Home Blog Page 86

Mengapa kita berpantang dan berpuasa?

78

“What are you going to give up this Lent?”

Di Amerika ini, ada pertanyaan umum menjelang masa Prapaska. Dalam pembicaraan sehari- hari antar teman, seseorang dapat bertanya, “What are you going to give up this Lent?” (“Kamu mau pantang apa dalam Masa Prapaska ini?”). Ya, seharusnya pertanyaan ini timbul di hati kita sebelum kita memulai masa Prapaska, jika kita ingin membuat Masa Prapaska ini suatu kesempatan kita untuk bertumbuh secara rohani. Inilah kesempatan bagi kita untuk merenungkan, hal apa yang paling kita sukai, yang dapat kita ‘korbankan’ demi menyatakan kasih kepada Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita. Hal yang disukai bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, dan karena itu, yang paling dapat merasakan efeknya adalah orang yang bersangkutan. Ada keluarga teman saya yang senengnya menonton TV, kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi nonton TV sehingga hanya 1 kali seminggu, hari Sabtu. Waktu yang tadinya dipakai untuk nonton TV dipergunakan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Ada pula keluarga yang suka makan di restoran. Maka mereka pantang makan di restoran di Masa Prapaska, supaya uang yang biasanya dipakai untuk makan di restoran itu dapat disumbangkan ke panti asuhan. Tahun lalu, di samping pantang daging,  suami saya memilih pantang kopi, dan saya pantang sambal. Minggu pertama sangat berat buat suami saya, yang sudah bertahun-tahun terbiasa minum kopi minimal 3 gelas sehari. Awalnya, kepalanya pusing dan selalu mengantuk, namun toh akhirnya bisa juga. Lalu saya, dengan pantang sambal maka makan apapun rasanya kurang pas di lidah saya. Tapi hal ini mengajarkan saya supaya tidak lekas komplain. Sebab ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Memang, kita dapat menemukan banyak jenis pantang, dan mungkin pula kita dapat memilih yang  sedikit lebih sulit, yang melibatkan penguasaan diri. Contohnya, pantang membicarakan kekurangan orang lain, pantang membicarakan kelebihan diri sendiri,  pantang mengeluh/ komplain, pantang berprasangka negatif atau pantang marah bagi orang yang lekas emosi. Selanjutnya kita diajak untuk lebih mengarahkan hati kepada Tuhan dan berusaha menyenangkan hati-Nya dengan pikiran dan perbuatan kita.  Ini adalah contoh yang paling sederhana dari ucapan, “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” (lih. Rom 6:8). Jadi pantang dan puasa bukan sekedar tidak makan daging atau tidak jajan, tetapi selebihnya tak ada yang berubah dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kita diundang untuk melihat ke dalam diri kita, untuk melihat kebiasaan apakah yang selama ini menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Mari, pada masa Prapaska ini, kita membuat suatu usaha nyata untuk mengambil ‘penghalang’ tersebut dalam hidup kita. Dan dengan demikian, kita dapat mengalami hubungan yang lebih baik dengan Tuhan.

Buat apa berpantang dan berpuasa

Setiap masa Prapaska, kita diajak oleh Gereja untuk bersama-sama berpantang dan berpuasa. Puasa dan pantang yang disyaratkan oleh Gereja Katolik sebenarnya tidak berat, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Namun, meskipun kita melakukannya, tahukah kita arti pantang dan puasa tersebut bagi kita umat Katolik?

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini yang dapat berbicara lebih lantang dari pada khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaska.

Jangan kita lupa bahwa  masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaska ini.

Puasa dan pantang tak terlepas dari doa dan amal kasih

Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa dan amal kasih. Dalam masa Prapaska, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Janganlah kita lupa, tujuan utama puasa dan pantang adalah supaya kita dapat lebih menghayati kasih Tuhan yang kita terima dan kasih kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan sengsara Kristus demi menyelamatkan kita, dan selanjutnya kita diajak untuk menyatakan kasih kita kepada Kristus, dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan sesama.

Dengan puasa kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, yaitu dengan berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam dan pemimpin Gereja. Kemudian kita dapat pula berdoa bagi para pemimpin negara, para umat beriman, ataupun mereka yang belum mengenal Kristus.

Puasa dan Pantang menurut Ketentuan Gereja Katolik

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  1. Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

  2. Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

  3. Kan. 1251Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

  4. Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

  5. Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  1. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

  3. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah sebagai berikut:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang, setiap hari selama Masa Prapaska.

  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.

  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska, (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).

  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Tidak terbatas Pantang dan Puasa dan derma/amal

Dalam masa Prapaska ini, dapat pula kita melakukan sesuatu yang baik yang belum secara konsisten kita lakukan. Misal, bangun lebih pagi setiap hari untuk berdoa, misal dari yang biasanya 5 menit, usahakan jadi 10 menit; atau dari yang biasanya 10 menit, usahakan jadi 20 menit, atau yang 30 menit jadi 1 jam. Memulai hari dengan berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan adalah sesuatu yang perlu kita usahakan setiap hari.

Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja) adalah sesuatu yang dapat pula kita lakukan, jika itu memang memungkinkan dalam situasi kita. Jangan terlalu cepat mengatakan tidak mungkin, jika belum pernah mencoba. Apalagi jika kita tidak mencobanya karena malas bangun pagi. Mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Kita dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, jika memang ada kapel Adorasi di paroki/ di kota tempat kita tinggal. Atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk mempelajari Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik. Atau mengikuti Ibadat Jalan Salib di gereja, atau jika tidak mungkin, melakukannya bersama dengan keluarga di rumah.

Dalam relasi kita dengan sesama, juga tidak terbatas dengan ‘asal sudah nyumbang, maka sudah beres’. Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap sikap kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Misalnya, yang paling dekat adalah pembantu rumah tangga dan supir. Pernahkah kita memberi kesempatan pada mereka untuk beristirahat, misalnya memberi mereka libur? Libur di sini tidak termasuk hanya pada libur Lebaran, dst, tetapi libur/ istirahat agar mereka juga dapat berekreasi dan melepas lelah. Atau apakah kita menjalin persahabatan dengan sesama anggota Paroki yang berkekurangan?

Wah, banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

Penutup

Maka untuk menjawab pertanyaan awal, “Mau pantang apa aku pada Masa Prapaska ini?”, kita perlu kembali melihat ke dalam hati kita masing-masing. Pasti jika kita mau jujur, akan selalu ada yang dapat kita lakukan. Mengurangi nonton TV, mengurangi ngemil/ jajan, mengurangi nonton bioskop, tidak main game di internet, dll hanya contoh saja, namun itu belum lengkap, jika kita tidak menggunakan waktu tersebut, untuk hal-hal lain yang lebih mendukung perbuatan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Ya, dengan Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, maka mari kita mempersiapkan diri bagi kehidupan kita yang sesungguhnya di surga kelak. Kita hanya dapat masuk surga dan memandang Tuhan hanya jika kita memiliki kekudusan itu (lih. Ibr 12:14), maka sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku hidup kudus? Masa pertobatan adalah masa rahmat yang Tuhan berikan pada kita, untuk mengatur kembali fokus kehidupan kita. Apakah yang menjadi pusat kegiatanku sehari-hari: aku atau Tuhan? Jika kita masih banyak menemukan ‘aku’ sebagai pusatnya, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubahnya….

Mengapa Disebut “Rabu Abu”?

19

Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

1. Mengapa hari Rabu?

Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

2. Mengapa Rabu “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

3. Tradisi Ambrosian

Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

Apa gunanya berziarah ke Holy Land?

1

Ada banyak orang yang berpandangan bahwa karena Allah hadir di mana-mana, maka tak ada gunanya berziarah ke tempat-tempat khusus, juga termasuk tidak ada gunanya berziarah ke Holy Land/ Yerusalem. Benarkah demikian?

Memang Tuhan Maha Hadir (omnipresent), maka Ia hadir di manapun, dan dapat disembah di tempat manapun. Namun juga, Allah menyatakan diri-Nya secara khusus di tempat-tempat tertentu. Maka walaupun tidak diharuskan oleh Gereja, namun adalah sesuatu yang baik (tentu kalau keadaan memungkinkan), jika kita mengunjungi tempat-tempat khusus tersebut, dengan maksud untuk menumbuhkan hasrat untuk mengenang kasih Tuhan dan apa yang telah dilakukan Tuhan kepada kita, dan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kebiasaan untuk mendirikan suatu tanda/ tugu untuk memperingati kebaikan Tuhan itu telah dicatat dalam kitab Kejadian, seperti halnya yang dilakukan oleh Yakub di Betel (lih. Kej 28:18-19). Namun contoh yang terbesar dalam Perjanjian Lama akan kenangan kehadiran Allah adalah bait Allah di Yerusalem. Bait Allah di Yerusalem ini kemudian menjadi tempat ziarah, dan dikunjungi oleh umat Allah. Bahkan dalam Perjanjian Lama, kunjungan ziarah ke bait Allah ini disyaratkan sebagai kewajiban umat, yang harus dilakukan selama tiga kali dalam setahun, untuk merayakan perayaan Paskah/ hari Raya roti tak beragi (Pesach), musim menuai/ Pentakosta (Shavuot) dan pengumpulan hasil di akhir tahun/ hari raya tabernakel (Sukkot) (lih. Kel 23:14-17).

Memang kita tidak terikat lagi oleh hukum Perjanjian Lama, namun kodrat manusia yang membutuhkan tanda dan bahwa tanda kehadiran Allah dapat membangun imannya, tetap tidak berubah. Dorongan untuk melakukan ziarah dalam Perjanjian Lama, tetap mendorong umat di zaman sekarang untuk melakukannya. Motivasinya tentu bukan untuk memenuhi ketentuan hukum taurat, tetapi demi menyatakan kasih kita kepada Tuhan. Kasih kita kepada Tuhan Yesus, mendorong kita untuk mengenang Dia, dan menjadikan kenangan itu menjadi hidup dalam kehidupan kita. Hal ini antara lain dicapai dengan mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi tempat kediaman Yesus, atau yang pernah dikunjungi-Nya ataupun dilewati-Nya, pada saat Yesus hidup di dunia untuk menebus dosa-dosa kita. Kunjungan ke tempat-tempat itu akan membangkitkan kesadaran dalam hati kita akan besarnya kasih Kristus Sang Putera Allah, yang mau merendahkan diri sedemikian rupa, mengosongkan diri-Nya, demi menyelamatkan umat manusia.

Maka agar dapat menjadikan ziarah ini berguna bagi pertumbuhan rohani, diperlukan persiapan lahir batin sebelum dan pada suatu melakukan ziarah. Persiapan ini antara lain adalah:

1. Membaca dan merenungkan sabda Allah dan juga catatan historis yang terkait dengan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Misalnya, membaca kisah kelahiran Yesus, dan sejarah dibangunnya gereja di Betlehem, agar kita dapat semakin menghayati peristiwa kelahiran Yesus bagi kita. Hal yang sama juga dapat dilakukan sebelum kunjungan ke tempat-tempat lainnya, misalnya sebelum mengunjungi Galilea, sungai Yordan, ataupun bukit Golgota dan kubur Yesus (Holy Sepulchre).

2. Melakukan persiapan batin dengan doa-doa, dapat melalui doa novena, dan juga sakramen Tobat sebelum melakukan ziarah. Silakan mempersiapkan teks doa-doa sehubungan dengan tempat ziarah yang akan dikunjungi.

3. Pada saat kunjungan, dapat dibacakan teks Kitab Suci yang terkait dengan tempat-tempat itu, dan kemudian didaraskan doa-doa dengan khidmat di tempat -tempat tersebut, sebagai ungkapan devosi, misalnya: 1) mendoakan doa Angelus (PS 15), di gereja Annunciation (tempat Maria menerima Kabar Gembira); 2) mendaraskan doa Aku percaya/ memperbaharui janji baptis, di sungai Yordan, 3) mendaraskan pembaharuan janji perkawinan, di gereja Kana; 4) melakukan Jalan Salib, di via Dolorosa (jalan yang dilalui Yesus saat memanggul salib-Nya); 5) mendaraskan doa “Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut” di hadapan salib Yesus, silakan klik, ataupun doa Anima Christi, (PS 212) di gereja Holy Sepulchre; 6) mendaraskan doa Regina Caeli (PS 16) di kubur Yesus yang terbuka di Holy Sepulchre; 7) mendoakan Paus dan intensi Paus di batu karang Petrus di Filipi ataupun di Mensa Christi church/ gereja keutamaan Petrus, dst.; 8) mendoakan Veni Creator/Datanglah Roh Kudus (PS 565), di ruang Cenacle/Upper Room, (tempat Perjamuan Terakhir, dan turunnya Roh Kudus pada saat Pentakosta).

4. Sedapat mungkin ikutilah kelompok ziarah yang mempunyai pastor/ imam pembimbing, agar selama ziarah, dapat diadakan perayaan Ekaristi setiap hari, dan dapat diperoleh bimbingan rohani melalui khotbah/ homili, ataupun renungan.

5. Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah hal-hal teknis lainnya, seperti jangan lupa membawa Kitab Suci, Rosario dan buku-buku doa. Pakailah sepatu dan pakaian yang nyaman namun sopan, sesuai dengan musimnya (jika musim dingin, bawalah pakaian yang cukup hangat). Bawalah obat-obatan yang disyaratkan dokter, dan persediaan obat-obat praktis. Semoga dengan persiapan yang baik juga dalam hal-hal praktis ini, maka ziarah tidak terganggu.

Kunci kebahagiaan: Jangan kuatir!

0

[Hari Minggu Pekan Biasa ke-VIII: Yes 49:14-15; Mzm 62:2-9; 1Kor 4:1-5; Mat 6: 24-34]

Umumnya orang hidup ingin bahagia. Bukankah begitu? Walaupun jalan yang ditempuh setiap orang tidak sama, tetapi setiap dari kita sama- sama menjalani hidup untuk berusaha mencapai kebahagiaan itu. Hari ini bacaan Kitab Suci mengingatkan kita akan salah satu kuncinya. Yaitu, dua kata saja: Jangan kuatir. Tuhan Yesus mengingatkan kita agar kita jangan kuatir akan hari esok, sebab hari esok mempunyai kesusahannya sendiri (Mat 6:34). Tentang hal ini, nampaknya kita perlu belajar dari anak-anak kecil. Atau kita dapat mengingat kembali saat kita masih kanak-kanak dulu. Umumnya, anak-anak selalu ceria, mudah tertawa dan mudah tertidur, mungkin karena tidak punya terlalu banyak pikiran. Sayangnya, semakin bertambahnya umur, keceriaan dan tawa bisa berkurang, dan sejumlah orang mulai dapat mengalami susah tidur. Rupanya, semakin dewasa, orang cenderung mengkhawatirkan banyak hal, sehingga berkuranglah keceriaan dan damai sejahtera yang seharusnya dialami setiap hari. Mungkin itulah sebabnya, ada banyak sekali kata ‘jangan takut’ atau ‘jangan kuatir’ ditulis dalam Kitab Suci. Konon jumlahnya ada 365 kali, untuk mengingatkan kita setiap hari dalam setiap tahun, yaitu agar kita tidak lekas takut dan kuatir akan apapun dalam hidup ini.

Apakah mungkin kita bisa hidup tanpa merasa takut? Sabda Tuhan mengajak kita untuk merenungkan bahwa, “Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan….” (1Yoh 4:18) Dan kasih yang sempurna itu datang dari Allah, namun mungkin sampai seumur hidup-pun, kita tak akan mampu memahami dalamnya kasih Allah itu kepada kita. Hari ini, Tuhan mengingatkan kita, walau dalam keadaan terburuk sekalipun, yaitu kalau sampai ibu kandung kita melupakan kita, Tuhan tetap tidak akan pernah melupakan kita (lih. Yes 49:14-15). Allah selalu menyertai kita setiap hari, dan tidak pernah meninggalkan kita, walaupun mata jasmani kita tidak melihat Dia. Ia adalah gunung batu kekuatan dan tempat perlindungan kita (Mzm 62:7,9). Ia menjaga dan memelihara kita tiap-tiap hari. Betapa kita perlu mengingatkan diri kita sendiri akan hal ini, yaitu bahwa Allah kita adalah Tuhan yang setia, dan peduli akan segala persoalan kita. Sebab di mata Tuhan, kita jauh lebih berharga daripada burung di langit maupun bunga di ladang. Maka, jika burung-burung dan bunga-bunga itu semuanya diperhatikan dan didandani oleh Tuhan, terlebih lagi kita anak-anak-Nya. Tuhan pasti akan memelihara kita. St. Fransiskus dari Sales mengatakan demikian, “Jika engkau mulai kuatir, katakanlah kepada dirimu sendiri, bahwa Tuhan yang telah menjagaku di hari kemarin, sedang menjagaku hari ini, dan akan tetap menjagaku di hari esok.”

Perkataan St. Fransiskus ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kepada apa yang kita alami hari ini. Sebab hari kemarin sudah berlalu, dan hari esok kita belum tahu, namun saat ini, ya, sekarang, ini adalah saat kita menyadari campur tangan Tuhan dalam hidup kita, dan mensyukurinya. Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan. Dan Ia akan memberikan kepada kita apa yang terbaik seturut kehendak-Nya.  Bagian kita adalah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dulu, maka segala hal yang lain, akan ditambahkan kepada kita (lih. Mat 6:33). Pertanyaannya sekarang ialah, sudahkah kita mencari Kerajaan Allah? Maukah kita melayani Dia dan mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya? Pengalaman bangsa Israel di padang gurun (Kel 16), mengajarkan kepada kita untuk selalu percaya kepada penyelenggaraan Tuhan. St. Fransiskus berkata tentang hal ini demikian: “Marilah kita melayani Tuhan dengan segenap hati, sepanjang hidup kita. Mari, janganlah kita mempersoalkan, lebih daripada bahwa ada hari esok, yang tentangnya kita tak usah terlalu kuatir. Biarlah perhatian kita lebih terarah kepada kebaikan yang dapat kita perbuat hari ini. ‘Hari esok’ akan segera menjadi ‘hari ini’, dan lalu kita akan memberikan perhatian kepadanya. Mari mengumpulkan ‘manna’ untuk hari ini saja, dan tidak lebih. Kita tak seharusnya meragukan bahwa Tuhan akan mengirimkan lagi hujan manna di hari esok, dan di hari berikutnya, dan terus, sepanjang hari-hari kita sampai peziarahan kita di dunia ini berakhir….” Sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Janganlah kuatir, hai jiwaku, sebab Tuhan yang Maha memelihara kini sedang menopangmu dan akan terus menjagamu.”

Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang neraka?

10

Berikut ini adalah yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang neraka, sebagaimana tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik:

KGK 1033    Kita tidak dapat disatukan dengan Allah, kalau kita tidak secara sukarela memutuskan untuk mencintai Dia. Tetapi kita tidak dapat mencintai Allah, kalau melakukan dosa berat terhadap Dia, terhadap sesama kita, atau terhadap diri sendiri: “Barang siapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang memiliki hidup kekal di dalam dirinya” (1 Yoh 3:14-15). Tuhan kita memperingatkan kita, bahwa kita dipisahkan dari-Nya, apabila kita mengabaikan perhatian kita kepada kebutuhan-kebutuhan mendesak dari orang miskin dan kecil, yang adalah saudara dan saudari-Nya (Bdk. Mat 25:3146). Mati dalam dosa berat, tanpa menyesalkannya dan tanpa menerima cinta Allah yang berbelas-kasihan, berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk selama-lamanya oleh keputusan sendiri secara bebas. Keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini, dinamakan “neraka”.

KGK 1034    Yesus beberapa kali berbicara tentang “gehenna“, yakni “api yang tidak terpadamkan” (Bdk. Mat 5:22.29; 13:42.50; Mrk 9:43-48), yang ditentukan untuk mereka, yang sampai akhir hidupnya menolak untuk percaya dan bertobat, tempat jiwa dan badan sekaligus dapat lenyap (Bdk. Mat 10:28). Dengan pedas, Yesus menyampaikan bahwa Ia akan “menyuruh malaikat-malaikat-Nya”, yang akan mengumpulkan semua orang, yang telah menyesatkan orang lain dan telah melanggar perintah Allah, dan… mencampakkan mereka ke dalam dapur api; di sanalah terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Mat 13:41-42), dan bahwa Ia akan mengucapkan keputusan pengutukan: “Enyahlah daripada-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal” (Mat 25:41).

KGK 1035    Ajaran Gereja mengatakan bahwa ada neraka, dan bahwa neraka itu berlangsung sampai selama-lamanya. Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, “api abadi” (Bdk. DS 76; 409; 411; 801; 858; 1002; 1351; 1575; SPF 12). Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.

KGK 1036    Pernyataan-pernyataan Kitab Suci dan ajaran Gereja mengenai neraka merupakan peringatan kepada manusia, supaya mempergunakan kebebasannya secara bertanggung jawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya. Semua itu juga merupakan himbauan yang mendesak supaya bertobat: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:13-14).
“Karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja, kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati, dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas, diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam kegelapan di luar, tempat ratapan dan kertakan gigi” (LG 48).

KGK 1037    Tidak ada seorang pun ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan supaya masuk ke dalam neraka (Bdk. DS 397; 1567); hanya pengingkaran secara sukarela terhadap Tuhan (dosa berat), di mana orang bertahan sampai akhir, mengantarnya ke sana. Dalam perayaan Ekaristi dan dalam doa harian umatnya Gereja senantiasa mohon belas kasihan Allah, supaya “jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Ptr 3:9):
“Terimalah dengan rela persembahan umat-Mu. Bimbinglah jalan hidup kami dan selamatkanlah kami dari hukuman abadi agar tetap menjadi umat kesayangan-Mu (MR, Doa Syukur Agung Romawi 88).

KGK 1861    Dosa berat, sama seperti kasih, adalah satu kemungkinan radikal yang dapat dipilih manusia dalam kebebasan penuh. Ia mengakibatkan kehilangan kebajikan ilahi, kasih, dan rahmat pengudusan, artinya status rahmat. Kalau ia tidak diperbaiki lagi melalui penyesalan dan pengampunan ilahi, ia mengakibatkan pengucilan dari Kerajaan Kristus dan menyebabkan kematian abadi di dalam neraka karena kebebasan kita mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan keputusan yang definitif dan tidak dapat ditarik kembali. Tetapi meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, namun kita harus menyerahkan penilaian mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah.

 

Tentang Kemiskinan

2

Ada pertanyaan masuk ke redaksi Katolisitas, tentang apakah itu ‘teologi kemiskinan’?

Menurut pengetahuan kami kemiskinan itu bukan suatu aliran teologi yang khusus/ istimewa sehingga dapat disebut sebagai ‘teologi kemiskinan’. Pada saat Inkarnasi-Nya di dunia, Tuhan Yesus memang memilih untuk menjadi Seorang yang miskin, namun Ia tidak mengecam kepemilikan harta benda. Meskipun begitu, Kristus sering mengajarkan bahwa terdapat bahaya yang ditimbulkan dari kekayaan, yang dapat diumpamakan sebagai semak belukar yang mematikan benih firman (lih. Mat 13:22). Selanjutnya, Kristus menasehati orang muda yang kaya, yang ingin memperoleh hidup kekal, yaitu agar ia menjual segala miliknya dan membagikan hasilnya kepada fakir miskin (lih. Mat 19-16-21). Atas dasar ini, maka melepaskan keterikatan dengan kepemilikan harta duniawi menjadi bagian dari praktek kehidupan asketism Kristiani, sebagaimana terlihat di biara-biara Katolik sampai saat ini.

Nah, maka orang bertanya apakah kemiskinan ini menjadi tujuan dari kebajikan yang istimewa? Nampaknya bukan. Sebab untuk disebut sebagai tujuan kebajikan, sesuatu itu harus dari dirinya sendiri, layak dipuji dan terhormat. Padahal kemiskinan itu, bukan merupakan sesuatu yang baik dari dirinya sendiri, tetapi hanya baik, karena berguna untuk menghapuskan penghalang bagi seseorang untuk mengejar kesempurnaan rohani ((St. Thomas Aquinas, “Contra Gentiles“, III, cxxxiii)). Maka praktek kemiskinan memperoleh jasa/ kelebihannya dari motivasi luhur yang melatarbelakanginya, dan dari kebajikan-kebajikan yang dilakukan sehubungan dengan pengorbanan yang menyertainya.

Maka kemiskinan yang dipilih dengan sukarela adalah salah satu nasehat Injil. Kemiskinan yang dimaksud di sini bukanlah keharusan absolut untuk mengorbankan semua yang menyangkut kepemilikan, tetapi adalah pengabaian semua yang berlebihan. Maka ini menyangkut ketidakterikatan akan keinginan terhadap kekayaan, memotong keinginan terhadap kemewahan, terhadap kemuliaan yang sia-sia dan membebaskan diri dari perhatian terhadap barang-barang duniawi. St. Thomas Aquinas menyebutkan bahwa tiga penghalang bagi orang kaya untuk mencapai kesempurnaan adalah nafsu akan kekayaan, kemuliaan yang sia-sia dan kekhawatiran yang berlebihan ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, II-II, Q. clxxxviii, a. 7)). Tingkat kesempurnaan mensyaratkan bahwa sikap ketidakterikatan terhadap kekayaan tersebut harus dijadikan sebagai karakter yang tetap. Dalam dalam prakteknya, inilah yang mengakibatkan adanya kaul kemiskinan dalam kehidupan membiara. Namun demikian, ajaran dan nasehat Yesus tetap berguna bagi mereka yang tidak menjalani kaul untuk mencapai tingkat kesempurnaan tersebut. Sebab nasehat ini mengajarkan orang untuk menyederhanakan keinginannya terhadap kekayaan dan untuk menerima dengan suka cita segala bentuk kehilangan ataupun penarikan diri terhadap kekayaan. Dan ajaran ini mengarahkan kita kepada sikap ketidakterikatan terhadap banda-benda duniawi, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33)

Selanjutnya, penjelasan tentang makna kemiskinan dalam hubungannya dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan dalam ajaran iman Katolik, dan sejarah penerapannya dalam kehidupan Gereja Katolik, silakan membaca di link ini, silakan klik.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab