Home Blog Page 82

Pengorbanan Yang Bermakna

0

Hari Minggu jam 12.00 siang, tanggal 16 Maret 2014, aku bertemu dengan seorang ibu bersama kedua anaknya. Ia sedang menjinjing termos-termos besar. Wajahnya yang putih menjadi merah karena sengatan mentari. Ia rupanya baru saja membereskan dagangannya yang dititipkan di kantin WKRI di Gereja Santa Odilia – Tangerang. Aku tahu bahwa ia mengidap penyakit yang sangat serius walaupun dirinya tidak mengungkapkannya kepada siapapun. Aku tumpangkan tanganku di atas kepalanya sambil berdoa. Aku berkata kepadanya: “Ibu harus istirahat supaya tetap kuat”. Ia menjawab sambil memejamkan mata : “Romo, apa saja akan aku lakoni/jalani agar ketiga anakku dapat memperoleh sekolah yang baik. Mo, aku selalu bangun jam 02.00 dini hari untuk mempersiapkan daganganku. Aku memang lelah, tetapi kelelahanku adalah kelelahan yang menyukakan jiwa karena pengorbananku bermakna. Pengorbananku adalah demi masa depan anak-anakku. Semoga kerja kerasku ini menjadi api yang mengobarkan semangat di dalam jiwa anak-anakku untuk mencapai masa depan mereka dengan tetap mengandalkan Tuhan. Karena itu, aku selalu mengajak ketiga anakku ketika berjualan dan ke Gereja”.

Pada malam harinya, setelah Misa malam baru selesai, ia menemuiku di teras Gereja, di belakang tempat koor. Ia meminta kepadaku untuk mendoakan ketiga anaknya. Ia kemudian berkata dengan berlinang air mata : “Kekuatanku pasti ada waktunya, tinggal menunggu saatnya Tuhan. Aku titip anak-anakku supaya dibantu tetap hidup di jalan Tuhan. Aku percaya kepada Allah sehingga aku tidak takut”. Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Rabu, tanggal 19 Maret 2014, ia dirawat di rumah sakit. Waktunya begitu cepat. Dalam keadaan sangat sadar, pada hari Kamis, tanggal 27 Maret, pukul 15.00, ia meminta suaminya untuk memanggilku karena ia ingin bertemu denganku. Beberapa menit setelah menyampaikan permintaannya itu, ia tak sadarkan diri dan dirawat di ICU dalam keadaan kritis. Perasaanku campur aduk mendengarkan permintaannya yang terakhir itu. Telingaku terngiang-ngiang kata-katanya kepadaku “Aku percaya kepada Allah sehingga aku tidak takut”. Ternyata kata-katanya itu berasal dari Kitab Mazmur ketika Daud sedang dalam pergumulan: “kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:12). Setelah selesai pengajaran iman, aku berangkat ke rumah sakit dan tiba di sana pukul 22.15. Aku langsung berdiri di samping ibu itu. Setelah berdiam sejenak, aku mendoakannya. Aku yakin dia tahu kedatanganku. Aku melihat sebutir air mata di celah-celah kelopak matanya. Ketika aku meletakkan rosario di samping lehernya, ia langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menghadap Allah Bapa dalam usia empat puluh empat tahun dengan iringan doa banyak umat lingkungannya dan keluarganya. Aku yakin bahwa ia memang menantikan kedatanganku untuk mendapatkan berkat dan menimba rahmat dari Bunda Maria sebagai bekal perjalanannya ke surga. Kataku: “Ibu ini adalah orang benar”. Imannya tidak goyah karena senantiasa memandang Allah: “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah¨(Mazmur 16:7-8) .

Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bukan saja bagi keluarganya, tetapi juga bagi banyak umat Paroki Santa Odilia. Umat memenuhi ruangan di mana Misa Requem dipersembahkan baginya. Isak tangis tak terbendung dari mata umat yang hadir. Semua terkenang dengan kebaikannya dalam partisipasinya di beberapa kegiatan gerejani, seperti menjadi bendahara sebuah lingkungan dan aktif sebagai anggota WKRI Cabang Paroki Santa Odilia. Yang sangat mengharukan adalah ia merupakan salah satu panitia yang mempersiapkan ziarah lingkungan ke tempat Bunda Maria. Ternyata ia sudah sampai lebih dahulu pada tujuan ziarah kehidupan, yaitu surga.

Pesan bagi kita dari pengalaman ibu tersebut: “Jangan buang harapan dalam jiwa kita. Harapan adalah satu-satunya penghiburan di saat kesusahan. Harapan adalah satu-satunya yang tak akan pernah mati dalam situasi apapun. Harapan adalah bagaikan kabel listrik yang mengalirkan kehadiran Tuhan. Karena itu, harapan pasti akan menunjukkan jalan ketika tiada jalan, membawa cinta ketika terjadi kebencian, membawa pengampunan ketika terjadi penghinaan, dan melahirkan keberanian ketika terjadi ketakutan.

Tuhan memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-51

0

11 Mei 2014 – Hari Minggu Paskah IV
Tema: Panggilan, Saksi Terhadap Kebenaran

Saudara-saudari yang terkasih,

1. Injil mengatakan bahwa “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa….. Ketika melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kataNya kepada murid-murid-Nya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’” (Mat.9:35-38). Sabda Yesus tersebut mengejutkan kita, karena kita semua tahu bahwa biasanya hal terpenting pertama-tama membajak, menebarkan benih dan menanam; kemudian ketika tiba saatnya menuai panenan yang berlimpah-ruah. Namun sebaliknya Yesus langsung berkata bahwa “tuaian memang banyak”. Siapa yang telah melakukan proses itu semua? Hanya ada satu jawabannya, yaitu Allah. Sangat jelas sekali bahwa ladang yang Yesus maksudkan adalah manusia, yaitu kita semua. Dan tindakan yang tepat-guna sehingga menghasilkan “buah berlimpah” adalah rahmat Allah sendiri, yaitu persatuan dengan Allah (bdk. Yoh. 15:5). Oleh karena itu doa yang Yesus minta dari pihak Gereja adalah perhatian terhadap kebutuhan akan pertambahan jumlah orang yang melayani Kerajaan-Nya. Santo Paulus, salah seorang dari “pelayan-pelayan Allah”, tak kenal lelah membaktikan dirinya bagi penyebaran Injil dan kelahiran Gereja. Dia adalah seorang Rasul, yang sadar sebagai seorang yang memiliki pengalaman akan misteri Allah yang menyelamatkan dan bagaimana rahmat Allah adalah sumber dari setiap panggilan, sembari mengingatkan umat kristiani di Korintus: “Kamu adalah ladang Allah” (1 Kor.3:9). Itulah sebabnya pertama-tama muncul rasa kagum dari dalam hati kita atas tuaian yang berlimpah yang hanya dapat dianugerahkan sendiri oleh Allah; kemudian rasa syukur atas kasih yang selalu mendahului kita; dan akhirnya sembah bakti atas karya yang telah Dia sempurnakan, yang menuntut persetujuan kita dalam melaksanakannya bersama Dia dan demi Dia.

2. Sering kali kita berdoa dengan kata-kata seperti Pemazmur: “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mzm.100:3); atau “TUHAN telah memilih Yakub bagi-Nya, Israel menjadi milik kesayangan-Nya.” (Mzm. 135:4). Kita adalah milik “kepunyaan” Allah bukan dalam arti kita sebagai budak-Nya, melainkan mengacu pada makna suatu ikatan yang kuat, yang menyatukan kita dengan Allah dan dengan sesama satu sama lainnya, sesuai dengan perjanjian kekal, karena “untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm.136). Dalam konteks panggilan Nabi Yeremia, misalnya, Allah mengingatkan kita bahwa Dia terus-menerus memperhatikan kita masing-masing, agar firman-Nya terlaksana di dalam diri kita. Gambaran ini diumpamakan seperti sebatang dahan pohon badam yang mengeluarkan bunga paling awal, yang mengungkapkan kelahiran kembali kehidupan pada musim semi (bdk. Yer. 1:11-12). Segala sesuatu berasal dari Allah dan merupakan rahmat: dunia, kehidupan, kematian, masa kini, dan masa yang akan datang, tetapi – sebagaimana dijanjikan oleh Rasul (Paulus) – “kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1 Kor. 3:23). Karena itu, model kepemilikan Allah dijelaskan demikian: menjadi milik Allah itu timbul dari suatu relasi yang unik dan personal dengan Yesus, berkat Sakramen Baptis yang kita terima dulu, menjadikan kita dilahirkan kembali dalam kehidupan yang baru. Oleh karena itu, Kristus sendirilah yang terus menerus memanggil kita melalui Firman-Nya untuk menaruh iman kita kepadaNya, mengasihiNya “dengan segenap hati, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita” (Mrk.12:33). Maka, setiap panggilan, meskipun melalui berbagai jalan, selalu menuntut suatu exodus (keluar dari) diri sendiri agar dapat memusatkan hidup seseorang hanya kepada Kristus dan kepada Injil-Nya. Baik dalam kehidupan berkeluarga maupun dalam hidup religius, demikian juga dalam kehidupan imamat, kita harus melampaui cara berfikir dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini merupakan suatu “exodus yang menghantar kita pada suatu perjalanan sembah-bakti kepada Tuhan dan pelayanan kepadaNya dalam diri saudara-saudari kita” (Kata Sambutan kepada Persatuan Internasional Para Superior Jendral, 8 Mei 2013). Karena itu, kita semua dipanggil untuk sembah-bakti kepada Yesus dalam hati kita (1 Pet. 3:15) agar dapat membiarkan diri kita disentuh oleh denyut rahmat yang terkandung dalam benih Sabda, yang harus tumbuh dalam diri kita dan diubah menjadi suatu pelayanan konkrit kepada sesama kita. Kita tidak perlu takut: Allah mengawal karya tangan-Nya dengan kasih dan kuasa-Nya dalam setiap tahap kehidupan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita! Dia menyelesaikan rencana-Nya bagi kita di dalam hati, dan karena itu Dia berharap menerimannya dengan persetujuan dan kerjasama kita.

3. Dewasa ini juga, Yesus tinggal dan setiap hari menyusuri lorong-lorong kehidupan kita, agar Dia dapat menjumpai setiap orang, mulai dari yang paling kecil-hina dan menyembuhkan kita dari setiap kelemahan dan penyakit. Saya memberi perhatian kepada orang-orang yang telah menyediakan diri dengan sebaik-baiknya untuk mendengar suara Kristus yang diperdengarkan di dalam Gereja dan memahami panggilan mereka masing-masing. Saya mengajak Anda untuk mendengarkan dan mengikuti Yesus serta membiarkan diri Anda diubah dari dalam (secara rohani) oleh firman-Nya, yang adalah “roh dan kehidupan” (Yoh.6:62). Maria, ibu Yesus dan bunda kita, juga memberi pesan kepada kita: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.!” (Yoh. 2:5). Hal ini akan membantu Anda untuk mengambil bagian dalam suatu peziarahan bersama yang memungkinkan Anda untuk menghasilkan energi-energi yang paling baik di dalam diri Anda dan sekitar Anda. Panggilan adalah buah yang masak/matang berkat pengolahan ladang (diri manusia-red) secara baik, yaitu saling mengasihi yang kemudian menjadi saling melayani, dalam perspektif suatu kehidupan gerejani yang otentik. Tidak mungkin panggilan itu muncul sendiri atau ada bagi dirinya sendiri. Panggilan itu mengalir dari hati Allah dan tumbuh-kembang di tanah yang baik dari umat beriman, yaitu di dalam pengalaman kasih persaudaraan. Bukankah Yesus pernah bersabda: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13:35)?

4. Saudara-saudariku yang terkasih, “standar tinggi kehidupan kristiani” ini (bdk. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 31), kadang-kadang akan berbenturan dengan gelombang kehidupan dan karena itu menghadapi aneka batu sandungan, baik di luar maupun di dalam diri kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita: benih yang baik dari firman Allah sering kali dirampas oleh si Jahat, terhalang oleh goncangan dan himpitan aneka persoalan dan godaan duniawi (bdk. Mat. 13:19-22). Semua kesulitan tersebut dapat melemahkan kita, membuat kita mundur ke belakang di jalan-jalan yang sepintas nampaknya menyenangkan. Namun demikian, kegembiraan sejati dari mereka yang dipanggil terdiri dari iman dan pengalaman bersama dengan Dia yang adalah Tuhan, Dia yang adalah setia, dan bersama Dia, kita dimampukan untuk melangkah maju, menjadi murid-murid dan saksi-saksi kasih Allah, yang membuka hati untuk hal-hal yang besar dan luar biasa. “Kita orang-orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan untuk hal-hal kecil; doronglah terus menuju prinsip-prinsip yang paling tinggi-luhur. Pancangkan hidupmu pada cita-cita yang mulia!” (Khotbah Misa Kudus dan Pelayanan Sakramen Penguatan, 28 April 2013). Saya minta Anda, para Uskup, para imam, kaum religius dan jemaat-jemaat serta keluarga-keluarga Kristiani untuk merancang pastoral panggilan, dengan arahan sebagai berikut: mendampingi kaum muda di jalan-jalan kekudusan yang, karena jalan-jalan tersebut bersifat personal, “dipanggil untuk suatu pelatihan yang tulus-murni dalam kekudusan’ sehingga memampukan mereka menyelaraskan diri dengan kebutuhan setiap orang. Pelatihan ini harus memadukan sumber-sumber yang diberikan kepada setiap orang baik oleh pribadi-pribadi yang berpandangan tradisional dan kelompok pendukungnya, maupun bentuk-bentuk dukungan model terbaru oleh asosiasi-asosiasi dan gerakan-gerakan tertentu yang sudah dikenal oleh Gereja” (Novo Millenio Ineunte, 31).

Karena itu, marilah kita bangun hati kita menjadi “tanah yang subur”, dengan cara mendengarkan, menerima dan menghayati Sabda, dan karenanya dapat menghasilkan buah-buahnya. Semakin kita bersatu dengan Yesus melalui doa, Kitab Suci, Ekaristi, Sakramen-sakramen yang kita rayakan dan kita hayati dalam Gereja dan dalam persaudaraan, maka akan semakin tumbuh dalam diri kita suatu sukacita kerja-sama dengan Allah dalam pelayanan bagi Kerajaan-Nya, yaitu Kerajaan kasih dan kebenaran, Kerajaan Keadilan dan Perdamaian. Dan tuaian akan berlimpah ruah, sepadan dengan rahmat yang telah kita terima dalam hidup kita secara lembut. Dengan harapan ini, sambil memohon Anda untuk mendoakan saya, dengan hati tulus saya menganugerahkan segenap Berkat Apostolik saya.

Dari Vatikan, 15 Januari 2014
PAUS FRANSISKUS

Sumber: http://www.kkindonesia.org/

Roh Kristus akan membangkitkan kita

0
Henry Ossawa Tanner, Resurrection of Lazarus, 1896, Public Domain. Photo Courtesy of Wikimedia, http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Henry_Ossawa_Tanner,_Resurrection_of_Lazarus.jpg

[Hari Minggu Prapaska V: Yeh 37:12-14; Mzm 130:1-8; Rm 8:8-11; Yoh 11:1-45]

Injil hari mengisahkan akan salah satu mukjizat Yesus yang terbesar, yaitu membangkitkan Lazarus dari kematian. Oleh karena mukjizat ini, banyak orang Yahudi menjadi percaya kepada-Nya, namun sebaliknya, sejak saat itu pula kaum Farisi bersepakat untuk membunuh Dia (Yoh 11:). Lazarus adalah saudara dari Marta dan Maria, yang adalah sahabat Yesus. Ketika Yesus mendengar kabar Lazarus yang sakit parah, Yesus tidak segera mengunjungi Lazarus, melainkan menunggu setelah 2 hari kemudian. Saat itu Lazarus telah wafat. Yesus berkata bahwa Ia akan “membangunkan dia dari tidurnya.” (Yoh 11:11), sebab bagi Yesus yang berkuasa atas maut, membangkitkan orang dari kematian adalah seperti membangunkan orang dari tidur. Saat itu, nampaknya para murid belum memahami perkataan Yesus ini, namun setelah mereka menyaksikan apa yang dilakukan-Nya atas Lazarus, dan terutama atas kebangkitan-Nya sendiri dari kematian, mereka menjadi paham dan percaya. Sebab Kristus adalah kebangkitan dan hidup, dan barangsiapa percaya kepada-Nya akan hidup walaupun sudah mati (Yoh 11:25). Sabda ini adalah janji Tuhan, yang membawa pengharapan bagi kita yang percaya kepada-Nya: bahwa kematian bukan akhir dari segalanya. Sebab jiwa kita akan tetap hidup, walaupun tubuh kita suatu saat akan mati. Tubuh memang akan mati, akibat dosa, namun jiwa kita akan tetap hidup, akibat dari iman kita akan Sang Kebenaran dan Hidup. Inilah salah satu dasarnya, mengapa Gereja Katolik menghormati para orang kudus yang telah meninggal dunia. Sebab iman kita menyatakan bahwa jiwa mereka tetap hidup, dan dalam kesatuan dengan Kristus, mereka tetap dapat mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini. Inilah juga yang akan kita lakukan, jika kelak kita digabungkan dengan mereka di surga. Selain bahwa jiwa kita akan tetap hidup, Tuhan juga menjanjikan bahwa suatu saat nanti tubuh kitapun akan dibangkitkan sebagaimana Kristus telah bangkit.  Sebab melalui Baptisan, kita telah menerima Roh Kudus, dan Roh Allah inilah yang memberikan hidup ilahi kepada kita. “Jika Roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam dirimu,” kata Rasul Paulus, “maka Ia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana oleh Roh-Nya yang diam di dalam dirimu.” (Rm 8:11). Betapa besar dan dalam makna janji Tuhan ini! Sebab ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita, sehingga Ia mau memberikan Roh-Nya sendiri kepada kita, agar kita dapat hidup di dalam-Nya dalam kepenuhannya. Maka kita tidak akan menjadi takut dan dan tawar hati, sebab baik saat kita hidup di dunia ini, maupun setelah kita beralih dari dunia ini, kita akan tetap ada bersama-sama dengan Kristus, sebab Ia telah memberikan Roh-Nya kepada kita. Demikianlah, maka pengalaman Lazarus akan juga menjadi pengalaman kita kelak, yaitu bahwa Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita di akhir zaman, dan tubuh yang dibangkitkan ini tidak akan mati lagi, namun akan hidup selamanya.

Namun kebangkitan kita hanya dapat terjadi karena kebangkitan Kristus yang didahului oleh sengsara dan wafat-Nya. Maka saat-saat menjelang Pekan suci, kita mengarahkan hati kepada permenungan akan sengsara dan wafat Kristus ini, agar dengan menyatukan diri kita dengan sengsara dan wafat-Nya, kita dapat pula disatukan dengan kebangkitan-Nya.

Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kematian, membuka mata hati kita akan kuasa Kristus yang mengatasi ikatan dosa dan maut.  Kisah ini tidak hanya fakta bagi Lazarus dan berguna bagi orang-orang yang menyaksikannya, namun juga berguna bagi kita saat ini. Sebab seruan Yesus kepada Lazarus, “Marilah keluar!” dapat pula ditujukan kepada kita, agar kita juga dapat keluar dari segala ikatan dosa yang membelenggu  yang menjadikan kita seolah seperti orang mati, tidak berkutik dan tunduk kepada segala kelemahan kita. Marilah keluar dari ikatan kesombongan, cinta diri, kemalasan, keinginan mata dan keinginan daging, dan semua ikatan yang lain memisahkan kita dari Tuhan, yang membuat Roh-Nya tidak dapat tinggal menetap di dalam kita. Menjelang Pekan suci ini mari kita memeriksa batin, dan mempersiapkan diri untuk mengakui segala dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan.

Yesus, kumohon tuntunan-Mu, agar aku boleh mengetahui dosa-dosaku dan mengakuinya dengan kerendahan hati di hadapan-Mu dan di hadapan imam-Mu. Jangan biarkan dosa memisahkan aku daripada-Mu. Sebab kuingin agar Roh-Mu tetap tinggal di dalamku, sehingga  kelak aku dapat sepenuhnya bersatu dengan-Mu dalam kehidupan yang kekal.”

Di manakah letak bukit Golgota?

2

Tradisi Gereja Katolik, menunjukkan bahwa letak penyaliban Tuhan Yesus di bukit Golgota dan juga kubur-Nya, ada di dalam kompleks gereja the Holy Sepulchre. Di kompleks itu dikenal ada gereja St. Helena, dan the Chapel of the Finding of the Cross. Walaupun sekarang gereja Holy Sepulchre itu terletak di pusat kawasan Kristen di Kota Tua Yerusalem, pada zaman Yesus, gereja Holy Sepulchre itu belum ada, dan bukit Golgota itu masih seperti adanya, terletak di luar tembok Yerusalem. Maka tidak benar jika dikatakan bahwa lokasi Golgota itu ada di dalam tembok Kota Tua Yerusalem. Pada zaman Yesus, tradisi Yahudi begitu kuat memisahkan kegiatan sehari-hari dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian, sehingga tempat penghukuman dan penguburan dilakukan di luar tembok kota. Penyaliban Yesus di luar kota Yerusalem disebut dalam Injil (lih. Mat 27:32-33; Mrk 15:20b). Namun demikian, lokasi penyaliban Yesus tersebut tidak begitu jauh dari kota, sebab dikatakan bahwa orang banyak datang berkerumun untuk menonton apa yang terjadi (lih. Luk 23:48). Lokasi tersebut diperkirakan ada di sebelah utara tembok barat laut Yerusalem, di mana di sana ada bukit yang disebut Golgota dan bukit lain tempat Yesus dikuburkan di kubur milik Yusuf dari Arimatea. Kubur itu merupakan gua, yang merupakan tempat umum untuk mengubur dalam tradisi Yahudi.

Untuk memahami hal ini, ada baiknya kita melihat kepada denah tembok kota Yerusalem, berdasarkan keterangan dari ahli sejarah abad pertama, Flavius Josephus (37-100). Yosephus menyebutkan bahwa tembok Yerusalem dibangun dalam tiga masa sejalan dengan perkembangan kota Yerusalem. Tembok pertama dan kedua telah ada pada zaman Yesus, sedangkan tembok ketiga dibangun setelah zaman Yesus, yaitu di zaman Raja Herodes Agrippa (41-44). Tembok pertama telah ada sejak sekitar abad ke-6 BC pada zaman raja Hezekiah. Sedangkan perihal tembok kedua di sebelah utara, memang terdapat perbedaan pendapat para ahli sejarah, yaitu sampai sejauh mana tembok utara melingkupi. Namun hampir semua para ahli setuju, bahwa lokasi kompleks gereja Holy Sepulchre yang ada sekarang, itu terletak di luar tembok pertama maupun kedua.

Tempat Golgota dan kubur Yesus di lokasi gereja Holy Sepulchre tetap hidup dalam tradisi Kristiani, walaupun diketahui bahwa pada tahun 135, ketika Yerusalem menjadi daerah koloni Romawi Aelia Capitolina, kaisar Hadrian membangun kuil dewa Yupiter di atas Golgota dan altar bagi dewi Venus di atas kubur Yesus. Kemungkinan kaisar tersebut sengaja membangun di situ karena ingin memusnahkan kepercayaan Kristen dan jemaat (Gereja). Bangunan kuil yang dibangunnya tersebut berdiri di sana sampai tahun 326. Ketika itu, Helena ibu dari Kaisar Konstantin -Kaisar Byzantin pertama yang menjadi Kristen- datang ke Yerusalem dan menemukan sisa-sisa Salib Tuhan Yesus di dalam sebuah sumur bawah tanah. (Sekilas kisah bagaimana diketahui bahwa sisa-sisa kayu salib yang ditemukan tersebut adalah Salib Kristus, klik di sini). Konstantin lalu membangun sebuah basilika yang besar di atasnya, yang menghubungkan ketiga tempat kudus, yaitu: Kubur Yesus, Golgota, dan gua tempat ditemukannya Salib Kristus. Basilika ini awalnya berukuran 45 m x 26 m. Pada saat pembangunan basilika ini, konfigurasi alamiah dari bukit kubur Yesus diubah dan sejumlah besar batu-batu diratakan. Sekarang ini keadaan batu alam yang tersisa adalah batu dalam kubur Yesus, di belakang Rotunda dan batu pada kaki Golgota.

Basilika yang dibangun oleh Kaisar Konstantin ini dihancurkan tahun 614, kemudian segera dibangun kembali, namun kemudian dihancurkan lagi di tahun 1010, dan lagi direstorasi dengan ukuran yang lebih kecil, dengan pusatnya adalah area kebangkitan (the Anastasis), sedangkan tempat kudus lainnya terpaksa ada di luar bangunan. Pengrusakan gereja Holy Sepulchre di bawah pemerintahan tentara muslim, menjadi motivasi terjadinya Perang Salib pada abad ke-11; dan ketika tentara perang salib menguasai Yerusalem, mereka segera merestorasi dan memperbaiki gereja tersebut. Gereja Holy Sepulchre yang kita ketahui sekarang adalah karya para pejuang Perang Salib. Mereka menyatukan kembali tempat-tempat kudus itu di bawah satu atap.

Sejak akhir Perang Salib, Gereja Holy Sepulchre mengalami kerusakan karena kebakaran, gempa bumi dan kurangnya perhatian. Selain itu, tempat itu dibagi menjadi enam kepemilikan komunitas Kristiani yang berbeda, yaitu milik komunitas Yunani Orthodox, Armenian, Fransiskan (dari Gereja Katolik), Ethiophian, Koptik, dan Syrian Jacobites. Gedung gereja tersebut kemudian direstorasi bersama, mulai tahun 1957.

Namun, gereja-gereja Protestan di abad ke-19 meragukan gereja Holy Sepulchre sebagai lokasi penyaliban dan kubur Yesus yang telah diyakini oleh mayoritas komunitas Kristiani selama beradab-abad. Sejumlah komunitas Protestan, terutama Anglikan, memperkirakan bahwa tempat penyaliban dan kubur Yesus itu berada di lokasi sebelah utara Kota Tua Yerusalem, yang kini dikenal dengan sebutan Garden Tomb. Lokasi ini diusulkan oleh Jenderal Inggris yang bernama Charles George Gordon yang datang ke Yerusalem di tahun 1883. Maka lokasi itu sekarang disebut Gordon’s Golgotha. Gordon memandang ke bukit di utara gerbang Damaskus yang menurutnya menyerupai bentuk tengkorak, sehingga ia secara langsung menghubungkannya dengan Golgota, yang dalam bahasa Aram memang berarti ‘tengkorak’. Memang beberapa tahun sebelum kedatangan Gordon (1867) telah diadakan penggalian dan ditemukan potongan batu kubur, dan sumur kuno, sehingga diperkirakan bahwa lokasi tersebut adalah taman kubur. Gordon kemudian menghubungkannya dengan taman yang di dalamnya ada kubur Yesus sebagaimana disebutkan dalam Yoh 19:41. Selain itu, dasar keraguan mereka yang meragukan lokasi tradisional Golgota adalah karena kebiasaan penguburan Yahudi yang melarang menguburkan orang di area dalam tembok kota, dan mereka mencurigai bahwa lokasi gereja Holy Sepulchre berada di dalam tembok Kota Tua Yerusalem. Memang sekarang ini, lokasi tersebut berada seperti di tengah kota. Namun sebagaimana disampaikan di atas, menurut catatan sejarah abad pertama, yaitu Josephus, yang menjabarkan batas-batas tembok pertama, kedua dan ketiga, jelas menunjukkan bahwa lokasi Golgota berada di luar tembok pertama dan kedua. Bahwa lokasi tersebut ada di dalam tembok ketiga, itu disebabkan karena tembok tersebut baru dibangun setelah zaman Yesus. Bahkan lokasi Garden Tomb itu juga ada di dalam tembok ketiga. Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa kubur di Garden Tomb tersebut ternyata berasal dari periode pertama Bait Allah (First Temple period) dan bukan periode kedua Bait Allah (Second Temple period) pada zaman Yesus.

Menyikapi adanya perbedaan perkiraan lokasi ini, sejujurnya, kita hanya perlu mengacu kepada catatan sejarah dan akal sehat kita. Catatan sejarah dan tradisi sekian banyak Gereja dan komunitas Kristiani jelas mengacu kepada lokasi gereja Holy Sepulchre yang ada sekarang, sebagai lokasi Golgota dan kubur Yesus. Tentunya penentuan tersebut bukannya tanpa alasan, dan ditentukan oleh sumber-sumber dan para saksi mata yang lebih dekat dengan zaman Yesus (dari abad ke-1-4). Oleh karena itu, dasarnya lebih kuat, ketimbang lokasi alternatif yang lebih banyak didasari atas perkiraan dan asumsi, yang dimulai dari perkiraan seorang Jenderal di abad ke-19.

Sedangkan mengenai rute Via Dolorosa, yang berhubungan dengan permenungan Jalan Salib, sekilas sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

Sumber:

1. Rivka Gonen, Biblical Holy Places, an illustrated guide, (Herzelia, Israel: Palphot Publication, 1999), p. 129-132, 148-149.

2. Holman Bible Atlas, (Nashville, Tennesse, USA: Broadman & Holman Publishers: 1998), p. 229.

 

Sudahkah aku melihat Yesus?

0

[Hari Minggu Prapaska IV: 1Sam 16:1-13; Mzm 23:1-6; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41]

Pet! Listrik rumah kami padam. Kegelapan menyelimutiku, dan aku tak dapat melihat apapun. Sekilas terbayang di pikiranku, beginilah rasanya menjadi seorang yang buta. Betapa dapat dipahami, kerinduan untuk melihat, dan untuk keluar dari kegelapan ini…

Injil hari ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus, Sang Terang yang menghalau kegelapan itu. Tuhan Yesuslah yang pertama kali melihat, mungkin juga menghampiri, seorang yang buta sejak lahir, dan bukan sebaliknya. Yesus selalu membuat langkah pertama untuk menunjukkan kasih-Nya.  Kepada murid- murid-Nya yang bertanya kepada-Nya, karena salah siapakah orang tersebut dilahirkan buta, Yesus menjawab, agar pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:2-3). Sungguh, selanjutnya, memang itulah yang dilakukan Yesus, yaitu menyatakan karya Allah dalam diri orang itu.

Tuhan Yesus mengaduk tanah dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan adukan itu pada mata orang buta itu, dan menyuruhnya untuk membasuh dirinya di kolam Siloam. Bagi kita, mungkin ini nampak sebagai permintaan yang sederhana, tetapi bisa jadi tidak demikian bagi orang buta itu. St. Yohanes Krisostomus, mengajarkan, bahwa kita perlu belajar taat dan percaya kepada Yesus, dari orang buta itu. Sebab orang buta itu tidak mempersoalkan apakah itu logis atau tidak, bahwa adukan tanah, yang pantasnya membuat mata menjadi kabur, malah dapat memelekkan matanya. Ia tidak protes bahwa ia harus berjalan menuju kolam, dengan adukan tanah di matanya, dan menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Bukannya tidak mungkin, iapun juga sudah sering membasuh diri di kolam itu, namun itu tidak membuat matanya menjadi sembuh. Namun ketika Yesus menyuruhnya, orang buta itu tetap mau melakukannya, tanpa keberatan. Kepercayaan dan ketaatannya ini membuahkan kesembuhan baginya. Kalau kita yang jadi orang buta itu, apakah kitapun dapat bertindak seperti dia? Jangan-jangan kita malah akan bertanya-tanya dalam hati, ‘ah yang bener aja, masa dengan lumpur di mata, aku bisa melihat?’ Sebab ada kecenderungan di masa sekarang ini, orang menilai segala sesuatunya dengan cara pandang manusia, dan menolak cara pandang Tuhan. Kita lebih menyukai hal yang instan dan mudah dan enggan menerima jalan Tuhan yang kadang melibatkan proses pembentukan diri untuk menjadi semakin rendah hati dan percaya kepada-Nya.

Menurut para Bapa Gereja, orang buta itu melambangkan umat manusia, termasuk kita juga, yang buta karena dosa-dosa kita. Sebagaimana dulu Allah menciptakan manusia pertama dari debu tanah dan meniupkan nafas-Nya kepadanya, demikian pula Tuhan Yesus mengaduk tanah dengan ludah-Nya untuk menyembuhkan manusia yang buta itu, agar ia sembuh dan menjadi ciptaan yang baru. Maka kolam Siloam melambangkan Baptisan, yang oleh kuasa Kristus yang diutus Allah, telah membasuh kita dari segala dosa dan membuat kita ‘melihat’ dengan mata yang baru. Dengan mata yang baru ini, kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, sebagaimana yang dilakukan oleh orang buta itu. Ia berani menyampaikan kebenaran, akan pertolongan yang diterimanya dari Tuhan Yesus, yang membuat matanya melihat. Ia tidak gentar akan pertanyaan-pertanyaan orang-orang Farisi yang mendesaknya, seolah agar ia menarik kembali kesaksiannya. Mereka menuduh Yesus sebagai orang berdosa, karena menyembuhkan orang pada hari Sabat, dan karena itu orang-orang Farisi itu tidak percaya kepada-Nya. Betapa orang-orang Farisi itulah yang ‘buta’, sehingga mereka gagal melihat bahwa Yesus, Sang Tuhan hari Sabat, itulah yang melakukan karya yang ajaib, pada hari-Nya. Sedangkan orang buta itu, yang tadinya buta secara jasmani, malah akhirnya dapat melihat, bahwa Ia yang menyembuhkannya adalah Sang Anak Manusia: yaitu Tuhan yang kedatangan-Nya telah dinubuatkan oleh para nabi. “Aku percaya, Tuhan!” demikian katanya, dan ia sujud menyembah-Nya.

Di hari Minggu Laetare, yang menandai pertengahan Masa Prapaska ini, mari kita mengenangkan kebaikan Tuhan, yang selalu membuat langkah pertama agar kita dapat mengalami belas kasih-Nya. Mungkin kita tidak buta secara jasmani, namun siapa tahu kita buta secara rohani, sehingga tidak mengenali kehadiran-Nya di dalam berbagai peristiwa dalam hidup kita, dan teristimewa dalam Ekaristi?

O, Tuhan, bantulah aku agar aku dapat melihat Engkau. Dan agar aku berani mewartakan karya-karyaMu yang ajaib dalam hidupku.”

Bolehkah Mazmur Tanggapan digantikan dengan Lagu Rohani?

15

Sering kali dalam perayaan Misa, baik di dalam perayaan Misa kategorial, Misa di rumah duka, ataupun Misa di lingkungan, Mazmur Tanggapan digantikan dengan lagu rohani yang tidak ada hubungannya dengan teks Kitab Suci yang dibacakan saat itu. Pertanyaannya adalah apakah hal-hal seperti ini diperbolehkan? Kalau tidak diperbolehkan, apakah alasannya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mengacu kepada ketentuan tentang Liturgi Sabda yang tertulis dalam Pedoman Umum Misale Romawi/ PUMR:

“B Liturgi Sabda

55. Bagian utama Liturgi Sabda terdiri dari bacaan-bacaan Kitab Suci bersama-sama dengan pendarasan Mazmur di antara bacaan-bacaan tersebut. Homili, Syahadat dan Doa Umat mengembangkan dan mengakhiri bagian Misa [Liturgi Sabda] ini….

Bacaan-bacaan Kitab Suci

57. Dalam bacaan-bacaan ini, mimbar Sabda dipersiapkan bagi umat beriman, dan kekayaan Kitab Suci dibukakan kepada mereka. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mempertahankan penyusunan bacaan-bacaan Kitab Suci, yang melaluinya dicurahkan terang kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan sejarah keselamatan. Lagipula, tidak diperbolehkan untuk menggantikan dengan teks-teks non Biblis terhadap bacaan-bacaan Kitab Suci dan Mazmur Tanggapan, yang mengandung Sabda Allah.

61. Setelah bacaan pertama, Mazmur Tanggapan didaraskan, yang menjadi satu kesatuan dengan keseluruhan Liturgi Sabda dan memegang posisi penting secara liturgis dan pastoral, sebab pendarasan Mazmur mendukung permenungan Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan harus sesuai dengan setiap bacaan dan hendaknya, sebagai ketentuan, diambil dari Lektionari.

Adalah lebih dianjurkan agar Mazmur Tanggapan dinyanyikan, sedikitnya pada bagian tanggapan umat. Oleh karena itu, pemazmur, atau pemimpin Mazmur, menyanyikan ayat-ayat Mazmur dari ambo atau tempat lain yang layak/ sesuai. Seluruh umat tetap duduk dan mendengarkan, tetapi sebagai ketentuan, mengambil bagian dengan menyanyikan tanggapan/ refrein, kecuali ketika Mazmur dinyanyikan langsung tanpa refrein. Adapun agar umat dapat menyanyikan Mazmur Tanggapan dengan lebih siap, teks dari beberapa refrein dan Mazmur telah dipilih dari bermacam masa dalam tahun atau untuk beragam katagori para Santo/Santa. Ini dapat dipergunakan pada bagian teks yang sesuai dengan bacaan ketika Mazmur dinyanyikan. Jika Mazmur tidak dapat dinyanyikan, maka harus dibacakan sedemikian agar sesuai/ cocok untuk mendukung permenungan Sabda Tuhan…..”

Ketentuan PUMR ini mengambil dasar dari ajaran Katekismus:

KGK 1093 Roh Kudus menyelesaikan di dalam tata sakramental apa yang dipralukiskan dalam Perjanjian Lama. Karena Gereja Kristus sudah “dipersiapkan atas cara yang mengagumkan dalam Perjanjian Lama” (LG 2), liturgi Gereja mempertahankan unsur-unsur ibadah Perjanjian Lama sebagai satu bagian hakiki yang tidak dapat diganti dan menerimanya:
– pertama-tama pembacaan Perjanjian Lama;
– doa mazmur;
– dan terutama kenangan akan peristiwa-peristiwa yang membawa keselamatan, dan kenyataan-kenyataan yang telah terpenuhi di dalam misteri Kristus (janji dan perjanjian, eksodus dan paska, kerajaan dan kenisah, pembuangan & kedatangan kembali).

Sebagaimana Kristus mengajarkan penghormatan terhadap Kitab Suci, dengan pembacaan Kitab Perjanjian Lama (kitab-kitab Musa dan kitab para nabi, termasuk doa Mazmur) dan penggenapannya di dalam Dirinya-sebagaimana dinyatakannya kepada dua orang murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus, Luk 24:13-35- maka Gereja juga melakukannya demikian dalam perayaan Ekaristi.

Selanjutnya, Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi itu nyata dalam 4 hal: 1) dalam diri imam (in persona Christi); 2) di dalam Sabda-Nya dalam pembacaan Kitab Suci; 3) di dalam rupa roti dan anggur yang sudah dikonsekrasikan; 4) di dalam umat/Gereja yang berdoa dan bermazmur, atas dasar firman Yesus bahwa di mana ada dua atau tiga orang berkumpul, Ia hadir di tengah-tengah mereka (lih. Mat 18:19):

KGK 1088    “Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengurbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-Sakramen sekian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mt 18:20)” (SC 7).

Mengingat bahwa bacaan-bacaan Kitab Suci dan Mazmur Tanggapan adalah Sabda Tuhan yang saling berkaitan, di mana Tuhan Yesus sendiri hadir di dalamnya, maka sesungguhnya, bukan bagian umat untuk mengubah ataupun memisahkan keterkaitan ini dengan lagu pilihan sendiri yang tidak ada kaitannya dengan bacaan Kitab Suci yang sudah ditentukan pada perayaan Ekaristi tersebut. Jadi, tidak pada tempatnya jika kita mengganti Mazmur dengan nyanyian lain, walaupun merupakan lagu rohani. Dalam pendarasan Mazmur, umat menanggapi bacaan Sabda Tuhan, juga dengan doa yang diambil dari Sabda Tuhan, yang umumnya berhubungan juga dengan tema bacaan Kitab Suci yang dibacakan. Mazmur Tanggapan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bacaan-bacaan Kitab Suci lainnya dalam Liturgi Sabda, dan karena itu tidak selayaknya diganti menurut selera umat ataupun komunitas yang menyelenggarakan Misa Kudus. Sebagaimana imam ataupun umat tak sepantasnya mengganti teks dalam Liturgi Ekaristi, demikian juga tak sepantasnya umat  mengganti teks dalam Liturgi Sabda, yang dalam hal ini meniadakan Sabda Allah yang harusnya dibacakan/ dinyanyikan sebagai Mazmur Tanggapan.

Ini juga jelas disebutkan dalam Redemptionis Sacramentum:

“62. Tidak juga diperkenankan meniadakan ataupun menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi “mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci” (RS 62)

Penggantian Mazmur dengan lagu-lagu lain ini tidak diperbolehkan, apalagi jika sebagai gantinya adalah lagu pop rohani yang tidak mengandung teks Sabda Tuhan. Karena kalau hal-hal ini dilakukan, tanpa disadari hal ini dapat berakibat pada umat, semacam sikap yang menghubungkan perayaan iman dengan ‘apa yang saya sukai’, daripada mengindahkan ‘apa yang tepat dan benar’, menurut kehendak Tuhan. Jika ini yang terjadi, maka sebenarnya terjadi penyimpangan dari hakekat liturgi, yang harusnya merupakan karya bersama antara Kristus sebagai kepala Gereja dan kita sebagai anggota-anggota-Nya; sehingga kita harus mengutamakan kehendak Kristus terlebih dahulu -sebagaimana yang telah dilestarikan selama berabad-abad dalam Gereja- dan tidak mengutamakan selera ataupun perasaan kita sendiri.

Perlu kita ingat kembali bahwa perayaan Ekaristi merupakan karya Kristus sendiri dan Gereja dalam menghadirkan kembali Misteri Paska Kristus: yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Misteri ini adalah peristiwa iman, dan sama sekali bukan tontonan ataupun pertunjukan/ performance, yang dengan mudah dan bebas dapat diubah-ubah sesuai kemauan penyelenggara. Peristiwa iman ini selayaknya dirayakan seturut tradisi Gereja selama berabad-abad, yang dilakukan atas dasar kepercayaan akan kehadiran Yesus secara nyata dalam perayaan Ekaristi, baik dalam keseluruhan liturgi Sabda, maupun dalam keseluruhan liturgi Ekaristi.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab