Home Blog Page 51

Bolehkah menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan dan berlaku seenaknya di gereja?

0

Dewasa ini, kita dapat melihat ada orang-orang yang menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan ke gereja, datang terlambat, ngobrol, berBBM/ SMS di gereja, makan dan minum di dalam gereja, terutama anak- anak, anggota koor yang minum sebelum/ sesudah bertugas, umat saat menunggu dimulainya perayaan Ekaristi. Sikap ini tidak dibenarkan.

Sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita memberikan penghormatan kepada Allah yang kita jumpai di dalam liturgi. Jika sikap seenaknya tidak kita lakukan jika kita sedang bertemu bapak Presiden, maka selayaknya kita tidak bersikap demikian kepada Tuhan yang kita jumpai di gereja.

Gereja mengajarkan:

KGK 1387 ….Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita. (CCC 1387 …. Bodily demeanor (gestures, clothing) ought to convey the respect, solemnity, and joy of this moment when Christ becomes our guest)

Perlukah berpuasa sedikitnya sejam sebelum menerima Komuni?

0

Maksud puasa sebelum Komuni tentu adalah untuk semakin menyadarkan kita bahwa yang akan kita santap dalam Ekaristi adalah bukan makanan biasa, namun adalah Tuhan sendiri: yaitu Kristus Sang Roti Hidup, yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal (lih. Yoh 6:56-57).

Menyadari hal ini, Gereja merumuskan peraturan ini di dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK kan.919):

§ 1 Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Sudahkah kusiapkan hati untuk mendengarkan Dia?

0
Sumber gambar: http://robingorsline.com/2009/07/28/tweeting-with-jesus/jesus-calling-peter-and-andrew/

[Hari Minggu Biasa ke-II, Pekan Doa Sedunia: 1Sam 3:3-10,19; Mzm 40:2-10; 1Kor 6:13-20; Yoh 1:35-42].

“Aku nelpon kamu berkali-kali, kok nggak diangkat sih?” demikian protes yang sering kuterima. Itulah kebiasaan burukku, walaupun sesungguhnya tidak kusengaja. Saking takutnya telpon berdering pada saat aku mengikuti Misa Kudus, ataupun pada saat acara-acara resmi lainnya, maka aku cenderung membuat telpon-ku “silent” saja, tidak agar tidak mengganggu acara-acara tersebut. Tetapi payahnya, kalau ada telpon ataupun SMS yang masuk, akupun tidak segera mengetahuinya, karena telponku tidak berbunyi. Aku hanya memeriksanya pada waktu-waktu tertentu, dan kadang pesan yang kuterima sudah basi, sehingga si pengirim pesan menjadi agak jengkel terhadapku. Aku terhenyak kaget saat aku berpikir, “Bagaimana jika aku bersikap yang sama terhadap Tuhan? Bagaimana jika ternyata Ia memanggilku berkali-kali tapi aku tidak mendengar suara-Nya, karena HP hatiku yang bisu tuli? Atau karena aku kurang rajin memeriksa batinku? Waduh!”

Bacaan Pertama hari ini, menyampaikan kisah Samuel ketika Ia dipanggil Tuhan, saat ia sedang tidur di bait Allah. “Samuel! Samuel!” demikian Allah memanggil namanya, namun ia menyangka bahwa bapa Eli-lah yang memanggilnya. Setelah dua kali, Eli akhirnya mengetahui bahwa Allah sendirilah yang memanggil Samuel, sehingga berkatalah ia kepada Samuel, agar menjawab demikian jika Allah memanggilnya untuk ketiga kalinya, “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan” (1Sam 3:3-19). Kisah Samuel ini mengingatkan aku agar lebih sering memeriksa batin, untuk lebih setia menyediakan waktu mendengarkan sabda Tuhan. Sebab Tuhan berbicara kepada kita terutama melalui sabda-Nya, dan saat kita berdoa kepada-Nya. Bersyukurlah sekarang ada banyak buku yang mencetak bacaan-bacaan Kitab Suci Misa Kudus tiap-tiap hari, sehingga memudahkan kita untuk membacanya dan merenungkannya. Atau kita dapat tinggal klik di beberapa situs, untuk mengetahui perikop bacaan liturgi harian tersebut. Namun membaca dan merenungkan Kitab Suci tidaklah cukup, sebelum kita berjuang untuk melaksanakannya. Mazmur hari ini mengingatkan agar kita menyimpan sabda Tuhan di dalam hati dan melaksanakan kehendak-Nya dengan senang hati (lih. Mzm 40:9). Dengan merenungkan sabda-Nya, kita didorong untuk “mengikatkan diri pada Tuhan, dan menjadi satu roh dengan Dia,” (1Kor 6:17) agar kita dapat menghindari segala dosa yang mencemarkan tubuh dan jiwa kita. Kita diingatkan akan rahmat Baptisan, yang telah menjadikan tubuh kita tempat kediaman Roh Kudus. Sebab Tuhan menghendaki agar kita memuliakan Dia dengan tubuh kita (lih. 1Kor 6:20), tidak hanya dengan pikiran ataupun mulut saja.

Agar dapat menanggapi panggilan Tuhan, kita diajak untuk mengikuti teladan para rasul yang pertama. Mereka datang kepada Tuhan Yesus, melihat apa yang diperbuat-Nya dan tinggal bersama-sama dengan Dia (lih. Yoh 1:38-39). Demikianlah, perjumpaan dan percakapan dengan Yesus menjadi sesuatu yang penting, agar kita dapat semakin mengenal Dia dan mengalami kasih-Nya. St. Agustinus menulis tentang perjumpaan ini: “Mereka [Andreas dan Simon] mau melihat di mana Ia [Yesus] tinggal, dan melakukan apa yang telah tertulis: “Biarlah kakimu menggesek alas pintu rumah-Nya: bangunlah dan datanglah kepadaNya tanpa henti, dan belajarlah dari pengajaran-Nya.” Ia menunjukkan kepada mereka di mana Ia tinggal: Mereka datang, dan tinggal bersama-sama dengan Dia. Betapa membahagiakannya hari yang mereka lalui, betapa menggembirakannya malam itu! Marilah kita juga membangun dan membuat rumah di hati kita bagi-Nya untuk Dia kunjungi. Biarlah Ia mengajar kita, biarlah Ia bercakap-cakap dengan kita” (St. Augustine, Tractate on the Gospel of John 1:38-39).

Apakah Anda dan saya telah dengan setia meluangkan waktu untuk berjumpa dan bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus dalam doa? Sudahkah kita datang kepadaNya dan mendengarkan pengajaran-Nya? Bersediakah kita melakukan apa yang dikehendakiNya? Di hari pertama Pekan Doa Sedunia ini, marilah kita membuat niat yang teguh untuk menjadi seperti para rasul itu, yang mencari Yesus, meluangkan waktu bersamaNya, mendengarkan pengajaran-Nya dan berjuang melakukannya dalam hidup kita.

Ya, Yesus, terima kasih karena Engkau senantiasa memanggilku untuk datang kepada-Mu. Ampunilah, jika seringkali aku tidak mendengar panggilan-Mu. Kumohon ya Tuhan, buatlah agar aku semakin peka terhadap suara-Mu yang menyapaku, menegurku, ataupun menghibur dan membimbingku, melalui sabda-Mu, doa, maupun berbagai kejadian yang kualami sehari-hari. Bantulah aku agar setia membaca dan merenungkan sabda-Mu, agar aku dapat semakin mengenal dan mengasihi Engkau. Amin.”

Rancangan Allah ialah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya

0

[Hari Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 55:1-11; Yes 12:2-6; 1Yoh 5:1-9; Mrk 1:7-11]

Hari ini kita menutup masa Natal dan Epifani, dengan merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Perayaan ini mengajak kita merenungkan dan mensyukuri rahmat Baptisan kita, yang menjadi pintu bagi terwujudnya rancangan Allah yang terindah bagi kita, yaitu, melalui Baptisan kita memperoleh bagian dalam kehidupan ilahi-Nya dan menjadi anak-anak angkat-Nya di dalam Kristus Putera-Nya. Dengan kita dibaptis, tergenapilah maksud kedatangan Kristus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Sebab tak ada hidup yang lebih berkelimpahan, daripada hidup di dalam Kristus Sang Hidup, baik di dunia ini maupun di kehidupan mendatang. Di Bacaan Pertama hari ini, Nabi Yesaya berkata, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,” demikian firman Tuhan. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu, dan rancangan-Ku di atas rancanganmu” (Yes 55:8-9). Sebab rancangan kita selalu terbatas, entah karena kemampuan kita yang terbatas, ataupun waktu untuk mewujudkannya yang juga terbatas. Tetapi rancangan Allah mengatasi segalanya, dan kebaikan-Nya yang diberikan kepada kita juga tiada terukur. Allah sangat mengasihi kita, sehingga menghendaki agar kita dapat masuk dalam kehidupan-Nya sendiri yang begitu membahagiakan, selamanya! Tiba-tiba apa yang ditulis di awal Katekismus menjadi “klik” di pikiran dan hatiku: “Allah, yang sempurna tak terbatas… dalam rancangan kebaikan-Nya, secara sukarela menciptakan manusia, untuk membuatnya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Untuk alasan ini, di setiap waktu dan tempat, Allah mendekatkan diri kepada manusia. Ia memanggil manusia untuk mencari-Nya, mengenal dan mengasihi Dia… Ia memanggil semua manusia yang tercerai berai karena dosa, ke dalam kesatuan keluarga-Nya, yaitu Gereja. Untuk mencapai ini, ketika waktunya telah genap, Allah mengutus Putera-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat. Di dalam Putera-Nya dan melalui Dia, Ia mengundang manusia untuk menjadi anak-anak angkat-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian ahli waris bagi kehidupan-Nya yang membahagiakan” (KGK 1). Hari ini kita diingatkan kembali akan cara yang dipilih Tuhan untuk mewujudkan rancangan-Nya ini: yaitu melalui Baptisan.

Melalui Baptisan, dosa-dosa kita diampuni, dan kita disatukan dengan Kristus dan keluarga-Nya, yaitu Gereja. Kristus sendiri telah terlebih dulu dibaptis, bukan karena Ia berdosa, tetapi untuk menyatakan kepada kita pentingnya Baptisan bagi keselamatan kita. Ia minta dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, untuk menunjukkan betapa Ia, yang adalah Putera Allah, mau turun merendahkan diri-Nya, dan mengalami segala sesuatu yang kita alami sebagai manusia, demi menjangkau dan mengangkat kita. Maka dengan cara yang sama, jika kita ingin sampai kepada Allah, kitapun perlu merendahkan diri kita, dan mengikuti cara yang dikehendaki-Nya. Jika kita telah dibaptis, kita kembali diingatkan bahwa kita harus terus memperbaharui maknanya dalam hidup kita, yaitu agar kita senantiasa bertobat dan hidup di dalam Kristus. Atau, meminjam perkataan Rasul Paulus, kita “mati bagi dosa tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:11).

Selain itu, kita memperingati Baptisan Yesus sebagai salah satu kesaksian Allah tentang Diri-Nya sendiri. Pada saat Yesus keluar dari air, langit terkoyak, dan tampaklah Roh Allah seperti burung merpati. Dan Allah Bapa mengatakan, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (lih. Mrk 1:10-11). Di sini kita mengenal adanya tiga Pribadi Allah, yaitu: Bapa yang mengeluarkan suara dari Surga, Yesus Sang Anak Allah yang dinyatakan Bapa, dan Roh Kudus dalam rupa burung merpati yang turun atas Yesus. Demikianlah Baptisan merupakan karya Allah Tritunggal, yaitu: Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang memanggil kita kepada persekutuan hidup ilahi-Nya. Karena itu, Yesus berpesan agar dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus-lah, semua bangsa murid-Nya harus dibaptis (lih. Mat 28:19), agar mendapat bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal, yang menuntun kepada kebahagiaan bersama-Nya di Surga.

Setiap kali kita mengambil air suci dan mengenakannya di dahi sambil membuat tanda salib, mari kita mensyukuri rahmat Baptisan yang telah kita terima, yang memeteraikan jiwa kita sebagai milik Allah. Pencelupan ke dalam air dan keluarnya dari air menggambarkan turunnya Yesus ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya dari kematian, yang di dalamnya kita telah disatukan dengan Dia, untuk menjadi anak-anak angkat Allah, dan ahli waris Kerajaan-Nya. Sambil mensyukuri rancangan Allah ini bagi kita, marilah kita berdoa, “Ya Yesus, aku bersyukur kepada-Mu atas rahmat Baptis yang kuterima. Sebab melalui Baptisan, dosaku diampuni dan aku beroleh hidup yang baru di dalam Engkau. Di dalam Engkau-lah, Bapa mengangkatku menjadi anak-Nya, agar aku dapat menerima kehidupan kekal. Syukur atas rancangan-Mu yang begitu indah bagiku. Bantulah aku untuk hidup seturut panggilanku sebagai anak Allah, agar kelak Kau berkenan membawaku masuk dalam kebahagiaan abadi bersama-Mu. Amin.

Mendoakan Firman Tuhan : Doa Menghadapi Anak yang Memberontak

0

Sharing Spiritualitas oleh Pastor Felix Supranto

1. Ayat Kitab Suci

Ketika kita harus menghadapi anak-anak kita yang memberontak, kita bisa mendoakan Firman Tuhan dari Amsal 22:6: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu”.

2. Maksud Ayat Itu

Amsal 22:6 mengandung dua tekanan, yaitu didiklah dan tidak menyimpang daripada jalan itu.

a. Kata Ibrani “mendidik” berarti “mengabdikan. Tujuan dari didikan di sini adalah mengabdikan anak-anak kita kepada Allah dan kehendak-Nya. Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk mengabdikan anak-anak kita kepada Allah. Pertama: kita harus memisahkan mereka dari pengaruh-pengaruh jahat dunia. Kedua: Kita harus mengajar mereka berperilaku saleh. Kata Ibrani “mendidik” juga bisa berarti “memberi atau meningkatkan kegemaran akan”. “Meningkatkan kegemaran akan” berarti kita, orang tua ini, harus mendorong anak-anak kita agar mereka sendiri gemar mencari Allah. Ketika mereka suka mencari Allah, mereka akan dapat menikmati pengalaman-pengalaman rohani yang tak akan mereka lupakan.

b. “Ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu”. “Tidak akan menyimpang daripada jalan itu” berarti anak-anak yang telah dididik secara benar tidak akan menyimpang dari jalan saleh yang telah diajarkan orangtuanya.

Jalan yang seharusnya diikuti anak-anak kita adalah jalan yang menuju kepada Allah. Jalan yang menuju kepada Allah itu adalah Firman-Nya. Firman Allah adalah Sabda yang membawa mereka pada kehidupan kekal: “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya” (Mazmur 119:1-3).

Bagaimana kita mendidik anak-anak kita yang keras kepala dan suka memberontak? Kita mohon diberi kesabaran sebagai salah satu dari sembilan buah roh (Galatia 5:22-23). Anak-anak yang suka memberontak dan keras kepala itu memang dapat sangat melelahkan dan memusingkan orangtuanya. Akan tetapi, orangtua harus berusaha untuk tidak berteriak atau memukul dengan marah atau kehilangan kesabaran.

Kesabaran kita itu akan tertanam kuat dalam hati kita ketika kita mempercayai janji Allah. Janji Allah tersebut adalah Ia tidak akan mencobai kita melampaui kemampuan kita: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Ketika Allah memberikan kepada kita anak yang suka memberontak, Ia pasti menyediakan bimbingan dan sumber daya yang kita perlukan untuk mendidik mereka. Kita meminta hikmat dari Allah itu dengan banyak berlutut di hadapan Tuhan dalam doa: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5). Meminta hikmat kepada Allah berarti kita mengandalkan kebijaksanaan-Nya. Mengandalkan kebijaksanaan Allah berarti kita mendengar dan menaati pimpinan-Nya. Mengikuti pimpinan Allah terungkap dalam sikap yang senantiasa mau bertanya mengapa anaknya menjadi anak yang keras kepala: “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (1 Tawarikh 16:11).

Hikmat Allah itu akan diberikanNya kepada kita yang memintanya dalam iman: “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin” (Yakobus 1:6). Meminta hikmat dalam iman didasarkan pada keyakinan bahwa Allah pasti akan mengubah hati anaknya yang suka memberontak.

Penghiburan bagi kita yang dengan sabar dan setia mendidik anak-anak kita yang suka memberontak adalah melihat bahwa anak-anak kita itu seringkali akan tumbuh dewasa serta menjadi anak-anak yang berprestasi tinggi dan sukses. Banyak anak yang memberontak itu berubah menjadi orang-orang Katolik yang sangat mengasihi Allah dan melayaniNya dengan banyak talenta yang telah dianugerahkanNya kepada mereka.

3. Doa

Doa Menghadapi Anak yang Memberontak

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6)

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Allah Bapa,
Aku bersyukur kepadaMu atas anak-anak yang telah Engkau anugerahkan kepadaku.
Aku berusaha membesarkan mereka bagi kemuliaan-Mu.
Dalam melaksanakan tugas ini, hatiku kini terluka.
Aku merasa gagal karena anakku menjadi pemberontak.
Setiap hari, aku harus berteriak :
“kamu memang nakal, kamu pemalas, mau jadi apa nanti?”
Aku datang kepadaMu untuk membawa kegalauanku.
Tambahkanlah kesabaranku.
Pimpinlah aku dengan hikmat dariMu untuk mendampingi anakku.
Engkaulah satu-satunya yang mengetahui jalan yang tepat untuk membimbing anakku.
Aku yakin bahwa Engkau akan mengubah hati anakku.
Dengan hikmat-Mu, aku yakin bahwa anakku akan berhati tulus dan bercita-cita tinggi.
Anakku pasti mampu mencapai masa depan yang cerah.
Anakku akan menjadi manusia yang sukses, tetapi rendah hati, lembut, dan arif.
Terutama anakku akan mengasihiMu lebih dalam lagi sehingga ia tidak kehilangan jiwanya.
Semuanya itu akan menjadi penghiburan yang aku nantikan.
Bila semuanya itu terwujud, aku akan berkata: “Hidupku sebagai orangtua tidaklah sia-sia”.
Amin

Bingahing Saking Gusti (Sukacita Dari Tuhan)

0

Sharing Refleksi oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Seperti tahun sebelumnya, aku menutup tahun 2014 dengan retret pribadi. Retret ini unik, tetapi menyenangkan hati. Bentuk retret yang kujalani adalah jalan dengan mobil sendiri menuju Jawa Tengah dan Lampung Selatan. Perjalanan ini aku mulai dari tanggal 26 Desember 2014 dan berakhir pada tanggal 01 Januari 2015. Perjalanan ke Jawa Tengah dengan menyetir mobil sendiri menjadi gambaran kehidupan ini. Kehidupan ini variasi, kadang-kadang sepi dan kadang-kadang ramai, kadang-kadang lancar dan kadang-kadang macet, kadang-kadang gelap dan kadang-kadang terang. Kehidupan tentu aku syukuri kalau tetap lempeng, tetap melihat ke depan dan pegang setir erat-erat, yaitu pegang Tuhan. Di Jawa Tengah itu aku bisa melihat anugerah kehidupanku dari melalui para sesepuh (para tetua) yang aku kunjungi.

Teladan hidup yang penuh syukur itu aku dapatkan dari seorang kakek yang aku jumpai di Desa Sidomulyo, Lampung Selatan. Kakek itu pindah ke tempatnya sekarang sejak tahun 1965. Aku sampai di rumah kakek tersebut pada hari Rabu tanggal 31 Desember 2014, pukul 04.30. Kakek itu menyambutku dengan keramahan yang luar biasa walaupun aku baru berjumpa dengannya untuk pertama kalinya. Aku mengetahuinya dari anaknya yang merupakan umat Paroki Santa Odilia-Citra Raya-Tangerang. Kakek itu bernama Yusup Sumarjo. Kakek itu mempunyai enam anak dari istrinya tercinta, yaitu Theresia Pariyem. Walaupun usianya sudah delapan puluh tahun, ia tetap semangat dan penuh kegembiraan. Penyakit asma yang dideritanya sejak lima tahun silam diterimanya dengan ikhlas.​

Kegembiraannya diperoleh dari caranya menghayati kehidupannya. Tujuan kehidupan ini baginya adalah mencari kebahagiaan dari Tuhan. Kebahagiaan dari Tuhan itu bersifat kekal ketika semua peristiwa kehidupan dijalaninya sebagai ibadah kepadaNya. Ia mengungkapkannya dalam bahasa Jawa: “Bingahing tyas saking Gusti punika langgeng, mboten dipun pangan kaliyan mangsa. Kula nglakoni gesang punika kagem ibadah kawula dumateng Gusti. Wedus lan sawah punika paringan saking Gusti, mila kula rawat kalian remen ing penggalih. Kula pitados bilih Gusti punika Mahasae, milanipun kula tampi loro kula punika kanti legawa dados bebungah saking Gusti supados gesang kula punika worna-warni (Sukacita dari Tuhan itu bersifat kekal, tidak dimakan waktu. Saya menjalani hidup ini sebagai ibadat kepada Tuhan. Kambing dan sapi itu pemberian dariNya sehingga saya mengurusnya dengan hati yang senang. Saya percaya bahwa Tuhan itu sangat baik sehingga ia menerima penyakit saya ini sebagai anugerah dariNya supaya hidup ini menjadi berwarna-warni)”. Ia mensyukuri kebaikan Tuhan dengan mempersembahkan rumahnya untuk melakukan Ibadat Sabda selama bertahun-tahun sebelum Gereja Santo Yusuf Umbul Jeruk, Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo, dibangun.

Hidup merupakan ibadah juga terungkap dalam sikapnya untuk dapat berbuat baik kepada sesama tanpa diminta. Aku terkejut karena ia bersama istrinya dan beberapa anak serta cucunya ternyata mau mengantarkan saya ketika aku siap berangkat ke ‘Gua Maria Perempuan Untuk Semua Manusia” Padang Bulan. Peziarahanku ke “Lourdes Van Lampung” itu menjadi peziarahan bersama.

Sesampainya di kompleks peziarahan yang indah itu, aku langsung berdoa di depan gambar Bunda Maria dan “Gua Maria Perempuan Untuk Semua Manusia” di tengah derasnya hujan. Aku berterimakasih kepada Bunda Maria atas doa-doanya yang menyertai hidupku dan hidup umatku pada tahun 2014 dan mohon restunya untuk menjalani kehidupan di tahun 2015. Setelah berdoa di depan Gua Maria itu, aku langsung menuju ke sebuah pohon beringin yang rindang. Aku duduk di bawahnya dan mengekspresikan imanku dengan menunjuk ke atas sambil berkata dalam hati: “Percayalah kepada Tuhan karena Ia adalah Sang Pelindung, Penyelamat, dan Penolong yang ajaib”. Ziarah ke Maria Perempuan Untuk Semua Manusia ini aku tutup dengan melaksanakan Jalan Salib. Jalan Salib ini selesai pada pukul 17.30 di penghujung tahun 2014. Walaupun basah kuyup, hatiku dipenuhi sukacita karena aku percaya bahwa hujan ini melambangkan berkat melimpah bagi yang mau menerimanya.

Retret Pribadi aku akhiri dengan merayakan pergantian tahun di tengah lautan dalam kapal ferry yang menghantarkan aku ke Merak. Terangnya kembang api menunjukkan bahwa kapal kehidupannku akan mulai lagi melaju dengan cahaya iman.

Hasil permenungan dalam retret pribadiku ini: Hayati hidup ini sebagai sebuah ibadat, maka hati akan dianugerahi sukacita kekal dari Tuhan. Tetap pegang iman dan mata hati terarah ke Tuhan sehingga gelap dan terang, suka dan duka akan menjadikan hidup indah dan berwarna: “Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23:3).

Tuhan Memberkati

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab