Home Blog Page 57

Apakah indulgensi diberikan jika kita menghadiri Misa dan menerima sakramen-sakramen?

0

Tidak. Karena keistimewaan tertinggi dari partisipasi dalam Kurban Misa dan sakramen- sakramen lainnya, dan daya guna dari setiap sakramen itu dalam hal pengudusan dan pemurnian, maka pada setiap sakramen itu tidak ditambahkan lagi dengan indulgensi. Ketika indulgensi diberikan sehubungan dengan penerimaan sakramen, itu bukan karena partisipasi dalam sakramen itu, tetapi karena sejumlah keadaan yang luar biasa, seperti contohnya, pada saat Komuni Pertama, atau Misa pertama seorang imam, dalam rangka novena, dst.

Apakah Konsili Vatikan II mengubah ajaran tentang Keselamatan (EENS)?

0

Ajaran tentang keselamatan di dalam Gereja Katolik, yang menjadi bagian dalam topik ajaran tentang Gereja,  tidak pernah berubah. Kongregasi Ajaran Iman di Vatikan pernah ditanya apakah KV II mengubah ajaran KV I mengenai ajaran tentang Gereja, dan jawabnya adalah tidak. Demikian kutipan selengkapnya pertanyaan dan jawaban tersebut:

“Pertanyaan pertama

Apakah Konsili Vatikan II mengubah ajaran Katolik tentang Gereja?

Tanggapan

“Konsili Vatikan II tidak mengubah ataupun bermaksud mengubah ajaran ini, melainkan mengembangkannya, memperdalam dan menjelaskannya dengan lebih penuh.

Inilah yang secara persis dikatakan oleh Paus Yohanes XXIII di saat permulaan Konsili. Paus Paulus VI meneguhkannya dan menguraikannya di surat keputusan saat mempromulgasikan Konstitusi Lumen Gentium: “Tak ada komentar yang lebih baik untuk dibuat selain daripada mengatakan bahwa promulgasi ini sungguh tidak mengubah apapun dari ajaran tradisional. Apa yang dikehendaki Kristus, kami pun menghendakinya. Apa yang dulu ada, sekarang tetap ada. Apa yang telah Gereja ajarkan di sepanjang abad, kami juga ajarkan. Dalam istilah sederhana, apa yang diasumsikan, kini dijadikan eksplisit (jelas); apa yang tadinya tidak jelas, sekarang dijelaskan; apa yang tadinya direnungkan, didiskusikan dan diperdebatkan, kini dijabarkan dalam satu rumusan yang jelas. Para Uskup telah berkali-kali menyatakan dan memenuhi maksud ini.” (( Ref: http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_20070629_responsa-quaestiones_en.html ))

Ajaran tentang EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus– Tidak ada keselamatan di luar Gereja) itu tetap berlaku setelah Konsili Vatikan II. Yang diubah hanyalah cara penyampaiannya saja, yaitu tadinya secara negatif, yang dimulai dengan kata “Tidak ada….”, menjadi positif, yaitu “Keselamatan datang dari Kristus melalui Gereja Katolik.” Dalam Katekismus Gereja Katolik, rumusan “Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan” tetap tercetak sebelum paragraf 846, yang artinya, rumusan itu tetap berlaku dan diajarkan oleh Gereja Katolik, hanya saja perlu dipahami menurut pemahaman Gereja Katolik.

Rumusan ini mengambil dasar dari Yoh 14:6 yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh hanya melalui Yesus Kristus. Sebab dikatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku [Yesus].” Dan karena Kristus sebagai Kepala Gereja, Kristus tidak pernah terlepas dari Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya- maka keselamatan juga diperoleh melalui Gereja-Nya.

Jadi, doktrin tentang EENS (Tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik) tetap diajarkan oleh Konsili Vatikan II, yang kemudian dijabarkan maknanya dalam Katekismus Gereja Katolik dengan rumusan yang positif menjadi: Keselamatan datang dari Kristus melalui Gereja-Nya (lih. KGK 846-847)

Selanjutnya, KV II menyampaikan sintesa ajaran Gereja tentang keselamatan sebagaimana disampaikan oleh Tradisi Suci dan Magisterium. Gereja Katolik mengajarkan bahwa memang terdapat kemungkinan bagi seseorang yang tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik untuk diselamatkan, namun ada syaratnya, yaitu bahwa: 1) keadaannya yang tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya itu terjadi bukan karena kesalahannya sendiri, 2) ia mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan tuntunan suara hatinya; 3) ia bertobat/ menyesal atas dosa-dosanya; 4) ia hidup beriman dan melaksanakan cinta kasih. Sebab dengan hal-hal ini orang tersebut dapat diandaikan bahwa ia menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.

Maka kesimpulannya tentang ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan adalah sebagaimana dijelaskan dalam Katekismus:

“Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan” (EENS)

KGK 846    Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (LG 14).

KGK 847    Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16, Bdk. DS 3866 – 3872).

Dengan demikian, ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan tidak pernah berubah, yaitu bahwa Gereja Katolik perlu untuk keselamatan. Walaupun demikian, terdapat kemungkinan keselamatan bagi orang-orang, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, asalkan mereka hidup mencari Tuhan dan melakukan perintah-perintah Nya sebagaimana diketahui lewat hati nurani, dan asalkan ia bertobat dan hidup dalam iman dan kasih. Jika ini yang terjadi, keselamatan yang dapat diperolehnya tersebut tetap diberikan melalui Kristus saja, dengan perantaraan Gereja-Nya; sebab rahmat keselamatan hanya diberikan Allah di dalam Kristus.  Karena Kristus sebagai Sang Kepala, tidak terpisahkan dari Tubuh-Nya, maka rahmat keselamatan itu yang diberikan oleh Kristus, mengalir melalui Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik.

Berkaitan dengan topik ini adalah artikel-artikel berikut ini:

Apa itu EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus)?
Apakah Konsili Vatikan II mengubah ajaran Konsili Vatikan I tentang EENS?
Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya masuk neraka?

Paus Benediktus XVI dan Sola Fide
Tidak ada Keselamatan kecuali melalui Yesus

Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?
Keselamatan dalam hubungannya dengan Baptisan

Apakah Purgatorium itu suatu tempat atau kondisi?

0

Yang berada di Purgatorium adalah jiwa-jiwa yang tidak mempunyai badan, karena badan hanya bersatu dengan jiwa kembali pada saat kebangkitan badan yang terjadi di akhir zaman. Maka Purgatorium bukanlah tempat seperti yang kita kenal di dunia ini yang membutuhkan ruang dan ada batas- batasnya secara fisik. Purgatorium adalah pemurnian bagi jiwa yang tidak membutuhkan tempat seperti yang kita kenal di dunia;  suatu ‘kondisi’ di mana jiwa-jiwa tersebut dimurnikan hingga mencapai kesempurnaannya.

Apakah hari arwah menjadi hari istimewa untuk mendoakan jiwa-jiwa di Purgatorium?

0

Gereja menetapkan bahwa bulan November adalah bulan untuk memperingati para arwah, yang dimulai dengan hari para orang kudus pada tanggal 1 November dan hari arwah pada tanggal 2 November. Hari para orang kudus mengingatkan kita bahwa tujuan akhir dari kehidupan kita adalah Surga. Sedangkan hari peringatan arwah orang beriman mengingatkan kita bahwa ada sejumlah anggota Gereja yang masih membutuhkan doa-doa kita, yaitu mereka yang berada di Purgatorium yang sedang mengalami masa pemurnian. Dalam rangka membantu jiwa-jiwa di Purgatorium, Gereja memberikan indulgensi penuh pada hari arwah sehingga kita dapat membantu jiwa-jiwa tersebut agar dapat digabungkan ke dalam Kerajaan Surga. Jadi, sesungguhnya kita mempunyai kesempatan untuk membantu jiwa-jiwa di Purgatorium secara istimewa di hari arwah. Namun, tentu kita juga tetap dapat membantu jiwa-jiwa tersebut di hari-hari yang lain.

Apakah jiwa-jiwa di Purgatorium dapat mengunjungi manusia di bumi?

0

Dengan seizin Allah, jiwa-jiwa di Purgatorium dapat mengunjungi manusia di bumi. Jiwa-jiwa di Purgatorium biasanya memohon dukungan doa dan terutama agar dipersembahkan intensi bagi keselamatan jiwa-jiwa mereka, dalam perayaan Ekaristi. Hal ini diperkuat dari banyak pengalaman yang dialami oleh para santo-santa, seperti: St. Getrudis, St. Nikolas dari Tolentino, St. Yohanes Maria Vianey, St. Padre Pio, St. Faustina, dll.

Bagaimana mungkin Kristus adalah Tuhan kalau Kitab Suci juga membuktikan bahwa Yesus adalah manusia?

0

Tidak ada yang menyangkal bahwa Kitab Suci membuktikan bahwa Yesus adalah manusia, sehingga Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh manusia. Namun, Kitab Suci yang sama juga membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sehingga Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa Kristus mempunyai kodrat Allah. Ke-Allahan-Nya dapat dibuktikan dengan kedatangan-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi dari generasi ke generasi: Kelahiran-Nya (lih. Mik 5:2), kehidupan-Nya yang membuat banyak mukjizat (lih. Yes 29:18, 35:5-6, 61:1; bdk. Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30), penderitaan dan kematian-Nya (lih. Yes 42, 49, 50, 53). Yesus menyatakan ke-Allahan-Nya juga dengan mengajar dan memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri -bukan dengan mengatakan “Beginilah firman Tuhan…. ” (Kel 4:22; 5:1; Yos 24:2; Hak 6:8; 1Sam 10:18, dst) seperti dikatakan oleh para nabi, namun Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu…” (lih. Mat 5-6). Dengan perkataan-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah Tuhan. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan… ” (Yoh 13:13). Yesus juga menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan dengan menyatakan bahwa Ia berdiam di dalam hati setiap orang, terutama dalam mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan, dan bahwa semua orang kelak akan dihakimi atas dasar perbuatannya terhadap mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan itu, sebab dengan perbuatan tersebut mereka memperlakukan Dia (lih. Mat 25:31-46). Yesus juga melakukan begitu banyak mukjizat seperti menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41), menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19). Yesus juga menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah karena Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa (lih. Mat 9:2-8; Mrk 2:3-12; Luk 5:24, Luk 7:48); Kristus juga mengatakan bahwa Dia mampu memberikan hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28) dan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Dengan cara-Nya sendiri Yesus menyatakan diri-Nya adalah Sang Yahweh, terutama dengan mengatakan bahwa diri-Nya adalah, “Aku adalah Aku/ I am who am”, yang adalah sinonim/ persamaan arti kata ‘Yahweh’ itu sendiri. Karena klaim ke-Allahan inilah, maka Yesus hendak dibunuh dan dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (lih. Yoh 10:33). Selanjutnya, Yesus sendiri tidak menolak ketika Rasul Tomas mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) dan tidak menolak ketika Dia disembah oleh para murid (lih. Mat 28:16-17). Dan akhirnya dalam Kitab Wahyu digambarkan bahwa Yesus bertahta dalam kemuliaan dan seluruh ciptaan menyembah-Nya (lih. Why 5:13-14).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab