Home Blog Page 45

Pokok Anggur yang menantikan buah

0
Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_culinary_fruits

[Hari Minggu Paskah V: Kis 9:26-31; Mzm 22: 26-32; 1Yoh 3:18-24; Yoh 15:1-8 ]

Injil hari ini mengisahkan amanat perpisahan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, yaitu agar mereka mau tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam mereka. Bagaimana memahami arti “tinggal di dalam” Yesus? Tahu bahwa hal itu mungkin sulit dipahami, Yesus mengambil perumpamaan untuk menjelaskannya, yaitu seperti ranting-ranting tinggal menyatu dengan pokok anggur. Sebab ranting-ranting yang hidup dan berbuah memang adalah ranting-ranting yang menempel atau menjadi satu dengan batang utama pohon yang menyatu dengan akarnya.  St. Agustinus mengajarkan, bahwa dengan mengumpamakan diri sebagai pokok anggur, Tuhan Yesus mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia, sehingga dapat menyatu dengan kita manusia; tetapi dengan mengatakan bahwa Ia dapat memberikan hidup kepada ranting-ranting-Nya, Yesus mengacu kepada kodrat-Nya sebagai Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kehidupan. Demikian katanya, “Tapi supaya orang tidak menganggap bahwa sebuah ranting dapat menghasilkan sedikit buah dari dirinya sendiri, Ia [Yesus] mengatakan: Sebab tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak berkata, kamu dapat berbuat sedikit. Jika ranting tidak tinggal dalam pokok anggur, dan hidup dari akarnya, ia tidak akan dapat berbuah apa pun. Kristus, tidak mungkin menjadi pokok anggur kalau Ia bukan manusia, namun juga tidak mungkin memberikan rahmat kepada ranting-rantingnya, kalau Ia bukan Tuhan.” (St. Augustine, in Catena Aurea, John 15: 1-8) Maka, Kristus bukanlah seperti tukang kebun yang mengerjakan tugas dari luar pohon, namun sebagai Ia yang memberi kehidupan dan pertumbuhan dari dalam pohon itu sendiri.

Demikianlah Kristus sebagai pokok anggur mengharapkan agar ranting-rantingnya bertumbuh dan menghasilkan buah. Untuk itu, ranting-ranting yang berbuah akan dibersihkan, atau dipangkas sedikit, agar semakin lebih banyak berbuah. Menurut St. Agustinus, maksudnya di sini adalah Allah akan membersihkan benih-benih kejahatan dari dalam hati kita, dan membuka hati kita terhadap sabda-Nya, menaburkan benih perintah-perintah-Nya dan menantikan buah-buah kebajikan dan kesalehan. Sebab siapakah di dunia ini yang sudah demikian bersih, sehingga tidak bisa lagi dibersihkan atau diubah? Jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri sendiri. Allah membersihkan mereka yang bersih, yaitu ranting-ranting yang berbuah, supaya semakin bersih, dan semakin berbuah.

Melalui Baptisan, kita disatukan dengan Kristus. Kemudian, sabda-Nya tinggal di dalam kita, kalau kita melakukan perintah-perintah-Nya. Namun ketika sabda-Nya hanya ada di dalam ingatan tapi tidak kita lakukan di dalam hidup kita, artinya kita menjadi ranting yang tidak tinggal di dalam pokok anggur, dan tidak memperoleh hidup dari akarnya. Sedangkan kalau kita tinggal di dalam Kristus, kita tidak akan menghendaki apapun yang tidak sesuai dengan keselamatan kita.

Demikianlah, hal berbuah banyak karena menyatu dengan Kristus, dan terus dibersihkan agar berbuah lebih banyak, dapat kita lihat dalam teladan kehidupan para Rasul. Mereka mengandalkan rahmat Tuhan dan tidak urung jika mengalami pencobaan dan penganiayaan demi menyebarkan iman. Bukankah ini yang dikisahkan dalam bacaan pertama, terhadap Rasul Paulus? Dan sesungguhnya keadaan semacam ini dialami oleh para Rasul lainnya, para martir dan juga banyak anggota Gereja di sepanjang sejarah. Di masa kini tantangan yang kita hadapi berbeda dengan apa yang dialami oleh para murid di abad-abad awal, namun intinya tetap sama. Kita diminta oleh Yesus untuk hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah, yang dikenali dengan ciri khasnya, yaitu saling mengasihi. Itulah sebabnya para Rasul dan para martir dapat mengampuni dan mendoakan mereka yang telah menganiaya mereka, dan dengan demikian membawa sejumlah dari para penganiaya mereka untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus. Kasih yang memberikan diri sampai akhir inilah yang berulang kali ditulis dalam Injil maupun surat-surat para Rasul, seperti yang kita baca dalam Bacaan kedua Minggu ini. Kalau kita percaya kepada Kristus, kita semestinya saling mengasihi, sebab itulah yang diperintahkan dan dilakukan-Nya terlebih dahulu kepada kita. Maka kasih Tuhan kepada kita menjadi sumber kekuatan dan alasan bagi kita untuk mengasihi sesama, termasuk mereka yang sulit untuk kita kasihi. Jika kita melakukan kehendak-Nya ini, kita tinggal di dalam Dia, dan kemudian berbuah banyak.

Maka mari kita merenung sejenak. Adakah kita sudah bertumbuh dalam kasih? Di dalam masa Paskah dan terutama memasuki bulan Maria di bulan Mei ini, Gereja mengajak kita untuk semakin menyatu dengan Kristus, Sang Pokok Anggur kita. Ia mengetahui segala pergumulan yang kita hadapi, dan bagaimana kita berjuang untuk mengasihi, mengampuni, menolong, mendengarkan, memperhatikan, dan mendoakan sesama. Semoga dengan pertolongan rahmat-Nya, “dalam Roh yang telah dikaruniakan kepada kita” (Yoh 3:24) kita dapat bertumbuh dalam kasih, dan menghasilkan buah-buah bagi kemuliaan nama Tuhan.

Yesus, Engkaulah Gembalaku yang baik

0
Sumber gambar: http://www.playbuzz.com/gregs/what-is-your-biblical-profession

[Hari Minggu Paskah IV: Kis 4:8-12; Mzm 118:1-29; 1Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18]

Sewaktu kami menempuh studi teologi, kami tinggal di rumah sepupu kami selama 4 tahun. Di sanalah kami menjadi akrab dengan keponakan-keponakan kami, yang kami anggap sebagai anak-anak kami sendiri. Bersama dengan sepupu kami dan suaminya, kami sering berdoa bersama anak-anak, mengulangi kisah-kisah dalam Kitab Suci dan riwayat hidup orang kudus, dan bermain quiz Kitab Suci. Seorang dari keponakan kami, namanya Nicholas, adalah anak baptis kami, yang kerap kami ajak untuk mengikuti Misa harian, sejak ia berumur dua tahun. Sebelum tidur siang, Nicholas kerap mendatangiku dan memintaku untuk menunjukkan gambar-gambar Yesus di layar komputerku. Salah satu gambar yang menjadi kesukaannya adalah gambar Yesus Sang Gembala yang baik. Ia sering memandang gambar itu, dan berkata, “Tuhan Yesus itu amat baik, Tante.” “Dari mana kamu tahu itu, Nicholas?” tanyaku. “Sebab Ia sayang pada domba-domba-Nya. Lihat, Ia menggendong domba yang kecil itu…”  ujar Nicholas. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu untuk menyampaikan pesan Injil, “Ya,  Nicholas, Tuhan Yesus sangat menyayangi kita. Ia selalu menjaga dan melindungi kita seperti gembala menjaga domba-dombanya. Tuhan Yesus juga akan menggendongmu, Nicholas, maka jangan takut. Sekarang kamu bobo dulu ya.” Nicholas tersenyum, dan biasanya, tak lama setelah itu, ia terlelap. Rupanya gambar Yesus Gembala yang baik begitu melekat dalam pikirannya, sehingga ia merasa aman karena dikasihi dan dilindungi.

Maka, tentu ada maksudnya, bahwa Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala yang baik. Dengan wajah-Nya yang memancarkan kasih, Ia menggendong domba-Nya, kemungkinan domba yang ditemukan-Nya setelah terpisah dari kawanan sekian waktu lamanya. Atau domba yang berhasil diselamatkan-Nya dari serigala yang hampir memangsanya. Sungguh,  kawanan domba-Nya dapat merasa aman dalam perlindungan-Nya, sebab Ia senantiasa menjaga mereka sampai titik darah penghabisan. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya…. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku…” (Yoh 10: 11,14). St. Gregorius mengatakan, “Yesus sendiri memberikan teladan tentang apa yang diperintahkan-Nya: Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, agar Ia dapat mengubah tubuh dan darah-Nya dalam Sakramen, dan dengan demikian, Ia memberi makan domba-domba-Nya—yang telah ditebus-Nya—dengan daging-Nya sendiri” (St. Gregory, in Catena Aurea, John 10:11-13). Dengan demikian, kasih sang Gembala tidak saja ditunjukkan-Nya dengan melindungi kawanan domba-Nya, namun juga dengan memberi mereka makan dari diri-Nya sendiri, agar kawanan-Nya itu dapat memperoleh hidup, seperti Ia sendiri hidup. Maka gambaran Yesus sebagai Gembala yang baik, tidak terlepas dari ajaran-Nya tentang Roti Hidup, sebab maksud Yesus menyerahkan hidup-Nya kepada kita, adalah agar kita dapat memperoleh hidup-Nya itu, yang menghantar kita kepada kehidupan kekal bersama dengan Dia. Ia menghendaki agar kita dapat menyantap tubuh dan darah-Nya, agar dengan demikian hidup-Nya dapat mengalir di dalam tubuh dan darah kita. “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Dengan hidup-Nya yang mengalir di dalam kita, kita diangkat menjadi anak-anak Allah, sehingga kelak kita dijadikan sama seperti Dia dan dapat memandang Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (lih. 1Yoh 3:2).

Maka, teladan Yesus Gembala yang baik mendorong kita untuk selalu mensyukuri kebaikan-Nya, namun juga mendorong kita untuk meniru teladan-Nya dan mendoakan juga para gembala kita—khususnya para imam, uskup dan Paus—agar mereka dapat menjadi gembala yang baik bagi kita umat-Nya. Di hari Minggu Panggilan ini, kita diajak untuk mendoakan mereka dan memohon kepada Tuhan agar Ia memanggil banyak orang muda, untuk dapat menanggapi panggilan imamat. Betapa dunia membutuhkan para imam yang kudus! Betapa kita memerlukan para imam, sehingga kita dapat menerima sakramen- sakramen yang menyampaikan rahmat Allah yang membawa kita masuk dalam kehidupan ilahi-Nya. Dan betapa perlunya kita mendoakan para imam, uskup dan Paus agar mereka dapat menjalankan tugas sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang setia. Dalam khotbahnya di Misa pentahbisan Uskup Jean-Marie Speich dan Giampiero Gloder, Paus Fransiskus mengatakan, “Dan kalian, Jean-Marie dan Giampiero, pilihan Tuhan, perhatikanlah bahwa kalian telah dipilih dari antara manusia dan untuk manusia… Sesungguhnya, “jabatan uskup” adalah nama dari sebuah pelayanan itu dan bukan [nama] dari sebuah kehormatan. Uskup harus berusaha untuk melayani dan bukan untuk berkuasa, sesuai dengan perintah Sang Guru: “barangsiapa ingin menjadi besar di antara kalian hendaklah [ia] menjadi pelayan kalian, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kalian, hendaklah [ia] menjadi hamba dari semua.” Yang selalu melayani…. Wartakan Firman di setiap kesempatan… Memperingatkan, menegur, dan menasihati tak putus-putusnya dalam kesabaran dan dalam pengajaran. Dan melalui doa dan persembahan kurban bagi umat kalian, menggunakan berbagai ragam kekayaan rahmat ilahi atas kepenuhan kekudusan Kristus… Seorang uskup yang tidak berdoa berarti ia hanyalah separuh uskup saja. Dan jika ia tidak berdoa kepada Tuhan, ia berakhir dalam keduniawian. Jadilah penjaga-penjaga setia dan pencurah misteri-misteri Kristus dalam Gereja yang dipercayakan kepada kalian. Kalian ditempatkan oleh Bapa sebagai kepala keluarga-Nya; karena itu, senantiasa mengikuti contoh dari Gembala Baik yang mengenal akan domba-domba-Nya dan dikenal oleh mereka dan tidak ragu untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi mereka…” (Paus Fransiskus, 24 Okt 2013). Betapa dunia kita sekarang ini, membutuhkan pemimpin-pemimpin yang rela melayani dan bukan yang senang dilayani. Betapa kita membutuhkan teladan kasih yang tulus seperti Kristus, yang memberikan diri sehabis-habisnya bagi kita, agar kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah. Semoga teladan Kristus ini mendorong banyak orang muda untuk menanggapinya agar sebagai Gereja kita senantiasa bertumbuh dalam kasih dan pelayanan kepada sesama, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus.

“Kalau kamu sudah besar, kamu mau jadi apa, Nicholas?” tanyaku kepada keponakan kami itu. “Mau jadi imam,” katanya, “eh salah, mau jadi Uskup,” sambungnya dengan wajahnya yang polos. Semoga semakin banyak  orang muda dapat menjawab panggilan Tuhan ini, dan bertekun mengikutinya sampai akhir. Semoga semakin banyak orang tua  dengan lapang hati mempersembahkan putra dan putri mereka jika panggilan ini lahir dalam hati anak-anak mereka. Sebab dunia memerlukan adanya gembala-gembala yang baik, yang mengambil sumbernya dari Kristus Sang Gembala yang Baik.

Penulis Cerita Kehidupan

0

Pengalaman Retret Penyembuhan
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Retret Penyembuhan, tanggal 10 s.d. 12 April 2015 dengan tema “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Lukas 7:7b), diikuti empat ratus tiga puluh sembilan orang (kurang lebih lima ratus umat termasuk panitia). Masih banyak yang waiting list dalam retret penyembuhan itu. Jumlah umat yang besar dalam retret itu menunjukkan betapa besarnya kerinduan umat akan jamahan Tuhan. Tempat jauh, seperti dari Papua, Kalimantan, Pekanbaru, Jawa Tengah, tidak menghalangi peserta untuk datang ke Lembah Karmel, Cikanyere, untuk mengalami kasih Tuhan.

Mereka datang dengan berbagai beban kehidupan yang berat, yaitu persoalan hidup yang tak kunjung tuntas dan sakit penyakit yang sudah lama belum tersembuhkan. Konsep diri pun tak menentu karena gambaran hidup terbentuk oleh penderitaan mereka. Kesunyian dan kesepian bercengkerama dalam kehidupan mereka karena mereka tidak tahu lagi bagaimana membuat hidup masih berarti. Impian dan harapan berhenti karena keadaan dirinya. Retret penyembuhan ini menyadarkan mereka bahwa tiada lagi tempat sandaran bagi jeritan hati, selain Tuhan Yesus, yang Sabda-Nya, mereka imani penuh kuasa.

Mukjizat penyembuhan rohani, fisik, batin, dan dari kuasa kegelapan pasti terjadi. Akan tetapi, sukacita yang bertumbuh dan menyebar dalam relung hati peserta merupakan mukjizat terindah. Harapan dan impian yang telah mati terbangun kembali dari bangkitnya iman. Mereka kini melihat sukacita hidup bukan sekedar manis dilihat mata, tetapi juga manis meski pahit dijalani.

Sukacita di tengah kepahitan hidup itu disharingkan kepadaku oleh empat ibu setelah kami berdoa bersama pada hari Sabtu, 11 April 2015, pukul 23.50, di depan aula Lembah Karmel. Mereka adalah seorang ibu yang menderita kanker payudara yang sudah sembuh, tetapi sekarang bertumbuh kanker hati dan sedang menjalani kemoterapi sampai rambut di kepalanya habis; seorang ibu yang menderita kanker paru-paru; dua ibu yang sedang menghadapi persoalan berat. Aku membahasakan pengalaman iman mereka dalam bahasa berikut ini:

Imanku terhadap Tuhan kini semakin menjadi nafas hidupku.

Aku mengijinkan Tuhan untuk menulis sebuah cerita tentang kehidupanku.

Aku yakin bahwa Tuhan adalah Penulis terbaik tentang diriku.

Dia tahu bagaimana membuat cerita hidupku akan berakhir dengan “Happy Ending”.

Sakit dan penyakit serta persoalan hanyalah bagian dari babak cerita supaya “Happy Ending”, kehidupanku semakin seru.

Cerita hidupku tentu semakin seru karena aku menjalaninya dalam dunia bersama denganNya.

Aku senantiasa mendapatkan bisikan nasihat dari Dia bagaimana hidup tetap berada dalam sukacita-Nya.

Sukacita iman ini menginspirasi satu sama lain sehingga mereka bisa melompat kegirangan. “Ketika sukacita iman membara, kelemahan fisik tidak akan menghalanginya”, kataku dalam hati. Sukacita iman itu tidak berhenti dengan ditutupnya retret dengan Misa, tetapi tetap mengiringi perjalanan pulang dengan tetesan air mata karena kekaguman atas kasih Tuhan. Sukacita ini akhirnya menjadi bunga segar dalam keluarga sehingga semua anggotanya ikut menikmati kebahagiaan ini. Kebahagiaan mereka ini tak kunjung henti karena terus mereka ceriterakan kepadaku sampai saat ini. Sukacita ini besumber pada keyakinan bahwa Tuhan tidak akan lalai pada janji-Nya: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya”, (2 Petrus 3:9a).

Sukacita peserta itu juga menambah sukacita iman para panitia, dari SEP Umum dan Mudika Shekinah serta dari berbagai pihak, yang telah melayani retret ini dengan ketulusan dan kegembiraan. Terimakasih atas pelayanan anda semua dalam retret ini karena telah membawa begitu banyak jiwa pada kebangkitan iman di tengah penderitaan mereka.

Pesan yang dapat kita hayati: Sukacita adalah anugerah Tuhan bagi kita yang memiliki kebeningan hati. Hati yang bening dapat membuat hidup senantiasa berpengharapan meski pernah terluka dan kecewa. Kekecewaan dan luka tidak menghancurkan kebahagiaan hidup kita karena kita tidak terfokus pada seberapa lemahnya diri kita, tetapi pada betapa hebatnya Tuhan kita yang sanggup menyembuhkan: “Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN”, (Yeremia 30:17).

Tuhan Memberkati

Kobarkanlah hati kami bila mendengar sabda-Mu dan menyambut Tubuh-Mu!

0
Sumber gambar: http://ngwte.home.comcast.net/~ngwte/

[Hari Minggu Paskah III, Kis 3:13-15.17-19; Mzm 4:2-9; 1Yoh 2:1-5; Luk 24:35-48]

Injil hari ini mengisahkan tentang berkobarnya hati para murid Kristus, ketika melihat Dia yang telah bangkit dari mati, menampakkan diri kepada mereka. Di awal perikop dikisahkan tentang dua murid yang baru saja tiba dari Emmaus, yang menemui kesebelas murid-Nya yang lain, yang sedang berkumpul di Yerusalem. Kedua murid itu, tadinya sudah hampir putus asa, karena tak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus, Guru mereka yang sungguh mereka banggakan, ternyata telah wafat sedemikian mengenaskan. Bahkan kabar tentang kebangkitan Yesus yang  mereka dengar dari para perempuan itu, tidak cukup untuk meyakinkan dan menghibur mereka. Mereka tetap memutuskan untuk meninggalkan Yerusalem menuju ke Emaus, mungkin untuk mengakhiri harapan mereka akan Yesus sebagai pembebas bangsa Israel (lih. Luk 24:21). Namun di perjalanan ke Emaus mereka bertemu dengan Yesus, yang kemudian menjelaskan seluruh isi Kitab Suci kepada mereka, sehingga hati mereka berkobar-kobar. Sayangnya, meskipun hati sudah berkobar-kobar, mereka belum mengenali Dia. Baru pada saat Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan memecah-mecahkan dan memberikannya kepada mereka, mata mereka terbuka, dan mengenali Yesus. Namun Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka. Yang tertinggal adalah hati yang berkobar-kobar, namun kali ini dengan pengenalan akan Kristus. Mereka langsung menjadi “ngeh” bahwa Orang yang baru saja mengucap berkat dan memecah-mecah roti di hadapan mereka itu adalah Orang yang sama, yang dulu mengucap berkat dan memecah-mecahkan roti, untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang (lih. Luk 9:16; Yoh 6:11). Orang itu tak lain adalah Yesus sendiri, Sang Roti Hidup, Guru mereka yang tadinya mereka pikir sudah mati dan tetap mati! Maka tak terbayangkan betapa hati mereka sungguh berkobar-kobar karena melihat sendiri, bahwa ternyata Yesus itu telah bangkit, dan tetap hidup!

Segera mereka bangun, dan kembali ke Yerusalem. Mereka tidak peduli bahwa saat itu hari sudah malam. Mereka yang tadinya mau menahan Yesus tinggal bersama mereka, supaya Ia tidak melakukan perjalanan di malam hari, malah mereka sendiri memutuskan untuk melakukan perjalanan di malam hari. Mereka tidak bisa menahan gejolak suka cita di dalam hati mereka setelah melihat Yesus. Mereka kembali berjalan kaki, mungkin sekitar 2 setengah jam lamanya, untuk menempuh jarak sekitar 12 km, kembali ke Yerusalem untuk menemui para murid lainnya. Tentu maksudnya hanya satu: untuk memberitahukan kepada para murid itu, bahwa mereka telah melihat Yesus yang bangkit! Dan nampaknya, merekapun tak perlu berlelah-lelah meyakinkan para murid yang lain itu. Sebab tiba-tiba Yesus sendiri berdiri di tengah-tengah mereka di ruangan tempat mereka berkumpul, walaupun semua pintu terkunci (lih. Yoh 20:26). Sungguh ini suatu detail yang tidak sepele, yang menunjukkan salah satu ciri khas tubuh kebangkitan Yesus, yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Yesus datang dengan tubuh-Nya yang mulia, yang tetap membawa tanda luka-luka-Nya, sebagai bukti cinta-Nya pada manusia. Sampai saat inipun, oleh kuasa kebangkitan-Nya, Yesus dapat tetap hadir di tengah kita, dalam rupa roti dan anggur dalam Ekaristi. Yesus menghendaki agar kita menyambut kurban Tubuh dan Darah-Nya, yang menjadi bukti cinta-Nya yang tak terbatas kepada kita. Kurban itu tetap Kurban yang satu dan sama, dari Tubuh dan Darah yang sama, yang oleh kuasa Roh Kudus-Nya dapat dihadirkan kembali, agar kitapun dapat memperoleh buah-buah pengorbanan-Nya dan mengalami sukacita yang tak terkatakan, seperti yang dialami oleh para murid 2000 tahun yang lalu.

Merenungkan bacaan Injil ini, aku bertanya kepada diriku sendiri, “Sejauh mana hatiku berkobar-kobar, ketika mendengar sabda-Nya dan bahkan menyambut Tubuh-Nya?” Apakah pengalaman kedua murid itu, dan kesebelas lainnya, juga menjadi pengalamanku? Sebab jika mata hatiku peka, sesungguhnya penampakan Yesus dalam perjalanan kedua murid ke Emaus itu terjadi juga setiap kali aku mengikuti perayaan Ekaristi. Bukankah dalam perayaan Ekaristi, kudengar juga sabda-Nya yang tertulis di kitab Musa atau kitab para nabi, kitab Mazmur dan Injil? Bukankah aku bahkan menyambut roti itu, yang oleh berkat Roh Kudus diubah menjadi Tubuh-Nya?  Celikkanlah mata hatiku, ya Tuhan, agar aku dapat melihat Engkau yang hadir dan bahkan masuk ke dalam diriku! Terutama di saat-saat di mana aku merasa harapanku sudah hampir punah, biarkan aku pun mengalami—seperti para murid itu—bahwa Engkau menyertai dan menyalakan kembali iman, harap dan kasihku. Paus Benediktus XVI, dalam sebuah homilinya tentang Emaus mengatakan, “Kadangkala iman kita mengalami krisis, yang, karena pengalaman-pengalaman buruk, membuat kita merasa ditinggalkan oleh Allah. Tetapi sebaliknya, kisah Emaus menyatakan bahwa adalah mungkin bagi kita untuk berjumpa dengan Yesus yang bangkit “bahkan hari ini”. Sebab masih sampai hari ini, Yesus berbicara kepada kita dalam Kitab Suci; dan masih sampai hari ini Yesus memberikan kepada kita Tubuh dan Darah-Nya.” O Yesus, jadikanlah hatiku berkobar-kobar seperti para murid itu! Sebab Engkaulah Tuhan yang selalu menyertai dan menopangku. Alleluia!

Berlindung dalam Kerahiman Ilahi

0
Sumber gambar:http://www.themiraculouspoweroftheeucharist.com/divine-mercy-chaplet/

[Hari Minggu Paskah II, Minggu Kerahiman Ilahi: Kis 4:32-35; Mzm 118:2-24; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31]

Hari Minggu Paskah kedua ditetapkan sebagai hari Perayaan Kerahiman Ilahi untuk seluruh Gereja, oleh St. Paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 30 April 2000. Bersamaan dengan itu, Paus menyatakan Sr. Maria Faustina sebagai seorang Santa atau salah satu orang kudus dalam Gereja Katolik. Dalam dekrit tanggal 23 Mei 2000, Kongregasi Penyembahan Ilahi di Vatikan menyatakan, “… di seluruh dunia, Minggu kedua Paskah akan dinamai Minggu Kerahiman Ilahi, sebuah undangan yang terus menerus kepada dunia keKristenan untuk menghadapi pelbagai kesulitan dan pencobaan yang dialami umat manusia… dengan keyakinan akan kebaikan ilahi.” Keputusan Paus ini menunjukkan persetujuan tertinggi yang diberikan oleh Gereja terhadap wahyu pribadi yang diterima oleh St. Maria Faustina di sekitar tahun 1937. Dalam wahyu tersebut, di beberapa kesempatan, Tuhan Yesus meminta agar diadakan perayaan khusus untuk Kerahiman Ilahi-Nya, yaitu pada hari Minggu setelah Minggu Paskah. Pada hari Minggu tersebut, yaitu hari ini, bacaan Injilnya adalah tentang Yesus menetapkan sakramen Pengakuan Dosa, yang merupakan tribunal Kerahiman Ilahi-Nya. Maka penetapan Pesta Kerahiman Ilahi ini, sejalan dengan permintaan Tuhan Yesus sendiri, agar kita mengandalkan kerahiman-Nya dengan datang kepada-Nya memohon pengampunan atas dosa-dosa kita.

Perayaan Minggu Kerahiman ini didahului oleh doa Novena Kerahiman Ilahi, yang dimulai pada hari Jumat Agung. Intensi umum novena adalah untuk pertobatan dunia dan agar Kerahiman Ilahi dapat dikenal oleh setiap orang, supaya mereka dapat mengagungkan kebaikan Tuhan. Sedangkan intensi khusus setiap hari, didoakan menurut doa-doa yang disusun oleh St. Faustina, atau dapat pula menggunakan doa yang disusun sendiri sesuai dengan perintah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus untuk mempersiapkan perayaan hari Kerahiman Ilahi. Kata Yesus kepada St. Faustina, “Aku menghendaki agar selama 9 hari ini, engkau membawa jiwa-jiwa ke sumber kerahiman-Ku, supaya mereka dapat menimba kekuatan dan kesegaran dan rahmat apapun yang mereka butuhkan dalam pelbagai kesulitan dalam hidup, secara khusus di saat menjelang kematian. Setiap hari, bawalah kepada Hati-Ku, sekelompok jiwa-jiwa, dan benamkanlah mereka dalam lautan belas kasih-Ku. Dan Aku akan membawa semua jiwa ini ke dalam rumah Bapa-Ku…” (Buku Harian St. Faustina III, 57). Demikianlah kita melakukan Novena Kerahiman Ilahi, dengan mendoakan Doa Koronka (Chaplet of the Divine Mercy) dengan intensi khusus untuk kelompok jiwa-jiwa, selama 9 hari.  Setiap hari kita memohon kepada Allah Bapa, demi sengsara Yesus yang pedih, agar rahmat-Nya boleh tercurah atas jiwa-jiwa tersebut.

Untuk merayakan Minggu Kerahiman Ilahi, Tuhan Yesus menghendaki agar kita: (1) menerima Komuni Kudus pada hari tersebut (I, 130; II,138); (2) Menerima Sakramen Pengakuan dosa beberapa hari sebelum atau sesudah hari Minggu itu, menurut ketentuan perolehan Indulgensi (III, 29). Pada hari Minggu Kerahiman ini, Gereja memberikan Indulgensi Penuh kepada umat beriman yang memiliki intensi untuk menerimanya dan berdisposisi batin yang sesuai. Gereja dipercaya oleh Tuhan untuk membagi-bagikan harta rohani yang bersumber pada buah pengorbanan Kristus dan para orang kudus-Nya, kepada setiap anggotanya yang memohonkannya. Indulgensi sendiri artinya adalah “penghapusan siksa-siksa temporal untuk dosa-dosa yang sudah diampuni….”; dan penghapusan siksa dosa ini dapat berupa penghapusan sebagian atau seluruhnya” (KGK 1471). Maka indulgensi tidak identik dengan pengampunan dosa otomatis. Sebab perolehan indulgensi mensyaratkan pengakuan dosa dalam sakramen Pengakuan terlebih dahulu. Melalui sakramen Pengakuan dosa, kita menerima rahmat pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, sehingga kita dibebaskan dari siksa dosa kekal (neraka). Namun demikian, siksa dosa sementara tetap ada, yang harus kita tanggung sebagai akibat dari dosa-dosa yang kita lakukan (lih. KGK 1473). Siksa dosa sementara—yang dapat ditanggung di dunia ini atau kelak di Api Penyucian—inilah yang dapat dikurangi ataupun dihapuskan semuanya, melalui perolehan Indulgensi. Dengan kata lain, melalui sakramen Pengakuan, dosa-dosa diampuni, dan melalui Indulgensi, akibat dosa-dosa itu, atau yang dikenal dengan “siksa dosa temporal” itu dihapuskan, entah sebagian atau seluruhnya. Indulgensi dapat diberikan oleh Gereja kepada umat beriman yang benar-benar siap menerimanya, yang telah melakukan persyaratannya. Indulgensi ini dapat diperuntukkan bagi diri orang yang berdoa atau bagi jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian, atas permintaan dari orang yang mendoakannya.

Untuk menerima Indulgensi Penuh, seseorang harus mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, menerima Komuni Kudus, dan berdoa bagi intensi doa Bapa Paus, yang dapat dipenuhi dengan mendaraskan satu kali Bapa Kami, satu kali Salam Maria atau doa-doa lainnya yang didoakan dengan penuh kesalehan. Selanjutnya, syarat yang tak boleh dilupakan adalah: semua keterikatan dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika sikap batin yang terakhir ini kurang sempurna, atau ketiga persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka Indulgensi yang diperoleh hanya sebagian (lih. Apostolic Penitentiary, Prot. N. 39/05/I).

Pemberian Indulgensi ini sejalan dengan kehendak Kristus untuk menjangkau jiwa-jiwa agar dapat mengalami Kerahiman-Nya. Kepada St. Faustina, Kristus mengatakan, “Pada hari Perayaan Kerahiman…. berlarilah ke seluruh dunia dan pimpinlah jiwa-jiwa yang letih lesu… kepada sumber Kerahiman-Ku. Aku akan menyembuhkan dan menguatkan mereka” (I, 99). “Aku menghendaki agar doa Adorasi sakramen Mahakudus dilakukan di sini (di kapel/ gereja), untuk memohon belas kasih Allah bagi seluruh dunia” (III, 19).  Tuhan Yesus yang mengenal segenap isi hati manusia, mengetahui bahwa manusia tidak akan menemukan kedamaian sampai ia mengandalkan Kerahiman-Nya (lih. I, 130). Bukankah Yesus sendiri bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Yesus mengundang kita semua untuk datang kepada Kerahiman-Nya, agar setelah menerimanya kita pun dapat meneruskannya kepada sesama kita. Setelah menerima belas kasih Tuhan, Ia menghendaki agar kita pun memberikan belas kasih kepada orang lain. “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapa-mu murah hati” (Luk 6:36). Demikianlah, devosi Kerahiman Ilahi ini, bukanlah merupakan devosi baru yang asing bagi Gereja, namun sebaliknya, adalah devosi yang telah berakar lama, yang bersumber dari sabda Yesus sendiri.

Melihat demikian perlunya dunia disadarkan akan kerahiman Tuhan, maka pada tanggal 12 Maret 2015 yang lalu, Paus Fransiskus mengumumkan diadakannya tahun Yubelium luar biasa untuk memperingati Tahun Kerahiman, yang akan dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 ini, dan akan berakhir pada hari raya Kristus Raja di tahun berikutnya, 20 November 2016. Paus mengajak kita semua melakukan perjalanan rohani yang dimulai dengan pertobatan. Secara nyata, pertobatan itu dimulai dengan menyediakan waktu untuk memeriksa batin, untuk melihat betapa Allah mengasihi kita, dan agar hati kita dapat terarah kepada-Nya. Dengan demikian, kita dapat didorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan belas kasih, entah secara jasmani atau rohani. Perbuatan belas kasih secara jasmani adalah memberi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kepada sesama yang berkekurangan, mengunjungi mereka yang sakit dan yang di penjara, dan menguburkan sesama yang wafat. Sedangkan perbuatan belas kasih secara rohani adalah menegur orang-orang yang berdosa, mengajarkan kebenaran kepada mereka yang tidak mengetahuinya, menasehati mereka yang bimbang, menghibur mereka yang berduka, menerima kesalahan orang lain dengan sabar, mengampuni orang yang menyakiti hati, mendoakan sesama, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Marilah di hari Minggu Kerahiman ini kita menyiapkan hati untuk menerima kerahiman Tuhan. Semoga dengan demikian kita pun dimampukan oleh-Nya untuk bersikap penuh kerahiman kepada sesama kita. Sebab kerahiman atau belas kasih merupakan sifat utama Tuhan, yang seharusnya juga menjadi sifat utama kita semua yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus juga menghendaki agar kita menyebarluaskan penghormatan kepada Kerahiman-Nya. Demikianlah janji Kristus, “Jiwa-jiwa yang menyebarkan penghormatan kepada Kerahiman-Ku, akan Kulindungi di sepanjang hidup mereka, seperti seorang ibu kepada bayinya; dan di saat kematian, Aku tidak akan menjadi Hakim bagi mereka, namun Penyelamat yang berbelas kasih (III, 20-21). Katakan kepada para imam-Ku, bahwa para pendosa yang keras hati akan luluh mendengar perkataan mereka, ketika mereka berbicara tentang kerahiman-Ku yang tak terselami dan tentang bela rasa yang Kumiliki bagi mereka dalam Hati-Ku. Kepada para imam yang akan mewartakan dan meninggikan  kerahiman-Ku, Aku akan memberikan kuasa yang menakjubkan, dan Aku akan mengurapi perkataan-perkataan mereka dan Aku akan menyentuh hati orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka.” (V, 115).

Di dalam Kerahiman-Mu aku berlindung, ya Tuhan. Bantulah aku untuk meneruskan Kerahiman-Mu itu kepada sesamaku, agar bersama-sama kami semua dapat memuliakan Kerahiman-Mu yang tak bertepi dan tak terselami. Semoga di ajalku kelak, boleh kupandang Engkau sebagai Penyelamatku yang Maharahim, yang mengadiliku bukan berdasarkan atas keadilan semata, tetapi atas belas kasih-Mu yang tiada terpahami. Amin.”

Bersukacita bersama Bunda Maria di Masa Paskah

0
Sumber gambar: http://pixgood.com/resurrection-of-christ-icon.html

[Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan: Kis 10:34.37-43; Mzm 118:1-23; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9].

Kisah Kebangkitan Yesus menurut Injil Yohanes hari ini diawali dengan bagaimana di hari pertama minggu itu, ketika masih pagi-pagi benar, Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus. Injil Matius dan Markus mencatat bahwa Maria Magdalena pergi ke kubur bersama dengan Maria yang lain, yaitu ibu Yakobus dan Salome. Dalam permenungan, mungkin kita bertanya-tanya, “Di manakah Bunda Maria di pagi hari itu?” Bunda Maria, yang hadir pada saat penyaliban Yesus, dan bahkan berdiri di dekat kaki salib-Nya, tidak ikut pergi ke kubur pagi itu. Para wanita itu pergi ke kubur untuk mengurapi jenazah Yesus dengan rempah-rempah, seturut kebiasaan Yahudi. Mereka tidak ingat atau mungkin tidak paham akan perkataan Yesus sebelumnya, yang telah memberitahukan sebanyak tiga kali kepada para murid-Nya, bahwa setelah sengsara dan wafat-Nya, Ia akan bangkit. Namun Bunda Maria yang selalu mendengarkan perkataan Yesus dan menyimpannya di dalam hatinya, tahu dan percaya bahwa Kristus akan bangkit. Maka dengan keteguhan iman dan kedalaman sikap batin yang sulit kita bayangkan dan jabarkan, Bunda Maria menantikan saat kebangkitan Putera-nya, walaupun ia telah melihat dengan matanya sendiri, kematian Putranya yang demikian memilukan. St. Paus Yohanes Paulus II dalam salah satu homilinya mengatakan, “Keempat Injil tidak mengatakan kepada kita tentang penampakan diri Kristus yang bangkit kepada Bunda Maria. Namun demikian, karena Bunda Maria telah demikian amat sangat dekat dengan Salib Kristus, pastilah ia juga memperoleh pengalaman yang istimewa tentang Kebangkitan-Nya” (Homily, Guayaquil, 31 January, 1985). Tak mengherankan, jika tradisi kuno Gereja meyakini bahwa Tuhan Yesus pertama kali menampakkan diri-Nya kepada ibu-Nya secara tersembunyi, sebelum menampakkan diri kepada para wanita itu. Justru karena telah melihat Puteranya yang sudah bangkit, maka Bunda Maria tidak datang ke kubur bersama para wanita itu. Sebab ia tahu bahwa Yesus tidak ada di sana.

Bunda Maria, yang secara istimewa bersatu dengan Yesus sejak detik pertama Ia mengambil rupa manusia di dunia, sampai detik Ia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib, tentu secara istimewa mengambil bagian dalam saat pertama kebangkitan-Nya. Sudah sepantasnya hal inilah yang terjadi, walaupun Injil tidak mencatatnya. Sebab jika dikatakan dalam Injil bahwa ibu-Nya sendiri adalah saksi pertama kebangkitan Yesus, tentu orang dengan mudah menentang kebangkitan Yesus, dan menganggapnya sebagai kisah bias dari sang ibu tentang Anaknya sendiri. Maka Allah menghendaki seorang yang lain untuk dicatat dalam Injil menjadi saksi pertama kebangkitan Putra-Nya, yang lalu mewartakannya kepada para murid-Nya yang lain. Saksi itu adalah Maria Magdalena, seorang pendosa berat yang bertobat. Fakta ini membuka mata hati kita, akan betapa berharganya pertobatan di mata Tuhan. Maria Magdalena yang dianggap rendah, karena ia wanita, dan dulunya pendosa pula, dikembalikan harkatnya oleh Tuhan karena ia telah bertobat. Ia bahkan dipilih oleh Tuhan untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya sebelum Ia menampakkan diri kepada para murid-Nya yang lain.

Maka alasan penampakan diri Yesus kepada Bunda-Nya berbeda dengan alasan penampakan-Nya kepada Maria Magdalena, atau para wanita itu dan para murid-Nya. Sebab kepada mereka, Yesus menampakkan diri, untuk membuat mereka percaya akan Dia sebagai Mesias yang telah bangkit dari kematian, dan yang akan memberikan hidup kekal bagi yang percaya kepada-Nya. Namun kepada Bunda Maria, keadaannya berbeda, sebab ia telah percaya kepada Kristus dan selalu bersatu dengan-Nya. Maka penampakan Kristus yang bangkit kepada Bunda Maria merupakan penggenapan janji Allah yang disampaikan oleh malaikat itu, sekitar 33 tahun yang silam. Yaitu bahwa Putra yang akan dikandungnya akan mewarisi tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tidak berkesudahan (lih. Luk 1:31-33). Kristus yang bangkit dengan tubuh-Nya yang bersinar mulia,  menggenapi janji Allah, bahwa Kristus Putera-Nya akan mengalahkan kematian dan tetap hidup dengan jaya selamanya. Setelah melalui penderitaan yang sangat, ketika menyaksikan Yesus Putranya difitnah dan disiksa sampai wafat, kini Bunda Maria dipenuhi dengan sukacita berlimpah, karena melihat bahwa Putranya tetap hidup dalam cahaya kemuliaan-Nya. Kristus telah mencapai kemenangan atas dosa dan maut, dan karena itulah kita bersukacita. Sebab kemenangan-Nya itu adalah untuk membebaskan kita juga dari kuasa dosa dan maut, jika kita percaya kepada-Nya, hidup seturut jalan-Nya dan bersatu dengan-Nya, seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria.

Seperti bahwa tak ada yang dapat menandingi dukacita Bunda Maria saat melihat sengsara dan kematian Yesus, demikian pula, tak ada yang dapat menandingi sukacita Bunda Maria saat melihat kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya Gereja melatunkan doa Regina Caeli, atau Ratu Surga, untuk menggantikan doa Angelus, pada masa Paskah ini. Kita menggabungkan sukacita kita dengan sukacita Bunda Maria, saat kita berkata, “Ratu Surga, bersukacitalah! Alleluia! Sebab Ia yang sudi kau kandung… telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluia!….. Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluia, sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluia!

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab