Home Blog Page 93

Perhatikan kakimu !

0

Dalam biara, kami semua mendapat tugas masing-masing, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Kebetulan, hanya ada dua orang di antara 30 orang rekan seangkatan yang mampu menyetir baik mobil maupun sepeda motor, aku dan seorang saudara. Jadilah kami berdua seksi kendaraan biara. Tugas kami adalah merawat kendaraan dan menjadi sopir. Biasanya, kami mencuci mobil 2x dalam seminggu bersama-sama. Namun, hari ini kebetulan aku mencuci mobil sendirian karena partnerku sedang piket memasak.

Setelah selesai membilas mobil, salah seorang temanku menyeletuk,”Memang ya, orang-orang dari tarekatmu kebanyakan kurang perhatian sama kaki.” Aku kebingungan dengan maksud celetukannya. Ternyata, ia menunjukkan kalau aku lupa membersihkan velg dan ban mobilnya. Tapi, hal yang membuatku kebingungan adalah embel-embel tarekat. Emang betul ya orang-orang tarekatku kurang memperhatikan kaki mereka? Entahlah. Saudaraku yang satu ini memang lebih sering bergaul dengan para imam dari tarekatku di luar biara karena sering membantu kegiatan-kegiatan keuskupan.

Kakiku sendiri memang kering dan pecah-pecah semenjak tinggal di kota bercuaca dingin ini. Aku tidak cukup metroseksual untuk mengolesi kaki dengan pelembab. Selain ribet, aku harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli pelembab. Mungkin dia sering melihat kasus serupa di kalangan religius dalam tarekatku. Sambil mencuci velg dan ban mobil, celetukan enteng ini membawaku pada “lamunan” mengenai kaki. Mungkin, Tuhan bermaksud mengatakan “kaki yang lain.”

Kaki merupakan anggota tubuh yang paling sering kotor karena berhubungan dekat dengan tanah, entah menginjak tanah yang berdebu, rumput, kotoran anjing biara, banjir, becek, nggak ada ojek lagi, cape deh. Kaki berhubungan dekat dengan benda-benda yang hina. Tapi, tidak sekalipun terpikir untuk hidup tanpa kaki, no no.. Pasti repot sekali kalau nggak bisa jalan. Kaki adalah harta berharga manusia, terutama seorang calon imam yang harus berkarya. Bagian yang sering terlihat kotor dan hina ternyata adalah harta bagi diriku.

Gereja juga memiliki harta yang sering tampak hina dan kotor. St. Laurensius telah menunjukkan kepada Prefek Roma rakus yang telah menangkapnya di mana harta Gereja berada. Gereja justru memiliki harta terbesar dalam diri orang-orang sakit, miskin, dan menderita. Gereja juga memiliki harta yang terpendam dalam setiap pekerjaan-pekerjaan yang kerapkali dianggap hina dan kecil. Apakah aku cukup perhatian terhadap “kaki” Gereja ini?

Memperhatikan orang-orang kecil jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Begitu pula dengan pekerjaan-pekerjaan kecil. Menjadi seorang religius yang mengabdikan hidup bagi Allah tidak hanya sekedar duduk manis memintal gulali dan menikmati kehangatannya sendiri. Aku juga harus turun gunung untuk memperhatikan orang-orang yang menderita, entah dengan uluran tangan langsung atau dengan hujanan doa yang setulus hati. Gulaliku harus aku persembahkan pada Allah dan sesama, terutama orang-orang kecil yang sering terlupakan. Untuk itu, aku harus belajar untuk mencuci “kaki orang-orang”. Aku harus belajar mencintai setiap pekerjaan yang aku hindari, yang tidak aku sukai, atau yang aku pandang tidak penting. Itulah cara aku bisa belajar untuk taat sepenuhnya, dan ketaatan membutuhkan kerendahan hati. Kerendahan hati adalah pintu bagiku menuju kekudusan.

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” – Yesus, Raja Semesta Alam (Mat 25:40).

Sauh Jiwa

0

Misa Lingkungan Santo Agustinus, Paroki Santa Odilia – Cikupa – Tangerang, tanggal 19 November 2013 dipenuhi umat, dari anak-anak sampai insan yang telah memutih rambutnya. Paduan suara yang indah dari umat sederhana memecahkan kesunyian malam. Alunan lagu yang menawan itu mengungkapkan adanya pengharapan yang tak pernah binasa dalam jiwa mereka.

Pengharapan hidup itu terungkap dari seorang bapak dalam obrolan santai di teras setelah Misa selesai. Bapak itu berasal dari Tanah Karo, Sumatera Utara, di mana Gunung Sinabung meletus. Ia tinggal di rumah kontrakan sederhana karena tidak punya rencana untuk tinggal selamanya di Kota Tangerang. Ia bekerja sebagai sopir angkot sewaan trayek Balaraja. Istrinya bekerja sebagai buruh pabrik.

Mereka memiliki satu anak perempuan yang berusia tujuh bulan. Mereka terpaksa menitipkan anak tunggalnya itu kepada orang tua mereka di kampung halaman mereka. Keputusan ini diambil karena tidak ada pilihan lain. Mereka bekerja seluruh hari sehingga tidak mungkin sendiri mengasuh anaknya. Penghasilan mereka belum mencukupi untuk membayar seorang pembantu rumah tangga bagi anaknya tercinta. Setiap malam bayangan anaknya di tempat nan jauh sering menyiksa mereka. Kerinduan untuk bersatu dengan anaknya itu terus mengusik kalbu mereka. Kerinduannya itu diobatinya dengan seuntai kata yang ditujukan kepada anaknya : “Nak, tunggu bapak dan mama kembali setelah mengumpulkan uang untuk usaha di kampung halaman. Di sana nanti bapak dan mama akan bisa menghasilkan uang untuk sekolahmu kelak agar nanti engkau bisa mengangkat derajat keluarga dengan kesuksesanmu dalam segala hal”.
Bapak itu kemudian melukiskan keseharian hidupnya dalam rangkaian kata :

“Ketika matahari terbit tiba,
aku siap membanting tulang.
Mengejar penumpang di pinggir-pinggir jalan.
Mencari uang recehan sampai petang.
Kerinduanku cepat pulang kembali bersama istriku,
untuk mendoakan anakku yang tiada bersamaku.
Setiap lembaran uang yang terhitung dengan tanganku,
aku syukuri dengan penuh pengharapan :
‘Nak, semua uang ini adalah untuk masa depanmu”.
Pertemuan doa lingkungan menjadi kekuatan rohaniku
untuk tetap menyalakan pengharapanku”.

Pesan bagi kita: Apapun keadaan kehidupan kita, kita harus menjalaninya dengan penuh pengharapan yang disertai dengan perjuangan. Kita tidak dapat mengubah kehidupan kalau kita sendiri tidak berusaha mengubahnya. Perjuangan hidup yang penuh pangharapan akan berpuncak pada kebahagiaan. Tegarlah dalam melalui kesulitan karena sesudah kesulitan senantiasa ada kebahagiaan. Tuhan telah mengatur segalanya dengan akhir yang indah bagi hati yang tulus dan tak pernah menyerah. Karena itu, tautkanlah iman kita pada Tuhan karena ada pengharapan besar padaNya : “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir” (Ibrani 6:19).

Selamat Natal dan Tahun Baru
Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Mengikuti Bintang, Untuk Melihat Tuhan

4

image

[Hari Raya Penampakan Tuhan, Hari Anak Misioner Sedunia, Yes 60:1-6; Mzm 72:1-13; Ef 3:2-3a,5-6; Mat 2:1-12]

Hari ini kita merayakan Minggu Epifani, yang artinya ‘Penampakan Tuhan’. Hari ini kita merayakan pernyataan Yesus yang pertama kalinya kepada dunia bahwa Ia adalah Mesias, Seorang Raja yang telah dinanti-nantikan. Bacaan Injil hari ini menuliskan tentang tiga orang majus dari Timur yang dengan melihat sebuah bintang di langit, dan dengan bantuan rahmat tertentu dari Tuhan, mereka datang mencari kelahiran Sang Mesias tersebut di tanah Israel. Mungkin di zaman itu ada banyak orang yang melihat bintang yang sama, namun tak banyak yang tahu ataupun menangkap artinya sebagai tanda kelahiran Kristus, dan kemudian mengikutinya. Suatu gambaran sederhana yang mengisahkan bahwa untuk melihat dan menemukan Tuhan diperlukan kepekaan akan rahmat Tuhan dan usaha dari pihak kita, untuk mencari Dia. Para orang majus melihat bintang itu, dan menanggapinya dengan mau bersusah payah melakukan perjalanan berminggu-minggu melintasi padang pasir, untuk mencari Sang Mesias, yang kelahiran-Nya ditandai oleh bintang itu. Ketika telah sampai ke tanah Yudea, para majus itu-pun tak sungkan bertanya kepada Raja Herodes penguasa daerah itu, yang kemudian menyuruh para imam dan ahli Taurat Yahudi untuk meneliti, di manakah Anak itu akan lahir. Dari merekalah, para majus itu mengetahui bahwa Sang Mesias itu lahir di Betlehem. Dan benarlah, bintang itu kembali mendahului para orang majus itu, dan berhenti tepat di atas sebuah tempat, di mana Anak itu berada (lih. Mat 2:9). Betapa mereka sangat berbahagia, karena menemukan Siapa yang mereka cari! Banyak kaum Yahudi yang tidak menyadari bahwa Raja mereka telah lahir, namun orang-orang majus ini yang berasal dari negeri yang jauh, malah termasuk dalam bilangan mereka yang pertama kali mengenali Kristus sebagai Raja dan menyembah-Nya.

Para majus itu menjadi gambaran samar-samar akan bangsa-bangsa bukan Yahudi yang kelak menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ya, Para majus itu menjadi gambaran bagi kita semua yang kini mengimani Kristus. Kalau kita sungguh mau mengikuti Kristus, kita tidak perlu takut akan apa tanggapan orang, tidak perlu takut dianggap ekstrim karena kita tidak mengikuti arus dunia. Walaupun panggilan kita sebagai umat Kristiani tidak mudah, dan bahkan membutuhkan pengorbanan, namun kita mengetahui bahwa akan ada Terang Ilahi di akhir perjuangan kita.

Bukankah keseluruhan hidup kita adalah perjalanan menuju Kristus? Dan melalui Kristus menuju Allah Bapa? Maka hidup kita adalah semacam perjalanan yang harus kita lalui dengan terang iman. Kita tak perlu mengandalkan kemampuan diri kita sendiri untuk menemukan Dia. Kristus telah memberikan Gereja-Nya untuk menuntun kita dengan ajaran-ajarannya dan sakramen- sakramennya, agar kita dapat bertemu dan bersatu dengan-Nya. Kristus juga telah memberikan kepada kita Ibu-Nya, yang menjadi teladan Gereja, yaitu Bunda Maria Stella Maris, Sang Bintang Laut yang memimpin kita dalam perjalanan hidup ini, kepada Kristus Putera-nya. Betapa kita perlu memandang kepada bintang ini, agar kita dapat selalu menemukan Kristus. Semoga kitapun dapat mengalami sukacita karena menemukan Dia, dan kita dapat datang kepada-Nya dengan membawa persembahan kita: persembahan yang terbaik- emas, persembahan doa- kemenyan, dan pengorbanan kita- mur.

Setelah kita menemukan Kristus, mari kita mengingat panggilan kita untuk mewartakan Dia, terutama kepada mereka yang belum mengenal Dia. Di hari Epifani ini  kita juga merayakan Hari Anak Misioner sedunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi misioner. Sejauh mana kita telah melakukannya?

Keluarga Kudus, Teladan Bagi Keluarga Kita

3

[Pesta Keluarga Kudus: Yesus Maria dan Yusuf: Sir 3:2-6,12-14; Mzm 128:1-5; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15, 19-23]

Di masa Natal ini, mata hati kita tertuju kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah lahir di kandang Betlehem. Ia memilih untuk dilahirkan dalam sebuah keluarga, yaitu dalam asuhan bapa angkat-Nya Yusuf, dan Bunda Maria. Ini adalah bukti bahwa Allah memandang keluarga sebagai sesuatu yang penting, sehingga Ia mengutus Putera-Nya untuk lahir dan menjadi bagian di dalamnya, yang kita kenal dengan sebutan Keluarga Kudus. Padahal sebenarnya bukan merupakan keharusan bagi Tuhan Yesus untuk lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga, namun dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Ia toh mengambil jalan ini. Yesus begitu ingin dekat dan menyatu dengan kita, sehingga Ia mau melewati setiap jengkal kehidupan sebagai manusia, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan-Nya sendiri.  Demi kasih-Nya yang begitu besar, Yesus Sang Putera Allah itu menghampakan diri-Nya, menjelma menjadi setitik sel dalam kandungan Bunda Maria, lahir sebagai bayi yang kecil, melewati masa kanak-kanak, tumbuh menjadi remaja dan dewasa dalam sebuah keluarga. Dengan demikian, Tuhan Yesus menguduskan setiap tahap kehidupan kita sebagai manusia, sebab Ia sendiri melewati semua tahapan itu.

Dan tahapan yang diambil-Nya juga bukan tahapan yang mudah. Tuhan Yesus lahir di kandang, berbaring di tempat makanan hewan, tanpa kenyamanan yang umum dialami bayi manusia. Bukan hanya itu saja, Injil hari ini mengisahkan bahwa tak lama setelah kelahiran-Nya, Yesus dibawa mengungsi ke Mesir, setelah Yusuf memperoleh pertanda melalui mimpi (lih. Mat 2:13). Tentulah keadaan ini bukan keadaan yang mudah. Sejumlah dari kita mungkin mengingat dengan jelas pengalaman menjadi pengungsi, ketika kita mengalami musibah banjir di Pluit tepat sekitar setahun yang lalu. Tapi pengungsian yang kita alami sungguh bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengungsian Kristus. Sebab di waktu pengungsian itu, kita masih terhubung dengan sesama saudara ataupun sahabat kita, tidak seperti yang dialami oleh Keluarga Kudus. Mereka menempuh jarak sekitar 400 km, dari Betlehem ke Mesir, menunggangi keledai dalam cuaca yang dingin, terpisah jauh dari sanak saudara dan teman. Mereka menyingkir dari ancaman pembunuhan bayi dan anak-anak di Betlehem atas perintah Raja Herodes (lih. Mat 2:16-18). Demikianlah sejak kelahiran-Nya, Kristus telah ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Bersama Yusuf dan Maria, Tuhan Yesus harus mengungsi di negeri asing, dalam keadaan miskin dan kekurangan. Suatu keadaan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kemeriahan Natal saat ini yang nampak di mall-mall ibukota. Sebab peristiwa kedatangan Kristus yang diperingati sesungguhnya sangat sederhana. Kesederhanaan Keluarga Kudus ini, selayaknya membuka mata hati kita, untuk melihat kehadiran Tuhan Yesus justru dalam peristiwa-peristiwa yang kecil dan sederhana. Dalam keluarga kita dan dalam komunitas kita, walaupun dalam keadaan yang paling sulit sekalipun,  Tuhan Yesus tidak pernah gagal untuk menyatakan kasih dan kehadiran-Nya. Hanya bersama Dia-lah, kita dapat menjalani kehidupan kita dengan suka cita dan dengan penuh pengharapan. Sebab Imanuel, yaitu Allah yang beserta kita itu adalah Yesus, yaitu Allah yang menyelamatkan.

Maka, seperti dahulu Kristus hadir di tengah-tengah St. Yusuf dan Bunda Maria, kini Ia-pun mau hadir di tengah keluarga kita. Mari kita menyediakan tempat bagi-Nya, dalam hati kita, dan dalam keluarga kita. Semoga dengan kehadiran Kristus di dalam keluarga kita, kita dimampukan untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:12), agar kitapun dapat mengalami kebahagiaan dan kasih sejati, sebagaimana dialami oleh Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf.

Pelukan Kasih

0

Terik matahari sangat hebat di Oasis Lestari pada tanggal 21 November 2013 saat aku siap merayakan Ekaristi untuk mengkremasi seorang Bapak yang tak pernah aku prediksi. Ketika aku turun dari mobil, seorang ibu setengah baya menyapaku: “Romo, pasti kaget siapa yang meninggal ini. Ia adalah suamiku. Romo mengenalnya pada peringatan seratus hari arwah abangku satu bulan silam. Romo sempat mengobrol di luar dengannya. Ciri khasnya adalah ia selalu mengenakan topi ke mana saja ia pergi”.

Hatiku termangu mengingat waktu bertemu dengannya tanggal 20 September yang lalu. Tak kusangka bahwa pertemuan itu merupakan perjumpaan yang tak terulang. Perjumpaan yang mewariskan pesan indah bagaimana manusia itu seharusnya hidup. Ia mensharingkan ungkapan hatinya: “Romo, aku sangat mencintai istri dan ketiga anakku. Ingin hati mengungkapkannya dengan tindakan romantis seperti manusia masa kini, tetapi malu dengan seumur tua ini. Akan tetapi, aku yakin mereka merasakan kasihku walaupun tidak selalu terungkap dengan kelembutan dan kemesraan. Aku bangga dengan istriku yang kuat dan tabah dalam segala situasi. Aku juga bahagia melihat ketiga anakku telah mentas (mandiri). Itulah perutusanku dari Tuhan, yaitu menjadi seorang suami dan ayah yang mengasihi dan bertanggung jawab”.

Kerinduan hatinya terkabulkan pada hari Senin, tanggal 16 November 2013. Istrinya menjamah badannya yang dingin. Ia meminta dipeluk oleh istrinya. Ia memohon istrinya meletakkan kepalanya di dadanya. Ia kemudian meninggal dunia pada usia enampuluh tiga tahun. Istrinya mengatakan bahwa kasih memang abadi: “Ia datang kepadaku untuk menawarkan kasih. Aku menerimanya dengan kasih. Ia kini pulang ke rumah Bapa dengan pelukan kasih”. Dengan berlinang air mata, ia meneruskan ungkapan jiwanya: “Berkat pelukan kasihnya, aku mengerti satu hal bahwa aku begitu berharga baginya. Aku bahagia karena kasih menepis air mata. Kasihnya senantiasa mengisi hatiku ketika terasa hampa”.

Karena merasakan kasih ayahnya yang begitu besar, anak lelakinya yang mewakili keluarga tidak bisa menyelesaikan ucapan “terima kasih” sebelum peti masuk dalam kremasi. Deraian air matanya membuatnya tidak mampu mengucapkan kata lagi. Intinya: “Terima kasih ayah atas kasihmu. Engkau adalah ayah yang bertanggung jawab. Kadang-kadang engkau memang keras, tetapi itu karena kasih agar kami hidup lurus”.

Pesan dalam sharing iman ini: Pelukan kasih menyapa hati. Ia hadir pada saat kita merindukan kehangatannya. Ia menyembuhkan luka. Ia menenangkan jiwa yang sedang dilanda emosi yang membara. Ia menanamkan semangat untuk meraih impian di masa depan. Lebih dari semuanya, pelukan kasih membuat hidup berharga dan bermakna.

Kini kita semakin mengerti Sabda Allah ini: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13).
Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kuasa Pemulihan dan Penyembuhan Tuhan (KRK di Bandung)

0

Hari Kamis, 28 November 2013 pukul 17.00, Gedung Graha Tirta – Bandung dipenuhi lebih dari dua ribu umat. Mereka datang dari berbagai paroki di Keuskupan Bandung untuk mengalami kuasa pemulihan dan penyembuhan Tuhan dalam Kebangunan Rohani Katolik. KRK ini diadakan oleh Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Keuskupan Bandung.

Iman akan mukjizat Tuhan diterjemahkan dalam tarian indah yang penuh makna dengan terus-menerus menyanyikan lagu “Hosanna In the Highest”. Dalam iringan malaikat, baju-baju hitam terlepas yang menyimbolkan runtuhnya kuasa kegelapan dan disembuhkannya berbagai penyakit. Pemulihan pasti terjadi karena kasih Allah.

Setelah upacara penyembahan, aku memberikan homili : “ Ketika kita menyembah Tuhan, kuasa Allah bekerja. Hati kita dipulihkan. Tubuh kita disembuhkan”. Setelah homili, aku mengangkat doa mohon kesembuhan bersama tujuh imam, yaitu Pastor Helman Pr (Moderator BPPK Keuskupan Bandung), Pastor Christ Purba SJ (Moderator BPPK Keuskupan Agung Jakarta), Pastor Hendra OSC, Pastor Yoakim OSC (Teman sekelas), Pastor Santo OSC, Pastor Sutiman OSC, Pastor Surono OSC. Umat mengangkat tangan menyanyikan lagu “Kurasakan Kasih-Mu Tuhan” bersama tim pujian yang luar biasa.

Para pastor kemudian mendoakan satu persatu umat yang hadir. Ada pengalaman yang baru pertama aku dapati dalam mendoakan ini. Seorang gadis datang dan mohon : “Romo, tolong lepaskan aku karena aku telah menyembah Lucifer selama sepuluh tahun”. Aku terkejut karena Lucifer adalah kepala setan. Aku tompangkan tanganku di atas kepalanya dan ia jatuh di lantai. Karena sudah selama satu jam lebih ia tidak bangun, beberapa bapak mencoba mengangkat badannya. Akan tetapi, mereka tidak ada yang kuat membawa tubuhnya karena ia memberontak sangat keras dan memukuli yang mendekat dengan kekuatan yang luar biasa di luar dirinya sebagai wanita. Hal ini mengingatkanku akan peristiwa seorang kerasukan roh jahat dari pekuburan di Gerasa yang menemui Tuhan Yesus Kristus : “Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai” (Lukas 5:4). Aku katakan kepada mereka : “Biarkan dahulu, nanti aku tangani setelah selesai mendoakan semuanya”. Sebelum mendoakan para panitia, saya memerciki dia dengan air suci dan garam yang aku berkati. Kemudian aku tempelkan salib rosario di dahi dan mulutnya. Aku pegang tangannya dan ia berdiri dengan masih agak lemas. Ia kemudian meneteskan air mata. Aku katakan : “Engkau telah kembali menjadi anak Allah”. Ia menganggukkan kepalanya sambil berkata : “Aku lebih bahagia menyembah Tuhan Yesus daripada setan”. Ia mengangkat tangannya sambil menyanyikan : “Halleluya”. Ia telah dilepaskan dari kuasa kegelapan. Aku pun mensyukuri atas rahmat imamat yang telah diberikan Tuhan kepadaku.

Kebangunan rohani ini selesai pukul 21.00. Umat pulang dengan hati bersukacita. Jamahan Tuhan pasti terasakan. Setiap orang tentu mengalami kebaikan Tuhan, terutama imannya disegarkan.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab