Home Blog Page 97

Bejana Baru Nan Indah

0

(Pengalaman  rohani dalam retret penyembuhan luka batin)

“Jangan cepat menyerah supaya tidak kalah”. Itu bukan slogan, tetapi aku alami menjelang retret penyembuhan luka batin. Retret penyembuhan luka batin ini aku berikan bersama Tim PDKK Santo Lukas (PDKK Para Medis  Keuskupan Agung Jakarta), pada tanggal 15 – 17 November 2013 di Sukabumi. Dalam perjalanan menuju tempat retret, kopling mobil tuaku tiba-tiba tidak berfungsi pada saat melaju di jalan tol dalam kecepatan tinggi. Kurasakan kepanikan di dalam hati. Hujan deras membuatku basah kuyup dalam usaha memperbaiki. Mobil tuaku ini akhirnya terpaksa diderek karena belum ada  spare  part untuk memfungsikannya lagi. Untunglah sang montir berbaik hati sehingga meminjamkan mobilnya. Pesan Tuhan dalam nurani  dengan kejadian ini : “Peristiwa-peristiwa  yang menyakitkan harus dialami agar dapat merasakan pertolongan Tuhan atas apa yang terjadi”.

Ketika aku sampai di rumah retret, keresahan dan kelelahan sirna seketika dengan sambutan peserta yang penuh pengertian : “Puji Tuhan, Romo bisa sampai  dengan selamat”. Tanpa  mengganti pakaian yang telah kering dengan sendirinya, aku memulai merayakan Ekaristi untuk membawa peserta  masuk dalam tahap awal menikmati dan merasakan penyembuhan Tuhan.

Dalam retret ini, pujian  dan arahan menjadi suatu kesatuan yang membawa hati gembira sehingga pada acara operasi rohani, yaitu mengobati luka batin tidak menakutkan, tetapi justru dinantikan. Sabda Tuhan ini yang mendasarinya : “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah  mengeringkan tulang” (Amzal 17:22).

Proses penyembuhan luka batin dimulai dengan pemeriksaan kehidupan rohani. Pemeriksaaan rohani dijalani dengan merenungkan : a.  Bagaimana Tuhan membentuk hidupku dari masa laluku menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan-Nya. b. Melihat berkat Tuhan yang melimpah sampai sekarang ini. c. Mensyukurinya. d. Operasi rohani dilakukan dengan melihat kembali peristiwa-peristiwa dan orang-orang yang menyebabkan luka batin. Dengan memutar kembali peristiwa dan orang-orang tersebut, kami bisa meminum obat penyembuh luka batin, yaitu melihat penyertaan Tuhan dalam peristiwa pahit yang menerpa dan mengampuni orang-orang yang menyebabkannya. e. Rekonsiliasi dengan melihat film betapa dashyatnya pengorbanan Tuhan Yesus di salib demi cinta kasih-Nya kepada kami. Kemudian kami, para peserta retret ini, mencium salib Tuhan. Banyak di antara kami menangis karena mengalami  bahwa Tuhan sangat mengasihi kami. Ia mengampuni kami berapa besar pun dosa kami. Tetesan air mata ini bukan sembarangan air mata, tetapi air mata rohani yang telah mampu memaafkan dan mengampuni. Akhirnya,  kami melompat kegirangan karena memperoleh kemenangan. Kami pun bersyukur karena Tuhan telah membentuk kami kembali dari puing-puing luka menjadi pribadi  baru  yang sesuai dengan kehendak-Nya. Bejana yang hancur telah dibentuk kembali oleh Tuhan menjadi bejana yang indah.

Bejana baru nan indah ini disharingkan oleh seorang ibu, peserta retret ini. Ibu ini berusia enam puluh  tahun. Ia tinggal sendirian sejak suaminya meninggal dunia lima belas tahun silam. Ia tidak dikaruniai anak dalam pernikahannya.  Pada waktu makan siang, pada hari Sabtu 16 November 2013, menjelang acara puncak retret, tetangganya menelponnya untuk menginformasikan bahwa pintu pagar rumahnya terbuka. Setelah saudaranya mengeceknya, ternyata ada pencuri yang masuk ke dalam rumahnya. Pencuri itu telah mengambil uang belanjanya untuk tiga bulan mendatang dan barang-barang berharga yang disimpannya untuk berjaga-jaga kalau dibutuhkan mendadak. Rahmat Allah yang memungkinnya berdoa agar dapat mengampuni pencuri itu :

 “Tuhan ajar aku mengampuni orang yang mengambil uang dan perhiasan-perhiasanku. Ia mungkin  lebih memerlukan daripadaku. Biarlah kiranya apa yang diambilnya bisa dipakai untuk hal-hal yang berguna. Aku telah merelakannya karena semuanya adalah titipan dariMu. Kini masa depanku benar-benar berada di dalam tangan-Mu. Amin”.

Ia mensyukuri telah dibentuk Tuhan menjadi pribadi yang bisa mengampuni. Mengampuni menjadikan hidupnya ringan dan indah.

Syair di bawah ini  bisa menjadi pesan rohani  bagaimana Tuhan membentuk umat-Nya menjadi bejana baru yang indah:

Hidup adalah sebuah misteri.

Jangan terlalu engkau sesali apa yang terjadi.

Rahmat Allah senantiasa mendampingi

setiap luka yang engkau alami.

Tataplah ke depan karena di sanalah terdapat kebahagiaan.

Tangan Tuhan menanti untuk mengumpulkan puing-puing hidupmu

dan membentukmu menjadi bejana baru yang mengagumkan asal engkau mau mengampuni.

Dalam bejana baru ini terpantullah kasih Ilahi.      

 

Acara retret ini dilengkapi dengan bersyukur atas ulang tahun PDKK Santo Lukas  yang keduapuluh delapan. Semoga Komunitas PDKK Santo Lukas semakin menjadi saluran rahmat penyembuhan dari Tuhan, baik penyembuhan jasmani maupun rohani.  PDKK Santo Lukas mengharapkan supaya semakin banyak kaum medis berpartisipasi dalam klinik  di Gunung Sahari – Jakarta Pusat, yang mereka tangani.  Berobat di klinik ini gratis karena diperuntukkan bagi saudara-saudari yang kurang beruntung. Klinik ini merupakan salah satu pelayanan PDKK Santo Lukas  untuk memberikan berkat secara cuma-cuma dari Tuhan karena Tuhan telah memberikannya secara gratis pula.

Tuhan Memberkati

 

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

 

 

 

Paus : Semoga kita tidak lari dari Salib

1

Mintalah rahmat yang kalian butuhkan dalam upaya untuk tidak melarikan diri dari Salib: ini adalah pesan Paus Fransiskus kepada umat beriman dalam Misa pada hari Sabtu pagi [28/09/2013] di kapel Domus Sanctae Marthae di Vatikan. Poin – poin pesannya mengikuti bacaan-bacaan harian yang difokuskan pada bagian Injil hari itu, di mana Yesus mengumumkan Sengsara-Nya kepada murid-murid-Nya.

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Paus Fransiskus berkata bahwa kata-kata Yesus ini menawarkan hati para murid-Nya, yang menantikan sebuah perjalanan kemenangan. Kata-kata itu adalah kata-kata yang, “dicamkan oleh [para murid-Nya] sedemikian misteriusnya sehingga mereka tidak memahami maknanya.” Paus mengatakan, “[Para murid] takut untuk menanyakan tentang hal [arti perkataan] itu kepadaNya.” Bagi mereka, “lebih baik tidak membicarakan tentang hal itu,” yang, “lebih baik tidak paham, daripada memahami kebenarannya,” yang Yesus telah nyatakan:

Mereka takut akan Salib – mereka takut akan Salib. Petrus sendiri, setelah pengakuan yang sungguh-sungguh di daerah Kaisarea Filipi itu, ketika Yesus kembali mengatakan hal yang sama, mencela Tuhan: “Tidak, Tuhan! Tidak pernah! Bukan ini! “[kata Petrus]. Dia takut akan Salib. Tidak hanya para murid-Nya, namun, tidak hanya Petrus: Yesus sendiri takut akan Salib! Dia tidak dapat menipu diri-Nya sendiri, Dia tahu. Begitu besar rasa takut Yesus sendiri yang, pada Kamis malam itu Dia sungguh berkeringat darah. Sedemikian besarnya rasa takut Yesus hingga Dia hampir-hampir mengatakan hal yang sama seperti Petrus – hampir:’Bapa, ambillah cawan ini daripadaKu. Jadilah kehendak-Mu! “Inilah perbedaannya.”

Salib itu menyebabkan rasa takut bahkan dalam karya evangelisasi, meski, Paus Fransiskus amati, terdapat “aturan” di mana, “murid tidak lebih besar dari Guru. Ada aturan menurut yang mana tidak ada penebusan tanpa penumpahan darah,” tidak ada karya kerasulan yang berbuah banyak tanpa Salib:

Mungkin kita berpikir – masing-masing orang dari kita dapat bertanya-tanya: ‘Dan kepadaku, apa yang akan terjadi? Bagaimana akan jadinya Salibku? “Kita tidak tahu. Kita tidak tahu, tapi akan ada satu. Kita harus berdoa akan rahmat untuk tidak kabur lari dari Salib ketika ia datang: dengan rasa takut, eh! Itu benar. Itu menakutkan kita. Namun demikian, itulah jalan yang harus ditempuh dalam mengikuti Yesus. Kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus kepada Petrus datang ke pikiran – dalam pemahkotaan Kepausan di Tiberias itu: ‘Apakah engkau mengasihiKu? Damai ! Apakah engkau mencintaiKu? Damai !… tapi kata-kata terakhirNya adalah ini: ‘Mereka akan membawa kamu ke mana kamu tidak ingin pergi !‘ Janji dari Salib.

Paus Fransiskus mengakhiri dengan sebuah doa kepada Perawan Maria:

“Yang paling dekat kepada Yesus, di kayu Salib, adalah ibu-Nya – ibu-Nya yang terkasih. Mungkin hari ini, saat ini di mana kita berdoa kepadanya, baik adanya untuk meminta darinya bukan rahmat untuk menghapus rasa takut kita – yang harus datang, rasa takut akan Salib… melainkan rahmat yang kita butuhkan untuk tidak kabur lari dari Salib dalam rasa takut. Dia ada di sana dan dia tahu bagaimana untuk berada di dekat Salib.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 28 September 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Paus : Bahasa-bahasa untuk mengenal Yesus

0

Untuk mengenal Yesus, kalian harus melibatkan diri denganNya, seperti yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus pada Misa pagi ini [26/09/2013] di Casa Santa Marta. Paus mengatakan bahwa Yesus akan dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dia mengindikasikan tiga bahasa yang diperlukan untuk mengenal Yesus: bahasa pikiran, bahasa hati, dan bahasa tindakan.

Siapakah Dia? Dari mana Dia berasal? Dalam pernyataan berdasarkan bacaan-bacaan pada Misa Kamis pagi di kapel residensi Domus Sanctae Marthae di Vatikan, Paus Fransiskus telah berfokus pada pertanyaan yang diajukan Herodes tentang Yesus – sebuah pertanyaan yang semua orang yang menjumpai Yesus akhirnya tanyakan. Paus katakan bahwa pertanyaannya adalah sesuatu, yang, “seseorang tanyakan karena rasa ingin tahu,” atau “seseorang yang mungkin meminta keselamatan.” Dia mencatat bahwa, [dalam] bacaan Injil, kita lihat bahwa “beberapa orang mulai merasa takut dengan Orang ini, karena Dia bisa menghantar mereka kepada sebuah konflik politik dengan orang-orang Romawi.” Seorang bertanya-tanya, “Siapakah Orang ini, yang membuat begitu banyak masalah?” Karena, Paus katakan,”Yesus [benar-benar membuat banyak masalah]”:

Kalian tidak dapat mengenal Yesus tanpa mengalami masalah-masalah. Dan saya berani katakan, “Jika kalian ingin punya masalah, pergi ke jalan untuk mengenal Yesus – kalian akan berakhir dengan memiliki tidak [cuma] satu [masalah], tapi banyak’ Tapi itulah cara untuk mengenal Yesus! Kalian tidak dapat mengenal Yesus di kelas satu (baca: secara ekslusif)! Seseorang dapat mengenal Yesus dengan pergi keluar [ke dalam kehidupan] sehari-hari. Kalian tidak dapat mengenal Yesus dalam damai dan tenang, atau bahkan di perpustakaan: Kenali Yesus “.

Tentu saja, ia menambahkan, “kita bisa mengenal Yesus dari Katekismus,” karena, “Katekismus mengajarkan kita banyak hal tentang Yesus.” Dia berkata, “kita harus mempelajarinya, kita harus belajar itu.” Jadi, “kita mengenal Putera Allah, yang datang untuk menyelamatkan kita, kita memahami keindahan sejarah keselamatan, tentang kasih Bapa, dengan mempelajari Katekismus itu. “Namun demikian, dia bertanya, berapa banyak orang yang telah membaca Katekismus sejak ia diterbitkan lebih dari 20 tahun yang lalu?

Ya, kalian harus datang untuk mengenal Yesus dari Katekismus – tetapi tidak cukup untuk mengenalNya dengan pikiran: itu adalah sebuah langkah. Namun, [kita] perlu untuk mengenal Yesus dalam dialog denganNya, dengan berbicara denganNya dalam doa, dengan berlutut. Jika kalian tidak berdoa, jika kalian tidak berbicara dengan Yesus, kalian tidak mengenal Dia. Kalian tahu hal-hal tentang Yesus, tapi kalian tidak pergi dengan pengetahuan, yang mana Dia berikan dalam hati kalian melalui doa. Mengenal Yesus dengan pikiran – pelajari Katekismus: mengenal Yesus dengan hati – dalam doa, dalam dialog denganNya. Hal ini membantu kita sedikit, tapi itu tidak cukup. Ada cara ke-tiga untuk mengenal Yesus: yaitu dengan mengikutiNya. Pergi dengan Dia, berjalan bersamaNya.”

Hal ini perlu, “pergi, berjalan di sepanjang jalan-jalan, melakukan perjalanan.” Hal ini perlu, kata Paus Fransiskus, “mengenal Yesus dalam bahasa tindakan.” Di sini, kemudian, adalah bagaimana kalian benar-benar dapat mengenal Yesus: dengan “tiga bahasa – dari pikiran, hati dan tindakan” ini. Jika, kemudian, “aku mengenal Yesus dengan cara-cara ini,” katanya sebagai kesimpulan, “aku melibatkan diri denganNya”:

Seseorang tidak dapat mengenal Yesus tanpa ikut melibatkan dirinya sendiri denganNya, tanpa mempertaruhkan hidup kalian [pada] Nya. Ketika begitu banyak orang – termasuk kita – mengajukan pertanyaan ini: Tapi, siapa Dia?’, Firman Allah menanggapi,” Kalian ingin tahu siapa Dia? Baca apa yang Gereja beritahu kalian tentang Dia, berbicara kepadaNya dalam doa dan berjalan di jalan bersamaNya. Dengan demikian, kalian akan tahu siapa Orang ini. “Ini adalah Jalan-Nya! Setiap orang harus membuat pilihannya.”

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 26 September 2013
Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Paus : Hampiri misteri Salib [Kristus] dengan doa dan air mata

0

Pada Misa Pesta Pemuliaan Salib Suci, Paus Fransiskus mengatakan [bahwa] misteri Salib adalah misteri besar bagi umat manusia, sebuah misteri yang hanya dapat dihampiri dengan doa dan air mata.

Dalam homilinya, Paus berkata bahwa dalam misteri Salib itulah kita temukan kisah manusia dan kisah Allah, yang diceritakan oleh para Bapa Gereja dalam perbandingan antara pohon pengetahuan baik dan jahat, di Firdaus, dan pohon Salib:

“Pohon yang satu telah mengusahakan begitu banyak kejahatan, [sedangkan] pohon lainnya telah membawa kita kepada keselamatan, kepada kepulihan. Ini adalah serangkaian dari kisah manusia: sebuah perjalanan untuk menemukan Yesus Kristus Sang Penebus, yang memberikan hidup-Nya bagi kasih. Allah, pada kenyataannya, telah mengutus Putera-Nya ke dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan agar dunia bisa diselamatkan melalui Dia. Pohon Salib itu menyelamatkan kita, semua dari kita, dari konsekuensi-konsekuensi pohon lainnya itu, di mana rasa terlalu percaya diri sendiri, kesombongan, kebanggaan dari kita yang ingin mengetahui segala sesuatu menurut mentalitas kita sendiri, sesuai dengan kriteria kita sendiri, dan juga seturut asumsi kitalah satu-satunya yang ada dan menjadi hakim dunia ini. Ini adalah kisah tentang manusia: dari satu pohon ke [pohon] yang lain”.

Di Salib ada “kisah Allah,” lanjut Paus, karena kita dapat katakan bahwa Allah memiliki sebuah kisah. Dalam kenyataannya,” Dia telah memilih untuk mengambil kisah kita dan untuk melakukan perjalanan dengan kita, yang menjadi manusia, yang menerima kondisi dari seorang hamba dan yang membuat diri-Nya taat bahkan sampai mati di kayu salib”:

Allah mengambil arah jalan ini untuk kasih! Tidak ada penjelasan lain: kasih sendiri yang melakukan hal ini. Hari ini kita melihat pada Salib, kisah manusia dan kisah Allah. Kita pandang Salib ini, di mana kalian dapat mencoba madu dari getah itu, madu pahit itu, rasa pahit dari manisnya pengorbanan Yesus itu. Tapi misteri ini begitu besar, dan kita tidak bisa oleh diri kita sendiri melihat dengan baik pada misteri ini, tidak untuk memahami – ya, untuk memahami – tapi untuk merasakan dengan mendalam keselamatan dari misteri ini. Pertama-tama misteri Salib. Ini hanya dapat dimengerti, sedikit, dengan berlutut, dalam doa, tetapi juga melalui air mata: air matalah yang mendekatkan kita dengan misteri ini.

“Tanpa meneteskan air mata, meneteskan air mata yang tulus,” Paus Fransiskus tekankan, kita tidak pernah dapat memahami misteri ini. Ini adalah “seruan peniten, teriakan saudara dan saudari yang menatap pada begitu banyak kesengsaraan manusia” dan memandang kepada Yesus, namun dengan “berlutut dan meneteskan air mata” dan “tidak pernah sendirian, tidak pernah sendirian!”

“Dalam upaya untuk masuk ke dalam misteri ini, yang bukanlah sebuah labirin namun sedikit menyerupainya, kita butuh Ibu-Nya, tangan ibu-Nya. Bahwasanya ia, Maria, akan membuat kita mengerti betapa besar dan rendah hatinya misteri ini; bagaimana manisnya seperti madu dan bagaimana pahitnya seperti getah. Bahwasanya ia akan menjadi seorang yang menemani kita pada perjalanan ini, yang tak seorang pun dapat mengambilnya [bagi kita] jika bukan diri kita sendiri. Masing-masing dari kita harus mengambilnya! Dengan ibu-Nya, [dengan] meneteskan air mata dan [dengan] lutut-lutut kita.”

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 14 September 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

 

Salib adalah tahta-Nya

1

[Minggu Biasa XXXIV: Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam: 2Sam  5:1-3; Mzm 122:1-5; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43]

Istilah ‘raja’ umumnya menggiring pikiran kita kepada gambaran seseorang yang berkuasa dan dilayani banyak orang. Banyak raja di sepanjang sejarah dunia bahkan naik tahtanya dengan kekerasan dan perang. Namun Kristus, Raja kita, tidaklah dapat disamakan dengan raja menurut ukuran dunia. Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (lih. Mat 20:28). Ia yang adalah Allah, rela merendahkan diri dengan mengambil rupa manusia, agar dapat menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib. Dengan pengorbanan-Nya, Kristus menebus dosa-dosa kita manusia yang dikasihi-Nya, dan dengan wafat-Nya Ia mengalahkan dosa dan maut. Dengan demikian Kristus, yang sulung dari segala ciptaan, juga menjadi yang sulung, yang pertama bangkit dari alam maut (Kol 1:18) untuk membawa semua orang percaya ke dalam kemuliaan Surgawi. Betapa dalamnya misteri iman ini, yaitu bahwa kemuliaan Kristus Sang Raja tak terpisahkan dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Demikianlah Kristus menunjukkan jalan bagi kita agar kelak mencapai kemuliaan bersama-Nya, yaitu jika kita memikul salib kita dengan setia, terus berjuang menghindari dosa, dan mau mengasihi dan mengampuni sampai akhir hayat. Jika kita mengikut teladan Kristus, kita dapat berpengharapan bahwa Ia akan melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam kerajaan terang (Kol 1:12). Dengan pengharapan ini, kita dapat berkata dengan iman, seperti penjahat yang bertobat itu, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42)

Sabda Allah mengajarkan kepada kita, bahwa kepenuhan Kerajaan Allah mencapai puncaknya di akhir zaman kelak, di saat terciptanya langit dan bumi yang baru, dengan Kristus sebagai Sang Raja yang mendamaikan dan mempersatukan segala sesuatu (Kol 1:20), sehingga Allah ada di dalam semua (1Kor 15:28). Namun demikian, menyongsong saat yang indah itu, kita tidak dapat hanya menunggu saja, tanpa berbuat apa-apa. Sebab jika demikian, itu namanya kita tidak berjaga-jaga dan mempersiapkan diri menjelang kedatangan Tuhan kembali. Padahal jika kita berharap akan mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus sebagai Raja dalam kerajaan Surga, bukankah sejak sekarang kitapun sudah sepantasnya menempatkan Kristus sebagai Raja dalam kehidupan di dunia ini? Merajanya Kristus dalam hidup kita maksudnya adalah kita mengutamakan Kristus dalam pikiran, kehendak dan perbuatan kita. Paus Pius XI, mengajarkan dalam surat ensikliknya, Quas primas, “Ia [Kristus] harus meraja dalam pikiran kita, yang harus tunduk dengan ketaatan yang sempurna dan iman yang teguh kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dan kepada ajaran-ajaran Kristus. Ia [Kristus] harus meraja dalam kehendak kita, yang harus menaati hukum-hukum Tuhan. Ia harus meraja dalam hati kita, yang harus menyingkirkan kecondongan terhadap keinginan daging  dan menempatkan kasih kepada Tuhan di atas segala sesuatu… Ia harus meraja dalam anggota-anggota tubuh kita … yang harus melayani sebagai alat-alat bagi pengudusan jiwa kita….

Hari ini kita menutup tahun liturgi dengan merayakan Tuhan Yesus sebagai Raja Semesta Alam, suatu perayaan yang menjadi puncak keseluruhan rencana keselamatan Allah. Kristus telah memilih salib sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan kemuliaan-Nya sebagai Raja. Maka, biarlah pertanyaan ini bergema di dalam hati kita masing-masing: “Sejauh mana aku telah menjadikan Kristus sebagai Raja, di dalam pikiran, kehendak, hati dan tubuhku? Sejauh mana aku melihat salib sebagai jalan yang harus juga kutempuh untuk mencapai kemuliaan bersama Kristus?”

Tentang Sakramentali

5

Umat Katolik sering memintakan berkat imam atas benda-benda religius, seperti rosario, salib/ crucifix, Kitab Suci, ataupun benda-benda lainnya, bahkan rumah dan tempat usaha. Ini termasuk golongan sakramentali, yang merupakan tanda suci yang diberikan untuk memohonkan hasil/ akibat yang baik terutama secara rohani, yang diperoleh berkat permohonan Gereja.

Berikut ini adalah ketentuan dari Kitab Hukum Kanonik dan Katekismus Gereja Katolik tentang sakramentali:

KHK 1166    Sakramentali ialah tanda suci yang dengan cara yang mirip sakramen menandakan hasil-hasil, terlebih yang rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja.

KHK 1168    Pelayan sakramentali ialah klerikus yang dibekali dengan kuasa yang perlu untuk itu; beberapa sakramentali sesuai norma buku-buku liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki kualitas yang sesuai.

KGK 1667    “Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan pelbagai situasi hidup disucikan” (SC 60, Bdk. KHK, can. 1166; CCEO, can. 867.)

KGK 1668    Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia. Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman. Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan.

KGK 1669    Sakramentali termasuk wewenang imamat semua orang yang dibaptis: setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi “berkat” (Bdk. Kej 12:2) dan untuk memberkati (Bdk. Luk 6:28; Rm 12:14; 1Ptr 3:9). Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu (Bdk. SC 79; KHK, can. 1168). Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sakramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, imam, dan diaken) (Bdk. Ben 16; 18).

KHK 1670    Sakramentali tidak memberi rahmat Roh Kudus seperti dibuat Sakramen, tetapi hanya mempersiapkan oleh doa Gereja, supaya menerima rahmat dan bekerja sama dengannya. “Dengan demikian berkat liturgi Sakramen-sakramen dan sakramentali bagi kaum beriman yang hatinya sungguh siap hampir setiap peristiwa hidup dikuduskan dengan rahmat ilahi yang mengalir dari Misteri Paska sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dari misteri itulah semua Sakramen dan sakramentali menerima daya kekuatannya. Dan bila manusia menggunakan benda-benda dengan pantas, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang tak dapat dimanfaatkan untuk menguduskan manusia dan memuliakan Allah” (SC 61).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab