Home Blog Page 39

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

0
Sumber gambar: http://principlesforlifeministries.com/tag/second-coming/

[Hari Minggu Biasa ke XXI: Yos 24:1-18; Mzm 34:2-23; Ef 5:21-32; Yoh 6:60-69]

Minggu lalu telah kita renungkan tujuan akhir kita sebagai murid Kristus. Yaitu, seperti Bunda Maria, kelak di akhir zaman kita pun akan diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya. Namun Minggu ini, permenungan kita adalah persyaratan untuk sampai ke sana, yaitu: asalkan kita setia melakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita sampai akhir. Kesetiaan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus kita buat setiap saat. Inilah yang ditanyakan oleh Yosua kepada bangsa Israel  di Bacaan Pertama, dan yang ditanyakan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya di Bacaan Injil.

Di Injil tertulis bahwa setelah Yesus mengajar orang banyak bahwa Ia adalah sang Roti Hidup, banyak dari mereka yang bersungut-sungut, dan kemudian “mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus” (Yoh 6:66). Mengapa? Sebab mereka menganggap ajaran Yesus sebagai “perkataan yang keras” (Yoh 6:60). Mereka tak bisa menerima bahwa Yesus menghendaki mereka makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya agar dapat memiliki hidup yang kekal (lih. Yoh 6:54). Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya, dan bahkan mempersilakan para murid-Nya—jika mereka tidak percaya akan ajaran-Nya ini—untuk juga pergi meninggalkan Dia. Yesus bertanya kepada keduabelas rasul-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Namun syukurlah, Rasul Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal… Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:67-69). Jawaban Rasul Petrus ini menjadi jawaban kita umat Katolik, yang mengamini perkataan Tuhan Yesus ini, dengan terus memperingati, merayakan dan menerima-Nya dalam rupa Ekaristi kudus.

Namun kita ketahui bahwa sejak awal pengajaran Yesus ini memang tidak dengan mudah diterima oleh semua orang. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa pengkhianatan Yudas Iskariot sesungguhnya dimulai pada saat itu. Sebab tak lama dari saat Yesus bertanya kepada para rasul-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yesus pun melanjutkan, “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Dan di ayat berikutnya tertulis, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus…” (Yoh 6:71). Artinya, Yesus sudah tahu bahwa Yudas Iskariot akan menyerahkan Dia, sebab Yudas termasuk bilangan dari mereka yang tidak percaya akan pengajaran yang baru saja disampaikan oleh Yesus tentang Roti Hidup itu. Dewasa ini, kita melihat bahwa ada banyak orang yang juga menyebut diri sebagai murid Kristus, tetapi tidak mengimani ajaran tentang Tuhan Yesus sebagai Roti Hidup sebagaimana yang diimani oleh kesebelas rasul, seperti dinyatakan oleh Rasul Petrus. Atau dalam arti yang lebih luas, ada banyak orang yang menentukan sendiri ajaran, menurut pemahaman sendiri. Sehingga meskipun menyebut diri Kristen, tetapi mereka menyetujui paham-paham yang secara mendasar tidak sesuai dengan ajaran Kristus, seperti yang belakangan ini marak diperdebatkan di sejumlah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Mereka mulai melegalkan perkawinan sesama jenis, aborsi, euthanasia, memperbolehkan dan bahkan menganjurkan pemakaian alat-alat kontrasepsi, dan seterusnya. Gereja Katolik tidak menyetujui paham-paham semacam ini. Kini, semakin banyak gereja-gereja non-Katolik yang mulai menyetujui pandangan  sekular dan mengubah ajaran Kristus. Hanya Gereja Katolik-lah yang tetap menyuarakan ajaran iman dan moral yang sama seperti yang diajarkan oleh Kristus dan dilaksanakan oleh Gereja sejak awal. Gereja Katolik tetap konsisten mewartakan Injil yang berpihak kepada kehidupan dan bukan kematian. Gereja Katolik tetap tak berubah dalam menyatakan kebenaran dan menjunjung tinggi kekudusan dan martabat manusia, dan bukan sebaliknya. Apa yang di masa lalu dinyatakan benar, sekarang pun tetap dinyatakan benar; demikian pula, yang dulu salah, kini tetap dinyatakan salah. Semoga hati nurani kita semakin diteguhkan untuk melihat betapa Gereja Katolik justru mengajarkan ajaran Kristus dalam kemurnian dan keutuhannya. Walaupun untuk melakukannya tentu diperlukan perjuangan, namun dengan mengandalkan rahmat Allah, tentu ajaran yang otentik ini lah yang akan membuahkan kekudusan dan kesempurnaan yang dikehendaki Allah bagi kita (lih. 1Tes 4:3; Mat 5:48). Tentu saja ajaran Gereja tak terbatas dalam hal moral  tetapi juga dalam hal iman, seperti ajaran tentang Allah Trinitas, Inkarnasi, Yesus sungguh Allah sungguh manusia, keselamatan, arti Gereja, Tradisi Suci, sakramen-sakramen terutama Ekaristi, ajaran tentang Bunda Maria dan persekutuan orang kudus, Purgatorium, panggilan untuk hidup kudus dan seterusnya. Semua ajaran tersebut mempunyai implikasi dalam kehidupan kita sehari-hari.  

Jadi nampaknya kita perlu menyadari bahwa kebebasan yang diajarkan oleh Kristus “bukanlah kebebasan untuk berbuat apa saja menurut kehendak kita, tetapi kebebasan untuk dapat memilih apa yang baik dengan cara yang bertanggungjawab” (St. Paus Yohanes Paulus II, Khotbah, 6 Juni 1988). Ajaran Gereja tidak merintangi, tetapi justru mengarahkan agar kita dapat memilih dan melakukan apa yang baik. Ini seperti jika kita pergi ke suatu tempat yang tidak kita kenal,  dan kita akan terbantu dengan adanya peta,  bertanya kepada penduduk setempat, dan juga melihat kepada tanda-tanda di jalan. Semua itu tidaklah merintangi, tetapi justru membantu kita  sampai ke tujuan. Tuhan Yesus menghendaki kita selamat sampai di tujuan akhir yaitu Surga, dan dalam perjalanannya kita bebas merdeka dari dosa, yang memisahkan kita dari Allah. St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Bebas dari ketidakadilan, ketakutan, paksaan dan penderitaan, akan menjadi tidak berarti  kalau kita tetap menjadi hamba di kedalaman hati kita, yaitu hamba dosa. Untuk menjadi sungguh bebas, manusia perlu dibebaskan dari perhambaan ini dan diubah menjadi ciptaan yang baru. Oleh karena itu, kemerdekaan yang mendasar dari manusia terjadi di tingkat yang terdalam, yaitu dalam keterbukaan kepada Allah melalui pertobatan hati, sebab di dalam hati manusia lah ditemukan akar semua bentuk perhambaan, dan setiap pelanggaran kemerdekaan” (St. Paus Yohanes Paulus II, Pesan di Hari Perdamaian Dunia, 8 Desember 1980, 11).

Di hari Minggu ini mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah kiranya yang menjadi hambatan bagi kita untuk dapat menerima semua ajaran Kristus? Apakah hambatan itu berkaitan dengan pengertian diri kita sendiri yang berbeda dengan ajaran Gereja? Apakah halangan itu sebenarnya berkaitan dengan suatu kelemahan dan dosa kita? Marilah kita meminta agar Tuhan Yesus memberi pencerahan kepada kita, agar kita dapat berkata seperti Rasul Petrus, “Tuhan, ke mana aku akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal…” Semoga dengan sikap yang sedemikian, kita dapat senantiasa bertobat, dan selanjutnya meletakkan kebebasan kita di dalam bimbingan Tuhan sendiri yang senantiasa mengarahkan kita kepada kekudusan, melalui Gereja-Nya. Marilah kita mengikuti teladan Bunda Maria yang menanggapi perkataan Allah yang disampaikan oleh malaikat itu, dengan mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Semoga demikianlah juga tanggapan kita, “Aku ini hamba Tuhan. Aku mau menaati semua yang Engkau ajarkan, melalui Gereja yang Kau dirikan.” Dengan memercayakan diri kita kepada belas kasih Tuhan dan pertolongan-Nya, kita percaya Tuhan Yesus akan membimbing kita sebagai jemaat-Nya yang adalah mempelai-Nya sendiri, “dalam keadaan cemerlang, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu tetapi kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27).

Kuarahkan mata hati pada mahkota kehidupan

0
Sumber gambar: http://www.turnbacktogod.com/virgin-mary-assumption-pictures/

[Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga: Why 11:19a;12:1-6,10; Mzm 45:10-16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56]

Hatiku tergelitik untuk membaca selembar kertas itu. Rupanya, kertas itu adalah bagian dari kumpulan pe-er dari keponakan kami, Nicholas. Di sana, tertulis satu paragraf yang berjudul: “Dua puluh tahun dari sekarang.”  (Twenty Years from Now). Demikianlah tulis Nicholas:

“When I’m twenty-eight years old I will be a priest. I will live in a priesthouse. I will drive in a truck. I will serve Mass at my old school St. Adalbert. My pets would be just two gold fish….”

Pikiranku menerawang jauh… Walaupun baru berusia 8 tahun, Nicholas telah memiliki gambaran yang jelas akan dirinya, dua puluh tahun ke depan. Dalam kesederhanaannya, ia bercita-cita ingin menjadi seorang imam, yang berkarya di sekolahnya yang dulu, yaitu sekolah  sederhana yang terletak di pinggiran kota, yang mayoritas muridnya adalah anak-anak petani. Aku jadi bertanya kepada diriku sendiri, akan bagaimanakah kiranya aku 20 tahun lagi, 50 tahun atau …. setelah aku beralih dari dunia ini? Sebab sebagai seorang murid Kristus, pengharapan kita tidak terbatas pada kehidupan di dunia ini, namun juga pada kehidupan setelahnya. Akankah aku telah memiliki gambaran yang jelas akan apa yang kuharapkan terjadi padaku di masa mendatang, dalam kekekalan?

Perayaan yang kita peringati hari ini, memberikan suatu pencerahan batin bagi kita semua yang mengimani Kristus. Yaitu bahwa kita menantikan saatnya, di mana kita akan dibangkitkan, “hidup kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (lih. 1Kor 15:22)  dan menerima karunia mahkota kehidupan yang dianugerahkan Allah bagi semua orang yang mengasihi Dia dan setia kepada-Nya sampai mati (lih. Yak 1:12; Why 2:10). Dan tentang hal ini, Allah menentukan urutannya: Kristus sebagai yang sulung, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya (1Kor 15:23). Urutan setelah Kristus tentu dimulai dari orang yang paling sempurna mengasihi Dia, dan yang paling setia kepada-Nya sampai mati. Dan orang ini, tidaklah lain dan tidaklah bukan, selain daripada ibu-Nya sendiri yaitu Bunda Maria. Baru setelahnya ia diikuti oleh para murid Kristus yang lain, yang urutan-Nya ditentukan oleh Allah menurut kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

Maka dari sini, kita mengetahui bahwa perayaan hari ini bukan semata perayaan penghormatan kepada Bunda Maria. Perayaan ini dimaksudkan juga untuk mengarahkan hati kita umat beriman, akan pengharapan yang menanti kita di kehidupan yang akan datang. Kelak, jika kita setia beriman dan hidup dalam kasih seperti Bunda Maria, kitapun akan memperoleh kemuliaan, baik jiwa maupun tubuh kita. Seperti Bunda Maria, kita pun didorong untuk menjaga kemurnian jiwa dan tubuh, sesuai dengan tujuan akhir yang Tuhan kehendaki bagi kita.  Paus Pius XII, mengajarkan:

“Dan demikianlah kita dapat berharap bahwa mereka yang merenungkan teladan mulia yang diberikan Bunda Maria kepada kita, dapat menjadi semakin yakin akan nilai kehidupan manusia yang dicurahkan untuk melaksanakan kehendak  Allah Bapa dan untuk membawa kebaikan kepada sesama…. di dalam cara yang agung ini, semua orang dapat dengan jelas melihat kepada tujuan akhir yang demikian luhur, yang ditentukan bagi tubuh dan jiwa kita. Akhirnya, adalah harapan kami bahwa kepercayaan akan pengangkatan tubuh Maria ke Surga akan membuat kepercayaan kita akan kebangkitan tubuh kita sendiri menjadi lebih kuat dan menjadikannya menjadi lebih berdaya guna” (Munificentissimus Deus, 42).

Saat kita memadahkan  Magnificat hari ini, biarlah perkataan sabda Allah ini meresap di batin kita. Biarlah kita mengucapkannya dengan segenap hati, bersama dengan Bunda Maria:  

Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamat-ku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang
segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena yang Mahakuasa
telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
dan nama-Nya adalah kudus…..”

Semoga Tuhan membantu kita untuk setia kepada-Nya sampai akhir, supaya kita dapat pada akhirnya, memperoleh mahkota kehidupan, seperti yang dijanjikan-Nya. Bunda Maria, Bunda umat beriman, doakanlah kami!

Ekaristi: Bekal rohani untuk sampai ke Surga

0
Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Viaticum

[Hari Minggu Biasa ke XIX: 1Raj 19:4-8; Mzm 34:2-9; Ef 4:30-5:2; Yoh 6:41-51]

Hari Minggu ini kita mendengarkan kisah Nabi Elia yang melarikan diri ke padang gurun, untuk menghindar dari kejaran para suruhan Ratu Izebel yang ingin membunuhnya. Dalam kelelahan dan keputusasaannya, Nabi Elia berseru kepada Tuhan, agar ia dibiarkan mati saja (lih. 1Raj 19:4). Namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberi Elia makan dan minum, untuk melanjutkan perjalanannya. Dari makanan itu, Nabi Elia dapat bertahan dalam perjalanan empat puluh hari empat puluh malam sampai ke gunung Tuhan.

Suatu saat dalam hidup ini, kitapun  dapat mengalami pengalaman seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Kita dapat merasa lelah—karena kesibukan rutin, permasalahan hidup atau karena kelemahan diri kita sendiri—yang mendorong kita menyerah. Namun Tuhan mengutus malaikat-Nya, yaitu Gereja, yang memberikan kita santapan rohani—yaitu Ekaristi—untuk membuat kita bertahan dan dapat melanjutkan perjalanan, sampai ke gunung Tuhan, yaitu Surga. Tak mengherankan, Gereja di abad-abad awal menyebut Ekaristi sebagai Viaticum, artinya: bekal bagi perjalanan jauh. Namun demikian, istilah Viaticum kini lebih dihubungkan sebagai bekal terakhir bagi seseorang di saat ajal, yaitu ketika hendak beralih dari hidup di dunia ini ke kehidupan selanjutnya. Maka bacaan hari ini juga mengingatkan kita pentingnya Ekaristi bagi kita, terutama di saat menjelang kematian. Saat itu kita sungguh membutuhkan kekuatan dari Tuhan sendiri, agar kita dapat mengalahkan godaan untuk menyerah dalam keadaan keputusasaan, seperti yang dialami oleh Nabi Elia. Di saat ajal itulah, kita akan menghadapi godaan terbesar, akankah kita tetap percaya kepada Kristus Juruselamat kita, sementara kita  mengalami puncak penderitaan ataupun rasa kesendirian yang tak terungkapkan. “Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal…. Akulah roti yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya…” (Yoh 6:47,51). Betapa ini adalah janji Tuhan yang layak kita pegang teguh sampai akhir! Jika kita percaya akan sabda Yesus ini, layaklah kita berusaha sedapat mungkin untuk mengusahakan penerimaan sakramen Ekaristi bagi mereka yang sedang dalam sakrat maut. Betapa luhurnya pengabdian seorang imam yang mau berkorban melakukan apa saja, untuk memberikan Komuni Viaticum ini kepada umat yang membutuhkannya! Betapa sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yesus atas pemberian diri-Nya melalui Gereja-Nya, para imam-Nya, dan sakramen Ekaristi!

Namun Ekaristi bukan hanya Roti hidup yang layak diterima saat menjelang ajal. Tuhan Yesus menghendaki kita  menyambut Dia secara teratur dalam kehidupan kita: setiap Minggu, atau jika memungkinkan, setiap hari. Dengan demikian, kita dapat mengambil bagian di dalam hidup-Nya sendiri, agar kita dapat mengalahkan godaan dan dapat senantiasa hidup dalam rahmat Allah, seturut panggilan kita sebagai anak-anak-Nya.  “Melalui penerimaan Komuni setiap hari, kehidupan rohani menjadi lebih penuh dan jiwa diperkaya dengan kebajikan- kebajikan. Orang yang menerima Komuni menerima tanda yang pasti akan kehidupan kekal” (Paus Paulus VI, Eucharisticum Mysterium, 37). Tentu perkataan ini didasari oleh janji Kristus sendiri, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal…, [ia] akan hidup oleh Aku…, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:54,56,58). Sebab dengan mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus, kita diubah oleh-Nya menjadi semakin menyerupai Dia yang kita sambut itu. Hal ini jelas kita lihat dalam kehidupan para orang kudus—yaitu para Santo-Santa—namun juga dalam kehidupan kita di masa ini, asalkan kita mau menyambut Kristus dengan sikap batin yang baik, sebagaimana yang dilakukan oleh para orang kudus itu.

Ketika Hosti diangkat oleh tangan imam, dan yang melalui perkataan Sabda Tuhan, telah diubah menjadi Tubuh Kristus Sang Roti hidup, mari kita memandang-Nya, sambil berkata, “Tuhan, aku mau menerima Engkau, sebagai Roti hidup yang turun dari surga… Biarlah ini menjadi santapan dan bekal bagiku untuk sampai kepada hidup yang kekal dalam kebahagiaan abadi bersama-Mu…” Dan saat Roti Hidup itu kita terima, biarlah kidung Anima Christi ini bergema di hati kita:

“Jiwa Kristus, kuduskanlah aku
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku
Darah Kristus, sucikanlah aku
Air lambung Kristus, basuhlah aku
Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Dalam luka-luka-Mu sembunyikanlah aku.
Jangan aku dipisahkan daripada-Mu, ya Tuhan.
Terhadap seteru yang curang, lindungilah aku.
Di waktu ajalku, terimalah aku.
Supaya bersama para kudus, aku memuji Engkau,
selamanya.”

Apa jawabku kepada Sang Roti Hidup

0
Sumber gambar: https://breadhere.wordpress.com/tag/bread-of-life/

[Hari Minggu Biasa ke XVIII: Kel 16:2-4, 12-15; Mzm 78:3-4, 23-25, 54; Ef 4:17, 20-24; Yoh 6:24-35]

Bacaan Injil Minggu ini merupakan kelanjutan dari bacaan Injil minggu lalu. Mukjizat pergandaan roti menjadi persiapan bagi pengajaran Tuhan Yesus tentang diri-Nya sebagai Sang Roti Hidup. Demikian pula, Bacaan Pertama hari ini mengisahkan akan gambaran samar-samar akan Roti hidup yang turun dari surga. Di padang gurun itu, Allah melakukan mukjizat bagi bangsa Israel, ketika bangsa itu bersungut-sungut kepada nabi Musa untuk meminta makan daging dan roti. Menjawab keluhan bangsa ini, Allah memberikan roti manna dari langit setiap pagi dan burung puyuh di sore hari. Hal ini berlangsung selama sekitar 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun sebelum bangsa itu memasuki Tanah Terjanji. Tentunya ini adalah mukjizat besar yang dikenang oleh bangsa Israel, sampai kepada zaman Yesus. Orang-orang itu bahkan menggunakan kisah ini untuk menguji Yesus: akankah Ia lebih besar daripada Nabi Musa? Mungkinkah Yesus mengadakan mukjizat yang lebih besar daripada mukjizat manna di padang gurun selama 40 tahun? Terpaku dengan mukjizat manna, mereka bahkan tidak menyadari bahwa Yesus baru saja melakukan mukjizat yang tak kalah besar, yaitu memberi makan ribuan orang hanya dari lima roti dan dua ikan. Seperti orang bangun kesiangan namun tidak menyadarinya, orang-orang itu meminta tanda kepada Yesus yang baru saja membuat tanda besar di hadapan mata mereka! Perhatian orang-orang itu hanyalah kepada tanda jasmani yang mendatangkan akibat sementara, sedangkan perhatian Tuhan Yesus adalah kepada tanda rohani yang mendatangkan akibat yang kekal, walaupun tidak berarti bahwa Tuhan tidak peduli dengan kebutuhan jasmani kita. Sebab seringkali, kekuatan rohani yang kita terima dari Tuhan memampukan kita mengatasi berbagai masalah jasmani; dan membantu kita menghadapi hidup dengan semangat yang baru. Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan oleh St. Teresa dari Avila: “Siapapun yang memiliki Allah tidak kekurangan apapun. Allah sendiri cukup.”

Namun nampaknya, mukjizat jasmani yang terlihat kasat mata lebih menarik perhatian orang daripada mukjizat rohani yang bernilai ilahi. Bukankah hal ini juga masih terjadi di saat ini? Orang datang ke gereja mengharapkan dapat melihat mukjizat yang dapat terlihat oleh mata. Atau, seandainya saja setiap minggu di gereja dibagikan berbagai hadiah dan uang kepada semua umat, maka orang akan berbondong-bondong datang. Jika demikian, benar lah  perkataan Rasul Paulus yang meminta agar kita menanggalkan manusia lama, agar dapat diperbaharui dalam roh dan pikiran, dan mengenakan manusia baru (lih. Ef 4:22-24) agar dapat melihat kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Yaitu bahwa mukjizat dalam Perjanjian Lama merupakan gambaran samar-samar akan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru. Bukan Nabi Musa yang memberikan roti dari surga, tetapi Allah Bapa, dan roti dari surga yang sesungguhnya, adalah Kristus. St. Yohanes Krisostomus mengatakan, “Yesus tidak berkata, bukan Musa yang memberikan roti manna kepadamu tetapi Aku: namun Ia mengatakan bahwa Bapa-Ku lah yang memberikan roti yang benar dari surga. Ia meletakkan Allah Bapa di tempat Musa, dan diri-Nya sebagai sang manna.” Manna, yang secara literal berarti: “apakah ini?”; juga digenapi dalam diri Kristus. Sebab tentang Dia, orang juga bertanya: apakah ini? Bagaimana mungkin Anak Allah dapat menjadi Anak Manusia? Bagaimana Kristus dapat memiliki kodrat Allah dan kodrat manusia? Bagaimana Allah dapat mengambil rupa roti agar dapat menjadi santapan rohani bagi umat-Nya? Kristus, Sang Putera Allah itulah Sang Roti Hidup dari surga yang memberi hidup kekal kepada kita. Setiap hari kita dapat menerima Roti itu dalam Ekaristi kudus. Sebagaimana Allah dulu memberi makan umat-Nya setiap hari sampai mereka dapat masuk ke Tanah Terjanji, demikianlah kini Allah pun menyediakan santapan rohani, agar kita dapat sampai ke Tanah Terjanji yang sesungguhnya, yaitu Surga. Sebab Allah tidak hanya berkehendak agar kita dapat hidup di dunia ini saja, namun juga agar kita beroleh hidup yang kekal dan berbahagia bersama-Nya, selamanya.

Kini pertanyaannya adalah, seberapa besarkah kerinduan kita untuk menerima Kristus Sang Roti Hidup itu? Apakah kita telah melakukan persiapan batin yang memadai untuk menyambut Dia? Apakah kita mau meluangkan waktu untuk sedapat mungkin menyambut Dia dalam Ekaristi setiap hari? Sudahkah kita sungguh bersyukur setiap kali menyambut Ekaristi? Atau apakah kita malah disibukkan oleh pikiran kita sendiri? Dalam buku hariannya, St. Maria Faustina mencatat perkataan Yesus, “Ketika Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus… tangan-Ku penuh dengan berbagai rahmat yang ingin Ku-berikan kepada jiwa itu. Tetapi jiwa-jiwa manusia tidak memberi perhatian kepadaKu. Mereka meninggalkan Aku sendirian dan mereka menyibukkan diri mereka sendiri dengan berbagai hal lain…. Mereka memperlakukan Aku seperti benda mati.” (Buku Harian St. Faustina, 1385).

Mari kita menilik ke dalam hati kita, bagaimana sikap batin kita saat menerima Kristus dalam Komuni kudus? Sebab mungkin saja pikiran kita tertuju kepada-Nya, namun dengan begitu mudahnya, perhatian kita terpecah untuk suatu hal yang sepele. Contohnya, jika di gereja banyak nyamuk, udaranya panas, koornya sumbang, yang duduk di sekitar kita mengobrol, atau kalau yang duduk di depan kita memakai pakaian yang terlalu pendek. Atau kalau tidak ada yang salah di sekitar kita, hanya suasana hati kita sendiri yang sedang galau dan pikiran kita yang tercampur baur, sehingga tak sungguh-sungguh merasakan dan mengalami, Siapa yang kita sambut dalam rupa Hosti suci itu. Mungkin kita perlu memohon rahmat, agar apapun yang terjadi di sekitar kita dan di hati kita, kita tetap dapat memberikan penghormatan dan ucapan syukur yang tak terhingga kepada Tuhan Yesus yang kita sambut dalam Ekaristi. Betapa tidak, Ia yang di dalam-Nya kita diciptakan, diselamatkan dan dikuduskan, kini masuk ke dalam tubuh dan hati kita. O Tuhan, betapa tidak ada yang lebih indah di dunia ini, selain daripada menyambut Engkau dalam Ekaristi!

“Tuhan Yesus, bantulah aku untuk memberikan penghormatan yang semestinya kepada-Mu dalam Komuni Kudus. Ampunilah aku jika aku kerap disibukkan oleh banyak hal, dan gagal memberi perhatian yang sepenuhnya kepada-Mu. Bantulah aku menyadari bahwa hanya Engkaulah yang mampu memuaskan jiwaku.  Engkaulah Penopang hidupku yang menghantarkan aku kepada hidup yang kekal. Tuhan Yesus, terima kasih atas begitu besarnya kasih-Mu kepadaku. Tambahkanlah kasihku kepada-Mu. Amin.”

Paus Fransiskus: Kecerdasan adalah sebuah karunia

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Seorang Kristen menyesuaikan cara ia berpikir dengan [cara berpikir] Allah, dan karena alasan ini [ia] menolak cara-cara berpikir yang lemah dan dibatasi.

Hal ini merupakan tema utama homili Paus Fransiskus pada Misa Jumat pagi [29-11-2013] di Casa Sanctae Martha. Tuhan telah mengajar para murid-Nya untuk menjadi penuh perhatian terhadap tanda-tanda zaman, tanda-tanda yang mana orang-orang Farisi telah gagal untuk memahaminya.

Paus mengatakan bahwa, dalam upaya untuk memahami tanda-tanda zaman, seorang Kristen harus berpikir tidak hanya dengan kepalanya saja, tetapi juga dengan hati dan jiwanya. Jika tidak, dia tidak bisa memahami “jalan Allah dalam sejarah”. Dalam Injil, Yesus sungguh tidak menjadi marah, namun menyatakannya ketika para murid tidak memahamiNya. Di Emmaus Dia berkata: ‘Bagaimana bodoh dan lambatnya hati’. ‘Bagaimana bodoh dan lambatnya hati’… Dia yang tidak memahami hal-hal akan Allah adalah seorang pribadi semacam itu. Tuhan menghendaki kita untuk memahami apa yang terjadi, apa yang terjadi dalam hatiku, apa yang terjadi dalam hidupku, apa yang terjadi di dunia, dalam sejarah … Apa arti dari yang sedang terjadi sekarang? Hal-hal ini merupakan tanda-tanda zaman itu! Di sisi lain, roh dunia memberi kita perbandingan-perbandingan lain, karena roh dunia tidak menginginkan sebuah komunitas: ia meinginkan sebuah kerumunan massa, tanpa pertimbangan, tanpa kebebasan.”

Sementara roh dunia menghendaki kita untuk mengambil sebuah “jalan yang dibatasi,” Santo Paulus memperingatkan bahwa “roh dunia memperlakukan kita seperti dipikirnya kita kurang memiliki kemampuan untuk berpikir bagi diri kita sendiri, ia memperlakukan kita seperti orang-orang yang tidak bebas”: pemikiran yang dibatasi, pemikiran yang sama, pemikiran yang lemah, sebuah pemikiran yang menyebar begitu luas. Roh dunia tidak menghendaki kita untuk bertanya kepada diri kita sendiri di hadapan Allah: Tapi mengapa, mengapa hal lain ini, mengapa hal ini terjadi?’ Atau ia bisa juga menawarkan sebuah cara berpikir Pret-à-porter [‘siap pakai’], yang sesuai dengan selera pribadi: “Aku berpikir sebagaimana aku suka!” Hal ini tidak apa-apa, mereka katakan …. Tapi apa yang roh dunia tidak inginkan adalah apa yang Yesus minta dari kita: pemikiran bebas, pemikiran dari seorang pria dan seorang wanita yang adalah bagian dari umat Allah, dan keselamatan adalah hal ini persisnya! Ingat akan para nabi … ‘Kamu adalah bukan orang-orang-Ku, sekarang Aku katakan orang-orang-Ku ‘: demikian firman Tuhan. Dan ini adalah keselamatan: untuk membuat kita orang-orang, umat Allah, memiliki kebebasan.”

Paus Fransiskus menambahkan bahwa Yesus meminta kita untuk “berpikir secara bebas … dalam upaya untuk memahami apa yang terjadi.” Kebenaran itu adalah bahwa “kita tidak sendirian! Kita perlu bantuan Tuhan”. Kita perlu “memahami tanda-tanda zaman” itu: Roh Kudus, katanya, “memberi kita hadiah ini, sebuah karunia: kecerdasan untuk memahami”: Jalan apa yang Tuhan inginkan? Selalu dengan roh kecerdasan yang dengannya dapat memahami tanda-tanda zaman itu. Adalah indah untuk meminta Tuhan akan rahmat ini, yang mengirimkan kita roh kecerdasan ini, karena kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang lemah, kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang dibatasi dan kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang sesuai dengan kesukaan pribadi: kita hanya memiliki sebuah pemikiran yang seturut dengan Allah. Dengan pemikiran ini, yang merupakan sebuah pemikiran dari akal budi, dari hati, dan dari jiwa. Dengan pemikiran ini, yang merupakan karunia Roh itu, [kita] mencari arti dari hal-hal, dan untuk memahami tanda-tanda jaman dengan baik.”

Paus mengakhiri: Hal ini oleh karena itu merupakan rahmat yang karenanya kita harus minta kepada Tuhan: “kemampuan yang memberikan kita roh untuk “memahami tanda-tanda jaman” itu.

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 29 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Paus Fransiskus : Skandal Pengkhotbahan

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Paus Fransiskus merayakan Misa di kapel Domus Sanctae Marthae Residensi di Vatikan, Jumat pagi ini [13-12-2013], dengan fokus perhatiannya pada sikap beberapa orang Kristen yang tampaknya “alergi” dengan para pengkhotbah dan terlalu bersifat mengecam mereka yang mewartakan Injil, yang menunjukkan bahwa mereka sering khawatir untuk membiarkan Roh Kudus ke dalam kehidupan mereka dan karenanya rentan terhadap kesedihan yang mendalam.

Dalam perhatiannya kepada umat beriman mengikuti bacaan hari itu, Paus Fransiskus fokus pada Injil harian, yang diambil menurut St Matius (11:16-19). Di sana, Yesus menyamakan generasi angkatan-Nya dengan anak-anak yang selalu tidak bahagia, yang menjelaskan bahwa mereka [seolah], “tidak terbuka kepada Firman Allah.” Penolakan mereka, jelasnya, bukan terhadap pesan itu, melainkan terhadap si pembawa pesan. “Mereka menolak Yohanes Pembaptis,” katanya, yang datang, “tidak makan dan tidak minum,” yang mengatakan bahwa ia adalah “seorang yang kerasukan setan.” Mereka menolak Yesus karena mereka katakan, “Dia adalah seorang pelahap, pemabuk, sahabat para pemungut cukai dan para pendosa.” Mereka selalu punya alasan untuk mengkritik pengkhotbah itu:

“Orang-orang dari angkatan itu lebih suka berlindung dalam sebuah agama yang lebih rumit: dalam prinsip-prinsip moral, sebagaimana kelompok orang-orang Farisi; dalam kompromi politik, sebagaimana orang-orang Saduki; dalam revolusi sosial, sebagaimana orang-orang fanatik, dalam spiritualitas gnostik, sebagaimana orang-orang Essene. Mereka [senang] dengan kebersihan mereka, sistem mereka yang dipoles dengan baik. Pengkhotbah itu, namun, tidak [demikian disenangi]. Yesus mengingatkan mereka: ‘Nenek moyangmu melakukan hal yang sama dengan para nabi. “Umat Allah memiliki alergi tertentu terhadap para pengkhotbah Firman:. Mereka menganiaya para nabi, [bahkan] membunuh mereka.”

Paus melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang ini mengaku menerima kebenaran wahyu, “tetapi pengkhotbah itu, pengkhotbahan, tidak. Mereka lebih memilih hidup yang terkurung dalam ajaran-ajaran mereka, dalam kompromi-kompromi mereka, dalam rencana-rencana revolusioner mereka atau dalam spiritualitas [tak bertubuh] mereka” Mereka adalah orang-orang Kristen, yang selalu tidak senang dengan apa yang para pengkhotbah katakan:

“Orang-orang Kristen ini tertutup, mereka terjebak, menyedihkan … orang-orang Kristen ini tidak bebas. Mengapa? Karena mereka takut kepada kebebasan Roh Kudus, yang datang melalui pengkhotbahan. Hal ini, kemudian, merupakan skandal pengkhotbahan, yang mana darinya St Paulus katakan: skandal pengkhotbahan yang berakhir dalam skandal Salib. Bahwa Allah berbicara kepada kita melalui orang-orang dengan keterbatasan-keterbatasan, orang-orang yang penuh dosa, orang-orang dengan skandal: dan apa yang bahkan lebih menjadi skandal lagi adalah itu bahwa Allah berbicara kepada kita dan menyelamatkan kita dengan cara sebagai seorang manusia yang mengatakan Dia adalah Putera Allah, tetapi akhir [hidup-Nya] seperti seorang penjahat. Itulah yang menjadi skandal.”

“Orang-orang Kristen yang menyedihkan,” kata Paus Fransiskus, “tidak percaya pada Roh Kudus, tidak percaya pada kebebasan yang berasal dari pengkhotbahan, yang mengingatkan kalian, mengajarkan kalian – menampar kalian juga – tapi itu adalah kebebasan yang sangat membuat Gereja bertumbuh”:

“Melihat anak-anak ini yang takut untuk menari, menangis, [yang] takut kepada segala sesuatu, yang meminta kepastian dalam segala hal, saya memikirkan orang-orang Kristen yang menyedihkan ini, yang selalu mengkritik para pengkhotbah Kebenaran, karena mereka khawatir untuk membuka pintu kepada Roh Kudus. Marilah kita berdoa bagi mereka, dan berdoa juga untuk diri kita sendiri, bahwa kita tidak menjadi orang-orang Kristen yang menyedihkan, yang memotong kebebasan Roh Kudus untuk datang kepada kita melalui skandal pengkhotbahan itu.”

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 14 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab