Home Blog Page 95

Tanggapan terhadap Maria Divine Mercy

15

Belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang situs Maria Divine Mercy (MDM), yang memuat berbagai nubuatan tentang akhir zaman. Banyak orang Katolik yang mempertanyakannya, benarkah yang ditulis dalam situs itu? Banyak dari mereka yang ‘percaya’ kepada klaim MDM ini, menjadi bingung, karena sepertinya sekilas pesan umum yang disampaikan cukup baik karena mengajarkan orang untuk bertobat dan berdoa. Namun demikian, ada banyak hal lain yang jelas tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, termasuk klaim bahwa Paus Benediktus adalah Paus yang terakhir (mengacu kepada nubuatan St. Malachy, yang tidak dapat dibuktikan keotentikannya), dan ajaran tentang Millenarianism, dan tanda akhir zaman, yang menyerupai paham sejumlah aliran gereja Protestan.

Kami mengambil sumber utama dari apa yang ditulis oleh Jimmy Akin di situs ini, silakan klik, karena apa yang ditulisnya mempunyai dasar yang kuat sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh ajaran iman Katolik.

1. Siapakah “Maria Divine Mercy”?

Kita tidak dapat mengetahuinya, sebab di situsnya (klik di sini), tidak disebutkan identitasnya yang jelas. Ia hanya menyatakan diri sebagai wanita Katolik, ibu dari keluarga muda di Eropa, yang menerima pesan dari Allah Trinitas dan Bunda Maria. Dari interview di U-Tube, wanita ini mengklaim sebagai seorang business woman, dengan aksen seorang Irlandia. Ia mengklaim telah menerima pesan sejak tahun 2010 sampai sekarang.

2. Apa yang dikatakan “Maria” tentang perannya ?

Maria mengatakan bahwa ia adalah seorang nabi yang mempersiapkan dunia terhadap kedatangan Kristus yang kedua. Ia juga mengklaim sebagai pembawa pesan ke-7, malaikat ke-7 yang dikirim untuk menyatakan kepada dunia isi dari meterai kitab Wahyu yang hanya dapat dibuka oleh Kristus.

3. Seberapa populerkah Maria Divine Mercy (MDM)?

Facebooknya cukup populer, sekitar 40.000 “likes”. Situsnya diberi judul TheWarningSecondComing.com, dan ia menjual buku yang berjudul The Book of Truth (vol.s I & II)

Ada banyak situs lain yang mengkopi/ mengulangi pesan-pesannya, dan situsnya sendiri mengeluarkan peringatan/ warning terhadap situs-situs tersebut.

4. Apa kata MDM tentang Paus Benediktus XVI?

MDM mengatakan bahwa Paus Benediktus adalah Paus yang terakhir (klik di sini), dan ia akan dipecat dari Tahta Suci, sebagai hasil dari suatu rencana ‘di belakang layar’ Vatikan (klik di sini). Dan bahwa sekarang Paus Benediktus XVI telah mengundurkan diri, dikatakan bahwa mereka yang menurunkan Paus, akan membunuhnya. Paus akan dipersalahkan tentang suatu perkara padahal ia tidak bersalah (klik di sini).

5. Apa yang dikatakan MDM tentang Paus mendatang?

Mengacu kepada nubuat St. Malachy, MDM mengatakan bahwa Paus ‘asli’ yang akan datang adalah “Peter the Roman” yaitu Rasul Petrus yang akan memimpin dari Surga, setidaknya sampai Kedatangan Yesus yang kedua, saat Yesus akan memimpin seluruh umat manusia di dunia. Namun kemungkinan besar, nubuat St. Malachy merupakan hasil pemalsuan di abad ke 16, silakan membaca di sini, silakan klik).

Sebelum Kedatangan Yesus, MDM mengatakan bahwa Gereja Katolik akan dipimpin oleh Paus yang palsu. Dengan demikian secara tidak langsung MDM mengatakan bahwa Paus Fransiskus yang sekarang ini adalah Paus yang palsu tersebut; dan mengatakan bahwa Paus ini adalah ‘tanduk kecil’ yang akan duduk di kursi Petrus (klik di sini). Di sana MDM juga mengatakan bahwa perintah Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya akan ditulis kembali dan ajaran tentang sakramen akan diubah (hal ini nampaknya juga masih perlu dibuktikan, sebab sejauh pengetahuan saya, Paus Fransiskus tidak mengubah ajaran apapun yang dikhawatirkan oleh MDM akan diubah, yaitu seperti aborsi dan perkawinan sesama jenis Sejauh ini Paus Fransiskus tidak mengubah apapun tentang ajaran ini). MDM mengklaim bahwa Paus palsu ini akan mencanangkan rencana untuk lebur semua agama. Ia akan membuat hukum-hukum baru yang tidak hanya bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik, tapi juga bertentangan dengan semua hukum Kristen (klik di sini).

6. Apa yang diklaim MDM tentang masa depan dan bagaimana hal ini bertentangan dengan ajaran iman Katolik

Berikut ini kami sampaikan klaim Maria Divine Mercy (MDM) (yang kami cetak warna biru), dan tanggapan kami yang mengambil dasar dari Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik (yang kami cetak warna hitam):

1. MDM: Kita berada di masa tiga setengah tahun Kesusahan besar (Great Tribulation) yang dimulai sejak Desember 2012 (klik di sini). Asumsi ini menempatkan akhir Kesusahan Besar di bulan Mei 2016.

Padahal Kristus sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya akhir zaman (Mrk 13:32).

2. MDM: Antikristus akan muncul: MDM menyebutkan bahwa sang Antikristus ini adalah seorang negosiator perdamaian ulung. Ia akan menjadi sekutu dari nabi palsu (yaitu Paus), -anak setan (klik di sini).

Padahal Kristus sendiri menjanjikan bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20) dan bahwa Ia memberi kuasa mengajar yang tidak mungkin sesat kepada Rasul Petrus (Mat 16:18-19), dan juga para penerusnya, sebab Kristus berjanji akan selalu menyertai Gereja-Nya yang dipimpin oleh Rasul Petrus itu dan para penerusnya.

3. MDM: Terjadi kejadian kejadian supernatural sebagaimana disebut dalam “The Warning“, (klik di sini) yang mengacu kepada apa yang disampaikan dalam fenomena Garabandal (1961)

Namun otoritas Gereja Katolik melalui Uskup Santander di Garabandal, Jose Vilaplana, telah menyatakan -atas dasar penyelidikan para uskup setempat- bahwa tidak ada sesuatupun yang adikodrati yang terjadi di Garabandal. Dengan kata lain, menurut otoritas Gereja setempat, fenomena Garabandal tidak otentik. Tentang hal ini sudah pernah kami ulas di artikel ini, silakan klik.

4. MDM: Kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi dan lalu akan ada 1000 tahun keadaan damai sesudahnya, silakan klik. Kedatangan Kristus yang kedua dan 1000 tahun sesudahnya berbeda dengan akhir dunia. Kedatangan Kristus yang kedua adalah akhir zaman ketika setan dan para pengikutnya akan diusir dari dunia selama 1000 tahun (silakan klik).

Padahal Katekismus Gereja Katolik tidak mengajarkan adanya milenarisme secara literal di dunia.

KGK 676    Kebohongan yang ditujukan kepada Kristus [kebohongan Antikristus] ini selalu muncul di dunia, apabila orang mengkhayalkan bahwa dalam sejarahnya mereka sudah memenuhi harapan mesianis, yang hanya dapat mencapai tujuannya sesudah sejarah melalui pengadilan eskatologis. Gereja telah menolak pemalsuan Kerajaan yang akan datang (Bdk. DS 3839), juga dalam bentuknya yang halus, yang dinamakan “milenarisme”, tetapi terutama bentuk politis dari mesianisme sekular yang secara mendalam bersifat salah (Bdk. GS 20-21).

Selanjutnya, mengapa Gereja Katolik tidak mengajarkan Milenarisme sudah pernah diulas di sini, silakan klik di sini.

Sedangkan kebangkitan badan yang terjadi di akhir zaman/ kiamat, yang bertepatan dengan Kedatangan Yesus yang kedua (Parousia) jelas disebutkan dalam Katekismus, atas dasar Kitab Suci:

KGK 1001    Bilamana? Secara definitif “pada hari kiamat” (Yoh 6:39-40.44.54; 11:24). “Pada akhir zaman” (LG 48). Kebangkitan orang-orang yang telah meninggal berkaitan dengan kedatangan Kristus kembali:
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:16).

Selanjutnya tentang ajaran Gereja Katolik tentang tanda-tanda akhir zaman, klik di sini.

Yang ada sesudah akhir dunia adalah Langit dan Bumi yang baru (bukan kerajaan literal 1000 tahun), dan tentang hal ini, sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

7. Apakah seharusnya reaksi kita terhadap klaim ini?

Ada banyak alasan mengapa kita tidak usah percaya kepada klaim MDM. Sebagaimana telah disebut di atas, pesan-pesannya banyak yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik.

Namun terutama, bahwa klaim ini dibuat oleh seorang yang anonim. Ini tidak sesuai dengan klaim-klaim wahyu pribadi yang otentik, di mana para pelihat/ visionernya memiliki kerendahan hati untuk diperiksa, mengalami kritik atau bahkan penganiayaan demi penglihatan/ visi yang mereka terima. Sebaliknya, MDM menjalani kehidupan normal, dengan merahasiakan identitasnya untuk menyampaikan pesan-pesannya, padahal konon dia adalah seorang nabi terakhir untuk mempersiapkan umat manusia menjelang akhir zaman.

Benarkah demikian?

Setelah Tuhan mengutus banyak nabi sepanjang sejarah manusia yang selalu melakukan tugas mereka dengan diketahui identitasnya oleh orang-orang sekitarnya, dan mereka sendiri dan kaum keluarganya menerima konsekuensi/ resiko [umumnya dikucilkan/ menerima aniaya] karena menyebarkan pesan Tuhan, kini Tuhan menghendaki ‘nabi terakhir’ untuk melakukan tugasnya tanpa resiko apapun, dalam kenyamanan ruang kerja, hanya menggunakan internet untuk menjaga privasinya?

8. Apakah nubuat MDM dapat dipercaya?

Tidak.

Syukurlah bahwa MDM menyebutkan saatnya yang pasti (yaitu permulaan masa Kesusahan besar/ Great Tribulation yang dimulai bulan Desember 2012) yang memberikan masa yang pendek terhadap nubuatannya. Nubuatan sedemikian sudah sering terjadi di tahun-tahun sebelum ini. Yang mungkin masih kita ingat adalah prediksi sejumlah orang yang menghubungkan akhir dunia dengan akhir kalender suku Mayan di tahun 2012 yang silam, yang juga terbukti keliru, sebab sampai sekarang toh dunia masih ada, kita semua masih hidup. Beberapa prediksi akhir zaman yang ‘meleset’, sudah pernah diulas di artikel ini, silakan klik, lihat poin. 4.

Jika nubuatannya itu kelak terbukti keliru, maka MDM akan dapat menyingkir dengan aman, karena statusnya yang anonim, atau seperti yang umumnya terjadi pada beberapa pelihat yang keliru, mereka cepat-cepat merevisi/ menginterpretasikan kembali pernyataannya.

Satu hal yang membuat nubuatan MDM ini begitu melejit dan terkenal, adalah bahwa konon ia menubuatkan pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Tetapi pada kenyataannya, MDM tidak menyatakan demikian. Yang dikatakannya adalah terdapat suatu plot di Vatikan untuk menggulingkan Paus. Namun yang terjadi tidak demikian. Sebab yang terjadi adalah Paus mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Kalau seorang tidak percaya bahwa yang terjadi adalah demikian, artinya ia menuduh Paus Benediktus XVI telah berbohong.

Demikianlah yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI tentang pengunduran dirinya, yang selengkapnya dapat dibaca di sini, silakan klik:

“Setelah berulang- ulang  memeriksa batin saya di hadapan Allah, saya telah sampai pada suatu kepastian bahwa kekuatan-kekuatan saya, karena usia yang lanjut, tidak lagi cocok untuk menjalankan tugas Kepausan dengan memadai. Saya sadar sepenuhnya bahwa tugas ini, sehubungan dengan sifat spiritualnya yang mendasar, harus dijalankan tidak hanya dengan perkataan dan perbuatan, tetapi juga tidak kurang dengan doa dan penderitaan. Akan tetapi, di dunia dewasa ini, yang dihadapkan pada banyaknya perubahan-perubahan yang cepat dan digoyangkan oleh pertanyaan-pertanyaan tentang relevansi yang mendalam bagi kehidupan iman, maka untuk mengemudikan bahtera Santo Petrus dan mewartakan Injil, dibutuhkan kekuatan baik pikiran maupun fisik, kekuatan yang dalam beberapa bulan terakhir ini, terus merosot di dalam diri saya sampai pada suatu keadaan di mana saya harus menyadari ketidaksanggupan saya untuk secara memadai menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepada saya. Untuk alasan ini, dan sadar sepenuhnya  atas seriusnya tindakan ini, dengan kebebasan penuh, saya menyatakan bahwa saya meletakkan jabatan sebagai Uskup Roma, Penerus Santo Petrus, yang dipercayakan kepada saya oleh Para Kardinal pada 19 April 2005, sedemikian rupa sehingga sejak 28 Februari 2013, pukul 20:00, Tahta Roma, Tahta Santo Petrus, akan kosong dan suatu Konklaf [pertemuan para kardinal untuk pemilihan paus baru] untuk memilih Paus baru akan harus diselenggarakan oleh mereka yang berkompeten.”

Di sini terdapat dua pilihan yang bertentangan: Sebab kalau seorang percaya kepada nubuatan MDM bahwa Paus mengundurkan diri karena dipaksa/ atau ada plot yang menggulingkannya, maka artinya orang itu percaya bahwa Paus Benediktus berbohong. Padahal di salah satu pesan MDM sendiri dikatakan Yesus menyebut bahwa Paus Benediktus adalah seorang yang “innocent” yang artinya tidak bersalah, tidak mungkin berbohong untuk hal yang sangat penting ini. Atau mungkinkah Yesus salah menyebut tentang hal ini? kan tidak mungkin juga. Maka kesimpulannya pesan MDM ini yang tidak konsisten, dan terdapat pertentangan sendiri di dalamnya, dan karena itu tidak mungkin benar.

Selanjutnya ‘nubuatan’ MDM, yang mengatakan bahwa St. Petrus akan mengatur Gereja dari Surga dan kemudian di dunia sepanjang masa 1000 tahun, lalu tentang the Warning, dan bahwa Paus berikut yang adalah Paus palsu, bahwa akan ada satu agama di dunia sebelum Kedatangan Kristus yang kedua dan Millennium di dunia, itu adalah gabungan sana sini dari banyak klaim pelihat dengan pandangan Premillennial Protestan. Silakan klik di Wikipedia untuk membaca tentang (Millenarianism), dan silakan melihat kemiripan nubuatan MDM ini dengan klaim paham Millenarianism, yang bahkan konon dikecam oleh gereja Lutheran di tahun 1530. Gereja Katolik sendiri mengecam paham Millenarianism melalui KGK 676, sebagaimana telah disebutkan di atas.

9. Haruskah kita umat Katolik percaya kepada Maria Divine Mercy (MDM)?

Tidak.

Ia adalah seorang anonim, seorang pelihat yang tak disetujui oleh Gereja Katolik, mengingat tak ada satupun pernyataan dari otoritas Gereja Katolik yang mendukung pernyataannya. Lagipula banyak hal yang disampaikannya yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik tentang akhir zaman.

Orang yang percaya kepada nubuatan MDM ini menempatkan dirinya pada posisi yang beresiko, sebab dapat menghasilkan dosa berat dan tindakan skismatik. Sebab jika orang itu percaya akan nubuat MDM, maka secara tidak langsung ia menuduh/ menganggap Paus Fransiskus sebagai Paus palsu (antipope) dan juga nabi palsu. Jika ia menganggap demikian, dan kemudian ia tidak lagi mau tunduk terhadap Paus dan mengikuti ajaran-ajarannya, orang itu menempatkan dirinya di posisi skisma.

Menurut Kitab Hukum Kanonik 1983:

KHK 751       … skisma (schisma) ialah menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya.

Tindakan skismatik adalah pelanggaran yang serius, baik yang dilakukan secara individual maupun kelompok, baik secara rohani maupun secara kanonik.

KHK 1364   

§ 1 Orang yang murtad dari iman, heretik atau skismatik terkena ekskomunikasi latae sententiae, …

§ 2 Jika ketegaran berlangsung lama atau sandungan yang berat menuntutnya, dapat ditambahkan hukuman-hukuman lain, tak terkecuali dikeluarkan dari status klerikal.

Ekskomunikasi ini dapat mempunyai implikasi, tidak dapat menerima sakramen-sakramen sampai ia bertobat dari perbuatan skismanya, dan kembali kepada persekutuan yang penuh dengan Gereja.

Melihat besarnya resiko ini, tak ada gunanyalah bagi seorang Katolik untuk percaya kepada klaim-klaim MDM, ataupun terlibat dalam penyebaran pesan-pesan MDM. Jika seorang melakukannya, ia malah menempatkan dirinya dalam posisi lebih percaya kepada sumber yang anonim, daripada perkataan Kristus sendiri dalam Injil, yang akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20), termasuk pemimpinnya yaitu penerus Rasul Petrus (lih, Mat 16:18-19). Jika ia terus berkeras melakukannya, ia malah menanggung resiko bahwa ia akan harus mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya di hadapan Kristus, dan akan menerima akibatnya.

Semoga Tuhan memberikan kepada kita rahmat kebijaksanaan untuk dapat menilai manakah yang benar dan manakah yang salah dalam menyikapi klaim-klaim wahyu pribadi. Dan semoga kita mempunyai kerendahan hati untuk mengikuti arahan Gereja yang kepadanya Kristus telah berjanji akan terus menyertai selamanya.

 

Bersukacitalah, sebab Tuhan sudah dekat!

3

[Minggu Adven ke III:  Yes 35:1-10; Mzm 146:7-10; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11]

Minggu ketiga Adven dikenal sebagai Minggu Gaudete, yang artinya: Bersukacitalah! Warna ‘pink’ ceria yang menjadi warna liturgi pada hari ini maksudnya adalah untuk merayakan pertengahan masa Adven. Bagaikan orang yang sedang mengikuti lomba lari dan bersukacita ketika telah mencapai pertengahan jarak lomba, demikian pula kita bersuka cita karena telah mencapai pertengahan masa penantian kita akan peringatan hari kelahiran Kristus. Garis finish memang belum tercapai, dan kita masih perlu berlari untuk mencapainya, namun kita sudah semakin dekat dengan tujuan itu. Jarak yang semakin dekat seharusnya semakin menyemangati untuk mempersiapkan diri, agar kita tidak lemah lesu, goyah dan tawar hati, sebab Tuhan sendiri akan datang untuk menyelamatkan kita (lih. Yes 35:4).

Injil hari ini mengisahkan tentang murid-murid Yohanes Pembaptis yang diutus oleh Yohanes gurunya, untuk bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Mungkin kita bertanya-tanya, apakah mungkin Yohanes Pembaptis meragukan Yesus, setelah ia berkali-kali mewartakan kedatangan-Nya? Para Bapa Gereja mengajarkan kepada kita, bahwa tidak demikian halnya. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa Yohanes Pembaptis melakukan hal ini untuk meyakinkan para muridnya, yang karena saking mengasihi gurunya, sampai meragukan atau mempertanyakan Kristus sebagai Mesias (lih. Mat 9:14). Demikianlah, lanjut  St. Hieronimus,  Yohanes Pembaptis mengirim murid-muridnya kepada Yesus, agar mereka melihat sendiri mukjizat-mukjizat yang diperbuat oleh Kristus, dan melalui pertanyaannya itu,  para muridnya itu menjadi percaya kepada Kristus. Setelah mereka itu pergi, Kristus, yang memahami kedalaman hati Yohanes Pembaptis, mengajarkan kepada orang banyak tentang dia, yaitu bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi, bahkan lebih dari nabi. Sebab ia adalah seorang utusan Allah yang secara khusus mendahului kedatangan Kristus, dengan mempersiapkan jalan bagi-Nya  (Mat 11:9-10). Sungguh istimewa-lah peran Yohanes Pembaptis. Namun Yesus tidak berhenti sampai di situ. Selanjutnya, Ia berkata, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripadanya.” (Mat 11:11)  St. Hieronimus mengatakan, bahwa maksud perkataan ini adalah, bahwa setiap orang kudus yang telah berada bersama-sama dengan Allah dalam Kerajaan Surga,  lebih besar dari Yohanes Pembaptis yang masih hidup di dunia ini, karena para kudus telah memperoleh mahkota kemuliaan, sedangkan Yohanes Pembaptis saat itu masih memperjuangkannya.

Demikianlah, kita yang hidup di dunia ini, masih mengalami jatuh bangun untuk memperoleh penggenapan janji keselamatan dari Tuhan. Namun kita selayaknya bersuka cita, sebab Tuhan Yesus akan datang menghampiri dan menolong kita. Ia yang melihat kedalaman hati setiap orang akan melihat kesungguhan hati kita untuk menyambut Dia. Pertanyaannya sekarang adalah, ‘Apakah aku sudah sungguh merindukan Dia? Apakah hatiku masih dipenuhi banyak hal-hal lain sehingga belum siap untuk menyambut-Nya?’ Semoga Tuhan membantu kita untuk mempersiapkan diri di minggu-minggu mendatang ini dan semoga hati kita dipenuhi suka cita karena diingatkan bahwa kedatangan Tuhan sudah semakin dekat.

Gaudete in Domino semper, Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!

Sudahkah Kita Mencontoh Yohanes Pembaptis?

3

[Minggu Adven ke II: Yes 11:1-10; Mzm 72:1-17; Rm 15:4-9; Mat 3:1-12]

Walk the talk. Jalanilah apa yang kita katakan. Demikianlah motto yang terdengar sederhana, namun tidak begitu sederhana untuk diwujudkan. Di hari Minggu pekan Adven yang kedua ini kita diajak untuk merenungkan tentang teladan Yohanes Pembaptis. Salah satu pesannya yang utama adalah agar kita bertobat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mat 3:2). Sebab pertobatan merupakan persiapan batin yang tiada tergantikan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Yohanes Pembaptis sendiri hidup dalam ulah tapa yang tanpa kata telah menyampaikan dengan lantang, pertobatannya sendiri untuk menyambut kedatangan Kristus sang Mesias. Tak heran ada banyak orang yang mendengarkannya, lalu mau mengakui dosa mereka dan meminta untuk dibaptis (lih. Mat 3: 4-6). Sungguh, Yohanes Pembaptis adalah seorang tokoh yang istimewa, sebab ia melaksanakan sendiri apa yang diajarkannya. Demikian pula, dunia sekarang ini lebih membutuhkan teladan, daripada pengajar. Paus Paulus VI pernah berkata, “Orang modern lebih mau mendengarkan para saksi iman daripada pengajar, dan kalaupun ia mendengarkan para pengajar, itu disebabkan karena mereka adalah para saksi iman.” (Evangelii Nuntiandi, 41)  Maka, jika kita menghendaki agar anak-anak, suami atau istri kita bertobat dan kembali ke jalan Tuhan, pertama-tama kita perlu bertanya, sudahkah kita sendiri bertobat? Jika kita berkata bahwa Natal adalah hari peringatan kasih Allah yang terbesar, sudahkah kita sendiri berbuat sesuatu untuk mempersiapkannya, untuk Tuhan dan untuk sesama yang membutuhkan uluran kasih Tuhan melalui kita? Maukah kita sedikit berkorban untuk menyalurkan kasih Tuhan ini?

Melihat teladan Yohanes Pembaptis, kita didorong tidak hanya untuk bertobat, tetapi juga untuk selanjutnya menjalani kehidupan sehari-hari dalam kerendahan hati dan kejujuran. Kerendahan hati Yohanes Pembaptis nampak juga dalam bagaimana ia memperkenalkan dirinya. Ia tidak mengatakan, “Aku anak Zakaria, seorang imam dari rombongan Abia…” (lih. Luk 1:5), untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang. Tetapi yang dikatakannya adalah, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!…. (Yoh 1:23). Ya, hanya sebagai ‘suara’. Lagi dikatakannya, “Aku membaptis kamu dengan air…, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya (Mat 3:11). Padahal Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah tokoh yang penting, sebab padanya terangkum dua peran sekaligus, yaitu sebagai nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, dan sebagai nabi pertama yang merintis kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru. Bahkan Tuhan Yesuspun mengakui keistimewaan Yohanes Pembaptis (lih. Mat 11:11). Namun demikian, Yohanes tetap tinggal dalam kerendahan hati dan kejujuran untuk menyatakan jati dirinya. “Aku bukan Mesias” (Yoh 1:20), demikian jawabnya, ketika beberapa imam bertanya kepadanya. Kejujuran dan keteguhannya untuk menyatakan apa yang benar dan apa yang salah bahkan akhirnya menggiringnya sampai kepada kematiannya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita cenderung menganggap diri penting dan istimewa? Dapatkah kita melihat bahwa Tuhanlah yang penting dan istimewa, sedangkan kita hanya pembuka jalan agar semakin banyak orang mengenal Dia?

Demikianlah Yohanes Pembaptis memberi contoh kepada kita, terutama jika kita terlibat dalam karya-karya kerasulan, katakese ataupun pengurus di lingkungan, wilayah atau kegiatan gerejawi lainnya. Sebab jangan sampai kita lebih banyak mewartakan diri sendiri, daripada mewartakan Kristus. Mari di pekan Adven kedua ini kita memeriksa batin, apakah perkataan dan perbuatan kita sehari-hari sudah mewartakan Kristus atau belum. Mari kita melihat kepada teladan Yohanes Pembaptis, supaya kita terdorong untuk senantiasa bertobat, hidup dalam kerendahan hati dan kejujuran. Semoga kita dapat berkata bersama Yohanes Pembaptis, “Ia [Kristus] harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 1:30). Dan semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk mewujudkannya.

Apakah arti ‘ular beludak’ (Mat 3:7)?

4

Ungkapan ‘keturunan ular beludak’, ditujukan oleh Yohanes Pembaptis kepada orang-orang Farisi dan Saduki. Berikut ini adalah penjelasan dari Haydock’s Commentary on Holy Scripture tentang Mat 3:7:

Kaum Farisi dan Saduki. Ini adalah nama dua sekte yang ada pada saat itu di kalangan orang -orang Yahudi. Terdapat bermacam interpretasi tentang istilah Saduki. Setidaknya ini kita temukan dalam Injil dan di Kisah para Rasul, bahwa mereka adalah orang-orang yang profan, yang tidak percaya akan kebangkitan dan tidak percaya akan adanya roh-roh dan jiwa yang sifatnya kekal. Terhadap mereka ini kaum Farisi menyatakan sebagai musuh, sebagai sekte yang lebih religius, yang berpura-pura sebagai pelaku yang dengan tepat melaksanakan hukum Taurat, dan banyak tradisi-tradisi yang besar, yang mereka miliki, atau seolah-olah mereka miliki, dari para bapa moyang mereka. St. Epiphanius (lih Haer.16, p.34) mengajarkan bahwa Farisi memperoleh nama mereka dari kata Ibrani Pharas, yang menandai keterpisahan, dibagi, atau dibedakan dari orang-orang lain oleh cara hidup yang lebih kudus. Sehingga orang Farisi yang sombong (Luk 18) berkata tentang dirinya sendiri, Aku tidak sama seperti semua orang lain….

Keturunan ular beludak: St. Yohanes Pembaptis dan juga Kristus sendiri (Mat 22:33) menggunakan kata menyalahkan yang tajam ini kepada mereka yang datang dengan penuh kepalsuan.

Murka yang akan datang: artinya hukuman bagi orang-orang yang jahat setelah kematian. Atau, seperti dijelaskan oleh sejumlah orang, sebagai kehancuran yang akan terjadi di kota Yerusalem, di bait Allah, dan seluruh bangsa Yahudi.”

Apa makna ‘barang yang kudus’ dalam Mat 7:6?

5

Berikut ini adalah penjelasan tentang ayat Mat 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

1. Menurut Haydock’s Commentary:

“Jangan memberikan apa yang kudus, barang-barang yang kudus, kepada anjing: yaitu orang-orang yang tak bermoral ataupun yang tidak percaya, siapapun yang tidak layak untuk mengambil bagian di dalam misteri-misteri ilahi dan sakramen, yang akan menyalahgunakannya dengan sakrilegi, dan menginjak-injaknya dengan kaki mereka, seperti babi menginjak mutiara. Misteri-misteri kudus harus tidak diberikan kepada mereka yang tidak cukup diberi pengajaran tentang maknanya yang luhur; ataupun kita tak harus mengadakan persekutuan agama apapun dengan mereka yang memusuhi kebenaran-kebenaran Kristus, yang mereka injak-injak dengan kaki mereka dan memperlakukannya dengan penghinaan, dan akan jauh sekali dari menjalin persahabatan dengan kamu ….”

2. Menurut A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, ed:

“Tapi penilaian yang bijaksana dari sikap batin saudara-saudara kita kadang diperlukan, seperti ketika, misalnya, terdapat bahaya profanasi sakrilegi. Kurang bijaksananya dalam hal-hal itu dapat mengubah sikap acuh menjadi kebencian, sehingga secara tak perlu membahayakan sesama kita, melukai diri kita sendiri, menghamburkan apa yang berharga dan sakral. Sepertinya, Tuhan kita berbicara, tentang kebijaksanaan dalam menjelaskan misteri-misteri Kerajaan; Ia sendiri kemudian Mat 13:10-15, menunjukkan contohnya. Prinsip ini diterapkan di Gereja awal (lih. Didache, 9, 5), terhadap hal tidak diberikannya Ekaristi kudus kepada mereka yang belum dibaptis. Tuhan kita membandingkan ketidakbijaksanaan tersebut dengan memberikan barang-barang yang suci kepada binatang-binatang buas yang berbalik kepada sang pemberi dengan ganasnya. Pembandingan ini adalah secara umum. Kita tidak selayaknya menghubungkan ‘babi’ dengan bangsa-bangsa pagan, atau menghubungkan ‘anjing’ dengan orang-orang Kristen yang telah meninggalkan Gereja, ataupun menganggap istilah itu sebagai suatu penghinaan. Binatang-binatang tersebut secara bersama-sama mewakili mereka yang tidak menghargai agama; pembedaan mereka semata-mata hanya penggambaran dan gaya penyampaian dengan cara paralelism/ perbandingan Semitik….”

3. Menurut tulisan yang diatributkan kepada St. Yohanes Krisostomus, sebagaimana dikutip dalam Catena Aurea, ed. St. Thomas Aquinas:

“… Tuhan memerintahkan kepada kita untuk mengasihi musuh-musuh kita dan untuk berbuat baik kepada mereka yang menentang kita. Dari sini, para imam tidak perlu terbebani untuk membagikan juga hal-hal ilahi kepada mereka. Ia berkata…, “Janganlah memberikan apa yang kudus kepada anjing”, maksudnya adalah untuk mengatakan bahwa, Aku memerintahkan kamu untuk mengasihi musuh-musuhmu dan berbuat baik kepada mereka dari benda-benda milikmu yang bersifat sementara, tetapi bukan dari benda-benda rohani-Ku, tanpa pembedaan. Sebab mereka adalah saudara-saudaramu menurut kodrat, tetapi tidak menurut iman, dan Tuhan memberikan benda-benda yang baik di kehidupan ini secara merata kepada mereka yang layak dan tidak layak, namun tidak demikian halnya dengan rahmat-rahmat rohani.”

“Apa yang kudus” menandai Baptisan, rahmat dari tubuh Kristus dan sejenisnya; tetapi misteri-misteri kebenaran adalah yang dimaksudkan dengan mutiara. Sebab sebagaimana mutiara diselubungi dengan cangkang dan terletak di kedalaman laut, demikianlah misteri-misteri ilahi yang diselubungi dengan kata-kata tersimpan dalam arti yang mendalam dari Kitab Suci.”

Bagaimana memahami arti “duduk di sebelah kanan Allah Bapa”?

3

Syahadat para Rasul menyebutkan bahwa kita percaya akan Kristus…. “yang naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa…”

Ada sejumlah orang yang mempertanyakan arti kalimat ini, sebab dengan Kristus duduk di “sebelah kanan Allah” maka sepertinya ada dua Allah yang dibicarakan di sini. Bagaimana memahami istilah ini? Mari mengacu kepada penjelasan St. Thomas Aquinas, sebab pertanyaan/ keberatan serupa juga pernah ditanyakan kepadanya. Yaitu: 1) Kalau Allah adalah Roh (Yoh 4:24) dan tidak bertubuh, maka bagaimana mungkin istilah “duduk di sebelah kanan” dapat digunakan di sini, sebab “duduk” itu mengacu kepada sikap tubuh. 2) Kalau dikatakan bahwa Kristus duduk di sisi kanan, artinya Bapa duduk di sisi kiri Kristus, sepertinya tidak mungkin demikian….

St. Thomas Aquinas menjawab keberatan/ pertanyaan ini, dengan mengacu kepada teks Kitab Suci, Mrk 16:19: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk (kathizō) di sebelah kanan Allah.”

“Saya menjawab, kata “duduk (kathizō)” mempunyai arti ganda; yaitu “tinggal (abide)” seperti dalam ayat Luk 24:49, “Tetapi kamu harus tinggal  (kathizō) di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi,” dan juga “kuasa kerajaan/ pemerintahan”, sebagaimana dalam Ams 20:8: “Raja yang bersemayam (kathizō ) di atas kursi pengadilan dapat mengetahui segala yang jahat dengan matanya.” Nah, dalam kedua arti inilah Kristus dikatakan “duduk” di sisi kanan Allah Bapa. Pertama-tama, sebab Ia tinggal secara kekal dan tak tergantikan dalam kebahagiaan Allah Bapa, maka Ia disebut sebagai tangan kanan-Nya, menurut Mzm 16:11, “…di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” Maka St. Agustinus mengatakan (De Symb. i), “Duduk di sebelah kanan Allah Bapa’: Duduk artinya tinggal, seperti kita mengatakan tentang siapapun: ‘Ia duduk di negara itu selama tiga tahun’: Maka, percayalah, bahwa Kristus tinggal di sebelah kanan Allah Bapa: sebab Ia bahagia dan tangan kanan Bapa adalah istilah bagi nikmat-Nya.” Kedua, Kristus dikatakan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, karena Ia berkuasa bersama Bapa, dan mempunyai kuasa memerintah dari Dia, seperti seseorang yang duduk di sebelah kanan raja membantu sang raja dalam memerintah dan menghakimi. Maka St. Agustinus mengatakan (De Symb. ii): “Dengan istilah ‘tangan kanan’, pahamilah kuasa yang diterima oleh Orang ini yang dipilih Allah, sehingga dapat datang untuk mengadili, yang dulunya datang [ke dunia] untuk diadili.

Jawaban untuk keberatan 1): Sebagaimana dikatakan oleh St. Damaskinus (De Fide Orth. IV): “Kita tidak berbicara tentang sebelah kanan Allah Bapa sebagai sebuah tempat, sebab bagaimanakah mungkin sebuah tempat ditandai sebagai sebelah kanan-Nya, padahal DiriNya sendiri berada mengatasi segala tempat? Sebelah kanan dan kiri merupakan sesuatu yang ditentukan oleh suatu batasan. Namun kita mengartikan, sebelah kanan Allah Bapa, sebagai kemuliaan dan penghormatan bagi Allah.

Jawaban terhadap keberatan 2): Argumen ini baik seandainya ‘duduk di sebelah kanan’ itu diartikan secara lahiriah. Oleh karena itu St. Agustinus (De Symb. i) mengatakan: “Jika kita menerimanya dalam arti jasmani bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, maka Bapa akan duduk di sebelah kiri. Tetapi di sana”, yang adalah kebahagiaan/nikmat kekal, “itulah tangan kanan, sebab tak ada kesengsaraan di sana.”….” (Summa Theology III, q. 58, a.1)

Dengan penjelasan ini, kita mengetahui bahwa Gereja mengartikan istilah ‘duduk di sebelah kanan Allah Bapa’ tidak terbatas dengan pengertian kata duduk sebagaimana kita pahami pada dua orang yang duduk bersebelahan. Karena kata ‘duduk’ sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar meletakkan tubuh kita sedemikian di kursi/ tempat duduk. Maka Yesus dikatakan ‘duduk’  di sebelah kanan Allah Bapa, karena Ia tinggal bersama-sama Bapa dan mempunyai kuasa kepemimpinan, yang diterima-Nya dari Allah Bapa.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab