Home Blog Page 52

Montir Agung

0

Sharing Pelayanan oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Misa pemberkatan rumah, tanggal 05 Desember 2014, memberikan motivasi iman bagi yang sedang dalam pergumulan. Seorang ibu mendekatiku sebelum meninggalkan tempat tersebut. Ibu itu bernama Teni. Usia ibu Teni adalah enam puluh empat tahun. Wajahnya bersinar. Ia penuh antusias mengungkapkan pengalamannya atas pertolongan Tuhan. Ia dinyatakan menderita kanker serviks setelah Lebaran tahun 2014. Ia sempat tergoncang ketika ia mendengarnya: “Tuhan mengapa Engkau mengambil apa yang telah Engkau berikan kepadaku”. Jiwanya tergoncang karena hantaman keresahan. Ia tak sanggup memikirkan tentang operasi, radiasi, dan kemoterapi. Bayangan tentang menghitamnya kulit akibat radiasi dan rontoknya rambut karena efek kemoterapi sempat mematahkan semangat perjuangannya untuk hidup.

Ketika ia tak berdaya mengikuti pikiran dan perhitungan manusiawi, ia bersandar kepada Tuhan. Ia berdoa kepada Tuhan dengan sebuah permohonan sederhana: “Tuhan, bolehkah aku masih bisa bernafas lebih lama lagi agar dapat mendampingi puteriku dan cucuku, yang merupakan anak dan cucu tunggalku”. Pertolongan Tuhan sungguh ajaib ketika ia menyerahkan hidupnya kepadaNya. Setelah menyelesaikan radiasi pada bulan Oktober 2014, dokter menyatakan bahwa ia telah bersih dari sel-sel kanker sehingga tidak perlu menjalani kemoterapi. Kulitnya pun tetap tidak berubah akibat dari radiasi. Ia mensyukuri mukjizat Tuhan dalam hidupnya ini. Ia bersyukur bahwa Tuhan senantiasa mengingatnya. Tuhan telah melukiskannya dalam telapak tangan-Nya sehingga Ia pasti tidak melupakannya ketika ia dalam penderitaan: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yesaya 49:16).

Pengalaman penyembuhan dari penyakit kanker serviks ini membuatnya mengalami Tuhan secara personal. Tuhan adalah “Montir Agung” kehidupan. Ketika kita menyerahkan mobil kita yang bermasalah kepada montir yang lihai, ia akan berusaha menemukan penyebabnya dan memperbaikinya. Hasilnya mobil itu akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Tuhan adalah “Sang Montir Agung dan Handal” kehidupan karena Ia adalah Penciptanya. Sebagai Pencipta kehidupan, Ia tahu kunci dalam menangani tubuh dan jiwa kita yang mungkin rusak. Ketika kita menyerahkan penanganan penyakit kita kepada Tuhan, Ia tahu bagaimana membereskannya secara baik dan bijaksana. Kita akhirnya pasti akan lebih mempercayaiNya atau lebih beriman kepadaNya.

Pesan yang kita dapatkan dari pengalaman iman ini. Persoalan besar bagi dunia mungkin merupakan sebuah kehancuran. Akan tetapi, kehebatan Allah justru dinyatakan di tengah kehancuran. Di tengah kehancuran hidup, kita justru diangkatNya. Di dalam Tuhan tidak ada kehancuran. Semua yang ada adalah anugerah dan kasih karunia-Nya. Senantiasa ada anugerah Tuhan di dalam sesuatu yang nampaknya merupakan sebuah musibah. Kemuliaan dari Tuhan senantiasa mengikuti sesuatu yang kelihatannya seperti kehancuran. Karena itu, jangan bersungut-sungut ketika melihat duri pada setangkai mawar karena duri yang tajam memiliki bunga mawar yang sangat indah. Janganlah terlalu tenggelam dalam penderitaan karena di dalam penderitaan Tuhan sedang membuat mukjizat bagi kita: “TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu” (Mazmur 121: 7).

Tuhan Memberkati

Apakah indulgensi dapat diberikan kepada orang yang wafat namun telah dikremasi dan abunya dibuang ke laut?

0

Prinsipnya, indulgensi dapat diberikan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, tanpa memperhitungkan bagaimana caranya orang itu meninggal, dan bagaimana perlakuan yang diberikan kepada jenazahnya, apakah dikubur ataukah dikremasi.

Apakah benar Gereja Katolik pernah menjual surat indulgensi/ surat pengampunan dosa?

0

Telah dijabarkan bahwa menurut Katekismus, Indulgensi adalah: (berikut ini kami beri nomor supaya lebih jelas unsur-unsurnya)
1. penghapusan siksa-siksa sementara di depan Allah
2. untuk dosa-dosa yang sudah diampuni.
3. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya,
4. di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas
5. memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.

Sejumlah orang berpandangan bahwa dulu di sekitar abad 14-16 terjadi jual beli surat indulgensi agar memperoleh pengampunan dosa, sehingga Martin Luther memprotesnya. Namun pandangan ini tidak benar, justru karena dari definisinya saja, tidak cocok. Sebab indulgensi tidak diberikan agar dosa-dosa diampuni, tetapi sebaliknya, dosa-dosa itu harus diakui terlebih dahulu dalam sakramen Pengakuan Dosa; dan baru ketika dosa-dosa itu sudah diampuni, orang yang bersangkutan dapat memperoleh indulgensi, jika syarat-syarat lainnya dipenuhi.
Memang, di Abad Pertengahan sampai abad-16 Gereja sedang membangun basilika St. Petrus. Harus diakui, bahwa mungkin saja ada penyimpangan dalam penerapan ajaran indulgensi, tapi ini tidak menghapus akan kebenaran bahwa Gereja mempunyai kuasa untuk memberikan indulgensi. Jika kita membaca catatan sejarah, kemungkinan inilah yang terjadi:

Paus Leo X (1513-1521), memberikan indulgensi kepada orang-orang yang memberikan sumbangan untuk pembangunan basilika St. Petrus, namun pertama-tama bukan karena memberi uang, melainkan karena mereka melakukan perbuatan amal kasih, yaitu untuk mendukung seluruh jemaat agar memiliki rumah ibadah untuk menyembah dan memuliakan Tuhan. Namun untuk memperoleh indulgensi tersebut, seseorang juga harus memenuhi syarat lainnya, contohnya seperti mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, menerima Komuni, mendaraskan doa tertentu, berpuasa/matiraga dan memberi sedekah, yang semuanya harus dilakukan dengan sikap hati yang benar.

Seorang pengkhotbah Dominikan, bernama Johann Tetzel diutus berkhotbah ke Juterbog, Jerman. Amal/ derma (almsgiving) yang selalu menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2), menjadi temanya, demi menggalang dana untuk pembangunan basilika, dan ini dikaitkan dengan indulgensi. Sayangnya, Tetzel membuat suatu pantun yang memang dapat disalahartikan, karena berbunyi seperti ini, “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Maka kesannya, seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk Surga, atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal yang mereka doakan langsung akan dapat masuk Surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan untuk dosa yang belum diakui dan karena itu, belum diampuni; apalagi membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum dilakukan. Atau, jika doa ditujukan bagi jiwa orang yang sudah meninggal, tetaplah pada akhirnya Tuhan yang memutuskan apakah jiwa itu sudah siap beralih ke Surga atau belum, dan bukan atas jasa perbuatan orang yang memasukkan sumbangan ke dalam kotak. Sebab, yang berkuasa mengampuni dosa dan membawa jiwa-jiwa ke Surga tetaplah Kristus. Hanya Tuhanlah yang mengetahui apakah syarat perolehan Indulgensi Penuh itu sungguh terpenuhi. Sebab Indulgensi Penuh—yang mengakibatkan jiwa di Purgatorium dapat dibawa ke Surga—mensyaratkan bahwa orang yang mendoakannya tidak mempunyai ketidakerikatan terhadap dosa apapun. Maka kita sendiri tidak dapat tahu dengan persis, apakah kita dapat memperoleh Indulgensi Penuh; hanya Tuhanlah yang mengetahuinya. Jadi, perbuatan apapun yang kita lakukan tidak dapat menggantikan peran Kristus untuk menyelamatkan seseorang.

Doktrin Indulgensi ini terkait dengan ajaran tentang Sakramen Tobat, Api Penyucian, dan mendoakan jiwa-jiwa umat beriman yang sudah meninggal. Doktrin-doktrin ini kemudian ditolak oleh gereja- gereja Protestan.

Telah disebutkan, kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam penerapan ajaran indulgensi di abad 15-16 itu. Inilah yang mengundang protes Martin Luther. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang, di thesis no. 27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”.

Kemungkinan karena adanya resiko penyimpangan sehubungan dengan pelaksanaan ajaran tentang indulgensi yang melibatkan sumbangan dana kepada Gereja, maka dalam Konsili Trente (1545-1563), Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, sumbangan kepada Gereja tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

Jadi pengampunan dosa tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi di abad ke-16 itu dapat diperoleh dengan menyumbang, namun hati yang bertobat, mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa. Indulgensi berkaitan dengan penghapusan siksa dosa sementara untuk dosa-dosa yang sudah diampuni, yang dapat dimohonkan untuk diri kita sendiri maupun untuk jiwa-jiwa orang-orang yang sudah meninggal yang kita doakan

Untuk syarat perolehan Indulgensi Penuh dan Sebagian, silakan klik di sini.

Apakah syarat untuk menerima indulgensi penuh, apakah sia-sia jika ada syarat yang tak terpenuhi?

0

Untuk memperoleh indulgensi penuh, seseorang perlu melakukan perbuatan yang disyaratkan, dan memenuhi syarat ini: 1) menerima sakramen Pengakuan dosa, 2) menerima Komuni kudus; 3) mendoakan intensi Bapa Paus; 4) Tidak ada keterikatan dengan dosa, bahkan dengan dosa ringan. Sebuah pengakuan dosa dalam sakramen tobat cukup untuk memperoleh beberapa indulgensi penuh, tetapi Komuni harus diterima pada hari yang sama, dan juga doa untuk intensi Bapa Paus harus didaraskan untuk memperoleh setiap indulgensi penuh. Jika salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi, maka apa yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan indulgensi, tidaklah sia-sia, karena walaupun tidak mendapatkan indulgensi penuh, namun dapat memperoleh indulgensi sebagian.

Terang Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya

0
Sumber gambar: http://pixgood.com/epiphany-images.html

[Hari Raya Penampakan Tuhan: Yes 60:1-6; Mzm 72:1-13; Ef 3:2-6; Mat 2:1-12]

Masih dalam suasana Natal, hari ini kita merayakan Penampakan Tuhan. Dulu, aku sempat bertanya dalam hati, “Kelahiran Tuhan Yesus sudah diperingati di hari Natal kemarin, mengapa kok baru hari ini dirayakan penampakan-Nya?” Baru kemudian kuketahui bahwa ‘Epifani’ penampakan Tuhan di sini, maksudnya adalah, kelahiran Kristus dinyatakan kepada seluruh bangsa, yang diwakili oleh para majus itu. St. Paus Leo Agung I mengajarkannya demikian, “Sebab sehubungan dengan keselamatan semua umat manusia- lah, kelahiran Sang Pengantara antara Allah dan manusia telah dinyatakan kepada seluruh dunia, ketika Ia masih tersembunyi di kota kecil itu. Sebab meskipun Ia telah memilih bangsa Israel, dan sebuah keluarga dari bangsa itu, yang daripadanya Ia mengambil kodrat manusia, namun Ia tidak menghendaki bahwa hari-hari setelah kelahiran-Nya menjadi tersembunyi dalam batas-batas sempit rumah ibu-Nya, tetapi menghendaki agar [kelahiran-Nya itu] dapat dikenali oleh semua orang, mengingat bahwa Ia berkenan lahir untuk semua orang. Maka, kepada ketiga orang majus itu, nampak sebuah bintang …. yang karena lebih terang dan berkilau daripada bintang-bintang lainnya, dapat dengan mudah menarik perhatian mata dan pikiran bagi mereka yang memandang kepadanya… Maka Ia yang memberi tanda, memberi pengertian tentangnya kepada yang memandangnya, dan menyebabkan penyelidikan tentangnya untuk dilakukan, … dan setelah penyelidikan dilakukan, [Ia] membuat diri-Nya sendiri ditemukan.” (Pope Leo the Great, Sermon 31, I )

Demikianlah nyata karya Allah, yang walaupun sederhana dan tersembunyi, namun juga tetap menampakkan kemuliaan dan keagungannya. Walaupun Yesus lahir di kandang yang sunyi, namun diiringi oleh paduan suara malaikat surgawi; walaupun lahir di malam gelap, namun diterangi cahaya bintang istimewa yang amat terang. Walaupun pada awalnya hanya sejumlah gembala setempat yang datang menyembah-Nya, namun kemudian para orang majus dari bangsa-bangsa lain pun datang dan memberi penghormatan kepada-Nya. Betapa dalam kebijaksanaan-Nya, telah sejak awalnya, Kristus menyatakan kerendahan-Nya sebagai manusia, namun juga kemuliaan-Nya sebagai Allah. Betapa kayanya rahasia penjelmaan Kristus Sang Putera Allah, saat Ia mengambil rupa manusia! “Rahasia itu, “ kata Rasul Paulus, “pada zaman dahulu tidak diberitakan kepada umat manusia, tetapi sekarang dinyatakan dalam Roh kepada para rasul dan para nabi-Nya yang kudus. Berkat pewartaan Injil, orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris, menjadi anggota-anggota tubuh serta peserta dalam janji yang diberikan Kristus Yesus” (Ef 3:5-6). Sebab janji Kristus untuk menyelamatkan semua bangsa yang percaya kepada-Nya, itupun telah nampak di hari-hari setelah kelahiran-Nya. Yaitu, saat para majus yang mewakili bangsa-bangsa itu datang, “masuk ke dalam rumah itu… dan sujud menyembah Dia” (Mat 2:11). Kedatangan para majus ini dan persembahan mereka kepada bayi Yesus, juga menggenapi apa yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, yaitu bahwa para bangsa akan membawa emas dan kemenyan kepada-Nya, yaitu Sang Terang Tuhan yang menyatakan kemuliaan-Nya (lih. Yes 60:1-6).

Maka perayaan Epifani hari ini menggugah hati kita: Apakah hidup kita juga telah menampakkan Terang Tuhan dan menyatakan kemuliaan-Nya? Sebab dapat saja, kita telah sekian lama menjadi murid Kristus, dan tahun demi tahun merayakan Natal, namun hidup kita belum sepenuhnya menampakkan Terang Tuhan itu. Kita masih jatuh bangun untuk mengalahkan kegelapan dalam jiwa kita, yaitu segala bentuk kelemahan dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Atau mungkin kita belum sungguh-sungguh menyatu dengan Sang Terang itu sehingga kita tidak selalu mampu untuk memancarkan Dia. Bagaikan korek api yang kalau tidak menyatu dengan sumber api juga tidak dapat menyala, demikian pula, kita tak mungkin bersinar, jika kita tidak menyatu dengan Sang Sumber Terang, yaitu Kristus sendiri. Oleh karena itu Gereja mengajak kita, terutama dalam keluarga, untuk kembali menimba kekuatan dari Sang Terang. Ada yang menandainya dengan membawa lilin-lilin untuk diberkati hari ini, yang kemudian dinyalakan di rumah setiap kali pada saat berdoa. Ada pula yang hari ini berdoa bersama keluarga dan menandai ambang pintu rumah dengan inisial nama para majus itu, dan memohon kepada Tuhan agar diberikan rahmat, kerendahan hati dan keberanian untuk selalu percaya kepada-Nya, mencari dan melaksanakan kehendak-Nya, seperti para majus itu. Apapun yang dilakukan, maksudnya adalah, kembali kepada Sang Terang, agar mampu meneruskan Terang itu kepada orang-orang di sekitar kita.

“Ya Tuhan, betapa aku rindu, agar segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari pada-Mu! Namun, bukalah dan gerakkanlah hatiku untuk mewujudkan bagian yang harus kulakukan agar rencana-Mu itu tergenapi. Buatlah aku melekat kepada-Mu, ya Tuhan, sehingga bersama-Mu, aku dapat mengusahakan kebaikan, keadilan dan cinta kasih, bagi orang-orang di sekitarku. Semoga dengan demikian, aku dapat memancarkan Terang-Mu dan kemuliaan-Mu. Amin.”

Apakah Yesus tinggal dalam keluarga kita?

0
Sumber gambar: http://fr.forwallpaper.com/wallpaper/nativity-scene-the-birth-476099.html

[Hari Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, Yusuf: Kej 15:1-6;21:1-3; Mzm 105:1-9: Ibr 11:8-19; Luk 2:22-40]

Kandang Natal. Di tengah-tengah dekorasi Natal yang meriah, mataku tertuju kepada kandang Natal. Di sanalah terbaring Bayi Yesus, Sang Juruselamat kita, dikelilingi oleh St. Yusuf dan Bunda Maria, dan para gembala. Dalam keheningan dan kemiskinan, Sang Putera Allah telah lahir bagi kita. Ia menyembunyikan segala kebesaran dan kemuliaan- Nya, dengan mengambil rupa seorang bayi mungil, dari keluarga miskin. Ia lahir di kandang, tidur di tempat makanan hewan, suatu keadaan yang mungkin tidak pernah dialami, bahkan oleh orang yang paling miskin sekalipun. Tapi itulah cara yang dipilih-Nya untuk datang ke dunia, untuk menunjukkan betapa besar kasih-Nya kepada kita, sampai Ia rela meninggalkan segala-galanya. Walaupun sebenarnya Ia tidak tergantung oleh siapapun dan tidak membutuhkan siapapun, Tuhan Yesus memilih untuk datang sebagai seorang anak kecil, agar sungguh menempuh perjalanan hidup sebagai manusia dan mengalami kebersamaan dalam sebuah keluarga.

Adakah Kristus tinggal dalam keluarga kita? Sebab jika demikian, kita turut mengambil bagian dalam mewujudkan rencana Allah. Dalam rencana keselamatan-Nya, telah sejak awalnya Allah melibatkan manusia, secara khusus, keluarga. Di Bacaan Pertama hari ini, dikisahkan bagaimana Allah melibatkan Abraham dan Sara, di usia mereka yang telah lanjut, untuk melahirkan Ishak, sang anak perjanjian (lih. Kej 21:2-3). Ishak inilah yang kemudian menurunkan Yakub yang menjadi bapa bagi keduabelas suku bangsa Israel, bangsa yang melaluinya Allah mengutus Kristus Putera-Nya. Maka kisah Abraham menjadi kisah iman, terutama, bahwa setelah Ishak lahir dan beranjak remaja, malah Allah meminta Abraham untuk mengorbankannya bagi-Nya. Bagaimana mungkin, Allah menyuruh Abraham, sebagai seorang bapa, untuk mengorbankan anaknya sendiri? Namun Abraham tetap taat sebab ia mempunyai iman yang teguh, bahwa jika Allah mampu mengaruniakan anak kepadanya di usianya yang nampak mustahil di mata manusia, tentu Allah yang sama ini mampu menghidupkan anaknya kembali (lih. Ibr 11:19). Dengan kata lain, Abraham percaya, bahwa Allah tetap akan memenuhi janji-Nya untuk menjadikannya bapa banyak bangsa. Memang, Ishak tidaklah mati, sebab Allah kemudian menggantikannya dengan kurban anak domba yang disediakan-Nya. Kisah ini dimaksudkan Allah untuk menjadi gambaran samar-samar akan Diri-Nya sendiri, yang mengorbankan Kristus Putera Tunggal-Nya, untuk menebus dosa-dosa umat manusia.

Di dalam Kristuslah, Sang Anak Domba Allah, keselamatan yang dari Allah dinyatakan kepada kita (lih. Luk 2:30). Demikianlah Yusuf, Maria dan Yesus disebut Keluarga Kudus, sebab Yesus tinggal di sana dan senantiasa menguduskan mereka. Demikian pula, Kristus mau hadir dalam keluarga kita untuk menguduskan kita. Ya, panggilan untuk hidup kudus tidaklah terbatas hanya kepada para pastor, suster, atau segelintir orang saja di dalam Gereja, tetapi kepada semua orang, termasuk bagi yang hidup berkeluarga. Kita semua dipanggil untuk mengikuti teladan St. Yusuf dan Bunda Maria, yang memberikan diri mereka sepenuhnya untuk mengasihi Kristus yang hadir di tengah keluarga mereka. St. Yohanes Paulus II mengingatkan agar setiap keluarga dapat kembali ke rencana Allah sejak awalnya, yaitu untuk membentuk persatuan yang erat dalam kehidupan dan cinta kasih. Sebab di dalam keluargalah, kita pertama-tama belajar mengasihi dan dikasihi. Dalam keluargalah, kasih kita kepada Tuhan diuji, sebab kesetiaan melaksanakan peran kita dalam keluarga adalah bukti kesetiaan kita kepada Tuhan. Dalam keluargalah, kita sebagai orang tua dipanggil untuk mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan, dan mendidik mereka untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Dalam keluargalah, kita dipanggil untuk menjadi saksi kepada dunia, bahwa kasih setia sampai akhir itu mungkin dilakukan, sebab Kristus yang tinggal di tengah keluarga kita akan memampukan kita. Bukankah sabda-Nya mengatakan, “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita…” (1Yoh 4:12)? Dan jika Allah bersama kita, maka tiada yang mustahil. Kita akan dimampukan oleh-Nya untuk memperjuangkan kesetiaan, menghadapi segala kesulitan, rela berkorban dan memberi pengampunan. Melewati semuanya itulah kita diteguhkan dan dikuduskan dalam kasih.

Maka, lanjut  St. Yohanes Paulus II, “Untuk menjadi saksi bagi nilai yang tak terukur dari perkawinan yang setia dan tak terceraikan, adalah salah satu tugas yang teramat berharga dan penting bagi pasangan suami istri Kristiani di zaman ini…. Keluarga mempunyai tugas untuk menjaga, menyatakan dan menyampaikan kasih, dan ini adalah cerminan yang hidup dari partisipasi nyata di dalam kasih Allah kepada umat manusia, dan kasih Kristus Tuhan kepada Gereja… ” (Familiaris Consortio, 20, 17). Di hari Keluarga Kudus ini, marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus agar meneguhkan setiap keluarga Kristiani, agar dapat melaksanakan tugas panggilan mereka, yaitu untuk menjadi tempat kediaman kasih Allah di dunia ini, untuk menyinari kegelapan dan menyebarkan kebaikan kepada semua orang.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab