Home Blog Page 99

Doa Bersyukur Atas Berkat Pagi Hari

0

Bunga-bunga tersenyum menyambut kehangatan mentari  pagi hari.

Kupu-kupu menari-nari menyambut  fajar pagi.

Kurasakan cerahnya hari baru ini.

Itulah tanda kasih Tuhan setiap pagi.

Demikianlah cerahnya kasih Tuhan menerangi dan menyegarkan jiwaku di setiap pagi.

Kuangkat tanganku untuk bersyukur atas berkat-Mu yang berlimpah ini.

Kasih dan rahmat-Mu  senantiasa baru bagiku  setiap pagi ini.

Kusambut dengan sukacita atas indahnya berkat-Mu, Tuhan, pada pagi ini.

Amin

Ayat emas : Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya (Ratapan 3:22).

Oleh Pastor Felix Supranto,  SS.CC

 

Aku Disembuhkan Tuhan

4

Pada Jumat  malam , 20  September 2013, aku  tertunduk  lesu sepulangku dari Misa  arwah.  Tulang-tulangku terasa  pilu. Semua gara-gara kesulitan buang air kecil. Ketika hendak buang air kecil, aku merasakan sakitnya luar biasa sampai aku merangkak sambil meringis  untuk menahan sakit. Setiap aku  berusaha buang air kecil  akan  berakhir dengan tak sadarkan diri.

Sabtu pagi aku tahan rasa sakit yang tak terbayangkan ini untuk  memberkati  pengantin yang sederhana.  Setelah  perayaan Ekaristi, keringat dingin mengucur dari tubuhku dan wajahku pucat seperti mayat. Umatku pun membawaku ke IGD di  rumah sakit dalam keadaan setengah sadar.  Aku sempat bermimpi bahwa Tuhan Yesus Kristus  bersama empat  malaikatnya datang menjemputku : “Felix,  sekarang waktunya bagimu untuk beristirahat  bersama Aku?”.  Akan tetapi,  aku harus masuk melalui  terowongan yang sempit untuk sampai  ke tempat Tuhan Yesus itu.  Aku berkata kepada Tuhan : “Tuhan, saya belum berhasil  diet, sehingga tubuhku yang besar ini  akan kesulitan untuk masuk ke dalam terowongan  kecil ini”. Setelah  mengatakan hal itu, aku siuman. Dokter mengatakan  bahwa aku harus dirawat inap. Aku menolaknya secara halus.  Dalam hatiku aku berkata kepada Tuhan : “Tuhan, jangan aku diopname sekarang karena besok adalah hari Minggu. Aku harus merayakan Misa bagi umat kesayanganku”.

Hari Senin pagi  aku sudah tak berdaya. Badanku dingin dan keringat mengalir seperti habis berlari. Kaki dan tanganku lemas. Tensi darahku di bawah seratus. Aku pun pasrah digotong ke rumah sakit. Kateter pun dipasang di tubuhku. Dalam waktu beberapa menit, kantong kateter dipenuhi dengan air seni 800 mg. Setelah menjalani test PSA (Prostat),   prostatku membengkak besar sekali sampai 18 cm dari ukuran normal. Dokter  urologi memutuskan bahwa saya harus menjalani biopsi karena kemungkinan mengidap penyakit kanker prostat. Biopsi bisa dilakukan kapan saja ketika aku sudah siap. Aku terkulai lemas membayangkan sebagai  seorang yang menderita kanker.  Bayang-bayang akan sakitnya  tusukan besi kecil dan jarum ke dalam tubuhku untuk mengambil sel prostat dalam biopsi menghantuiku. Aku berdoa : “Tuhan, aku kini bagaikan sekuntum mawar yang telah patah tangkainya. Daunku pun berguguran helai demi helai. Tuhan, topanglah rantingku dan tegakkan lagi sehingga kurasakan hangatnya mentari. Daunku pun akan bersemi kembali menjadi mawar baru yang segar nan indah penghias taman hati”.  

Tuhan adalah penopangku. Dialah kekuatanku. Pada hari  Kamis, permintaanku untuk pulang dari rumah sakit dikabulkan walaupun harus tetap mengenakan kateter untuk beberapa hari lagi. Alasan sebenarnya adalah bahwa aku telah berjanji untuk menikahkan pengantin yang telah mempersiapkannya begitu lama. Aku tidak mau membuat mereka dilanda kekalutan yang akan merusakkan kebahagiaan mereka sehingga aku tidak mengatakan keadaanku yang sebenarnya. Esok harinya, Sabtu 28 September 2013, dengan badanku yang masih lemah,  aku pergi ke Katedral untuk memberkati pernikahan yang bersejarah. Temanku yang telah aku anggap sebagai saudaraku menuntun langkahku dan menjagaku agar tidak jatuh karena bisa lumpuh.

Aku mengikat kateter di kakiku serta  mengenakan sarung dan jubahku dan itu menjadi pengalaman pertamaku sebagai pastor dalam sebuah Misa. Perayaan pernikahan selama satu jam setengah terasa begitu lama karena keadaanku semakin lemah. Semakin lama  kakiku semakin terasa berat karena ternyata kateterku sudah mulai penuh dengan air seni. Ketika sampai pada upacara  doa “pemberkatan pengantin” menjelang akhir Misa, aku rasanya sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan  sepatah kata. Kepalaku berputar-putar dan aku hampir jatuh. Bisikan suara Bunda Maria terdengar lembut : “Felix, sebentar lagi upacara akan selesai dan pengantin ini akan  senantiasa memuliakan Allah”.  Tidak tahu dari mana kekuatan itu datang, aku dapat menyelesaikan secara lengkap upacara pernikahan. Ketika aku memberitahukan kepada pengantin itu bahwa aku baru pulang dari perawatan rumah sakit, mereka meneteskan air mata haru.

Hari Senin, 01 Oktober 2013, aku datang lagi ke dokter urologi. Perkembangannya bagus. Keteter dilepas. Buang air kecil  lancar. Akan tetapi, biopsi tetap harus dijalankan. Aku harus minum obat untuk mengecilkan pembengkakan prostat selama sembilan bulan. Aku membelinya  untuk sebulan agar bisa kontrol ke dokter secara teratur.

Sebelum mengambil keputusan untuk sebuah tindakan biopsi, saya mencari second opinion (pendapat lain) dari dokter urolologi yang lain. Dokter itu mengatakan bahwa obat pengecil pembengkakan prostat  itu jangan diminum dan dalam dua minggu akan diambil  test PSA. Kuasa Tuhan bekerja. Di dalam Dia ada penyembuhan. Kuasa Tuhan sungguh nyata. Mukjizat-Nya terjadi. Hasil test PSA yang diambil tanggal 16 Oktober 2013 sangat baik. Prostatku normal, yaitu 1.92 cm dari batas normal 4 cm. Dalam waktu lima menit, dokter mengatakan bahwa aku telah sembuh secara ajaib. Tidak ada kanker. Tidak perlu biopsi. Tidak perlu tindakan medis apapun. Tidak perlu minum obat. Tuhan telah memulihkanku seperti sediakala.

Tuhan senantiasa memenuhi janji-Nya : “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (Yohanes 11: 4). Aku tersungkur di kaki-Nya  dalam sebuah doa syukur :

 

Tuhan, Engkau telah menghadirkan senyuman mentari yang berseri.

Engkau telah meneteskan embun yang menyejukkan hati.

Berkat-Mu telah menegakkanku lagi.

 

Pesan indah yang penuh makna : Tuhan tahu batas rasa sakit yang bisa engkau tanggung. Jangan sampai engkau menyerah di saat selangkah lagi Tuhan mengganti kesakitan dengan sejuta keindahan.

“Terimakasih Tuhan, Engkau memperkenankan aku melayaniMu lagi”. Lagu “Kuasa-MU Bekerja” mengiringi setiap langkah pelayananku :

 

Betapa ku mengasihiMu Yesus
Hanya Kau satu-satunya Allahku
PadaMu kumenaruh semua pengharapanku

Betapa ku yakin akan janji-Mu
Firman-Mu bekerja dalam jiwaku
Ku hanya akan menyembahMu
Sepanjang hidupku

chorus

Di saat ku menyembahMu, kuasa-Mu bekerja
Hatiku dipulihkan, tubuhku disembuhkan
Biar hadirat-Mu terus bersamaku
Ku tahu Engkau t’lah menyembuhkanku

ending

Biar hadirat-Mu terus bersamaku
Ku tahu Engkau t’lah menyembuhkanku
Ku tahu Engkau t’lah menyembuhkanku
Ku tahu Engkau t’lah menyembuhkanku


Tuhan Memberkati

 

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

 

 

Tuhan Memang Top

0

Pagi berganti siang, siang berganti pagi, tetapi cinta Tuhan senantiasa indah dan penuh makna.  Cinta Tuhan yang senantiasa ada terungkap dari pengalaman seorang ibu empat anak. Aku mengenal lebih dalam ibu itu dan suaminya dalam retret keluarga yang aku berikan tiga tahun silam. Ia datang bersama rombongan dari Paroki Trinitas –Cengkareng, untuk mengunjungiku setelah sekembaliku dalam perawatan di rumah sakit.

Tuhan membentuknya melalui jalan yang berliku. Kalau Tuhan sudah mau, tidak ada yang bisa berlagu. Kelimpahan materi  pernah ia rasakan. Kelimpahan jasmani ternyata tidak membahagiakan. Sepatah renungan yang kebetulan terdengar dari Oase Rohani di sebuah radio “Setelah mendapatkan segalanya di dunia, what next (apa yang akan engkau lakukan kemudian”) telah membuka kesadarannya sampai lesu.

Di dalam kehampaan hati,  ia meminta sopirnya membawa ke sebuah Gereja. Ia diantar ke Gereja Trinitas – Cengkareng. Ia melangkah menuju ke altar dan menangis tersedu-sedu karena merasakan kehadiran  Tuhan. Seluruh hidupnya berubah dan memberikan dirinya dibaptis. Sejak itu ia menjadi satu-satunya orang Katolik di keluarga besarnya. Inilah jalan Tuhan yang memanggilnya menjadi  murid Tuhan dalam Gereja Katolik. Seandainya sopirnya itu membawanya ke gereja lain, ia tentu akan menjadi anggota gereja itu.

Sejak  dibaptis, kejadian-kejadian buruk dalam pandangan daging terus menimpa dirinya. Ia jatuh dari lantai tiga  yang membuat tangan dan tulang panggulnya patah sehingga tubuhnya penuh dengan besi titanium. Operasi besar selama tiga belas jam dijalaninya. Masa depannya terancam dengan kelumpuhan . Ia terbaring lemah di rumah sakit dengan kateter yang dipasang dalam tubuhnya selama sebulan.  Selama tiga bulan ia ditopang kruk untuk berjalan. Dalam keadaan tak berdaya, ia masih mengucap syukur bahwa kejadian ini menimpa dirinya dan bukan pembantunya : “Tuhan, seandainya kecelakaan ini terjadi dengan pembantunya, alangkah kasihan dia karena pasti tidak mempunyai biaya untuk memulihkan  hidupnya”. Usahanya pun tidak sebaik sebelumnya. Orang-orang yang  tidak menyetujuinya menjadi Katolik mencibirnya : “Itulah akibatnya kalau menjadi Katolik”.

Namun, ia bisa melihat karya Tuhan di balik penderitaan karena ia telah hidup menjadi ciptaan baru dalam Roh. Satu nilai yang ia hidupi : “Aku bisa tabah menghadapi kepahitan ini pasti berkat topangan tangan Tuhan. Kekuatan-Nya nyata justru di dalam keperihan”. Di dalam keterbatasan fisiknya, ia sangat bahagia karena bisa mengurus ayah mertuanya, yang bukan seorang Katolik” , yang terserang  kanker sumsum belakang selama delapan tahun. Ia bersukacita dapat berdoa di samping ayah mertuanya  dan memberikan “tanda salib” di dahinya” sebagai sebuah pelayanan kasih nyata. Ayah mertuanya itu menyampaikan sebuah pesan terakhir kepadanya sebelum ia meninggal dunia belum lama ini : “Suamimu sebaiknya dibaptis”, karena pengalaman kasih yang tercurah darinya.  Tak disangka-sangka suaminya tiba-tiba mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang Katolik. Keinginannya itu juga disampaikan kepadaku melalui telepon seluler : “Mo, aku sudah  memutuskan untuk menjadi Katolik”.  Kini suami dan keempat anaknya sedang menantikan kelas persiapan menjadi orang Katolik (Katekumenat) di Paroki Trinitas – Cengkareng. Keluarganya yang telah mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Sang Juru Selamat merupakan kebahagiannya di atas segalanya.

Tuhan Memang TOP .

“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk” (Yesaya 57:15).

Pesan indah yang perlu kita renungkan : “Tuhan tidak senantiasa memberikan apa yang kita pinta, tetapi senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan”.

Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

 

Hidup ini Indah

0

“Say No To Drug”

Hidup ini indah, bahkan  terlalu indah untuk dinodai  air mata.

Jangan biarkan hati terjerat resah yang membuka pintu bagi setan narkoba.

Setan narkoba jeli mencari peluang untuk memangsa yang lengah.

Sekali terperangkap setan narkoba, hidup pun  menjadi susah,  senantiasa merangkak di bawah kakinya, beku dan tanpa nyawa.

Untuk itulah, Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang  Paroki Santa  Helena Lippo Karawaci  pada tanggal 27 Oktober 2013 mengadakan seminar dengan tema “Hagailah Hidupmu dengan Katakan  “Say No To Drug”  dalam rangka peringatan  Hari Sumpah Pemuda.

Peranku dalam seminar itu adalah sebagai pembicara bersama Kombes Ketut, aparat keamanan yang ramah, dan Ibu Esther, dokter spesialis jiwa yang penuh keibuan.

Lebih dari seratus orang tua dan anak datang dengan antusias karena sadar bahwa hidup mereka di bawah  bayangan  siluman narkoba yang  menuntunnya  untuk masuk ke dalam jurang kematian.

 

Kesaksian seorang ibu dari  kedua  anak pencandu  narkoba terasa pilu terdengar.

Satu dari anaknya meninggal dengan tulang kering kerontang dan wajah tanpa aura.

Ia tidak mengenal kata “menyerah” dalam usaha membebaskan anak-anaknya dari belenggu narkoba.

Air mata menjadi santapannya siang malam.

Segala yang ada dalam dirinya telah dikerahkan karena cinta kepada anak-anaknya.

Satu hal yang menguatkan adalah janji Tuhan bahwa  ia akan menjadi pemenang :

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,  oleh Dia yang telah mengasihi kita”  (Roma 8:37).

Kesaksiannya mengingatkan banyak anak muda bahwa hari-harinya masih panjang.

Banyak harapan  di masa depan.

Jangan  sampai disia-siakan  hanya dengan narkoba.

Karena itu,  mari katakan “Say no to drug”.

Keluarga bahagia dan Firman Tuhan merupakan bentengnya.

Tuhan memberkati.

 

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

Sudahkah aku ‘ingin melihat Kristus’?

6

[Minggu Biasa XXXI:  Keb 11:22-12:2; Mzm 145: 1-14; 2Tes 1:11- 2:2; Luk  19:1-10]

Seandainya aku bertubuh pendek seperti Zakheus, mungkin aku dapat lebih menghayati makna Injil hari ini. Bukan saja hanya berbadan pendek, tetapi keadaannya sebagai  kepala tukang pajak, membuat Zakheus berbeda dari orang kebanyakan. Banyak orang tak suka kepadanya karena tukang pajak saat itu dikenal suka mengambil keuntungan dari menagih orang lebih banyak dari seharusnya. Tapi rupanya belas kasih Tuhan tidak mengecualikan  Zakheus, yang sepertinya tidak masuk hitungan di mata orang banyak. Injil mencatat bahwa Tuhan Yesus melintasi kota Yerikho, di mana Zakheus tinggal. Sebelumnya Yesus baru saja menyembuhkan orang buta sebelum masuk kota, dan orang ramai membicarakannya, sehingga Zakheus penasaran ingin melihat Yesus, Sang Penyembuh itu. Zakheus membuang gengsinya sebagai orang kaya, menyingkirkan rasa malunya dan mau bersusah-payah memanjat pohon ara, hanya untuk satu tujuan sederhana: untuk melihat seperti apakah Yesus itu.

Sudahkah aku merindukan Tuhan Yesus seperti Zakheus? Paus Yohanes Paulus II dalam salah satu khotbahnya tentang perikop ini tanggal 2 November 1980, pernah mengatakan demikian, “Apakah aku ingin ‘melihat Kristus’? Apakah aku sudah melakukan segala sesuatu untuk ‘melihat Dia’? Pertanyaan ini, dua ribu tahun kemudian, tetap relevan seperti pada saat itu, ketika Yesus berjalan melintasi kota-kota dan desa-desa di tanah air-Nya. Ini adalah pertanyaan yang relevan bagi kita masing-masing hari ini: Apakah aku mau melihat Dia? Apakah aku sungguh-sungguh mau? Apakah aku mungkin malah memilih untuk tidak melihat-Nya dan berharap Ia tidak melihat aku (setidaknya dalam cara berpikirku dan dalam perasaanku)? Dan jika aku telah melihat-Nya dalam cara tertentu, apakah aku lebih memilih untuk melihat-Nya dari jauh, tidak terlalu dekat, tidak mau mengambil resiko di hadapan mata-Nya, supaya tidak terlalu dalam memahami …. supaya tidak harus menerima keseluruhan kebenaran yang ada di dalam Dia, yang datang dariNya – dari Kristus?”

Sungguh, Tuhan Yesus melihat ke dalam hati setiap orang. Yesus mengetahui kesungguhan hati Zakheus dan Ia sungguh menghargainya. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk 19:5) Betapa mengejutkan perkataan Yesus ini bagi Zakheus, sebab perkataan ini begitu akrab, seperti ucapan seorang teman lama yang tidak sungkan mampir. Zakheus yang tadinya hanya bermaksud melihat Yesus sekilas saja, kini malah mendapat perhatian ekstra, sebab Yesus mau datang ke rumahnya! Wow! Zakheus-pun segera turun dan menyambut Yesus dengan suka cita. Ia telah menerima suka cita yang dari Tuhan, melalui perjumpaannya dengan Yesus. Suka cita ini  ternyata mendorong Zakheus untuk memulai hidup yang baru dengan mengikuti ajaran Kristus. Ia tidak mau lagi memeras orang lain. Ia mau memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang-orang yang pernah diperasnya. Ini adalah tindakan ganti rugi  yang melampaui apa yang disyaratkan dalam hukum Taurat Musa (lih. Kel 22:4). Pengalamannya menerima kemurahan dan belas kasih Tuhan Yesus, menjadikan Zakheus-pun bermurah hati dan berbelas kasih kepada orang lain.

Tuhan Yesus, mari datanglah di rumah hatiku. Akupun rindu mengalami suka cita di dalam Engkau seperti Zakheus. Ubahlah aku menjadi lebih baik seturut kehendak-Mu, dan mampukanlah aku, yang telah menerima kemurahan dan belas kasih-Mu, untuk dapat bermurah hati dan berbelas kasih kepada sesamaku.”

Mari berdoa dengan kerendahan hati

1

[Minggu Biasa XXX: Sir 35:12-14.16-18; Mzm 34: 2-23; 2Tim 4:6-8,16-18; Luk 18:9-14]

Pernah ada suatu kali, kami mendengar orang berkomentar demikian, “Malas ah, aktif di gereja…. orang-orangnya yang jadi pengurus berantem melulu….” Mungkin komentar macam ini terdengar nyeleneh dan pedas didengar, namun mari kita melihat dengan jujur, benarkah demikian? Sebab nyatanya, kalau sebuah komunitas ataupun keluarga sudah kurang rajin berdoa bersama, memang seringnya, demikianlah akibatnya. Keluarga akan mudah bertengkar, dan mulai tidak ada suka cita dan damai sejahtera di dalamnya. Kalau berlarut-larut dibiarkan, malah dapat terjadi perpecahan. Waduh, adakah yang dapat dilakukan supaya hal macam ini tidak terjadi?

Mari kita mengacu kepada sabda Tuhan Minggu ini. Tuhan Yesus kembali mengajar kita agar kita tekun berdoa. Doa dalam kehidupan kita umat beriman adalah semacam nafas kehidupan. Bayangkan, kalau kita tidak bernafas, tentu kita akan kepayahan bukan? Dalam hitungan menit, game over sudah. Namun selain pentingnya doa, Yesus menekankan satu hal lagi di sini, yaitu agar kita berdoa dengan sikap kerendahan hati. Sebab ada banyak orang, mungkin termasuk kita juga, yang kadang berdoa dengan sikap yang kurang pas. Kita menganggap diri kita sudah baik, sudah berusaha melakukan kehendak Tuhan, dan kemudian mulailah kita memohon banyak hal kepada-Nya. Namun sikap yang dibenarkan Tuhan adalah, datang kepada-Nya dengan sikap kerendahan hati. “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini….” (Luk 18:13) Sebab dengan sikap seperti ini, kita dapat dengan jujur melihat ke dalam hati kita, bahwa kita itu jauh dari sempurna. Kita masih jatuh bangun dalam menjalani kehidupan ini. Bahkan untuk melakukan hal-hal kecil saja dengan kasih yang besar, sering kita masih gagal. Umumnya kita masih terlalu cepat mengeluh dan terlalu mudah melihat kesalahan orang lain, daripada menutupi kesalahan mereka dengan kesabaran dan pengertian kita. Sungguh, mengasihi sesama itu adalah perjuangan, sekaligus ujian, apakah kita sungguh mengasihi Tuhan. Kita semua mengalami ujian ini, baik di dalam keluarga, lingkungan kerja, ataupun dalam lingkungan gerejawi. Kalau kita gagal mengasihi, mari kita tanyakan kepada diri kita, sudahkah kita memohon belas kasihan Tuhan? Sudahkah kita tekun memohon agar Ia memberikan hati yang lemah lembut dan rela mengampuni? Hanya dengan sikap kerendahan hati-lah kita dapat melihat, bahwa karena kitapun berdosa dan mengharapkan pengampunan Tuhan, maka sepantasnya kita juga mau memberikan pengampunan kepada sesama. Tentu tak terbayangkan, jika kelak kita terhalang untuk memandang Tuhan, karena sewaktu hidup di dunia kita gagal mengasihi, enggan mengampuni dan terlalu tinggi hati. Sadar akan kelemahan kita, semoga kita dapat datang ke hadapan Allah dengan hati terbuka, yang siap menerima teguran Tuhan melalui sabda-Nya dan kesediaan untuk memperbaiki diri.

Rasul Paulus mengatakan bahwa hidup di dunia ini bagaikan pertandingan (lih 2 Tim 4:7), yaitu pertandingan untuk memelihara iman, harapan dan kasih. Kekuatan kita untuk memenangkan pertandingan ini datang dari Tuhan sendiri, asalkan kita tekun memohon kepada-Nya di dalam doa-doa kita dengan sikap kerendahan hati. Mari kita pegang janji Tuhan Yesus, “Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” (Luk 18:14).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab