Home Blog Page 91

Sang Terang itu Memanggil Kita

0

[Hari Minggu Pekan Biasa ke-III: Yes 8:23-9:3; Mzm 27:1-14; 1Kor 1:10-13,17; Mat 4:12-23]

Sejak masa Natal sampai beberapa minggu ini kita merenungkan betapa Kristus yang adalah Sang Terang itu telah turun ke dunia. Kelahiran-Nya ditandai oleh bintang di Timur dan para majus dan para gembala sujud menyembah-Nya. Kemudian Kristus Sang Terang itu hidup secara tersembunyi di Nazareth, bersama dengan St. Yusuf dan Bunda Maria, untuk menguduskan kehidupan keluarga dan pekerjaan manusia. Setelah genap waktu-Nya, sekitar tiga puluh tahun kemudian, Kristus mengawali karya publik-Nya, setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Melalui Pembaptisan itu Allah Bapa menyatakan Kristus sebagai Putera-Nya dan Yohanes menyatakan Kristus sebagai Sang Anak Domba Allah yang merupakan penggenapan nubuat para nabi.

Kini di awal karya publik-Nya, Yesus memanggil para nelayan untuk menjadi murid-murid-Nya. Sungguh suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, jika kita berpikir dari cara pandang manusia. Sebab kita manusia jika menjadi pemimpin cenderung memilih staf pembantu yang sudah pandai dan ahli. Namun cara pandang Kristus berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang kecil, sederhana, dan lemah, karena di dalam kelemahan manusialah kuasa Tuhan menjadi sempurna (lih. 2Kor 12:9). Betapa ini nyata dicatat juga dalam Perjanjian Lama, saat Allah memilih nabi Musa dan nabi Yeremia, yang tak pandai bicara (Kel 4:10; Yer 1:6); demikian juga Gideon yang paling muda dari kaum yang terkecil (lih. Hak 6:15); atau Daud, anak bungsu Isai, yang menjadi gembala domba (1Sam 16:11). Demikianlah, Kristus juga memilih kaum miskin dan sederhana untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya. Sungguh dalam kesederhanaan pikiran, para nelayan itu, Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, menerima panggilan Kristus untuk menjadi penjala manusia. Mereka segera meninggalkan jala dan perahu mereka untuk mengikuti Yesus (lih. Mat 4:20,22). Tindakan mereka ini mendorong banyak orang di sepanjang sejarah Gereja, yang melakukan hal serupa, yaitu meninggalkan segala sesuatu, untuk memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus. Tindakan para murid itu selayaknya membuat kita merenung, bersegerakah kita mengikuti Tuhan Yesus seperti yang mereka lakukan? Sejauh mana kita mau meninggalkan kehidupan kita yang lama, ‘zona nyaman’ kita, untuk mengikuti Dia? Sudahkah kita menjadi miskin di hadapan Allah, sehingga siap menyambut-Nya untuk mengisi hati kita ?

Sungguh, Kristus Sang Terang dunia telah datang untuk menghalau kegelapan (lih. Yes 9:1), dan Sang Terang itu memanggil kita untuk turut memantulkan Terang-Nya. Seperti para murid itu, kitapun dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Supaya melalui kita, orang-orang di sekitar kita dapat melihat terang Kristus dan datang kepada-Nya. Mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana kita telah memantulkan Terang Kristus melalui perbuatan dan perkataan kita? Apakah kita sudah dengan giat melaksanakan tugas pekerjaan kita sehari-hari dan siap menolong mereka yang membutuhkan bantuan? Sejauh mana kita mempunyai kepekaan untuk menghibur yang berduka, menyapa yang kesepian dan memberi semangat kepada yang berputus asa? Sejauh mana kita mau mempelajari dan merenungkan ajaran iman kita tentang Sang Terang itu, agar hidup kita dipimpin olehnya dan kita dapat membagikannya kepada sesama?

Sungguh bacaan Injil hari ini menggugah hati kita agar kitapun bersedia mengikuti teladan para Rasul, yang memberikan diri mereka untuk menjadi perpanjangan tangan Kristus. Kristus rindu untuk menjangkau setiap jiwa, namun untuk itu Ia mengundang kita untuk berperan serta. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19) Hai, jiwaku, apakah jawabmu, jika Tuhan Yesus berkata demikian kepadamu?

Tentang Kelahiran Yesus dan Hubungannya dengan Sensus Kirenius

4

Berikut ini adalah penjelasan yang kami terjemahkan dari buku karangan Paus Benediktus XVI dalam bukunya, “Yesus of Nazareth: The Infancy Narrative“, tentang bagaimana mendamaikan data bahwa Yesus dilahirkan di masa pemerintahan Raja Herodes (artinya sebelum Raja Herodes Agung wafat di tahun 4 BC), dan di masa sensus yang diadakan di saat Kirenius menjadi wali negeri di Syria (yang menurut catatan ahli sejarah abad pertama, Flavius Josephus, dalam Antiquities of the Jews, jatuh di tahun 6 AD):

“Masalah pertama dapat diselesaikan dengan mudah: sensus terjadi pada masa Raja Herodes yang Agung yang wafat di tahun 4 BC. Titik tolak dari perhitungan waktu- perhitungan waktu kelahiran Yesus- berasal dari perhitungan abbas Dionisius Exiguus (wafat 550 AD), yang jelas melakukan kesalahan penghitungan selama beberapa tahun. Maka, saat historis kelahiran Yesus harusnya ditempatkan beberapa tahun lebih awal.

Terdapat banyak debat tentang saat sensus diadakan. Menurut Flavius Josephus, yang kepadanya kita berhutang sumber hampir semua pengetahuan tentang sejarah sekitar zaman Yesus, sensus itu terjadi di tahun 6 AD. di bawah gubernur Kirenius (Quirinius) dan karena pada akhirnya itu adalah masalah keuangan, sensus itu mengakibatkan pemberontakan Yudas seorang Galilea (Kis 5:37). Menurut Josephus, hanya setelahnya, dan bukan sebelumnya, bahwa Kirenius menjadi aktif di kawasan Syria dan Yudea. Namun demikian, klaim ini tidaklah pasti. Sebab terdapat indikasi bahwa Kirenius telah menjadi pelayan Kaisar di Syria sejak tahun 9 BC (sebelum Masehi). Maka adalah sesuatu yang membawa titik terang, ketika para ahli seperti Alois Stoger memperkirakan bahwa ‘sensus populasi’ tersebut merupakan proses dalam keadaan saat itu yang berlangsung lama selama beberapa tahun. Lagipula, sensus itu diterapkan dalam dua tahap: yang pertama, adalah pendaftaran semua daerah dan kepemilikan properti dan lalu- di tahap kedua- penentuan tentang pembayaran yang disyaratkan. Tahap pertama terjadi pada saat kelahiran Yesus; sedangkan tahap kedua, yang sangat menyulitkan rakyat, adalah yang menyebabkan pemberontakan terjadi (lih. Stoger, Lukasevangelium, pp. 372f).

Sejumlah orang telah mengemukakan keberatan lebih lanjut bahwa hal tersebut tidak diperlukan, dalam sensus semacam ini, bahwa setiap orang harus mengadakan perjalanan untuk kembali ke tanah kelahirannya (lih. Luk 2:3). Tetapi kita juga mengetahui dari berbagai sumber bahwa mereka yang bersangkutan harus hadir menunjukkan diri mereka di tempat properti mereka. Oleh karena itu, kita dapat mengasumsikan bahwa Yusuf, dari keturunan Daud, mempunyai properti di Betlehem, sehingga ia harus pergi ke sana untuk pendaftaran pajak.

Tentang detail-detailnya, diskusi dapat berlangsung tanpa akhir. Adalah sangat sulit untuk memperoleh suatu pandangan kehidupan sehari-hari dari sebuah masyarakat yang demikian kompleks dan begitu jauh dari masyarakat kita sendiri seperti yang ada pada masyarakat di zaman kekaisaran Romawi. Namun demikian, kisah penjabaran Lukas tetaplah secara historis dapat dipercaya semuanya dengan sama: Lukas menjabarkan, sebagaimana dikatakan di pendahuluan Injilnya, “untuk membukukannya dengan teratur bagimu” (Luk 1:3). Ini nyatanya dilakukannya, dengan menggunakan sarana-sarana yang dapat diperolehnya. Apapun yang terjadi, ia berada di zaman yang lebih dekat kepada sumber-sumber dan kejadian-kejadian daripada kita, betapapun kita mengklaimnya demikian, meskipun dengan semua pengetahuan dari pembelajaran sejarah yang kita lakukan.”

Melihat fakta tersebut, yaitu bahwa: 1) kemungkinan terjadi dua tahap sensus yang dimulai sekitar tahun 9 BC saat Kirenius mulai bertugas di kekaisaran Siria, dan tahun 6 AD menurut tulisan sejarawan Josephus, 2) kelahiran Yesus adalah beberapa tahun sebelum wafat Raja Herodes di tahun 4 BC, dan juga 3) konjungsi planet Jupiter dan Saturnus yang terjadi di sekitar tahun 7-6BC yang mengakibatkan cahaya bintang yang terang di sekitar Betlehem, maka Paus memperkirakan tahun kelahiran Tuhan Yesus adalah sekitar tahun 7-6BC.

Apakah arti Gereja yang Apostolik?

1

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan maksud pernyataan ‘Gereja yang Apostolik’ sebagai berikut:

KGK 857    Gereja itu apostolik, karena ia didirikan atas para Rasul dalam tiga macam arti:

– ia tetap “dibangun atas dasar para Rasul dan para nabi” (Ef 2:20, Bdk. Why 21:14), atas saksi-saksi yang dipilih dan diutus oleh Kristus sendiri (Bdk. misalnya Mat 28:16-20; Kis 1:8, 1 Kor 9:1; 15:7-8; Gal 1:1);
– dengan bantuan Roh yang tinggal di dalamnya, ia menjaga ajaran (Bdk. Kis 2:42), warisan iman, serta pedoman-pedoman sehat para Rasul dan meneruskannya (Bdk. 2 Tim 1:13-14).
– ia tetap diajarkan, dikuduskan, dan dibimbing oleh para Rasul sampai pada saat kedatangan kembali Kristusdan justru oleh mereka yang mengganti para Rasul dalam tugasnya sebagai gembala: Dewan para Uskup, “yang dibantu para imam, dalam kesatuan dengan pengganti Petrus, gembala tertinggi Gereja” (AG 5).

“Engkaulah Gembala kekal yang tidak pernah meninggalkan kami, kawanan-Mu, tetapi selalu menjaga dan melindungi dengan perantaraan para Rasul-Mu. Engkau telah melantik para Rasul itu sebagai gembala yang memimpin kawanan-Mu, yaitu umat yang percaya kepada Putera-Mu” (MR, Prefasi Rasul).

KGK 858    Yesus adalah Yang diutus oleh Bapa. Pada awal karya-Nya “Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya,… Ia menetapkan dua belas orang, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:13-14). Oleh karena itu, mereka adalah “utusan-Nya” (Yunani “apostoloi”). Dalam diri mereka, Ia melanjutkan perutusan-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21, Bdk. Yoh 13:20;17:18). Pelayanan para Rasul melanjutkan perutusan Kristus: “Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku”, demikian Ia berkata kepada keduabelasan (Mat 10:40, Bdk. Luk 10:16).

KGK 859    Yesus mengikut-sertakan para Rasul dalam perutusan yang diterima-Nya dari Bapa. Seperti Anak “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri” (Yoh 5:19.30), tetapi menerima segala sesuatu dari Bapa, yang telah mengutus-Nya, demikian juga mereka yang diutus oleh Yesus tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Dia (Bdk. Yoh 15:5), dari Siapa mereka menerima tugas misi dan kekuatan untuk melaksanakannya. Dengan demikian para Rasul Kristus mengetahui, bahwa mereka diberi kuasa oleh Allah sebagai “pelayan Perjanjian Baru” (2 Kor 3:6), “pelayan Allah” (2 Kor 6:4), “utusan dalam nama Kristus” (2 Kor 5:20), “pelayan Kristus… dan pengemban rahasia-rahasia Allah” (1 Kor 4:1).

KGK 860    Dalam tugas para Rasul ada satu bagian yang tidak dapat diserahkan: tugas sebagai saksi-saksi terpilih kebangkitan Tuhan dan dasar Gereja. Tetapi di dalamnya juga terletak sekaligus satu tugas yang dapat diserahkan. Kristus menjanjikan kepada mereka bahwa ia akan tinggal bersama mereka sampai akhir zaman (Bdk. Mat 28:20). Karena itu “perutusan ilahi yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul itu, akan berlangsung sampai akhir zaman. Sebab Injil yang harus mereka wartakan, bagi Gereja merupakan asas seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam himpunan yang tersusun secara hierarkis itu para Rasul telah berusaha mengangkat para pengganti mereka” (LG 20).

KGK 861    Para Rasul “tidak hanya mempunyai berbagai pembantu dalam pelayanan. Melainkan supaya perutusan yang dipercayakan kepada para Rasul dapat dilanjutkan sesudah mereka meninggal, mereka menyerahkan kepada para pembantu mereka yang terdekat – seakan-akan sebagai wasiat – tugas untuk menyempurnakan dan meneguhkan karya yang telah mereka mulai. Kepada mereka itu para Rasul berpesan, agar mereka menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk menggembalakan jemaat Allah. Jadi para Rasul mengangkat orang-orang seperti itu; dan kemudian memberi perintah, supaya bila mereka sendiri meninggal, orang-orang lain yang terbukti baik mengambil alih pelayanan mereka” (LG 20, Bdk. Klemens dari Roma, Kor. 42; 44).

KGK 862     “Seperti otoritas yang dipercayakan oleh Tuhan kepada Rasul Petrus sendiri, sebagai yang pertama dari antara para rasul, yang ditentukan untuk diteruskan kepada para penerusnya, adalah sesuatu yang bersifat tetap, demikian juga otoritas yang diterima oleh para Rasul yang lain, untuk menggembalakan Gereja, sebuah tugas yang ditentukan untuk dilaksanakan tanpa terputus oleh tahbisan suci para Uskup.” (LG 20,2) Demikianlah Gereja mengajarkan bahwa ‘para Uskup, oleh penentuan ilahi, telah menempati tempat para Rasul sebagai para gembala Gereja, sedemikian sehingga siapapun yang mendengarkan mereka mendengarkan Kristus dan siapapun yang menolak mereka menolak Kristus dan Ia yang mengutus Kristus.” (LG 20,2)

KGK 863    Seluruh Gereja bersifat apostolik dalam arti bahwa ia, melalui pengganti-pengganti santo Petrus dan para Rasul, tinggal bersatu dengan asalnya dalam persekutuan hidup dan iman. Seluruh Gereja juga apostolik dalam arti bahwa ia telah “diutus” ke seluruh dunia. Semua anggota Gereja mengambil bagian dalam perutusan ini, walaupun atas cara yang berbeda-beda. “Panggilan kristiani menurut hakikatnya merupakan panggilan untuk merasul juga.” “Kerasulan” ialah “setiap kegiatan Tubuh mistik” yang mengusahakan, agar “seluruh dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus” (AA 2).

KGK 865        Gereja adalah satu, kudus, katolik, dan apostolik dalam identitasnya yang dalam dan terakhir, karena di dalamnya sudah ada “Kerajaan surga”, “Kerajaan Allah” (Bdk. Why 19:6). Di dalamnya Kerajaan itu akan disempurnakan pada akhir zaman. Ia telah datang dalam pribadi Kristus dan dalam hati mereka, yang telah menggabungkan diri dengan-Nya, ia tumbuh penuh rahasia sampai kepada kesempurnaan eskatologis. Pada waktu itu, semua manusia, yang ditebus oleh-Nya dan yang telah menjadi kudus di dalam-Nya dan tak bercela di hadirat Allah (Bdk.Ef 1:4), akan dikumpulkan sebagai Umat Allah satu-satunya, sebagai “mempelai Anak Domba” (Why 21:9), “Kota Suci Yerusalem yang turun dari surga, dari Allah, penuh dengan kemuliaan Allah” (Why 21:10-11). “Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama dari kedua belas Rasul Anak Domba itu” (Why 21:14).

KGK 869    Gereja adalah apostolik: Ia telah dibangun atas dasar kuat: atas “kedua belas Rasul Anak Domba” (Why 21:14); ia tidak dapat dirobohkan (Bdk. Mat 16:18); ia tidak dapat salah dalam menyampaikan kebenaran; Kristus membimbingnya melalui Petrus dan para Rasul yang lain, yang ada dengannya dalam pengganti-penggantinya, Paus dan Dewan para Uskup.

KGK 870    “Satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik… berada dalam Gereja Katolik yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8).

Silly Gift

0

Aku masih bisa mengingat masa kecilku yang konyol. Ketika Hari Ibu, aku dan adik berpikir keras untuk bisa memberi ibuku sebuah hadiah. Kami tidak tahu apa yang bisa kami beri karena kami masih SD. Boro-boro punya tabungan, uang jajan yang sudah minim itu selalu kami pakai untuk membeli jajan, entah bakso sekolahan yang menggiurkan, mi kremes penuh MSG dan pengawet yang membuat jadi o’on tapi lezat, atau permen Jagoan Neon yang membuat lidah berwarna seperti habis minum cat air. Terinspirasi oleh kisah di sebuah majalah anak-anak, alias Bobo, kami akhirnya membuat kupon-kuponan dari sobekan kertas dengan tulisan “Kupon Pijat Gratis”.

Sambil malu-malu kucing, kami menyerahkan hadiah itu kepada bunda. Kami berkata bahwa ia boleh menggunakan kupon itu agar kami pijat bila lelah bekerja. Ketika kami berikan pada beliau, beliau hanya tertawa geli. Setelah dipikir-pikir lagi, hadiah tersebut terlihat konyol sekali. Apalagi, kalau aku mengingat-ingat kejadian itu di usiaku saat ini. Apalah artinya kertas dan coretan tangan carut-marut itu? Sama sekali tidak berharga. Tapi, ibuku menerimanya dengan senyum dan menyimpannya. Aku kecil dan adikku saat itu tersenyum puas karena merasa telah memberikan sesuatu untuk ibu.

Mungkin, begitulah maksud dari kata-kata St. Josemaria Escriva yang mengatakan bahwa betapa pemberian hidup seseorang terlihat kecil bila diberikan kepada Allah. Allah begitu agung, mulia, dan bahagia. Dalam kehidupan interiornya, Allah Tritunggal tidak membutuhkan apa-apa lagi. Sedikitpun pujian dariku tidak menambah kemuliaan-Nya. Sedikitpun persembahanku tidak menambah keagungan-Nya.

Sungguh, para bangsa bagaikan setitik air pada pinggir timba, bagaikan sebutir debu pada neraca. Sungguh, pulau-pulau tidak lebih berat dari tepung halus.
Semua hutan tidak cukup kayu bakarnya untuk kurban bakaran, dan segala margasatwa tidak cukup untuk persembahan. Di hadapan Tuhan, segala bangsa tidak berarti apa-apa, bagi Tuhan mereka hampa dan ketiadaan belaka
” (Yes 40 : 15-17).

Akan tetapi, seperti orangtuaku, Ia menyambut persembahanku yang konyol itu. Ia melihat cinta yang aku selipkan dalam persembahanku itu, sebagaimana ibuku menghargai pemberianku dan adikku yang sebenarnya tidak berarti. Penderitaan dan pengorbanan diri yang aku persembahkan, yang aku satukan dengan korban Kristus yang sempurna, Allah Bapa terima dengan senyum yang lebar. Sungguh, Allah menampakkan rupa-Nya dalam diri orangtuaku. Hanya saja, aku sebagai anak-anak dan remaja seringkali lamban dalam menangkap Rupa-Nya yang tersamar itu.

Memang, Ia menerima persembahan diriku dengan segala kekuranganku. Permasalahannya adalah apakah aku telah memberikan diriku secara total. Apakah aku telah benar-benar memberi diriku padaNya tanpa menahan diri? Bila persembahan diri manusia secara total saja sebenarnya adalah tidak berarti menambah kemuliaan Tuhan, apalagi pemberian yang tidak penuh. Apabila gulali sebenarnya tidak bernilai bagi seorang dewasa, apalagi Allah Mahakuasa, apalagi gulali yang dipintal dengan setengah hati? Akankah aku terus bersembunyi di balik kelemahanku dan tidak berusaha memberikan persembahan dengan lebih baik lagi?

Betapa pemberian hidup seseorang terlihat kecil bila diberikan pada Allah” – St. Josemaria Escriva

Lihatlah, Anak Domba Allah!

0

[Minggu biasa ke-2: Yes 49:3,5-6; Mzm 40:2-10; 1Kor 1:1-3; Yoh 1:29-34]

Di tahun 1998 ketika kami bermukim di Filipina, saya kerap mengikuti perayaan Ekaristi di gereja kecil di dekat rumah kami. Saya mengagumi lagu-lagu yang dinyanyikan di sana, karena melodinya yang sangat indah dan menyentuh hati. Lagu yang tidak akan pernah kulupakan, berjudul, Kordero ng Diyos, yang terjemahannya adalah, Anak Domba Allah. Walau dinyanyikan dalam bahasa Tagalog yang tidak kumengerti, namun setiap kali lagu itu dikumandangkan, tak kuasa aku membendung air mataku. Kordero ng Diyos, na nag-aalis, ng mga kasalanan ng mundo, Maawa Ka sa amin …. Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami!

Sejujurnya, sebagai umat Katolik, kita sudah sering menyanyikan doa ini. Namun seberapa dalam kita menghayatinya, itu adalah pertanyaannya. Istilah ‘Anak Domba Allah’, memang mengandung misteri. Mengapa kok Yesus menghendaki kita mengenang-Nya dengan sebutan nama hewan? Sungguh, tanpa kita membaca kitab Perjanjian Lama dan kitab Wahyu, mungkin akan sulit bagi kita untuk memahaminya. Dalam Perjanjian Lama, Allah mensyaratkan kurban anak domba yang tak bercela sebagai korban penebus dosa (lih. Im 4:32;5:6,14). Kitab Kejadian juga mencatat bagaimana Allah membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Mesir melalui korban anak domba. Jika kita merenungkan kisah-kisah ini, kita akan mengetahui bahwa Allah mempunyai maksud tersendiri dengan menyebut Yesus Putera-Nya sebagai Anak Domba Allah. Ya, sebab Yesus adalah penggenapan makna kurban anak domba, yang tertulis dengan begitu seringnya, dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Sebab oleh kurban Kristus, kita umat-Nya dibebaskan dari penjajahan umat manusia yang terbesar, yaitu dari dosa dan maut. Kurban Yesus merupakan penggenapan janji Allah dan nubuat para nabi, yang sudah dinanti-nantikan selama ribuan tahun. Kurban Kristus mengakhiri kurban anak domba Perjanjian Lama yang berkali-kali dipersembahkan, karena hanya kurban Kristuslah yang sesungguhnya dapat menghapuskan dosa kita manusia. Kurban Yesus yang memberikan kepada kita hidup-Nya sendiri, menghantar kita kepada kehidupan yang kekal. Begitu besarlah kasih Tuhan kepada kita, sehingga memberikan Putera-Nya yang Tunggal sebagai kurban tebusan atas dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, seluruh isi Surga, para malaikat dan tua-tua tersungkur menyembah Dia, Sang Anak Domba Allah (lih. Why 7:9-17).

Oleh kuasa Roh Kudus, kurban Anak Domba Allah yang satu dan sama itu, dihadirkan kembali dalam setiap perayaan Ekaristi kudus. Maka, Kurban penebus dosa itu tak hanya dapat diterima oleh umat Israel di masa lalu, namun juga oleh kita yang hidup di masa sekarang. Kurban Kristus itu tidak hanya ditujukan kepada umat manusia secara keseluruhan, tetapi juga ditujukan secara khusus, untuk setiap kita. Ya, untuk Anda dan saya. Sang Anak Domba Allah itu, datang mengunjungi kita dalam rupa roti, supaya dapat kita santap dan menjadi satu dengan kita. Agar dengan demikian, kita menerima buah-buah pengorbanan-Nya, yaitu pengampunan dosa-dosa kita, dan kehidupan ilahi-Nya. Betapa kita perlu berdoa kepada Tuhan, agar semakin hari kita semakin memahami misteri ini dan menghayatinya!

Maka, mari mengarahkan mata hati kita kepada Tuhan Yesus, setiap kali hosti kudus itu diangkat oleh tangan para imam-Nya yang berkata, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia….” Saat itu adalah saat yang kudus, saat kita boleh memandang Tuhan kita, Yesus Kristus, yang rela mengorbankan Diri-Nya untuk kita, sebagai kurban yang mendamaikan kita dengan Allah. Mari kita memandang Dia, yang sudah ditikam oleh karena dosa-dosa kita. Semoga dengan merenungkan kasih pengorbanan Kristus bagi kita, kita akan terdorong untuk selalu hidup dalam semangat tobat yang sejati.

“Tuhan Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa ku dan dosa umat manusia, kasihanilah aku dan seluruh dunia. Tumbuhkanlah di dalam jiwaku, rasa syukur atas pengorbanan-Mu. Semoga semakin hari semakin kuhayati, bahwa dengan menyambut Ekaristi, aku menyambut Engkau sendiri, Sang Anak Domba Allah, yang akan menghantarkanku masuk dalam kehidupan yang kekal.”

Bagaimana Melepaskan Diri dari kebiasaan Dosa Ketidakmurnian?

13

Maaf, cara instan tidak berkhasiat!

Dewasa ini ada banyak cara ditawarkan, agar orang yang gemuk dapat mengurangi berat badannya. Tak jarang cara yang dianjurkan sangat ekstrim, mulai dari diet yang berlebihan, minum obat pengurus badan, sampai operasi sedot lemak. Namun, dari semua cara untuk menguruskan badan, tidak ada cara yang lebih efektif dari dua hal ini: mengatur pola makan dan olahraga yang teratur. Walaupun semua orang tahu dua cara yang paling efektif ini, namun banyak orang cenderung untuk tidak mau melaksanakannya, karena tidak mau repot-repot. Umumnya orang berkeinginan untuk tidak mengadakan perubahan pola hidup, tetap makan seenaknya, tidak perlu olahraga, namun badan tetap ideal. Singkatnya, tak usah berubah, namun segera mencapai hasil memuaskan. Tak mengherankan bukan, sebab orang cenderung mau yang serba instan!

Nampaknya, hal serupa terjadi dalam spiritualitas. Banyak orang yang terjerat dosa ketidakmurnian selama bertahun-tahun, sehingga telah berakar di dalam hati serta telah menjadi kebiasaan, ingin lepas dari dosa yang berbahaya ini. Namun demikian, mereka menginginkan cara yang instan dan tidak mau repot untuk mengubah pola hidup. Padahal untuk dapat lepas dari dosa yang melawan kemurnian, apalagi yang telah mengakar dalam hati, tidak ada cara yang instan. Kelemaham ini namun harus disikapi dengan cara yang sebenarnya banyak orang sudah tahu, yaitu: dengan terus bergantung pada rahmat Allah yang mengalir dalam doa dan sakramen, tekun dalam membaca Firman Tuhan, menjauhi kesempatan untuk berbuat dosa, dan bertumbuh dalam komunitas. Tentu saja, semua hal ini bukanlah cara yang instan, namun ini adalah cara yang telah terbukti berhasil, sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan sejumlah orang kudus dalam sejarah Gereja.

Dosa melawan kemurnian yang dapat menjadikan seseorang menjadi hamba dosa

Dosa melawan kemurnian dalam konteks pelanggaran seksual adalah dosa yang mungkin merupakan dosa yang paling sering dilakukan oleh manusia. Beberapa pelanggaran terhadap kemurnian adalah: nafsu/ ketidakmurnian, masturbasi/ onani, percabulan, pornografi, prostitusi, perkosaan, homoseksualitas. (lih. KGK 2351-2357). Silakan melihat pembahasannya di sini – silakan klik. Dalam sepuluh perintah Allah, Tuhan memberikan larangan kepada seseorang untuk menginginkan wanita yang bukan istrinya (perintah ke-9) maupun untuk melakukan percabulan (perintah ke-6). Kristus, bahkan lebih jauh mengatakan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28). Rasul Paulus menuliskan bahwa Allah menghendaki pengudusan kita, agar kita menjauhi percabulan (lih 1Tes 4:3). Katekismus Gereja Katolik menggolongkan dosa ketidakmurnian – dalam hal ini percabulan – menjadi salah satu dosa-dosa pokok, yang dapat mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain timbul (KGK 1866).  Dalam kehidupan sehari-hari, dapat terjadi, orang yang sering berfikir tidak murni dapat terjerat pada dosa pornografi, kemudian disusul dengan percabulan ataupun perzinahan, sehingga ia mempunyai pasangan di luar nikah. Akibat selanjutnya dia akan menelantarkan keluarga, sehingga keluarga hancur berantakan, dan anak-anak juga menuai akibatnya. Itulah rangkaian dosa dan akibat yang mungkin timbul, yang disebabkan oleh dosa ketidakmurnian. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap dosa ketidakmurnian ini.

Kalau jenis dosa ini tidak ditangani secara serius dan sesegera mungkin, maka seseorang dapat terjebak pada dosa yang sama ini, dan melakukannya terus secara berulang-ulang, sampai ia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari jerat dosa ini. Secara berangsur-angsur jiwanya menjadi terbiasa untuk melakukan dosa, dan lama-kelamaan ia menjadi terampil dalam melakukan dosa tersebut. Begitu ada kesempatan berbuat dosa datang, maka orang itu seperti mempunyai naluri untuk secara otomatis melakukan dosa tersebut dan kehilangan kekuatan untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa. Dengan kata lain, orang tersebut menjadi budak dosa.

Ada begitu banyak orang yang mungkin mengalami pengalaman sedemikian, sejumlah di antara mereka  mengajukan pertanyaan ke redaksi katolisitas, untuk menanyakan bagaimana caranya melepaskan diri dari dosa ketidakmurnian yang telah menjadi kebiasaan. Banyak orang telah terjerat dalam pornografi, onani dan masturbasi, serta dosa ketidakmurnian yang lain, berniat untuk bertobat, mengaku dosa, namun kemudian kembali lagi kepada dosa yang sama. Ada yang mencoba mengikuti retret, berhasil untuk keluar dari dosa ini untuk sementara, kemudian terjatuh lagi setelah beberapa saat. Tidak jarang, kadang semua usaha ini seperti sia-sia dan akhirnya berakhir pada keputusasaan. Pendek kata, kalau dosa ini telah mengakar dalam hati dan telah menjadi kebiasaan, maka sulit sekali untuk dicabut sampai ke akar-akarnya. Apakah ada cara untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ini? Tentu saja ada, karena Yesus sendiri menjanjikan “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (lih. Yoh 8:32)

Menyadari kelemahan dan konsekuensi dosa adalah langkah awal perbaikan

Langkah pertama untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ketidakmurniaan yang telah menjadi kebiasaan adalah menghadapkannya kepada kebenaran itu sendiri. Ini diawali dengan menyadari bahwa ada yang salah dalam diri kita, dan kita telah melakukan dosa. Setelah Raja Daud berbuat dosa perzinahan dengan Batsyeba, maka dia mengakui dosanya dengan jujur, “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm 51:3-4). Kesadaran akan kebenaran ini menjadi langkah awal untuk memperoleh kembali kehidupan yang penuh rahmat.

Ada banyak orang yang telah jatuh ke dalam dosa ketidakmurnian kemudian membuat pembelaan dan menyalahkan segala hal, kecuali dirinya sendiri. Ada yang mulai menyalahkan keluarganya yang kurang memberikan pondasi iman, sehingga dengan mudah dia jatuh dalam dosa. Ada yang berkilah bahwa lingkungan dan teman-teman yang tidak baiklah yang mendorongnya untuk berbuat dosa. Bahkan ada yang menyalahkan setan yang senantiasa menggodanya, sehingga sulit baginya untuk lepas dari dosa ini. Walaupun mudah untuk membuat segudang alasan, namun semua alasan tersebut tidak akan membantu orang yang ingin memperbaiki diri, sampai dia sendiri mengatakan “Ya, saya telah berbuat dosa dan saya telah berkata ya terhadap godaan.” Lingkungan, semua orang, atau bahkan setan dapat saja menggoda kita, namun pada akhirnya dosa adalah keputusan dari kehendak kita, yang tidak menolak dosa namun justru menyetujui dosa dan melakukannya secara sadar. Dengan demikian, kalau kita berdosa, maka yang perlu disalahkan adalah diri kita sendiri, karena sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat yang cukup untuk membantu kita agar dapat menolak dosa dan terus bertumbuh dalam kekudusan.

Kita juga perlu menyadari bahwa kalau kita terus melakukan dosa yang sama berulang-ulang dan menjadi satu kebiasaan, maka sesungguhnya kita telah membahayakan keselamatan kekal jiwa kita. Walaupun kita dapat berdalih bahwa dosa yang menjadi kebiasaan bukanlah dosa berat, namun dosa ringan sekalipun yang terus diulang-ulang akan berkembang menjadi dosa berat. Dan kalau kita tidak bertobat dari dosa berat ini dan meninggal dalam kondisi dosa berat, maka kita telah menempatkan diri sendiri dalam penghukuman Tuhan. Pada tahap awal, ketakutan akan penghukuman Tuhan dapat menjadi pemicu kita untuk masuk dalam pertobatan. Namun selanjutnya, kasih akan Allah-lah yang akan mendorong kita agar menghindari dosa, sebab mengetahui bahwa dosa itu memisahkan kita dari Allah.

Rahmat Allah menjadi kunci pembebasan

Kesadaran bahwa dosa membuat kita tidak berkenan di hadapan Tuhan, ini sebenarnya adalah gerakan Roh Kudus yang memberikan rahmat pembantu (actual grace) kepada kita. Rahmat ini menyadarkan kita bahwa kita telah berdosa dan memerlukan pertobatan. Pertanyaannya adalah, apakah kita sungguh-sungguh dapat bekerjasama dengan rahmat Allah ini? Keinginan untuk bertobat dapat memberikan efek (efficacious), namun bisa juga tidak memberikan efek (inefficacious). Hal ini disebabkan karena kita sebagai manusia sering berusaha untuk memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Hal ini juga dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Namun sebagaimana diakui oleh St. Agutinus, semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal.

Dalam bukunya, Confessions, St. Agustinus mengungkapkan transformasi keinginannya untuk memperbaiki diri yang hanya mungkin direalisasikan dengan bantuan rahmat Tuhan yang dibarengi dengan kerjasama dari pihaknya sebagai manusia. Dia mengungkapkan peperangan di dalam batinnya, yang walaupun menginginkan untuk hidup murni, namun seringkali hanya berakhir pada keinginan belaka tanpa tindakan nyata. Seringkali keinginan mempunyai “keinginan tersembunyi” – yaitu tetap menginginkan ketidakmurnian – sehingga ketika keinginan untuk hidup murni datang, tidak benar-benar dilakukan dengan keinginan yang teguh dan tak tergoyahkan. St. Agustinus mengungkapkannya dengan jujur, “Tuhan, berikan aku kemurnian, namun jangan sekarang”.

Kesadaran bahwa dengan kekuatan sendiri, kita akan gagal untuk memperbaiki diri, sudah seharusnya mengingatkan kita bahwa hanya dengan bantuan rahmat Allah saja, kita dapat menjadi murni dan terlepas dari dosa-dosa ketidakmurnian yang telah menjadi kebiasaan. Kesadaran inilah yang membawa St. Agustinus pada pertobatan yang sungguh, yaitu ketika dia menyesali mengapa tidak sejak awal ia meminta kepada Allah untuk memberikan rahmat-Nya supaya dia dapat terlepas dari dosa tersebut.

Di sisi lain, kita dapat melihatnya demikian: kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Kalau dosa ketidakmurnian telah menjadi kebiasaan, artinya orang yang melakukannya telah menjauh diri dari kasih. Maka untuk mematahkan dosa tersebut, diperlukan kasih Allah. Kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita (lih. 1Yoh 4:10). Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan membiarkan kasih Kristus meraja di dalam hati kita. Untuk itu, kita dapat melakukan retret, mempunyai kehidupan sakramen yang baik, bertekun dalam Firman Tuhan dan doa-doa pribadi.

1. Retret atau rekoleksi menjadi pendobrak.

Kalau kondisi memungkinkan, mengikuti retret maupun rekoleksi dapat menjadi langkah awal yang efektif. Diharapkan seseorang dapat kembali mengulang saat-saat indah bersama Allah dan akhirnya akan kembali ke jalan Tuhan. Ada cukup banyak retret yang diadakan dalam komunitas Gereja Katolik, baik dalam lingkup teritorial maupun kategorial. Sudah seharusnya, kalau memungkinkan kita dapat mengikuti retret atau rekoleksi satu tahun sekali. Dengan mengikuti retret, bukan berarti seseorang terbebas selamanya dari kebiasaan untuk melakukan dosa ketidakmurnian. Tanpa bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus, seseorang akan dengan mudah jatuh kembali ke dosa ini. Kalau diumpamakan dengan penyakit yang telah parah dan ingin diobati, maka retret adalah seperti melakukan operasi. Sama seperti setelah operasi diperlukan tahapan untuk mengubah pola hidup dan pola makan yang teratur, maka setelah retret juga diperlukan perubahan sikap hidup, yang harus dilakukan secara teratur dan terus menerus.

2. Menerima Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat secara teratur.

Perubahan sikap hidup dan laku spiritualitas harus dimulai dengan terus bergantung kepada rahmat Allah. Allah telah memberikan sakramen sebagai cara yang dipilih-Nya untuk menyalurkan rahmat-Nya. St. Leo Agung mengajarkan, “Apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya”/ sakramen-sakramen-Nya” (KGK 1115). Dengan kata lain, setiap kali kita menerima sakramen-sakramen, maka kita bertemu dengan Kristus yang menyalurkan rahmat-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Allah menimba kekuatan dari rahmat Allah yang mengalir dari sakramen-sakramen-Nya. Maka penting di sini agar kita memahami makna sakramen, menghayatinya, dan mempersiapkan batin untuk menyambutnya, agar kita dapat memperoleh buah-buahnya secara efektif.

Karena Kristus telah menginstitusikan Sakramen Tobat untuk mengampuni dosa – baik dosa ringan dan dosa berat – maka sudah seharusnya pertobatan yang sungguh dimulai dengan menerima sakramen Pengakuan Dosa. Adalah baik untuk mempersiapkan sakramen pengakuan dosa dengan sungguh-sungguh, dengan mengadakan pemeriksaan batin yang baik. Untuk mengetahui bagaimana mempersiapkan pengakuan dosa yang baik, silakan melihat artikel ini – silakan klik. Dengan mengadakan pemeriksaan batin yang baik dan memohon kekuatan dari Roh Kudus, semoga kita mempunyai keberanian untuk mengakukan dosa tanpa berusaha menyembunyikan atau memberikan pembelaan diri. Semoga sikap ini dibarengi oleh kemantapan hati untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, pengampunan dosa akan memberikan efek yang sungguh luar biasa bagi orang yang tulus ingin memperbaiki diri.

Bagi orang yang berjuang untuk terlepas dari dosa yang telah menjadi kebiasaan, seringkali tidaklah cukup untuk mengaku dosa hanya satu kali. Seringkali, seseorang akan jatuh lagi ke dalam dosa yang sama, walaupun dia telah mengaku dosa dengan tulus dan penuh kesungguhan hati. Kalau menghadapi situasi seperti ini, kita tidak boleh berputus asa dan berhenti untuk mengakukan dosa yang sama. Yang terpenting, kita berfokus pada belas kasih Allah dan rahmat Allah, yang dapat membantu kita untuk dapat melawan godaan, sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Kita tetap membuat resolusi yang teguh untuk mengakukan dosa secara teratur, sekitar satu bulan sekali, atau dua minggu sekali atau bahkan setiap minggu, jika berkaitan dengan dosa-dosa yang sedemikian menjerat. Dan sungguh baik kalau kita mengakukan dosa kepada pastor yang sama, sehingga pastor tersebut dapat membantu kita untuk menangani dosa yang sama ini dengan lebih baik.

Kita meyakini bahwa rahmat Allah pasti mengalir dari Sakramen Tobat dan memurnikan kita. Namun, biarlah kita juga menerima proses pemurnian ini baik dalam waktu singkat maupun cukup lama. Melalui proses pemurnian yang melibatkan jatuh bangun, maka kita akan semakin disadarkan bahwa kita sesungguhnya adalah ciptaan yang lemah, yang rentan untuk berbuat dosa. Namun, kesadaran akan kelemahan kita harus dibarengi dengan kesadaran bahwa Allah mampu untuk menolong kita, karena Dia adalah Allah yang maha kasih dan maha kuasa. Kesadaran ini akan semakin membuat kita menjadi lebih rendah hati dan terus bergantung pada rahmat Allah dalam proses pemurnian ini.

Kerendahan hati bahwa tanpa rahmat Allah kita tidak akan sanggup melawan godaan dan tidak akan sanggup menjaga kemurnian, membuat kita terus mengandalkan rahmat Allah dan terus berusaha untuk bersatu dengan Kristus. Tidak ada persatuan yang lebih indah dan lebih dalam antara kita dengan Kristus di dunia ini, kecuali persatuan dalam Sakramen Ekaristi. Yesus sendiri mengatakan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Oleh karena itu, kalau memungkinkan kita dapat menerima Ekaristi bukan hanya pada waktu hari Minggu, namun beberapa kali dalam seminggu atau setiap hari dalam Misa harian. Yakinlah, bahwa persatuan kita dengan Kristus dalam Ekaristi akan memberikan rahmat yang sungguh indah, yang akan memberikan kekuatan dalam melawan dosa yang telah berakar dalam hati kita. Dengan Kristus sendiri terus bersatu dalam tubuh, darah, dan hati kita, maka Dia akan mencabut akar dosa dalam diri kita. Jika kita jatuh kembali ke dosa tersebut, kita perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan terlebih dahulu, sebelum dapat menerima Komuni kudus. Dengan terhalangnya kita menerima Kristus dalam Komuni kudus (jika kita terjatuh dalam dosa yang sama tersebut), kita diingatkan bahwa ada yang salah pada diri kita, dan untuk itu kita akan semakin terdorong untuk memperbaikinya.

3. Firman Tuhan menjadi pelita kehidupan

Sabda Tuhan mengajarkan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Dengan semakin mendalami Firman Tuhan, kita akan semakin mengetahui apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan dapat menegur dan pada saat yang bersamaan dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Kita dapat mengikuti bacaan berdasarkan kalendar liturgi Gereja Katolik, seperti dalam buku: ruah, mutiara iman, dll. Pada tahap awal, kita dapat menggunakan metode lectio divina dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci. Silakan melihat penjabaran metode ini di sini – silakan klik.

4. Memupuk kedekatan dengan Tuhan melalui doa

Doa memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat menghadapi godaan-godaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Kalau penerimaan Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi dilakukan secara teratur, juga dibarengi doa pribadi yang teratur dan sungguh-sunguh, maka kita akan semakin bersatu dengan Tuhan dalam keseharian dan semakin dapat mengerti apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan kita, yaitu menjauhi dosa dan terus bertumbuh dalam kekudusan (lih. 1Tes 4:3). Doa yang terus-menerus juga menjadi salah satu ‘obat’nya. Gereja Katolik menganjurkan agar umatnya dapat melakukan ejaculation prayer, yaitu doa spontan dengan kalimat-kalimat pendek, yang didaraskan sepanjang hari. Jika godaan datang atau di tengah aktivitas sehari-hari, maka kita dapat memanjatkan doa singkat sesering mungkin, seperti: “Yesus, aku mengasihi-Mu”; “Yesus, kasihanilah aku”; dll. Dengan demikian, doa dapat mewarnai hari-hari kita dan menghindarkan kita dari perbuatan dosa.

Berlatih kebajikan kemurnian

Setelah dengan sungguh-sungguh membina hubungan yang baik dengan Tuhan, maka perlulah kita melatih kebajikan yang berlawan dengan kebiasaan buruk tersebut. Jadi, kebiasaan buruk ketidakmurnian harus dilawan dengan kemurnian. Kebiasaan buruk di dalam jiwa kita adalah satu kejahatan (vice). Lawan dari vice ini adalah virtue atau kebajikan – yaitu kebiasaan dari jiwa untuk melakukan hal-hal yang baik. Kebajikan membuat jiwa secara otomatis, siap sedia untuk melakukan kebajikan dengan sukacita. Kebiasaan yang baik di dalam jiwa ini secara perlahan-lahan akan mengikis dan kemudian menghilangkan kebiasaan yang buruk tersebut.

St. Thomas Aquinas mengatakan, “seseorang tidak akan menang dengan menempatkan penahan, sebab semakin seseorang memikirkan tentang hal tersebut, semakin ia akan terpengaruh olehnya. Ia akan menang jika ia lari daripadanya – yaitu dengan menghindari pikiran-pikiran yang cemar itu sepenuhnya dan dengan menghindari semua kesempatan untuk berbuat dosa” ((St. Thomas Aquinas, Commentary on 1 Cor, ad loc.)) St. Yohanes Vianney memberikan tips serupa untuk melaksanakan kemurnian, demikian, “Pertama, waspadalah terhadap apa yang kita lihat, dan apa yang kita pikirkan, kita katakan dan kita lakukan; kedua, berlindunglah pada kekuatan doa; ketiga, seringlah menerima sakramen dengan pantas; keempat, larilah dari apapun yang dapat mencobai kita terhadap dosa ini, kelima, milikilah devosi kepada Perawan Maria yang terberkati. Jika kita melakukan semua ini, maka, tak peduli apapun yang dilakukan oleh musuh-musuh kita (si Jahat), dan tak peduli apakah kebajikan yang kita miliki masih sangat rapuh, namun kita dapat yakin bahwa kita sedang bertahan di dalamnya [dalam kebajikan kemurnian tersebut].” ((St. John Mary Vianney, Sermon on the seventeenth Sunday after Pentecost, II)).

Jadi, untuk mengembangkan kebajikan kemurnian, selain bertekun dalam doa dan sakramen, serta meminta kepada Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya, agar kita dapat menjadi murni di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah untuk menghindari segala kesempatan yang mendorong untuk berbuat dosa ketidakmurnian. Seorang pemabuk yang ingin memperbaiki diri dari kecanduan alkohol, harus membuang seluruh minuman beralkohol di rumah, di kantor, serta menghindari tempat yang menyediakan alkohol, menjauhkan diri dari teman-teman yang mempunyai potensi mengajaknya untuk bermabuk-mabukan. Demikian juga orang yang terbiasa hidup dalam ketidakmurnian, maka dia harus menjauhi segala hal yang dapat membuatnya jatuh kembali. Dia harus berhati-hati bahkan kalau diperlukan menghindari sementara kegiatan untuk berselancar dalam internet, kecuali untuk urusan pekerjaan dan pelajaran sekolah. Dia juga harus menghindari teman-teman yang sering berkata-kata cabul, mengajak berbuat cabul. Dia juga harus menghindari tempat-tempat yang dapat membawanya kembali pada ketidakmurnian, serta menghindari untuk melihat acara-acara tv maupun video yang dapat membangkitkan nafsu-nafsu liar. St. Agustinus mengatakan, “Jangan mengatakan bahwa engkau mempunyai kemurnian pikiran, jika engkau mempunyai mata yang tidak murni, karena mata yang tidak murni adalah pembawa berita dari hati yang tidak murni.” ((St. Agustine, Letter 211. His Rule))

Komunitas sebagai pendukung

Akhirnya, sementara berusaha bertumbuh dalam kebajikan kemurnian, kita juga harus berjuang untuk bertumbuh dalam iman dan kekudusan. Dalam perjuangan untuk menjadi murni, tidak cukup hanya memfokuskan diri hanya kepada kemurnian tanpa memperhatikan pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih secara menyeluruh. Dengan terus melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan iman kita, maka kita akan semakin dikuatkan dalam perjuangan kita dalam kemurnian dan aspek-aspek yang lain.

Salah satu cara untuk terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih adalah dengan bergabung dalam komunitas basis yang berfokus pada pengembangan iman – baik kelompok pendalaman Kitab Suci, kelompok belajar Katekismus, persekutuan doa, komunitas di lingkungan masing-masing, dll. Dengan bertumbuh bersama kelompok yang mempunyai anggota yang juga rindu untuk bertumbuh dalam kekudusan, maka kita juga akan semakin dikuatkan. Pada saat kita lemah, mereka juga dapat memberikan semangat dan kekuatan kepada kita.

Bersama Yesus, maka kita dimerdekakan

Seseorang yang terus-menerus melakukan dosa ketidakmurnian dan tidak mempunyai kekuatan untuk berkata “tidak” terhadap dosa telah menjadi hamba dosa, yang sebenarnya tidak bebas lagi. Namun, bersama dengan Yesus, seseorang dapat lepas dari belenggu dosa dan memperoleh kemerdekaan untuk meninggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kuncinya adalah, terus bekerja dengan rahmat Allah yang mengalir dalam retret dan rekoleksi, doa, Firman dan sakramen-sakramen – terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Selanjutnya, karena kita berjalan dalam iman bersama-sama dengan umat Allah yang lain, maka sudah selayaknya kita juga bergabung dalam komunitas untuk saling menguatkan. Kalau semua ini dibarengi dengan keteguhan untuk menghindari kesempatan berbuat dosa serta terus mengembangkan kebajikan kemurnian, maka niscaya, suatu saat kita akan berkata, “Terpujilah Tuhan, sebab Ia telah membebaskanku dari keterikatan dosa ketidakmurnian!”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab