Home Blog Page 38

Mendoakan Firman Tuhan: Mohon Kerendahan Hati dalam Menghadapi Istri yang Suka Mengatur Segalanya

0
Sumber gambar: http://loveyourspouse.org/2012/09/24/weak-husbands-and-dominant-wives-2/

(Hati-Hati .. Istri Terlalu Mengekang, Suami Bisa Hengkang)
Refleksi Iman Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika suami menghadapi istri yang terlalu suka mengatur dirinya, ia bisa mendoakan Firman Tuhan dari Filipi 2:3b-5): “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

2. Maksud Ayat-Ayat Tersebut

Filipi 2:3b-5 merupakan penangkal terhadap ancaman yang akan menghancurkan sukacita kehidupan. Ciri-ciri kehidupan yang dipenuhi dengan sukacita yang sempurna adalah sehati-sepikiran, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dalam kebersamaan: “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,” (Filipi 2:2). Sukacita kehidupan itu dapat dikoyakkan dengan sikap yang mementingkan diri sendiri sehingga menganggap orang lain tidak penting. Sikap yang mementingkan diri sendiri merupakan wujud kesombongan karena menganggap diri lebih baik dan lebih hebat daripada orang lain. Sikap sombong ini dapat menghancurkan hubungan antar pribadi. Orang-orang yang meninggikan diri juga akan menghambat kemajuan dalam kehidupan bersama karena orang-orang akan disibukkan dengan membereskan perpecahan. Membereskan perpecahan yang sering terjadi sangat menguras energi sehingga sangat melelahkan. Perpecahan yang terus terjadi akan membuat frustasi orang-orang dalam kehidupan bersama itu. Kehidupan bersama itu akhirnya asal jalan, tanpa roh.

Sikap meninggikan diri dalam kehidupan kebersamaan itu dapat ditangkal dengan kerendahan hati. Kerendahan hati ditunjukkan dengan sikap saling mengalah dan tidak menonjolkan diri. Kerendahan hati akan menjadikan kehidupan bersama diwarnai dengan saling menghargai dan saling memberi kesempatan untuk maju. Kehidupan bersama yang ditopang dengan kerendahan hati menjadi tempat yang indah untuk mencapai tujuan hidup.

Kerendahan hati akan terjadi jika kita mau meneladani kerendahan hati Tuhan Yesus. Belajar dari kerendahan hati Tuhan Yesus berarti mau menempatkan pikiran dan perasaan-Nya di dalam pikiran dan perasaan kita: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Filipi 2:5). Kerendahan hati Tuhan Yesus nampak dalam kerelaan-Nya untuk merendahkan diri. Yesus sendiri rela melepaskan identitas dengan segala hak-Nya walaupun Ia adalah Allah. Ia rela mengosongkan diri-Nya supaya orang berdosa dapat diselamatkan. Ia mengabaikan kemuliaan diri-Nya dengan membiarkan diri dihina, direndahkan, disiksa, bahkan dibunuh: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).

Dalam kehidupan rumah tangga, kerendahan hati penting bagi para suami yang mungkin menghadapi istrinya yang terlalu suka mengatur dirinya. Suami pasti akan kesal dan bahkan akan marah terhadap istrinya yang suka mengatur segalanya: “Papa harus pulang sebelum jam 8 malam, ya. Enggak boleh lewat. Apalagi kumpul-kumpul dulu sama teman-teman! Papa, ntar pulang kerja langsung pulang ke rumah ya? Papa gak boleh kemana-mana. Jangan dibiasakan kelayapan?” Suami pasti kesal dan marah terhadap istrinya yang mempunyai hobi mengatur dirinya secara keterlaluan karena ia merasa dibatasi ruang geraknya. Ia merasa bahwa istrinnya tidak menghargainya karena memperlakukannya seperti kuda kekang. Ia tidak bahagia karena telah kehilangan kasih dan hati pada istrinya akibat dari istrinya itu yang mau mengatur dirinya. Suami itu mungkin ingin meninggalkan istrinya itu, tetapi takut dengan Tuhan yang melarang perceraian. Ia tetap bertahan dalam perkawinan itu hanya demi anak-anak.

Meratapi sikap istrinya itu adalah sebuah kesia-siaan. Daripada terus mengeluh tentang sifat istrinya itu, ia bisa mengalahkan sifat istrinya yang hobi mengatur tersebut dengan kerendahan hati. Kerendahan hati suami terungkap dengan sikap mengalah terhadap istrinya. Sikap mengalah akan terjadi ketika suami memahami motivasi mengapa istrinya suka mengatur dirinya. Ia mengatur dirinya karena ia sangat mencintai suaminya. Ia takut kehilangan suaminya itu. Ia menjaga suaminya agar tetap sebagai pria yang sempurna seperti yang ia kenal pada waktu pacaran dulu. Istri suka mengatur segalanya pada diri suaminya karena ia telah melihat banyak kejadian, yaitu banyak suami mengalami kehancuran dari hal kecil dan sepele. Awalnya hanya kumpul-kumpul dengan kawan-kawan untuk sekedar minum kopi, tetapi akhirnya pada kumpul kebo. Mengalah bukan kalah, tetapi berjiwa besar. Kerendahan hati bukan murahan, tetapi berkemurahan hati. Mengampuni bukan lembek, tetapi mulia. Sikap mengalah suami, pelan tetapi pasti, akan menyentuh hati terdalam istrinya. Istri semakin mengasihi suaminya itu. Ketika sang istri semakin mengasihi suaminya, ia akan mengerti perasaan suaminya yang terluka karena hobinya yang suka mengatur dirinya secara keterlaluan. Sang istri pasti akan berubah dalam memperlakukan suaminya karena ia tidak mau suaminya menderita. Pendek kata, sikap mengalah akan mengubah segalanya. Hidup suami dan istri pasti akan bahagia lagi karena telah menemukan kembali kasih dan jiwa yang hilang ditelan keegoisan.

3. Doa

Mendoakan Firman Tuhan: Mohon Kerendahan Hati Dalam Menghadapi Istri Yang Suka Mengatur Segalanya

“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Filipi 2:3b-5).

Bapa,

Hatiku sedang resah.

Hatiku resah karena istriku terlalu mengatur atas diriku.

Aku juga marah karena istriku tidak menghargai diriku.

Gerakan hidupku dibatasinya, seperti kuda kekang.

Hidupku hanya mengikuti keegoisannya.

Bapa,

Tiada gunanya menyalahkah nasib.

Berikanlah pada diriku kerendahan hati untuk mengalahkan sifat istriku.

Kerendahan hati akan menghentikan diriku berkeluh kesah dan mencaci maki keadaan.

Keluh kesah tidak akan menolong jiwaku yang resah.

Keluhan justru semakin menghimpit hatiku dengan kemarahan.

Keluh kesah adalah sampah.

Ratapan adalah sia-sia.

Bapa,

Kerendahan hati memampukan diriku menyalakan pelita jiwa.

Pelita jiwa yang menyala membuatku bisa melihat dengan gamblang motivasi dari istriku,

yang mau mengatur segalanya atas diriku.

Ternyata motivasinya adalah terlalu cinta padaku.

Ia takut kehilangan diriku.

Ia ingin menjagaku dari pengaruh pengaulan yang merusak.

Melihat motivasi istriku itu, aku rela mengalah terhadapnya.

Bapa,

Berilah aku ketekunan untuk terus belajar kerendahan hati.

Kerendahan hati pasti mengubah segalanya.

Kerendahan hatiku pasti menusuk hatinya yang terdalam,

sehingga sifatnya pasti berubah.

Istriku pasti akan menjaga perbuatannya karena tidak mau membuat hatiku terluka lagi.

Aku pun semakin mencintai istriku karena ia mau berubah.

Keredahan hati memampukan kami menemukan kembali kasih dan jiwa yang sempat hilang.

Kebahagiaan terukir lagi dalam kehidupan pernikahan kami.

Berburu “Maaf”

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Pada malam lebaran, tanggal 16 Juli 2015, aku ikut ngobyongi/meramaikan semangat mudik masyarakat dengan menyetir mobil andalanku ke Jawa Tengah. Sebenarnya aku tidak benar-benar mudik karena hanya tiga hari waktunya, termasuk perjalanan, tetapi lebih ingin berpartisipasi dengan ratusan ribu manusia yang berburu maaf “lahir batin”. Demi “maaf”, orang rela memikul kelelahan dalam perjalanan. Pokoknya banyak korban yang dipersembahkan oleh mereka. Dalam perjalanan, aku menyusun dan menghafal kata-kata “bahasa Jawa” yang halus untuk sungkem kepada orang-orang yang lebih tua. Maklum bahasa Jawaku hampir hilang musnah ditelan lingkunganku. Bahasa Jawaku itu: “Eyang, Bapak, Ibu, Om, Tante, ….. Ing Riyaya Bakda punika, kula Romo Felix Supranto, nyuwun gunging pangaksami bilih kula wonten kelepatan lan kesalahan/Kakek dan Nenek, Bapak, Ibu, Om, Tante… Pada Hari Raya Idul Fitri ini, saya, Romo Felix Supranto, mohon pengampunan kalau ada kekurangan dan kesalahan”.

Pada tanggal 18 Juli, aku berangkat pulang ke Tangerang, melewati Yogyakarta untuk menjemput kosterku/pegawaiku yang menungguku di airport. Karena masih mempunyai waktu yang banyak, aku mampir ke Desa Birin, Ceporan, Klaten, untuk mengunjungi tanteku yang sudah tua dan tinggal sendirian. Rumahnya kosong. Tanteku ternyata sedang melayat.

Ketika aku sedang bepikir mau ke mana sekarang, aku terkejut karena seorang umatku mendatangiku. Ia mengenal mobilku yang kuparkir di depan rumahnya karena mobilku ada stiker “tarung derajad”. Ia mengajakku mengunjungi pasangan kakek dan nenek. Dari nenek itu aku mendapatkan pelajaran apa arti memaafkan secara lahir dan batin.

Ketika aku masuk ke rumah itu, sang nenek sedang membersihkan borok-borok di punggung sang kakek akibat dari terus berbaring begitu lama. Kakek itu telah lumpuh karena menderita stroke selama enam tahun. Sang nenek mengatakan: “Romo, yen kula nuruti emosi, kula boten ngurusin mbah kangkung punika. Mbah kakung punika gesangipun mung pados remenipun piyambak. Lali anak lan lali bojo. Amargi dawuhipun Gusti Yesus bilih para murid kedah maringi pangaksami, kula kanti lego ing manah ngopeni mbah kakung ingkang sampun mboten saged punopo-punopo/Romo, kalau mengikuti emosi, saya tidak akan mengurusi kakek ini. Sebelum sakit kakek ini dalam seluruh hidupnya hanya mencari kesenangan sendiri. Lupa anak dan istri. Karena Perintah Tuhan Yesus bahwa para murid-Nya harus mau mengampuni, saya dengan ketulusan hati mau merawat kakek ini yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa ”.

Nenek itu memang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah sang kakek lupa diri dengan hidup bersama wanita-wanita lain. Sang kakek hidup dengan foya-foya, sedangkan sang nenek harus membanting tulang untuk mencari sesuap nasi bagi anak-anaknya. Sang kakek tidur di kasur empuk, sedangkan sang nenek dan anak-anaknya harus tidur di atas tikar. Ketika sang kakek sudah tak berdaya karena “stroke”, semua wanita lain meninggalkannya. Pada suatu malam seseorang membawa sang kakek itu ke rumah sang nenek. Sang nenek menerima sang kakek tanpa banyak kata.

Ketika aku bertanya mengapa sang nenek memiliki hati yang begitu baik terhadap orang yang telah melukainya, ia menjawab: “Ketika kami menikah di hadapan Romo, kami telah menjadi satu jiwa. Ketika jiwanya sedang sakit, jiwaku turut menderita. Setiap hari aku berdoa agar sang kakek dapat menyadari kesalahannya. Kakek kini telah kembali dalam usia tua dan dalam kelumpuhan sehingga tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku bahagia karena jiwa sang kakek telah diselamatkan. Kebahagiaanku menghilangkan rasa sakit yang pernah kualami. Aku telah lulus ujian surgawi. Aku dan sang kakek nanti pasti diperkenankan masuk Surga”.

Samudera pengampunan sang nenek itu memberi peneguhan manusia masa kini. Masa kini terjadi banyak perceraian karena hal kecil dan sepele, seperti kesulitan ekonomi dan masalah mertua. Itu terjadi karena janji pernikahan hanya sekedar di atas kertas yang dikeluarkan oleh paroki. Sebaliknya, janji pernikahan sang nenek ditulis di dalam hati sehingga tetap bertahan dengan apapun yang terjadi.

Aku mensyukuri inspirasi dari sang nenek itu dengan berdoa di patung Bunda Maria Immakulata yang tingginya 50 Meter di Gua Kereb, Ambarawa, pada tanggal 18 Juli malam. Patung Bunda Maria itu nampak indah sekali pada malam itu karena dihiasi dengan kerlap-kerlip bintang di langit. Kerlap-kerlip bintang di langit itu menandakan sukacita Bapa Surgawi melihat anak-anak-Nya saling silahturami, saling memaafkan dengan ketulusan hati.

Pesan yang dapat kita hidupi dari kisah ini: Memaafkan adalah wujud cinta yang sempurna. Memaafkan memerlukan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi dari jiwa untuk mengalahkan keegoisan dan menghapus rasa sakit di hati. Tuhan menyukai orang-orang yang dengan tulus mengampuni karena kemurahhatian-Nya harum semerbak di setiap relung hati. Jadi, sang pemenang adalah orang-orang yang mampu memaafkan dengan kesabaran dan ketulusan hati: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).

Sebait Kata Cinta

0

Sharing Pelayanan oeh Pst Felix Supranto, SS.CC

Cinta itu tak pernah salah karena lahir dari kesucian jiwa. Cinta senantiasa melahirkan kekuatan dan keberanian. Orang yang memiliki cinta akan tetap tegar walaupun derita hampir tak tertanggungkan. Cinta memampukan seseorang tetap bahagia walaupun banyak persoalan menjeratnya.

Kebenaran cinta itu disharingkan oleh Novi dan Marcel, suaminya, dalam pertemuan Komunitas Pria Katolik di Gereja Katolik Santa Helena pada tanggal 24 April 2015. Ketulusan cinta mereka semakin bersinar ketika ujian kehidupan tiba-tiba datang. Tanpa disangka, Marcel tak sadarkan diri karena penyakit yang sangat parah dan tak terdeteksi sebelumnya. Pihak rumah sakit akan menempatkan Marcel di ruangan ICU, tetapi Novi menolaknya: “Jangan biarkan suamiku sendirian di ruang yang sunyi itu. Ia harus di ruangan biasa agar aku bisa senantiasa bersama dengannya. Aku adalah kekuatan jiwanya. Aku adalah obatnya”. Novi senantiasa menemani Marcel sambil terus mengucapkan kata-kata peneguhan: “Marcel, berusaha dan bersabarlah, kemenangan pasti menjadi milikmu. Dengan usaha dan kesabaranmu dan dengan kekuatan dan kesabaran yang aku punya, engkau pasti mampu mengalahkan penyakitmu. Aku senantiasa ada di sampingmu. Cintaku menjadi kekuatanmu. Percayalah mukjizat Tuhan senantiasa tersedia bagimu”. Tak terduga, Marcel menjadi sadar kembali. Kesadaran Marcel itu jauh lebih cepat dari perhitungan medis karena dalam perhitungan medis ia telah hampir meregang nyawanya. Sungguh luar biasa bahwa kata-kata cinta mampu menusuk tajam jiwa sehingga membangkitkan kesadaran yang hampir musnah. Cinta memang bukan masalah apa yang dipikirkan oleh logika, tetapi apa yang dirasakan oleh jiwa. Sebait “kata cinta” akan menjadi sebuah doa yang didengarkan Tuhan ketika terbentuk dari iman: “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;” (Yeremia 29:12).

Sekarang Marcel menjalani perawatan di rumah sendiri karena ia tidak mau dipisahkan dengan cinta dari keluarganya. Cinta keluarganya membuat dirinya merasa nyaman sehingga mengurangi penderitaan jasmaninya. Aku sudah beberapa kali datang ke rumahnya untuk meneguhkan Novi dan Marcel. Aku pun mendapatkan hikmat kehidupan dari Novi: “Dengan sakitnya suamiku, aku semakin merasakan bahwa Tuhan adalah Penopang hidupku. Aku dimampukanNya untuk berperan dalam segala hal, seperti perawat suamiku dan pengurus semua keperluan rumah tanggaku. Terutama aku dimampukanNya untuk bijaksana dalam kata dan perbuatan sehingga tidak menyinggung perasaan suamiku. Ketegaranku menjadi ketegarannya. Ketabahanku menjadi ketabahannya. Imanku mengokohkan imannya”.

Pesan yang dapat kita hidupi dari sharing iman ini: Cinta datang dari lubuk jiwa. Ia senantiasa bergelora untuk memberi kekuatan ketika kita lemah. Ia membangkitkan ketika kita terpuruk. Ia memberi semangat ketika kita berada dalam ambang keputusasaan. Cinta mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Cinta mengubah air mata menjadi tertawa ria. Cinta bisa terungkap nyata dalam senyuman, tetapi juga dalam tetesan air mata karena cinta adalah segalanya. Semuanya karena cinta manusia adalah tetesan dari samudera cinta Tuhan yang tidak akan pernah habis untuk dicurahkan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah “ (1 Yohanes 4:7 ).

Mendoakan Firman Tuhan: Ketika Istri Boros

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/2013/12/02/materialism-health-effects_n_4344056.html

Melatih Mengalahkan Diri Sendiri

Refleksi Iman Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika istri boros, suami bisa mendoakan Firman Tuhan: “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah” (1 Timotius 2:9-10).

2. Maksud Ayat tersebut

Maksud 1 Timotius 2:9-10 adalah perbuatan baik merupakan perhiasan sejati. Pakaian branded, emas, dan mutiara dapat dilepas dan hilang. Sebaliknya perbuatan baik akan melekat dalam diri pribadi selama-lamanya. Perbuatan baik yang tulus dari seorang istri akan mendatangkan berkat bagi keluarganya dan Tuhan Yesus Kristus dimuliakan. Berkat bagi keluarga adalah sukacita. Suami dan anak-anak akan merasa nyaman dan betah dalam keluarganya sendiri.

Bagaimana Tuhan Yesus dimuliakan dengan perbuatan baik sang istri/ibu? Perbuatan baik istri/ibu akan merasuk dalam diri anak-anak dan suaminya sehingga seluruh keluarga akan senantiasa membawa kebaikan dalam hidupnya kapan pun dan di mana pun. Keluarganya akan menjadi kotbah yang hidup, yaitu banyak orang yang menerima kebaikannya akan memuliakan Tuhan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matus 5:16).

Sekarang ini banyak iklan tentang perhiasan-perhiasan dan pakaian-pakaian branded telah menghipnotis banyak ibu karena mereka ingin berpenampilan menarik, cantik, dan percaya diri. Akibatnya, istri bisa menjadi sangat boros. Ia bisa menghabiskan sebagian uang belanja bulanan untuk membeli perlengkapan make-up yang mahal. Para istri sering menyalahgunakan kartu kredit yang diberikan suaminya untuk membeli barang-barang mewah agar dapat berpenampilan trendy. Banyak ibu merasa lebih cantik kalau berdandan dengan pakaian modis. Rumpian yang terdengar dari para istri di antara teman-temannya: “Eh … aku dah cantik belum”; “pantes enggak ya aku dandan kaya gini”; “pakaian dan dandanan apaan sih yang ngetrend saat ini“. Kalau ngejar yang ngetrend, ya tidak akan pernah selesai, kantong suami pun bobol. Akibatnya: keperluan yang lebih penting seperti biaya sekolah anak-anak, pembayaran rekening listrik dan air, dan asuransi terbengkalai. Suami menjadi geram dengan bertanya kepada istrinya: “Untuk apa saja uang bulanan sudah habis sebelum waktunya?” Istrinya pun mulai berdusta: “Semuanya naik, les anak naik, sayuran naik, minyak naik, bla…bla… bla…., dan uang jatah bulanan tidak pernah naik”. Suaminya akhirnya tidak lagi percaya kepada istrinya untuk mengatur keuangan rumah tangganya. Ia mengurus sendiri keperluan sehari-hari keluarganya. Karena sudah tidak memegang uang lagi, istri mungkin mulai hutang ke sana ke sini. Suaminya semakin bingung karena setiap saat didatangi orang yanng menagih hutang istrinya yang tidak jelas juntrungannya. Suaminya mulai merasa tidak tahan dengan sikap istrnya yang boros sehingga ingin bercerai saja.

Untuk menyelesaikan persoalan istri yang boros, suami harus berbicara hati ke hati kepada istrinya itu, tanpa mengadili. Berbicara dari hati ke hati akan menemukan sumber sikap boros sehingga dapat saling memahami dan akhirnya menemukan cara mengatasinya dengan hati. Istri cenderung membeli perlengkapan make-up, tas, dan pakaian yang mahal karena ia ingin tampil cantik di depan suaminya. Suami harus mengatakan bahwa ia lebih menyukai istrinya tampil apa adanya.

Suami juga harus mengatakan kepada istrinya dengan lembut: “Aku mempercayakan kartu kredit kepadamu agar engkau tidak direpotkan dalam pembelajaan bulanan. Semuanya itu karena aku sayang, sayang banget kepadamu”. Kesadaran bahwa sikap boros terjadi karena istri mengasihi suami, tetapi salah dalam cara mengasihinya, akan membentuk sikap hidup yang baru dengan roh baru dalam diri sang istri.

3. Doa

Mendoakan Firman Tuhan Ketika Istri Boros

Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah” (1 Timotius 2:9-10).

Allah Bapa,

Istriku semakin hari semakin boros.

Ia senantiasa ingin mengenakan yang serba mahal.

Gajiku pun seperti besar pasak daripada tiang.

Aku pun terjerat hutang.

Bapa,

Tiada satupun yang dapat menyadarkan istriku,

selain kasihku yang menusuk relung hatinya.

Beri aku hati yang mengasihi dan bukan mengadili

sehingga istriku menyadari bahwa

aku lebih menyukainya tampil apa adanya.

Cantik bukan membuat cinta,

Tapi cinta kami membuatnya cantik.

Kecantikan seorang wanita bukan dilihat dari kecantikan wajah,

tetapi kecantikan hati.

Kecantikan hati terpancar dari perbuatan-perbuatan mulia.

Aku berharap bahwa istriku akan mengejar kebaikan,

daripada mengejar discount harga pakaian, tas, dan make up.

Inner Beauty never needs make-up.

Hidupnya pun akan berhemat demi masa depan anak-anak tercinta.

Bapa,

Yang lalu biarlah berlalu.

Kesalahan yang terjadi pasti membuat kami bijaksana.

Dari kesalahan, kami pasti memperoleh pelajaran

terbaik tentang hidup keluarga kami.

Amin

Jadikan aku mencintai Sabda-Mu, ya Tuhan!

0
Sumber gambar: http://essentialthingdevotions.com/how-to-treasure-the-bible-in-your-heart/

[Hari Minggu Biasa ke XXIII, Minggu Kitab Suci Nasional:
Yes 35:4-7; Mzm 146:8-10; Yak 2:1-5; Mrk 7:31-37]

Hatiku terharu melihat video-clip yang yang dikirim oleh seorang sahabat. Di sana terekam suasana suatu persekutuan Kristiani di negara komunis, ketika ada seseorang yang membuka sebuah koper yang ternyata penuh berisi Kitab Suci. Begitu dibuka, sontak koper itu diserbu, sebab setiap orang yang hadir di sana sangat ingin mendapat Kitab Suci. Mereka berebut mengambil kitab-kitab itu dan kemudian dengan berurai air mata, mereka menciumnya…. Tercermin di sana, rasa syukur tak terhingga, “Terima kasih Tuhan, kami memperoleh kitab ini yang berisi sabda-Mu!” Mungkin demikianlah yang terucap di batin mereka. Tak terasa, air mataku pun ikut menetes sebab hatiku turut merasakan luapan sukacita mereka. Tayangan yang kurang dari semenit itu sekaligus mengingatkan aku, yang telah lebih dahulu memiliki Kitab Suci, untuk lebih lagi membacanya dan meresapkannya di dalam hati….

Bacaan Injil di hari Minggu Kitab Suci Nasional ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan seseorang yang tuli dan gagap. Yesus memisahkannya dari orang banyak. Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu; dan dengan ludah-Nya Ia meraba lidah orang itu. Kemudian, Yesus berkata, “Efata!” yang artinya, “Terbukalah”. Dan seketika itu sembuhlah orang itu dan ia dapat berbicara. Yesus dapat saja hanya berkata-kata untuk menyembuhkan orang itu, namun nyatanya Yesus juga menggunakan sarana yang dapat dilihat untuk menyampaikan rahmat-Nya. Kejadian ini membantu kita memahami mengapa digunakan tanda/sarana dalam sakramen-sakramen Gereja. Yesus mengalirkan rahmat-Nya melalui sakramen yang memberikan pengaruh yang besar bagi jiwa orang yang menerimanya. Telah sejak abad-abad awal, Gereja menggunakan perkataan ini ketika berdoa bagi orang yang dibaptis: “Semoga Tuhan Yesus, yang membuat orang tuli mendengar dan orang bisu bicara, mengaruniakan agar pada saat yang tepat engkau dapat mendengarkan Sabda-Nya dan mewartakan Imanmu” (Ritual Pembaptisan Bayi). Demikianlah melalui Baptisan, Tuhan Yesus melepaskan kita dari ikatan dosa. Ia membuka telinga kita untuk mendengarkan Sabda-Nya dan melepaskan kekeluan lidah kita untuk memuji dan mewartakan kebaikan Tuhan kepada dunia sekitar kita. Selanjutnya jamahan Tuhan ini dapat terus terjadi dalam hidup kita.

Mungkin kita perlu merenungkan sendiri dalam hati, terutama di awal bulan Kitab Suci ini. Adakah kita sudah tidak tuli dan gagap secara rohani? Apakah kita sebagai orang tua sudah meneruskan ajaran iman kepada anak cucu kita? Apakah kita telah membacakan Kitab Suci kepada mereka, mengajari mereka berdoa dan pergi menghadiri Misa bersama? Apakah kita berani mewartakan iman kita, jika kesempatan itu datang, atau bahkan jika perlu, kita mengadakan kesempatan itu? Apakah kita telah dapat menjadi orang yang dengan gembira mewartakan iman kita, baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan? Sungguh, ada banyak orang di sekitar kita yang memerlukan Kristus dan perlu mendengar Kabar Gembira keselamatan Allah. Semoga kita tidak menjadi orang yang gagap dan tak bisa mewartakan Kristus!

Namun agar kita dapat fasih dalam mewartakan Kristus dan ajaran-Nya, kita harus lebih dahulu mendengarkan dan memahaminya. Bersyukurlah, kini kita memiliki banyak cara untuk mempelajari ajaran iman kita. Ada yang memulai dengan membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci setiap hari sesuai dengan bacaan liturgi Misa Kudus. Ada pula yang mulai membaca keseluruhan Kitab Suci, mulai dari Perjanjian Baru terlebih dahulu dan baru kemudian Perjanjian Lama. Atau ada yang senang menyimak EWTN dan situs-situs Katolik di internet. Namun sebenarnya ada juga cara lain, yang lebih sederhana, yang dapat dilakukan setiap umat Katolik. Yaitu, membaca Kitab Suci yang dibarengi dengan membaca Katekismus. Mengapa? Karena dengan membaca Katekismus Gereja Katolik kita membaca rangkuman ajaran iman yang bersumber pada Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Dengan demikian, kita mempelajari sabda Allah dalam kesatuan dengan Gereja, dan kita membaca sabda-Nya dalam pimpinan Roh Kudus yang sama dengan Roh Kudus yang telah menyertai Gereja-Nya selama sekitar 2000 tahun!

Namun sejujurnya, selain niat, dibutuhkan juga kerendahan hati untuk membaca Katekismus. Sebab selain bahwa buku tersebut cukup tebal, ada juga hambatan yang datang karena suatu paham tertentu. Yaitu, kecenderungan yang menganggap bahwa untuk memahami sabda Tuhan itu, hanya “saya dan Roh Kudus” saja sudah cukup. Semoga ada saatnya Tuhan akan membuat kita menyadari bahwa Roh Kudus yang sama itu sesungguhnya telah lebih dahulu bekerja atas para rasul dan para penerusnya, dan dalam Gereja sampai sekarang. Sehingga jika kita ingin sampai pada pemahaman yang lengkap dan utuh, kita mesti memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dan mendengarkan apa yang diajarkan oleh Gereja. Dengan demikian kita tidak menjadikan diri sendiri menjadi seorang yang “tuli” secara rohani–yaitu menganggap diri sudah mendengar sabda Tuhan dengan jelas padahal sesungguhnya belum.

Ironisnya, kantin rohani di paroki belum tentu menjual buku Katekismus. Sekalipun sudah ada, tak sedikit umat Katolik malah lebih memilih untuk mendengarkan pengajaran dari komunitas-komunitas non-Katolik, sehingga akhirnya malah memiliki pengertian yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik sendiri. Walaupun kekayaan rohani dan perbendaharaan ajaran iman sudah dengan demikian indah dan lengkapnya tersedia di dalam Gereja Katolik, namun umat malah mencari di tempat-tempat lain. Mungkin kita perlu bersama-sama meneruskan pesan St. Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan, “Katekismus ini diberikan…. supaya dapat menjadi teks referensi yang pasti dan otentik bagi pengajaran ajaran Katolik” (Fidei Depositum, 3). Dalam Katekismus itulah terbentang sumber perbendaharaan ajaran iman Kristiani yang berdasarkan sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, yang dihidupi dalam Tradisi Suci para rasul dan yang telah diteruskan oleh Gereja sampai sekarang. Karena itu, dengan mempelajari Katekismus, kita semakin dapat bertumbuh dalam pemahaman akan sabda Tuhan. Pemahaman ini akan membuat kita semakin haus untuk terus membaca Kitab Suci, merenungkannya dalam kesatuan dengan seluruh Gereja-Nya, dan melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di hari Minggu Kitab Suci ini, mari kita memohon agar Tuhan menjadikan kita berani memberi kesaksian iman kepada orang-orang di sekitar kita. Tentang ini, St. Agustinus berkata, “Jika kamu mengasihi Allah, tariklah kepadamu semua orang yang hidup di sekitarmu atau di dalam rumahmu, supaya mereka semua pun dapat mengasihi Dia. Jika kamu mengasihi Tubuh Kristus, yaitu kesatuan Gereja, doronglah setiap dari mereka untuk bersukacita dalam Tuhan dan katakanlah kepada mereka bersama dengan Daud, “Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyurkan nama-Nya” (Mzm 34:4). Dan untuk ini, jangan membuat perhitungan atau menjadi kikir. Tapi menangkanlah bagi Tuhan, sedapat mungkin semua orang, dengan cara yang memungkinkan, seturut kemampuanmu: dengan menganjurkan mereka, mendukung dan menanggung mereka, memohon bersama mereka, berdialog dengan mereka, dan memberikan alasan-alasan sehubungan dengan iman, dengan kemurahan hati dan kebijaksanaan” (St. Augustine, Commentary on the Psalms 34). Dan di atas semuanya itu, dalam keheningan pagi ataupun malam hari, semoga kita dengan lebih setia, membaca dan merenungkan sabda Tuhan, agar sabda-Nya itu meresap dalam jiwa kita dan memimpin hidup kita.

Tuhan, jadikanlah aku semakin mencintai sabda-Mu, supaya aku dapat semakin mengenal dan mencintai Engkau.”

Jadikan hatiku murni, ya Tuhan!

0
Sumber gambar: https://tvaraj2inspirations.files.wordpress.com/2012/06/pharisees.jpg

[Hari Minggu Biasa ke XXII: Ul 4:1-8; Mzm 15:2-5; Yak 1:17-22,27; Mrk 7:1-23]

Suatu kali aku datang mengikuti perayaan Ekaristi dan duduk di samping seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun. Ketika ibadat sedang berlangsung, tiba-tiba sang kakek mencondongkan kepalanya kepadaku dan berbisik, “Lihatlah ibu itu yang berdiri di depanmu! Bayangkan betapa sulitnya waktu ia mengenakan celana panjangnya…. hehehe…” Sang kakek terkekeh. Aku agak terkejut, dan spontan aku langsung melihat kepada wanita setengah baya yang berdiri di depanku. Ia mengenakan celana legging yang sangat pas atau lebih tepatnya, sempit. Walaupun sudah tua, sang kakek ternyata masih memperhatikan para wanita di sekitarnya. Malah mungkin terlalu memperhatikan, demikian pikirku. Tiba-tiba kusadari bahwa   pikiranku sudah buyar. Tadi doanya sampai di mana ya?…. Buru-buru aku minta ampun kepada Tuhan. Ternyata tidak mudah untuk menjaga kemurnian hati, termasuk dan terutama, pada saat kita sedang berdoa menghadap Tuhan!

Bacaan Injil dalam Misa di hari-hari belakangan ini, mengisahkan tentang perkataan keras Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Pasalnya, mereka terlalu memperhatikan hal-hal lahiriah daripada yang  rohaniah. Mereka lebih mementingkan kebersihan tangan dan berbagai perkakas, daripada kemurnian hati. Ironisnya, di zaman sekarang, ada sikap ekstrim yang lain. Menganggap bahwa semua hal lahiriah itu tidak penting, maka orang datang kepada Tuhan dengan sikap seadanya, berpakaian semaunya, dan berpikir  “ah, kan yang penting hati.” Diperlukan kejujuran dari diri kita masing-masing, untuk menjawab, apakah sikap semacam itu menunjang sikap batin yang layak untuk menghadap Tuhan. Sebab sikap lahiriah kita saat beribadah, dapat mempengaruhi sikap rohaniah kita sendiri, maupun orang lain yang sedang beribadah bersama kita. Dalam contoh di atas, ibu itu mungkin tidak menyadari bahwa caranya berpakaian membuat orang lain terganggu saat berdoa. Menjadi permenungan bagi kita, apakah cara kita berpakaian dan sikap kita dalam ibadah mengganggu atau mendukung orang lain untuk mengarahkan hati kepada Tuhan? Apakah sikap kita mencerminkan kemurnian hati dan penghormatan kita kepada Tuhan? Sebab kalau ternyata tidak, kita tidak lebih baik daripada orang-orang Farisi itu. Mereka bahkan masih lebih mendingan, karena biar bagaimanapun, mereka memberi perhatian khusus kepada hal kebersihan lahiriah—dan tentunya kesopanan—saat berdoa menghadap Tuhan. Kita di zaman sekarang malah cenderung defisit dalam hal kedua-duanya. Sudah sikap lahiriahnya kurang layak, sikap batiniahnya juga kurang murni. Bukankah sering diumumkan di gereja, agar umat menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan tissue di bangku? Bukankah ada cukup banyak orang yang berpakaian terlalu pendek dan terlalu cuek saat menghadiri Misa, sampai diperlukan poster untuk menegurnya? Bukankah ada saja umat yang asyik ber-hp meskipun duduk tak jauh dari tabernakel di mana Tuhan sendiri hadir?  Dan bukankah begitu mudahnya pikiran kita diisi oleh berbagai hal yang mengalihkan perhatian kita dari Allah? Sungguh keeratan kasih kita dengan Tuhan nampak pertama-tama dalam sikap batin, dan karena itu Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk memeriksa apa yang ada di dalam hati kita. Sebab jika sikap batin kita sudah baik, maka dengan sendirinya sikap kita yang nampak dari luar juga akan baik. 

Jadi nampaknya kita perlu senantiasa berjuang untuk menyelaraskan apa yang kita imani di dalam hati dengan apa yang kita lakukan sebagai konsekuensinya. Dengan kata lain, kita perlu berusaha agar sikap penghormatan kepada Tuhan di dalam batin sesuai dengan sikap lahiriah kita. Kesesuaian sikap batiniah dengan lahiriah ini membantu kita menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar saja. Sebab pelaku firman adalah orang yang perbuatannya sesuai dengan firman Allah yang diimaninya. Dengan kesesuaian ini, maka keseluruhan hidupnya menjadi ibadah, dan ibadahnya tidak terbatas hanya pada saat sedang beribadat. Orang yang hatinya murni akan berjuang untuk melakukan ibadah yang sejati dan tak bercela di hadapan Allah. Yaitu dengan mengunjungi sesama yang dalam kesusahan dan menjaga dirinya sendiri agar tidak dicemari oleh dunia (lih. Yak 1:27). St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa kemurnian itu penting bagi semua orang, sebab kemurnian adalah “syarat bagi cinta kasih, sebuah dimensi kebenaran terdalam di dalam hati manusia” (Audiensi Umum, 3 Desember 1980). Mari kita dengan jujur memeriksa batin: Apakah pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan kemurnian hati? Apakah kita cenderung menghalangi kemurnian hati orang lain dengan penampilan, sikap dan tindakan kita? Singkatnya, apakah kita sudah memiliki kemurnian hati? Jika belum, marilah kita dengan rendah hati memohon ampun kepada Tuhan dan datang kepada-Nya dalam sakramen Tobat. Semoga rahmat pengampunan Tuhan memulihkan kita dan membantu kita untuk bertumbuh dalam kemurnian hati.

Tuhan Yesus, aku sungguh ingin menjadi orang yang murni dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Kumohon ya Tuhan, perolehlah bagiku, kesederhanaan dan kesantunan yang akan tercermin dalam sikap dan tindakanku yang terlihat dari luar. Jagalah mataku—yang merupakan jendela bagi jiwaku—dari segala sesuatu yang dapat meredupkan cahaya hatiku, yang selayaknya hanya mencerminkan kemurnian menurut teladan-Mu. Semoga Komuni kudus yang kuterima, memeteraikan hatiku selamanya untuk melawan segala godaan kesenangan daging yang membawa kepada dosa. Hati Yesus yang Mahakudus, Mata air segala kemurnian, kasihanilah aku. Jadikanlah hatiku murni, ya Tuhan, supaya aku mampu menjadi pelaku firman-Mu.  Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab