Home Blog Page 98

Apakah Bunda Maria mengalami sakit melahirkan?

7

Tidak. Gereja Katolik memang tidak menjadikan ajaran bahwa Bunda Maria tidak mengalami sakit melahirkan sebagai dogma, namun Gereja Katolik mengajarkannya demikian.[1] Ajaran ini bertumpu kepada dua ajaran definitif lainnya yang telah dinyatakan oleh Gereja, yaitu: 1) Bunda Maria tetap perawan, sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Kristus (lih. Yes 7:14, 66:7; Yeh 44:1-3; KGK 499); dan 2) Bunda Maria dikandung tidak bernoda (lih. Ineffabilis Deus 1854, KGK 491), sedangkan sakit melahirkan disebabkan karena dosa asal (lih. Kej 3:16). Baik Bunda Maria maupun Kristus yang dilahirkannya tidak mempunyai dosa asal, maka Bunda Maria tidak mengalami konsekuensi dosa asal ini. Maka Bunda Maria tidak mengalami sakit melahirkan.

Seorang apologis Katolik, Dr. Taylor Marshall, menjelaskan, “Sejumlah orang menganggap bahwa keyakinan Katolik tentang  hal ini merendahkan kemanusiaan Kristus. [Namun] kita mesti mengingat bahwa Kristus berjalan di atas air, berubah rupa di Gunung Tabor, keluar dari kubur sebelum kubur terbuka, dan menembus pintu yang terkunci. Tak ada satupun dari fakta ini yang merendahkan kemanusiaan Kristus. Karena itu, percaya bahwa Kristus keluar dari rahim Bunda Maria dengan cara yang misterius bukanlah tanpa alasan ataupun kurang hormat. Sebaliknya, hal ini adalah keyakinan dari para orang kudus yang tersuci dan terpandai dalam Gereja Katolik. Bagi siapapun yang menyangkal ketiadaan rasa sakit dan keperawanan pada kelahiran Kristus, mari kita tanyakan kepadanya kutipan dari Santo/Santa atau Paus mana yang mengajarkan demikian, yaitu teks yang menegaskan bahwa kelahiran bayi Kristus menyebabkan kesakitan kepada Maria, dan merusak keperawanan fisik Maria. …. Dari 33 orang Doktor Gereja, tak ada satu orang pun yang menyangkal bahwa kelahiran Kristus tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak merusak. Bahkan, sedikitnya 20 orang dari para Doktor Gereja itu secara eksplisit menegaskan bahwa kelahiran Kristus tidaklah menimbulkan rasa sakit dan secara ajaib meninggalkan keperawanan fisik Maria tetap terjaga. Lagi, ini semua kembali ke nubuat nabi Yesaya, “Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki…”  (Yes 66:7) Nubuat ini mengacu kepada Kristus, secara jelas dan sederhana.”[2]

Dasar dari Kitab Suci

  • Yes 7:14: “Sesungguhnya, seorang perawan (virgin/almah) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia, Imanuel.”
  • Yes 66:7: “Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki…”
  • Yeh 44:1-3: “Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu gerbang luar dari tempat kudus, yang menghadap ke timur; gerbang ini tertutup. Lalu TUHAN berfirman kepadaku: “Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup…”

Dasar dari Tradisi Suci

  • Gregorius dari Nissa (388): “Meskipun datang dalam rupa manusia, tapi tidak dalam segala sesuatu Ia tunduk kepada hukum alam; sebab sementara kelahiran-Nya dari seorang wanita mengisahkan kodrat alamiah manusia; keperawanan yang dapat melahirkan anak menunjukkan sesuatu yang melampaui manusia. Tentang Dia maka beban Ibu-Nya menjadi ringan, kelahiran-Nya tanpa noda, cara kelahiran-Nya tanpa rasa sakit, kelahiran-Nya tanpa ketidakmurnian, tidak diawali dari keinginan daging, atau dilewati dengan dukacita… ia yang membawa hidup ke dunia harus menyelesaikan proses kelahiran dengan suka cita.”[3]
  • Ambrosius dari Milan (391): “Siapakah pintu gerbang ini (Yeh 44:1-3), jika bukan Maria? Bukankah ia tertutup karena ia [Maria] adalah seorang perawan? Maria adalah pintu yang melaluinya Kristus masuk ke dunia, ketika Ia lahir dalam kelahiran yang perawan dan cara kelahiran-Nya tidak merusak meterai keperawanan … Terdapat sebuah pintu dari rahim itu … bahwa melaluinya Seseorang yang lahir dari Sang Perawan keluar tanpa merusak keutuhan organ reproduksinya.”[4]
  • Agustinus (354-430): “Adalah tidak benar, bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan kerusakan malah pada saat kedatangannya merusak keutuhan.”[5]

“Saat melahirkan, engkau sepenuhnya murni, saat melahirkan, engkau tidak merasa sakit.”[6]

“Sungguh, Kristus mengatasi, mukjizat-mukjizat dari semua di samping itu, dengan lahir dari seorang perawan, dan dengan Ia sendiri memiliki kuasa, baik dalam konsepsi-Nya maupun kelahiran-Nya, untuk menjaga keutuhan integritas ibu-Nya…”[7]

  • Paus St. Leo Agung (430): “Ia [Maria] melahirkan Dia [Yesus] tanpa kehilangan keperawanan seperti ia telah mengandungNya tanpa kehilangan.”[8]
  • Paus Pelagius I (w 561): “Yesus Kristus, Allah benar dan juga sungguh manusia keluar dari, yaitu lahir, sementara keperawanan ibu-Nya tetap utuh: sebab Sang Perawan tetap demikian pada saat melahirkan, seperti halnya pada saat mengandungNya.”[9]
  • Proklus dari Konstantinopel (w 446): “O misteri! Aku melihat mukjizat-mukjizat dan aku mewartakan Tuhan… Sebab Sang Emanuel telah membuka pintu-pintu kodrat sebagai manusia, tetapi sebagai Tuhan, Ia tidak merusak keperawanan.”[10]
  • Andreas dari Kreta (650-720): “Perawan ini adalah Theotokos (Bunda Allah)… yang dari rahimnya Sang Ilahi lahir dalam daging, dan oleh siapa Ia sendiri menyiapkan sebuah tempat kediaman yang menakjubkan bagi diri-Nya sendiri. Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki dan melahirkan tanpa kerusakan—sebab Puteranya adalah Allah meskipun Ia juga lahir dalam daging—tanpa percampuran dan tanpa rasa sakit melahirkan…. Perawan ini, setelah melahirkan seseorang yang dikandung tanpa benih, tetap adalah Perawan yang murni, dengan tanda keperawanannya yang tetap terjaga tidak rusak.”[11]
  • Yohanes Damaskus (676-749): “Bagaimana mungkin kematian dapat mengklaim sebagai mangsanya, seorang yang sungguh terberkati ini, yang telah mendengarkan Sabda Tuhan dengan kerendahan hati, dan telah dipenuhi dengan Roh Kudus, mengandung karunia Allah Bapa melalui Malaikat, melahirkan tanpa kecondongan terhadap dosa dan tanpa campur tangan laki-laki, Sang Pribadi Sabda Ilahi,… yang melahirkan Dia tanpa rasa sakit melahirkan, karena kesatuan yang penuh dengan Tuhan?…. Adalah layak bahwa tubuhnya, yang mempertahankan keperawanannya tetap utuh saat melahirkan, tetap dijaga dari kerusakan bahkan setelah kematian…. Adalah layak bahwa ia yang memandang Puteranya wafat di salib, dan menerima di dalam hatinya pedang rasa sakit yang tidak dialaminya pada saat melahirkan, memandang Dia yang duduk di sisi Bapa.[12]
    “Sejauh bahwa Ia [Yesus] dilahirkan oleh seorang wanita, kelahiran-Nya adalah sesuai dengan hukum kodrat kelahiran manusia, namun sejauh bahwa Ia tidak mempunyai bapa [dalam arti jasmani], kelahiran-Nya melampaui kodrat kelahiran manusia: dan bahwa itu terjadi pada waktu yang normal [sebab Ia lahir pada saat genap 9 bulan…], kelahiran-Nya sesuai dengan kodrat kelahiran manusia, namun bahwa kelahiran-Nya tidak melibatkan rasa sakit, hal itu mengatasi hukum kodrat kelahiran manusia. Sebab sebagaimana kesenangan tidak mendahuluinya [kelahiran-Nya], rasa sakit juga tidak mengikutinya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki (Yes 66:7). Karena itu, sang Putera Allah yang mengambil rupa manusia telah dilahirkan olehnya… Tetapi seperti Ia yang telah dikandung menjaga dia yang mengandung agar tetap perawan, dengan cara yang sama, Ia [Yesus] yang telah dilahirkan menjaga keperawanannya [Maria] tetap tidak terganggu, hanya melewatinya dan menjaganya tetap terkunci (Yeh 44:2).”[13]
  • Bonaventura (1221-1274): “O Allah, Allahku: Aku akan memuliakan Engkau melalui ibu-Mu. Sebab ia telah mengandung Engkau dalam keperawanan: dan tanpa kesakitan ia telah melahirkan Engkau.”[14]
  • Thomas Aquinas (1225-1274): “… Sakit melahirkan disebabkan oleh bayi yang membuka jalan dari rahim. Telah dikatakan … bahwa Kristus lahir dari rahim ibu-Nya yang terkunci, dan karena itu, tanpa membuka jalan keluarnya. Konsekuensinya, tidak ada rasa sakit pada saat kelahiran itu, seperti juga tidak ada kerusakan apa pun. Sebaliknya, ada begitu besar sukacita sebab Allah-Manusia “telah lahir ke dunia”….[15]

Dasar dari Magisterium:

Konsili Ekumenis kelima di Konstantinopel (553) memberikan gelar kepada Maria, “Perawan selamanya”.[16]

Sinode Lateran (649) yang dipimpin oleh Paus Martin I: “Jika seseorang tidak sesuai dengan para Bapa Gereja mengakui bahwa Maria yang kudus dan tetap perawan dan tanpa noda, sungguh dan benar-benar Bunda Allah, sehingga ia, pada saat genap waktunya, dan tanpa benih, mengandung dari Roh Kudus, Allah dan Sang Sabda sendiri, yang sebelum segala masa telah lahir dari Allah Bapa, dan tanpa kehilangan integritas melahirkan Dia dan setelah kelahiran-Nya tetap menjaga keperawanannya utuh tak terganggu, terkutuklah ia.”[17]

Konsili Toledo XVI (693): “Dan sebagaimana Sang Perawan mencapai kesederhanaan keperawanan sebelum Konsepsi, ia juga mengalami tidak kehilangan integritasnya; sebab sebagai perawan ia mengandung, sebagai perawan ia melahirkan, dan setelah kelahiran tetap mempertahankan kesederhanaan yang tak terganggu sebagai seorang perawan yang utuh.”[18]

Katekismus Romawi, hasil Konsili Trente (1566):
“Kelahiran Kristus melampaui aturan alamiah. Tetapi karena Konsepsi tersebut [terbentuknya janin Kristus] itu sendiri melampaui aturan alamiah, demikian juga kelahiran Tuhan kita menampilkan kepada pandangan kita, tiada yang lain selain apa yang ilahi….

Di samping itu, apa yang mengagumkan jauh melampaui kuasa pikiran ataupun perkataan untuk mengungkapkannya, Ia [Kristus] dilahirkan oleh Ibu-Nya tanpa pengurangan sedikitpun keperawanan ibu-Nya, seperti ketika kemudian Ia keluar dari kubur sementara kubur itu tertutup dan terkunci, dan masuk ke ruangan di mana para murid-Nya berkumpul, sementara pintu-pintu terkunci. Atau agar tidak beranjak dari contoh-contoh sehari-hari: seperti halnya berkas-berkas sinar matahari menembus kaca, tanpa memecahkan atau merusak sedikit pun kekerasan substansi kacanya, demikianlah, seperti itu juga namun dengan cara yang lebih agung, Yesus Kristus lahir dari rahim ibu-Nya tanpa merusak keperawanan ibunya. Karena itu, keperawanan ini yang tanpa noda dan tetap selamanya, membentuk tema yang benar/layak tentang pujian kita. Hal sedemikian adalah karya Roh Kudus, yang pada saat Konsepsi dan kelahiran Sang Putera, begitu melimpahi rahmat kepada Sang Bunda Perawan, dengan  memberikan berkat kesuburan kepadanya, sementara tetap utuh menjaga keperawanannya.

“Kepada Hawa dikatakan: “Dalam kesakitan kamu akan melahirkan anak-anakmu” (lih. Kej 3:16). Maria dibebaskan ketentuan ini; sebab tetap menjaga keutuhan keperawanannya, ia melahirkan Yesus Putera Allah, tanpa mengalami, seperti telah kami katakan, kesakitan apapun.”[19]

Katekismus Gereja Katolik, 499: “Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan[20], juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia.[21] Oleh kelahiran-Nya, “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya.”[22] Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” [Aeiparthenos].”[23]

 

[1] Lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, III, q. 28, a. 2;  Catechism of the Council of Trent, Part 1: The Creed, article III,

[2] Dr. Taylor Marshall, Mary’s Painless Delivery of Christ (Scripture, Church Fathers, Popes, and Doctors of the Church), http://taylormarshall.com/2010/12/marys-painless-delivery-of-christ.html.

[3] St. Gregory of Nyssa, Homily on Nativity of Christ, ref: http://full-of-grace-and-truth.blogspot.com/2011/12/homily-on-nativity-of-christ-by-st.html.

[4] St. Ambrose of Milan, The Consecration of a Virgin and the Perpetual Virginity of Mary, 8:52, ref: http://home.earthlink.net/~mysticalrose/virginityinpartu.htm.

[5] St. Augustine, Sermon 189:2, ref: http://www.dec25th.info/Augustine%27s%20Sermon%20189.html.

[6] St. Augustine, Sermon on Nativity, http://taylormarshall.com/2010/12/marys-painless-delivery-of-christ.html.

[7] St. Augustine, Tractate 91:3, ref: https://books.google.com/books?id=mII56pCHfkIC&pg=PA164&lpg=PA164&dq=St.+Augustine,+Tractate+91&source=bl&ots=gFY7TePWNO&sig=FPGn-xPtnXZS8uSzp5PiD_3vTq4&hl=en&sa=X&ei=KNpAVeSRK5H1gwTt7oHwBg&ved=0CC0Q6AEwAw#v=onepage&q=St.%20Augustine%2C%20Tractate%2091&f=false.

[8] Pope St. Leo the Great, Tome to Flavian, II, ref: http://www.newadvent.org/fathers/3604028.htm.

[9] Pope Pelagius I, Letter to King Childebert I, ref: http://taylormarshall.com/2010/12/marys-painless-delivery-of-christ.html.

[10] St. Proclus of Constantinople, Oratio 1, no. 10; PG 65:692A, ref: Ibid.

[11] St. Andrew of Crete, Discourse on the Nativity of the Theotokos, ref: http://www.stgeorgegreenville.org/OurFaith/Feasts%20for%20Theotokos/Natvity-AndrewofCrete.html

[12] St. John Damascene, Second Homily on the Dormition of the Mother of God, ref:
http://taylormarshall.com/2010/12/marys-painless-delivery-of-christ.html.

[13] St. John Damascene, On the Orthodox Faith, IV, 14, ref: Ibid.

[14] St. Bonaventure, Psalter of the Blessed Virgin Mary, 62, ref: Ibid.

[15] St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, III, q.35, a.6, ref: Ibid.

[16] D 214, 218, 227.

[17] D 256, DS 503.

[18] DS 571.

[19] Diterjemahkan dari Catechism of the Council of Trent, Part 1: The Creed, article III, ref: http://www.catecheticsonline.com/Trent.php

[20] Bdk. DS 427.

[21] Bdk. DS 291; 294, 442; 503; 571; 1880.

[22] LG 57.

[23] KGK 499, Bdk. LG 52.

Terus berkarya, sampai Tuhan datang lagi

0

[Minggu Biasa XXXIII:  Mal 4:1-2a; Mzm 98:5-9; 2Tes 3:7-12; Luk 21:5-19]

Belakangan ini ada banyak ulasan ataupun khotbah tentang ‘akhir zaman’. Ada bermacam reaksi tentang topik ini, namun terdapat dua sikap yang ekstrim yang perlu kita hindari. Sikap yang pertama, yaitu mengabaikannya, dan melanjutkan hidup seolah-olah akhir zaman tidak akan pernah terjadi; atau kedua, begitu terobsesi, sehingga sampai terdorong untuk menebak atau mencari tahu kapan saat akhir zaman akan tiba, sambil sibuk mengira-ngira, si ini atau si itu sebagai sang antikristus. Sejujurnya, kedua sikap ini bukan sikap yang diajarkan oleh sabda Tuhan itu sendiri. Sebab sabda Tuhan mengatakan bahwa bahwa Tuhan Yesus memang akan datang kembali di akhir zaman, namun bukan bagian kita manusia untuk dapat meramalkannya ataupun mengetahui saatnya. Bagian kita hanya sederhana: berjaga-jaga (Mat 25:13; Mrk 13:33).

Bacaan kedua Minggu ini mengisahkan sejumlah jemaat awal yang mengira bahwa akhir zaman akan segera tiba, maka mereka berhenti bekerja. Rasul Paulus menegur mereka ini, “Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan!” (2Tes 3:10) Di sini, Rasul Paulus mengajarkan agar kita tetap berkarya sampai Tuhan Yesus datang kembali. Kedatangan Tuhan jangan sampai membuat kita malas dan hanya berpangku tangan menunggu. Maka hal yang perlu diperjuangkan adalah, bagaimana agar dalam melakukan tugas sehari-hari, kita tetap dapat mengarahkan hati kepada Tuhan, yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Sebab sesungguhnya, di dalam setiap pekerjaan kita, entah sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, karyawan, pelajar, dst., kita semua dipanggil untuk memuliakan nama Tuhan, dan untuk mengusahakan kebaikan dalam kehidupan bersama. Sudahkah kita memulai pekerjaan kita dengan Tanda Salib, dan sudahkah kita mengikutsertakan Tuhan dalam pengambilan keputusan? “Tuhan, kupersembahkan kepada-Mu, pekerjaanku hari ini. Bantulah aku untuk melihat Engkau dalam diri orang-orang yang kujumpai hari ini… “ Pekerjaan kita sehari-hari bukanlah sesuatu yang memisahkan kita dari Allah, melainkan seharusnya mendekatkan diri kita kepada-Nya. Pekerjaan dan keluarga kita merupakan kesempatan bagi kita untuk mengasihi sesama, yang menjadi tanda bahwa kita mengasihi Allah. Marilah kita tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita menampakkan kasih Kristus kepada pasangan hidup kita, anak-anak, orang tua, anak buah kita, atasan kita, pelanggan kita, satpam, ataupun pembantu rumah tangga kita? Sebab melalui pekerjaan dan hidup kita sehari-hari, kita dipanggil untuk menerapkan makna kasih dan persahabatan sejati dengan orang-orang di sekitar kita, menumbuhkan saling pengertian dan saling tolong menolong, sebab Tuhan hadir dalam diri sesama kita. Pekerjaan bukan semata alat untuk memperoleh nafkah dan sarana mengembangkan kemampuan, namun juga kesempatan untuk menyapa dan memperhatikan orang lain, untuk berbagi berkat dan kasih yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Perbuatan kasih yang mengalir dari iman inilah yang merupakan bekal yang dapat kita bawa nanti, jika kita menghadap Tuhan, baik di saat kita dipanggil Tuhan, maupun di saat akhir zaman.

Marilah kita mohon kepada Tuhan, rahmat kasih dan damai sejahtera, agar kita tidak lekas risau jika mendengar klaim-klaim sejumlah orang tentang akhir zaman. Tuhan telah berjanji akan menjaga kita sampai akhir (lih. Luk 21:18-19), maka mari kita memusatkan perhatian kepada apa yang perlu kita lakukan sebagai umat beriman untuk menyongsong akhir zaman, yaitu: berjaga-jaga dan tekun berdoa (Mat 26:41) serta tetap berkarya mengerjakan keselamatan kita (Flp 2:12). Sebab Kristus bersabda, “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya berjaga-jaga…. dan melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Luk 12:37,43).

Paus Fransiskus : Bukalah pintu bagi iman

6

Mereka yang datang menghampiri Gereja seharusnya menemukan pintu-pintu yang terbuka dan bukannya menemukan orang-orang yang ingin mengendalikan iman. Hal ini adalah apa yang telah Paus katakan pagi ini [25-05-2013] dalam misa di Casa Santa Marta.

Injil hari ini menjelaskan kepada kita bahwa Yesus menegur para murid-Nya yang berusaha untuk menghalang-halangi anak-anak yang orang-orang bawa kepada Tuhan untuk menerima berkat. “Yesus memeluk mereka, mencium mereka, menyentuh mereka, semua dari mereka. Semua itu melelahkan Yesus sehingga para murid-Nya” ingin menghentikan hal tersebut”. Yesus marah: “Yesus menjadi marah, kadang-kadang.” Dan Dia berkata: “Biarkan mereka datang kepadaKu, jangan halang-halangi mereka. Karena orang-orang seperti inilah yang empunya Kerajaan Allah.” “Iman umat Allah – Paus mengamati – adalah sebuah iman yang sederhana, iman yang mungkin tanpa banyak teologi, tetapi memiliki teologi batiniah yang tidak salah, karena Roh berada di balik itu.” Paus menyebutkan Konsili Vatikan I dan Vatikan II, di mana dikatakan bahwa “orang-orang kudus Allah … tidak bisa keliru dalam hal-hal kepercayaan” (Lumen Gentium). Dan untuk menjelaskan formulasi teologis ini ia menambahkan:. “Jika kalian ingin mengetahui siapa Maria itu [maka] pergilah ke seorang teolog dan dia akan memberitahu kalian tepatnya siapa Maria itu. Tetapi jika kalian ingin mengetahui bagaimana mencintai Maria [maka] pergilah ke umat Allah yang mengajarkan itu dengan lebih baik.” Umat Allah itu – lanjut Paus -“selalu meminta sesuatu untuk menjadi lebih dekat kepada Yesus, mereka kadang-kadang sedikit ‘ngotot’ dalam hal ini. Tapi itu adalah sifat bersikeras dari mereka yang percaya”:

Saya ingat suatu kali, keluar dari kota Salta, pada pesta perayaan pelindung kota tersebut, ada seorang wanita rendah hati yang meminta berkat imam. Imam itu berkata, ‘Baik, tetapi kamu tadi telah ikut Misa‘ dan menjelaskan keseluruhan teologi berkat di gereja. Engkau telah melakukan dengan baik: “Ah, terima kasih pastor, ya pastor,” kata wanita itu. Ketika imam itu pergi, wanita itu berpaling ke imam yang lain: ‘Mohon berikan berkatmu!‘ Semua kata – kata tadi tidak mengena dengannya, karena dia punya kebutuhan lain:.. keperluan untuk disentuh oleh Tuhan. Itu adalah iman yang kita selalu cari, ini adalah iman yang membawa Roh Kudus. Kita harus memfasilitasikan itu, membuatnya tumbuh, membantunya tumbuh.”

Paus juga menyebutkan kisah seorang buta dari Yerikho, yang ditegur oleh para murid karena ia berteriak menangis kepada Tuhan, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

Injil mengatakan bahwa mereka tidak ingin dia [orang buta itu] berteriak, mereka ingin dia untuk tidak berteriak [namun] sebaliknya dia ingin berteriak lagi, mengapa? Karena dia telah memiliki iman dalam Yesus! Roh Kudus telah menempatkan iman dalam hatinya. Dan mereka berkata, ‘Jangan, engkau tidak boleh lakukan hal ini! Engkau jangan berteriak kepada Tuhan. Aturan resmi tidak memperbolehkan hal itu. Dan ‘Pribadi ke-Dua Trinitas! Lihatlah apa yang Kau lakukan …’ seolah-olah mereka sedang mengatakan itu, benar?”

Juga pikirkan tentang sikap dari banyak umat Kristiani:

Pikirkan umat Kristiani yang baik, dengan niat baik, kita berpikir tentang sekretaris paroki, seorang sekretaris paroki … Selamat malam, selamat pagi, kami berdua – kekasih pria dan kekasih wanita – kami ingin menikah’. Dan bukannya berkata, ‘Bagus itu!’ Mereka berkata, ‘Oh, baiklah, silakan duduk. Jika kalian ingin Misa, biayanya banyak…’. Hal ini, bukannya disambut dengan baik – yang merupakan sebuah hal yang baik untuk menikah! – Tapi sebaliknya mereka meresponnya dengan ini: ‘Apakah kalian memiliki sertifikat baptis, oke baik … ‘. Dan mereka temukan sebuah pintu yang tertutup. Ketika orang Kristen ini dan orang Kristen itu memiliki kemampuan untuk membuka pintu, berterima kasihlah pada Tuhan untuk fakta dari sebuah pernikahan baru ini… Kita berkali-kali menjadi pengendali iman, bukannya menjadi fasilitator iman umat.”

Dan selalu ada godaan – kata Paus – “mencoba dan mengambil kepunyaan Tuhan.” Dan ia menceritakan kisah lainnya:

Pikirkan tentang seorang ibu tunggal yang pergi ke gereja, di paroki dan ke sekretaris dia berkata:Saya ingin anak saya dibaptis’. Dan kemudian orang Kristen ini berkata: Tidak, Anda tidak bisa karena Anda tidak menikah!’. Tapi lihat, gadis ini memiliki keberanian untuk menanggung kehamilannya dan tidak mengirim kembali anaknya kepada Pengirim-nya, apa – apaan ini? Sebuah pintu yang tertutup! Ini adalah bukan usaha yang sungguh-sungguh! Hal ini jauh dari Tuhan! Itu tidak membuka pintu-pintu! Juga ketika kita berada di jalan ini, memiliki sikap ini, kita tidak berlaku baik kepada umat, umat itu, umat Allah, selain dari Yesus yang telah menetapkan tujuh sakramen [maka] dengan sikap ini kita akan menetapkan sakramen yang ke-delapan: [yaitu] sakramen kebiasaan pastoral !”

“Yesus marah ketika ia melihat hal-hal ini” – kata Paus – karena mereka yang menderita adalah “umat setia-Nya, umat yang Ia sangat kasihi”

“Kita pikirkan saat ini tentang Yesus, yang selalu ingin kita semua menjadi lebih dekat kepadaNya, kita berpikir tentang Umat Kudus Allah, orang-orang sederhana, yang ingin lebih dekat kepada Yesus dan kita berpikir tentang begitu banyaknya kebajikan umat Kristiani yang salah dan yang alih-alih membuka pintu mereka malah menutup pintu kebajikan itu… Jadi kita minta kepada Tuhan agar semua orang yang datang ke Gereja menemukan pintu-pintu yang terbuka, menemukan pintu-pintu yang terbuka itu, terbuka untuk bertemu kasih Yesus ini. Kita mohon rahmat ini.”

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 25 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Lebih penting mana: yang sementara atau yang kekal?

0

[Minggu Biasa XXXII:  2Mak 7:1-2.9-14; Mzm 17:1-15; 2Tes 2:16-3:5; Luk 20:27,34-38]

Di bulan November, yang kita kenal sebagai bulan untuk memperingati arwah orang-orang beriman, Gereja ingin mengarahkan hati seluruh umat Allah pada hal-hal yang di atas, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” (Kol 3:1) Alasannya sangat sederhana: karena memang hal-hal yang di atas, yaitu kebahagiaan sejati karena persatuan dengan Allah di Surga yang tak berakhir sampai selamanya, adalah lebih penting dari semua hal yang sifatnya sementara di dunia ini. Walaupun Gereja  menghendaki agar kita juga tetap bertanggungjawab terhadap apa yang harus kita lakukan di dunia, namun Gereja menekankan supaya kita menempatkan hal-hal yang rohani lebih utama daripada hal-hal yang duniawi. Sama seperti jiwa yang bersifat kekal lebih penting daripada tubuh yang bersifat sementara, demikianlah hati kita perlu diarahkan kepada hal-hal surgawi lebih daripada hal-hal yang duniawi semata.

Namun sayangnya, sering kita tergoda untuk menempatkan hal-hal yang sifatnya sementara dan duniawi, lebih utama daripada hal-hal yang sifatnya kekal dan Surgawi. Seringkali kesibukan sehari-hari dan segala macam benda kesayangan kita, maupun hobby dan kesenangan kita, dapat mengaburkan perhatian utama yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Dapat terjadi bahwa kita merencanakan liburan dengan begitu terperinci: tempat-tempat mana yang akan kita kunjungi, jenis angkutan transportasi yang akan kita gunakan, makan di mana, menginap di mana, bawa pakaian berapa, yang modelnya apa, dll. Namun sayangnya, dapat terjadi kita lupa memberi perhatian kepada hal-hal yang lebih penting, yaitu kapan dan di mana kita harus ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi selama liburan. Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah kita ogah membawa Kitab Suci atau buku renungan selama liburan, dan lebih memilih membawa ekstra pakaian ataupun sepatu. Sekalipun Kitab Suci dibawa, lalu, apakah dibaca? Atau, dalam keseharian, kita disibukkan dengan begitu banyak urusan: mencari nafkah, berolahraga, ngrumpi, main game, keranjingan nonton TV, ataupun segudang kegiatan lainnya. Kita terobsesi untuk memperhatikan penampilan fisik, sibuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya, menekankan pentingnya mengejar karir dan kekuasaan ataupun kedudukan. Ironisnya, kesibukan duniawi yang sifatnya sementara ini, sering membuat kita mengesampingkan hal-hal yang sifatnya sorgawi, seperti: doa, sakramen-sakramen, olah batin, perbuatan kasih, dan hal-hal lain yang mendekatkan kita dengan Tuhan dan sesama. Padahal, justru hal-hal inilah yang dapat mengantar kita kepada kebahagiaan abadi di Surga. Kalau prioritas hidup kita terbalik-balik seperti ini, maka sepertinya, we missed the target! Kita sudah salah sasaran.

Bacaan hari Minggu ini mengingatkan kita umat beriman bahwa setelah kita meninggalkan dunia ini, kita akan memperoleh hidup abadi, seperti kehidupan para malaikat (lih. Luk 20:36).  Maka, seharusnya kehidupan Surgawi yang seperti ini menjadi tujuan utama dan keinginan kita, atau setidaknya, menjadi pemikiran kita. Kalau kita tidak menginginkannya, bagaimana kita dapat masuk ke dalamnya? Adalah tugas kita untuk dapat mempersiapkan diri di dunia ini untuk menyongsong kehidupan kekal di Surga. Mari kita mempersiapkan kehidupan kekal ini mulai dari sekarang, sehingga ketika saatnya tiba kita menghadap Allah, kita dapat menaruh pengharapan yang besar bahwa Allah akan berkata kepada kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat 25:21). Omong-omong, apakah target kita sudah benar?

Berkat Dari Cobaan

3

Teriknya mentari di atas perumahan Citra Raya- Tangerang serasa membakar kulit. Aku mengunjungi sebuah keluarga yang pernah didera kepahitan hidup yang seakan tanpa setitik lentera yang dapat menuntun langkahnya.  Keluarga itu tinggal di sebuah ruko yang berfungsi sekaligus sebagai sebuah bengkel untuk menopang hidupnya. Ruko mereka itu bukan sekedar sebagai tempat tinggal dan usaha, tetapi sarat kenangan bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari  persoalan kehidupan yang hampir melumpuhkan harapan mereka. Ruko itu telah dibasahi dengan air mata bertahun-tahun lamanya sebelum Tuhan memenuhinya dengan canda dan riang. Itulah janji Tuhan yang senantiasa ditepatiNya : “Pada waktu itu anak-anak dara akan akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan  mereka” (Yeremia 31:13). Siapa yang bertahan, dialah yang akan mencapai kemenangan.

Gonjang – ganjing ekonomi merupakan awal jalan Tuhan mengangkat keluarga  itu jauh lebih tinggi dari apa yang diimpikannya. Goncangan ekonomi terjadi ketika bapak kepala keluarga itu menjadi grosir oli. Teman dekatnya tidak mampu membayar oli-oli yang telah diambilnya sampai menunggak lima ratus juta rupiah. Karena kredit macet ini, ia pun tidak bisa membayar barang-barang grosir yang telah diambilnya dengan sistem “ambil barang dulu dan bayar kemudian”. Hatinya sungguh mulia  dalam menghadapi problema berat : “Biarlah orang berbuat jahat terhadapku dan aku tidak akan membalasnya”. Ia menjual rumahnya sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalannya. Uang dari hasil penjualan rumah itu sebagian ia gunakan untuk membayar uang muka sebuah ruko dan sebagian lagi ia gunakan untuk membayar kewajibannya terhadap bos olinya. Tanpa disadari ternyata hasil bengkel di rukonya itu mampu menuntaskan segala kewajibannya setelah enam tahun  berjalan.  Ruko itu kini sudah menjadi miliknya.  Ia mensyukuri apa yang terjadi ketika  merenungkannya  dalam terang iman: “Andaikan tidak terjadi persoalan keuangan itu, ia mungkin tidak akan pernah memiliki ruko yang sekarang ini tak terjangkau oleh orang biasa. Rencana Tuhan memang indah pada waktunya”.

Meskipun Tuhan telah menyelesaikan perkaranya, keping-keping luka itu tetap menganga di dalam dirinya. Virus-virus keraguan dan kegalauan telah menjalar dalam darahnya.  Keluh kesah kadang-kadang terlontar dengan sendirinya : “Tuhan, aku tak sanggup  kalau  persoalan ini terjadi lagi”.  Ternyata memulihkan semangat hidup tidaklah semudah membalik telapak tangan.  Ia sering melamun karena terkenang masa silam yang kelam. Di dalam hatiku, aku berkata : “Teman, aku datang karena ingin berdoa bersamamu. Percayalah bahwa Tuhan akan menyembuhkanmu. Jangan biarkan masa lalumu mengoyakkan jiwamu. Jangan biarkan kekelaman di masa silam menghancurkan harapan di pelataran pikiranmu”. 

Jawaban Tuhan untuk menyembuhkan luka batinnya terjadi melalui perbuatan yang luar biasa dan tak terduga dari anaknya yang berusia enam tahun. Dengan masih memakai  seragam sekolahnya warna biru, ia berlari menyambut kedatanganku dengan memelukku. Ia kemudian membawa bangku kecil kepadaku : “Romo, duduk ya?”. Layaknya orang dewasa,  ia kemudian mengambilkan teh botol bagiku. Ia kemudian lari ke arah papanya yang sedang termangu sambil memberikan uang lima ribu rupiah, uang sakunya hari itu : “Pa, aku tak perlu uang. Papa, pakai saja uang ini untuk dagang?” . Perbuatannya yang lugu dan lucu membuat semua merasa terharu. Aku pun bangga dengan anak perempuan yang masih kecil itu karena aku yang membaptisnya tiga tahun  lalu.  Ia bangkit dan berkata : “Hati anakku yang mulia ini mendorongku untuk bangkit. Tuhan pasti menyertai jalanku”. Ia, istrinya, yang dari Gereja Bethani,  dan anak-anaknya  bersama denganku bergandengan tangan dalam doa untuk mensyukuri anugerah semangat baru. Lagu “Indah BersamaMu” terasa bermakna di kalbu :

 

Hanya dekat Bapaku rasa tenang hatiku
Kau sertai jalanku   s’panjang hidupku
Hanya dekat Bapaku ada kekuatan baru
Kaulah perlindunganku   kes’lamatanku

Ku ingin s’lalu bersekutu denganMu
Menikmati hadirat-Mu
Biarkan Roh-Mu tinggal dalam hidupku
Sungguh indah bersamaMu selamanya


Anugerah terindah dari lembah kelam yang ia telah lewati adalah penyertaan Tuhan  menjadi yang utama dalam keluarganya. Dekat dengan Tuhan merupakan segalanya. Doa Rosario bersama menjadi pembuka dan penutup hari, bahkan diikuti juga oleh istrinya yang bukan Katolik.  Adorasi jam suci, pada Kamis malam menjelang Jumat Pertama, di Gereja Odilia Citra Raya –Tangerang menjadi kerinduan hati karena menjadi sumber kelegaan jiwa.

Kini keluarganya menjadi sangat bahagia. Kepahitan dan keresahan hidup di masa silam bagaikan kerikil dan bebatuan yang terangkai rapi membentuk bait Allah yang kokoh dan kuat. Di sanalah tempat kasih terjalin dan terikrar. Di sanalah jiwa yang gelap diteranginya, luka dibalutnya, dan duka disembuhkannya. Di sanalah tertawa riang dan tangisan haru menjadi alunan musik yang berpadu.

 

Pesan yang indah untuk dihayati : Selalu tersedia senyuman di setiap air mata,  berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa. Karena itu, jangan terlena dalam kesedihan, kekecewaan, dan luka, ketika Tuhan tidak memberi apa yang kita harapkan karena Tuhan sedang merajut yang terbaik bagi kita.

 

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

Paus Fransiskus: Adakah yang menangis hari ini untuk para imigran?

2

Berikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus saat mengunjungi kota Lampedusa untuk menyatakan solidaritasnya bagi para imigran:

Para imigran mati di laut, dalam perahu – perahu  yang merupakan kendaraan-kendaraan harapan dan menjadi kendaraan-kendaraan kematian. Demikian berita utama di surat – surat kabar. Ketika saya pertama kali mendengar tragedi ini beberapa minggu yang lalu, dan menyadari bahwa itu semua terjadi terlalu sering, itu terus datang kembali pada saya seperti duri yang menyakitkan dalam hati saya. Jadi saya merasa bahwa saya harus datang ke sini hari ini, untuk berdoa dan menyatakan tanda kedekatan saya, namun juga untuk menantang hati nurani kita agar tragedi ini jangan sampai terulang. Tolong, jangan biarkan itu terulang! Pertama, bagaimanapun, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan dorongan yang tulus kepada kalian, orang-orang Lampedusa dan Linosa, dan kepada berbagai asosiasi, relawan, dan aparat keamanan yang terus melayani kebutuhan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Kalian hanya sedikit orang, namun kalian menawarkan sebuah contoh solidaritas! Terima kasih! Saya juga berterima kasih kepada Uskup Agung Francesco Montenegro untuk semua bantuannya, upaya-upayanya dan pelayanan pastoralnya yang teliti. Saya menyampaikan salam yang tulus kepada Walikota Giusi Nicolini: terima kasih banyak atas apa yang telah dilakukan dan yang sedang dilakukannya. Saya juga memikirkan dengan penuh kasih para imigran Muslim yang malam ini mulai puasa Ramadhan, yang saya percaya akan menghasilkan buah spiritual berlimpah. Gereja berada di sisi kalian saat kalian mencari kehidupan yang lebih bermartabat untuk diri kalian sendiri dan keluarga-keluarga kalian. Untuk semua dari kalian: O’scia!

Pagi ini, dalam terang sabda Allah yang baru saja diwartakan, saya ingin menawarkan beberapa pemikiran yang dimaksudkan untuk menantang hati nurani orang-orang dan menuntun mereka kepada refleksi dan perubahan hati yang konkret.

“Adam, di manakah kau?” Ini adalah pertanyaan pertama yang Allah tanyakan kepada manusia setelah dosanya. “Adam, di manakah kau?” Adam kehilangan arahnya, tempatnya dalam penciptaan, karena dia berpikir dia bisa menjadi kuat, mampu mengendalikan segala sesuatu, untuk menjadi Allah. Keharmonisan hilang; manusia telah keliru dan kesalahan ini terjadi kembali terulang lagi juga dalam hubungan-hubungan relasi antar sesama yang lain. “Yang lain itu” bukan lagi seorang saudara atau saudari yang patut dicintai, tetapi hanya seseorang yang mengganggu hidup saya dan kenyamanan saya. Allah mengajukan pertanyaan kedua: “Kain, di manakah saudaramu?” Ilusi akan menjadi kuat, akan menjadi hebat seperti Allah, bahkan akan menjadi Allah sendiri, mengarah kepada seluruh rangkaian kesalahan-kesalahan, sebuah rantai kematian, bahkan sampai menumpahkan darah seorang saudara!

Dua pertanyaan Allah ini menggema bahkan hingga hari ini, sedemikian kuat seperti biasanya! Berapa banyak dari kita, termasuk saya sendiri, telah kehilangan arah kita, kita tidak lagi memperhatikan dunia di mana kita hidup, kita tidak peduli, kita tidak melindungi apa yang Allah telah ciptakan untuk semua orang, dan kita akhirnya bahkan tidak mampu mempedulikan satu sama lain! Dan ketika umat manusia secara keseluruhan kehilangan arahnya, yang menghasilkan tragedi seperti halnya yang telah kita saksikan.

“Di manakah saudaramu?” Darahnya menangis kepadaKu, kata Tuhan. Ini bukan pertanyaan yang diarahkan kepada orang lain, itu adalah pertanyaan yang ditujukan kepada saya, kepada kalian, kepada masing-masing dari kita. Saudara-saudari dari kita ini telah sedang mencoba melarikan diri dari situasi-situasi sulit untuk menemukan ketenangan dan kedamaian, mereka sedang mencari sebuah tempat yang lebih baik bagi mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka, tetapi sebaliknya mereka menemukan kematian. Seberapa seringkah orang-orang semacam itu gagal menemukan pengertian, gagal menemukan penerimaan, gagal menemukan solidaritas. Dan tangisan mereka naik sampai kepada Allah! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, orang-orang Lampedusa, atas solidaritas kalian. Saya baru-baru ini mendengarkan salah seorang dari saudara-saudara kita ini. Sebelum tiba di sini, dia dan yang lainnya hidup dari belas kasihan para penyelundup manusia, orang-orang yang mengeksploitasi kemiskinan orang lain, orang-orang yang hidup dari penderitaan orang lain. Berapa banyak orang-orang ini telah menderita! Beberapa dari mereka tidak pernah berhasil di sini.

“Di manakah saudaramu?” Siapa yang bertanggung jawab atas darah ini? Dalam literatur Spanyol kita punya komedi Lope de Vega yang menceritakan bagaimana orang-orang dari kota Fuente Ovejuna membunuh gubernur mereka karena dia adalah seorang tiran. Mereka melakukannya sedemikian rupa sehingga tidak ada yang tahu siapa pembunuh sebenarnya. Jadi, ketika hakim kerajaan bertanya: “Siapa yang membunuh gubernur?”, Mereka semua menjawab: “Fuente Ovejuna, Yang Mulia”. Semua orang dan tak seorang pun! Hari ini juga, pertanyaan itu harus diajukan: Siapa yang bertanggung jawab atas darah saudara dan saudari kita? Tidak seorang pun! Itu adalah jawaban kita: Bukan aku, aku tidak ada hubungannya dengan itu, itu pasti orang lain, tetapi tentu bukan aku. Namun Allah bertanya kepada masing-masing dari kita: “Di mana darah saudaramu yang menangis kepadaKu itu ?” Hari ini tidak seorangpun di dunia kita merasa bertanggungjawab, kita telah kehilangan rasa tanggung-jawab untuk saudara-saudara kita. Kita telah jatuh ke dalam kemunafikan imam dan orang Lewi yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati: kita melihat saudara kita sekarat di pinggir jalan, dan mungkin kita katakan pada diri kita sendiri: “jiwa yang malang …!”, dan kemudian pergi meneruskan perjalanan kita. Ini bukanlah tanggung-jawab kita, dan dengan itu kita merasa diyakinkan, ditenangkan. Budaya kenyamanan, yang membuat kita hanya memikirkan tentang diri kita sendiri, membuat kita tidak peka terhadap tangisan-tangisan orang lain, membuat kita hidup dalam gelembung-gelembung sabun yang, bagaimanapun indahnya, tidak penting; mereka menawarkan ilusi singkat dan kosong yang mengakibatkan ketidakpedulian terhadap orang lain; memang, itu bahkan mengarah pada globalisasi ketidakpedulian. Dalam dunia global ini, kita telah jatuh ke dalam globalisasi ketidakpedulian. Kita telah menjadi terbiasa terhadap penderitaan orang lain: itu tidak mempengaruhiku, itu tidak memprihatinkanku, itu bukanlah urusanku!

Di sini kita bisa memikirkan tentang karakter Manzoni itu – “yang tidak disebutkan namanya”. Globalisasi ketidakpedulian membuat kita semua “tidak disebutkan namanya”, bertanggung jawab, namun tak bernama dan tak berwajah.

“Adam, di manakah kau?” “Di manakah saudaramu?” Ini adalah dua pertanyaan yang Allah tanyakan pada awal sejarah manusia, dan yang Ia juga tanyakan kepada setiap pria dan wanita di zaman kita sendiri, yang juga Ia tanyakan kepada kita. Tapi saya ingin kita mengajukan pertanyaan ketiga: “Apakah salah satu dari kita telah menangis karena situasi ini dan lainnya?” Apakah salah satu dari kita telah berduka atas kematian saudara-saudara dan saudari-saudari ini? Apakah salah satu dari kita telah menangis karena orang-orang yang berada di kapal itu? Karena ibu-ibu muda yang sedang membawa bayi-bayi mereka? Karena orang-orang yang telah sedang mencari sarana penunjang keluarga-keluarga mereka? Kita adalah masyarakat yang telah lupa bagaimana untuk menangisi, bagaimana untuk mengalami rasa iba – “menderita” dengan sesama lainnya: globalisasi ketidakpedulian itu telah mengambil dari kita kemampuan untuk menangis! Dalam Injil itu kita telah dengar tangisan itu, ratapan itu, ratap tangis yang besar itu: “Rahel menangis karena anak-anaknya … karena mereka tidak ada lagi”. Herodes menabur kematian untuk melindungi kenyamanannya sendiri, gelembung sabunnya sendiri. Dan begitu seterusnya … Mari kita mohon Tuhan untuk menghapus sifat Herodes yang bersembunyi di hati kita, marilah kita mohon kepada Tuhan akan rahmat untuk menangis atas ketidakpedulian kita, untuk menangis atas kekejaman dari dunia kita, dari hati kita sendiri, dan dari semua orang itu yang dalam anonimitas membuat keputusan-keputusan sosial dan ekonomi yang membuka pintu itu kepada situasi-situasi tragis seperti ini. “Telah adakah seorang menangis?” Hari ini telah adakah seorang menangis di dalam dunia kita ?

Tuhan, dalam liturgi ini, sebuah liturgi tobat, kita mohon pengampunan atas ketidakpedulian kita kepada begitu banyak saudara dan saudari kita. Bapa, kita mohon pengampunan-Mu bagi mereka yang terlena dan tertutup di tengah kenyamanan-kenyamanan yang telah mematikan hati mereka, kita mohon pengampunan-Mu bagi mereka yang oleh keputusan-keputusan mereka pada tingkat global itu telah menciptakan situasi-situasi yang mengarah pada tragedi-tragedi ini. Ampunilah kami, Tuhan!

Hari ini juga, Tuhan, kita mendengar Engkau bertanya: “Adam, di manakah kau?” “Di manakah darah saudaramu itu ?”

(AR)

Paus Fransiskus,

Lampedusa, 8 Juli 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab