Home Blog Page 58

Bukankah ada banyak kesaksian pribadi yang mengatakan bahwa Purgatorium tidak ada? Jadi mengapa Gereja Katolik tetap mengajarkan Purgatorium?

0

Dewasa ini muncul beberapa klaim wahyu pribadi yang mengatakan bahwa tidak ada Purgatorium. Namun, klaim- klaim seperti ini tidak dapat dijadikan dasar iman kita, sebab sebaliknya, ada banyak kesaksian dari para Santo-santa yang mendukung keberadaan Purgatorium. Kalau iman kita mengambil dasar dari wahyu-wahyu pribadi seperti ini, maka iman kita tidak mempunyai pondasi yang kuat. Itulah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa wahyu pribadi tidak bersifat mengikat. Gereja Katolik tetap mengajarkan adanya Purgatorium, karena proses pemurnian itu memang diajarkan dalam Kitab Suci, dan didukung oleh Tradisi Suci serta diperjelas oleh ajaran Magisterium Gereja. Dengan kata lain, Gereja Katolik tetap mengajarkan Purgatorium karena ini adalah suatu kebenaran yang diwahyukan Allah, dan bukan semata-mata karena klaim wahyu pribadi.

Berapa lama jiwa-jiwa ada di Purgatorium dan sampai kapan kita harus mendoakan mereka?

0

Umumnya, kita tidak akan pernah tahu sampai berapa lama jiwa-jiwa mengalami pemurnian di Purgatorium sebelum akhirnya mereka dapat beralih ke Surga. Hanya Allah saja yang tahu saatnya bahwa jiwa-jiwa tersebut telah murni dan serupa dengan Dia, sehingga layak untuk memandang-Nya di dalam Kerajaan Surga. Ada kekecualian memang pada orang-orang tertentu yang diberi rahmat khusus oleh Allah, untuk mengetahui bahwa jiwa-jiwa tertentu yang didoakan olehnya telah beralih ke Surga. Hal ini misalnya kita ketahui dari pengalaman beberapa orang kudus. Namun pada umumnya, kita tidak mengetahui, apakah atau kapankah jiwa-jiwa yang kita doakan beralih ke Surga. Oleh karena itu, kita yang masih berziarah ini tetap dianjurkan untuk terus mendoakan jiwa-jiwa tersebut. Sebab sekalipun mereka telah beralih ke Surga, doa-doa kita akan tetap dapat membantu jiwa-jiwa lainnya, yang masih berada di Api Penyucian.

Mengapa Allah menciptakan manusia?

0

Walaupun Allah telah berbahagia secara sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus,, namun Dia tetap menciptakan manusia. Hal ini dilakukan-Nya, bukan untuk menambah kebahagiaan maupun kemuliaan-Nya, melainkan karena kasih dan kebaikan-Nya.

Karena sifat dari kebaikan yang menyebar (bonum diffusivum sui), maka Allah menginginkan agar manusia turut berpartisipasi dalam kebaikan dan kebahagiaan Allah. Hal ini dapat dicapai dengan cara mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan melayani-Nya di dunia ini, sehinggal pada akhirnya manusia dapat berbahagia untuk selamanya di dalam Kerajaan Surga.

Katekismus Gereja Katolik 293-294 menuliskan demikian:

KGK 293: Kitab Suci dan tradisi selalu mengajar dan memuji kebenaran pokok: “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah” (Konsili Vatikan I: DS 3025). Sebagaimana santo Bonaventura jelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” (sent. 2,1,2,2, 1). Tuhan tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya: “Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta” (Tomas Aqu. sent.2, prol.). Dan Konsili Vatikan I menjelaskan:
“Satu-satunya Allah yang benar ini telah mencipta dalam kebaikan-Nya dan ‘kekuatan-Nya yang maha kuasa’ – bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya, juga bukan untuk mendapatkan (kesempurnaan], melainkan untuk mewahyukan kesempurnaan-Nya melalui segala sesuatu yang Ia berikan kepada makhluk ciptaan – karena keputusan yang sepenuhnya bebas, menciptakan sejak awal waktu dari ketidak-adaan sekaligus kedua ciptaan, yang rohani dan yang jasmani” (DS 3002).

KGK 294: Adalah kemuliaan Allah bahwa kebaikan-Nya menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Untuk itulah dunia ini diciptakan. “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia” (Ef 1:5-6). “Karena kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; tetapi kehidupan manusia adalah memandang Allah. Apabila wahyu Allah melalui ciptaan sudah sanggup memberi kehidupan kepada semua orang yang hidup di bumi, betapa lebih lagi pernyataan Bapa melalui Sabda harus memberikan kehidupan kepada mereka yang memandang Allah” (Ireneus, haer. 4,20,7). Tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah “Pencipta akhirnya menjadi ‘semua di dalam semua’ (1 Kor 15:28) dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita” (AG 2).

Apakah indulgensi dapat membantu membebaskan jiwa-jiwa di Purgatorium?

0

Gereja Katolik mengajarkan bahwa indulgensi dapat menghapuskan siksa dosa sementara yang dialami oleh jiwa-jiwa di Purgatorium. Indulgensi menjadi salah satu cara bagi kita umat beriman di dunia ini untuk mengamalkan kasih, dan mendoakan sesama yang sudah meninggal dunia maupun memohon keselamatan bagi jiwa kita yang mendoakan. Jika kita dalam kondisi rahmat, telah mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa, menerima Ekaristi, berdoa bagi intensi Bapa Paus, serta melakukan hal-hal yang disyaratkan dalam indulgensi, kita dapat membantu mereka yang berada di Purgatorium untuk menerima indulgensi sebagian (partial indulgence) atau indulgensi penuh (plenary indulgence).

Apakah pada saat Pengadilan Terakhir, Purgatorium masih ada?

0

Pada saat Pengadilan Terakhir yaitu setelah terjadinya akhir zaman, Purgatorium tidak ada lagi, karena memang pada waktu itu tidak lagi diperlukan proses pemurnian. Setelah kebangkitan badan, dalam Pengadilan Terakhir, seluruh jiwa-jiwa bersatu dengan badannya dan diadili di hadapan seluruh umat manusia yang lain. Pada akhirnya, semua jiwa orang-orang benar akan bersatu dengan badan mereka yang telah dimuliakan dan masuk ke dalam Kerajaan Surga, menikmati kebahagiaan abadi untuk selamanya bersama dengan Allah Tritunggal Maha Kudus. Sedangkan semua jiwa orang-orang yang jahat akan masuk ke dalam siksa abadi karena keterpisahan mereka dengan Allah selamanya di neraka.

Kapan Purgatorium mulai ada dan sampai kapan keberadaannya?

0

Paling tidak, Purgatorium ada, ketika manusia membutuhkannya. Ketika ada manusia yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat namun belum sempurna dalam kasih dan memerlukan pemurnian, di saat itulah telah ada Purgatorium. Keberadaan Purgatorium ini akan berakhir pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kali, atau yang disebut akhir zaman.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab