Umumnya seseorang yang berusaha melepaskan kebiasaan buruknya, membutuhkan waktu yang tidak instan. Semakin dalam kebiasaan buruk tersebut berakar dalam diri seseorang, semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memperbaikinya. Jadi, kalau Purgatorium adalah ‘tempat’ pemurnian, maka lamanya pemurnian tergantung dari sampai seberapa jauh atau seberapa dalam akar ketidaksempurnaan yang tertanam di dalam jiwa. Namun, pada akhirnya, Tuhanlah sendiri – di dalam kebijaksanaan-Nya – yang tahu kapan jiwa-jiwa di Purgatorium mencapai kesempurnaannya.
Apakah Purgatorium hanya untuk umat Katolik saja atau juga untuk umat yang tidak percaya adanya Purgatorium?
Sama seperti neraka bukan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang percaya akan keberadaan neraka, maka Purgatorium juga tidak hanya diperuntukkan bagi umat Katolik yang mempercayai adanya Purgatorium. Baik percaya atau tidak akan adanya Purgatorium, seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat atau tidak dalam keadaan berdosa berat, namun belum sempurna di dalam kasih, akan masuk ke Purgatorium sebelum dapat bersatu dengan Allah di Surga.
Yesus mengusir roh jahat di Gerasa (Mrk 5: 1-13, Luk 8: 27-33) atau Gadara (Mat 8: 28-32)?
Markus 5: 1-13, Lukas 8: 27-33 dan Matius 8: 28-32: Penyembuhan itu dilakukan di Gerasa (menurut Markus dan Lukas) atau di Gadara (menurut Matius)? Yesus menyembuhkan satu orang (menurut Markus dan Lukas) atau dua orang yang kerasukan setan (menurut Matius)?
Demikianlah penjelasan tentang kedua kota itu:[1]
“Gadara adalah kota tak jauh dari danau Genesaret, salah satu dari sepuluh kota yang disebut Dekapolis. Gergesa (kemungkinan variasi dari kata “Gerasa”) adalah sebuah kota yang terletak 12 mil di sisi tenggara Gadara, dan sekitar 20 mil di timur sungai Yordan. Maka tak ada kontradiksi antara ketiga Injil di sini. Yesus datang ke daerah ini di mana kedua kota terletak, dan salah satu pengarang Injil menyebut kota yang satu dan dan pengarang lainnya menyebut kota lainnya. Terlihat bahwa para pengarang itu tidak setuju dalam hal menekankan kota yang mana, sebab jika ya, tentu mereka sudah menyebutkan nama kota yang sama. Namun hal ini menunjukkan bahwa mereka mengenal daerah tersebut. Tak ada orang yang dapat menulis sedemikian, hanya mereka yang sungguh mengenal fakta-faktanya.”
Maka ketiga pengarang Injil menulis tentang daerah yang sama. Kota Romawi Gerasa adalah kota yang terkenal, yang sudah dikenal oleh kaum Yunani/non-Yahudi, sedangkan Gadara ibukota dari Perea, propinsi Romawi, adalah kota utama dari kesepuluh kota di Dekapolis.[2] Kedekatan antara kedua kota mengakibatkan mereka yang tinggal di Gerasa dapat disebut orang Gadara (Gadarenes). Gambar kapal di koin uang logam kota Gadara kemungkinan menunjukkan bahwa Gadara kemungkinan membentang sampai ke danau Galilea.[3] Para penulis Injil tersebut memilih untuk mengacu kepada area yang sama, dengan cara yang berbeda.
Namun yang jelas, baik Matius, Markus dan Lukas tidak saling bertentangan saat menyampaikan kejadian ini. Mereka sama-sama mengacu kepada daerah di sekitar danau Galilea. Lagipula area persisnya tempat mukjizat ini terjadi, tidaklah menjadi sepenting pemahaman kita akan kisah kejadian ini, yaitu bahwa Kristus mempunyai kuasa atas dunia spiritual, dan Ia menyatakan kuasanya atas roh jahat tersebut.
Sedangkan apakah Yesus menyembuhkan satu atau dua orang yang kerasukan setan, juga bukanlah suatu pertentangan. Perbedaan serupa juga terjadi dalam penulisan perikop Yesus menyembuhkan seorang atau dua orang yang buta berikut ini.
[1] lih. Albert Barnes, Notes on the New Testament: Matthew and Mark (Grand Rapids, MI: Baker, 1949), p. 91
[2] Robert Lenski C.H, The Interpretation of St. Mark’s Gospel (Minneapolis, MN: Augsburg, 1946), p. 205; James Burton Coffman, Commentary on Mark (Abilene, TX: ACU Press), 1975, p. 85; Ronald F. Youngblood, 1995, New Illustrated Bible Dictionary (Nashville, TN: Nelson), 1995, p. 468
[3] J.W McGarvey, The Fourfold Gospel (Cincinnati, OH: Standard), p. 344; John and James Strong McClintock and Strong, Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature (Grand Rapids, MI: Baker, 1969), 3: 706
Bagaimana kita tahu bahwa jiwa-jiwa orang yang kita doakan masih berada di Purgatorium atau tidak?
Yang perlu kita ingat adalah waktu yang kita ketahui di dunia ini berbeda dengan yang ada di Purgatorium. Dengan demikian, sangat sulit untuk membandingkan waktu di dunia dengan waktu di Purgatorium. Selanjutnya, hanya Tuhan saja yang tahu apakah jiwa-jiwa di sana telah diangkat ke Surga atau belum. Oleh karena itu, kita dapat terus mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia, terutama kerabat ataupun sahabat kita. Kita meyakini bahwa doa-doa yang kita panjatkan tidak akan sia-sia. Kalaupun jiwa-jiwa di Purgatorium yang kita doakan telah diangkat ke Surga, maka Tuhan dapat mengarahkan doa-doa tersebut untuk membantu jiwa-jiwa yang lain yang masih ada di Purgatorium.
Apakah kita dapat mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium?
Tentu saja kita dapat mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium, bahkan Gereja menganjurkan agar kita mendoakan mereka. Mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium merupakan salah satu bentuk kasih, karena doa-doa kita dapat membantu jiwa-jiwa tersebut, sehingga mereka dapat diangkat ke Surga. Itulah sebabnya, di dalam setiap perayaan Ekaristi, Gereja senantiasa mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium, terutama bagi mereka yang tidak didoakan oleh siapapun.
Apa hubungan antara Purgatorium dengan Tempat Penantian atau Pangkuan Abraham?
Purgatorium berbeda dengan tempat Penantian atau Pangkuan Abraham (bosom of Abraham). Purgatorium adalah ‘tempat’/ keadaan di mana jiwa-jiwa dimurnikan, sedangkan Pangkuan Abraham adalah ‘tempat’/ keadaan penantian di mana jiwa-jiwa menanti untuk diangkat ke Surga oleh Kristus. Semua orang yang telah dibenarkan dan berada di Pangkuan Abraham adalah orang-orang yang telah ditentukan masuk ke Surga, namun belum dapat masuk ke dalamnya. Sebab pintu Surga belum terbuka, sebelum Kristus naik ke Surga untuk menjadi yang sulung dari segala sesuatu (lih. Kol 1:15-20), untuk membuka pintunya bagi umat beriman. Jadi, jiwa-jiwa yang telah dimurnikan dalam Api Penyucian akan masuk ke dalam Pangkuan Abraham sebelum akhirnya diangkat ke Surga oleh Kristus. Namun, setelah kenaikan Kristus ke Surga, tidak ada lagi Pangkuan Abraham, sebab semua orang yang telah sempurna dalam kasih, telah dapat masuk Surga karena Yesus telah membukakan pintunya. Sedangkan, Api Penyucian tetap ada sampai akhir zaman.

