seluruh tubuh…. menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Ef 4:15-16)

      Berpegang kepada ayat ini, Gereja Katolik tidak menyembunyikan ataupun mengaburkan kebenaran, yaitu bahwa Gereja yang didirikan oleh Yesus di atas Rasul Petrus ini sekarang ada dalam Gereja Katolik. Perihal asal usul digunakannya kata “Katolik” untuk mengidentifikasi Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus, itu sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Adalah hak Anda untuk menganggap bahwa kami tidak menerapkan kasih jika mengatakan hal ini, tetapi bagi kami, mengatakan kebenaran, itu adalah bagian dari kasih. Justru kalau kami menutupi kebenaran ini, maka kami malah mengaburkan fakta, yang kami ketahui sebagai kehendak Kristus sendiri. Namun demikian, adalah keharusan juga bagi kami, bahwa kebenaran ini harus disampaikan dengan kasih, tanpa maksud meninggikan diri atau sejenisnya, sebab memang tidak ada alasan bagi kami untuk meninggikan diri.

      1b. “kenapa tidakkah anda berfikir untuk menyatukan visi dan misi [ katholik maupun kristen ], yang walaupun berbeda agama tetapi tetap satu ??

      Tanggapan kami:

      Mungkin sebaiknya Anda menujukan usulan ini kepada Bapa Paus dan kepada pemimpin gereja Anda. Saya yang awam hanya dapat melakukan bagian saya yang kecil, yang pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruh para pemimpin Gereja.

      Sejujurnya, kalau kita mengacunya kepada Kitab Suci, dan tulisan para Bapa Gereja abad-abad awal, kita dapat mengetahui visi dan misi ini dengan lebih jelas, sehingga mungkin kita tidak akan berselisih paham. Namun kenyataannya, apakah semua orang Kristen mau melakukannya, setidaknya para pemimpinnya, ini yang menjadi pertanyaan. Sebab jika orang-orang di abad ini berkeras memegang pengertiannya sendiri tentang suatu ajaran iman, tanpa mau mengindahkan tentang bagaimana Gereja sebagai Tubuh Kristus, telah memahaminya sejak abad- abad awal, maka nampaknya di sinilah timbul adanya perbedaan “visi dan misi”.

      2. Bukankah kita seperti orang fairisi ? yang datang ke greja memuliakan nama Tuhan, aktif di greja, mengetahui isi Firman Tuhan, tetapi pada dasarnya kita masih belum kudus di dalam kehidupan sehari-hari ??

      Tanggapan saya:

      Sungguh, tantangan untuk hidup kudus itu memang tantangan bagi semua umat Kristen, termasuk Anda dan saya. Maka Anda benar, bahwa kita dipanggil untuk tidak menjadi seperti orang Farisi yang mengetahui isi Kitab Suci namun tidak melaksanakannya.

      Kekudusan itu sendiri adalah kesempurnaan kasih kepada Allah dan sesama, dan justru untuk mengejar kesempurnaan itulah, maka kita diundang oleh Allah untuk mencari tahu, apa sebenarnya yang dikehendaki Allah, dan bukan apa yang ‘kita sukai’ atau yang ‘saya rasa cocok bagi saya’.

      Saya tidak mengabaikan fakta bahwa dapat saja orang mengenal Kristus dan mengalami kasih-Nya dalam gereja-gereja non-Katolik. Gereja Katolik, melalui Konsili Vatikan II mengajarkan, bahwa layaklah umat Kristen non-Katolik kami sebut sebagai sesama saudara di dalam Kristus, karena kita semua disatukan dalam Kristus oleh satu Baptisan (lih. Ef 4:5). Konsili juga mengakui adanya banyak unsur pengudusan dan kebenaran di gereja- gereja lain; namun demikian, kepenuhan sarana keselamatan ada dalam Gereja Katolik. Demikianlah, karena Magisterium Gereja Katolik mengajarkan demikian, kami di situs katolisitas juga menuliskan demikian. Maka tentang hal ini, saya tidak menuliskan pendapat pribadi, tetapi apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Tidak ada niatan dari pihak saya untuk meninggikan diri, mohon maaf jika Anda tersinggung dengan pernyataan saya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Hendy,
      Jiwa Kristus [Anima Christi/ Soul of Christ] adalah bagian yang tak terpisahkan dari kemanusiaan Kristus, karena dalam penjelmaannya sebagai manusia, Yesus mempunyai jiwa dan tubuh manusia. Keseluruhan diri-Nya ini, Kristus serahkan di kayu salib, demi menyelamatkan umat manusia. Syair tentang kurban Kristus dapat kita baca dalam puisi doa, Anima Christi, yang konon disusun oleh St. Ignatius Loyola, yang dapat dibaca di buku Puji Syukur no. 212.
      Sedangkan semangat Kristus kemungkinan berkaitan dengan terjemahan ‘spirit of Christ’, yang mengacu kepada sikap batin Kristus (sebab kata ‘spirit’ memang mempunyai arti yang lebih luas dari ‘soul’, di mana spirit bisa mengacu juga kepada semacam kekuatan batin/ perasaan).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Sahputra J Matondang on

    Syaloom,
    Saya juga seorang Khatolik secara garis keturunan dari oppung sy keortu saya sampai kepd sy, tetapi sampai sekarang ini saya msh dipenuhi kebimbangan dan ketidakpastian akan iman Khatolik saya krn sy jg pernah dibaptis selam digereja bethel dikepulauan riau tp sy blm resmi keluar dari gereja Khatolik sampai detik ini.
    Menurut kata hati saya apakah itu berasal dari roh kudus atau bukan sy tdk tahu, kalo sy mengikuti ibadah digereja kharismatik memang sy dpt merasakan ada sukacita dihati& yg paling penting dari pengalaman saya selama ini sy melihat begitu banyak jiwa2 yg berasal dari agama non kristen yang bertobat dan menerima Yesus digereja kharismatik atau gereja protestan lainnya yg mana tdk sedkit yg terima Yesus ini notabene yang sdh ahli dlm agama mreka sebelumnya bahkan banyak yg mantan guru besar dibidang agama mereka sebelumnya.
    Yg menjadi pertanyaan saya! apakah ini bukan pekerjaan Roh Kudus? dan digereja khatolik sendiri saya blm pernah melihat kesaksian2 besar pindah keyakinan seperti itu seperti digereja Kharismatik&protestan lainnya. Ada yg bisa memberi pencerahan kpd sy yg sedang diombang ambing kebimbangan ini?!… Amin Haleluyah.

    • Shalom Sahputra,

      Tuhan kita adalah Allah yang MahaKuasa, dan Ia bebas berkarya melalui sarana apa saja. Maka memang dapat saja Allah berkarya dalam komunitas-komunitas gereja lain yang non-Katolik. Namun demikian kepenuhan rahmat Tuhan diperoleh dalam persekutuan dengan Gereja Katolik, yaitu Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Dalam Gereja Katolik-lah kita merayakan iman Kristiani, sebagaimana dahulu para Rasul merayakannya, seturut kehendak Kristus. Maka fokus perayaan iman dalam Gereja Katolik memang adalah apa yang dikehendaki Kristus, dan bukan semata-mata apa yang dikehendaki dan dirasakan oleh umat. Sebab jika kita membuka hati untuk memahami apa yang dikehendaki oleh Kristus itu, maka penghayatan kita akan makna ibadah tidak akan tergantung lagi oleh perasaan kita yang berubah-ubah, namun dari ketetapan hati akan janji Tuhan untuk menyertai Gereja-Nya, dengan cara yang dipilih-Nya itu.

      Jika Anda tertarik dengan topik ini, silakan membaca beberapa artikel berikut ini, dan tanya jawab di bawahnya:

      Apakah artinya menjadi Katolik?
      Ekaristi adalah Komuni kudus
      Perayaan Ekaristi di jemaat perdana
      Thank you Jesus, I am home
      Mengapa berpindah dari Gereja Katolik?

      Gereja Katolik tidak membesar-besarkan jika ada saudara-saudari yang non-Katolik, yang kemudian memutuskan untuk menjadi Katolik. Namun jika Anda ingin melihat beberapa contohnya, silakan mengunjungi situs EWTN (Eternal Word Television Network), dan simaklah di sana program acara Journey Home. Di sana ada sekitar 750 kesaksian dari saudara- saudari kita yang non-Katolik, kebanyakan dari mereka adalah pendeta, yang memutuskan untuk menjadi Katolik, antara lain setelah mempelajari Kitab Suci dan tulisan para Bapa Gereja. Sebab mereka menemukan bahwa Gereja Katolik-lah yang telah dengan setia meneruskan semua ajaran Yesus dan para Rasul sampai sekarang.

      Pada akhirnya, bawalah pergumulan Anda dalam doa-doa Anda. Roh Kudus yang sama, yang telah berkarya atas kehidupan para Rasul, adalah Roh Kudus yang sama, yang kini terus berkarya membimbing Gereja. Semoga Tuhan memberikan keterbukaan dan kepekaan hati untuk mengenali karya Roh Kudus yang satu dan sama itu, dan membiarkan kita untuk dipimpin oleh-Nya dalam kesatuan dengan Gereja yang didirikan-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • dan mungkin yg bisa saya tambahkan atas sepengetahuan saya,secara umumnya umat non-Kristen beranggapan bahwa Kristen hanya satu, belom banyak yg tahu perbedaan Katolik dan Protestan, banyak yg beranggapan menjadi Protestan sama dgn Katolik, biasanya kalo dia sudah melirik ke Katolik dalam proses Katekumen mungkin dijelaskan, tapi kalo yg Protestan mungkin tidak

      [dari katolisitas: Silakan membaca perbedaan teologis antara Gereja Katolik dan non-Katolik di sini – silakan klik]

  3. Dear Katolisitas, maaf saya bingung harus bertanya di bagian mana.
    Mengapa bila kita lihat Vatikan begitu mewah secara fisik (penuh dengan patung-patung, bangunan, benda-benda yang begitu mahal)? Menurut saya ini bertentangan sekali dengan kaul kesederhanaan.

    Saya Katolik dan begitu percaya dengan kekatolikan dengan paham kebenaran yang utuh, yang menurut saya benar-benar berasal dari Roh Kudus, namun saya merasa kemewahan Vatikan yang terlihat inilah yang dapat menjadi batu sandungan dan hambatan mengapa banyak orang yang tidak mau berada dalam persekutuan Gereja Katolik.

    Selain itu saya merasa juga Gereja Katolik kurang gencar menjamah pribadi seseorang dibanding denominasi lain. Di Gereja Katolik, umat yang aktiflah yang akan menyadari indahnya persekutuan ini, namun yang tidak aktif akan benar-benar tidak tahu (dan juga tidak ada yang secara aktif menjamah mereka). Banyak Katolik yang bahkan tidak tau 3 pilar Gereja Katolik (Kitab Suci, Tradisi Suci, Magisterium Gereja).

    Mungkin Katolik harus benar-benar melakukan reformasi dari dalam agar umat benar-benar tertarik untuk mencari kebenaran itu melalui 3 pilar Gereja Katolik, sebagaimana denominasi lain yang begitu tertarik mencari kebenaran dalam Alkitab.

    Bagaimana tanggapan tim Katolisitas mengenai hal ini? Terima kasih.

    • Shalom Arnold,

      1. Bangunan gereja Vatikan begitu mewah?

      Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan mengetahui bahwa Allah menghendaki kualitas yang istimewa bagi pembangunan bait Allah. Silakan membaca kitab Keluaran tentang pembangunan bait Allah (lih. Kel 25-31, 37-40; 1 Raj 6). Maka tidak salah, jika Gereja Katolik, dan bahkan gereja-gereja lainnya juga mengikuti kehendak Allah ini, saat mengusahakan pembangunan gedung gereja sebagai rumah Tuhan. Malah menjadi suatu pertanyaan jika orang membangun gereja hanya seadanya, namun membangun rumahnya sendiri “with all his might“/ dengan segala kekuatannya. Jika kita sungguh mengasihi Tuhan maka, kita perlu mengusahakan yang terbaik untuk Tuhan, walaupun tentu, tetap harus dengan cara yang adil.

      Maka pemberian kepada Tuhan, tetaplah selayaknya merupakan persembahan yang terbaik. Dalam Injil Yohanes (lih. Yoh 8:1-11), Yesus memuji perempuan yang mengurapinya dengan minyak wangi yang mahal, dan melihat tindakan itu sebagai perbuatan kasih untuk mengingat hari penguburan-Nya (lih. Yoh 12:1-8). Dengan demikian, tak ada yang keliru jika atas motivasi kasih kepada Tuhan Yesus, jemaat mengusahakan yang terbaik dalam membangun gedung gereja. Jangan lupa bahwa ada banyak orang  mengatakan bahwa mereka justru dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam bangunan gereja-gereja Katolik, terutama di Eropa, yang secara mengagumkan menggambarkan Allah Sang Sumber segala Keindahan. Bangunan gereja-gereja yang dipenuhi oleh detail gambar dan patung-patung yang begitu indah tersebut, dapat menghantarkan orang kepada kontemplasi akan Kerajaan Surga, di mana Allah bertahta dikelilingi oleh para kudus-Nya. Adalah hak Allah, Sang Pencipta kita untuk memperoleh penghormatan dan penghargaan dari kita manusia yang diciptakan-Nya. Adalah adil jika para arsitek, insinyur, seniman, dan pekerja bangunan, dan umat sekalian mempersembahkan kembali segala talenta, waktu dan harta, yang dipercayakan kepada mereka kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

      Jadi, memberi yang terbaik kepada Tuhan, tidak untuk dipertentangkan dengan kaul kemiskinan/ kesederhanaan. Sebab kaul kemiskinan sesungguhnya berkaitan dengan pertumbuhan rohani seseorang, di mana orang melatih dirinya untuk tidak terikat dengan benda-benda lahiriah, agar hatinya bisa lebih terarah/ terpusat kepada Tuhan. Itulah sebabnya kemiskinan dalam Sabda Bahagia disebut sebagai syarat yang pertama agar seseorang dapat memiliki Kerajaan Allah (lih. Mat 5:3). Maka mengusahakan yang terbaik bagi pembangunan rumah Tuhan tidak dapat dipertentangkan dengan ayat ini. Sebab dalam memberikan yang terbaik kepada Tuhan, justru orang tidak mengikatkan dirinya kepada kekayaan jasmani, namun ia mengembalikan kepada Tuhan, apa yang sudah selayaknya diberikan kepada Tuhan, yang secara berlimpah telah memberikan berkat-berkat jasmani dan rohani kepadanya.

      2. Gereja Katolik kurang gencar menjamah pribadi?

      Nampaknya ini tergantung dari definisi, apakah maksudnya menjamah pribadi. Sebab seringkali yang menjadi sebab mengapa orang tidak mengalami ‘perasaan apa-apa’ dalam ibadah Katolik, adalah karena kurangnya keterbukaan hati, dan kurangnya pengetahuan tentang apakah makna ajaran iman Katolik. Sejujurnya Gereja itu menjamah anggotanya, juga melalui kita, anggota-anggotanya. Maka, jika Anda merasa bahwa bahwa hal ini kurang dilakukan oleh Gereja Katolik, pertanyaannya adalah: apakah yang sudah Anda lakukan untuk turut mengubah keadaan ini? Gereja adalah milik kita bersama dan adalah tanggung jawab kita bersama untuk saling membangun satu sama lain. Silakan Anda membawa di dalam doa-doa Anda, sehingga Andapun dapat mengambil bagian dalam tugas pewartaan iman, sehingga dengan demikian, ada banyak orang yang dapat merasakan jamahan Tuhan.

      Saya setuju bahwa Gereja harus terus memeriksa diri dan memperbaiki diri. Sejujurnya ini adalah panggilan setiap anggota Gereja, termasuk Anda dan saya. Mari memohon rahmat Tuhan agar kitapun dapat melaksanakannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terima kasih bu Inggrid atas jawabannya.

        Saya melihat bahwa memang harus ada perubahan fokus dari Gereja Katolik. Selama ini Katolik terlalu menekankan pada aturan-aturan yang akhirnya membuat orang yang belum mengerti malah menjauhi Katolik.

        Kita memang harus belajar dari gereja denominasi lain yang walaupun banyak kekurangannya, namun setidaknya ada 1 hal yang lebih dari Katolik, yaitu soal cara memperkenalkan Kristus yang membuat orang awam benar-benar merasakan Kristus dan akhirnya tergerak pula dalam memperkenalkan Kristus pada orang lainnya.

        Kita bisa lihat begitu banyak pendeta yang melakukan mujizat penyembuhan keliling dunia, atau khotbah yang begitu menarik dan diekspos (cth: dengan mudah kita dapat mencari khotbah pendeta di youtube dan penyampaian mereka begitu menarik, namun sangat sulit mencari khotbah pastor dan sering tidak begitu menarik). Pengeksposan mujizat bukanlah kesombongan, namun lebih pada kebanggaan yang ingin ditunjukkan pada dunia bahwa Kristus itu hadir. Begitu pula dengan khotbah yang menarik menurut saya harus dipelajari kaum tertahbis, sehingga orang dapat tertarik mengenal Kristus, tanpa kehilangan kebenaran Katolik.

        Tentu hal ini akan menjamah mereka yang disembuhkan melalui mujizat ataupun khotbah yang menarik, dan saya merasa bahwa pengalaman merasakan Kristus inilah yang menguatkan iman. Perasaan inilah yang pertama harus ditumbuhkan, dan setelah itu jauh lebih diperkenalkan akan kepenuhan kebenaran Katolik.

        Tentu awam akan bergerak bila mereka yang di hirarki memulai pola pikir ini dan mengajarkannya.
        Saya melihat pula video ini : link to youtube.com dan saya setuju atas hal itu.

        Salam Kasih.
        (Saya pelajar di Jerman dan disini saya melihat bagaimana perbedaan (dalam hal kerinduan akan Tuhan, contoh kecil: dalam ketertarikan diskusi Alkitab) komunitas pelajar Indonesia Kristen denominasi dengan komunitas pelajar Indonesia Katolik, di mana pelajar denominasi benar-benar tiap minggu ada kerinduan berdiskusi Alkitab bersama)

        • Shalom Arnold,

          Fokus Gereja adalah Kristus. Selanjutnya memang adalah tantangan bagi Gereja, bagaimana caranya untuk memperkenalkan Kristus itu. Paus Fransiskus dalam surat ensikliknya, Lumen Fidei, juga berkali-kali menekankan hal “perjumpaan dengan Kristus” sebagai permulaan iman. Namun demikian, tidak berarti bahwa Paus tidak menganggap bahwa aturan-aturan itu tidak penting. Paus hanya menekankan bahwa hal yang terpenting itu (yaitu perjumpaan dengan Kristus itu) harus diutamakan, agar orang dapat mengalami kasih Allah yang dapat mengubahnya ke arah persatuan dengan Kristus.

          Memang ada banyak cara orang “berjumpa dengan Kristus”, namun jika kita melihat dari Tradisi Gereja Katolik sejak zaman Gereja perdana, perjumpaan ini terjadi terutama melalui perayaan Ekaristi. Oleh karena itu pemahaman akan makna perayaan sakramen Ekaristi (dan juga sakramen-sakramen lainnya) dapat membangkitkan iman kita akan Kristus, yang sampai sekarang masih berkarya dalam Gereja-Nya. Paus Fransiskus dalam Lumen Fidei mengajarkan bahwa iman tidak dapat direduksi menjadi perasaan emosi yang melambung tinggi (lih. LF 24), namun sebagai kesediaan untuk menyambut Dia yang kita percayai ke dalam hidup kita (LF 18) untuk membimbing kita untuk hidup dalam kebenaran (LF 24) yang menuntun kita kepada tujuan akhir segalanya, yaitu persatuan dengan Allah yang kita kasihi (LF 27).

          Nah, segala aturan yang ada dalam Gereja Katolik adalah aturan yang menuntun kita untuk hidup dalam kebenaran. Maka aturan-aturan itu juga perlu, namun demikian, jangan dilupakan apa yang mendasarinya, yaitu ‘perjumpaan dengan Kristus yang bangkit’ (LF 30), demikianlah kurang lebih penekanan Paus Fransiskus.

          Hal begitu banyaknya penyembuhan yang ditayangkan di u-tube itu juga menuai pro dan kontra, karena sejumlah di antaranya juga ada yang melibatkan rekayasa, dan reportase rekayasa-nya juga direkam di u-tube, sehingga malah menimbulkan reaksi cemoohan dari orang-orang yang tidak percaya dengan Tuhan Yesus. Bahwa mukjizat Yesus masih terjadi sampai sekarang, itu kita percaya, namun pada akhirnya kita perlu memurnikan motivasi kita untuk beriman kepada Yesus, yaitu tidak semata mencari mukjizat, namun agar kita dapat menerima Dia ke dalam hidup kita, dan membiarkan diri kita dipimpin oleh-Nya menuju kepada kehidupan kekal. Dalam perjalanan iman ini, kita dapat saja mengalami mukjizat dan berkat-berkat-Nya, namun bukan hal-hal ini yang utama.

          Demikianlah, maka memang yang terbaik adalah berpegang kepada Tradisi para Rasul, yang jelas sudah terbukti menopang kehidupan Gereja selama 2000 tahun, yaitu perayaan Ekaristi kudus. Mukjizat kesembuhan tetap terjadi di sana, walau tidak diekspos dan menjadi seperti semacam pertunjukan, namun yang terpenting juga adalah kesembuhan rohani yang membawa kepada pertobatan. Selanjutnya tentang bahwa para imam perlu mempelajari bagaimana caranya membawakan khotbah dengan baik, saya pikir, telah menjadi perhatian para imam di Indonesia, sebagaimana juga sudah pernah diulas oleh Romo Wanta, silakan klik.

          Akhirnya, apa yang Anda tuliskan memang merupakan tantangan bagi Gereja Katolik, namun demikian, Gereja Katolik mempunyai dasarnya sendiri untuk tidak berubah haluan menjadikan ibadah dan kehidupannya menjadi sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah lama berakar sejak zaman para Rasul. Yang mungkin perlu dilakukan adalah bagaimana menumbuhkan pemahaman yang baik akan ajaran iman, perayaan ibadahnya maupun kehidupan doanya, sehingga dapat menjadi bagian kehidupan semua umat Katolik, untuk dilakukan dengan suka cita.

          Tantangan ini menjadi tantangan pihak hirarki dan awam, termasuk Anda dan saya. Mari, dengan keterbatasan kita, kita melakukan bagian kita, sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org