Home Blog Page 53

Di Balik Tembok Biara

0

Pengantar dari editor:
Hidup membiara? Bagaimana rasanya? Seperti apa suasana dan kegiatannya sehari-hari? Apa saja kiranya pergumulan yang dihadapi para calon imam di dalam menjalani panggilan istimewa dari Tuhan di dalam hidup mereka itu? Tentu pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik itu sempat terlintas dalam benak kita. Kali ini Ioannes, yang sering menuliskan untuk kita kesegaran perenungan imannya kepada Tuhan dalam rubrik “Gulali Santo-Santa”, berkenan berbagi kisah secara garis besar mengenai kehidupan di balik tembok biara. Terima kasih Ioannes, semoga kisah ini menambah wawasan kita semua akan kehidupan para calon imam sejak sangat awal ketika mereka mengatakan ‘ya’ pada panggilan Tuhan. Semoga menggiatkan semangat kita semua untuk semakin peka dalam merespon panggilan Tuhan, serta semakin menyemangati kita untuk mendukung dan membawa dalam doa-doa kita, mereka yang terpanggil untuk menyerahkan hidupnya sepenuhnya untuk kerajaan Allah, sehingga mereka mampu menghidupi rahmat khusus itu dengan sukacita dan kesetiaan hingga akhir.

Selama ini, tidak banyak orang yang tahu betul gambaran kehidupan di dalam biara. Kalaupun ada, biasanya orang tersebut pernah tinggal atau live in di dalamnya. Di balik tembok biara, ada banyak kisah yang menarik, peristiwa yang unik, dan canda menggelitik. Tetapi, tak jarang pula memendam pergumulan sengit, kesepian dingin, dan kekeringan rohani tersendiri. Bagaimanakah keseharian hidup dalam biara? Anda dapat mengintip sedikit melalui jendela ini. Berikut adalah gambaran kehidupan di Postulat Stella Maris, salah satu rumah formasi yang menjadi tempat pendidikan paling dasar, sebelum pemuda-pemuda terpanggil di rumah ini melanjutkan ke biara Novisiat.

Jenjang Formasi

Para penghuni yang dididik di tempat ini disebut Postulan. Mereka belum disebut frater karena belum menjadi anggota tarekat manapun, namun sedang menjalani persiapan di postulat. Kebanyakan postulat mendidik calon anggota tarekat yang bersangkutan (misalnya postulat milik Karmel khusus mendidik calon Karmelit, postulat milik Kongregasi Misi/CM mendidik calon misionaris CM, dsb). Beberapa postulat lain, seperti Postulat Stella Maris, mendidik gabungan calon religius dari berbagai tarekat. Postulat Stella Maris sendiri menerima orang-orang yang berminat menjadi imam/religius Serikat Sabda Allah (SVD), Ordo Karmel (O.Carm), Kongregasi Misi (CM), Kongregasi Murid-murid Allah (CDD), Kongregasi Passionist (CP), atau imam Projo (Diosesan).

Postulat adalah tahap bagi orang-orang yang tergolong mendapat panggilan agak “terlambat” (menjalani formasi setelah lepas dari SMA umum). Mereka yang memiliki panggilan yang lebih “awal” telah mulai menjalani pendidikan sedari Seminari Menengah (setingkat SMA) dan dilanjutkan KPA.

Kehidupan Komunitas

Gotong royong dan kerjasama adalah warna khas dalam kehidupan membiara. Beragam kegiatan dalam biara dilakukan secara bersama-sama, mulai dari ibadat dan Misa bersama, makan bersama, kerja bersama, dan olahraga bersama. Kegiatan bersama menanamkan nilai hidup bersama dalam masyarakat, suatu nilai yang sangat vital untuk pelayanan di masa depan. Oleh sebab itu, setiap biara biasanya memiliki kegiatan bersama yang terjadwal.

Dalam Postulat, hampir seluruh kegiatan dilakukan secara bersama-sama. Aktivitas pagi setiap hari selalu dimulai dengan Ibadat Pagi (Laudes) dan Misa Harian, yang wajib diikuti oleh seluruh anggota komunitas. Setelah sarapan bersama di ruang makan, kegiatan belajar dilakukan di dalam kelas layaknya sekolah/kuliah hingga Ibadat Siang (Hora Media) dan makan siang. Di sore hari, dilakukan kerja (Opus Manuale) bersama dan olahraga sore bersama. Setelah Ibadat Sore (Vesper), baru ada waktu untuk studi pribadi. Ibadat Penutup (Completorium) diadakan setelah makan malam dan dilanjutkan acara rekreasi bersama. Komunitas juga melakukan outing bersama untuk rekreasi dan mengakrabkan seluruh anggota komunitas.

Kehidupan dalam biara tidak melulu serba tenang dan damai seperti yang tampak. Tetap ada konflik yang sesekali timbul karena setiap anggota tetap manusia yang lemah dan memiliki kekurangan tersendiri. Kebersamaan dalam biara mengajarkan bagaimana interaksi dan konflik diolah secara spiritual. Tidak mungkin melarikan diri dari konflik karena setiap orang saling bertemu secara intens 24 jam sehari. Jalan keluarnya adalah menghadapi dan menyelesaikan konflik dengan damai. Salah satu wadah yang lazim adalah correctio fraterna, di mana seluruh anggota berkumpul untuk saling mengoreksi kelemahan anggota yang lain. Dalam correctio fraterna, setiap anggota harus dengan rendah hati menerima koreksi dari saudara-saudaranya dan memperbaiki kelemahan tersebut demi kehidupan komunitas. Hidup bersama menumbuhkan sikap lapang dada untuk menerima perbedaan masing-masing anggota sekaligus kemurahan hati untuk memaafkan dan menyembuhkan setiap luka yang terjadi karena gesekan.

Kehidupan Doa dan Spiritual

Hidup doa adalah bagian tidak terpisahkan dari seorang Kristen (KGK 2558). Seorang pengikut Kristus harus senantiasa berdoa sebagai sarana relasi intim dengan Allah dan memperkuat iman melawan dosa dan setan (Mat 26.41). Terlebih lagi, seorang calon religius atau klerus. Hidup doa harus menjadi sumber kekuatan bagi setiap rohaniwan dan imam. Kehidupan doa ini dijalani secara bersama-sama dan pribadi. Baik doa pribadi maupun doa bersama adalah penting.

Misa adalah yang pertama dan terutama dari kehidupan doa dalam komunitas. Selama mereka mampu (sehat), setiap anggota diwajibkan mengikuti Misa setiap hari. Apabila ada anggota yang sakit hingga dirawat di rumah sakit, biasanya mereka menerima komuni yang dibawakan oleh romo/suster.

Selain Misa Kudus, anggota komunitas juga melakukan Doa Brevir. Ibadat Harian (Officium Divinum) adalah praktek doa yang sudah dilakukan dalam Gereja sejak abad-abad awal Gereja. Berakar dari pendarasan Mazmur Perjanjian Lama, doa ini berkembang seiring perkembangan hidup pertapa-pertapa Kristen dan memperoleh bentuk liturgisnya melalui Ordo Benediktin. Brevir didoakan pada 7 alokasi waktu sehari pada jam-jam tertentu (Mzm 119.164), yakni Ibadat Pagi (Lauds), Ibadat Jam Ke-tiga (Terce), Jam Ke-enam (Sext), Jam Ke-sembilan (None), Ibadat Sore (Vespers), Ibadat Malam (Compline), dan Ibadat Bacaan (Matins). Dalam tarekat-tarekat yang aktif, Brevir didoakan 4 waktu, di mana Ibadat Ke-tiga, Ke-enam, dan Ke-sembilan digabung menjadi Ibadat Siang (Hora Mediae).

Anggota komunitas juga didorong untuk memiliki devosi pribadi dengan menjalankan salah satu dari beragam devosi yang ada dalam Gereja. Beberapa devosi yang umum dilakukan bersama adalah doa Rosario dan Adorasi pada Sakramen Mahakudus/Salve. Dalam kehidupan Postulat, doa Rosario dilakukan bersama-sama secara berkala selama Bulan Maria dan Bulan Rosario. Salve dilakukan setiap Jumat Pertama. Selebihnya, devosi dapat dilakukan secara pribadi.

Pendidikan Intelektual

Seiring tuntutan zaman, setiap religius dan klerus harus memiliki pengetahuan yang memadai secara intelektual. Oleh sebab itu, para calon imam dan religius mendapat pendidikan intelektual sepanjang masa-masa formasi. Di tahap formasi awal, biasanya pendidikan yang diberikan meliputi bidang-bidang umum, seperti bahasa Inggris dan bahasa-bahasa daerah, Liturgi, bahasa Latin, dan ajaran dasar iman Katolik. Seiring tahap, pendidikan semakin terfokus untuk memperdalam bidang-bidang yang sesuai dengan pelayanan, visi-misi, dan spiritualitas masing-masing tarekat/keuskupan.

Dalam Postulat Stella Maris, para calon imam dan religius dibekali melalui berbagai kelas pelajaran, seperti Hidup Bakti, Bahasa Latin, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Liturgi, Agama, Spiritualitas, Psikologi Panggilan, dll. Pelajaran tersebut menjadi persiapan mendasar bagi para calon untuk menjalani pendidikan di tingkat yang lebih lanjut. Bidang intelektual akan diasah secara lebih intensif ketika menjalani pendidikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi.

Karya Kerasulan

Karya Kerasulan di tengah masyarakat sudah diperkenalkan sejak masa awal formasi, terutama untuk imam diosesan dan tarekat-tarekat aktif. Pengenalan ini terwujud dalam beragam bentuk, seperti kunjungan-kunjungan pastoral di tengah umat secara berkala, pelayanan di paroki dan tempat umum, pembekalan umat melalui retret. Beberapa tarekat suster, misalnya, memiliki tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit untuk melayani pasien-pasien di rumah sakit tersebut. Beberapa bruder atau imam tinggal dalam kompleks sekolah untuk menjadi pengurus dan pengajar. Frater-frater calon imam juga biasa melakukan kunjungan ke paroki dan rumah-rumah umat pada hari-hari tertentu.

Dalam Postulat Stella Maris, pengenalan karya kerasulan dilakukan melalui Kontak Sosial. Caranya, setiap anggota pergi berkelompok (umumnya berdua-dua) untuk menjelajahi daerah-daerah di sekeliling postulat. Mereka harus menemukan orang-orang yang lazimnya kurang diperhatikan oleh masyarakat sekitar, seperti pemulung, pengangkut sampah, pengemis & pengamen, pedagang kecil, dan sebagainya. Setiap pertemuan merupakan kesempatan untuk bercengkerama dan berbincang dengan pribadi-pribadi tersebut, yang membagikan kekayaan rohani tersembunyi pada para calon imam. Para postulan juga diharapkan membawakan penghiburan dengan menjadi teman yang hadir di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Paling tidak, sebagai seorang teman bicara dan berbagi kisah hidup.

Pelayanan juga diwujudkan dengan melayani paroki dan warga sekitar. Biara yang berada dalam wilayah paroki tertentu biasanya turut melayani dalam kehidupan paroki dengan menjadi petugas liturgi, anggota pengurus paroki, atau koor Misa. Warga sekitar juga mendapat pelayanan di berbagai kesempatan, seperti mengadakan bakti sosial atau mengikuti kegiatan-kegiatan warga. Para postulan Postulat Stella Maris, misalnya, mengadakan acara lomba 17 Agustus bersama warga. Relasi dengan warga juga terwujud lewat silaturahmi di Hari Lebaran atau open house di Hari Natal.

Hidup Membiara : Hidup bersama Tuhan dan Saudara

Pada akhirnya, hidup membiara sebenarnya menjalani tantangan yang tidak jauh berbeda dari kehidupan masyarakat awam. Yang membedakan di sini adalah kehidupan membiara melatih kita untuk hidup sepenuhnya menjadi milik Tuhan dan sesama. Kehidupan biara membawa kita pada sikap bahwa hidup kita benar-benar seutuhnya melayani Allah, melalui doa dan sesama, tanpa melekat pada hal-hal duniawi dan urusan-urusan pribadi. Dengan menjalani hidup membiara dengan penuh sukacita, seseorang bersaksi bahwa hidupnya bahagia bukan karena memiliki pasangan hidup, harta kekayaan, kekuasaan, atau kehormatan, melainkan Allah. Hidup membiara memberi kesaksian akan bagaimana kebahagiaan di surga nanti, di mana Allah menjadi segalanya dalam segala.

Kunantikan Allah yang Setia Menepati Janji-Nya

0
Sumber gambar: http://missionhelpers.wordpress.com/2013/12/19/living-in-hope-a-reflection-for-the-4th-sunday-of-advent/

[Hari Minggu Adven IV: 2Sam 7:1-5,8-12,14-16; Mzm 89:2-5,27,29: Rm 16:25-27; Luk 1:26-38] 

Aku memandang Kitab Suciku yang kian hari kian belel ini. Kalau kulihat sekilas dari samping buku, sudah terlihat tandanya, betapa aku lebih suka membaca bagian Perjanjian Baru, ketimbang Perjanjian Lama. Mengapa? Aku sendiri tak tahu pasti. Mungkin karena kisah Tuhan Yesus ada di bagian akhir itu. Tetapi alasan yang mungkin lebih jujur adalah: ini menggambarkan kecenderunganku yang lebih suka melihat hasil akhir, ketimbang melihat perjalanan mencapai hasil akhir.

Di akhir Minggu Adven ini, Tuhan membuka mata hatiku untuk menghargai keduanya. Sebab perjalanan mencapai hasil akhir, yang melibatkan masa penantian, pemurnian dan pengharapan, itu sendiri menggambarkan kisah iman, yang tidak hanya dialami oleh bangsa Israel, tetapi juga dialami oleh setiap kita, secara pribadi. Kisah penyelamatan umat manusia itu sendiri tidak terjadi secara instan, tetapi melewati kurun waktu yang panjang. Maka nampaknya, sering hal itupun yang umum terjadi dalam hidup kita sebagai manusia. Perjalanan iman dan pertumbuhan rohani kita tidak terjadi secara seketika, tetapi melalui suatu proses jatuh bangun, yang sering kali tidak mudah. Tapi kabar baiknya adalah, Allah tetap setia menepati janji-Nya untuk menyelamatkan kita.

Sejak awal mula, sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, Allah telah menjanjikan kedatangan Sang Penyelamat, yang akan lahir sebagai keturunan dari sang perempuan, yang akan mengalahkan iblis (lih. Kej 3:15). Setelah itu janji kedatangan Sang Penyelamat terus dinubuatkan silih berganti oleh para Patriarkh dan para nabi. Maka nubuat yang dibacakan di Bacaan Pertama hari ini adalah salah satu nubuatan itu, yaitu bahwa sang Mesias akan lahir sebagai keturunan Raja Daud (lih. 2Sam 7:12,14,16). Selanjutnya, Nabi Yesaya sekitar 7 abad sebelum Masehi, telah menubuatkan kedatangan Mesias dari seorang perawan (lih. Yes 7:9-14). Nabi Mikha bahkan secara khusus telah menyebutkan Betlehem sebagai kota kelahiran-Nya (lih. Mi 5:2-5). Betapa tak terpahami rencana Allah ini. Berabad-abad Ia mempersiapkan umat-Nya untuk menerima penggenapan rencana-Nya. Ia tetap menepati janji-Nya, meskipun berkali-kali bangsa Israel tidak setia kepada-Nya. Ia tetap mengutus Putera-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita. Jika Putera Allah itu rela mengambil rupa manusia, bagaimana aku bisa berlambat-lambat menyambut-Nya? Jika Ia yang mahatinggi mau merendahkan diri dan lahir sebagai seorang bayi mungil di kandang hewan, pantaskah aku bercongkak hati? Jika Ia yang Empunya segala sesuatu, mau menghampakan diri dan menjadi seorang anak tukang kayu, mungkinkah tak kulihat begitu mulianya nilai kesederhanaan? Engkau merelakan segalanya untuk menyelamatkan kami umat-Mu, ya Tuhan. Betapa semua ini Kaulakukan untuk menyatakan kasih-Mu kepada kami, termasuk kepadaku. O, betapa jiwaku memohon agar Engkau sudi menambahkan lagi setitik pengertian di dalam batinku, tentang misteri kasih-Mu yang tak terpahami ini!

Di hari-hari menjelang Natal ini, mata hatiku tertuju kepada Bunda Maria. Sosoknya yang sederhana selalu memikat hatiku. Saat menerima Kabar Gembira dari malaikat Tuhan, ia benar-benar seorang perempuan biasa, yang mungkin sama sekali tidak terkenal. Maria bukan seperti sejumlah tokoh perempuan lainnya dalam kitab Perjanjian Lama, seperti Debora, Yudit dan Ester, yang dapat dikatakan cukup dikenal dan dihormati di masa hidup mereka. Maria hidup dalam kesederhanaan, atau lebih tepatnya kemiskinan. Namun dalam kemiskinannya ini, hatinya malah dapat sepenuhnya tertuju kepada Allah. Ini membuatnya mampu berharap, di tengah keadaan yang terlihat mustahil di mata manusia. Bagaimana mungkin seorang wanita yang demikian miskin dapat menjadi begitu yakin, bahwa “mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia”? (Luk 1:48) Bunda Maria mempunyai pengharapan yang teguh, karena percaya akan janji Allah. Sebab melaluinya, Tuhan berkenan mewujudkan rencana-Nya yang berabad-abad lamanya tersembunyi (lih. Rm 16:25-26). St. Jose Maria Escriva mengatakan, “Betapa kontrasnya antara pengharapan Bunda Maria dengan ketidaksabaran kita sendiri! Kita sering berharap kepada Tuhan agar membalas dengan segera apapun kebaikan kecil yang telah kita lakukan. Bagi kita, begitu timbul satu kesulitan pertama saja, kita langsung mulai komplain. Sering kita mendapati diri sendiri tak berdaya mempertahankan usaha-usaha kita, untuk menjaga agar pengharapan kita selalu hidup…” (Friends of God, 286). Melalui teladan Bunda Maria ini, semoga kita diteguhkan dalam pengharapan dan ketaatan iman. Bersama Bunda Maria, marilah kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan penuh harap, tanpa komplain tentang situasi apapun yang sedang kita hadapi. Sebab kedatangan-Nya merupakan penggenapan janji Tuhan, bahwa Ia adalah Sang Immanuel, yaitu Allah yang beserta kita (lih. Yes 7:14; Mat 1:23). Jika Allah setia bersama kita, apakah yang perlu kita risaukan?

Hai, jiwaku, lambungkanlah Mazmur ini dengan segenap kekuatanmu: “Kerelaan Tuhan hendak kunyanyikan, selama-lamanya! Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya… ” (Mzm 89:2) Aku menantikan Engkau, ya Tuhan. Datanglah segera!

Jika Maria adalah “Perempuan” dalam Why 12, mengapa dikatakan ia mengalami sakit melahirkan?

0

Ada sejumlah orang mempertanyakan: Jika Gereja Katolik mengartikan ‘perempuan’ di kitab Wahyu 12 itu adalah Bunda Maria, mengapa ia digambarkan mengalami kesakitan sebelum melahirkan? Padahal Gereja juga meyakini bahwa Bunda Maria tidak berdosa, sehingga tidak mengalami konsekuensi dosa yang dialami setiap wanita yang mengalami kesakitan pada waktu melahirkan. Bukankah ini adalah suatu kontradiksi? Pertama-tama, perlu kita ketahui bahwa Gereja Katolik mengakui bahwa terdapat berbagai kemungkinan interpretasi tentang ‘perempuan’ dalam Kitab Wahyu 12. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Namun memang benar bahwa interpretasi utama dan langsung dari ‘perempuan’ dalam kitab Wahyu 12 adalah Bunda Maria, sebab kedua tokoh lainnya dalam perikop tersebut, juga diinterpretasikan langsung sesuai dengan makna literalnya. Yaitu: Anak laki-laki itu yang akan menggembalakan semua bangsa, adalah Kristus; dan naga itu adalah iblis. Karena Anak laki-laki dan naga itu mengacu langsung kepada pribadi yang digambarkannya, maka lebih logislah jika ‘perempuan’ yang melahirkan Anak laki-laki itu, juga mengacu langsung kepada pribadi yang digambarkannya, yaitu Bunda Maria, yang melahirkan-Nya. Walaupun memang dapat saja, perempuan itu juga diartikan secara simbolis sebagai Gereja ataupun bangsa Israel.
Why 12:1-2 mengatakan, “…Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan (‘in anguish for delivery‘ menurut terjemahan RSV).” Jika kita melihat ke kata aslinya dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah βασανίζω (basanízō) yang pada ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci dipergunakan bukan untuk menggambarkan rasa sakit secara fisik, tetapi lebih kepada penderitaan batin.  Kata basanízō dipakai di ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, yang artinya:
– jiwa yang tersiksa (lih.2 Ptr2:8)
– siksaan seperti disengat kalajengking (Why 9:5)
– sakit akibat kerja keras (Mrk 6:48)
– terombang ambing angin sakal (Mat 14:24)
– menderita karena sakit (Mat 8:8)
– sakit karena hukuman (Mat 8:29; Mrk 5:7;
Luk 8:28; Why 11:10; 11:6; 14:10; 20:10)

Menurut John McHugh, “Kata Yunani di sini yang diterjemahkan sebagai ‘in anguish‘ tidak pernah sekalipun digunakan untuk menggambarkan sakit fisik karena melahirkan; baik dalam kitab Septuaginta, Perjanjian Baru, apokrif, maupun tulisan papyri dari para Bapa Gereja. Lebih tidak umum lagi jika kita membayangkan kejadian sakit melahirkan itulah yang digambarkan dalam tulisan-tulisan ini. Kata yang lebih tepat mengartikannya adalah ‘mengalami penderitaan’ dan karena itu, kata tersebut menjadi kata kerja yang cukup mengejutkan untuk ditemui ketika kita mengingat penjabaran yang cemerlang tentang sang perempuan itu.”[1]

Maka, bukan sakit fisik melahirkan yang dialami Bunda Maria saat melahirkan Yesus di Betlehem, yang ingin disampaikan dalam perikop ini. Sebaliknya St. Yohanes Rasul bermaksud menggambarkan adanya kelahiran yang lain, yaitu kelahiran Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus, di sini. Walaupun Gereja dinyatakan lahir secara penuh di hari Pentakosta, namun Gereja telah mulai terbentuk di kayu salib Golgota, yang dilambangkan dengan keluarnya darah dan air dari lambung Kristus. Sebagaimana dulu Hawa dibentuk dari rusuk Adam, demikianlah Gereja dibentuk dari air dan darah dari rusuk Kristus. Di saat itu, saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Yesus, Bunda Maria mengalami penderitaan yang tak terlukiskan, saat ia turut menderita bersama Putera-Nya Yesus yang dianiaya dan disalibkan sampai wafat. Maka penderitaan Bunda Maria di sini bukanlah penderitaan fisik karena melahirkan, tetapi penderitaan batin, saat menderita bersama Kristus yang dengan pengorbanan-Nya melahirkan Gereja. Maka Bunda Maria memberikan dua macam kelahiran, yaitu 1) melahirkan Kristus secara kodrati tanpa merusak keperawannya, sehingga ia tidak mengalami sakit melahirkan; 2) melahirkan Tubuh Mistik Kristus secara rohani, yaitu di Golgota, saat Maria menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus. Demikianlah para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah sungguh ibu bagi para anggota Kristus.[2]

Dalam Ad Diem Illum Laetissimum, Paus St Pius X menulis:

“Tanda besar”, yang dijelaskan oleh Rasul Yohanes tentang penglihatannya, terlihat di Surga: ‘Seorang perempuan berselubungkan matahari dan dengan bulan di bawah kakinya dan bermahkota dua belas bintang di atas kepalanya.” Semua orang tahu, bahwa perempuan ini menggambarkan Perawan Maria, seorang yang tanpa noda yang telah melahirkan kepala kita…. maka Yohanes melihat Bunda Allah tersuci sudah dalam kebahagiaan di Surga, namun mengalami kesakitan misterius saat melahirkan. Kelahiran apakah itu? Tentu itu adalah kelahiran kita yang, masih mengembara di tanah pembuangan, harus dilahirkan menuju kasih Allah yang sempurna dan kepada kebahagiaan kekal. Dan sakit melahirkan menunjukkan kasih dan kerinduan yang dengannya Sang Perawan dari Surga menjaga kita dan berupaya dengan doa yang tak terputus untuk mendatangkan penggenapan bilangan orang-orang yang terpilih…” (ADIL, 24)

Squillaci menjelaskannya demikian: Di kitab Wahyu 5:6, tampaklah Kristus di Surga dalam rupa Anak Domba yang disembelih/ ditikam (Yoh 19:36). Maka penderitaan perempuan yang digambarkan dalam Why 12:2, juga ada dalam kaitannya dengan penikaman Sang Anak Domba. Maka di kitab Wahyu 12, acuannya bukan kelahiran Kristus di Betlehem, melainkan perkataan Kristus di kayu salib kepada murid-murid-Nya, “Inilah Ibumu” (Yoh 19:26). Ini adalah hal keibuan Maria secara rohani dan bela rasa yang dengannya Bunda Yesus mengambil bagian dalam penderitaan Putera-nya, Sang Anak Domba yang ditikam. Maka Yoh 19:25-26 dan Why 12 mempunyai hubungan satu sama lain. Dalam kedua perikop tersebut, keibuan Maria secara rohani dalam kaitannya dengan para murid Kristus melibatkan penderitaan.[3]

Maka di sini Rasul Yohanes membicarakan tentang bentuk penderitaan batin, sebagaimana juga dialami oleh Rasul Paulus, yang juga menggmbarkan penderitaan batinnya seperti sakit melahirkan, ‘sampai rupa Kristus menjadi nyata’ di dalam para pembaca suratnya. Juga bagaimana sakit melahirkan juga disebut dalam suratnya yang lain, “… segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin…. kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Rm 8:22-23) Demikianlah penderitaan yang dialami oleh Bunda Maria, yang merupakan penggenapan dari nubuat Simeon, bahwa sebilah pedang akan menembus jiwanya (lih. Luk 2:34-35).

Juga di perikop Why 12, setelah disebutkan tentang penderitaan yang dialami oleh sang perempuan itu, dikatakan juga bahwa Anak-Nya akan ‘dibawa lari kepada Allah dan ke tahta-Nya’ yang menjadi penggambaran akan kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga. Maka penderitaan dan ‘kesakitan’ yang disebut dalam Why 12:2 berkaitan dengan penderitaan Bunda Maria ketika melihat penolakan terhadap Putera-Nya Yesus Kristus di kayu salib. Dan bahwa dalam penderitaan itu, Bunda Maria telah diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk menjadi ibu rohani bagi mereka (lih. Yoh 19:27, Why 12:17).

[1] John McHugh, The Mother of Jesus in the New Testament, (Gardent City, New York: Doubleday & Company, Inc., 1975), p.411.

[2] Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium, 53

[3] D. Squillaci, “Maria nella Donna dell’ Apocalisse”, Mile Immaculatae 5 (1969): 151 seperti dikutip oleh Stephano Manelli, All Generations Shall Call Me Blessed, (New Bedford, Massachusetts: Academy of the Immaculate, 1995), pp. 356-357.

Apakah kehendak bebas (free will)?

0

Allah dalam diri-Nya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas (KGK 1). Namun, demikian secara bebas, Dia menciptakan makhluk berakal budi – yaitu malaikat dan manusia – seturut dengan gambarnya (Kej 1:27), yaitu dengan memberikan kepada mereka kehendak bebas (free will). Kehendak bebas ini adalah merupakan kekuatan dari kehendak yang mengalir dari akal budi, sehingga manusia dapat “melakukan” atau “tidak melakukan”, “memilih ini” atau “memilih itu”. (KGK 1731) Dari definisi ini, maka memang dengan kehendak bebasnya, manusia dapat menolak Allah atau memberikan diri secara bebas kepada Allah. Namun, kalau sampai seseorang salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, maka hal ini tentu bukan kesalahan Allah, melainkan tanggung jawab orang tersebut, yang tidak mampu menggunakan kehendak bebasnya secara bertanggungjawab.

Dengan kehendak bebas ini, Allah sungguh menghargai manusia, sehingga manusia dapat secara bebas untuk masuk dalam hubungan pribadi dengan Allah. Masuk dalam hubungan pribadi dengan Allah, yang adalah menjadi tujuan akhir manusia, sesungguhnya mensyaratkan pemberian diri secara bebas (KGK 1730). Hal ini sama seperti seorang wanita, yang harus memberikan diri secara sukarela tanpa paksaan kepada pria dalam hubungan perkawinan. Dan hal ini hanya mungkin terjadi, kalau manusia mempunyai kehendak bebas. Jadi, kehendak bebas adalah pemberian Allah yang sungguh berharga bagi manusia, dan sungguh baik, karena dengannya, manusia dapat dihargai sebagai sebuah pribadi, yang mampu masuk dalam hubungan antar pribadi secara bebas, mampu memberikan diri secara bebas, dan sampai akhirnya memperoleh kebahagiaan dalam persatuan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkannya demikian:

KGK 1 : Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana-mana Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya. Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.

KGK 311 : Para malaikat dan manusia, ciptaan yang berakal budi dan bebas, harus menyongsong tujuannya terakhir dengan kehendak bebas dan mengutamakan tujuan itu karena cinta. Karena itu mereka juga dapat menyimpang dari jalan dan dalam kenyataannya sudah berdosa. Demikianlah kejahatan moral, yang jauh lebih buruk daripada kebobrokan fisik, masuk ke dalam dunia. Bagaimanapun juga, baik langsung maupun tidak langsung, Allah bukanlah sebab kejahatan moral (bdk. Agustinus, lib. 1,1,1; Tomas Aqu. s.th. 1-2,79,1). Namun Ia membiarkannya terjadi karena Ia menghormati kebebasan makhluk-Nya, dan dengan cara yang penuh rahasia Ia tahu menghasilkan yang baik darinya:
“Allah yang maha kuasa… dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas tidak mungkin membiarkan kejahatan apa pun berada dalam karya-Nya, kalau Ia tidak begitu maha kuasa dan baik, sehingga Ia juga mampu mengambil kebaikan dari kejahatan” (Agustinus, enchir. 11,3).

KGK 1730 : Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan telah memberi kepadanya martabat seorang pribadi, yang bertindak seturut kehendak sendiri dan menguasai segaIa perbuatannya. “Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri” (Sir 15:14), supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan” (GS 17). “Manusia itu berakal budi dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya” (Ireneus, haer. 4,4,3).

KGK 1731 : Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

KGK 1742 : Kemerdekaan dan rahmat. Rahmat Kristus sama sekali tidak membatasi kemerdekaan kita, jikalau kemerdekaan ini sesuai dengan cita rasa kebenaran dan kebaikan, yang Allah telah letakkan di dalam hati manusia. Pengalaman Kristen membuktikan yang sebaliknya terutama dalam doa: semakin kita mengikuti dorongan rahmat, maka kemerdekaan batin kita dan ketabahan kita dalam percobaan serta dalam menghadapi tekanan dan paksaan dari dunia luar akan semakin bertambah. Melalui karya rahmat, Roh Kudus mendidik kita menuju kemerdekaan rohani, supaya menjadikan kita rekan kerja yang bebas dari karya-Nya dalam Gereja dan dunia.
“Bapa yang mahakuasa dan maharahim,… singkirkanlah segaIa sesuatu yang merintangi kebahagiaan kami, dan jauhkanlah apa yang membebani jiwa dan raga kami, sehingga dengan tulus ikhlas kami melaksanakan kehendak-Mu” (Doa pembukaan, Hari Minggu 32).

KGK 1745 : Kebebasan mewarnai perbuatan yang sungguh manusiawi. Ia menjadikan manusia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dikerjakan dengan kehendak bebas. Perbuatan-perbuatan yang dikehendaki manusia, tetap dimilikinya.

Kapan waktu yang tepat untuk memasang dekorasi Natal menurut ketentuan liturgi?

0

Menurut Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, 17 Desember 2001 di Vatikan, pemasangan pohon Natal dan kandang Natal dilakukan pada malam Natal.

Berikut ini kutipannya:

Malam Natal

109. Dalam waktu antara Ibadat Sore I Natal dan misa tengah malam – baik tradisi nyanyian Natal yang menjadi sarana ampuh menyampaikan pesan sukacita dan damai Natal, maupun kesalehan umat menawarkan beberapa bentuk doa yang berbeda-beda dari negara ke negara — semua ini hendaknya disambut gembira dan kalau perlu diserasikan dengan perayaan liturgi sendiri. Beberapa contoh, misalnya:

– “kandang hidup” dan pemasangan kandang di rumah-rumah kaum beriman yang merupakan kesempatan yang baik untuk doa keluarga: doa ini hendaknya mencakup pembacaan kisah kelahiran Yesus menurut Lukas, nyanyian khas Natal, serta doa permohonan dan pujian, khususnya oleh anak-anak, “bintang” dalam peristiwa keluarga seperti ini;

– pemasangan pohon Natal. Ini juga mewartakan kesempatan yang bagus untuk doa keluarga. Terlepas dari asal usul historisnya, pohon Natal memiliki simbol kuat dewasa ini dan tersebar amat luas di tengah umat Kristiani; pohon Natal mengingatkan pohon yang tumbuh di tengah Taman Eden (Kej 2:9) maupun pohon Salib, yang mendapat makna Kristologis: Kristus adalah pohon hidup sejati, lahir dari tunggul insani, dari Perawan Maria, pohon yang selalu hijau dan berbuah lebat. Di negara-negara Eropa Utara, pohon Natal dihias dengan apel dan malaikat dapat ditambahkan ‘bingkisan’. Namun di antara bingkisan yang ditempatkan di bawah pohon Natal, hendaknya ada juga bingkisan untuk kaum miskin sebab mereka merupakan bagian dari setiap keluarga Kristiani…”

Dokumen yang sama menyebutkan bahwa masa Adven adalah masa penantian, pertobatan dan pengharapan (lih. no. 96). Maka pemasangan pohon Natal berikut hiasan/ bingkisannya -yang lebih berkonotasi suasana perayaan/ suka cita- memang hendaknya dilakukan sesaat sebelum malam Natal, di mana suasananya sudah mendekati hari Natal. Namun jika ini tidak memungkinkan, menurut hemat kami, jalan tengahnya adalah: pohon Natal yang tanpa hiasan dapat dipasang beberapa hari sebelumnya (sedapat mungkin di Minggu terakhir Adven), namun pemasangan hiasan dan bingkisan yang mengacu kepada ekspresi perayaan, silakan dilakukan pada sesaat sebelum Misa Malam Natal. Dengan demikian makna Adven sebagai masa penantian dan pertobatan tetap dijaga dan diekspresikan dalam prakteknya.

Mengapa Maria yang dikandung tanpa noda dosa tetap menyebut Yesus sebagai Juruselamatnya?

0

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah menyediakan rahmat khusus kepada Bunda Maria sehubungan dengan perannya sebagai Bunda Allah, maka ia disebut sebagai “penuh rahmat” (lih. Luk 1:28). Allah memberikan kepenuhan rahmat-Nya kepada  Bunda Maria agar ia terbebas dari dosa asal sejak ia terbentuk sebagai janin di rahim ibunya, St. Anna. Dengan demikian, Maria malah lebih lagi memerlukan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Sebab hal ‘dibebaskan dari dosa asal sejak di dalam kandungan’ tidak mungkin terjadi tanpa jasa Kristus yang menyelamatkannya dan menguduskannya.

Karena kuasa Kristuslah maka Bunda Maria dapat dikandung tanpa noda dan dibebaskan dari dosa seumur hidupnya. Jadi hal ‘tidak berdosa’ ini bukan disebabkan karena kekuatan Maria sendiri, tetapi karena rahmat Allah. Namun rahmat Allah yang istimewa ini, memang hanya diperuntukkan untuk Bunda Maria saja, karena yang menjadi ibu yang mengandung Yesus, ya hanya Bunda Maria saja. Ibu dari Bunda Maria (St. Anna) tidak mengandung Yesus, maka ia tidak menerima rahmat yang sama dengan rahmat yang diberikan kepada Bunda Maria yang mengandung Yesus. Maka pengudusan Bunda Maria dari noda dosa asal, tidak mensyaratkan pengudusan yang sedemikian kepada ibunya juga. Maka, keistimewaan ini -yaitu dibebaskan dari noda dosa asal- memang hanya diberikan kepada Bunda Maria. Bunda Maria menerima keistimewaan rahmat ini dari Misteri Paska Kristus, yang diperolehnya secara antisipatif, yaitu sebelum peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya itu terjadi. Kuasa Kristus Sang Putera Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, memungkinkan-Nya untuk dapat memberikan kuasa-Nya kepada Maria ibu-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Perolehan secara antisipatif, rahmat keselamatan yang mengalir dari Misteri Paska Kristus, juga diterima oleh para nabi dan orang-orang yang dibenarkan oleh Allah, yang hidup di zaman sebelum Kristus.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab