Home Blog Page 75

Kenangan

0

Misa Jumat Pertama di Jakarta, tanggal 06 Juni 2014, menjadi sebuah permenungan tentang perjalanan kehidupan. Pom bensin yang menjadi tanda arah ke tujuan ternyata tidak kelihatan. Kaca mobil yang terlalu gelap mungkin menjadi tumpuan kesalahan dan yang pasti karena pikiran sedang lelana (mengembara) tanpa tujuan. Kebablasan (keterusan) ke tempat yang jauh menjadi akibatnya. Kejengkelan dan ketegangan mempengaruhi suasana jiwa. Wajah luyu dan agak manyun merupakan ekspresinya. Aku berusaha tetap tersenyum walaupun berat.

Pengalaman salah jalan itu ternyata juga mempengaruhi konsentrasi perjalanan pulang. Karena salah mengambil arah, saya terjebak macet selama dua jam. Ketakutan akan jam Three in One membuat aku tak berdaya. Aku menyetir mobil dengan pasrah. Kepasrahan ternyata membuat arah pulang menjadi jelas. Saya pun sampai di pastoran dengan selamat dan bisa beristirahat sejenak sebelum Misa Lingkungan Santa Theresia, Paroki Santa Odilia – Tangerang, jam 19.30 malam.

Kepenatan ternyata tidak hilang begitu saja dengan berjalannya waktu. Wajahku ternyata tidak seceria biasanya ketika seorang nenek datang menemuiku. Ia mengatakan kepadaku: “Romo, aku datang karena kangen dengan Romo. Mo, apa yang sedang terjadi dengan Romo”. Aku menerangkan bahwa aku baru saja pulang setelah berjam-jam berkutat dengan kemacetan lalu lintas karena salah mengambil jalan. Ia kemudian menyanyikan sebuah lagu dengan suara pelo/agak cedal karena memang giginya tinggal dua: “Buat apa susah, buat apa susah karena susah itu tidak ada gunanya”. Ia kemudian menyampaikan kata-kata bijaksana yang di luar dugaan: “Salah jalan dalam lalu lintas tidak seberat salah kehidupan karena kita akan ditegur oleh suara hati kita sendiri. Terjebak dalam kemacetan lalu lintas tidak separah dengan kemacetan hidup. Dalam hidupku yang sudah semakin tua ini, aku sudah sering mengalami kemacetan dalam kehidupan. Kadang-kadang rejeki lancar dan kadang-kadang macet dan tak kunjung datang pertolongan. Kadang-kadang aku sakit dan kadang-kadang sehat. Ketika suami dipanggil yang ilahi, hidupku kadang-kadang sepi karena harus hidup sendiri. Apalagi anak-anak sudah pada membentuk keluarga sendiri”.

Aku termangu mendengarkan ungkapan nenek itu. Aku pun bertanya kepadanya: “Oma, mengapa Oma tetap senantiasa tersenyum kalau hidup Oma itu berat”. Ia menjawabku dengan jitu dalam sebuah rumusan yang aku bantu: “Hidupku ini bagaikan sebuah perjalanan ke sebuah bukit yang tinggi. Di dalam setiap langkahku, aku selalu mengambil kerikil yang aku temui dan aku masukkan ke dalam kantong yang aku bawa. Beban-beban itu tidak berat, malah sangat indah karena aku tahu tempat di mana aku harus meletakkannya”. Setelah mengatakan demikian, ia mengeluarkan Kitab Suci dari tasnya yang sudah tua. Ia mengambil dua jenis daun dari dalam Kitab Suci ini. Daun itu adalah daun pohon beringin dan daun kluwih (sejenis daun nangka): “Kula saged mikul bebaning urip kanti bingahing manah amarginipun ron waringin (daun beringin) dan ron kluwih (daun sejenis nangka yang mengandung makna luwih/lebih) sakti punika. Ron waringin punika nggambaraken Gusti Allah Ingkang Maha Asih. Gusti Allah ingkang Maha Asih punika teras ngayomi kula kanti maringi kekiatan ingkang linuwih, asmanipun injih punika Roh Suci, ingkang dipun gambaraken kanti ron kluwih/ Aku dapat memikul beban kehidupan ini dengan hati yang bersukacita karena daun beringin dan daun kluwih (sejenis nangka) sakti ini. Daun beringin melambangkan Tuhan Allah Yang Mahakasih. Tuhan Allah Yang Mahakasih ini senantiasa melindungiku dengan kekuatan yang lebih, yaitu Roh Suci, yang dilambangkan dengan daun kluwih. Lalu aku bertanya: “Di mana Oma meletakkan semua kerikil kehidupan ?” “Aku meletakkan semua kerikil kehidupan dalam sebuah kenangan. Di dalam setiap kerikil kehidupanku senantiasa ada kenangan akan pertolongan Tuhan”, jawabnya.

Pesan dari sejengkal pengalaman sederhana ini: “Jadikan semua masa silam yang kelam dan menyedihkan sebagai sebuah kenangan akan penyertaan Tuhan. Dalam puncak kehidupan, kita akhirnya dapat melihat hamparan sebuah cerita indah peziarahan hidup yang mampu mengenyahkan keputusasaan bagi yang membacanya”. Pemazmur meneguhan keyakinan ini: “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku” (Mazmur 138:7).

Tuhan Memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Menghitung Hari

0

Suara sayup-sayup nyanyian “Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu’, di Gereja Santa Odilia – Tangerang pada Minggu Palma malam, tanggal 13 April 2014, terdengar indah dari kamarku. Tiba-tiba pegawai sekretariat mengetok pintu kamarku. Ia memberitahukan kepadaku bahwa seorang ibu ingin bertemu denganku. Aku segera turun ke ruang tamu. Aku terkejut ternyata yang ingin bertemu denganku adalah seorang oma yang berusia tujuh puluh sembilan tahun. Ia ditemani oleh anak perempuan dan menantu lelakinya. Ia datang dari jauh, yaitu Paroki Santo Thomas Rasul, Bojong, Jakarta Barat. Ia mengenalku pada saat aku memimpin Adorasi dalam acara Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik, Bojong. Senyuman tetap menghiasi wajahya walaupun ia pasti lelah karena harus melewati kemacetan yang merupakan akibat dari pengecoran di Jalan Bitung-Cikupa-Tangerang.

Mensharingkan pengalamannya tentang kesempatan hidup kembali merupakan tujuan kedatangannya. Ia mengatakan bahwa ia datang kepadaku karena desakan jiwanya untuk membagikan pengalaman imannya tentang pertolongan Allah dalam menghadapi penyakitnya. Ia mempunyai masalah dengan ginjalnya. Beberapa bulan lalu ia harus dirawat di rumah sakit. Ia sempat tak sadarkan diri atau koma selama tiga belas jam. Ia juga sudah menerima Sakramen Perminyakan Suci. Ia justru menjadi sadar kembali setelah menerima sakramen bagi orang sakit itu dan bisa beraktivitas lagi. Pengalaman tak sadarkan diri/koma selama tiga belas jam semakin membuka hatinya akan besarnya dan banyaknya kasih Allah kepadanya. Ia pun semakin mengerti makna perjalanan hidupnya. Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya. Pertolongan Tuhan kepadanya sudah tak terhitung jari. Pertolongan Tuhanlah yang memampukannya membesarkan keenam anaknya ketika suaminya meninggal dunia dalam usia muda. Ia berusia tiga puluh empat tahun ketika suaminya menghadap Sang Pencipta. Pada waktu itu anak pertamanya baru berusia tiga belas tahun dan anak bungsunya berusia tiga setengah tahun. Janji Tuhan akan rumah kekal membuatnya terus rela berkorban demi cinta kepada Tuhan dan anak-anaknya.

Ia menguraikan penghayatannya tentang arti peziarahan hidupnya. Aku membantunya untuk merumuskannya: “Sang Pemurah Hati telah membelikan sebidang tanah kepadaku. Ia memberikannya kepadaku gratis. Aku tidak perlu membayarnya kembali. Harga tanah itu sangat mahal, jauh lebih mahal daripada tanah-tanah dalam kompleks termewah di Jakarta. Harga tanah itu tak mungkin terbayarkan dengan apapun karena Sang Pemurah Hati itu telah membayarnya dengan darah-Nya. Sang Pemurah Hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Ternyata selama tujuh puluh sembilan tahun aku telah mengirimkan material-material yang diperlukan oleh Sang Arsitek Agung untuk membangun rumah yang sangat mewah dan sangat indah bagiku. Rumah itu adalah rumah yang hebat karena tahan banjir, tahan gempa, dan steril dari segala penyakit. Sang Arsitek Agung itu adalah Tuhan Allah. Tuhan Allah telah memberikan tiket kepadaku untuk terbang menuju rumahku itu. Akan tetapi, tiket itu tidak mencantumkan tanggal keberangkatannya. Yang harus aku lakukan adalah senantiasa siap dan siaga agar tidak ketinggalan pesawat ke surga ketika panggilan terbang diserukan. Sambil menunggu keberangkatanku ke rumahku di surga, aku berusaha sedapat mungkin mengirimkan perabot-perabot untuk mengisi rumah masa depanku. Karena itu, aku mohon Romo bisa merayakan Misa atas ulang tahunku yang ke-delapanpuluh sebagai ungkapan syukur atas anugerah kehidupan dan rumah indah di surga yang telah disediakan bagiku”.

Uraian bijak oma itu mengandung peringatan bahwa hidup di dunia ini sangat singkat dibandingkan dengan keabadian: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Hidup di dunia ini merupakan sebuah persiapan menuju kehidupan di surga. Kesadaran akan singkatnya kehidupan di dunia harus membentuk hati yang bijaksana: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). Hati yang bijaksana adalah hati yang senantiasa ingin memanfaatkan setiap jengkel kehidupan untuk melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Penderitaan yang mengiringi perjalanan kehidupan ini dapat dijadikan kesempatan untuk mempercayai Allah secara total sebagai Sang Penolong abadi. Penderitaan juga menjadi sebuah harapan akan rumah indah, yaitu rumah sukacita kekal, yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang setia kepadaNya.

Tuhan Memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Bersekutu dengan Allah lewat Komuni Kudus

11

[Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Ul 8:2-3, 14-16; Mzm 147: 12-20; 1Kor 10:16-17;  Yoh 6:51-58]

Hari Pentakosta belum lama berlalu. Dan di Minggu pertama setelah peringatan hari ulang tahun Gereja itu, kita diajak merenungkan tentang dasar ajaran iman kita, yaitu Allah Tritunggal Mahakudus. Sebab dengan menyadari bahwa Allah yang adalah Kasih (1Yoh 4:8) itu adalah Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, maka kitapun menyadari bahwa kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, juga dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya dalam  mengusahakan kesatuan kasih itu.  Bagi yang menikah, kita dipanggil untuk setia terhadap pasangan kita, sesuai dengan janji perkawinan kita. Bagi yang hidup membiara demi Kerajaan Allah, juga dipanggil untuk setia kepada Allah dengan memegang teguh kaul hidup membiara. Apapun panggilan hidup kita, kita semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam kesatuan Allah itu, sebab tujuan akhir hidup kita adalah bersatu dengan Allah, sehingga “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).

Di hari Minggu ini kita masuk lebih dalam lagi dalam permenungan tentang kesatuan dengan Allah itu. Ibaratnya, Minggu lalu kita merenungkan tentang asal dan tujuan akhir hidup kita -yaitu di dalam Allah Tritunggal Mahakudus, namun Minggu ini kita merenungkan bagaimanakah caranya, agar kita dapat sampai ke sana. Bagaimana agar kita dapat sampai kepada kehidupan kekal, di mana kita akan tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, sampai selama-lamanya? Untuk itu kita mengacu kepada perkataan Yesus sendiri, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:54-56). Betapa kita perlu memohon Roh Kudus untuk senantiasa membimbing agar kita dapat semakin menghayati sabda Yesus ini. Tuhan Yesus telah membuktikan kasih-Nya dengan menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya untuk menyelamatkan kita, dan Ia menghendaki agar kita mengenang-Nya dengan merayakan  peristiwa ini. Jika kita sungguh ingin melaksanakan kehendak-Nya ini, maka kita akan semakin menghargai dan merindukan Komuni kudus. Kita akan lebih bersungguh-sungguh menyiapkan batin sebelum menerima Ekaristi. Kita akan rindu untuk menyambut-Nya lebih sering daripada hanya seminggu sekali. Kita akan berusaha agar seluruh anggota keluarga kita dapat pula menyambut-Nya dalam Ekaristi, agar kelak kita semua berkumpul kembali dalam kehidupan kekal, di dalam Kristus yang telah mempersatukan kita di dalam Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan ke-Allahan-Nya!  Sebab di dalam  kesatuan dengan Kristus, kita disatukan pula dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Pesta Tubuh dan Darah Kristus ini pertama kali diadakan bagi seluruh Gereja atas prakarsa Paus Urbanus IV di tahun 1264. Maksudnya adalah untuk membangkitkan devosi terhadap kehadiran Yesus yang nyata di dalam  Ekaristi.  Namun meskipun kita merayakan pesta Tubuh dan Darah Kristus hanya setahun sekali, sesungguhnya Gereja sudah selalu merayakan kebenaran ini sejak abad- abad awal, setiap hari dalam perayaan Ekaristi. Setiap hari, Kristus memberikan diri-Nya bagi Gereja-Nya, menjadi santapan rohani bagi kita umat-Nya, sebagai sumber kekuatan dan pengharapan akan kehidupan kekal yang telah dijanjikan oleh-Nya. Setiap saat Kristus hadir dalam setiap Tabernakel dalam gedung gereja Katolik, untuk menyatakan kesetiaan-Nya kepada umat-Nya yang masih berziarah di dunia ini. Kristus juga dimuliakan di dalam prosesi ataupun adorasi sakramen Mahakudus, dalam penghormatan dan doa-doa yang kita panjatkan di hadapan sakramen Mahakudus tersebut. Di hari yang berbahagia ini, mari kita renungkan perkataan St. Josemaria Escriva, “Sembahlah Kristus dengan penuh hormat…, dalam hadirat-Nya, perbaharuilah persembahan kasihmu yang tulus. Jangan takut untuk mengatakan kepada-Nya bahwa engkau mengasihi-Nya. Bersyukurlah kepada-Nya karena Ia telah memberikan bukti belas kasih-Nya setiap hari, dan doronglah dirimu sendiri untuk menyambut Komuni dengan hati yang penuh iman…. ‘Di sinilah Tuhan mencari hatiku untuk menjadikannya tahta-Nya…’” (Christ is passing by, 161) . Mari, Tuhan Yesus,  bertahtalah di dalam hatiku! Bantulah aku masuk lebih dalam lagi dalam misteri kasih-Mu yang selalu menyertai, dalam Ekaristi.

Kepada kesatuan kasih, Allah memanggil kita

2

[Hari Raya Tritunggal Mahakudus: Kel 34:4-9; Dan 3:52-56; 2Kor 13:11-13;  Yoh 3:16-19]

“Aku memutuskan untuk bercerai dengan suamiku,” demikian tutur sahabat kami. Betapa sangat terkejut kami mendengarnya. Padahal, kenangan akan begitu indahnya pesta perkawinan kedua sahabat kami itu masih begitu melekat dalam ingatan kami. Saat itu keduanya nampak bahagia dan saling mengasihi. Namun sayangnya, kasih itu tidak bertahan lama dan mereka memutuskan untuk berpisah. Entah mengapa, apapun perkataan dan nasihat para sahabat tidak lagi dapat mengubah pendirian keduanya. Kini yang tertinggal adalah harapan dan doa agar suatu saat mereka dapat menyadari makna janji perkawinan mereka di hadapan Tuhan, dan memutuskan untuk kembali bersama sebagai keluarga. Agaknya kemeriahan pesta tidak menjadi ukuran bagi kesetiaan perkawinan. Sebab yang terpenting adalah menjalani kehidupan sesudahnya sebagai pasangan suami istri, yang mensyaratkan pengorbanan, saling mengasihi, saling memberi dan menyertai satu sama lain.

Demikian pula, kita diingatkan kembali akan makna janji Baptis kita, setelah kita merayakan masa Paska. Bagaikan pepatah, bahwa ada saatnya pesta akan berakhir, demikianlah masa perayaan Paska ditutup dengan perayaan Pentakosta. Namun sesungguhnya, Pentakosta tidak merupakan akhir, melainkan awal dari kehidupan Gereja sebagai kesatuan umat Allah. Roh Kudus yang adalah Sang Kasih dan Penghibur, telah dianugerahkan Allah kepada Gereja-Nya, yaitu kepada kita semua, agar kita dapat hidup dalam kesatuan kasih, seperti kehidupan dalam diri Allah sendiri, yaitu kesatuan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Roh Kudus dikaruniakan kepada kita, agar kita dapat mengikuti teladan kasih Allah itu. Bapa mengasihi Putera, demikian pula sebaliknya, dan Kasih yang sempurna antara Keduanya itu adalah Roh Kudus. Karena  itu, Roh Kudus yang sama itu diutus oleh Bapa dan Putera untuk menyertai kita, agar memampukan kita hidup dalam kasih.

Kasih itu memberi, kasih itu menyertai pihak yang dikasihi. Bacaan pertama mengingatkan kita bahwa sejak dahulu kala, Allah selalu setia menyertai umat-Nya. Ia adalah “Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia- Nya!” (Kel 34:6). Maka kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti teladan-Nya ini: yaitu dengan mengasihi sesama kita, sabar dan setia satu sama lain. Secara khusus, teladan ini mestinya nampak dalam kehidupan suami istri, yang telah berjanji di hadapan Allah untuk saling mengasihi dalam keadaan apapun, sampai selamanya. Memang ini tidak mudah, dan oleh karena itu, Tuhan Yesus sendiri memberikan contohnya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, sahabat-  sahabat-Nya (Yoh 15:13).  Tiada teladan kasih yang lebih besar dan lebih sempurna daripada kasih Yesus ini. Kasih-Nya mendorong kita untuk juga memberikan diri kita kepada sesama  dan untuk “hidup sehati dan sepikir dan dalam damai sejahtera” (lih. 2Kor 13:11). Jika Yesus yang adalah Tuhan, rela berkorban untuk kita, maka pantaslah kita juga mau berkorban bagi orang-orang yang kita kasihi. Jika Allah Bapa rela menyerahkan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita (lih. Yoh 3:16), maka sudah selayaknya kita percaya kepada-Nya, dan mau menerima kasih karunia Allah yang menyelamatkan ini. Jika Bapa dan Putera telah mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita dan menjadikan kita sebagai bait-Nya, maka sepantasnya kita berjuang untuk hidup kudus agar Ia tetap tinggal di dalam kita. Sebab Allah menghendaki agar dengan memperoleh Roh-Nya, kita memperoleh kehidupan kekal bersama-Nya dan dengan demikian mengambil bagian dalam kehidupan-Nya sendiri. Bukankah ini adalah kesempurnaan kasih, yaitu jika kita dapat tinggal dalam kesatuan dengan orang yang kita kasihi dan mengalami kehidupan bersamanya sampai selamanya? Sungguh, tiada contoh kasih yang lebih sempurna daripada kasih Allah itu sendiri; dan betapa kita semua telah dipanggil untuk hidup di dalam kasih-Nya itu. Ah, seandainya saja setiap orang percaya menghayati panggilan ini dan mau menghidupinya, mungkin tak akan ada perkawinan yang bubar, dan tak ada keluarga yang tercerai berai…

Ya, Allah Tritunggal Mahakudus, kami mohon pimpinlah kami umat-Mu, untuk hidup di dalam kesatuan kasih seturut teladan-Mu. Semoga dalam kesatuan kasih ini,  kelak Engkau perkenankan kami untuk mengambil bagian dalam  kehidupan kekal bersama-Mu.”

Hidupku, Rosarioku

0

Selama bulan Maria ini, aku bersama anggota biara melakukan Doa Rosario bersama setiap Selasa dan Jumat. Biasanya, aku mendaraskan doa dengan menggunakan untaian kalung Rosario. Namun, di beberapa kesempatan, aku mencoba memakai kedua tanganku sambil mengikuti doa. Tangan kiri untuk menghitung peristiwa, sedangkan tangan kanan untuk dasa Salam Maria. Selebihnya, sudah diingat-ingat dalam kepala.

Setelah mencoba kedua cara yang berbeda, aku menemukan sesuatu. Ada perbedaan menarik antara menggunakan tangan dengan menggunakan untaian Rosario. Mungkin, karena aku telah lama terbiasa dengan kalung, mendoakan Doa Rosario dengan tangan memberikan sensasi baru. Aku lebih terjaga dalam mengikuti setiap peristiwa dan Salam Maria karena selalu siaga mengingat doa dan bagian apa yang selanjutnya didoakan.

Akan tetapi, menggunakan tangan dalam doa ini juga mengajarkan padaku sesuatu yang lain. Aku tidak menggunakan sebuah kalung untuk berdoa, melainkan tubuhku sendiri. Tubuhku adalah alat untuk mendoakan Rosario. Dengan kata lain, akulah Rosario yang sedang aku doakan. Doa Rosario memang sering diidentikkan dengan kalung Rosario. Akan tetapi, aku memutuskan untuk membaktikan hidupku sebagai pendoa. Oleh sebab itu, setiap doa harus menyatu dengan hidupku, termasuk Doa Rosario. Aku harus menjadi Rosario yang hidup, dan doa Rosario harus menjadi hidup dalam diriku.

Seperti doa Rosario, hidupku dimulai dari salib Kristus, ketika aku mengenal dan mengenakan nama Allah Tritunggal Mahakudus melalui Pembaptisan. Aku menjadi ciptaan baru, ciptaan hari ke-8 yang hidup dari pengakuan iman akan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Seiring jalannya doa Rosario menyusuri Misteri-misteri hidup Kristus, hidupku juga harus melukiskan hidup dan pelayanan Kristus. Sebagaimana Kristus menjalani kehidupan secara utuh, mulai dari Kegembiraan hingga Sengsara, hingga mencapai Terang dan Mulia, aku juga harus bersama Kristus dalam suka dan duka. Aku tidak boleh lari dari penderitaan bersama Yesus yang memurnikan diriku, atau melupakan Yesus ketika kegembiraan datang dengan berlimpah. Sebagaimana Salam Maria didaraskan sepanjang renungan akan Peristiwa-peristiwa hidup Yesus, aku juga hidup mengikuti Yesus bersama Bunda Maria. Aku belajar tentang kesetiaan darinya, berdoa bersamanya, menderita bersamanya, dan menemani Yesus sepanjang jalan hingga akhir hayatnya. Seperti akhir Doa Rosario kembali pada salib Kristus, hidupku bermula dari Kristus dan akan kembali kepada Kristus.

Rosario tidak terbatas pada kalung, tidak juga pada kata-kata yang diulang-ulang. Rosario adalah tentang bagaimana hidupku berjalan mengikuti Yesus bersama Bunda Maria. Paling tidak, aku harus belajar setia seperti Bunda Maria yang setia menemani Yesus hingga puncak Golgota, ketika semua orang lain meninggalkan-Nya. Apabila aku tidak mampu membuat gulali raksasa yang spektakuler, paling tidak aku bisa mempersembahkan manisan-manisan kecil, seperti butiran-butiran kecil manik kalung Rosario. Hidupku adalah Rosarioku.

“Rosario adalah sebuah sekolah untuk mempelajari kesempurnaan Kristen yang sejati” – St. Paus Yohanes XXIII

Doa Novena kepada St Filomena

5

Kami memohon kepadaMu ya Tuhan, untuk mengaruniakan pengampunan atas dosa-dosa kami, melalui perantaraan Sang Santa, perawan dan martir, yang senantiasa berkenan di hadapan-Mu karena kemurniannya yang begitu dihormati dan karena setiap kebaikannya. Amin.

Perawan dan martir yang sangat dihormati, Santa Filomena, pandanglah aku yang bersujud di depan tahta di mana Allah Tritunggal Yang Maha Kudus telah berkenan menempatkanmu. Dengan penuh keyakinan akan perlindunganmu, aku memohon dengan sangat kepadamu untuk menghantarkan doaku kepada Tuhan, dari ketinggian Surga sudilah mengarahkan pandanganmu kepadaku yang hina ini.

Mempelai Kristus, kuatkanlah aku dalam penderitaan, bentengilah aku dalam pencobaan, lindungilah aku dari bahaya-bahaya yang mengelilingku, perolehkanlah bagiku rahmat-rahmat yang kuperlukan, dan khususnya……(sebutkanlah permohonan Anda)….

Di atas semuanya, dampingilah aku di saat ajalku. Santa Filomena, penuh kekuatan bersama Allah, doakanlah kami, amin.

Oh Allah, Tritunggal Maha Kudus, kami mengucapkan syukur kepadaMu untuk rahmat-rahmat yang telah Kau curahkan kepada Perawan Maria Yang Terberkati, dan kepada karya tangan-Mu, Filomena, yang melalui mereka, kami memohonkan belas kasihan-Mu. Amin.

Diterjemahkan secara bebas dari sumber: https://www.ewtn.com/Devotionals/novena/philomena.htm

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab